[Freelance] Good Night, Yoona

IMG_4787

Goodnight, Yoona

Moonixie

Im Yoona with Oh Sehun

Angst || Romance

Ficlet

All Rated

‘Goodnight, Yoona. Have a sweet dream’

Disinilah mereka berada, disebuah ruangan berwarna putih dengan bau obat yang menyeruak. Ruangan ini begitu gelap, hanya bermodalkan cahaya bulan yang masuk melewati jendela terbuka. Sehun menegang, gadis itu terjatuh ke lantai berbaring tak bergerak. Biolanya pun ikut berbedum karena bertemu dengan ubin yang keras, Sehun pikir biola itu rusak cukup parah.

 

Otaknya tak dapat berpikir apa yang harus dilakukannya sekarang. Ia hanya berdiri menatap gadisnya yang semakin pucat terbaring di lantai. Badannya ikut kaku seperti gadis itu. Ia pikir gadis itu hanya bermain-main, Yoona —gadis itu— memang selalu suka menjahilinya, membuatnya panik setengah mati, lalu ia akan tertawa terbahak melihat wajah Sehun yang pucat pasi.

 

Sehun pikir gadis itu akan terbangun lalu menertawakan wajah tegangnya seperti dulu.

 

Satu menit.

 

Dua menit.

 

Tiga menit.

 

Yoona tak kunjung bangun dan menertawakannya. Waktu terasa berhenti bagi Sehun, Yoona tidak mungkin beramain-main dengan biola kesayangannya. Jadi ini bukan permainan gadis itu. Sehun berjalan mendekat, berlutut dihadapan tubuh kaku gadisnya. Padahal baru saja gadis itu memainkan biolanya dan tersenyum manis. Air mata pria itu menetes melewati pipinya dan terjatuh ke lantai seperti gadis itu.

 

Tangannya terulur untuk meraih Yoona, memelukanya di dada, mendekapnya begitu dekat. Tak ingin gadis itu pergi. Detik berikutnya ia mengangkat gadis itu dan membaringkannya di ranjang yang hangat. Tubuhnya begitu dingin, bahkan Sehun bergidik saat kulit mereka bersentuhan. Yoona sangat tak menyukai jika ia kedinginan, jadi Sehun menarik selimut hingga dada gadis itu. Jemarinya menggenggam erat jemari Yoona, menyalurkan kehangatan pada gadis itu.

 

Sehun tak pernah merasa seperti ini. Hatinya begitu sesak, tubuhnya tak ingin bergerak, dan ia sulit untuk berpikir apa yang telah terjadi. Pandangannya hanya tertuju pada gadis itu, pada wajah cantiknya yang semakin pucat. Mengapa Tuhan membuat gadis itu menutup matanya yang selalu membuat Sehun tenang? Mengapa Tuhan membuat bibir gadis itu mengatup, padahal kata-kata yang keluar dari bibir itu selalu membuat orang lain tertawa? Sehun selalu suka ucapan gadis itu. Mengapa pula Tuhan membuat tangan gadis itu tak lagi bisa bergerak dan tak akan bisa lagi bermain biola dengan indah untuk Sehun?

 

 

Mengapa Tuhan mengambil gadis itu? Padahal Sehun lebih membutuhkannya.

 

 

Ia tak akan bisa melepaskan Yoona. Gadis itu benar-benar hidupnya. Sehun pikir setelah ini mungkin ia pun akan ikut mati bersamanya. Ikut terkubur dibawah gundukan tanah dan pergi menuju tempat yang sangat jauh, sehingga takkan pernah bisa kembali. Sehun ingin seperti itu, tapi ucapan Yoona beberapa jam lalu membuatnya berpikir lagi dan mungkin tak boleh melakukan semua itu.

 

 

‘Aku akan benar-benar bahagia, jika kau melanjutkan hidupmu dengan bahagia pula. Aku ingin jika kita bertemu lagi suatu hari nanti, kau akan tersenyum lebih indah dari sebelumnya. Jika kau berjanji akan melakukan semua itu, aku akan memainkan biola ini khusus untukmu.’

