Possessive and Obssesion ( Chapter 6 )

Possessive and Obsession ( Chapter 6 )

Poster PAO YoonHunYeol 2 copy

A Series Story by Vifasha Flory
Starring Im Yoona, Oh Sehun, Park Chanyeol
Support Cast : Ahn Jaehyun, Jun Ji Hyun, Kim Soohyun, Kim Tae Hee, Jeong Ji Hoon
Genre : Romance, AU, Family
Length : Chapter
Rating : PG 16

Disclaimer : The Cast Is Belong To God. I Just use Their Name to My Story. The Story is PURE Mine. It is PURE from my IMAGINATION. DON’T PLAGIAT THIS STORY WITHOUT MY PERMISSION!!!.

DON’T BE SILENT READERS! LEAVE A COMMENT OR LIKE IT! BE A GOOD READER

Sorry for Late post, Typo(s). Kesalahan tanda baca, alur cerita yang kurang disukai readers, cerita yang menurut kalian kurang menarik, kurang kreatif dan lain sebagainya.

Dipublish juga SOY dengan cast yang berbeda

.

“Ikut aku. Ada hal penting yang harus dibicarakan”

.

.

.

.

Oh Sehun menarik lengan Yoona dan berjalan cepat menuju mobilnya. Setelah ia memasukkan Yoona ke bangku penumpang, ia kemudian berjalan menuju bangku kemudi dan mulai menjalankan mobilnya meninggalkan rumah gadis itu.

Mobil itu berjalan dengan kecepatan yang sangat cepat. Sesekali telapak tangan kanannya menggenggam telapak tangan kiri gadis disampingnya dengan begitu eratnya. Genggaman erat dan kecepatan mobilnya yang sangat cepat membuat Yoona mengerutkan dahinya. Ia masih mencoba menetralkan jantungnya yang berdegup sangat cepat karena terbawa rasa takut dan gelisah akan betapa cepatnya mobil ini.

Tatapan pria itu menatap tajam pandangan di hadapannya. Ia sama sekali tak menoleh kemanapun, hanya terfokus pada jalan dan mobil – mobil di depannya. Bibirnya mengatup rapat. Hening. Tak ada yang berbicara bahkan sepatah katapun. Im Yoona masih bertanya – tanya. Ada apa? Apa yang terjadi pada pria ini?

“Bukankah kita hanya akan bicara sebentar? Kau akan membawaku kemana?” Gadis itu bertanya dengan tatapan penuh terkejutannya. Ia tak habis pikir dengan pria ini! Ia benar – benar pria teraneh yang pernah ia temui selama lebih dari 20 tahun ia hidup di dunia ini!

Hening. Tidak ada jawaban. Pria itu tidak menjawab pertanyannya. Ia tetap terpaku pada jalanan di depannya. Gadis bersurai coklat itu menghembuskan nafasnya kasar. Ia mendelik sinis pada pria di sampingnya. Apa Oh Sehun tuli? Ataukah ia hanya malas menjawab pertanyaannya?

Dia benar – benar pria aneh dengan sifat yang sulit ditebak.

Dan pria ‘aneh’ itu… Tunangannya.

Ya Tuhan? Mengapa kau memberiku takdir seperti ini?

.

.

“Lepaskan tanganku! Ini menyakitkan!” Im Yoona terus memekik kesakitan saat lengannya ditarik begitu kerasnya oleh pria di depannya. Ia bisa memastikan pergelangan tangannya pasti sudah memerah sekarang. Apa yang dilakukan pria ini? Mengapa ia membawaku kesini? Gadis itu bertanya – tanya dalam benaknya.

Oh Sehun memasukkan kata sandi apartementnya tanpa melepaskan genggaman tangan kirinya pada Yoona. Gadis itu terus berbicara dan berdecak kesal selama perjalanan mereka. Namun, ia memilih untuk tidak menggubrisnya.

Setelah ia selesai memasukkan kata sandinya, kemudian mereka masuk ke dalam apartement pribadinya.

Ini pertama kalinya bagi Im Yoona memasukki apartement ini. Ia terpana saat pertama kalinya melihat apartement pria itu. Benar – benar sangat rapih, mewah, dan lelaki. Nuansanya hitam, coklat, dan sedikit putih. Terlihat sangat bersih dan terawat. Banyak sekali benda – benda mewah dengan harga selangit tentu saja terpajang dnegan apik disana.

Ia mengalihkan pandangannya pada pria di hadapannya. Ia menyipitkan matanya menatap sepasang mata teduh di hadapannya. Berbagai macam pikiran dan terkaan beterbangan di kepalanya. Setitik perasaan takut bersarang di hatinya. Kalian tentu tahu apa yang ia takutkan bukan?

Ia sejenak menatap lengannya yang masih digenggam begitu eratnya dengan Sehun. Dengan satu hentakan keras, ia berhasil melepaskan tangannya. Ia menatap pria itu tajam.

“Ada apa? Apa yang ingin kau katakan?” Yoona menyilangkan kedua tangannya dan mendelik sinis. Bukannya menjawab pertanyaannya, Oh Sehun justru melangkah mendekatinya. Perasaan gugup mendadak menyelimuti gadis itu. Ia memundurkan kakinya perlahan – lahan. Mencoba menghindari pria itu.

Sehun menahan kedua pundaknya, membuat gadis itu tersentak.

“A… Apa yang kau lakukan?” Sehun menatapnya dalam. Kedua mata teduhnya terasa menyihir matanya saat membalas tatapannya. Matanya bisa meleleh jika terus ditatap seperti itu!

Oh Sehun menghimpitnya ke dinding. Bibirnya melahap habis bibirnya. Ia menggerak – gerakan bibirnya dengan ganas. Menyicipi seluruh bagian bibir gadis itu tanpa terlewat sedikitpun. Tangan pria itu melingkari pinggangnya dengan posesif. Yoona merasakan jantungnya terasa ingin meledak. Ia benar – benar bingung. Ada apa dengan ‘pria’ aneh ini?

Yoona tak pandai berciuman. Jadi ia memutuskan untuk diam dan membiarkan Sehun melumat bibirnya. Ia memejamkan matanya. Mengikuti mata pria itu yang sudah terpejam lebih dulu.

Sehun melepaskan bibirnya dari Yoona. Nafas keduanya terengah – engah. Yoona menarik panjang nafasnya dan menghembuskannya perlahan – lahan. Berusaha menarik oksigen sebanyak – banyaknya.

“Aku merindukanmu…” Pria itu berkata sambil terengah – engah. Bibirnya masih sangat dekat dengan bibir Yoona. Bahkan dahi dan hidung mereka masih bersentuhan. Yoona tertegun. Apa? Apa yang baru saja pria itu katakan? Apa pendengarannya bermasalah?

“Aku merindukanmu… Aku merindukanmu, Im Yoona…” Tidak. Jawabannya tidak. Pendengarannya sama sekali tidak bermasalah. Ia rasa memang sudah seharusnya pria itu mendapatkan julukan sebagai ‘pria teraneh’ di dunia ini. Sifat pria itu mudah sekali berubah – ubah.
Sehun sedikit menjauhkan wajahnya dari Yoona.

“Jadi ini hal yang kau sebut ‘sangat penting’?” Yoona mendengus. Ia memutar bola matanya malas. Pria ini hanya menciumnya dan berkata ‘aku merindukanmu’? Jadi, untuk apa ia membawanya ke apartementnya jika mereka bisa melakukan hal itu di rumahnya?

Sehun menggelengkan kepalanya.

“Bukan. Bukan hanya ini. Ada hal lain yang juga ‘penting’”

“Apa? Katakan saja?”

“Kau… Kau selama ini tidak mendengarkanku, bukan?” Butuh beberapa saat bagi Yoona untuk mencerna perkataannya. Ia masih belum mengerti apa maksud dari perkataan pria di hadapannya. Setelah sebuah memori tiba – tiba terlintas di otaknya, Yoona membelalakkan matanya. Sial! Sehun pasti salah paham. Ia dekat dengan Chanyeol bukan karena ia menyukainya. Kedekatan itu hanyalah ia anggap sebagai kedekatan ‘teman’.

“Kau… Kau pasti salah paham”

“Ya… Aku mengerti semuanya”

Yoona mengangkat salah satu alisnya. “Darimana kau tahu hal itu? A… Apa selama ini aku memata – mataiku?” Ia menyipitkan kedua matanya. Memandang Oh Sehun tajam. Sehun tidak menjawab pertanyaannya. Ia hanya menatap Yoona datar. Gadis itu mendengus. Seharusnya ia sudah menerka sebelumnya. Seorang pria seperti ‘Oh Sehun’ yang begitu posesif akan melakukan hal ini padanya.

