[Freelance] Enamorada (Chapter 3)

enamorada-by-pinkypark

Title       : Enamorada

Author  : PinkyPark

Cast       : Im Yoona & Oh Sehun

Genre   : Romance

Length  : Chaptered

Rating   : PG-17

Silent Readers please go away

.

Ini bukan tentangmu, ini tentangku.

Kau memiliki segalanya, aku tidak.

Aku terkejut, aku bingung.

Seperti dirimu, seindah dirimu.

Denganku? Itu menakutkanku.

***

Im Yoona menelengkan kepalanya untuk kali keempat, melihat tingah gadis yang kini duduk di sampingnya, Sehun hanya tersenyum kecil dan sesekali menatapnya singkat. Mereka berdua sedang duduk di koridor rumah sakit. Berhubung ini pukul satu malam, tidak ada orang selain suster ataupun dokter juga Yuri yang masih berkutat dengan ponselnya di ujung sana.

“Aku baik-baik saja Yoona, demi Tuhan berhenti memasang wajah seperti itu,” ujar Sehun pelan, suaranya memang selalu menenangkan. Yoona menoleh kepada Sehun, menatap wajah pria itu dari samping cukup menyenangkan, garis rahangnya begitu tegas, dan lehernya..

Yoona segera menggelengkan kepalanya dengan gugup, dia menoleh lagi dan mendapati Sehun sedang menatapnya bingung. “Ada apa? Kau pusing?”

Gadis itu menggeleng lagi, dia menjawab, “Kepalamu diperban, dan kau masih mengkhawatirkanku?”

“Aku memang mengkhawatirkanmu.”

“Tapi aku tidak apa-apa, sebaiknya kau khawatrikan dirimu sendiri,” ujar Yoona sengit. Sehun memicingkan matanya saat sosok di sampingnya kini menatapnya dengan sebal. “Kau lihat apa?”

Pria itu tertawa, “Tidak—tidak, rasanya lucu. Wajahmu tidak cocok untuk ekspresi seperti itu.”

“Apa kau bilang?”

Sehun terpaksa menghentikkan tawanya karena Yoona mulai menekuk wajahnya, pria itu mengarahkan duduknya menghadap Yoona lalu mengangkat kedua tangannya. Menempatkan di kedua pipi gadis itu lalu menariknya perlahan. “Wajah ini, lebih cocok untuk eskpresi seperti ini.”

Di wajahnya, kali ini terlukis sebuah senyum buatan yang Sehun buat dengan kedua tarikan tangannya, membuat wajah Yoona menjadi sedikit aneh. Gadis itu lebih dari sekedar terkejut, sampai-sampai tidak ada yang dilakukannya selain membulatkan kedua mata. Sehun tertawa lagi, kali ini lebih lepas dan bahagia. Yoona menatap wajahnya, ekspresi seperti itu baru pertama kali Sehun tunjukkan. Garis wajah dingin dan tegas yang biasanya ada disana kini menghilang, dan disanalah dia—Oh Sehun yang bebas dan tampak begitu bahagia. Tawanya seperti anak kecil, bukan seperti seorang CEO yang kemana-mana dibuntuti oleh seorang bodyguard. Oh Sehun yang sebenarnya? Apakah dia benar-benar Oh Sehun yang sebenarnya?

“Apa yang kalian lakukan?” suara Yuri seperti air di padang pasir, begitu mengejutkan. Sehun menoleh, lalu pelan-pelan menurunkan tangannya. Tawanya hilang, kini Oh Sehun yang sebenarnya sudah kembali. “Kalian sedang apa?” tanyanya lagi.

Yoona mengerjapkan matanya, dia menatap Yuri dengan kosong. “Bagaimana Yul?” teknik pengalihan, hal yang selalu Yoona lakukan. Gadis itu menatap sahabatnya dengan serius, berharap Yuri menjawab pertanyaannya dan wush! Dalam sekejap pembicaraan akan berganti.

“Dia akan datang,” jawabnya, Yuri mengamati sebentar pada arloji berwarna perak di pergelangan tangannya, kemudian menatap Yoona lagi. “Lima belas menit lagi.”

Yoona tersenyum lega saat topic dengan mudahnya berganti, walaupun Yuri adalah sahabatnya sejak SMA—akan sangat mengerikan jika Yuri mulai bertingkah dengan lidahnya yang tajam. Yuri selalu ingin tahu segalanya dan otaknya selalu mengorek apa saja. Bakat jurnalisnya memang sudah tertanam sejak di dalam kandungan. Itu sebabnya akan menjadi sangat menyebalkan jika gadis itu membicarakan apa yang baru saja Sehun lakukan dan mulai menjelaskan berbagai perkiraan yang sudah dipikirkannya.

Yuri memperhatikkan Sehun yang kini hanya duduk diam di tempatnya, kepala pria itu di perban, dokter mengatakan bahwa kulit kepalanya robek dan dia baru saja mendapatkan empat jahitan. Bagaimanapun, Yuri berterimakasih atas segala pertolongan yang dilakukan pria itu. Dia mengulurkan tangannya, membuat Yoona terkejut melihatnya.

“Kita belum secara resmi berkenalan, Namaku Kwon Yuri. Terimakasih untuk semuanya.”

Sehun menatap tangan itu sebentar, kemudian tanpa ragu menjabatnya dengan begitu formal. “Aku senang kalian baik-baik saja.”

Yuri mengendikkan kedua bahunya, jabatan tangan mereka terlepas, kendati seperti itu Yoona masih menatap Yuri dengan terkejut. Melihat apa yang dilakukan Yuri, sepertinya Sehun sudah melakukan sesuatu yang benar. Ini adalah tahap awal Yuri mempersilahkan seseorang mendekati sahabatnya. Dan tentu saja masih begitu banyak tahap-tahap lain yang harus dilewati Sehun. Itulah sebabnya selama hidupnya, Yoona hanya pernah berpacaran sebanyak dua kali. Itu karena Yuri selalu menyeleksinya dengan sangat teliti dan mengerikan. Yoona memutar matanya pada Yuri. Itulah Yuri, selalu melakukan apapun yang diinginkannya.

