[Freelance] Revenge (Chapter 2)

REVENGE

REVENGE 2

 

Author                  : Chobi
Tittle                     :
Revenge
Cast                       :
Im Yoon Ah, Oh Sehun, Kris, Park Jiyeon

Support cast       : Kai, Chanyeol (Temukan yang lainnya)

Genre                   : Romance, Action
Rating                   : PG
21
Length                  : Chapter

Disclaimer          : FF ini murni, asli buatan aku sendiri. Semua cerita yang ada disini hanya khayalan semata, GAK NYATA. Banyak TERINSPIRASI DARI KDRAMA dan KMOVIE, dan pastinya tulisan ini masih banyak kekurangan.

 

 

HAPPY READING ^_^

 

KLING!

Terdengar nada pesan dari ponsel Yoona. Ia pun segera membukanya. Pesan dari nomor yang belum terdaftar di ponselnya, kata yang pertama ia lihat adalah ‘JOY,’ Yoona tidak bisa menutupi rasa terkejutnya.

“Oppa,” ucapnya pelan.

Tak menunggu lama, Yoona bergegas mengganti pakaiannya, ia menggunakan jins panjang warna hitam, mantel berwarna navy untuk menutupi tubuhnya yang hanya menggunakan kaos oblong putih, tak lupa ia memakaikan kepalanya sebuah topi dan bergegas pergi meninggalkan apartemen dengan langkah kaki yang sedikit terseret karena menahan sakit.

 

Hotel, Seoul

20.49

Yoona berjalan di lorong hotel di lantai 13, tangannya sudah memegang sebuah kunci yang ia minta pada resepsionis. Sampai di sebuah pintu bernomor 101 Yoona menghentikan langkahnya. Ia membuka pintu menggunakan kunci lalu masuk ke dalam.

Dari kejauhan, ia sudah melihat seorang pria dengan kemeja hitam dan celana hitam sedang berdiri di belakang jendela menghadap ke arah luar.

“Oppa,” panggil Yoona pelan untuk memastikan.

Kris mengenal suara pelan itu, bahkan ia sangat merindukannya. Ia membalikkan badannya dan ia terdiam beberapa saat melihat Yoona.

“Oppa,” Yoona berjalan cepat ke arah Kris lalu memeluknya dengan erat.

Akhirnya ia kembali merasakan rengkuhan tubuh Yoona, pelukan yang ampuh menghangatkan tubuhnya. Kris membalas pelukan Yoona dan tidak melepaskannya dengan cepat.

“Kenapa begitu lama?” Tanya Yoona yang masih berada di pelukan Kris.

“Mianhae,” jawab Kris.

Yoona melepaskan pelukannya pada Kris, ia memegang kedua sisi kepala Kris lalu menatap wajah Kris walau harus sedikit mendongak. Kris pun melakukan hal yang sama pada Yoona. Mereka terlihat sedang memahami perbedaan fisik dari yang lalu sampai sekarang. Namun beberapa saat kemudian Yoona menjauhkan dirinya dari Kris saat terpikir sosok Sehun di kepalanya.

Saat itu Kris tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Namun tak menunggu lama ia sudah bisa mengerti mengapa Yoona seperti itu.

“Wae?” Tanya Kris.

“An-n-ni.. Ahh,” jawab Yoona sembari melihat-lihat ruangan kamar hotel untuk mencari keberadaan kamar mandi.

“Itu, tunggu seb,,” saat Yoona hendak berjalan menuju ke kamar mandi. Kris lebih dulu menarik tangannya sehingga kini tubuhnya dan Kris menempel.

Yoona menundukan kepalanya, sesekali ia menggigit bibirnya yang menunjukan bahwa ia sedang resah.

Kris menjulurkan tangannya untuk memegang pipi kanan milik Yoona dan sedikit mendongakkannya agar Yoona memandangnya.

Yoona memandang Kris dengan diiringi rasa gelisah. “Oppa,” baru saja ia ingin berbicara pada Kris, Kris sudah lebih dulu mendekatkan wajahnya ke arah wajahnya.

Kris bahkan memiringkan wajahnya, hal itu justru membuat kepala Yoona semakin menjauh dari Kris. Dengan tangan yang ada di pipi Yoona, Kris menahan kepala Yoona agar tidak semakin menjauh darinya. Saat hampir saja bibirnya menyentuh bibir Yoona, Yoona lebih dulu memalingkan wajahnya ke arah kiri.

Kris terdiam beberapa saat, ternyata dirinya tak menyerah begitu saja, kali ini ibu jari dan telunjuknya memegang dagu Yoona, dan saat ia mulai mendekatkan bibirnya, lagi-lagi Yoona memalingkan wajahnya.

Kris menghela nafasnya, ia mengambil jarak dengan mundur beberapa langkah dari tempat semula, sudah bisa dipastikan, dan ia meyakinkan Joy kecil sudah berpaling ke lain hati. Kris kembali menghadap ke arah jendela dan memasukkan kedua tangannya ke dalam kantung saku di dua sisi celananya.

Lagi-lagi Yoona hanya bisa menunduk dan memasrahkan apa yang akan dilakukan Kris padanya karena sudah membuat kakaknya kecewa.

“Joy, ada yang ingin kau katakan padaku?” Tanya Kris tanpa menoleh ke arah Yoona.

Yoona menggelang. “Eobso,” ucapnya pelan.

“Apa mereka mengajarkanmu menjadi penakut seperti ini? Angkat kepalamu! Dan bicara dengan jelas!” Pinta Kris dengan nada penuh penekanan.

“NE!” Yoona segara mengangkat kepalanya dan berbicara dengan jelas.

“Ada yang ingin kau katakan?” Kris kembali mengulang pertanyaan.

“Ne, mereka sudah mengetahui kau akan datang ke Korea dan akan membunuh presiden baru setelah resmi diumumkan,” lapor Yoona pada Kris.

Kris mengangguk, lalu ia berbalik. “Hanya itu?”

“Mereka tahu kau adalah pembunuh menteri keuangan di Brazil,” ucap Yoona.

Kris tersenyum, ia berpikir apa sekarang Yoona berusaha menutupi sesuatu hal penting darinya, karena informasi yang di berikan Yoona, Kris bahkan sudah mengetahuinya. “Joy-ah,”

“Aku akan menggambarkan markas AIK dengan jelas dan mendetail, dari pintu masuk sampai ke belakang, dan pengamanan di sana cukup sulit di terobos,” ucap Yoona.

Kali ini Kris tampak menyukai ucapan Yoona. “Lalu,” Kris menunjukan seakan dirinya belum mendapatkan apa yang ingin ia dengar dari mulut Yoona.

“Aku rasa ini penting, tidak ada orang dalam AIK di dalam anggota kita, mereka baru berencana melakukannya, tapi menggagalkannya karena dirasa tidak akan mudah, terlebih waktu yang tersisa tidak lama lagi, hanya itu yang bisa ku katakan padamu Oppa,” ucap Yoona.

Kris kembali tersenyum. Ia memikirkan perkataan Yoona ‘tidak ada orang dalam AIK di dalam anggotanya,’ lalu siapakah Yoona, bukankah kini dia orang dalam AIK tersebut. Kris tersenyum sinis. “Benar tidak ada?” Kris memandang Yoona dengan maksud tertentu.

Yoona langsung tanggap dengan tatapan Kris seperti itu padanya. “Oppa, kau tidak mempercayaiku?”

Kris mengerutkan keningnya. “Wae? Apa aku terlihat mencurigaimu? Aah jinjja, mana mungkin aku meragukan adikku, aku hanya ingin memastikannya sekali lagi padamu.”

“Ebso!” Jawab Yoona singkat.

Kris menganggukan kepalanya. “Duduklah!” Pinta Kris sembari menuangkan segelas bir untuk Yoona.

Yoona mengikuti perintah Kris, ia duduk tepat di hadapan Kris, dan meminum sedikit demi sedikit birnya.

