[Freelance] The Vow (Chapter 3)

tumblr_nraplqAFLY1rvvhg3o1_r1_500

The Vow [3]

by GreenAngel

 

Main Cast

Im Yoona

Genre

Drama | Romance | Marriage Life

Rating | Length

PG17 | Chapter

Disclaimer

Based on my mind. Don’t claim as yours! Happy reading

……

Yoona masih mengingatnya dengan jelas saat Chanyeol bercerita kepadanya mengenai keluarganya. Ayah Chanyeol seorang pebisnis handal di Korea Selatan sedangkan ibunya memiliki butik terkenal. Chanyeol memiliki seorang kakak perempuan yang menetap di Jepang bersama dengan suaminya. Chanyeol tidak memiliki adik dan tidak memiliki sepupu, karena kedua orang tuanya adalah anak tunggal.

Chanyeol juga bercerita mengenai mereka. Park Chanyeol dan Im Yoona. Lelaki itu bercerita ia mengenal Yoona saat usia Chanyeol 23 tahun dan usia Yoona dua tahun lebih muda darinya. Mereka bertemu di suatu acara sosial. Saat itu Chanyeol yang merasa tertarik pada Yoona, mengajaknya berkenalan dan meminta nomor teleponnya di akhir acara. Beberapa bulan kemudian mereka resmi berkencan.

Yoona juga ingat saat Chanyeol bercerita bahwa kedua orang tua Yoona meninggal saat kecil dan ia dibesarkan di panti asuhan sampai berusia 10 tahun. Tak lama setelahnya ia diadopsi oleh keluarga Im.

Wanita itu bertanya-tanya dalam hati. Apakah keluarga yang mengadopsinya menyayanginya seperti anak mereka sendiri? Atau bahkan mereka memperlakukan Yoona dengan kasar? Yoona sempat menanyakan hal tersebut pada Chanyeol. Yang dibalas lelaki itu dengan gelengan kepala dan ia mengatakan bahwa keluarga Im sangat menyayanginya. Nyonya Im divonis tidak dapat memiliki anak karena kondisi rahimnya lemah. Oleh karena itu Tuan dan Nyonya Im memutuskan untuk mengadopsi Yoona dan memperlakukan Yoona seperti anak kandung mereka sendiri.

Yoona juga ingat saat Chanyeol mengatakan bahwa kedua orangtuanya akan mengunjungi mereka. Ia kira hanya orang tua Chanyeol yang datang, namun ia salah. Nyatanya saat ini ia berdiri kikuk di hadapan orang-orang yang menatapnya intens.

Lidahnya terasa kelu saat ingin mengucapkan salam. Di hadapannya ada dua pasangan paruh baya dan satu pasangan yang masih muda. Mereka semua menatap Yoona dengan raut wajah yang sulit diartikan.

Setelah berdeham pelan, akhirnya Yoona membuka suara disertai dengan membungkukan badannya, “Annyeonghaseyo.”

Wanita itu menegakkan badannya kembali. Sedikit bingung karena ia tidak mendapatkan balasan atas sapaannya.

“Sayang, siapa yang datang?” Pria jangkung itu berjalan ke arah Yoona. Wanita itu sedikit menggeser tubuhnya agar Chanyeol dapat melihat beberapa orang yang berkunjung ke rumahnya kali ini.

Pria itu dapat melihat kedua orang tuanya, ayah dan ibu mertuanya serta kakaknya yang membawa serta suaminya. “Kenapa hanya berdiri disini? Silahkan masuk.”

Ucapan Chanyeol tak ditanggapi. Beberapa orang dihadapannya sibuk mengamati Yoona dari atas hingga bawah. Ibu Yoona –Im Min Ri– secara perlahan mendekati Yoona. “Yoona sayang? Kau baik-baik saja?” tanyanya sambil menggenggam tangan Yoona.

Yoona menatap Chanyeol dengan sorot mata bingung. Sementara tangannya bergerak tak nyaman digenggaman wanita paruh baya yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

“Ayah, ibu, eomma, appa, noona dan hyung. Sebaiknya kalian masuk dulu.” Chanyeol membawa mereka ke ruang keluarga. Setelah memastikan pintu tertutup, Yoona segera mengikuti Chanyeol.

Suasana canggung masih menyelimuti mereka di ruangan itu. Yoona yang merasa risih akan tatapan-tatapan itu hanya menunduk sambil memainkan jemari tangannya.

