Immortal Memory [7]

immortal_memory_2

Immortal Memory

Oh Sehun and Im Yoona

with Im Siwan, Im Juhwan, Ji Chang-wook and others

AU, Family, Romance || PG 17 || Chaptered

Summary : Kenangan akan selalu abadi, sekalipun kenangan terburuk yang membuatmu melupakanku

2015©cloverqua

Introduce Cast | 1 | 2 | 3 | 4 | 5

6

 

Ruang tengah itu tampak sepi. Yoona masih berada di sana, duduk di atas salah satu sofa sambil memeluk kedua lututnya yang ditekuk. Tatapan wanita itu kosong. Tubuhnya sama sekali tidak bisa diajak kompromi untuk berpindah atau sekedar bergerak dari posisinya sekarang.

Sehun baru saja pergi beberapa jam yang lalu. Tentu setelah apa yang ia lakukan pada Yoona, membuatnya tak bisa bertahan lama di rumah itu. Kembali ke kantor satu-satunya cara bagi Sehun untuk menghindar atau lebih tepatnya merenungkan perbuatannya karena telah mencium bibir mungil Yoona.

Pikiran Yoona kembali menerawang. Masih membekas dalam ingatannya kata terakhir yang diucapkan Sehun sebelum pergi dari rumahnya.

Maaf, aku harus kembali ke kantor.’

Hanya itu. Sehun sama sekali tidak mengatakan apapun tentang ciuman yang baru saja mereka lakukan. Sejujurnya Yoona sedikit kecewa karena Sehun melakukannya secara tiba-tiba, bahkan dalam situasi yang sangat tidak tepat, dan ciuman itu sedikit kasar. Meski demikian, Yoona tak bisa mengelak kalau ia menikmati ciuman itu.

Aigo, ini benar-benar membuatku gila!” Yoona menggeram frustasi sembari menangkup wajahnya. Ia bisa merasakan pipinya memanas.

“Nona?”

Suara lembut itu membuyarkan lamunan Yoona. Ia menoleh. Salah satu pelayan di rumahnya sudah berdiri di belakang sofa yang ia duduki.

“A—ada apa?” Yoona sedikit gugup. Sebenarnya ia sangat takut kalau ada orang rumah yang memergoki dirinya tengah berciuman dengan Sehun. Bagaimana jika mereka melapor pada paman dan bibinya? Atau kepada Siwan?

Yoona sama sekali tidak mempermasalahkan reaksi paman dan bibinya, tapi untuk Siwan—ia sudah bisa menebak jika pria itu akan memarahi Sehun habis-habisan.

“Tuan Muda Siwan sudah pulang,” ucap pelayan itu.

Yoona mengangguk, kemudian menyuruh sang pelayan untuk melanjutkan pekerjaannya. Menyiapkan makan malam.

“Yoong?” tentu saja itu suara Siwan, dan sukses membuat Yoona melonjak kaget.

“Kau mengagetkanku, oppa!” Yoona mendengus kesal. Beberapa kali wanita itu mengusap-usap dadanya. Melihat reaksi Yoona, Siwan justru terkekeh pelan.

“Apa yang sedang kau lamunkan, hm?” Siwan berjalan mendekati Yoona. Sejenak ia berikan tas kerjanya pada Kepala Pelayan Baek, lalu melonggarkan dasi yang terpasang di balik kerah kemejanya.

“Tidak ada,” Yoona membuang tatapannya dari Siwan. Ia tak ingin pria itu melihat wajahnya yang masih didominasi warna merah.

Siwan hanya menggelengkan kepala. Sungguh, Yoona terlihat menggemaskan dengan bibirnya yang mengerucut.

“Oh iya, Kepala Pelayan Baek bilang tadi Sehun datang ke sini. Apa yang dia laku—” kalimat Siwan terhenti sejenak. Ia berhasil melihat beberapa jari tangan Yoona sudah dibalut dengan perekat luka. “Apa yang terjadi dengan jarimu?”

“Ini—” Yoona menggigit bibir bawahnya, “Tadi ada insiden kecil. Aku nyaris tertabrak mobil saat hendak menyeberang jalan. Untung saja ada Woobin-oppa yang menolongku.”

Siwan mengernyit, “Woobin? Maksudmu Kim Woobin dari Royal Group?”

Yoona mengangguk, “Dia yang sudah menolongku, oppa. Aku mengajaknya ke sini untuk mengobati luka di lengan kanannya.”

“Lalu, luka di jarimu? Woobin yang mengobatinya?”

“Bukan. Sehun yang mengobatinya,” Yoona meringis lebar, “Dia tahu kejadian ini karena Woobin-oppa yang memberitahunya.”

Sejak kapan dua orang itu akur? Bukankah rumor menyebutkan jika Woobin dan Sehun adalah rival?—batin Siwan bingung.

Oppa?” Yoona memanggil Siwan lantaran pria itu terdiam. Tak menanggapi jawaban yang ia berikan.

Siwan terkesiap. Ia mendapati Yoona sudah menatapnya. Sorot mata Yoona seolah bertanya ‘ada apa?’.

“Bukan apa-apa,” Siwan tersenyum, lalu mengusap lembut kepala Yoona.

//

Sehun menatap datar pada meja makan yang sudah dipenuhi beberapa hidangan makan malam. Kendati makanan itu sangat lezat, Sehun tidak berselera untuk menyantapnya. Sejak pulang dari rumah Yoona, Sehun terus didera rasa bersalah. Bahkan ketika sampai di kantor, konsentrasinya kacau. Ia tak lagi bersemangat untuk bekerja dan memutuskan pulang ke rumah lebih awal.

Tiga anggota keluarga Sehun lainnya hanya menatap heran. Beberapa kali Sehun tertangkap basah sedang menghela napas panjang, menggeram frustasi, dan kembali menatap datar pada meja makan. Tidak segera menikmati hidangan makan malam yang sudah disajikan. Sehun bahkan tak menyentuh peralatan makannya sedikit pun.

“Kau kenapa?” Tn. Taekyung merasa khawatir, “Apa sedang ada masalah di kantor?”

Sehun menggeleng pelan. Tak ingin semua orang menanyai kondisinya, pria itu mulai menikmati makan malamnya. Meski tidak berselera, Sehun harus tetap makan.

“Apa kau bertengkar dengan Yoona?” celetuk Chaeri spontan.

Uhuk!” Sehun buru-buru mengambil air minum. Reaksinya itu membuat tiga orang di depannya saling memandang. Tak heran jika mereka cukup bingung dengan perubahan sikap Sehun yang sangat drastis. Mengingat kemarin pria itu dalam kondisi berbunga-bunga setelah pulang dari rumah Yoona. Kenapa sekarang tiba-tiba berubah jadi pemurung seperti itu?

Sehun menarik napas dalam-dalam, lalu kembali melanjutkan makan malamnya. Sesekali ia melirik Chaeri yang terlihat tersenyum geli. Dalam hati Sehun mengumpat kesal, kenapa bibinya itu selalu berhasil membaca pikirannya? Damn!

“Kau sedang ada masalah dengan Yoona?” kali ini Ny. Hyejin yang bertanya.

Sehun menggeleng, “Tidak, eomma.”

“Lalu, kenapa wajahmu terlihat kusut?”

Sehun meringis lebar, “Aku hanya kelelahan saja, eomma. Kalian tidak perlu khawatir.”

Chaeri menggelengkan kepala. Ia tahu persis jika keponakannya berbohong. Tapi, biarlah. Sehun sudah dewasa. Ia percaya pria itu bisa menyelesaikan sendiri masalahnya.

“Aku sudah selesai,” suara Sehun terdengar bersamaan suara berderit dari kursi ketika ia berdiri. Tanpa menunggu respon dari semua orang, Sehun menaiki tangga menuju kamarnya.

