Last Day catatan kedua

rindra rat art work posterstate

Last Day

Catatan kedua

Cerfymour a.k.a Quorralicious

PG17+ || Romance || threeshot || Angst

Yoona SNSD and Chen EXO

It’s my imagination, MINE! so don’t be ridiculous say that my fanfic is yours the cast is belong to their parents,agencies, and god.

Kay at shinelightseeker.wordprees.com

WARNING NO PLAGIARISM, DON’T BASH, DON’T COPY without my permission. Typo bertebaran

a.n: Bacanya harus rada mikir, soalnya flashbacknya bolak balik gitu. Anggap aja lagi nonton drama korea yang flashbacknya bolak balik. Hihihi.

Pertanyaan-pertanyaan muncul dibenakku.

Siapa dia?

Kenapa dia bisa tahu aku membutuhkan uang?

Kenapa dia terdengar begitu familiar?

Apa yang dia inginkan dariku?

Pekerjaan apa yang dia siapkan untukku?

Jujur saja, tawaran tersebut cukup menggiurkan bagiku ditengah kekalutan dan himpitan perekonomian dimana justru aku membutuhkan dana yang besar untuk Appa. Sebelum pergi. Aku meyakinkan diriku, dengan tekad bulatku untuk menyembuhkan Appa dari penyakit kankernya tersebut. Kaki-kaki kecilku pun mulai melangkah berat.

“Yoona-ya, kau mau pergi kemana? Ayo makan bersama dulu.” Tegur Appa saat aku menuruni tangga dari kamarku yang terletak dilantai dua. Melihat wajahnya dengan seksama, bisa kulihat keriput-keriput yang selama ini sering kuabaikan. Appa, aku akan berusaha yang terbaik untukmu.

“Aku tidak lapar Appa. Sooyoung baru kembali dari Amerika, dan dia ingin segera menemuiku,” bohongku padanya. Aku hanya tidak ingin membuatnya khawatir. Appa terlihat kaget mendengar jawabanku, “Sooyoung teman SMP-mu? Wah sudah lama sekali Appa juga tidak melihatnya, baiklah kalau begitu. Pergi temuilah dia,” ujar Appa dengan mulai menyendokkan sup rumput laut buatannya sendiri.

“Tapi jangan menginap ditempatnya. Pulanglah sebelum larut malam,” nasehat Appa saat aku mulai memakaikan sepatu ketsku. “Ne, aAppa. Aku pergi,” jawabku dengan agak terburu-buru karena jam sudah hampir menunjukkan pukul 10 pas.

Suasana malam yang dingin menerpa wajahku seketika aku menutup pintu rumahku yang kecil, menyusuri jalan setapak menuju kearah halte bus terdekat. Menuju sungai Han, dimana aku akan menemukan semua jawabanku disana. Dan tibalah bus yang sedari tadi aku tunggu-tunggu. Hati ini meragu untuk sejenak dan sekelabat bayangan Appa kembali menerkam ingatanku. Aku harus yakin akan semuanya.

.

.

.

Seorang pria terlihat berdiri begitu tegap dengan telepon genggamnya, dimana dia melakukan pembicaraan dengan seseorang yang dia kenal melalui telepon. “Kau yakin dia sudah dipecat dari pekerjaannya?” Lelaki lain yang sedari tadi menunggu dibelakangnya hanya menganggukkan kepalanya penuh hormat. “Jadi dia benar-benar sedang membutuhkan uang, seperti dugaanku. Semuanya akan berjalan sangat lancar jika dia mau melakukan sesuai yang aku mau.” Seringaian nampak diwajah pucatnya.

“Im Yoona, wajahmu yang akan membawamu ke neraka,” ucapnya lagi dengan penuh kebengisan.

“Changsoo-ya, siapkan mobil untukku. Gadis manis ini menunggu di sungai Han.” Ujarnya kembali dengan penuh keyakinan.

.

.

.

“Dr. Oh Sehun, apa yang anda lakukan disini?” wajahku pasti diliputi rasa kaget. Meski tidak yakin, tapi kenapa dokter Oh ada disini. Tepat ditempat aku seharusnya bertemu dengan orang yang menelponku.

