[Freelance] Revenge (Chapter 1)

REVENGE

REVENGE (1)

 

Author                  : Chobi
Tittle                     :
Revenge
Cast                       :
Im Yoon Ah, Oh Sehun, Kris, Park Jiyeon

Support cast       : Kai, Chanyeol (Temukan yang lainnya)

Genre                   : Romance, Action
Rating                   : PG
21
Length                  : Chapter

Disclaimer          : FF ini murni, asli buatan aku sendiri. Semua cerita yang ada disini hanya khayalan semata, GAK NYATA. Banyak terinspirasi dari Kdrama maupun Kmovie. Tulisan ini masih banyak kekurangan. Berawal dari keinginan buat baca ff yang genrenya tentang agen rahasia, tapi jarang ditemuin, akhirnya memutuskan untuk bikin cerita sendiri, dan woow susah yaa, hihihi, maaf buat segala kekurangan yang ada di dalam cerita.

 

Happy reading  ^_^

 

 

Musim salju tengah memasuki tanah Korea, tidak heran banyak jalan atau pun puncak pohon yang tertutupi oleh tumpukan salju. Tidak terkecuali dengan keadaan di atas pegungunan yang biasa dijadikan tempat berlatih para agen rahasia.

DOR!

Seseorang berpakain serba hitam dengan slayer biru di lengan jatuh dan tak sadarkan diri.

Di balik sebuah tumpukan salju yang dibentuk menyerupai dinding, terlihat beberapa orang lainnya dengan sebuah tembakan laras panjang dan di lengannya terdapat slayer merah.

“Kau ke sana!” Seseorang menunjuk arah utara dengan telunjuknya.

Seseorang yang diperintahkan itu pun segera berlari menuju tempat yang sudah di intruksikan. Namun, belum sampai tempat, ia lebih dulu tertembak.

DOR!

“Aish!” Terdengar suara kesal dari seorang gadis.

Gadis itu melihat darimana datangnya peluru, ia pun menolehkan kepalanya ke arah samping dan saat itu juga ia mendapati seseorang berslayer biru tengah mengarahkan pistol tepat di dadanya.

DOR!

“Akk,” ringisnya. Peluru karet baru saja mengenai dada kirinya, ia pun terjatuh di atas salju nan halus itu.

“Finish!” Ucap pria yang berada di atas pohon itu.

Di saat itu juga, beberapa agen rahasia yang terkapar lemah di atas salju pun bangkit dan melepaskan helm dan masker hitam yang menutupi hampir setengah wajahnya.

“Aauhh jinjja!” Kesal beberapa orang karena untuk yang kesekian kalinya mereka kalah dalam sesi pelatihan.

Seorang pria tinggi berwajah tirus menghampiri Yoona, ialah gadis yang terkena tembak di dada kirinya. Ia menjulurkan tangannya ke hadapan wajah Yoona.

Yoona memandang kesal ke arah Sehun, walaupun mereka berada di umur yang sama, Yoona adalah junior Sehun di dalam organisasi agen rahasia AIK (Agent Internasional Korea) itu.

“Shireo?” Tanya Sehun pada Yoona.

“Arraseo,” Sehun kembali menarik tangannya dan berlalu meninggalkan Yoona.

Yoona menghela nafasnya.

“Yak Im Yoona!! Andai kau tidak menyuruhku pergi ke sana, pasti aku tidak akan tertembak,” ucap Chanyeol, salah satu teman seangkatan Yoona. Nilai keahliannya masih berada di bawah Yoona.

“Mianhae,” balas Yoona.

Chanyeol mendengus pasrah. Ia menjulurkan tangannya, dan Yoona menerima uluran itu, mereka tertawa lalu berjalan beriringan meninggalkan tempat. Tak berselang lama, seseorang lainnya ikut merangkul bahu Yoona, ia adalah Tao.

“Minggir! Kau bukan tim kami?” Canda Baekhyun yang muncul dari arah belakang, ia menjauhkan tubuh Tao dan bergantian merangkul tubuh Yoona.

Tao tersenyum, ia mengedipkan salah satu matanya lalu berteriak sembari berlari menyusul seniornya. “Aku menang! Sunbae! Tunggu aku!”

“Tunggu, apa ini adil? Mana mungkin kita menang melawan senior yang sudah terlatih seperti Oh Sehun itu,” keluh Chen yang ikut bergabung.

“Apa musuh akan peduli dengan semua itu?” Yoona menyaut perkataan Chen.

“Tentu saja tidak! Tidak peduli kita senior atau junior, jika mereka lebih baik dari kita, kita akan segara mengadakan pemakaman,” saut Baekhyun.

Yoona tersenyum, secara tidak langsung Baekhyun sudah menjawab pertanyaan Chen.

 

 

Brazil, 22.00

Di dalam sebuah kafe yang menghadap ke arah pantai, terlihat seorang pria berambut pirang dengan mata tajam seperti elang. Kris, dialah pria yang penuh ambisi membalas dendam untuk kematian kedua orang tuanya.

FLASHBACK..

10 TAHUN YANG LALU..

 

Busan, Korea Selatan.

Kris kecil berusia 15 tahun bersama dengan keluarganya sedang berada di meja makan, mereka tampak bahagia dengan dipenuhi canda tawa, sesekali Kris mengelus puncak kepala adik angkat  perempuan yang ada di sebelahnya, gadis itu bernama Joy. Ia mengangkat Joy  sebagai adiknya setelah Joy kehilangan kedua orang tuanya karena kecelakaan pesawat 8 bulan yang lalu.

KRING!! KRING!!

Dering ponsel Park Saeng Oh atau Ayah Kris membuat semua perhatian tertuju pada ponsel yang berada di atas meja.

Ayah Kris berdiri, dan meninggalkan meja makan untuk mengangkat telponnya. Ibu Kris memandang gelisah. Ia pun menyusul Park Saeng Oh.

“Arraseo!” Ayah Kris mematikan panggilan telponnya.

“Wae?” Tanya Ibu Kris.

Ayah Kris menggeleng, menandakan akan ada sesuatu yang terjadi. Segera dirinya masuk ke dalam rumah, membuka lemari besar, dan membuka lemari kecil di pojok kanan bawah dan mengeluarkan dua pistol, satu pistol diserahkan pada istrinya dan satunya lagi ia pegang, dengan cepat ia mengokang pistol itu agar segara siap digunakan.

“Appa,” Kris tidak bisa percaya dengan apa yang sedang dilihatnya kini.

Ayah Kris memberi isyarat pada istrinya untuk menangani anak-anaknya. Ibu Kris mengerti, ia memasukkan pistol ke dalam bajunya terlebih dahulu lalu membawa kedua anaknya masuk ke dalam lemari besar.

