Possessive and Obssesion ( Chapter 4 )

Possessive and Obsession ( Chapter 4 )

possessive_and_obssesion_yoonhunyeol_for_vifasha_flory

A Series Story by Vifasha Flory
Starring Im Yoona, Oh Sehun, Park Chanyeol
Support Cast : Ahn Jaehyun, Kwon Yuri, Kim Soohyun, Jun Jihyun
With Genre Romance, AU, Family
Length : Chapter
Rating : PG 16

Disclaimer : The Cast Is Belong To God. I Just use Their Name to My Story. The Story is PURE Mine. It is PURE from my IMAGINATION. DON’T PLAGIAT THIS STORY WITHOUT MY PERMISSION!!!.

DON’T BE SILENT READERS! LEAVE A COMMENT OR LIKE IT! BE A GOOD READER

Cover by Cloverqua ( Thanks… )
Di publish juga di storyofyoonhae.wordpress.com ( dengan cast yang berbeda )
Sorry for Late post, Typo(s). Kesalahan tanda baca, alur cerita yang kurang disukai readers, cerita yang menurut kalian kurang menarik, kurang kreatif dan lain sebagainya.

“Will You Marry Me?”

Yoona menutup matanya sebentar. Kemudian menarik nafas dalam, dan menghembuskannya perlahan – lahan. Mencoba menguatkan hatinya. Atas segala yang telah ia putuskan.

“Yes, Of course” Ucap Yoona. Jari – jemari lentiknya mengambil setangkai mawar yang Sehun berikan. Diberikannya senyuman lembut untuk tunangannya itu. Mata Sehun berkaca – kaca. Begitu pula mata Yoona. Sehun bangkit dan memeluk Yoona.

“Terimakasih…. Terimakasih Yoona. Aku berjanji akan membuatmu bahagia dan tak akan membuatmu meneteskan airmata” Sehun mencium puncak kepala Yoona. Hatinya benar – benar bahagia saat ini.

Yoona mengangkat tangannya membalas pelukan pria itu.

Setelah beberapa lama mereka berpelukan, Sehun melepas pelukan itu. Ia menangkup kedua pipi Yoona, kemudian mencium bibir mungil gadisnya. Melumatnya lembut. Sangat lembut. Merasakan betapa manisnya bibir lembut Im Yoona.

Kau harus yakin Im Yoona… Bahwa kau bisa melupakan Chanyeol

Enjoy this FanFiction^^

.

.

.

.

Suhu pagi itu sangatlah hangat. Mataharipun mulai merangkak naik. Pagi ini amatlah sunyi dan tentram. Kehangatan di pagi itu makin bertambah saat kedua insan itu saling berpelukkan dalam satu ranjang saling berbagi kehangatan karena dinginnya malam lalu. Tentu saja dalam keadaan tidak sadar dan mereka masih terlelap dalam mimpi indah mereka masing – masing.

Tapi pagi yang sunyi dan hangat itu mendadak berubah saat seorang gadis tiba – tiba memekik keras.

“AAAAAAA” Gadis itu memekik keras. Bumipun ikut bergetar karena pekikan kerasnya yang patut diacungkan jempol.

Ok. Lupakan Hiperbola ini

Ia segera melepas pelukan pria di depannya, segera terbangun, lalu kembali ke alam sadarnya.

Ia memeriksa seluruh tubuh dan pakaiannya. Syukurlah semua pakaiannya masih utuh tanpa terlepas sehelai benangpun. Ia menepuk – nepukkan kedua pipinya. Apa ia bermimpi? Tidur satu ranjang bersama Oh Sehun? Ah, ia pasti ssangat mabuk tadi malam.

“Ada apa? Mengapa pekikanmu kencang sekali? Ini masih pagi, bodoh! Mengganggu tidur nyenyakku saja” Ujar pria disampingnya setengah sadar. Pria itu mengusap kedua matanya malas. Kemudian mencoba kembali terlelap dalam alam bawah sadarnya.

“Katakan padaku! Mengapa kita bisa tidur seranjang? Mengapa? Cepat katakan!” Yoona menggerak – gerakkan tubuh pria disampingnya dengan tidak sabar. Kedua iris indahnya menatap tajam pria itu.

“Kau sendiri yang memintanya….”

“APA?!”

.

Flashback

Rembulan bersinar terang benderang. Menghiasi malam yang penuh dengan kerlipan bintang – bintang. Suhu udara malam itu cukup hangat. Sinar redup lilin – lilin masih menemani kedua insan yang kini terduduk berhadapan dibatasi sebuah meja bundar kecil di tengahnya.

Duduk di kursi putih gading berhiaskan pita merah di belakangnya, meja yang penuh dengan hidangan dan Red Wine jenis Quivira Vineyards and Winery Zinfandel keluaran tahun 2008 serta sebuah lilin kecil di tengahnya semakin menawan.

Di balkon kamar hotellah mereka kini berada. Sedikit aneh memang.

“Kau harus mencoba Wine nya Yoona. Wine ini sungguh nikmat”

“Tidak! Bagaimana jika nanti aku mabuk? Lagipula, aku sudah cukup kenyang dengan semua hidangan ini. Terimakasih Sehun Oppa”

“Tapi rasanya belum lengkap jika kau belom mencoba Wine lezat ini. Anggap saja ini sebagai dessert”

“Tapi aku sudah mencoban dessert yang kau pesan tadi, dan sekarang perutku sudah kenyang. Aku tidak mau minum Wine itu. Jika nanti aku mabuk, apa kau akan-“

“Jangan bodoh! Aku tidak mungkin macam – macam padamu. Lagipula aku tahu kau masih kuliah dan belum cukup umur untuk ‘itu’” Pria itu menyeringai.

“HEI!”

“Ah sudahlah. Lebih baik kau coba Wine ini. Sangat nikmat. Kuyakin kau akan ketagihan setelah mencobanya”

“Darimana kau dapat Wine ini?”

“Aku membelinya tentu saja. Mengapa kau bodoh sekali?”

“Aishhhh… Baiklah akan kucoba. Tetapi, jika ini tidak lezat, aku akan memukulmu berkali – kali!”

“Mengapa kau galak sekali? Itu membuatku ingin cepat – cepat menikahimu kau tahu?” Sehun terkekeh. Seringai kecil tampak terlukis di wajah tampannya.

“HEI!”

“Baiklah – baiklah… Maafkan aku Noona Im Yoona ehm, maksudku Noona Oh Yoona yang galak. Hahaha” Suara gelak tawa terdengar dari dalam mulutnya. Menghiasi malam yang sunyi dan sepi itu. Tetapi, suara tawa itu makin membuat tatapan tajam gadis itu menjadi tatapan pembunuh yang sangat mengerikan.

“Sekarang cepat coba Wine ini” Sehun menuangkan cairan Wine itu pada sebuah gelas kaca kecil. Lalu mendekatkannya pada Yoona.

Karena penasaran akan rasa Wine, maka Yoona mencobanya. Selama ia hidup, inilah pertama kalinya ia mencoba Sebuah Wine.

Tangannya meraih gelas kecil itu, kemudian menyesap cairan di dalamnya sampai habis. Pria itu benar! Wine ini benar – benar lezat! Sepertinya gadis itu akan terus menegak Wine itu sampai ia benar – benar mabuk!

“Bagaimana? Sangat lezat bukan?”

“Lumayan. Tapi, kau mnyuruhku untuk mencoa Wine ini tidak untuk macam – macam denganku, bukan?”

“Haha… Tentu saja tidak. Aku hanya ingin berbagi Wine favoritku denganmu”

“Apa? Wine favoritmu? Jadi, sebelumnya kau sering minum Wine?”

“Ya. Tapi, tidak sampai mabuk. Hanya 3 gelas perharinya”

.

