[Freelance] Lady Luck (Sequel of Shocking Fansign)

LadyLuckPoster_

Tittle: LADY LUCK (Sequel of Shockin’ Fansign) || Author: @NikenPark || Main Cast: Park Chanyeol, Im Yoona ||Genre: Romance, Comedy || Length: Oneshoot || Rate: PG 17

 

Disclaimer: The storyline and poster off course is pure mine, so dont copy paste because i hate plagiarism. And special thanks for Park Chanyeol who always give me inspiration^^

 

*

CHECK

*

THIS

*

OUT!

 

Im Yoona, gadis bersurai ikal panjang itu menutup novel tebalnya. Tidak, kau salah jika berfikir ia sudah menamatkan 330 halaman dari novel percintaan itu, sungguh… Yoona bahkan baru membaca lima halaman namun hati dan fikirannya tak pernah mendapatkan fokus yang semestinya.

 

Gadis itu menelungkupkan dirinya pada meja panjang perpustakaan dengan kepala menghadap samping. Pandangannya kosong menerawang liar tanpa arti. Namun bayangan kilas balik kejadian saat itu benar-benar tak dapat ia hapus seperti ia menghapus goresan pensil dengan penghapus.

 

“Park Chanyeol…”

 

Dan seperti biasa, selalu nama itu lah yang meluncur dari lisannya setiap ia merasa lelah dengan bayang-bayang gila waktu itu. Ya, tepat satu minggu yang lalu seorang Im Yoona, yang baru pertama kali mengikuti event fansign idola mengalami sesuatu yang paling mengejutkan dalam hidupnya.

 

“Apa Tuhan sesayang itu padaku?” Yoona masih bermonolog dengan dirinya sendiri. “Apa ini karena aku rajin pergi ke gereja?” Gadis itu terus bergumam tidak jelas hingga ia tidak menyadari sahabatnya tengah memandanginya ngeri.

 

“Im Yoona, ckckckckk… aku tidak tau lagi harus mengatakan apa. Tapi kurasa psikiater adalah jawaban yang tepat.”

 

Yoona mengerjap cepat, dua detik kemudian bola mata indahnya mendelik galak pada gadis yang duduk di sampngnya itu.

 

“Maaf Nona Tiffany, tapi aku tidak mengalami gangguan kejiwaan dan sebagainya. Jadi jangan mengatakan itu lagi.” Yoona bersungut.

 

Sedangkan gadis bernama Tiffany itu hanya tertawa mendengar protes dari sahabatnya. “Salahmu sendiri, lagi pula… seharusnya kau senang dan bersyukur. Kau sangat beruntung Yoong, jutaan fans lainnya menginginkan hal itu terjadi pada mereka. Jika mereka tau pasti mereka iri dan lebih memilih menceburkan diri ke sungai Han daripada menerima kenyataan bahwa seorang Park Chanyeol mencium Im Yoona. Oh My God!”

 

“Kau berlebihan! Lagian… kau ini mendukungku atau apa?? Kau pikir berciuman denganku adalah hal terburuk di dunia? Haishh….” ujar Yoona lalu memasukkan novelnya ke dalam tas.

 

“Hahaha…! Aku hanya bercanda Yoong, ayolah… kau sensitif sekali.”

 

Tiffany mengikuti Yoona yang mulai berdiri dari kursinya. “Kau mau kemana?”

 

“Pulang.” Jawab Yoona singkat.

 

“Apa?! Hey…. limabelas menit lagi kelas Dosen Kim akan dimulai. Kau mau kabur???”

 

“Ya, daripada aku diusir karena melamun lebih baik aku tidak masuk kan?” Gadis itu mengedipkan sebelah matanya. “Yasudah, aku pergi. Sampai nanti!” Dan Yoona benar-benar pergi dengan langkahnya yang seperti ninja, meninggalkan Tiffany dengan mulut setengah terbuka.

 

“Dia semakin aneh setelah peristiwa ajaib itu terjadi…” Tiffany berbicara lirih, “aku penasaran apa yang dirasakan Chanyeol sekarang… apa pria itu juga mengalami penurunan mental seperti Yoona?” Gadis itu mengerjap beberapa kali, “Oh My God!! Aku tidak boleh menggunjing orang.” Ucap gadis itu seraya menutup mulut dengan satu telapak tangannya.

 

* * *

 

* * *

 

* * *

 

“Ne hyung, aku hanya berjalan-jalan sebentar bersama Sehun.”

 

Jangan lama-lama. Memangnya dimana kalian sekarang?”

 

“Sungai Han. Kami sedang menikmati ramen di bawah taburan bintang.”

 

Terserah. Asal fans tidak mengetahui keberadaan kalian saja.”

 

Tidak hyung, kau tenang saja. Kami akan baik-baik saja, percaya lah.”

 

Baiklah, kalau begitu ku tutup telfonnya. Kalian berhati-hatilah.”

 

Ya, aku mengerti.”

 

Pemuda jangkung dengan kaos polos hitam lengan pendek itu menutup ponselnya yang hanya menyisakan daya tak lebih dari 10%. Menyedihkan memang, niat awal adalah mengabadikan moment dirinya di saat quality time terlangkanya ini, kemudian mempostingnya di instagram seperti biasa untuk sekedar mengobati rasa rindu para fansnya.

 

“Ada apa dengan wajahmu Hyung?” Suara bass seseorang di depannya mulai terdengar.

 

“Aku lupa mencharge ponselku.” Jawab Chanyeol sambil mengendikan bahu acuh.

 

“Astaga… seprustasi itu kah kau? Ayolah… kau bisa pakai ponselku.” Tukas Sehun yang kembali fokus pada semangkuk ramen di hadapannya. Pemuda itu bahkan tak memperdulikan Chanyeol yang kini tengah menatapnya dengan mata berbinar.

 

“Kau… serius???”

 

“Apa aku terlihat bercanda? Cepat lah sebelum aku berubah pikiran.” Jawab pemuda itu datar.

 

“Gomawo Sehun-ah!!!”

 

Park Chanyeol, pemuda ramah itu menyambar tak sabaran ponsel milik Sehun, seperti ikan Piranha yang kelaparan dan menemukan mangsanya. Sedangkan pemuda yang lebih muda dua tahun darinya itu hanya memutar bola matanya malas.

 

Chanyeol tidak tau saja, penyebab ponselnya kehabisan energi adalah bukan karena ia lupa memcharge ponsel miliknya itu. Tapi karena beberapa saat yang lalu Sehun menggunakan ponsel hyungnya itu tanpa sepengetahuan pemiliknya. Ya, Sehun bermain games dan mengambil lebih dari seratus jepretan foto dirinya. Jadi anggap saja dengan meminjamkan ponsel miliknya adalah ganti rugi atas aksi jahilnya tadi.

 

“Aku akan meramaikan instagram malam ini Oh Sehun, kau lihat saja sebentar lagi mereka akan menggila di kolom komentarku. Hahahahaa!!” Sehun menatap datar Chanyeol yang terus berbicara tidak jelas. Bahkan pemuda itu menyebut dirinya sendiri tampan. Ya, tidak apa-apa sih… hanya saja, tingkat kenarsisan hyungnya itu sudah melewati batas kewajaran.

 

Tak terasa sudah 40 menit mereka menghabiskan waktu di sana, rasa bosan pun mulai menghampiri. Dan Sehun nampak tengah mengetik beberapa kalimat di ponselnya, membuat Chanyeol mengerutkan keningnya penasaran.

 

“Hey… kau sedang apa sih?” Chanyeol menilik pada layar mungil yang berada di telapak tangan Sehun, bola matanya membaca satu per satu kata yang membentuk kalimat di sana. Hingga menit berikutnya pemuda itu membulatkan kedua matanya dengan mulut menganga.

 

“Yak! Kau cari mati?!!”