“Eomma,” ucap Kris dengan penuh rasa takut.

Ibu Kris memegang kedua pipi Kris. “Dengarkan Ibu, di sana ada sebuah ruangan kecil, masuklah ke dalam dan jangan keluar sampai ada yang mengeluarkan kalian. Jangan takut, mereka teman Ibu.”

“Eomma, ada apa sebenarnya?” Kris berucap sembari bergetar.

“Tidak ada waktu, cepat masuk ke dalam!” Ibu Kris mendorong Kris ke dalam lemari, lalu ia mengelus pipi Joy dengan lembut. “Kalian, saling menjagalah!”

BUG!

Ibu kris segera menutup lemari, ia menghela nafasnya, lalu kembali menyiapkan pistolnya.

Ketika Ibu Kris berdiri, Park Saeng Oh tengah berjalan mundur dengan pistol yang mengarah ke arah kepala seseorang yang berada di barisan depan. Ya tim pemberantas teroris sudah memasuki rumahnya.

“Lempar senjata dan berbalik!” Ucap tegas kapten Kang, selaku pemimpin pemberantas teroris dari AIK.

Park Saeng Oh masih tak menghiraukan perintah itu, ia tetap berjalan mundur dan berada sejajar dengan istrinya yang sama-sama mengarahkan pistol ke arah Kapten dan orang yang berada di sebelahnya.

“Sudahlah, jangan biarkan ada pertumpahan darah di..”

DOR!

Belum sempat Kapten Kang menyelasaikan kalimatnya, timah panas lebih dulu bersarang di kepalanya.

“Kapten!” Teriak beberapa orang yang berada di barisan belakang.

DOR! DOR!

Tembakan kedua terdengar, membuat pasukan agen itu mencari tempat persembunyian.

DOR!

Park Saeng Oh terjatuh ke lantai dengan kepala yang ditembus oleh peluru.

DOR!

Tembakan kedua bersarang di jantung Ibu Kris dan membuat ia jatuh lemas dengan darah yang mengucur. Itulah jalan yang mereka pilih, lebih baik mati dari pada membocorkan rahasia dari organisasi mereka.

Oh Se Hwan, adalah pengganti orang terpenting kedua atau wakil dalam tim penyerangan jika sang kapten lebih dahulu gugur. Ia menyarankan pada anak buahnya untuk mengecek keadaan kedua teroris yang baru saja ia tembak.

Seseorang mengangguk, lalu mengecek kedua orang tersebut yang sudah menjadi mayat.

Setelah benar-benar dipastikan meninggal, Oh Se Hwan kembali mendekati tubuh Kapten Kang yang sudah tidak bernyawa. “Kapten! Kapten Kang!” Oh Se Hwan meraba denyut nadi di leher Kapten Kang, dan ia bisa memastikan bahwa Kapten Kang sudah meninggal dengan luka tembak di kepala.

“Segera kirim ambulance!” Ucapnya dengan menakan tombol sebuah alat komunikasi yang berada di telinganya.

Di dalam lemari, Kris dan adiknya melihat bagaimana kedua orangtuanya mati tertembak dari sela-sela lemari, adiknya banyak mengeluarkan air mata, dan salah satu tangan Kris mendekap kencang mulut Joy agar tak bersuara.

Kris teringat akan perintah Ibunya, ia segera mengangkat pintu untuk menuju ke ruang bawah tanah yang ada di dalam lemari, ia lebih dulu memasukkan adiknya barulah ia masuk ke dalam, tak lupa ia kembali menutup pintu rahasia itu, sepintas terlihat hanya sebuah lemari biasa.

Oh Se Hwan dan para agen lainnya memandang tubuh kaku Kapten Kang, sedikit air mata terlihat mengenang di pelupuk mata Oh Se Hwan.

“Selamat jalan Kapten Kang, tugasmu sudah selesai,” ucap Oh Se Hwan tegas nan berwibawa, tak lupa ia menghormat ke arah Kapten Kang untuk yang terakhir kalinya dan diikuti oleh agen yang lainnya.

Salah seorang lainnya mengambil bendera Korea dari dalam tas yang dibawa, itulah benda yang tak boleh tertinggal jika sedang melakukan misi. Bendera yang akan digunakan untuk menutupi tubuh pahlawan yang gugur, itulah tanda negara turut berduka atas pengorbanannya terhadap negara.

 

Tiga hari kemudian..

Pukul 24.00

Beberapa orang yang berpakaian serba hitam datang ke rumah mendiang Park Saeng Oh, mereka masuk melalui jalur rahasia yang memang sudah dipersiapkan oleh Park Saeng Oh. Seseorang membuka lemari tempat bersembunyi Kris dan Joy, masuklah mereka ke dalam dan membawa Kris dan adiknya yang sudah tak sadarkan diri dengan bibir yang memucat keluar dengan menggendongnya, setelah itu dengan segera mereka meninggalkan tempat tinggal itu.

 

3 Tahun Kemudian..

Brazil

Beberapa anak remaja tengah berlatih bela diri, mereka terlihat sangat terampil dengan tekat bulat yang terlihat dari tatapan matanya dan keringat yang hampir membasahi seluruh tubuhnya. Tak terkecuali Kris beserta Joy.

Kris dan adiknya sudah tahu siapa yang membunuh orang tua mereka dan untuk apa mereka dilatih, dari pagi sampai siang hari mereka dilatih bela diri, untuk sore sampai malam mereka berlatih tembak. Mereka dibentuk untuk sebuah tugas besar.

Dua tahun berikutnya, Kris berada di bandara bersama dengan adiknya. Joy lebih dulu mendapatkan misi yang harus dijalani di tanah Korea.

“Jangan sekalipun tunjukan siapa dirimu sebenarnya, karena mulai detik ini, kau tidak punya keluarga! Kau hidup dengan identitas barumu.” Ucap Kris pada Joy.

“Jangan pernah menghubungiku, karena aku yang akan menghubungimu, dan terus mengawasimu! Kau akan aman di tanganku!” Lanjut Kris.

“Dan,,,” Kris mengeluarkan selembar foto dari jacket kulit hitamnya dan memberikannya pada adiknya.

“Jangan pernah jatuh cinta pada siapapun termasuk padanya! Buatlah ia mencintaimu lebih dulu dan membuatnya bergantung padamu,” Kris memandang adiknya yang akan segera pergi menjauh darinya. Pandangannya tak menunjukan bahwa seseorang yang ada di hadapannya adalah adiknya, melainkan tatapan tidak merelakan sang kekasih akan pergi menjauh darinya. Ya, memang ia sudah menyukai Joy sejak mereka kecil.

