Who Are You? – 4

who_are_you_for_fn

by : FN

cast : Yoona, Yuri, Sehun, Kai

genre : friendship, family, sad, complicated

all rated

poster : Cloverqua @YoongExo

desclaimer : cerita diambil dari berbagai sumber seperti film, komik, novel, drama dll juga dari pikiran author sendiri

note : apapun typos, kesalahan tanda baca, bahasa yang keluar dari EYD de el el tolong dimaafkan

T | 1 | 2 | 3

kau menjadi lebih baik?

Kai membisu mendengarnya, itu seperti sebuah kartu AS yang sedang dikorek oleh bosnya

“jangan gila. Aku tak mungkin sekonyol itu” ucap Kai kembali membungkuk dan melangkah pergi dengan pasti, tentu dia tak ingin mendapatkan pertanyaan macam-macam

Seperti kata Tiffany, bos tak akan memberitahu nama gadis itu padanya. Sehun tampak sedang asyik berbincang dengan seorang gadis tapi setelah Kai datang dan duduk disebelah Sehun gadis itu langsung melenggang pergi

“nugu?”

“gadis tadi?” Kai mengangguk pasti

“bukan siapa-siapa, hanya pengunjung di klub ini. Mencari teman bicara” jawab Sehun

“dan sepertinya kau menjadi teman bicara yang baik” Kai menegak kembali jus miliknya bermaksud menyinggung temannya yang satu ini

Bukan tersinggung, Sehun justru tersenyum manis, “tentu saja penolakan harus menggunakan cara yang halus agar orang lain tidak tersinggung”.

Tak ada jalan lain selain hanya menikmati music yang dibawakan oleh DJ malam ini dan sepertinya pesta perayaan ini akan berlangsung sampai pagi. Kai juga masih melihat beberapa orang datang yang merupakan tamu dari sang penyelenggara pesta ini. Ekor matanya kembali kearah atas panggung, gadis itu benar-benar menikmati pekerjaannya, sesekali dia mendengar suara gadis itu berteriak meminta para pengunjung menikmati musiknya

“kau mulai suka, kan?” tanya Sehun

Tangan Sehun sudah memegangi gelas dengan isi coke yang tampak diteguknya berulang kali

“siapa bilang? Aku kan seorang pecinta music EDM jadi setiap music EDM entah itu dari siapa saja tentu aku akan menyukainya” dengusnya

Sehun terkikik pelan, tangannya meraih gelas berisi coke yang disiapkan Tiffany dan menyerahkannya pada Kai

“coke”

Kai langsung merampasnya, menegaknya dengan sekali teguk. Malam ini dia tak berencana pulang. Dia menunggu gadis itu, gadis yang berada diatas bersama piringan hitam yang biasanya selalu dia gosok agar tidak kotor. Mungkin perbuatan Kai, Sehun dan Tao memang tergolong nekat. Dengan umur mereka yang baru beranjak 18 tahun, mereka sudah berani datang ke klub bahkan Kai bekerja disana.

Sreekk

“pukul berapa sekarang?” Kai terbangun dari tidurnya dan mendapati dirinya masih tertidur di meja bartender. Sehun dan Tao berada disampingnya, mereka berdua sedang sibuk dengan ponselnya tanpa menoleh kearah Kai sama sekali

“4 pagi, kau tertidur selama dua jam” Tiffany menyahut dan mengerlingkan matanya

Kai sontak menoleh kearah panggung. Tak ada siapapun disana, tak ada gadis itu yang ada hanyalah lelaki yang baru saja menjadi DJ selama seminggu disini. Kai mengedarkan pandangannya mencari gadis itu, menyusuri setiap titik ruangan yang dapat dia jangkau, akan tetapi lampu gemerlap ini yang menjadi saingan terberatnya

“mencari gadis Beatbox?” tanya Sehun, tangannya sedang sibuk bermain Get Rich

“diamana dia?” Kai bertanya tak sabar

“5 menit setelah kau bangun dia baru saja meninggalkan pekerjaannya”

Kai langsung menarik jaketnya dan berlari pergi. Masa bodoh dengan kedua temannya, dia hanya ingin bertemu dengan gadis itu setelah kejadian beberapa minggu yang lalu saat pertama kali mereka saling berbincang satu sama lain.

Drap…drap…drap…

Kai mengatur nafasnya, dia sudah berlari kesana kemari tetapi tak membuahkan hasil. Dia tak menemukan jejek gadis itu. Toko-toko sekitar jalanan itu juga sudah tutup dan jalanan itu sudah sepi tanpa pengunjung. Kai berniat kembali ke klub tetapi niatnya terurung oleh sebuah teriakan kecil disebuah gang tak jauh darinya. Karena penasaran Kai berjalan mendekati untuk mengecek apa yang sebenarnya terjadi. Hendak dia mengintip dari ujung tetapi seorang gadis berlari dan menabrak tubuhnya hingga mereka berdua terjatuh bersamaan. Kai menahan nafasnya, begitupula sebaiknya

Drap…drap…drap…

Mendengar langkah berlarian mendekat, gadis itu langsung menarik tubuhnya menjauh dari tubuh Kai yang berada dibawahnya

Greep

“Yoona?”