Ny. Hyejin semakin khawatir, sementara Tn. Taekyung dan Chaeri bersikap cuek. Dua bersaudara itu sepertinya sudah hapal dengan kebiasaan Sehun yang memilih diam ketika ada masalah.

.

Sehun membaringkan tubuhnya di atas ranjang berukuran king size. Menatap langit-langit kamar dengan sorot mata sendu. Bayangan wajah Yoona sebelum ia pergi dari rumah itu, membuat Sehun terus didera rasa bersalah.

Usai mencium bibir Yoona, Sehun bisa melihat kekecewaan dari sorot mata Yoona. Sudah pasti karena ia melakukan ciuman itu secara tiba-tiba, dan dalam situasi yang tidak tepat. Dan Sehun menyadari jika ia mencium bibir Yoona dengan sedikit kasar.

“Argh! Kau benar-benar bodoh, Oh Sehun! Bodoh!”

Entah sudah berapa kali Sehun mengumpat frustasi. Situasi ini membuatnya gila. Tak habis pikir dengan dirinya sendiri yang kehilangan kendali ketika sedang bersama Yoona. Meski mereka sama-sama sepakat melanjutkan perjodohan itu kembali, tapi apakah pantas Sehun mencium Yoona hanya karena dikuasai nafsu? Bukan karena kedua belah pihak sama-sama ingin melakukannya.

Tapi, jujur Sehun sama sekali tidak bermaksud melakukan tindakan bodoh itu. Semua terjadi di luar kendalinya, dan harus ia akui Yoona sudah membuat Sehun kacau karena terlalu mengkhwatirkan wanita itu.

Mendengar kabar dari Kepala Pelayan Baek jika Yoona hampir tertabrak mobil, detakan jantung Sehun serasa berhenti. Berbagai pikiran aneh langsung memenuhi kepalanya. Bagaimana jika kondisi Yoona parah?

Salahkan dirinya sendiri yang langsung memutus obrolan sebelum Kepala Pelayan Baek memberitahu kondisi Yoona yang sebenarnya. Jika lebih bersabar, mungkin Sehun bisa bernapas lega setelah mengetahui Yoona dalam kondisi baik-baik saja, meski jarinya terluka.

Well, semua sudah terjadi. Ciuman itu sudah mereka lakukan.

Satu-satunya cara agar Sehun tak lagi merasa bersalah, tentu saja pergi meminta maaf kepada Yoona.

//

“Apa rencanamu besok?”

Yoona terkesiap begitu mendengar pertanyaan yang dilontarkan sang paman. Ia melirik sekilas pada Siwan, lalu beralih memandangi Ny. Nayoung.

“Ngg … aku ingin pergi menemui Changwook-oppa, samchon,” jawab Yoona.

“Kau ingin melakukan terapi lagi?”

“Tidak, oppa,” Yoona tersenyum tipis. “Aku belum siap melakukan terapi itu lagi. Aku hanya ingin mengunjunginya saja.”

“Ya, jangan memaksakan diri jika kau memang belum siap melakukannya lagi,” sahut Ny. Nayoung. “Kau sudah bisa berbicara lagi seperi sekarang, itu sudah membuat kami bahagia.”

“Tapi … bagaimanapun aku harus tetap melakukannya,” Yoona menarik napas panjang. “Karena aku adalah saksi kunci dalam peristiwa itu. Saat appa dan eomma tewas terbunuh di depan mataku sendiri.”

Melihat bahu Yoona bergetar, Siwan mengusap lembut punggung wanita itu. Ia menggenggam erat tangan Yoona yang berkeringat dingin. Pasti peristiwa kelam itu kembali muncul dalam kepala Yoona.

“Sudah, tidak apa-apa,” ucap Siwan lembut dan sangat menenangkan.

Tn. Hyunsung dan Ny. Nayoung merasa prihatin atas kondisi Yoona. Mereka tahu terapi itu sangat berat dilakukan, tapi mereka tak punya pilihan. Pembunuh orang tua Yoona harus segera diungkap agar kasus ini segera selesai.

“Begini saja,” Tn. Hyunsung mempunyai ide. “Kalau kau ingin melakukan terapi lagi, sebaiknya mengajak Jongin. Ini akan lebih mudah bagi Jongin untuk mendapatkan data terkait pelaku itu.”

“Benar. Sekalian ajak Sehun juga,” Ny. Nayoung ikut menyumbangkan pendapat, yang langsung disambut anggukan kompak dari Tn. Hyunsung dan Siwan.

Mendengar nama Sehun keluar dari Ny. Nayoung, wajah Yoona kembali memerah.

“Ada apa?” Ny. Nayoung sepertinya berhasil melihat perubahan wajah Yoona.

“Tidak ada apa-apa, imo,” jawab Yoona buru-buru sambil mengatur napasnya yang sedikit tertahan. “Baiklah, nanti aku akan mengajak Sehun dan Jongin.”

Topik pembicaraan itu pun berakhir. Semua orang kembali menyantap makan malamnya.

.

.

.

.

.

Jongin terheran karena tak mendapati ayahnya di ruang makan. Ia melirik jam tangannya. Ini sudah waktunya sarapan, tapi ayahnya belum terlihat. Biasanya Jongin yang terlambat menikmati sarapannya. Tapi kali ini sepertinya justru ayahnya yang terlambat sarapan.

Appa di mana, eomma?” tanya Jongin pada ibunya—Lee Jiyoon.

Eomma rasa masih di ruang kerja,” jawab Ny. Jiyoon. “Kau susul saja, Jongin. Nanti kalian bisa terlambat pergi bekerja.”

“Kenapa pagi-pagi appa sudah di ruang kerja?”

Ny. Jiyoon mengangkat bahunya, “Eomma juga tidak tahu. Sejak semalam ayahmu sibuk menggeledah ruang kerjanya. Seperti mencari sesuatu, tapi eomma tidak tahu apa yang sedang dicarinya.”

Jongin tidak bertanya lagi. Ia melangkah keluar dari ruang makan, pergi menuju ruang kerja ayahnya yang berada di dekat kamarnya.

Tangan Jongin mengetuk pelan pintu berbahan kayu jati tersebut. Karena tak ada jawaban yang terdengar dari dalam, Jongin berinisiatif membuka pintu yang ternyata dalam kondisi tidak dikunci. Pemandangan selanjutnya yang ada di dalam ruangan membuat Jongin tercengang.

Ruang kerja ayahnya terlihat berantakan. Beberapa lembar kertas berserakan di lantai. Buku-buku tak lagi tersusun rapi di raknya.

“Oh, kau rupanya,” Tn. Jaeha tersenyum setelah mengetahui putranya masuk ke ruang kerjanya. “Cepat ke sini. Appa berhasil menemukan sesuatu.”

Jongin melangkah pelan, sembari mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ruangan itu lebih mirip kapal pecah ketimbang ruang kerja. Sangat berantakan.

“Koper itu milik siapa, appa?” bola mata Jongin menatap lurus pada koper yang diletakkan di atas meja. Sekilas koper yang biasa digunakan para pebisnis itu tampak usang.

“Ini milik mendiang kakekmu.”

Jongin mengernyit, “Sebelumnya aku tak pernah melihat koper itu di ruang kerja appa. Di mana appa menemukannya?”

Pertanyaan yang dilontarkan Jongin membuat pria paruh baya itu tersenyum. Ia berdiri lalu berjalan mengitari Jongin, mendekati sebuah dinding yang ditutupi lukisan berukuran besar. Di dekat lukisan itu terdapat sebuah benda berbentuk bulat dengan ukiran yang sangat cantik. Awalnya Jongin menganggap benda tersebut hanya hiasan ruangan. Tapi setelah tangan Tn. Jaeha menekannya, barulah Jongin mengetahui jika benda tersebut adalah kunci untuk masuk ke ruang rahasia.

