Last Day

rindra rat art work posterstate

Last Day

Catatan pertama

Cerfymour a.k.a Quorralicious

PG17+ || Romance || twoshoot

Yoona SNSD and Chen EXO

It’s my imagination, MINE! so don’t be ridiculous say that my fanfic is yours the cast is belong to their parents,agencies, and god.

Kay at shinelightseeker.wordprees.com

WARNING NO PLAGIARISM, DON’T BASH, DON’T COPY without my permission. Typo bertebaran

a.n: Semoga suka ^^

-Jika aku bisa menggantikanmu menerima segala sakit yang kau rasakan saat ini, aku ikhlas dan akan melakukannya dengan senang hati. Tubuh sehat ini tidak ada artinya saat melihatmu penuh rasa sakit, berjuang dengan semua obat yang harus kau minum setiap harinya dan jangan lupa therapi yang harus kau jalani juga selama sisa hidupmu itu-

-Tidak ada kepercayaan yang kekal dan akan selalu membuatmu hidup. Tetapi percayalah aku mencintaimu selama sisa hidupku saat ini, dan untuk selamanya. Aku berjuang untuk bisa menambah setiap detik yang kulalui bersamamu-

Yoona POV

“Yoona-ssi, apa yang sedang kau lakukan? Air panasnya sudah siap untuk dituang!” seru Minah, teman kerjaku. “Aissh, kau ini kenapa sih? Sejak tadi seua yang kau lakukan hanya melamun saja!” omelnya kembali, sembari memasang wajah senyumnya dihadapan para konsumen kami yang sejak tadi menunggu kopi khas Kafe dimana aku bekerja.

Bukannya aku seorang pemalas atau enggan bekerja keras. Hanya saja sejak aku kembali dari rumah sakit Han Gook tadi pikiranku benar-benar tidak bisa fokus. Satu-satunya keluarga yang kupunya saat ini telah divonis mempunyai penyakit yang hanya bisa kudengar dari iklan-iklan televisi selama ini, aku tak menyangka Ayahku bisa mendapatkan penyakit seperti ini.

Semuanya berawal dari hari itu.

Flashback….

“Yoona-ya, kau sudah pulang sekolah nak?” tegur Ayahku dikala waktu istirahatnya dari pekerjaannya sebagai buruh konstruksi jalan yang kebetulan proyek yang saat ini sedang ada tepat didepan rumah kecil kami. “Ne, Appa.” Jawabku sembari menyimpan tas punggung yang sedari tadi ingin sekali aku simpan karena menyakiti pundakku. “Appa, kenapa Appa mimisan?” tanyaku setelah memerhatikannya lebih dekat. “Ah, ini biasa saja Yoona-ya, mungkin akibat terik matahari yang terlalu panas menyengat,” balas Appa enteng. “Ah, Ne. Jagalah kesehatanmu Appa. Jangan terlalu banyak bekerja. Kau membuatku khawatir.” Jawabku sembari memasak mie instan Ramyun untuk kami berdua.

Tak lama sejak itu, selang dua minggu Appa sakit flu tapi karena kami berdua tidak mempunyai uang yang cukup untuk berobat dirumah sakit, Appa hanya meminum oat seadanya yang dia beli dari apotek terdekat. Tapi sakit flu nya tak kunjung sembuh, aku pu memaksanya agar mau diperiksakan pada dokter yang praktek tak jauh dari lingkungan rumah kami. “Ayolah Appa, kau tak ingin membuatku terus menerus khawatir padamu kan? Ini sudah hamir satu bulan sakit flu Appa belum sembuh juga.”

Pada hari itu, dokter bersangkutan memberikan obat untuk alergi debu untuk pengobatan selama satu minggu, Appa-ku didiagnosa memiliki alergi terhadap debu. Semua diagnosa dokter tersebut hanya membuatku tertawa, bagaimana tidak selama ini Appa bekerja sebagai buruh proyek pembangunan yang tentunya harus berurusan dengan debu, lalu dia terkena alergi debu? “It’s a nonsense,” ujarku dalam hati.

Genap satu minggu sejak kami ke dokter, Appa belum kunjung sembuhnya. Bahkan saat ini yang membbuatku semakin kebingungan adanya lendir yang hanya keluar dari hidung kanannya saja. “Yoona-ya, Appa susah untuk bernafas,” keluhnya sembari tersengal-sengal karena hanya bisa menghirup oksigen melalui mulutnya saja.

