[Freelance] The Time We Were in Love

PicsArt_1443443386688

Author: Catur Anggraheni

Length: Oneshot

Rating: PG 15

Genre: Romance

Main Cast: Yoona Lim, Chanyeol Park

Disclaimer : Semua cast punya Tuhan.

.

.

.

Sudah bertahun tahun ia tak mengunjungi sekolahnya ini. Rasanya sudah lama dan jauh sekali. Yoona melangkahkan kakinya ringan. Di tempat inilah ia memulai segalanya. Dengannya.

Jika ada seseorang yang berkata padamu bahwa masa SMA itu masa paling indah. Jangan pungkiri dan katakanlah iya.

.

.

.

16 Mei 2015

Hari ini, entah mengapa ia ingin sekali mengunjungi sekolah lamanya. Sehingga ia memutuskan bangun lebih awal, menyiapkan sarapan untuk  suaminya, lalu bergegas pergi. Hari ini hari minggu, sekolahnya pasti sepi. Tapi ternyata pikirannya salah, cukup banyak murid yang datang walau hari libur. Ia melupakan fakta bahwa sekolahnya tersebut memiliki banyak ekskul yang mengharuskan anggotanya hadir walau libur. Ia tak tahu kemana kakinya melangkah. Ia biarkan kakinya yang mengendalikan dirinya.

Tempat parkir.

Yoona lalu tesrsenyum. Kenangan indah itu mulai terputar.

5 April 2005

Yoona terlambat lagi. Kali ini semakin gawat karena hari ini adalah upacara pembukaan bagi murid baru. Ia baru saja mau memarkirkan sepedanya ketika ia mendengar suara sepeda jatuh,  diawali dengan sepeda dari ujung kanan kemudian berlanjut dengan sepeda yang ada disampingnya lagi, lagi, lagi, lagi, dan sampai pada sepeda terakhir.

Ya Tuhan, yang menjatuhkan sepeda ini pasti bercanda. Ini sudah jam 8 dan sama sekali tak ada waktu untuk membereskan semuanya.  Dan sialnya, ternyata sepedanyalah yang berbuat ulah.

Walaupun hatinya berteriak kesal, tapi pada akhirnya ia tetap mendirikan sepedanya dan juga sepeda sepeda lainnya.

“Pergilah, biar aku yang membereskannya.” Yoona medongak cepat. Seorang laki laki berambut hitam. Tinggi dan tak bisa dipungkiri tampan. Kalau saja ia tak harus upacara ia pasti memilih untuk membereskan kekacauan yang ia buat dengan lelaki ini, tapi waktu seakan berteriak kencang di telinganya, menyuruhnya segera pergi untuk upacara.

“Tapi..”

“Aku bukan anak baru sehingga tak diwajibkan mengikuti upacara pembukaan.” Seiring dengan perkataan laki laki itu, Yoona mulai bangkit dan menyampaikan terimakasih, lalu segera berlari.

“Yoona-ssi?”  baru saja ia mau meninggalkan tempat parkir tersebut ketika tiba tiba saja ada yang memanggilnya dari arah belakang. Setelah mendengar panggilan tersebut, saraf motoriknya mulai bekerja. Ia lalu menoleh.

Seorang laki laki. Kelihatannya umur mereka sama sama. Dengan membawa gitar di punggungnya, laki laki itu kemudian menorehkan senyum, yang membuat Yoona mau tak mau membalasnya. Yoona masih tak mengenali lelaki itu sampai akhirnya kaki itu berjalan pelan menuju ke arahnya.

“Kau lupa? Aku Park Chanyeol.”

.

.

.

“Jadi kapan kau kembali dari Amerika?” Tanya Yoona. Mereka memutuskan untuk mengelilingi sekolah ini bersama-sama.

“Tadi subuh” jawabnya santai, ia tak henti hentinya menebarkan senyum. Tetap sama seperti dulu. Yoona mengerjap, lalu segera bertanya.

“Dan kau langsung kesini?”

“Terlalu banyak kenangan manis yang terlalu sulit dilupakan. Jadi aku memutuskan untuk langsung kesini.” Yoona mengangguk pelan. Masa sekolah mereka memang menyenangkan. Terkadang bahkan ia berharap waktu terhenti saat ia SMA.

“Waw, jadi sekarang kau benar benar mewujudkan mimpimu untuk menjadi seorang musisi ya? ”  gumam Yoona setelah melihat kembali tas gitar di punggungnya.

“Aku hanya pencipta lagu Im. Dan impianku… masih banyak mimpi yang belum kuraih” Chanyeol menjawab. Yoona sesaat terperangah. Tiba tiba ia teringat pada dirinya sendiri. Dulu.. apa mimpinya dulu? Ah, ia ingat. Mimpinya terlalu rumit untuk diwujudkan.

Yoona hanya ingin terus bersama Chanyeol.

Sudahlah Im. Kehidupanmu sempurna,

Tiba tiba langkah Chanyeol melebar, laki laki itu berlari. Yoona langsung mengikutinya. Memang agak susah untuk menyeimbanginya karna langkah kaki lelaki itu besar sekali. Kemudian mereka berhenti. Laki laki itu dengan semangatnya menunjuk ke arah Cherry Blossom yang berada di bawah mereka. Posisi mereka yang berada di lantai 2 membuat mereka bisa melihat jelas keadaan di bawah, termasuk pohon itu.

“Bunganya bermekaran.” Ucap laki laki itu terlihat takjub. Yoona hanya tertawa. Mata laki laki itu berbinar seakan baru saja menemukan sebuah harta karun.

“Tentu saja, ini sudah mulai memasuki musim semi.” Yoona berucap.Matanya menatap lurus ke arah pohon dibawahnya, tiba tiba saja ia sudah terlarut dalam kenangannya.

5 April 2005

Yoona melangkahkan kakinya cepat. Kepalanya menoleh ke kanan kiri, mencari cari seseorang. Yoona bodoh. Saat upacra pembukaan tadi, ia melihat siswa tinggi itu dihukum karna datang terlambat. Pasti laki laki itu terlambat karena sibuk membereskan sepedanya. Rasa bersalahnya semakin besar. Yoona harusnya tahu bahwa laki laki itu bukan seniornya.