Dinding yang ditutupi lukisan itu perlahan bergeser. Memperlihatkan sebuah ruangan lain yang tampak gelap. Jongin menatap tak percaya. Ia seperti baru saja melihat adegan dalam sebuah film, ketika sang tokoh utama masuk ke dalam ruang rahasia di rumahnya.

Daebak!” Jongin berjalan mendekati sang ayah yang memamerkan senyum bangganya. “Aku baru tahu di ruang kerja appa ada pintu menuju ruang rahasia.”

“Ruangan ini dibuat oleh mendiang kakekmu. Dulu sewaktu appa seusiamu sekarang, appa juga bereaksi sama sepertimu. Ketika pertama kali mendiang kakekmu memperlihatkannya pada appa,” jelas Tn. Jaeha. Ia memasuki ruang rahasia tersebut, kemudian menyalakan lampu yang tersedia di sana.

Jongin semakin takjub mengetahui ruang rahasia itu sangat luas. Setara dengan ukuran ruang tengah di rumahnya. Tak hanya itu, berbagai perabotan yang berjejer rapi di sana membuat decak kagum terus keluar dari bibir Jongin. Sekilas memang mirip seperti perpustakaan, melihat banyaknya koleksi buku yang ada di sana. Tapi, ada juga beberapa koleksi barang antik yang disusun berdampingan dengan rak buku.

“Apakah dulu harabeoji sering menghabiskan waktunya di sini?” tanya Jongin penasaran. “Ruangan ini benar-benar hebat, appa.”

Tn. Jaeha tersenyum melihat reaksi Jongin seperti anak kecil yang baru saja menemukan harta karun.

“Ya, dulu ruangan ini sering dijadikan tempat mendiang kakekmu untuk mengerjakan berbagai hal. Sekedar menyendiri untuk mencari ketenangan, atau digunakan untuk menyelesaikan kasus yang sedang ditangani,” jawab Tn. Jaeha. “Appa sengaja menunjukkannya padamu. Selain karena memang sudah waktunya kau mengetahui ruangan ini, appa juga membutuhkan bantuanmu.”

“Bantuan?”

Tn. Jaeha kembali ke ruang kerjanya untuk mengambil koper yang sempat diletakkan di atas meja.

“Koper ini berisi barang pribadi mendiang kakekmu. Entah itu dokumen penting atau semacamnya. Appa yakin, surat peninggalan mendiang Presdir Im Haryong ada di dalamnya.” Tn. Jaeha menghela napas panjang. “Tapi, koper ini dalam kondisi dikunci. Appa belum berhasil menemukan kuncinya.”

“Jadi—” Jongin memutar bola matanya, “—appa ingin aku membantu mencari kunci koper ini? Di ruangan ini?”

“Tepat sekali,” Tn. Jaeha meringis lebar.

Jongin mengusap tengkuknya. Ia pandangi lagi ruangan tempatnya berada sekarang. Pasti tidak mudah mencari kunci koper itu, mengingat ruangannya yang sangat luas dan berbagai perabotan yang ada di dalamnya.

“Baiklah, appa. Kita bisa mencarinya nanti sepulang bekerja,” Jongin teringat dengan kedatangannya menyusul Tn. Jaeha di ruang kerja. “Sebaiknya kita bergegas, appa. Eomma sudah menunggu di ruang makan. Nanti kita bisa terlambat pergi bekerja.”

Tn. Jaeha mengangguk, lalu meletakkan koper tersebut di tempat semula dalam ruangan rahasia. Setelah menutup dinding yang terhubung ke ruangan itu, Tn. Jaeha berjalan keluar menyusul Jongin yang sudah lebih dulu pergi ke ruang makan.

//

Orang itu datang lagi.

Juhwan memandangi sosok pria yang di-klaim ayahnya sebagai teman lama. Pria itu membungkuk hormat ke arahnya. Namun setelahnya, pria itu terlihat berusaha keras menghindari tatapan yang diberikan Juhwan.

Mereka sama-sama berdiri di ruang tengah. Juhwan baru saja selesai menikmati sarapannya dan sebentar lagi akan berangkat ke kantor.

“Kau datang pagi-pagi sekali untuk bertemu ayahku?” nada suara Juhwan terkesan dingin.

Pria itu mengangguk pelan, dan cukup membuat Juhwan kesal karena merasa berbicara dengan robot.

“Sebenarnya ada masalah apa?”

Hening. Tak ada jawaban yang keluar dari pria itu.

“Bukankah kau teman lama ayahku?” Juhwan memicingkan matanya. “Pasti ada masalah yang serius karena kau tiba-tiba muncul lagi setelah sekian lama tidak terlihat. Bahkan sepertinya intensitas pertemuan kalian semakin bertambah.”

“Im Juhwan.”

Sial! Kenapa appa selalu datang di waktu yang tidak tepat?—batin Juhwan kesal. Ia menengok ke belakang, tepatnya pada sang ayah yang sudah datang dengan wajah marah.

“Apa yang kau lakukan di sini? Mengganggu tamuku?” Tn. Hyunsik menggeram. “Cepat berangkat bekerja!”

“Aku hanya menyapa teman lamamu ini, appa. Tidak perlu semarah itu,” balas Juhwan cuek. Lalu berjalan menuju mobilnya yang sudah menunggu di depan rumah.

Tn. Hyunsik menatap punggung Juhwan dengan tatapan kesal. Ia bisa merasakan perubahan sikap Juhwan. Agaknya sang putra sudah menaruh curiga pada sosok Jang Kiha—pria yang sedang berdiri di depannya sekarang.

“Presdir?”

Tn. Hyunsik mengangkat tangannya, memberi isyarat agar Kiha tetap diam.

“Aku tahu apa yang sedang kau khwatirkan,” Tn. Hyunsik menarik napas panjang. “Masalah Juhwan, biar aku yang urus. Kau hanya perlu fokus dengan tugas yang akan kuberikan padamu nanti, mengerti?”

“Ya. Saya mengerti, Presdir,” balas Kiha dengan sopan.

Di sisi lain, Juhwan semakin diliputi rasa penasaran yang begitu besar terhadap sosok tamu ayahnya tersebut—yang bahkan sampai sekarang tidak ia ketahui namanya.

“Haruskah aku menyelidiki pria itu?” Juhwan terdiam sejenak. Ia tahu persis resiko apa yang akan ia hadapi jika mencari tahu informasi tentang orang-orang terdekat ayahnya sendiri.

Siwan.

Tiba-tiba saja nama itu terlintas dalam benak Juhwan. Entah kenapa ia membutuhkan bantuan adik sepupunya itu. Meski sebenarnya ia ragu, apakah Siwan juga pernah melihat pria misterius itu ketika pemakaman ibunya dan orang tua Yoona.

“Baiklah,” Juhwan menyeringai. “Apapun resikonya, akan kuselidiki siapa pria itu.”

//

Sesuai rencana, Yoona mendatangi Changwook jelang jam makan siang. Wanita itu tersenyum ketika supir membukakan pintu mobil untuknya.

“Kau boleh pergi. Setelah ini, aku akan pergi jalan-jalan sendirian,” ucap Yoona pada supir pribadinya.

“Tapi, Nona—”

“Tidak perlu khawatir,” Yoona tersenyum ramah. “Kau bisa menjemputku begitu urusanku selesai. Nanti aku akan menghubungimu.”

“Baik, Nona. Semoga hari Anda menyenangkan.”