Drap…drap…drap…

“lepas, jebal. Mereka mengerjarku” Yoona memohon, matanya hampir saja menangis

“lepaskan tanganmu, Kai, jebal. Aku—mereka sudah semakin dekat” Yoona berusaha menarik tangannya tetapi tangan Kai tetap menggenggam tangan gadis itu erat

Kai segera memposisikan tubuhnya agar berdiri tegak, tepat ketika bunyi langkah kaki mendekat Kai langsung menarik Yoona pada celah kecil sebuah toko. Ada sekitar tiga orang berdiri didepan sana, mereka tampak mencari-cari sesuatu yang tak lain adalah Yoona

“aa—” Kai langsung membekap mulut Yoona yang merintih

Setelah diarasa cukup aman, Kai menarik Yoona keluar dari tempat sempit itu. Yoona terus menunduk dan mengatur nafasnya yang tak karuan. Dia ketakutan, sangat ketakutan

“gwenchana?” tanya Kai

Yoona mengangguk cepat

“kau kenal mereka?”

Yoona menggeleng

“lalu, kenapa mereka mengejarmu?” tanya Kai

Yoona menggeleng

“kau baik-baik saja?” ulangnya terdengar khawatir

“molla, aku hanya lewat disekitar sini akan tetapi mereka menghadangku dan menarikku kedalam sana” Yoona masih terus mengacak rambutnya frustasi

“aku sudah mencoba berlari tapi mereka mampu menangkapku”

Kai berdecak, “apa yang kau lakukan malam-malam sendirian dijalan seperti ini? Kau cari mati?! Kau tak tahu daerah disini cukup rawan dengan preman seperti itu?!”

Yoona menelan ludahnya, “aku–aku hanya tak berpikir sampai sejauh itu”

“apa yang kau lakukan disini?”

Yoona menggigit bibir bawahnya, “aku lapar dan aku datang ke supermarket diujung jalan”

“pabo, kau seharusnya berpikir jalan mana yang harus kau pilih untuk pulang”

Kai menarik ulur nafasnya sendiri, Yoona yang berada didepannya hanya terdiam sembari menunduk. Ingin Kai membuka suaranya lagi untuk menanyakan sesuatu tapi niatnya terurung karena dia mendengar isak tangis dari arah gadis didepannya. Kai ingin membuka mulutnya memaki gadis ini tapi tangannya justru teralih memegang pundaknya

“kenapa menangis? Aigoo”

Yoona mengusap-usap wajahnya tapi itu tak bertahan lama karena mata Yoona terus mengeluarkan air mata yang bahkan sangat tidak diinginkannya didepan lelaki ini. Yoona malu, jadi dia mengambil alternative dengan membungkuk sebagai ucapan terima kasih dan berniat pulang sebelum lelaki didepannya ini bertanya lebih jauh tentangnya dan mungkin juga menertawakannya karena menangis

“gumawo” ucap Yoona dan berbalik dengan cepat agar segera menghilang tetapi tangan lelaki itu menahannya

Menariknya kedalam pelukannya

“uljima” lirihnya, “aku tak bermaksud memarahimu tapi aku hanya sekedar memperingatkanmu tentang jalan ini. Maaf jika tadi aku membentakmu”

Tangisan Yoona mendadak berhenti, merasakan tangan Kai mengelus puncak kepalanya merupakan sesuatu yang membuatnya cukup menyukainya saat ini. Dia tak membalas pelukan yang diberikan oleh Kai, melainkan hanya terdiam dengan perlakuan lelaki itu yang berubah padanya. Pelukannya menghangat, menghilangkan desiran hawa dingin dari angin malam yang berusaha menelusuri setiap celah baju yang dipakai Yoona

“maaf”.

Sekian lama Yoona menyadari posisi mereka, Yoona langsung mendorong tubuh Kai menjauh. Dia sadar dia sudah terlalu dekat dengan Kai. “gumawo, untuk semua yang kau lakukan tadi” Yoona membungkuk singkat dan berlari pergi dari hadapan Kai yang masih terdiam

1

2

3

KLTAANNGG!!!

“argh! Sialan!”

Sraakk!!

“paboya!”

DRAANNGG!!

“tangan sialan!!!!!” hardik Kai terus menerus

Kai mengacak rambutnya frustasi, kakinya terus terhentak karena dia kesal dengan apa yang telah dilakukannya tadi. Oke, dia memang pernah memeluk dan mengelus puncak kepala mantan kekasihnya dulu tapi ini lain masalah. Gadis itu bahkan tak memiliki hubungan khusus dengannya tapi tangan bodohnya melakukan hal yang sangat dibencinya sekarang.

Kai berjalan gontai disekolahnya, tadi guru olah raganya menemuinya tentang turnamen basket yang akan dilaksanakan beberapa bulan lagi. Guru Jung itu menegur Kai karena hampir setiap latihan Kai selalu absen dengan alasan bermacam-macam. Kai sendiri sebenarnya tak terlalu pandai dalam basket, dia mengikuti basket hanya karena saat junior dulu dia mengikuti ekskul ini disekolahnya

“wae? ada masalah?” Sehun melirikkan matanya sejenak memandang Kai yang tampak mendesah pagi itu

“masalah dengan guru Jung” lapornya“absen latihan?” Kai mengangguk otomatis

“sudah aku katakan padamu, jangan mengikuti ekstrakulikuler itu dan sekarang lihat apa yang terjadi denganmu” Sehun tersenyum mengejek

“lalu apa saranmu? Mengikuti ekstrakulikuler kegiatan kesehatan sekolah sama sepertimu? astaga! Itu bukan kegiatan laki-laki jantan”