 

Chanyeol merampas ponsel Sehun kemudian menjelajahi kolom komentar yang menampilkan kicauan para fansnya itu. Sehun terkekeh santai lalu meregangkan otot-ototnya. “Ini menyenangkan hyung, kapan lagi kita bermain petak umpet bersama mereka.”

 

“Yang benar saja Oh Sehun!! Kau memberi tahu lokasi kita sekarang dan menyuruh mereka menemukan kita?!” Chanyeol berseru tinggi, “Yak…! Bagaimana jika ada sasaeng dan mereka benar-benar menemukan kita? Kau ini, membuat masalah saja.” Ujar Chanyeol lalu bergesa mengumpulkan sampah-sampah mereka pada satu kantong plastik besar.

 

“Jangan diam saja! Bantu aku merapikan ini. Kita harus segera pergi dari sini.”

 

“Aissh… jangan berlebihan hyung, mereka tidak akan sempat menemukan kita.” Sehun bangkit dari duduk nyamannya. Berdiri malas kemudian menggulung asal karpet berukuran sedang yang menjadi alas duduk mereka.

 

“Pokoknya kita harus cepat, kalau tidak…”

 

“OPPAAAA!!!!!”

 

Chanyeol tidak melanjutkan kalimatnya dan menatap horor pemuda di sebelahnya, “Kau dengar itu?” Ujarnya penuh penekanan.

 

“Hehe… mian hyung, aku tak menyangka mereka bisa berteleportasi seperti Kai.” Sehun tertawa hambar lalu mengikuti Chanyeol yang mulai melangkah cepat menuju mobil mereka yang terparkir cukup jauh.

 

Dan menyesal adalah satu-satunya kata yang berkeliaran di kepala Sehun, pemuda itu menangis di dalam hati. “Astaga, aku benci olahraga di malam hari.” Keluhnya sembari terus berlari dengan membawa gulungan karpet pikniknya.

 

“Salahmu sendiri! Kau membuat kita berdua terlihat konyol Sehun-ah…”

 

Chanyeol berujar dengan nafas terengah dan satu tangan yang membawa sekantung plastik sampah. Beruntung lima langkah setelahnya ada tempat sampah yang menantinya bak peti harta karun.

 

Mereka terus berlari dan beberapa fans di belakang mereka terus mengejar sembari berteriak-teriak histeris. Chanyeol segera memutar otaknya kemudian melemparkan kunci mobil pada si pembuat masalah.

 

“Ini! Tangkap!!” Dan kunci itu pun mendarat dengan selamat di tangan Sehun, “Kita harus berpisah… kau bawa saja mobilnya, aku akan naik taxi.” Ucap Chanyeol lalu mengambil arah lain, berharap itu dapat mengecoh fans mereka yang kelewat bersemangat.

 

“Hati-hati hyung!!” Sehun mempercepat larinya menuju van hitam yang mulai terlihat di depan sana. “Semoga Chanyeol hyung berhasil kabur.” Ujarnya kemudian.

 

* * *

 

Yoona nyaris saja tertidur jika sang supir taxi yang ditumpanginya tidak mengeluarkan suara falsnya. Ya, pria berusia sekitar 40 tahun itu nampaknya menyukai lagu-lagu lawas tahun 80an. Membuat Yoona semakin mengantuk, namun usahanya untuk tertidur gagal ketika mendengar pria tua itu menyanyikan nada tinggi lagu yang dinyanyikannya.

 

Gadis itu lantas melirik jam tangannya yang menunjukkan angka tepat pukul 8;30 KST. Itu artinya mata kuliah Dosen Kim sudah selesai, mengingat ia meninggalkan kampus kurang lebih pukul 4;16 KST sore tadi. Dan tidak mungkim Yoona langsung pulang karena tentu saja itu akan mengantarkan dirinya pada serentet pertanyaan dan ceramah sang ibu jika ia ketahuan kabur dari kuliahnya lagi.

 

Lamunan mengerikan Yoona tentang kegalakan ibunya terhapus seketika ketika taxy yang ia tumpangi tiba-tiba berhenti dan hampir membuat kening indahnya mencium tempat duduk supir di depannya. Yoona bahkan nyaris mengumpat jika saja tidak ada seseorang yang menerobos masuk ke dalam taxy dan menghenyakkan tubuhnya di samping Yoona.

 

“Cepat pergi dari sini ahjussi!”

 

Suara tegas dan berat itu membuyarkan segala pikiran Yoona, rasa kantuk yang tadi masih tersisa pun entah meluap kemana. Dan yang kini ia rasakan adalah tak ubahnya deja vu. Suara itu… aroma parfum yang menguar dari tubuhnya… semuanya membawa Yoona kembali pada sosok yang membuatnya tak dapat tidur nyenyak selama satu minggu ini.

 

Siapa lagi kalau bukan… Park Chanyeol.

 

Yoona diam-diam menarik nafasnya dalam-dalam dan mengumpulkan keberanian untuk sekedar menilik pada sosok yang tengah duduk di sampingnya itu.

 

Perlahan…

 

Gadis itu menolehkan kepalanya dan berharap apa yang dipikirannya sekarang adalah salah. Namun entah ini keberuntungan macam apa lagi, atau Tuhan memang sesayang itu padanya hingga ia mendapati paras tampan yang biasa ia lihat di layar ponselnya itu memang ada di sampingnya. Duduk bersamanya, berdua di dalam sebuah taxy. Oh, lupakan supir itu…

 

Merasa di perhatikan, pemuda itu turut menoleh dan alangkah terkejutnya ia dengan apa yang dilihatnya saat ini.

 

Gadis itu…

 

Mereka sama-sama terdiam beberapa saat dengan mata yang tak pernah lepas pandang satu sama lain, hingga akhirnya Chanyeol menyerukan lisannya, “kau… yang waktu itu ‘kan?”

 

Yoona mengerjap cepat dan seketika wajahnya memanas. Apa mungkin Chanyeol mengingatnya? Kejadian memalukan waktu itu?? Oh God….

 

“Hey… aku biacara padamu, Nona. Jangan diam saja.” Pemuda itu semakin mendesak Yoona. Membuat Yoona terpaksa bersuara.

 

“Apa maksudmu? Kau mungkin salah orang!” Yoona berkilah.

 

“Apa? Aku tidak mungkin salah orang. Kau Im Yoona kan?” Kata Chanyeol diikuti sebuah seringaian dari sudut bibirnya. Membuat gadis itu sempat terjengat kaget mendengar ia menyebutkan namanya.

 

“Masih tidak mau memgaku? Baiklah… biar kuperjelas…” Chanyeol tak kuasa menahan senyumannya, “Im Yoona, seorang gadis yang datang ke acara fansign kami, kemudian memintaku jadi pacarnya, mengajakku menikah, melakukan eye contact 10 detik. Lalu… meminta sebuah ci–”

 

Kalimat Chanyeol terpotong saat Yoona dengan sigap membekap mulut Chanyeol dengan telapak tangannya. Gadis itu menatapnya melotot sembari berbisik pelan, “jangan dilanjutkan ku mohon!” Ujarnya yang dijawab Chanyeol dengan anggukan singkat disertai angkatan satu tangan diudara dengan jarinya yang membentuk V sign.

 

“Jadi kau mengaku?” Ujar Chanyeol dengan nada jahil.

 

“Iya. Aku mengaku. Dan kumohon… jangan bahas itu lagi. Atau aku tidak akan bisa tidur nyenyak semalaman.” Sedetik kemudian Yoona membekap mulutnya sendiri merutuki kebodohannya. Itu sama saja dengan mengaku bahwa ia selalu memikirkan ciuman itu.

 

Dan Chanyeol benar-benar tidak bisa menahan senyum lebarnya, “aigooo… lihat siapa yang baru saja mengaku. Santai saja, aku tau kalau…” Chanyeol menggantung kalimatnya sesaat lalu mendekat pada telinga Yoona, “ciumanku sulit dilupakan. Benar kan??” Kemudian dapat Yoona dengar pemuda itu terkekeh puas.

