Who Are You? – 5

who_are_you_for_fn

by : FN

cast : Yoona, Yuri, Sehun, Kai

genre : friendship, family, sad, complicated

all rated

poster : Cloverqua @YoongExo

desclaimer : cerita diambil dari berbagai sumber seperti film, komik, novel, drama dll juga dari pikiran author sendiri

note : apapun typos, kesalahan tanda baca, bahasa yang keluar dari EYD de el el tolong dimaafkan

T | 1 | 2 | 3 | 4

apa ini?

Yoona pulang sekolah paling akhir, ingin dia menaki bus tapi mengingat apa yang terjadi tadi, dia mengurungkan niatnya. Tak mungkin dia naik bus dengan bau menyengat seperti ini. Semua orang didalam sana akan menghardikanya bahkan mungkin saja akan menurunkan Yoona setengah jalan. Yoona menarik nafasnya dalam, jarak rumahnya dengan sekolah sangat jauh dan mau tak mau dia harus berjalan kaki. Tak peduli jika beberapa pejalan kaki menggerutu karena bau tak sedap yang keluar dari tubuhnya

Tendang saja jika itu dibutuhkan atau dorong aku hingga kendaraan-kendaraan lalu lalang ini menabrakku hingga aku mati saat ini juga, batinya nanar

Tiin…tinn…

“hey! Yoona!”

Yoona menghentikan langkah dan menoleh pada kedua saudaranya. Mereka menatap Yoona prihatin, “kenapa tak naik bus?” tanya Yuri

Yoona hanya diam tak menjawabnya

“ah… karna kau bau ya? Pasti supir bus itu menurunkanmu disini” tawa seluruh orang dari mobil itu meledak

“aku juga tak mungkin membawamu naik. Selain tak ada tempat duduk aku juga jijik harus satu mobil dengan orang bau sepertimu. bye…byee”

Yuri melambaikan tangannya puas. Yoona hanya kembali menarik nafasnya menahan gejolak emosi yang terjadi pada hatinya. Jika dia tega, dia benar-benar ingin melempari mobil kakaknya itu dengan batu, tapi Yoona bukanlah gadis seperti itu. Yoona kembali berjalan. Menutup kancing jaket yang ada ditubuhnya serta menutup kepalanya. Saudaranya sendiri mempermainkannya didepan orang lain. Itu adalah hal yang tak mampu dibayangkan oleh Yoona sebelumnya. Mereka dulu tak saling bertegur sapa tapi semenjak masalah foto itu beredar, Yuri semakin sering mengejeknya.

Drap…drap…drap…

“kenapa terus menunduk?”

Ah… Yoona tahu siapa pemilik suara berat ini tapi dia memilih diam dan tak peduli dengan apapun yang ingin diucapkan oleh lelaki ini

Splaasshh…spllaasshh…sppllaaasshh….

Kai tampak menyemprotkan parfum miliknya ke jaket yang Yoona gunakan

“kau tak perlu malu lagi” Kai tersenyum

“apa yang kau lakukan? Ini tak menjadikannya lebih baik”

“ahh… hari ini cerah bukan?” Kai tampak tak peduli dengan perkataan Yoona, “apalagi hari ini aku sedang bahagia” lanjutnya

“kau ingin dengar alasannya?”

“tidak” jawab Yoona tak peduli, tetap melanjutkan jalannya

Kai tersenyum kecil. Meratapi kebodohannya sendiri dan juga sikapnya yang berubah didepan gadis ini. Hanya gadis ini. Dia tak begitu memperhatikan gadis lain tapi semejak dia bertemu dengan gadis beatbox itu dan menyangka Yoona adalah gadis beatbox itu, dia sedikit berubah tapi hanya pada kedua gadis itu. Yoona terus diam sejak tadi, tak berniat mengajak Kai berbicara sedikitpun. Dia hanya malas dan tak ingin tahu soal hal itu sedangkan Kai hanya terus tampak gigih meskipun dia tahu hanya sia-sia saja perlakuannya

“tolong jangan ikuti aku” pinta Yoona membuka suaranya

“maksudmu?”

“apa pendengaranmu sedang bermasalah?” tanya Yoona balik

“aku hanya ingin mengantarmu pulang” jawab Kai

“kita bahkan tak dekat bahkan kita kenal hanya sebatas tahu nama masing-masing. Jangan berlagak kau sudah mengenalku dekat. Kau bersikap seperti ini padaku pun tak ada gunanya. Karna aku tak butuh seorang teman” kata Yoona tajam, matanya menatap lurus kearah Kai. Menandakan bahwa dia tak sedang main-main dengan apa yang baru saja dia katakan tadi, tapi Yoona adalah orang munafik. Dia butuh teman, teman yang selalu bersamanya tapi tak ada seorang pun yang mau berteman dengannya kecuali teman kerjanya. Ya, Yoona dipandang sebelah mata oleh teman sekolahnya tapi ketika dia dilingkungan kerja, jangan tanyakan bagaimana mereka menghormati Yoona. Bahkan seorang yang umurnya jauh lebih tua pun ada yang menghormati Yoona. Tak ada batasan umur antara senior dan junior. Kau yang pertama terjun maka kaulah seniornya, tak peduli semuda atau setua apa umurmu.

Yoona menyetop sebuah taksi dan melesat masuk tak peduli dengan suara Kai yang memanggilnya. Yuri tak akan senang dengan kedekatannya dengan lelaki tadi tapi ingatan tentang kejadian kemarin malam merusak segalanya

“arrgh!! Bodoh! sialan!” hardik Yoona terus-terusan

“nona, kau baik-baik saja?” supir taksi berumur hampir setengah abad itu tampak menatap Yoona dari pantulan kaca

“jwesonghamnida, ajhussi. Maaf jika aku membuatmu tak nyaman” Yoona menunduk meminta maaf

“gwenchana. Apa kau sedang bertengkar dengan kekasihmu?”

“eh—itu bukan kekasihku ajhussi, dia hanya temanku” Yoona menjawab kikuk

“ah… anak muda jaman sekarang memang sangat aneh” ajhussi itu tertawa renyah.

