[Freelance] Enamorada (Chapter 4)

enamorada-by-pinkypark

Title       : Enamorada

Author  : Pinkypark

Cast       : Im Yoona & Oh Sehun

Genre   : Romance

Length  : Chaptered

Rating   : PG-17

Silent Readers please go away

.

Kau perlu melihatnya dari kaca mataku, aku akan meminjamkannya jika kau mau.

***

Ada segelas kopi hitam yang masih mengepul asapnya di atas meja. Yoona hanya duduk diam memandanginya. Di luar sedang hujan, entah kenapa beberapa hari terakhir ini cuaca begitu mendung dan kelam. Jam dinding berwarna coklat tua yang Yuri beli saat mereka pertama pindah menunjukkan pukul empat sore. Dan apartemen begitu sepi.

Gadis itu, Yoona—sedang membungkus lututnya dengan kedua tangan, dagunya dia taruh disana, matanya menatap pada gelas kopi, tapi tatapannya menerawang jauh—jauh sekali. Ada banyak yang terjadi belakangan ini, dan dirinya dibuat pusing oleh perasaanya sendiri. Setelah malam itu, setelah dirinya meninggalkan Sehun dengan kemarahan yang tidak pantas mengingat pria itu tidak bersalah atas apapun, perlahan-lahan—Yoona merasakan sebuah kekosongan di hatinya, apa? Hampa?

Seperti itu, seperti ada yang hilang. Seperti dibuat khawatir karena tidak ada yang akan datang untuk setiap masalah yang dimilikinya. Seperti dibuat merasa tidak aman karena tidak ada pria itu di sampingnya. Perasaan itu konyol, dan anehnya justru membuat Yoona menangis.

Dia baru saja bergerak, mengangkat kepalanya dan menghapus dua bulir air mata yang baru saja turun. Matanya memang tidak begitu sembab seperti empat hari yang lalu, tapi perasaan itu, perasaan mengganggu itu, masih sama seperti sebelumnya.

Semenjak malam itu, saat dirinya diantar Joe pulang ke apartemen dan meninggalkan Sehun di pesta. Pria itu tidak pernah menghubunginya lagi. Apakah akan berakhir seperti ini? Nyatanya seperti itu, Sehun mungkin sudah bersenang-senang dengan wanita cantik yang lain. Yang lebih menarik, yang lebih pantas untuk bersamanya.

Seperti kemarin, Yuri yang memang selalu tahu segalanya—termasuk mengetahui bahwa sahabatnya sedang merasa sedikit patah hati, mengabarkan bahwa Oh Sehun terbang ke California untuk menghadiri sebuah perayaan bergengsi. Dan Seunghyun yang notabene adalah rekan kerja Yuri berhasil menangkap kebersamaan Sehun dengan seorang wanita cantik, tinggi, dan sexy disana.

Itu sialan, itu menyebalkan. Dan walaupun Yoona bersikukuh dirinya tidak peduli dan baik-baik saja. Malamnya dia secara diam-diam membuka Google dan membaca apapun yang terjadi disana. Termasuk melihat Sehun merangkul pinggang kecil gadis itu.

Dan Yoona pun menangis lagi. Entah kenapa, entah apa sebabnya.

Yoona menoleh saat ponselnya berbunyi, itu dari Alice Kim. Rekan kerjanya di kantor.

“Halo.”

Hai Yoona.

“Hai, ada apa?”

Bagaimana cutimu?

Yoona melirik sekilas pada sekelilingnya, cutinya menyenangkan—beberapa hari ini yang dia lakukan hanya tiduran di atas sofa atau melamun memandang jendela. “Menakjubkan sekali rasanya.”

Alice terkekeh, tawanya seperti anak kecil. “Tapi besok kau sudah masuk kerja kan?

“Ya.”

Jeanna sudah menyiapkan project khusus untukmu. Percayalah, dia begitu kesal karena kau mengambil cuti di minggu yang sibuk ini.

“Oh, dia selalu menyebalkan seperti biasa.”

Kau benar, kemarin dia menjerit seperti orang gila karena aku lupa menulis namanya di artikel utama.

