Our Story [1/2]

Our Story poster

Author : Richzeela

Genre  : Marriage Life | Romance | Fluff

Rating : Pg-15

Length : Twoshoot

Cast :

  • Oh Sehun
  • Im Yoona

Poster by nukiy @ posterdesigner

Happy reading | Hope you like it

_

_

_

Wanita cantik dengan piyama biru bermotif kupu-kupu itu memincingkan mata, dan tak habis pikir melihat objek tak menarik di depan matanya. Helaan napas kasar berhembus beberapa kali, begitu panggilannya tak disambut hangat oleh lelaki yang tengah fokus dengan tumpukan kertas di atas meja kerjanya. Laki-laki itu telah menjadi titik fokusnya sejak 30 menit yang lalu. Dan sialnya, ia tak bisa berpaling meski telah diabaikan begitu banyak.

Im Yoona bangkit dari sofa yang sudah tak nyaman ia duduki. Perlahan ia berjalan mendekati si laki-laki yang masih tetap mementingkan perkejaannya. Yoona mendecih, merasa telah diangguri oleh suaminya sendiri, meski ia berdandan begitu cantik malam ini.

Yah, laki-laki itu adalah suaminya.

“Hei, Dokter Oh, kau akan menyesal karena telah mengabaikanku.’’ Wanita itu memperingatkan untuk kesekian kalinya. Namun lagi, sang suami masih tak berdalih dari pekerjaannya.

Yoona mendengus. “Kau bahkan tak mendengarku lagi?”

“Sudah kukatakan aku sedang sibuk. Kau tidurlah lebih dulu, nanti aku menyusul.”

Hanya kalimat itu yang terus Yoona dengar setiap kali ia mengomel. Pria ini bahkan tak punya stok jawaban yang lebih tepat agar membuatnya berhenti mengacau dan pergi tidur.

Bagaimana Yoona bisa menurut kalau begitu?

Huh, malang sekali nasibnya. Seharusnya, sebagai sepasang pengantin yang baru menikah dua minggu yang lalu, mereka sedang berbahagia dan berbagi cinta di saat-saat seperti ini. Bukannya malah diselingkuhi dengan kertas-kertas tak tahu diri itu.

Sial. Yoona merasa telah menjadi janda, meski sang suami jelas di depan mata.

Yak, kau akan tetap seperti itu, eoh? Kau tak mau melihatku?” Yoona menegur dengan suara jengkel. Dan lagi-lagi ucapannya hanya berhembus seperti angin lalu, tanpa digubris oleh pria itu.

Yak, Oh Sehun!” teriak Yoona akhirnya. Kali ini berhasil mengalihkan pandangan pria itu ke arahnya.

Yoona bersorak-ria di dalam hati. Setidaknya, ada kemajuan.

Oh Sehun—pria tampan yang menyandang gelar sebagai dokter spesialis bedah itu menghela napas berlebihan. Dalam diam ia memandangi wajah sang istri sambil bertopang dagu. Ia biarkan wanita yang berpropesi sebagai aktris itu menjadi salah tingkah karenanya. Jujur saja, ia terlalu lelah dengan data pasien yang bertumpuk itu. Ia juga butuh hiburan saat ini. Dengan menyaksikan wajah kikuk istrinya, sudah cukup ia rasa.

Yak yak yak! K-kenapa melihatku seperti itu, eoh? K-kau pikir aku takut?” tanya Yoona terbata.

Sehun tersenyum simpul mendengar dumelan istrinya. “ Kau tidak takut, sayang. Tapi kau gugup,” godanya.

Sontak, Yoona langsung membelalakkan mata. “M-mwoya?”

Kembali Sehun tersenyum manis sambil meregangkan kedua tangannya yang terasa pegal. Bekerja seharian ini membuat tubuhnya agak sulit digerakkan.

“Wah.. sepertinya aku tidak bernafsu bekerja lagi. Sekarang apa yang harus aku lakukan, ya?” katanya kemudian.

“Apa?”

Sehun mengabaikan tatapan bingung Yoona. Perlahan ia bangkit dari kursi kerjanya, lalu mendekati sang istri dengan smirk menggoda.

“Hei, Nona Im, kau harus bertanggung jawab karena telah mengganggu waktu kerja suamimu,” katanya seduktif.

“A-apa? Be.. Bertanggung jawab?” Yoona mundur perlahan, seiring langkah kaki Sehun yang semakin mendekat ke arahnya.