Joy menerima selembaran foto itu, ia memandangnya lama. “Dia anak dari Oh Se Hwan yang telah membunuh Ayah dan Ibu?”

“Heem,” jawab Kris.

“Arraseo Oppa, geundae..” Joy memalingkan pandangannya ke arah Kris, menatapnya dengan penuh tanda tanya.

“Sampai kapan aku di sana?”

Kris menggelang. “Molla,” jawabnya lirih.

Joy tampak menahan air matanya yang akan segera keluar, ia menghela nafas beratnya, seakan ingin menolak tugas yang diberikan padanya.

Kris tidak bisa lagi menahan rasa akan kehilangan adiknya, ia menarik tubuh adiknya dan segera mendaratkan bibirnya pada bibir mungil Joy, ia menumpahkan seluruh rasa takut yang ia rasakan di sana, Joy pun tak menolak perlakuan itu, ia justru melingkarkan kedua tangannya di leher Kris dan menarik Kris agar lebih mendekat padanya.

Tak lama, Kris memberi jarak 2cm antara bibirnya dengan bibir Joy. “Aku akan segara datang menemuimu, aku berjanji!” Ucap Kris.

Joy mengangguk, ia tak lagi bisa menahan air matanya. “Aku menunggumu Oppa, cepatlah datang!”

Kris mengangguk. Joy menarik kepala Kris agar mendekat dan ia kembali mandaratkan bibirnya pada bibir Kris.

Setelah beberapa saat, Joy pun meninggalkan bandara, setelah Joy tak terlihat, munculuah sesosok pria tinggi dengan masker menutupi setengah mulutnya dilengkapi dengan topi di kepalanya, orang itu memandang ke arah Kris lalu ia mengangguk, Kris pun balas mengangguk dan orang tersebut ikut pergi bersama dengan Joy.

FLASHBACK END

Kris tersadar dari lamunannya, karena tamu yang ia tunggu sudah datang. Ya, seorang menteri keuangan di Brazil yang hendak bertemu dengannya.

Kris menyambut kedatangan tamu istimewanya itu lalu mereka bersalaman. Mereka berbincang beberapa menit, lalu Kris mendengar suara dari alat komunikasi yang berada di telinganya yang tak terlihat. “Now!”

“Lakukan atau kau akan menjadi mayat besok!” Ancam menteri yang sudah berumur itu pada Kris. Kris diperintahkan untuk membunuh wakil presiden. Bukan tak mampu, tetapi Kris sudah lebih dulu mendapatkan tugas yang lainnya.

Kris memandang pria tua yang ada di hadapannya itu lalu tersenyum, ia mengambil sarung tangan hitam dan memakainya. Ia berjalan menjauhi meja, dan kembali berbalik menghadap menteri yang sudah mengancamnya itu. Ia membentuk sebuah tembakan dengan ibu jari dan telunjuknya yang di arahkan ke menteri itu.

Ketika jari-jarinya bergerak ke arah atas, saat itu juga terdengar suara yang amat keras.

DOR! PRANG!

Timah panas menembus lapisan kaca jendela kafe yang berada di lantai 10 itu lalu bersarang di kepala sang menteri. Menteri itu pun jatuh tergeletak di lantai.

“Aaakk,” teriak pengunjung lain yang berhamburan berlari meninggalkan kafe.

Kris berbalik arah, ia mendapati dua bodyguard tengah berlari ke arahnya. Kris mengambil dua pisau sekaligus dari meja makan yang bisa dijangkaunya, dan ketika bodyguard itu mendekat, dengan kedua tangannya sekaligus Kris menancapkan pisau itu pada kedua bodyguard dan menariknya ke arah samping, sehingga membuat robekan di perut semakin besar.

“Eemp,” terdengar suara salah satu bodyguard yang menahan sakit.

Kris menarik pisau itu dari perut korbannya, lalu kembali menusukkannya di punngung dan setelah itu ia berlari meninggalkan tempat.

Di gedung yang bersebalahan dengan gedung dimana Kris berada, seorang berpakaian serba hitam dengan masker dan topi sebagai pelengkapnya tengah membereskan senapan yang biasa digunakan para sniper dalam menjalankan aksinya. Ia segera meninggalkan tempat itu dengan berlari melewati tangga.

Di lobi gedung itu, terlihat pengunjung cukup ramai, bahkan terlihat beberapa penjaga gedung yang sudah mendengar ada penembakan di gedung sebelah seolah sedang menyari penembak jitu yang kemungkinan besar ada di gedung itu.

Kai, ia baru tiba di lantai bawah dengan nafasnya yang tersengal. Ia memasukkan topi, masker dan sarung tangannya ke dalam tas hitam yang dijinjingnya. Lalu ia berjalan santai melewati kerumunan di gedung itu.

Namun baru beberapa langkah ia berjalan, beberapa penjaga gedung hotel itu memberhentikan langkah kaki Kai karena mencurigai tas bawaan Kai yang diduga adalah senapan yang baru saja digunakan.

“Buka tas itu?” Pinta salah satu penjaga dengan menodongkan pistol ke arah Kai.

Kai dengan santainya membuka tas hitam itu dan ia menunjukan isinya yang ternyata adalah sebuah gitar. Merasa hanya membuang-buang waktu di tempat itu, penjaga itu bergegas lari meninggalkan Kai.

Kai berjalan capat menuju lift. “Buka,” ucapnya pelan yang memberi perintah pada rekan timnya yang lain melalui alat telekomunikasi yang berada di balik kaos hitamnya. Tak menunggu lama lift pun terbuka, terlihatlah sebuah tas hitam berukuran panjang ada di pojokan dalam lift. Kai dengan cepat menukar tas yang ia bawa dengan tas senapannya, lalu berlalu meninggalkan gedung itu.

 

Seoul, Korea

24.00

Yoona, Sehun, Tao, Chanyeol, Baekhyun, Chen dan beberapa agen rahasia lainnya tengah menikmati makanan beserta beberapa botol soju. Beberapa sudah terlihat mabuk termasuk Yoona di dalamnya.

Selang beberapa menit, datanglah kepala divisi agen lapangan Suho. Mereka yang masih tersadar menunduk sopan. “Ckckck, kemanhae! Cepat pulang dan bersiaplah untuk besok karena kalian akan kedatangan tamu,” ucap Suho.

“Tamu?” Tanya Chanyeol.

“Eoh,” jawab Suho.

Suho menepuk pundak Sehun. “Segera bubarkan acara ini!”

“Ne!” Jawab Sehun.

Suho pun pergi meninggalkan tempat.