Yoona mendorong pagar rumahnya pelan. Sejenak dia melupakan masalahnya karena ajhussi tadi menceritakan tentang masa mudanya ketika bertemu dengan istrinya. Kisah yang sanga manis menurut Yoona tapi juga ada sebekas kisah sedih yang hampir membuat Yoona ingin menangis. Saat itu dia kembali teringat dengan kedua orang tuanya yang sudah lama meninggal. tak ada kenangan lain selain hanya bingkai foto sekeluarga ketika dia dan Yuri berada diumur 12 tahun. Itu foto saat mereka liburan ke pulau Jeju. Yuri yang merengek meminta kesana karena dia mendapatkan juara kelas, sedangkan aku hanya pengikut saja bersama Yunho oppa dan Jessica eonni

“nona Yoona!” seru bibi Jo khawatir

“ada apa?” tanya Yoona tak mengerti, tak biasanya bibi Jo menyambutnya ketika pulang

“ayo nona Yoona, saya sudah menyiapkan ramuan yang bisa menghilangkan bau yang ada ditubuh nona Im” pembantunya menariknya masuk kedalam rumahnya, Yoona hanya menurutinya

“bagaimana bibi bisa tahu?” Yoona mengerjapkan matanya

“nona Im Yuri memberitahu kami sekeluarga” jawab bibi Jo

“apa—termasuk Yunho oppa?” tanya Yoona hati-hati

Bibi Jo mengangguk pelan, dan kemudian dia menggeleng tak ingin membahas hal itu, “jangan dibahas nona, pertengkaran mereka bibi tak bisa menjelaskannya. Sekarang nona Yoona lebih baik segera mandi dengan air yang sudah saya siapkan”.

Setelah membersihkan tubuhnya, memakan makanan yang sudah tertata rapi di meja kamarnya dan menunggu hingga seluruh orang dirumahnya tidur, Yoona mengintip melalu jendela kamarnya. Mengecek apakah Chanyeol sudah datang menjemput atau belum. Ada pertemuan dengan kelompoknya malam ini dan tentu saja Yoona akan pergi secara diam-diam tanpa ketahuan keluarganya. Beberapa saat setelah Yoona duduk di jendela kamarnya. Ada kelap-kelip lampu senter yang sengaja dinyalakan sebagai sebuah kode. Yoona tersenyum manis, dia mengambil jaket dan maskernya. Menoleh kebelakang sekali lagi dan berjalan diatas genteng rumahnya. Melompat kerah pagar dan berjalan diatasnya beberapa langkah baru dia menapak sebuah dahan pohon didekat rumahnya sebagai jalan turun terakhir menapaki tanah

Chanyeol selalu tertawa dengan cara Yoona keluar dari rumahnya—seperti ninja, itu menurutnya. Sebenarnya saja Yoona bisa lewat pintu depan akan tetapi Baek ajhussi adalah seorang pria yang tidak bisa diajak kompromi apalagi hal yang sedang Yoona lakukan ini. Yoona pernah hampir tertangkap oleh kakaknya sendiri ketika dia akan kabur tapi untungnya saat itu dia mengenakan piyama dan berniat berganti baju ditempatnya bekerja. Jadi, dia membuka jaketnya dan melempar keluar dinding rumahnya setelah itu dia berpura-pura mengalami sleep walking, untung saja oppanya percaya akan hal itu, dia langsung menggendong Yoona ke tempat tidurnya seperti semula.

“wow… cat women

shut up” desis Yoona menaiki boncengan motor Chanyeol.

Chanyeol menancap gas motonya cepat dan itu membuat tangan Yoona harus melingkar erat di perut Chanyeol. Dan itu memang sedikit menghangatkan Yoona apalagi malam itu terasa cukup dingin. Bagaimanapun juga tubuh lelaki jauh lebih hangat daripada tubuh seorang wanita.

“wahh… noona!!” teriak Chen melambaikan tangannya, dia tampak bersemangat mala mini

“noona? Come on, sudah berapa lama kita kenal?” Yoona menepuk pundak Chen tersenyum

“kau datang” Lay tampak memeluk singkat Yoona, begitupula dengan Luhan

Lelaki China ini tampak berbeda dari biasanya, “kau terlihat berbeda, Lu”

“tentu saja yang sedang jatuh cinta” sahut Lay menggoda

“diamlah Yixing”

“jadi siapa gadis itu?” tanya Yoona mengerlingkan pandangan matanya

“sahabat kecilnya” sahut Lay

“ah… Lay” desah Luhan

“first love?” tanya Yoona

“tentu saja” sahut Lay

“siapa namanya?” tanya Yoona terdengar antusias

“Mei Tian dan aku akui sangat cantik” Lay menyahut untuk kesekian kalinya

DUUKK!!

Sebuah sepatu terlempar dan mendarat mulus dikepala Lay. Sepatu Luhan, lelaki itu tampak tak sabar dengan Lay yang selalu mendahului ucapannya. Dia berdecak dan tersenyum menatap Yoona. “dia menyebalkan malam ini karena dia iri padaku belum memiliki kekasih” ucap Luhan. Yoona tersenyum mendengarnya, dua pria dari China ini memang sering ribut tapi pada akhirnya mereka akan rujuk(?) kembali

“ya! Yoona-ya! Jadilah kekasihku!” seru Lay yang langsung mendapat lemparan bantal dari Chanyeol, Luhan dan Key yang tampak geleng-geleng

“Yoona tak akan mau dengan lelaki sepertimu, bodoh” seru Key

“tentu saja, karena Yoona hanya suka dengan lelaki sepertiku” kali ini suara Chanyeol menyahut tapi berbeda dengan Lay, kini Chanyeol mendapat lemparan bantal dari beberapa temannya yang tak setuju

Bisa dikatakan Yoona adalah satu-satunya wanita didalam sana, meskipun ada seorang wanita lain bernama tapi Yoona adalah wanita yang paling feminime. Taeyong, anak lelaki paling muda disana yang mendengar itu langsung berjalan mendekat dan memeluk Yoona, “Yoona noona hanya menyukaiku” tawanya renyah

Seluruh orang melotot kearah Taeyong yang terus berbangga hati

“lihatlah noona, mereka iri padaku yang bisa memelukmu seperti ini” adu Taeyong

Yoona hanya tersenyum simpul dan mengacak rambut hitam milik Taeyong. Kakinya melangkah pada piringan hitam yang sering dia bersihkan. Dia mendapatkan piringan-piringan ini dari ayahnya. Setelah satu tahun ibunya meninggal, Yoona diajak kesebuah tempat yang jauh dari kota Seoul. disana ayah Yoona mengajari Yoona bagaimana cara menjadi DJ dan melakukan Beatbox. Perlu sekitar satu tahun bagi Yoona untuk belajar, saat itu usianya 15 tahun dan dia mengikuti lomba Disc Jockey yang diadakan di SIngapura dan mendapatkan juara pertama juga sebagai kontestan paling muda diantara yang lain

