[Freelance] Don’t Call Me Idiot : Die In Your Arms

req-aliengator02

Series Don’t  Call Me Idiot : Die In Your Arms

Author : AlienGator02

Main Cast : Im Yoona, Oh Sehun, Big Gangster, Xi Luhan,

Other Cast : Find it by Your self

Genre : Fiction, AU, Sad, Hurt

Length : Series

Poster : LayKim @Indofanfiction

Rating : General

Disclaimer : This story is pure my idea.

Typo is beautiful!

A/n : Please Keep RCL! Sebelum saya memutuskan untuk memprotect ff ini!

Happy Reading

.

.

.

.

.

Die In Your Arms

 

 

“Eomma..”

Lelaki itu terbangun dengan nafas yang terengah-engah. Mimpi buruk kembali menghampirinya, lelaki bermarga Oh itu mengusap keringat dingin yang mengalir dari dahinya. Ia bermimpi tentang masa kecilnya,

Sehun bangkit dari tidurnya, lalu ia mengucek matanya yang masih terasa sangat berat. Kakinya  melangkah menuju dapur. Hingga sebuah suara masuk ke indra pendengarannya. Suara yang sangat ia rindukan

Sosok lelaki paruh baya duduk di meja makan bersama anak kesayangannya. Tuan Oh menatap calon penerusnya itu, rasa rindu menguar dari dalam hatinya. terhitung satu bulan semenjak kepergiannya ke Jepang ia tidak pernah bertemu dengan anaknya yang satu ini.

“Bagaimana kabarmu Luhan-ah?” tanya Tuan Oh.

Seorang lelaki berwajah baby face menatap ayahnya. Lengkungan senyum tercipta dari bibir milik Luhan.

“Aku baik-baik saja, Appa.” Tutur Luhan.

Tanpa kedua orang tersebut sadari, seorang lelaki tengah mengintip mereka dari balik lemari besar. Lelaki yang tak lain adalah Sehun menatap dua orang yang saling bercengkrama itu. ia sangat rindu dengan ayahnya, walaupun ia sendiri tau jika Ayahnya tidak akan pernah merindukan Sehun. tidak akan pernah.

Sehun mengintip hidangan yang tersaji di meja makan tersebut. Sepiring Bulgogi, kimchi, kimbab, nasi goreng kimchi dan sup rumput laut menempel di meja makan besar itu. Sehun mengelus perutnya yang mulai kelaparan.

Dengan ribuan keberanian yang ada, Sehun mendekat ke arah dua orang yang sangat ia sayangi itu. dengan senyuman yang lebar Sehun memeluk Tuan Oh dan membuat lelaki paruh baya itu menatap anak bungsunya kaget.

“Appa… Bogoshipeoyo.” Tutur Sehun.

Merasa jijik melihat wajah anak bungsunya. Tuan Oh mendorong Sehun kuat, “Apa yang kau lakukan disini? Bukankah aku sudah bilang jika jangan pernah tunjukkan wajah idiotmu itu di sini?” Ujar Tuan Oh sambil menatap tajam anak bungsunya yang sedang tersungkur dilantai marmer itu.

Sehun berdiri, ia membungkuk beberapa kali untuk meminta maaf pada ayahnya. “Appa, jeosong habnida… Sehun bodoh… Jeosong habnida.”

Sret!

Seorang lelaki bertubuh lebih pendek dari Sehun menarik dirinya dari kursi hingga membuat ayah dan adiknya menatap kearahnya. Lelaki yang tak lain adalah Luhan mendekat kearah Tuan Oh sambil merengek, “Appa… Ayo kita makan diluar. Aku tidak nafsu makan ketika idiot ini muncul.” Terang Luhan.

Tuan Oh mengangguk, ia menatap anak bungsu yang tidak berdosa itu. ”Ini semua karenamu Sehun-ah, Aku ingin makan bersama dengan anak se-ma-ta wa-yang-ku. Kenapa kau harus muncul?” tutur Tuan Oh.

 

Ayolah, apakah salah seorang anak yang merindukan ayahnya?

 

Sehun menatap kedua orang yang sangat ia cintai pergi meninggalkannya. Kedua iris hazel miliknya menatap makanan yang tersaji diatas meja dengan sedih. Sehun merasa sangat bersalah, tidak seharusnya ia mendengar suara ayahnya, tidak seharusnya ia memeluk ayahnya. Andaikan itu semua tidak terjadi, Sehun masih bisa menatap ayah yang sangat ia rindukan dari balik lemari besar.

Sehun menghela nafas perih, entahlah kapan Sehun akan dihargai. Bahkan lelaki jenius itu tidak akan pernah tau kapan ia akan dianggap sebagai manusia lainnya.

Pena yang tumbuh dalam hatinya kembali menggoreskan sebuah luka yang mendalam. Pena itu bergerak menuliskan kejadian yang menyedihkan dalam hatinya, tidak ada tempat lagi ketika pena itu ingin menggoreskan tulisan kesakitan di dalam hati Sehun. terlalu banyak,

Sehun melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Ia seolah melupakan rasa lapar yang terus memanggilnya, Sehun hanya ingin membasahi dirinya dengan air. Karena dengan begitu, Sehun akan lebih tenang.

 

Die In Your Arms

 

Seorang wanita paruh baya duduk di sudut ruangan dengan tangan yang memeluk kedua lututnya. Tubuhnya gemetar karena ketakutan, suara itu kembali datang padanya. Suara penyiksaan datang pada dirinya. Ia menutup telinganya dengan kuat meminta sang ilusi untuk berhenti membentaknya.

“Pergi! Cepat pergi! Kau monster!” balasnya.

Bentakan itu melukai hati seorang lelaki yang berdiri dengan air mata yang mengalir dari matanya. Lelaki berumur tujuh belas tahun itu berjongkok menatap wanita yang sangat ia cintai dan sayangi. Wanita yang dulu berwajah cantik dengan senyum yang indah dan kini berubah menjadi wajah yang keriput dengan raut mengerikan diwajah tuanya.

Chanyeol terpaku melihat sang ibu yang terus mundur kebelakang karena takut melihatnya, air matanya tidak bisa berhenti melihat penderitaan sang ibu. Semua ini karena seorang lelaki yang berstatus sebagai ayahnya,

Lelaki jangkung itu mengelus pipi sang ibu namun ditepisnya. “Tidakkah eomma merindukan aku? Apa eomma lupa siapa aku?” kalimat yang ia ungkapkan terasa sangat sulit untuk diungkapnya.

“Chanyeol.. aku Park Chanyeol. Anak lelakimu eomma, bukankah setiap hari aku datang kesini?” ujar Chanyeol lirih.

Wanita paruh baya itu membeku, nama yang telah disebutkan membuatnya mengingat masa lalunya. Nyonya Park meneteskan air matanya, “Chanyeol..bukan,  aku tidak punya bayi lelaki.. tapi Yoonji, putriku… dimana dia? Bayiku.. apa kau menyembunyikannya? Apa dia masih hidup? Apa Yookjae membunuhnya? Bayiku.. DIMANA BAYIKU?!”