“Sudah lama menungguku Im yoona-ssi?”

“Anda yang menelpon saya?!” Tak percaya dengan apa yang terjadi, aku memundurkan langkahku sedikit menjauh darinya.

“Janganlah terlalu formal berbicara dengan ku, “ pinta Oh Sehun padaku.

“Apa maksud semua ini? Kenapa anda, eh tidak maksud saya, kenapa kau menelponku dan berbicara hal yang tidak jelas seperti itu?”

“Tidak jelas bagaimana? Jelas sekali kau membutuhkan uang dan pekerjaan untuk membiayai perawatan Ayahmu kan? Chen yang memberitahuku, Ayahmu positif terkena Kanker Nasofaring. Seperi dugaanku sebelumnya.” Dokter ini malah memajukan langkahnya mendekatiku, tiba-tiba dia memegang wajahku dengan penuh kelembutan. Lirihannya bisa kudengar, “Kau benar-benar mirip dengannya,”

“Mirip dengan siapa? Dan bisakah kita langsung berbicara to do point saja. Pekerjaan apa yang bisa kau tawarkan pada gadis lulusan SMA sepertiku ini?” Entah karena rasa takut yang menjalari tubuhku, atau karena memang rasa penasaranku akan pekerjaan ini yang membuatku tak bisa bersabar dan berbicara secara gamblang seperti ini.

“Bisakah kau berpura-pura untukku? Berpura-puralah sebagai mendiang istriku selama tiga hari ini, dan setelah itu kau bisa keluar dari kepura-puraan ini.”

“Bagaimana aku bisa berpura-pura sebagai mendiang istrimu, aku bahkan tidak tahu semirip apa wajah kami berdua,” ucapku setelah sedikit menelaah apa maksud kata-katanya selama pertemuan kami ini. Apakah aku benar-benar mirip dengan mendiang istrinya?

“Aku yang akan mengatasi semuanya. Kau hanya tinggal menjalankan peranmu. Jika kau setuju, kita harus langsung pergi dari sini. Dan kau mulai menjadi istriku sejak malam ini.”

Kesempatan langka ini tidak bisa bertahan lama, aku harus segera menggapainya. Aku pun menganggukkan kepalaku. Bersamaan dengan itu, handphone-ku bergetar, satu pesan dari Sooyoung.

Sender: Sooyoung-ie

Yak! Aku pulang teman! Dimana kau? Jemput aku secepatnya.

Sender: Yoong~

Maaf teman, aku tidak bisa menjemputmu. Kita bertemu lain hari.

Segera kumatikan handphoneku, aku mengikuti kemana lelaki yang bernama Oh Sehun ini dengan hati penuh kebimbangan dan memasuki mobil hitam yang sama dengan yang Sehun tumpangi.

.

.

.

Di lain tempat, seorang pria tengah terduduk. Dia merasa bersalah setelah mengetaui kenyataan yang sebenarnya dari teman sejawatnya bahwa Oh Sehun ang dikenalnya telah mengidap gangguan jiwa semenjak istrinya yang cantik meninggal karena menenggelamkan diri.

“Ya! Sooyoung-ie, benarkah berita mengenai Oh Sehun tersebut? Itu benar-benar Oh Sehun yang sama-sama kita kenal kan?” tanya Chen ditelepon.

“Harus berapa kali aku jawab? Aku mengetahuinya karena aku bertemu dengannya di Amerika, dan baru kuselidiki ternyata selama ini dia mengunjungi ahli therapi untuk menyembuhkan dirinya. Aku sudah sampai di Korea, sahabatku tak bisa menjemputku. Bisakah kau menjemputku?”

“Tunggu di bandara. Lagipula aku masih banyak pertanyaan untukmu Sooyoung-ah.” Chen segera menutup pembicaraan mereka berdua dan mengambil jaket tebalnya serta membawa kunci mobilnya.

Di mobil yang dia kendarai, ingatannya seakan memflashback bagaimana bisa dia dipertemukan dengan seseorang yang bernama Im Yoona.

.

.

.

Flashback.

“Sudah lama kita tak bertemu, sesibuk itukah kau?” canda Oh Sehun pada lelaki yang baru menemui dan duduk disampingnya. “Gin atau wine?” tawarnya lagi pada Kim Chen, teman sesama dokternya.