Ia harus meminta maaf. Tapi ia tak tahu harus meminta maaf kemana. Karena ia juga tak tahu nama atau dari kelas mana laki laki itu berasal. 5 menit lagi bel masuk berbunyi.Tapi, ia tak kunjung menemukan lelaki itu. Karena lelah ia memutuskan untuk duduk di sebuah kursi dibawah pohon Cherry Blossom. Semilir angin menggodanya untuk tetap tinggal dan menikmati musim semi. Tapi, ia harus pergi.

Yoona menghela nafas kasar. Mungkin besok saja, ia bisa dimarahi oleh Seongsaenim jika datang terlambat, ditambah lagi ini hari pertamanya. Baru saja ia mau bangkit ketika sadar bahwa disampingnya ada orang.

Laki laki itu. Laki laki yang menolongnya terlihat sedang memejamkan mata. Tangannya disatukan untuk menopang kepalanya, badannya dibuat sesantai mungkin di kursi kayu ini. Wajahnya bersih dan mulus, Yoona hampir tak melihat adanya pori pori, hidungnya mancung, bibirnya memang agak berwarna pucat, dan jidatnya yang bening dan lebar, tempat semua daya tariknya terkumpul jadi satu.Menjadi seatuan yang indah.

“Tampan..” ucap Yoona tak sadar, ia juga tak sadar bahwa tangannya kini sedang menyentuh wajah lelaki itu. Cepat cepat ia turunkan tangannya, melihatnya tertidur pulas, ia jadi tak tega untuk membangunkannya. Karna itu Yoona memilih untuk segera pergi.

“Kau mau kemana?” tanya laki laki itu mengagetkannya. Tangannya ditarik, ia tak bisa berkutik.

“Eh?”

Tapi sesaat kemudian, laki laki itu terlihat panik. Entah apa maksudnya, ia malah membawa Yoona ke belakang pohon. Yoona bertanya meminta penjelasan, tapi laki laki itu tak memberikannya jawaban dan malah menutup mulutnya.

“Aku yakin tadi ada dua orang siswa disini. Ais kemana mereka? Di jam pelajaran malah tidak masuk kelas.” Ucap sebuah suara. Yoona mengerti. Itu pasti petugas sekolah yang sedang berpatroli. Mati kau Yoona. Pelajaran sudah dimulai. Bagaimana ini? Runtuknya.

“Kau yakin?” tanya suara lainnya.

“Aku yakin.”

“Ais, aku lelah sekali berkeliling sekolah, aku mau istirahat sebentar disini. Nanti  aku menyusul.” Suara lainnya menyahut. Bahu Yoona menegang. Kalau para penjaga sekolah itu beristirahat, ia yakin ketika kembali ke kelas pelajaran telah usai. Yoona menatap Chanyeol khawatir, tapi laki laki itu malah tampak santai dan menyuruhnya untuk tetap diam.

Hek

Yoona segera menutup mulutnya. Sial, ia cegukan!!

Chanyeol memandangnya was-was.

Hek

Aduh bagaimana ini? Kalau begini bisa ketahuan..

“Aku seperti mendengar suara” walaupun hanya gumaman, tapi Chanyeol dan Yoona bisa mendengar dengan jelas kecurigaan penjaga sekolah tersebut.

Hek

Tepat ketika sang penjaga sekolah berdiri, Chanyeol menempelkan bibirnya pada bibir Yoona. Menguncinya rapat.

Cegukan itu tak terdengar lagi.

Sejak itulah jantung Yoona dan Chanyeol mulai berdetak kencang setiap bertemu.

Tanpa disadarinya, pipi Yoona mulai memerah. Apa-apaan ini? Ia bahkan sudah punya suami. Dilihatnya Chanyeol yang masih asyik melihat pohon Cherry Blossom.

“Kau ingat ketika aku menciummu dibalik pohon waktu itu.” Laki laki itu tiba tiba saja berkata seperti itu. Membuat jantung Yoona kembali berdegup. Demi Tuhan Yoong, kau bukan gadis remaja lagi! Berhenti berdebar! Perintahnya kepada dirinya sendiri. Dan Demi Tuhan, kebiasaan laki laki ini tak pernah berubah dari dulu. Mulutnya sering tak di kontrol jika sedang bicara, tindakannya dalam mengambi l keputusan juga sangat gegabah. Walau kadang ide ajaib dari otaknya itu memang brilian.

“Bibirmu waktu itu sangat manis, padahal aku juga baru pertama kali melakukannya. Tapi, kau bahkan terlihat kagum. Aku sudah seperti profesional kan?” lagi lagi biacara sembarangan. Entah, karna sudah terlalu sering mendengar laki laki ini berkata yang tidak tidak ia malah tertawa. Laki laki itu kemudian mengikutinya tertawa.

“Chanyeol-ssi, kau tahu? Aku sudah menikah.” Yoona tahu seharusnya ia tak menghancurkan momen bahagia ini dengan mengatakan bahwa ia sudah menikah. Tapi, ia juga tak ingin memberi laki laki ini harapan.

Chanyeol hanya mengangguk. Bibirnya manampilkan senyuman andalannya. Senyum setengah. Tapi bisa Yoona lihat ada kekecewaan di matanya.

“Aku dengar soal itu. Aku juga mendengar kalau kau dijodohkan” Yoona tak menyanggah dan mengiyakannya. Ia lalu menghel nafas. Kembali memandang ke arah pohon Cherry Blossom yang menakjubkan.

“Kenapa?” laki laki bicara lagi, kali ini ia bertanya. Yoona sekali lagi menghembuskan nafas seakan ingin melepas semua beban yang melekat di pundaknya.

“Aku ingin eomma dan appa bahag-”

“Dan mengingkari janji kita?” Belum selesai Yoona bicara, Chanyeol sudah lebih dahulu memotongnya. Yoona tertohok. Pandangannya mulai kabur.

“Kau janji akan pulang?” tanya gadis itu khawatir. Di antara keramaian dan sesaknya orang orang di bandara, gadis itu bicara dengan suara lebih keras agar laki laki mendengar.Air mata menggenang di matanya yang jernih.

“Aku berjanji akan pulang dan menikahimu” ucap laki laki mantap. Ia tersenyum lalu menghapus air mata gadis tersebut, gadis polos bernama Yoona. Tepat ketika Chanyeol mengusap air mata Yoona, tangan gadis itu langsung dengan cepat meraih tangan Chanyeol. Mungkin tindakannya terlihat seperti adegan romantis di film picisan, tapi ia tak peduli.