Sementara menatap Yuri rasanya akan begitu menyebalkan, Yoona secara tidak sengaja bertemu pandang dengan Sehun yang kebetulan tengah menatapnya. Rasanya masih aneh, ditatap oleh Sehun bukan sesuatu yang Yoona anggap nyaman. Pria itu begitu intens—begitu mengintimidasi. Dalam hatinya, Yoona sedikit takut. Dia takut, mata itu—tatapan itu—perlahan-lahan, akan membuat dirinya terjatuh, jatuh pada perasaan yang sama yang pernah dia rasakan dulu saat masih bersama Kris.

Kris ?

Nama itu terbersit, Yoona menegaskan pandangannya dan menatap Sehun dengan khawatir. “Bagaimana dengan dia?”

Sehun tidak langsung menjawab, dia mengamati gurat samar di dahi gadis itu. sepertinya Yoona sangat ketakutan, seperti biasa suaranya pelan dan menenangkan. “Joe dan Tom sudah mengurusnya, malam ini polisi akan memeriksa apartemen kalian.”

Yoona dan Yuri saling berpandangan, suara Yuri terdengar setelahnya. “Apa akan dilakukan penyelidikan?”

“Mereka perlu memeriksa tempat kejadian.”

Kali ini Yuri menatap Yoona lagi, ada kerutan samar di dahinya. “Kau akan menginap di rumah ibumu?”

“Kau gila! Aku tidak ingin ibuku tahu apa yang terjadi.”

“Lalu kau akan tidur dimana?” tanya Yuri.

“Bagaimana denganmu ?” balas Yoona.

Gadis cantik itu mengendikkan bahunya dengan asal, “Aku akan menginap di rumah Minho.”

Jawaban Yuri membuat Sehun menatapnya—terlebih karena nama itu asing di telinganya. “Heol. Kau menginap bersama kekasihmu,” gumam Yoona.

“Memangnya kenapa? Setidaknya dia kekasihku—bagaimana denganmu? Bukankah kau sudah dua kali menginap di rumahnya?” Yuri menunjuk Sehun dengan dagunya. Yoona melotot pada Yuri, tapi perlahan-lahan lehernya menoleh untuk memperhatikkan pria di sampingnya.

“Itu—”

“Kau tidur di rumahku saja malam ini.”

Gagasan yang cantik dan menggiurkan tentu saja! Yuri tampak tidak begitu terkejut, sedangkan Yoona hanya sibuk dengan nafasnya yang tidak karuan dan sikap kikuknya yang menggelikan. Sehun mengamati gadis itu, bibirnya berkedut menahan tawa. Tentu akan sangat tidak lucu jika dirinya tergelak sendirian saat ini.

“Aku—”

“Atau kau mau tidur di rumah Minho? Kau bisa tidur di sofa.” Potong Yuri, dia menatap sahabatnya dari ujung mata, kedua lengannya terlipat di dada. Yoona tahu Yuri tidak bersungguh-sungguh dengan idenya. Dia tahu jawaban Yoona pastilah tidak. Sahabatnya itu memang tidak keras kepala, tapi dia tidak pernah sekalipun ingin menginap di satu rumah yang sama dengan Minho dan Yuri. Bukan apa-apa, Yoona sangat terganggu dengan kebersamaan mereka, itu menjijikan baginya.

“Aku akan tidur di rumah ibu saja.”

Sehun menoleh bingung, dia memperhatikkan eskpresi Yoona yang tidak karuan. Malu? Kesal? Gugup? Apa yang dirasakannya? Apa yang dipikirkannya? Lagi-lagi pertanyaan sialan itu memenuhi pikiran Sehun.

Yuri mengerutkan keningnya, matanya yang cerdas menatap Yoona dengan terang-terangan. “Seperti kau bisa berbohong pada ibumu saja.”

Yoona melotot kepada sahabatnya untuk kedua kalinya, tapi Yuri memang benar—ibunya tidak pernah bisa dibohongi. Yoona melirik lagi pada Sehun yang masih diam menatapnya. Pria itu tidak akan memaksa Yoona untuk tidur di rumahnya, seperti sebelumnya—Pria itu tidak punya cukup alasan untuk membuat Yoona mengikuti kata-katanya.

“Yoon, kupikir Oh Sehun sudah banyak membantumu, dan seperti yang kau lihat—dia terluka, dan mungkin membutuhkan seseorang untuk mengganti perbannya.”

Itulah Yuri, jika menolak dia akan menolak mati-matian, jika menerima maka dia akan menerima dengan tangan yang terbuka. Yuri memang belum cukup yakin tentang pria yang menyukai sahabatnya itu, tapi melihat apa yang dilakukannya untuk menyelamatkan Yoona. Yuri yakin paling tidak sahabatnya itu akan baik-baik saja malam ini, Sehun tidak akan membiarkan Yoona terluka.

“Begitukah?” kali ini Yoona bertanya kepada Sehun, memperhatikkan perban yang melekat di kepala pria itu dalam waktu yang cukup lama. Sehun memang baru menerima jahitan di kepalanya dan rasanya akan sangat tidak tahu malu jika Yoona tidak bertanggung jawab atas apa yang terjadi kepada pria itu.

Sehun tidak bisa menahan senyumannya, dia mengangguk pelan—cukup mengartikan bahwa yang dikatakan Yuri benar, dirinya butuh seseorang untuk mengganti perban, memang hanya sebuah alibi, tapi dibandingkan dokter, melihat Yoona di rumah rasanya akan begitu menyenangkan.

“Yuri?”

Suara seorang pria menggema di lorong, ada pria tinggi sedang berjalan cepat menghampiri Yuri. Wajahnya tampan dan ramah, ada bulir keringat di pelipisnya, pria itu mungkin baru saja berlari. Yuri tersenyum lebar, kemudian memeluk pria itu saat jarak keduanya sudah dekat. Sehun dan Yoona bertatapan sebentar, dan Yoona hanya memberikan senyuman kecil sebagai sebuah penjelasan.

“Kau baik-baik saja?” tanya pria itu, mengamati Yuri dari ujung kaki hingga kepala, Yuri menganggukan kepalanya, wajahnya terlihat lebih rileks kali ini. “Yoona bagaimana denganmu?” kali ini mata bulat pria itu menatap Yoona, yang ditatap hanya tersenyum simpul sebagai jawaban. “Syukurlah..tapi? kau—”

Pria itu menatap Sehun dengan bingung, Yuri menelepon beberapa waktu yang lalu dan mengatakan bahwa Kris mengamuk di apartemen, lalu sekarang dirinya tiba di rumah sakit dan menemukan kekasihnya juga Yoona baik-baik saja, tapi justru—ada seorang pria yang kepalanya di perban dan tidak dikenalinya, tengah menatapnya dengan wajah tanpa eskpresi.