Beberapa agen yang masih tersadar segera beranjak dari tempat duduk mereka, tak lupa mereka membawa teman-teman yang sudah mabuk, untungnya mereka tinggal di satu asrama yang sama, kecuali Yoona tentunya.

“Yak! Bangun!” Chanyeol mencoba membangunkan Yoona dan ingin mengantarnya pulang. Namun Sehun melarangnya.

“Aku yang akan mengantarnya pulang, kau pulang saja,” ucap Sehun. Dirinya sangat tahu keburukan Yoona kala sedang mabuk. Namun Sehun menyukai keburukannya itu.

“Sunbae, apa kau tahu dimana apartemennya?” Tanya Chanyeol.

Sehun berdeham mengiyakan.

Chanyeol tampak berpikir. “Darimana dia tahu? Pernah berkunjung ke sana juga sepertinya tidak,” ucapnya pelan, dan Sehun menyadari kalau Chanyeol sedang membicarakan sesuatu tentangnya.

“Baiklah, aku pamit pulang,” ucap Chanyeol lalu mebantu Baekhyun yang sudah mabuk berat pulang ke asrama.

Di malam yang menyambut kedatangan pagi, salju pun turun, membuat malam yang dingin menjadi lebih dingin.

Di jalan setapak menuju apartemen Yoona, Sehun terlihat tengah berjalan di trotoar dengan beban tubuh Yoona di punggungnya.

“Sunbae,” racau Yoona tak jelas.

“Aaah benar, pasti sudah tidak ada orang di sini,” racau Yoona lagi yang menyadari dirinya ada dalam gendongan Sehun.

“Sehun-ah,” panggil Yoona pelan.

“Hem,” saut Sehun.

“Benarkan sudah tidak ada siapapun?” Ucap Yoona yang terdengar tidak terlalu jelas.

“Hemm,” Sehun berdeham mengiyakan.

Setelah mendengar jawaban Sehun, Yoona beranjak turun dari gendongan Sehun, menyampingkan tubuh Sehun dan langsung mendaratkan bibirnya pada bibir Sehun.

Itulah kebiasaan buruk Yoona saat mabuk, setiap pria yang ada di dekatnya pasti menjadi salah satu sasaran pendaratan bibirnya dan Sehun sangat menyukai itu, ya jika dia lah pria beruntung itu.

Setelah beberapa saat, Yoona kembali berada di gendongan Sehun. Mereka sudah memasuki gedung apartemen, Sehun masuk ke dalam lift dan menekan tombol 8, sampai di lantai 8, Sehun berjalan beberapa langkah lagi dan sampailah ia di depan pintu aparteman, Sehun menekan password di pintu, lalu masuklah mereka ke dalam.

Sehun menaruh Yoona di tempat tidur lalu menyelimutinya.

“Eemmm,” Yoona menggulat dan melingkarkan tangannya di leher Sehun lalu menariknya agar mendekat dengannya.

Sehun berada sangat dekat dengan wajah Yoona, ia memandangi wajah gadis yang sudah menjadi bagian hidupnya sekitar 2 tahun yang lalu itu. Sesekali ia menyinsingkan helaian rambut Yoona yang menutupi wajah polosnya.

KRING!! KRING!!

Terdengar dering ponsel milik Sehun, ia lekas berniat menjauhkan tubuhnya untuk mengangkat panggilan itu.

Namun Yoona menahan leher Sehun dengan sangat kuat, seakan tidak mengizinkan Sehun menjauh darinya. “Eemm,” rancunya dengan mata tertutup.

“Ck, arraseo!” Balas Sehun. Dengan masih berada di posisi yang sama, Sehun merogoh kantungnya dan segera mengangkat teleponnya.

“Eoh Appa,” sautnya.

“Heem, ne, arraseo,” jawabnya.

TUT!

Panggilan berakhir.

“Aku harus pergi,” Sehun mencoba melepaskan kaitan tangan Yoona yang ada di lehernya.

“Eemm!” Yoona mengerang kesal, ia justru menarik Sehun kembali dan untuk yang kesekian kalinya ia menempelkan bibirnya dengan bibir Sehun.

Lalu menjauhkannya lagi. “Choah.. Choah.. Choah..” Ucapnya dengan bernada lalu tertawa, matanya masih dalam keadaan tertutup.

“Ckck, apa kau akan tetap seperti ini jika sedang mabuk dengan pria lain?” Tanya Sehun.

“Hemm,” Yoona mengangguk.

“Andwae!” Pinta Sehun.

Yoona menggelang sembari berucap. “Andwae!”

Sehun menahan tawanya. “Auuh jinjja! Rasanya sulit meninggalkanmu, geundae,” dengan cepat Sehun melepaskan kaitan tangan Yoona. “Aku harus menemui ayahku,” lanjut Sehun.

Sehun membenarkan selimut milik Yoona lalu mencium keningnya. “Selamat malam.” Sehun pun pergi meninggalkan apartemen.

Selang beberap saat, Yoona membuka kedua matanya dengan jelas, ia menyisihkan selimut dari tubuhnya, lalu turun dari tempat tidurnya.

Langkah kakinya membawanya mendekati jendela, tak lama matanya menatap nanar punggung Sehun yang sedang berjalan menjauh dari apartemennya.

Yoona menghela nafasnya. “Mianhae, andai aku bisa berhenti, aku akan berhenti saat ini juga dan menjauh darimu,” ucapnya yang terdengar lirih.

Kadar toleransi Yoona terhadap alkohol sangat tinggi, ia tak mudah mabuk hanya dengan dua botol suju saja.

 

 

Markas AIK

09.00

Keadaan kantor saat itu terlihat berbeda dari biasanya, mereka berpakaian seragam rapih dan saling membenarkan pakaian pada rekan yang lain.

Terlihat dari kejauhan Sehun dan Suho berjalan beriringan, dengan setelan jas hitam yang sangat pas ditubuhnya, ia membawa beberapa lembar kertas berisikan profil seseorang yang akan datang ke markas AIK. Sesekali Sehun membalik kertas itu dan membacanya dengan serius.

“Haha, kurasa kau tak perlu membacanya, memang apa lagi yang tidak kau ketahui tentangnya?” hirau Suho sembari tertawa.

Sehun membalas gurauan kepala divisi Suho dengan senyum. “Pengalamannya pasti bertambah banyak,” jawabnya.

Suho memegang pundak Sehun. “Aku tidak bisa membaca raut wajahmu, senang atau sedih?”

Sehun kembali tersenyum. “Aku harus memperkenalkan dia pada yang lain,” Sehun membungkuk lalu berjalan menuju para juniornya yang sedang berkumpul tak jauh di depannya.

Melihat Sehun yang berjalan mendekatinya, Baekhyun memberi kode pada teman-temannya untuk segera berbaris rapih.