Gadis itu terus menerus meneguk Wine yang berjenis Red Wine itu. Sampai ia tak sadar bahwa dirinya sudah masuk ke dalam pusaran kenikmatan Wine itu. Tentu saja. Siapa yang mampu menolak kenikmatan Quivira Vineyards and Winery Zinfandel ? Wine keluaran tahun 2008 itu terasa juicy di lidah. Rasa anggur yang kuat dengan campuran berryliar dan buah plum membuatnya mampu memberikan sensasi rasa yang tak mudah terlupakan bagi siapapun yang menyesapnya.

Gadis itu tak sadarkan diri. Mabuk sudah menguasai dirinya. Sehun mendekati gadis itu dan membantunya berdiri. Membantu gadis itu menuju ranjang. Kemudian membaringkannya di atasnya.

Pria itu hendak berjalan menuju ranjang lain, namun sebuah tangan menahan kepergiannya. Ia menolehkan kepalanya. Tak lain dan tak bukan tangan itu adalah milik seseorang yang kini sudah resmi menjadi tunangannya.

“Jangan pergi… Temani aku disini” Lirih gadis itu hampir tak terdengar. Tangannya yang lain menepuk – nepuk sisi lain ranjang yang ia tiduri. Memberi instruksi agar Sehun berbaring di sampingnya.

“Tapi Yoona…”

“Cepatlah Sehun Oppa…”

“Baiklah” Sehun kemudian membaringkan tubuhnya di samping gadis itu. Yoona berbalik menghadapnya. Sehun melingkarkan kedua tangannya pada pinggang ramping gadis itu. Kemudian menarik tubuh Yoona agar lebih ‘merapat’ padanya.

Sehun tak peduli bagaimana pekikan gadis itu di pagi esok. Tak peduli seberapa kesalnya gadis itu karena tidur seranjang dengannya.

Sungguh aneh… Bukankah pria itu tunangannya?

Merasa sedikit canggung mungkin?

Yang pria itu pedulikan sekarang adalah ‘kesempatan’. Bukankah ini kesempatan berliannya? Mengapa ia harus menyia – nyiakannya? Ya… Walaupun gadis itu sama sekali tak sadar atas apa yang dikatakannya.

Flashback End
.

.

“Sekarang kau ingat?”

“Apa? Ya, sekarang aku mengingatnya” Yoona mengusap tengkuknya malu.

“Sekarang jangan berisik dan jangan mengganggu tidurku!”

“HEI! Kau yang membuatku menjadi mabuk, bodoh! Jika saja kau tidak memaksaku untuk minum Wine itu, aku tidak akan mabuk!”

“Siapa yang menyuruhmu masuk perangkapku?”

“Hei! Aishhh….”

“Sekarang kau diam atau aku akan….”

“Kau akan apa?”

Bukannya menjawab, pria itu malah menarik salah satu sudut bibir seksi nan menggodanya sehingga memunculkan seringai andalannya. Sebuah seringai ‘mesum’ yang amat menjijikkan jika dilihat dari sudut pandang seorang Im Yoona. Amat menggoda jika dilihat dari sudut pandang seorang gadis pada umumnya.

“Kurasa kau sudah tahu jawabannya…”

“Hentikan! Itu menjijikkan!” Yoona menatap tajam pria itu sembari menutup kedua telinganya. Ia langkahkan kedua belah tungkainya ke arah kamar mandi, kemudian segera menutup pintunya dengan amat keras.

Sehun terkekeh mendengarnya. Asal kalian tahu, ia benar – benar serius dengan ucapannya tadi!

“Hey, Yoona! Kau ingin mandi bersama? Aku akan segera masuk!”

“JANGAN MELANGKAH ATAU KAU TIDAK AKAN MELIHAT MATAHARI ATAUPUN MENDENGAR DETAK JANTUNGMU BESOK!!”

Sekali lagi pria itu terkekeh dan tertawa kecil mendengar suara nyaring gadisnya.

.

.

Yoona berdiri di depan balkon kamar hotel. Ia mengenakan dress selutut berwarna tosca lengan pendeknya. Ia mengamati pemandangan indah kota Roma yang terpampang jelas di depan matanya. Bangunan – bangunan kokoh modern dan gaya Romawi yang masih melekat pada kota itu benar – benar memanjakkan kedua iris matanya. Sebuah senyum terukir di bibir pink ranumnya.

Ia rasakan sepasang tangan melingkar di pinggangnya. Tengkuknya merasakan sebuah hembusan nafas lembut. Parfum vanilla yang amat ia hafal di indra penciumannya tercium oleh hidungnya. Tak salah lagi. Orang yang sedang memeluknya saat ini pasti pria itu. Oh Sehun.

”Apa yang kau lakukan disini?” Pria itu mencium pipinya lembut. Dapat ia rasakan hawa panas dan rona merah kini pasti sudah terlukis di kedua pipinya.

Apa yang terjadi pada pria ini? Mengapaia sangat romantis dan penuh kelembutan?

“Aku hanya melihat pemandangan indah disini?”

“Benarkah? Bukankah aku jauh lebih indah?” Sehun memutar tubuh Yoona sehingga kini gadis itu menghadap padanya. Yoona tertawa kecil.

“Sejak kapan kau jadi seromantis ini?”

“Sejak kau hadir dalam hidupku… Sejak kau menjadi wanita pertamaku…. Sejak kau menjadi ciuman pertamaku… Sejak kau menjadi kekasih pertamaku… Sejak kau menjadi tunanganku… Sejak kau akan menjadi istriku…”

Lagi – lagi kedua pipi gadis itu merona. Jantungnya berdegub amat kencang. Apalagi jaraknya dengan Sehun sedekat ini semakin menambah kecepatan detak jantungnya. Rasanya ia ingin terbang ke atas awan saat ini juga….

Sehun meraih dagu sang tunangannya. Kemudian mendekatkan bibirnya pada bibir mungil yang menggoda itu dan memagutnya lembut. Melumatnya lembut, menggerak – gerakan bibir lihainya di ats bibir menggoda Im Yoona.

.

Yoona melepas pagutan lembut itu untuk mengambil nafas. Menarik nafas dalam – dalam dan menghembuskannya perlahan – lahan.

“Aku akan mengajakmu ke suatu tempat wisata di Roma ini”

“Tempat wisata? Apa?”

“Rahasia… Sekarang cepat ganti pakaianmu dan kita berangkat…”

.

.

Tujuan pertama mereka hari ini adalah, Colosseum. Ya, Nama yang tidak asing bukan? Siapa yang tidak mengenal Colosseum? Sebuah bangunan indah sisa reruntuhan amfiteater yang menjadi salah satu landmark kota Roma. Bangunan ini terletak di tengah kota Roma, Italia, dan berada di sebelah timur Roman Forum, bekas alun –alun yang penuh puing – puing bangunan kuno. Colosseum yang merupakan amfiteater terbesar di dunia, dianggap sebagai hasil karya terbaik dari arsitektur Romawi dan menjadi lambang kekaisaran Roma. Meskipun hanya berupa sisa reruntuhan, Colosseum banyak diminati oleh para turis baik turis lokal maupun mancanegara, dan menjadi salah satu destinasi wisata Populer di Kota Roma, Italia.

Yoona sibuk memotret bangunan bersejarah itu menggunakan ponsel dan kamera kesayangannya. Sangat disayangkan jika tidak mengabadikan momen yang sungguh langka ini.

Sedangkan Sehun? Lelaki ini juga melakukan hal yang sama seperti Yoona. Namun, raut wajahnya sedikit muram karena kesal melihat para pria Italia itu sibuk mencuri – curi pandang pada Yoonanya.

Tentu saja. Siapa pria yang mampu menolak pesona anggun gadis itu? Gadis cantik dengan dress violet tanpa lengan selutut yang menampilkan kaki jenjangnya yang putih nan mulus? Rambut lurus coklat keemasan yang disisir dengan rapih dan diselipkan sebuah jepitan mawar sedang di sisi kanan rambutnya. Belum lagi make up naturalnya dan bibir tipisnya yang ia poleskan lipgloss di atasnya serta parfum yang benar – benar membuat indra penciuman siapa saja akan selalu betah menciumnya.