Kris menegak sekaligus bir di dalam gelas berukuran sedang. “Pria itu, dia sangat berambisi, sulit rasanya jika dia masih bisa berkeliaran, pastinya akan sangat memusingkan kita nantinya, kau tahu apa yang harus kau lakukan?” Kris berusaha mencoba menggertak Yoona, walaupun ia sudah yakin adiknya tak kan mampu melakukan hal itu.

Yoona kembali tidak berani memandang mata Kris, ucapan Kris padanya terdengar sangat mengerikan di telinganya. “Ne,” jawab Yoona yang sedikit tidak terdengar.

“Melihat kau sangat dekat dengannya, bahkan kau tidur denga,,”

“Oppa!” Bentak Yoona sembari memandang Kris. Bukan waktu yang tepat berbicara mengenai hal seperti menurut Yoona, terlebih lagi ini adalah kali pertama mereka bertemu setelah terpisah bertahun-tahun.

Kris membalas tatapan Yoona. “Sebelum membunuhnya kau bisa tidur lagi dengannya, setelah dia pulas tertidur kau bisa langsung membunuhnya, mudah bukan? Aahh, apa yang akan Oh Se Hwan rasakan ketika tahu anaknya dibunuh oleh calon menantunya sendiri?” Kris tertawa.

Yoona menatap tajam mata Kris. Ia mengeratkan kepalan tangannya yang ia letakan di atas pahanya. “Aku tidak pernah tidur dengannya!”

Kris menatap dalam mata adiknya, dengan begitu saja ia sudah tahu bahwa Yoona berbohong padanya. Ia mengambil sebuah amplop coklat di sebelahnya, membukanya lalu mengambil beberapa foto dan sempat dilihatnya. “Oh Sehun, pria yang terlihat seperti srigala dari luar tapi ketika bersamamu, ia hanyalah seekor kucing yang manja pada pemiliknya.” Kris menaruh lembaran foto itu di atas meja.

Yoona terkejut bukan main melihat foto-foto dirinya yang sedang bersama Sehun di atas tempat tidur ada di tangan Kris. Yoona mengambil seluruh foto lalu meremasnya. “Ige mwoya?” Suara yang pelan namun penuh dengan penekanan.

“Wae? Kau bilang kau tidak,”

“OPPA!!” Bentak Yoona dengan suara yang kencang. Apakah harus seperti ini di pertemuan awal mereka, pikir Yoona.

“Haruskah kau bertindak sejauh ini?” Lanjutnya.

“Kau lupa? Ku bilang aku akan memantaumu selalu!” Jawab Kris.

“Beginikah caranya?” Ucap Yoona sedikit tertahan, matanya memancarkan aura kecewa bercampur marah.

“Heem,” Kris berdeham mengiyakan.

Nafas Yoona mulai menderu. Yoona berfikir bahwa foto-foto yang ditunjukkan Kris kepadanya adalah hal yang amat sangat privasi untuk dirinya maupun Sehun, tak seharusnya orang lain melihat foto itu. Bagaimanapun ia sangat kecewa mengetahui Kris melakukan hal itu padanya. Ia mengambil gelas yang ada di atas meja lalu menaruhnya kembali dengan kekuatan ekstra.

BUG! PRANG!

Gelas itu pun pecah dalam dekapan tangan Yoona. Air mata Yoona mengalir membasahi pipinya, berbarengan dengan darah kental yang keluar dari tangannya.

“Yak,” Kris menarik tangan Yoona, wajahnya menunjukan kekhawatirannya.

Yoona menarik tangannya dari Kris dengan sangat keras dan bangun dari kursi yang ia duduki. “Seharusnya tidak seperti ini!”

“Ya, jika kau masih berada di posisi yang benar, semua ini tidak akan terjadi,” jawab Kris.

“AKU MASIH DI PIHAKMU OPPA!” Teriak Yoona.

“Akankah kau sanggup melakukannya?” Tanya Kris.

Yoona merasa dirinya terus diremehkan. Namun ia tak menyangkal pertanyaan Kris, apakah ia sanggup membunuh pria yang ia cintai dengan tulus?

Yoona berbalik pergi sembari mengusap air mata di wajahnya.

“Mungkin kau lupa, aku akan mengingatkanmu,” ucapan Kris terpotong.

“Aku ingat, ciuman pertama kita di Bandara, kau harus ingat kita adalah adik kakak, dan selamanya akan tetap seperti itu!” Yoona melanjutkan langkahnya dan meninggalkan kamar hotel itu.

 

Apartemen Yoona

22.00

Yoona berlari memasuki kamar apartemennya, ia melihat ke seluruh ruangan, mengingat dari mana sudut foto dirinya di ambil, ia melihat ke arah sudut atas jendela, ia baru menyadari ada benda aneh di sana, ia buru-buru mengambil benda tinggi untuk mencapai kamera tersembunyi. Ia menyabut kamera itu dan membantingnya.

TAK!

Kamera itu hancur berkeping-keping. Yoona mendaratkan tubuhnya di lantai, bukan dirinya tak menyadari ada kamera tersembunyi. Namun ia tak terfikir sekalipun akan ada kamera tersembunyi di kamarnya. Tiba-tiba memori indahnya yang dilakukan bersama Sehun terputar di kepalanya, memori indah yang bukan hanya dirinya dan Sehun yang tahu, melainkan Kris juga mengetahuinya.

Yoona tidak diam begitu saja, ia kembali memutar memori siapa saja orang yang sudah masuk ke dalam apartemennya. Tidak ada yang lain selain anggota tim AIK, dan saat itu juga Yoona menyadari, ia tak sendiri, ada orang lain lagi di dalam AIK yang berpihak pada Kris.

TUT! TUT! TUT!

Tiba-tiba Yoona mendengar seseorang yang hendak masuk ke dalam apartemennya, tentu Sehun lah orangnya.

Dengan cepat ia berlari ke arah pintu kamarnya dan mengunci pintu, lalu mematikan lampu sehingga kini kamarnya menjadi gelap.

CEKLEK!

Di luar kamar, Sehun sedang berusaha membuka pintu kamar Yoona. Namun ternyata di kunci, tidak biasanya Yoona mengunci pintu kamarnya.

“Yoona-ah,” panggil Sehun pelan sembari mengetuk pintu.

“Kau tidur?” Ujar Sehun lagi.

Sehun tidak berfikir Yoona sudah tertidur, mengingat hari ini mereka sempat bertengkar hal yang mungkin jika Yoona mengurung diri di kamar dan tidak ingin bertemu dengannya. Sehun berjalan ke arah sofa dan merebahkan tubuhnya di sana, wajahnya menunjukan betapa lelahnya ia hari ini.

Sementara di dalam, Yoona masih berdiri di depan pintu kamarnya. Ia berjalan menghampiri kepingan kamera di lantai untuk segera membersihkannya tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Setelah itu ia mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur, ia sempat memandang sendu dirinya yang berada di dalam cermin. “Kenapa kau begitu jahat Im Yoona!” Ujarnya dalam hati.

Tiga jam sudah Sehun merebahkan tubuhnya di atas sofa, untuk yang kesekian kalinya ia melihat jam tangannya, satu hal yang ia yakini, Yoona akan keluar dari kamar dan memberikannya selimut, namun sampai saat ini Yoona belum juga keluar.

CEKLEK!

Mendengar suara pintu dibuka, Sehun langsung memejamkan matanya.

Yoona berjalan keluar dari kamarnya sembari membawa selimut di tangannya, ia menghampiri Sehun yang terlihat sedang pulas tertidur. Ia menyelimuti tubuh Sehun dengan selimut, lalu tangannya ia arahkan untuk menyentuh wajah Sehun namun diurungkannya. “Mianhae,” ucapnya tanpa bersuara. Yoona kembali berjalan ke arah kamarnya.

Sehun membuka matanya, membuang selimut yang ada di tubuhnya dan bergegas mendekati Yoona. Ia melingkarkan kedua tangannya di tubuh Yoona dan menenggelamkan kepalanya di leher Yoona.