“Biar kutebak. Selama ini kau mengirimkan orang suruhanmu untuk memata – mataiku dan menyadap setiap perkataanku. Apakah itu benar?” Yoona hanya asal menebak. Ia berharap setiap kalimatnya tadi tidaklah benar.

Lagi – lagi pria itu tidak menjawab pertanyaannya. Sehun hanya menaikkan alis kanannya dan memandangnya sarkatis.

Yoona sudah bisa mengetahui apa jawaban dari pertanyaannya. Ya, pria itu pasti melakukan itu.

“Shit! What the hell are you doing? Kau pikir aku anak kecil yang butuh pengawasanmu? Untuk apa kau melakukan semua itu? Aku bisa menjaga diriku sendiri!” Nada bicara gadis itu naik satu oktaf. Matanya tampak melebar menatap pria itu kesal.

“Dan kau pikir aku bisa membiarkanmu sedangkan kau tak mendengarkanku? Aku berusaha untuk melindungimu, Yoong!” Gadis itu mendengus. Ia benar – benar tak habis pikir dengan pria ini!

“Tapi aku tidak suka caramu, Sehun! Kau begitu posesif! Kau terlalu berlebihan! Kau terlalu mengekangku!”

“Itu aku lakukan karena aku mencintaimu, Yoong!”

“Kau mencintaiku? Jika kau memang benar – benar mencintaiku, buktikan!”

“Kau ingin aku melakukan apa?”

“Jika kau pria cerdas, dan memang benar – benar mengerti wanita, kau pasti akan tahu jawaban dari pertanyaanmu itu!”

Oh Sehun terlihat berpikir sebentar. Ia mengangkat salah satu alisnya bingung dan menatap gadis itu dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Sedetik kemudian, ia tampaknya tahu apa yang harus ia lakukan.

.

.

.

Harum sabun lemon tercium di seluruh bagian ruangan itu. Im Yoona menahan nafasnya saat pria itu mengusap punggung dan telapak kakinya. Jari – jari Sehun terasa menggelitik. Ia tidak pernah bermimpi akan ada seorang pria yang melakukan hal seperti ini padanya. Berlutut ( karena pada saat itu ia sedang duduk di sofa ) dan membelai lembut kakinya. Oh Sehun mengusap punggung dan telapak kakinya dengan air hangat di wadah yang sudah diberi cukup banyak sabun lemon. Pria itu tersenyum dengan lembut tanpa mengalihkan pandangannya dari kedua kakinya.

Jari jemari pria itu membersihkan kakinya . Memberikan gadis itu getaran yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Jantungnya berdetak sangat cepat. Sungguh, ia benar – benar gugup saat ini!

“Sudah sejak lama aku ingin melakukan hal ini padamu, Yoona…”

“Aku sering melihat ayahku melakukan hal ini pada ibuku. Dan aku berpikir untuk melakukan hal yang sama pada perempuan yang benar – benar aku cintai suatu saat nanti. Dan kau. Kaulah perempuan itu, Yoong” Tanpa sadar kedua mata bening Yoona berkaca – kaca.

Sehun memindahkan kakinya ke wadah lain yang berisi air bersih. Ia membersihkan busa dan sisa sabun yang menempel pada kaki gadis yang dicintainya. Setelah selesai, ia kemudian mengusap kedua kaki Yoona dengan handuk kecil. Sampai air di kaki gadis itu benar – benar menghilang. Iris madunya kemudian menatapnya.

“Mungkin kau bingung mengapa aku melakukan hal yang mungkin ‘aneh’ bagimu, Yoong” Tidak, Sehun! Ini tidak aneh. Justru ia sangat tersentuh dengan perlakuan yang tidak pernah di dalam pikirannya akan dilakukan oleh seorang Oh Sehun.

“Tapi percayalah, aku mencintaimu Yoona. Aku mencintaimu dengan tulus sepenuh hatiku. Aku mencintaimu apa adanya. Perasaanku tidak pernah berubah padamu, Yoong”

“Jika kau berpikir aku posesif, memang seperti inilah aku. Maafkan aku jika kau merasa kurang nyaman dengan perlakuanku. Aku hanya ingin kau baik – baik saja. Aku tak ingin orang yang kucintai terluka setitikpun” Sehun mendekatkan wajahnya pada kaki Yoona, dan mencium kedua kakinya lembut. Walaupun tidak lama, tapi ciuman itu sudah mampu membuat hati Yoona bergetar hebat. Ia tak mampu menahan airmatanya. Yoona memejamkan matanya, membiarkan kristal – kristal bening itu turun menganak sungai di kedua pipinya.

Sehun mendongakkan wajahnya. Menatap wajah malaikat yang menangis di hadapannya. Ia kemudian bangkit dan memeluk gadis itu. Berusaha menghentikan tangisannya. Pria itu mengusap lembut puncak kepalanya dan sambil sesekali menciumnya. Ia tak pernah tahan melihat perempuan menangis. Ia akan berusaha menghentikan tangisan itu, apalagi jika tangisan itu berasal dari gadis yang ia cintai.

Aku mencintaimu Yoona… Benar – benar mencintaimu

.

.

.

Gadis itu perlahan – lahan membuka matanya, berusaha menyesuaikan matanya dengan cahaya yang baru saja menusuk matanya. Ternyata ia tertidur di kamar Sehun, dan tampaknya Sehun tak keberatan dan ia memilih untuk tidur di kamar lain agar tidak mengganggu gadisnya. Hal pertama yang ia lihat adalah sebuah banner putih yang bertuliskan kalimat ‘GOOD MORNING, PRINCESS’ berwarna merah muda terpasang di dinding di hadapannya. Di sekeliling banner itu terdapat berbagai macam bunga yang menghiasinya dan juga balon di kedua sisinya.

Yoona tersenyum lebar melihatnya. Lagi – lagi pria itu berlebihan. Selalu.

Seorang pria tampan bersurai hitam dan berkaus putih polos berdiri membelakanginya. Pria itu sangat tampan bahkan di pagi haripun. Setelah membuka tirai yang berada di sisi kiri ranjang itu, pria itu kemudian berbalik. Mata teduhnya menatapnya sambil tersenyum manis. Kaki jenjangnya perlahan – lahan mendekatinya.

“Selamat pagi, Princess” Pipi Yoona merona mendengar kata ‘Princess’. Sekali lagi, dirinya tak pernah bermimpi akan ada seseorang yang memanggilnya ‘Princess’. Dan terlebih lagi ‘seseorang’ itu adalah pria.

“Selamat pagi juga, Blueice” Ia terkekeh kecil. Yoona kemudian bangkit dan berdiri di depan ranjang.

Tiba – tiba ia mengingat sesuatu. Ia refleks membulatkan matanya dan membuka mulutnya saat memori itu tiba – tiba terlintas di otaknya. Kedua iris coklatnya melirik jam yang terpasang di dinding dengan takut. Ia berharap, jangan sampai terlambat kuliah atau telinganya akan memanas karena terus mendengar seorang wanita paruh baya yang memarahinya. Siapa lagi jika bukan dosen ‘senior’ dengan kacamata yang terpasang rendah di matanya dan memiliki tatapan luar bisa tajam, dosen Kim.

Ia kembali melebarkan matanya setelah melirik jam dinding itu. “Jangan bilang jika jam itu benar. Kau pasti memasangnya lebih cepat, bukan?”

“Jam itu benar. Aku tidak memasangnya lebih cepat ataupun lebih lambat. Ada apa?” Yoona menepuk dahinya. Ia bodoh! Sungguh bodoh! Ia seharusnya bangun lebih pagi dan menghidupkan alarm! Jangan salahkan dirinya, salahkan rasa kantuk yang tiba – tiba datang saat pria itu memeluknya. Ah, mengingat kejadian itu, ia merasakan kembali kedua pipinya memanas. Rona merah pasti memenuhi pipinya lagi.

“Ada apa dengan pipimu?” Pria itu bertanya dengan sarkatik. Tatapannya bingung sekaligus menyelidik.

“Apa? Pipiku? Ada apa dengan pipiku?”

“Pipimu memerah. Ada apa?”

“Ah… Tidak apa – apa. Kuliah! Ah! Aku harus kuliah sekarang. Bisakah kau mengantarku pulang? Aku ingin menyiapkan segalanya untuk kuliahku sekarang. Aku yakin aku pasti terlambat dan aku harus bersiap mendengar seribu kata dari dosen menyebalkan itu. Telingaku pasti akan sangat memanas setelah ini” Oh Sehun terkekeh kecil.

“Kau tidak perlu pulang, Yoona. Mereka sudah menyiapkan segalanya, dan telingamu tidak akan memanas karena mendengar seribu kata dari dosen menyebalkanmu”

“Kau? Kau sudah menyiapkan semuanya? Maksudku mereka, mereka sudah menyiapkan semuanya? Bagaimana caranya? Siapa ‘mereka’ itu?”

