[Freelance] The Vow [4]

tumblr_nrjvj7sTJf1sgyexeo1_500

The Vow [4]

by GreenAngel

 

Main Cast

Im Yoona

Genre

Drama | Romance | Marriage Life

Rating | Length

PG17 | Chapter

Disclaimer

Based on my mind. Don’t claim as yours! Happy reading

……..

Irisnya masih fokus menatap layar televisi yang tergantung di dinding. Bukan acara drama yang ia tonton. Bukan pula acara infotainment yang biasa tayang di siang hari.

Sudah menjadi kebiasaannya menonton film sembari menunggu Chanyeol pulang kerja. Sungguh ia bukan istri yang pemalas. Ia tahu dengan baik tugas seorang istri ketika suaminya mencari nafkah. Setidaknya ia harus melakukan pekerjaan ibu rumah tangga pada umumnya, seperti mencuci, membersihkan rumah dan lain sebagainya.

Selama ini Bibi Han yang akan mengurus segala jenis pekerjaan rumah tangga. Bibi Han memang tidak tinggal bersama mereka. Ia hanya akan datang pada pagi hari, mengerjakan pekerjaan yang dirasa perlu untuk dilakukan kemudian dan akan pulang setelah pekerjaannya selesai.

Yoona masih ingat alasan Chanyeol mempekerjakan bibi Han sebagai asisten rumah tangga mereka. Chanyeol mengatakan bahwa ia pernah mengalami keguguran karena tak sengaja jatuh telungkup saat membersihkan pigura foto pernikahan mereka. Hal itulah yang membuat Chanyeol melarang Yoona melakukan kegiatan yang membutuhkan tenaga besar.

Seringkali ketika mengingat hal itu Yoona akan mengusap perut ratanya. Dirinya tak menyangka sama sekali bahwa pernah ada satu nyawa baru yang hidup dalam rahimnya. Sayangnya hal itu tak berlangsung lama akibat kecerobohannya.

Beberapa saat lalu, matanya tak sengaja menangkap benda persegi yang berisi kaset. Chanyeol memang memiliki ratusan judul film yang tersusun rapi pada rak dibawah televisi. Tak ada yang istimewa dari benda itu. Letaknya disudut rak lah yang menarik perhatian Yoona. Sampul film itu tak seperti sampul film lain yang biasa ia lihat. Tak seperti sampul lain yang menampilkan cover foto pemeran utama beserta deskripsinya.  Sampul itu berwarna putih tanpa ada satu huruf pun yang tercoreng disana.

Akhirnya rasa penasarannya mengalahkannya. Potongan demi potongan adegan tersaji dihadapannya. Di film pendek itu, ia bisa melihat Chanyeol mengenakan setelan jas berwarna putih. Jika dilihat dari sudut pengambilan gambarnya, lelaki itu berjalan di tengah-tengah ruangan besar dengan deretan bangku panjang disekelilingnya. Ia yakin Chanyeol berjalan diatas karpet merah yang tertutupi kelopak-kelopak bunga berwarna putih. Sementara disisi bangku panjang yang dilewatinya, juga terdapat hiasan-hiasan yang bernuansa putih.

Bukan Chanyeol yang membuatnya terkejut dengan berjalan di sebuah ruangan yang ia tidak tahu dimana. Melainkan replika dirinya yang melangkah dengan anggun di film itu. Ia mengenakan gaun putih dengan bagian belakang dari gaunnya menjuntai panjang. Wajahnya tertutupi tudung tembus pandang dengan mahkota kecil di kepalanya. Ia yakin pria setengah baya yang menggenggam jemarinya adalah ayahnya. Film apa ini? Tanyanya dalam hati.

Ia melihat dirinya berjalan dengan sebelah tangannya digenggam oleh ayahnya. Ia berjalan menuju Chanyeol yang entah sejak kapan berdiri di ujung barisan paling depan dengan senyum lembut di wajahnya. Ketika Ayahnya menyerahkan Yoona pada Chanyeol, saat itu juga Yoona tahu bahwa yang ia tonton saat ini adalah video pernikahan mereka.

Yoona tidak ingat pernah mengalami momen-momen yang terpampang dihadapannya. Namun ia dapat merasakan kebahagiaan yang terpancar dari kedua bola mata miliknya dan Chanyeol, terlebih ketika mereka menyelesaikan sumpah pernikahan mereka di hadapan Tuhan.