Chanyeol bisa merasakan tangan yang rapuh memukul dadanya keras. Namun pukulan itu tidak bisa menggantikan kesakitannya ketika ibunya sendiri lupa siapa anaknya, lelaki itu berdiri tidak mempedulikan bentakan kasar dari ibunya. Karena Chanyeol tau, hitungan detik dokter akan datang dan membawa suntikan yang membuat ibunya semakin konyol.

Lelaki itu keluar dari ruangan yang membunuhnya. Ia masih bisa mendengar teriakan ibunya dan ia juga bisa merasakan kesakitan ketika ibunya disuntik oleh jarum dan cairan yang menyakitkan. Chanyeol cukup peka,

“Apa kau baik-baik saja Chanyeol-ah?”

Chanyeol menatap sahabatnya dengan pandangan yang dingin namun rapuh didalamnya. Lelaki itu menjatuhkan dirinya ke lantai yang dingin. Air matanya kembali mengalir, masa bodoh dengan Kyungsoo yang menatap kasihan padanya.

“Aku memiliki harta yang tidak bisa dibayangkan oleh siapapun. Aku bisa membeli apa yang kuinginkan, Aku cucu seorang presiden korea selatan. Ayahku seorang pengusaha terkenal. Tapi kenapa? Kenapa kekayaan tidak mau mengakui ibuku?” ujar Chanyeol.

Kyungsoo menatap Chanyeol lalu ia duduk disamping Chanyeol. “Kau tau? Kita bersahabat sejak kecil, kita lahir di keluarga kaya raya namun tidak ada kata harmonis disana. Hanya ada uang. Bukankah hidup kejam? Kita hanya bisa bersabar.” Ujar Kyungsoo

“Sabar? Sepuluh tahun lamanya, eommaku hidup ditempat terkutuk ini. Sialnya appa yang lebih mementingkan harta dan martabatnya tidak ada ketika eomma depresi kehilangan Yoonji. Eomma yang kehilangan putri kecilnya, eomma tidak tau apa yang harus ia lakukan. Eomma depresi dengan kesendiriannya, aku yang masih kecil tidak mengerti apapun. aku hanya bisa melihat eomma menangis dan tertawa.” Lelaki itu menghela nafas dan mengambil jeda.

“Dan aku mulai belajar untuk mengerti, eomma kesepian. Dia melupakan segalanya dan hanya mengingat Yoonji yang  meninggal karena kecelakaan. Bahkan ketika eomma diusir dan divonis gila. Keluargaku mengatur cara agar semua orang tidak tau jika anak seorang presiden korea selatan gila, mereka membuat teater publik. Eomma meninggal karena kecelakaan, bukankah itu gila? Menganggap seorang mati padahal ia masih hidup.”

Chanyeol mengambil nafas sebanyak-banyaknya. Inilah kehidupan sesungguhnya, Chanyeol membenci dirinya sendiri. Ia membenci tuhan yang memberikan takdir buruk untuknya. Namun lelaki itu tau jika ia hanya bisa mengikuti arus.

Die In Your Arms

 

Seorang lelaki menatap bayangan cermin yang ada dihadapannya. Kedua matanya menatap jeli pantulan wajahnya, lelaki itu menatap dengan seksama. Sehun sadar jika ia memang terlihat idiot, ia tau itu dan bahkan sangat tau.

Terkadang ada sebuah perasaan dalam hatinya jika ia ingin menjadi manusia normal. Lelaki itu tersenyum sinis dalam hatinya, tidak akan. Sehun tidak akan normal sebelum ajal menjemputnya.

Lelaki itu menundukkan kepala takut menatap pantulan wajahnya di cermin. Inilah alasan kenapa Sehun tidak pernah marah ketika semua orang memanggilnya idiot, karena ia tau jika ia memang terlihat seperti orang idiot.

Sehun mengambil nafas yang sangat menyesakkan baginya, rasa sakit dalam hatinya kembali menguar. Sehun ingat ketika ia duduk disudut kamar sendirian tanpa ada satupun yang mau menolehkan kepalanya pada Sehun. ia ingat ketika ibunya menghembuskan nafas terakhirnya, tidak ada satupun yang peduli pada mereka.

Lelaki itu menatap deretan angka yang tertulis dalam kertas didepannya. Hari ini tepat pada tanggal 27 Juni, tepat kematian ibunya setelah lima tahun yang lalu. Lalu Sehun mengalihkan pandangannya pada sebuah foto yang usang yang masih setia duduk di meja kecil miliknya.

Dua orang yang tersenyum lebar menghadap ke kamera. Mereka adalah Sehun dan Yuri, seorang anak yang tersenyum lebar dalam pelukan ibunya. Mereka berdua tidak tau jika takdir membuat mereka terpisah.

Air mata Sehun mengalir, rasa sesak kembali menguar di dadanya. Lidahnya kelu, tidak ada satupun kalimat yang bisa ia lontarkan. Semuanya terasa sangat sulit. Sehun sangat menyayangi ibunya lebih dari apapun. jika ia bisa, ia akan kembali ke masa lampau dan meninggalkan ibunya.

 

Die In Your Arms

 

Seorang lelaki berdiri menatap batu yang tertancap ditanah merah. Lelaki itu bisa merasakan jika uluh hatinya meretak. Ia juga bisa merasakan sayatan tajam yang menggores hatinya dengan sangat dalam. Kedua iris hazelnya menatap tanah rata yang tidak pernah tersentuh oleh bunga.

Air mata yang sebelumnya menggenang jatuh membasahi pipi milik Sehun. ia berjongkok lalu menaruh bunga lilly pertamanya. Ia mengusap batu nisan dengan rasa sayang yang tulus. Lelaki bernama Sehun itu memejamkan matanya dan fokus berdo’a pada tuhan agar ibunya berada di sisi orang-orang yang baik.

Ia membuka kedua matanya lalu menghela nafas yang menyesakkan, “Eomma… Sehun rindu,” ujarnya.

Sehun mengambil tanah dimakam itu lalu menggenggamnya erat, lima tahun lamanya ia hidup tanpa kasih sayang ibunya. Lelaki itu menangis, aliran air matanya semakin deras. “Jemput Sehun, sekarang… cepat eomma..” tangisnya.

Lelaki itu mencurahkan seluruh isi hatinya pada butiran pasir didepannya. Sehun juga berbicara tentang kebaikan ayahnya, Hyungnya, Jung ahjumma dan Yoona. Mulutnya sama sekali tidak berhenti mengucap kebaikan sang ayah juga kakaknya. Tentu saja seratus kata dari kalimat Sehun tentang keluarganya adalah bohong.

Sehun melepas genggamannya pada tanah merah itu, lalu ia mengecup batu nisan dengan lembut. Sehun berdiri lalu membungkuk sebagai tanda penghormatan untuk ibunya, sebelum itu ia menyempatkan untuk meminta maaf karena ini adalah pertama kalinya sejak lima tahun yang lalu.

