[Freelance] Nightlock (Chapter 1)

poster 55

NightLock

“they’re NightLock. You’ll be dead before they reach your stomach”

Written by

Fleur (@bungasalsaaa)

Main cast:

Im Yoon Ah—Oh Sehun

Wuyifan (kris) – Xi Luhan – park Chanyeol – Kim Jongin – Choi Sooyoung

Genre :

Action – Romance

PG-17 

 

***

Titik terang yang melebur itu kini mulai menjadi jelas.

Usaha ku untuk membuka mata kini membuahkan hasil,Intensitas cahaya yang terlampau besar kini sudah bisa diterima oleh retinaku sepersekian detik kemudian. Bahkan selanjutnya, indra pendengaranku bisa menangkap suara elektrodiagraf yang berbunyi sepadan dengan detak jantung seseorang.

Seseorang? Mungkin lebih tepatnya—aku.

Karena tidak ada seorangpun selain ‘aku’ ditempat ini, bilik persegi putih polos seperti bilik rumah sakit namun tanpa jendela dan pintu, hanya berisi satu ranjang lengkap dengan alat medis, 1 lubang ventilasi di sebelah lampu dan kamera pengawas yang terinstall hampir di seluruh sudut. Aku melenguh bersamaan dengan menoleh kesamping dengan otot leherku yang kaku, ada yang terlewat. Aku mendapati nakas berwarna putih sepadan, dengan vas bunga yang hanya berisi tanah yang basah. Baunya seperti hari pertama di musim penghujan, saat rintik-rintiknya menghujani tanah yang tandus.

Itu nyaman.

Lalu aku bingung sendiri, kenapa aku tau itu nyaman? Kenapa aku bisa ada disini? Kenapa—tunggu, siapa aku? Dimana ini?

Lalu suara decitan pintu mengambil seluruh atensiku, aku bahkan tidak tahu ada pintu disini!

Seseorang tak kukenal dengan mantel—yang sepertinya hangat—masuk keruanganku, dia tersenyum padaku sementara aku terus menatapnya tajam bersamaan dengan seluruh ototku yang mulai bereaksi, secara refleks waspada dengan pergerakan si pria.

“Selamat pagi, senang kau telah sadar. Jangan terlalu terkejut ini rumah sakit kami, Aku Xi Luhan, kau tau? Dulu kita sering mengobrol sampai larut di atas gedung ini.”

Aku masih pada posisi yang sama, mencoba mengingat siapa gerangan pria sok dekat denganku ini. Dulu kita sedekat apa? Teman? Keluarga? Kekasih—tidak, aku tidak mungkin gay.

“jangan berusaha terlalu keras, aku tau kau tidak akan mengingatnya. Ingatanmu hilang separuh dan kami telah memprediksikan itu”

Otakku kosong beberapa saat.

“ka—kami, siapa?” kalimat pertamaku, sedikit gemetar dan serak, terdengar seperti banci.

“kami, seluruh divisi kepolisian Gangnam.” jawabnya dan aku hanya bisa mengangguk-ngangguk berpura-pura percaya dengan ocehannya.

“aku, apa aku penting?” pertanyaanku hampir membuat luhan atau siapa namanya itu hampir tersedak oleh salivanya sendiri, wajahnya merah padam dan saat itu aku tau aku sebaiknya berpura-pura tertidur saja.

” tentu saja, Oh Sehun—Sersan Oh yang terhormat, seseorang membajak otakmu sehingga kau hampir saja membunuh kita semua, kau bahkan—Membunuh Letnan Kim dengan senapanmu!”

Bersamaan dengan dadanya yang naik turun tak beraturan, tiba-tiba kuasanya bergerak, mencengkram kerahku kencang sementara aku masih menatapnya kebingungan.

“Sialan kau. brengsek Oh Sehun!!” dia berteriak di depan wajahku, lalu sepersekian detik kemudian cengkraman itu mengendur bersamaan dengan matanya yang terpejam lalu sedikit memberi jarak padaku.

Hening panjang sebelum akhirnya aku kembali bersuara.

“aku Oh Sehun?— Sersan, Senapan” aku terkekeh ringan. “aku bahkan tidak bisa membayangkan aku bisa menembak—“

“Bisa. Oh Sehun kau bisa, kau Sniper terbaik, Long-Range-Shooter.”

