Possessive and Obssesion ( Chapter 5 )

Possessive and Obsession ( Chapter 5 )

Poster PAO YoonHunYeol 2 copy

A Series Story by Vifasha Flory
Starring Im Yoona, Oh Sehun, Park Chanyeol
Support Cast : Ahn Jaehyun, Jun Ji Hyun, Kwon Yuri, Kim Soohyun, Kim Tae Hee, Jeong Ji Hoon
With Genre Romance, AU, Family
Length : Chapter
Rating : 16-

Disclaimer : The Cast Is Belong To God. I Just use Their Name to My Story. The Story is PURE Mine. It is PURE from my IMAGINATION. DON’T PLAGIAT THIS STORY WITHOUT MY PERMISSION!!!.

DON’T BE SILENT READERS! LEAVE A COMMENT OR LIKE IT! BE A GOOD READER

Sorry for Late post, Typo(s). Kesalahan tanda baca, alur cerita yang kurang disukai readers, cerita yang menurut kalian kurang menarik, kurang kreatif dan lain sebagainya.


Pria berparas tampan nan jangkung melangkah mendekati seorang gadis bersurai coklat lurus yang menjuntai hampir setengah dari punggungnya. Gadis itu berposisi membelakanginya. Gadis itu duduk di sebuah bangku taman kampusnya ditemani sebuah novel roman erotis di genggamannya.

Semakin dekat….

Tangannya ia ulurkan menyentuh pundak gadis itu. Setelah gadis itu menoleh padanya, ia tersenyum tipis.

“Hei, Im Yoona! Apa kau ingin makan malam denganku?”

“Apa?!”

.

.

.

Kebingungan tengah melanda dirinya. Dirinya yang sekarang tengah dihimpit oleh dua orang pria yang disukainya. Yang mana yang harus ia pilih?

“Apa?!” Gadis itu hampir terlonjak. Matanya refleks membulat, melihat siapa di hadapannya sekarang. Seorang pria tampan bersurai coklat keemasan yang tersenyum manis.

Apa ia bermimpi?

Gadis itu menepuk – nepuk kedua pipinya. Tidak, ia sama sekali tidak bermimpi. Ini nyata!

“Ini bukan mimpi” Gumamnya.

“Memang bukan mimpi. Ini nyata” Kedua iris Park Chanyeol menatapnya lembut. Gadis itu hampir pingsan! Jika ini mimpi, bisa dipastikan ini adalah mimpi terindah yang pernah ia alami.

“Jadi bagaimana? Apa kau ingin makan malan bersamaku?”

Sial! Jantungnya berdetak sangat cepat sekarang. Mulutnya terasa membeku bahkan untuk mengucapkan sepatah katapun.

“Ka-kau… Se-serius?”

“Apa aku terlihat bercanda? Tentu saja aku serius”

Gadis itu berpikir sebentar. Mengapa otaknya terasa berputar lamban saat ini?

Ia sudah memiliki tunangan. Terlebih lagi tunangannya itu adalah ‘Cinta Pertama’ yang sudah lama dicarinya. Apakah pantas baginya makan malam dengan pria lain?

“Baiklah” Sial! Apa yang ia katakan? Mengapa mulutnya mengatakan itu? Atau, dorongan dari hatinya mungkin?

Jauh di dalam lubuk hatinya, gadis itu masih menyukai pria di hadapannya ini

Lalu bagaimana dengan ‘Blueice’? Janji itu, sampai kapan janji itu akan bertahan?

.

Chanyeol melebarkan senyumannya lagi. Perlahan – lahan, rencananya untuk memiliki gadis itu pasti berhasil! Ya, ia harus optimis akan hal itu!

Tak peduli akan kenyataan bahwa gadis itu sudah memiliki seorang ‘tunangan’

Hei! Bukankah hanya seorang ‘tunangan’? Bahkan seseorang yang sudah menikah saja bisa bercerai, bukan?

“Baiklah aku akan menjemputmu jam 8 malam nanti”

“Menjemputku?” Gadis itu menautkan kedua alisnya bingung. Apa Park Chanyeol tahu dimana rumahnya? Jika ia tahu, bagaimana pria itu tahu?

“Ah… Kau pasti bingung mengapa aku bisa tahu rumahmu bukan?” Yoona mengangguk pelan.

“Beberapa hari yang lalu aku mengikutimu hingga sampai ke rumahmu. Maafkan aku…” Chanyeol mengusap leher bagian belakangnya malu. Ia tersenyum canggung. Tanpa Yoona sadari, rona merah mulai terlihat di pipinya.

“Tidak apa – apa. Tapi, mengapa Sunbae mengikutiku?”

“Ah itu… Ah sudahlah. Aku akan menjemputmu jam 8 nanti. Kau harus sudah siap agar aku tak menunggu lama nantinya” Chanyeol berbalik dan mulai berjalan cepat meninggalkannya. Gadis bermata rusa itu menatapnya bingung.

“Ada apa dengannya? Ia terlihat aneh…”

.

.

.

.

Kamar itu terlihat sangat berantakan. Puluhan gaun terhampar dimana – mana. Isi lemarinya bahkan sudah tidak berbentuk lagi. Gadis itu masih sibuk memilih gaun apa yang akan ia pakai untuk makan malamnya nanti. Kedua tangannya masih sibuk mencocokkan dua gaun yang berada di masing – masing tangannya dengan tubuhnya. Sesekali bibirnya mengerucut atau tangannya menggaruk – garuk kepalanya bingung.

“Aisshh.. Aku benar – benar bingung. Gaun apa yang akan kupakai sekarang? Sial! Tidak ada gaun yang cocok!” Gadis itu membuang asal gaun yang ia pegang tadi. Ia melangkah ke pinggir kasur kemudian mendudukan dirinya disana. Sepasang matanya memandang puluhan gaun dan pakaian yang terhampar dimana – mana. Ia menghembuskan nafasnya kasar. Ia harus menunjukkan penampilan terbaiknya malam ini! Ya, dihadapan Park Chanyeol ia harus berpenampilan anggun, cantik, dan sempurna!

Kedua iris coklatnya tanpa sengaja menangkap sebuah gaun sutra berwarna biru muda yang masih terpajang satu – satunya di dalam lemarinya. Gaun selutut berlengan kecil disertai sebuah mawar sedang di kiri atasnya tampak begitu anggun dan mengesankan. Bibirnya melengkung membentuk sebuah sabit manis. Kedua belah tungkainya mulai melangkah mendekati gaun itu. Gaun yang ia beli di Italia pada saat ‘bulan madu’nya dengan Sehun.

Ah! Tanpa sengaja pria itu muncul di memorinya. Ia merasa sedikit tidak enak memang. Ia sudah bertunangan dengannya dan terlebih lagi ia adalah teman masa kecil sekaligus cinta pertamanya yang sudah ia cari sejak lama. Apa pantas dirinya yang sudah bertunangan ini makan malam dengan pria lain? Terlebih lagi hanya mereka berdua? Tanpa ada orang lain lagi.

Ah sudahlah… Lagipula mereka hanya berteman

Tanpa ia sadari di dalam dirinya mengucapkan kalimat itu. Lupakan rasa tidak enak itu! Bagaimanapun juga, Chanyeol masih tetaplah pria yang ia sukai.

Kebingungan tengah melanda dirinya. Dirinya yang sekarang tengah dihimpit oleh dua orang pria yang disukainya. Yang mana yang harus ia pilih?

.

.

.

.

Im Yoona masih berdiri di depan cermin. Menatap pantulan dirinya yang terlihat amat anggun saat ini. Kedua tangan mungilnya bergerak merapihkan gaunnya – walaupun sebenarnya dress itu sudah benar – benar rapih. Rambut coklat ikalnya tergerai di punggungnya. Kamar yang terlihat berantakan tadi sekarang sudah sangat rapih. Tak lama kemudian, sebuah klakson mobil terdengar. Gadis itu tersenyum kecil dan lantas segera turun menuju Chanyeol yang sudah menunggunya. Beruntung ayah dan ibunya sedang tidak di rumah saat ini. Jika mereka di rumah, pasti dirinya akan terjebak dalam ribuan pertanyaan yang belum tentu bisa dijawabnya.