Untuk sepersekian detik tidak ada reaksi dari Yoona, Sehun justru semakin mengeratkan pelukannya. Namun tak berapa lama, Yoona justru berbalik dan membalas memeluk tubuh Sehun. Ia teringat akan perintah Kris untuk membunuh Sehun. Tugas yang sampai kapan pun dirinya tak akan sanggup melakukannya.

Kini mereka berada di atas tempat tidur, Yoona menyandarkan diirinya pada kepala tempat tidur, sedangkan Sehun terlihat menyandarkan kepalanya di dada Yoona dan  membiarkan kedua tangannya melingkari tubuh Yoona. Kedua tangan Yoona pun melingkari tubuh Sehun. Sehun benar terlihat seperti kucing yang merindukan sosok majikannya.

“Ayahku selalu mengingatkanku untuk tidak menunjukan orang terdekatku kepada publik, karena sama saja aku menunjukkan kelemahanku, bagaimana bisa aku membiarkan musuhku tahu kelemahanku?” Ucap Sehun, akhirnya ia memberi tahu pada Yoona alasan ia bersikap dingin di luar terhadap Yoona.

“Mereka berhasil membunuh Ibu, salah seorang kelemahan Ayah dan berhasil pula menuntun Ayah untuk mundur dari jabatannya, tidak menutup kemungkinan mereka juga akan mengincarmu,” lanjut Sehun dengan rasa kekhawatirannya pada Yoona.

Mendengar kalimat itu, rasa bersalah Yoona pada Sehun semakin dalam. Karena bagaimanapun hal itu tidak akan terjadi, tetapi Sehun begitu sangat mengkhwatirkan dirinya.

“Dan Jiyeon Sunbae, dia hanya masa laluku, masa lalu bagiku tidak berarti apapun, sekarang hanya ada kau yang akan menghiasi indahnya masa depanku,” ujar Sehun.

“Sekarang tanyakan apa yang ingin kau tanyakan?” Pinta Sehun.

Yoona menggelengkan kepalanya, seandainya memang Sehun selingkuh pun itu belum cukup untuk menebus dosanya pada Sehun.

Sehun tersenyum. “Jangan perlakukan aku seperti tadi, karena itu sangat menyakitkan.”

“Arraseo,” jawab Yoona.

Sehun mengeratkan pelukkannya dan memejamkan kedua matanya.

Matahari pagi mulai menganggu ketenangan tidur Sehun saat Yoona membuka korden di kamarnya. Lalu ia menghampiri Sehun dan menarik selimutnya. “Ireona, kau harus bertemu dengan Ayahmu kan?”

Sehun bangun dari tidurnya. “Chuwo”, ucapnya sembari menarik kembali selimut untuk menutupi tubuh bagian atasnya yang tidak berpakaian.

“Cepat bagun! Kau mau membiarkan Ayahmu menunggu lama?” Yoona menarik lengan Sehun.

“Dimana anakku?” Tanya Sehun sembari memosikan tubuhnya duduk di tepian tempat tidur.

“Yak! Ireona!” Teriak Yoona di telinga Sehun.

“Aak,” Sehun memegangi telinganya yang terasa akan pecah saat Yoona berteriak.

“Lihat! Aku sudah bangun!” Sehun menunjukkan mata lebarnya di depan wajah Yoona.

Yoona mendorong jauh wajah Sehun dengan tangannya. “Kalau kau sudah bangun tidak mungkin kau bertanya seperti itu! Anak, sejak kapan kau punya anak? Eoh?”

“Mimpi yang terasa seperti nyata,” ujar Sehun dengan lemas.

Tiba-tiba Sehun teringat sesuatu, ia beranjak dari tempat tidur dan membuka laci yang berada di samping tempat tidur, ia mengambil sebuah botol plastik kecil yang berisi pil pencegah kehamilan dan menunjukkannya pada Yoona. “Ini, jangan minum lagi!”

Yoona mendadak menelan salivanya, ia bingung harus menanggapi apa permintaan Sehun itu. “Kau ini belum bangun rupanya! Kajja!” Yoona mengambil botol yang ada di genggaman Sehun lalu melemparkannya ke tempat tidur, setelah itu ia menarik Sehun ke dalam kamar mandi.

“Tunggu!” Sehun menarik tangan Yoona agar tak membawanya ke kamar mandi. Ia menatap Yoona dengan serius.

Yoona menghela nafasnya. Ia tahu keinginan Sehun saat ini bukan hanya sekedar gurauan. “Kau sudah memikirkan jarak panjangnya? Apakah saat seperti ini waktu yang tepat untuk memiliki seorang anak?”

Sehun terdiam memikirkan ucapan Yoona, setelah dipikir perkataan Yoona benar, akhir-akhir ini mereka sedang disibukkan dengan ancaman penembakan Presiden. Korea bahkan sedang tidak aman. “Arraseo,” jawab Sehun lalu berjalan masuk ke dalam kamar mandi.

Yoona duduk di tepian tempat tidur, ia mengambil botol pil miliknya lalu menatapnya. “Seorang anak? Aku bahkan tak pernah memikirkannya, karena pada akhirnya kita harus berpisah Sehun-ah,” ucap Yoona dalam hati.

Setelah mengantar Sehun keluar apartemen, Yoona kembali ke kamarnya untuk bersiap pergi ke markas AIK, dan saat itu ia mendapatkan sebuah pesan singkat dari Kris.

Setelah membaca pesan itu, Yoona bergegas mengganti bajunya dan segera meninggalkan apartemen.

Selang satu jam Yoona sudah sampai di depan sebuah hotel besar yang sesuai dengan alamat yang tertera di ponselnya, ia keluar dari mobilnya dan masuk ke dalam hotel, tepatnya ia menuju ke atap hotel sesuai tempat yang diperintahkan Kris padanya.

Sedangkan Kris dan Kai sudah berada di atap sebuah hotel dan sedang mempersiapkan senapan berlaras panjang. Ya, mereka sudah memulai misinya.

BAM!

Kris menoleh saat mendengar suara pintu di tutup oleh seseorang, Yoona tampak berjalan mendekatinya.

Yoona bersikap seolah-olah tidak ada yang terjadi dengannya dan Kris semalam. Ia membungkuk sopan lalu tersenyum berbarengan. Kris sekilas melihat beberapa jemari Yoona yang dibalut plester. Ia bersyukur di dalam hati karena luka di jari Yoona tidak parah.

Kai yang sudah selesai menyiapkan senjatanya pun berbalik dan tersenyum pada Yoona. “Lama tak bertemu, Joy,” sapa Kai.

Yoona tersenyum menanggapi sapaan Kai.

Kris memberikan sebuah teropong pada Yoona. “Lihat, mereka ada di lantai 14, posisi yang sangat tepat. Aku sangat menyukai target yang sangat pengertian padaku.” Kris tersenyum penuh arti.

Yoona mengambil teropong itu lalu maju beberapa langkah dan memasang kedua matanya di belakang teropong berwarna hitam.

Setelah beberapa saat Yoona menurunkan teropongnya. Ia melihat ke arah Kris. “Mwoya,” ucapnya pelan.

Kris berjalan mendekati Yoona dan merangkulnya. “Ya, pria tua itu, dialah target pertama kita, kau bisa melakukannya?”

Yoona jelas menampakkan wajah keraguannya, bukan karena ini pertama kalinya ia akan membunuh seseorang, toh memang dirinya disiapkan untuk membunuh. Namun karena target utamanya adalah Oh Se Hwan yang sedang bersama dengan Oh Sehun di sebuah restoran hotel.

“Wae? Kau bilang kau ada di pihakku kan?” Lanjut Kris.

Yoona terdiam untuk beberapa saat, ia bahkan memalingkan tubuhnya dari Kris, tangannya mengepal dengan keras. “Oppa, beri aku 100 orang kecuali Oh Se Hwan, aku akan menembaknya saat ini juga,” jawab Yoona.