Aku terdiam, alih- alih memandang pria di hadapanku aku lebih senang memandang cicak yang baru saja keluar dari lubang ventilasi. Berbagai bayangan pola interval muncul bergantian di otakku seperti projektor di auditorium. Semuanya bahkan terasa asing. Kalau benar aku dibajak saat misi terakhirku, kalau benar aku membunuh atasanku, membuat nyawa orang-orang yang mempercayaiku terancam—aku lebih rendah dari si brengsek manapun.

Aku memejamkan mataku, nafasku mulai tak beraturan akibat menahan amarah.

“beri aku data si pembajak,dan akan kubuat mereka tau betapa berbahayanya bermain denganku.”

.

.

.

Sekarang sudah menginjak bulan ketujuh dihitung dari hari aku bangun, mereka sudah banyak memberikanku gambaran-gambaran soal kehidupanku dulu, soal bagaimana aku mendapat luka tembak di rusuk, soal aku yang hidup sebatang kara, soal bagaimana posisiku disini.

aku tidak pernah ada di data negara manapun. Mereka menghapus dataku untuk kepentingan penyamaran. pangkat yang kugunakan sekarang hanya tersirat, dan hanya diketahui oleh kepolisian distrik tertentu.

Luhan tidak bohong soal kemampuan ku menembak. Saat itu dibulan ke 2, ketika aku masuk pelatihan dan mengenggam grip handgun untuk pertama kalinya—aku merasa ini bukan pertama kali, beberapa saat aku terdiam di tempat merasakaan grip yang terasa familiar di epidermis telapak tanganku dan aku langsung lolos tes membelah apel dari jarak 30 m.

Letnan Wu–Kris, belum memberiku data-data si pembajak dan ia berjanji akan memberikannya padaku saat aku lulus pelatihan. Dan lima belas menit yang lalu aku lulus, jadi aku sedang berjalan di koridor sayap kanan gedung kepolisian distrik Gangnam. Tungkaiku melangkah dengan pasti dan lebar, mungkin 7 bulan yang lalu aku sulit mengingat denah gedung ini karena kondisi mentalku yang terguncang. Aku kesulitan memusatkan konsentrasi hingga aku sempat di rehabilitasi. Namun waktu mengembalikanku cepat.

Oh Sehun telah kembali.

Sersan Oh telah kembali.

Ruangan Kris begitu membosankan dengan dinding bercat abu pucat dan aroma lavender yang kentara.

namun ada yang lebih membosankan dari ruangan tersebut, Kris itu sendiri. ia sedang duduk di mejanya, tersenyum saat aku masuk dengan seragam mewah dan lencana kebanggaan memenuhi dadanya. Sementara aku masih dengan setelan latihanku yang berbau keringat, tapi aku tidak peduli. aku orang dengan gangguan mental, ingat?

“aku seharusnya tau kau akan lulus secepat ini dengan kemampuanmu.” ia terkekeh lalu mengambil sesuatu dari balik jas nya.

amplop berwarna coklat, kurasa itu data-data milik si pembajak.

“alih-alih memberikanmu data, bagaimana kalau aku langsung menerjunkanmu ke lapangan untuk membunuh si pembajak?” alis Kris terangkat sementara aku masih terdiam ditempat. Membunuh si pembajak? aku merasa bibirku menarik sebuah garis dengan sendirinya.

Kris mengeluarkan sebuah foto wanita dengan pipi tirus, matanya sembab dan dahi yang terluka.

“Im Yoona, salah satu orang di balik turunnya perekonomian negara. bekerja dengan mengedarkan barang ilegal ke luar negeri. pola perdagangan nya susah di tebak, mereka hidup seperti hantu.”

“apa dia yang membajak otakku?”

Kris segera menggeleng spontan.

“si pembajak bukanlah tunggal. sebuah organisasi. dan Im Yoona berada di dalamnya.”

aku mengangguk mengerti, tampaknya memberikan akses langsung cukup sulit untuk organisasi besar seperti itu.

“apa yang harus kulakukan dengannya?” aku bertanya dan Kris langsung menampakan seringaian.

“membunuhnya. barang ilegalnya kali ini adalah chips kepolisian berisikan nama-nama agen rahasia dan kau ada didalamnya.”

Dan aku langsung tau gambaran tentang yang akan terjadi jika chips itu sampai pada organisasi gelap luar negeri.