Entah mengapa pikirannya melayang pada beberapa malam lalu, saat Chanyeol memintanya untuk menikah lagi dengannya. Saat itu Yoona hanya mengangkat sebelah alisnya bingung. Tak mengerti mengapa Chanyeol mengatakan hal itu. Ketika Yoona hendak menjawab, suaminya malah mengatakan bahwa lebih baik lupakan saja perkataannya. Setelah itu mereka melanjutkan makan malam mereka dan Chanyeol juga tak pernah membahas apa yang ia ucapkan sebelumnya.

***

Yoona membuka pintu dihadapannya. Ketika pintu itu terbuka, ia melihat nuansa hijau pastel yang mengisi ruangan itu. Kakinya melangkah memasuki ruangan itu sembari menggali memorinya.

Ruangan itu cukup besar dengan tempat tidur yang berada di tengah-tengah ruangan. Sementara disekeliling tempat tidur terdapat perabotan lain seperti lemari, rak-rak yang dipenuhi buku, meja belajar dan nakas ukuran sedang yang diatasnya terdapat bingkai foto yang diatur sedemikian rupa.

Ia merasa tertarik dan memutuskan untuk menghampiri nakas itu. Disana terdapat potret dirinya yang ia perkirakan berumur belasan, dirinya yang mengenakan seragam senior high school, dirinya yang berada ditengah gadis-gadis yang berangkulan sambil tersenyum manis, dirinya yang sangat cantik ketika mengenakan gaun panjang berwarna ungu dengan bahu terbuka sementara ditangannya tergenggam satu buket bunga. Senyuman terbit diwajahnya ketika meraih satu bingkai foto dimana ia dan Chanyeol menggigit permen kapas sambil bertatapan mesra.

“Ibu senang kau disini.”

Yoona menolehkan kepalanya ke asal suara. Ibunya berdiri di depan pintu kamar lamanya sambil tersenyum senang. Kemudian wanita paruh baya itu berjalan menghampiri Yoona. Ketika tahu Yoona menggenggam potretnya dan Chanyeol, Ibunya berucap, “Lain kali datanglah bersama Chanyeol.”

“Iya Bu. Chanyeol bilang ia memiliki banyak proyek sehingga sering pulang larut malam. Aku merasa kesepian di rumah makanya aku mengunjungi Ibu.”

Ibunya mengusap surai anak kesayangannya. Meskipun bukan anak kandung, tetapi Ibunya memperlakukan Yoona seperti anak kandungnya sendiri.

“Ibu?”

“Kenapa sayang?”

“Apakah aku mencintai Chanyeol? Maksud ku sebelum aku kecelakaan dan hilang ingatan.” Wanita paruh baya itu sedikit terkejut mendapat pertanyaan seperti itu. Sementara Yoona masih memandangi bingkai foto dirinya dan Chanyeol.

“Kau sangat mencintainya Yoona. Begitu juga dengan Chanyeol. Apa kau pernah mendengar bahwa Tuhan menciptakan manusia berpasangan? Saat Ibu melihat Chanyeol untuk yang pertama kalinya, Ibu tahu bahwa Chanyeol adalah pasangan yang ditakdirkan untuk mu.”

Hening sesaat sebelum ibunya melanjutkan, “Ada apa? Apa kau bertengkar dengan Chanyeol?”

“Tidak Bu, aku hanya merasakan ada hal yang aneh. Chanyeol mengajakku menikah lagi. Bukankah kami sudah menikah?”

“Ibu rasa kau sudah tahu jawabannya. Kau pasti sering melihat foto pernikahan kalian yang terpajang di ruang keluarga bukan?”

Yoona mengangguk sebelum melanjutkan dengan nada ragu, “Apakah…kami pernah bertengkar hebat? Atau mungkin pernah bercerai Bu?”

“Cerai? Itu tidak pernah terjadi Yoona. Kenapa kau berpikiran seperti itu?”

“Entahlah. Mungkin sebelum kecelakaan kami pernah bercerai dan Chanyeol masih menganggap ku sebagai istrinya.”

Ibunya tertawa kecil, “Jangan berpikir terlalu berlebihan. Kau selalu menceritakan masalah yang kau hadapi pada ibu, jadi ibu tahu persis bahwa rumah tangga mu dan Chanyeol baik-baik saja.”