“Oppa, ayo foto bersama!” Yoona menghampiri Sehun yang sedang sibuk memainkan ponselnya. Sehun menoleh. Kemudian tersenyum tipis padanya.

“Ayo!” Mereka mengabadikan momen indah itu melalui beberapa jepretan foto. Beberapa pria luar yang sedari tadi sibuk mencuri pandang pada Yoona menatapnya geram.

“Damn! Who is that man? How f*** he is!”

“I think, he is her boyfriend”

“Yes, i agree with you”

“Oh… I’m so jealous”

“I’m too… She is so beautifull… Like a goddess… I Love that girl!”

“Shut up, Dude! What are you talking about?! You still have girlfriend, don’t you?”

“Yeah, you’re right”

Pria – pria barat berambut pirang dan bermata biru bening itu terus saja berbincang tentang Yoona dan Sehun. Hati mereka terasa begitu cemburu dan terasa terbakar saat melihat Yoona dan Sehun terus berfoto dengan pose yang cukup ‘mesra’. Tapi sudahlah…. Memang mereka siapa? Apa hak mereka untuk merasa cemburu?

.

.

Tujuan kedua mereka kali ini adalah Castel Sant’ Angelo. Castel Sant’ Angelo adalah sebuah kastil kuno berbentuk silindris yang terletak di tepi kanan sungai Tiber dan terhubung dengan sisi seberang sungai melalui Ponte Sant’ Angelo, jembatan pejalan kaki dengan patung – patung dan tiang lampu klasik di kedua sisinya. Castel Sant’ Angelo dibangun pada abad ke 2 dan awalnya merupakan makam untuk Kaisar Hadrian. Selama eksistensinya, Castel ini sering beralih fungsi, mulai dari bagian makam, bagian dari tembok kota, benteng, tempat tinggal Paus, penjara dan barak militer, dan sekarang menjadi museum nasional.

Yoona mengabadikan momen langka itu melalui kamera dan ponselnya. Ia juga berbincang – bincang dengan turis local maupun manacanegara di sekitar itu. dengan Bahasa Inggris tentu saja. Ia sama sekali tak mengerti Bahasa Italia.

Tanpa sadar, Yoona kehilangan jejak Sehun. Mereka berdua terpisah tanpa sadar.

“Sehun Oppa? Oppa?!”

“Oppa, kau dimana?”

“OPPA!!!” Gadis itu tampak gelisah. Rasa panik mulai menjalar di seluruh tubuhnya. Kepalanya berulang kali menoleh kesana kemari mencari sang tunangan. Tak jarang juga ia bertanya pada turis – turis disitu.

“Ah, bagaimana bisa menemukannya jika tempat ini saja penuh manusia dan sangat ramai seperti ini?” Yoona mengacak rambutnya frustasi. Sudah 33 menit gadis itu mencari tunagannya. Namun tak kunjung jua bertemu.

“Mengapa orang – orang disini sangat banyak? Ya Tuhan… Bagaimana ini?” Gadis itu mulai menitikkan airmata. Ia terlihat lemah. Sangat lemah. Kini ia sama saja terlihat bagaikan gadis kecil yang kehilangan ibunya di tengah ramainya orang – orang.

“Aku harus mencari ia kemana?” Yoona menendang apapun yang berada di depannya. Tampilannya kini amatlah berantakan. Rambut yang tidak lagi rapih, mata sendu, mulut yang terus saja menggerutu, tangan yang mengepal, kepala yang terus menunduk, dan make up yang hampir luntur karena airmatanya.

Bahkan tak jarang beberapa orang menatapnya aneh ataupun berbisik – bisik saat melihatnya. Ada pula yang menahan tawa saat melihatnya. Yoona tak peduli. Ia tak peduli apa respon orang – orang atas kelakuannya. Yang terpenting sekarang adalah menemukan pria itu! Oh Sehun!

Seperti di Colosseum tadi, beberapak turis asing membicarakan kecantikannya. Walaupun penampilannya sangatlah tak mendukung sekarang.

“Damn!” Sumpah serapah terus saja dilontarkan gadis itu. sampai ia tak sadar beberapa turis asing yang tadi membicarakannya menghampirinya.

“What’s going on, dear?” Salah satu pria itu mendekatinya. Kepala Yoona yang menunduk segera ditegakkannya. Ah, pria aneh lagi.

Siapa pria ‘aneh’ yang berani memanggilnya dengan sebutan dear?

“Who are you?”

“Hi! My name is-“

“Oh Sehun”

Yoona tersentak kaget. Ia mendengar nama itu dari belakang tubuhnya. Siapa yang baru saja membuka mulutnya? Apa ia Oh Sehun? Pria yang sedari tadi dicarinya?

Ia merasa pundaknya tengah dirangkul seseorang. Kepalanya ia tolehkan ke kanan. Wajah sang tunangan tampak sangat dekat dengan wajahnya.

“Don’t disturb my fiancee! Or I will kill you!” Sehun menatap tajam pria – pria asing yang mengganggu Yoonanya. Ia tak terima! Benar – benar tak terima! Rasa cemburu memenuhi hatinya. Hatinya terasa terbakar melihat Yoonanya diganggu oleh para pria asing itu! Walaupun hanya 15 detik, tapi tetap saja ia merasa amat cemburu!

“And don’t call my fiancee ‘dear’!” Tatapan Sehun makin mengeras. Tangannya mengepal keras. Giginya bergemeletuk menahan amarahnya yang sudah siap dikeluarkan.

Pria – pria asing itu kemudian berlari menjauhi Yoona dan Sehun. Cih! Mereka bahkan tak mengucapkan sepatah kata maafpun! Benar – benar tidak sopan!

“Apa kau baik – baik saja?” Sehun berbalik menghadap gadis itu dan mengusap lembut kedua pundak gadis itu. Memastikan gadis itu baik – baik saja.

Yoona menatap pria itu sendu. Hatinya terasa lega karena telah menemukan sang tunangan yang sedari tadi dicarinya.

Sehun, lelaki itu merasa sangat bersalah. Seharusnya ia tak membiarkan gadis itu sendirian di tengah ramainya tempat ini mengingat gadisnya itu amatlah childish .

Ia memeluk tubuh Yoona lembut. Menyalurkan sebuah kehangatan disana.

“Kau… Da…Darimana saja Oppa? A…ku mencarimu kemana – kemana, tapi tak kunjung menemukanmu” Perasaan bersalah makin menjalari hati Sehun. Ia benar – benar menyesal sekarang.

“Maafkan aku… Aku sungguh minta maaf. Tadi aku mencari angle yang bagus untuk memfoto bangunan ini… Maafkan aku Yoona. Aku berjanji kejadian seperti ini tak akan terulang lagi…”

“Tadi aku melihat sebuah salon. Ayo, kita ke salon untuk memperbaiki penampilanmu ini. Kau tampak sangat berantakan Yoona…” Sehun tertawa kecil sambil mengusap lembut puncak kepala Yoona.

“Tidak perlu, Oppa. Aku bisa merapihkan ini semua sendiri” Yoona memasukkan tangannya pada tas kecil yang ia bawa. Mencari beberapa benda yang ia butuhkan saat ini. Tapi, dengusan kecil justru terdengar dari mulutnya. Ekspresinya berubah.

Sial! Kemana benada – benda itu? Ia pasti lupa membawanya!

“Kau pasti tidak membawanya bukan? Lebih baik ikuti ajakanku”

“Aku menjadi seperti ini karena kau, Oppa!” Yoona memukul dada bidang pria itu pelan. Kekehan kecil terdengar dari bibir tipisnya.

.

.