“Aku akan menunggumu” bibir kecil gadis itu berkata gemetaran. Dinginnya angin musim dingin menusuk kulitnya. Chanyeol  yang menyadarinya, kemudian memeluk Yoona erat.

Orang orang masih lalu lalang, tapi mereka tak peduli.

“Kita akan tinggal di rumah tua yang nyaman” masih dengan memeluk, gadis itu berucap lirih.

“Berbaring di balik selimut ketika hujan. Seharian. Menceritakan hal hal lucu yang terjadi di hari kemarin”  Chanyeol melanjutkan.

“Ketika senja datang kita akan duduk di balkon dan bercerita lagi”

“Lebih baik lagi kalau ditemani teh”

“Tentu saja”

“Aku akan mencuci mobil dan kau akan membuatkan sarapan di hari libur.”

“Ketika punya anak nanti, ia kan menangis di tengah malam dan aku akan membangunkanmu untuk mebantuku menenangkannya”

“Kau ibu yang buruk Yoong”

Gadis itu tertawa pelan.

“Tapi aku tak peduli” ucap Chanyeol lagi. Sejenak ia melupakan sedikit perasaan sedihnya. Laki laki ini entah sejak kapan mulai membuat hatinya berbunga. Mungkin saja sejak ciuman itu.

Mian” hanya kata tersebut yang keluar dari bibirnya. Ucapannya lirih, terdapat penyesalan di lafal pengucapannya.  Air matanya jatuh.

Mianheyo”

“Mianheyo”

“Mianheyo

Bibir mungil itu berulang ulang mengatakan hal yang sama. Chanyeol segera memeluk gadis di hadapannya. Pelukan itu terasa canggung, tapi tetap hangat.

Gwenchana Yoong.. Gwenchana” ucapnya membalas.

“Pergilah denganku Yoong” ucap Chanyeol singkat dan tegas.Masih dengan memeluk Yoona.

“Kau gila? Aku sudah menikah. Ada suamiku …” ucap Yoona bergetar. Yang tersisa hanyalah penyesalan. Seharusnya ia bersabar sedikit. Bersabar sedikit saja untuk menunggu Chanyeol.

“3 hari saja…Setelah itu aku akan melepaskanmu.”

Ketika Chanyeol mengatakan hal itu, Yoona tak sanggup untuk menahan tangisnya lagi. Ia ingin berteriak bahwa ia tak ingin Chanyeol melepaskannya. Tapi tidakkah ia terlalu egois?

Tak bisa ia pungkiri ia juga sangat merindukan laki laki ini. Ia juga berharap ia bisa pergi meninggalkan semuanya. Dan menjalani sesuatu yang baru bersama lelaki ini.

Tapi… apakah mungkin?

.

.

.

Suasana makan malam di rumah bertingkat dua itu berjalan seperti biasa. Hanya ada keheningan dan rasa canggung. Sudah lumayan lama mereka merajut rumah tangga. Tapi sampai sekarang, kedua manusia itu bahkan tak pernah melakukan skinship yang lebih dari ciuman.

Yoona ingat ia membayangkan Chanyeol saat laki laki baik ini mencium bibirnya saat pernikahan mereka.

Ia jahat sekali.

Ketika Eomma nya mengatakan bahwa Appa nya jatuh sakit dan menginginkannya untuk menikah dengan lelaki pilihan appa-nya, Yoona hanya bisa meng-iya-kan. Kondisi Appa-nya sangat menghawatirkan. Sehingga ia tak bisa menolak.

Alasannya  terdengar klasik bukan? Tapi itu benar. Sebesar itulah cinta Yoona kepada orangtuanya.

Baginya, dirinya tak bahagia tak apa. Asalkan orangtuanya bahagia, semua akan ia lakukan.

Ia juga tak sanggup menolak laki laki yang dijodohkan dengannya. Ia baik, hangat, perhatian, dan selalu sabar. Tidak, ia tidak memperlakukan laki laki ini dengan jahat. Ia menyukainya, tapi ia tak bisa mencintainya.

“Yoong, kau tak apa? Kau terlihat pucat” Kim Si Hoo, suaminya itu lalu menyentuh dahinya dengan khawatir. Yoona menggeleng pelan.

Oppa,”

Si Hoo menjawab hanya  dengan menatap matanya.  Yoona tertegun, sanggupkah ia menghianati pancaran tulus dari mata tersebut?

“Aku….”

“Ke rumah teman…”

“3 hari”

Hanya mengucapkan 6 kata tersebut mengapa rasanya sangat sulit? Seakan ada batu yang menjanggal di setiap barisan hurufnya.

Kim Si Hoo hanya tersenyum. Lalu mengangguk singkat.

Sikap terlalu baik suaminya inilah yang membuat Yoona semakin tak tega.

.

.

.

Sudah 15 menit Yoona menunggu tapi batang hidung laki laki itu belum tampak sedikitpun. Masih sama seperti dulu, tidak disiplin, tukang ngaret! Tapi ia tetap saja suka dengannya. Sebentar lagi kereta mereka menuju Busan akan segera berangkat.

“Kau dimana…”

Tanpa sadar Yoona bergumam, lalu ketika ia dengan khawatir menyapu pandangan di sekelilingnya, ia menemukan laki laki itu. Berlari tergopoh gopoh. Ransel di punggungnya bergoyang goyang kecil seiring dengan langkah lebar lelaki itu. Bibir Yoona secara reflek lalu menciptakan sebuah tarikan, menghasilkan senyum kelegaan.

“Aku tak percaya kau datang” ucap Chanyeol ketika sampai.

“Aku bahkan tak percaya dengan diriku sendiri!” Yoona lalu segera berdiri, menyambut tangan Chanyeol yang mengajaknya untuk bergandengan. Senyum merekah di wajah cantiknya, Kesedihan kemarin seakan tak pernah terjadi. Chanyeol suka Yoona yang seperti ini. Yoona yang tersenyum tanpa beban, bukan Yoona yang hanya tersenyum singkat penuh kepalsuan.

“Ngomong ngomong, kita akan kemana?” Tanya Yoona seiring dengan langkah mereka, kedua tangan itu masih bergandengan erat. Matahari senja sedikit mengaburkan langkah mereka, tapi mereka toh tidak peduli. Karena mereka masih bergandengan.