Sehun melewati barisan juniornya tanpa menoleh. “Tarawa!”

“Ne!” Jawab serempak Yoona dan yang lainnya.

Mereka berkumpul di satu tempat dengan menghadap ke arah Sehun yang berada di depan.

Sehun menekan tombol pada remot kecil yang ada di genggaman tangannya. Lalu terpampanglah foto seorang gadis dengan mata yang tajam dan senyum yang manis namun mengerikan di hadapannya.

“Woah, cantik sekali,” ceplos Tao ketika pertama kali melihat foto itu.

“Daebak! Siapa dia?” Ujar Baekhyun.

“Park Jiyeon, angkatan tahun 2004, keahlian utamanya adalah ia ahli dalam segala bidang, dia pernah memimpin penyergapan teroris di Korea, Turki, Kanada, Inggris, China, dan terakhir di Paris. Empat tahun yang lalu ia adalah salah satu agen terbaik di sini,  dan untuk memenuhi tugasnya yang lain, ia  dikirim ke Kanada dan akhirnya ia kembali ke Korea pada hari ini.” Ucap Sehun.

Sehun menutup lembaran kertasnya lalu menaruhnya di meja.

Tiba-tiba Yoona mengangkat salah satu tangannya. “Sunbae!” Panggilnya untuk Sehun.

Sehun menoleh dan memandang Yoona. “Wae?”

“Apa yang membuat Jiyeon sunbae kembali ke Korea?” Tanya Yoona.

“Aish! Babo! Tentu saja karena tugasnya sudah selesai,” saut Chen yang berada di samping Yoona.

Sehun mengangguk. “Tugas terakhirnya di Paris memang sudah selesai, seharusnya ia  bisa pergi ke Dubai untuk misi selanjutnya, namun kali ini ia memilih untuk kembali ke Korea,” jawab Sehun.

“Waah, ilmunya pasti sudah sangat tinggi sekali,” saut Chanyeol dengan wajah takjubnya.

“Wajah memang tidak bisa berbohong,” saut Tao.

“Cah, sekarang kembali lah ke posisi kalian,” perintah Sehun dan langsung dijalankan oleh para juniornya.

Sehun melihat ke arah jam tangannya, masih ada beberapa jeda waktu sebelum kedatangan Jiyeon, ia menghela nafasnya lalu mendaratkan pantatnya di atas meja dan memandang wajah Jiyeon yang ada di sebuah layar putih. Tampak ia sedang memikirkan sesuatu.

 

FLASHBACK…

Empat Tahun Yang Lalu…

Di dalam sebuah apartemen, terlihat pasangan kekasih sedang berdiri di balkon dengan pemandangan malam yang begitu indah.

“Sunbae, apa kau benar akan pergi?” Tanya Sehun tanpa menoleh, pandangannya lurus ke arah jalan raya yang terlihat begiitu padat.

Jiyeon menolehkan kepalanya ke arah Sehun, ia berjalan mendekati Sehun dan memeluk tubuh Sehun dari arah belakang. “Kau ingin melarang kepergianku?”

Dengan cepat Sehun menggeleng. “Tidak sama sekali, kau harus mengembangkan keahlianmu Sunbae, geundae, berapa lama kau akan pergi?”

Jiyeon tampak menghela nafas beratnya, ia semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Sehun. “Molla.”

Mendengar jawaban Jiyeon, membuat Sehun akhirnya berbalik badan dan sedikit mendongakkan kepala Jiyeon agar menghadap ke arahnya. “Jangan jadikan aku penghalangmu untuk mencapai kesuksesanmu,” ucap Sehun.

Jiyeon mengangguk mengerti. “Terserah padamu, apa kau akan mempertahankan hubungan ini sampai aku kembali atau kau akan mengakhirinya, aku mengikuti keputusanmu Oh Sehun,” ujar Jiyeon.

Sehun menatap dalam mata Jiyeon. Ia terdiam untuk beberapa saat.

“Ak..”

CUP!

Belum sempat Sehun berbicara, Jiyeon lebih dulu mendaratkan bibirnya pada  bibir Sehun sekilas.

“Shireo! Jangan katakan keputusanmu sekarang! Katakan nanti saat aku tiba di sana!” Pinta Jiyeon.

“Wae?”

“Karena jawabanmu saat ini bisa mempengaruhi kepergianku. Namun saat aku tiba di sana, keputusanku tidak akan pernah berubah, apapun jawabanmu aku akan tetap menjalankan dan menyelasaikan tugasku dengan baik,” jawab Jiyeon.

Sehun menghela nafasnya. “Arraseo,” jawab Sehun.

Jiyeon dan Sehun tersenyum bersamaan dengan saling pandang, perlahan mereka mendekatkan wajah mereka dan mulai menutup mata. Bibir mereka kembali saling bertemu.

FLASHBACK END…

 

Tak jauh dari tempat Sehun, Yoona dan yang lainnya berbaris rapih untuk menyambut kedatangan seniornya. Di saat semua pria tampak bahagia menunggu kedatangan Jiyeon, Yoona justru memperlihatkan hal yang sebaliknya, raut wajahnya terlihat berbeda. Matanya tertuju pada sosok Sehun yang sedang memandang wajah Jiyeon.

Yoona melangkahkan kakinya mendekati Sehun, betapa sangat kecewanya Yoona saat ia berada dekat di samping Sehun, Sehun tak menyadari keberadaan dirinya.

“Sunbae,” panggil Yoona pelan.

Sehun tersadar dari lamuannya. “N-ne,” ucapnya terbata. “Aahh w-wae?” Sehun baru menyadari keberadaan Yoona di sampingnya.

Yoona dan Sehun saling berpandangan. “Dua menit lagi Jiyeon Sunbae datang,” ucap Yoona. Tanpa membungkuk lebih dulu Yoona berbalik pergi meninggalkan Sehun.

Sehun memandang punggung Yoona yang semakin jauh darinya.

Akhirnya, Jiyeon pun datang, ia keluar dari mobil hitam dan segera melepas kaca mata hitamnya saat para anggota AIK memberinya penghormatan.

Suho menghampiri Jiyeon dan memberinya pelukan hangat, disusul Sehun selanjutnya. Jiyeon memamerkan senyumnya pada seluruh anggota, sebelum akhirnya ia berjalan beriringan bersama Suho dan Sehun menuju ruangan kerja Jiyeon yang sudah di siapkan.

“Aslinya jauh lebih cantik,” ujar Baekhyun yang masih memandangi punggung Jiyeon.

Beberapa jam setelah kedatangan ketua divisi lapangan terbaru yang menggantikan Suho yakni Jiyeon, kegiatan latihan pun tidak begitu saja dihilangkan.