Flashback Off

Semenjak itu Appa aku ajak untuk pergi ke rumah sakit yang cukup besar. Dokter hanya melakukan penyedotan terhadap hidungnya yang tersumbat. Lalu untuk periksa kedua kalinya, sang dokter pun sebelumnya sudah yakin, Appa akan kesulitan lagi bernafas. Dan dia kembali menyedot lendir yang menghalangi pernafasannya.

“Sepertinya, Ayah anda harus melakukan CT-scan lebih jauh. “

“Baiklah.”

Dengan tabungan yang selama ini aku simpan, melalui pekerjan part time ku akupun kembali memaksa Appa agar mau melakukan Ct-scan seperti anjuran dokter.

“Appa tidak apa-apa nak, Jangan buang-buang uangmu sendiri untuk penyakit yang tidak ada. Lihatlah, Appa baik-baik sa-ja, uhuk… uhuk…” bujuknya sambil terbatuk-batuk. Airmata yang selama ini aku tahan, kekhawatiran yang selama ini kusembunyikan akhirnya harus terlihat. Airmata ini menganak sungai di kedua pipiku yang seakin tirus memikirkan Appa.

Disinilah aku…

Rumah sakit Han Gook, rumah sakit yang lebih besar menurut rujukan dokter dirumah sakit sebelumnya.

“Ada yang bisa kami bantu?” tanya salah satu pegawai resepsionis yang siap sedia tepat ditengah pintu masuk rumah sakit.

“Bisakah kami bertemu dengan d. Kim Chen? Saya mendapat rujukan dari dokter Oh Sehun untuk rujukan penyakit Appa-ku,” jawabku menanti para pegawai tersebut melakukan koordinasinya dengan baik.

“baiklah, sudah kami konfirmasi. Silahkan anda pergi ke ruangan dr. Kim Chen tepatnya ada di lantai tiga diruangan sayap kanan gedung rumah sakit ini.” Ucap mereka kembali smebari menunjukkan dimana elevator berada.

“Ayo, Appa,” ajakku sembari memapah Appa yang kembali kehilangan nafasnya akibat lendir-lendir terkutuk tersebut.

Tok,,, tok,,, tok,,,

“Masuk,” suara yang tidak terlalu rendah terdengar dari dalam ruangan. Kami berdua pun memasuki ruangan tersebut dengan sedikit berhati-hati.

“apakah anda dr. Kim?”

“Ya, ada yang bisa saya bantu, Nona.. hm?” Aku lupa memperkenalkan diri.

“Saya, Im Yoona. Dan ini Ayah saya Im Byunshik.” Dengan sopan aku memperkenalkan diriku.

“Silahkan duduk,” lanjutnya.

“Jadi, mari coba kita lihat apa yang bisa saya bantu,” tanyanya lagi.

“Begini dok, Appa saya dari hampir sebulan lebih yang lalu mengalami pilek, tetapi yang mengherankan hanya pada hidung bagian kanannya saja.” Pandangannya yang tajam yang sejak tadi memandang wajahku beralih pada Appa yang duduk tepat disebelahku.

“Baiklah, mari saya lihat.” Dia pun berdiri lalu membawa stetoskopnya dan senter kecil yang dipasang diatas kepalanya dia nyalakan. “Apa sebelumnya dia mengalami mimisan yang berkepanjangan?”

“hmm, iya dok,” jawabku singkat.

Sama seperti yang dokter Sehun lakukan, dokter Chen pun mengambil penyedot kecil itu dan menyedot kembali lendir yang memenuhi hidung bagian kanan Appa. Tetapi yang membedakannya adalah, kemudian dia memasukkan kapas kecil yang ternyata berisi bius lokal, lalu membawa gunting yang lancip tetapi sangat kecil dan kemudian menggunting sesuatu dari dalam hidung Appa. “Baiklah, saya akan mengecheck diagnosa saya . kembalilah tiga hari lagi.”

“Terima kasih dok, “ jawabku, kuanggukan kepalaku seiringan dengan tanganku yang menggenggam lengan Appa dan memapahnya untuk keluar.

“Semoga saja tidak sesuai dugaanku,” bisiknya lirih beriringan dengan mendekatnya aku pada pintu keluar ruangannya.