 

Sepuluh menit berlalu, tak satu pun dari mereka mengucapkan sepatah kata setelah percakapan singkat itu. Baik Chanyeol maupun Yoona keduanya sama-sama dia membisu, dengan sesekali saling melirik kemudian membuang muka lagi ke lain arah. Dan begitu terus sejak tadi.

 

Chanyeol teringat ia belum menghubungi Suho, pria itu bisa mengomel jika tahu ia dan Sehun tidak pulang bersama. Pemuda itu menghela nafas kesal ketika ia mendapati ponselnya mati, merasa sia-sia kemudian Chanyeol memasukkannya kembali ke saku celananya.

 

“Ada apa? Ponselmu mati?” Chanyeol melirik Yoona yang kini tengah menatapnya penuh tanya.

 

“Ya… padahal aku ingin menghubungi Suho hyung, ia pasti khawatir sekarang.”

 

“Kau bisa pakai ponselku.” Yoona mulai mencari benda mungil tipis itu di dalam tasnya. Mengacak-acaknya cepat dan mengambil benda dengan phoncase bergambar rillakuma itu lalu menyodorkannya pada Chanyeol.

 

“Kau serius?” Chanyeol tersenyum lebar kemudian mengambil ponsel itu. Senyumnya semakin mengembang saat ia menyadari gambar rillakuma yang menyelimuti ponsel gadis itu.

 

“Kau suka rillakuma?” Chanyeol bertanya cepat.

 

“Tentu. Kenapa?” Ujar Yoona kemudian.

 

“Kalau begitu kita sama.” Chanyeol tersenyum sembari mengetikan beberapa kata di ponsel gadis itu. Ya, pemuda itu lebih memilih mengirimi pesan singkat pada Suho dan mengambil kesempatan setelahnya dengan mencuri nomor ponsel milik gadis itu. Astaga…

 

“Aku tau. Semua fansmu pasti tau itu.” Ujar Yoona diikuti senyuman tipis di wajahnya. Membuat pemuda di sampingnya itu betah menatapnya lama-lama.

 

Cantik…”

 

“Kau sudah selesai?”

 

Chanyeol mengerjap cepat dan hendak menyerahkan ponsel itu pada Yoona namun iris matanya terlanjur menangkap potret dirinya di sana, ya… gadis itu menggunakan foto dirinya sebagai wallpaper. Dan senyuman bangga tak dapat disembunyikannya lagi. Membuat Yoona mengernyit bingung.

 

“Ada apa denganmu?” Yoona hendak meraih ponselnya tapi Chanyeol menarik tangannya kembali dan memperlihatkan layar ponsel gadis itu.

 

“Kau sangat menyukaiku rupanya.” Yoona membelalakkan matanya tak percaya, sungguh ia melupakan hal itu.

 

“Yak!! Kembalikan!” Yoona mencoba merebut ponselnya kembali tapi Chanyeol dengan gesit menggerakkan tangannya sehingga gadis itu selalu gagal mendapatkannya, dan Chanyeol semakin menikmati permainannya itu dengan mengumbar tawanya yang lepas. Oh, senang sekali dia.

 

“Aku akan kembalikan tapi sebelumnya kau harus mengaku kalau kau sangat menyukaiku.” Ujar Chanyeol sambil menaik turunkan alisnya jahil. Membuat Yoona kesal sekaligus ingin menangis.

 

“Aku. Tidak. Akan. Mengatakan. Itu.” Yoona berucap dengan penuh penekanan di setiap kata.

 

“Yasudah. Kalau begitu akan ku simpan ponsel ini dan aku akan menemukan foto diriku lebih banyak lagi di dalamnya.” Chanyeol menyeringai lebar, “benark kan? Biar kutebak, pasti ada ratusan fotoku di gallerymu.”

 

Chanyeol hendak melihat kembali ponsel itu namun Yoona dengan cepat bergerak ke arah Chanyeol berniat merebut ponsel miliknya, tapi entah keberuntungan atau apa namanya. Ya, Chanyeol berhasil menahan tangannya dengan satu tangan dan tangan satu lagi masih menggenggam ponsel itu. Hingga posisi tubuh Yoona berada di atas Chanyeol. Oh God, semoga gadis itu tidak pingsan.

 

“Masih tidak menyerah?”

 

Chanyeol berkata dengan santainya. Tidak ada rasa risih sedikitpun. Pemuda itu terlihat menikmatinya. Heol.

 

Yoona berusaha mengesampingkan perasaan aneh yang merasuki dirinya. Gadis itu menatap tajam Chanyeol lalu mencoba merebut ponselnya dengan satu tangannya yang masih terbebas. Dan…

 

“Dapat!!!”

 

Yoona berseru semangat. Ia mengukir seringaian seperti milik Chanyeol. Namun senyumnya itu tidak bertahan lama tatkala menyadari posisi dirinya saat ini.

 

Oh ya ampun, bahkan Chanyeol mengukir senyum kemenangan di wajahnya. Entah bagaimana ceritanya namun Yoona mendapati dirinya kini duduk di pangkuan Chanyeol dengan kedua tangan pemuda itu yang melingkar di pinggangnya. Oh, pantas saja ia mendapatkan ponselnya dengan mudah.

 

“Kau terlalu bersemangat.” Ucap Chanyeol dengan senyum yang masih menghiasi wajahnya, dan yoona merasakan pipinya memanas.

 

“Dasar anak muda jaman sekarang…” Pria tua berusara fals itu pun turut memberikan komentarnya. Membuat Yoona segera bangkit dari posisi terkutuk itu.

 

Chanyeol menggelengkan kepalanya sembari terkekeh geli. “Tidak hanya cantik, tapi juga lucu.” Batin pemuda itu berbicara.

 

“Manis sekali…”

 

Maaf Nona, kau sudah sampai.” Lagi-lagi suara fals itu mengudara. Yoona segera tersadar lalu menyodorkan beberapa lembar uang won setelah supir taxy itu menyebutkan nominalnya.

 

Gadis itu sudah akan membuka pintu mobil namun Chanyeol menahan pergelangan tangannya. Membuatnya menoleh bingung.

 

“Eung… terimakasih sudah meminjamiku ponselmu. Dan, maaf yang tadi.”

 

Chanyeol berucap lirih, Yoona masih diam memandangi wajah yang selalu ia impikan itu. “Kau… tidak marah kan?”

 

“Tidak. Aku tau kau hanya bercanda.” Jawab gadis itu kemudian memperlihatkan senyuman manisnya yang tulus, membuat Chanyeol benafas lega setelahnya.

 

“Syukurlah kalau begitu.” Pemuda itu tersenyum hangat dan membiarkan Yoona keluar.

 

“Eum. Kau berhati-hati lah, Chanyeol-ssi.” Ucap Yoona kemudian berbalik dan memasuki lingkungan apartemennya.

 

Taxy yang ditumpangi Chanyeol perlahan melaju dan menerobos malam. Pemuda itu bersandar nyaman dan memejamkan kedua matanya. Bibirnya membentuk sebuah lengkungan manis lalu terdengar uara lirihnya yang tersapu angin,

 

“Im Yoona…”

 

* * *

 

* * *

 

* * *

 

Pagi itu bukan lah satu pagi yang menyenangkan bagi Yoona. Percayalah, kau akan berlari ketakutan melihat wajahnya saat ini. Ya, dua lingkar hitam menghiasi masing-masing bagian bawah kelopak matanya. Rambutnya berantakan bak singa hutan.

 

Gadis itu tidak tidur semalaman, ia menghabiskan waktunya dengan menggulingkan badan ke kanan, ke kiri. Lalu telungkup dan terlentang. Begitu terus hingga ia merasa nyaris gila dengan menahan teriakannya. Bahkan gadis itu menggigiti gulingnya dengan gemas.