Yoona mengangguk, kemudian menunggu supir pribadinya masuk ke dalam mobil sampai pergi dari hadapannya. Setelah memastikan mobil itu menghilang dari pandangannya, Yoona berjalan memasuki bangunan di depannya tersebut.

Dahi Yoona sedikit berkerut karena tidak menemukan keberadaan asisten Changwook. Hanya ada beberapa berkas di meja yang berdekatan dengan pintu masuk. Sementara orang yang menempati tidak ada di sana.

“Mungkin di ruangan Changwook-oppa,” gumam Yoona sambil terus berjalan mendekati ruangan pria itu.

Yoona berdiri tepat di sebuah pintu dengan papan nama bertuliskan Ji Changwook. Perlahan tangan Yoona mengetuk pelan pintu tersebut.

“Masuk!” suara tegas itu terdengar dari dalam. Yoona sedikit gugup karena mengingat ini pertama kalinya ia akan berinteraksi dengan Changwook setelah bisa berbicara lagi.

Yoona melongokkan kepalanya dari balik pintu. Kini matanya berhasil menangkap kegiatan Changwook yang sedang sibuk membaca sesuatu di meja kerjanya. Yoona mengamati sekeliling dan baru menyadari jika pria itu sendirian.

“Apa kau sudah mengkopi file yang kuminta kemarin?

Kedua alis Yoona bertaut, lalu ia terkikik sejenak. Changwook tidak menyadari kedatangannya. Pria itu justru mengira yang datang adalah asistennya.

Oppa ….”

Changwook terkesiap karena masih mengira suara asistennya berubah. Pria itu menoleh ke arah pintu. Detik selanjutnya bola mata Changwook membulat sempurna. Ia bahkan lansgung berdiri begitu mengetahui orang yang masuk adalah Yoona.

Oppa, apa aku mengagetkanmu?” tanya Yoona lagi. Ia berjalan mendekati meja Changwook. Berdiri di depan pria itu dengan senyum yang terus terpatri di wajah.

“Yoona?”

Reaksi yang sudah diperkirakan Yoona. Changwook memandanginya dengan tatapan tak percaya.

“Ya, oppa. Ini aku, Im Yoona,” jawab Yoona lagi, diikuti kekehan pelan.

“Jadi … apa yang dikatakan Siwan memang benar?” Changwook menatap Yoona dengan haru. “Kau bisa berbicara lagi?”

Yoona terdiam sejenak, kemudian mengangguk pelan. Tanpa diduga, Changwook menarik tubuh mungil Yoona ke dalam dekapannya. Sikapnya itu sempat membuat Yoona sedikit terkejut, namun wanita itu hanya tersenyum. Ia bahkan membalas pelukan Changwook. Sahabat Siwan itu memang turut andil dalam kemajuan yang ia alami. Itu sebabnya Yoona sangat berterima kasih pada Changwook.

“Syukurlah,” Changwook mengusap lembut kepala Yoona. “Aku sangat senang kau bisa berbicara lagi.”

Ne, oppa,” Yoona tersenyum. “Terima kasih sudah membantuku.”

“Eh? Bukankah ini karena pria bernama Sehun itu?” pertanyaan Changwook sontak menimbulkan rona kemerahan di wajah Yoona.

“Wajahmu bahkan langsung memerah ketika aku menyebut namanya,” lanjut Changwook seraya mengeluarkan seringaiannya.

Oppa!” Yoona menutupi wajahnya karena malu. Ia memukul pelan lengan Changwook hingga pria itu merintih kesakitan.

Aigo, aku hanya bercanda,” ucap Changwook memohon ampun, sembari mengusap lengannya yang baru saja mendapat hadiah pukulan dari Yoona.

Yoona tertawa kecil. Begitu juga dengan Changwook. Ini kali pertama bagi mereka bisa berinteraksi dengan leluasa, tanpa harus mengandalkan notes yang selalu digunakan Yoona. Changwook sangat senang bisa mengobrol dengan Yoona seperti sekarang. Sudah lama sekali ia ingin melakukannya—tepat saat mereka pertama kali bertemu. Tapi, kondisi Yoona yang tidak memungkinkan waktu itu hanya bisa diterima Changwook dengan lapang dada.

“Jujur saja, aku sangat iri dengan pria bernama Sehun itu,” wajah Changwook tiba-tiba berubah serius. “Kalian baru bertemu sebentar, tapi dia sudah memberikan pengaruh yang begitu besar dalam kemajuan kondisimu.”

Yoona sedikit mengerutkan dahinya. Belum mengerti arah pembicaraan mereka.

“Bolehkah aku mengatakan sesuatu padamu?” tanya Changwook kemudian, yang disambut tatapan heran dari Yoona.

“Tentu saja, oppa.”

Changwook tersenyum, lalu menunduk sejenak. Memberi jeda selama beberapa detik sebelum akhirnya berkata, “Aku menyukaimu.”

Bola mata Yoona melebar. Ia bersiap memberikan respon, namun buru-buru ditahan oleh Changwook. Telunjuk kanan pria itu sudah menempel di bibir mungil Yoona.

“Tolong dengarkan aku sampai selesai,” pinta Changwook. “Maaf jika ucapanku ini mengejutkan dan membuatmu merasa tidak nyaman. Tapi, aku benar-benar ingin mengatakannya. Meskipun aku tahu, aku tidak akan pernah bisa mendapatkan hatimu.”

Oppa ….”

“Sejak pertama kali kita bertemu, aku sudah jatuh cinta padamu. Aku sempat mengira jika kau adalah sosok yang sangat sempurna, dengan kecantikan wajah dan kelembutan sikap yang kau miliki. Ternyata setelah Siwan menceritakan semuanya, aku baru menyadari jika tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini,” lanjut Changwook. Sementara Yoona masih bungkam, memilih menjadi pendengar setia.

“Aku masih ingat, beberapa kali kau menolak untuk berkenalan denganku karena kondisimu itu. Siwan menceritakan padaku jika kau sengaja menarik diri, tidak ingin berinteraksi dengan siapapun kecuali keluargamu dan juga Yuri,” Changwook mendongak. Sorot matanya berubah sendu ketika mengingat pertemuan pertamanya dengan Yoona.

Dada Yoona terasa sesak. Melihat wajah sedih Changwook, wanita itu merasa bersalah. Yoona sudah mengerti arah pembicaraan mereka sejak pria itu mengakui perasaannya beberapa menit yang lalu.

“Setelah aku kembali dari New York, kupikir akan ada kesempatan bagiku untuk mendapatkan hatimu, ternyata aku salah. Hatimu terlanjur terpikat pada pria itu,” Changwook tersenyum getir.

Yoona masih berdiri dengan wajah sedih. Semua ucapan yang keluar dari pria itu membuatnya merasa bersalah. Ia tidak pernah menduga jika Changwook akan memiliki peraasan khusus semacam itu kepadanya. Selama ini Yoona hanya menganggap interaksi mereka sama seperti Juhwan dan Siwan, layaknya kakak beradik.

“Maafkan aku, oppa,” Yoona menatap Changwook sembari menggenggam tangan pria itu. “Aku benar-benar merasa bersalah karena tidak bisa menerima perasaanmu. Selama ini aku hanya menganggapmu sama seperti kedua kakak sepupuku. Aku benar-benar minta maaf.”

Changwook tersenyum. Diusapnya kedua mata Yoona yang berair.

“Aku tahu. Aku bisa melihatnya dari caramu menatapku,” Changwook mengusap lembut kepala Yoona. “Lagipula, meskipun aku tidak berhasil mendapatkan hatimu, aku sangat senang bisa membantumu menjalani terapi ini. Kulakukan itu dengan tulus, tanpa mengharapkan apapun darimu.”