“mainkan” perintah Chanyeol

Yoona tersenyum kecil, “aku lama tak menyentuhnya”

“kau terlalu sibuk datang ke RockTN. Ehm… sebenarnya kenapa kau selalu datang kesana?” tanya Chanyeol penasaran

“pemilik klub itu sering mengundangku. Bisa dikatakan permainanku jauh lebih membius para pelanggannya” Yoona tersenyum bangga

“tsk, dasar percaya diri” dengus Chanyeol meninggalkan Yoona

Yoona memakai headphonenya dan memasang piringan itu. Memainkannya hingga music itu bedegup kencang. Ruangan mereka kedap suara jadi tak akan ada orang yang mendengar suara gaduh didalam rumah itu. Mereka yang ada disana hanya menikmati coke sebagai teman. Tak ada yang kelantai dansa kecuali Lay, Luhan dan Taeyong yang terus meliuk-liukkan tubuhnya. Ditambah Beatbox yang dikeluarkan dari mulut Yoona menambah sorak-sorak seluruh orang disana.

Tiba-tiba instrument gitar memulai lagi lagu yang dimainkan Yoona. Mark dan Chanyeol yang paling berteriak heboh. Karena ini lagu kesukaan mereka.

I’ve been fucking sally!! Wooo!!!” seru Chanyeol

“one two three let’s go!” kali ini Mark yang bersorak riuh

Mereka berdua mengikuti gaya Hardwell memainkan gitar didalam music videonya. Yoona hanya tersenyum melihat kelakuan mereka berdua. Lagu ini juga termasuk dalam jajaran lagu kesukaannya tapi yang paling dia suka adalah Stay The Night dan Clarity.

3 jam sebelum pagi, Chanyeol mengantar Yoona pulang dan Yoona melakukan hal yang sama seperti saat dia mencoba keluar tapi ketika dia akan masuk kekamarnya. Ada halangan lain yang biasanya membuatnya tertidur sebentar diatas pohon karena Baek ajhussi sering merokok ditempatnya melompat ke genteng yang menyambungkannya ke balkon kamarnya.

Yoona adalah seorang yang pandai melakukan Beatbox dan juga Disc Jockey tapi dikalangan luar, Yoona lebih terkenal dengan Beatboxnya sedangkan didalam kelompoknya dia jago didua hal itu. Tak ada yang tahu soal pekerjaan malamnya. Bahkan Yunho sendiri tak tahu pekerjaan gelap adiknya itu. Kelompok yang mereka buat memang tergolong kelompok yang kasat mata, maksudnya hal yang mereka sukai ditentang oleh keluarga mereka sendiri. Jadi, mereka membentuk kelompok bagi mereka sendiri dan sering berkumpul untuk bersenang-senang. Dan banyak dari mereka yang bekerja di klub-klub malam atau bahkan tetua mereka sudah pernah melakukan konser kecil-kecilan ditengah kota.

Keesokan paginya Yoona kembali, tapi rasa kantuknya hari ini jauh lebih kuat daripada biasanya. Berulang kali dia mencuci mukanya tapi tetap saja dia masih mengantuk ditambah dia mendengar cercaan dari Yuri tadi pagi yang membuatnya hanya bungkam karena dia tak ingin membuat masalah dengan kembarannya yang satu itu

“Ya Tuhan…”

Yoona menepuk pipinya berulang kali guna menyadarkan dirinya sendiri

“ingin aku bantu?” suara seseorang menginterupsinya untuk menoleh

“apa yang kau lakukan disini?!” kaget Yoona

Cklek

Sehun mengunci pintu toilet wanita dan menatap lekat iris madu milik Yoona. Senyuman manisnya terukir jelas dibibirnya.

“annyeong, gadis Beatbox”

Seketika mata Yoona melebar.

Kai pov

Aku merapatkan jaketku. Teman satu klubku sudah berangkat menggunakan bis satu jam yang lalu. Aku? Aku hanyalah pemain cadangan—dulunya—dan sekarang pelatih sialan itu menempatkanku sebagai pemain utama. Aku sudah bermain buruk didepannya tapi sialnya laki-laki paruh baya itu mengetahui tak tik yang aku gunakan untuk membohonginya. Ayolah… ini musim dingin, musim saat aku menghabiskan separuh hidupku di RockTN atau kerumah Sehun bermain play station atau juga pergi bersama mereka berdua mengusili orang-orang yang sedang lewat di taman kota.

“YA! KIM JONGIN!”

Aku mendengar guru Jung yang menatapku dengan mata hampir keluar. Aku berlari kecil menghampirinya dan melepas jaketku

“kau ingin membatalkan kompetisi ini?!”

“jwesonghamnida” tundukku

Aku menoleh kearah tribun penonton. Mencari sosok yang aku kenal—bukan Sehun dan Tao atau mereka yang meneriaki namaku—Yoona, aku mencari gadis itu tapi aku tak melihatnya berada diatas sana. Tapi mataku tak sengaja bertemu dengan Yuri, dia tersenyum manis menatapku. Bukan Yoona—ya… sedikit kecewa

“KAI!!”

Kembali aku menoleh kikuk dan berlari ketengah lapangan. Tak ada cara lain selain menyelesaikan pertandingan ini bukan? Ah… gadis Beatbox. Lama aku tak melihatnya di klub. Apa bos tak pernah menyewanya lagi?

“KAI!! FOKUSSS!!!”

Aish… baiklah. Focus!.