Oh Sehun berdiri di depan sebuah salon menunggu sang tunangan yang sedang ditata ulang rambutnya serta di make up ulang. Tanpa ia sadari, beberapa gadis Italia mauPun turis asing wanita sibuk memperhatikannya. Bahkan terkadang mereka tersenyum sendiri ataupun menatap lekat – lekat wajah tampannya.

Tentu saja. Siapa gadis yang mampu menolak pesonanya? Seorang pria berkaus biru-putih setengah lengan dilengkapi celana jeans donkernya. Rambut hitam kecoklatan yang disisi rapih seta parfum maskulin yang harumnya menyebar kemana – kemana. Hidung tajam nan mancung bak ukiran patung dewa Yunani dan postur badan tegap serta iris hitam yang bersinar teduh benar – benar membuat pria itu terlihat luar biasa tampan! Benar – benar pasangan yang cocok!

Seperti tadi. Kini beberapa gadis itu menghampirinya.

”Hi! What are you doing in here?” Sapa salah satu dari mereka sambil tersenyum manis ke arahnya. Entah mengapa pria itu merasa sedikit risih…

“I’m waiting my fiancee”

“Hi! My name is Theressa. Nice to meet you” Gadis Italia itu mengangkat tangannya. Mengajak Sehun untuk berkenalan dengannya.

“My name is Oh Sehun. Nice to meet you too”

“I’m Katy”

“I’m Perry”

“I’m Nicki”

“I’m Minaj”

“Are you Korean?”

“Yes, I’m-“

“I’m Korean too” Seorang gadis berkebangsaan Korea menyahut di belakang pria itu. Kedua tangannya menyilang di depan perut dan tatapannya mematikan bagaikan tatapan pembunuh yang sudah siap ‘memangsa’ korbannya. Bibirnya bergaris lurus tanpa cekungan sedikitpun.

Sehun mengusap tengkuknya canggung. Tersenyum kaku, kemudian berbalik menghadap sang tunangan.

“Kau sudah selesai, Yoona?”

“Kau tak melihatnya? Apa yang sedang kau lakukan, Oppa?”

“Ah, tidak aku hanya berkenalan dengan mereka. Mereka menghampiriku tadi”

“Hmmm… Tanganmu itu… Sudah menyentuh tangan berapa gadis? Sepertinya tangan mereka sangatlah lembut ya…” Yoona melirik telapak tangan pria itu. Sebenarnya, sedari tadi gadis itu memperhatikan tingkah Sehun yang berkenalan dengan gadis asing itu sekaligus melihatnya berjabat tangan dengan mereka.

Hatinya terasa memanas saat melihatnya. Tangannya ia kepalkan dibalik kaca pintu yang menghalanginya. Bibirnya mengerucut. Berani – beraninya mereka mendekati tunangannya!

“Apa yang sedang kau bicarakan Im Yoona?” Amarah Sehun sedikit terpancing. Apa maksud gadis ini berkata demikian padanya?

“Kau tak mengerti Oppa? Ya Tuhan…. Apa yang salah dengan dirimu ini?”

“Aku tak mengerti apa yang kau bicarakan!”

Gadis – gadis asing itu yang tak mengerti apa yang mereka bicarakan hanya menatap kedua insan itu bingung. Bingung karena tak mengerti arti kata – kata ‘asing’ yang mereka ucapkan.

Yoona membalikkan badannya menghadap mereka. Tatapan matanya masih sangatlah tajam. “Hei! Kalian berdua! Ya, kalian berdua! Apa yang kau lakukan dengannya, hah? Dia itu tunanganku! Sebentar lagi kami akan menikah! Mengapa kalian berani sekali mengganggunya oh tidak! Menggodanya, hah? Kecantikan kalian masih kalah jauh dengan kecantikanku! Dasar gadis asing!”

Yoona menumpahkan seluruh amarahnya melalui kalimat – kalimat yang ia ucapkan tadi. Sesekali tangannya menunjuk – nunjuk mereka ataupun matanya yang berulang kali menyipit menajamkan tatapannya.

Mereka tampak tak mengerti dengan apa yang diucapkan Yoona. Ekspresi mereka sama sekali tak berubah. Beberapa diantara mereka ada yang berbisik – bisik ataupun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Masih menatap gadis itu bingung.

Yoona mendesah. Menghembuskan nafasnya kasar. Percuma saja ia bicara panjang lebar tadi. Mereka sama sekali tak mengerti apa yang dikatakannya!

Sehun tersenyum kecil saat gadis itu mengucapkan kalimat ‘Sebentar lagi kami akan menikah!’. Ternyata gadis itu benar – benar menganggapnya sebagai tunangan! Tetapi, ia juga menahan tawanya saat gadis itu mengatakan bahwa kecantikan mereka masih kalah jauh dengan kecantikan gadisnya. Memang benar. Tidak ada satu orangpun yang mampu mengalahkan kecantikan gadis itu yang bagaikan seorang dewi yang berasal dari langit. Baginya tentu saja.

“Hei! Mengapa kau senyum – senyum sendiri? Memang benar bukan jika aku masih berkali – kali lebih cantik dari mereka?” Gadis itu menolehkan kepalanya pada Sehun. Kemudian menatap pria bermata teduh itu kesal.

“Ehm, ya… Kau memang benar. Kau memang masih jauh lebih cantik dari mereka. Kau bagaikan seorang dewi langit tercantik di dunia. Yang bertemu seorang pria beruntung yang bernama Oh Sehun”

Semburat merah mulai tampak menghiasi pipi yang seputih salju itu. Matanya makin menatap pria itu kesal. “Yak! Jangan menggodaku!”

“Baiklah Nona Im Yoona yang cantik. Ayo kita pulang sekarang. Ada hal penting yang ingin kubicarakan sekarang.” Sehun tersenyum manis. Amat manis. Sampai – sampai membuat gadis asing yang berada di belakang mereka ikut tersenyum manis. Yoona menyadari hal itu. Tangannya kembali mengepal keras dan badannya ia arahkan kembali ke belakang.

“Yak! Dasar gadis – gadis aneh! Dia tersenyum untukku! Bukan untuk kalian! Untuk apa kalian ikut tersenyum ‘aneh’ seperti itu! Dia itu sudah punya tunangan! Kau mengerti?!” Sehun kembali terkekeh geli dibuatnya. Tangannya ia angkat untuk merangkul pundak Yoona, kemudian membawanya pergi menjauhi mereka.

“I’m want go now. See you…!” Sehun melambaikan tangannya pada mereka disertai senyum mematikannya. Entah apa tujuannya tersenyum manis seperti itu. Hal itu justru membuat Yoona semakin kesal dan semakin memburukkan mood gadis itu.

“YAK! APA YANG KAU LAKUKAN OPPA?! APA MAKSUDMU TERSENYUM SEPERTI ITU PADA MEREKA?” Yoona berteriak kencang sekaligus membentak pria itu. Namun, kekehan kecil justru terdengar keluar dari mulut pria itu.

.

.

.

“Baik. Sekarang apa yang ingin kau bicarakan denganku?” Yoona duduk di tepi ranjang kamar hotel itu sambil bersedekap. Kakinya berulang kali ia hentakkan ke lantai tak sabar mendengar pria itu berbicara.

“Nanti saja. Aku ingin membersihkan badanku yang sudah lengket ini” Pria itu menghilang di balik pintu kamar mandi. Yoona berdecak kesal. Apa – apaan pria itu, bertindak semaunya sendiri?

Tiba- tiba gadis itu teringat dengan pangeran masa kecilnya. Gelang itu. Ah, ya! Dimana gelang itu sekarang? Sudah lama gadis itu tak mengenakkan gelang kayu kesayangannya. Seingatnya, ia juga membawa gelang itu ke Italia dan tidak mungkin gelang itu ditinggalkannya di Seoul.

Tangan kurus gadis itu bergerak membuka setiap laci nakas pertama yang berada di samping ranjang. Ia sangat bodoh! Mengapa ia lupa dimana ia meletakkan gelang berharga itu?