“Dia menyelamatkan kami, bersyukur dia tiba disana saat itu,” jelas Yuri.

Minho menatap kekasihnya sebentar, lalu kembali menatap Sehun yang juga masih menatapnya tanpa ekspresi. “Aku Oh Sehun,” ucapnya sembari mengulurkan tangan kepada pria itu.

Pria itu perlahan menjabat tangan Sehun dengan ragu, “Choi Minho.”

“Nanti akan kujelaskan di rumah, sekarang aku ingin istirahat.” Cetus Yuri sembari menggandeng lengan kekasihnya, Minho tersenyum mengiyakan lalu tatapannya beralih kepada Yoona yang masih diam di tempatnya.

“Bagaimana denganmu?” tanyanya.

Yoona tersenyum kikuk, dia melirik pria di sampingnya dengan ragu lalu berkata, “Aku akan menginap di rumah Sehun malam ini.”

Minho sempat ragu untuk sejenak, tapi kemudian dia tersenyum dan mengangguk paham. “Oh, aku mengerti sekarang. Baiklah, kami pergi dulu.”

Yuri melambai singkat kepada sahabatnya, kemudian sepasang kekasih itu berlalu pergi, menyisakan Yoona dan Sehun yang duduk diam menikmati waktu. Sehun melirik Yoona dengan perlahan, merasakan tatapan di wajahnya—gadis itu juga menolehkan kepalanya. Mereka berdua bertemu pandang, mengamati satu sama lain, mencoba mengerti satu sama lain. Tidak ada yang berbicara, tidak ada yang berkata-kata.

Tapi di dalam hati, keduanya sama-sama bertanya. “Apa yang sedang kau pikirkan?”

***

Yoona mengetuk pintu sebanyak tiga kali, dirinya sibuk memegangi nampan berisi dua cangkir teh yang asapnya masih mengepul. Dia sudah melepaskan jaketnya dan kini berdiri di depan pintu dengan t-shirt abu-abu dan celana jeans belel yang selalu menjadi favoritnya.

Gadis itu menunggu, apa Sehun sudah tidur? Tangannya terangkat untuk mengetuk lagi tapi knop pintu bergerak dan dari celah kecil ada tatapan Sehun yang langsung tertuju pada dirinya. Jika tidak salah lihat, Yoona sempat melihat secarik senyuman dari pria itu—sebelum pintunya terbuka lebih lebar dan berdirilah disana, seorang pria tampan, sangat tampan, memakai jubah handuk putih bersih yang lebar juga wangi sabun maskulin yang menggiurkan. Yoona mundur selangkah, tidak ada lagi yang tersisa dari dirinya selain rasa terkejut.

Sehun memperhatikkan eskpresi Yoona dalam bilangan empat detik, tak kunjung bersuara—Sehun tersenyum lebar kepada gadis itu. Ekspresinya lebih santai dari sebelumnya, “Masuklah Nona.”

Yoona mengedipkan matanya, memperhatikan pria di hadapannya dengan gugup. Mulutnya terbuka, lalu menutup lagi, membuka lagi, lalu kembali tertutup. Dia tidak sanggup berkata-kata.

Ekspresi Oh Sehun masih sama, masih santai, dan masih menyenangkan. Dengan sabar tangannya menyentuh pundak Yoona lalu membawanya masuk ke dalam kamar. Pria itu menutup pintunya saat Im Yoona sudah berada di dalam, berdiri kikuk dengan nampan di tangannya. Sehun berjalan melewati Yoona, kepalanya masih di perban, tapi ada bulir-bulir air di rambutnya. Dia duduk di tepi ranjang, memperhatikkan Yoona yang masih berdiri kosong di tempatnya.

“Yoona?”

Suara itu berdesir, dalam sekejap Yoona merinding dan menatap ngeri pada pria yang mungkin tidak memakai apa-apa selain jubahnya itu. suaranya tercekat, sedikit memalukan. “Aku hanya mengantarkan ini.”

“Kulihat kau membawa dua cangkir, mau mengajakku minum teh bersama?” Sehun masih menatap Yoona dengan cengiran idiot yang sangat tidak cocok dengan image CEO nya. Yoona tertegun lagi, dirinya memang berniat untuk mengajak Sehun minum teh bersama, tapi tidak dengan Sehun yang tidak memakai apa-apa seperti saat ini.

Menyadari ekspresi aneh di wajah Yoona, Sehun terkekeh pelan. Suaranya ramah dan menyenangkan, “Astaga Yoona aku tahu apa yang kau pikirkan! Duduklah di sofa, berhenti memasang wajah seperti itu. Aku memang menyukaimu, tapi aku bukan pemerkosa.”

“Apa?” pekik Yoona. Ya, itu memang yang dipikirkannya—tapi tidak bisakah pria itu berkata lebih vulgar lagi? Yoona menatap Sehun entah dengan kesal ataupun malu. Pipinya bersemu merah namun kaki jenjangnya berjalan melewati Sehun dan kemudian duduk di atas sofa. Matanya balas menatap tatapan Sehun dengan datar. “Apa ada yang lucu?”

Sehun menghentikkan cengirannya, wajahnya kembali datar seperti semula. Pria itu mengendikkan bahunya lalu berjalan menuju sofa. Duduk disana dengan jarak yang membentang antara dirinya dan gadis itu. Pria itu menatap Yoona lagi, wajahnya cantik dan manis. Tubuhnya memang kurus, tapi itu tetap saja terlihat sangat menarik. Sikapnya selalu berubah-ubah, terkadang gugup—malu—marah—kesal—polos, dan masih banyak lagi.

“Apa yang kau lihat?” tanya Yoona saat menyadari bahwa pria di sampingnya sudah menatapnya sejak dirinya duduk di atas sofa. “Bagaimana kepalamu?”

Sehun tidak langsung menjawab, ekspresinya datar untuk sesaat—tapi kemudian sebuah senyuman kecil terlukis di wajahnya. “Aku baik-baik saja.”

“Syukurlah.”

“Tapi aku perlu mengganti perbanku, ini sudah basah saat aku mandi.”