“Jangan menatapnya seperti itu. Kalian membuat Yoona takut.” Setelah Chanyeol berucap, beberapa pasang mata itu mengalihkan pandangan mereka.

“Sayang,” Yoona menolehkan pandangannya pada Chanyeol. “Laki-laki dan wanita di sebelah kiri adalah ayah dan ibu ku, sedangkan yang disebelah kanan adalah orang tua mu. Sementara yang ditengah adalah kakak perempuan ku dan suaminya.

Yoona menatap wanita paruh baya yang tadi menggenggam tangannya, Chanyeol bilang bahwa wanita itu adalah ibunya. Lelaki disebelahnya pasti ayahnya. Ia berusaha mengingat wajah mereka, namun nihil. Ia tidak mengingat apapun.

Tak butuh waktu lama bagi Yoona untuk mengakrabkan diri dengan keluarga besarnya. Walaupun awalnya terasa canggung berada diantara mereka, Yoona perlahan dapat merasakan bahwa mereka adalah orang-orang yang ramah dan hangat.

“Ibu ada yang bisa ku bantu?” Yoona bertanya pada ibunya. Saat ini para wanita–Yoona, ibu, mertua dan kakak iparnya– sedang menyiapkan makan malam. Beruntung tadi sore Yoona dan Chanyeol menyempatkan berbelanja ke supermarket. Jika tidak, bisa dipastikan persediaan bahan  makanan di kulkas mereka akan kosong.

“Kau potong kentang-kentang itu sayang.” Yoona segera mengambil kentang-kentang yang sudah dicuci oleh eomma dan mengambil pisau untuk memotongnya. Entah mengapa saat ia mengiris kentang-kentang itu, tangannya terasa kaku. Alhasil potongan-potongannya menjadi tak beraturan. Ada yang terlalu besar bahkan ada yang terlalu kecil.

Melihat hasil pekerjaan menantunya, ibu Chanyeol menghampiri Yoona dan menepuk pelan bahunya. “Biar eomma saja yang memotongnya.”

Yoona mengangguk malu karena melakukan hal itu saja harus dibantu ibu mertuanya, “Ne eomma.”

Untuk memudahkan dalam memanggil keluarga besarnya, Yoona menjatuhkan pilihan bahwa ia akan menyebut orang tuanya dengan panggilan ‘Ayah dan Ibu’, sedangkan panggilan untuk mertuanya yaitu ‘Appa dan Eomma’. Begitu pula dengan Chanyeol.

Setelah setengah jam berkutat di dapur akhirnya menu makan malam tersaji di meja makan.  Setelah semuanya duduk mengitari meja makan tersebut, acara makan malam pun dimulai. Yoona tersenyum melihat interaksi keluarga besarnya. Chanyeol yang rebutan makanan dengan kakak iparnya – Kim Junmyeon – sementara Park Yura hanya melihat pertengkaran suami dan adiknya sambil tertawa. Orang tuanya dan orang tua Chanyeol yang berbincang hangat. Entah mengapa Yoona mersa suatu bentuk kenyamanan saat berada diantara mereka. Mereka sama sekali tak mempermasalahkan ingatan Yoona yang hilang. Bahkan mereka mengatakan asalkan Yoona sehat, semua akan berjalan baik-baik saja.

Hari ini hari minggu. Yoona memutuskan untuk menghirup udara pagi dengan berjalan-jalan di kebun belakang rumahnya. Awalnya ia ingin mengajak Chanyeol, tapi ketika melihat suaminya tertidur pulas ia mengurungkan niatnya. Disinilah ia mengitari kebun kecil yang ditanami beberapa tanaman bunga sambil merenggangkan otot-otot tubuhnya.

Kakinya melangkah menuju deretan tanaman yang berjajar. Ia tersenyum saat menyentuh kelopak bunga matahari. Ada banyak bunga yang ditanam disana, mulai dari bunga matahari, anggrek, tulip hingga mawar.

“Kau pasti sangat menyukainya.” Yoona menolehkan kepalanya mencari sumber suara. Ia melihat Chanyeol berdiri sambil bersandar pada pintu belakang. Pintu pembatas rumahnya yang besar dan kebun kecilnya. Tangan pria itu dimasukkan ke dalam saku celana. Tak lupa dengan senyuman di wajahnya apalagi rambutnya dibiarkan acak-acakan khas orang bangun tidur. Hal itu membuat suaminya terlihat tampan dan seksi disaat yang bersamaan.