Kris tertawa menanggapi permintaan Yoona. “Anniya, kau lupa? Misi utama kita adalah balas dendam padanya. Mereka sudah membunuh Ayah dan Ibu. Ahh, apa kau berpikir mereka bukan orangtuamu?”

Yoona hanya bisa terdiam, benar mereka memang bukanlah kedua orangtuanya, dan hal itu membuat rasa ingin balas dendamnya perlahan menghilang seiring dirinya mengenal Sehun. Hanya saja ia tidak bisa melupakan jasa Kris yang selalu ada untuknya, saat ia masih berumur 4 tahun Kris sudah ada di sisinya.

Kai yang berada di belakang manatap punggung Yoona. Benar apa yang diucapkan Kris, Yoona sudah tak lagi berada di pihak yang sama dengannya. “Joy-ah, kau tak akan melakukannya?”

“Aah, gwaenchana Kai-ah,” Kris berjalan mendekati senapan berlaras panjang. “Aku yang akan melakukannya, meskipun aku tidak tahu peluru ini akan berbelok kemana,” lanjut Kris.

“Oppa!” Mendengar ucapan Kris, Yoona segera berbalik menghampiri Kris dan memegang lengannya. Ia tahu maksud ucapan Kris, Sehun lah yang jadi target utamanya.

“Wae? Gwaenchana, aku akan melakukannya untuk Adikku,” Kris tertawa sekaligus ia bersiap dengan senapannya.

“ANDWAE!” Teriak Yoona.

“Yak,” Kai mendekati Yoona dan memegang pundaknya.

“Aku akan melakukannya,” lanjut Yoona dengan suara yang lirih.

Di lain tempat, Sehun dan Oh Se Hwan sedang berbincang-bincang sembari menyantap makanan yang sudah dipesan.

“Kau benar akan ke Kanada, Ayah?” Tanya Sehun.

Oh Se Hwan mengangguk. “Heem, aku ingin beristirahat di sana, dan menghabiskan sisa waktuku di kampung halaman Ibumu.”

“Berangkatlah secepatnya, sebelum mereka melakukan misi mereka,” saran Sehun pada Ayahnya.

“Anni, aku akan pergi saat keadaan di sini sudah membaik,” jawab Oh Se Hwan.

“Ayah! Kau bisa menjadi targetnya!” Sehun menaruh sumpitnya di atas meja, serasa ia sudah tak nafsu makan lagi.

“Selagi kau masih ada di sisiku, tak ada yang perlu ku khawatirkan,” jawab Oh Se Hwan sembari tersenyum.

“Aku tidak selalu ada di sisimu, Ayah,” ucap Sehun. Memang benar, dirinya kerap kali meninggalkan sang ayah untuk menyelasikan tugas yang diberikan kepadanya.

“Bagaimana kabar dia?” Oh Se Hwan berusaha mengalihkan pembicaraan.

Sehun menghela nafasnya, kebiasaan ayahnya yang tak pernah ia sukai. “Dia baik,” jawab Sehun.

“Kapan kalian akan menggelar pernikahan? Tidak perlu merayakannya besar-besaran, cukup keluarga inti yang mengetahuinya,” tanya Oh Se Hwan sembari memberi saran.

“Kami belum terfikir ke arah sana,” jawab Sehun.

“Tidak terfikir bagaimana? Bukankah kau sudah tinggal serumah dengannya? Tinggal mendaftarkan pernikahanmu saja. Jangan seperti ayahmu yang baru menikah di umur yang tua, dan akhirnya hanya bisa memproduksi satu anak, dan anaknya ternyata kau, auuuhh jinjja,” Oh Se Hwan mencoba menggoda Sehun.

Sehun tersenyum menanggapi ucapan sang Ayah, tanpa disadari pipinya bersemu merah.

Sedangkan di atap gedung lain, Yoona masih tidak bisa fokus mengarahkan ujung senapan ke arah kepala Oh Se Hwan.

“Kau menunggu mereka pergi baru menembaknya?” Ucap Kai yang sedikit kesal karena Yoona tak melayangkan tembakannya.

“Ssstt,” Kris memegang dada Kai, ia tahu bagaimana sulitnya Yoona melakukan hal itu.

Yoona menghela nafasnya. Ia mengumpulkan keberaniannya. “Aku pantas mati, bunuh aku dengan tanganmu sendiri Oh Sehun,” ucap Yoona dalam hati sebelum akhirnya ia melepaskan tembakan ke arah Oh Se Hwan.

Sehun dan Ayahnya sedang tertawa bersama. Namun tak berapa lama.

PRANG! DEP! BRUG!

Pecahan kaca bertebaran, bahkan beberapa ada yang menancap di wajah Sehun namun tidak dalam, Oh Se Hwan jatuh lemas di lantai dan dadanya mengeluarkan darah segar.

“AYAH!” Teriak Sehun.

Pengunjung kafe yang berada di tempat kejadian pun berlarian meninggalkan tempat.

Oh Se Hwan masih tersadar dengan suara yang tertahan menahan sakit.

“Ayah,” Sehun memegang dada Oh Se Hwan yang terus mengeluarkan darah sembari menelpon ambulance menggunakan ponselnya.

Setelah berhasil menghubungi ambulance, Sehun melihat ke arah gedung yang berada tepat di depannya dan melihat ke arah atap. Dapat! Sehun dapat melihat seorang wanita berambut panjang sedang berjalan lalu menghilang. Lalu tak lama ia melihat seorang pria menggunakan topi hitam dan jacket biru serta menggendong tas besar yang diduga adalah senapan.

Sehun meletakkan kepala Ayahnya di atas lantai, ia harus meninggalkan ayahnya untuk menangkap pelakunya. “Ayah, ambulance akan datang, aku harus pergi menangkap mereka.”

Oh Se Hwan mengangguk pelan, tak sanggup lagi ia mengeluarkan kalimat karena sakit yang dirasa sungguh luar biasa.

Sehun pun bergegas berlari meninggalkan Ayahnya.

Di lain tempat, setelah berhasil menembak Oh Se Hwan, tangan Yoona terlihat gemetar, ia bahkan bisa melihat bagaimana Sehun memangku tubuh Ayahnya yang sudah tergeletak.

Kai dengan segera merapihkan senapan.

Melihat Yoona masih berada di tepian yang memungkinkan Sehun melihat Yoona, Kris segera menarik tangan Yoona agar menjauh dari tempat semula ia berdiri.

Kai memberikan tas berisi senapan pada Kris, dan seperti biasa ia akan membawa tas gitar yang selalu ia bawa. “Hyung, aku akan menahan mereka, pergilah,” ucap Kai pada Kris.

Kris mengangguk lalu berbalik pergi sembari menarik tangan Yoona. Yoona berlari bersama Kris dengan tatapan mata yang kosong, bahkan rasa sakit di kakinya sudah tak dirasa dan tanpa disadarinya setitik air mata membasahi pipinya.

Sehun sudah memasuki gedung ke tempat di mana Kris berada, ia berlari sekencang-kencangnya menuju tangga darurat.

TING!

Pintu lift terbuka, saat Kris hendak berjalan keluar ia melihat Sehun tengah berlari kencang ke arahnya, segera ia berbalik badan dan menutupi tubuh Yoona.

Sehun berlari melewati lift yang berisi Kris dan segera menaiki tangga, karena ia yakin penembak itu pasti akan turun melewati tangga.

Kai berlari menuruni tangga, sampai akhirnya ia berhenti saat ia mendengar suara langkah cepat dari lantai bawah menuju lantai atas, segera ia menuruni satu lantai lagi dan pergi melewati pintu.

Sehun mendengar suara pintu berdentum keras, ia menaiki satu lantai lagi dan mengikuti jejak Kai.

Kai berjalan cepat menuju ujung gedung, ia melihat dari jendela bahwa Kris dan Yoona sudah masuk ke dalam mobil dan bergegas pergi. Kai menghela nafasnya, karena tidak ada jalan, ia harus berbalik arah. Namun saat ia hendak berjalan, Sehun sedang berjalan ke arahnya dengan terus melihat padanya.