Yoona memperhatikkan perban putih di kepala pria itu untuk beberapa saat, rambutnya masih sedikit basah—ada beberapa bulir air yang menetes di pelipisnya. Gadis itu menganggukan kepalanya. “Dimana P3K?”

Sehun menunjuk dengan dagunya pada nakas kecil di sisi kanan lemari, matanya masih memperhatikkan Yoona dengan tajam. Yoona mengangguk untuk kedua kalinya dan berjalan menuju nakas kecil, dia membuka laci paling atas dan menemukan kotak kaca yang dibutuhkannya. Dia berjalan kembali lalu duduk lebih dekat dengan Sehun. Wangi pria itu menyeruak lagi, Yoona tidak bisa menahan tatapannya kepada pria itu.

Sehun lagi-lagi tersenyum kecil, menatap gadis yang duduk di sampingnya entah dengan perasaan seperti apa. Tanpa banyak bicara, Yoona mengangkat tangannya untuk menyentuh perban di kepala pria itu. Sehun cukup terkejut, tubuhnya menegang saat jari-jari cantik gadis itu menyentuh kepalanya dan mulai membuka perban dengan perlahan.

“Apa rasanya sakit?” tanya Yoona, matanya masih fokus pada lembaran perban di dahi pria itu.

Sehun memperhatikkan dalam diam, jarak wajah mereka sangat dekat—tapi bahkan pria itu tidak bisa hanya untuk sekedar menggerakkan sedikit kepalanya dan kemudian menyentuh bibir Cherry gadis cantik di hadapannya itu. Masih dengan kebisuannya, Sehun memperhatikkan lebih jelas. Mata—hidung—bibir—rahang, itu sempurna! Dirinya memang pernah memiliki gadis-gadis luar biasa cantik di sisinya, tapi yang seperti ini, yang sepolos Ini, yang secantik ini—belum pernah dia miliki.

Perasaan itu muncul, perasaan ingin memiliki, ingin menyentuh, ingin memeluk, ingin mencium, semuanya muncul. Sehun tidak tahu apa yang terjadi, tapi seperti magic—ada sesuatu tentang gadis ini. Gadis cantik yang membuat kepalanya pusing selama berhari-hari.

“Sehun?”

Suaranya lembut—begitu menggelitik—menakjubkan, dan bagaikan tersihir—pandangan mereka bertemu, menyatu dalam jangka waktu cukup lama. Seperti biasanya, masing-masing tidak ada yang mengetahui pikiran satu sama lain. apa yang dilihatnya? Apa dia menyukaiku? Apa dia gugup? Apa dia merasa senang? Apa dia terkejut? Pertanyaan-pertanyaan itu hanya lewat begitu saja tanpa pernah ada jawabannya.

Mata cantik Yoona berkedip, membuat mata lain yang ditatapnya ikut berkedip. Merasakan atmosfir aneh di antara mereka, Yoona menjauhkan wajahnya dari pria itu. Menatap aneh pada sosok tampan yang sampai detik ini masih diam menatapnya. Apa yang dia lakukan? Apa dia baik-baik saja? Dia kenapa?

Belum sempat pertanyaan itu keluar dari mulut gadis itu, tangan Sehun terangkat menyentuh kedua pundak kurus gadis itu. Yoona mengerjap, antara bingung—terkejut—dan takut. Yoona membuka mulutnya lagi, hendak mengatakan sesuatu. Tapi yang terjadi detik berikutnya adalah bibir lembut pria itu menyentuh bibirnya.

Seperti di dunia lain, seperti lumpuh, Yoona tidak merasakan apapun selain gerakan perlahan dari bibir pria itu. Apa ini? Apa yang dilakukannya?

Yoona membuka matanya dan menemukan pria itu tengah memejamkan mata. Wajahnya lebih rileks dan tampan. Kulitnya bersemu merah, gerakannya lembut, dan demi apapun—dirinya memang pernah berciuman dengan Kris, tapi tidak pernah sedalam ini—selembut ini—sehalus ini.

Perlahan-lahan, tangan Yoona terangkat, tanpa pikiran apapun, tanpa niatan apapun, dia menyentuh rambut basah pria itu—menikmatinya dan ikut memejamkan mata.

***

“Sialan Yoona, kalian hanya berciuman saja?” tanya Yuri setelah dirinya tertawa renyah selama enam puluh detik. Gadis yang duduk di hadapannya cantik, menggunakan gaun plum yang sangat pas dengan tubuh mungilnya. Yuri tertawa lagi saat mendapati wajah Yoona semakin dongkol. “Padahal kalian hanya berdua di kamar, dan kalian hanya berciuman saja?”

Yoona mengerutkan alisnya, menatap kesal pada Yuri yang suaranya sedikit terdengar oleh sepasang remaja di meja sebelah. “Diam Yuri! Kau memalukan sekali.”

Yuri mengambil gelas Latte nya yang sudah hampir habis, lalu meneguknya dalam sekali gerakan. “Yoona, aku tidak habis pikir. Dia itu mantan pacar dari sederet wanita cantik, dia begitu ahli memikat wanita, tapi denganmu? Mengapa tidak terjadi apa-apa?”

“Tutup mulutmu Yuri, kau berharap aku juga jatuh di tangan pria itu? dipermainkan olehnya?” Yoona berujar sengit, mendengar hal itu—Yuri menghentikkan tawanya, dia menaruh Lattenya di meja lalu menatap sahabatnya dengan serius.

Dia berkata, “Jika dia mempermainkanmu, aku akan merusak nama baiknya di seluruh majalah.”

“Seperti kau punya wewenang saja.”

Yuri tertawa lagi, “Tapi serius Yoona, bagaimana kalian menghentikkannya?”

“Terhenti begitu saja.”

“Dia yang menghentikkannya?”

Yoona menggeleng frustasi, dia memijat pelipisnya lalu menatap sahabatnya dengan ekspresi tak terbaca. “Aku tidak tahu, aku tidak berpikir jernih.”

“Tentu saja kau yang menghentikkannya. Kau begitu mengagungkan keperawananmu.”

Yoona melotot lagi saat suara Yuri lagi-lagi membuat pasangan remaja di sebelah meja menelengkan kepalanya untuk menatap mereka berdua. “Sialan Yuri, aku hanya ingin orang yang tepat.”

“Dan bagaimana kau mengetahuinya, bahwa dia orang yang tepat?”