Yoona mengangguk dan tersenyum. Ia kembali menikmati aroma masing-masing bunga. Tak menyadari langkah panjang Chanyeol yang semakin mengikis jarak diantara mereka.

Senyum Yoona semakin lebar saat sepasang lengan mengurungnya dalam pelukan dari belakang. Chanyeol menyandarkan kepalanya di bahu Yoona. “Indah bukan?” lelaki itu semakin mempererat pelukannya. “Kau yang menanamnya.” lanjutnya.

“Benarkah?” tanya Yoona tak percaya.

Chanyeol mengangguk. “Kau sangat menyukai bunga, sayang. Kau bahkan memiliki toko bunga yang kau bangun bersama teman mu.”

“Kenapa kau baru mengatakannya padaku?”

“Aku lupa,” Chanyeol tersenyum konyol. “Aku akan mengajak mu bertemu dengan Seohyun. Dia yang memback-up semua pekerjaan di toko kalian.”

“Seohyun?”

“Ya. Seohyun. Kau pasti tak mengingatnya. Kau bersahabat dengannya bahkan sebelum kita berdua bertemu. Seingatku kau dan Seohyun akhirnya membuka bisnis toko bunga tiga tahun lalu.”

Yoona mengangguk paham. Mungkin itulah alasannya kenapa ia menanam bunga di kebun ini. Ia sangat menyukai bunga hingga mendirikan toko bunga sebagai penyalur hobinya.

Yoona melepaskan diri dari pelukan Chanyeol dan melangkahkan kakinya menuju sudut kebun. Beberapa saat lalu matanya menangkap sebuah bunga yang sedikit terhalang dedaunan disekitarnya. Ia menyibak dedaunan tersebut hingga terpampang jelas bunga yang sebelumnya seolah meringkuk malu-malu. Mawar putih.

Tangannya terulur. Hendak menyentuh dan mencium aromanya. Kelopaknya sangat halus, membuatnya semakin mendekatinya. Selang beberapa detik setelahnya hidungnya terasa gatal hingga akhirnya tangannya menutupi hidungnya. Berusaha meredam bersin yang keluar dari hidung gatalnya.

Wanita itu bangkit dari posisinya. Ia memperat cardigan yang membungkus tubuhnya. “Udaranya cukup dingin. Sebaiknya kita masuk ke dalam. Aku tidak mau kau jatuh sakit.” Entah sejak kapan Chanyeol sudah berdiri disampingnya. Lelaki itu mengulurkan tangannya dan disambut dengan anggukan dari Yoona.

Mereka berdua melangkahkan kaki kedalam rumah. Dengan Yoona yang bergelayut manja di lengannya dan lelaki itu yang mengusap surai indahnya.

Udara pagi ini cukup dingin. Membuat dua orang yang bergelung di sofa semakin merapatkan jarak. Selimut tebal menutupi tubuh mereka dari hawa dingin yang merasuk hingga ke tulang. Dihadapan mereka tersaji dua cangkir teh hangat dan televisi yang menyala.

Wanita itu berulang kali mengganti channel. Pilihannya jatuh pada acara musik. Ia membenarkan letak selimutnya dan menyandar pada dada bidang suaminya. Kepalanya sedikit bergerak mengikuti irama musik, begitupun juga dengan tubuhnya. Ia merasakan sesuatu yang familier.

“Sepertinya kau menikmatinya.” Ucap Chanyeol sambil memainkan jemari istrinya. Yoona tak membalas ucapan Chanyeol. Ia kembali sedikit menggerakkan tubuhnya ketika lagu baru dengan tempo yang lebih cepat terputar.

Cukup lama mereka seperti itu hingga Chanyeol memutuskan beranjak dan berjalan menuju dapur. Sudah lewat beberapa minggu sejak Yoona pulang dari rumah sakit. Selama itu pulalah Chanyeol yang selalu menyiapkan sarapan, makan siang dan makan malam mereka.

Bukannya Yoona tak mau menyiapkan makanan. Pernah suatu hari ia menyiapkan makanan, namun setelah mencicipi masakan istrinya, Chanyeol langsung pergi ke kamar mandi. Merasakan sakit perut akibat makanan yang rasanya tak terdefinisi buatan istrinya. Belum lagi setelahnya, Chanyeol harus membereskan kekacauan yang Yoona buat di dapur mereka. Hal itulah yang membuat Chanyeol menawarkan diri untuk mempersiapkan makanan mereka.