Yoona mendongak. Ditatapnya wajah Changwook dengan teliti. Ia tahu hati pria itu terluka, tapi Changwook tetap memamerkan senyuman terbaiknya. Seolah berkata ‘aku baik-baik saja’.

“Kau benar-benar pria yang sangat baik, oppa,” Yoona tersenyum. “Kudoakan semoga kau mendapatkan wanita yang lebih baik dariku.”

“Terima kasih untuk doanya,” Changwook terkekeh pelan. “Kau juga harus hidup bahagia bersama pria itu.”

Yoona mengangguk, “Tentu, oppa.”

//

Jongin, Chanyeol, dan Baekhyun—mereka menatap heran ke arah Sehun yang sedari tadi hanya diam. Kondisi Sehun ketika makan siang hari ini sangat kontras dengan kemarin. Jika sebelumnya mereka ketakutan karena Sehun tersenyum seorang diri seperti kerasukan, sekarang mereka justru disuguhi raut wajah datar bercampur murung oleh Sehun.

“Kau kenapa?” tanya Chanyeol memecah keheningan.

Tak ada respon yang keluar dari Sehun. Pria itu jusru sibuk mengaduk-adukkan sendoknya ke dalam cangkir yang berisi kopi.

“Kali ini masalah apa lagi?” bisik Chanyeol pada Jongin dan Baekhyun. Dua pria itu menggeleng kompak.

“Hei, Oh Sehun?” panggil Chanyeol. Ia mengguncang lengan Sehun karena pria itu tetap diam.

“Sehun?”

Lagi, tak ada respon yang keluar dari pria bermarga Oh itu.

“YA, OH SEHUN!”

“APA?!” tiba-tiba Sehun berteriak tak kalah kencang dari Chanyeol. Membuat seisi kafe menoleh ke arah mereka. Ketiga sahabatnya langsung menjaga jarak dengannya. Berusaha menyelamatkan diri dari amukan Sehun. Sedikit berlebihan memang, tapi Sehun akan tampak menakutkan jika sedang marah.

“He-hei, aku tidak bermaksud membuatmu marah,” Chanyeol melirik Baekhyun dan Jongin. Meminta bantuan pada dua pria itu untuk mengembalikan suasana seperti semula.

“Jangan marah pada kami, Hun! Kami hanya mengkhawatirkanmu,” kesabaran Jongin mencapai batas. “Ada apa sebenarnya? Kenapa sejak tadi kau diam dan tidak mengatakan apapun?”

Kepalan tangan Sehun yang sempat terlihat, perlahan mulai terlepas. Sehun menunduk. Ketiga sahabatnya bisa mendengar desahan panjang dari pria itu.

“Maaf,” Sehun berucap singkat. “Aku hanya sedang kesal pada diriku sendiri.”

“Kenapa?” Baekhyun ingin tahu apa yang membuat sahabatnya itu terlihat begitu frustasi seperti sekarang.

“Aku—” wajah Sehun tampak memelas. “—aku sudah berbuat hal yang tidak senonoh pada Yoona.”

“Apa maksudmu?” suara Chanyeol sedikit meninggi.

Sehun menarik napas panjang, “Aku mencium Yoona.”

“APA?!”

Kali ini giliran Sehun yang melonjak kaget karena teriakan keras ketiga pria itu. Reaksi yang sudah diperkirakan Sehun sebelumnya. Itulah sebabnya Sehun enggan memberitahu kejadian kemarin kepada Jongin, Chanyeol, dan Baekhyun. Tapi karena ketiga pria itu sedari tadi terus mencecari pertanyaan, Sehun tidak bisa lagi mengontrol emosinya.

Pabo!

Byuntae!

“Ya! Kenapa kalian justru mengataiku seperti itu?” Sehun menggeram kesal. Sementara Jongin terkikik mendengar celetukan yang keluar dari Chanyeol dan Baekhyun.

“Memang kenyataannya seperti itu, Hun,” jawab Chanyeol santai. “Haruskah aku mengulang kembali kesalahan-kesalahan yang sudah kau lakukan pada Yoona?”

“Tidak.”

“Sebaiknya harus,” tandas Baekhyun justru menyudutkan Sehun. “Dari awal sudah menolak perjodohan, bahkan membuat Yoona menangis karena mengatainya bisu.”

“Tidak tulus ketika meminta maaf.”

“Saat Yoona jatuh pingsan di kolam renang Hotel Royal, kau dua kali mencium bibirnya dengan alasan memberi napas buatan.”

“Dan kemarin kau menciumnya lagi,” Chanyeol menggelengkan kepala, lalu menyeringai. Bersama Baekhyun dan Jongin, ketiganya ber-high five ria karena berhasil membuat Sehun terpojok.

“Kalian benar-benar—” tangan Sehun mengepal kuat. Ketiga sahabatnya itu hanya menghadiahi ledekan kepadanya. Meski kesal, Sehun tak bisa mengelak karena semua ucapan yang dikatakan mereka adalah fakta. Oh, sekarang suasana hatinya kian memburuk.

“Masih bisa diperbaiki jika kau mau meminta maaf padanya, Hun,” sahut Jongin seraya menepuk-nepuk bahu Sehun.

Chanyeol dan Baekhyun mengangguk setuju.

“Tapi, aku heran dengan sikapmu sekarang,” Chanyeol mengamati wajah Sehun dengan teliti. “Belum pernah aku melihatmu begitu frustasi setelah mencium seseorang. Apalagi … dia wanita yang kau sukai, ‘kan?”

“Masalahnya aku melakukan ciuman itu dalam situasi yang tidak tepat, bahkan sedikit kasar,” jawab Sehun sedikit berteriak.

“Apa maksudmu?” tanya Jongin bingung.

Sehun terdiam. Mendapat tatapan menyelidik dari segala penjuru membuatnya tidak nyaman. Terpaksa, ia menceritakan semua kejadian kemarin secara detail. Dimulai saat ia mendapat kabar dari Kepala Pelayan Baek jika Yoona nyaris tertabrak mobil, tapi beruntung berhasil diselamatkan Woobin. Semua dijelaskan dengan lengkap tanpa ada yang kurang. Termasuk emosi Sehun yang tidak terkontrol karena cemburu dengan Woobin yang sudah menyelamatkan Yoona. Sampai akhirnya ciuman itu terjadi.

“Kalau sudah begitu, itu memang salahmu, Hun,” timpal Chanyeol.

“Benar, kau harus meminta maaf dengan Yoona secepatnya,” Baekhyun menggelengkan kepala. “Bagaimana jika dia marah dan justru berbalik membatalkan perjodohan kalian?”

“Apa?” Sehun membelalakkan matanya, “Aku tidak mau itu terjadi.”

“Makanya cepat pergi temui Yoona dan minta maaf padanya,” sambung Jongin.

Sehun merengut. Wajah dingin dari ketiga sahabatnya itu membuatnya yakin jika ia telah melakukan kesalahan besar.

Tapi, tanpa sepengetahuan Sehun, di balik wajah dingin ketiga pria itu, mereka sebenarnya tersenyum menyeringai. Belum pernah mereka melihat Sehun begitu frustasi karena seorang wanita.

//

Myeongdong.

Yoona tersenyum melihat bagaimana ramainya Myeongdong hari ini. Sebenarnya setiap hari memang ramai, mengingat tempat itu adalah surganya untuk berbelanja.

Setelah menemui Changwook, Yoona memang sudah berencana mendatangi Myeongdong. Ia ingin menikmati suasana keramaian di sana. Ia pergi ke tempat tersebut menaiki bis. Untung saja ada sebuah halte bis di dekat kantor Changwook.