Yoona menghembuskan napas lega setelah mendengar perkataan ibunya. Sepertinya ia memang berpikir terlalu jauh. Dalam hati ia sedikit menyalahkan Chanyeol akibat perkataannya tempo hari, yang menyebabkan ia harus menerka-nerka alasan dibalik ajakan suaminya untuk menikah lagi.

“Kau masih memikirkan hal itu? Bukankah lebih baik kau menanyakan langsung pada Chanyeol? Ibu yakin Chanyeol pasti punya alasan dibalik itu.”

***

Yoona meraba kasur disebelahnya. Ia membuka kelopak matanya ketika tak merasakan kehadiran suaminya. Akhirnya ia bangkit dari tempat tidur dan sekilas melirik jam dinding. Sudah pukul satu pagi, namun suaminya tak kunjung pulang.

Ia menuruni tangga rumahnya ketika samar-samar mendengar suara mesin mobil yang biasa dikendarai Chanyeol. Ketika ia membuka pintu depan rumahnya, ia melihat suaminya berjalan kearahnya sambil menjinjing tas dan beberapa map.

“Kau belum tidur?” Chanyeol mencium kening istrinya.

Yoona menggeleng dan mengambil alih barang bawaan Chanyeol. “Aku sudah menyiapkan air hangat agar kau bisa lekas membersihkan tubuh mu.”

Chanyeol mengangguk dan melangkahkan kakinya menuju kamar mereka. Akhir-akhir ini ia memang sering pulang larut malam lantaran tender proyek besar yang berhasil dimenangkan perusahaannya. Beruntung Yoona tak mempermasalahkan hal itu. Istrinya sesekali menghubunginya ketika ia sedang bekerja, sekedar menanyakan apa ia sudah makan siang atau saat ia meminta izin untuk mengunjungi rumah orang tuanya.

Ia mengenakan kaos longgar putih dengan celana pendek. Sambil memegang handuk, ia keluar dari kamar mandi. Badannya terasa lebih segar setelah ia membersihkan dirinya. Dirinya mengernyit bingung ketika tak menemukan istrinya di ranjang. Akhirnya ia memutuskan untuk menuruni tangga rumahnya guna mencari keberadaan istrinya.

Ketika ia hendak melangkah ke ruang keluarga, ia mendengar suara berisik dari dapur rumahnya.

“Kau sedang apa, sayang?” Chanyeol memandang istrinya bingung. Yoona mengangkat beberapa piring yang berisi makanan ke meja makan.

“Kau sudah makan malam?” Yoona tidak menjawab pertanyaannya, bahkan ia melontarkan pertanyaan lain. Chanyeol menggeleng sambil menduduki salah satu kursi meja makan.

“Tadi aku memasakan makan malam untuk mu. Tapi karena kau tak kunjung pulang, makanannya menjadi dingin. Tenang saja, aku sudah memanaskannya saat kau mandi.” Yoona tersenyum. Ia mengambil beberapa lauk pauk dan menyodorkan pada suaminya.

Chanyeol melihat Yoona dan makanan dihadapannya secara bergantian. Akhirnya ia menyendokkan makanan tersebut masuk kedalam mulutnya. Raut wajahnya sedikit takut karena ia sudah menduga rasa masakan Yoona.

Ia mengunyah pelan namun bukan rasa asin berlebihan yang menyapa lidahnya. Bukan pula rasa manis yang berlebihan. Kali ini lidahnya merasakan kombinasi bumbu yang sangat pas menurutnya. “Benar kau yang memasak ini? Bukan Bibi Han?”

Yoona tertawa. Sebenarnya ia sudah menduga reaksi suaminya. “Tentu saja! Kau bisa tanyakan pada Bibi Han bahwa aku yang membuatnya.”

“Bagaimana bisa? Kau bahkan tak bisa membedakan antara gula dan garam tanpa mencicipinya.”

“Hei! Kau suami yang jahat!” Yoona mendengus sebal “Bukan tanpa alasan aku sering mengunjungi ibu, Chanyeol. Selama ini ibu mengajari ku cara memasak yang baik dan benar. Bahkan eomma mu juga mengajari ku.”

“Benarkah?”

Yoona mengangguk “Bagaimana rasanya? Apakah enak?”

“Hmm….” Chanyeol mengangkat ibu jari miliknya. “Ini masakan buatan mu paling enak yang pernah ku makan selama ini.”

“Itu pujian atau sindiran?”

“Tentu saja pujian, sayang.”

Yoona tersenyum lebar. Ia mengamati suaminya yang makan dengan lahap. Sesekali ia merespon apa yang diceritakan suaminya. Diam-diam, ia sangat senang usahanya selama ini tak sia-sia.