Author pov

Sehun merenggangkan tanganya. Tao tampak menguap sesekali sedangkan Kai tetap berjalan gontai. Sepertinya lelaki ini tak lelah setelah bertanding habis-habisan tadi. Bahkan dia mengajak dua sahabatnya ini pergi untuk makan malam di fast food pinggir jalan tak lupa ke game center untuk bermain beberapa saat. “kau tak lelah, eoh?” tanya Sehun, kali ini dia juga tampak menguap. Melakukan hal yang sama seperti yang Tao lakukan

“ya! Bangun!” sodok Kai, Tao menutup matanya sembari berjalan

“pertandingan tadi membuatku insomnia. Kenapa harus dilakukan malam hari disaat jam tidur? Apalagi besok aku juga harus berlatih lagi untuk bertanding dengan sekolah Sekang” gerutu Kai

Kai meraih ponselnya yang bergetar. Mengecek email yang ternyata dari eommanya. Hanya sekedar basa-basi pertanyaan seorang ibu kepada anak

“gadis Beatbox?” dahi Sehun mengernyit, “jangan katakan kau belum menghubunginya sampai detik ini?” Sehun mengintimidasi

“apa maksudmu?” tanya Kai

“ayolah… kau mendapatkan nomornya sudah sangat lama sekali dan kau tak menghargai perjuanganku mendapatkannya untukmu? Astaga!” Sehun menepuk dahinya

“jangan berlebihan. Aku hanya tak bisa merangkai kata apa yang harus aku katakan” dengus Kai

“katakan saja apa yang otakmu inginkan”

“kau tentu tak ingin di cap sebagai lelaki gila kan tuan Oh Sehun?”

“jika begitu gunakan basa-basi. Jangan terlalu bany—”

“kau sudah pernah menghubunginya?” potong Kai

“he? Aku? Mwo? Mana mungkin!” dengus Sehun

“kau mengatakan sesuatu seperti kau sudah melakukannya”

“aku hanya memberi saran”

“bisakah kalian diam? Aku benar-benar sangat mengantuk” sahut Tao yang tampak tak kuat lagi menopang tubuhnya

“sebentar lagi kau akan sampai dirumah” Kai menonyor kepala Tao.

Setelah Sehun juga pulang, Kai tidak mengarahkan kakinya pada jalan rumahnya tapi kearah lain. Rumah Yoona. Entah mengapa dia ingin sekali bertemu dengan gadis itu. Dia masih percaya dengan apa yang dia ketahui bahwa Yoona adalah gadis Beatbox di klub tempatnya bekerja. Tapi gadis itu mengelak, Kai juga ingin mengelak, mengatakan hal sebaliknya tapi otaknya terus mengatakan untuk mempercayai apa yang pertama kali dia ucapkan.

—-

Yoona merapikan rambutnya, kembali kesekolah seperti biasanya. Mendengarkan semua penjelasan dari guru-gurunya dan berusaha untuk ujian sekolah yang masih lama. Yoona sudah mempersiapkan semuanya meskipun dia tahu hasilnya tak akan pernah bisa melebihi seorang Im Yuri sang cerdas dengan penuh bakat tak terkira. Oh… itu membuat Yoona muak! Tapi setidaknya nilainya tak terlalu buruk untuk ukuran gadis sepertinya. Yoona bukanlah gadis bodoh dengan pengetahuan nol, dia memiliki banyak pengetahuan hanya saja Yoona terlalu malas memikirkan sesuatu terlalu dalam dan membuat kepalanya pusing setelahnya.

BRAKK!!

Sesuatu ingatannya kembali. Saat seseorang membongkar semua rahasia terbesarnya. Apalagi orang itu bukanlah seseorang yang bisa menyembunyikan sesuatu dari orang lain. Orang itu mungkin bisa memberitahu Yuri dan Yuri akan memberitahukan Yunho. Jika itu terjadi, maka berakhir sudah karirnya selama ini. Yunho memang sengaja menjauhkan segala hal yang berkaitan dengan klub malam, dia hanya benar-benar melakukan apa yang ibunya katakan sebelum meninggal. yunho harus menjaga adik-adiknya, menjauhkannya dari segala hal yang bisa menjerumuskan adiknya

“brengsek” umpatnya

“Yoona!! Berangkat sekolah!!” Yunho berteriak sembari mengetuk pintu kamar Yoona tanpa membukanya

“ne, oppa” sahut Yoona, merapikan lagi rambutnya dan menyambar tasnya untuk berangkat kesekolah. Sebelum tertinggal bus yang mengantarnya.

Yoona memasang earphonenya. Menikmati setiap alunan lagu yang mengalir ditelinganya dan menjadi sebuah aliran listrik yang mampu membuatnya melupakan masalahnya sejenak. Matanya juga tak lepas dari beberapa siswa  yang menaiki sepeda untuk mencapai sekolah dan ada Seohyun yang tampak berjalan kaki sembari memainkan ponselnya. Sesampainya di halte pemberhentian, Yoona langsung turun. Berjalan tanpa pernah terjadi apa-apa hingga lelaki yang mengganggu pikirannya sejak semalam muncul dengan mata tajam dan bibir mengatup rapat. Yoona hanya melirik sekilas tampak tak peduli dengan ucapan lelaki pembohong didepannya

“apa yang kau lakukan terhadap orang yang memegang sebuah rahasia besar dalam hidupmu?” tanya Sehun

Yoona bisa mendengar suara puas yang dilontarkan oleh lelaki itu tapi Yoona memilih memendamnya tanpa menggubris perkataan lelaki dibelakangnya itu

“ah… sepertinya ini sudah bukan rahasia lagi” dan rencananya berhasil membuat Yoona menoleh

“apa yang kau inginkan?” tanya Yoona tak sabar

“aku membuktikan perkataanku bukan?”

Dahi Yoona mengernyit tak mengerti. Banyak perkataan yang terekam dalam memori otaknya, terpaksa dia harus membuka kertas-kertas usang yang mungkin telah dilupakannya

“aku tak akan pernah melupakannya dan aku pastikan aku akan menemukanmu secepat mungkin”

Ah… Yoona ingat. Laki-laki ini benar-benar menemukannya tapi ada satu insiden yang belum dilupakan oleh Yoona sama sekali

PLAK!

Tangan Yoona reflek menampar pipi Sehun hingga wajah putih pucat itu memerah dan membekas bentuk tangan. Beberapa orang disana terdiam diposisi mereka memperhatikan sebuah kejadian yang tak diduga oleh mereka. Seorang lelaki tampan, seorang bintang idaman disekolah itu, salah seorang teman dekat dari Kim Jongin yang bernama Oh Sehun ditampar oleh seorang gadis aneh bernama Im Yoona dan itu terjadi dihalaman sekolah saat anak-anak berjalan kesana kemari untuk sampai dikelas mereka, bahkan tukang sapu sekolah mereka yang menyapu ditengah lapangan pun menghentikan aktifitasnya, menatap dua sejoli yang sedang berdiri cukup jauh darinya

Bukan marah Sehun justru tersenyum, “sepertinya itu balasan darimu atas waktu itu”

“kau memuakkan!” desis Yoona

“ya… semua orang mengatakan hal itu tapi jangan pernah lupakan perkataanku waktu itu…” Sehun mendekat kearah Yoona dan menempelkan bibirnya pada telinga Yoona, “sayang”. Sehun menjauhkan wajahnya dan mengedipkan sebelah matanya sebelum memasukkan kedua tangannya kedalam sakunya dan berlalu tanpa menghiraukan tatapan dari beberapa orang yang bertanya-tanya tentang masalah yang mereka miliki. Mereka terlalu ikut campur dan Sehun benci itu.