Gadis cantik itu mengendikkan bahunya, dia menjawab, “Entahlah, biasanya aku bisa merasakannya. Mana yang tepat mana yang tidak.”

Yuri mencibir sahabatnya lalu menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Dia memperhatikkan Yoona dalam diam. Sahabatnya itu gelisah, bingung, kikuk, semenjak kemarin. Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya, pasti ada sesuatu. “Sehun—pria itu bagaimana menurutmu?”

Pertanyaan Yuri keluar dari topik masalah, Yoona sempat bingung untuk sesaat—tapi dirinya menjawab. “Dia tampan dan kaya.”

“Bukan yang tampak Yoon.”

Yoona berpikir sebentar, dia menatap pada dinding putih di belakang Yuri. Kemudian tatapannya kembali pada wajah cantik sahabatnya. “Dia baik. Dia sopan. Dia selalu bereaksi berlebihan.”

Yuri memicingkan matanya saat Yoona menjawab dengan perlahan. Matanya menangkap sesuatu, sesuatu yang baru dari sahabatnya. Apa? Kekaguman ?

“Yoon, kau menyukainya?”

***

Yoona sedang memejamkan mata di atas ranjangnya. Sesekali matanya terbuka dan menatap pada langit-langit putih kamarnya, lalu menutup lagi dan terus berulang seperti itu. Pikirannya berkecamuk, tentang Sehun—tentang pria itu. Bagaimana dia menatapnya, bagaimana dia berkata, bagaimana dia bersikap, bagaimana dia tersenyum, semuanya yang dilakukannya—berhasil membuat Yoona tidak bisa tidur. Terlebih karena belakangan pria itu mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal dan mengejutkan.

Dia menyukaiku? Tapi kenapa harus aku?

Yoona memejamkan matanya lagi saat pikirannya kembali terbang di malam dimana mereka berdua berciuman. Ciuman itu, sungguh! Itu begitu intens, begitu dalam, begitu murni. Terjadi begitu saja, tanpa nafsu yang menggebu, tanpa gairah, hanya berciuman. Antara Yoona dan Sehun.

Pintu diketuk, Yoona membuka mata dan menemukan Yuri sudah menyembulkan kepalanya ke dalam. Rambut pirangnya diikat kuda ke atas, seperti biasa—Yuri hanya menggunakan gaun tidur yang begitu manis.

“Keluarlah, ada kiriman untukmu.”

Yoona mengerutkan keningnya, tapi tanpa berkata-kata mengikuti Yuri keluar kamar. Di ruang tengah, di atas sofa yang menghadap pada televisi yang menyala. Ada kotak silver berukuran cukup besar tampak begitu mewah—begitu istimewa.

Yoona berjalan mendekat lalu menunjuk kotak itu dengan dagunya. Dia bertanya kepada sahabatnya. “Ini apa?”

“Kiriman—untukmu.”

“Dari ?”

Yuri menghela nafas bosan, “Hanya buka dan lihat saja Yoona, aku tidak tahu!” gadis itu meliuk pergi ke arah dapur untuk mengambil secangkir kopi yang sebelumnya sedang dia buat.

Yoona menyentuh kotak itu, ada pita berwarna emas di atasnya. Tangannya menyentuh singkat padanya, lalu jarinya membuka tutup kotak dengan perlahan. Entah kenapa, jantungnya berdegup begitu saja, seperti bisa menebak dari siapa kotak itu sebenarnya.

Mata Yoona membulat, di dalam kotak—ada sebuah gaun silver, kotak lain yang berukuran lebih kecil, juga sepasang sepatu cantik. Yoona tidak bisa mengontrol ekspresinya, tangannya terangkat menyentuh gaun berwarna silver itu dengan takjub.

Di belakangnya, Yuri sepertinya sempat menyemburkan kopinya dan berjalan mendekat untuk melihat lebih jelas. “Itu apa?” pekik Yuri, entah karena histeris atau kaget.

Yoona tidak ingin menjawab, dia mengambil sepucuk kertas kecil di dalam kotak. Ada sebuah tulisan—bukan tulisan tangan, seperti diketik dan itu berhasil membuat Yoona kembali terkejut.

Tolong aku dengan ini..

Yoona menoleh pada sahabatnya yang kini sibuk membeberkan gaun cantik itu di atas sofa, Yoona mengendikkan bahunya dan menatap Yuri untuk meminta penjelasan.

“Apalagi Yoona? dia—pria itu, akan mengajakmu kencan atau semacamnya!”

Gadis cantik itu linglung untuk sesaat, tapi langkah kakinya membawanya kembali ke kamar dan tanpa pikir panjang menghubungi seseorang. Seseorang yang entah bagaimana, entah mengapa, hanya dia yang dipikirkannya.

Telepon di jawab di dering ketiga, suara pria itu mengandung senyuman. Entah dari mana Yoona mengetahuinya, tapi dirinya cukup yakin Oh Sehun sudah menduga dengan panggilan ini.

“Apa ini?”

Kau sudah menerimanya?

“Aku ingin tahu apa maksudmu.”

“Aku akan menjemputmu pukul delapan, kumohon bersiaplah.”

Yoona menggigit bibirnya, membayangkan ekspresi usil dari pria di ujung telepon. “Tapi aku—”

“Sampai jumpa Yoona.”

Panggilan ditutup. Gadis itu melempar ponselnya ke ranjang lalu kembali menemui Yuri di luar. Yuri saat ini sibuk menatap sepasang sepatu hitam yang Waupun terlihat simple, semua orang tahu harganya pasti sangat mahal.

Yuri menyadari kedatangan Yoona, dia menoleh singkat lalu kembali menatap pada sepasang sepatu yang di taruhnya di atas meja. “Sialan Yoona, aku tidak akan memberitahumu berapa jumlah uang yang dia habiskan untuk semua ini. Aku yakin—sangat yakin, kau akan sangat rewel nantinya.”

“Bagus sekali Yul, dengan mengatakan itu kau sudah sukses membuatku rewel.”

Yuri terkekeh, dia kembali duduk di atas sofa, di samping gaun yang dia beberkan. Gadis itu menunjuk sesuatu dengan dagunya. “Ayo kita lihat yang itu.”

Mata Yoona mengekori pada kotak kecil lain di dalam kotak. Warnanya merah muda, sangat lembut dan menyenangkan. Yoona meraihnya, cukup memiliki firasat tentang hal mewah lain yang mungkin akan membuatnya semakin rewel.