“Sayang?”

“Hmm?”

“Ayo kita berkencan besok malam.” Chanyeol memamerkan deretan giginya.

***

Sudah seharian ia tak melihat keberadaan suaminya. Chanyeol hanya meninggalkan kotak yang berisi gaun dan bunga tulip diatasnya. Tak lupa dengan sepucuk kertas yang berisikan kalimat-kalimat romantis yang mampu membuat lengkungan senyum di wajah Yoona.

Yoona memoleskan lipstik merah muda pada bibirnya sebagai sentuhan terakhir. Setelahnya ia mematut diri dihadapan cermin sembari memeriksa penampilannya malam ini. Ia mengenakan gaun putih tulang pemberian Chanyeol tadi pagi. Gaun selutut yang memperlihatkan kaki jenjangnya yang indah. Tak lupa dengan heels warna senada yang membalut kakinya. Ia membiarkan rambut lurusnya terurai namun mengikal pada bagian ujungnya.

Ia segera melangkahkan kakinya ketika mendengar bunyi bel pintu. Ia yakin yang menekannya adalah Kwon ahjussi, supir keluarga Park. Sebelumnya Chanyeol memberitahukannya bahwa ia tidak bisa menjemputnya lantaran ada rapat mendadak di kantornya. Meskipun kecewa, ia berusaha memahami kesibukan suaminya. Terlebih Chanyeol telah berjanji ia tidak akan telat di acara kencan mereka malam ini.

“Selamat malam, Kwon ahjussi.” Sapa Yoona ramah.

“Selamat malam, Nyonya Yoona.” Kwon ahjussi membukakan pintu belakang mobil mewah tersebut.

Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Sebenarnya Yoona tidak tahu kemana Kwon ahjussi akan membawanya. Sebelumnya ia sempat bertanya pada pria paruh baya tersebut, namun ia hanya tersenyum, menolak menjawab pertanyaan Yoona.

Yoona keluar dari mobil setelah Kwon ahjussi membukakan pintu untuknya. Ia mengernyit bingung memandang bangunan di hadapannya. Bangunan itu menjulang tinggi. Ia menoleh kearah Kwon ahjussi, “Ahjussi yakin tidak salah tempat?”

Kwon ahjussi menggeleng sambil tersenyum samar, “Tidak Nyonya, Tuan Chanyeol meminta ku membawa Nyonya ke tempat ini.”

Meskipun ragu, akhirnya Yoona berjalan menuju bangunan tersebut. Kakinya melangkah semakin dekat dengan bangunan tersebut. Dari jauh bangunan tersebut terlihat seperti bangunan biasa pada umumnya. Namun sekarang Yoona mengerti, bangunan itu adalah sebuah restoran. Cukup aneh memang. Mengingat restoran pada umumnya akan memasang banner berukuran besar dan semenarik mungkin guna menarik pengunjung.

Suara lonceng bel terdengar ketika Yoona mendorong pintu kaca. Ia mengedarkan pandangannya pada ruangan yang baru ia masuki. Sungguh, meskipun dari luar tidak nampak seperti restoran. Yoona berani bertaruh bahwa pemilik restoran ini pasti mengeluarkan uang yang sangat banyak untuk mendekorasi tempat ini. Dekorasi simpel namun elegan mampu ia temui disetiap sudut ruangan.

Tak berapa lama kemudian, salah seorang pelayan menghampiri Yoona. “Selamat datang. Tuan Chanyeol sudah menunggu diatas. Mari saya antar.”

Yoona mengikuti langkah pelayan itu menuju lift. Pintu lift terbuka, ia dan pelayan tersebut segera masuk kedalamnya. Yoona yakin suaminya berada di lantai tiga, mengingat sebelumnya pelayan itu menekan tombol angka tiga.

Yoona kira pelayan disampingnya ini akan mengantarnya sampai bertemu dengan Chanyeol. Namun ketika pintu lift terbuka, pelayan itu mengatakan bahwa Chanyeol sudah menunggu di ujung lorong. Dengan enggan, Yoona keluar dan memandang ruangan yang cukup besar dihadapannya.