Kami semua tewas.

.

.

.

Ini dimana hari aku akan membunuh. pakaian ku tampak rapih dengan rambut yang di gel keatas. Kemeja hitam di balik jasku bahkan sudah di setrika 2 kali. Mereka mendandaniku terlalu berlebihan, aku terlalu tampan untuk menyamar di sebuah pesta.

Im Yoona akan berada di gedung pameran lukisan tepat di sebelah gedung pesta. Tentu saja bukan untuk mencuci mata, ia akan ‘bertransaksi’ disana. Menyelipkan Chips itu di lukisan. dan sebelum itu terjadi aku berjanji akan membunuhnya.

Jessica memberikanku serangkaian test kesehatan, ia tampak khawatir kalau mentalku kembali jatuh. aku katakan aku baik-baik saja berulang kali dan ia malah memberikanku  kotak mika kecil berisi sebuah pil.

Pilnya berbeda dari pil biasa yang aku makan, bentuknya lebih kecil dan berwarna ungu tua hampir hitam. aku memandanginya bingung.

“NightLock.” Jessica berujar bahkan sebelum aku bertanya. “minum itu jika mereka kembali menangkapmu, kau akan mati bahkan sebelum pil itu sampai ke perutmu.”

“ah—”aku mengangguk sembari terkekeh lalu mengacak rambut sang psikiater, tak sopan tentu saja lalu kembali kuingatkan aku punya gangguan mental.

“lebih baik mati daripada kembali dibajak, bukan begitu noona?”

.

.

.

Tipikal pesta biasanya, beberapa wanita mulai mengedipkan sebelah matanya padaku. sudahku bilang aku terlalu tampan untuk sebuah pesta pernikahan, namun mereka tak mendengarkan ku dan mulai menceramahiku soal pentingnya penampilan untuk seorang agen—persetan.

Aku tidak tahu berapa anak buah Kris yang tersebar disini, tapi kuyakin itu tak lebih dari dua karena sampai sekarang belum melihat satupun rekan kerjaku. Lalu interkom—alat yang terpasang di telingaku untuk berhubungan jarak jauh mulai berbunyi, perintah Kris untuk tetap fokus pada rencana. Lantas aku mendelik pada CCTV sebagai jawaban.

“jangan mendelik padaku” ujarnya geram, dan aku langsung mengalihkan pandangan dari CCTV pada seorang wanita cantik di ujung, mengangkat sebelah alisku untuk menggodanya.

Letnan dan yang lainnya bisa mengakses seluruh CCTV kota ini jika mereka mau, hingga tak perlu repot-repot terjun pada lapangan hanya untuk memberikan arahan.

“jangan menggoda, dan jalan menuju elevator di sudut kanan” suara Kris kembali keluar dari interkom, membuatku segera menuruti perintahnya. Aku menekan tombol elevator dan seketika itu terbuka, di dalam ada seorang pria dengan seragam hotel dan alat pengisap debu sebatas dada di depannya.

Lantas aku masuk kedalam, berdiri disamping si pria.

“hai Finn, kau tampan dengan seragam hotel.” Godaku dan ia hanya menanggapiku dengan geraman, lalu menyerahkan alat penghisap debunya padaku. Aku menerimanya dengan senang hati dan elevator mulai bergerak keatas.

Hanya beberapa detik sampai elevator itu mengantarkanku pada rooftop gedung, aku mulai melangkahkan tungkaiku keluar dari bilik elevator setelah sebelumnya mengucapkan selamat tinggal pada Finn yang hanya menatapku datar.

Langkahku besar dan cepat, sembari menggeret alat pengisap debu menuju sudut sebelah selatan rooftop ini. Setelah mendapat tempat yang pas aku mulai menggeledah barang bawaanku. Kris terus mengoceh di interkom soal sudut elevasi dan aku tidak mengindahkannya karena aku sibuk mengeluarkan senapan laras panjang dari alat pengisap debu dengan susah payah. Gripnya tersangkut!

Butuh hampir tiga menit untuk mengeluarkannya, nafasku memburu karena kesal. Aku mengangkat Barret model 99 keatas pagar beton, mengarahkan moncongnya pada kaca besar tra

nsparan gedung kesenian di sayap kiri. Wajahku sudah aku sandarkan di Cheek Piece lock sementara mataku mengintip dari teleskop yang dipasang di atas senapan. Kini aku bisa melihat jelas seorang wanita dengan gaun hitam sebatas paha, surai coklatnya terurai di punggungnya yang tak tertutupi sehelai benangpun. Manik kembarnya bergantian memandang lukisan bendera Korea dan pria paruh baya yang sedang mengobrol dengannya.