Lalu ia melambaikan tangannya pada makam sang ibu dan segera melangkahkan kakinya meninggalkan pemakaman tersebut. Sehun berjalan dengan kepala yang tertunduk. Ia tidak mempedulikan jika banyak orang menggunjingkan penampilannya. Sehun terlalu lelah, lagipula telinga dan matanya seolah kebal dengan apa yang dikatakan oleh orang lain.

Lelaki itu menatap kakinya yang sedang melangkah tanpa melihat apapun yang ada didepannya. Bahkan sesekali ia menabrak orang, namun Sehun tidak peduli dan tidak ingin peduli. Ia hanya ingin mengikuti langkahnya,

 

Die In Your Arms

“Sehun-ah.”

Suara itu mengalihkan seorang yang hanya berdiam diri dipinggir jalan dengan tatapan kosong. Kedua iris hazelnya menatap seorang gadis bermata rusa yang menatapnya dengan senyuman tipis diwajahnya.

Grep.

Sehun tidak tau, sarafnya yang menyuruhnya memeluk gadis itu. lelaki itu menenggelamkan kepalanya dibahu Yoona, tidak peduli ribuan orang menatap mereka aneh. Sehun hanya ingin menenangkan hatinya, hati yang selalu tanpa isi.

Yoona tidak mengatakan apapun, ia tidak ingin bertanya meskipun ribuan pertanyaan muncul dalam otaknya. Gadis tomboy itu terlalu mengerti apa yang dirasakan Sehun saat ini. Sehun hanya butuh sandaran, hanya itu.

“Eomma… pergi hari ini, Sehun ingin ikut… tapi kenapa tidak bisa? Bisa antar Sehun ke eomma?”

Yoona sangat mengerti apa yang dikatakan Sehun. gadis itu cukup peka dengan apa yang dirasakan Sehun, ia membalas pelukan Sehun. “Anio… belum saatnya Sehun-ah, kau tidak boleh bertemu eommamu dulu. Harimu masih panjang,”

Gadis itu melepas pelukan Sehun, ia menatap wajah pucat yang ada didepannya. Raut wajah yang sama ketika ia pertama kali bertemu, raut yang penuh kekonyolan namun sejuta kesedihan didalamnya.

Yoona tidak bisa membayangkan jika dirinya penderita savant syndrome. Ia mungkin tidak akan pernah bisa menunjukkan apa isi hatinya. ketika ia ingin marah, ada senyuman idiot yang selalu menempel diwajahnya. Ketika ia sedih, tertawa justru menghampirinya.

Yoona menatap iris hazel itu, iris yang selalu menggetarkan jiwanya.

“Bawa aku pergi dari sini, bisakah kau membuatku melupakan segalanya Yoona?” Sehun mengatakan kalimat itu dengan sangat jelas hingga membuat Yoona tertegun,

Yoona mengeluarkan senyum cantiknya, “Baiklah, aku akan membawamu pergi ke suatu tempat.”

 

Die In Your Arms

 

Seorang lelaki menatap aliran air yang membasahi kaca mobilnya. Lelaki itu sama sekali tidak bergerak, pandangannya terfokus pada air yang perlahan turun dengan suara gemuruh diatasnya. Lelaki itu terdiam, sesekali ia lupa bagaimana caranya mengambil nafas.

Sakit.

Satu kata dari jutaan kata yang bisa mewakilinya, lelaki bermarga Oh itu mendesah pelan. Ia menatap jam yang melingkar di tangan kanannya. Dua jam sudah ia habiskan untuk berdiam diri di mobil. Luhan mengalihkan pandangannya pada beberapa bunga berwarna kuning disampingnya. Seharusnya lelaki itu telah menaruh bunga itu dari tadi.

Tidak!

Bahkan Luhan tidak tau apakah seorang wanita yang akan ia beri bunga menyukai bunga matahari. Luhan terlalu bodoh untuk memahami wanita yang satu ini, wanita yang membuatnya melupakan apa itu kasih sayang, wanita yang sangat ia benci.

Lelaki itu keluar dari mobilnya, ia seolah lupa jika hujan sedang mengguyur seoul hari ini. Lelaki itu keluar tanpa membawa payung, ia merasa jika hujan akan meredamkan kebenciannya. Luhan berjalan menapaki tanah merah yang sudah tercampur air.

Lelaki itu benar-benar lupa dimana tempat peristirahatannya, atau mungkin lelaki itu benar-benar tidak tau dimana tempat wanita itu disembunyikan oleh bumi. Namun ketika ia melihat sebuah papan nama bertuliskan Kwon Yuri. Luhan berjongkok lalu menaruhkan bunga matahari di makam tersebut.

“Bolehkah aku kesini? Melihat orang yang tidak pernah menyayangiku? Melihat orang yang terbujur kaku dan menjadi tulang. Bolehkah aku membakarmu? Bolehkah aku menghancurkanmu… eomma,?”

Senyuman sinis tersungging dalam bibirnya, ia menatap bunga yang berwarna putih didepannya. Bukan itu bukan bunga matahari yang dibawanya, lelaki itu sudah tau jika seorang idiot dengan tampang orang gila yang datang ke pemakaman ini.

“Aku tidak tau jika kau menyukai bunga lillly, atau mungkin aku  benar-benar tidak mau tau tentangmu? Tunggu… aku ingin bertanya, Bisakah kau menjelaskan semuanya padaku? Kenapa kau memberikan idiot itu ketika kau mati? Bukankah seharusmya kau tau jika kami membenci anak idiot itu?”

Lelaki itu tertawa sinis, menertawakan kebodohannya berbicara dengan pemakaman kumuh didepannya. Ia mencengkram tanah didepannya dengan geram. Lelaki itu marah, ia marah pada tuhan yang telah memberikannya adik seorang idiot. Lelaki itu juga marah ketika tuhan mengambil nyawa sang ibu, lelaki itu marah pada tuhan yang memberikannya takdir yang kejam.

Luhan bangkit dari tempatnya, lalu meninggalkan tanah yang basah itu tanpa memberikan salam perpisahan. Luhan berharap jika hujan akan menghapus jejaknya, agar semua orang tidak pernah tau jika ia pernah mendatangi makam sang ibu.

 

Die In Your Arms

 

Dua orang berbeda gender tengah berjalan bergandengan tangan dengan senyuman yang menghiasi wajah mereka. Seorang lelaki dengan tampang idiotnya terus tertawa sepanjang jalan. Sesekali ia meneriakkan suara jika ia bahagia.

“Sehun senang… permen… Yoona memberi permen.”

Lelaki itu berteriak kencang sambil sesekali berlari-lari kegirangan. Namun gadis tomboy dibelakangnya sama sekali tidak malu, gadis itu justru mengerluarkan senyum cantiknya. Yoona bukanlah wanita yang jijik akan kata ‘idiot’.

“Hya! Sehun-ah! berhenti! Kau bisa jatuh jika terus berlari seperti itu!”