 

“Ya Tuhan… aku tau kau sayang padaku dengan melimpahkan berjuta keberuntungan. Tapi… haruskah dengannya?”

 

Yoona berbicara sambil menatap pantulan dirinya pada cermin besar di kamar bernuansa biru langit itu.

 

“Jantung ini…” Yoona menyentuh dadanya yang masih berdetak cepat. “Dia tidak mau berhenti, Tuhan…”

 

“Aku rasa… aku benar-benar jatuh cinta.” Yoona berkata lirih kemudian membanting tubuhnya pada ranjang empuk yang setia menemaninya.

 

“Wuaaaaaaaa!!!!” Gadis itu berteriak kencang membuat seseorang di balik pintu kamarnya mengurungkan niat untuk masuk dan menatap pintu itu dengan sedih.

 

“Aku akan mencari psikiater.” Ucap Tiffany dramatis lalu membalikkan badannya gontai. Ya ampun…

 

Yoona melirik ponselnya yang bergetar. Menandakan sebuah panggilan masuk di sana. Gadis itu mengernyit ketika melihat satu nomor tanpa nama, dengan malas-malasan ia menjawab panggilan itu.

 

“Ya Hallo,”

 

“Hi, kau masih mengingatku?” Yoona terbangun dari posisi terlentangnya, duduk dengan kaki bersila dan mata membulat.

 

“K..kau… siapa?”

 

Eeeyy… kau melupakanku???” Suara pemuda itu terdengar merajuk.

 

“Serius… kau siapa?!” Yoona berharap apa yang ada di pikirannya adalah salah.

 

Ck. Aku Chanyeol. PARK. CHANYEOL. Member EXO paling tampan kau ingat?” Pemuda itu tertawa geli.

 

Yoona merasa ada meteor jatuh ke kepalanya lalu menghantam jantungnya yang tiba-tiba menggila. Oh sialan sekali, hanya dengan mendengar suaranya saja sudah nyaris membuat dirinya sekarat. Sebegitu jatuh cintanya kah dia pada pemuda jangkung itu?

 

“Ok, ada apa Chanyeol-ssi?” Yoona segera merubah suaranya dingin.

 

Hey, tak bisakah kau memanggilku Chanyeol saja? Jangan seformal itu lah…”

 

Baiklah terserah padamu. Sekarang cepat katakan ada apa? Dan… tunggu, kau mencuri nomorku semalam?”

 

Santai lah sedikit Nona, aku melakukan ini karena…” Chanyeol mrnggantung kalimatnya sebelum kata-kata keramat seperti ‘Aku Tertarik Padamu’ meluncur bebas dari mulutnya. Oh mungkin ia akan di cap sebagai pria brengsek, baru bertemu dua kali tapi sudah seberani itu. “Karena aku ingin kita berteman! Ya, kurasa… begitu…”

 

Yoona terdiam beberapa saat, kemudian gadis itu tersadar ketika pemuda itu memanggil namanya berulang kali. Mungkin berlebihan, tapi gadis itu merasa tidak sanggup lagi mengeluarkan suara dari dalam mulutnya.

 

“Eum.. ya, kita bisa berteman sekarang.” Gadis itu bersuara gugup.

 

Benarkah?! Kalau begitu… untuk merayakan hari pertemanan pertama kita… bagaimana kalau kita pergi ke luar malam ini??”

 

“Apa?! Malam ini? Kita?”

 

Iya, kita. Dan satu lagi, aku tidak menerima penolakan. Okay?”

 

“Okay…” Yoona tak sanggup lagi berkata-kata. Gadis itu terlampau bahagia.

 

Baiklah, sampai nanti malam, Im Yoona…”

 

Sambungan telfon itu terputus dan menyisakan Yoona dengan tampilan menyedihkannya. Sungguh, Tiffany akan berteriak histeris jika melihat dirinya saat ini. Tapi senyuman itu tak hilang sejak ia berbicara dengan sang idola kesukaannya. Dan Yoona tidak peduli, karena ia merasa musim semi telah melanda hatinya.

Jarum jam terus berputar, seharian ini Yoona memutar otak tampilan apa yang cocok untuknya malam ini. Ia mengacak seluruh isi lemarinya, mencoba satu baju ke baju yang lain, bagitu juga dengan koleksi tas dan sepatunya.

 

Gadis itu mengulas senyum lebar ketika ia mendapatkan sebuah pesan dari seseorang yang akan pergi bersamanya malam ini.

 

Berdandanlah yang cantik, Nona Im. Aku akan menjemputmu pukul 7.”

 

Yoona membalas pesan itu singkat kemudian ia melangkah menuju lemari kacanya dengan berbagai koleksi tas bermerk terpajang di sana. Ia meraih satu yang berwarna biru muda, keluaran terbaru Hermes Birkin. Ngomong-ngomong, Yoona adalah gadis yang suka belanja. Ia gemar mengoleksi barang-barang dengan merk terkenal dan tak sedikit di antaranya adalah barang dengan harga yang tak murah. Gadis itu bahkan memiliki tas limited edition Louis Vuiton hingga Prada.

 

“Ini akan cocok dengan dress biru mudaku itu. Hehe”

 

Im Yoona, ia bukan seorang artis atau model. Gadis itu bahkan sering tampil cuek dan apa adanya, namun jangan salah. Ia adalah anak seorang jutawan. Walaupun kedua orangtuanya bercerai, dan Yoona memilih tinggal bersama ibunya namun gadis itu tidak pernah kekurangan.

 

Ayah Yoona adalah seorang pengusaha yang memiliki perusahaan besar bergerak di bidang property dan otomotif terkenal di Skotlandia. Pria berusia setengah abad dengan gelar Profesor lulusan University of Edinburgh itu tak pernah absen mengirimi uang bulanan pada anak gadisnya dalam jumlah yang luar biasa gila. Hal itulah yang membuat hobby belanja Yoona menjadi tersalurkan.

 

Namun Yoona bukanlah bagian dari mereka yang suka berfoya-foya. Gadis berusia 20 tahun itu memilih untuk menabung uang-uang tersebut dan menggunakannya sebagian untuk modal caffe shop yang baru-baru ini dilakoninya. Ya, gadis itu mulai tertarik pada dunia bisnis.

 

“Selesai!!”

 

Yoona telah menyelesaikan ritual wajib para wanita, apalagi kalau bukan berdandan. Terserah, ia memang harus tampil semenarik mungkin agar pemuda menyebalkan tapi tampan itu menyukainya. Ayolah Im Yoona, kau tidak usah repot-repot karena dia memang menyukaimu.

 

“Kau yakin kita tidak diburu fansmu?” Yoona bertanya pelan sambil memilin-milin tali tasnya. Chanyeol sudah tiba sekitar lima menit yang lalu. Kini pemuda itu menunggu Yoona di dalam mobil.

 

“Tenang saja, aku sudah menyewa sebuah resaturant agar kita bebas.” Ujar Chanyeol santai sembari menekan salah satu tombol lalu Lamborghini merah itu melesat membelah Seoul setelah Yoona mendudukkan diri dengan nyaman.

 

“Cih, berlebihan sekali. Memangnya kau pikir kita akan melakukan apa?” Yoona bersedekap dengan bibir terkerucut. Membuat pemuda di sampingnya itu memandang gemas pada bibir pink Yoona.

 

“Makan malam tentu saja. Memang kau ingin aku melakukan apa padamu?” Chanyeol bertanya balik sembari menyeringai. Yoona memutar bola matanya malas. “Aku hanya ingin privasiku dihargai. Sedikit menyebalkan memang ketika kehidupan pribadimu diburu-buru untuk menjadi konsumsi publik.”

 

“Jadi kau tidak nyaman dengan keberadaan fansmu?”