Katakan saja Yoona nekat pergi ke tempat keramaian itu seorang diri. Menaiki angkutan umum untuk pertama kalinya, setelah sekian lama selalu diantar oleh supir pribadinya. Sekali saja, Yoona ingin merasakan bagaimana menjadi masyarakat biasa, yang selalu bepergian dengan angkutan umum.

Sebenarnya rencana ini sudah dipikirkan Yoona sejak lama. Hanya saja belum bisa terealisasi mengingat kondisinya yang sempat kehilangan kemampuan berbicara karena trauma masa lalu. Jadi, setelah Yoona bisa berbicara lagi, tanpa ragu ia memutuskan untuk pergi ke sana.

Yoona menyusuri Myeongdong yang ramai. Ia dibuat takjub dengan suasana di tempat tersebut. Ia sempat gugup karena pertama kali seorang diri berada di tengah kerumunan banyak orang. Tapi, semua itu bisa segera teratasi. Apalagi setelah beberapa orang yang menjual dagangan mereka, menyambut Yoona dengan ramah ketika wanita itu melewati toko-toko mereka.

Tanpa sadar, Yoona sudah berada di Myeongdong selama hampir 2 jam. Sudah waktunya ia pulang ke rumah.

Yoona melangkah ke tepi jalan, lalu duduk di salah satu bangku umum. Ia merogoh ponselnya dari dalam tas, bermaksud menghubungi supir pribadinya agar segera menjemputnya. Sayangnya, tanpa diduga ponsel Yoona dalam kondisi mati karena kehabisan daya baterai.

“Bagaimana ini?” gumamnya bingung. Meski sudah menikmati makan siang, tetap saja kakinya terasa pegal karena berjalan mengelilingi kawasan itu selama hampir 2 jam. Yoona bisa saja kembali menaiki bis, tapi ia ingat lokasi halte bis cukup jauh dari kawasan rumahnya. Dengan kondisi ponsel yang mati, praktis Yoona nanti harus berjalan lagi ke rumahnya karena tak bisa menghubungi siapapun untuk menjemputnya.

Tiba-tiba ada sebuah mobil yang berhenti tepat di depannya. Wanita itu masih menunduk dengan wajah kebingungan. Sampai-sampai ia tak menyadari seorang pria yang keluar dari mobil itu sedang berjalan mendekatinya.

“Tidak kusangka kita bertemu di sini.”

Yoona mendongak, lalu menatap sosok pria yang sudah berdiri di depannya. “Woobin-oppa?”

Woobin melambaikan tangan sembari memasang senyuman lebar. Senyum itu benar-benar tulus, tidak bermaksud apa-apa karena ia sangat senang bisa bertemu Yoona. Setelah ia menikmati makan siang di salah satu restoran yang ada di sana bersama rekan bisnisnya.

“Oh iya, bagaimana kondisi lengan oppa?” mendadak Yoona teringat lengan Woobin yang terluka karena menolongnya kemarin.

“Sudah lebih baik,” Woobin tersenyum. “Kau tidak perlu khawatir.”

“Syukurlah,” Yoona menghela napas lega.

“Ngomong-ngomong … apa yang sedang kau lakukan di sini?” Woobin memandangi sekeliling. Sama sekali tidak ada tanda-tanda keberadaan mobil mewah di sekitar—selain mobilnya sendiri.

“Jalan-jalan.”

“Sendirian?” tanya Woobin lagi.

Anggukan pelan Yoona membuat Woobin menatap takjub. “Kau ke sini naik apa? Kenapa aku tidak melihat mobilmu?”

Bukannya menjawab, Yoona malah meringis lebar. Membuat Woobin merasa gemas dengan wajah innocent-nya.

“Tadi aku ke sini naik bis,” Yoona mengusap tengkuknya. “Tadinya aku ingin menelepon supir pribadiku, tapi ternyata ponselku mati karena baterainya habis.”

Bola mata Woobin melebar setelah mendengar pengakuan Yoona. Ia tak habis pikir, untuk apa cucu ke-3 dari Empire Group—yang notabene perusahaan terbesar di Korea Selatan—pergi seorang diri ke tempat keramaian dengan menaiki angkutan umum.

“Kenapa kau pergi tanpa supir pribadimu?”

“Sejak dulu aku ingin mencoba menaiki angkutan umum, oppa,” Yoona tersenyum lebar. “Rasanya menyenangkan, bisa merasakan apa yang biasa dilakukan masyarakat biasa.”

Dia benar-benar gadis yang menarik—batin Woobin dengan pandangan yang terus tertuju pada Yoona. Seperti sihir, senyuman wanita itu membuat Woobin ingin terus menatapnya. Bahkan sampai tak menyadari debaran-debaran aneh yang selalu muncul ketika ia berinteraksi dengan Yoona.

“Bagaimana jika kau pulang bersamaku?”

Senyum Woobin sedikit tertahan ketika melihat mata Yoona yang berbinar.

“Bolehkah?”

“Tentu,” Woobin tersenyum. Ia mempersilakan Yoona masuk ke dalam mobil terlebih dahulu, baru dirinya.

Bagi Woobin ini adalah hari ini keberuntungannya. Bisa bertemu Yoona dan kembali satu mobil dengan wanita itu. Dalam hati ia berterima kasih pada rekan bisnisnya yang sudah mengajaknya bertemu di Myeongdong.

//

“Yoona sedang pergi?”

Kepala Pelayan Baek mengangguk. Ia sedikit kaget dengan kedatangan Sehun bersama Jongin, tanpa memberitahunya terlebih dahulu.

“Sejak kapan?”

“Nona Yoona tadi pergi sekitar jam 10, Tuan Muda,” jawab Kepala Pelayan Baek.

“Apa?” Jongin melirik jam tangannya. “Ini sudah hampir jam 3 sore dan dia belum pulang?”

Sehun semakin didera rasa khawatir. Ia mengeluarkan ponselnya, dan setelah itu mendesah kecewa. Ia baru ingat belum memiliki nomor ponsel Yoona. Ish, bertambah lagi satu kebodohanmu, Oh Sehun.

Kepala Pelayan Baek terdiam. Pandangannya beralih sejenak pada sosok pria yang tidak lain adalah supir pribadi Yoona. Ia menghampiri pria tersebut, sedikit mengobrol atau lebih tepatnya mencari tahu ke mana Yoona pergi.

Sehun dan Jongin masih menunggu. Wajah khawatir Jongin tidak bisa mengalahkan bagaimana wajah khawatir Sehun. Tetap pria bermarga Oh itu yang paling mengkhawatirkan Yoona.

“Bagaimana?” tanya Sehun pada Kepala Pelayan Baek.

“Supir Lee bilang, tadi Nona menyuruhnya untuk pergi karena ingin menemui teman Tuan Muda Siwan. Beliau akan menghubungi Supir Lee jika urusannya sudah selesai,” jawab Kepala Pelayan Baek.

“Dan sampai sekarang dia belum menelepon?”

Belum ada jawaban yang terdengar, sampai Kepala Pelayan Baek mengangguk pelan dengan wajah bersalah.

Sehun kian tersiksa dengan kekhawatiran yang melandanya. Ia meminta Kepala Pelayan Baek untuk menghubungi ponsel Yoona, namun ternyata hanya suara operator yang terdengar.

“Dia pasti baik-baik saja,” ucap Jongin menenangkan Sehun.

Belum sempat menanggapi ucapan Jongin, perhatian Sehun teralih pada sebuah mobil yang mulai memasuki area depan rumah keluarga Im. Sehun menatap mobil itu dengan tatapan curiga. Ia seperti pernah melihatnya, tapi di mana?

Seorang wanita tiba-tiba keluar dari mobil tersebut, dan mengejutkan semua orang.