Ah! Ibunya sudah kembali normal sekarang. Usai menjalani beberapa terapi dan pengobatan di rumah sakit, kini Yoona dan Ayahnya sudah bisa kembali melihat senyuman manisnya. Apalagi ditambah ekonomi mereka yang sudah tak lagi terpuruk. Semakin melebarkan senyuman wanita paruh baya itu.

Semuanya sudah normal karena diri dan perasaannya yang harus dikorbankan

Sebuah mobil hitam terparkir di depan pagar rumahnya. Chanyeol tersenyum manis menyambutnya. Pria itu tampak tampan dengan balutan tuxsedo hitam pekat dan kemeja putih. Pria itu lalu membukakan pintu untuknya. Setelah pria itu masuk, ia lantas menjalankan mobilnya menuju sebuah tempat.

.

.

.

.

Tak lama kemudian, mereka sampai di depan sebuah restaurant mewah berlabel tulisan Perancis. Restaurant besar dengan gemerlap lampu menghiasi dinding luarnya. Mobil – mobil mewah tampak terparkir di halamannya. Chanyeol dan Yoona berjalan beriringan memasuki restaurant itu. Seorang pelayan tersenyum ramah kemudian mempersilahkan mereka duduk di meja yang sudah dipesan Chanyeol.

“Mengapa Sunbae mengajakku ke restaurant mahal seperti ini?” Yoona menautkan kedua alisnya bingung. Jelas sekali restaurant ini untuk orang – orang berkelas. Oh, lihatlah dari pakaian mereka! Gaun dan jas yang mereka pakai pasti berharga jutaan won. Tingkah mereka juga sangatlah anggun dan terjaga.

Chanyeol tergelak kecil. Ia sedikit memajukkan wajahnya.

“Kau tahu? Aku sangat beruntung hari ini! Aku menang lotre pagi tadi. Hadiahnya adalah dua buah kupon. Kupon itu adalah kupon untuk makan apapun gratis dan salah satu meja khusus di restaurant ini untuk dua orang. Maka dari itu, aku mengajakmu untuk makan malan bersamaku di restaurant ini”

“Lalu, mengapa Sunbae mengajakku? Mengapa tidak teman dekat atau sahabat Sunbae?”

“Aku punya banyak teman dekat dan sahabat. Akan ada yang sakit hati jika hanya kuajak salah satu dari mereka. Maka dari itu aku mengajakmu” Yoona mengangguk paham. Sebenarnya ada setitik rasa sakit di ulu hatinya.

Sakit karena alasan pria di hadapannya mengajaknya bukan karena dia orang yang spesial

“Mengapa kau terlihat murung? Apa yang terjadi?”

“Ah, tidak. Tidak ada apa – apa”

“Yoona, jangan panggil aku Sunbae. Panggil saja aku Chanyeol. Kau boleh menggunakan kata ‘kau’ untukku” Chanyeol tersenyum lembut. Tak berapa lama kemudian, seorang pelayan berambut pirang dan berwajah western menghampiri mereka. Menyerahkan daftar menu kepada mereka. Chanyeol dan Yoona membaca berbagai sajian hidangan di daftar menu itu sejenak.

“Beef Bourguignon dan Mocha pots de creme”

“Aku sama sepertinya” Yoona tersenyum kecil. Pelayan itu membalas senyumannya, kemudian ia membungkuk sedikit dan berbalik menuju tempat sang koki menyiapkan hidangannya. Tak lama kemudian, datang lagi seorang pelayan pria berperawakan jangkung dengan kumis tipis menghiasi bagian di atas bibirnya. Pelayan itu tersenyum ramah kemudian menuangkan wine di gelas kaca di hadapan mereka.

“Kau tahu Yoona? Keluargaku bukanlah keluarga kaya seperti tunanganmu. Keluargaku hanyalah keluarga sederhana. Aku hanya tinggal bersama ibuku dan adikku, Park Jinri. Ayahku entah kemana ia pergi. Mobil hitam yang kupakai tadi, itu adalah mobil satu – satunya keluarga kami. Maafkan aku karena menjemputmu tidak dengan mobil mewah” Air muka pria itu tampak murung. Kepalanya tertunduk dan hanya menatap meja di bawahnya.

“Tidak apa – apa Sun.., ehm maksudku Chanyeol. Aku tidak merasa malu walaupun kau menjemputku dengan mobil usang sekalipun. Terimakasih karena sudah mengajakku makan malam” Yoona tersenyum kecil. Chanyeol lantas menegakkan kepalanya dan membalas senyumannya. Beberapa saat kemudian, pesanan mereka datang.. Mereka sangat beruntung karena menikmati semua hidangan itu tanpa mengeluarkan uang sedikitpun!

Tanpa mereka sadari, ada seorang pria yang duduk di pojok restaurant itu memandang mereka dengan pandangan yang tidak bisa diartikan. Pria itu kemudian mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.

“Tuan, aku menemukannya. Ia disini bersama seorang pria. Sepertinya mereka berkencan. Aku akan terus mengawasinya”

.

.

.

.

Oh Sehun bersandar di samping mobilnya dengan tatapan datar. Pria berkemeja biru donker berlengan pendek itu sedang menunggu sang tunangan keluar dari gedung Universitasnya. Beberapa gadis sibuk memperhatikannya sambil sesekali tersenyum ataupun berbisik – bisik dengan temannya. Tapi, pria itu mengabaikannya. Bersikap seolah – olah mereka hanyalah angin lalu.

Tak lama kemudian, gadis yang ditunggunya sejak tadi muncul dan berjalan ke arahnya. Ia refleks menegakkan tubuhnya dan membukakkan pintu sebelah kanan untuknya.

*

*

Sudah setengah jam keheningan menyelimuti mereka. Tak ada satupun dari kedua insan ini yang berniat ingin membuka percakapan. Hanya ada suara Air Conditioner yang terus menghembuskan hawa dingin. Sehun sesekali menghembuskan nafasnya dan melirik gadis di sebelahnya. Sementara gadis yang sedari tadi diliriknya hanya memandang ke luar jendela.

“Bagaimana kuliahmu?” Akhirnya, Sehunlah yang membuka percakapan terlebih dahulu.

“Seperti biasa” Jawab gadis di sebelahnya tanpa mengalihkan pemandangannya.

Hening

“Besok aku akan ke Amerika. Perjalanan bisnis selama beberapa minggu”

“Hmm..” Yoona meresponnya hanya dengan gumaman.

“Hei! Apa kau mendengarku? Tataplah mataku! Aku sedang berbicara denganmu!” Nada bicara pria itu naik satu oktaf. Jangan sampai gadis disampingnya memancing amarahnya!

“Kau pikir aku tuli? Aku mendengarmu, bodoh!” Gadis itu kini menoleh ke arahnya. Menatap matanya langsung. Kedua matanya tampak menyipit saat menatap pria itu.

“Tapi tidak sopan jika kau berbicara dengan seseorang tidak menatap matanya! Apalagi menoleh ke arah lain!”

“Aku tahu tetapi aku tidak peduli jika itu kau!”

“Bukankah aku cinta pertamamu? Aku blueice Yoona! Semasa kecil kita sering bersama bukan? Bahkan kau pernah berjanji padaku kau akan selalu bersamaku! Tapi, apa sekarang? Mengapa kau bertindak seolah – olah kau tidak pernah mengenalku?”

Jika boleh jujur, sejujurnya gadis ini telah lama melupakan Blueice

Dan sekarang ( sebelum ia bertemu dengan Oh Sehun ) ia hanya menganggap Blueice sebagai sahabat. Dan rasa rindunyapun juga hanya sebatas sahabat

Park Chanyeol sudah mengisi hatinya yang telah lama kosong karena terlalu lama menunggu Blueice kembali!