Pria itu menyeringai. “Aku bukan Oh Sehun jika tak bisa melakukan itu. Mereka adalah orang suruhanku. Tenang saja. Mereka sudah menyiapkan semuanya bahkan pakaianmu, dan untuk pakaianmu, ibumu yang menyiapkannya” Yoona mengangguk – anggukan kepalanya paham.

“Tapi, apa mereka tahu apa jadwal kuliahku sekarang? Apa mereka sudah membawa semua bukuku? Bagaimana mereka tahu apa yang aku perlukan?”

“Sekali lagi aku bukan Oh Sehun jika bukan seperti itu, Yoona. Tentu saja aku tahu segala hal tentangmu. Bahkan hal sekecil apapun”

“Pasti ada hubungannya dengan ‘alat penyadap’mu itu” Gadis itu menatapnya malas, membuat pria itu tergelak kecil.

“Menurutmu?” Yoona sudah tahu jawabannya. Jawabannya pastilah ‘kau benar’.

“Lebih baik kau mandi dan segera sarapan sekarang jika kau tidak ingin terlambat” Sehun melangkahkan kakinya dan berjalan keluar dari kamar itu.

“Sehun” Langkahnya tertahan saat sebuah suara memanggilnya. Ia menolehkan kepalanya.

“Terimakasih untuk semuanya” Gadis itu tersenyum tipis dan melangkah ke kamar mandi di kamar itu. Bibir pria itu melengkung, dan kembali melangkahkan kakinya.

.

.

.

.

Suara high heels menggema di Mall itu. Im Jihyun melangkahkan kakinya yang beralas high heels merah pekat limited edition ke berbagai penjuru di Mall itu. Kedua tangannya sudah penuh dengan papperbag dengan berbagai logo merk ternama tetapi matanya masih melirik ke berbagai toko yang menjual berbagai barang mewah. Ia mengangkat bibirnya saat matanya tak sengaja menangkap sebuah toko butik yang terlihat menarik baginya. Tanpa ragu, ia kembali melangkah menuju butik itu.

Jari jemari lentiknya sibuk mencari dress yang cocok untuknya. Saat sebuah dress violet muda tertangkap matanya, ia kembali tersenyum. Jihyun mendekati dress tersebut dan mengambilnya tanpa ragu. Ia mencoba memasangkan dress tersebut dengan dirinya di depan cermin, dan ia pikir cocok untuknya. Alhasil, dress itulah yang dipilih dirinya. Saat ia mulai berjalan ke kasir, iris coklatnya tanpa sengaja melihat seseorang yang tidak asing baginya.

Bola matanya membulat sempurna saat melihat sosok tersebut. Bagaimana… Bagaimana ia bisa disini? Bagaimana ia bisa masuk ke butik mahal nan mewah seperti ini? Pikirnya. Dan yang lebih mengejutkannya lagi, tampaknya sosok itu sedang mencari baju yang cocok untuknya dan sepertinya ia ingin membelinya. Untuk memastikannya, kemudian Jihyun mulai berjalan mendekati sosok tersebut.

“Tae hee?” Sosok di depannya tak kalah terkejutnya.

“Jihyun!”

“Sudah lama kita tak bertemu. Aku tak menyangka bertemu lagi denganmu!” Tae Hee memeluknya dan tersenyum senang.

“Bagaimana keadaanmu?”

“Sangat baik. Bagaimana denganmu?”

“Sama sepertimu”

“Ayo kita ke caffe, ada banyak hal yang ingin aku bicarakan padamu” Tae Hee kembali menggantungkan baju yang digenggamnya dan menggandeng tangan Jihyun untuk mengikutinya. Jihyun masih tenggelam dengan seribu pertanyaan dan berbagai macam rasa bingung yang berkecamuk di hatinya.

.

.

.

“Aku sedikit lupa kapan terakhir kali kita bertemu. Dimana kita bertemu terakhir kali?” Jihyun mendudukkan dirinya di salah satu meja caffe paling akhir. Ia membawa dua cangkir kopi hitam dan cappucino hangat. Ia tersenyum pada Tae Hee yang sudah lebih dulu duduk di meja tersebut.

“Kau tidak ingat? Kau teman kuliahku dulu, kita pernah menjadi teman yang cukup dekat. Kau sangat jahat karena tak mengingat itu!” Jihyun dan Tae Hee terkekeh kecil.

“Aku pernah meminjam uang cukup banyak padamu. Untuk membayar biaya kuliah anakku, Park Chanyeol. Dan sekarang, akan aku kembalikan uangmu” Tae Hee mengeluarkan dompet biru donker mewahnya dan mengeluarkan uang yang cukup banyak. Jihyun membulatkan kedua bola matanya. Darimana ia mendapat uang sebanyak itu?

“Terimakasih untuk semuanya….” Tae Hee tersenyum tipis dan meberikan uang itu pada Jihyun.

“Kau mungkin bingung darimana aku mendapat uang sebanyak ini. Tapi, suamiku yang pernah pergi selama dua tahun kembali lagi. Saat ia kembali, ia sudah menjadi orang kaya dan memiliki banyak sekali uang. Aku tidak tahu keberuntungan besar apa yang ia dapatkan. Yang jelas, ia sudah mendapatkan apa yang selama ini ia usahakan dan ia harapkan”

Jihyun menautkan kedua alis matanya. Ia sama sekali tidak mengerti apa maksud perkataannya.

“Apa maksudmu? Aku sama sekali tidak mengerti. Apa maksudmu dengan ‘apa yang selama ini ia usahakan dan ia harapkan’? ” Tae Hee tersenyum tipis.

“Selama dua tahun, suamiku, Park Ji Hoon, pergi meninggalkanku, . Selama itu pula ia menjalani hidup yang sulit. Ia bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan kecil dengan gaji yang tak sepadai dengan apa yang sudah ia lakukan untuk perusahaan itu. Kemudian ia sedang berpikir keras bagaimana ia bisa mendapatkan banyak uang tanpa harus terlalu bekerja keras yang terlalu lama seperti yang selama itu ia lakukan. Kemudian…”

“…Berbekal dengan kemampuan berbisnisnya yang cukup mahir, ia berhasil membujuk seseorang. Seseorang untuk bekerja sama dengannya. Dari situlah, ia memperoleh keuntungan yang luar biasa. Ia kaya dalam sekejap”

Jihyun terhenyak mendengar cerita Tae Hee. Entah mengapa ia merasa ada suatu kejanggalan pada cerita teman lamanya itu.

“Apa maksudmu dengan ‘membujuk seseorang’? Kerjasama apa yang suamimu tawarkan? Siapa ‘seseorang’ itu?”

Tae Hee sedikit memajukan wajahnya. Menatap Jihyun lekat – lekat.

“Semua yang kau tanyakan, aku tidak tahu jawabannya” Tae Hee mulai menyesap kopi hitam hangatnya. Membiarkan cairan hangat itu menyegarkan sekaligus menghangatkan tenggorokannya yang kering usai cerita panjangnya.

“Mengapa kau tidak tahu jawabannya?” Tae Hee kembali mengalihkan perhatiannya pada Jihyun. Wanita itu tersenyum tipis.

“Karena memang seperti itu” Jihyun kembali memandang wanita di hadapannya bingung. Ia benar – benar merasa janggal akan cerita wanita ini. Bukan karena ia tidak mengerti ceritanya, bukan juga karena ia merasa ada yang disembunyikan wanita ini. Ia tahu jika cerita yang ia sampaikan tadi memang benar apa adanya. Jihyun wanita cerdas. Ia akan tahu jika seseorang menyembunyikan sesuatu atapun membohongi dirinya dari tatapan mata orang tersebut.

.

.

Setelah mengucapkan kalimat itu, Tae Hee membelalakkan matanya. Ia baru menyadari jika tak seharusnya ia menceritakan semuanya. Ia bodoh! Sangat bodoh! Mengapa mulutnya lancang sekali mengeluarkan kalimat – kalimat itu?! Mengapa pula ia terlalu jujur pada Im Jihyun?! Tidak seharusnya ia menceritakan itu semua.

Ia sudah lama mecurigai suaminya. Sejujurnya ia juga penasaran akan kelanjutan cerita suaminya. Terdengar sekilas mungkin cerita suaminya itu terdengar sudah selesai, tetapi baginya tidak. Masih ada hal – hal yang perlu diselidiki lebih jauh dari ‘keberuntungan’ suaminya. Tae Hee sungguh merasa jika Park Ji Hoon menyembunyikan sesuatu darinya dan Chanyeol.