Sehun mendesah malas, “kau masih memikirkan jantan daripada hidup bebas tanpa dikerjar-kejar turnamen sialan yang memaksamu harus berlatih siang sampai malam dengan jam istirahat hanya satu jam? Ah… aku jauh lebih memilih kegiatanku sekarang”

“kau dikelilingi banyak wanita, ingat? Dan itu mengganggu”

“asal kau punya cara saja menolak mereka mentah-mentah tapi dengan bahasa yang halus tentu kau tak akan pernah kesusahan”

“aku bukan pintar merangkai kata kebohongan sepertimu, Hun” dengus Kai

“setidaknya kebohonganku berhasil menjauhkan gadis-gadis itu…ya…meskipun ada beberapa dari mereka yang tetap saja mengusikku” Sehun mengangkat bahunya bangga

“konsekuensi menjadi lelaki tampan”

Sebuah suara membuat Kai dan Sehun menoleh. Tao tersenyum, penampilannya jauh lebih gothic daripada sebelumnya. Tangannya penuh dengan cincin dan juga gelang tak lupa eyeliner dibawah matanya yang cukup tajam

“merubah tampilan lagi?” tanya Sehun menopang dagunya

“sesuatu yang baru terdengar sangat menarik ditelingaku” dan Tao mendapatkan high five ria dari Kai yang setuju dengan ucapannya

“kau terdengar seperti Baekhyun dari kelas C” dengus Sehun

“shireo! Laki-laki itu untuk mempertampan dirinya sedangkan aku hanya riasan agar tampak lebih garang” sanggah Tao tak terima

“dia raja eyeliner disini dan kedua adalah kau” lanjut Sehun

“bagaimana bisa kau mengatakan hal itu?” kali ini Kai tampak tertarik dengan obrolan mereka

“hanya menebak” Sehun mengangkat bahunya.

—-

Yuri berjalan cepat menemui Yoona, sebenarnya Yuri tak sudi melakukan hal semacam ini tapi sesuatu yang lain mendorongnya untuk melakukannya. Wajahnya sudah menggeram merah, Sooyoung dan Hyoyeon tampak mengikutinya dibelakang tanpa berkomentar apapun.

BRAK!

Suara sunyi dikelas A saat itu mendadak berisik dengan cercaan kaget dari beberapa anak yang tak suka terhadap sikap Yuri. Yuri hanya membuang muka mendengar cercaannya, tatapan matanya hanya mengarah pada seorang gadis yang tengah sibuk membaca buku dengan headset menggantung. Yuri berjalan cepat dan menarik rambut milik Yoona hingga gadis itu berteriak kesakitan

“ikut denganku!” Yuri bersuara

“lepaskan tangamu” pinta Yoona

“tidak sebelum kau ikut denganku”

“setidaknya kau harus membawaku dengan sopan jika kau ingin aku ikut denganmu!” Yoona membalas tajam

Yuri melepas paksa tangannya, tangannya langsung menarik pergelangan tangan Yoona hingga ponsel milik gadis itu terjatuh. Sooyoung dan Hyoyeon menatap seluruh teman sekelas Yoona dengan tatapan mengancam yang mampu membuat mereka menutup bibir mereka.

PLAK!!

Nafas Yuri terhembus dengan penekanan. Matanya terus menajam kearah Yoona yang tak bisa bergerak bebas karena Sooyoung dan Hyoyeon mengunci pergerakannya. Yoona mencoba melepas jeratan tangan Sooyoung dan Hyoyeon tetapi kakinya diinjak hebat oleh kedua sahabat Yuri itu

“kau! Brengsek! Wanita murahan! Gadis tak tahu diri! Tak tahu terima kasih!” Yuri menjerit, jari telunjuknya mengarah pada Yoona yang tampak tak percaya dengan apa yang terjadi padanya tadi

“kau! Kau murahan!” sekali lagi Yuri menjerit, air matanya turun, dia tak bisa menahan sesuatu yang mencoba menusuknya sejak tadi malam

“Yul—”

“jangan pernah sebut namaku! Aku benci memiliki saudara sepertimu! akan lebih baik jika aku tak pernah lahir kedunia ini daripada harus ada kau didunia ini!”

PLAK!

Sekali lagi Yuri mendaratkan tangannya pada pipi Yoona. Yoona ingin membuka mulutnya bertanya apa yang sebenarnya terjadi tapi melihat Yuri menangis untuk yang pertama kalinya selama hidupnya Yoona mengurungkan niatnya. Dia juga merasakan sesuatu yang sangat menusuk didalam hatinya saat ini

“aku benar-benar tak ingin melihatmu lagi!” ucapan terakhir itu penuh penekanan, Yuri tak main-main dan Yoona tahu tentang itu

PRAKK!

Sesuatu dilempar tepat diwajah Yoona

“aku membencimu!”

“lebih baik kau tak pernah ada didunia ini, Im Yoona!”

Ucapan terakhir Yuri membuat Yoona membeku ditempatnya. Dia tak akan pernah mengira Yuri akan melontarkan perkataan yang bahkan tak pernah dia bayangkan sejak dulu. Yoona masih tak mengerti. Tatapan mata Yuri benar-benar membuatnya berdiam diri tak melakukan apapun. Tangannya memegang kepalanya yang mendadak pusing tapi bayangan matanya menatap sesuatu, foto. Ada beberapa lembar foto disana. Yoona berjongkok dan berusaha mengambilnya. Tampak foto-fotonya bersama seorang lelaki yang tengah memeluknya. Yoona mengingat kejadian ini—kejadian ini baru saja terjadi tadi malam dan lelaki didalam foto itu tak lain adalah Kai

Yoona mendadak bungkam

Jadi, kau mencintai Kai?.