Ia belum kunjung menemukannya

Tangannya bergerak lagi menyusuri nakas kedua yang terletak di bagian kanan ranjang. Dapat! Ia menemukan gelang itu di laci pertama nakas itu. Tetapi, rasa penasaran tiba – tiba mendatanginya. Entah mengapa hatinya mendorongnya untuk membuka laci kedua.

Ia membuka laci kedua itu dengan perlahan – lahan. Entah mengapa jantungnya berpacu lebih cepat saat ia mulai membuka laci itu.

DEG

Waktu terasa berhenti saat itu juga. Matanya memandang kosong ke arah benda yang baru saja ditemukannya.

Tidak!

Ini Tidak mungkin!

Ia pasti sedang bermimpi sekarang! Seseorang tolong bangunkan ia sekarang!

Tidak… Ini bukanlah sebuah mimpi… Ini kenyataan…

Tangannya perlahan – lahan mengambil benda itu.Kemudian membandingkannya dengan gelang miliknya.

Ya… Sebuah gelang… Gelang yang sama persis dengan gelang miliknya.

Apakah ini takdir? Atau hanyalah sebuah kebetulan?

Kedua bola matanya menari kesana kemari. Mencari sebuah perbedaan padakedua gelang yang berada di genggamannya.

Nihil… Tidak ada perbedaan sama sekali!

Apa itu artinya….

.

“Yoona, apa yang kau lakukan? Mengapa kau hanya berdiri disitu?” Sebuah suara sedikit membuat gadis itu tersentak. Ia segera memasukkan gelang kayu miliknya itu pada skau dressnya. Membiarkan gelang milik Sehun ‘mungkin’ berada di genggamannya.

Tidak, tidak… Ini tidak mungkin….

Mengapa dunia ini sangatlah sempit?

Pria itu mulai melangkahkan kedua belah tungkainya mendekati Yoona. Hatinya merasa penasaran apa yang sedang dilakukan gadis yang sedang membelakanginya itu.

“Hei! Ada apa? Mengapa tubuhmu hanya terpaku diam disitu?” Tangan pria itu terulur menyentuh pundak gadis itu lembut. Namun, gadis itu tak kunjung bergerak. Masih terpaku.

Oh Sehun menautkan kedua alisnya. Merasa bingung. Apa yang terjadi? Siapa yang baru saja mengubha gadis ini menjadi patung?

Perlahan – lahan, gadis itu mulai membalikkan badannya. Tatapan iris black pearl itu terasa membakar di kedua irisnya.

“Mengapa gelang ini berada di tanganmu? Apa kau bisa menjelaskannya?”

“Tentu saja. Itu milikku. Aku membuatnya saat aku kecil. Lalu aku memberikan salah satunya pada cinta pertamaku. Ada apa? Mengapa kau penasaran?”

Apa? Cinta pertamanya? Jadi, pria itu benar – benar Blue Ice? Cinta pertamanya juga?

Ia merasakan pipinya yang menghangat bersemu merah. First Love… Ia bertemu lagi dengannya. Lelaki yang sudah bertahun – tahun dirindukan dan diharapkannya. Kini, ia bertemu lagi dengannya… Sebagai tunangan.

.

Diam – diam bibir pria itu membentuk sebuah seringai tipis. Ia sudah tahu jika gadis di hadapannya adalah cinta pertamanya. Ia hanya pura – pura tidak tahu agar gadis itu mengakuinya sendiri.

Sesungguhnya itulah tujuannya mengapa ia membawa gadis itu pulang. Inilah hal yang akan disampaikannya.Tapi, jalan cerita berubah. Gadis itu sudah mengetahuinya duluan. Sepertinya rencananya juga akan berubah.

“Sebenarnya… Aku juga punya yang sama seperti ini”

“Apa?!”

Yoona mengeluarkan sebuah gelang dari saku dressnya. Gelang yang sangat mirip dnegan gelang yang berada di genggamannya sekarang ini. Gelang milik seorang dengan nama samaran ‘Blueice’.

Pria itu berusaha mengekspresikan wajahnya seterkejut mungkin. Pura – pura. Tentu saja.

Sepertinya… Aktingnya berhasil..

“Apa kau…. Blueice?” Gadis itu bertanya dengan hati – hati. Ia menggigit bibir bawahnya. Bahunya sedikit gemetar.

“Blueice? Siapa dia?” Lagi –lagi pria itu berbohong. Apa tujuannya?

Yoona mendesah lega. Syukurlah jika pria dihadapannya ini bukanlah Blueice.

Tetapi, entah mengapa ada setitik keraguan terselip di hatinya. Melihat mata teduhnya, kembali mengingatkannya pada cinta pertamanya dulu. Melihat tingkah pria itu, ada kemiripan di setiap detik gerak tubuh pria itu pada Blueice.

“Ternyata aku salah orang.Ternyata ini hanya sebuah kebetulan. Maaf” Gadis itu tersenyum singkat kemudian mulai melangkah meninggalkan pria itu.

“Mengapa kau merasa sangat senang jika Blueice itu bukanlah aku?” Gadis itu menghentikkan langkahnya tanpa berbalik ke belakang. Apa maksud pria itu?

Oh Sehun melangkah perlahan – lahan mendekati Yoona. Seringai tipis menghiasi bibir indahnya. Setelah sampai di belakang gadis itu, Tangannya terulur untuk memeluk pinggang ramping gadis itu. Ia mendekatakan kepalanya dan menolehkannya pada telinga Yoona. Bibirnya menari – nari membisikkan sesuatu.

“Bagaimana jika…. Blueice itu adalah aku?” Hidung mancungnya menyentuh telinga Yoona erotis. Wajahnya dengan wajah Yoona sangatlah dekat.

Jantung gadis itu berdetak berkali – kali lebih cepat sekarang. Kedua pipinya bersemu merah. Apa yang dilakukan Oh Sehun? Apa maksudnya?

“Kau tahu Yoona? Kaulah cinta pertama yang kumaksud….” Hati Yoona mencelos. Jadi benar ia adalah….

“Ya. Akulah Blueice dan alasan mengapa gelang kita sama adalah karena aku meberikan gelang itu padamu saat pertemuan terakhir kita dulu. Sekitar 17 tahun yang lalu mungkin?”

.

“Yoona…Dengarkan aku” Sang lelaki kecil menatap manik mata gadis kecil disampingnya penuh keseriusan.

“Mungkin tak berapa lama lagi aku akan pergi..”

“Apa?”

“Tapi kau tenang saja. Aku akan memberikan gelang ini untukmu sebagai petunjuk” Sang lelaki kecil mulai memasangkan gelang kayu dengan ukiran – ukiran yang amat indah ke lengan mungil sang gadis. Memang masih sangat kebesaran untuk ukuran lengannya yang masih amat mungil.

“Blueice, ini kebesaran…”

“Aku sengaja membuatnya sedikit kebesaran. Agar masih bisa dipakai saat kita sudah dewasa nanti”

“Aku akan pergi… Sebenarnya aku juga tidak mau.. Tapi karena paksaan kedua orang tuaku, aku bisa berbuat apa?”

“Aku berjanji jika aku kembali bertemu denganmu di masa depan, aku akan menikah denganmu”

“Aku akan memilikimu sepenuhnya…Karena kau adalah MILIKKU. Tak ada yang bisa merebut kau dariku satu orangpun”

“Tak peduli jika aku sampai terobsesi untuk memilikimu. Aku berjanji akan menemukanmu kembali di masa depan. Selalu pakailah gelang itu.. Jangan pernah kau melepasnya, kau mengerti?” Yoona kecil hanya mengangguk pelan. Lelaki kecil disampingnya terssenyum kecil. Kemudian memeluk tubuh gadis disampingnya, mengusap lembut surai sutranya.