Kai bersikap santai, ia berusaha tak membalas tatapan Sehun, ketika ia hendak melewati Sehun. Sehun lebih dulu menghentikan langkahnya dengan memegang keras pundaknya.

Saat itu Kai tahu, bahwa Sehun tahu tentang dirinya. Dengan cepat Kai memukul pinggang Sehun yang membuat Sehun tersungkur, dan kesempatan itu ia gunakan untuk melarikan diri.

Sehun yang terjatuh membentur dinding tidak lantas berdiri, ia yakin Kai tidak akan bisa lolos karena dirinya sudah menelpon markas AIK. Karena kebetulan hotel itu dan markas AIK berjarak lumayan dekat.

Kai berlari menuju tangga. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti saat tiba-tiba Jiyeon, Chanyeol dan Baekhyun menghadang langkahnya sembari menodong dirinya dengan pistol.

“Angkat tangan dan berbalik!” Perintah Jiyeon dengan tegas dan lantang.

Kai terdiam beberapa saat, ia masih mencari celah untuk bisa melarikan diri. Namun nihil, perlahan ia menurunkan tas gitarnya dan menaruhnya di lantai, lalu ia mengangkat kedua tangannya dan berbalik. Saat ia menghadap belakang, ia melihat Sehun berlari ke arahnya, ia seakan siap menerima pukulan dari Sehun. Namun dugaannya salah, Sehun berlari begitu saja melewati dirinya.

 

Markas Tim Kris

10.00

Yoona dan Kris sedang duduk di sebuah sofa tanpa adanya pembicaraan. Lalu masuklah Luhan yang ingin melapor pada Kris.

“Kami berhasil melakukan misi, dan kami mendengar Kai tertangkap,” lapor Luhan. Ya, Luhan dan yang lainnya berhasil membunuh beberapa orang penting di Korea di waktu yang terbilang bersamaan.

Mendengar Kai tertangkap, Kris dan Yoona langsung menatap ke arah Luhan. “Mwo?” Tanya Kris.

Luhan tidak mengulangnya, ia yakin Kris sudah mendengarnya dengan jelas tadi. “Apa sebaiknya kita pergi dari tempat ini?” Tanya Luhan.

Kris berdiri dari tempat duduknya, ia berjalan mendekati Luhan dan tiba-tiba mengarahkan kedua tangannya ke leher Luhan dan menyudutkannya ke dinding. “Meninggalkan tempat ini? Apa maksudmu?”

“Tidak menutup kemungkinan dia akan memboc..”

“Siapa kau berani menilai dia seperti itu?” Tanya Kris sembari menekankan kalimatnya. Kris benar marah sekarang, ia tahu Kai, ia mengenal Kai bukan hanya 2 tahun, sekalipun Kai harus disiksa, Kai tidak akan membocorkan informasi sekecil apapun itu.

Luhan merasa semakin tercekik. “M-maafkan aku,” ucapnya tertahan.

Kris melepaskan cengkraman tangannya. “Cari tempat kosong yang jauh dari tempat ini!”

“Ne,” jawab Luhan lalu bergegas pergi.

Kris menghela nafasnya, ia mendekati Yoona.

“Aku tahu apa yang harus aku lakukan,” ucap Yoona saat Kris berada di depannya.

Yoona lantas berdiri dan hendak pergi. Namun Kris menghentikan langkahnya dengan menahan salah satu lengannya.

“Setelah membebaskan Kai, kau bisa pergi Joy, pergilah menjauh dariku, jangan biarkan mataku menangkap keberadaanmu, pergilah,” ucap Kris. Ia merasa apa yang sudah dilakukan pada Yoona salah. Jika memang benar dia mencintai Yoona, dia tidak akan memperlakukan Yoona seperti itu. Ya, keputusannya sudah bulat, ia ingin Yoona terbebas darinya. Menjalani kehidupan layaknya manusia biasa.

Mata Yoona berkaca-kaca. “Anni! Aku sudah tenggelam terlalu jauh Oppa, aku tak bisa kembali, sampai kapanpun aku tak akan pernah bisa kembali!” Yoona menarik tangannya lalu berjalan meninggalkan Kris.

 

Apartemen Yoona

11.00

Yoona memasuki kamarnya dan langkahnya langsung tertuju ke arah kamar mandi, ia menyalakan keran air dan seluruh tubunya pun dibasahi air yang mengguyur tubuhnya. Ia berjongkok seraya memeluk tubuhnya sendiri, menahan agar tangisannya tidak semakin menjadi. Namun kenangannya bersama Oh Se Hwan terus berputar di kepalanya.

Flashback..

Rumah Oh Se Hwan

Yoona, Sehun dan Oh Se Hwan sedang menikmati makan malam di meja makan. Yoona melayani kedua lelaki itu dengan baik.

“Panggil saja aku Ayah,” ucap Oh Se Hwan yang mengetahui bahwa Yoona sudah tak memiliki orang tua.

Yoona menunjukkan wajah senangnya, bahkan ia sampai menunda kegiatan makannya. Ia menahan air mata yang hampir tumpah.

“Wae?” Tanya Oh Se Hwan.

Yoona menggeleng. “Ayah,” panggil Yoona pelan.

Oh Se Hwan tersenyum, tanpa di duga Oh Se Hwan berjalan mendekati Yoona dan memeluknya. “Kau benar-benar perempuan yang tangguh,” ucap Oh Se Hwan.

Sehun tersenyum dengan bahagia melihat Yoona dan Ayahnya bisa sampai sedekat itu.

Di lain waktu, Yoona, Sehun dan Oh Se Hwan sedang menikmati malam dengan barbeque-an. Oh Se Hwan terlihat sedang membalik daging yang hampir gosong. Tak lama Yoona datang membawa piring kosong dan menghampiri Oh Se Hwan.

“Ayah, biar aku yang melakukannya,” ujar Yoona sembari menarik Oh Se Hwan agar menjauh.

“Gwaenchana,” jawab Oh Se Hwan.

“Ayah!” Ucap Yoona dengan sedikit keras. Lalu memeluk Oh Se Hwan dan menariknya menjauh.

“Yak! Kemanhae,” pinta Oh Se Hwan.

Yoona justru tertawa terbahak dan disusul oleh tawa Oh Se Hwan. “Kemanhae, jika Sehun melihat dia akan cemburu.”

“Ne! Aku cemburu sekali melihatmu seperti itu Ayah,” ucap Sehun sembari berjalan mendekati Oh Se Hwan.

Yoona dan Oh Se Hwan terdiam.

Sehun menjauhkan Yoona dan bergantian memeluk ayahnya. “Aku juga mau dipeluk seperti ini, Ayah,” ucap Sehun sembari memamerkan deretan gigi putihnya.

“Auhhhh jinjja,” ucap Oh Se Hwan sembari tertawa.

Sehun melihat Yoona yang sedang menatapnya tidak suka, Sehun justru menjulurkan lidahnya ke arah Yoona. Lalu tak berselang lama, Sehun menarik tangan Yoona dan membawanya ke dalam pelukan, mereka pun tertawa bersama.

Flashback end.

KRICIK KRICIK.

Air terus mengalir membasahi tubuh Yoona.

“Aaaaaakk~” tiba-tiba Yoona berteriak kencang, kenangan indah yang jika diingat sekarang terasa begitu menyakitkan.

“Ayah~” tangisnya memanggil nama Oh Se Hwan.

Yoona terus menangis sembari terus memeluk tubuhnya sendiri. Air matanya mengalir bersamaan dengan air keran yang akan meninggalkan tubuhnya.

 

Rumah Sakit, Seoul

11.00

Sehun dengan sikap tenangnya menunggu di depan ruang operasi ayahnya, ia duduk di sebuh kursi penunggu dan dengan kedua tangan yang saling berkaitan untuk terus berdoa.

“Sehun-ah,” Sehun menoleh saat suara seseorang yang memanggil namanya.