Namun Sehun tidak mempedulikannya, lelaki itu tertawa bahagia. Entahlah, sarafnya benar-benar mau menunjukkan ekspresi bahagia. Namun, karena lelaki jangkung itu ceroboh. Ia tidak melihat sebuah batu besar ada dihadapannya.

Bruk~

Lelaki itu jatuh tersandung oleh batu didepannya. Sehun terduduk, lalu menatap lututnya yang berdarah. Sehun hanya menatap darah didepannya dengan pandangan kosong. Memang terasa sakit, dan lelaki itu bisa merasakannya. Namun ada suatu hal yang aneh ketika ia menatap darah yang mengalir didepannya.

Sehun terdiam, ia sama sekali tidak meringis  karena luka itu. lelaki itu mengingat masa kelamnya, ingat ketika ia datang sebagai siswa baru di Coreland dan Big gangster memukulinya hingga ia mengeluarkan darah di kepalanya dan bibirnya.

“Hya Sehun-ah! bukankah aku tadi sudah bilang untuk berhent berlari? Kenapa kau tidak mau mendengarkanku?”

Sehun menatap Yoona dengan pandangan kosong. Lelaki itu mengingat segalanya, mengingat semua kesakitan yang pernah ia alami. Mulai dari Luhan yang mendorongnya hingga ia terbentur meja kayu, semua kejahatan yang pernah dilakukan oleh semua orang padanya.

“Darah… Yoona-sshi, ini darah… Sehun banyak mengeluarkan darah… banyak… Sehun ingin mereka mengeluarkan darah, boleh? Tidak… Sehun tidak boleh… itu tidak baik.. ingat kata eomma.”

Lelaki itu memukul keras kepalanya hingga membuat Yoona bingung, Sehun mengamuk secara tiba-tiba. Lelaki itu menjambak rambutnya kasar, dan memukul lututnya yang mengeluarkan darah. Wajah Sehun memerah, seolah penderitaan dan dendam menguasainya.

“SEHUN! APA YANG KAU LAKUKAN!! HENTIKAN SEKARANG JUGA.” Bentak Yoona kasar.

Namun lelaki itu tak kunjung berhenti, ia terus mengumpat akan kesalahannya. Ia mengumpat akan kebaikannya. Ia mengumpat karena kebodohannya. Lelaki itu bingung, ia bingung dengan dirinya sendiri.

Yoona mencengkram tangan Sehun, memaksa lelaki itu agar berhenti melakukan tindakan bodoh yang menyakiti dirinya sendiri. Yoona menatap wajah yang merah itu, ia menatap iris hazel yang penuh kesakitan.

“Sehun-ah, apa yang kau lakukan?” Suara Yoona mereda. Gadis itu  bisa merasakan perasaan Sehun.

Yoona memeluk Sehun erat. Gadis itu tidak mengerti dengan sikap Sehun yang tiba-tiba. namun sesenggukan kecil yang keluar dari bibir lelaki itu membuatnya terdiam. Sehun menangis, Yoona bisa merasakan pundaknya yang basah oleh air mata Sehun.

                                               

Die In Your Arms

 

Dentuman musik menggema di seluruh sudut ruangan. Gemerlap lampu menyinari ruangan besar tersebut. Aroma anggur menyeruak dari tempat setan itu, beberapa wanita berpakaian minim tengah mengerubungi dua orang lelaki yang duduk dimeja bartender.

Lelaki bermata bulat yang tidak lain adalah Kyungsoo menatap jijik kumpulan gadis yang menatapnya dengan penuh gairah. Lelaki itu benar-benar tidak terbiasa duduk ditempat yang seperti ini, walaupun ia bersikap tidak sopan dan kaya raya. Ia tidak mau datang ke tempat seperti ini.

“Hei kalian semua! Bisakah kalia pergi?! Kalian benar-benar menjijikkan!” bentaknya.

Dan tak lama setelah itu wanita penghibur itu menjauhi dua orang tampan itu. kyungsoo menatap seorang lelaki yang dari tadi mengamati sebuah gelas bersisi anggur yang belum disentuhnya, Kyungsoo menghela nafas lalu menyerobot wine itu dan menaruhnya di meja bartender tanpa berniat untuk menyentuhnya,

“Kau benar-benar gila! Apa ini yang kau maksud dengan menghilangkan beban?” tak terasa nada bicara kyungsoo mulai meninggi.

Chanyeol menatap sahabatnya lalu menghela nafas pelan, memang tidak seharusnya ia datang ke tempat ini. Chanyeol juga bukan orang bodoh yang mudah tergoda dengan wanita murahan dan melakukan kegiatan ‘bersenang-senang’ lelaki itubenar-benar tidak tau alasannya untuk pergi ke tempat ini.

Tanpa berkata apapun, Chanyeol hanya mengendikan bahunya pelan dan meneguk anggur merah yang tersaji didepannya. Rasa wine ini sangat aneh, pikirnya. Lelaki itu merinding ketika wine pertama masuk kedalam tubuhnya. Namun ada rasa ketagihan yang membuat Chanyeol menyuruh bartender menuangkan wine lagi.

“Aku tidak menyangka jika ternyata kau adalah orang yang bodoh! Dan mungkin tolol. Ahh, bahkan idiot jauh lebih terhormat dari pada kau!”

Ucapan itu terdengar sinis di telinga Chanyeol. Namun ia mengabaikannya dan memilih untuk meneguk wine yang membuatnya ketagihan. Rasa wine itu sama, tidak enak dan menjijikkan. Namun Chanyeol mulai menyukainya.

Kyungsoo menyerobot gelas ke empat yang akan diteguk Chanyeol, lelaki bermata bulat itu menggeleng pelan, sesekali ia mengumpat bagaimana bisa seorang ahli biologi yang sangat memperhatikan kesehatan meneguk sebuah cairan merah yang tak bisa ia bayangkan rasanya.

“Beri aku segelas lagi… Aku ingin meminumnya… Melupakan semua… Melupakanmu, Melupakannya, Melupakan kita.” Racau Chanyeol.

“Ya tuhan! Kau mabuk! Apa yang harus ku lakukan? Bagaimana mungkin empat gelas bisa membuatmu seperti idiot itu? Hya!!!” bentak Kyungsoo sambil mengeluarkan bogem mentahnya.

Chanyeol menahan tangan Kyungsoo lalu ia mengelusnya dengan lembut, “Kau tau ini tidak mudah… tapi kupikir kita berdua cocok.”

Kyungsoo mencoba untuk menahan gejolak yang ada diperutnya ketika ia mendengar rentetan kalimat yang dikeluarkan oleh Chanyeol. Lelaki itu membulatkan matanya ketika Chanyeol mengelus tangannya dan mendekat kearahnya perlahan-lahan.

“Astaga! Apa yang terjadi padamu Park-hmmph”

Lelaki itu tidak bisa berkata apapun ketika bibir Chanyeol menempel pada bibirnya. Kyungsoo mendorong Chanyeol kuat agar bibir mereka terlepas. Lelaki itu benar-benar tidak bisa berkata apapun, bibirnya telah ternodai. Ia hanya bisa melemas, dan jatuh ke lantai klub karena Shock berat. Ciuman pertamanya diambil oleh seorang LELAKI!