Tanpa sadar aku menyeringai. Kau cantik dan aku semakin berhasrat untuk membunuhmu , Yoona-ssi.

“kau sudah mengunci target?” suara dari interkom kembali menginterupsiku.

“hm” aku bergumam.

“jangan dulu menembak sebelum aku memerintahmu” titahnya dengan nada otoriter yang kentara.

“aku tahu” jawabku singkat, irisku tetap mengunci target dari teleskop sementara jari telunjukku sudah berada di atas trigger. Siap menekannya kapanpun.

Lalu interkomku berdengung nyaring membuatku sedikit tersentak dan tanpa sadar melepaskan target dari pandanganku. Aku hendak melepas interkom dari telingaku ketika suara gemerisik terdengar dilanjut dengan suara seseorang memanggil namaku.

“Menembakku, kau akan menyesal. Oh Sehun.” Aku terbelalak, alih-alih suara baritone milik Kris yang keluar dari interkom yang kembali normal malahan suara wanita. Lalu sepersekian detik kemudian interkom kembali digantikan oleh suara gemerisik. Tanganku yang bebas masih menekan interkom, berusaha kembali menangkap suara-suara wanita yang terdengar samar.

“kau mencintaiku.”

Huh? Aku bingung setengah mati, aku kembali mengintip dari teleskop senapan dan mendapati wanita itu—Yoona menatapku dari balik kaca transparan dengan manik kembarnya yang terhunus tepat padaku, tatapannya sendu. Padahal aku yakin sebelumnya seseorang bahkan semut sekalipun tidak bisa melihatku di sini.

Intercom masih mengeluarkan gemerisik, dan aku melihat Yoona mengeluarkan pulpen mekanik lalu menekan-nekan tombolnya di samping telinga miliknya.

Awalnya aku tidak mengerti lalu di tengah-tengah suara gemerisik aku dapat mendengar suara ‘clik-clik’  yang membentuk sebuah pola.

Aku terdiam, otakku terus berputar mencari tahu apa yang ingin ia sampaikan padaku. Lalu aku menemukan sesuatu, sementara Yoona masih membuat suara  ‘Clik clik’ itu berulang-ulang hingga pada akhirnya aku memecahkan polanya. Sandi morse sederhana yang berkata

MEREKA-MEMBAJAKMU

Huh?

TBC

Setelah sekian lama hiatus dari dunia per-FF-an, akhirnya berani publish FF ini setelah beberapa kali minta review temen-temen ( Putri, Gelsha, Alsa, Erika, Aul) maaf kalau gak ada deg degan nya sama sekali, maaf kalau kalian enggak tercengang (?)

Untuk kalian yang tercengang sekaligus penasaran, harus feedback!

Dan untuk kalian yang enggak tercengang ataupun penasaran, tetep harus feedback juga. Ehehehe.

 

93 thoughts on “[Freelance] Nightlock (Chapter 1)

  1. Waah ini ff seru, bikin penasaran sama bingung. Disini main castnya OTP gua, Seyoon shipper here. Keep writing thor. Fighting, nice work btw.

  2. Author,,, penasaran sma chap 2,, ϑɪ̣̇ sini masih bingung siapa yg jahat trus Sehun sma Yoona hubungannya apa?? Cepet chap 2 Чά”̮ thor… Fighting!!!:D

  3. Masa si yoona jadi penjahat?
    Ga percaya😀
    Apa maksudnya yoona bilang kau mencintaiku?
    Sehun sma yoona ada hubungankah?
    Penasaran sumpah^^

  4. Weh kerennn
    Berasa baca novel
    Hehehehe
    Jadi sebenernya yg bajak sehun, si yoona atau kris dkk?
    Tapi kayaknya kris dkk deh
    Wkwkwk
    Keren ffnya!!
    Ditunggu chapter slanjutnya ya thor

  5. Wah.. bagus banget thor! Jd sbenarnya bneran YoonA atau organisasinya? Jd penasaran😀 cepat2 d publish chap 2 thorr keep writing~

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s