“Yoona?” mata Sehun nyaris tak berkedip ketika sosok yang baru saja keluar dari mobil adalah wanita yang sedari tadi ditunggunya. Wanita yang membuat Sehun belum pernah sekacau ini.

“Sehun? Jongin?” Yoona memandangi dua pria berbeda marga itu satu per satu. “Sedang apa kalian di sini?”

Jongin sampai berdiri mematung dengan tatapan takjubnya, begitu melihat Yoona sudah bisa berbicara lagi. Pantas saja Sehun tak ingin melepaskan wanita itu. Selain wajahnya cantik, suara Yoona benar-benar lembut.

“Sehun ingin bertemu denganmu. Aku hanya mengantarnya saja,” jawab Jongin disertai cengiran lebar. “Oh iya, selamat ya. Aku sangat senang kau bisa berbicara lagi.”

Yoona tersenyum, “Ne, terima kasih.”

“Kau pulang bersama siapa?”

“Ngg … itu—” Yoona sedikit kaget dengan nada tegas Sehun. Ia menengok ke belakang, tepatnya pada sosok pria dengan setelan jas formalnya sudah berdiri di dekat mobil.

Pandangan Sehun dan Jongin langsung tertuju ke arah yang menjadi pusat perhatian Yoona. Raut wajah keduanya sontak berubah, setelah mengetahui pria yang baru saja keluar dari mobil adalah Woobin.

“Kami tidak sengaja bertemu di jalan,” Woobin berjalan mendekati tempat di mana semua orang berkumpul. “Aku melihat Yoona seorang diri dengan wajah kebingungan di tepi jalan daerah Myeongdong.”

“Kau pergi ke Myeongdong sendirian?”

Yoona meringis lebar, lalu memainkan jemari tangannya dengan kepala tertunduk. Sehun mendesah pelan, sementara Jongin tertawa kecil melihat wajah polos Yoona. Seperti anak kecil yang sedang kena marah orang tuanya.

“Lalu kenapa ponselmu tidak bisa dihubungi?”

“Oh, itu—” Yoona mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. “—ponselku mati karena baterainya habis. Maaf.”

Sejenak terdengar helaan napas panjang. Yoona menatap semua orang dengan kedua alis yang bertaut. Namun sorot mata Sehun seolah menjawab pertanyaan yang bahkan belum sempat dilontarkan oleh Yoona.

“Maaf, aku tidak bermaksud membuat kalian khawatir,” kali ini raut bersalah mendominasi wajah Yoona.

“Sudahlah,” suara Woobin menginterupsi. “Kalian tidak perlu lagi menyalahkannya karena pulang terlambat. Toh Yoona sudah pulang dengan selamat.”

“Dia benar,” bisik Jongin pada Sehun. Sementara Sehun hanya menatap Woobin dengan tatapan tidak suka. Terlepas dari fakta bahwa pria itu yang sudah mengantar Yoona pulang.

“Terima kasih, hyung,” mau tak mau Sehun harus bersikap baik kepada Woobin. Dalam hati Sehun menggeram kesal. Ini kedua kalinya ia mengucapkan terima kasih pada rival-nya tersebut.

Woobin menyeringai, tentunya hanya Sehun dan Jongin yang melihatnya.

“Baiklah, aku pamit,” Woobin bersiap masuk ke dalam mobilnya.

Oppa, terima kasih sudah mengantarku,” Yoona tersenyum manis, dan lagi-lagi membuat wajah Woobin merona. Pria itu mengangguk kecil, sebelum masuk ke dalam mobilnya.

Jongin kembali memperhatikan Sehun yang terus menatap horor ke arah mobil Woobin yang sudah keluar dari gerbang. Sikutan pelan yang diberikan Jongin membuat Sehun melirik tajam ke arahnya.

“Cepat meminta maaf padanya,” ucap Jongin setengah berbisik. Ia lalu tersenyum ke arah Yoona yang memandangi mereka dengan tatapan bingung.

Sehun memejamkan matanya, sembari menarik napas dalam-dalam. Lalu tatapan Sehun tertuju pada Yoona. “Kita harus bicara.”

Jongin menutupi wajahnya. Ucapan Sehun barusan justru terkesan dingin. Jadi, jangan heran kalau Yoona terlihat bingung dan sedikit takut.

“Ah, aku harus pergi sekarang. Sudah ada janji dengan ayahku,” Jongin terkekeh pelan, lalu memberi kode ke arah Sehun.

“Biar Supir Lee yang mengantar Anda pulang,” Kepala Pelayan Baek melirik supir pribadi Yoona yang masih terdiam di tempatnya. Sadar mendapat tugas, pria itu segera bergegas membukakan pintu mobil untuk Jongin.

“Aku pergi dulu. Sampai jumpa lagi, Yoona,” pamit Jongin, kemudian menghadiahi sorot mata mengancam pada Sehun. Seolah berkata ‘jangan melakukan hal memalukan lagi!’.

Setelah mobil yang dinaiki Jongin menjauh dari pandangan mereka, Sehun menarik tangan Yoona, membuat wanita itu menoleh kaget.

“Ayo. Kita harus pergi ke suatu tempat,” ucap Sehun dengan penekanan.

“Ke mana?” Yoona mengernyit. “Tadi kau bilang ingin bicara denganku?”

“Iya, tapi tidak di sini,” Sehun tersenyum tipis. “Kepala Pelayan Baek, tidak masalah ‘kan jika aku mengajak Yoona keluar sebentar? Kami akan pulang sebelum jam makan malam.”

“Tentu, Tuan Muda.”

Sehun tersenyum karena sudah mendapat izin, meskipun melalui Kepala Pelayan Baek. Yoona pun tidak bertanya lagi, membiarkan Sehun menuntunnya masuk ke dalam mobil.

//

Mobil yang dinaiki Sehun dan Yoona mulai memasuki area parkir yang sangat luas. Di depan sana terbentang sungai yang menjadi icon dari kota Seoul—Sungai Han. Yoona dibuat takjub dengan pemandangan di sekitar sungai, terlebih ketika memasuki waktu senja seperti sekarang.

Sehun keluar dari mobil lebih dulu, kemudian berjalan menuju tepi sungai. Yoona buru-buru menyusulnya karena Sehun berjalan cepat tanpa menunggunya keluar dari mobil. Sehun seperti menghindarinya. Ada apa dengan pria itu?

“Sehun?” Yoona sudah berdiri di sebelah Sehun. Namun pria itu masih menatap lurus ke arah sungai.

Yoona sedikit memiringkan kepalanya, ingin melihat bagaimana raut wajah Sehun sekarang. Sesaat ia tertegun begitu menangkap gurat kesedihan di wajah pria itu.

“Maaf,” Sehun menoleh, “Aku minta maaf soal kejadian kemarin. Tidak seharusnya aku melakukan hal itu. Aku benar-benar minta maaf. Kau pasti sangat marah dan kecewa atas sikapku. Aku sungguh menyesal karena sudah melakukannya.”

Kaget sekaligus bingung. Yoona menatap tak percaya ke arah Sehun yang sedang menundukkan kepala di depannya.

Apa benar pria ini adalah Oh Sehun?

Pemikiran Yoona tidak salah, mengingat perlakuan Sehun di awal pertemuan mereka sangatlah jauh dari kesan baik. Masih membekas dalam ingatan Yoona bagaimana bibir Sehun mengeluarkan kata-kata tajam yang melukai hatinya, juga sikap kasar yang sempat diperlihatkan ketika meminta maaf padanya.

Tapi kali ini, Sehun tampak berbeda. Tak ada lagi kesan angkuh dan sombong. Ia benar-benar tulus mengatakan permintaan maaf itu. Ditambah lagi raut wajah bersalahnya yang membuat Yoona tertegun. Entah kenapa ia menjadi tidak tega jika Sehun memperlihatkan wajah bersalah yang bercampur sedih di depannya seperti sekarang.