Kai baru saja datang dan dia menatap bingung kearah beberapa orang yang tampak berkumpul di depan gerbang dengan satu objek yang menjadi sasaran mereka. Seorang gadis berambut hitam legam tampak berdiri dengan tangan mengepal, kepalanya menunduk dalam menahan sesuatu

“kau baik-baik saja?” Kai menyentuh pundak Yoona lembut

“tolong lepaskan tanganmu, aku tak ingin ada orang lain yang salah paham dengan hal itu” ucap Yoona lirih

Yoona menatap Kai sekilas, “tolong jangan pernah mengusikku lagi”

Dan kaki Yoona menapak pergi tak peduli dengan semua orang yang berada disana memperhatikan dan meskipun ada beberapa yang mencerca. Yoona hanya ingin tak peduli dengan semuanya. Yoona hanya ingin hidupnya kembali normal seperti dulu, tanpa ada orang yang mengenalnya sedikitpun tanpa ada orang yang mau berurusan dengannya, tanpa ada orang yang memanggil namanya kecuali guru dan teman sekelasnya. Yoona begitu merindukan suasana itu, suasana paling tenang daripada setelah lelaki bernama Kai dan Sehun itu mengetahui namanya dan juga fakta lain Yuri menyukai Kai dan Sehun tertarik dengannya

“arghh!!”

Dia menghentak kakinya kesal

“kau tak bisa melampiaskan kemarahanmu pada lantai”

“sonsaengnim” lirih Yoona

Guru Cho tersenyum lembut pada Yoona, “untung lantai ini kuat, jika tidak dia bisa retak karena kau injak seperti tadi”

Yoona tersenyum kecil dengan godaan dari gurunya yang satu ini

“jika ada masalah, cobalah datang keperpustakaan ambil buku di lemari 5, rak nomor 8 dan edisi nomor 5. Itu sedikit membantuku dan mungkin kau juga” saran guru Cho tersenyum lembut

“aku akan melakukannya nanti” jawab Yoona menunduk sopan

“ya… lebih baik cepat kau lakukan” guru Cho menepuk bahu Yoona pelan, “dan jangan lupa gunakan tangga untuk mengambilnya karna kau tak setinggi aku” imbuh guru Cho tersenyum

Yoona hanya tertawa kecil mendengar ejekan dari gurunya. Yoona memikirkan sesuatu yang amat sangat jahil. Menghilang selama pelajaran, guru tak akan mencarinya. Jadi, Yoona masuk kedalam perpustakaan dan membaca buku yang disarankan oleh guru Cho.

Sepulang sekolah, Yoona celingukan mencari keberadaan orang yang mungkin akan menangkap basah dia tengah keluar dari perpustakaan lewat jendela karena memang dia bersembunyi sebelum penjaga perpustakaan setengah baya itu keluar karena jam pelajaran sekolah juga sudah selesai

Drap!

Yoona merapikan roknya dan rambutnya yang tergerai. Menyelipkan ke belakang telinganya. Buku tadi memang cukup menghiburnya meskipun hanya sedikit tapi Yoona sangat berterima kasih atas saran tersebut

“apa yang kau lakukan?”

DEG!

Yoona mendadak menghentikan gerakannya dan memutar tubuhnya pelan untuk mencari tahu siapa yang mengetahui dia baru saja melompak dari jendela perpustakaan

Kai?!

Yoona menggigit bibir bawahnya, membiarkan lelaki itu mendekat dan mengecek jendela perpustakaan yang kancingnya terbuka

Mati aku!

“kau menghilang seharian dan bersembunyi didalam sini?” tanya Kai tak percaya

“itu bukan urusanmu” Yoona menjawab sinis

“kau ingin aku adukan pada kepala sekolah?” ancam Kai tak main-main

“silahkan saja, aku tak peduli” acuh Yoona

“kau tak takut dikeluarkan dari sekolah ini? Aku mungkin akan menambahkan alasan lain yang menguatkanmu agar kau bisa dikeluarkan dari sekolah ini” Kai menarik kedua alisnya menunggu jawaban dari gadis didepannya

“aku akan sangat berterimakasih padamu” Yoona tersenyum mengejek dan beranjak pergi

“kenapa kau menyuruhku menjauhimu?” tanya Kai

Tapi Yoona tak peduli, dia malas mendengarkannya

“Yoona, aku mengajakmu berbicara” seru Kai

“karena aku benci padamu” jawab Yoona penuh penekanan.

Yoona pov

“karena aku benci padamu” jawabku penuh penekanan

Aku tak bisa dekat dengamu. Hidupku sulit, penuh dengan kebohongan yang terus aku sembunyikan dibalik wajahku. Dan aku tak ingin menambah masalah hidupku dengan dekat denganmu. Yuri tak akan pernah berhenti membenciku jika dia tahu kau dekat denganku. Aku tak ingin memperberat perjalanan hidupku selama ini. Aku selalu sendirian, tanpa perhatian atau apapun yang bisa membuatku lebih baik. Hidupku baik-baik saja tapi ketika kau datang berbagai masalah muncul. Dan Yuri adalah masalah terbesarku saat ini

“kau—bohong” ucapnya

Tubhku mendadak berhenti, nafasku terasa sesak. Apa aku buruk dalam ini?. Aku memutar tubuhku dan menatap wajah sempurna miliknya yang selalu aku perhatikan saat dia menjadi seorang DJ kesayangan pengunjung RockTN. Menatapnya dengan penuh rasa kagum yang bahkan tak pernah aku lakukan sebelumnya

“bohong? Apa aku terlihat sebagai seorang pembohong?” tanyaku tak percaya

“ya—kau seorang pembohong”

“kau bisa melihat bahwa aku tak pernah memiliki satu pun teman disini dan itu membuktikan bahwa aku benar-benar tak butuh seorang teman”