“Kau tahu sendiri, ‘kan? Aku tidak mudah memaafkan seseorang yang telah menggangguku.”

Sehun berhenti melangkah tepat ketika Yoona  telah terpojokkan di dinding. Ia membungkuk, menyalip jarak dengan wanita itu.

“Sekarang, kau harus terima hukumannya.”

Nde? Hu.. Hukuman?”

Sehun mengangguk. Senyuman licik di wajahnya semakin melebar sambil terus memandangi paras cantik Yoona tanpa berbuat apapun. Dalam hati ia tertawa puas melihat raut istrinya yang sangat aneh. Persis seperti kepiting rebus. Ia biarkan wanita itu meneguk salivanya sendiri lantaran terlalu gugup. Sampai akhirnya Sehun tidak bisa menahannya lagi. Tawa renyah itu, meledak seketika.

“BWAHAHAHA.. Lihatlah wajahmu? Lucu sekali! Hahaha..”

Yoona yang awalnya menahan napas mati-matian dan berharap terjadi sesuatu, mendesis begitu tawa lebar Sehun menggema di ruangan itu. Ia mendengus kasar seraya menatap Sehun jengkel yang tak kunjung menghentikan kikikannya.

Jadi pria ini hanya mempermainkannya? Pria ini hanya ingin melihat wajahnya yang seperti…

Aish, dasar sialan! Yoona tidak bisa menerimanya. Mati saja kau Oh Sehun!

DBUK!

“Aw!”

Tulang kering Sehun terasa kebas begitu kaki Yoona mendarat di sana. Tawa lebarnya digantikan dengan rintihan-rintihan kecil karena merasa kesakitan.

Giliran Yoona yang menyeringai puas. Wanita kekanak-kanakan namun setengah garang itu memincing sambil melipat tangan di depan dada, tak peduli akan omelan Sehun karena perbuatannya.

“Kau benar-benar menyebalkan, Dokter Oh. Berani sekali kau mempermainkanku,” ujar Yoona dengan kejengkelan yang tersisa.

Sehun jelas tak bisa menerima tuduhan itu, walau begitulah kenyataanya.

“ Tsk, dasar wanita kejam! Aku kan hanya bercanda!” Untuk kesekian kalinya Sehun mengoceh seperti perempuan.

Yoona tak bergeming. Tubuh tingginya masih berdiri angkuh layaknya bos yang sedang memprovokasi anak buahnya. Sementara Sehun hanya bisa mengelus-elus kakinya yang terasa nyeri, sambil sesekali melontarkan dengusan tak jelas.

Yoona tertawa penuh kemenagan.

“Baiklah, kurasa urusan kita sudah selesai, Dokter Oh.  Aku tidak akan mengganggumu lagi. Silahkan lanjutkan pekerjaan Anda.” Yoona berseru girang sambil membungkuk mengejek, kemudian berlalu dari ruangan itu.

Sehun tercengang menatap tubuh istrinya yang kian menjauh. “Aigoo.. bagaimana bisa aku menikah dengan wanita berkepribadian ganda seperti itu?”

***

Jam beker berdering tepat di angka 8 pagi. Sehun terbangun dari tidur pulasnya. Setengah sadar ia mematikan benda sialan itu dan melemparnya kesembarang arah. Tangan kanannya bergerak kesamping, hendak memeluk seseorang yang biasa menemai tidur indahnya.

Tapi kenapa kosong? Ia tidak menemukan apa-apa.

Sehun meraba kasur berseprai putih itu, namun tetap tidak ada siapapun di sana.

Perlahan kedua matanya mulai terbuka dengan berat. Iris hazelnya mengerjap-ngerjap, berusaha menghalau sinar matahari yang memantul lewat jendela kaca, hingga mata sipit itu telah terbuka dengan sempurna.

Ahh.. ternyata Yoona sudah bangun lebih dulu.

Sehun menghela napas sambil menatap lurus langit-langit kamarnya. Lelahnya belum sepenuhnya menghilang setelah lembur semalaman. Ia bahkan tidak ingat pukul berapa ia masuk ke kamar dan tidur dengan pulas.

Pekerjaanya sebagai dokter memang menyita banyak waktu dan tenaganya. Tapi ia tetap senang, mengetahui itulah yang diinginkannya semenjak ia sekolah dulu.

Setelah merasa kesadarannya benar-benar pulih, Sehun bangkit, lalu berjalan menuju kamar mandi.