“Busan”

“Aku tidak sabar”

“Kau akan terkejut Im”

“Aku percaya saja, kau kan sering tak terduga.”

23 Juni 2005

“Im Yoona” panggil Chanyeol manja. Tapi gadis disampingnya malah tak memperhatikan. Masih sibuk dengan pandangan kagum ke arah para sunbae keren-itu yang diucapkan murid kelas 1- yang sedang asik bermain basket.

Yoona sendiri mendapatkan banyak keuntungan untuk menonton di barisan paling depan. Para sunbae terlihat sangat jelas dari pandangannya.

“Whoaa. …. Donghae Sunbaenim benar benar hebat, Ais sudah berapa kali ya, ia mencetak gol? 10? 20? Ah ani, kuarasa hanya Donghae Sunbaenim yang mencetak skor” Tanpa sadar gadis itu bersuara, laki laki yang ada disampinya hanya menggeleng geleng tak percaya. Yoona pasti sudah tergila gila dengan si Ikan Amis Donghae. Jelas jelas pemain bernomor 7 dengan nama punggung Nam Joo Hyuk lebih banyak menyetak gol.

“Yoong” Chanyeol memanggil, tapi Yoona masih sibuk.

“Yoong”

“Yoong”

“Im Yoona” Setelah ia mengucapkan nama itu, barulah perempuan itu menoleh.

“Kau memanggilku?” tanya Yoona polos.Chanyeol hanya bergumam lemah.

“Tak bisakah kau melihatku?” tanya Chanyeol.

“Tentu saja bisa Tuan Park, kau sedang memakai seragm sek-“

“Maksudku… Aish, aku bisa gila” lagi lagi laki laki itu bergumam tak jelas.

 “Kau pernah bilang jantungmu berdegup kencang kan kalau bertemu denganku?” tanya Chanyeol lagi.

Yoona berpikir sebentar. Kapan ia pernah bilang begitu?

“Apakah kalau jantungku berdegup kencang saat bertemu seseorang itu artinya aku sedang jatuh cinta?” tanya Yoona pelan. Mencoba membuktikan sesuatu. Langit sore semakin indah. Para pemain basket mulai berhenti bermain dan mulai berpergian ke pinggir lapangan. Tapi Yoona bahkan tak peduli, ia sedang fokus menunggu jawaban dari Chanyeol.  Sekolah semakin sepi.

“Tentu saja!” Jawab Chanyeol ber api api.

Mata Yoona membulat.

“Apa ini berarti aku jatuh cinta dengan Park Seongsaenim? Aku selalu berdegup kencang saat bertemu dengannya, dan aku rasa bukan hanya jantungku saja yang berdegup kencang, aku juga mulai mengucurkan keringat saat dia berada di dekatku, apalagi kalau itu menjelang ulan-“

Belum sempat Yoona menyelesaikan kata katanya, bibirnya sudah direngut. Direngut lembut oleh bibir Chanyeol. Mata rusa gadis itu melebar, tapi lalu menutup seiringnya waktu.

Tiba tiba saja suara teriakan dan terompet terdengar,  membuat keduanya terkesiap dan segera melepaskan bibir masing  masing. Di bawah sana, tepat di tengah lapangan orang orang bersusun sambil membawa satu pot bunga yang Yoona yakini sebagai bunga Forget Me Not (Astaga bunga itu langka!), di mulut mereka terdapat terompet yang Yoona yakin merupakan sumber suara tadi,  barisan mereka membentuk sebuah kalimat konyol.

IM YOONA, PACARAN YUK?!

Sunbae, Hoobae, dan teman teman seangkatan mereka tersenyum penuh harap ke arah Yoona. Omo! Bahkan Donghae Sunbae ada disana! Pipinya memerah, berarti mereka semua melihat ia dan Chanyeol… ah sudahlah.

Yoona lalu menatap Chanyeol, meminta penjelasan apakah ini semua perbuatan lelaki itu, Chanyeol hanya menatap dalam matanya, meminta jawaban. Ya Tuhan ia bahkan tak tahu kapan lelaki tersebut menyiapkan ini semua.

“Bagaimana kalau aku……

Tidak bisa menolak?”

Dan ketika Yoona mengatakan hal tersebut, suara meriah dari arah bawah timbul lagi. Semua orang sepertinya bersuka cita, senja yang tak akan pernah bisa Yoona lupakan.

Chanyeol bahkan menangis haru.

.

.

.

Kenangan kenangan yang Chanyeol ciptakan tak pernah sedikitpun hilang dari ingatan Yoona. Ia ingat setiap detail kecil tentang lelaki itu. Tak perlu disebutkan, sudah terlalu banyak. Bis yang mereka tumpangi menuju Busan masih bergerak laju. Chanyeol tak bisa berhenti tersenyum. Begitupun dengan perempuan  di sebelahnya. Seakan baru merasakan cinta, keduanya berpegangan erat sedari tadi.

Sejenak, ia melupakan segalanya.

Ia melupakan statusnya.

Ia melupakan kenyataan bahwa ia telah dimiliki orang lain. Kim Si Hoo.

Maafkan aku oppa. Sekali saja.

Dalam hati, ia selalu meyakinkan bahwa semua yang dilakukannya tak salah. Setelah ini semua akan berakhir. Sekali saja. Ya, sekali saja.

“Yoona, kita sampai”

Yoona tersentak dari lamunannya, ia harus fokus untuk saat ini. Fokus untuk berbahagia dengan Park Chanyeol.

 

Yoona tak menyangka. Sungguh, dari dulu Chanyeol memang tak pernah berubah. Selalu diluar dugaan. Laki laki itu membawanya ke sebuah rumah. Rumah tua dengan cat tembok berwarna biru dan putih di bagian jedelanya.  Rumah ini jauh dari kota. Suasananya nyaman dan hangat. Di belakangnya, terdapat hutan Pinus yang rimbun, sedangkan disampingnya, kebun sayur mayur tumbuh dan sungai kecil mengalir. Jarak rumah yang satu dengan yang lain berjauhan. Tak terlalu jauh sampai membuat mereka tak mendengar teriakanmu jika saja kau kemalingan.

Tidak salah lagi.

Ini rumah impian mereka.

“Park Chanyeol….” Yoona kehabisa kata kata.