Kyungsoo menatap Chanyeol yang sedang menumpukkan kepalanya dimeja bartender, Kyungsoo mendesah. “Aku benar-benar menyesal menjadi sahabatmu, sungguh! Bisakah aku mati sekarang?”

Kyungsoo berdiri, ia meninggalkan Chanyeol sendiri di bar itu. lelaki itu sangat ingin membasuh dirinya dengan air. Kyungsoo ingin membersihkan dirinya, terutama bibirnya.

 

 Die In Your Arms

 

“Semuanya datang…. Mereka minta Sehun mati, mereka membuat Sehun mengeluarkan darah. Appa, Hyung, Semua…”

Gadis itu mengelus punggung Sehun mencoba menenangkan, “Jika semua orang membencimu, aku tidak akan. Jika semua orang ingin kau mati tapi aku tidak akan. Jika semua orang ingin menghancurkanmu aku akan melindungimu.”

Lelaki bertubuh besar  itu mengeluarkan air matanya. Ia menangis tersedu-sedu, “Sehun idiot… Ya… Sehun idiot.. mereka benci Sehun… Sehun anak bodoh… idiot… Sehun monster.” Ujarnya pelan.

Yoona mengelus rambut Sehun, “Tidak… Kau bukanlah idiot, kau adalah malaikat. Bukankah anak idiot tidak mengerti segalanya?” gadis itu melepas pelukannya, lalu menatap wajah Sehun dengan seksama. Ia menangkup kedua pipi itu,

“Kau mengerti semuanya Sehun-ah, kau mengerti bagaimana cara memecahkan masalah. Kau mengerti untuk tidak membalas kesakitanmu, kau mengerti kasih sayang sementara kau tidak mendapatkannya. Kau bukanlah idiot, benar-benar bukan. Dan kau bukanlah monster karena kau mempunyai hati selembut sutra,” ujar Yoona panjang lebar.

Yoona menghapus air mata yang mengalir dari pelupuk mata Sehun. gadis itu mengerti jika Sehun tidak punya pegangan hidup. Lelaki itu masih membutuhkan seseorang seperti ibu yang terus menyayangi dan melindungi anaknya. Dan Yoona akan mencoba untuk menjadi ibu, teman, sahabat, kakak, adik untuk Sehun.

Sehun menatap iris madu didepannya, lelaki itu bersyukur karena tuhan masih mau memberikannya seorang wanita yang mau menjadi teman Sehun. lelaki itu menampilkan senyumnya, senyum terbaiknya dan hanya akan ia tujukan pada satu orang yakni Yoona.

Everybody wanna steal my girl. Everybody wanna take her heart away Couple billion in the whole wide world. Find another one cause she belongs to me
Nananana~ Nananana~

Suara deringan handphone membuyarkan lamunan mereka. Yoona segera merogoh ponselnya yang ada dibalik saku jaket tebalnya. Gadis itu mengernyitkan dahinya ketika melihat nomor yang tidak ia kenal masuk ke handphonenya. Dengan rasa penasaran, Yoona mengangkatnya.

“Yeoboseyo…”

“……………………………”

“Tunggu! Ini siapa? Apa kau mabuk? Hya!”

“……………………………..”

“Apa??!! Bagaimana kau tau ini nomor handphoneku? Dan apa kau bilang? Kau ada di apartementku?

Apa kau gila?

Yoona memutuskan percakapan diantara mereka secara sepihak. Gadis itu menatap Sehun yang memberikan tatapan-siapa-itu- Namun Yoona memilih untuk tidak menjawabnya. Gadis itu menatap Sehun dengan pandangan yang sulit diartikan.

“Dengarkan aku Sehun-ah, aku harus pergi sekarang. Keadaannya sangat darurat dan aku tidak bisa mengajakmu,”

Sehun menatap Yoona, lelaki itu menggenggam tangan Yoona lalu menggeleng pelan. “Anio! Tidak boleh… Yoona tidak boleh pergi… Sehun takut… Yoona harus disini,”

Berat rasanya gadis itu meninggalkan Sehun sendirian. Namun apa yang terjadi di apartementnya jauh lebih membuatnya pusing dibandingkan Sehun. gadis itu menangkup kedua pipi Sehun, “Sekali lagi dengarkan aku, aku tidak akan pergi meninggalkanmu. Aku akan kembali kesini secepatnya. Dan kau harus menungguku di halte ini. Jangan pergi kemanapun ketika kau tidak bersamaku, dengar.. kau harus menunggu disini sampai aku datang. Arasseo?”

Ingin sekali Sehun menjawab tidak, namun sarafnya tidak mau membantunya. Lelaki itu menganggukkan kepalanya dan hanya diam ketika melihat Yoona yang membelakanginya dan berjalan menjauh darinya. Lelaki itu memilih untuk dudukdi halte bus terdekat sama seperti apa yang Yoona perintahkan.

 

Die In Your Arms 

Seorang lelaki dengan keadaan seperti orang mabuk mengetuk pintu didepannya dengan keras. Namun tak ada satupun yang ingin membukanya, lelaki itu datang dengan keadaan yang sangat kacau. Rambutnya basah dan berantakan.

Merasa tidak ada jawaban, lelaki itu memutuskan untuk membuka pintu itu dengan password yang ia ingat. Lelaki itu masuk ke dalam ruangannya dan menidurkan dirinya ke sebuah sofa yang terasa sangat empuk dan nyaman untuknya.

CKLEK!

Seorang wanita buru-buru masuk kedalam apartementnya, ia menatap sekelilingnya yang gelap dan memutuskan untuk menyalakan lampu apartement. Gadis itu menatap jaket, sepatu sneaker, yang berserakan dilantainya.

“Apa kau ada disini?” ujar Yoona dengan rasa takut.

Tak ada jawaban. Namun Yoona mendengar sebuah dengkuran halus dari balik sofa biru yang membelakanginya. Gadis itu mendekat dan menemukan seorang pria yang tertidur dan sesekali meracau tak karuan. Yoona mendekat, gadis itu shock bagaimana mungkin lelaki didepannya itu tau dimana ia tinggal.

“Luhan Sunbae.”

Yoona mendekat, dan mengguncang bahu lelaki didepannya. Namun tiba-tiba ada pergerakan kilat yang dikeluarkan oleh Luhan. Lelaki itu menahan tangan Yoona dan menariknya membuat wajah keduanya sangat dekat. Yoona bisa merasakan nafas Luhan yang menerpa wajahnya, gadis itu menarik nafas ia sempat lupa bagaimana caranya bernafas.

“Biarkan aku disini,”

Suaranya tidak terdengar seperti orang mabuk. Luhan bahkan membuka kedua matanya dan menatap wajah Yoona dengan seksama. Perlahan wajah Luhan mendekat kearah Yoona hingga jarak diantara mereka hanya terpaut beberapa senti.