Yoona tertawa, tidak lepas, tidak enak. “Kau selalu begitu Alice. Kasihan dia, karenamu wajahnya menua dengan cepat.”

Alice tertawa untuk kedua kalinya, dia sepertinya sedang santai. “Tapi, kupikir ada yang salah denganmu? Kau baik?

“Ada apa?”

Tidak, kupikir ada yang terjadi padamu. Mau bercerita?

Gadis itu tersenyum, Alice adalah teman baik baginya. Memang tidak segalanya seperti Yuri. Tapi Alice cukup. Dia memiliki komposisi yang baik untuk dijadikan teman pencerita. “Tidak apa-apa Alice, aku hanya merasa penat. Belakangan ini aku bisa berpikir dengan lebih terbuka. Terakhir kali emosiku begitu tidak terkendali, kupikir itu pengaruh pekerjaan. ” ucap Yoona.

Alice tidak langsung menjawab, gadis itu mungkin sedang berpikir. Lalu beberapa detik berikutnya suara gadis itu terdengar lagi. “Yoona, terkadang kau memang hanya perlu melihat dari kaca mata lain. kaca matamu memang penting, tapi belum tentu kaca mata lain tidak lebih baik. kau bisa melihatnya dari berbagai sisi. Itulah hidup. Kau perlu belajar untuk mengerti keadaan. Mengapa seseorang seperti ini, mengapa seseorang melakukan ini, apa hubungannya denganku, apa yang dia inginkan dariku. Semua pertanyaan itu, kau bisa menjawabnya. Lihatlah dari kaca mata yang lain.”

Itu sedikit menggetarkan perasaan, Yoona merenung saat kata-kata itu mengalir di pendengarannya. Alice mungkin sedang tersenyum, tapi dia benar. Gadis itu mengangguk walau sadar Alice tidak bisa melihatnya, dia berkata, “Terimakasih Alice. Kau tahu, sekarang aku paham apa maksudnya.”

Apa?

“Apa maksud dirinya. Apa keinginan dirinya, aku mulai mengerti.”

Oh Tuhan, aku ingin tahu siapa laki-laki itu!

Kali ini Yoona tertawa dengan renyah. “Belum Alice. Aku belum yakin, tapi aku ingin memastikannya.”

Aku pastikan kau mengatakannya padaku nanti!

“Baiklah, aku akan tutup telepon kalau begitu? Selamat istirahat. Kita bertemu besok.”

Tentu Yoona. aku senang kau baik-baik saja.”

“Sampai jumpa Alice.”

Sampai jumpa.

Sambungan terhenti. Yoona menaruh ponselnya di atas meja. Dia lalu mengambil cangkir kopi yang asapnya mulai memudar, lalu pelan-pelan meminumnya. Pikirannya kembali berkelana, tentang semua kejadian yang terjadi padanya.

Pria itu—Oh Sehun. Yoona tahu, pria itu menyukainya. Dia mengatakannya, tapi memang tidak mudah, mengingat siapa pria itu. Dia memiliki segalanya, lalu menyukai yang tidak punya apa-apa. Yoona tersenyum lagi, tapi bukankah itu semua tidak ada hubungannya?

***

Suasana pagi yang tidak begitu baik. Baru saja tiba dan meletakkan tas di atas meja kerja, suara Jeanna yang melengking seperti kucing hutan sudah menggema di ruangan. Dan detik itu Yoona berlari ke ruangannya. Menatap pada wanita paruh baya dengan kaca mata menggantung di hidung dan bibir merah merona yang menggoda.

Wanita itu membaca setumpuk berkas yang kusut, sepertinya sudah dia bolak-balik sebanyak ratusan kali. Wajahnya ditekuk, dia memang mandi pagi ini, tapi dia juga terlihat berantakan sekali.

“Bagaimana cutimu Nona? Senang?” dia bersuara di tengah-tengah aktivitasnya membolak-balik halaman dengan cara mengerikan. Mendengarnya membuat Yoona bergidik, tapi gadis itu melangkah lebih dekat dengan gugup.