Kai pov

Aku tak bertemu dengan Yoona seharian ini. Ya… sebenarnya aku juga tak tahu apa yang akan aku lakukan jika bertemu dengannya, mengingat kejadian tadi malam saat tangan sialan ini memeluknya. Aku merasakan jantungku berdegup—tidak—bukan—aku tak bisa merasakan detakan jantungku sendiri. Aku merasa beberapa orang memperhatikanku tapi aku memilih tak menghiraukannya dan berniat mencari Sehun dan Tao yang tiba-tiba saja langsung menghilang saat jam istirahat

Bruukk

“bisakah kau pelan-pelan?” desisku seraya memperhatikan gadis yang menabrakku

“Yoona?” gumamku

Dia mendongak menatapku sesaat sebelum dia berdiri tegak dan membungkuk sebagai tanda permintaan maaf karena menabrakku

“Yoo—”

Terlambat dia sudah berlari pergi menjauhiku. Apa karena kejadian tadi malam hingga membuatnya tak berani walau hanya sekedar menatap wajahku? Aigoo, lucu sekali.

“sudah selesai urusanmu dengan guru Jung?” tanya Tao

Aku menggeleng lemas, “aku harus latihan sepulang sekolah”

“untung turnamen taekwondo sudah dilakukan 2 bulan yang lalu” aku melihat wajah Tao yang tersenyum kemenangan

“dan aku juga tak ada job dengan kegiatanku” kali ini Sehun tersenyum senang menatapku

“jangan menjadi menyebalkan” dengusku.

Malam ini aku kembali ke klub. Menyelesaikan pekerjaanku sebagai seorang DJ bersama Sehun dan Tao yang hanya duduk menikmati musikku bersama Tiffany. Latihan kemarin sore tak menyingkirkanku untuk tidak bekerja malam ini. Justru dengan bekerja seperti ini, membuatku lebih bersemangat. Setelah memuaskan hasrat mereka, aku meminta Kangjun untuk menggantikanku. Tenggorokanku terasa kering saat ini. Sekedar menegak jus jeruk dari Tiffany akan sedikit lebih menyegarkan.

“hey, noona” sapaku tersenyum

Tiffany mengerucutkan bibirnya dan menyorkan segelas jus padaku

good job, Kai” Tao menepuk punggungku bersemangat

“aku selalu melakukannya dengan baik” banggaku

“tapi tak lebih baik dari gadis itu” seringai Tao ingin membuatku memukul kepalanya

“jangan bercanda, dia hanya pemula”

“pemula? Pemula yang sempurna” sambung Tao

“ingin aku pukul?” tanyaku yang hanya mendapat tawaan meledek darinya, “ngomong-ngomong kemana Sehun?”

“entah, tadi dia mengatakan ada sesuatu yang harus dia kerjakan”

“sesuatu?” tanyaku tak mengerti

“dia juga tak memberitahu kami” kali ini suara Tiffany noona menyahut pembicaraan kami.

Sehun pov

Music yang dibawakan Kai cukup lebih menarik daripada biasanya, entah kenapa gendang telingaku menangkapnya seperti itu. Tak ayal banyak pengunjung disini yang lebih memilih menghabiskan waktu diatas lantai dansa daripada berdiam diri didepan meja bartender menikmati segelas bir atau wine atau vodka. Tapi sesuatu tampak menarik perhatianku, sesuatu yang sangat menonjol daripada yang lain

Gadis itu berada disini dan dia sedang memperhatikan apa yang Kai lakukan diatas sana

Aku hanya terus mengawasinya dari tempatku berada. Aku tak memperdulikan Tao yang bertanya padaku tentang sesuatu yang tak begitu aku mengerti. Tepat tegakan terakhirku, gadis itu menoleh dan mata kami saling bertemu. Dia menatapku begitu dalam tapi dengan cepat dia mengalihkan pandangannya dan mulai berjalan di kerumunan

Dia akan pergi!

Dia akan kabur!!

Aku langsung bangkit dan menarik jaket milikku

“kau akan kemana?”

Sial, Tao menghambatku. Aku mengedarkan pandanganku lagi mencari gadis itu

“sesuatu pekerjaan” aku menghempas tangannya dan berlari pergi.

BRAAK!

Nafasku tak teratur. Aku sudah keluar dari klub ini lewat pintu belakang akan tetapi aku tak mendapati sosok gadis itu lagi. Aku melangkah kesegala arah, aku sendiri bahkan tak tahu kemana aku pergi selain mengikuti langkah kakiku sendiri.

Sraakk

Aku menghentikan langkahku diujung jalan. Aku melihat sebuah bayangan dari tempatku berdiri. Aku mengintip dan memperhatikan seseorang yang tengah berjalan menjauhiku. Aku terus mengikutinya tapi mungkin keberuntungan berada bersamaku, gadis itu sepertinya tak menyadari keberadaanku. Dia terus saja berjalan tanpa curiga.

“HEY! KAU MENGHALANGI JALANKU, BODOH!”