Yoona mengalihkan pandangannya, gadis itu bangkit dari tempat duduknya. “Kau bisa tinggal di tempatku, aku akan pergi dari sini.” Ujarnya dingin.

Sret!

Tangan Yoona ditahan dan ditarik oleh Luhan hingga gadis itu terduduk di pangkuan Luhan. Gadis itu terkejut dan bersiap untuk menampar Luhan, namun ketika ia menatap aliran darah yang mengalir dari hidung Luhan membuatnya mengurungkan niatnya.

“Kau- mimisan,” ujar Yoona.

Gadis itu menatap wajah Luhan yang terlihat pucat. Lelaki itu menggigil kedinginan, dan Yoona baru sadar jika pakaian yang dikenakan oleh Luhan basah. “Kau! Apa kau baik-baik saja?” tanya Yoona khawatir.

Yoona segera meletakkan tangannya ke dahi Luhan, gadis itu kaget ketika suhu badan Luhan tinggi. “Ya tuhan! Kau juga demam!” Yoona segera bangkit namun lagi-lagi tubuhnya ditarik oleh Luhan hingga ia duduk di pangkuannya lagi.

“Bisakah kau merawatku? Untuk kali ini saja,” pinta Luhan.

Yoona mengangguk tanpa berpikir panjang. Gadis itu segera bangkit dan mengambil kotak P3K. ia mengambil kapas dan beberapa obat-obatan untuk Luhan. Gadis itu duduk tepat dihadapan Luhan dan menghapus aliran darah yang keluar dari hidung Luhan.

Lelaki itu tidak bergerak ketika gadis didepannya mengobatinya, ini bukan karena Luhan gugup ketika di dekat Yoona melainkan lelaki itu merasakan jika kepalanya sangat pusing dan berat. Hanya itu,

Yoona menyuruh agar Luhan membaringkan tubuhnya ke sofa biru, gadis itu segera meletakkan handuk basah di dahi Luhan. “Kau hanya perlu beristirahat, aku akan meninggalkanmu.”

Tangan Yoona ditahan oleh Luhan. Lelaki itu berbicara dengan suara seraknya, “Jangan tinggalkan aku.”

 

Die In Your Arms

 

Seorang lelaki duduk ditengah dinginnya malam yang menusuk kulitnya, sesekali ia menggigil pelan ketika udara dingin memasuki celah tubuhnya. Lelaki itu menatap jalan raya didepannya dengan penuh harapan.

Detik dan detik berlalu, lelaki itu bisa merasakan jika jarum jam telah berputar. Lelaki itu duduk ditempat yang sama tanpa ingin meninggalkannya sedikitpun, ia hanya menunggu kedatangan seseorang yang tidak tau kapan akan datang.

Mobil yang semula berlalu lalang menghilang bagai ditelan waktu. Bodoh! Satu dari sejuta kata yang pantas untuk dideskripsikan tentang Oh Sehun. ia terus menunggu Yoona, hanya Yoona. ingin sekali Sehun menelpon Yoona. namun lelaki itu terlalu miskin untuk tidak mempunyai handphone.

Tanpa ia sadari seorang lelaki berjaket hitam berwajah menyeramkan mendekatinya. Lelaki berpostur preman itu menatap Sehun dengan sorot mata tajamnya. “Sebentar lagi waktumu akan habis,” batinnya.

Pria itu menatap sekelilingnya, keadaan disekitarnya sangatlah sepi hingga ia memberanikan diri untuk menjalankan rencananya. Ia mulai berjalan mendekat kearah lelaki yang sedang menggigiti kukunya itu. sesekali ia mengumpat jijik melihat tingkah idiot itu.

“Ahjusshi… Nuguseyo?”

Kedua mata pria itu menatap Sehun dengan tajam. Ia menarik kerah baju Sehun dengan kasar. “Sehun, ternyata ini kau! Tidak sulit bagiku untuk membunuhmu!” desisnya.

Sehun meneguk salivanya dalam-dalam. Keringat mulai mengalir di dahinya. Lelaki itu bergetar ketakutan, wajah seorang pria didepannya benar-benar menakutkan. Sama seperti preman, atau mungkin pria didepannya adalah seorang pembunuh atau perampok.

“Ahjusshi.. Sehun tidak mati.. Sehun mau hidup… Yoona… ada Yoona, Sehun menunggunya. Sehun tidak boleh mati,” ujarnya terbata-bata.

Gelak tawa teredengar dari pria berpakaian hitam itu. ia tersenyum sinis menatap ketololan anak ingusan didepannya. “Tapi aku harus membunuhmu,”

“Ahjusshi~ Aarggghh!”

Rambut Sehun dijambak dengan sangat keras oleh pria bertubuh besar didepannya. Kepala Sehun dibenturkan ke tiang besi halte. Aliran darah mengalir dari kepala Sehun dengan deras. Sehun tidak bisa menyembunyikan rasa kesakitannya.

Bugh!

Pria itu memukul perut Sehun dengan keras hingga anak malang itu tersungkur ke tanah. Sehun memuntahkan belasan liter darah, ia masih mampu meminta maaf pada pria bertubuh besar dihadapannya. “Ahjusshi… uhuk.. Jeosong habnida… Sehun nakal.” Ujarnya.

Tubuh ringkih itu ditarik dengan keras lalu dihempaskan ke tempat duduk halte.

Bugh~

Pria itu memukul perut Sehun untuk kedua kalinya, lalu ia mendorong Sehun hingga tubuh lemasnya tergeletak di tanah. Tendangan keras juga mengenai kaki dan perut Sehun. sehun berteriak kesakitan, sesekali ia mengeluarkan air matanya karena tidak tahan akan pukulan yang ia terima.

Pria preman itu mengeluarkan benda yang berujung tajam. Ia menusukkan pisau itu ke perut Sehun sebanyak tiga kali. Untuk kesekian kalinya, pria preman itu menjambak rambut Sehun dan mendorongnya ke tanah. Ketika ia yakin dalam hitungan detik Sehun akan mati, ia memutuskan untuk segera pergi dari halte tersebut.

Sehun masih memuntahkan darah dari mulutnya. Belum lagi perutnya yang teru mengalirkan darah, kedua matanya menatap langit yang mendung. Air mata mengalir dari sudut matanya, Sehun membatin, ‘Inikah akhir dari segalanya, tuhan? Apakah ketika aku mati aku tetap idiot yang dibenci orang? Apakah ini penderitaan terakhirku? Aku meninggal tanpa ada siapapun yang memelukku. Tapi terima kasih untukmu karena telah memberiku kesempatan untuk menjajal dunia ini. Satu hal, Aku mencintaimu Yoona~’

Sehun menutup kedua matanya dan menahan kesakitannya. Ia hanya berharap satu hal, agar semua orang yang dulu membencinya tidak pernah mendapat kebencian dari orang lain. Lelaki itu juga berdo’a akan kebahagiaan Luhan, ayahnya, Chanyeol, dan terutama Yoona. seorang wanita yang membuatnya merasakan indah dan kejamnya dunia.

