[Freelance] The Vow (2)

v2

The Vow [2]

by GreenAngel

 

Main Cast

Im Yoona

Genre

Drama | Romance | Marriage Life

Rating | Length

PG17 | Chapter

Disclaimer

Based on my mind. Don’t claim as yours! Happy reading

…….

Tak ada yang mengisi percakapan di antara mereka. Lelaki itu sibuk dengan setir kemudinya, berusaha menembus kemacetan sore hari di kota Seoul. Sedangkan Yoona terpekur menatap ke luar jendela. Matanya sibuk mengamati pejalan kaki yang berlalu lalang di trotoar.

 

Entah mengapa pikirannya melayang ke beberapa saat yang lalu sebelum ia meninggalkan rumah sakit. Saat itu ia dan lelaki yang mengaku sebagai suaminya berjalan ke area parkir rumah sakit. Samar-samar ia dapat mendengar seseorang meneriakkan namanya sesaat setelah ia masuk ke dalam mobil. Ketika ia hendak mencari asal suara, lelaki itu memakaikan sabuk pengaman untuk Yoona. Hal tersebut membuat Yoona terkejut. Tak mengira lelaki itu akan bertindak seperti itu. Sedangkan lelaki itu membalas keterkejutan Yoona dengan senyum yang menurutnya konyol.

 

“Kau ingin mendengarkan lagu?”

 

Lamunan Yoona buyar ketika mendengar pertanyaan lelaki itu. Wanita itu hanya mengangguk kecil. Tak lama lelaki itu segera menghidupkan pemutar musik.

 

Diam-diam Yoona menghela napas lega. Setidaknya keheningan antara mereka bisa sedikit berkurang. Yoona kembali menatap ke luar jendela. Wanita itu diam-diam menyunggingkan senyum saat mendengar lelaki di sampingnya ikut menyanyi mengikuti lagu yang terputar.

 

Lelaki itu berhenti menyanyi seiring dengan lagu yang mencapai akhir. Tak lama pemutar musik itu menyuarakan lagu lain. Saat intro awal lagu itu terdengar, Yoona dapat mendengar pekikan bahagia dari lelaki itu.

 

“Kau mungkin tak ingat tapi lagu ini yang membuat ku benar-benar bertekuk lutut pada mu.”

 

Yoona menatap bingung lelaki di sampingnya. Tak mengerti dengan ucapannya. Sementara lelaki itu mulai mengikuti suara penyanyi pria dalam lagu tersebut. Yoona secara perlahan berusaha memahami lagu yang dinyanyikan lelaki itu. Ia akui lagu yang dinyanyikan easy listening dan sedikit menyedihkan. Yoona menjadi bertanya-tanya apa yang menyebabkan lelaki itu bertekuk lutut padanya.

 

Yoona terkejut. Di tengah macetnya kota Seoul. Lelaki itu secara tiba-tiba menggenggam tangannya.

 

Cause if one day you wake up and find that you’re missing me. And your heart starts to wonder where on this earth I could be. Thinkin’ maybe you’ll come back here to the place that we’d meet. And you’ll see me waiting for you on the corner of the street. So i’m not moving. I’m not moving.”

 

Lelaki itu menyanyikan lirik lagu yang terputar sambil menatap dalam iris matanya. Cara menatap lelaki itu membuat Yoona merasa menjadi wanita paling spesial. Entah mengapa, detik itu juga Yoona merasakan ada sesuatu yang bergemuruh dalam dadanya.

 

***

Yoona mengamati pekarangan rumah milik lelaki itu. Dirinya masih belum terbiasa menyebut rumah lelaki itu sebagai rumahnya. Setelah mengeluarkan tas yang berisi pakaian Yoona dari bagasi mobil, lelaki itu menggenggam tangan Yoona dan menariknya ke dalam rumah mereka.

 

Yoona sedikit tidak menyangka jika bagian dalam rumah lelaki itu cukup luas. Secara perlahan ia menggerakkan kakinya. Matanya sibuk mengamati setiap detail dari ruangan-ruangan yang ada. Saat wanita itu sibuk dengan kegiatannya, lelaki itu berjalan menuju lantai dua rumahnya.