Yoona sibuk memperhatikan suaminya yang berkutat dengan peralatan masak tak jauh dari kursi makan tempatnya duduk. Sungguh, Chanyeol adalah suami yang sempurna. Ia baik, hangat, lucu dan pandai memasak. Ia bahkan tak pernah mendapati raut wajah marah milik suaminya.

Pikirannya melayang ke tiga hari lalu saat ia tak sengaja memecahkan guci antik milik Chanyeol. Setahu Yoona guci yang ia pecahkan adalah peninggalan Dinasti Qing dan sudah pasti memiliki nilai jual yang tinggi.

Saat ia mendengar suara langkah kaki Chanyeol menuju sumber suara, ia sudah bersiap membersihkan pecahan guci, namun tangan Chanyeol menahannya. Ia semakin menundukkan kepalanya. Takut apabila suaminya memarahinya habis-habisan. Tapi yang terjadi tak seperti yang ia duga. Chanyeol menyentuh dagu milik istrinya dan mengangkatnya. Melihat ekspresi hampir menangis milik Yoona, membuatnya menarik istrinya dalam pelukan. Apalagi setelahnya ia berucap, “Biar aku saja yang membersihkan pecahannya. Kau ceroboh. Aku takut jari mu terluka.” Hal itu malah membuat Yoona mengeluarkan tangisnya di dada Chanyeol.

“Makanan sudah siap.” lamunan Yoona buyar. Kemudian ia membantu Chanyeol membawa beberapa piring dan gelas ke meja makan. Saat ia akan menyendokkan nasi untuk Chanyeol, lelaki itu menahannya. “Biar aku saja.”

Suaminya menyendokkan nasi dan beberapa lauk pauk ke piringnya. Sungguh ia rasa dirinya benar-benar mencintai Chanyeol karena setiap tindakan Chanyeol adalah hal yang istimewa untuknya.

Setelah mematikan mesin mobil dan melepaskan sabuk pengaman. Chanyeol keluar dan mengitari mobilnya, membuka pintu penumpang. Kemudian Chanyeol dan Yoona berjalan dari area parkir menuju rumah sakit.

Hari ini jadwal check-up Yoona. Dokter Kim menyarankannya menjalani beberapa perawatan untuk memulihkan ingatannya. Yoona mendudukkan dirinya di kursi ruang tunggu. Sementara suaminya mendaftarkan check-up Yoona ke bagian administrasi.

Yoona menolehkan pandangan pada sekitarnya hingga akhirnya ia melihat seorang gadis muda yang sedang menatapinya. Yoona mengalihkan pandangannya dan sesekali melirik pada gadis muda itu. Sepertinya gadis muda itu memang memperhatikannya. Terbukti saat gadis itu melangkah mendekatinya dan duduk disampingnya.

“Eonni? Yoona eonni?” gadis muda itu membuka suaranya.

“Kau siapa?” tanya Yoona bingung.

“Eonni? Kau tidak ingat siapa aku?” tanya gadis itu heran yang dibalas dengan gelengan kepala.

“Eonni kemana saja selama ini? Semuanya mencari eonni.” Karena tak ada tanggapan dari Yoona akhirnya gadis muda itu melanjutkan. “Baiklah eonni. Aku harus segera pergi. Kakak ku saat ini pasti sedang mencari ku.” Selanjutnya gadis muda itu pergi. Meninggalkan Yoona yang kebingungan.

“Kau mengobrol dengan siapa tadi?” Yoona tidak sadar bahwa Chanyeol sudah duduk di sampingnya.

“Aku tidak tahu.” Yoona menggelengkan kepalanya.

“Baiklah. Ayo segera check-up. Dokter Kim sudah menunggu.” Yoona bangkit dan berjalan mengikuti Chanyeol.

“Kondisi Nyonya Yoona sejauh ini baik-baik saja. Penggumpalan di otak kanan dan kirinya berangsur-angsur mengecil dan dalam waktu dekat ini akan menghilang.” Dokter Kim menjelaskan hasil pemeriksaan sambil menunjuk monitor pada komputernya. Disana terpampang hasil CT Scan.