Ini terlalu indah untuk diwjudkan. Impian mereka, Rumah tua yang nyaman. Ucapan mereka di bandara terlintas kembali. Yoona dengan sadar menjatuhkan air mata. Air mata penuh haru.

“Sudah kubilang kau kan terkejut” ucap laki laki itu.

Park Chanyeol. Megapa? Kau membuat semuanya jadi nyata. Semua ini…… terlalu indah untuk menjadi nyata.

Chanyeol bilang mereka akan menginap selama tiga hari.

“Jadi kita akan mewujudkan kata kata kita saat di Bandara?” ucap Yoona terperangah ketika mereka membuka pintu rumah dan berjalan masuk.  Isi rumah ini sempurna, kebanyakan perabotannya terbuat dari kayu, ada perapian yang keren di ruang tengah, dapur mungil yang menghadap langsung ke kanal kecil disamping rumah.  Ini sangat nyaman. Dan sempurna.

“Tentu saja, kau tahu akau bukan tipe pembual”

“Ya tentu saja.”

Yoona pasti sudah gila sekarang. Bayangkan saja. Ia sedang berbaring di tempat tidur yang sama dengan laki laki lain dan jelas laki laki lain tersebut bukan suaminya.Perasaanya saat bersama Chanyeol terlalu susah untuk dijelaskan. Ia merasa nyaman, kagum, dan bahagia bersamaan. Jam sudah menunjukan pukul 10 pagi waktu Korea, tapi tak ada dari mereka yang berniat untuk beranjak dari tempat tidur dari kayu tersebut. Diluar sedang gerimis.

Entahlah.

Sepertinya mereka memang ditakdirkan untuk mewujudkan impian konyol tersebut.

“Kadang-kadang, aku menutup pintuku dan berpikir
Memikirkan diriku di atas panggung

Kamu bahkan menyukai saat-saat canggungku
Tapi aku bertanya-tanya apakah aku bahkan bahkan layak untuk cinta itu

Kamu slalu menungguku di tempat itu
Kamu memelukku dengan tanganmu, sangat bersyukur untukmu

Aku tak akan pernah lupa
Aku akan membuatmu bahagia
Seperti pepatah, kita adalah satu
Bahkan setelah waktu, aku tak dapat mengatakan apapun dan hanya menelan kata-kataku
Kata-kata yang mengatakan, aku minta maaf, aku mencintaimu, tolong percaya aku seperti yang kamu lakukan sekarang

Aku akan memelukmu, aku akan memegang tanganmu
Jika hatimu dapat beristirahat
Aku akan memberikanmu semua yang ada padaku

Aku ingin melindungi senyumanmu (melindungi)
Slalu

Pada beberapa titik, sepertinya kamu menangis ketika kamu tersenyum
Kamu tak dapat mencintaiku dengan hati yang damai
Dan kamu merindukanku saat kamu mengingat kenangan-kenangan itu
Hatiku sakit untukmu

Aku bahkan tak dapat menghiburmu, mengatakan akan baik-baik saja, bahwa itu akan dilupakan
Jadi aku gugup lagi
Aku ingin memegangmu dan memintamu untuk tidak pergi

Aku tahu aku tak dapat mengembalikan janji yang telah kulanggar
Tapi aku ingin hidup dan bernafas disampingmu untuk seluruh hidupku
Aku berdoa kamu akan bahagia seperti kamu diawal

Trima kasih, maaf aku mencintaimu
Bahkan jika aku memberimu segalanya, itu tidak cukup
Cintaku, aku akan melindungimu selamanya
Ikuti aku saja

Kamu slalu menungguku di tempat itu
Kamu memelukku dengan tanganmu, sangat bersyukur untukmu

Aku tak akan pernah lupa
Aku akan membuatmu bahagia
Seperti pepatah, kita adalah satu

Bahkan jika sulit dan aku lelah, bahkan jika hatiku sakit, aku akan pergi di atas panggung lagi
Aku akan meneguhkan kekuatanku sekali lagi, untukmu, yang telah menungguku

Aku akan memelukmu, aku akan memegang tanganmu
Jika hatimu dapat beristirahat
Aku akan memberikanmu semua yang ada padaku

Hari-hari baik seperti itu
Berada di atas panggung di hari ulang tahunku yang kuhabiskan bersamamu
Ketika kata-katamu menjadi kekuatan bagiku

Aku tahu
Aku akan berjanji padamu, aku tak akan mengecewakanmu
(Aku akan berjanji padamu, aku akan slalu membuatmu tersenyum)
Berjanji padaku, tetaplah seperti dirimu yang sekarang
(berjanji padaku sehingga aku bisa melihatmu)

Hatimu yang pasti terluka
Aku akan memegangnya erat

Bahkan setelah waktu, aku tak dapat mengatakan apapun dan hanya menelan kata-kataku
Kata-kata yang mengatakan, aku minta maaf, aku mencintaimu, tolong percaya aku seperti yang kamu lakukan sekarang

Aku akan memelukmu, aku akan memegang tanganmu
Jika kita bisa bersama selamanya
Aku akan memberikanmu semua yang ada padaku

Aku berjanji padamu”

Promise – EXO

Karna suara itulah Yoona terbangun tadi. Meski sudah beberapa menit berlalu setelah laki laki itu selesai berhenti bernyanyi, tapi Yoona tak kunjung mengeluarkan suara. Chanyeol pun sama. Yoona tak pernah mendengar lagu itu sebelumnya, lagu itu indah. Maknanya dalam. Suara rendah Chanyeol menyanyikannya dengan sempurna. Sesaat Yoona merasa di awang awang. Yoona merasa laki laki itu sengaja membuat lagu itu untuk dirinya. Hanya untuk dirinya. Ah, Ekspektasi Yoona terhadap Chanyeol sedari dulu tak pernah berubah, selalu tinggi. Sialnya, ekspektasi gadis itu selalu menjadi nyata.

“Lagu yang bagus” kata Yoona akhirnya. Chanyeol tersenyum.

“Aku ciptakan khusus untukmu” ucap Chanyeol.

Tepat. Sudah Yoona duga.

Yoona membalas dengan senyum.

Kembali hening.

“Yoong” panggil Chanyeol pelan. Posisi mereka tak berhadapan. Mereka saling membelakangi. Tidak, jangan berpikiran negatif. Mereka hanya tidur bersama. Tak lebih. Ada guling di tengah tengah mereka yang akan berfungsi sebagai pemisah jika saja Chanyeol mulai macam macam, itu yang Yoona katakan.