Kini mereka berada di tengah lapangan terbuka untuk berlatih tembak. Yoona dan kawan-kawan sudah berbaris berjajar dengan telinga menggunakan earphone dan kedua tangan yang sudah memegang pistol.

Suara tembakan berkali-kali terdengar di udara. Jiyeon dan Sehun berada di belakang untuk memantau para juniornya.

Jiyeon terlihat menggeleng saat matanya memperhatikan cara Yoona menembak.

Setelah sesi tembak pertama selesai, mereka menaruh pistol di atas meja dan melepaskan earphonenya.

“Yak, Im Yoona,” panggi Jiyeon.

Yoona segera berbalik. “Ne!”

“Apa kau merasa grogi dengan kehadiranku di sini?” Tanya Jiyeon sembari melipatkan kedua tangannya di perutnya.

“Tidak ketua!” Jawab Yoona.

“Dari catatan penilaianmu, hasil hari ini amat sangat buruk, bahkan tanganmu berada di posisi yang tidak benar, tanpa melihat papan peluru, aku bahkan tahu tidak ada satu pun puluru yang mengenai titik tengah, kau sedang bermain di sini?” ucap Jiyeon terdengar tegas.

Tao dan yang lain yang mendengar itu mendadak merinding tak jelas, antara wajah dan mulut sangat jauh berbeda.

Yoona terdiam mendengar ucapan Jiyeon, sesekali matanya melihat ke arah Sehun yang berada di samping Jiyeon. Namun Sehun seolah tak peduli dengannya.

“Kenapa kau memandangnya? Kau berharap mendapat bantuan darinya?” Tanya Jiyeon dengan suara yang lebih keras.

“T-tidak,” jawab Yoona.

“Sit-up 50 kali!” Perintah Jiyeon dan langsung di jalankan oleh Yoona.

“Byun Baekhyun push-up 50 kali! Sisanya push-up 25 kali!” Perintah Jiyeon lalu meninggalkan lapangan tembak itu.

Sebelum pergi, Sehun sempat memandang Yoona yang sedang melakukan sit-up, namun tak lama ia meninggalkan lapangan itu juga.

Sehun berada di dalam ruangan kerja Jiyeon, ia duduk pada sebuah sofa berwarna hitam. Tak lama Jiyeon datang membawa dua buah kopi dan diletakkan di meja.

“Apa aku terlalu keras?” Tanya Jiyeon sembari mendaratkan pantatnya di sofa.

Sehun menaruh lembaran penilaian anggota di atas meja, lalu ia tersenyum. “Tidak, begitulah caramu melatih kami dulu,” jawab Sehun.

Jiyeon mengambil kopi lalu memberinya pada Sehun. “Kau banyak berubah,” ucap Jiyeon.

Sehun menatap Jiyeon, ia menunjukan ketidaknyamanannya, sudah menjadi kebiasaannya untuk tidak membahas hal apapun selain pekerjaannya ketika dirinya sedang bekerja, tak terkecuali kekasihnya sekalipun, setelah beberapa saat ia segera bangun dan hendak pamit pergi. “Aku harus pergi,” Sehun membungkuk sekilas.

“Tunggu,” Jiyeon tersenyum. “Untuk sifat yang satu itu kau tidak berubah,” Jiyeon bangun dari duduknya, ia pergi ke arah meja mengambil berkas-berkas yang berada dalam file berwarna merah lalu meletakkannya di meja.

“Mereka ada di Brazil,” ucap Jiyeon.

Sehun masih belum mengerti arah pembicaraan Jiyeon, ia pun kembali duduk dan membuka berkas-berkas itu, terlihat sebuah kasus pembunuhan di sana.

“Korbannya adalah Menteri keuangan di Brazil, saat itu kamera CCTV tidak berfungsi, hanya itu barang yang ku dapat,” ujar Jiyeon.

Sehun melihat foto mayat dengan darah bercecer di lantai, dan sebuah jendela yang hancur meninggalkan sisa kaca.

“Apa Ayahmu mengatakan sesuatu?” Tanya Jiyeon.

Sehun mengangguk. “Dia mengatakan mereka akan menyerang Korea setelah Presiden baru diumumkan,” jawab Sehun.

Jiyeon mengangguk. “Ya, itu dugaan kami sementara, dan mengingat pergantian Presiden tidak lama lagi mereka pasti sudah terbang ke negara ini.”

Ayah Sehun, Oh Se Hwan adalah mantan ketua dari organisasi AIK, ia menjabat hampir 8 tahun setelah ia berhasil memusnahkan sepasang teroris yang berkali-kali berhasil lolos ketika penyergapan. Walaupun sudah mantan, terkadang ia masih sering dilibatkan dalam beberapa masalah yang akan diselesaikan.

Sehun menghela nafasnya. “Apa tidak ada satu foto pun yang menunjukan wajahnya?”

Jiyeon menggeleng. Tiba-tiba ia teringat akan sesuatu. “Aah, tiga tahun lalu, maaf, maaf aku tidak bisa hadir di pemakaman ibumu,” ucap Jiyeon dengan penuh rasa sesal.

Sehun tersenyum mengiyakan. Bagaimanapun juga saat itu ia sangat menantikan kehadiran Jiyeon dan memberinya sebuah kekuatan.

“Apakah ibumu adalah salah satu korban mereka?” Tanya Jiyeon dengan penuh hati-hati.

Sehun mengangguk. “Mereka memiliki dendam pada Ayah, dan Ayah sadar akan hal itu, ia lebih memilih menutup kasus itu,” jawab Sehun.

Jiyeon mengerti maksud ucapan Sehun, setidaknya setengah dari cerita Sehun ia sudah lebih dulu tahu.

“Apa kau kembali ke Korea untuk menyelesaikan kasus mereka?” Tanya Sehun spontan.

Jiyeon tersenyum sembari mengangkat kedua bahunya. “Jika aku datang untuk memulai kembali denganmu, apa yang akan kau lakukan?”

Sehun menghela nafasnya, ia sangat tidak menyukai perbincangan seperti itu dibicarakan saat jam kerja, ia menutup file berwarna merah, lalu berdiri. “Sudah waktunya untuk latihan bela diri, kita pasti sudah di tunggu,” ucap Sehun sembari melihat jam tangannya, ia membungkuk sopan lalu meninggalkan ruangan kerja Jiyeon.

 

BRAZIL

12.00

Di dalam sebuah ruangan yang berada di lantai 50, beberapa orang terlihat mengitari meja dan memandang seseorang yang berada di depan.