 

“Tidak, bukan begitu. Aku hanya tidak suka jika mereka ikut campur dalam kehidupan pribadiku. Tapi mereka tidak salah, ini adalah resiko menjadi seorang idol.” Ujar Chanyeol lalu diiringi senyuman hangat.

 

“Jadi… apa kau… merasa terganggu dengan keberadaanku?” Tanya Yoona takut.

 

“Kau tidak. Kau berbeda, aku tidak memandangmu sebagai fans.” Pemuda itu berujar santai.

 

Yoona merasakan kedua pipinya memerah, “lalu… kau memandangku sebagai apa?”

 

“Eumm… seseorang yang special, mungkin.” Chanyeol mengedipkan sebelah matanya sambil memandang yoona jahil.

 

“Dasar perayu.” Gadis itu memutar bola matanya malas dan disambut tawa besar Chanyeol.

 

“Kau semakin cantik ketika kau kesal.” Chanyeol berujar membuat debaran jantung Yoona semakin menggila. Namun gadis itu menutupi dengan ekspresi dinginnya.

 

Yoona mengambil kaca kecil dari dalam tasnya, memperhatikan dengan teliti apa ada sesuatu di wajahnya. Lipticknya terlalu tebal mungkin?

 

“Tidak usah khawatir. Kau sudah cantik, Yoona-ya.” Chanyeol berkata sembari nelirik gadis itu nelalui ujung matanya.

 

“Berhenti merayu. Kau pikir aku percaya?” Gadis itu memasukkan kembali cermin kecil miliknya.

 

“Aku tidak merayu. Apalagi berbohong, sungguh… kau cantik apa adanya dirimu. Dan aku… menyukainya.” Pemuda itu tersenyum di akhir kalimatnya, perkataan dan senyumannya membuat Yoona tersipu dan memilih diam mengarahkan pandangannya pada luar kaca mobil.

 

Perjalanan mereka memakan waktu kurang lebih lima belas menit untuk sampai di salah satu restoran mewah di kawasan Gangnam. Sebenarnya bisa lebih cepat lagi, tapi Chanyeol sengaja sedikit mengulur waktu agar ia bisa berlama-lama dengan gadis itu.

 

* * *

 

Makan malam perdana itu berjalan dengan lancar. Chanyeol dan Yoona merasa nyaman satu sama lain. Yoona lebih sering tertawa karena pemuda itu sering melontarkan lelucon, namun tak jarang Yoona dibuatnya kesal karena Chanyeol juga sering menggoda dirinya.

 

“Terimakasih atas makan malamnya.” Yoona berkata ramah disertai senyuman indahnya.

 

“Sama-sama. Aku senang kau mau pergi bersamaku.” Chanyeol menatap Yoona dalam. “Yoona-ya…” Pemuda itu perlahan mendekat pada tubuh gadis itu. Dan si gadis yang didekati mengepalkan kedua tangannya erat di pangkuannya.

 

Ketika wajah Chanyeol hanya berjarak beberapa centi saja darinya ia segera menutup kedua mata dan menahan nafas. Chanyeol menyeringai lalu memberikan sebuah kecupan ringan di pipi gadis itu.

 

Cup!!

 

Yoona membelalakkan matanya. Dan didapatinya Chanyeol tersenyum geli, “ada apa dengan ekspresimu hm?” Chanyeol kembali pada posisinya semula. “Berharap aku menciummu di bibir lagi?”

 

Yoona mendelik lalu detik berikutnya gadis itu mencubit perut Chanyeol dengan keras hingga membuat pemuda itu minta ampun kesakitan.

 

“Kau jahil sekali! Menyebalkaaaannn!” Gadis itu kemudian menghujami pukulan-pukulan kecil tanpa arti di sekujur tubuh Chanyeol dan membuat tawa leras pemuda itu pecah.

 

“Hey hentikan… kau tidak boleh menganiaya idolamu sendiri Im Yoongie!” Dan Yoona berhenti, bukan karena ia ingin. Tapi karena nama panggilan yang batu saja keluar dari mulut Chanyeol.

 

“Im Yoongie??”

 

“Ya, anggap saja itu panggilan kesayangan dariku.” Chanyeol berucap dengan tawanya yang masih tersisa.

 

Yoona memilih mendengus singkat lalu keluar dari mobil mewah itu. “Sebaiknya kau cepat pulang dan beristirahat. Kau ada schedule besok kan?”

 

“Ya, aku masih harus menyelesaikan video 18second ku. Baiklah, selamat malam Im Yoongie.” Ucap Chanyeol disertai satu kedipan mata menggoda. Dan Yoona menghela nafas lelah.

 

“Aku tidak menyangka bisa mengidolakannya.”

 

Yoona memasuki kamar kesayangannya, merebahkan tubuh di ranjang big size itu setelah mengganti baju dengan kaos rumahan berwarna putih polos. Potongan-potongan adegan dirinya bersama Chanyeol tadi terus berkeliaran di kepalanya. Gadis itu bahkan terus tersenyum dan tidak menyadari jika sang ibu sudah duduk nyaman di sampingnya.

 

“Aku heran apa yang membuat putriku selalu tersenyum seperti itu…”

 

“Ibu?!!” Yoona terperanjat duduk. “Sejak kapan ibu di sini?”

 

“Baru saja. Jangan panik begitu.”

 

Wanita paruh baya itu terkekeh geli, “tadi Ayahmu menelfon.” Yoona menatap antusias menunggu sang ibu melanjutkan kalimatnya.

 

“Ia bilang kapan kau akan berkunjung lagi, sudah dua tahun kau tidak mengunjungi ayahmu, nak.” Sang Ibu mengelus sayang rambut panjang putrinya itu.

 

“Oh ibu, aku juga ingin mengunjungi Daddy, tapi kau tau sendiri kan jadwal kuliah ku padat sekali, belum lagi berbagai organisasi yang kuikuti. Membuatku merasa kehilangan banyak waktu, bahkan makan malam bersama ibu saja aku sudah jarang.”

 

Yoona mengenang dirinya yang selalu asik dengan berbagai kegiatan kampus dan membuatnya jarang pulang ke rumah dan lebih sering menginap di asrama kampus.

 

“Ibu mengerti. Tapi ayahmu merindukan putri bungsunya. Dan ia memintamu untuk berkunjung secepatnya. Kalau bisa dalam minggu ini, Yoona.”

 

“Apa? Minggu ini? Ke Edinburgh?!” Yoona menaikan suaranya. “Yaah.. ibuuu…. minggu depan aku mulai ujian…” Sedetik kemudian suara gadis itu melemah dan terkesan merengek kasihan.

 

“Ya, ibu tau. Tapi Grandma juga sedang sakit sayang, beliau ingin segera bertemu denganmu.”

 

“Kalau begitu setelah ujian saja. Tidak lama kok, kurasa dua minggu selesai. Ibu… pleaasse… katakan pada Daddy dan Grandma agar lebih sabar lagi menungguku.” Sang ibu sudah tidak bisa membantah lagi jika putri bungsunya itu mengeluarkan jurus puppy eyes andalannya.

 

* * *

 

“Sedang apa hyung?”

 

Chanyeol duduk dengan nyaman di sofa putih dorm exo itu lalu menggigit apel merah di tangannya, kedua matanya tak lepas dari sang manager yang kini tengah sibuk dengan tablet di tangannya.

 

“Memeriksa jadwalmu. Oh iya, aku hanya mengingatkan kalau 3 minggu lagi kalian ada pemotretan bersama CeCi Magazine. Jadi istirahat lah yang cukup.”

 

“Oh ya? Aku bahkan hampir lupa. Memangnya pemotretan dimana?”

 

“Lokasi syuting Pathcode Sehun.”