“Lalu jangan terlalu berpikir keras. Hal itu bisa menyebabkan kepala mu pusing atau yang lebih parah kau akan pingsan.” Lanjut Dokter Kim.

“Apa ada kemungkinan ingatan Yoona pulih, Dokter?” tanya Chanyeol.

“Kemungkinan itu ada. Tapi sangat kecil. Apalagi Nyonya Yoona semenjak keluar dari rumah sakit tidak mengalami nyeri di kepala yang berlebihan.”

Chanyeol melihat istrinya. Ia yakin bahwa Yoona pasti sedih setelah mendengar penjelasan Dokter. Tak ingin membuat Yoona merasa semakin sedih, akhirnya Chanyeol memutuskan untuk mengucapkan terima kasih pada Dokter Kim kemudian membawa istrinya keluar dari ruangan.

Tangan Chanyeol masih setia menggenggam jemari Yoona. Jika ia tak melakukan hal itu, bisa dipastikan Yoona akan menabrak orang-orang yang berpapasan dengan dirinya dan Chanyeol. Chanyeol sepenuhnya sadar bahwa wanita disampingnya pasti masih shock mengingat penuturan Dokter Kim.

Setelah mendudukkan Yoona di kursi penumpang, Chanyeol segera menjalankan mobilnya. Sesekali ia melirik istrinya yang sibuk memandang keluar jendela dengan tatapan kosong. Hingga akhirnya ia memberhentikan mobilnya di suatu tempat dan mematikan mesinnya.

Tangannya terulur ke Yoona dan segera saja ia memeluk tubuhnya. “Menangislah. Aku tahu kau ingin menangis. Tidak apa-apa. Ada aku disini. Menangislah sepuasnya.”

Kata-kata itulah yang membuat Yoona mengeluarkan air matanya. Tangisannya terdengar memilukan. Bahkan ditengah-tengah tangisannya ia menjerit bagaimana jika seandainya ia tidak bisa mendapatkan memorinya. Chanyeol hanya bisa menepuk pelan punggung istrinya sambil berkata bahwa semua akan baik-baik saja.

Setelah tangisan wanita yang ia dekap mereda, ia menuntunnya berjalan. Mereka berdua melangkahkan kakinya melewati deretan bangku panjang. Chanyeol mendudukkan dirinya dan Yoona di bangku panjang paling depan. Yoona hanya bisa menatap bingung Chanyeol. Tak mengerti mengapa suaminya membawanya ke gereja.

“Berdoalah. Sudah lama aku tidak mengajak mu mengunjungi rumah Tuhan.”

Setelah mengatakan itu, Chanyeol menautkan kedua tangan dan memejamkan matanya. Sementara Yoona bergumam dalam hati Sudah berapa lama aku melupakan-Mu. Tak lama setelah itu, ia memejamkan mata dan berdoa dengan khusyuk. Sesekali bulir air mata keluar dari sudut matanya.

Setelah selesai berdoa, ia membuka kedua matanya. Ia dan Chanyeol sibuk dengan pikiran masing-masing. Hingga Chanyeol menggenggam tangannya dan menatap kedua bola matanya dalam. “Aku tak apa jika kau tak mengingat apapun. Aku tak apa jika kau melupakan semua kenangan yang kita bagi. Aku tidak apa-apa.” Kemudian Chanyeol melanjutkan, “Aku mencintai mu. Tak peduli apapun keadaan mu. Yang aku tahu aku merasakan jantung ku berdetak cepat setiap kali bersama mu.” Chanyeol meletakkan telapak tangan Yoona tepat di dada kirinya.

“Kita sudah saling mencintai selama lima tahun. Aku bisa menjanjikan pada mu bahwa perasaan itu masih akan sama seperti saat pertama kali aku mencintai mu. Tidak apa-apa jika kau tak mengingat segalanya tentang kita. Mulai sekarang aku akan menciptakan kenangan baru bersama mu.”

Yoona tak tahu apa yang ia rasakan saat mendengar untaian kata dari bibir suaminya. Yang ia tahu sesuatu didalam dadanya berdetak dengan tempo lebih cepat. Setiap kata yang keluar dari mulutnya, ibarat embun pagi yang menyejukkan. Sungguh tangannya bergerak sendiri dan ia mendekap tubuh suaminya dengan erat. Ia tahu bahwa pelukan suaminya adalah rumah sesungguhnya untuk Yoona. “Aku mencintai mu.” Tiga kata itu dibisikkan Yoona dengan segenap perasaannya.