Di lain tempat—tepatnya di dapur apartemen mewah itu, tampak seorang wanita tengah mengoleskan selai strawberry kedalam selembar roti. Yoona dengan santai menikmati sarapan pagi sederhananya, ditemani dengan suara radio yang menyuguhkan tembang-tembang lawas era 70-an

Minggu pagi ini, Yoona telah memutuskan apa saja yang akan dia kerjakan.

Sementara Sehun yang sudah selesai mandi, tampak sedang berjalan medekati meja makan. Ia berniat sarapan bersama dengan sang istri.

Tapi apa ini? Yoona tak menyiapkan sarapannya?

“Sarapanku mana?” tanya Sehun, namun tak dipedulikan oleh Yoona.

“Nona Im, sarapanku mana?”

Wanita cantik itu masih asyik dengan kegiatan makannya.

“Im Yoona, suamimu sedang bicara.”

Yoona tetap menghiraukannya.

Aish, meyebalkan!”

Sehun berinisiatif menyiapkan sarapannya sendiri. Tapi tangan Yoona dengan cepat menarik piring berisi roti tawar di hadapannya.

Yak, apa-apaan ini? Kau tak mengizinkanku sarapan, eoh?” Sehun berseru jengkel, namun lagi-lagi Yoona mengabaikannya.

“Astaga, dasar wanita sadis!” umpat Sehun sebal. Istri macam apa yang memperlakukan suaminya seperti ini?

Yoona selesai dengan acara sarapan paginya, tanpa melirik atau bicara sepatah katapun pada Sehun yang masih melongok tak habis pikir. Ia langsung bangkit memindahkan semua yang ada di meja. Benar-benar tak mengizikan Sehun menyentuh roti yang ia beli 2 hari yang lalu.

Melihat gelagat aneh Yoona, Sehun mulai berpikir keras. Kesalahan apa yang telah dilakukannya sampai membuat istrinya sebegitu menyebalkannnya pagi ini? Apa Yoona masih merajuk karena kejadian semalam?

Oh, ayolah! Dia kan hanya bercada! Selera humor wanita ini benar-benar buruk.

“Aku akan keluar sebentar lagi, dan mungkin akan pulang malam. Kau tidak perlu menungguku, dan siapkan makanan sendiri,” Yoona memberitahu Sehun setelah selesai mencuci piring.

Mendengar Yoona bicara, Sehun langsung menoleh dengan kening berkerut. “Memangnya kau akan kemana?” tanyanya, karena setahunya Yoona tak punya jadwal syuting hari ini.

Yoona mendengus. “Kenapa aku harus memberitahumu? Aku juga tak kalah sibuk darimu, Pak Dokter.”

Mwo?”

Yoona tak menjawab lagi. Ia biarkan Sehun tercengang dengan tanda tanya besar. Setelah merasa urusannya di dapur selesai, segera wanita itu berlalu menuju kamar.

Dan yah—lagi-lagi Sehun harus sabar menghadapi istri semacam Yoona.

***

“Untuk obat ini, kau hanya perlu meminumnya 2x sehari, setelah makan pagi dan malam. Sementara untuk yang ini, kau harus rajin mengkonsumsinya 3x sehari. Dan untuk yang lain, kau bisa menebusnya di apotik.” Sehun menjelaskan dengan lantang saat sedang berinteraksi dengan salah satu pasiennya.

“Beristirahatlah yang cukup. Jangan melakukan perkerjaan yang terlalu melelahkan, jaga makanan, dan usahakan untuk rajin minum air putih,” lanjutnya.

Kali ini, pasien Sehun adalah seorang pria SMA yang baru dioperasi seminggu yang lalu karena masalah usus buntu. Awalnya sangat parah, dan untung saja Sehun berhasil membuatnya menjadi lebih baik.

“Ah, ya! Kau juga harus rajin melakukan kontrol seminggu sekali jika ingin cepat sembuh.” Sehun memberitahu sekali lagi.

Nde, terima kasih, Dokter. Saya akan mengingatnya.”

Sehun mengangguk sambil tersenyum hangat saat berjabatan tangan dengan pria itu. Namun tak sengaja arah matanya tertuju pada layar televisi yang menampilkan seorang wanita cantik di sana. Senyuman manisnya mengembang ketika mendengar ucapan artis yang sedang diwawancarai itu.

Melihat gelagat aneh sang dokter, si remaja pria langsung mengikuti arah pandang Sehun. “Ohh.. ternyata Dokter sedang menonton Im Yoona,” gumamnya.