“Ya, itu cukup menyenangkan.”

Jeanna yang sedang uring-uringan itu menghentikan aktivitas membacanya dan menatap Yoona dengan tajam. Yoona terkejut sekali melihatnya. Itu mengerikan. “Kau pergi saat pekerjaan sedang menumpuk. Dan kau memasang senyuman tolol itu sekarang?” Yoona menarik senyumannya menjadi ekspresi kaku yang ketakutan. Wanita yang duduk di meja kerjanya itu kini melepas kaca matanya. Dia menilai pada Yoona. “Aku muak padamu! Mengapa kau tidak cuti untuk selama-lamanya saja!”

Memang sudah dipastikan kata-kata itu akan terlempar. Tapi mendengarnya memang cukup mendebarkan. Terlebih karena Yoona yakin seantero kantor pasti baru saja mendegar teriakan wanita itu. “Maafkan aku.”

“Jangan minta maaf! Itu tidak berguna! Sekarang aku ingin bertanya padamu.”

“A –apa ?”

“Dari mana kau mengenal Oh Sehun?”

Wow, itu pertanyaan yang begitu tajam. Gadis itu membulatkan matanya, antara bingung dan takut. “A –apa maksudnya?”

“Kita akan memintanya untuk wawancara dan melakukan beberapa pemotretan. Tapi sebelum itu dia meminta beberapa rincian acara, dan dia ingin kau yang datang menjelaskan padanya,” jawab wanita itu. Yoona semakin membulatkan matanya, terlebih karena Jeanna kali ini memicingkan matanya seperti orang curiga. “Tidak! maksudku kenapa kau? Kenapa kau yang dia pilih saat beberapa hari ini aku bekerja sangat keras dan kau liburan seperti manusia tolol.”

Yoona tertegun mendengar luapan emosi atasannya yang terdengar jelas seperti orang sedang cemburu. Maksudnya, kenapa wanita dengan umur seperti dirinya masih mendambakan kasih sayang dari playboy sialan seperti Oh Sehun.

Yoona meneguk air liur yang beberapa detik lalu ditahannya.

Pertama aku tidak berlibur Nyonya. Aku diam di apartemen dan menangis.

Kedua walaupun seandainya aku tidak ada di dunia ini, aku tidak yakin dia akan memintamu untuk melakukannya. Maksudku, karena mungkin dia akan memilih sesorang yang memungkinkan untuk sekaligus dia ajak ke dalam kamar.

Yoona menggerutu dalam hati. Tapi yang terjadi pada wajahnya hanya secarik senyuman kecil yang terpaksa.

“Kau mengenalnya?”

“Ya.”

“Bagaimana bisa?” pekik wanita itu.

“Aku mengenalnya. Kupikir dia ingin lebih leluasa untuk menanyakan apapun.”

Jeanna tampak bingung, tapi dia memakai lagi kaca matanya dan mulai membaca. “Pergi sekarang, Alice akan memberimu alamatnya.”

Itu cukup. Dan Yoona berbalik meninggalkan ruangan. Meninggalkan atasannya yang mungkin memiliki ketertarikan tersendiri kepada seorang Oh Sehun. Seperti biasa, pria itu memiliki caranya sendiri untuk membuat wanita tergila-gila.

Yoona menghentikkan langkahnya di hadapan meja Alice yang berantakan. Alice mengikat rambutnya seperti buntut kuda, matanya cantik, walau maskaranya sedikit belepotan karena baru saja dirinya mengusap mata.

“Apa yang terjadi?” tanyanya.

“Dia memintaku cuti untuk selama-lamanya.” Jawab Yoona.

Lalu Yoona dan Alice tertawa renyah. Tidak peduli jika Jeanna akan mendengarnya. “Tapi kau harus pergi sekarang. Ini alamatnya.” Alice menyerahkan secarik kertas biru tua bertuliskan sebuah alamat tempat pria itu meminta bertemu. “Aku sudah mencari alamatnya, sepertinya itu hobinya.”

“Apa?”