“kau pasti membutuhkannya”

“aku tak butuh teman, jadi jangan mengusikku. Aku bisa melakukan semuanya sendirian jadi untuk apa aku memiliki seorang teman?” tanyaku

Tidak…jangan…jangan…jangan… jangan gugup… teruskan… jangan ubah aura wajahmu. Kau terlihat meyakinkan mata elangnya. Kau sudah menguasai seluruh perhatian mata elang itu tanpa dia ketahui keadaan yang sebenarnya

Sang mata elang tak mengucapkan sepatah katapun dan itu tandanya aku berhasil membuatnya bungkam. Aku tak butuh merangkai kata asalkan aku bisa menatap dalam matanya dan membuat mereka masuk kedalam ruang yang aku buat tentu mereka akan percaya padaku. Aku bergegas kembali kekelasku dan mengambil tas ranselku yang masih berada didalam sana. Sekolah sudah benar-benar sangat sepi. Aku melewati koridor sekolah dengan cepat aku sudah tak menangkap keberadaan Kai lagi, sepertinya lelaki itu sudah pulang. Segera aku melewati gerbang sekolah yang masih dibuka karena penjaga sekolah akan berjaga sampai pagi

“Yoona!”

“Chanyeol?”

Aku menghampirinya yang duduk rapi diatas motor besarnya. Rambutnya di cat sedikit pirang dengan gaya cepak serta jaket motor, sepatu boot dan helm besar mirip seorang pembalap

“wow” ungkapku tak percaya

“aku terlihat sangat keren, bukan?” Chanyeol tersenyum kerahku

“bodoh. Untuk apa kau kesini?” tanyaku

Chanyeol mengangkat bahunya tak tahu, “entahlah… menjemputmu mungkin?”

“oke” aku berseru dan langsung naik di boncengan motornya. Aku melihat senyumannya dari kaca spion, dia memberiku helm lain miliknya agar aku pakai. Disepanjang perjalanan aku hanya diam, biasanya aku akan mengajak Chanyeol bicara tapi aku enggan melakukannya kali ini, aku hanya melingkarkan tanganku dipinggangnya dan menyenderkan kepalaku pada pungunggunya. Aku banyak masalah dan itu membuat kepalaku benar-benar pusing. Aku tak pernah memiliki masalah sebanyak ini sebelumnya tapi—mungkin Tuhan sedang mengujiku.

Aku melepas helmnya dan memberikan pada Chanyeol yang masih berada diatas motor. Dia menatapku intens, aku risih tapi aku masih menutup mulutku untuk tidak bertanya hal-hal aneh pada Chanyeol. Dia meremas pundakku lembut, tatapan matanya menyayu dan terpancar aura lain dalam diri Chanyeol yang tak pernah aku lihat sebelumnya, “kau baik-baik saja?” tanyanya

“hanya lelah” jawabku asal

“kau sedang memikirkan sesuatu?” tanyanya

“cepat pulang dan gumawo sudah mengantarku” aku melepas cengkraman bahunya dan berbalik masuk kedalam rumah

“ada pekerjaan—untukmu, nanti aku kirim alamatnya. Hanya Beatbox”

Aku langsung menoleh pada Chanyeol yang masih tersenyum. Ada pekerjaan untukku, RockTN jarang menghubungiki karena Kai selalu berdumel jika aku bekerja dengan piringan hitam miliknya

“jinjayo?” Chanyeol mengangguk

“Ah… aku akan mengantarmu saja. Ini pesta orang berkelas dan pastikan kau memakai gaun jangan pakaian casual yang kau gunakan ketika kau bekerja di klub RockTN itu”

“siap, bos” aku membentuk tanganku seperti tanda hormat

“pukul 9, aku akan sudah standby didepan sini”

Chanyeol tertawa kecil dan langsung pamit pulang. Aku tak bisa menahan rasa bahagiaku. Aku melompat sepanjang jalan menuju kedalam rumah. Panggilan dari Jessica eonni hanya aku jawab sekilas karena aku sedang bahagia. Jessica eonni pasti akan kembali bersikap seperti saat Yunho oppa tak ada. Ya… Yunho oppa harus pergi ke China untuk urusan bisnis selama satu bulan penuh disana dan bisa kau bayangkan hidup seperti nyawa orang sekarat yang berjalan kesana kemari tanpa ada yang mengajak bicara. Setelah kejadian aku disiram telur dan lain-lain oleh teman-teman Yuri. Beberapa hari ini aku tak pernah menemuinya bahkan kemarin hingga saat ini aku belum bertemu dengannya.

Tok…tok…

“nona, waktunya makan malam”

Aku segera beranjak dari tempatku duduk. Bibi Jo pasti memasak sesuatu yang nikmat malam ini, tentu aku harus mengisi perutku terlebih dahulu sebelum berangkat ke pesta itu. Aku tak tahu pesta seperti apa tapi Chanyeol hanya mengatakan bahwa itu pesta orang berkelas. Tapi kenapa mereka mengundang seorang yang bisa melakukan Beatbox? Bukankah orang-orang berkelas hanya menyukai music bergenre jazz bila untuk pesta formal?

“kemana Jessica eonni dan Yuri?” tanyaku polos

Bibi Jo menggeleng, “nona Jessica menolak makan malam dan nona Yuri dia sedang ada lomba menari ballet di kota. Mungkin besok baru pulang”

Aku mengangguk-angguk, “jadi… aku harus makan sendiri? Dan menghabiskan semua ini? Baiklah”

Aku tersenyum dan menjilati bibirku sendiri. Ini bukan kali pertamanya aku makan sendirian, aku berkali-kali makan sendirian karena kedua gadis itu sibuk menjalankan metode diet mereka, terutama Yuri yang aku lihat semakin hari dia semakin gendut sedangkan Jessica eonni meskipun tubuhnya belum menunjukkan tanda-tanda melebar tapi pipinya bertambah sedikit gembul. Ayolah… Jessica eonni dan Yuri adalah orang yang perfeksionis dalam urusan kecantikan jadi jangan kaget jika mereka rela melakukan diet ketat untuk mengecilkan perutnya, bahkan pernah mereka pernah jatuh sakit karena terlalu memaksakan. Tapi pengalaman mereka dirawat dirumah sakit karena diet berbahaya tak terlalu dihiraukan oleh mereka. Yuri bisa saja tak sakit karena dia benar-bena rmengimbangi tubuhnya dengan olah raga tapi Jessica eonni? Bangun saja siang, kuliah telat, ada saja barang yang tertinggal dirumah saat kuliah, lalu bagaimana bisa dia olah raga? Badannya saja terlihat tak segar berbeda dengan Yuri

“gumawo, bi. Masakanmu memang yang paling enak!” aku mengacungkan jempolku

“Ah… nona, sebenarnya tadi siang tuan Yunho mencari nona tapi karena nona belum pulang dia hanya berpesan agar nona selalu menjaga kesehatan nona dan selalu makan buah serta sayur”

Aku hanya tersenyum mendengarnya. Yunho oppa benar-benar sangat memperhatikanku, mungkin ini juga alasan kenapa Yuri sangat membenciku. Mungkin karena dia berpikir aku merebut semua kasih sayang Yunho oppa.