Nde?” Sehun tampak kebingungan. “Ah.. ye..,” lanjutnya setelah paham.

“Apa Dokter menyukainya?” tanya pria itu lagi.

Nde?” Kembali Sehun mendelik. Ia terkejut bukan main. Kenapa pasiennya jadi menanyakan hal-hal seperti itu?

“Banyak sekali yang mengidolakan Im Yoona. Bahkan tidak sedikit aktor dan idol tampan yang menjadikannya sebagai type wanita ideal. Saya juga demikian. Gadis yang ingin saya kencani—setidaknya punya sedikit kemiripan dengan Im Yoona.”

Mwo??”

Apa yang sedang bocah ini bicarakan? Apa dia sedang berusaha mengompori Sehun? Seharusnya ia tahu dengan siapa ia berhadapan sekarang. Tapi sepertinya anak ini tak tahu-menahu akan arti tatapan tajam Sehun, dan terus melanjutkan ucapannya.

“Menurut rumor yang beredar, Im Yoona sudah menikah. Tapi tak ada satupun yang dapat membuktikannya. Dan Yoona juga tak pernah mengkonfirmasi. Kalaupun rumor itu benar, saya sangat berharap dia menikah dengan Siwon super junior.”

“Apa?!” Sehun terbelalak. “Yak! Bagaimana bisa kau berkata begitu, kau seharusnya tahu jika Yoona—aish!”

Sehun segera mengendalikan dirinya saat sadar ia hampir kelepasan bicara. Ia mendesah frustasi, sebelum akhirnya mengelus dadanya pelan, berusaha mengingat satu fakta di dalam hati..

Tenanglah, Oh Sehun.. Tenang… Yoona hanya milikmu, oke? Hanya milikmu.

Kemudian ia berdehem, berusaha mengembalikan suasana pada keadaan semula. Ia tidak boleh membuat kecemburuannya terlihat jelas sehingga menimbulkan kecurigaan.

“Kenapa? Kenapa kau berharap begitu? Apa menurutmu mereka terlihat pantas bersama-sama?”

Nada suara Sehun rendah. Namun kalimatnya menusuk yang diartikan si pasien hanya sebagai pertanyaan biasa. Sehingga tanpa sadar, ia membuat Sehun semakin kebakaran jenggot.

“Tentu saja. Mereka sangat cocok. Tampan dan cantik, berasal dari keluarga terpandang, dan saya pernah mendengar jika type wanita idela Siwon adalah Im Yoona. Apalagi yang kurang?”

Sehun meneguk saliva sendiri dengan susah payah. Dalam hati ia mengutuk si pasien yang terus membual dan membuatnya semakin jengkel saja. Tapi lagi-lagi Sehun harus  berusaha menahannya. Bagaimanapun, tidak mungkin ia membiarkan semuanya terbongkar hanya karena masalah konyol seperti ini. Bisa-bisa tubuh kurusnya tinggal tulang karena dicabik habis-habisan oleh istrinya yang galak itu.

“Sepertinya kau tahu banyak tentang Im Yoona, ya?” kata Sehun kemudian, masih berusaha mengontrol emosinya.

Nde, saya tahu. Apa Dokter mau mendengarnya sebagian?”

Sehun terkekeh. “Kenapa aku harus mendengarnya?”

“Bukankah Dokter fans Yoona juga?”

“Aku tidak.”

“Benarkah? Tapi bukannya tadi—”

“Kau sudah bicara terlalu banyak, Dongho-ssi. Bukankah aku baru saja memberitahumu untuk tidak melakukan perkerjaan melelahkan? Terlalu banyak bicara tidak baik untuk kesehatanmu, karena itu sebaiknya kau pulang dan istirahat.”

Nde? Tapi saya tidak kelelahan. saya hanya—”

“Wajahmu terlihat lelah.”

Pria itu nampak kebingungan. Sungguh ia merasa baik-baik saja, tapi kemudian ia menangkup kedua pipinya untuk memastikan.

“Ahh.. benarkah? Baiklah kalau begitu, saya akan segera pulang dan istirahat. Sekali lagi terima kasih dan sampai jumpa, Dokter Oh,” serunya antusias sambil menunduk sopan.

Sehun hanya membalasnya dengan senyuman kecil. Jujur saja, ia masih terlalu kesal saat ini.

Setelah si pasien menghilang dari pandangan matanya, barulah Sehun menggerutu sepuas-puasnya. Ia menumpahkan semua yang ingin ia katakan.