Aku mendengar seseorang berteriak kencang dan aku mendapati gadis itu tengah berjongkok. Tanpa perintah lagi aku segera berlari dan mendekatinya. Barangnya berjatuhan dan aku membantunya mengambilnya. Sebuah gelang perak menarik perhatianku, rangkainya sedeharna tapi tak meninggalkan kesan mewah yang cukup memukau

“jangan menatapnya seperti itu” gadis itu merampas gelang itu dari tanganku, kakinya beranjak pergi dengan cepat

“tak ada ucapan terima kasih?” seruku

Dia membalikkan tubuhnya seraya menatapku, “aku tak pernah mengharapkan bantuanmu”

Dia melanjutkan langkahnya begitupula denganku yang berlari menghampirinya dan menarik tangannya hingga aku bisa menatap manic mata yang sangat aku kenali

“aku mengenalmu”

Dia tersenyum, “ya, semua orang mengenalku sebagai DJ terbaik daripada temanmu itu”

“ya, aku akui kau memang terbaik tapi kau tidak lebih baik daripada seorang gadis murahan didalam klub itu”

Gadis itu tersenyum manis, “aku anggap itu sebagai pujian, selamat malam”

“kenapa kau datang ke klub itu dan menjadi seorang DJ? Kau tak takut dengan anggapan orang lain tentang dirimu?”

“kau memakai topeng masuk kesana, meninggalkan kesan tersendiri bagi orang-orang. Kau ingin meraup keuntungan untukmu sendiri dan menyingkirkan temanku?”

“kau sangat licik, nona cantik” seringaiku

Aku hanya ingin membuatnya emosi

Oh… benar, kini dia menatapku, meskipun dengan sebagian wajah tertutup topeng perak itu tapi aku tahu dari kilatan wajahnya yang mengatakan bahwa dia benar-benar sedang marah

“bukan urusanmu” desisnya, “aku bisa melakukan Beatbox dan aku juga menyukai pekerjaanku sebagai DJ. Bukan aku meraup keuntungan untukku sendiri tapi karena temanmu yang memang tak memiliki talenta yang baik untuk mengambil hati serigala-seriga busuk didalam sana”

“temanmu harusnya lebih cerdas karna bagaimanapun juga dia seorang lelaki”

Gadis itu tersenyum penuh kemenangan. Aku memang tak berniat menjawab perkataannya, aku disini karena sesuatu yang lain yang mendorongku datang kemari. Aku menarik gadis itu, jarak kami sangat dekat bahkan hanya beberapa centi dari wajahku. Aku melihat mata kebingungan yang terpancar

“kau ingin apa lagi?” tanyanya tajam

“sepertinya aku mengenalmu” aku menyipitkan mataku menatapnya

Dia tersenyum mengejek, “katakan saja kau penasaran denganku”

Aku tersenyum manis, “penasaran? jangan bercanda” tawaku

“apa aku seorang pengangguran harus penasaran dengan gadis malam sepertimu? tentu tidak, aku tak akan mungkin membuang waktuku untuk gadis sepertimu. konyol” lanjutku

“jika begitu, lepaskan tanganmu” pintanya

“tidak sebelum ini”

Aku menarik tubuhnya dan mengecup singkat bibir merah miliknya. Aku langsung melepasnya dan tersenyum puas. “kurasa tertarik adalah kata yang tepat untukku” kataku berlalu

Sebelum aku kembali kedalam klub itu aku berbalik, “aku tak akan pernah melupakannya dan aku pastikan aku akan menemukanmu secepat mungkin”

Sebelum orang lain mendahuluiku.

Yoona pov

Aku mengacak rambutku. Sesekali aku memandangi wajahku dicermin kamarku. Ada lingkaran hitam disana. Ya, aku akui aku memang jarang tidur selama ini. Tapi itu tak dapat membuat niatku turun untuk bersekolah. Aku berjalan sendirian menuju kelasku. Ada suatu perasaan yang membuatku benar-benar murka sejak semalam. Sesuatu yang amat sangat ingin aku lupakan tapi itu terlalu membekas dan aku tak bisa memungkirinya itu tak benar-benar terjadi denganku

BUKK!

Aku mendongakkan wajahku dan menatap wajah seseorang yang tak asing dimataku

“annyeong”

Hatiku mencelos mendengar suaranya yang merambat seperti aluran listrik ditelingaku. Membuatku diam tak berkutik dari tempatku berdiri. Sosok laki-laki ini bingung, aku tak mengucapkan sepatah katapun padanya. Bibirku terasa berat mengucapkan sepatah kata padanya

“Yoona, kau baik-baik saja?”

Kai—lelaki itu Kai, dia tersenyum padaku

“bukan urusanmu”

Hanya itu kata yang keluar dari mulutku dan aku beranjak pergi dari hadapannya. Aku teringat Yuri, sejak kemarin aku dapat menyimpulkan apa yang terjadi dengannya. Aku selalu berontak jika aku bertengkar dengannya tapi baru kemarin aku merasakan apa yang Yuri rasakan. Memang seharusnya sejak pertama aku tak berurusan dengan anak dari kelas E

“Yoona?”

Langkah kakiku mendadak berhenti ketika dua orang gadis menghadang jalanku. Sooyoung dan Hyoyeon, teman Yuri. Tangan mereka terlipat dan aku dapat menangkap seringaian kecil diujung bibir mereka yang tak aku ketahui artinya. Mereka saling pandang beberapa saat sebelum Hyoyeon berdecak, aku tak mengerti maksud decakan yang keluar dari bibirnya tapi sedetik setelahnya mereka menarikku pergi—dengan amat sangat memaksa, tak peduli aku akan jatuh atau mereka menjadi bahan pembicaraan anak-anak disana.