 

Dan Chanyeol tersedak gigitan apelnya sendiri. “Aigoo.. kenapa jauh sekali. Sehun pasti senang, dia ketagihan sejak pathcode Call Me Baby bagiannya dilakukan di sana. Bukankah kota di sana angker?” Pemuda itu bergidik ngeri.

 

“Ya, ada beberapa tempat wisata yang seperti itu, tapi tidak semua. Karena kota itu terkenal dengan predikat ‘kota cantik’ nya.”

 

Chanyeol merespon penjelasan singkat itu dengan menganggukan kepala dan kembali menikmati apelnya yang tersisa separuh. Satu tangannya lagi nampak sibuk mengetikkan sesuatu pada ponselnya.

 

Di tempat lain, Yoona yang tengah menikmati Cappucino kesukaannya tak henti-hentinya menebar senyuman. Tiffany yang bersamanya sedari tadi menatap bosan pada gadis yang tengah sibuk berkirim pesan dengan seseorang itu.

 

“Yaak! Kau mengacuhkanku?!” Pekikan keras gadis berdarah Amerika itu merambat di udara.

 

“Jangan berteriak seperti itu Fanny-ya, kau pikir kita sedang berada di hutan?” Yoona kembali fokus pada ponselnya.

 

“Baiklah, baiklah… aku bisa maklum karena efek jatuh cinta memang mengerikan. Tapi setidaknya akan lebih baik jika kau mau berbagi cerita padaku, Nona Im.”

 

“Ah, hehe mian aku keasikan dan lupa menceritakannya padamu. Jadi…”

 

“Jadi apa?!”

 

“Kami membuat janji bertemu di Namsan Tower pada Sabtu Malam.”

 

Heol, sore harinya kita masih ada ujian Yoong!

 

“Iya aku tau. Setelah ujian aku langsung menemuinya.” Jawab Yoona cepat masih dengan senyuman manisnya. Gadis itu tak sabar menunggu Sabtu depan tiba. Ia penasaran apa yang terjadi nanti, apa Chanyeol akan…. Ah tidak! Mereka belum lama saling mengenal. Tidak mungkin kan Chanyeol menyukainya? Yoona berperang dengan batinnya lalu menggeleng-gelengkan kepalanya keras, membuat Tiffany bergidik ngeri lagi.

 

* * *

 

Yoona, gadis dengan rambut panjang bergelombang itu tengah melangkahkan kaki jenjangnya dengan riang. Ketika ujiannya berakhir gadis itu segera berganti pakaian di asrama dengan dress putih cantik yang ia bawa dari rumah. Mantel berwarna cream tak lupa ia kenakan untuk menghalau terpaan dinginnya angin.

 

Yoona bahkan datang lebih cepat sepuluh menit sebelum Chanyeol. Gadis itu mengirim satu pesan pada Chanyeol untuk mengatakan bahwa ia sudah sampai lebih dulu sebelum akhirnya ponselnya mati kehabisan daya.

 

“Ah, ceroboh sekali aku. Tapi untung saja pesanku sudah terkirim.”

 

Yoona berujar sambil menikmati pemandangan indah Kota Seoul dari atas menara Namsan yang terkenal itu. Orang-orang masih ramai berlalu lalang, ada yang mengambil foto bersama dan ada yang menuliskan nama mereka pada gembok lalu menggantungnya di sekitar dinding menara yang dipenuhi ribuan gembok-gembok mungil. Yoona tersenyum melihatnya.

 

Chanyeol berlari terburu manakala mobil miliknya tak bergerak sama sekali karena kemacetan yang menjebaknya. Pemuda itu memutuskan untuk keluar dari mobilnya dan berlari setelah ia membaca pesan gadis itu tanpa membalasnya.

 

“Im Yoona, kumohon.. tunggu aku.”

 

Chanyeol berhenti sejenak dengan nafas terengah, jarak yang masih cukup jauh untuk bisa sampai di Namsan Tower, pemuda itu hendak melangkahkan kakinya lagi sebelum akhirnya ponsel miliknya bergetar. Chanyeol mengira itu adalah Yoona, namun perkiraannya salah.

 

“Park Chanyeol dimana kau?!”

 

“Aku di jalan. Menuju Namsan Tower, hyung.” Chanyeol masih menstabilkan nafasnya ketika sang manager meneriakinya marah.

 

“Apa yang kau lakukan di sana?! Bukankah aku sudah mengatakan padamu bahwa jadwal kita dimajukan??”

 

“Apa? Jadwal apa hyung? Kau tidak mengatakan apapun padaku terkait schedul itu.”

 

“Astaga. Kau lupa atau bagaimana??? Aku mengatakannya tiga hari yang lalu. Pihak majalah meminta pemotretan segera dilakukan karena ada masalah yang terjadi. Sekarang cepat kembali. Malam ini pesawat akan berangkat!”

 

Sialan. Chanyeol benar-benar melupakan perubahan schedule yang mendadak itu. Lalu apa yang harus dilakukannya sekarang? Bagaimana dengan Yoona? Astaga.. Park Chanyeol…

 

“Hyung, tidak bisa kah menungguku sebentar? Aku janji tidak akan lama…” Chanyeol berujar pasrah, sendu meliputi hatinya sekarang.

 

“Tidak ada tawar-menawar lagi Park Chanyeol. Kita terbang malam ini juga!”

 

Dan selesai lah sudah ketika sang Manager menutup percakapan mereka sepihak. Chanyeol mengepalkan tangannya erat, putus asa tatkala mendapati tidak ada tanda-tanda kehidupan pada ponsel Yoona. Pemuda itu mengerang nyaris membanting ponselnya setelah mendengar suara operator yang mengatakan bahwa ponsel gadis itu tidak aktif.

 

“Maafkan aku, Yoona… maafkan aku…” Chanyeol berbalik kembali pada mobilnya dan mengambil arah kembali menuju dorm.

 

Yoona menggosok telapak tangannya yang terasa dingin, senyuman di wajahnya sudah hilang tersapu angin. Suasana di Namsan Tower sudah mulai sepi, para pengunjung telah banyak yang meninggalkan tempat itu. Hanya beberapa pasangan muda saja yang masih tersisa di sana.

 

Kepulan asap hangat itu menguar di udara, keluar dari mulutnya pertanda bahwa suhu sudah semakin dingin. Gadis itu memutuskan untuk beranjak dari bangku panjang yang sedari tadi telah menjadi teman bisunya.

 

“Mungkin aku berlebihan, ya… apa yang kau harapkan Im Yoona,” Yoona menatap sendu jam yang melingkari pergelangan tangannya, jarum jam telah menunjukkan pukul 10.00 KST. Sudut mata indahnya terasa berembun. “Aku… hanya seorang fans yang mengharapkan keberuntungan datang ribuan kali padaku.” Gadis itu melangkah dengan butiran bening yang mengiringinya. Meninggalkan dua jam penantian sia-sianya. Sesak meresap ke relung hati ketika harapan indah itu berujung pada kepahitan.

 

Yoona tidak ingin lagi berharap. Yoona tak percaya lagi pada keberuntungan.

 

* * *

 

* * *

 

* * *

 

EDINBURGH, SCOTLAND. 2015, JULLY 24.

 

Yoona berjalan lesu mengikuti tiga orang di depannya yang tak lain adalah Ayah, Nenek, juga Kakak perempuannya. Ia tidak percaya bahwa sang nenek hanya berpura-pura sakit agar gadis itu segera mengunjunginya. Astaga…

 

C’mon my little princess, you look so bad with that face.” Sang ayah terkekeh lalu merangkul hangat pundak putri bungsunya. “Smile Yoona, smile!”

 

Okay Daddy, sorry for my bad face. I just not in a good mood.” Yoona tersenyum masam.

 

“Daddy! Hanya ada satu cara membuatnya tersenyum kembali.” Sang Kakak menyahut dan dijawab dengan kening mengkerut oleh sang adik.