“Aku cukup populer dikalangan pasien kanker,” jawab Chen, menjawab candaan temannya itu.

“Tadi pagi, aku bertemu dengan seseorang yang benar-benar mirip dengan Choi Soojin. Ayahnya adalah pasienku. Apa kau mau bertemu dengannya? Kurasa dia benar-benar membutuhkan seorang ahli sepertimu bukan sepertiku,”

“Baiklah. Aku akan membantu perawatan Ayahnya, dan mar kita lihat sejauh mana dia miirip dengan istrimu Choi Soojin,” jawab Chen pada waktu itu dengan mantap.

.

.

.

POV Chen

“Begini dok, Appa saya dari hampir sebulan lebih yang lalu mengalami pilek, tetapi yang mengherankan hanya pada hidung bagian kanannya saja.” Pandanganku sejak tadi tak bisa beralih memandangi yang lain, hanya dia. Im Yoona. Dia sangat cantik, lekukan wajahnya sangat pas dan semakin membuatnya terlihat cantik meski dengan pakaian yang biasa saja. Aku rasa, Tuhan pasti menciptakannya saat tersenyum. Lihatlah, bahkan saat dia terdiampun aku tidak bisa berhenti memandangnya. Andwae, aku tidak boleh terus menerus menatapnya. Aku pun mencoba mengalihkan pandanganku dan memusatkan pehatianku pada Ayahnya yang sedang kuperiksa.

.

.

.

“Oh Sehun, apa matamu sudah mulai rusak, hah?!”

“Kenapa memangnya?”

“Gadis yang bernama Im Yoona itu. Dia sama sekali tidak mirip dengan mendiang istrimu. Aku sudah melihatnya,” ujar Chen lagi.

“Kau sudah melihatnya, eoh? Dia bahkan terlalu mirip bagiku.”

“Ya! Sadarlah. Mereka berdua sama sekali tidak mirip. Aku sangat sedih melihatnya saat aku memvonis penyakit Ayahnya. Aku penasaran dan bersimpati padanya, kudengar dia hanyalah seorang part-timer. Bagaimana bisa dia menutupi biaya untuk kemotherapi Ayahnya.”

“Jadi, Ayahnya benar-benar mengidap kanker sesuai dugaanku?”

“Ne, sudah ya. Aku sibuk. Ada pasien yang harus aku operasi beberapa menit lagi.”

“okay,”

.

“Kau yakin dia sudah dipecat dari pekerjaannya?” Lelaki lain yang sedari tadi menunggu dibelakangnya hanya menganggukkan kepalanya penuh hormat. “Jadi dia benar-benar sedang membutuhkan uang, seperti dugaanku. Semuanya akan berjalan sangat lancar jika dia mau melakukan sesuai yang aku mau.” Seringaian nampak diwajah pucatnya.

“Im Yoona, wajahmu yang akan membawamu ke neraka,” ucapnya lagi dengan penuh kebengisan.

“Changsoo-ya, siapkan mobil untukku. Gadis manis ini menunggu di sungai Han.” Ujarnya kembali dengan penuh keyakinan.

.

.

POV Yoona

Wow, apartmentnya mewah sekali. Kusegarkan mataku sedikit dengan mengedarkan pandanganku melihat semua furniture yang serba minimalis namun terkesan elegan.

“Disana kamarmu. Kau bisa berganti pakaian dengan pakaian Soojin, Yoona-ya. Jangan gugup, anggap saja ini rumahmu sendiri.” Ucap Sehun yang langsung pergi meninggalkanku, mungkin agar diriku merasa sedikit nyaman.

Aku memasuki kamar utama yang mewah ini, semuanya didominasi oleh warna brokenwhite yang sangat cantik karena dipadupadankan dengan warna lainnya, soft pink. Aku rasa Sehun pasti sangat mencintai istrinya karena membiarkan istrinya mendekorasi sendiri kamar mereka dengan warna favorit istrinya.

“Kau sudah berganti baju?” Suara nya benar-benar mengagetkanku yang baru saja akan membuka bajuku dan berganti dengan pakaian yang sudah kupilih.