Saat ia melihat Jiyeon, ia hendak berdiri untuk menghormat. Namun Jiyeon menahannya dan membiarkan Sehun tetap duduk. Dalam keadaan bagaimanapun Sehun diajarkan untuk selalu hormat kepada seniornya. Itulah yang diajarkan ayahnya kepadanya.

Jiyeon ikut duduk di sebelah Sehun, ia mengulurkan tangannya dan mengenggam tangan Sehun. Ia tahu bagaimana dekatnya Sehun dengan ayahnya, maka dari itu kini Sehun pasti dilanda rasa khawatir yang luar biasa. Namun ia berusaha menutupinya.

“Ayahmu bukan orang yang lemah, dia akan baik-baik saja, jangan terlalu khawatir Sehun-ah,” ucap Jiyeon mencoba menenangkan Sehun.

Tak ada balasan dari Sehun, ia hanya terdiam menatap lantai putih. Walaupun ia yakin ayahnya akan baik-baik saja, namun rasa takut kehilangan tidak bisa begitu saja hilang.

“Eotte?” Tanya Sehun tanpa memalingkan pandangannya.

“Kami sedang menyelidiki lebih lanjut tentangnya,” jawab Jiyeon yang berbicara mengenai Kai.

Seorang dokter yang ditunggu akhirnya keluar, Sehun segera menghampiri dokter itu.

“Bagaimana dok?” Tanya Sehun.

Dokter itu menghela nafasnya. “Pasien banyak mengeluarkan banyak darah, titik peluru pun berada di tempat yang terbilang berbahaya, untuk saat ini kami belum tahu kapan pasien akan sadar, bersabarlah,” ucap sang dokter sembari mengelus pundak Sehun dan berlalu pergi.

Tak berapa lama, Oh Se Hwan yang berada di tempat tidur di bawa ke ruangan khusus penginapan pasien. Sehun meraih tangan ayahnya dan melangkah beriringan dengan roda yang ada di tempat tidur.

Jiyeon hanya  berdiri di belakang, ia tahu Sehun butuh waktu berdua dengan Ayahnya.

 

Markas AIK

13.00

Jiyeon sedang berjalan menuju meja komputer dimana Lay tengah berkutik dengan keyboard di sana, beberapa agen tampak berkumpul di sana, seperti Baekhyun, Chanyeol, Chen dan Tao.

“Eotte?” Tanya Jiyeon cepat.

Lay selaku hacker di tim itu menggeleng. “Datanya sama sekali tidak ada, dia bukan warga biasa,” jawab Lay.

“Lalu untuk apa dia membawa gitar? Dan dimana senapan yang bekas dia pakai?” Tanya Chanyeol.

“Dia jelas tidak sendiri,” jawab Baekhyun.

“Dia berhasil mengecoh kami,” lanjut Tao.

Chen dan Lay hanya mengangguk sembari berfikir.

Jiyeon tampak berpikir sesaat sebelum akhirnya ia masuk ke dalam ruangannya. Ia kembali membuka dokumen penembakan menteri keuangan di Brazil.

“Penembak yang berbeda,” ucap Jiyeon, ia melihat dari luka tembak yang terdapat pada korban. Jika di menteri keuangan letak titik peluru sangat akurat. Namun pada Oh Se Hwan seperti melenceng dari titik awal.

Jiyeon pergi ke ruang interogasi sembari membawa dokumen. Sampai di ruangan ia langsung duduk di hadapan Kai.

Kai dengan dinginnya menyambut kedatangan Jiyeon. Tangannya terasa sangat pegal karena terus menerus di borgol.

“Gitar-ssi,” panggil Jiyeon.

Kai menatap ke arah Jiyeon, lalu tertawa meremehkan karena tidak bisa menemukan identitas tentang dirinya. Bahkan nama pun tidak tahu.

“Kau menyukai panggilan itu? Gitar-ssi?” Tanya Jiyeon lagi.

Kali ini tidak ada jawaban apapun dari Kai, ia lebih memilih diam dan terus diam.

Jiyeon menghela nafasnya lalu menyandarkan tubuhnya di kursi. “Sudah cukup bermain-main! Sekarang jawablah dengan benar!”

“Siapa kalian? Dan dimana tim-mu yang lain?” Tanya Jiyeon dengan tatapan yang mengerikan.

Kai terdiam.

“Aku tahu, penembak Oh Se Hwan bukanlah dirimu!” Ucap Jiyeon.

Kai mengangkat kepalanya dan memandang ke arah Jiyeon. “Kalau begitu, cepat bebaskan aku!” Ucap Kai.

Jiyeon gantian tertawa meremehkan Kai. “Geundae, apa motifmu menembak menteri keuangan John di Brazil?” Tanya Jiyeon, walau sebenarnya ia kurang yakin dengan kebenaran pertanyaannya itu, ia hanya mencoba memancing Kai.

Kai tersenyum. “Apa begini tugas kalian, menuduh dan menangkap seseorang tanpa adanya bukti?”

“Apakah bukti yang ku punya harus kutunjukan padamu?” Tanya Jiyeon.

“Eoh!” Jawab Kai yakin.

“Jangan berusaha menyelamatkan mereka, dengan tertangkapnya dirimu, sama saja kau sudah di buang, sekarang apa lagi yang kau harapkan dari mereka?” Jiyeon berucap dengan serius.

Kai kembali terdiam, ia lebih memelih menutup matanya.

“Kau tahu jika seseorang sulit dimintai keterangan apa yang akan kami lakukan?” Tanya Jiyeon yang terdengar mengancam.

Kai mengangguk. “Choah,” jawab Kai sembari tersenyum.

“Mwo?” Jiyeon terlihat mengerutkan keningnya. Menurutnya, Kai bukan orang yang mudah untuknya.

“Kau benar-benar akan merasakan penyiksaan Gitar-ssi. Teruslah seperti itu!” Ucap Jiyeon sembari meninggalkan ruangan interogasi.

Saat Jiyeon membuka pintu, ternyata ia berpapasan dengan Sehun yang hendak masuk ke dalam ruangan. “Oh, Sehun-ah,” ucap Jiyeon.

Sehun menunduk sopan lalu masuk ke dalam ruangan interogasi. Ia mendekati Kai dan duduk di meja tepat di sebelah Kai berada.

“Aku lelah,” ucap Sehun.

Kai membuka kedua matanya dan mendapati Sehun sudah berada di sampingnya. Kai tidak mengerti mengapa Sehun berbicara seperti itu padanya.

“Kau sepertinya berada di umur yang sama denganku,” lanjut Sehun.

Kai menggeleng, ia benar-benar bingung dengan Sehun, seharusnya Sehun sudah memukulnya berkali-kali. Namun nyatanya, Sehun justru curhat padanya.

“Kau pernah makan berdua dengan ayahmu?” Tanya Sehun sembari menoleh ke arah Kai.

Kai memandang aneh Sehun.

“Saat kau remaja, pernahkah kau pergi berdua saja dengan ayahmu?”

“Pernahkah kau tidur seranjang dengan ayahmu?”

“Pernahkah kau menemani ibumu belanja?”

“Pernahkah kau merasakan kehangatan dari kedua orangtuamu?”

Lama-kelamaan ucapan Sehun semakin terdengar penekanannya, seperti ia sedang memendam amarahnya.

Sehun menarik kursi beroda yang di duduki Kai, ia memandang Kai dengan dalam. Dan tiba-tiba…

BUG!

Sehun memukul kencang rahang Kai sampai kursi itu pun berbalik, Kai pun terjatuh dan bibirnya mengeluarkan darah segar, ia menahan rasa sakit itu dengan menutup kedua matanya.

“Oohh,” Baekhyun yang berada di ruang sebelahnya terkejut bukan main saat tahu pukulan Sehun akan sekencang itu.

“Dia bisa mati, haruskah kuhentikan?” Tanya Chanyeol pada Jiyeon.

Jiyeon menggeleng.