Yoona  tak menyahut dan tetap diam. Diamnya Yoona membuat Chanyeol tak bisa berhenti tersenyum. Ya Tuhan! Chanyeol pasti sudah gila. Bahkan, ketika Yoona hanya diam, ia tetap tersenyum! Ck.

“Kau suka lagunya?” tanya Chanyeol. Yoona mengangguk antusias. Dapat Chanyeol rasakan tubuh kurus gadis itu bergoyang goyang seiring anggukan kepalanya.

Hening lagi. Rintik rintik hujan yang turun mengisi keheningan yang mereka ciptakan. Yoona suka sekali mencium aroma hujan. Tapi, ia lebih suka aroma laki laki ini. Jadi, ia memutuskan untuk tidak beranjak.

Chanyeol lapar. Tapi ia tak begitu peduli sih, selama ada gadis itu disampingnya, rasa lapar pun akan hilang. Ia hanya ingin bersama sama gadis ini. Sebentar saja.

2 februari 2006

Hujan masih saja belum reda ketika gadis dengan dress berwarna peach itu memutuskan untuk menerobos keluar dari ruamhnya yang hangat. Ia ada janji dengan Chanyeol hari ini. Kencan. Entah yang keberapa kali. Ia hanya ingin bertemu dengan laki laki itu secepatnya, ia yakin laki laki itu sudah menunggu di café mereka biasa bertemu.

Setelah menaiki bus satu kali, dan berjlaan kaki kira kira 20 m, Yoona akhirnya mencapai café. Matanya sibuk mencari sosok tinggi dengan telinga yang terlihat seperti Dobby tersebut. Tapi ia tak kunjung menemukannya. Akhirnya,ia memutuskan untuk duduk di salah satu kursi di sudut café dan memesan minuman hangat.

“Mungkin ia terlambat sedikit” batinnya.

Tapi ia salah.

Detik, menit, dan jam mulai berlalu. Tapi tak ada tanda tanda laki laki tinggi itu akan datang. Hujan semakin deras. Yoona masih setia duduk di kursi café yang sedikit keras tersebut. Pantatnya pegal. Oh! Bukan hanya pantantnya, seluruh tubuhnya pegal pegal.

Berkali kali ia coba hubungi Chanyeol, tapi yang dihubungi tak kunjung menjawab. Sekarang ia mulai merasa malu. Sudah 4  jam ia duduk disini dan hanya memesan segelas vanilla late. Benar benar 4 jam. Yoona juga bingung bagaimana bisa ia duduk selama 4 jam. Akhirnya, Yoona memutuskan berdiri. Tubuhnya pegal, jadi ia memutuskan untuk merenggangkan sebentar otot ototnya. Setelah selesai ia kemudian mengambil tasnya, lalu mulai melangkah keluar café.

Hujan ia terobos. Sudah cukup. Kemana sih Park Chanyeol?! Ia merasa dipermainkan. Laki laki itu sendiri yang mewanti wantinya untuk tidak terlambat. Tapi… apa ini? Ais, lihat saja senin besok. Mati kau!

Yoona masih saja memandang ke bawah dan membiarkan rintik hujan membasahinya.

Bruk

Bukan hal yang baik. Ia menabrak seseorang. Tinggi. Ia malas mendongak dan hanya meminta maaf pelan lalu kembali berjalan. Tapi, tangannya ditarik, mau tak mau ia menoleh.

Chanyeol.

“Kau dari mana saja? Tahu tidak aku menunggu berapa lama? 4 jam!” ucap Yoona berteriak kesal. Ia marah. Biasanya ia akan berkata “Im Marah” setiap kali ia marah. Tapi, kali ini berbeda, ia benar benar marah.

“Yoona dengarkan aku dulu” ucap Chanyeol lirih.

“Dengarkan apa?! Kau mau membuat alasan? Simpan saja. Aku muak. Kau selalu saja terlambat di setiap kencan kita. Tapi yang ini tak bisa di tolerir”

“Dengarkan aku dulu”

“Aku benci padamu! Kalau begini terus lebih baik akhiri saja. Akhiri saja hubungan in-”

“DENGARKAN AKU DULU. DAN TOLONG JANGAN PERNAH BERKATA AKHIRI SAJA HUBUNGAN KITA SEPERTI ITU KARNA DEMI TUHAN YOONG, AKU TAK BISA HIDUP TANPAMU” Chanyeol berteriak keras. Yoona sadar kali ini Chanyeol yang marah. Ia segera tutup mulut. Ini kemarahan pertama Chanyeol. Kemarahan pertama Yoona. Ini pertengkaran pertama mereka berdua. Hujan masih saja turun, orang orang menoleh sebentar untuk melihat kenapa Chanyeol tadi beretriak, tapi kemudian memilih pergi ketika tak terjadi apa apa.

Hanya Chanyeol yang memegang pergelangan tangan Yoona dan melihat ke arah mata itu rapuh.

“Appa…Appa meninggal pagi ini” ucap Chanyeol terisak. Dalam tangisnya bisa Yoona rasakan kesedihan Chanyeol. Yoona terdiam. Ia tak pernah melihat laki laki ini serapuh ini sampai hari ini. Rasanya menyakitkan, rasanya seperti kau juga ikut kehilangan.

Dengan lembut Yoona lalu memeluk Chanyeol. Chanyeol masih menangis.

Beberapa bulan kemudian Yoona diberi kabar oleh Chanyeol bahwa ia akan pindah ke Amerika. Dan tak tahu kapan akan kembali.

“Pertengkaran pertama kita” ucap Chanyol lirih. Hujan masih turun, mereka masih belum beranjak dari tempat masing masing.

Ketika teringat akan pertengkaran pertama mereka, yang ada di pikiran Yoona adalah kepergian Chanyeol. Karena dari situlah semuanya berawal. Ketika appa Chanyeol pergi dan eomma nya sama sekali tak mempunyai keluarga di Korea, Chanyeol dan eommanya terpaksa harus pindah ke Amerika. Meninggalkan Yoona dan semua kenangan yang telah mereka ciptakan.

