[Freelance] Kisseu

kisseu

Kisseu

A story by Fururu fuyu

Oh Sehun – Im Yoona|Romance|Oneshot|PG-17|

Disclaimer : Seandainya boleh, mereka milik saya!

 

Happy Reading!

Oh Sehun dan Im Yoona. Sembilan tahun bersahabat dan tiga bulan resmi pacaran. Intinya dua orang ini adalah orang-orang terpilih yang mampu lulus dari situasi friendzone.

Oh Sehun saat ini berada dikamar tetangganya, menggenggam erat sang empu kamar –Im Yoona.

Sehun akui untuk pertama kalinya di usia yang ketujuh belas ini, ia menatap gadis dihadapannya sebegini serius, bahkan saat dia meresmikan hubungannya tiga bulan lalu pun tidak seserius ini. Terkekeh dalam hati, tindakannya ini seolah sedang melamar saja, belum lagi tangannya gemetar menambah kesan bahwa ia sedang tegang-antara-hidup-dan-mati menunggu jawaban dari gadis yang ia genggam erat tangannya.

Well.. ia memang sedang menunggu jawaban.

Wajah yoona merah parah, sedikit sangsi dengan indra pendengarnya, “A-apa kau bilang?”

Sehun menghembuskan napas berat, membuang kegugupannya. Mantap. “aku ingin menciumu.”

Mata gadis itu membulat sempurna, menghentakan tangan Sehun, gugup ia mundur satu langkah.

Apa-apaan itu? Laki-laki dihadapannya ini tiba –tiba menerobos pintu kamarnya, bersikap aneh dengan wajah mirip orang yang sedang menahan pup –meskipun masih tetep tampan sih.

Dan lagi pertanyaan itu, er –bukan pertanyaan sih karena tidak ada tanda tanya di akhir kalimatnya, sekalipun kalimat ‘aku ingin menciumu’ adalah sebuah pertanyaan jawaban Yoona sudah pasti bbo-bo..tidak!

Hati Sehun mencelos saat tangan lentik sang kekasih membebaskan diri secara paksa dari genggamannya. Alisnya mengkerut tak habis fikir.

Sehun maju satu langkah, dan Yoona mengambil langkah seribu mundur dua langkah meski pendek dan patah-patah. Alis Sehun makin mengkerut, lantas ia maju satu langkah lagi, sigap yoona mundur lagi dua langkah ditambah tubuh gadis itu yang bergetar karena gugup. Oke, Sehun tau ini konyol, ia terlihat seperti om-om pedofil yang hendak memperkosa gadis belia umur 5tahun, tapi kenyataannya Yoona bukanlah gadis umur 5tahun kawan, dan lagi Sehun hanya ingin menciumnya.

Iya menciumnya. Sehun hanya ingin mencium Yoona. Wajarkan ia menuntut ciuman dari kekasihnya, selama menjadi kekasih dan sahabat dari gadis ini, Sehun belum pernah mendapatkan ciuman. Ia penasaran. Kata Jongin ciuman dengan pacar itu rasanya lebih enak dari rasa bubble tea choco favorite-nya, karena itu setelah menutup telepon dari Jongin yang bercerita ciumannya dengan kristal –sang pacar, lebih nikmat dari rasa ayam goreng numero uno tercintanya, ia segera berlari ke rumah sang kekasih yang hanya berjarak lima langkah dari rumahnya. Sehun penasaran setengah hidup oke.

“Yoong, jangan panik seolah aku ini singa yang siap menerkammu hidup-hidup.”

Yang di sugesti tak menjawab, dia semakin mempercepat langkahnya untuk mundur, menjambret sebuah bantal di atas ranjang untuk melindunginya dari sang predator. Nyatanya bantal motif rusa itu hanya berhasil menutupi wajahnya yang merah diselingi sedikit gemetar lucu, yang justru panorama alami itu menumbuhkan dorongan-dorongan Sehun untuk menerjang gadis itu dan menciumnya, lalu menghadiahinya dengan kecupan-kecupan manis rasa strawberry.

“Kau bukan singa, tapi kau terlihat seperti psikopat yang siap memutilasiku, Sehun.”