“Aku berjanji…Aku berjanji atas perkataanku tadi Yoona…”

.

Benar. Apa yang dikatakan pria itu benar. Yoona sudah berhasil memutar ulang memori masa lalunya. Tetapi,ia juga kembali mengingat jika pria itu pernah mengatakan bahwa ia adalah miliknya. Apa itu artinya…

“Kau tentu juga pasti mengingat jika aku pernah mengatakan jika kau adalah milikku bukan?”

“Itu benar Yoona”

“Perasaanku terhadapmu masih sama seperti dulu”

DEG

Apa… Apa maksud perkataannya? Apa ia akan terobsesi untuk mendapatkannya? Hei! Ia bukanlah miliknya! Apa haknya untuk berkata ‘Kau adalah milikku’ ?

Ya… Meskipun sebentar lagi itu akan terjadi.

Tapi, apa benar akan terjadi?

.

Tangan pria itu masih setia melingkar di pinggang ramping gadis itu. Kepalanya ia tenggelamkan pada tengkuk gadisnya. Harum tubuh gadis itu sangatlah menggodanya. Membuatnya betah berlama – lama dengan posisi seperti itu.

Tapi, tak lama kemudian ia mengangkat wajahnya. Senyuman tipis terlihat di bibirnya. Ia menjauhkan badannya dari gadis itu. Tangannya beralih memegang kedua pundak gadis itu. Mata teduhnya menatap gadis itu dalam.

“Aku tak akan membiarkanmu jatuh ke pelukan pria manapun selain aku. Aku tak akan membiarkanmu dekat dengan pria siapapun. Karena kau MILIKKU. Kau tahu itu!”

Yoona menggeram mendengar perkataan pria itu. Kilatan di matanya tampak terlihat sangat tajam. Apa – apaan pria ini?! Berani mengatur dirinya seperti ini! Bahkan mereka hanyalah ‘bertunangan’. Bagaimana jika mereka benar – benar menikah? Mungkin gadis itu bisa gila karena pria posesif seperti ini!

“Hei! Bagaimana-“

“Ah! Sebentar lagi kita aka kembali ke Seoul. Sebaiknya kau bersiap – siap, Honey…” Pria itu mencium singkat pipi gadisnya, kemudian pergi meninggalkan gadis itu.

Sial! Mengapa pipi gadis itu menjadi merah padam! Padahal pria itu hanya memberikannya sebuah kecupan singkat di pipi. Bukan di bibir!

Ia benar – benar akan gila jika terus seperti ini!

.

.

Suasana di caffe itu tampak hening dan damai. Sebuah caffe modern dengan ukuran yang tidak terlalu lebar juga tidak terlalu sempit tampak apik dengan lukisan – lukisan karya pelukis profesional terpajang di setiap sisi dindingnya. Caffe dengan nuansa sky blue dan white itu tidak terlalu ramai akanpengunjung. Mungkin karena jam menunjukkan masihlah pagi. Membuat beberapa orang masih setia berlama – lama di ranjang mereka.

Di meja tengah, yang bersampingan langsung dengan lukisan abstrak hasil pencampuran berbagai ragam warna yang amat indah, dua orang pria paruh baya tampak duduk berhadapan. Kepala mereka tertunduk. Hanya fokus pada minuma dan small breakfast yang tersaji di depan mereka. Secangkir Americanno dan Cappucino lengkap dengan banana muffin dan french toast di sampingnya. Masing – masing hanya mengaduk – aduk minuman mereka tanpa bicara sepatah katapun.

“Apakah, perjodohan Yoona dan Sehun berjalan dengan lancar?” Pria dengan mata sedikit sipit dengan tatapan tajam nan tegas mengeluarkan suara bassnya memecah keheningan. Salah satu alisnya terangkat sarkatis.

“Ya tentu saja.” Jawab pria dengan rambut hitam berponi lurus itu. Matanya menatap pria dihadapannya datar. Pria dihadapannya menghembuskan nafas lega.

“Kapan pernikahan mereka akan dilaksanakan?”

“Secepatnya”

Lagi – lagi keheningan mewarnai pertemuan mereka. Pria dengan jas hitam dengan kemeja putih lengkap dengan dasi merah itu menyesap Cappucinonya. Irisnya sesekali melirik pria di hadapannya.

“Oh Soohyun, apa aku egois?” Pria bernama Oh Soohyun itu tersedak. Membuat beberapa tetes Cappucino itu mengenai jas hitam luxurynya.

“Maafkan aku” Jaehyun mendekatkan tempat tisu yang berada di tengah meja caffe itu pada Soohyun. Ia merasa bersalah. Seharusnya ia tak bertanya pada pria itu jika ia sedang minum. Pria itu mudah tersedak. Tentu saja ia tahu hal sekecil itu karena mereka pernah berteman.

“Tidak apa – apa. Tapi, apa maksudmu tadi? Egois? Aku tidak mengerti” Soohyun membersihkan jasnya yang sedikit terkena Cappucino itu dengan tisu. Setelah selesai membersihkannya, matanya kembali menatap Im Jaehyun.

“Maksudku, apa aku egois telah melibatkan anakku pada masalah ini? Ini merupakan kesalahan terbesarku. Tidak seharusnya anakku ikut terkena imbasnya. Apa… Apa aku biarkan saja ia hidup bebas? Tanpa terkekang dengan perjodohan ini? Biarkan aku yang akan menyelesaikan masalahku sendiri. Tak perlu ada yang ikut campur dan terkena imbasnya”

Hati Oh Soohyun sedikit tercelos mendengar pernyataan pria ini. Entah ini pernyataan atau pertanyaan.

“Apa maksudmu…. Kau akan membatalkan perjodohan ini? Oh! Ayolah… Kita sejauh ini. Akan sangat sulit jika kembali mundur. Aku ikhlas membantumu. Kau temanku. Kau ingat itu bukan? Sesama teman harus saling membantu. Apa yang bisa kulakukan selain ini? Kau tidak perlu merasa bersalah”

“Tapi aku merasa membebankanmu. Aku merasa memiliki hutang budi yang begitu besar padamu…”

“Tidak apa – apa. Aku sama sekali tidak keberatan. Lagipula, apa kau ingat? Beberapa tahun yang lalu kau pernah menyelematkan ibuku yang hampir tertabrak container. Saat itu aku juga merasa memiliki hutang budi yang amat besar padamu. Aku anggap kita impas dengan ini. Ah tidak – tidak. Hutang budiku padamu masih jauh lebih besar daripada hutang budimu padaku”

“Terimakasih”

“Terimakasih kembali. Lagipula, kurasa hubungan anakku dan anakmu ada sedikit peningkatan. Sepertinya, anakku mulai tertarik pada anakmu. Hal ini akan membuat perjodohan ini menjadi lebih mudah” Saat mendengar kata ‘perjodohan’, hati Jaehyun sedikit sakit. Ia sedikit merasakan seberapa berat beban yang ditanggung anaknya selama ini.

Hanya sedikit

Apa itu Ayah yang baik?

“Ah, ada meeting yang harus kuhadiri sekarang. Aku duluan ya. Jangan terus merasa bersalah dan berhutang budi! Ingat yang kukatakan tadi” Oh Soohyun bangkit dari kursinya. Iris coklatnya melirik jam tangan hitamnya. Ia tersenyum kecil.

Im Jaehyun hanya mengangguk dan tersenyum tipis.

Oh Soohyun berjalan mendekati Im Jaehyun. Senyumannya kini telah terganti dengan seringaian kecil.

”Tapi…. Lagipula perkataanmu tadi ada benarnya juga”

Perkataan?

“Perkataan tentang pertanyaan dan pernyataanmu di perkataan keempatmu” Oh Soohyun menepuk pundak sahabatnya pelan. Tanpa menghilangkan seringainya.

“Aku mengetahui segala macam sifatmu. Kita sudah berteman sejak lama” Ia membalikkan badannya.Meninggalkan Im Jaehyun yang masih tenggelam dalam rasa bingungnya.