“Aku juga mencintai mu, sayang.”

Istrinya tertidur sepanjang perjalanan. Mungkin terlalu lelah. Saat mobilnya berhenti di garasi rumah mereka, Chanyeol mengurungkan niatnya untuk membangunkan Yoona. Akhirnya ia memilih untuk menggendong Yoona menuju kamar mereka.

Chanyeol melangkahkan kakinya dengan hati-hati. Berusaha agar tidur Yoona tidak terganggu. Kakinya menapaki tangga dengan pelan hingga pada anak tangga teratas kakinya tersandung dan menyebabkan keseimbangannya goyah. Beruntung Chanyeol mampu mengatasinya namun karena hal itu, ia tak sengaja membuat kepala Yoona terantuk pintu kamar mereka.

Seketika mata Yoona terbuka saat merasakan sedikit benturan di kepalanya. Matanya menjelajah sekitar, ia tak tahu mengapa Chanyeol menggendongnya. Chanyeol yang melihat Yoona terbangun hanya terkekeh pelan lalu membaringkan tubuh Yoona di atas ranjang.

“Maaf. Aku tak sengaja. Apa masih sakit?” tanya Chanyeol sambil mengusap kepala Yoona yang terantuk tadi.

Yoona menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Ketika Chanyeol hendak beranjak, Yoona menahan pergelangan tangan Chanyeol. Memintanya untuk menemaninya yang dibalas dengan senyuman lembut suaminya.

Chanyeol membaringkan tubuhnya disebelah wanita itu kemudian Yoona meletakkan kepalanya di dada Chanyeol dan memainkan kancing kemejanya. “Chanyeol…”

“Kenapa sayang?”

“Chanyeol, berapa umur mu?”

Chanyeol mengangkat sebelah alisnya. Sedikit bingung dengan pertanyaan Yoona. “28 tahun sayang. Kenapa? Aku masih cukup tampan bukan di umur yang mendekati kepala tiga?”

Pertanyaan Chanyeol seketika membuat Yoona tertawa kencang. Satu hal yang ia tahu, bahwa suaminya memiliki tingkat kepercayadirian yang tinggi. “Berarti aku berumur 26 tahun. Tapi kenapa aku tidak memanggil mu dengan sebutan ‘Oppa’?”

“Hei…seharusnya aku yang menanyakan hal itu pada mu. Semenjak kita berkencan lima tahun yang lalu, aku sudah sering meminta bahkan memaksa mu untuk memanggil ku ‘Oppa’. Tapi kau tidak pernah mau melakukannya.” Chanyeol menyentil ujung hidung Yoona.

“Apakah aku harus memanggil mu dengan panggilan itu, Chanyeol?”

“Tidak. Kau tidak perlu melakukannya. Sejujurnya aku tidak masalah kau memanggil ku dengan sebutan apapun.” Chanyeol mencium puncak kepala wanita itu. “Tapi, aku rasa saat kita punya anak nanti, kau harus memanggil ku dengan panggilan yang lebih mesra.” Chanyeol melirik nakal pada Yoona. Sedangkan Yoona hanya tertawa malu sambil mencubit pinggang suaminya.

“Apa yang membuat mu mencintai ku, Chanyeol?”

Ada jeda sejenak. Chanyeol melepas pelukannya dan menatap Yoona. “Karena kau adalah kau, Yoona.”

“Apa? Jawaban macam apa itu? Biasanya laki-laki akan menjawab cantik, baik atau yang lainnya.”

“Tentu saja. Aku berbeda dengan lelaki di luar sana. Aku yakin tidak ada satu orang pun yang mampu mencintai mu seperti aku mencintai mu.”

Yoona menyembunyikan wajahnya di pelukan Chanyeol sementara Chanyeol tertawa kecil melihat semburat merah di pipi istrinya.

Keduanya saling bercerita dan memperat pelukan. Tak jarang Chanyeol menggoda Yoona yang membuat istrinya menunduk malu. Chanyeol melihat jam dinding di kamar mereka. Pukul 20.34. Sudah lewat jam makan malam.

“Kau ingin makan apa malam ini?” tanya Chanyeol sambil memainkan ujung rambut Yoona.

“Apa saja. Yang penting aku juga ikut memasak.”