Tapi, entah mengapa, saat pria itu melamarnya, ada desiran aneh yang terasa di hatinya. Jantungnya berdetak sangat cepat kala itu

Dan juga saat mereka di Italia, entah mengapa ia merasa sangat nyaman dan aman disamping pria itu

Apa itu… Cinta?

Apa itu artinya… Ia mencintai dua orang?

Oh tidak! Siapa yang harus ia pilih?

.

“Oh, ayolah Oppa! Ini hari pertamaku datang bulan. Perutku sangat sakit seperti dililit begitu kencangnya! Tentu saja aku sangat sensitif dan badmood sekarang! Dan kau, kau membuat mood ku kembali turun drastis!” Yoona menyipitkan kedua mata bulatnya. Menatap pria disampingnya tajam. Terdapat raut marah dan kesal di wajahnya. Sehun hanya tersenyum kecil dan mengusap tengkuknya malu.

Ya! Benar! Semua karena datang bulan sialan ini! Mengapa semua gadis menjadi mudah marah dan sangat sensitif jika sedang datang bulan?

“Maafkan aku… Aku tidak tahu jika kau sedang datang bulan sekarang” Ia tersenyum menampilkan deretan gigi putihnya yang rapih. Senyumannya hanya dibalas decakan sinis oleh gadis beriris coklat tua itu.

.

Sesampainya di rumah gadis itu, Yoona segera turun dari mobil Oh Sehun. Melangkahkan kedua tungkainya masuk ke rumahnya tanpa mengucap sepatah kata terimakasihpun.

“Yoona!” Pria itu memanggilnya. Yoona lantas menolehkan kepalanya ke belakang dengan tatapan datarnya.

“Yoona, selama aku pergi, jaga dirimu baik – baik. Jangan pergi kemanapun dengan pria lain! Jangan mengobrol terlalu lama bersama pria lain! Jangan bercanda ataupun terlalu banyak tertawa dengan pria lain! Jangan pulang dengan pria lain! Jangan makan siang ataupun makan malam dengan pria lain! Jangan-“

“Aku tidak janji, Tuan posesif! Apa hakmu melarangku seperti itu?”

“Aku tunanganmu!”

“Aku tidak peduli!” Gadis itu berbalik dan mulai kembali melangkahkan sepasang kakinya. Sebuah pekikan lagi – lagi membuatnya menoleh.

“YOONA!”

“Apa?”

“Aku sudah memperingatkanmu!”

“Sekali lagi kubilang aku tidak peduli dan aku tidak berjanji, Tuan Oh yang sungguh posesif!” Semua kata yang diucapkannya tadi penuh dengan penekanan. Yoona menggendikkan bahunya dan kembali melangkahkan kakinya. Pria itu menghembuskan nafasnya kasar. Kemudian telapak tangannya mengambil ponsel di saku kemejanya dan menghubungi seseorang.

“Terus awasi dia selama aku pergi. Laporkan semuanya kepadaku apa yang dia lakukan. Dan jika ia pergi dengan seorang pria, cari tahu siapa pria itu”

.

.

.

.

Hari ini pesawat yang ditumpangi Oh Sehun sudah lepas landas menuju Singapura –untuk transit terlebih dahulu- sebelum menuju ke Amerika Serikat. Sebenarnya, gadis itu ingin mengucapkan kata – kata sederhana namun manis seperti “Hati – hati di jalan”, “Jangan sampai telat makan”, “Jika kau sakit, kau harus segera minum obat”,”Jangan lupakan sarapan, makan siang, ataupun makan malammu”,”Aku akan selalu menunggumu” ataupun “Jaga selalu kesehatanmu. Aku tak ingin melihatmu ketika kembali ke Korea dengan sapu tangan di telapak tanganmu dan hidung merahmu” . Tetapi rasa sakit –sialan- di perutnya benar – benar menyiksanya. Membuat mulutnya kelu untuk barangkali mengucapkan sepatah kata seperti itu.

Apa? Apa yang baru saja ia pikirkan? Apa ia gila berpikir seperti itu?

Oh sudahlah. Terkadang alam bawah sadar memang suka berkata jujur.

.

“Yoona, apa kau ada acara sore nanti?” Suara bass Park Chanyeol mengejutkan Im Yoona. Im Yoona dengan novel detektif karya Agatha Christie di tangan kanannya tampak sedikit membulatkan matanya. Terkejut melihat siapa pria dengan senyum manis di hadapannya.

“Aku? Kau berbicara padaku?” Oh tidak! Apa dia bodoh? Tentu saja pria itu berbicara padanya. Sial! Otaknya benar – benar tidak bisa berpikir jernih jika pria itu menatapnnya seperti itu.

“Tentu saja kau. Siapa lagi gadis bernama ‘Im Yoona’ di kampus ini?” Jawab Chanyeol sembari mengangkat salah satu alisnya.

“Ah tidak. Otakku sedikit bermasalah akhir – akhir ini” Chanyeol tergelak kecil. Yoona hanya tersenyum canggung.

“Baiklah. Kau bilang kau tidak mempunyai acara sore ini bukan? Bagaimana jika kuajak ke suatu tempat?”

“Tempat? Tempat apa? Dimana”

“Kau akan tahu nanti. Aku akan menunggumu disini setelah kau selesai dari kelasmu. Jangan lupa, Okay?” Yoona menjawabnya hanya dengan sebuah anggukan. Di bibirnya tampak tergambar sebuah lengkungan manis setelah pria itu pergi.

Ok, sekarang ia harus memiliki prinsip.

Lupakan Chanyeol. Anggap ia hanya sebagai teman. Kau boleh dekat dengannya tetapi hanya sebagai seorang teman. Ingat! Kau sudah memiliki Sehun. Oh Sehun cinta pertama sekaligus tunanganmu yang sebentar lagi akan menjadi calon suamimu.

Ya, semoga saja prinsipnya kan berjalan dengan ‘lancar’.

.

.

.

.

Chanyeol menghentikan motornya di depan sebuah rumah sederhana yang berukuran tidak terlalu besar. Rumah dengan cat berwarna coklat muda bertingkat 2 dan lengkap dengan berbagai macam tanaman dan pot tanaman di taman kecil di depannya dan pot gantung di sepanjang langit – langit bagian depan rumah itu. Seorang wanita paruh baya tampak menyirami tanaman – tanaman di taman kecil itu. Bibir pucatnya tampak tersenyum kecil dan bersenandung kecil.

“Benar – benar indah” Gumam Yoona sambil tersenyum tipis. Matanya tak henti – hentinya memandang berbagai macam tanaman dihadapannya.

“Ibu!” Setelah pria itu memasukkan motornya ke halaman depan rumahnya, tangan pria itu melambai kepada sosok paruh baya yang berdiri tak jauh dari tempatnya berada. Tak lupa senyum sumringah terlukis di bibirnya. Wanita itu menoleh padanya. Sedetik kemudian, bibirnya juga tampak melukiskan sebuah senyum manis. Tungkai panjang pria itu mulai melangkah menghampiri wanita itu yang tak lain adalah ibunya – Park Tae Hee -.

“Yoona, ayo kemari” Chanyeol memanggil Yoona yang terlihat sedikit terkejut saat melihat wajah ibunya. Ia merasa seperti tidak asing dengan wanita itu. Perlahan – lahan, Yoona mulai melangkahkan sepasang kakinya menuju Chanyeol.

“Annyeong Haseyo… Im Yoona imnida” Yoona membungkukkan tubuhnya saat berhadapan dengan Park Tae Hee. Park Tae Hee tersenyum lebar. Kerutan di wajahnya tidak mengurangi kecantikannya. Ada sedikit rasa terkejut saat melihat siapa gadis yang dibawa oleh anaknya. Rasa terkejut dan senang sekaligus.

“Kurasa kita pernah bertemu sebelumnya, bukan?”