.

Kedua alis Jaehyun masih setia terpaut. Mencoba mengingat – ingat apa yang di katakannya di perkataan keempatnya, sekaligus mencari jawaban atas perkataan Soohyun padanya.

“Maksudku, apa aku egois telah melibatkan anakku pada masalah ini? Ini merupakan kesalahan terbesarku. Tidak seharusnya anakku ikut terkena imbasnya. Apa… Apa aku biarkan saja ia hidup bebas? Tanpa terkekang dengan perjodohan ini? Biarkan aku yang akan menyelesaikan masalahku sendiri. Tak perlu ada yang ikut campur dan terkena imbasnya”

Ah! Sekarang ia mengingatnya. Ia sekarang tahu mengapa Soohyun berkata seperti itu padanya.

Apa aku egois?

Ya… Kau sangat egois Im Jaehyun. Mengorbankan anakmu untuk perusahaanmu. Seorang Ayah yang baik tidak mungkin melakukan itu. Ia akan berusaha sendiri untuk memperbaiki kesalahannya. Tanpa harus melibatkan siapapun.

Tapi, bukankah ini juga bermanfaat untuk hal ‘percintaan’ gadis itu? Bukankah selama ini yang ia tahu gadis itu masih melajang? Sama sekali tak mempunyai pengalaman tentang ‘pria’?”

Apa ia harus membiarkan gadis itu bebas memilih cintanya?

Apa ia harus membatalkan perjodohan ini?

Apa ia harus mengurus semuanya sendiri? Tanpa bantuan temannya atau siapapun?

.

.

Langkah kedua belah tungkai seseorang tampak terdengar memasukki rumah berlantai kaca itu. Tatapan mata pemiliknya tampak tajam dan sepertinya gadis itu sedang dalam kondisi badmood. Entahlah apa penyebabnya.

“Yoona! Kau sudah pulang? Apa kau membawa semua yang kupesan?” Gadis berambut hitam yang tampak beberapa tahun lebih tua darinya tampak menghampiri gadis itu dnegan senyum lebar yang terukir di bibir tipisnya. Ia tampak senang akan kehadiran sang adik. Pandangan matanya menelisik beberapa buah papper bag yang dibawa oleh Yoona.

“Kau tidak melihatku berdiri di depanmu? Kau pikir aku hanyalah arwah dari ‘Im Yoona?’” Gadis itu membalas dengan nada sinis kepada sang kakak. Kemudian memberikan semua papper bag yang dibawanya pada Kwon Yuri yang sedang mengerucutkan bibirnya. Papper bag lain yang ia bawa masih tertinggal di dalam mobil.

“Dimana tunanganmu?”

“Ia langsung kembali ke kantornya. Katanya ada sebuah meeting penting yang harus dihadirinya. Jas dan segala perlengkapan kantornya, semuanya sudah disiapkan oleh pelayannya” Yuri mengangguk paham.

“Sepertinya kau sedang dalam mood yang kurang baik. Ada apa?”

“Entahlah… Aku lelah, Eonni.Maafkan aku” Yoona mendudukkan dirinya di sofa merah beludru yang berada di depannya. Tangannya ia ulurkan mengusap wajahnya. Otaknya memutar ulang memorinya saat di Roma tadi.

“Aku tak akan membiarkanmu jatuh ke pelukan pria manapun selain aku. Aku tak akan membiarkanmu dekat dengan pria siapapun. Karena kau MILIKKU. Kau tahu itu!”

“Dasar orang gila!” Yoona berdesis tajam. Matanya semakin menjaman layaknya sebuah pisau yang baru saja diasah setelah sekian abad lamanya.

“Apa?” Yuri beringsut mendekati adiknya. Matanya tampakbertanya – tanya apa yang sebenarnya terjadi pada sang adik.

“Tidak ada Eonni…”

“Oh ayolah… Ceritakan padaku apa yang kau lakukan selama di Roma”

Yoona menghembuskan nafasnya. Menimbang – nimbang apakah perlu menceritakan hal itu pada Yuri.

“Cepat!”

“Baiklah. Aku akan menceritakannya” Yoona akhirnya menyerah, menarik nafas panjang, kemudian menghembuskannya perlahan – lahan. Mulutnya mulai membuka mulai menceritakan mulai dari apa saja yang ia dan Sehun lakukan selama di Roma, sampai berakhir dengan keadaan moodnya yang kacau seperti ini.

Tapi, tidak dengan ‘itu’

“Apa? Jadi Sehun adalah Blueice? Teman masa kecilmu sekaligus cinta pertamamu?” Yuri membulatkan matanya. Merasa tidak percaya dengan dunia yang sempit ini. Hanya dengan anggukan Yoona meresponnya.

“Kalian… Apa kalian sempat berciuman?” Yuri menyipitkan matanya. Memandang gadis itu penuh selidik.

“Apa?!” Yoona melemparkan bantal sofa yang berada didekatnya menuju Kwon Yuri yang berada di depannya. Gadis itu mendesah kesal.

“Maaf…. Tapi entah mengapa aku yakin kalian sempat berciuman dan… Tidur seranjang mungkin?” Yuri memainkan jari telunjuknya di dagu indah miliknya.

“APA?! APA KAU INGIN TIDAK MELIHAT SINAR MATAHARI BESOK, EONNI?” Yoona kembali melemparkan bantal sofa itu pada Yuri. Matanya memanas berapi – api.

Yuri segera lari dari serangan Yoona. Sekaligus sambil tertawa terpingkal – pingkal. Meninggalkan Yoona yang masih larut dalam rasa kesalnya.

Sepertinya perasaan gadis berkulit tan itu benar…..

.

.

.

.

Pintu kayu bercat putih gading itu terbuka. Menampilkan seorang gadis dengan dress magenta setengah lengan yang tengah membawa sebuah nampan berisikan segelas air putih dan susu serta 2 buah sandwich. Gadis itu mulai melangkah memasukki ruangan itu. Sebuah kamar tidur.

Iris hitam arangnya menangkap sosok wanita yang duduk di atas seuah kuris menghadap sebuah jendela besar dengan tirai coklat tua di sisi kanan dan kirinya.

“Eomma….” Suara gadis itu berhasil menggetarkan hati wanita yang dipanggilnya ‘Eomma’. Tangan dan wanita itu entah mengapa refleks bergetar setelah mendengar suara itu.

Yoona beringsut mendekati Eommanya. Ia menempatkan nampan itu di atas nakas disamping ranjang tidur Eommanya. Setelah sampai di belakang wanita itu, tangannya terangkat menyentuh pundak wanita itu. Dapat ia rasakan getaran hebat mengalir di tangannya setelah menyentuh wanita itu. Mata beningnya mulai berkaca – kaca.

“Eomma….” Panggil gadis itu sekali lagi. Ia tak dapat menahan airmatanya. Dadanya terasa amat sesak sekarang. Melihat sang Eomma dengan keadaan kacau seperti ini. Sangat kacau dan berantakan.

Rambut hitam panjang yang tidak lagi rapih dan penuh perawatan seperti dulu. Melainkan terganti oleh rambut hitam yang sangat berantakkan. Airmata yang mengering di kedua pipinya, dan bibir yag terus bergetar.

Oh! Apa yang terjadi dengan Eomma?

“Eomma… Maafkan aku…” Yoona memeluk Eommanya dengan penyesalan yang masih terus berakar di hatinya. Ia terasak di pelukan itu. Hal itu rupanya juga ikut membuat Jihyun meneteskan cairan bening yang berasal dari matanya. Perlahan – lahan tangannya mulai mengusap kepala anaknya. Rasa rindu yang meluap – luapa ia turahkan pada pelukan ini.