Tidak tahu mendapat dorongan dari mana, Yoona melangkah ke depan—membuat dirinya dan Sehun berdiri dekat tanpa jarak.

Sehun sedikit kaget begitu menyadari tangan Yoona sudah melingkar di tubuhnya. Ia tidak bisa melihat ekspresi Yoona, karena wanita itu sengaja membenamkan wajahnya pada dada bidangnya. Satu hal yang Sehun rasakan, pelukan Yoona perlahan semakin erat.

“Aku sama sekali tidak marah,” tangan Yoona berpindah ke atas, tepatnya pada bagian bahu Sehun. Ia mengusapnya dengan lembut, membuat Sehun benar-benar mendapat ketenangan batin yang luar biasa.

Kini giliran tangan Sehun yang melingkar di pinggang ramping Yoona. Kepalanya sedikit menunduk. Ia mengusap tengkuk Yoona, kemudian membelai lembut kepala wanita itu.

“Terima kasih,” Sehun menghela napas lega. “Mulai sekarang aku akan memperbaiki sikapku. Aku janji.”

Yoona mendongak, menatap Sehun dengan wajah meronanya. Keduanya sama-sama tersenyum, dan kembali berpelukan.

“Oh iya, akhir minggu ini Chanyeol mengadakan acara pameran galeri fotonya,” Sehun teringat dengan undangan pria bermarga Park itu. “Kau mau menemaniku ke sana, ‘kan? Aku akan mengenalkanmu pada sahabatku selain Jongin, yaitu Chanyeol dan Baekhyun.”

“Tentu. Aku akan menemanimu ke sana,” jawab Yoona.

Sehun tersenyum, kemudian wajahnya berubah sedikit tegang. Pria itu berdeham sejenak, membuat Yoona menatapnya heran.

“Ngg … masih ada lagi yang ingin kutanyakan padamu,” Sehun berubah kikuk.

Yoona masih menunggu. Ia bisa melihat wajah Sehun yang begitu gugup.

“Maukah kau berkencan denganku?”

BLUSH!

Yoona terdiam selama beberapa detik. Wajahnya memerah, antara malu sekaligus senang dengan ajakan kencan Sehun. Bagaimana dengan Sehun sendiri? Wajahnya lebih memerah dibanding Yoona.

“Kau belum menjawabnya,” Sehun sedikit menunduk, berusaha menyembunyikan wajahnya yang berbeda jauh dari biasanya. Jauh dari kesan dingin dan cool yang selama ini sudah menjadi image-nya.

Bibir Yoona melengkung sempurna, “Ya, aku mau.”

Sehun tidak berkata lagi. Ia lebih memilih meluapkan rasa bahagianya dengan kembali memeluk Yoona.

Usai menyelesaikan masalah yang sempat membuat Sehun frustasi dan Yoona yang merasa canggung, keduanya memutuskan untuk pulang.

Selama perjalanan pulang, tak ada obrolan yang tercipta antara dua orang berbeda gender itu. Yoona terlihat kelelahan. Ia bahkan sudah tertidur dengan posisi kepala yang bersandar di bahu Sehun. Ia tak terlalu memikirkan kejadian kemarin, karena dirinya benar-benar merasa nyaman berada di dekat Sehun.

Bagaimana dengan sikap Sehun sendiri? Pria itu terus mengumbar senyum, sembari mengatur posisi Yoona senyaman mungkin ketika menggunakan bahunya sebagai bantalan. Wajah polos Yoona yang tertidur pulas membuat Sehun merasa tenang dan damai.

“Ngg … Sehun?”

Sehun menoleh kaget saat merasakan tangan Yoona memeluk lengannya. Ia memeriksa lagi wajah Yoona. Mata gadis itu masih terpejam.

“Mengingau rupanya,” gumam Sehun sembari tersenyum. Lagi, ia mendengar suara Yoona yang memanggilnya.

Tangan Sehun pun bergerak mendekati tangan Yoona. Ia genggam dengan erat tangan wanita itu, seolah tak ingin melepasnya begitu saja. Sama halnya dengan hati Sehun yang selamanya akan terikat pada Yoona.

“Aku akan selalu berada di sisimu. Aku janji,” bisik Sehun lembut sebelum menghadiahi sebuah kecupan di kepala Yoona.

-TO BE CONTINUED-

A/N : Long time no see!

Sebenarnya masih hiatus, tapi nggak tahu kenapa saya kangen ngelanjutin FF ini. Jadi, saya sempatin aja nulis kelanjutannya lagi. Kalau dipikir lagi, padahal yang paling krisis kelanjutan FF Destiny. Tinggal 3 chapter lagi bakalan tamat, tapi apa daya karena terlalu banyak ngumpulin isian database aplikasi untuk penelitian skripsi saya, jadinya pusing pala barbie pala barbie ouw … ouw … ouw *mulai lagi somplaknya*😄

Dan … untuk chapter selanjutnya nggak tahu kapan bakal dipublish, hehe^^’

Thanks for reading! See you next time!

100 thoughts on “Immortal Memory [7]

  1. plis lanjutin😊😊😊😊
    gua suka buaaaaangeeetttt😘😘😘😘
    bias gua kan sehun☺☺☺☺☺
    plis👶👶👶👶👶👶

  2. Bgus bnget ceritanya, aku suka bnget aplgi moment yoonhun, so sweet bangetttt.., aku bner” nunggu next chapternya.., penasaran bngettt..

  3. Aku penasaran banget sama lanjutannya. Ayo dong authornya udahan hiatusnya ㅋㅋㅋ
    Gimana ya kalau Juhwan tau kalau ayahnya sendiri dalang dari pembunuhan orang tuanya Yoona? Bener-bener penasaran deh.
    Sehun udah mulai sweet ya walau masih jamin banget

  4. Long time no see risma eonnii…
    Kyaaa~ berapa bulan ane gak blusukan ke sini. Duh! Sok sibuk bgt kan gue.

    FFnya makin kesini makin bikin orang senyam senyum sama scene2nya.
    Apalagi YoonHun. .
    Eh tapi ane juga suka tuh sama momen Woobin – Yoona moment. Seneng banget ngebayangin wajah sangarnya si woobin klo lagi merona pas ngeliat si yoong. Hahhaha

    nextnya kapan mau di lanjut nih..
    Kayaknya sibuk bgt ngurusin blog baru. Hihihi

  5. Entah kenapa aku ngerasa ff ini bakal bagus banget kalau bnr2 bisa dijadiin drama *plak* semangat ya thor buat next chap nyaa.. Jangan lama lama hihi😀

  6. Wuuuw keren bgt!!!
    Serius deh hehehehe
    Akhirnya sehun yoona bener2 udah official wkwkwk
    Tapi woobin jgn ganggu2 lah-.-
    Hahahaha
    Semoga jongin sama ayahnya bisa nemuin fakta kalo yg bunuh ortunya yoona itu hyunjae
    Bagus bagus!!!
    Ditunggu chapter slanjutnya ya thor

  7. Baru tau klau author hiatus.. Kekeke maklum readers baru 3 bulan thor -_-
    author baik bnget,hiatus tpi malah update.. Salut thor,, fighting kuliahny thor ^^
    mereka mau kencan yeay.. Cie udh berani pelukan di depan umum.. Sblmny cuma kiss ajh dibwa pikiran smpai kya mayat hidup #liriksehun..
    Suka bngt chapt ini,,bnyk moment yoonhun jga :v
    chap slnjutny ditunggu thor😉
    Keep writing thor ^^

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s