“Aku juga merasa seperti itu… Tapi aku tidak ingat dimana itu”

“Bukankah kau gadis yang di bus itu? Kau gadis yang menawarkan tempat dudukmu untukku bukan?”

“Iya, benar. Aku ingat sekarang. Tak kusangka kita akan bertemu lagi”

“Ayo masuk. Aku ingin mengobrol bersamamu” Tae Hee dan Yoona berjalan berdampingan memasukki rumah sederhana namun indah itu. Sejenak tanpa Yoona sadari, Tae Hee mengedipkan salah satu matanya ke Chanyeol. Seolah – olah mengatakan ‘Kerja bagus’.

.

.

.

.

“Silahkan menikmati tehnya. Maaf kami tidak punya apa – apa selain secangkir teh dan makanan kecil ini” Chanyeol menyuguhkan dua cangkir teh pada Yoona dan ibunya.

“Tidak apa – apa. Ini sudah melebihi cukup”

“Kau terlalu berlebihan, Yoona” Setelah selesai menyuguhkan teh, Chanyeol duduk di salah satu sofa berwarna hijau tua dengan motif mawar samar di sebelah Yoona.

“Jadi, apa kau kuliah sekarang?” Park Tae Hee membuka percakapan. Salah satu tangannya meraih cangkir teh dan menyesapnya sedikit.

“Iya”

“Dimana kampusmu?”

“ Kyunghee University”

“Jadi, kalian satu kampus?”

“Iya” Park Tae Hee mengalihkan pandangannya pada Chanyeol. Kedua matanya tampak menyipit menatap tajam namja beriris hazel itu. Chanyeol hanya mengangkat kedua bahunya seolah – olah berkata ‘Aku tidak tahu sebelumnya. Jangan salahkan aku jika pertama kali ibu bertanya padaku aku bilang aku tidak pernah melihatnya di kampusku’. Tae Hee segera mengalihkan tatapannya pada Yoona dan memasang senyumannya. Di dalam hatinya ia berharap agar Yoona tidak curiga.

“Apa kalian dekat?”

Chanyeol dan Yoona bertatapan sebentar.

“Ti-“

“Kami cukup dekat. Bahkan kemarin kami makan malam bersama. Bukankah begitu, Yoona?” Pipi yoona sedikit merona. Mendadak perasaan gugup menyelimutinya. Park Tae Hee tersenyum geli melihatnya.

Mereka saling mengobrol dan bercerita satu sama lain selama kurang lebih satu jam. Terkadang diselingi dengan candaan dan lelucon yang membuat mereka tertawa geli.

Suara ketukan pintu menghentikan tawa mereka. Siapa gerangan penghancur suasana yang tengah diselimuti rasa humor ini?

“Biar aku saja yang membukanya” Tae Hee dengan cepat bangun dari duduknya dan mulai melangkah menuju pintu yang bercat coklat tua itu.

Setelah ia membuka pintu, dadanya terasa sesak seketika. Matanya refleks membulat dan ia merasa seperti tidak bisa menghirup oksigen.

“Ji Hoon….”

“Tae Hee…” Park Tae Hee refleks memeluk pria yang dipanggilnya Ji Hoon tadi. Ia tak kuasa menahan airmatanya. Cairan – cairan bening terus mengalir dari kedua matanya.

“Aku merindukanmu… Sangat merindukanmu”

.

.

.

.

“Ayah…” Chanyeol segera berlari menuju Ji Hoon. Kedua tangannya ia rengganggkan untuk memeluk pria itu.

“Chanyeol…” Ji Hoon tak mampu lagi menahan airmatanya. Matanya mulai berkaca – kaca. Melepaskan semua kerinduan yang selama ini ia tahan. Yoona yang tak mengerti apapun hanya bisa tersenyum kecil menyaksikan pertemuan yang mengharukan ini.

“Dan… Siapa gadis cantik ini? Apa ia kekasihmu?” Ji Hoon menyeringai geli pada Chanyeol. Kedua pipi Yoona terasa memanas karena perkataan Ji Hoon.

“Tidak, dia hanya temanku” Setitik perasaan sakit hati dirasakan gadis itu. Entah kapan kata ‘temanku’ akan berubah menjadi ‘kekasihku’.

‘Sial! Ayo, ingat prinsipmu Yoona! ‘Lupakan Chanyeol. Mulailah melihat hanya kepada Oh Sehun’ batin Yoona berteriak keras. Mencoba mengingatkan kembali gadis itu.

“Annyeong Haseyo… Im Yoona imnida” Yoona membungkukkan dirinya. Bibirnya menyunggingkan senyum lebar.

Mendengar nama ‘Im Yoona’, salah satu alis Park Ji Hoon sedikit naik. Ia merasa tidak asing dengan nama itu.

Entah mengapa ia merasa pernah mendengar nama itu di masa lalu.

Otaknya tanpa sengaja menemukan nama itu di memorinya. Matanya refleks membulat tanpa ia sadari. Ia dengan cepat menyembunyikan rasa terkejutnya dan berusaha bersikap normal, seolah – olah ia sama sekali tidak pernah mendengar ataupun mengingat nama itu.

Melihat senyuman gadis itu, mengingatkannya pada seseorang yang pernah ditemuinya di masa lalu

“Selama ini, ayah berada dimana? Apakah ayah berada di Korea, atau di luar negeri? Ayah terlalu meninggalkan kami. 2 tahun itu terasa 100 tahun bagiku” Chanyeol mengerucutkan bibirnya. Park Ji Hoon tergelak kecil. Park Ji Hoon baru saja membuka bibirnya untuk menjawab pertanyaan Chanyeol. Tetapi, suara getar ponsel menghentikannya.

“Drrrttt…. Drrrttt” Ponsel Yoona bergetar. Gadis itu lantas mengambil ponsel di tasnya dan tersenyum malu.

“Aku permisi sebentar” Im Yoona melangkahkan kakinya keluar dari rumah itu. Jemari lentiknya kemudian menggeser ikon berwarna hijau di ponselnya dan mendekatkan ponsel itu ke telinganya.

”Halo?”

“…….”

“Aku berada di rumah temanku. Ada apa?”

“…….”

“Baik, aku akan pulang sekarang” Jemari lentiknya kemudian menjauhkan ponsel itu dari telinganya. Tubuhnya berbalik dan berjalan kembali memasukki kembali rumah itu.

“Maaf, sepertinya aku harus segera pulang sekarang. Orang tuaku sudah menungguku di rumah. Sekali lagi aku minta maaf” Yoona membungkukkan setengah badannya dan tersenyum kecil. Ada perasaan tidak enak di hatinya.

“Tidak apa – apa. Lebih baik kau pulang sekarang. Orang tuamu pasti mengkhawatirkanmu sekarang. Chanyeol, bisa kau antar ia pulang?”

“Tentu saja”

“Tidak perlu, paman. Aku bisa pulang sendiri dengan kendaraan umum”

“Tadi aku melihat sebuah kecelakaan beruntun di jalan utama. Kemacetan sangatlah panjang. Banyak sekali mobil – mobil yang terjebak kemacetan. Beruntung, aku tahu sebuah jalan pintas jadi aku bisa menghindari kemacetan itu dan sampai di rumah lebih cepat. Aku yakin Chanyeol pasti juga tahu jalan pintas itu. Kau akan sampai di rumah lebih lama jika kau memaksa ingin pulang dengan bus, dan orang tuamu pasti akan lebih khawatir. Ayolah, jangan menolak kebaikan. Kau akan sampai rumah lebih cepat jika bersama Chanyeol”

Yoona hanya bisa membungkam. Ia tak bisa mengucapkan sepatah katapun lagi untuk membantah. Sifat keras kepala Jihoon memang sudah sangat mendarah daging di tubuhnya. Pria itu tak akan berhenti berbicara sampai lawan bicaranya menyerah.

Gadis itu kemudian menyunggingkan senyum kecilnya. Kepalanya mengangguk pelan.