Aigoo.. benar-benar tidak sopan! Mana bisa dia mengatakan omong kosong begitu pada dokter yang telah menyelamatkan nyawanya! Dan apa tadi? Dia berharap mendapatkan gadis yang setidaknya punya kemiripan dengan Im Yoona? Tsk! Kau pikir dengan wajah seperti itu kau pantas menjadikan istriku sebagai type-mu? Huh! Benar-benar tidak tahu diri!

“Dan kau!” Sehun menatap tajam layar televisi. “Apa kau selalu tebar pesona, eoh? Kenapa ada banyak sekali namja di sekitarmu? Apa kau bahagia menjadi type ideal mereka? Ayo jawab!”

Oke, sepertinya Sehun sudah mulai gila sekarang.

***

Gomawo, oppa. Dan maaf, aku sudah banyak merepotkanmu hari ini.”

“Tidak apa-apa. Aku senang bisa membantumu, Yoong. Lain kali jika perlu sesuatu, kau bisa langsung memberitahuku. Aku pasti akan membantumu.’’

‘‘Nde, kamsahamnida.’’

“Ah ya.. apa aku perlu mengantarmu sampai ke atas?”

Eoh? A-aniyo! Tidak perlu repot-repot. Aku bisa sendiri.’’

Gwenchana.. Sekalian aku bisa—”

A-andwe! Biar aku sendiri saja.”

Waeyo? Apa aku tidak boleh mampir ke apartemenmu? Aku bahkan belum pernah melihatnya.”

“Bukan begitu. Sekarang sudah ralut malam. Oppa pulang saja, eoh?”

“Ck, apa-apan ini? Aku pikir akan ada secangkir kopi setelah menemanimu seharian ini.”

“Hehe..mianhae… Aku akan meneraktir oppa besok saja, bagaimana?”

Aigoo… kau ini. Ya sudah, aku langsung pulang saja. Kau masuklah, dan jangan lupa langsung istirahat. Kau pasti sangat kelelahan setelah jadwal syuting hari ini.”

Uhm, arraseo. Oppa berhati-hatilah!”

Nde. Sampai jumpa besok, Yoong!”

“Sampai jumpa besok, oppa!

Yoona menghela napas lega setelah sedan hitam yang barusan ia tumpangi telah menghilang dari pandangan matanya. Ia sempat was-was kalau-kalau lelaki itu tetap ngotot mampir ke apartemnnya. Tapi untung saja lelaki itu masih memikirkan privasinnya. Dan kalau pun tidak, Yoona tetap akan menahan pria itu untuk tidak masuk. Ia belum siap pernikahannya diketahui oleh orang lain. Belum siap melihat reaksi publik lebih tepatnya. Walaupun pada akhirnya ia harus memberitahu. Tapi tidak sekarang. Tidak untuk saat ini.

Dibalik gedung apartemen itu, tampak seorang pria tengan menahan kekesalannya. Tapi ia buru-buru pergi begitu melihat wanita yang sejak tadi ia awasi itu mulai berjalan mendekati pintu masuk.

Ia tidak boleh ketahuan. Wanita itu tidak boleh melihatnya seperti seorang penguntit, atau ia akan menjadi bahan olok-olokannya malam ini. Karena itu ia berlari secepat yang ia bisa, sebelum wanita itu menyadari keberadaannya.

“Aish.. semoga saja dia tidak melihatku!”

***

Hai.. Hai.. ini adalah FF pertama aku setelah di terima di YoongEXO. Tadinya sih mau buat oneshoot, tapi aku takut kepanjangan trus nanti pada bosen bacanya. Jadinya aku cut sampai di sini dulu😀 Belum ada komplik nya sama sekali, karena masih pengenalan karakter tokoh, itupun belum teralalu jelas kayaknya hehe..

Mian ya chingu kalau ini FF jelek bin absurd banget L Aku masih seorang newbie, belum terlalu berpengalaman dalam dunia tulis menulis. Untuk typo dan tanda baca yang salah juga maaf banyak banyak deh.. maklum aku masih belajar hehe..

Jadi kalau bisa jangan lupa tinggalin jejak ya..😉

Oke deh, makasih udah mau baca❤

63 thoughts on “Our Story [1/2]

  1. Wah Daebak thor ceritanya bagus, moment Yoonhun nya lucu banget 😁 ditunggu next nya thor.. jgn lama2 ya thor

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s