Dengan sisa tenaga yang masih ada, ia mengambil sebuah permen kecil yang ada di saku celananya. Permen coklat kesukaannya bercambur dengan darah, Sehun tersenyum dan menggenggamnya. “Yoo-Yoona-sshi khamsahabnida~” ujarnya terbata-bata.

 

    Die In Your Arms

 

Gadis itu terbangun ketika mendengar seseorang memanggilnya. Ia menatap jam yang menempel di dinding apartementnya. ‘ Pukul 12 malam,’ batinnya. Tiba-tiba ia teringat akan seseorang yang mungkin masih menunggunya dengan tampang idiotnya.

Yoona menatap sofa yang kini kosong didepannya. Tidak ada lelaki bernama Oh Luhan lagi, namun Yoona tidak memusingkannya. Tubuhnya tergerak untuk berdiri dan keluar dari apartementnya tanpa ingin menutup pintunya.

Air matanya mengalir, jantungnyaberdetak tidak karuan. Gadis itu tetap berlari, ia merasakan sesuatu  hal yang mengganjal, Yoona menuju parkiran dan mengambil kunci motornya. Ketika ia menyalakan motornya, motor tersebut tidak mau menyala.

Gadis itu mendesah, tanpa berkata apapun ia memilih untuk berjalan kaki atau bisa disebut lari. Hanya ada seseorang yang ada dipikirannya, yakni Sehun. gadis itu takut jika Sehun masih menunggunya, masih menunggu kehadirannya.

Rintik hujan tidak menghalanginya untuk berhenti, gadis itu tidak perduli jika ia tidak mengenakan jaket saat ini. Ia juga tidak peduli ketika gemuruh mengeluarkan nyanyiannya. Ia tidak takut ketika gemuruh menyambarnya, karena hanya Sehun yang paling ia takutkan.

Hujan bisa merasakan penderitaan yang dialami oleh Yoona maupun Sehun, jangan salahkan awan yang menangis ketika melihat dan mengutuk penderitaan Sehun. bisakah kita menyalahkan takdir yang terlalu kejam untuk Sehun maupun Yoona?

Gadis itu berlari meski rasa lelah menghampirinya. Kurang dari satu kilometer lagi ia sampai, dan butuh waktu sepuluh menit untuk sampai di halte itu. gadis itu berusaha mempercepat langkahnya,

Detik demi detik berlalu. Gadis itu sudah sampai di dekat halte itu. namun sebuah hal mengusiknya.  Seorang lelaki dengan tubuh bersimbah darah terkapar tak berdaya dengan tangan memegang sebuah lollipop kecil pemberiannya.

Yoona tak bisa menahan air matanya, ia segera berlari dan memeluk lelaki itu. “SEHUN!!! APA YANG TERJADI?” teriaknya.

Sebuah keajaiban datang, lelaki bermarga Oh itu masih mampu membuka matanya. Ia mengeluarkan senyum terbaiknya, sulit baginya untuk mengeluarkan kata-kata. Air mata Sehun mengalir, sungguh! Lelaki itu tidak mau pergi. Ia tidak mau menutup matanya untuk terakhir kali, ia maish ingin didekat Yoona. Sehun memaksakan dirinya, tak sadar jika itu sangat mempengaruhi kondisi fisiknya.

“Yoona-sshi.. Naneun… Nan jeongmal sa-rang…habnida.” Ujarnya dengan sangat pelan namun masih teerdengar di telinga Yoona.

Yoona memeluk Sehun erat, air matanya tidak mau berhenti. “Nado…”

 

Die In Your Arms

 

Seorang lelaki terbaring lemah disebuah ranjang berwarna putih. Aroma obat-obatan menguar di sekelilingnya. Disampingnya seorang gadis terus menemaninya sepanjang malam. kedua mata rusa gadis itu sama sekali tidak menunjukkan rasa elah.

Yoona memeluk tangan Sehun dengan erat dan sesekali mengelusnya pelan. Gadis itu sama sekali belum beranjak dari tempat itu dari kemarin. Ia bahkan lupa kapan ia memakan sebutir nasi. Gadis itu lebih memilih untuk memandangi wajah pucat pasi didepannya. Gadis itu menghela nafas perih, wajah yang penuh lumuran darah masih terekam jelas di memori otaknya.

Air matanya turun. ia tidak bisa berkata apapun, yang hanya bisa ia lakukan saat ini adalah menyesal. Andai jika ia tidak pergi meninggalkan Sehun. andai jika ia lebih memilih untuk menemani lelaki itu dan melupakan seorang sunbae yang masuk ke apartementnya. Bahkan kata ‘Andai’ menyesakkan hatinya.

Kedua mata Yoona sembab, sulit rasanya untuk menghentikan tangisnya. Gadis itu mengelus wajah yang terlihat semakin pucat. Belum lagi selang infus yang membantu Sehun bernafas membuat lelaki itu terlihat kesulitan untuk bernafas.

Yoona benar-benar tidak bisa mengatakan apapun ketika ia melihat lelaki itu dengan tiga tusukan di perutnya. Gadis itu tidak tau bagaimana bisa orang sebaik Sehun dibunuh dengan keji. Untungnya Yoona datang tepat sebelum Sehun kehilangan detik-detiknya. Gadis itu bergidik ngeri ketika membayangkan Sehun akan pergi.

“Mianhae… Nan jeongmal mianhae,” ujarnya dengan isak tangis didalamnya.

Pergerakan sedikit demi sedikit bisa Yoona rasakan ketika Sehun mencoba menggerakkan tangannya. Gadis itu menatap Sehun dengan pandangan yang tidak bisa diartikan, ia terkejut melihat tangan Sehun yang mulai bergerak perlahan.

Sehun mengerjap-erjapkan kedua matanya menatap cahaya yang masuk ke indra penglihatannya. Lelaki itu mengeluh pelan ketika sinar yang masuk terlalu banyak untuknya. Sehun mendesah pelan ketika rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya.

“Sehun-ah…”

Suara itu menyadarkannya, Sehun menatap sekelilingnya dengan lambat hingga seorang gadis berdiri dengan kedua mata sembab disampingnya. Lelaki penderita savant syndrome itu melengkungkan kedua bibirnya. Ia bahagia menatap gadis yang sangat ia rindukan.

“Apa kau baik-baik saja? Aku akan-”

Kalimat itu terputus ketika Sehun menahan  lengan Yoona. lelaki itu menggeleng menandakan jika gadis didepannya tidak boleh pergi meninggalkannya. “Andwe… Tidak boleh.” Ujarnya dengan sangat pelan dan lirih.

Yoona mendudukkan dirinya di kursi  di dekat ranjang Sehun. gadis itu mengelus rambut Sehun dengan sayang, “Aku benar-benar takut terjadi sesuatu padamu Sehun-ah. bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi? Seharusnya aku tidak boleh meninggalkanmu, mungkin semua itu-”

Lagi-lagi kalimat yang akan dilontarkan oleh Yoona terputus tatkala Sehun menempelkan telunjuknya ke bibir Yoona. lelaki itu tersenyum tipis lalu menggeleng pelan, “Gwaenchana… Sehun baik. Yoona tidak boleh sedih,” ujarnya pelan.