“Baiklah, aku akan pulang bersama Chanyeol”

.

“Apa yang ingin kau ceritakan?” Tae Hee terlihat sudah tidak sabar ingin mendengar cerita pengalaman sang suami. Kepalanya sedikit condong ke depan, tatapan matanya penuh dengan rasa penasaran.

Ji Hoon tersenyum miring. “Lebih baik jika kita menunggu Chanyeol pulang terlebih dahulu. Aku tak sabar ingin menceritakan kabar ‘bahagia’ ini padanya”

.

.

Chanyeol menghentikan motornya di depan sebuah rumah megah yang tak lain adalah rumah Yoona. Pria itu kemudian melepas helmnya dan menoleh ke arah Yoona sembari tersenyum tipis.

“Maafkan sifat keras kepala ayahku. Ayahku memang seperti itu. Ia tak akan berhenti sampai lawan bicaranya menyerah.” Ada perasaan tidak enak yang tersirat di mata pria itu.

“Tidak apa – apa. Terimakasih sudah mengantarkanku pulang”

“Sama – sama. Tapi, apa benar ini rumahmu? Wah… Besar sekali. Desain arsitekturnya benar – benar mengagumkan. Jelas sekali berbanding jauh dengan rumah sederhanaku. Kau pasti anak keluarga terpandang” Im Yoona hanya tersenyum kecil.

“Lain kali aku akan mengajakmu ke rumahku lagi, atau ke suatu tempat yang menyenangkan mungkin? Senang rasanya memiliki teman seperti dirimu.

Pipi gadis itu merona. Ia tersenyum malu dan sedikit menundukkan kepalanya. Tiba – tiba terlintas perkataan Sehun di benaknya. Perkataan pria itu yang melarangnya untuk pergi bersama pria lain selain dirinya. Dan ayahnya tentu saja.

“Tentu, dengan senang hati” Ucapan itu keluar begitu saja tanpa ia sadari. Apa yang ia lakukan? Seharusnya ia menolaknya dan mengikuti perkataan Sehun! Itu otaknya yang berkata demikian.

Tapi di dalam bagian terdalam di hatinya, ia mengatakan sebaliknya. Mengakibatkan ucapan tidak sadar itu keluar begitu saja.

Pria itu tersenyum lebar, kemudian mengambil helmnya dan kembali memakainya. Ia kembali menyalakan mesin motornya dan bersiap untuk kembali.

“Selamat tinggal”

.

.

.

.

“Jadi, apa yang ingin ayah ceritakan?” Chanyeol mendudukkan dirinya di samping ibunya. Ia menatap penuh antusiasisme pada ayahnya. Ji Hoon tertawa kecil.

“Kau terlihat sangat penasaran, putraku yang tampan” Chanyeol mengerucutkan bibirnya. Tentu saja ia sangat penasaran. Apa yang selama ini dilakukkan ayahnya hingga ia bisa sukses seperti ini? Bahkan ia mempunyai sebuah mobil mewah edisi terbatas yang kini terparkir di depan rumah kecilnya.

“Dewi Fortuna benar – benar berada di pihakku” Ji Hoon menyeruput sedikit tehnya dan kembali melanjutkan. “Aku mendapatkan keberuntungan yang luar biasa”

“Keberuntungan yang luar biasa? Keberuntungan seperti apa?”

“Setelah cukup lama aku merasakan betapa beratnya hidup ini, akhirnya semua perjuanganku terbayarkan” Ji Hoon lagi – lagi menyeringai. Namun, ini bukan seperti seringai biasa. Ada maksud dalam di balik seringainya.

Chanyeol mulai merasa kesal dengan ayahnya. Ayahnya terus saja berbicara seperti ‘meracau’ baginya. “Oh ayolah ayah, langsung saja ke intinya. Jangan terlalu banyak basa – basi” Ji Hoon menatap Chanyeol sebentar, dan kembali mengalihkan pandangannya.

“Saat itu aku sedang berpikir keras bagaimana aku bisa mendapatkan banyak uang tanpa harus terlalu bekerja keras yang terlalu lama seperti yang dulu aku lakukan. Aku bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan kecil dengan gaji yang tak sepadai dengan apa yang sudah aku lakukan untuk perusahaan itu. Berbekal dengan kemampuan berbisnisku yang cukup mahir, aku berhasil membujuk seseorang….”

“…seseorang untuk bekerja sama denganku. Dari situlah, aku memperoleh keuntungan yang luar biasa. Aku kaya dalam sekejap”

Chanyeol tampaknya mengerti apa yang dimaksud Ji Hoon. Perasaan aneh dan buruk mendadak memenuhi hatinya.

Berharap saja semua tak seperti pikiranmu

“Lalu, sekarang bagaimana nasib orang yang ayah ajak kerjasama itu?”

Jangan bilang ia ‘jatuh’ sekarang

Ji Hoon menoleh dan tersenyum tipis.

“Aku tidak tahu” Pria itu melihat ada setitik sinar kebohongan di sepasang iris hazel ayahnya. Namun, ia mengabaikannya. Dan tetap mencoba mempercayai ayahnya.

“Jika aku boleh tahu, siapa orang itu?” Pria itu bertanya dengan hati – hati. Tatapan matanya menyelidik. Tidak, tidak. Jangan bilang ayahnya sudah melakukan hal yang ‘kurang ajar’.

“Rahasia. Kau tidak perlu tahu, Chanyeol. Kelak mungkin suatu saat kau akan mengetahui siapa ‘orang’ itu”

.

.

.

.

Sepasang kaki jenjang melangkah tegap menuju sebuah ruangan ‘rahasia’. Jari jemarinya bergerak menekan beberapa tombol untuk memasukkan password dan masuk ke dalam ruangan itu. Setelah pintu itu terbuka, ia segera melangkahkan kembali kakinya dan menyalakan saklar lampu. Kemudian, ia mendudukkan dirinya di sebuah kursi yang berhadapan langsung dengan sebuah komputer.

Kedua telapak tangannya mengambil sebuah headphone yang terletak di samping komputer itu, kemudian jari – jarinya menggerakkan mouse dan mengetikkan sesuatu.

Terdengarlah sebuah suara. Suara percakapan seseorang. Suara seseorang yang tentu saja sudah tidak asing lagi baginya.

Ia mendengarkan percakapan itu dengan seksama. Matanya mulai menyipit tajam. Semakin lama ia merasa semakin geram. Tangannya terkepal kuat. Tampak jelas di wajahnya ia sedang menahan amarah yang kini mulai memuncak di ubun – ubunnya.

Tak tahan lagi, ia akhirnya melepaskan headphone itu dan mengambil ponsel di saku kemejanya. Jari jemarinya kembali mengetikkan sesuatu, dan mendekatkan ponsel itu ke telinganya. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya terdengarlah suara jawaban.

“Halo?”

“ Bagaimana keadaannya? Apa dia baik – baik saja? Apa yang ia lakukan?” Tanya pria itu dengan nada dingin. Tatapan matanya juga membekukkan bagi siapa saja yang melihatnya.

“Ia baik – baik saja, Tuan Oh. Ia pergi dengan seseorang tadi” Oh Sehun tidak terkejut. Ia sudah mendengar semua percakapan gadis itu dengan ‘alat penyadapnya’

Ya… Alat penyadap yang ia pasang di semua tas dan pakaian luar serta sepatu gadis itu.

Ia juga memata – matai gadis itu dengan GPS yang ia pasang di tempat yang sudah disebutkan tadi.

Posesif sekali bukan?

“Siapa ‘seseorang’ itu?”

“Dia Park Chanyeol. Sunbae Nona Im di kampusnya. Pria yang sama yang pernah mengajak Nona Im ‘kencan’ sebelumnya. Sepertinya mereka cukup dekat.”

Tangan Oh Sehun lagi – lagi mengepal. Kali ini lebih kuat daripada sebelumnya. Buku – buku jarinya sampai memutih. Ia berusaha sekuat mungkin menahan amarahnya.