 

Yoona mengakui jika selera lelaki itu memang bagus. Terbukti dengan konsep yang berbeda di setiap ruangan yang ada. Kakinya terus melangkah seiring dengan semakin besarnya rasa ingin tahunya. Langkahnya berhenti di sebuah tempat yang menurut perkiraannya adalah ruang keluarga. Sofa berwarna putih bertengger manis di tengah ruangan dengan layar televisi yang tergantung di dinding atas ruangan. Segala sesuatu dalam ruangan itu berwarna putih.

 

Pandangan matanya berhenti saat melihat satu objek. Kini ia tahu asal konsep dari ruangan ini. Di salah satu dinding terpampang pigura foto yang cukup besar. Ia dan lelaki itu. Bersanding berdampingan. Ia dengan gaun pengantin putih gading sedangkan pria itu dengan setelan jas yang warnanya senada.

 

Yoona bahkan dapat merasakan kebahagian yang terpancar dari sepasang bola mata miliknya dalam foto itu. Sedangkan lelaki itu tersenyum dengan pandangan teduh sambil menatapnya.

 

Sepasang lengan memeluk tubuhnya dari belakang. “Kau sangat cantik. Aku bahkan masih ingat rona merah pipi mu saat aku mencium mu di altar.”

 

Lelaki itu semakin memperat pelukannya dan menyandarkan dagunya pada bahu Yoona. Lelaki itu masih menatap pigura foto mereka. Wanita itu sedikit menolehkan kepalanya pada lelaki itu. Ia ikut tersenyum setelah melihat lelaki itu tersenyum dengan bahagia dan kembali memusatkan pendangannya pada figura mereka.

 

Melihat hal itu membuat Yoona sadar. Bahwa lelaki itu memang benar-benar suaminya. Bahkan ia tak dapat mengelak tatapan cinta dari objek foto dihadapannya. Ia tersenyum lega. Bukankah artinya ia memang mencintai lelaki itu?

 

***

Yoona mengerjapkan kedua matanya perlahan. Berusaha menyesuaikan dengan cahaya matahari yang menembus melalui sela-sela tirai. Sedikit bingung karena ia tak tahu mengapa bisa tertidur. Ia merasakan ada sesuatu yang berada pada pinggangnya. Segera saja ia menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya. Matanya terbelalak saat melihat sepasang lengan yang melingkari pinggangnya.

 

Wanita itu berteriak dan mendorong tubuh lelaki itu. Dorongan itu cukup keras hingga mampu membuat lelaki itu terguling dan jatuh dari tempat tidur.

 

“Awww.” Lelaki itu berusaha bangkit dari lantai. Ia mengusap punggungnya yang membentur lantai. Saat ia ingin berteriak marah, kata-katanya tak mampu keluar dari bibirnya saat ia melihat Yoona duduk di atas tempat tidur dengan gelisah.

 

“Kau tidak perlu mendorong ku seperti itu, sayang.” Ucap lelaki itu sambil sesekali mengaduh. Ia tak menyangka jika kekuatan Yoona cukup besar. Akhirnya ia duduk bersandar di ranjang sambil memejamkan mata.

 

“Maaf,” ringis wanita itu. “Aku terkejut saat kau memeluk ku seperti itu.”

 

Lelaki itu membuka kelopak matanya dan mengalihkan tatapannya pada wanita itu. Dengan pandangan menggoda lelaki itu berkata, “Bukankah kau suka saat aku mendekap mu saat tidur?”

 

Lelaki itu tertawa saat melihat wajah wanita itu memerah malu. Wanita itu berdehem pelan, berusaha menghilangkan rona merah di wajahnya.

 

“Apa punggung mu masih sakit?” tanya wanita itu ragu.

 

Lelaki itu tersenyum dan menggeleng. Lelaki itu bergerak mendekati Yoona dan memeluknya. “Aku ingin morning kiss ku, sayang.” Bisiknya di telinga Yoona.

 

Yoona melepas pelukan mereka dengan canggung. “A-apa?”

 

Lelaki itu menarik kedua tangan Yoona dan menjatuhkannya ke ranjang. Lelaki itu sedikit menindih tubuh Yoona dan tersenyum lembut padanya. Hal tersebut membuat Yoona menjadi gugup.

 

Tak lama ia mendekatkan bibirnya ke telinga Yoona dan berbisik, “Morning kiss. Aku ingin itu.”