Jika ia mengatakan semua ceritanya hanyalah fiksi belaka, Jihyun akan mencurigainya. Ia tahu jika wanita ini tidak mudah dibohongi.

“Aku lupa jika aku punya urusan lain. Kurasa aku harus meninggalkanmu sekarang. Sampai bertemu lagi!” Tae Hee pura – pura melirik jam tangan putih yang terlingkar manis di tangan kirinya. Setelah menyunggingkan senyum tipisnya, ia bangkit dan segera berjalan meninggalkan caffe itu. Jihyun menatap kepergian Tae Hee dengan pandangan yang tak bisa diartikan. Ia tahu jika wanita itu hanyalah berbohong padanya.

Otaknya kembali memikirkan perkataan Tae Hee tadi. ‘Membujuk seseorang?’ ‘Bekerjasama dengan seseorang?’ Ia yakin jika ada hal yang luar biasa penting dan rahasia yang disembunyikan suami Tae Hee, Ji Hoon. Ia yakin jika ‘keberuntungan’ yang suami Tae Hee dapatkan belumlah lama.

Entah mengapa ia merasa jika hal yang diceritakan Tae Hee tadi, ada hubungannya dengan kehancuran perusahaan suaminya, yang membuat dirinya depresi berat, dan menimbulkan dampak yang cukup besar pada keluarganya.

Juga pada perasaan putri semata wayangnya

Mungkinkah jika….

Park Ji Hoon adalah ‘dalang’ dibalik semua itu? Manusia brengsek nan biadab yang sangat berani membohongi suaminya dan memberikan dampak yang begitu besar.

Ia harus menyelidiki rasa penasarannya. Ya… Ia harus melakukan itu.

Wanita itu mengeluarkan ponselnya dan menggerakkan jari – jari lentiknya di atas layar ponsel itu, kemudian mendekatakan ponsel itu pada telinga kanannya. Menunggu suara jawaban dari seseorang yang ia hubungi.

“Halo?”

“Nam Joohyuk, aku minta kau untuk menyelidiki tentang Park Ji Hoon, suami dari Park Tae Hee, selidiki apa yang ia lakukan selama dua tahun terakhir dan apa yang ia lakukan…”

“Akhir – akhir ini”

“Baik nyonya. Aku akan menyelidiki semuanya”

“Bagus. Lakukan itu dengan baik dan jangan sampai ia tahu apa yang kau lakukan. Jangan lewatkan hal sekecil apapun!”

“Baik nyonya” Jihyun memutuskan sambungan teleponnya dan kembali memasukkan ponsel itu pada tasnya.

Ia tidak perlu memberitahu Joohyuk hal yang begitu eksplisit. Cukup dengan menyebutkan namanya dan sedikit informasi saja Joohyuk akan mencari tahu siapa yang harus ia selidiki.

Jihyun menghembuskan nafasnya. Semoga saja apa yang ia pikirkan tidaklah benar.

.

.

.

.

Pria berkemeja biru donker – putih bergaris vertikal itu melangkahkan kedua belah tungkainya masuk ke dalam sebuah perusahaan yang terlihat cukup besar. Banyak orang – orang berpakaian cukup rapih yang berlalu lalang di perusahaan itu. Tatapan matanya lurus dan mencari seseorang yang mungkin akan tahu apa jawaban dari pertanyaan yang ia tanyakan. Ia menghampiri seorang gadis yang sedang berdiri di depan sebuah lift.

“Permisi, apa kau tahu dimana ruang kerja Direktur Im?” Gadis itu menoleh dan tampak terpesona akan pesona pria tampan itu. Detik itu juga ia segera sadar dan membentuk senyuman kecil yang manis.

“Ruang kerjanya ada di lantai delapan, tuan”

“Terimakasih” Pria itu mengangguk dan membalikkan badannya ke depan. Tangannya hendak ia ulurkan untuk menekan tombol lift yang menuju arah atas, tapi tertahan oleh sebuah suara.

“Tuan, apa kau sedang mencari Direktur Im?”

“Ya”

“Itu direktur Im, tuan” Gadis itu menoleh dan membalikkan badannya ke arah kanan, bersiap untuk membungkuk hormat kepada seorang pria paruh baya berperawakan tinggi yang sedang berjalan mendekati lift. Chanyeol mengalihkan pandangannya dan segera menatap pria itu. Seorang pria dengan jas hitam mewah dan dasi merah dengan corak samar yang terpasang manis di bawah kerah kemeja putihnya. Di belakang pria itu ada seorang pria yang juga tinggi namun sedikit lebih gemuk darinya dengan kacamata yang bertengger manis di depan kedua matanya.

Gadis itu membungkuk, disusul dengan Chanyeol yang juga membungkuk sepertinya.

“Direktur Im, ada seseorang yang mencari anda”

“Siapa?”

“Pria ini, Direktur” Chanyeol memajukkan dirinya dan kembali membungkuk.

“Annyeong Haseyo” Im Jaehyun mengangkat salah satu alisnya, merasa bingung karena ia tak pernah melihat pria ini sebelumnya.

“Maaf, tetapi siapa anda?”

“Park Chanyeol”

“Park Chanyeol?”

“Ya. Mungkin Direktur merasa bingung karena tak pernah melihat ataupun mendengar nama saya sebelumnya. Tetapi, saya punya suatu hal yang sangat penting yang ingin saya bicarakan dengan anda” Jaehyun kembali mengangkat alisnya.

“Apa anda akan bicarakan hal yang ‘sangat penting’ itu sekarang?”

“Ya”

“Baiklah, mari ikut saya ke ruangan saya”

“Tapi Direktur, akan anda rapat penting sebentar lagi” Pria berkacamata dengan bingkai hitam tipis itu mendekati Im Jaehyun. Tampaknya ia adalah sekretarisnya.

“Tidak apa – apa. Aku yakin hal ini tidak akan memakan waktu yang lama. Bukankah begitu, Park Chanyeol?”

“Ya” Chanyeol mengangguk dan tersenyum kecil. Setelah lift terbuka, mereka segera melangkah masuk ke dalam lift itu. Setelah, Im Jaehyun menekan tombol yang bertuliskan angka ‘8’ pintu lift segera kembali tertutup dan membawa mereka ke lantai yang cukup tinggi itu.

.

.

.

.

“Silahkan duduk” Im Jaehyun mempersilahkan Chanyeol duduk sekaligus mendudukkan dirinya di sofa merah maroon dengan corak mawar samar yang terletak di bagian kiri ruangan kerjanya. Sejenak Park Chanyeol terpana akan kemewahan ruang kerja itu. Di belakang ‘kursi kebesarannya’, ada sebuah jendela besar dengan tirai coklat muda di kedua sisinya yang menampakkan betapa ramai dan indahnya kota Seoul. Hampir di setiap sisi ruang kerja itu terdapat rak buku besar yang penuh dengan puluhan buku dan berkas – berkas penting. Belum lagi arsitektur dan desain ruangan itu yang benar – benar indah dan menarik. Sangat mewah dan indah untuk ukuran sebuah ruang kerja.

“Apa kau ingin minuman?”

“Tidak perlu, Direktur” Im Jaehyun mengangguk – anggukan kepalanya dan kembali menatap Chanyeol.

“Park Chanyeol, apa yang ingin anda bicarakan?” Baru saja Chanyeol akan membuka mulutnya, tetapi tertahan oleh lanjutan suara pria paruh baya itu.

“Tunggu, kau bukan akan mengajakku untuk bekerja sama dalam hal bisnis bukan?” Im Jaehyun sedikit menyipitkan kedua matanya. Ia sedikit trauma karena pengalaman buruk dan kebodohannya dalam hal ‘kerja sama bisnis’. Ia sudah berjanji pada dirinya, tidak akan bekerja sama dalam hal bisnis dengan siapapun lagi kecuali dengan orang yang sudah ia percayai. Ia masih sangat benci akan tipu muslihat orang yang sudah benar – benar menipunya itu.

Chanyeol terkekeh kecil. “Tidak, ini sama sekali bukan tentang ‘kerja sama’ ataupun ‘bisnis’ ”

Jeda sejenak, sebelum pria itu kembali melanjutkan. “Sejujurnya, aku tahu tentang perjanjian anda dengan Direktur Oh Soohyun” Chanyeol menatap Jaehyun serius. Ada sedikit sinar terkejut di dalam iris madu Jaehyun.

“Darimana kau tahu hal itu?”

“Aku adalah Sunbae anak anda di kampus, Im Yoona…”

“Aku mencintai Im Yoona, putri anda” Lagi – lagi Jaehyun sangat terkejut. Matanya sedikit melebar saat mendengar pernyataan Chanyeol.

“Aku bersedia menggantikan Oh Sehun”

“Apa maksudmu?”