“Hubungan mereka hanya sebatas Sunbae dan Juniornya, bukan? Tidak ada yang lebih, bukan?”

“Aku tidak tahu, tuan. Tapi sepertinya tatapan pria itu pada Nona Im sedikit berbeda dari tatapan pria biasa”

“Berbeda? Apa maksudmu?”

“Sepertinya… Pria itu menyukai Nona Im” Oh Sehun refleks membulatkan matanya. Sial! Kali ini ia gagal menahan amarahnya! Benar – benar gagal!

“APA???!!! TIDAK! ITU TIDAK BOLEH TERJADI!! TETAP AWASI MEREKA DAN SELALU BERITAHUKAN APA YANG MEREKA LAKUKAN PADAKU! JANGAN LEWATKAN HAL SEKECIL APAPUN!!” Pekik pria itu keras. Dengan pekikan seperti ini jelas belum ‘memuaskan’ untuknya untuk melampiaskan amarahnya.

“Aku mengerti, tuan” Setelah memutuskan teleponnya, Ia kembali memasukkan ponselnya pada saku kemejanya. Ia butuh sesuatu untuk melampiaskan amarahnya!

Langkah kakinya dengan cepat membawanya keluar dari ruangan ‘rahasia’ itu. Matanya memandang tajam dan lurus ke depan.

Ia masuk ke dalam kamar mandi di dalam kamarnya, dan memandang tajam ke arah cermin.

“Sial! Im Yoona, bukankah aku sudah memperingatkanmu? Jangan pernah dekat ataupun pergi bersama pria lain selain aku? MENGAPA KAU TAK MENDENGARKANKU?!” Pria itu berteriak sekeras mungkin melampiaskan kemarahannya. Wajahnya tampak merah padam sekarang. Tampak jelas tatapan kebencian bersinar di kedua iris coklatnya.

“PARK CHANYEOL SIALAN!!!” Detik berikutnya, tangan kanannya yang sedari tadi mengepal, meninju keras cermin di hadapannya. Sebagian cermin itupun retak, dan darah mengalir deras dari kepalan tangannya. Tapi, pria itu tak peduli. Rasa sakit itu seakan – akan tak dirasakannya. Tertutup oleh rasa benci dan kemarahannya.

Ia berharap urusannya di Amerika Serikat cepat selesai. Sehingga ia bisa memberi ‘apa yang harusnya didapatkan’ pada pria bernama ‘Park Chanyeol’ itu. Tapi untuk Im Yoona, ia tidak tahu apa yang akan ia lakukan pada tunangannya itu.

Tidak, tidak perlu berharap. Semuanya akan selesai dengan cepat. Apa yang tidak bisa dilakukan Oh Sehun? Semua yang ia inginkan pastilah terkabulkan dan ‘harus’ dikabulkan

.

.

.

.

Seorang pria dengan kaus bewarna biru donker dan celana jeans hitam melangkahkan kedua tungkainya di sepanjang koridor kampus. Kedua matanya melirik kesana kemari dan berulang kali pula kepalanya memutar ke segala arah. Tampak jelas ia sedang mencari seseorang atau mungkin sesuatu. Kemudian ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan menghubungi seseorang.

“Halo? Yoona kau dimana?”

“Caffe seberang kampus. Aku ada disitu sekarang. Ada apa?”

“Baiklah, aku akan kesana” Setelah memutuskan panggilan, ia segera melangkah cepat menuju caffe itu. Dari luar caffe itu, ia melihat seorang gadis dengan rok putih selutut dan atasan merah muda sedang duduk membelakanginya. Tampaknya ia sedang membaca sesuatu dan terlihat sangat fokus dengan apa yang dibacanya.

Sampai saat pria itu menyentuh pundak gadis itu, Yoona sedikit terlonjak. Kepala gadis itu menoleh dan membalas senyuman Chanyeol. Chanyeol mendudukkan dirinya di seberang kursinya dan menatapnya sambil tersenyum manis.

“Ada apa?”

“Kau baru saja sarapan?” Bukannya menjawab pertanyaan Yoona, ia justru bertanya balik.

“Ya”

“Kau belum sarapan di rumah?”

“Hanya ingin mencoba bagaimana rasanya sarapan di caffe ini” Ia menggendikan bahunya. Chanyeol mengangguk – anggukan kepalanya.

“Ada apa?” Gadis itu bertanya sekali lagi dengan pertanyaan yang sama. Ia tampak penasaran dengan maksud pria itu menemuinya.

“Menurutmu?” Lengan Chanyeol ia ulurkan untuk mengambil mochachinno hangat milik Im Yoona dan meneguknya. Im Yoona mendengus. Ia tampak tak sabar dan mulai merasa kesal.

“Ayolah, Chanyeol Sun…” Ia menghentikan ucapannya dan melirik pria di hadapannya. Chanyeol menatapnya datar.

“Maksudku, Chanyeol. Ada apa? Mengapa kau menemuiku?”

“Bagaimana jika kita jalan – jalan besok?”

“Apa?”

“Aku akan mengajakmu ke Lotte World. Bagaimana?”

“Tapi…”

“Oh, Ayolah Im! Besok kita libur, dan kita bisa bersantai sejenak. Lupakan penatmu karena tugas kuliah yang sangat membosankan itu” Yoona tampak berpikir. Apakah ia harus menerima tawaran itu? Hei! Bukankah ia hanya menganggap pria itu sebagai seorang tak lebih dari seorang ‘sahabat’? Bukankah ia sudah mulai mencoba untuk mencintai Oh Sehun? Jadi, itu mungkin ‘aman’ bukan?

“Baiklah” Park Chanyeol semakin melebarkan senyumannya. Terukir jelas ekspresi kebahagiaan di wajahnya. Matanya tampak berseri – seri.

“Aku akan menjemputmu besok jam 9 pagi. Berdandanlah secantik mungkin. Kau harus ingat, kau bersama pangeran yang tampan ini!” Gadis bersurai coklat lembut itu tertawa geli. Masih ada saja manusia seperti Park Chanyeol di dunia ini, pikirnya.

.

.

.

.

Mereka sampai di Lotte World. Yoona benar – benar tak sabar ingin mencoba semua wahana disini. Ya, taman bermain indoor terbesar itu memang benar – benar menakjubkan. Semua yang datang kesini pasti tak akan pernah merasa bosan. Berbagai macam wahana siap menanti untuk mereka coba. Wahana pertama yang mereka coba adalah Ice Skating. Selanjutnya Fantasy Forest, Tomb of Horror, The Adventure of Sindead, Aeronauts Ball, The Conquistador, Flumerid, Giant Loop, dan Jungle Adventure mereka nikmati. Puluhan foto sudah tersimpan di kamera dan ponsel mereka. Sebagai kenangan betapa indah dan menyenangkannya hari itu.

Mereka menikmati semuanya bersama. Tertawa riang dan saling tersenyum bahagia. Ini benar – benar pengalaman menyenangkan tak terlupakan. Lelah seolah – olah tak dirasakan mereka, karena tertutup oleh rasa bahagia yang begitu dalam. Tak terasa, hari sudah menjelang malam. Rasa lapar sudah mulai mereka rasakan.

Chanyeol mengajak Yoona ke sebuah restaurant yang cukup terkenal di Seoul. Pria itu sudah memesan sebuah tempat ‘spesial’ di restaurant itu. Tempat yang sudah dipersiapkan seindah dan secantik mungkin. Saat Yoona memasukki tempat yang sudah dipesannya itu, gadis itu merasa tersanjung. Sebuah ruangan khusus yang sudah Chanyeol pesan dengan satu meja dan sepasang kursi yang berhadapan berada di tengah ruangan itu. Terdapat lilin – lilin yang membentuk sebuah jalan menuju meja itu, dan masih banyak kejutan lain dari seorang ‘Park Chanyeol’ di ruangan itu.