 

“Shopping!!!” Seru gadis itu dan menyeret Yoona yang mulai tertawa geli.

 

“Ayo Adik!! Ku traktir kau sepuasnya. Kau tau? Aku mendapatkan bayaran yang terbilang gila sepanjang karir bermodelku.” Sang Nenek dan Ayahnya terkekeh mendengar Julie Im terus memamerkan dirinya sendiri.

 

Ya, sehari setelah ujiannya selesai Yoona langsung terbang ke Edinburgh. Gadis itu berniat melupakan kekesalannya setelah malam di mana Chanyeol tidak menepati janjinya.

 

“Melamun lagi ha?”

 

“Tidak. Aku hanya menikmati kecantikan kota ini. Tidak ada yang berubah, semuanya sama seperti dua tahun yang lalu.” Yoona tersenyum hangat ketika mereka melewati kawasan Princess Street, Ocean Terminal, St. James Shopping. Gadis itu selalu terpana pada model bangunan ala Victorian yang tak pernah berubah.

 

Mata Yoona dan Julie berbinar saat mereka melihat deretan barang-barang branded yang ada di Harvey Nicholas. Edinburgh dan kecantikannya membuat siapa saja terpesona, terhipnotis dan lupa waktu hingga akhirnya tak ingin meninggalkan kota itu.

 

“Kalian masih ingin berjalan-jalan? Kita tidak bisa berlama-lama di sini karena Grandma sudah sangat lelah.” Sang ayah berujar pada kedua putrinya.

 

“Aku juga lelah, sepertinya belanjaku juga sudah cukup. Ayo kita pulang.” Julie berkata setuju.

 

“Emm… bisakah aku berjalan-jalan sebentar? Aku masih ingin melepas rindu dengan kota ini.” Yoona bertanya pada keluarga tercintanya.

 

“Baiklah, asal kau menjaga dirimu ‘nak. Segera hubungi Daddy jika terjadi sesuatu.”

 

“Iya, aku mengerti. Thankyou Dad!” Yoona menghambur pada sang ayah. Melambaikan tangan setelah tiga orang yang dicintainya itu memasuki mobil dan pergi dari sana. Yoona mengedarkan pandangan ke sekeliling, mencari sesuatu yang menurutnya menarik.

 

Dan di sana, iris matanya menerawang sesuatu yang cukup menarik perhatiannya. Di pinggir jalan tak jauh dari posisi Yoona saat ini, beberapa pengamen terlihat menampilkan tarian dan nyanyian di sepanjang pertokoan. Ada pula sekelompok pemuda yang menampilkan bakat bermusiknya dengan memainkan berbagai alat musik.

 

Walau tak seramai di Glasgow, Edinburgh memiliki khas dan pesona tersendiri mengingat kota itu adalah kota terbesar nomor dua di Skotlandia setelah Glasgow tentunya. Dan penyanyi jalanan adalah bagian dari keindahan kota itu. Yoona tersenyum bahagia melihatnya, musik mengingatkannya pada…. Oh jangan mengingatnya lagi, Yoona. Kau kesini untuk melupakannya kan?

 

Yoona menghampiri kerumunan itu, ikut berdesak dan mencari celah di antara pengunjung yang tiba-tiba memadati tempat itu.

 

“Maaf, ada apa dengan kerumunan ini miss?” Yoona mencoba bertanya pada seorang wanita muda berambut pirang.

 

“Turis itu menyumbang lagu. Suaranya cukup bagus, dan wajahnya juga tampan. Tadi dia menyanyikan lagu Lucky milik Jason Mraz.” Wanita itu menjelaskan singkat dengan wajah berbinar dan penuh antusias. Membuat Yoona penasaran seperti apa sosok yang tiba-tiba ‘menggemparkan’ kota itu. Oh, berlebihan sekali.

 

Yoona mendesah kesal kala menemukan orang itu duduk dengan gitar di pangkuannya, bukan apa-apa. Ia kesal karena pria itu menutupi hampir setengah wajahnya dengan masker dan topi jaketnya. Darimana tampannya?!

 

Nampak pria itu berbisik pada seseorang di sampingnya yang sepertinya adalah seorang tour guide atau penerjemah dan sejenisnya.

 

“Lagu ini melambangkan perasaannya pada seorang gadis yang sudah ia kecewakan. Pria ini ingin meminta maaf dan menjelaskan semuanya, tapi sepertinya ia tidak memiliki waktu yang tepat. Oleh karena itu… tuan-tuan dan nyonya-nyonya! Mari kita saksikan penampilan pemuda tampan ini!!” Penerjemah itu berujar antusias bak seorang MC acara musik, terdengar riuh sorak soray dan tepuk tangan para pengunjung yang tiba-tiba sidah memenuhi tempat itu.

 

Petikan pertama dari gitar itu pun mengalun di udara, puluhan wajah menatap pemuda itu penuh pesona. Menunggu sosok itu mengeluarkan suaranya. Yoona pun demikian.

 

Her eyes, her eyes

Make the stars look like they’re not shining

Her hair, her hair

Falls perfectly without her trying

She’s so beuatiful, and i tell her everyday…

 

Pemuda itu mulai bernyanyi, sangat jelas terdengar suara beratnya yang agak serak membuat para gadis muda berteriak-teriak histeris. Namun tidak dengan Yoona, gadis itu mengepalkan erat kedua tangannya. Entah mengapa suara tersebut sangat mirip dengan seseorang yang kini tengah berusaha ia lupakan.

 

I know, i know

When i compliment her she won’t believe me

And it’s so, it’s so

Sad to think that she don’t see what i see

But everytime she ask me “do i look okay?” I say…

 

Yoona tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Ia menolak mengingat semua hal-hal singkat yang pernah dilaluinya bersama pemuda itu, tapi hatinya dan pikirannya tak sejalan. Tanpa diperintah mereka mengulang kembali kebersamaan singkat itu. Membuat Yoona merasakan sesak di dadanya karena rindu yang mulai membuncah.

 

When i see your face

There’s not a thing that i would change,

Cause you’re amazing…

Just the way you are…

 

Semakin kuat Yoona menepis ingatan itu, maka semakin sesak dirinya. Gadis itu menangis di tengah kerumunan yang terpesona pada pemuda yang menyanyikan lagu tersebut. Hingga pemuda itu mengangkat pandangannya pada sosok gadis yang tak jauh di depannya. Dan ia tersentak begitu menyadari keberadaan gadis itu, dengan air matanya yang terus mengalir deras.

 

Pemuda itu bangkit sembari tetap melanjutkan lagunya. Tiba di bait terakhir ia sudah berdiri di depan Yoona, menatap kedua bola mata itu penuh arti.

 

Girl you’re amazing… juat the way you are…

 

Tepuk tangan mendayu serentak saat lagu itu berakhir. Pengunjing bersorak puas, beberapa dari mereka kembali melanjutkan perjalanannya dan membubarkan diri.

 

Tapi tidak dengan dua orang di sana, ya… Im Yoona berdiri terpaku bak patung bernyawa, menatap dalam seseorang yang baru saja membuatnya kembali menitikkan air mata.

 

“Maafkan aku…”

 

Suara berat itu terdengar bersamaan dengan tarikan kuat di tubuh Yoona, membuat gadis itu masuk dalam dekapan hangat pemuda di depannya.

 

“Park Chanyeol…” Yoona berbisik di tengah isakannya. Bisikan halus penuh penyesalan itu berulang kali merambat di telinganya. Ya, Chanyeol berulang kali mengatakan maaf hingga Yoona mencengkeram erat bagian depan jaket pemuda itu.

 

“Aku akan memaafkanmu, asal kau jelaskan dulu apa yang membuatmu tidak datang saat itu.” Chanyeol mengangguk dan mengatakan semuanya. Yoona mendengarkan setiap kata yang lolos dari pemuda itu. Sejenak ia berfikir, pantaskah mereka berlaku seperti ini? Pantas kah ia? Sedangkan mereka tidak memiliki hubungan yang jelas sama sekali. Bersembunyi di balik kata ‘teman’ adalah hal paling menyakitkan ketika kau memiliki perasaan lebih pada lawan jenismu.