Yuri pov

Jessica eonni hari ini mengantarku—yah meskipun aku tahu gara-gara mengantarku dia harus berdebat dengan Yuho oppa karena hanya aku yang diantarkannya. Tentu Jessica eonni tak akan pernah mau mengantarkan Yoona, gadis itu pembawa masalah juga membuat malu keluarga. Bayangkan saja dia bekerja sambilan di kedai menjadi seorang pelayan. Apa dia pikir perusahaan milik keluarga kami tak bisa membiayai biaya hidupnya selama ini? Toh dia tak pernah kekurangan sedikitpun dengan semuanya. Tapi dia justru hidup dalam lingkaran yang sama sekali tak aku ketahui. Dia tak pernah memakai baju yang selayaknya yang sering aku dan Jessica eonni pakai. Dia selalu menggunakan bus. Oke, jika dia memang ingin hidup dalam kesederhanaan boleh saja tapi dia justru dipandang gadis miskin disekolah tapi ketika semua orang mulai tahu tentang siapa Yoona yang sebenarnya mereka mulai berhenti menghinanya sebagai gadis miskin

Ah… lupakan soal gadis itu, hari ini adalah hari ulang tahunku—juga Yoona—tidak, hanya ulang tahunku. Aku tak pernah menganggapnya sebagai saudara kembarku. Lihatlah, fisik kami sangat berbeda. Jessica eonni tadi memberiku janji akan mengajakku ke mall untuk membeli apapun yang aku inginkan. Aku bersemangat? Tentu saja! Aku melihat gaun keluaran terbaru di majalan fashion kemarin yang aku baca. Tentu aku tak ingin kehilangan kesempatan untuk memiliki gaun dengan sejuta keindahan yang sesuai dengan lengkuk tubuhku.

Aku menggerutu sejak tadi, ingin aku segera kekelas tapi apa iya aku harus berjalan sendirian kekelas? Dan dimana dua manusia itu? Biasanya mereka yang menungguku, sekarang? Kenapa justru aku yang berakhir menunggu mereka dan menjawab sapaan dari orang-orang disekolah ini?. Segera saja aku menelpon Sooyoung, gadis ini pasti selalu didepan ponselnya setiap saat berbeda dengan Hyoyeon yang biasanya bahkan lupa membawa ponselnya

“ya! Eodiga?!” tanyaku berdecak

“aku di toilet, sebentar aku akan kesana”

Tit

Aku menunggunya dipintu gerbang. Beberapa lelaki menyapaku dan aku jawab seperti biasa, mungkin mereka bingung kenapa aku berdiri di dekat gerbang sekolah seperti ini? Dan ada seorang yang membuatku sangat jijik, lelaki culun dari kelas C yang tersenyum salah tingkah padaku, dia menunjukkan deretan giginya berusaha sok tampan agar membuatku membalas senyuman darinya. Hah? Membalas senyumannya? Menatapnya saja sudah membuatku ingin muntah. Meskipun dia murid blasteran dan pindahan dari sekolah Inggris tapi disini dia menjadi bahan bulian karena wajahnya yang—ahh, jangan paksa aku untuk menjelaskan detailnya yang bisa membuatku muntah saat ini juga dan kenapa gadis ini benar-benar sangat lama?! Ingin aku segera masuk kedalam kelas sebelum aku bertemu dengan anak aneh lagi yang berusaha menarik perhatiankun tapi sebuah teriakan suara menghentikanku. Oh… aku terselamatkan

“apa yang kau lakukan di toilet, huh?! Kau tahu si lelaki menjijikkan itu terus menatapku sejak tadi” dengusku

“siapa?” tanyanya mengedarkan pandangannya, mencari lelaki yang aku maksud, “Vernon maksudmu? Ah… dia kan memang salah satu fansmu Yul dan aku yakin dia memiliki banyak foto-fotomu dikamarnya” ucap Sooyoung. “maksudmu—dia psikopat?” mulutku membentuk huruf o karena kaget. “ya, bukan seperti itu juga tapi bisa saja kan?” Sooyoung mengangkat bahunya tak peduli

Tiba-tiba saja dia menutup mataku dengan sebuah kain berwarna hitam, aku berusaha menarik kain itu tapi Sooyoung sudah menalinya dengan amat erat. “diam saja, aku ingin memberimu sebuah kejutan yang sangat istimewa”

Ah… mereka sangat perhatian. Tentu saja mereka akan memberiku sebuah kejutan dihari ulang tahunku ini.

Aku mengikuti langkah kakinya yang membawaku entah dimana bagian sekolah ini. Yang jelas aku sedikit menggerutu karena aku sudah tak sabar dengan apa yang mereka siapkan

“masih jauh?” tanyaku

“sedikit lagi” aku mendengarnya tersenyum kecil.