Lelaki itu memilih untuk mengubah posisi tidurnya agak kesamping. Lalu ia menepuk bantal disampingnya mengartikan jika Yoona harus tidur bersama disampingnya. Yoona menggeleng keras, “Apa kau gila? Kau sedang sakit Sehun-ah.” ujarnya namun lengannya ditarik kuat oleh Sehun.

Yoona membaringkan dirinya disamping Sehun, ukuran ranjang rumah sakit ternyata cukup untuk mereka berdua. Gadis itu membalikkan badan dan menatap Sehun dengan dekat. Wajah pucatnya masih sama, luka lebam yang ada di dahi maupun di wajahnya sama sekali belum menghilang, hal itu membuat Yoona semakin merasa bersalah.

Sehun menutup matanya dan menggenggam tangan Yoona agar gadis itu tidak akan pergi meninggalkannya. Karena Sehun takut, ia akan sendirian untuk ketiga kalinya. Ia tidak mau ada jarak yang memisahkan mereka. Lelaki itu lebih memilih untuk mellingkarkan tangannya ke pinggang Yoona dan memeluk gadis itu erat

Mungkin jika dulu Sehun selalu berdo’a untuk mati kini lelaki itu memilih untuk bertahan hidup. Ia ingin hidupnya merasa bahagia walaupun itu cuma sekali, Sehun tidak mau kehilangan ataupun meninggalkan Yoona. dia bahkan takut untuk membayangkannya.

Yoona hanya bisa diam ketika Sehun memeluknya erat, gadis itu memilih untuk tidak berkata apapun dan membalas pelukan Sehun. mereka berdua melelapkan dirinya berusaha untuk melupakan semua kejadian yang telah terjadi. Karena menurut mereka, mimpi buruk jauh lebih baik dari pada kejadian buruk, karena mimpi buruk masih memberikan kita nafas yang banyak, sedangkan kejadian buruk? Bahkan nafas bisa berakhir pada detik itu.

Maka itu bersyukurlah pada setiap nafas yang telah diberikan

 

END FOR DIE IN YOUR ARMS!

 

Well author tau dan mungkin bener-bener tau kalo ff ini udah lama nggak dilanjut. Mungkin sekitar empat bulan nggak author lanjut. Author terlalu banyak masalah dalam empat bulan terakhir. Dan masalahnya itu nggak penting banget kalo mau dibahas.

Anyway by the way busway. Author juga mau minta maaf kalo cerita ini semakin nggak jelas asal-usulnya, dan yang buat kemaren yang udah komen author kasih 1000 flykiss buat kalian *Muntah*

And satu hal lagi, buat komentator yang selalu komen biar sehun bisa sembuh. Author coba pikirin lagi, apa Sehun bakal sembuh atau nggak. Soalnya kemaren author tanya mbah. Katanya penderita savant syndrome itu nggak bisa sembuh beb.

Dan untuk terakhir kali, author minta kasih semangat buat author untuk segera melanjutkan ff ini dong. Karena author nggak punya semangat buat ngelanjutin ff ini. So sorry kalo ff ini semakin amburadul🙂

57 thoughts on “[Freelance] Don’t Call Me Idiot : Die In Your Arms

  1. Selalu baca series don’t call me idiot ini sedih terus 😭 🙎. But, very like it this story. Sehunnya kasian banget 😞, untung ada yoona 😃
    Tapi penasaran hubungan luhan sama yoona, kenapa luhan bisa tau psw apartemen yoona? 😳

  2. SAPA TUH YG MAEN TOJOS TOJOSAN SAMA SEHUN??!! TEGA BENER ㅠ~~ㅠ Untung dia masih hidup… thor sehunnya bisa sembuh ga nihh??? ga kuat liat sehun terus tersakiti…

  3. Pertama tama aku mau ngasih ucapan chukkae buat Kyungsoo yg udh dpt first kiss dr seseorang…
    Yg kedua, ff ini cukup membuatku utk meredakan rasa benci sm CY atas berita di mojok sm Seobabi di film baru merekaa..
    Yg ketiga, pliisss seri ini yg paling banyak ngeluarin air mataaaa..TT TT
    Yg keempat, ngapain juga yoona mentingin org jahat itu buat diurus dulu??!!! Kenapa jg misalnya bawa sehun sekalian gitu???!! Ya Allah aku kira Sehunnya bakal mati gara2 om2 yg…OHHHHH PASTI SURUHAN BAPAKNYA EH SETAN YG BIADAB ITU YAAA???!! Ya Allah klo iya jahat banget masa, gitu2 dia kan anaknya jugaaa…

    Oke ini bener2 seru, bener berarti buat aku, next seri ditunggu ya..

  4. Thor, kok baru di post? Untung gk lupa ama ceritanya, thor. Aku nunggu2 banget nih ff. Tapi bagus kok thor, ceritanya makin seru dan klo kata author ceritanya mulai amburadul, menurut aku ceritanya makin menarik loh. Ada disaat bagian2 Sehun yg bikin hati aku juga nyesek loh thor, aku jd ikut merasakan perasaan Sehun.
    Oke, ditunggu chapter selanjutnya.
    semangat bikinnya thor, fighting! 😀

  5. Ff ni bguss bngt kok thorr
    Aku ska bngt sma critanya,, aplgi ps kyungsoo sma cy 😱😱 hahaha
    Yah sevant syndrome ny ngk bsa smbuh ya? Pdhal ngrep bngt sehun smbuh trs ngk ad yg bnci dia lgi,,
    Lanjuttt ya thor!smangat!

  6. makin kasian aja sama Sehun, apalagi waktu hampir meninggal (╥_╥)
    cieee Sehun cinta Yoona

    thorr kata nya kan seorang Savant Syndrome aslinya kan gk bisa sembuh, nahh untuk pertama kali nya di Fanfic ini di buat sembuh gimana?

    cepet lanjut ya thoorr, kemarin sampr lumutan nunggunya ∩__∩

  7. SEHUNNN KASIAN BANGET SEHUN): ayah nya sama luhan sebegitu bencinya ya sama dia, tapi yoona harus terus jaga sehun yaaa hehe. ditunggu lanjutannya semangat ya author^^

  8. Yahh gabisa sembuh ya? Gabisa coba ada keajaiban gitu? Sumpah kasian banget sehunnyaa😦 mau liat menderita si luhan sama ayahnya yang gak nganggap sehun lohh padahal. Yoonhun jjang! Semoga yoona selalu disisi sehun deh ~ next chap jangan lama lama ya eonnie!

  9. Duuhh ff nya bener2 bikin nyesek😦 siapa yg coba ngebunuh sehun?? Knpa luhan bisa masuk ke apartemennya yoona?? Ditunggu kelanjutannya

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s