“Pergi dan lihat saja sendiri. Ini yang harus kau jelaskan padanya,” jelas Alice. Dia lalu menyerahkan satu map berwarna putih kepada Yoona.

Yoona menatap lagi pada alamat di tangannya, kemudian mengangguk paham dan pergi setelah mengambil tasnya di atas meja.

Keanehan lainnya, seperti rasa antusias. Padahal dirinya tidak tahu apa yang harus dikatakan. Hari ini, untuk pertama kali yang kesekian kalinya, dirinya akan bertemu lagi dengan Oh Sehun.

***

Yoona ternganga saat baru saja turun dari SUV mewah milik Oh Sehun. Dipikirnya dirinya akan naik taxi saja, tapi saat dirinya baru saja melangkah keluar gedung tiba-tiba Joe menghampirinya dengan segala hormat. Dan disinilah dirinya. Di kawasan berbatu tinggi khas anak-anak pecinta alam. Arena panjat tebing memang menakjubkan, tapi tidak pernah terbayang olehnya seorang Oh Sehun adalah salah satu pecintanya.

“Dia dimana?” Yoona bertanya pada Joe yang berdiri di belakangnya saat gadis itu berhenti melangkah.

“Di atas sana.”

Yoona mengikuti arah pandang pria itu, pada salah satu tebing yang dinaiki oleh beberapa orang. Salah satunya pasti Oh Sehun. Berkutat dengan tali-tali dan bergelantungan seolah-olah nyawanya ada dua belas.

“Dia yang mana?” kali ini Yoona sedikit melirik ke belakang, memastikan Joe masih bersamanya.

“Mari saya antar.”

Joe berjalan di depannya, dan Yoona mengikuti seperti orang kebingungan. Mereka berhenti di dekat tebing. Ada beberapa tas dan kursi lipat, sepertinya ini tempat Oh Sehun beristirahat. Lalu matanya mengarah ke atas lagi. Dan tepat pada saat itu dirinya melihat senyuman konyol terpatri di wajah seorang pria. Dia memakai kaos hitam ketat dan celana training abu-abu, dia memakai topi dan walaupun dari kejauhan, dia terlihat sangat tampan.

Yoona belum bisa bereaksi, dirinya hanya menengadah saat menyaksikan pria itu perlahan-lahan turun seperti seorang professional. Beberapa menit berikutnya, pria itu menginjak tanah lalu tersenyum lebar dengan cara yang sangat.. Sehun!

Pria itu dibantu pria lain untuk melepas tali yang mengikat tubuhnya, kemudian setelahnya berjalan mendekat kepada Yoona. itu perasaan baru, seperti lega karena sudah melihatnya lagi. Sehun tampak baik-baik saja, dan Yoona mendapati dirinya bersyukur untuk hal itu.

“Apa kabarmu?” suara Sehun pelan, dia enggan menghilangkan senyumannya walaupun Yoona tidak tertarik untuk membalasnya.

“Aku baik.”

Dia merenggut saat mendapati gadis di hadapannya membatasi diri, “Kau makan dengan baik?”

“Apa?”

“Kau terlihat lebih kurus.”

“Aku baik-baik saja.”

“Yoona—”

“Kita bisa mulai sekarang? Aku akan menjelaskan semuanya.”

Sehun membuang nafas berat, dia melirik Joe dan menganggukan kepalanya seperti memberi isyarat. Joe menarik dua kursi lipat lalu berjalan pergi.

“Duduklah Yoona.”

Gadis itu tidak ingin membuat dirinya terlihat mudah, jadi dia hanya berdiam diri seraya duduk di atas kursi. Sebenarnya dirinya ingin tersenyum seperti pria itu, tapi mengingat apa yang terjadi, mengingat Sehun belum menjelaskan tentang California dan gadis cantik yang dirangkulnya, Yoona putuskan untuk tetap bersikap dingin.

Sehun ikut duduk, dia bersandar dan memperhatikkan gadis yang tengah enggan menatapnya itu.

“Ada banyak yang harus aku jelaskan bukan?”