Kotaknya terbuka—atau lebih tepatnya dibuka. Ada sebuah kalung, entah berlian atau bukan—tapi mengingat siapa yang mengirimnya, Sembilan puluh Sembilan persen pastilah itu berlian. Modelnya sederhana, tapi lagi-lagi terlihat mewah. Ada sepasang anting-anting yang cukup panjang juga, tapi itu cocok dengan tampilan kalung yang sederhana. Gadis yang memegang kotak itu memutar kepalanya menatap Yuri. Sahabatnya memang sudah menduga, tapi dirinya juga cukup terkejut melihatnya.

“Dia gila.”

“Aku yakin dia gila.” Timpal Yoona.

“Jam berapa dia menjemputmu?” Yuri bangkit dari sofa dan berkacak pinggang.

Yoona menjawab, “Jam 8.”

“Kalau begitu lebih baik kau pergi ke kamar mandi sekarang juga!”

Yuri berkata, setengah berteriak. Yoona menaruh kotak itu di atas meja, wajahnya masih tampak bingung. Tapi tubuh ringkihnya berbalik dan setengah berlari ke dalam kamar.

***

Seseorang berdiri di balik pintu. Dari intercom Yoona bisa melihatnya, dan entah kenapa hal itu membuat jantungnya berdenyut-denyut. Rasanya tidak menyenangkan, rasanya gugup. Terlebih karena hari ini adalah pertama kalinya mereka bertemu semenjak kejadian itu.

Yoona melangkahkan stiletto yang sebelumnya dikirim pria itu dengan perlahan. Dia membuka pintu. Walaupun di intercom wajah pria itu sangat tampan, melihatnya langsung tanpa media apapun cukup membuat Yoona terkejut, itu karena dia tampan, tampan, dan sangat tampan.

Seperti biasa, setelannya formal dan eksklusif. Memakai tuxedo hitam dan kemeja putih juga dasi kupu-kupu yang membuat image nya semakin mahal, semakin langka, semakin sulit di capai.

Yoona menatap pria itu dari balik bulu mata, entah karena malu atau apa. Itu bodoh, karena dia hanya berdiri diam menunggu Sehun menghentikkan tatapannya dari dirinya. Oh Sehun—pria itu, tidak sadar bahwa dirinya menatap sosok cantik di hadapannya dalam bilangan waktu satu menit.

Yoona cantik, dan dia nyata. Rambut coklatnya tergelung rendah ke belakang, ada beberapa helai yang dibiarkan mencuat—itu anggun. Gaun silvernya berlekuk mengikuti tubuh rampingnya. Kainnya menjuntai ke bawah, perhiasan yang dipakainya seperti bersinar, dan wajah itu—entah apa yang telah Yuri lakukan padanya, yang pasti dia berhasil membuat wajah Yoona seratus ribu lebih cantik dari biasanya.

Sehun mengerjap, tampak bingung tapi kemudian dia tersenyum. Tangan kirinya terulur, menunggu Yoona menyambutnya. Bodoh jika menolaknya, bodoh jika tidak menginginkannya, dan tangan gadis itu terulur menyambutnya. Tangan itu terasa begitu pas, begitu cocok. Seperti Tuhan khusus membuatnya hanya untuk digenggam oleh seorang Oh Sehun.

Gadis itu tersenyum kilas saat Sehun menggenggam tangannya dan membawanya keluar. Dia menatap Yuri sebentar yang saat ini sedang tersenyum konyol. “Good Luck Yoon!”

Sehun tersenyum pada Yuri, “Aku pinjam temanmu.”

“Habiskan saja dia.”

Kemudian mereka tertawa, dan Sehun membawa lengan Yoona pada lengannya.

Cukup aneh, berdiri berdua di dalam lift dengan pakaian seindah itu. Yoona sedikit menoleh pada pria tampan di sampingnya. Wajahnya terlihat lebih lembut, dia menyadari tatapan gadis itu lalu balas menatapnya.

“Kau cantik. Semua pria rela membunuh untuk mendapatkanmu.”

Itu terdengar konyol, tapi Yoona cukup memerah hanya untuk menggumamkan sebuah ucapan “Terimakasih.” Lewat mulut cerdasnya.

Saat mereka sudah di dalam perjalanan, Sehun menjelaskan bahwa hari ini ada sebuah perayaan yang harus dihadirinya. Yoona bertanya tentang mengapa dirinya harus ikut. Dan Sehun hanya menimpali bahwa dirinya butuh wanita cantik di sisinya.

“Wanita cantik banyak. Banyak sekali. Mengapa aku?”

Sehun mengerutkan keningnya, dia tidak tersenyum. “Kau tidak mau?”

“Aku hanya ingin tahu mengapa aku?”

“Secara teknis karena aku menyukaimu.”

Yoona terdiam, menatap buku-buku jarinya dengan bingung. “Apa hanya karena itu?”

Tatapan Sehun lurus ke depan, dia memasang wajah serius lalu berkata. “Tidak Yoona. kelak kau akan mengerti.”

Mobil berhenti di pelataran gedung. Satu persatu mobil menurunkan sepasang pria dan wanita yang kurang lebih berpakaian seperti Yoona dan pria itu. Sehun menolehkan kepalanya, dia tersenyum saat tahu Yoona sedang gugup. “Kau bisa percaya padaku. Kau hanya perlu tersenyum,” Katanya. Yoona tersenyum kecil sebagai jawaban. “Betul. Seperti itu, kau tahu betapa cantiknya senyuman itu.”

Lalu mereka berdua turun dari mobil, Sehun menggandeng gadis itu. Dia sempat berbisik pada Yoona dan sukses membuat gadis itu memerah. “Lihat efek apa yang kau timbulkan untuk pria-pria itu,” katanya. “Aku beruntung. Terimakasih.”

Walaupun Yoona tidak mengerti, dirinya hanya diam dan mengikuti Sehun melangkah masuk. Di dalam, sudah cukup banyak orang yang hadir. Dalam sekejap dirinya tahu mengapa Sehun mengirimkan paket cantik ini padanya, mungkin karena Sehun yakin di apartemennya— Yoona tidak akan menemukan pakaian yang cocok untuk mengimbangi orang-orang di dalam sini.