Tidak. Yoona tak marah pada Chanyeol. Ia tidak mau egois. Tapi kalau tahu semua akan berakhir seperti ini. Harusnya Yoona bilang “jangan pergi” waktu itu. Lagi lagi penyesalan. Yoona benci perasaan menyesal yang tak pernah hilang dari dirinya. Dan Chanyeol benci diri bodohnya yang membiarkan Yoona kesepian dan memilih untuk menikah dengan orang lain.

“Maafkan aku Yoong” ucap Chanyeol lagi. Yoona terdiam.

“Harusnya aku tak meninggalkanmu”

“Tidak. Aku yang salah. Harusnya aku tak mengingkari janji kita” ucap Yoona membantah.

“Aku payah”

“Bukan hanya kau. Aku juga payah”

“Aku suka menjadi payah asal kau juga payah”

“Payah terdengar keren sekarang”

Setelah semua ini berakhir, ia kan merindukan percakapan percakapan tak berbobot mereka. Yoona bahkan harus mencari topik yang menarik untuk berbicara dengan Kim Si Hoo tapi bersama Chanyeol, ia tak peduli apa yang ia suarakan dan lakukan. Karena selama bersama laki laki ini. Yoona selalu mersa benar.

“Di Amerika… Apa kau tidur dengan wanita lain?” Tiba tiba mulutnya jadi tak terkendali. Tapi sungguh ia benar benar penasaran.  Chanyeol tersenyum. Ketika Yoona menoleh ke arah laki laki sampingnya, Chanyeol malah asik memejamkan mata, masih sambil tersenyum.

“Kau bisa bilang aku lelaki tercupu se- Amerika. Nyatanya aku masih menunggu seorang gadis yang sangat tergila gila pada rusa.” Walaupun itu bukan yang terpenting, tapi ketika mendengar hal itu, tak bisa Yoona pungkiri bahwa ia senang. Tidak, ia sangat senang.

“Aku juga tidak pernah melakukan itu” kaya Yoona. Entah ia bicara apa. Tiba tiba saja Chanyeol mengubah arah tidurnya menjadi berhadapan dengan Yoona. Jantung Yoona langsng berdegup kencang, mau tak mau ia juga melihat ke arah Chanyeol. Chanyeol menatapnya serius.

“Sekalipun? Aku tak melarangmu Yoong, kau sudah menjadi miliknya. Kau tidak seharusnya menutup dirimu sep-”

“Itu karna dirimu Chanyeol-ah. Aku…selalu membayangkan kau saat bersamanya, itu membuatku merasa bersalah. Dan…” Yoona terhenti sejenak. “Aku pasti sudah gila. Aku tak tau apa yang kubicarakan.”

“Oh” Chanyeol sedikit merasa canggung setelahnya. Yoona lebih lebih, ia malu!

Hening sejenak.

“Kau tahu tidak..?” tanya Chanyeol kemudian.

“Apa?”

“Dunghae Hyung menghajarku sehabis aku menyatakan cinta padamu” ucap Chanyeol sambil tertawa. Yoona terperangah. Tapi.. mengapa?

“Mengapa?”

“Karna ia juga menyukaimu bodoh”

“Benarkah? Harusnya aku tahu ini lebih awal! Yak! Park Chanyeol! Kenapa kau baru memberitahuku?!” dengan sedikit tekanan Yoona mendorong pelan Chanyeol. Chanyeol tertawa. Yoona pura pura marah.

“Tahu tidak, Saat kita kencan petama kali, aku meminjam dress tetanggaku”

“Benarkah? Biar bagaimanapun juga kau terlihat cantik. Aku maish ingat… dress ungu berenda putih?”

“Tepat. Agak kurang pas ditubuhku, tapi aku menyisiatinya dengan…..”

“Benarkah?”

“………

Masih hujan dan kedua orang Korea tersebut masih bercerita. Mungkin seharusnya mereka bercinta. Tapi tidak, begini saja sudah cukup.

Aku ingin hujan menyimpan percakapan konyol kami dengan baik. Karena ketika hujan turun, dan aku merindukan gadis ini, aku harap hujan akan membisikkan suaranya di telingaku.

.

.

.

Hari terakhir mereka.

Besok semua akan kembali lagi seperti semula.

Mereka benar benar mewujudkan semua perkataan mereka saat di bandara. Semuanya terasa lepas dan menyenangkan. Chanyeol mengajak Yoona pergi ke café tempat mereka berkencan dulu. Dan Yoona tentu saja mengiyakan. Maka, pagi itu, di hari terakhir mereka, Yoona bangun dengan perasaan bahagia sekaligus sedih. Bahagia karena bisa bersama dengan Chanyeol, dan sedih karena ini hari terakhir mereka.

Chanyeol menyeduh kopinya dengan nikmat. Ia kalut. Yoona masih mandi. Ia sudah berpakain rapi sedari tadi. Dalam benaknya, laki laki itu bertanya tanya, setelah ini apa? Setelah semua ini berakhir apa yang akan dilakukannya? Pulang ke Amerika? Tidak, disinilah rumahnya.

“Hei!” lamunannya buyar.Ia segera menoleh.

Yoona.

Cantik sekali.

“Cantik. Kau sudah siap?” tanya Chanyeol, lalu mengulurkan tangannya kepada Yoona. Yoona menyambut dengan anggun.

“Seperti yang kau lihat.”

Karena mereka membawa banyak barang dan harus kembali ke Seoul hari ini, maka Chanyeol memutuskan untuk memakai mobil yang tersedia di garasi rumah itu. Chanyeol bilang itu mobil temannya, tapi Yoona tahu ia berbohong.

Selama perjalanan menuju Seoul mereka bicara banyak. Membicarakan banyak hal. Tentang masa lalu mereka dan bagaimana kabar teman teman mereka. Tapi sebisa mungkin kedua orang itu menghindari perkataan yang bisa membuat mereka sedih.

Akhirnya mereka sampai, Chanyeol dengan gagah membukakan pintu untuk Yoona, yang disambut dengan baik oleh gadis itu. Mereka memasuki café dengan bergandengan tangan. Ketika mereka masuk, dan mulai mencari meja kosong. Yoona membeku.

Kim Si Hoo. Suaminya. Sedang menatap ia dan Chanyeol dengan pandangan yang sulit diartikan. Laki laki itu duduk di sudut meja. Sendirian.

Dan Demi Tuhan, Yoona dan Chanyeol masih bergandengan tangan !