Yoona menatap pria yang duduk di hadapannya dengan datar, “Apa?”

“Ada banyak sekali kesalah pahaman di antara kita Yoona. Aku tidak ingin kau menjauh.”

Ucapan itu seperti bersungguh-sungguh. Yoona bersumpah ingin mempercayainya. Tapi ketakutan itu datang lagi. Seperti malam saat mantan pacar Oh Sehun memakinya dengan brutal.

Sehun menajamkan pandangannya, lalu mengunci mata cantik itu agar tidak kemana-mana lagi. “Aku menyukaimu Yoona. mengapa kau begitu sulit?”

Itu sepenuhnya mengejutkan. Yoona dibuat bingung saat itu juga, “Oh, kau tidak tahu malu sekali Tuan. Sudah jelas-jelas aku tidak tertarik denganmu sejak awal.” Gerutuan itu terdengar saat gadis dengan rambut tergelung berwarna coklat itu menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Matanya yang besar menatap terang-terangan pada sosok angkuh yang kini mematung di hadapannya.

Pria itu tampan, tapi baru saja dirinya merasa tidak percaya diri karena ucapan gadis di hadapannya. Kepalanya menggeleng tidak mau tahu. “Aku akan mendapatkanmu Nona.”

“Tidak—tidak. Tuan! Kenapa kau tidak mencari gadis lain dan melupakanku saja?”

Tidak butuh hitungan ketiga sebelum akhirnya Pria itu tergelak keras. Kulit wajahnya yang seputih susu sedikit memerah karenanya. Katanya, “Jawabannya ada dua sayang. Yang pertama tidak mungkin, yang kedua—mengingatmu itu menyenangkan.”

Sialan! Yoona merasakan pipinya memanas dan tentu saja seratus persen memerah. Gadis itu terpana untuk sebentar tapi kemudian mengerjap bingung sembari menarik nafas panjang.

“Oh Sehun, aku—”

“Mau memanjat bersamaku?”

“Hah?”

Sehun tersenyum jahil, tangannya terulur kepada Yoona. gadis itu tampak kesal, tidak tahan dengan cengiran tolol dari pria tampan di hadapannya. Tapi anehnya, seperti tersihir untuk kesekian kalinya, gadis itu menyambutnya. Lalu tangannya digenggam dengan erat. Dirinya memang kesal, tapi ini terlalu menyenangkan untuk ditolak.

***

“Aku ingin turun!” Yoona berbisik pada Sehun yang saat ini tangannya membungkus dirinya dengan erat. Mereka berdua bergantungan di sisi tebing. Baru saja Yoona melepaskan pegangannya pada tebing dan setelah acara jerit-menjerit yang konyol, gadis itu berhenti dan mendesah lega karena Sehun sudah menangkapnya. Membuat mereka berdua bergelantungan seperti sekarang ini.

“Sabar Yoona, aku sedang berusaha.”

“Aku akan mati Sehun!”

Sehun tertawa kecil, “Kalau begitu kita mati bersama-sama.”

Gadis itu memukul pundak pria itu dengan kesal, “Aku serius, tidak ada harapan lagi! Kita akan jatuh.”

“Berhenti berpikiran negatif, kita akan baik-baik saja. Tenanglah, kau bersamaku.”

Yoona tidak bisa berkata-kata lagi, dia menatap Sehun yang masih memeluknya dengan sebelah tangan seraya berusaha untuk turun perlahan-lahan. Ini memang menakutkan, tapi rasanya begitu menenangkan jika Sehun berkata semuanya akan baik-baik saja.

Mereka sangat dekat, cukup dekat untuk merasakan detak jantung satu sama lain. Pria itu merasakan tatapan Yoona di wajahnya. Lalu mereka berdua bertemu pandang.

“Kau bingung Yoona.” Sehun bergumam pelan, dia serius kali ini. “Kau bingung dengan perasaanmu sendiri.”

“Apa maksudmu?”