Sehun menjelaskan lebih detail bahwa perayaan ini adalah untuk dibukanya cabang bisnis baru di sejumlah Negara di Eropa. Dan Sehun adalah salah seorang investornya, mungkin investor terbanyak. Itu mungkin saja.

Ada senyuman kecil di wajah gadis itu. “Aku suka Eropa.”

Sehun bertanya, “Kenapa?”

“Hanya suka saja. Sepertinya keren.”

“Nanti aku akan mengajakmu kesana.”

“Kau akan mengajakku?”

Sehun mengangguk.

“Kenapa?”

“Hanya suka saja. Sepertinya keren,” timpalnya. Yoona terkekeh, “Kau mencuri kata-kataku.”

“Aku hanya pinjam.” Lalu mereka berdua saling tersenyum, berjalan kesana kemari memberi salam kepada orang-orang yang mungkin dianggap penting. Yoona cukup lelah, ini sudah keberapa puluh kali dirinya bersalaman dengan orang-orang. Dan kakinya mulai pegal, dan dia haus.

Sehun mendekatkan bibirnya pada telinga gadis itu, “Ayo kita duduk, nanti kuambilkan air.”

Itu cukup ajaib karena Sehun cukup mahir membaca situasi, termasuk situasi Yoona yang saat itu yang memang sedang lelah dan kehausan. Dia mengajak Yoona untuk duduk di salah satu kursi di dekat pohon buatan yang berkelap-kelip. Gadis itu duduk dan menatap Sehun yang kini berdiri di hadapannya.

“Tunggu. Akan kubawakan minum.”

“Terimakasih.”

Pria itu melangkah pergi, Yoona menatap kilas pada sepatu cantiknya lalu pada sekelilingnya yang sibuk. Ada tawa dimana-mana, Yoona tahu itu bukanlah tawa sungguhan, hanya tawa basa-basi, tawa pura-pura.

Gadis itu menatap lagi pada sepatunya, lalu menemukan sepatu lain tidak jauh darinya. Matanya mengikuti alur dan berhenti pada wajah cantik yang berdiri di hadapannya. Yoona mengernyitkan dahi, dia berdiri dan mensejajarkan posisinya dengan wanita itu.

Wanita itu menggunakan gaun peach yang pendek, sepatunya tinggi sekali—Yoona sempat membayangkan dirinya jatuh terhuyung jika mengenakannya. Wajahnya cantik—cantiknya tidak membosankan, matanya khas wanita-wanita Korea, tanpa double eyelid, tapi itu tegas—dan seksi. Bibirnya penuh, diwarnai oleh lipstick merah terang yang begitu menarik perhatian.

“Kau siapa?” tanya wanita itu dengan pelan-pelan. Seperti mendiktenya, tatapannya tidak menyenangkan. Yoona mengerti bahwa pembicaraannya dengan gadis di hadapannya itu nanti pastilah akan menyebalkan.

“Kau yang siapa?”

Mendengar jawaban Yoona, wanita itu tertawa—lagi-lagi dengan cara yang tidak menyenangkan. Dia menghentikkan tawanya, lalu memperhatikkan Yoona dari atas ke bawah. Lagaknya seperti dia adalah wanita paling cantik—wanita paling cantik yang kehilangan percaya diri.

“Mengapa kau datang bersamanya?” tanyanya, “Bersama Oh Sehun?”

Pertanyaan itu, menjelaskan semuanya, menjelaskan kebingungan itu, menjelaskan keheranan itu. Wajah itu pernah dilihatnya, dan setelah dia bertanya seperti itu Yoona ingat bahwa Yuri pernah memperlihatkannya dari layar laptopnya.

“Ini yang paling baru, mereka putus sekitar dua bulan yang lalu”

Jadi disanalan Yoona, saling berhadapan dengan mantan pacar seorang Oh Sehun yang merepotkan.

“Kau pacarnya?”

Yoona terkejut, tapi dia tidak menunjukkannya. Bersikap santai, tenang, dan berkelas. Itu yang selalu dia lakukan dulu saat wanita-wanita yang mengejar Kris melabraknya. Mengenai Kris, mari tidak kita bawa-bawa terlebih dahulu.

“Kau siapa?” tanya Yoona lagi.

Wanita itu mundur selangkah, dia menatap Yoona dengan kasar. “Kau belum menjawab pertanyaanku.”

“Mengapa aku harus? Dan kau juga belum menjawab pertanyaanku. Kau siapa?” suara Yoona dibuat sedatar mungkin, walau sebenarnya—dirinya begitu gugup.

Dia menatap Yoona tidak percaya, “Kau tahu, kelak—kau adalah gadis kesekian yang akan dibuangnya. Dia menyukai wanita—semua wanita. Wanita-wanita cantik.”

Terimakasih, itu artinya diriku cantik. Dan mungkin paling cantik melihat ekspresimu yang kesal seperti itu.

Gatal Yoona ingin mengatakannya, tapi dia masih punya kesopanan yang diajarkan ibunya.

Terimakasih, aku memang memiliki sejuta kata untukmu, tapi aku tidak akan mengatakannya, karena aku bukanlah dirimu.

“Kau pelacur, wanita sialan, kau mau saja didekatinya karena dia kaya!”

Mendengar makian itu membuat mata Yoona memanas, tangannya terkepal, dia ingin menampar mulut itu. tapi setelah didengarkan lebih jauh, sepertinya kata-kata itu lebih cocok untuk wanita itu sendiri.

“Bagaimana denganmu?” suara Yoona tetap tenang, sementara si wanita sudah terllihat marah.

“Dasar jalang! Kau penggoda!” lagi-lagi perkataan wanita itu lebih cocok untuk dirinya sendiri, Yoona menatap tajam pada gadis marah-marah di hadapannya. “Pulang dan tanyakan ibumu mengapa dia melahirkanmu!”

Wanita itu menunjuk Yoona dengan tangan kanannya yang terkepal memegang segelas wine. Tapi detik itu, gelasnya terlepas—karena Yoona merebutnya dan melemparkan isinya pada wajah wanita itu.Wanita yang marah-marah itu terkejut, dia kembali mengumpat sementara beberapa orang mulai berkumpul menyaksikan.

“Aku akan membiarkanmu bicara sampai mulutmu berbusa, tapi jika kau menghina ibuku—” suara Yoona tercekat, parau, dan keras. “Aku yang akan membuat mulutmu berbusa.”