 

 

Sehun masih merasa mendengar gesekan biola yang indah itu. Sehun selalu ingin mendengarnya, dan masih ingin mendengarnya hari ini, esok, lusa dan selamanya. Sehun bukanlah pria yang mudah menangis, tapi kali ini air matanya terus berdesakan ingin keluar. Ini titik terendah dalam hidupnya. Mulai sekarang ia harus menata hidupnya kembali dari awal. Mulai sekarang gadis itu tak akan lagi ada di daftar hidupnya, tapi percayalah tempat gadis itu takkan pernah terganti dihatinya. Selamanya ia akan mencintai gadis itu. Selamanya Oh Sehun akan mencintai Im Yoonanya.

 

Sehun melihat gadis itu untuk yang terakhir kali. Ia mendengar ada beberapa pasang kaki berlarian di koridor, itu pasti para dokter yang menangani Yoona, beberapa saat lalu Sehun memanggil dokter-dokter itu melalui bel yang terpasang di ruangan. Ia harus pergi sekarang juga, jika tidak ia takkan pernah bisa melepaskan gadis itu, ia takkan pernah sanggup membiarkan gadis itu pergi. Jadi ia bangkit, berdiri, berbalik dan berjalan menuju pintu yang telah terbuka, karena dokter-dokter itu yang telah berhambur untuk masuk memeriksa gadisnya. Ia terus berjalan keluar meski kakinya terasa kaku, ketika ia benar-benar diambang pintu ia menoleh kearah gadis itu dan melihatnya benar-benar untuk yang terakhir kali. Bibirnya berbisik, mengatakan sesuatu yang biasa ia ucapkan pada Yoona di malam malam sebelumnya. Tapi kali ini berbeda, gadis itu takkan tersenyum saat Sehun mengatakannya.

 

 

Goodnight, Yoona. Have a sweet dream

 

 

-ccc-

 

 

Sehun terduduk di dekat jendela. Menggengam buku yang biasa ia baca. Dulu ia dan Yoona selalu duduk di sana sambil memandang jalanan ramai dibawahnya, Yoona akan terus berceloteh padahal ia tahu bahwa Sehun sedang membaca buku kesukaannya. Tapi ia tak peduli sama sekali. Sekarang Sehun merasa kosong, tak ada lagi suara-suara yang mengganggunya, tentu saja sekarang Yoona sudah pergi.

 

Ia tak bisa fokus pada buku bacaannya. Berdiri dari duduknya, menaruh bukunya kembali di rak buku, mematikan lampu. Ia ingat Yoona selalu menyukai tempat gelap dengan hanya ditemani cahaya bulan, ia tak seperti gadis kebanyakan yang takut akan gelap dan Sehun menyukainya. Yoona bilang jika dalam keadaan seperti itu ia akan merasa tenang dan nyaman.

 

Sehun kembali duduk, menyamankan posisinya di sofa, lagi, ia memandang keluar jendela. Pikirannya tetap dipenuhi tentang gadis itu, padahal ini sudah cukup lama sejak gadis itu pergi. Di awal ia masih bisa menerima, tapi tidak untuk saat ini, ia pikir rasa rindu itu mulai terasa sekarang. Ia sudah lama tak bertemu gadisnya, dan mungkin takkan pernah bertemu kembali.

 

Sehun memejamkan matanya. Ia benar-benar merindukan Yoona. Ia benar-benar ingin bertemu dengannya. Menjalani hidup tanpa gadis itu ternyata sungguh berat, apalagi mengabulkan permintaan terakhir gadis itu. Bagaimana mungkin ia dapat hidup bahagia dan tersenyum lebih indah dari sebelumnya, jika ia saja kehilangan dunianya.

 

Sehun mendengarnya. Ia rasa ia mendengar suara gesekan biola yang menemani keheningan malam. Memang jauh dan nyaris tak terdengar, tapi Sehun yakin itulah Yoona. Gadis itu memainkan nada yang ia sukai, ia tak mungkin salah. Itu pasti Yoonanya. Ia berharap Yoona memainkan biola itu untuknya. Untuk Oh Sehun. Untuk seseorang yang benar-benar merindukannya…

 

END

 Thanks for reading. I hope you like this, guys!

28 thoughts on “[Freelance] Good Night, Yoona

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s