Sehun perlahan-lahan mendekatkan wajahnya, begitu dekat—begitu hangat. Hidung mereka saling bersentuhan. “Hentikan Yoona. kau berpikir terlalu jauh. Faktanya adalah aku menyukaimu saat ini. Tentang masa laluku, aku tidak bisa mengubahnya, itu adalah fakta yang harus kau terima.”

Yoona memejamkan matanya, lalu membukanya lagi dan menemukan Sehun masih menatapnya—menunggunya berbicara. “Sehun, mengapa kau menyukaiku?”

“Akan butuh waktu yang lama untuk mengatakannya. Itu terlalu banyak.”

“Mengapa kau memilihku? Mengapa harus aku?”

“Karena kau adalah kau.”

“Aku tidak seperti mereka.”

“Lebih tepatnya, mereka tidak sepertimu.”

“Aku tidak pantas mendapatkan semua ini, mendapatkanmu.”

“Yoona, sudah kukatakan padamu. Kau sempurna.”

“Kau salah. Tidak ada yang sempurna.”

Sehun tersenyum dengan cara yang begitu tampan, “Kalau begitu aku akan menjadikanmu sempurna.”

“Mengapa kau berpikir begitu?”

Lagi—Sehun tersenyum, dia memeluk Yoona lebih erat lalu mengecup singkat pada pipi gadis itu. “Karena aku mampu. Dan aku akan meletakkan dunia di bawah kakimu.”

***

Masih dengan kopi yang mengepul di atas meja, Yoona tersenyum senang. Dia memeluk lutut lagi, tapi tidak dengan air mata menggenang seperti kemarin-kemarin. Minggu ini melelahkan, masih dengan Jeanna yang iri padanya, dan Sehun yang berusaha mendapatkan dirinya.

Gadis itu menghembuskan nafas pelan, tangannya terangkat untuk mengambil gelas kopi. Dia tersenyum sebelum meminumnya. Membayangkan saat-saat di tebing bersama Sehun, juga penjelasan singkat yang begitu merapikan keadaan.

Seperti biasa, Sehun menunggu dan Yoona berusaha percaya. Memastikan diri, memastikan perasaanya, karena sejatinya—tidak ada wanita yang ingin gagal kedua kali.

Yoona ingin seseorang yang benar mencintainya, bukan hanya karena kecantikkan atau kecerdasan, tapi karena perasaan itu memang ada. Sayangnya, itu belum terlihat. Dirinya masih bingung, apa yang aku rasakan? Apa aku menyukainnya? Apakah dia orang yang tepat? Apakah dia bersungguh-sungguh?

Semua pertanyaan itu, belum terjawab, tapi akan terjawab, saat nanti—Tuhan mengijinkannya.

Bel berbunyi, Yoona segera menaruh kopinya dan berjalan pada interkom. Oh Sehun ada disana, hanya mengenakan kemeja putih santai dan wajah dinginnya. Yoona lekas membuka pintu dan mematung saat lagi-lagi pria itu terlihat begitu tampan dan berkelas.

“Halo..”

“Hai, apa yang kau lakukan disini?”

Pria itu mengendikkan bahunya. “Entahlah aku bingung, tadi aku sedang bekerja di ruanganku. Lalu tiba-tiba aku memikirkanmu. Sepertinya aku rindu.”

Oh itu begitu romantis. Yoona tersenyum kecil dan membuka pintu lebih lebar. “Mau masuk dan minum kopi?”

“Dengan senang hati.”

Sehun masuk dengan senyuman kecil terpatri di wajahnya, Yoona berjalan menuju sofa dan diikuti olehnya. Gadis itu melirik singkat pada Sehun yang sudah duduk nyaman di atas sofa. “Mau teh atau kopi?”

“Sebelumnya kau mengajakku minum kopi. Kopi saja? Sesuai rencana?”

Gadis itu melukis sebuah senyuman kecil di wajah cantiknya, “Baiklah Tuan, tunggu sebentar.”

“Kemana Yuri?”

Yoona menjawab sembari berlalu kearah dapur. “Jadwal mingguan, dia menginap di rumah pacarnya.”

“Itu kejutan untukku Nona,” gumam Sehun tanpa menghilangkan senyuman di wajahnya.