Tapi… Ada hal aneh yang gadis itu rasakan. Suatu perasaan yang janggal. Ia merasa jika ini….

Berharap saja perasaanmu salah, Im Yoona

.

.

.

Selama makan malam, mereka masih berbincang – bincang dan tertawa kecil. Setelah selesai makan malam, Chanyeol mulai merubah suasana menjadi serius.

“Yoona, aku ingin berbicara sesuatu denganmu”

“Apa? Katakan saja”

Suasana menjadi hening seketika. Chanyeol masih belum menunjukkan tanda ia akan membuka mulut. Yoona mulai merasa risih dengan suasana hening seperti ini.

“Ada apa? Katakan saja” Pria itu menarik nafasnya dalam – dalam, dan menghembuskannya perlahan – lahan. Ia menguatkan hatinya. Berusaha menyemangati dirinya sendiri.

“Jadilah kekasihku” Ekspresi Im Yoona berubah. Menjadi datar. Sangat datar. Senyuman kecilnya lenyap begitu saja. Ia menatap Chanyeol dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Perasaannya benar. Entah mengapa ia sudah menduga jika akan seperti ini. Pria itu menatapnya dalam. Sangat dalam. Perlahan – lahan, ia berdiri dan mulai mendekati gadis itu. Setelah sampai di samping gadis itu, ia membimbing gadis itu supaya berdiri berhadapan dengannya. Setelah itu, ia mengeluarkan sebuah kotak beludru merah dari saku celananya dan berlutut. Ia membuka kotak itu dan tampaklah sebuah cincin indah dengan setitik berlian cantik.

“Aku mencintaimu, Yoona” Jantung gadis itu semakin berdegup cepat. Ia merasakan seluruh tubuhnya bergetar. Kata – kata itu… Kata – kata yang sudah lama ia nantikan. Kata – kata yang selama ini ia nantikan keluar dari bibir pria itu. Kata – kata yang telah lama ia tunggu. Dan… Inilah saatnya. Kini kata – kata itu keluar dari bibir pria itu yang telah lama ia impikan.

Tetapi, mengapa ia tidak bahagia? Mengapa ia tidak merasa senang? Mengapa justru perasaan tidak enak yang kini bersarang di hatinya? Ia tidak lagi mengharapkan kata – kata itu.

Ia sudah menguatkan hatinya untuk melupakan pria di hadapannya. Ia sudah menguatkan hatinya untuk mencoba mencintai Oh Sehun. Mengapa saat ia sudah menemukan orang lain, justru pria itu mengharapkannya? Mengapa ia harus dihadapkan dengan situasi yang sungguh sulit seperti sekarang?

“Chanyeol aku…”

“Aku tidak bisa” Perlahan – lahan, gadis itu menundukkan kepalanya. Ia tidak tahu mengapa matanya berkaca – kaca sekarang. Kristal – kristal bening itu mendesaknya keluar. Ia tidak tahu mengapa ia ingin menangis sekarang.

“Aku sudah memiliki tunangan. Aku sudah berjanji padanya untuk bersamanya. Aku… Aku tidak bisa Chanyeol” Seharusnya ia tak membiarkan Chanyeol mendekatinya. Seharusnya ia tidak mengambil jalan sulit dengan bersahabat bersama Park Chanyeol. Seharusnya ia tidak pernah menyukai pria ini. Ia bodoh! Sangat bodoh! Seharusnya ia tetap menunggu blueice sampai kapanpun, dan tidak jatuh hati pada pria lain.

Andai ia bisa memutar waktu. Ia pasti akan merubah ini semua. Ia dan Chanyeol akan tetap menjadi orang asing. Tetap sebagai Sunbae dan Hoobae.

.

“Kau bisa memutuskannya, bukan?”

“Kau pikir semudah itu memutuskannya?” Yoona sedikit menggeram. Matanya sedikit menyipit menatap pria itu.

“Bukankah kau hanya menyukaiku? Aku tahu Yoona! Aku tahu bahwa kau menyukaiku, tidak, maksudku mencintaiku!” Yoona memejamkan matanya.

“Itu dulu, Yeol. Sekarang semuanya sudah berubah. Kini aku sudah memiliki Sehun. Aku akan mencoba mencintainya dan melupakanmu. Kumohon… Carilah gadis lain. Lupakanlah aku dan cintailah gadis lain. Kau tidak mau merusak persahabatan kita, bukan?” Hati pria itu terasa sakit. Sangat sakit. Hatinya terasa remuk. Remuk karena kenyataan bahwa semuanya sangat rumit sekarang.

Haruskah ia menyesal? Menyesal mengapa harus mengikuti perintah ibunya. Ia bisa menolaknya bukan? Ia bisa mencari gadis lain yang lebih baik dari Im Yoona. Dan yang paling ia sesali adalah mencintai Im Yoona. Mengapa ia harus menyelidikki dan mencari informasi tentang gadis yang sudah bertunangan? Mengapa ia harus jatuh cinta pada gadis ini? Seharusnya ia sadar akan besarnya resiko mencintai gadis yang sudah bertunangan. Peluang untuk memilikkinya tentulah kecil.

Haruskah ia mendengar perkataan gadis itu? Melupakannya dan mencari gadis lain?

Lupakan rasa sesalmu. Abaikan perkataannya. Tetap ikuti egomu

Pria itu bangkit dan menatap gadis di hadapannya dengan tajam.

“Aku tahu, kau dan Sehun bertunangan karena perjodohan bukan? Karena untuk menolong perusahaanmu yang nyaris bangkrut?” Im Yoona terkesiap. Bagaimana… Bagaimana pria itu tahu tentang hal itu?

“Kau bertanya bagaimana aku bisa tahu hal itu? Aku tahu semua tentangmu, Im Yoona” Chanyeol menyeringai. Ia melangkah perlahan mendekati Yoona. Kedua kaki Yoona refleks melangkah mundur. Kedua matanya menatap sedikit takut pada iris hazel Park Chanyeol.

“Aku bisa menolong perusahaanmu dan kau bisa memutuskan pertunanganmu. Aku sudah berbicara dengan ayahku dan ia tidak tampak keberatan. Sekarang aku sudah berbeda Yoona. Aku sudah sebanding dengan Oh Sehun. Aku yakin ayahmu tentu tidak keberatan bukan? Ingat, Im Yoona! Aku tahu semua tentangmu!” Chanyeol semakin menatap Yoona tajam dan meninggikan suaranya. Kedua tangannya memegang kedua pundak Yoona dan mencengkeramnya. Kedua mata Yoona semakin terasa panas. Ia biarkan cairan bening itu mengalir deras di kedua pipinya tanpa berniat menghapusnya. Ia benar – benar merasa sangat takut. Ia benar – benar sama sekali tak terlihat seperti Park Chanyeol.

Park Chanyeol tidak seperti ini! Dimana Park Chanyeol dengan senyuman dan tatapan mata lembut dan selalu tenang? Mengapa ia berubah? Apakah ini sisi lain dari dirinya?

“Aku tidak bisa. Aku tidak bisa, Chanyeol! AKU TIDAK BISA! HENTIKAN!!!” Tanpa sadar gadis itu memekik. Ia mengacak – acak rambutnya frustasi. Memejamkan matanya dan berulang kali menarik dan menghembuskan nafasnya. Matanya benar – benar sudah sangat merah. Ia sungguh dalam keadaan yang benar – benar kacau saat ini.

“Jangan seperti ini…” Lirihnya pelan. Nyaris tak terdengar. Setelah itu, ia mulai melangkahkan kedua belah tungkainya. Meninggalkan Park Chanyeol.

Baru beberapa ia melangkah, ia menghentikan langkahnya.

“Terimakasih untuk hari ini. Aku sangat menikmatinya. Dan ingat, jangan seperti ini lagi! Aku hanya ingin kita tetap berteman” Ucapnya tanpa berbalik. Ia kembali melanjutkan langkahnya. Ia akan pulang dengan taksi.