Aku melirik kearah jam dinding diruang tengah

Mwo?! Jam 8?!

Aku melesat kearah kamar. Aku belum mempersiapkan semuanya. Gaun, heels dan peralatan lain untuk make up ku. Ketika sampai dikamar, aku membuka lebar lemari milikku. Mencari-cari gaun pesta—ah… sial, aku hanya punya 2 baju pesta dan aku sudah pernah menggunakan semuanya. Tak mungkin aku datang dengan pakaian itu, Chanyeol sudah pernah melihatnya

Apa aku pinjam Yuri saja?

Sebesit ide itu membuatku berjalan pelan kearah kamar Yuri yang berada tepat disampingku. Tanganku memutar kenop pintunya

Cklek…cklek…

“ah… sial!” dengusku kesal

Pintunya terkunci, pasti Yuri sengaja mengunci pintunya agar tak ada orang yang berani memasuki kamarnya. Oh… benar-benar sial aku hari ini.

Wakut sudah semakin mepet, tak ada cara lain selain aku menggunakan gaun berwarna peach selutut dengan sepatu warna senada dengan gaunku. Aku tak yakin dengan ini tapi apa boleh buat. Ini memang sedikit kesalahanku karena aku tak begitu memperhatikan soal baju untuk datang ke pesta karena aku tak pernah datang ke pesta semenjak umurku beranjak 14 tahun. Setelah selesai berdandan dan merapikan tatanan rambutku yang hanya aku ikat agar dan memperlihatkan leher milikku

“jangan pernah mengikat rambutmu”

“kenapa?”

“kau terlihat sangat jelek dengan mengikat rambutmu”

Mwo?! Kenapa? Kenapa bayangan itu tiba-tiba muncul?!

“jangan pernah mengikat rambutmu”

 “kau terlihat sangat jelek dengan mengikat rambutmu”

Bodoh!!! aku tak peduli! Dasar lelaki aneh. Meminta yang aneh juga padaku. Melarangku mengikat rambut, apa-apaan dia?!

Ah… tidak, memang jauh lebih manis jika digerai. Aku tidak mengikuti saran dari lelaki itu. Tidak. Aku hanya mengikuti kata hatiku yang mengatakan aku jauh lebih baik dengan rambut tergerai

Ahh…!!!!

Tok…tok…tok…

“nona, teman anda sudah menunggu diruang tengah”

“ha! Chanyeol!”

Aku langsung menarik tasku dan berlari sembari menenteng heels ditanganku. Akan sulit jika aku menggunakan heels dan turun dari tangga. Aku tentu tak ingin membuat Chanyeol menunggu

“hey, Yeol” panggilku

Dia menoleh dan tersenyum padaku, “kajja”.

Author pov

Chanyeol sesekali melirik kearah Yoona yang sibuk menggunakan heelsnya. Dia tersenyum kecil karena Yoona bertransformasi menjadi seorang gadis yang amat sangat feminime malam ini. Chanyeol tidak menggunakan motor, akan sulit jika Chanyeol menggunakan motor dengan keadaan Yoona yang menggunakan gaun dan juga ini pesta tentu dia akan menggunakan mobilnya. Kedua orang tuanya juga tak terlalu bertanya tentang kepergian Chanyeol kecuali noonanya yang tampak curiga. “kau bawa topengmu?” tanya Chanyeol

“tentu, sebagai alat penyamaran” jawab Yoona

“aku pikir itu tak perlu”

“kenapa?”

“jarang ada orang Korea yang datang. Jika pun datang kau pasti tak akan mengenalnya, aku sudah meliahat list tamu dari orang yang mendatangkanmu” jawab Chanyeol

“Apakah itu tak apa? Kau yakin?” tanya Yoona

“tentu saja tapi sebelumnya aku harus mengubah sesuatu dulu dari dandananmu malam ini”

Dan mobil Chanyeol berbelok pada sebuah butik mewah disalah satu kawasan pusat kota Seoul. membawa Yoona masuk dan mengubah semua penampilannya yang sederhana menjadi jauh lebih berani dan tentu menarik. Chanyeol sudah memprediksikan hal ini sebelumnya, mengingat dia hanya pernah melihat Yoona dengan dua gaun pesta. Meskipun kedua gaun itu sangat cantik tapi Chanyeol benar-benar ingin mengubah Yoona.

Yoona sedikit bersembunyi dibalik tubuh Chanyeol ketika mereka sampai ditempat tujuan mereka. Sebenarnya dia agak risih dengan gaun yang dipilihkan oleh Chanyeol, sedikit terlalu ketat dan pendek tapi apa boleh buat tak ada pilihan lain selain setuju karena itu bentuk rasa terima kasih pada Chanyeol atas pekerjaan untuknya malam ini, bayangkan saja menganggur tanpa ada pekerjaan, mengharapkan pekerjaan dari RockTN sangat tak mungkin apalagi jika sampai sang DJ mencari jejak tentang siapa dia sebenarnya. Benar kata Chanyeol, kebanyakan yang ada didalam gedung mewah ini bukan orang Korea melainkan orang-orang asing

“kau yakin mereka menyukai Beatbox?” tanya Yoona pelan

“tentu saja karena aku yang akan menjadi DJ-nya” jawab Chanyeol tersenyum jahil.