 

Yoona bukanlah gadis kemarin sore. Ia dengan pasti tahu apa yang diinginkan suaminya. Tapi ia belum siap. Ini terlalu mengejutkan dan tiba-tiba. Tubuhnya bergetar dan kelopak matanya menutup. Ia sedikit menggit bibir bawahnya.

 

Yoona tidak tahu bahwa tindakannya itu membuat lelakinya semakin ingin mengecap rasa manis dari bibir mungilnya. Yoona tidak tahu bahwa suaminya mati-matian menahan hasratnya ketika melihat tubuhnya bergetar. Yoona tidak tahu bahwa lelaki itu tahu bahwa ia belum siap memberikannya morning kiss. Di bibir. Hingga akhirnya secara perlahan bibir lelaki itu mencium keningnya. Lembut dan penuh perasaan.

 

Yoona membuka mata terkejut saat menyadari lelaki itu mencium keningnya. Tidak di bibir seperti yang ia pikirkan.

 

“Kau mandilah dulu. Aku akan menyiapkan sarapan untuk kita.” Lelaki itu beranjak dari posisinya dan keluar kamar. Meninggalkan Yoona yang memegang dadanya. Ia dapat merasakan jantungnya bertalu-talu akibat tindakan lelaki itu. Lelaki itu benar-benar… kesalnya dalam hati.

 

***

Yoona menuruni tangga rumah dan mencium aroma masakan dari arah dapur. Segera saja ia melangkahkan kakinya menuju asal aroma. Sesampainya di dapur ia melihat lelaki itu sibuk dengan peralatan masak.

 

“Ada yang bisa ku bantu?”

 

Lelaki itu menoleh sekilas pada Yoona dan melanjutkan acara memasaknya. “Tidak, sayang. Kau hanya perlu duduk di meja makan dan menunggu suami mu yang tampan ini menyelesaikan menu sarapan untuk kita.”

 

Yoona tersenyum kecil mendengar jawaban dari lelaki itu. Ia duduk di meja makan dan memperhatikannya. Ia tersenyum lebar saat menyadari lelaki itu mengenakan apron berwarna merah muda di tubuhnya. Sangat tidak cocok dipakai di tubuh atletisnya. Senyumnya semakin lebar tatkala lelaki itu mengedipkan sebelah matanya di sela-sela kegiatan memasaknya. Sungguh! Lelaki itu terlihat manis dan seksi di saat yang bersamaan.

 

Selang lima belas menit makanan tersaji di meja makan. Keduanya memulai acara makan mereka.

 

“Orang tua ku akan datang nanti malam.” Ucap lelaki itu tiba-tiba.

 

Seketika saja Yoona tersedak. Lelaki itu menyodorkan segelas air pada Yoona dan menepuk punggungnya pelan.

 

“Kau baik-baik saja?” tanyanya.

 

Yoona mengangguk. Ia melirik cemas pada lelaki itu. Seakan menyadari perasaan Yoona, lelaki itu memandang Yoona dengan raut wajah bertanya.

 

“Apa aku dan orang tua mu memiliki hubungan yang baik?” tanya Yoona.

 

Lelaki itu menatap Yoona dengan raut bingung. “Maksudku, orang tua mu tidak menentang pernikahan kita bukan?” tanyanya lagi. Karena lelaki itu tak menjawab pertanyaannya, ia pun melanjutkan “Aku takut jika aku dan kedua orang tua mu memiliki hubungan yang tidak begitu baik. Kau tahu terkadang ada pernikahan yang berlangsung tanpa ada persetujuan orang tua.”

 

Lelaki itu tertawa keras setelah Yoona menyelesaikan perkataannya. Wanita itu bingung dengan reaksi yang lelaki itu berikan. Setelah mampu meredam tawanya, lelaki itu berkata sambil memegang tangan Yoona. “Kau bicara apa, sayang? Orang tua ku adalah orang tua mu juga. Bahkan mereka lebih menyayangi mu ketimbang aku yang anak kandung mereka sendiri. Tidak perlu berpikir yang macam-macam.”

 

“Benarkah?” tanya Yoona ragu.

 

“Tentu saja. Lebih baik kau berhenti menonton drama televisi, sayang. Aku yakin ucapan mu tadi karena kau terlalu sering menonton drama saat di rumah sakit. Hal itu bahkan menyebabkan kau berpikir sejauh itu.”