“Aku bersedia menjadi pengganti Direktur Oh Soohyun ataupun Oh Sehun. Aku bersedia menggantikan mereka membantu perusahaan anda”

“Apa yang kau bicarakan? Aku benar – benar tak mengerti”

“Jika anda bersedia, kau bisa memutuskan Oh Sehun menjadi tunangan Yoona dan aku akan menjadi pengganti Oh Sehun. Anda bisa memutuskan ‘perjanjian’ anda dengan Direktur Oh dan aku akan menggantikan perjanjian itu dengan perjanjianku. Aku akan menolong perusahaan anda dengan uangku. Jadi, anda bisa mengembalikan semua uang Direktur Oh dan menggantiya dengan uangku”

“Dan juga tentang Oh Sehun, jika anda menyetujui itu, aku juga akan menggantikan Oh Sehun sebagai tunangan putri anda. Jadi, putri anda akan bertunangan ataupun menikah denganku. Anda tentu mengerti bukan apa yang kumaksud?”

Jaehyun mengangguk – anggukan kepalanya. “Tapi, pernikahan putriku akan dilangsungkan tidak lama lagi” Chanyeol kembali tersenyum.

“Tentang itu, anda bisa serahkan padaku…”

“Sejujurnya, Im Yoona juga menyukaiku” Jaehyun mengangkat salah satu alisnya dan tersenyum geli. “Darimana kau tahu itu?”

“Tentu saja aku tahu. Aku tahu dari tatapannya kepadaku, tatapan yang memancarkan rasa cinta yang mendalam. Rasa suka ataupun cinta yang memang benar apa adanya. Ia juga sering salah tingkah ataupun gugup jika bersamaku” Chanyeol mengatakan kalimat – kalimat itu dengan rasa percaya diri yang amat sangat. Belum lagi cara penyampaiannya yang terdengar seperti seorang puitis yang sedang membacakan puisi terbarunya. Sangat berlebihan dan emosional yag mendalam.

Jaehyun tak mampu lagi menahan kegeliannya. Ia tertawa terbahak – bahak usai mendengar pernyataan Chanyeol. Pria ini benar – benar percaya diri! Sepertinya sangat cocok jika ia terjun ke bidang sastra dan mulai menulis berbagai syair ataupun puisi, kemudian membacakannya kepada orang – orang yang mungkin akan tertawa sepertinya ataupun ikut terbawa arus emosional syair atau puisi tersebut.

“Hei, apa jurusan kuliahmu adalah bidang sastra?”

“Bagaimana anda bisa mengetahui hal itu?” Pantas saja. Dugaannya benar. Sepertinya dugaannya tadi memang benar – benar akan terjadi. Jaehyun berhenti tertawa dan mulai menatap Chanyeol datar lag. Meskipu masih ada sorot kegelian di matanya.

“Tidak. Aku hanya menduga saja. Kau berbakat untuk menjadi penulis ataupun puitis. Tadi itu benar – benar mengagumkan”

“Tapi aku serius Direktur, putrimu memang benar – benar seperti itu” Ya, memang mungkin itu dulu, bukan sekarang. Tapi setidaknya ia masihlah bangga telah menjadi sosok yang pernah gadis itu cintai.

“Bagaimana jika putriku tidak setuju? Bagaimana jika ia sudah terlanjur mencintai Oh Sehun? Kau tahu, mereka sudah pernah travelling bersama sebelumnya. Mereka berkeliling di Italia, dan kuyakin disana mereka melakukan kontak fisik. Bahkan kupikir lebih dari bergenggaman tangan, mungkin mereka sudah pernah berpelukan atau mungkin berciuman?” Jaehyun menatap wajah Chanyeol yang sudah mulai memerah dengan senyuman kecil di bibirnya. Pria itu tampak sangat cemburu dan kesal.

Kedua tangan Chanyeol mengepal kuat, berusaha menahan gejolak emosi dan rasa kesalnya pada pria paruh baya di hadapannya. Pria itu benar – benar memanas – manasi dirinya! Oh sial, mungkin jika sekarang ia berada di kamarnya, kamarnya akan sangat porak poranda seperti kapal pecah karena menjadi korban pelampiasan amarahnya.

Bagaimana jika perkataan pria itu benar? Jika Yoona dan Sehun mamang pernah ‘berciuman’ sebelumnya? Sial sial sial! Ia harap itu semua hanyalah khayalan belaka pria paruh baya menyebalkan itu!

Dia tak tahu apa kebenarannya

“Aku yakin ia akan setuju. Bukankah ini demi kepentingan keluarganya dan juga nasib banyak orang? Ia tentu bukan orang egois, bukan?…”

“Dan tentang mencintai Oh Sehun, aku sedikit ragu tentang hal itu. Rasa cintanya kepadaku sangatlah besar, aku yakin akan sulit ‘memasukkan’ kembali seseorang ke dalam ruang hatinya karena seluruh hatinya, telah menjadi milikku” Jaehyun kembali tersenyum lebar, menahan rasa geli dan tawa yang sudah siap ia keluarkan. Ia yakin wajahnya tampak aneh jika sedang menahan itu semua.

“Kau benar – benar percaya diri, Chanyeol. Bagaimana jika semua yang kau pikirkan tidaklah benar? Bagaimana jika itu hanyalah khayalan belakamu?” Senyum di wajah pria itu memudar. Chanyeol tampak memutar otaknya, tampak mencari kata – kata yang cocok untuk menjawab pertanyaan Im Jaehyun. Sial! Mengapa pertanyaan pria ‘menyebalkan’ itu sangatlah sulit?

Chanyeol sejujurnya tidak begitu yakin dengan apa yang baru saja diucapkannya. Ia kembali teringat perkataan Yoona tentang gadis itu yang akan berusaha mencintai Oh Sehun. Ia yakin jika perkataan gadis itu memang benar apa adanya. Apa mungkin gadis itu telah melupakannya dan beralih mencintai Sehun? Tidak tidak, ia ragu akan hal itu. Entah mengapa hatinya mengatakan jika masih ada terselip rasa cinta untuk dirinya di hati gadis itu.

“Aku yakin perbandingan kebenarannya sangatlah kecil, Direktur. Mungkin sekitar 1:100000000”

“Waw, kau sungguh pemuda yang penuh dengan rasa percaya diri dan optimis yang begitu besar! Apa jadinya jika semua rasa percaya dirimu yang begitu besar itu ditelan oleh kenyataan yang begitu pahit” Ia merasa jika Im Jaehyun menyindirnya. Ia tidak pernah mengira jika pria paruh baya itu punya bakat membunuh orang dengan lidah tajamnya sendiri.

“Aku harap anda mempertimbangkan kembali kata – kataku. Aku yakin anda tidak akan menyesal jika menyetujui itu. Anda tenang saja, aku membantu perusahaan ini lebih dari Direktur Oh, aku juga pria baik dan bukan pria brengsek yang mudah mencampakkan perempuan. Aku mencintai Yoona dengan tulus, aku akan setia padanya dan tidak akan menyakitinya. Aku janji”

“Bagaimana kau akan membuktikan semua itu?” Chanyeol tersenyum sekaligus menyeringai samar.

“Aku akan membuktikannya nanti, Direktur. Jika aku sudah bertunangan dengan Yoona” Chanyeol mengeluarkan sebuah map dari tas kulit hitam yang dibawanya. Ia meletakan map tersebut di meja hadapannya.

“Itu adalah berkas – berkas tentang perusahaanku, tidak, lebih tepatnya perusahaan ayahku. Aku juga meletakkan nomor teleponku di dalam map itu. Jika anda menyetujuinya, anda bisa menghubungiku di nomor itu” Chanyeol menyungginkan senyumannya dan bangkit.

“Kurasa aku harus pergi sekarang, terimakasih banyak untuk waktu yang telah anda luangkan. Aku harap anda menyetujuinya” Chanyeol membungkuk sebentar dan segera pergi dari ruangan itu.

Setelah kepergian Chanyeol, Jaehyun mengambil map yang Chanyeol berikan dan membukanya. Perhatiannya tertuju pada secarik kertas kecil di dalam map itu.

“Ckck… Bahkan tulisan tangannya sangatlah buruk. Bagaimana dia akan menjadi menantuku jika tulisna tangannya saja sangatlah buruk?” Jaehyun mendesis dan meletakkan kertas kecil itu di meja. Ia kembali membuka satu persatu berkas yang ada di map itu. Mata elangnya tanpa sengaja menangkap sebuah nama di salah satu kertas itu. Ia mengerutkan dahinya. Merasa asing dengan nama yang baru saja dibacanya.

‘Siapa Park Ji Hoon?’