“Kau serius ingin memasak?”

“Tentu saja! Aku bosan melihat mu yang menyiapkan makanan. Seharusnya itu tugas seorang istri.”

Chanyeol terkekeh, “Baiklah.”

Keduanya bangkit dari ranjang dan menuju dapur. Kali ini Chanyeol akan membiarkan Yoona membantunya dalam acara memasaknya kali ini.

Setelah beberapa menit mereka memulainya. Akhirnya Chanyeol menyuruh Yoona untuk mencuci piring. Pria itu tidak sabar saat Yoona memotong-motong sayur dengan gerakan lambat. Jangan lupakan potongannya yang tak berbentuk. Membuat Chanyeol menggelengkan kepalanya heran. Sementara Yoona hanya terkekeh kecil melihat ekspresi suaminya.

“Chanyeol?”

“Hemm?”

“Apa aku bisa memasak? Maksud ku sebelum aku amnesia.” Yoona masih membilas alat-alat masak yang kotor.

 

“Kau sangat suka memasak, sayang. Bahkan kau sering membawakan ku masakan buatan mu saat jam makan siang di kantor.”

“Ah benarkah?”

Chanyeol mengangguk dan memindahkan piring yang berisi makanan ke meja makan. Yoona melepas sarung tangan mencucinya dan segera menempatkan diri di meja makan. Keduanya menikmati acara makan malam mereka diselingi dengan candaan antara keduanya.

Yoona sedang meminum air putih saat tangan Chanyeol mendarat diatas tangan kirinya. “Im Yoona. Ayo kita menikah lagi.

.

.

.

TBC

 

A/N:

Halo? The update is coming. Ini adalah hadiah ku untuk reader yang bilang jangan kelamaan di post dan yang bilang mereka sampai lupa ceritanya J maaf ya updatenya lama hahahaha aku berusaha semampuku *cielah* agar tidak ngaret saat ngirim cerita ini. So, how is it? Silahkan review cerita ini. I don’t mind if you guys say “jelek ceritanya.” Tapi jangan lupa untuk menyertakan alasannya. Hal  itu memotivasi aku untuk memperbaiki cerita ini. Walaupun aku gak balas komentar kalian satu-satu, buat you guys made my mood up! Thank you!❤

The truth is sebenernya aku gak masalah sama siders. Tapi lama-lama geregetan sendiri. Gimana mau improve my skills and make a better stories kalo responnya ya begitu. Btw, aku juga mau ngasih tau kalo antara 2 atau 3 chapter lagi, aku akan melakukan sesuatu di cerita itu. so, be ready guys! *ketawa jahat*

Kemudian jangan lelah menanti cerita ini ya ._. sekali lagi, aku sangat menghargai kalian yang memberikan saran, kritik dan komentar buat aku.

Terima kasih!

71 thoughts on “[Freelance] The Vow (Chapter 3)

  1. Keren bgt!!!
    Itu cewek yg ngajak ngobrol yoona di rumah sakit siapa ya?😮
    Kok bayanginnya krystal?
    Wkwkwkw
    Gak tau deh knapa
    Bagus bgt thor, chanyeol setia bgt<3
    Suami idaman emng ya wkwk
    Ditunggu chapter slanjutnya ya thor

  2. kok aku malah mikir chanyeol bukan suaminya yoona/? atau mereka sebelumnya belum nikah? ahh entahlah cuma autjor yang tau:”D

  3. masih ragu sama Ceye, sebenernya beneran suami bukan si, masa ngajak nikah lagi

    trus cewe yang di rumah sakit itu siapa? jangan jangan adik ipar Yoona

    next thoorrr, jangan lama lama yaaa nanti keburu lumutan

  4. masih ragu sama Ceye, sebenernya beneran suami bukan si, masa ngajak nikah lagi

    trus cewe yang di rumah sakit itu siapa? jangan jangan adik ipar Yoona

    next thoorrr, jangan lama lama yaaa

  5. Omo….. Semakin penuh dg teka-teki. Sepertinya Chanyeol banyak menyimpan rahasia dari Yoona.
    Dan siapa sebenarnya gadis yg bertemu Yoona di rumah sakit?
    Dan kenapa Chanyeol mengajak Yoona nikah kembali???
    Makin bikin penasaran Thor…
    Ditunggu next partnya Thor…
    Fighting!!!

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s