Diam-diam laki-laki albino itu dongkol juga, enak saja ia disamakan dengan psikopat, memangnya ada psikopat yang tampan sepertiku.

Err, kok malah narsis Hun?

Sehun kesal, dia ‘kan ingin membuat kemajuan dalam hubungan mereka, yang kata Jongin(lagi) mirip anak SD. Laki-laki maniak bubble tea itu keki, bagaimana Korea bisa maju mengalahkan paman Syam jika anak bangsanya saja monoton tidak mau maju. Jalan ditempat aja terus sampai singa pada botak!

“Yoong, kita bahkan sudah bersama dari jaman aku masih cadel tapi belum pernah melakukan itu. Pasangan lain melakukan itu bahkan di tempat umum Yoong, aku janji tidak akan lebih, “ –memang yang lebih apaan? – bujuk Sehun

“Ti-tidak, Hun jangan sekarang.” Sehun harusnya lihat bagaimana rona merah tomat menggemaskan mewarnai pipi Yoona yang bergetar gugup.

“Kalau begitu,  Kapan? Padahal kata Jongin rasanya lebih enak dari bubble tea rasa choco Yoong,” tatapan mata sehun mengendur.

Yoona sedikit merasa bersalah, dan banyak-banyak merutuk dalam hati. Sialan ternyata si item pesek itu yang meracuni otak polos Sehun. Awas kau hitam!

Gadis itu terdiam sejenak sebelum akhirnya membuka suara ragu. “En-entahlah..”

Satu kata penuh ke tidak pastian itu membuat Sehu lagi-lagi mengerutkan alisnya. Ia berjalan dengan langkah cepat mendekati eksistensi makhkluk yang sudah meratui kerajaan hatinya. Virgin lips’s alarm-nya berbunyi tanda bahaya sang predator semakin mendekat, Yoona bergerak cepat mundur menjauhi Sehun. Sampai langkah kecilnya menemui tititk buntu, punggungnya mentok di sudut kamar. Kembali ia merutuki kenapa kamarnya punya sudut sih.

Punggung Yoona yang terjebak segitiga tembok sudut kamar merupakan sebuah keuntungan tersendiri bagi Sehun , segera mungkin dia mengungkung tubuh ringkih kekasihnya, memenjara diantara tembok dan sebelah tangannya. Manik hitam sewarna langit malam mengagumkan bertemu atensi dengan iris bening nan jernih bak air sungai menenangkan. Tatkala itu Sehun tersenyum mempesona. Yoona menelan air liurnya sendiri gugup, mengabaikan detak jantungnya yang tidak singkron dengan keadaan, serta makhluk-makhluk aneh yang menggelitik perutnya. Gadis itu harus menelan bulat-bulat kenyataan bahwa Sehun sangat tampan, sangat! Apalagi dilihat dari dekat seperti ini. Gadis itu ragu apa pendiriannya masih sekuat seperti sebelumnya.

“Cuma sebentar kok.”

Afeksi Sehun tertuju pada bibir pink alami kekasihnya yang lama lama fungsinya sama halnya dengan lubang hitam yang menyedot apapun disekitarnya untuk masuk.

Sehun bergerak mendekat, dan saat itu juga alarm dalam tubuh Yoona yang sempat beku oleh tatapan Sehun aktif segera, lengkap dengan mode ready.

Buagh!

Tepat beberapa detik sebelum pertemuan bersejarah sekaligus perenggutan ke-virginan bibir Yoona terjadi, Sehun justru merasakan pukulan telak pada wajah berharganya yang tampan maksimal. Dan bantal motif rusa itu adalah tersangka utamanya. Hantaman barusan cukup keras untuk ukuran bantal yang dipkulkan seorang gadis membuat Sehun mundur dan terjerembab ke atas ranjang.

Kekuatan Yoona dalam keadaan ready-maxima, karena itu Yoona memukul Sehun seperti orang kesetanan dengan bantal. Persetan dengan reaksi apa yang akan laki-laki itu tunjukan setelah gadis itu puas memukulnya, yang terpancang dalam otak gadis pemilik iris bening itu adalah laki-laki kulit pucat itu harus membayar rasa malunya atas serangan mendadak tadi, juga membayar wajahnya yang berubah warna jadi pink kemerahan.