 

“Hei! Itu bukan karena drama!” dengus Yoona. “Itu karena selama di rumah sakit tak ada yang mengunjungi ku selain kau.”

 

Lelaki itu tersenyum lembut. “Aku sengaja melarang teman-teman mu mengunjungi mu. Karena aku yakin kau akan merasa bersalah karena tidak bisa mengingat mereka. Aku benar bukan?” jeda sesaat sebelum lelaki itu melanjutkan “Orang tua ku menetap di Jepang. Oleh karena itu, mereka tidak bisa mengunjungi mu selain jadwal mereka yang sangat padat. Kau tenang saja. Orang tua ku menyayangi mu. Bahkan mereka sampai membatalkan jadwal hanya untuk menemui mu setelah pulang dari rumah sakit.”

 

Perkataan lelaki itu membuat Yoona menghembuskan napas lega. Setidaknya apa yang ia pikirkan adalah hal yang salah. Ia sempat takut jika kehadirannya tak diterima di keluarga suaminya.

 

Keduanya pun melanjutkan acara makan mereka. Saat menyendokkan nasi di piringnya, Yoona bertanya ragu, “Sebenarnya aku harus memanggil mu dengan sebutan apa? Bahkan nama mu saja aku tidak tahu.”

 

Lelaki itu tersenyum sambil menggelengkan kepalanya tak percaya. “Aigo bahkan nama suami mu sendiri saja kau tidak tahu.”

 

Yoona mengerucutkan bibirnya sebal. “Kau tidak pernah mengatakan nama mu padaku. Kau hanya berucap bahwa kau adalah suami ku.”

 

“Kau bisa memanggil ku dengan panggilan ‘yeobo’ atau ‘chagi’.” Lelaki itu mengerlingkan matanya nakal pada Yoona.

 

“Aku serius.” Yoona semakin sebal dibuatnya.

 

“Baiklah,” lelaki itu tertawa pelan “Dari awal pernikahan kita kau tidak pernah memanggilku dengan sebutan ‘yeobo’ atau ‘chagi’. Kau bilang panggilan itu menggelikan. Jadi kau memanggil ku dengan nama lengkap ku atau dengan embel-embel ‘oppa’ di akhir nama ku. Itu pun jika kau menginginkan sesuatu dari ku.”

 

“Benarkah?”

 

“Apa ada alasan ku untuk berbohong, sayang?”

 

“Jadi, aku harus memanggil mu apa?”

 

Lelaki itu menatap Yoona. “Kau selalu memanggil ku ‘Park Chanyeol’. Bisakah kau mulai membiasakan diri mu memanggil ku dengan sebutan ‘Oppa’, sayang?”

 

Yoona menatap lelaki dihadapannya dengan pandangan ragu. “Chanyeol…oppa?”

 

Lelaki itu tersenyum hangat dan mengusap lembut surai indah milik wanita itu.

 

***

“Kau tidak bekerja?”

 

Chanyeol sedikit mengalihkan tatapannya dari gitar yang ia pegang. Ia kembali memetik senar-senar gitarnya. Merasa diacuhkan oleh suaminya, ia kembali mengulang pertanyaannya, dengan sedikit malu tentunya. “Kau tidak bekerja…Oppa?”

 

Chanyeol menatap iris madu dihadapannya. Ia menahan tawanya melihat wanita itu menundukkan kepalanya. Ia mengulurkan tangan dan mengangkat dagu wanita itu. Semburat merah menghiasi wajahnya. “Aku mengambil cuti, sayang.”

 

“Apakah atasan o-oppa mengijinkannya?”

 

“Atasan? Sejauh yang ku tahu atasan ku adalah ayah ku. Tentu saja ayah tak keberatan dengan alasan cuti ku. Ayah bahkan menyuruh ku mengambil libur panjang untuk menghabiskan waktu dengan mu.” Chanyeol mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum menggoda.

 

“Aish oppa.” Yoona memukul pelan lengan Chanyeol.

 

Yoona mengalihkan pandangannya pada sekitar halaman belakang rumah mereka. Seusai mereka menyelesaikan sarapan, Chanyeol mengajak Yoona duduk di gazebo belakang rumah. Setelah beberapa candaan terlontar, lebih tepatnya Yoona mengejek Chanyeol yang belum mandi, Chanyeol masuk ke dalam rumah.