Setelah beberapa cara pembuka formal dan juga sambutan-sambutan yang menurut Yoona sangat tak penting dan hampir membuatnya jatuh karena mengantuk kini tiba diacara informal. Chanyeol sudah bersiap menjadi DJ diatas sana, jas hitamnya dia buka dan hanya menampilkan kemeja berwarna putih yang membuat Chanyeol tampak lebih tampan daripada terbalut dengan jas hitam itu. Yoona masih berada dibawah panggung karena setelah melakukan deal dengan Chanyeol, Yoona akan melakukan Beatboxnya di belakang panggung acara, menghindari orang-orang yang mungkin mengenalnya

Music yang dimainkan Chanyeol sudah dimulai, ini music yang biasa Chanyeol gunakan jika berkolaborasi dengan Yoona tapi sayangnya kemapuan DJ Chanyeol masih belum tergolong terkenal seperti Yoona, Mark dan Key yang paling sering mendapatkan job. Sedangkan untuk bagian dance Luhan dan Lay yang selalu memimpin. Chanyeol mulai memelankan suara musiknya dan kini Yoona yang beraksi, melakukan dentuman suara yang dia keluarkan dari mulutnya mengikuti irama yang dikeluarkan oleh Chanyeol. Mereka berdua bisa saling mengimbangi satu sama lain, tak ada nada yang salah dan kerja keras mereka berdua mendapatkan tepuk tangan yang amat sangat meriah dari orang-orang asing yang memang terkenal menyukai dunia gemerlap.

“kalian akan langsung pulang?” tanya Junghoon, penyelenggara acara ini dan sekaligus sepupu Chanyeol

“tentu saja” jawab Chanyeol mantap

“ayolah… kalian baru saja meramaikan acaraku dan kalian bersiap pulang? Nikmati dulu pesta ini dan jika kalian mau menarilah di lantai dansa”

“tidak, hyung. Kami akan pulang saja” tolak Chanyeol

“Yoona-ssi? Sebagai tambahan bayaran karena kau membuat heboh seluruh orang disini dengan kemampuan spesialmu?”

Yoona melirik kearah Chanyeol begitupula sebaliknya. Tatapan mata Junghoon tampak memaksa mereka untuk tetap tinggal dan menikmati acara pesta itu. Yoona yang akhirnya tak tega menjadi mengangguk menyetujui permintaan Junghoon dan tak ada cara lain bagi Chanyeol untuk tidak setuju

hey” seseorang menepuk pundak Chanyeol

“ne?” tanya Chanyeol

Lelaki asing itu tampak tersenyum, “you did a god job!”

“thanks” jawab Chanyeol membungkuk rendah

“jadi, nona Yoona apa yang akan kita lakukan disini?” tanya Chanyeol menatap kearah Yoona yang diam

“bersenang-senang?” tanya Yoona, “sebentar lagi kau akan diajak seseorang untuk berdansa”

Yoona mengarahkan pandangan matanya pada seorang gadis Korea yang tengah berjalan anggun menuju kearahnya

“Chanyeol oppa!”

“ah? Minra?” kaget Chanyeol

“wah… aku tak menyangka bertemu denganmu oppa” seru Minra tersenyum hangat, “ah… ini kekasihmu?” gadis bernama Minra itu menatap Yoona sembari tersenyum

“Aniyo, dia temanku” jawab Chanyeol, “ah… Yoona, ini sepupuku Minra adik dari Junghoon hyung dan Minra ini Yoona”

Minra tersenyum lebar dan menjabat tangan Yoona dengan hangat. “kalian tak berdansa?” tanya Minra. Yoona dan Chanyeol menggeleng kompak. Bukan hal yang menarik bagi mereka untuk melakukan hal seperti itu

“jika begitu boleh aku ajak Chanyeol oppa berdansa?” tanya Minra, matanya menyorot kearah Yoona

“tentu saja. Bawa saja jika kau mau tapi harus kau kembalikan karena dia juga harus mengantarkanku pulang” jawab Yoona tertawa kecil

Yoona mengedarkan pandangannya mencari jus untuk diminumnya dan berniat mencari sebuah tempat duduk untuknya tapi tak ada, hanya gelas-gelas wine yang ada di meja itu dan juga di nampan para pelayan yang bolak-balik dari dapur. Yoona menepuk salah satu pelayan itu dan meminta segelas air, meskipun ada sedikit tatapan aneh lelaki tadi membawakan Yoona segelas air putih. Yoona menemukan satu dan duduk disana dengan segelas air putih ditangan kirinya sedangkan tangan kanannya tampak sibuk bermain ponsel menjelajahi dunia internet terutama Youtube, sumber dari segala sumber video music EDM yang membuatnya tak pernah berhenti untuk tidak meliukkan tubuhnya mengikuti alunan suara yang benar-benar enerjik. Tak peduli makna dari lagu itu, setiap kali mendengarkan musiknya kau pasti akan terbius untuk melompat-lompat seperti orang mabuk

“nona, ingin berdansa?”

“tidak, terima kasih”

“tapi aku ingin mengajakmu, nona”

“maaf aku sedang sibuk”

“maka aku akan menunggu hingga kau tak sibuk lagi”

Yoona menghentikan gerakan jari-jemarinya. Kepalanya mendongak menatap sosok lelaki yang berdiri didepannya itu dengan senyuman manis—tidak—ini seperti sebuah neraka bagi Yoona untuk bertemu lelaki ini ditempat seperti ini

“kau—kau—bagaimana—bisa?!” tanya Yoona terbata.

TBC

thaks for RCL….🙂

50 thoughts on “Who Are You? – 5

  1. itu sehun kan yg ngajak yoona dansa? -no itu harus sehun, gamau tauu /maksa/
    btw updatenya kavan nih thor, keknya udh lama ga diupdate yaaa hehe
    Next chap FIGHTING

  2. perasaan yoona mesra bgt sama chanyeol, hihihi tapi gpplah aku suka.
    feeling aku sih cowo itu sehun.
    tapi itu cuma feeling aku..
    next d tunggu chingu..

  3. Aku juga setuju chanyoon.ternyata yoona cewek beatboxnya.author hebat.awalnya yakin itu yoona tapi setelahnya ragu.dan ternyata yoona.bagus deh pokoke.

  4. Yoonkai,,yoonhun or chanyoon?? Chanyoon aja deehh…soalnya klo sm kai or sehun pasti bakal ngerusak persahabatan mreka dn yuri jd tmbh benci…
    Siapa tuuh yg ngajak yoona dansa?? Kai atw sehun??
    Jdi mmg bner yoona sii beatbox,,kok sehun bisa tau ya?? Drmna?? Klo kai tau gmn tuuh nntinyaa? OKke di tunggu lanjutannya…

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s