Pria itu hanya duduk diam menunggu, hingga Yoona tiba dengan secangkir kopi yang masih mengepul asapnya. Gadis cantik itu menaruhnya di atas meja lalu kembali duduk di atas sofa. Memperhatikkan Sehun yang juga tengah menatapnya.

“Aneh sekali jika kau menatapku seperti itu.”

“Kenapa?” suara Sehun rendah, dan atmosfir dalam sekejap berubah.

“Seperti mau menerkamku saja.”

“Itu ide yang bagus.”

Yoona menaikkan sebelah alisnya, dia kemudian tertawa kecil untuk mencairkan suasana. “Berhenti menatapku seperti itu Sehun. Kau membuatku gugup.”

“Aku suka kau yang gugup.”

“Ini mulai aneh Sehun, kumohon minum saja kopimu!”

Sehun tersenyum aneh, tapi kemudian dia menghentikkan tatapannya pada Yoona dan mulai meminum kopinya sedikit demi sedikit. Yoona tampak lega, tapi juga terkejut bukan main saat Sehun selesai menghabiskan kopinya.

Yoona meringgis. “Itu masih panas.”

“Memang.”

“Kau cepat sekali menghabiskannya.” Gumam Yoona, dia menaruh kopinya di atas meja lalu tatapannya kembali kepada Sehun yang lagi-lagi tengah menatapnya. Ada satu tentang pria itu. dia memiliki tatapan yang hidup. Saat dia diam, matanya seakan berbicara, mengatakan sesuatu, dan begitu mempesona.

Pria itu tampak aneh, entahlah, tapi sesuatu seperti mengganggunya. “Kopinya sudah habis, apa yang kita lakukan sekarang?”

“Kau ini bicara apa?”

“Entahlah Yoona, aku hanya merindukanmu.”

“Merindukan wanita California juga?”

Pria itu menggerutu, “Sudah kubilang dia hanya relasi perusahaan dan kami harus pergi bersama. Jangan mengalihkan pembicaraan Yoona.”

Gadis itu tampak lebih rileks, dia memamerkan gigi-giginya yang rapi sambil menatap Sehun dengan geli. “Aku tidak.”

“Tidak bisakah kau menjadi miliku saja?”

“Wow, itu mengejutkanku.”

Pria itu menggerutu lagi, Yoona memang begitu hebat membuat pikiran pria menjadi semrawut. “Yoona?”

“Apa?”

“Aku ingin menginap malam ini.”

***

Manusia memang harus bekerja keras, tapi manusia juga tidak boleh lupa untuk bahagia. Hidup seperti air mengalir, membiarkan semuanya terjadi sesuai takdir. Terkadang memang tidak masuk akal, tapi selalu benar dan tidak bisa disangkal.

Sesuatu yang terjadi secara tidak sengaja terkadang menjadi alasan untuk sesuatu yang lebih besar. Seperti takdir, semuanya terjadi begitu saja. Seperti semalam, tanpa rencana, terjadi begitu saja. Begitu indah, begitu luar biasa. Dan Yoona tidak menemukan dirinya ketakutan, dirinya seakan berteriak bahwa pria ini adalah orang yang tepat! Aku yakin dan aku tidak akan pernah salah! Aku percaya pada hatiku pada keyakinanku! Semoga saja, harapan yang aku gantungkan padanya, tidak akan membuahkan kecewa.

Seperti saat ini, Yoona bergelung nyaman pada kulit putih di pelukannya. Tangan pria itu melingkari tubuhnya, sama-sama membutuhkan, sama-sama menginginkan. Cahaya pagi tidak bisa mengintip karena tirai ditutup rapat. Dan keduanya tidur diam dalam selimut putih besar yang sebelumnya Yoona simpan di dalam lemari.

Gadis itu mengerjapkan matanya. Yang pertama dirasakannya adalah bingung. Bingung pada perasaan baru yang begitu hangat. Di sampingya, ada kulit seputih susu, dan dirinya menemukan tubuhnya sedang dipeluk, seperti kepompong, begitu hangat.