“Aku bukan anak yang baik… Maafkan aku Eomma. Saat aku bersenang – senang di Italia, Eomma terpuruk kesepian disini. Maafkan aku… Maafkan aku yang melupakan Eomma”

Bodoh. Itulah yang ia rasakan sekarang. Wanita itu berada satu rumah dengannya. Tapi, ia sangat jarang melihat keadaan Eommanya.

Wanita itu… Ia sendirian dan terpuruk disini.Kesepian. Karena depresi yang diderita wanita itu. Untunglah depresi yang dideritanya itu belumlah lama. Jadia ada kemungkinan wanita itu isa sembuh dalam waktu cepat.

“Sekarang, Eomma tidak perlu khawatir. Perusahaan Appa sudah kembali seperti semula. Kita tidak akan lagi terpuruk seperti dulu. Eomma harus cepat sembuh dan sehat! Kita tak akan lagi kesulitan seperti beberapa minggu yang lalu…” Yoona tersenyum kemudian melepaskan pelukannya. Ia bangkit berdiri kemudian berjalan mendekati nakas, mengambil nampan yang ia bawa tadi, kemudian kembali algi mendekati Eommanya.

“Sekarang Eomma harus sarapan. Eomma pasti lapar” Jihyun hanya mengangguk kecil sebagai respon.

Perlahan – lahan, tangan Yoona mulai menyuapkan sandwich buatannya ke dalam mulut Eommanya. Gadis itu tersenyum lebar.

Ia sesungguhnya tahu mengapa Eommanya terpuruk seperti ini.

“Satu lagi. Penyebab eommamu menjadi gila bukan hanya karena aku saja. Melainkan juga karena IA TIDAK BISA HIDUP MISKIN”

.

.

.

.

Jari jemari Heo Gayoon mulai membuka sebuah papper bag sedang yang baru saja dibawakan sahabatnya untuknya. Matanya berbinar – binar dan bibirnya sedikit terbuka karena senyum lebarnya, saat melihat apa yang berada di genggamannya sekarang. Sebuah botol parfum. Hanya sebuah botol parfum. Parfum limited edition yang sangat sulit untuk didapatkan.

Jemarinya kembali memasukki papper bag itu. Kembali mengambil apa yang ada di dalamnya.

“Terimakasih Yoona…. Kau membawakan semua yang kupesan” Gayoon memeluk sahabatnya senang. Hatinya meluap – luap bahagia. Mood nya benar – benar berada pada tingkat elated. Yoona tersenyum senang.

“Ah, dan selamat atas pertunanganmu!”

“Terimakasih”

“Apa yang kau bawa untukku Yoona?” Seorang pria berperawakan jangkung beriris dark brown mendekati Yoona. Tak lupa dengan lengkungan manis yang tercipta di bibirnya.

“Ini untukmu, Siwon” Yoona memberikan sebuah papper bag berwarna biru donker dengan logo sebuah merk terkenal terpajang di depannya. Siwon tersenyum sumringah.

“Terimakasih… Kau gadis yang sangat baik, dan.. Selamat atas pertunanganmu” Siwon mengerlipkan salah satu matanya pada Yoona. Yoona hanya terkikik geli sedangkan Gayoon memandang pria itu aneh.

“Aku heran. Di era modern seperti ini, masih saja ada makhluk aneh sepertimu!” Sahut gadis berambut oranye kemerahan itu sinis. Kedua iris pearl grey-nya menyipit memandang pria itu tajam. Pria jangkung itu berdecak kesal.

“Seharusnya yang pantas disebut makhluk aneh adalah kau!” Bara api mulai memanas. Siap meluapkan api sebesar mungkin. Yoona sudah bisa mencium aroma permusuhan di hadapannya. Lebih baik menghindar daripada berurusan dengan dua orang berkepala panas dihadapannya. Bodoh. Seharusnya ia melerainya. Tapi, entah mengapa hatinya justru berkata lain.

“Aku pergi dulu. Ada orang lain yang harus kuberi ini”

.

.

Kepalanya menoleh kesana – kemari mencari seseorang. Salah satu tangannya membawa sebuah papper bag berukuran besar diantari jari – jemarinya.

Ia tersenyum saat melihat sosok yang ia cari berada tak jauh darinya.

”Sunbae!” Pria yang dipanggil ‘sunbae’ itu menoleh. Lelaki itu tersenyum kecil setelah melihat siapa yang ada dihadapannya sekarang.

“Ada apa?”

“Ini untuk Sunbae” Yoona mendekatkan tangan kanannya yang menggenggam papper bag itu pada Park Chanyeol. Jantungnya berdegub sangat cepat saat ini. Tangannya pun sedikit bergetar saat meberikan papper bag itu.

“Terimakasih. Kau darimana saja? Apa yang kau lakukan? Kau izin kuliah selama beberapa hari bukan?” Pria berambut coklat keemasan itu memandang Yoona penuh selidik. Membuat jantung gadis itu semakin berdetak kencang jika harus ditatap seperti itu.

“Aku pergi ke… Italia” Yoona menggigit bibirnya yang terasa ikut bergetar pula. Perasaan gugup mulai menyelimuti tubuhnya saat ini.

“Apa? Italia? Apa yang kau lakukan disana?”

“Tunanganku mengajak travelling bersama” Yoona tersenyum gugup.Kepalanya tertunduk sempurna. Terlihat sorot ketidaksukaan dari iris hazel Park Chanyeol. Tanpa disadarinya, matanya sedikit menyipit tajam. ‘Tunangan’. Itulah kata yang paling ia benci jika keluar dari mulut gadis ini.

Aku tidak akan menyerah begitu saja! Tak peduli walupun kau sudah memiliki tunangan sekalipun!

*

*

*

*

Hari demi hari berlalu. Rasa penasaran Chanyeol akan gadis itu semakin merajarela. Setiap hari ia selalu mengikuti gadis itu. Selalu mencari tahu hal sekecil apapun tentang gadis itu. Mencoba mencari informasi sedalam – dalamnya. Ia terlihat seperti seorang Stalker sekarang.

Telinganya sudah panas setiap kali mendengar ibunya selalu menanyakan apapun tentang gadis itu. Hal ini ia lakukan bukan hanya atas dasar ibunya, melainkan sebagian besar ats dirinya sendiri.

Rasa penasaran ibunya kini tergantikan oleh rasa penasaran dirinya sendiri…

Dirinya yang tanpa sadar mulai tertarik akan pesona gadis itu

Setelah semua ‘penyelidikan’ atas gadis itu ia lakukan, kini ia memutuskan untuk mencoba medapatkan hati gadis itu.

Ia benar – benar tak peduli walaupun gadis itu telah memiliki tunangan!

.

Pria berparas tampan nan jangkung melangkah mendekati seorang gadis bersurai coklat lurus yang menjuntai hampir setengah dari punggungnya. Gadis itu berposisi membelakanginya. Gadis itu duduk di sebuah bangku taman kampusnya ditemani sebuah novel roman erotis di genggamannya.

Semakin dekat….

Tangannya ia ulurkan menyentuh pundak gadis itu. Setelah gadis itu menoleh padanya, ia tersenyum tipis.

“Hei, Im Yoona! Apa kau ingin makan malam denganku?”

“Apa?!”

—- To Be Continue —-

Halo! Maafkan aku atas late postnya. Author’s block ini bener – benar kuat banget. Hahaha…

Aku tahu, masih ada beberapa silent reader di ff ini…
Sebenernya aku punya rencana, buat protect ff ini di akhir chapter ataupun di salah satu chapter. Menurut readers gimana?

Maaf di chapter ini sama sekali tak menggunakan bahasa Korea kecuali untuk panggilan, hehehe….
Aku tahu ff ini masih banyak kekurangannya. Masih jauh dari kata ‘keren’ ataupun ‘hebat’ oleh karena itu, tolong kritik dan sarannya ya?😀

Bye!!!

THANKS FOR READING!

62 thoughts on “Possessive and Obssesion ( Chapter 4 )

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s