 

Sekitar dua puluh menit kemudian, Chanyeol kembali dengan membawa gitar kesayangannya. Yoona yakin setelah ia mengejek Chanyeol habis-habisan, lelaki itu langsung mandi. Terbukti dengan pakaian yang sekarang ia kenakan berbeda dengan sebelumnya. Pria itu memakai kaus hitam dan celana pendek. Bahkan dengan pakaiannya yang sangat biasa itu, Chanyeol masih terlihat tampan.

 

“Kau memikirkan apa?” Yoona menolehkan kepalanya pada Chanyeol.

 

Yoona tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Mendapat jawaban seperti itu dari Yoona, Chanyeol meletakkan gitarnya. Kedua tangannya terulur. Menarik Yoona dalam dekapannya. Chanyeol tahu wanita itu pasti terkejut dengan perlakuan yang tiba-tiba seperti ini.

 

O-oppa.” Yoona bergerak-gerak gelisah dalam dekapannya.

 

“Biarkan seperti ini.” Gerakan Yoona terhenti dan membuat Chanyeol semakin mendekap Yoona erat.

 

Yoona tak mengerti kenapa Chanyeol bersikap seperti ini.

 

“Sayang, aku mencintai mu.”

 

Kalimat itu sederhana. Namun Yoona yakin kalimat itu tidak sesederhana yang terlihat. Ia dapat mendengar debaran jantung Chanyeol. Ia tersenyum dan mengangguk “Aku tahu.”

 

“Jangan. Pernah. Meninggalkan. Aku.”

 

Chanyeol mengucapkan kalimat itu satu demi satu. Seakan meminta dengan sangat agar Yoona menuruti ucapannya. Perlahan lengan Yoona membalas pelukan Chanyeol. Seiring dengan hal itu, Chanyeol tahu bahwa ia bisa bernapas dengan lega.

.

.

.

TBC

 

A/N:

Hai. The update is coming. Ada yg nungguin? Maaf terlambat karena aku sibuk kuliah. Bohong deh hehehe kuliah tapi gak sesibuk biasanya. But few weeks later aku yakin akan sangat sibuk mengingat praktikum udah mulai, laporan dimana-dimana, tugasnya minta ampun banget dan aku daftar jadi koass -_-

 

So, how is it? Semoga kalian gak bingung bacanya dan mulai paham. Ini masih part awal jadi aku mau fokus ke hubungan yoona dan chanyeol. Btw, ada yg kecewa gak ya kalo castnya chanyeol? Hehe I’m sorry aku milih chanyeol karna aku ngerasa karakternya sesuai aja gitu sama chanyeol hehehe so guys, if you don’t like the characters I don’t mind if you close your tab ._. Aku baper sendiri ngeliat chanyeol yg romantis abis gitu ke yoona -_- Atau aku yg berlebihan?

 

Thank you for reading my absurd stories! Aku sangat menghargai kalian yang memberi komentar, kritik dan saran buat aku. Terima kasih😀

 

70 thoughts on “[Freelance] The Vow (2)

  1. Dan gw harus baca ulang dr awal karena lupa ma ceritanya -_-
    Dan sepertinya gw jg telat bacanya -_-
    kelamaan bertapa jd kudet gw,.

    Gw masih penasaran tu Si tiang EXO bneran suaminya yoona pa bukan..knp gw curiga ma chanyeol seakan ada yg dtutupi dr Yoona..

  2. Yaampun! ternyata pas baca part 2, aku baru inget klo ff ini udh aku baca dr part pertama di update. Jd malu sendiri hehe… dan part 2 ini aku lupa udh komen apa blm.. cuma mau blg authornya keren banget bisa bikin chanyeol seromantis itu sm yoona.

  3. Ternyata Chanyeol…..
    Menarik banget Thor ceritanya…
    Sepertinya ada rahasia yg ditutupin Chanyeol…
    Bikin penasaran…
    Ditunggu next partnya Thor…
    Keep writing and FIGHTING Thor…..

  4. Hehehe diawal baca kirain cast namjanya hunppa eh ternyata yeolli oppa kece
    Hehehe
    Next chap jangan lama lama unn kyaknya ada yg dsembunyiin yeolli oppa dehhh

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s