Mereka berada tepat di sebelah ruangan Sehun berada, mereka juga bisa melihat ke arah Sehun dengan cermin tembus pandang dari satu sisi.

Sehun memegang kerah baju Kai. “Kau lahir bukan dari rahim seorang Ibu, bahkan kau lahir bukan karena ayahmu!”

BUG!

Pukulan kedua mampu membuat kepala Kai terasa sangat pusing, bahkan ia merasa giginya pasti sudah hancur.

“Tidak cukup Ibuku, bahkan ayahku tak memperpanjang kasus itu, lalu kenapa kau ingin membunuhnya?” Teriak Sehun di hadapan wajah Kai.

“Aaakkhh!!” Teriak Sehun. Ia bahkan memukuli dan menendangi seluruh tubuh Kai dengan membabi buta.

“Sunbaenim,” Chanyeol memperingati Jiyeon untuk segera melerai mereka.

“Bahkan kematiannya tak akan membalas semua kesalahannya,” ucap Jiyeon dengan penekanan. Lalu Jiyeon memberi isyarat dengan matanya ke arah Chanyeol untuk segera melerai.

Chanyeol mengerti ia pun pergi disusul Tao dan Baekhyun.

Chanyeol menarik tubuh Sehun agar menjauh dari Kai, sedangkan Tao dan Baekhyun membantu Kai kembali duduk di kursinya.

Wajah Kai sudah dipenuhi dengan darah, walaupun Sehun berhasil membuat Kai babak belur, bukan berati ia baik-baik saja. Jari-jari di tangannya pun mengeluarkan darah walau tak separah keadan Kai.

Sehun terengah-engah, ia melepaskan cengkraman Chanyeol dari tubuhnya. “Hal ini akan terulang jika kau tetap diam!” Ucap Sehun lalu berbalik pergi.

 

Apartemen Yoona

18.00

Sehun berjalan lemas menuju apartemen Yoona, setelah sampai ia hendak memasukkan password tapi pintu itu lebih dahulu terbuka dan Yoona keluar dari dalam.

“Sehun-ah, kenapa kau tidak menjawab telponku?” Tanya Yoona saat melihat Sehun dihadapannya.

Sehun memandang Yoona. “Ayah,” ucapnya pelan.

Yoona menarik Sehun ke dalam pelukannya. “Gwaenchana, kita tahu bagaimana kuatnya ayah,” ucap Yoona sembari mengelus puncak kepala Sehun.

Sehun menaruh kepalanya di paha Yoona, dan Yoona sedang sibuk merawat wajah dan jemari Sehun yang terluka. “Aku tidak ingin menangis di depan ayahku, bagaimanapun ia harus tahu bahwa aku baik-baik saja,” ucap Sehun.

Yoona mengangguk dan menatap dalam mata Sehun yang menunjukkan betapa sedihnya dirinya. “Menangislah,” ucap Yoona.

Sehun menenggelamkan dirinya pada perut Yoona, ia menangis terisak, menumpahkan semua rasa takut yang dirasanya. Sampai akhirnya Sehun tertidur pulas di pangkuan Yoona.

Yoona menaruh kepala Sehun di atas sofa, lalu dirinya pergi ke arah kamar mandi sembari membawa ponselnya. Setelah sekian lama ia kembali keluar dan menghampiri Sehun. Ia menatap wajah Sehun yang masih menunjukan kesedihan sekalipun ketika tertidur.

Yoona duduk di lantai dan tangannya terus membelai mesra pipi Sehun. Bahkan sesekali ia mengecupnya. “Bersamamu, mungkin ini yang terakhir kalinya,” ucap Yoona lalu mendaratkan bibirnya di bibir Sehun cukup lama.

19.50

Sehun bangun dari tidurnya, matanya terasa membesar, benar saja matanya benar-benar menunjukan bahwa dirinya habis menangis. Ia bangun dan mencari keberadaan Yoona.

“Yoona-ah,” panggil Sehun.

Tak menemukan Yoona di ruang tamu, Sehun berlari ke arah kamar dan kamar mandi. Namun nihil, Yoona tidak ada dimanapun.

“Im Yoona!” Panggil Sehun lagi.

DEG!

Tiba-tiba jantung Sehun seakan berhenti saat ia terpikir bahwa kini Yoona berada di tangan teroris yang baru menembak ayahnya.

“Anni, anni, mereka tidak tahu Yoona,” ucap Sehun menenangkan dirinya sendiri.

Sehun segera mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi ponsel Yoona. Dering ponsel Yoona terdengar, menunjukan bahwa Yoona pergi tidak membawa ponselnya.

Sehun terdiam beberapa saat, ia segera melihat ke arah luar melalui jendela, tidak ada yang mencurigakan.

Lalu matanya tertuju pada sebuah lemari yang yang sedikit terbuka. Sehun berjalan mengendap mendekati lemari itu. Perlahan ia membukanya.

DEG!

“Im Yoona!” Teriaknya. Jantungnya kembali berhenti saat melihat Yoona berada di dalam dengan tangan yang bersimbah darah.

“Im Yoona!” Teriak Sehun lagi dan ia sadar dari mimpi buruknya.

Nafas Sehun terengah-engah, ia melihat keadaan sekitar, ia sadar tadi hanyalah mimpi buruk.

“Yoona-ah,” teriak Sehun memanggil Yoona.

“Heem?” Saut Yoona mendekati Sehun sembari membawa segelas teh hangat.

Sehun bernafas lega.

“Cepat minum, ini hangat,” Yoona memberikan tehnya pada Sehun.

“Ada apa denganku?” Tanya Sehun dalam hati untuk dirinya sendiri.

“Kajja,” ajak Yoona pada Sehun.

Sehun menatap Yoona.

“Aku ingin melihat ayah,” ucap Yoona.

“Anniya,” Sehun menggeleng.

“Wae?” Tanya Yoona dengan raut kecewa.

“Jangan menunjukan kau punya hubungan dekat denganku, aku tidak ingin kau,” ucapan Sehun terpotong.

“Arraseo, aku akan pergi sendiri,” ucap Yoona lalu berjalan ke arah kamarnya untuk mengambil tas.

Sehun menghela nafasnya. Ia lalu menyusul Yoona ke dalam kamar. “Kau bisa berada dalam bahaya Im Yoona,” ucap Sehun.

Yoona menatap kesal ke arah Sehun. “Kau tidak bisa terus menerus menyembunyikan semua ini Sehun-ssi, jika kau terus seperti ini, berpisah mungkin lebih baik,” Yoona mengambil tasnya lalu berjalan keluar kamar.

Sehun terdiam, ia teringat akan mimpi buruknya tentang Yoona, ia menganggap itu adalah firasat buruk jika Yoona tetap memaksa untuk menjenguk ayahnya.

Sehun berlari mengejar Yoona dan menarik salah satu lengannya. “Kau tahu, penembakan hari ini bukan terjadi hanya pada Ayahku, beberapa orang lainnya meninggal dengan cara yang sama.”

“Lalu apa hubungannya denganku? Apa hanya karena aku ingin menjenguk ayahmu, aku juga akan mati?” Tanya Yoona dengan kesal.

“Kau bisa menjadi target selanjutnya,” jawab Sehun dengan sedikit frustasi.

“Kau selalu menakutkan hal itu Sehun-ssi, kau lupa? Aku juga seorang manusia yang akan mati! Bagaimanapun caranya aku akan tetap mati.” Yoona menarik tangannya dan berlalu meninggalkan apartemennya.

Yoona berjalan cepat menuju mobil putihnya yang tengah terparkir, ia membuka pintu mobilnya namun tertahan oleh tangan Sehun. “Apa yang terjadi pada ibu dan ayah, kupastikan tidak akan terjadi padamu,” ucap Sehun lalu menarik Yoona ke arah lain dan membuka pintu mobil untuk Yoona.

Di sepanjang perjalanan Yoona maupun Sehun larut dalam diam. Yoona pun memulai pembicaraan.