Matanya menangkap wajah itu. wajah malaikat yang tertidur dalam damai. Matanya tertutup dengan indah, Yoona tersenyum. Ah, selalu bermimpi yang tidak-tidak.

Gadis itu menutup matanya lagi, berniat untuk bangun dari mimpi. Matanya terbuka lagi, tapi mata lain sudah terbuka dan tengah menatapnya kali ini. Ah, selalu sulit untuk bangun seperti ini.

Yoona menutup lagi matanya sambil berdoa, sedikit gugup memang, tapi dia memberanikan diri untuk kembali membuka mata. Dan seperti disambar petir, disana mata itu masih menatapnya, begitu dekat dan yang lebih mengejutkan adalah dia tersenyum.

Senyuman pagi hari yang wanita manapun akan rela membunuh untuk dapat melihatnya.

Sehun tersenyum lebih lebar sembari mengeratkan pelukannya pada tubuh Yoona yang polos. “Selamat pagi Yoona.”

Yoona menelan air liurnya, ini bukan mimpi, demi Tuhan ini bukan mimpi. Gadis itu berkedip cepat, suaranya serak seperti jantungnya yang mulai bertalu. “Sehun, apa yang kita lakukan?”

***

TBC

Hai. Ini jam 21:26 waktu aku selesai nulis. Malam ini cukup dingin, aku duduk depan layar. Sendirian. Saat seperti ini memang waktu yang pas buat aku untuk nulis. Rasanya tenang, enggak ada yang ganggu. Beberapa hari yang lalu aku beres ospek, setelah tidur lama aku kepikiran nulis dan jadilah ini. Tentang Yoona dan Sehun, Aku gak pengen bikin mereka lama bersatu, tapi yang kalian harus tahu. Masalah ada pada mereka masing-masing. Tentang Sehun yang suka sekali dengan Yoona dan Yoona yang juga suka tapi masih bingung dengan keadaan yang terjadi sama dia. Masalahnya bukan pada mantan mereka, tapi pada diri mereka sendiri. Mereka bakal bersama, mereka juga bakal berpisah. Itu bergantung bagaimana mereka menyikapi perasaan mereka sendiri dan tentu saja bergantung bagaimana keinginan aku tentang akhir dari mereka. Tapi sekali lagi tenang, aku gak akan nyakitin mereka. Mereka bakal bersama, tapi memang ada jalan dulu yang harus mereka lalui untuk sampai kesana. Kisah cinta mereka memang klasik. Seperti Cinderella, dimana yang luar biasa jatuh cinta pada yang biasa saja. Tapi kalian juga harus tahu, yang terjadi pada Cinderella, bisa terjadi di dunia nyata. Aku senang punya kalian! Terimakasih selalu mendukung! Aku baca komentar kalian satu-satu! Tetap tunggu karyaku ya. Aku mau tidur ya, sampai jumpa di chapter selanjutnya. Kalian tahu, aku menulis ini gak ingin apa-apa. Aku hanya suka melihat kalian bahagia dengan adanya cerita ini di layar kalian. See you! I love you!

—Pinkypark

147 thoughts on “[Freelance] Enamorada (Chapter 4)

  1. huaaaaaa…. sehunie I LOVE U FOREVER…maknae exo romantisnya minta ampun auuuu g ketulungan dehhh…aku pengen dong dbuatkn kt” romantis spert yoona.
    tp chap 5 nya mana ko g dipublis” suh. padahal ff author keren loh n daebakk.. lanjtin dong buing buing buing..

  2. Untuk kesekian kalinya chapter ini dibaca lagi,butuh chapter 5 nya kak.Please jgn siksa kami begini.Mau nya sehun lebih pusing lagi liat tingkah yoona biar greget.Belum rela yoona takluk secepat itu.Manis banget ceritanya,berapa kalipun diulang tetap meradang bacanya.Ada gk sih cwok nyata karakternya kek si sehun? kalok ada aku mau hahaha.Mohom Chapter 5 nya kak.Please.Udah jamuran nunggunya.Love ♡

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s