‘Ia pasti ayah Chanyeol. Tapi aku penasaran bagaimana wajahnya. Wajah seseorang yang pasti sangat kaya raya, setara dengan Oh Soohyun’

.

.

.

.

Suasana makan malam itu tampak hangat. Dengan berbagai hidangan lezat terhidang di atas meja makan berbentuk oval panjang itu. Suara canda dan tawa memenuhi ruangan itu. Ji Hoon dan Tae Hee tenggelam dalam perbincangan hangat mereka. Hanya Ji Hoon dan Tae Hee. Bukan seorang pria muda di hadapan mereka yang menatap mereka malas.

‘Mereka seperti sedang berkencan saja. Ck… Mengapa aku seperti tak dianggap disini?’ Lagi – lagi Chanyeol merasa kesal dengan kedua orang tuanya. Sepanjang makan malam itu, mereka bahkan sama sekali tak menatapnya!

“Chanyeol, ibu merindukan Yoona” Chanyeol hanya melirik sekilas. “Lalu?”

“Ajaklah ia kemari. Aku ingin mengajaknya makan malam”

“Kurasa tidak bisa Tae Hee, ia sudah memiliki tunangan” Ji Hoon mulai membuka mulutnya lagi.

“Apa? Sejak kapan? Siapa tunangannya itu?”

“Usia pertunangan mereka tidak terlalu lama kurasa. Tunangannya adalah anak dari direktur sebuah perusahaan yang sangat besar, Oh Sehun” Chanyeol menjawab dengan rasa kesal yang memenuhi pita suaranya. Ia sangat benci jika mendengar ataupun menyebut nama itu – Oh Sehun-.Tae Hee mengangguk – anggukan kepalanya paham.

“Bukankah Chanyeol sekarang juga anak dari seorang direktur? Direktur dari perusahaan yang cukup besar juga” Wanita itu berkata dengan nada setengah bercanda. Ji Hoon terkekeh kecil.

“Ji Hoon, bagaimana kau bisa tahu jika Yoona sudah memiliki tunangan?”

“Chanyeol menceritakannya padaku. Ia bercerita jika pertunangan mereka sebenarnya tidak didasari oleh cinta. Tetapi, karena sebuah perjanjian. Saat itu perusahaan ayah Yoona hampir bangkrut. Aku tidak tahu apa alasannya. Lalu, perusahaan ayah Oh Sehun menawarkan sebuah perjanjian. Perjanjian bahwa perusahaan ayah Oh Sehun bersedia menolong perusahaan Yoona, tetapi dengan syarat Yoona dan Sehun harus menikah. Tetapi, sebelum mereka menikah, mereka melangsungkan pertunangan terlebih dahulu”

“Apa kau tahu siapa nama ayah Yoona maupun Oh Sehun dan apa nama perusahaan mereka?”

“Aku tidak tahu”

“Chanyeol, bagaimana kau bisa tahu semua hal itu?” Tae Hee lagi – lagi bertanya dengan tatapan bingung yang menyorot melalui kedua iris hazelnya.

“Rahasia” Chanyeol sedikit memajukkan kepalanya dan tergelak. Wanita itu menatapnya sinis dan benar – benar merasa kesal.

“Biar aku tebak, pasti kau memata – matai semua tentangnya bukan? Pasti kau selama ini mencari tahu segala hal sekecil apapun tentangnya bukan?”

“Tepat sekali” Tae Hee tersenyum puas, dan mulai kembali memasukkan sepotong daging pada mulutnya.

“Aku juga sudah berbicara pada ayah, aku ingin menggantikan Oh Sehun sebagai tunangannya dan juga menggantikan perusahaan ayah Sehun sebagai penolong perusahaan Yoona. Ayah menyetujuinya. Aku sudah membicarakan hal itu pada ayah Yoona, tapi tampaknya ia akan mempertimbangkan itu terlebih dahulu”

“Tapi Yeol, aku sudah berpikir – pikir lagi, dan aku sadar ternyata ini tidak benar, Yeol” Chanyeol refleks menoleh pada ayahnya. Tangannya terpaku diam pada pisau dan garpu yang sedang digenggamnya. Ia sedikit menatap nanar pada ayahnya.

“Apa maksud ayah?”

“Kenapa kau tidak membiarkan mereka bersatu? Kau tampan, pintar, dan juga baik Yeol. Hampir mencapai sempurna. Mengapa kau tidak mencari perempuan lain saja? Aku yakin sangat banyak perempuan di luar sana yang ingin menjadi kekasihmu”

“Aku tidak bisa, ayah! Yoona tidak mencintai pria itu! Ia mencintaiku! Aku tahu walaupun ia bilang ia akan ‘mencoba mencintai’ pria itu dan ‘mencoba melupakanku’ ia masih mencintaiku!”

“Bukankah sekarang ia akan melupakanmu? Itu sama saja ia tak akan lagi mencintaimu, bukan? Aku yakin ia bisa melakukan itu. Jangan rusak pertunangan mereka, Yeol. Kau akan mendapat masalah baru jika kau melakukan itu. Mungkin saja sekarang ia hanya menganggapmus sebagai ‘teman’, Yeol”

“Tidak, ayah! Yoona tidak mungkin melakukan itu! Ia tidak mungkin menganggapku hanya sebatas seorang ‘teman’! Ia menyukaiku, ayah. Tidak, bahkan mencintaiku!”

“Tapi-“

“Sudahlah Ji Hoon. Apa yang dikatakan Chanyeol kurasa itu benar. Bukankah orang yang sudah menikah saja bisa bercerai? Itu berarti orang yang sudah bertunangan juga bisa putus bukan? Beri saja Chanyeol kesempatan. Ia sangat mencintai Yoona, begitu sebaliknya”

“Mengapa kau justru mendukung dia? Aku sungguh merasa tidak apa – apa jika Yoona masih lajang. Tapi, ia sudah memiliki tunangan, Tae Hee. Tidak baik merusak hubungan orang lain!” Ji Hoon sedikit meninggikan nada suaranya. Bahakn kini kegiatan makan malam mereka terjeda karena pembicaraan yang cukup menegangkan itu. Pembicaraan antara dua orang dengan sifat keras kepala yang sudah mendarah daging di seluruh tubuh mereka.

“Ingat Ji Hoon, mereka bertunangan hanya untuk menyelematkan perusahaan ayah Yoona. Itu artinya Yoona bertunangan dengan pria itu karena ‘terpaksa’ bukan karena ia menginginkannya. Pria yang sebenarnya ia inginkan untuk menjadi tunangannya adalah Chanyeol, pria yang dicintainya. Biarkan Chanyeol mewujudkan impian gadis itu, biarkan kita membantu perusahaan ayahnya”

“Bukankah itu sama saja karena ‘terpaksa’?”

“Tapi setidaknya gadis itu mencintai Chanyeol. Ia bahagia, bukan tertekan”

“Apa kau sungguh berpikir jika gadis itu masih mencintai Chanyeol?” Ji Hoon bertanya dengan salah satu alis yang terangkat ke atas. Ia sungguh ragu atas pernyataan ‘penuh percaya diri’ yang dilontarkan istri dan anaknya.

Jika kalian ingin tahu apa sebenarnya yang menjadi keraguan terbesar Ji Hoon dalam hal ini…

Jawabannya adalah sebenarnya ia merasa semua ini ada hubungannya dengan masa lalu. Masa lalu yang ia coba untuk melupakannya. Masa lalu yang penuh dengan kesalahan terbesar dalam hidupnya.

Ia merasa ada kejanggalan saat bertemu gadis itu, Yoona.

Ia merasa ada ‘sesuatu’ atau ‘hubungan’ antara dirinya dan Yoona.

Ia ingin tahu tapi ia takut untuk mengetahui jawabannya.

Bagaimana jika jawabannya memang benar? Jika Yoona memang ada hubungannya denga masa lalunya.

.

“Tentu saja aku berpikir begitu. Chanyeol, ajak Yoona makan malam besok dan kita bicarakan ini saat makan malam besok”

Ji Hoon menghela nafasnya.Untuk pertama kalinya,sifat keras kepalanya dikalahkan oleh sifat keras kepala istrinya.

.

.

.

.

Chanyeol melangkahkan kedua belah tungkainya mendekati sebuah cafe di seberang kampusnya. Cafe yang sama saat ia mengajak Yoona ‘berkencan’ untuk yang pertama kalinya.

Ia tahu jika Im Yoona berada di dalam cafe itu. Ia bisa melihat bentuk tubuhnya yang sedang duduk di salah satu meja cafe itu samar – samar.

Saat lonceng cafe berbunyi, gadis itu tak bergeming dari posisinya. Ia tetap duduk membelakanginya sambil menikmati apple pancakenya.