Sooyoung melepas tanganku dan aku mendengar langkah kakinya menjauhiku. Hendak aku berteriak, aku mendegar interupsinya padaku, “jangan takut, aku tak pergi, bodoh. aku akan berhitung dan pada hitungan ketiga kau boleh melepas penutup matamu”. Aku hanya mengikuti sarannya dengan memegang kain diwajahku. Aku juga mendengar beberapa tawa kecil datang dari Hyoyeon dan aku merasa ada orang lain disana

“1…2…3…”

Cpookk

Cpookk

Byuurrr

Aku terdiam menatap perlakuan Sooyoung dan Hyoyeon pada seseorang. Gadis itu diikat diatas kursi, dia tampak tak bisa bergerak dan mulutnya juga disumpal dengan kain agar gadis itu tak berteriak. Sooyoung, Hyoyeon dan ternyata Jiyeon juga berada disana, mereka tertawa cekikikan dengan perilaku mereka. Mereka melempar telur pada gadis itu dan kemudian menyiramnya dengan air, tak lupa dengan tepung yang mereka taburkan. Aku masih terdiam ditempatku. Aku masih tak bisa berkata-kata. Aku terlalu terkejut—maksudku ini kejutan yang mereka siapkan untukku? Ini hasil dari aku menunggu mereka hingga kakiku pegal-pegal? Melempari gadis itu dengan beberapa telur dan juga tepung yang bisa aku bayangkan akan benar-benar sangat lengket?

Yoona

Gadis itu Yoona. Aku melihat matanya menangis sembari menatapku, aku tak merasakan apa-apa. Aku tak merasakan ikatan persaudaraan kami. Yang aku rasakan adalah ketika dia mencoba merebut Kai dariku. Yang aku rasakan adalah ketika dia mengambil semua perhatian dari Yunho oppa. Yang aku rasakan adalah ketika wajahnya tampak polos jika aku sedang membuka kedoknya pada Yunho oppa dengan akhir aku dimarahi habis-habisan. Aku bisa memaafkannya soal Kai yang mengantarnya pulang tapi dengan pelukan seperti waktu itu, membuat otakku terasa mendidih. KAI MILIKKU!

Byyuurr

Sesuatu kecoklatan disiram lagi, bukan hanya satu botol tapi ada sekitar tiga botol dan juga ditambah cairan berwarna hitam kental yang aku yakini adalah kecap manis tak lupa sesuatu berwarna merah, aku tak tahu apa itu tapi itu menimbulkan bau menyengat yang ingin membuatku muntah

“Yul, saengil chukka hamnidaaa!!” seru mereka bersamaan

Mereka terus tertawa, bertepuk tangan riuh setelah mereka membuat suatu eksperimen yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Aku masih belum sadar dengan suasana ini. Pikiranku terpenuhi oleh hal-hal yang tak aku ketahui. Sesuatu yang mendorongku. Sesuatu lain yang tak pernah aku rasakan sebelumnya. Aku menatap Yoona yang terdiam menunduk, dia tak bisa apa-apa, aku tahu ikatan tali itu teramat kuat. Yoona—dia mendapatkan hal yang tak pernah terduga sebelumnya

“Yul, kau tak menyukai kue ulang tahun dari kami?” tanya Hyoyeon, mereka memandangku khawatir

Aku gelagapan. Aku kaget dengan suara pertanyaan yang terlontar dari mulut Hyoyeon. Ah? Kue ulang tahun? Kenapa aku tak memikirkannya sejak tadi? Tapi mereka melakukannya pada—ah… masa bodoh. Lalu, aku melipat kedua tanganku dan tersenyum kecil menatap mereka, mencairkan suasana yang terlihat bingung, mereka bingung dengan sikapku tadi yang terdiam secara tiba-tiba, “kue ulang tahun?” tanyaku membuka suara, “Kalian sebut ini kue ulang tahun?” tanyaku sekali lagi

Mereka menatapku kaget, “Yul, k—kau—”

“bukan kue ulang tahun namanya, jika tak ada lilin diatasnya” potongku tersenyum

Seketika tawa mereka meledak begitupula denganku yang teramat sangat puas. Yoona tak memberontak, dia diam saja dan itu menyenangkanku. Aku tak peduli jika setelah ini dia menangis dan memberitahu Yunho oppa. Aku sudah cukup muak dengan mereka berdua. Aku memang tak suka melihat Yunho oppa yang terlalu melakukan semua hal untuk Yoona tapi lama kelamaan aku sadar untuk apa aku cemburu? Aku bisa mendapatkan semua yang aku suka. Jessica eonni selalu berada dipihakku dan selamanya dia akan selalu berada dipihakku. Jalan pikiran kami sama dan itu tak akan pernah membuatnya menjadi musuhku

“gumawo” aku memeluk mereka bertiga bersamaan, “pulang sekolah aku traktir. Aku sangat suka kue dari kalian sayang saja tak ada lilinnya, itu sedikit membuatku kecewa” aku melirik sekilas kearah Yoona yang masih terdiam ditempatnya, sebelum aku menarik pergi mereka bertiga Jiyeon memutus tali ditangan Yoona dengan pisau lipat yang dia bawa. Aku cukup kaget karena Jiyeon berani membawa benda tajam kesekolah, padahal jika ketahuan dia akan mendapatkan poin sebanyak 50 yang bisa membuatnya mendapatkan nilai buruk disetiap pelajaran.