Wanita itu, wanita gila itu, yang wajahnya tersiram wine, tidak bisa menahan amarahnya. Tangan lancangnya terangkat untuk menampar Yoona, tapi seperti di dalam drama. Tangan lain menahannya.

Seperti di dalam drama juga, pria tampan itu disana. Setelah sebelumnya membiarkan dua gelas minuman pecah ke lantai. Oh Sehun terlihat marah, dia menatap mantan pacarnya dengan geram.

“Apa yang kau lakukan?” suara pria itu rendah. Tapi belum sempat terjawab, Yoona sudah beranjak pergi, menyeret kakinya yang pegal juga gaun cantiknya keluar gedung.

Gadis itu sempat ngeri membayangkan yang mana akan Sehun pilih. Gadis sialan itu, atau dirinya. Dan Sehun memilih dengan tepat. Dia berlari menyusul Yoona dan menahan lengannya.

“Lepaskan tanganku.”

“Yoona apa yang terjadi?” dia melepaskan tangannya, menatap Yoona dengan gelisah.

“Aku tidak tahu, dia datang padaku dan memanggilku pelacur. Dengar Tuan, sebaiknya kau urus dulu mantan-mantan pacarmu itu sebelum kau menyukaiku. Karena apa? Karena aku tidak mudah! Aku bukan mereka! Aku bukan pelacur seperti mereka!”

Itu menyakitkan, sampai Yoona berbalik dan meninggalkan Sehun. Pria itu tidak bisa berkata apa- apa. Rahangnya menegang, menatap punggung Yoona yang menjauh, melihat itu kakinya berlari mengejar lagi.

“Apa lagi?” teriak gadis itu saat lengannya ditarik untuk kedua kali.

“Joe akan mengantarmu.”

“Tidak usah!”

“Joe akan mengantarmu.”

“Tidak usah!”

“Joe akan mengantarmu.”

“Tidak—”

“Joe!”

Pria bule itu mengerti dan membukakan pintu mobil yang entah dari kapan sudah ada di sana. Yoona menatap sebentar pada wajah Sehun yang kacau. Dia kemudian masuk ke dalam mobil setelah bergumam, “Akan aku kirim semua ini besok pagi.”

Dan mata mereka bertemu, terhalang kaca mobil yang gelap. Yoona tidak tahu apa yang terjadi padanya, dia tidak bermaksud seperti itu, dia bingung, tidak tahu harus bertindak seperti apa. Perlakuan wanita itu padanya cukup menyadarkannya, tidak cukup—tidak mudah—tidak instan—untuk bersama seorang Oh Sehun.

***

TBC.

Halo, aku datang sambil lari-lari. Aku kesiangan, aku terlambat, maaf ya teman-teman. Aku sibuk ospek, aku sibuk sekali. Tapi aku dateng, dan kalian masih menunggu. Aku senang, punya kalian, yang selalu nunggu aku. Aku ngetik ini dua hari. Malem sebelumnya terhenti karena mati lampu, untung sudah aku save. Lalu malam selanjutnya aku lanjutin sampai selesai. Dan Inilah chapter 3, jangan marah! karena Yoona dan Sehun itu pairing disini. Aku janji mereka bakal jatuh cinta, mereka bakal bersama. Tapi kalian harus terima, untuk sampai kesana—mereka punya cerita. Aku suka karakter Sehun yang kuat disini, aku juga suka Yoona disini. Aku suka mereka berdua, karena itu aku gak akan sakitin mereka. Terimakasih banyak untuk respon kalian yang rajin aku baca satu-satu, terimakasih untuk masukan kalian yang aku masukin daftar satu-satu. Aku suka sharing dengan kalian. Aku penulis dan kalian pembaca, kita gak saling kenal, kita gak tahu satu sama lain, Kita cuma ketemu lewat layar, lewat tulisan ini, tapi dengan respon kalian, aku ngerasa kalian ada, disini, bareng aku, semangatin aku lanjutin tulisan ini. Aku ngantuk. Jariku pegal, aku mau tidur. Sampai jumpa di chapter selanjutnya! I love you!

-Pinkypark.

138 thoughts on “[Freelance] Enamorada (Chapter 3)

  1. makin kesini makin keren cerita ny .suka banget dengan sikap yoona yang berani lawan mantan sehun .konflik ny tambah seru .lanjut thor

  2. Mantannya sehun pengganggu!
    Aku pikir nanti dipesta sehun bakal ngajakin yoona dansa. Ehh malah kejadiannya kaya gini..
    Sutralahhh yg pnting next moment yoonhunnya lebihh sweet dehh🙂

    Ternyata udh chap 4 ya thorr.. Yuhuuuuu😉😉 lanjut bacanya !!

  3. Wah, sikap yoona ke mantan pacarnya sehun sungguh keren, bener bener yoona disini elegan sekali. Aku berharap next nya sehun ngga akan melepaskan yoona thor

  4. Ff chapter terfavorit bagi aku thor😍 pemilihan kata2nya dalem,menghanyutkan,pokoknya jd terbawa suasana thor😁😄neomu joh joha joha joha johaeyo😍👍❤

  5. Cool! Gaya bahasanya keren, mudah dipahami, tapi update nya lama T_T kapan mau di next???
    Bulukan aku nunggu nya :3

  6. kamu keren, di sibuknya ospek msh sempet nulis ff,
    dan ceritanya jg menarik bkn crt yg cepet2 buat selesai dan jg gaya menulisnya bagus jg,

    bener sih sm yoona, apalagi yoona br disakitin sm kris dan sehun yg katanya playboy, pasti yoona jg mikir lah, sehun beneran tulus nggak sm dia, ato kayak cew yg baru ditemui yoona itu,
    buat sehun sm yoona menuju hidup yg happily ever after msh berliku,
    semangat ya, buat lanjutin ff nya sm semangat jg buat ospek,!!!!!

  7. Chap ini seru abis unN,SUKA bgt ma karakter yo0ngNie dsini n hunpPa kyak yg gak bisa d jangkau hahaha
    next chap dtnggu

  8. Aww sampe bingung mau komen apa
    Keren, semuanya keren
    Gppa deh harus pake cara berliku tp yg penting mereka bersama😀
    Ditunggu chap 4 nya yg lebih panjaang ya🙂
    Author Jjang!~

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s