“Apa maksudnya..”hatiku bertanya-tanya sejak itu, sejak itu aku tak sabar inign melalui tiga hari ini lebih cepat dari sebelumnya. Berpura-pura aku memiliki ketegaran yang kuat untuk mendengar vonisnya terhadap Appa. Appa selama ini benar-benar menutupi rasa sakitnya, anak macam apa aku ini yang tidak sensitif akan kondisinya yang perlahan memburuk. Bahkan berat badannya yang turun pun tidak dapat aku membedakannya. Maafkan aku Appa.

“Maafkan aku appa,” ucapku tersedu-sedu ditengah kesendirianku di malam terkahir penantianku. Besok dokter akan memvonis penyakitmu yang sebenarnya, Appa.

.

.

.

Pagi itu sangat cerah, bahkan burung-burung gereja sudah siap bernyanyi riang didekat jendela kamarku di lantai dua. Aku dengan malas membuka selimut dan bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Seharusnya hari ini aku pergi bekerja shift pagi, tetapi karena dokter Kim memintaku untuk bertemu dengannya di pagi hari aku pun harus meminta partnerku Minah untuk bertukar shift.

Dengan wajahnya yang dingin, dia memegang hasil ct scan beberapa hari yang lalu milik Appa-ku.

“Beliau positif.” Kata doker sambil menunjukkan foto ct scan yang sedari tadi berada ditangannya. Nampak ada sebuah massa diantara belakang hidung dan tenggorokkan Appa-ku. Cukup besar, ukurannya bahkan sebesar kepalan tangan seorang bayi. Aku masih belum bisa memahami kata-kata dan vonisnya tersebut, dengan polosnya aku bertanya, “Maksudnya apa dok? Positif apa?”

“Positif mengidap kanker, tepatnya kanker nasofaring.”

.

.

.

Deg.

Seolah jantungku berhenti berdetak, badanku luluh lemas mendengar kabar buruk ini. “Kanker dok?” tanyaku kembali, mencoba dan berharap pendengaranku yang salah mendengar. “Ya, kanker stadium 2A.” Jawabnya. Tiba-tiba mataku menjadi buram, seluruh ruangan disekitarku menjadi terlihat gelap. Sebuah beban berat terasa menghantam jiwaku, tubuhku dan pikiranku. Aku tidak bisa berkata-kata maupun melakukan apa-apa. Hanya airmata yang mengucur deras, menemanku melewati masa paling menyakitkan ini. “Kenapa harus Appa yang kau hukum seperti ini Tuhaaannnnn,!” jeritku refleks sembari memegangi dadaku yang terasa menghimpit dan sesak.

“Andwae, andwaeyo. Appa. Jangan tinggalkan aku,” lirihku. Sebuah penyait yang selama ini hanya aku kenal lewat informasi dan berita-berita, kini penyakit itupun menghampiri orang terdekatku, satu-satunya keluarga yang kupunya yang paling aku sayangi. Selama ini aku belum banyak melakukanhal-hal baik untuknya, Appa selama hidupnya hanya bekerja untuk memenuhi kebutuhanku. Dan kini, penyakit tersebut menyerang Appa.

“Jangan terlalu bersedih. Ayahmu masih bisa kita selamatkan,” Sebuah sentuhan tangan mendekap kedua pundakku yang masih bergetar menahan sesenggukan tangisku. “Kita bisa segea melakukan perawatan radiasi dan kemoterapi untuknya, Yoona-ssi.” Bujuk dokter berwajah dingin itu, entah kenapa bujukan dan suaranya benar-benar menenangkanku.

Kupaksakan kaki ini bergerak menuju tempatku bekerja. Disaat ku kehilangan arah, aku tak boleh kehilangan pekerjaan karena aku akan sangat membutuhkan uang untuk pengobatan Appa. Dengan pikiranku yag kosong, aku bahkan tak menyadari seseorang mengkuti dibelakangku. Lelaki dengan tinggi semampai dengan masih memakai jubah putihnya itu terus memerhatikanku dari jauh. Bahkan aku menyalahkan peri cinta yang menembakkan panah nya disaat yang tepat, disaat seperti ini aku benar-benar tidak berharap cibta datang. Aku hanya berharap mukjizat akan datang dengan dermawannya.

.

.

.

Minah kembali berulah, dia menyeretku ke pintu belakang menuju gang sebelah kafe.