Menikmatinya? Ya, ia menikmatinya. Tapi rasa bahagia itu terasa lenyap seketika saat pria itu mengucapkan kata ‘Jadilah kekasihku’.

Chanyeol mengepalkan kedua telapak tangannya. Terlalu keras hingga punggung tangannya memerah dan buku – buku jarinya memutih. Apa? Berteman? Tidak! Ia tidak lagi ingin sekedar hanya dianggap sebagai ‘teman’ atau ‘sahabat’. Ia ingin lebih! Ia ingin gadis itu menganggapnya lebih dari itu semua. Ia ingin gadis itu kembali menyukainya! Mencintainya! Ia ingin gadis itu melupakan Oh Sehun, tunangannya sialannya! Ia tidak peduli jika gadis itu sudah memiliki tunangan. Ia tak akan mencari gadis lain. Ia juga tidak peduli jika orang – orang menganggapnya seorang ‘brengsek’ karena sudah merusak hubungan orang. Ia bisa membujuk tuan Im agar membatalkan perjodohannya serta perjanjiannya pada tuan Oh. Ia akan lakukan apa saja untuk mendapatkan Im Yoona! Apapun!

.

.

.

.

Sebuah taksi berhenti di sebuah rumah mewah. Penumpang taksi tersebut segera turun dan berjalan lesu memasukki rumah besar itu. Ia tak tampak lagi kacau. Ia sudah mencuci wajahnya dan menyisir rambutnya di toilet restaurant tadi. Ia juga sudah memoleskan bedak tipis di wajah cantiknya agar ibu dan ayahnya tidak khawatir jika melihat putrinya pulang dengan keadaan yang amat kacau. Selain itu ia juga tidak tahu apa yang harus ia jelaskan pada kedua orang tuanya jika ia pulang dengan keadaan seperti itu.

Saat ia membuka pintu, ia sedikit terkejut dengan kehadiran seseorang yang sudah tidak asing lagi baginya. Siapa lagi? Tentu saja Oh Sehun, tunangannya.

Bukankah pria itu bilang akan megikuti perjalanan bisnis selama beberapa minggu?Tapi… Apa ini? Ini bahkan hanya beberapa hari!

“Yoona, kau sudah pulang? Sehun sudah menunggumu sejak satu jam yang lalu. Ia baru saja pulang dari Amerika dan langsung menuju kemari” Im Jihyun berkata sambil tersenyum tipis. “Tampaknya ada yang ia ingin bicarakan denganmu”

Oh Sehun tampak sangat tampan dengan kemeja putih bergaris hitam vertikal yang digulung hingga di atas siku serta tatanan rambut atas yang sangat rapih. Penampilannya benar – benar sempurna.

Tapi… Ada apa dengan perban di tangan kanannya?

“Aku ingin berbicara denganmu. Nyonya Im, bolehkah kubawa Im Yoona sebentar?” Im Jihyun mengangguk sembari tersenyum ramah dan kemudian berbalik menuju kamarnya.

Sehun menatap Yoona datar dan segera meraih lengan gadis itu. Ia segera membawanya keluar.

“Ikut aku. Ada hal penting yang harus dibicarakan”

.

.

.

.

.

.

.

TO BE CONTINUE

Hai!!!! Akhirnya selesai juga chapter 5 ini! Chapter selanjutnya, bisa jadi chapter terakhir dari ff ini😀
Sebelumnya aku mohon maaf karena latepost nya. Karena selain Author’s Block yang belum juga hilang, aku udah mulai sibuk tahun ini. Iya! Karena aku sekarang sudah kelas 9 SMP… Tentunya aku harus belajar giat, mendalami materi, ngerjain latihan soal, siap – siap menghadapi UN, ujian praktek, dan ujian sekolah lainnya. Belum lagi akhir – akhir ini aku sering sakit, jadi agak terhambat. Hehe, maaf ya…

Di chapter sebelumnya kan banyak yang bertanya – tanya : “Thor, kenapa Yoonanya plin plan gitu sih? Kan Yoona udah tau dan udah ketemu kalo Blueice nya itu si Sehun, harusnya Yoonanya itu seneng dong, kenapa Yoonanya gak keliatan seneng ya?” Kira2 seperti itulah pertanyaannya atau pertanyaan sejenis itu😀

Aku jelasin ya kenapa. Kenapa? Yoonanya itu udah move on dari Blueice. Gak move on banget sih ._. Kan soalnya di chapter 1 dia masih pingin si Blueice itu kembali dan masih pingin ketemu lagi sama Blueice. Dia itu nganggep si Blueice itu Cuma sekedar sahabat… Hmmm… Lebih sedikit deh😀 But, si Blueice? Dia itu terlanjur mencintai Yoona, saking cintanya, dia itu posesif banget sama Yoona, sampai – sampai bilang kalo Yoona itu miliknya, dan gak boleh ada yang milikin Yoona selain dirinya.

Dan karena Yoona itu udah terlalu lama nungguin blueice, sampai dia menemukan Chanyeol, and… She fallin in love with Him😀 Makanya dia itu ngerasa gak enak gitu sama Sehun… Karena dia udah terlanjur suka ma orang lain. Padahal dia pinginnya Blueicenya itu Chanyeol. And now…. Dia udah mulai belajar untuk mencintai Sehun dan mulai mencoba ngelupain Chanyeol😀 Dan kebersamaan Yoona – Chanyeol di chapter ini, Cuma sebagai sahabat kok. Tapi itu kalo Yoona… Kalo Chanyeol gimana? Chanyeolnya udah mulai suka ma Yoona… Jadinya…. Ya, begitu😀

Oh ya! Karakter Yoona di ff ini aku buat sedikit keras kepala, dia gak suka di posesiffin ma Sehun, jadinya dia masih tetep jalan ma Chanyeol walaupun udah dilarang ma Sehun 

Dan aku nambahin cast baru di chapter ini. Yap! Jeong Ji Hoon a.k.a Rain. Disini dia aku pasangin sama Kim Tae Hee, kekasihnya. Hehe real couple😀.

Aku gak janji ya kalo chapter akhir gak aku password. Untuk jaga – jaga, komen aja disini. Aku gak mau nanti pas minta password, ada ‘new reader’ atau apalah…

Komentarnya jangan lupa…! Kritik saran boleh kok. Apa aja, misalnya bahasa aku tuh kaya gimana, castnya, karakternya, dll. Atau pertanyaan juga boleh. Insyaaloh aku jawab kok. Terserah kalian… Tinggalkan jejak ya! D Maaf ya untuk segala kesalahan di ff ini..

Okay, sampai ketemu di chapter selanjutnya… D

THANKS FOR READING

Semoga Siders cepat diberikan kesadaran :v

94 thoughts on “Possessive and Obssesion ( Chapter 5 )

  1. Wahhh… Aku rasa ayah chanyeol yg mmbuat prusahaan ayah yoona bangkrut… Chanyeol jg berubah drastis jd terobsesi sm yoona.

  2. jangan jangan yang bikin bangkrut perusahaannya ayah yoona gegara ayah nya chanyeol ? wah chanyeol jadi berubah yah sama sama terosbsesi… untung nya yoona merasa ga nyaman kalo chanyeol nembak dia hihihi. alamat yoona diamuk sama sehun nih

  3. Tebakanku sih, ayah chanyeol a.k.a Park Ji Hoon yang buat bangkrut ayahnya YoonA#sok_tau tp ak demen banget sama FF ini karna suka sama sehunnya :* Thor, lanjutin ya,please #Puppy_Eyes keep writing Thor~ cepat2 d update ya

  4. Wah jangan2 ayah nya chanyeol yg bikin ortu yoona brangkut😮
    Kalo bener, tega bgt sih -.-
    Itu chanyeol kok kalo suka yoona tapi maksa.-.
    Yoona kan udah punya tunangan…..
    Hehehe
    Bagus thor critanya!!!
    Keren bgt…
    Ditunggu chapter slanjutnya ya thor

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s