“Ah, Sehun-ssi. Kenapa tidak kau ketuk dulu pintunya?”

“Kenapa aku harus mengetuknya terlebih dahulu? Kau sekarang kan istriku,” smirknya membuat tubuhku bergetar, sedetik itu baru kusadari keputusanku. Aku bahkan hanya menyetujuinya tanpa memberikan syarata-syarat yang seharusnya. Tiba-tiba saja dia mendorongku kearah lemari, desahan nafasnya begitu dekat dengan milikku. Wajahnya mendekat seperti hendak mencumbuku.

“Aniya, Sehun-ssi kita tidak seharusnya seperti ini. Ingat! Aku hanya istri pura-puramu,” sergahku, menahan aksinya. Desah kekecewaan terdengar dari mulutnya.

“Kau harus tahu, seberapa banyak uang yang akan aku berikan untuk mensupport pengobatan Ayahmu Yoona,”

“Sebesar itu pula kau harus mengikuti kemauanku selama tiga hari ini,” Mataku melotot mendengar ucapannya. Apa yang dia maksud? Dia tidak mungkin kan memintaku benar-benar menjadi istrinya dan memenuhi kebutuhan hasratnya?

Otakku tidak bisa berjalan lebih cepat, lengannya yang kokoh lebih cepat dan mendorongku kearah ranjang yang tak jauh dari tempat kami berdiri.

“Argh,Sakit Sehun-ssi,” tolakku, mencoba menerjang tubuhnya yang mencoba berada diatasku.

“Andwaeyo,” ucapku memohon, tapi Sehun malah semakin beringas mendengar permohonanku, dia mencumbui bagian bawah telingaku yang sangat sensitif dan mengundang hasratku untuk mengikuti kemauannya. Kepalaku bergerak tak beraturan, menghindar dari cumbuannya yang mencoba mencumbu bibirku mencuri ciuman pertamaku. Airmataku berlinang begitu saja, mengetahui apa yang selanjutnya akan terjadi padaku. Sehun akhirnya berhasil menciumi bibirku penuh hasrat, meski aku berteriak-teriak meminta tolong sepertinya tidak akan ada yang bisa menolongku. Dengan beringas dia mencoba merobek baju atasan yang sedang aku kenakan.

“Andwae!”

Sreeet, lapisan linen yang menyelimutiku dari keadaan telanjang kini sobek, memperlihatkan buah dadaku yang kemudian Sehun mainkan dengan senangnya, seperti dia menemukan mainan barunya.

“Buah dadamu sangat besar Yoona-ya, aku menyukainya.” Setelah mengucapkan kata itu dia mengulum buah dadaku dibibirnya dan mengisapnya pelan. “Hmmmmhhh,” desahnya. Kekuatan kakiku yang menerjangnya bahkan bukanlah apa-apa baginya. Dia sangat kuat.

“Kumohon hentikan Sehun-ssi, kumohon,” pintuku dengan penuh harap, mengharap belas kasihannya. Dia malah mencumbuiku lagi, bergerak tak beraturan dari belakang telingaku, bibirku hingga buah dadaku yang menjadi sasarannya. Meski kedua tangan ini menutupi dada tetapi tangan Sehun yang lebih kuat menghalaunya. Aku tak kuasa melawan.

“Menangislah lebih keras, tidak akan ada yang bisa mendengarmu. “ ucapnya sembari memelintir buah dadaku, dia mulai membuka pakaian yang ia kenakan satu persatu. Dan membalik tubuhku hingga memunggunginya dan mengelus pantatku yang masih ditutupi celana jeans dia mengelusnya kasa, hingga pada area dimana kemaluanku berada. Tidak!!!!

BRAAK!!!

“Hentikan Sehun-ah, dia bukan Soojin istrimu!” Seorang yang kukenal terlihat dari balik daun pintu kamar. Kim Chen. Dia langsung memukuli Sehun sehingga dia tidak sadarkan diri.

“Apa kau baik-baik saja Yoona-ssi?” tanya Chen saat dia selesai mengikatkan tali pada kedua tangan Sehun. “Maafkan aku yang terlambat menyelamatkanmu,” ujarnya kembali setelah melihat keadaanku yang sudah bertelanjang dada. “Ini, tutupilah,” ucapnya lagi menjawab setiap tangisanku yang keluar, dia mengambilkan selimut untukku, menutupi tubuhku.