“Pertama-tama buat mereka merasa tidak aman berada di dalam negaranya sendiri, dengan membunuh satu-persatu orang terpenting di Korea dalam waktu jeda yang singkat,” ucap salah seorang tinggi berparas bule.

Kris, Kai, dan beberapa orang lainnya mengangguk mengerti sembari membolak-balikan berkas-berkas kertas yang ada ditangannya.

“Lakukan pembantaian massa di beberapa titik teramai di Korea, Seoul salah satunya. Sampai pada akhirnya penembakan Presiden Korea! Apa jadinya sebuah negara tidak ada pemimpin? Haha, setelah itu lakukan pembantaian besar-besaran!” Lanjut pria itu dengan mata yang berapi-api.

“Kris, kau dan anggotamu bisa meninggalkan Brazil besok,” perintah James, salah satu orang terpenting di dalam organisasi itu.

“Siap,” jawab Kris tegas.

 

Markas AIK, Korea

13.00

Di dalam ruangan yang luas dengan lantai yang sudah di baluti oleh matras, di sanalah para agen rahasia biasa berlatih bela diri. Mereka sudah berjajar rapih dan saling berhadapan antara senior dan junior. Setelah dua tahun terakhir, akhirnya Yoona kembali berpasangan dengan Sehun.

“Tidak ada wanita di sini! Lakukan dengan semestinya!” Ucap Jiyeon sembari berjalan mengelilingi juniornya.

“NE!” Jawab mereka kompak.

Sehun dan Yoona saling berhadapan, mereka terlihat saling memasang kuda-kuda yang kokoh. Namun tak berapa lama terdengar suara yang lumayan kencang.

BUG!

“Aakk,” Chanyeol lebih dulu jatuh saat Jiyeon mencoba bertarung dengan juniornya itu, dan dengan cepat Chanyeol kembali berdiri.

Yoona lebih dulu menyerang Sehun, namun Sehun dengan cepat menangkisnya. Namun tak berapa lama, Sehun berhasil menjatuhkan tubuh mungil Yoona.

BUG!

“Aakh,” ringisnya pelan.

Yoona membenarkan pakaiannya, ia kembali mencoba menyerang Sehun dan lagi ia harus merasakan pendaratan tubuhnya di atas matras.

BUG!

“Aak,” ringisnya saat Sehun mengunci tubuhnya supaya tidak bergerak.

Berkali-kali Yoona dijatuhkan dan dikunci oleh Sehun, namun tak sekalipun ia menyerah begitu saja. Pandangannya benar-benar memancarkan kemarahan.

“Menyerah?” Tanya Sehun dengan memandang Yoona sengit.

“Anni!” Jawab Yoona cepat.

“Menyerah saja jika kau tidak bisa melakukannya dengan baik!!” Cibir Sehun.

Yoona menghela nafasnya, ia terdiam, mengapa begitu sakit mendengar ucapan Sehun kepadanya. Tidak biasanya ia menjadi sensitif seperti itu. Bisakah sekali saja ia diperlakukan bak kekasih di tempat kerjanya, memamerkan kemesraanya dengan Sehun kepada teman-temannya?

Tak jauh dari keberadaan Yoona, Tao sempat beberapa kali menjatuhkan seniornya, karena bela diri lah salah satu keunggulannya. Tersimpan rasa kebanggaan pada kemampuannya di dalam hatinya.

“Tao-ya!” Teriak Sehun, ia memanggil Tao untuk menggantikan posisinya berhadapan dengan Yoona.

Tao dan Yoona akhirnya saling berhadapan, kali ini Yoona tak mudah di jatuhkan, walau sempat beberapa kali dijatuhkan.

Di sela-sela latihannya, Yoona kembali memandangi Sehun yang sedang berbicara dengan Jiyeon di kejauhan, sejak pagi ia sudah menduga ada sesuatu yang terjadi dengan kekasihnya itu, tak lama Jiyeon pergi meninggalakan tempat, dan tidak disengaja matanya bertukar pandang dengan Sehun beberapa saat, sebelum akhirnya ia terjatuh.

BUG!

“Aakkh,” ringisnya, kali ini ia bukan dijatuhkan melainkan tersandung oleh kaki panjang Tao.

“Aakkh,” Yoona merebahkan tubuhnya sembari menahan sakit yang teramat di kakinya.

“Yak, kenapa kau melamun?” Tanya Tao sembari meluruskan kaki Yoona ke lantai.

Sehun berlari mendekati Yoona, ia melihat wajah kekasihnya itu merintih menahan sakit, itulah kali pertamanya ia melihat Yoona dengan wajah kesakitannya.

Sehun memijat dengan perlahan pergelangan kaki Yoona. Melihat Yoona masih merintih kesakitan segera ia membopong tubuh Yoona dan membawanya ke ruang perawatan.

 

Ruang perawatan.

“Bukankah kau terlalu keras pada kekasihmu ini Sehun-ssi?” Tanya dokter yang sedang membalut kaki Yoona dengan gips dan perban.

“Ahjussi,,” sergah Sehun.

Dokter Tae Kuk hanya tersenyum melihat tingkah Sehun, dirinya sudah mengenal Sehun lama, bahkan saat Sehun masih berkencan dengan Jiyeon 6 tahun yang lalu.

“Teruslah bersikap seperti itu jika kau ingin merasakan lagi di tinggal seseorang yang kau cintai,” lanjut dokter itu tanpa memandang Sehun.

Mendengar kalimat itu, mata Yoona terbuka, ia memandang Sehun sekilas lalu memandang ke arah dokter. “Siapa gadis yang meninggalkannya, ahjussi?” Tanya Yoona.

Lagi-lagi dokter itu hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Yoona. “Lukamu cukup parah, hentikan aktifitasmu dan istirahatlah selama 3 hari.”

“Mungkinkah Jiyeon sunbae?” Tanya Yoona langsung pada intinya.

Walau sesuai dengan apa yang dipikirkan, Sehun masih sempat terkejut mendengar pertanyaan Yoona. Namun ia segera mengalihkan pembicaraan, bukan bermaksud menutupi tapi situasi yang sedang tidak memungkinkan untuk menceritakan semua pada Yoona.

“Kajja!” Sehun memegang lengan Yoona, bermaksud membantu Yoona bangun dan segera membawanya pulang.

Namun suatu hal yang tak pernah di sangka Sehun terjadi. “Bikyeo juseyo,” Yoona menarik lengannya kembali dari genggaman Sehun.

Sehun terdiam beberapa saat, antara percaya dan tidak percaya bahwa ini adalah kali pertamanya ia diperlakukan kasar oleh Yoona.

“Maaf sunbae, aku pasien yang ingin istirahat, silahkan tinggalkan aku sendiri,” pinta Yoona dengan suara yang lembut.