Saat pria itu duduk di hadapannya, barulah Yoona mengangkat kepalanya, melihat siapa orang yang tanpa seizinnya duduk di hadapannya. Melihat siapa orang itu, ia seikit melebarkan matanya dan mendadak tersedak apple pancake yang baru saja ditelannya.

“Chanyeol? Ada apa?” Gadis itu berbicara dengan nada datar. Sorotan matanya tampak tak mengartikan apapun, namun ada sebuah titik yang mengartikan bahwa ia malas untuk bertemu dengannya.

“Ibukku mengajakmu makan malam hari ini” Mata coklatnya tampak bergerak sedikit. Ia tampak mencari alasan yang tepat untuk berbohong pada Chanyeol.

“Maaf aku tidak bisa, ada acara penting yang harus kuhadiri” Chanyeol tahu Yoona berbohong. Gadis ini sungguh tidak pandai berbohong., pikirnya.

“Kau tidak pandai berbohong ataupun berakting” Yoona mengerutkan dahinya. Sedangkan Chanyeol mengangkat salah satu sudut bibirnya, membentuk sebuah seringai samar.

“Oh, ayolah Yoong. Ibukku sangat merindukanmu, dan juga ada hal penting yang harus ia sampaikan secara langsung padamu” Yoona menghela nafasnya, dan menatap pria itu malas.

“Jangan panggil aku seperti itu”

“Mengapa? Kita dekat bukan?”

“Sejak kapan kita dekat?” Chanyeol menggeram. Tampaknya rasa kesalnya sudah mulai terpancing.

“Kau tidak ingat? Kau menyukaiku, bukan bahkan mencintaiku, Yoong!”

“Apa aku pernah mengatakan itu?”

“Kau memang tidak pernah mengatakannya. Tetapi, aku tahu dari caramu menatapku, Yoong. Tatapan yang memancarkan rasa cinta yang mendalam. Kau benar – benar mengagumiku!” Tatapan gadis itu berubah menjadi tatapan sinis dan bibirnya mengeluarkan sedikit desisan.

“Kau terlalu berlebihan, Chanyeol. Aku tidak pernah menatapmu seperti itu” Bohong. Kalimat terakhir yang baru saja ia ucapkan adalah kebohongan besar. Sangat jelas jika ia sangat sering menatap pria itu penuh kekaguman. Ya, walaupun sebenarnya ‘tatapan yang memancarkan rasa cinta yang mendalam’ seperti yang diucapkan Chanyeol sedikit berlebihan.

“Aku tahu kau berbohong, Yoong. Sudahlah, lebih baik kau turuti saja permintaan ibuku. Kau tidak ingin membuat ibukku sedih bukan?”

“Bukankah aku dan ibumu belum lama bertemu? Mengapa ibumu cepat sekali merindukanku?”

Chanyeol mengangkat kedua bahunya. “Wanita memang seperti itu” Yoona sedikit mencibir mendengar jawabannya.

“Yoong, kau menyetujuinya bukan?” Gadis itu sekali lagi menghela nafasnya. Ia sangat ingin menghindari pria ini. Tapi, apa boleh buat, ia tidak tega jika harus membuat wanita paruh baya itu kecewa atapun sedih karena ia tidak menyetujui ajakan makan malamnya.

Dengan berat hati , ia kemudian menjawab “Baiklah, aku setuju”

.

.

.

.

Tangan Joohyuk berulang kali menekan bel yang terpasang di samping pintu besar bercat putih yang terpampang dihadapannya. Pintu besar milik kediaman keluarga Im. Ia tetap menunggu dengan sabar. Pria itu membawa beberapa berkas di salah satu tangannya. Saat pintu itu terbuka, terlihatlah seorang wanita bersurai hitam legam menatapnya datar. Sedetik kemudian saat wanita itu menyadari siapa sosok yang sedang berdiri di hadapannya kini, tatapannya berubah menjadi tatapan penuh antusias. Ia tersenyum tipis.

“Joohyuk? Apa kau sudah menemukan apa yang kuminta?” Pria muda itu mengangguk – anggukan kepalanya.

“Ayo masuk, kita bicara di dalam”

.

Rumah itu tampak sepi. Hanya ada beberapa pelayan yang sibuk dengan pekerjaan mereka masing – masing dan Nyonya besar Im. Mereka terduduk di sebuah sofa putih yang mewah nan elegan dan saling menatap dengan serius. Selain tatapan serius, iris coklat Jihyun juga menyorotkan rasa penasaran yang mendalam.

“Aku ingin lihat apa yang sudah kau temukan” Joohyuk menyerahkan berkas yang ia bawa pada Jihyun. Jihyun membuka berkas itu dengan hati – hati. Sepasang matanya dengan serius membaca setiap kata yang terpampang di kertas – kertas berkas itu.

“Park Ji Hoon, pria yang berusia sekitar 40 tahunan, ia memiliki seorang anak dari pernikahannya yang bernama Park Chanyeol, seorang mahasiswa di Yeolnghee Univesity. Ia sekarang adalah pemilik sekaligus direktur dari sebuah perusahaan yang cukup besar. Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang properti itu terbilang cukup sukses. Ia memiliki karyawan yang lumayan banyak. Tapi sayangnya, perusahaan itu bukanlah hasil dari kerja kerasnya sendiri,…”

“… melainkan hasil kerja keras dari seseorang” Mata Jihyun sedikit terbelalak mendengar informasi itu. Jantungnya berdetak sangat cepat, seluruh tubuhnya bergetar samar. Ia dengan cepat menoleh pada Nam Joohyuk. Ia menelan ludahnya dengan susah payah dan mencoba untuk berkata – kata lagi.

“A… apa mak…sudmu?”

“Ia mengajak seseorang untuk bekerjasama dengannya. Ia juga menawarkan orang tersebut dengan keuntungan yang luar biasa. Ia sangat berhasil karena orang yang ia ajak kerjasama adalah orang yang sangat ambisius dan mencintai uang. Setelah orang itu menyetujui kerja sama yang ia tawarkan, ia kemudian membawa lari semua uang perusahaan orang itu dan mendirikan sebuah perusahaan baru di luar negeri dengan semua uang yang ia bawa, dan hasilnya… ia kaya dalam sekejap”

“Si… siapa orang yang ‘kurang beruntung’ itu?” Nam Joohyuk semakin menatapnya serius dan dalam, membuat rasa penasaran sekaligus rasa takut Jihyun semakin bertambah besar.

“Orang itu adalah… Tuan Im” Jihyun semakin membulatkan matanya mendengar pernyataan itu. Terjawablah sudah semua rasa penasarannya selama ini. Ternyata, dalang dari semua ini adalah suami dari temannya sendiri! Orang yang selama ini selalu ia maki dalam hati setiap harinya.

Orang tak tahu diri yang membuat dirinya depresi berat

Orang brengsek yang membuat perasaan anaknya terkorbankan

Orang tak tahu malu yang membuat perusahaan suaminya bangkrut dalam satu kedipan mata

Orang jahat yang membuat ratusan karyawan dan pelayan –pelayannya kehilangan pekerjaan mereka dalam satu balikan tangan

Wanita itu mengepalkan kedua tangannya kuat – kuat, sampai buku – buku jemarinya memutih. Sorot matanya seketika berubah menjadi sorot mata penuh rasa benci, dendam, dan amarah. Kedua matanya memerah, ia berusaha untuk menahan airmata yang tergenang di pelupuk matanya.

Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki seseorang yang baru sjaa masuk ke dalam rumah itu. Terlihatlah pria paruh baya tampan dengan setelan jas hitam dan tas hitam kulit di tangan kanannya. Ia terkesiap melihat keadaan wanita itu, istrinya. Pria itu kemudian mendekatinya dan menatapnya bingung.

“Jihyun, apa kau baik – baik saja? Ada apa? Mengapa kau menangis?” Jaehyun mendudukkan dirinya di samping Jihyun dan mengusap bahu wanita itu lembut. Jihyun dengan cepat menolehkan kepalanya, menatap iris pearl grey suaminya.

“Jaehyun, aku sudah tahu siapa dalang di balik semua ini” Jaehyun mengerutkan keningnya, tidak mengerti apa maksud dari perkataan istrinya.

“Apa maksudmu?”

“Park Ji Hoon, dialah orang yang pernah mengajakmu untuk bekerjasama denganmu. Dialah penghancur kehidupan kita!” Jihyun menyerahkan berkas – berkas yang Joohyuk bawa pada suaminya. Jaehyun segera mengambilnya dan membuka lembaran – lemabaran kertas di dalam berkas itu.

“Itu adalah berkas yang berisikan semua tentang Park Ji Hoon, termasuk data – data perusahaanmu yang ia ambil” Im Jaehyun refleks membulatkan matanya. Kedua tangannya bergetar membaca semua itu. Perasaan hatinya diliputi rasa benci dan kesal sekarang.