Awalnya Sehun kesal, kenapa Yoona malah memukulnya menggunakan bantal, apa dia ingin mengajaknya perang bantal seperti yang para anak gadis lakukan saat pesta piama? Jika benar. maka baiklah, Sehun pun akan meladeninya dengan permainan, tentunya yang lebih seru.

 

Puas memukuli, Yoona berhenti dengan napas terengah-engah. Satu hal yang membuatnya was-was adalah karena Sehun tidak juga bergerak bahkan setelah Yoona menyelesaikann pukulan terakhirnya. Seketika fikiran-fikiran parno memenuhi otak gadis itu.

Apa sehun K.O dengan pukulanku, ya? Ah mana mungkin dia kan kapten basket, fisiknya pasti kuat buah dari latihannya. Eh tapi, aku kan juara panco satu sekolah, pukulanku pasti terlalu kuat.

Dag dig dug was-was

Yoona menggeleng-geleng kan kepalanya kuat, iris beningnya berkaca-kaca, hatinya tidak karuan

Huwee..Sehun jangan pergi..

Mencondongkan tubuh, Yoona bergerak mendekat, mengguncangkan bahu Sehun pelan “Sehun? Sehun..?”

Laki-laki berkulit pucat itu bergeming.

Kaca-kaca di iris beningnya makin bertambah

Sehun jangan matiii.. nanti aku nyontek sama siapa saat ulangan kalau kamu  mati

“Hun..Sehun, hei bangun. Maafkan aku..” Yoona semakin mengguncangkan bahu Sehun

Masih tak ada reaksi

Yoona bergerak lebih dekat lagi, “Sehun, Sehuuuunn”

Tak ada jawaban

Yoona berteriak didepan wajah Sehun dengan satu-dua air mata menetes.

Laki-laki yang dipanggilnya masih tak bergerak.

Kehabisan akal dan putus asa, akhirnya Yoona bergerak mulai menjauhkan tubuhnya. Dia menghembuskan napas panjang, setidaknya ia harus menyiapkan rumah berkabung untuk Sehun yang –sialnya- kelepasan ia bun-

Buagh!

Tapi belum sampai selangkah Yoona bergerak mundur, tubuhnya sudah lebih dulu diserang pukulan mengejutkan dari bantal lainnya yang sialnya sejak tadi dipegang Sehun diam-diam. Tubuhnya oleng ke samping ranjang, dimana jika tangan sigap terlatih Sehun tidak menyangganya, tubuhnya akan dengan indah bercumbu mesra dengan lantai.

“serangan balasan” Sehun menyeringai.

Tidak membuang kesempatan emas, Sehun segera bergerak mendekat secara perlahan ke arah gadis itu.

Yoona membulatkan matanya panik. “ttu-tunggu –apa yang mau kau lakukan sehun” suaranya tertahan hampir menjerit.

Sehun memandang Yoona dengan tatapan ‘Yu-know-what-i-do’ namun tak mempan. “Menciumu”

Menelan air liurnya panik, Yoona berujar. “Ugh, bolehkah aku saja yang melakukannya”

Lagi-lagi pandangan Sehun yang berbicara, kini pandangannya seolah mengartikan ‘err, kau yakin?’

Dan Yoona hanya mengangguk patah-patah, memanfaatkan segala keberuntungan yang tersisa. “bantu dulu aku duduk di ranjang, “ permintaan Yoona bagai perintah untuk Sehun, ia mendudukan Yoona di ranjang. Sehun sendiri duduk bersila di depan Yoona, bersiap menerima ciuman yang katanya lebih enak dari rasa bubble tea choco.

Jantung Yoona berdebuman tidak karuan, gemetar dia memberi intruksi. “tutup dulu matamu, Hun. “ yang segera di laksanakan oleh si laki-laki maniak bubble tea

Pertama tama Yoona membawa kedua jarinya –jari telunjuk dan jari tengah, meneyentuh bibirnya. Yoona mencium kedua jarinya. Lalu kedua jari tersebut ia arahkan ke bibir Sehun.

Grrrrr..

Alat pendetak Yoona meletup-letup, dan wajahnya lagi-lagi memerah tatkala kedua jarinya menyentuh permukaan bibir Sehun.