“Ckck, pulanglah, aku tidak akan menceritakan apa yang ingin kau ketahui,” sela Dokter Tae Kuk lalu pergi meninggalkan ruangan.

“Dengar? Kajja!” Sehun membalikan badannya, bermaksud memberikan punggungnya pada Yoona agar lekas naik dan mengantarnya pulang.

Yoona lantas bangun dari tempat tidurnya, menurunkan kedua kakinya ke lantai dan berjalan dengan sedikit menahan rasa sakit meninggalkan Sehun di belakang.

Melihat itu, Sehun kembali menghela nafasnya lalu beranjak berdiri. “Kemanhae Im Yoona!”

Yoona tak menggubris Sehun, ia terus berjalan dengan kaki yang tak beralas, tangannya sudah memegang gagang pintu.

“Kau mulai membantah perintah atasanmu?” Tanya Sehun dengan penuh penekanan, dan berhasil membuat langkah Yoona terhenti.

“Teruslah seperti itu jika kau ingin mendapatkan skorsing,” lanjut Sehun.

Yoona menghela nafasnya. “Aku harus bagaimana sekarang? Kau sangat tidak menyukai jika ada orang yang tahu kalau aku adalah kekasihmu, lalu bagaimana kau membawaku pergi tanpa terlihat orang lain? Jika memang hukuman itu pantas untukku, lakukanlah!” Yoona membuka pintu itu dengan pelan dan meninggalkan ruang perawatan menuju loker pribadinya.

“Tidak bisakah kau mengerti mengapa aku melakukan hal itu?” Ucap Sehun dalam hati. Ia pun berjalan keluar, melihat dengan dalam punggung Yoona yang semakin tak terlihat.

Tanpa di sadari Sehun, Jiyeon yang ada di dalam ruangan kerjanya mendapati Sehun tengah menatap seorang gadis yang kini berada dekat di ruangannya. Ia mencoba mengingat siapa gadis itu.

“Ahh, Im Yoona,” ucapnya ragu.

Lalu tak berapa lama ia tersenyum sembari memandang wajah Sehun yang terlihat suram. Ia mengerti arti wajah itu, dan sekarang ia juga tahu bahwa Sehun sudah benar-benar melupakannya.

 

Bandara Internasional Incheon

19.00

Kris dan Kai terlihat tengah memasuki bandara incheon, mereka mempercepat penerbangan dari jadwal aslinya, mereka terlihat tampan dengan pakaian serba hitam dan kaca mita hitamnya.

Mereka lebih dulu datang untuk memantau tim yang ada di Korea, keesokannya baru akan datang bergiliran tim dari Brazil agar tidak menimbulkan kecurigaan.

Kris dan Kai masuk ke dalam mobil yang memang sudah menunggu mereka, lalu mereka pergi ke sebuah markas yang terbilang sangat besar dengan peralatan tembak yang lengkap.

Luhan, ketua dari tim terorisme Korea itu menghampiri Kris dan membungkuk sopan, mereka beriringan masuk ke dalam markas itu.

Beberapa orang terlihat sibuk dengan lap topnya dan sisanya sedang meracik peluru serta bom dan mengecek beberapa pistol.

Kris memandang keseluruhan tempat itu, ia memberi kode pada Kai untuk mengecek semua ruangan yang ada di sana. Tentu Kai langsung mengerti dan menjalankan tugasnya.

“Apa pesananku sudah kau siapkan?” Tanya Kris pada Luhan.

Luhan mengangguk, lalu memberikan sebuah kunci hotel berbentuk kartu pada Kris. “Seorang supir sudah menunggumu di luar,” ucap Luhan.

Kris mengangguk, ia tidak langsung pergi melainkan menunggu Kai melaporkan keadaan keseluruhan ruangan.

Selang 40 menit Kai kembali. Ia menghampiri Kris yang sedang duduk menatap langit.

“Hyung,” panggil Kai terdengar sangat bersahabat. Dari seluruh anggota tim, Kai lah yang terbilang sangat dekat dengan Kris.

Kris menoleh.

“Semua dalam keadaan baik, kita punya senjata yang memadai untuk melakukan misi, dan beberapa orang dalam dari AIK, termasuk adikmu,” lapor Kai.

Kris menghela nafasnya. Seperti ia merasakan ada sesuatu hal yang salah. “Apa dia melakukan misinya dengan baik?”

Kai langsung menoleh ke arah Kris. “Wae? Apa sekarang kau meragukan dia?”

“Aku tidak pernah sekalipun tidak memantaunya, jadi aku tahu bagaimana persis perasaannya terhadap pria itu,” jawab Kris.

Kai mulai mengerti maksud ucapan Kris. “Lalu apa yang harus ku lakukan?”

Kris beranjak dari kursinya. “Istirahatlah, karena mungkin untuk besok dan seterusnya kita tidak ada kesempatan untuk itu, sekalipun untuk pergi ke kamar mandi,” Kris menepuk pundak Kai lalu berjalan pergi meninggalkan markas menuju hotel yang sudah di siapkan.

 

Apartemen Yoona

20.00

Yoona sedang membuka perban di kakinya, ia adalah orang yang tidak suka menunjukan kelemahannya pada siapapun. Ia terus berjalan untuk melatih kakiknya, 3 hari harus diam di tempat tidur bukanlah style-nya. Kemungkinan besar, besok atau lusa ia sudah kembali bekerja.

Walaupun Yoona menyibukkan dirinya dengan berlatih, ia tidak bisa menutupi perasaannya yang bercampur aduk tentang Sehun. “Benar, aku benar-benar sudah jatuh terlalu dalam,” ucapnya pelan.

KLING!

Terdengar nada pesan dari ponsel Yoona. Ia pun segera membukanya. Pesan dari nomor yang belum terdaftar di ponselnya, kata yang pertama ia lihat adalah ‘JOY,’ Yoona tidak bisa menutupi rasa terkejutnya.

“Oppa,”

 

 

TBC….

Jangan lupas kritik dan sarannya yaah…

Gomawo.. *BOW

87 thoughts on “[Freelance] Revenge (Chapter 1)

  1. jadi ternyata yonaa adik kris? cerita yang bagus thorr!!
    maaf thor aku ini pendatang baru, karena aku baru aja tau kalo ada ff ini ! terus berkreatifitas!

  2. Keren!!!
    Jadi yoona pacaran sama sehun, tapi disembunyiin??
    Lah knapa😦
    Padahal kirain smua org tau
    Hehehehhe
    Jiyeon bakalan ganggu hubungan sehun yoona gak ya😐
    Semoga aja enggak
    Bagus thor ffnya!

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s