“Apa sih maumu? Kau masih mau bekerja atau tidak? Aku lelah jika harus terus menutupi semua kecerobohanmu dalam bekerja. Kenapaa kau tidak keluar dan berhenti bekerja saja daripada harus menjadi beban partnermu seperti aku ini?!” teriaknya. Tak terasa bulir-bulir airmataku kembali menggenangi pelupuk mata ini entah untuk kesekian kalinya. “Mianhae,” jawabku yang hanya dijawab suara ketusnya dan gebrakan pintu yang ditutup dengan keras. Tidak ada lagi percakapan antara kami berdua semenjak pertengkaran itu hingga aku menutup kafe karena malam telah tiba dan sudah waktunya pulang.

.

.

“Kenapa kau terlihat begitu murung Yoona-ya?” sapa Appa saat aku tiba dirumah dan membuka pintu depan rumah. Tak kuasa aku melihat senyuman Appa untuk menyambutku hari itu, didalam hati aku berdoa agar bisa selalu melihat senyumannya tersebut, sedikit berteriak di dalam hati. Meneriakkan protesku terhadap Tuhan yang kurasa sudah tidak adil, memberikan penyakit ini untuk Appa. Beban ini, cukup aku yang menanggungnya saja.

Aku tahu seberapa sakitnya Appa nanti jika harus menjalani kemoterapi dan perawatan radiasi. Aku tahu Appa selama ini jauh dari hal-hal yang berbau kedokteran. Ingin ku menangis kembali, berharap dengan mennagis semuanya akan kembali ke awal dimana Appa tidak akan pergi kemana-mana dan meninggalkanku karena penyakitnya.

Oh Tuhan Tolonglah kami.

“Appa, aku ingin mandi terlebih dahulu. Appa duluan makan malam saja,” ucapku yang melihat Appa sudah siap dengan sumpit dan terduduk di meja makan lipat, harta kami satu-satunya. “Ah, keurae.” Jawab Appa sambil meletakkan kembali sumpitnya. Aku tahu akan begini, Appa selalu ingin makan bersama, dia menungguku mandi.

Melepaskan segala penat dan kabar yang menghantamku seharian ini. Aku bermandikan sabun dan merelaksasikan diriku seadanya saja. Sesudah itu, aku memakai handuk menuju kamarku. Kudengar suara handphone ku berbunyi,

Kriiing~

Kriiing~

“Yeoboseyo, Ne sajangnim. Im Yoona imnida. Mwo? Andwaeyo sajangnim.” Aku memohon didalam percakapan ini, bagaimana tidak semenjak rencana untuk kemoterapi Appa aku harus bekerja keras dan menambah pekerjaan tetapi boss kafe baru saja memanggilku dan memutuskan untuk memecatku. Semakin rumit saja masalah yang aku hadapi ini.

Tetapi berselang beberapa menit handphoneku kembali berbunyi.

“Im Yoona-ssi, apa kau sekarang membutuhkan uang? Mari kita bertemu, aku akan meminjamkanmu uang dan kau bisa membayarnya dengan bekerja padaku.”

“Yeoboseyo, ni nuguya. Siapa ini?”

“Kau akan tahu siapa ini nanti. Disisi sungai han mari kita bertemu jam 10 malam nanti. Pastikan tidak ada satu orang pun yang tahu kita bertemu disana.”

Tut.. tut. Tut

“Eh? Yeoboseyo?!” ucapku memanggil-manggil lawan bicaraku ditelpon tersebut.

Pertanyaan-pertanyaan muncul dibenakku.

Siapa dia?

Kenapa dia bisa tahu aku membutuhkan uang?

Kenapa dia terdengar begitu familiar?

Apa yang dia inginkan dariku?

Pekerjaan apa yang dia siapkan untukku?

Jujur saja, tawaran tersebut cukup menggiurkan bagiku ditengah kekalutan dan himpitan perekonomian diaman justru aku membutuhkan dana yang besar untuk Appa.

To be continue~

Ps: nantikan catatan kedua nya yang lebih dinamis. Hehehe makasih buat komentarnya. ^^

30 thoughts on “Last Day

  1. aku kira ini oneshoot thor trnyata da tbc nya..
    yg nelpon yoong itu chen kah??
    atau siapa??
    apa yoona g punga saudara sahabat maupun teman??
    kasian skli hidup yoong harus nanggung bebannya sendiri
    bejuang demi appanya..
    yg smangat ya eonni demi appa eonni..

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s