Author pov

Yoona mengunci dirinya kedalam toilet. Ini kali pertamanya dia diperlakukan seperti ini. Yoona memberontak tadi tapi ikatan itu terlalu menyiksa kedua tangannya dan akan percuma jika dia ingin berteriak tak akan ada yang peduli dan mereka juga tak akan membuat mereka mendapat masalah dengan salah satu gadis paling tenar disekolah mereka. Setengah hari Yoona membersihkan dirinya, terus berusaha menghilangkan bau yang ada pada tubuhnya tapi itu tak berhasil karena baunya tetap melekat ditubuhnya. Yoona ingin berteriak membuang semua yang ada dihadapannya atau jika perlu memukul semua orang yang ada disekolah ini. Percuma—itu tak akan pernah terjadi selain hanya tangan Yoona yang terus mengepal dan juga isakan tangis yang entah kapan akan berhenti mengalir diwajah putihnya. Tubuh kurusnya bergetar hebat, seolah-olah raga yang ada dalam tubuhnya tak kuat menahan apa yang selama ini bergejolak didalam dirinya. Jiwanya tak kuat terus berdiri kokoh. Yoona memang tak memiliki siapapun disekolah, mereka tak ingin dekat dengan gadis aneh seperti Yoona yang bisa saja membuat ketenaran mereka langsung menurun drastis dan akan dipandang sebelah mata tapi dia selalu meyakinkan dirinya bahwa dia bukanlah gadis lemah seperti fisiknya.

Yoona kembali kekelasnya dengan enggan. Yoona tahu sejak dia memasuki kelas, teman-temannya sudah berbisik satu sama lain. Mereka menutup hidung mereka karena bau kecap asin yang mereka tuang keseluruh tubuh Yoona belum menghilang ditambah bau telur yang bahkan Yoona sendiri merasa sangat jijik. Selama pelajaran berlangsung, Yoona seperti murid terasing. Beberapa temannya menarik kursinya menjauh. Jika itu terjadi pada orang lain, Yoona pasti akan melakukan hal yang sama tapi ini terjadi dengannya tak ada cara lain selain hanya diam memperhatikan pelajaran gurunya hingga waktu menunjukkan istirahat.

Yoona membawa kotak bekalnya keluar dari kelas, dia memakai jaket merah miliknya yang sengaja dia simpan di loker. Dia tentu tak akan datang ketempat biasanya, jika dia datang kesana maka Sehun akan kesana untuk mengganggunya seperti biasa dan juga lelaki itu akan mencium bau busuk ditubuhnya saat ini. Sehun kesana? Bukankah nanti lelaki itu justru akan segera beranjak pergi? Seluruh siswa di lorong saja menyingkir ketika Yoona lewat tka lupa cercaan yang mereka lontarkan pada Yoona. Yoona sedikit mempercepat jalannya, menemukan tempat baru tapi ketika dia membuka kotak bekalnya, seluruh nafsu makannya hilang begitu saja

Eomma, eottoke? Kenapa kau melahirkanku saat itu? Dan kenapa hanya aku yang merasakan apa yang Yuri rasakan? Eomma, appa! Tolong bawa aku, aku ingin bertemu kalian. Apakah kalian merasa ini semua sangat adil? Saat aku hanya berusaha tak menonjol diantara anak-anak yang lain tetapi mereka justru mengenalku sebagai makhluk aneh yang pernah dilahirkan dibumi ini? Kenapa hanya Yuri yang sempurna eomma?! Kenapa?! Kenapa hanya Yuri yang memiliki segala hal yang membuat mereka takjub, eomma?! Kenapa Tuhan tak memberiku satu dari kelebihan yang Yuri miliki? Apa karena Tuhan lebih menyayangi Yuri dibandingkan denganku? Apa karena aku hanyalah tambahan karena aku tak pantas berada di surga bersama anak-anak lainnya?

Dan cairan hangat itu mengalir sempurna diwajah gadis nan elok itu.

Sehun menemukan gadis yang dicarinya sedari tadi, sebenarnya dia hampir menyerah tetapi karena dia mendengar suara seorang gadis menangis, dia memutar tubuhnya dan mengintip dari balik pohon sekolahnya. Seseorang yang dicarinya sedang berada disana, menundukkan kepalanya sembari terisak. Bekal makanan yang dibukanya bahkan tak tersentuh sedikitpun bahkan ponsel dengan earphone yang biasanya menggantung dengan setia ditelingnya kini hanya tergeletak sembarang disamping gadis itu. Sehun tahu tentang desas desus yang terjadi pada Yoona. Seluruh sekolah hampir membicarakannya.

Sehun mendekat pelan dan benar saja, dia hampir muntah dengan bau busuk yang menusuk hidungnya

“Yoona” lirih Sehun

Yoona menoleh kaget, dia segera menjauhkan tubuhnya dari Sehun tapi tangan Sehun menariknya

“gwenchana, aku tak apa dengan seperti ini” Sehun tersenyum—sebenarnya dia juga sedang menahan baunya

“aku ingin sendirian, jangan ganggu aku” perintah Yoona

“aku tak akan mengajakmu bicara” jawab Sehun pelan

“tapi dengan kedatanganmu itu sama saja mengganggu ketenanganku”

“kau tak apa?” Sehun mengalihkan pertanyaannya yang hanya ditatap Yoona dengan wajah tak suka, “bukan urusanmu” desis Yoona

Dia beranjak dari tempatnya, meninggalkan Sehun yang masih terdiam disana. Yoona berjalan mendekati tong sampah dan membuang bekal makan siangnya. Sehun mengikutinya, Yoona tak peduli dengan hal itu. Ketika Yoona berjalan dikoridor, banyak anak yang menyingkir dan menutup hidung mereka, seperti tadi. Bahkan mereka tak menyadari sang bintang yang berjalan langkah tegasnya mengikuti Yoona dibelakang, mereka hanya terfokus pada satu titik yang membuat mereka mendapat bahan bualan untuk gadis itu.

TBCantikkss😉

82 thoughts on “Who Are You? – 4

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s