“Kau hanya merasakan takut berlebih,” ucap Yoona.

“Takutku beralasan,” jawab Sehun.

Yoona mengangguk. “Arra, apa kau marah padaku?”

“Anni, aku marah pada diriku sendiri karena tidak bisa mengendalikan egoku,” jawab Sehun.

Yoona meraih salah satu tangan Sehun yang berada di setir mobil lalu mengenggamnya. “Aku baik-baik saja, selama kau tetap disisiku, aku akan baik-baik saja Sehun-ah,” ucap Yoona.

“Ayahku pun berkata seperti itu,” jawab Sehun tanpa menoleh.

“Anni, kali ini benar-benar tidak akan terjadi apapun,” ucap Yoona mencoba menenangkan Sehun.

“Kuharap seperti itu,” jawab Sehun lagi, moodnya seakan belum kembali membaik.

“Bisakah mampir ke toko bunga biasa? Aku ingin Ayah menghirup wangi bunga kesukaannya,” pinta Yoona pada Sehun.

“Heem,” Sehun berdeham mengiyakan.

Yoona tersenyum. “Saat aku bersamamu seperti ini, aku merindukan sosok Sehun Sunbae yang begitu tegas dengan tatapan tajam padaku, dan ketika aku berada di markas, aku begitu merindukan sosok Sehun yang terlihat sangat manja padaku, dan mungkin di masa depan, aku akan merindukan sosok keduanya,” ucap Yoona sembari memandang Sehun.

Sehun memandang ke arah Yoona. Lalu di balas Yoona dengan menjulurkan lidahnya. “Saranghae Oh Sehun,” ucapnya.

“Saranghae? Yak Yoona-ssi, tadi kau bilang ingin berpisah denganku?” Ujar Sehun dengan nada mengejek.

“Anniya~” jawab Yoona sembari merengek.

“Nado,” jawab Sehun. Akhirnya ia tersenyum dan mengenggam tangan Yoona dengan erat.

Sampai di toko bunga, Sehun dan Yoona berjalan masuk sembari bergandengan tangan. Sehun sudah tak lagi menyembunyikan hubungannya pada publik, ia menuruti apa keinginan Yoona.

Yoona tampak sedang melihat bunga-bunga lain selain yang sudah di pesan.

“Nona dan tuan, silahkan dinikmati, kami menyediakan teh hangat untuk menyambut musim dingin, selagi kami merangkai bunga ini, silahkan lihat bunga yang lain,” ucap seorang gadis berperawakan tinggi dengan murah senyum.

“Ne, terimakasih,” Yoona mengambil kedua gelas yang ada di meja lalu salah satu gelasnya ia berikan pada Sehun.

Sehun menegak tehnya sekaligus, lalu menaruh gelasnya di meja. Ia kembali berjalan di belakang Yoona, mengikuti kekasihnya menjelajahi bunga-bunga yang bermekaran indah di sekelilingnya. Namun tiba-tiba ia merasa pusing dan pandangannya kabur. Ia tahu ada sesuatu yang salah pada minuman yang sudah diminumnya, Sehun lantas menarik pundak Yoona dan mengambil gelas yang ada di genggaman Yoona dan membuangnya.

“Sehun-ah,” Yoona terkejut akan sikap Sehun yang begitu mendadak.

Sehun semakin sulit mengendalikan dirinya yang akan kehilangan kesadaran. Namun tak berapa lama.

BRUG!

To be continued..

 

Haiii haiii,, terimakasih banyak yaa buat kalian yang udah mau baca ff ini dan meninggalkan komentar hihi. Tetep setia sama ff ini yaaa sampe ending, sekedar bocoran, ff ini gak akan ber-part panjang kok hehe. Seperti biasa, jangan lupa komentar dan sarannyaa yahhhh,, gomawooooooooo

 

75 thoughts on “[Freelance] Revenge (Chapter 2)

  1. complicated banget nih ff !!
    joha 😄
    kren jln crta ff ny , seru
    ak ykin teh itu pst dri org suruhan kris
    slnjt ny bkalan gmna ya ??
    jgn lma publish ny ya thor
    d tnggu next chapter ny
    fighting !!!!!

  2. Sumpah, ini keren banget? Dari sinopsis nya aja tuh udah menarik, apalagi ceritanya coba? Demi min, ini buatan kamu nya keren gituu, gatau mesti bilang apalagi. Udahlah ini mah keren ajaib lebih-lebih dari bagus malah. Pokoknya keep writing min, jan ditanggungin kayak gini, ah buat aku kesel tau ga? Lagi baca seru tapi tbc.. Cepet update nya!! Ditunggu!!::)))))))

  3. deg deg an bacanya.he keren lagi. aku suka yang beginian, dalam arti suka seram2 kaya gini dari pada comendy. Pkox semangat untuk melanjutkan thor

  4. Itu sehun knpa?? Trus keadaan ayahnya sehun gimna?? Trus kalo sehun tau yoona yang nembak ayahnya gmna?? Ditunggu.chap selanjutnya. Mudah2an gak lama heheh

  5. Wah jadi joy itu yoona😮
    Omg bener2 gak kepikiran
    Hehehehe
    Yoona ternyata serius cinta sama sehun :’)
    Tapi ikutan sedih jg pas yg nembak ayahnya sehun😦
    Kris maksa sih -.-
    Itu yg trakhir, sehun knapa? :((((
    Semoga gak knapa2
    Bagus bgt thor ffnya!
    Suka bgt hehehe
    Ditunggu chapter slanjutnya ya thor

  6. Ahh ga demen yoona di bkn munafik di ff ini,, byngnny tuh ga nyaman,, disaat sehun cinta abiss ke yoona ehh trnyata yoona nyimpn sesuatu yg pasti(maybe) ngerusak hubungan mereka,, apalagi ini menyangkut appa oh yg di tembak lngsung ama yoona,, liat kai(luv) aja ngeri akunya gmna yoona,, psti sehun langsung gila kali,, dan aku ga bisa byngn gmna cra supaya mereka bahagia diakhir tanpa ada kebohongn,,, krna klo liat moment mereka diatas, disaat hampir semua readers yg bca demen aku ko ngrasa ada yg ganjel, krna kebohongn yoona itu thorr,, jdi tunggu segera chap klimaks and other,, next

  7. astagaa itu siapa lagi yang nyelakain sehun?? ampun deh rumit juga kisah mereka2 inii

    well ff nya seru banget, author. tapi, ada beberapa yang nge-ganjel nih.. pertama, yang sehun manggil ‘yoona-ah’ itu, kayaknya gak kyk gitu deh, setau aku harusnya ‘yoona-ya’ soalnya kan itu di akhir nama yoona itu huruf vokal, jd klo akhiran namanya huruf vokal itu pake ‘-ya’, kalo huruf abjad biasa kayak b,c,d,f, dst itu baru pake ‘-ah’

    kedua, yang bikin nge-ganjel tiap kali aku baca ff ini ituu, aku takut mereka pisah T_T plisss biarkan yoonhun bersama, happy end author, lagipula kan kris juga udh mulai ngerelain yoona tuh

    udah itu aja sih, selebihnya aku amat sangat suka sm ff ini >o<

    btw, aku penasaran juga gmn reaksi sehun waktu tau yoona yg nembak ayahnya sendiri? bales dendam ke yoona kah? atau gmn?

    kepanjangan ya komen ku ini hehe, ditunggu next chap nyaaa, sangaat ditunggu! fighting!!

  8. Sebenernya aku udah baca ini dari kemaren kemaren tapi belum sempet comment hehe
    Sumpahh ini ff keren bangett
    Kasian sehunnya
    Berharap bapaknya sehun gak meninggal
    Ntik sehunnya sedih terus yoona nya juga tambah merasa bersalah kan kasian
    Next chapter ditunggu thorr

  9. Aish, serius, gk mau ending yg menyedihkan. bgaimana reaksi sehun klo tau yoona yg menembak ayahnya, eumm pasti dia bklan benci yoona.😦

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s