Namun, masih ada yang membuat ia bingung.

Park Ji Hoon? Orang yang merebut perusahaannya? Tapi, seingat dirinya, orang yang merebut perusahaannya bukanlah Park Ji Hoon, tapi Kwak Ji Sung.

“Apa ini benar – benar Park Ji Hoon? Kau tidak salah bukan?”

“Itu tidak mungkin salah, Tuan. Meskipun aku menyelidiki itu semua dalam waktu cepat, tapi aku sudah memeriksanya dengan sangat teliti, dan aku yakin aku apa yang aku dapatkan adalah informasi yang sesungguhnya”

“Tapi yang kuingat, yang merebut perusahaanku bukanlah orang yang bernama Park Ji Hoon, tetapi Kwak Jisung”

Joohyuk tersenyum kecil. “Maaf Tuan, Nyonya, aku lupa memberi tahu Tuan dan Nyonya bahwa Park Ji Hoon menggunakan nama samaran saat mengajak Tuan Im bekerja sama, dan nama samarannya ialah Kwak Ji Sung”

Otak Jaehyun terasa seperti berputar. Saat otaknya berhenti, terlintas sebuah memori di benaknya. Jaehyun kembali membuka suaranya.

“Apa anak Park Ji Hoon, bernama Park Chanyeol?”

“Ya” Jaehyun kembali membulatkan matanya dengan sempurna. Ia menggeram samar di tenggorokannya.

“Chanyeol, anak Ji Hoon, tadi pagi barusaja menemuiku. Ia mengatakan bahwa ia akan menggantikan perusahaan Oh dalam perjanjian itu. Ia mengatakan jika ia mencintai Yoona, maka dari itu, ia bersedia menjadi tunangan pengganti Sehun sekaligus membantu perusahaan kita…”

“… Tak kusangka, ternyata uang yang dimilikinya adalah uang kita! Kita harus merebut kembali semua yang telah mereka ambil!”

“Aku juga merasa bingung pada temanku, Park Tae Hee, istri Park Ji Hoon. Karena yang kuingat ia hidup dengan sederhana. Tapi, saat aku bertemu dengannya tiga hari yang ia lalu, aku sangat terkejut saat mengetahui ia menjadi orang yang sangat kaya sekarang. Bahkan ia mengembalikan uang yang telah ia pinjam dariku dengan begitu mudahnya, padahal uang yang ia pinjam cukup banyak. Ia juga menceritakan ‘kisah’ dari perjalanan suaminya padaku…”

“… Ia bercerita jika sudah dua tahun suaminya pergi meninggalkan ia dan anaknya dengan alasan mencari pekerjaan yang layak. Selama ini suaminya menjalani hidup yang sulit, maka dari itu ia berusaha memperoleh keuntungan yang lebih besar dengan bekal kemampuan bisnisnya yang handal. Kurasa itulah penyebabnya ia pergi menemuimu dan mengajakmu bekerja sama. Kerja sama yang berakhir buruk untuk kita tapi sangat baik untuknya”

“Yoona, dimana Yoona sekarang? Kita harus segera memberitahunya agar menjauhi keluarga Park!”

“Aku tidak tahu. Ia seharusnya sudah pulang sejak tadi. Tapi ia sama sekali tidak memberiku kabar” Jaehyun segera mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan menggerakkan jarinya di atas layar ponsel itu, dan mendekatkan ponselnya ke telinganya.

“Halo?”

“Yoona, dimana kau sekarang?”

“Aku di rumah temanku, ayah. Ada apa?”

“Siapa temanmu?”

“Park Chanyeol” Jaehyun membulatkan kedua matanya. Ia semakin mengepalkan tangannya.

“Apa yang kau lakukan disana?”

“Aku diundang untuk makan malam disini, bersama keluarga Chanyeol”

“Keluarga? Apa ada ayah Chanyeol juga disitu”

“Ya, ia ada disini. Ada ap-“ Sambungan telepon diputuskan sepihak oleh Jaehyun. Ia segera menelepon beberapa tangan kanannya dan meminta mereka untuk segera datang ke rumahnya.

“Dimana Yoona, Jaehyun? Apa yang ia lakukan?” Pria itu menghembuskan nafasnya kasar sebelum menoleh ke istrinya.

“Ia di rumah Park Chanyeol, ia akan makan malam disana bersama keluarga Chanyeol” Kini giliran Jihyun yang membulatkan matanya.

“Apa?!” Wanita itu terkejut bukan main. Ia hanya bisa terdiam setelah itu dan berusaha menetralkan degup jantungnya yang masih berdegup cepat.

Beberapa saat kemudian, beberapa tangan kanan Im Jaehyun datang dan segera membungkuk hormat dan menunggu apa yang harus mereka lakukan.

“Ikuti aku”

.

.

.

Yoona dan Park Tae Hee masih sibuk dengan kegiatan memasak mereka. Senda gurau dan obrolan ringan terkadang berselingan di kegiatan memasak mereka. Mereka tampak seperti sudah mengenal sejak lama. Padahal, mereka hanya baru bertemu beberapa kali.

Setelah makan malam itu siap, mereka berdua melangkah ke ruang makan untuk menyiapkan segalanya untuk makan malam itu. Tae Hee kemudian memanggil Chanyeol dan Ji Hoon yang sedang asyik dengan sebuah acara di tv. Saat Ji Hoon mulai berjalan ke ruang makan, bel rumah mereka berbunyi. Ji Hoon segera menolehkan kepalanya ke pintu dan berputar balik melangkahkan kakinya ke pintu rumahnya.

Saat ia membuka pintu itu, ia dikejutkan dengan sosok yang benar – benar tidak asing baginya. Tangannya terasa membeku pada knop pintu yang masih digenggamnya. Tubuhnya terpaku diam. Matanya masih melebar. Seakan – akan tak percaya dengan siapa sosok yang berdiri di hadapannya kini.

Sosok yang pernah menjadi korban kelicikannya

Sosok yang pernah menjadi korban kejahatannya dan mengakibatkan sosok tersebut menanggung beban yang amat besar, tak terkecuali keluarga sosok itu.

Sosok itu tersenyum miring. Jaehyun memandang Ji Hoon dengan tatapan tertajam yang ia miliki. Salah satu alisnya terangkat.

“Lama tak berjumpa, Ji Hoon. Oh, atau harus kupanggil kau… Kwak Ji Sung?”

.

.

.

.

To Be Continue

Hai! Gak kerasa ya ternyata ff ini udah sampe chapter 6😀
Kayanya chapter selanjutnya nanti, Insyaaloh udah Final chapter😀 atau mungkin aku punya jalan cerita yang berbeda lagi…
Aku tahu ko, jalan cerita ff ini emang terkesan terburu – buru. Tapi, mau gimana lagi? Ff ini harus cepet – cepet aku selesaikan karena aku harus belajar keras buat persiapan praktek, ujian sekolah, dan UN nanti😀 Maaf ya….
Untuk final chapter nanti, apakah akan aku password atau nggak, aku akan pikir – pikir lagi deh  Tapi, aku pinginnya di password, tapi aku juga harus mempertimbangkan apakah sebenarnya ff ini udah ‘pantes’ diberi password atau nggak 

Terimakasih untuk semua readers yang udah ngikutin ff ini sampai sepanjang ini ^_^ I am Nothing Without You 
Terimakasih untuk semua readers yang udah mau meluangkan sedikit waktunya untuk memberi komentar, kritik dan saran, untuk yang udah support aku, yang bikin aku jadi semangat… Terimakasih… Terimakasih banyak….

Dan juga terimakasih untuk silent readers dan good readers yang juga sudah mau meluangkan waktunya untuk membaca ff yang gak sempurna ini…

THANKS FOR READ ^_^
Maaf untuk segala kesalahan di ff ini, karena aku hanyalah manusia biasa yang masih sangat jauh dari kata ‘sempurna’. Maafkan juga untuk beberapa kesalahan pairing cast disini. Aku tau seharusnya itu Jun Jihyun – Kim Soohyun. Tapi, entah kenapa ko malah Jun Jihyun – Ahn Jaehyun -___- Jadi agak kebanting rasanya😀

See you again in next chapter ^_^

67 thoughts on “Possessive and Obssesion ( Chapter 6 )

  1. demi apapun aku ampe baca berkali-kali pas bagian Sehun nyuci kaki Yoona saking senengnya sm bagian itu, sumpah itu gentleman banget😀
    sbenernya aku YoonYeol shipper, tp ntah knp lebih seneng sm YoonHun disini😀 Chanyeol nya terlalu ngeyel sih -_-
    nexxxtttt…

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s