 

* * *

 

“Jadi hanya kau dan Sehun?”

 

“Ya. Kau harus membeli majalahnya saat sudah terbit nanti.”

 

“Kenapa aku harus?”

 

“Karena aku tampan.”

 

“Jawaban macam apa itu.” Yoona memutar bola matanya malas, jujur… tanpa disuruh pun ia pasti membeli majalah itu. Chanyeol terkekeh lalu menyantap cookies khas Skotlandia yang disebut Scottie Shortbread.

 

Saat ini mereka sedang menikmati bayang-bayang sunset yang mulai berpendar di langit. Kedai mungil di pinggir jalan yang menyajikan kue-kue dan makanan khas Skotlandia itu pun dipilih sebagai tempat mereka saling melepas rindu. Chanyeol tak pernah melepas tatapannya pada gadis yang duduk di sampingnya itu. Pemuda itu bahkan tersenyum sembari menopangkan satu tangannya.

 

“Daripada melihatku makan, sebaiknya kau kembali fokus pada makananmu sendiri Tuan Park.” Ujar Yoona kemduian memasukkan Scoth Broth ke dalam mulutnya. Scoth Broth adalah sup sumsum dan daging sapi yang sangat lezat. Mungkin rasanya seperti sup-sup biasa yang kau nikmati. Tapi itu akan berbeda ketika kalian menikmatinya di Edinburgh, Oh… tentu saja.

 

“Ada sesuatu di sudut bibirmu,”

 

Yoona melirik sia-sia ujung bibirnya, ketika gadis itu hendak menghapusnya dengan ibu jarinya, Chanyeol dengan cepat menahan pergelangan tangan Yoona dan memajukan tubuhnya lebih dekat, “biar aku yang bersihkan”

 

Yoona belum sempat menyuarakan pertanyaannya karena kini Chanyeol sudah menyentuhkan bibirnya pada ujing bibir gadis itu. Dan Yoona merasa ribuan kupu-kupu terbang di perutnya.

 

“Kenapa… sup ini terasa manis?” Chanyeol berucap pelan nyaris berbisik dengan jarak yang masih begitu dekat. Yoona mengerjapkan matanya bingung.

 

“Sepertinya… karena aku menyukaimu,” Pemida itu tersenyum lalu mengecup bibir Yoona. Chanyeol melepas lagi tautan itu lima detik setelahnya, kemudian berbisik dengan menatap pada iris mata indah Yoona.

 

“Tidak, lebih dari itu…” Chanyeol tersenyum sesaat, “sepertinya… aku mencintaimu, Im Yoona.” Dan Yoona merasakan jantungnya menggila ketika Chanyeol menyentuh lagi bibir pinknya, bahkan pemuda itu menggerakkan bibirnya lincah, sesekali melumatnya dan membuat Yoona nyaris pingsan akibat perlakuan pemuda itu.

 

Yoona mendorong dada Chanyeol sedikit menjauh ketika pasokan udaranya mulai berkurang, “Kau tidak ingin mendengarku?” Yoona berujar lirih.

 

“Apa? Tentang apa?”

 

“Perasaanku…”

 

Chanyeol tersenyum dan mengacak puncak kepala gadis itu gemas. “Tidak usah dijelaskan pun aku sudah tau.”

 

Yoona memgernyit bingung, “Semuanya sudah jelas dari sorot matamu.” Dan Yoona tidak dapat lagi menahan senyuman bahagianya, gadis itu memeluk Chanyeol erat dan membenamkan sisi wajahnya pada dada bidang Chanyeol.

 

“Bersiaplah, karena setelah ini kau berhutang penjelasan pada para fansmu.”

 

“Oh, aku hampir lupa. Hey, memang ada yang melihat ya? Ini kan bukan di Korea.”

 

“Kau lupa ya? EXO-L itu ada dimana-mana Chanyeol-ssi! Dan aku tidak mau menjadi sasaran amukan mereka.”

 

“Jangan takut. Aku akan melindungimu. Kita hadapi bersama, berdua.” Chanyeol menangkup pipi Yoona dan memberikan senyum terbaiknya, gadis itu mengangguk balas tersenyum.

 

“Ya, asalkan bersamamu… aku tidak akan takut pada apapun.” Yoona mengecup singkat bibir Chanyeol membuat pemuda itu menatapnya berbinar.

 

“Cium aku lagi.” Bisiknya serak sambil mengedipan sebelah mata.

 

“Dasar pervert!” Yoona menggelitiki perut Chanyeol dan mereka tertawa lepas bersama. Melupakan sejenak segala permasalahan dan menikmati apa yang mereka lakukan sekarang. Menjalaninya dengan senyuman dan kebersamaan, karena mereka percaya… pertemuan ini bukan hanya sekedar kebetulan dan keberuntungan. Tapi satu takdir indah yang sudah direncanakan Tuhan. Tidak peduli kau jatuh cinta pada siapa, jika cinta itu sudah datang maka kau tak bisa menolaknya. Karena cinta adalah hadiah istimewa dari Tuhan.

 

Jangan berhenti berharap.

 

☆END☆

 

Hello!! :’D
Aduuuhh aku malu banget pas ngirim ff ini, gak percaya diri banget selama penulisan dari awal sampai akhir. Jujur aku lagi buntu banget nggak ada ide yang bikin greget. Jadi aku minta maaf banget ya sama kalian yang udah minta sequel Shocking Fansign T.T Pasti ini jauh dari harapan dan ekspektasi kalian. Entah jatohnya jadi membosankan, garing, bahasax gaje, kepanjangan dan sebagainya. Tapi aku tetep bikin sequelnya karena emang lagi gak ada kerjaan banget berhubung kuliah masih libur, hihi😄 Sekali lagi maaf ya, aku emang ga bakat bikin yang panjang2 (oneshoot/chapter) paling banter ficlet :’3 dan buat kalian yg mau berteman sama aku bisa follow aku di instagram @NikenPark😄 hihi

Finally thank you so much for u gaes readers yg kece-kece udah mau baca ff aneh aku dan berkomentar. Annyeong! ^^

45 thoughts on “[Freelance] Lady Luck (Sequel of Shocking Fansign)

  1. Aigoo… Bruntungnya yah jd Yoona.
    Joha, critanya pkoknya daebak.
    Tp alurnya rada kcepatan gk sih pas Chanyeolnya punya perasaan ke Yoona gtu? Coz, aku brasa kcepatn tp its okey.
    Tetp aku suka kok🙂

    keep writting thor!

  2. ehh.. sequelnya udah di post akunya yg telat hehe.. tpi keren kok sumpah.. sking krenya jauh dri byangan aku hehe.. semangat terus buat nlis ff nya ditnggu ff lainnya chingu^^

  3. *blushing* gua /pegangbibir/ kenapa malah gua bayanginnya itu gua , bhahaha kenapa gua bisa jelas gambarnya diotak gua , beruntung ? Itu takdir ih ketemu mulu , gua bayangin yeol oppa kiss gua hadoh :3 #sasaranamukanpans , don’t bully me ini otak gua yg emang ga waras dari sononye , /gulingguling/ when I see you’re facee bhahaahaaa cauze aku emejing just the canyul’s mine bhahaha ohok ohok , ada sequel? #puppyeyes

  4. Adakah yang sbruntung Yoong eonni ??
    Gantikan posisinya sma aku, please !!
    Aku jga pngen dgtuin sma Idol-ku !!
    Ff-nya bkin fansgirl sptiku nge-fly !!
    Keren !!
    Dtunggu krya slnjutnya !!
    FIGHTING !!!

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s