“Ayahmu mengalami masa kritis, tadi aku sempat ke alamat rumah yang kau berikan,”

“Appa, bagaimana keadaannya sekarang?”

“Aku hanya sempat memanggil ambulance untuknya dan melihat dikamarmu ada tulisan diarymu. Kau tidak seharusnya memilih jalan pintas seperti itu. Tidak akan ada orang yang mau membayarmu dengan mudah dan tanpa imbalan.”

Aku hanya bisa menundukkan kepala, megingat kembali kejadian yang tidak mengenakan yang baru saja kualami, beruntung ada lelaki baik seperti Chen yang membantuku. “Bagaimana kau bisa menemukanku?”

“Aku baru tahu juga kau bersahabat dengan temanku Sooyoung, saat menjemputnya aku melihat wallpaper handphonenya bersamamu saat dia ijin pergi ke toilet. Dari sanalah aku tahu, dan mencoba menghubungimu lalu pergi kerumahmu dimana hanya ada Ayahmu yang tak sadarkan diri. Aku melihat isi diarymu. Hm, Maafkan aku, aku tidak bermaksud kasar dan melihat semua barang-barangmu tanpa ijin, hanya saja aku berpikir aku harus segera menemukanmu untuk memperingatkanmu mengenai Sehun. Dan sepertinya aku terlambat.”

“Tidak apa-apa, yang penitng kau sudah menyelamatkanku. Kamsahamnida. Memang dokter Oh kenapa?”

“Dia mengalami gangguan jiwa semenjak istrinya bunuh diri di pantai.”

Drrtt..

“Sebentar ya,” pamit Chen untuk mengangkat telponnya.

“Ne Sooyoung-is terima kasih atas informasinya. Tolong telpon rumah sakit jiwa untuk membawa Sehun. Kita harus segera mengobatinya,” Chen menutup handphonenya.

“Itu tadi dari Sooyoung, dia mengatakan bahwa Ayahmu sudah tiada Yoona-ssi. Maafkan aku, maafkan kami yang tidak bisa membantunya lebih cepat.”

“Ne? Appa? Appa, huhuhuhu,”

“Appa tidak mungkin meninggalkanku secepat ini, tadi dirumah dia terlihat baik-baik saja,”

“Ayahmu mengalami sesak nafas yang membuatnya susah menghirup oksigen karena sel kanker menutupi tenggorokannya, Yoona-ssi. Aku ikut berduka cita yang sedalam-dalamnya,” ucap Chen menundukkan kepalanya.

“Andwae, Appa!”

THE END

12 thoughts on “Last Day catatan kedua

  1. kacian yoona sekarng dia sebatang kara,,,sabar yoona dibalik musibah pasti ada hikmatnya?lanjut thor penasan apa yg akn terjadi ma yoona,,,jangn lma2 y thor q tung part 3 dan seterusya,,,

  2. Yak???udh end???gantung thor endingnya…
    Sehun ganas beut,jd aneh ternyata dia sakit jiwa,hahahahahahah….
    Chen penyelamat weh,kereeennn..
    Appanya Yoona meninggalnya kyk dipaksa kesannya di cerita ini..
    Yoona,malang sekali nasibmu…
    Yah,gk ada love story antara YoonChen nih???
    NEED SEQUEL NEED SEQUEL!!!!!!!!

  3. Ternyata yg telpn Yoona it Sehun toh, kupkir Chen.
    Yah eonni, kok Ngegantung sih endingnya.
    Ada Sequel gak?

    Keep Writting thor!

  4. Laahh kok end saeng??
    Bukannya ini 3shoot yaa??
    Kan baru catatan kedua,,kok udh end??
    Walo alurnya kecepetan tp suka dn tytaa salah dugaanku kirain yg nelpon mau nolong chen tytaa malah sehun.. Tapiii syukurlaah yoona bisa selamat.. Gag ada kisah cintany yoona chen donk inni?? Yaah agag kecewa,,hehehee…
    Nberharap ada catatn ketiganya..

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s