.

.

.

Yoona pulang dengan Si Hoo dan bukan dengan Chanyeol. Yah. Memang sudah seharusnya begini. Sepanjang perjalanan menuju rumah mereka, Yoona lebih banyak diam. Pikirannya melayang kepada kenangannya 2 hari lalu. Saat ia bersama Chanyeol. Hatinya mekar dan jantunganya kembali berdetak kencang saat mengingatnya.

Saat ditemukan di café bersama Chanyeol tadi, Ia kalut, malu, gelisah, dan merasa bersalah tentu saja. Suaminya dengan baik hati mengajak Chanyeol untuk sraapan bersama . Chanyeol mengiyakan dengan raut wajah sebiasa mungkin. Walau tak tersirat dari kedua wajah masing masing, bisa Yoona rasakan ada ketegangan yang besar saat sarapan tadi, seperti baku hantam dalam diam. Dan, bisa di tebak, sarapan mereka berakhir canggung.

Padahal, belum genap 3 hari ia bersama Chanyeol. Tai, takdir berkata lain. Chanyeol belum sempat membuat harinya menjadi lebih baik.

Ah

Sampai saat ini pun, suaminya tersebut belum mengatakan apa apa. Yoona tahu ia pasti kecewa padanya. Tinggal selama beberapa tahun bersama lelaki ini membuatnya bisa lumayan mengenal karakter seorang Kim Si Hoo.

Akhirnya meraka sampai, suaminya tetap bersikap seperti biasa. Ia membukakan pintu mobil untuk Yoona, menggenggam erat tangannya, bahkan membawakan tas Yoona. Yoona semakin merasa bersalah. Bodoh kalau Kim Si Hoo tidak tahu kalau ia berselingkuh. Iya. Berselingkuh. Setelah Yoona pikir pikir, dirinya memang sedang berselingkuh kemarin. Tapi lihat kelakuan laki laki ini, Yoona tak percaya ada orang sebaik ini.

Kadang Yoona muak dengan segala kebaikannya. Kebaikan yang malah ia balas dengan kejahatan.

“Oppa!” Yoona berteriak, menghasilkan gema yang memecah keheningan rumah mereka. Kim Si Hoo menoleh.

Yoona tak tahan lagi.

“Aku beselingkuh!” ucapnya lagi, ia bahkan tak yakin dengan apa yang barusan ia ucapkan. Ia hanya tak ingin pura pura semuanya baik baik saja ketika nyatanya semuanya sedang tidak baik baik saja. Air matanya menggenang, tapi tak kunjung jatuh.

Kim Si Hoo hanya diam. Memandang tenang istrinya.

“Dan kau……kau bahkan masih bersikap baik kepadaku. Kau menyiksaku oppa…. Perasaan bersalahku akan menumpuk terus jika begini.Kau harusnya memarahiku, atau meninggalkanku” Yoona berucap sambil terisak, tangis itu murni tangis perasaan bersalah. Hatinya kacau.

Ia terus saja menangis ketika Si Hoo malah memeluknya. Ia tak pernah mengerti… mengapa laki laki ini malah memeluknya?

“Yoong….Apakah kau pernah mencintaiku?”Laki laki itu bregumam pelan. Masih berpelukan Yoona terisak semakin keras, ia bisa rasakan kalau suaminya itu juga sedang menangis. Sekarang, semuanya terlihat jelas. Ia yang salah selama ini. Ia yang memberi harapan kepada lelaki ini, ia yang terus terusan berpikir bahwa ia bisa mencintai lalaki ini padahal kenyataanya tidak, ini semua salahnya.. Dari awal ini memang salahnya.

“Mian oppa..mian…”

Ini akhirnya.

.

.

.

16 Mei 2019

Sudah empat tahun semenjak ia memutuskan berpisah dengan Kim Si Hoo. Dan.. sudah empat tahun sejak Chnayeol menghilang tanpa kabar.

Yoona menghela nafas kasar.

Apakah ini karma? Hatinya terus bertanya. Karena sejak ia meemilih berpisah, tiba tiba saja Chanyeol menghilang. Bukannya ia tak mendengar gossip dari teman SMA meraka dulu saat ia menghadari reuni beberapa waktu lalu, ia hanya mencoba untuk percaya. Walau ia dulu sempat mematahkan kepercayaan laki laki itu.

Mereka bilang Chanyeol sudah menikah di Amerika.

Kalau berita itu memang benar, ia pasti memang sedang terkena karma saat ini. Karena tak banyak yang ia lakukan saat ini selain menulis, jadi ia memutuskan untuk kembali lagi ke sekolahnya. Umurnya 31, dan ia terlihat menyedihkan dengan datang ke tempat ini. Setidaknya disini, semuanya terasa jelas, tak samar dan buram seperti gambaran tetang masa sekolah di dalam otaknya.

Ketika ia sedang duduk sambil memejamkan matanya, tepat dimana ia mendapatkan first kiss nya dulu, tiba tiba saja ia kembali memikirkan Chanyeol, dan gilanya ia seakan merasakan kehadiran lelaki jangkung itu. Yoona tertawa. Semilir angin musim semi menampar lembut pipinya.

“Cantik…” Yoona bisa mendengar suara lelaki itu, membisikkan telinganya lembut.

Imajinasinya benar benar tak masuk akal sekarang, karena baru saja ia meraskan ada yang menyentuh pipinya.

Ia membuka matanya pelan, tak mau semakin terlarut dalam imajinasi konyolnya. Ketika ia menoleh, ada Chanyeol –atau seseorang yang mirip Chanyeol sedang duduk disampingnya- menatap Yoona sambil memamerkan senyum setengahnya. Ia tak sedang berimajinasi ternyata.

Yoona tertawa keras.

Kau percaya takdir? Aku percaya.

.

.

.

Yoona putus dari Lee Seunggi dan dia buat akun instagram. Bulan ini banyak kejutan ya? Hehe :3

WiFi di rumah author diputus gara gara sesuatu(?)jadi ga bisa sering sering baca disini T.T.Btw, ini ngirimnya penuh perjangan loh hehe.

24 thoughts on “[Freelance] The Time We Were in Love

  1. ya ampun keren bgtt, kasian jg sih sama mantan suaminya yoona.. tp knpa chanyeol menghilang? apa bnar dia sudah menikah? eumm

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s