Sehun mengernyit saat benda asing itu menyentuh bibirnya, karena setaunya bibir Yoona tidak seperti ini. Meskipun dia belum pernah mencobanya tapi sekali lihat saja ia tahu bibir Yoona itu lembut. Refleks kedua kelopak matanya terbuka, keningnya makin mengernyit saat dilihat tangan Yoona terulur ke bibirnya.

Yoona menarik kembali tangannya, kernyitan Sehun seolah bertanya-tanya, karena itu dengan canggung Yoona menjawab, “hee.. i-indirect kiss, kau tahu?” sembari mengusap tengkuknya yang tidak gatal.

Sekuat tenaga sehun tidak menampilkan ekspresi aneh,

Astagaaa. Ciuman.tidak.langsung.? bloodykenapabukanciumanyanglangsungsih?!

Melihat Sehun yang tidak mengedipkan matanya sama sekali, membuat Yoona khawatir sekaligus penasaran, ia melambaikan tangan didepan wajah Sehun, “-Hun… Seh-“

Sret

Tangan yang melambai ditarik, permukaan bertemu permukaan, kedua bibir saling bertemu

CHU

Mata keduanya terbelalak, Sehun yang pertama kali menutup mata menikamati kerja kerasnya untuk mendapatkan ciuman yang lebih enak dari pada bubble tea choco, melumat penuh penghayatan.

Blank. Itulah kasus yang dialami Yoona, matanya yang melotot tidak singkron dengan jantungnya yang bertabuh gendang, belum lagi perutnya yang seperti tempat perkembang biakan kupu-kupu –melilit, menggelikan. Beruntunglah ia tidak sedang berdiri dan menggunakan kedua kakinya, karena kedua benda bertulang itu saat ini sedang lemas tak berdaya.

Gadis itu tersentak saat Sehun menggigit bibirnya, secara refleks ia meringis dan membuka mulutnya. Dan daging tak bertulang Sehun menginvasi seluruh rongga mulutnya.

Wajah Yoona yang sudah merah tambah memerah karena teringat sesuatu. Salah satu alasan kenapa ia tidak mau berciuman dengan Sehun sekarang.

Sehun mengernyit, dan melepaskan ciumannya. “err, Yoong. Kok rasanya aneh ya?” laki-laki itu berfikir keras, “Seperti rasa ramen.”

Tuh kan

Wajah Yoona kian merah saja mungkin sekarang sudah seperti kepiting rebus. “I-itu karena, aku habis makan ramen sebelum kau kesini.” Ucapnya mati-matian menahan malu.

“oh, “ Sehun mengangguk-anggukan kepalanya paham, “kalau begitu lain kali kita lakukan setelah kita minum bubble tea, oke? Biar ciuman kita rasa bubble tea.”

Tersenyum hingga menampilkan mata bulan sabitnya, Sehun turun dari ranjang Yoona, mengusak rambut sang kekasih gemas. “jaa..tidurlah sudah malam.”

Dan Sehun pun keluar dari kamar Yoona, meninggalkan sang empu dengan wajah terbakar karena terus-terusan memerah.

Satu kesimpulan yang Sehun dapat. Ciuman pertama rasa ramen tidak buruk juga, meskipun jauh dari ekspetasinya yang mendambakan ciuman yang lebih enak dari rasa bubble tea choco.

Nyengir. Dia meraba bibirnya, err..kenapa rasanya ia ingin lagi ya ?

Ah terakhir ingatkan Sehun untuk bercerita pada Jongin perihal ciuman ramennya.

Kkeutt.

A/N: haihai.. ada yang masih ingat saya?oh engga ada ya?:( saya baru bangkit dari hiatus nih dan kembali dengan fanfic super gaje se alam dunya, beribu terimakasih buat admin-nim yang udah sudi mau publish fanfic ini, beribu terimakasih juga cinta buat para reader-nim yang udah ngeluangin waktunya untuk baca.. saya perlu nutrisi untuk kedepannya well.. coment juseyoo.. yang mau nimpuk saya karena php ayo silahkan..

43 thoughts on “[Freelance] Kisseu

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s