Ruangan ini tak jauh berbeda dengan yang dilantai bawah. Yang membedakan hanyalah konsep dan desain ruangan yang jauh lebih berkelas dibanding dengan ruangan di lantai 1. Yoona menjejakan kakinya menuju lorong ruangan disebelah kanannya. Semakin dalam ia berjalan memasuki lorong tersebut, pencahayaan semakin berkurang. Ketika langkah kakinya berhenti di lorong yang gelap, samar-samar ia dapat melihat cahaya temaram tak jauh dari tempatnya berdiri.

Wanita itu menggerakkan tungkai kakinya menuju sumber cahaya. Ia dapat melihat lilin-lilin kecil di sepanjang lorong dihadapannya. Bibirnya membentuk sebuah senyuman ketika menyadari bahwa foto-foto yang tergantung pada tali di sepanjang lorong adalah potret dirinya.

Lorong dengan pencahayaan temaram yang berasal dari lilin kecil dan foto-foto yang tergantung diatasnya. Hal kecil yang menurutnya sangat romantis. Matanya bergerak dari satu foto ke foto yang lain. Begitu pula dengan memorinya. Pikirannya secara otomatis membuka ingatannya ketika ia menatap foto-foto itu.

Yoona bahkan tidak tahu kapan Chanyeol memotret dirinya. Mulai dari foto ketika ia terbaring di rumah sakit hingga foto masakan buatannya kemarin malam. Suaminya memang memiliki hobi lain, yaitu fotografi.

Lilin dan foto tersebut secara tak sadar membawa langkah Yoona hingga berada pada ujung lorong. Dari tempatnya berdiri, ia dapat melihat postur tinggi suaminya. Suaminya berdiri membelakanginya. Tubuhnya bersandar pada pagar setinggi satu meter. Chanyeol yang menyadari kehadiran Yoona, membalikkan tubuhnya hingga matanya bertemu dengan iris brown caramel istrinya.

***

“Jadi kau yang menyiapkan semua ini?”

Chanyeol tersenyum dan mengangguk. “Bagaimana? Kau menyukainya?”

“Tidak terlalu buruk.” Chanyeol merengut setelah mendengar jawaban Yoona. Membuat wanita yang duduk dihadapannya tertawa. Sebenarnya Yoona hanya menjahili suaminya. Bahkan tanpa perlu ditanya pun Yoona akan menjawab bahwa ia menyukai hal-hal manis yang dilakukan suaminya.

Ujung lorong yang ia lewati tadi mengantarkannya pada taman kecil. Batuan yang disusun sedemikian rupa berfungsi sebagai jalan setapak dengan rumput hijau disekelilingnya. Ia dan Chanyeol duduk berhadapan dengan dipisahkan meja bundar. Menikmati acara makan malam mereka. Setelah menghabiskan potongan terakhir steaknya, Yoona menatap pemandangan di bawahnya. Ia masih tak habis pikir, padahal ia hanya berada di lantai tiga, namun kelap-kelip lampu yang berasal dari mobil-mobil yang berlalu lalang dari kejauhan dapat terlihat.

“Would you dance with me, Mrs. Park?” Entah sejak kapan Chanyeol bangkit dari kursinya dan berjalan menghampiri istrinya. Ia membungkukkan badannya dan mengulurkan tangan kanannya pada Yoona.

“Aku tidak yakin aku bisa berdansa, Chanyeol.”

“Ayolah. Aku tahu kau bisa berdansa dengan baik.”

“Benarkah?”

“Percayalah padaku.”  Yoona menyambut uluran tangan Chanyeol.

Chanyeol membawanya ke tengah-tengah taman yang beralaskan rerumputan hijau. Tiba-tiba Chanyeol berjongkok dan tangannya berusaha melepaksan ikatan tali heels yang membelit kaki Yoona. “Akan lebih baik jika kau tidak mengenakannya.”

Yoona menatap dirinya yang bertelanjang kaki. Kakinya terasa geli akibat bergesekan dengan rerumputan yang sedikit basah. Menimbulkan sensasi tersendiri. “Hei, ini tidak adil Chanyeol. Kau juga harus melepas sepatu mu.”

“Baiklah, Nyonya Park.” Chanyeol mengusap lembut kepala istrinya dan melepas sepatunya.

“Apakah tidak ada musik pengiring, Chanyeol?”

Chanyeol tersenyum, “Tentu saja ada, sayang. Perhatikan baik-baik.”

Yoona memandang suaminya dengan kening berkerut. Apa maksudnya? Memperhatikan suaminya?

Tak lama setelahnya, Chanyeol mengangkat tangan kanannya ke atas dan menjentikkan jemarinya.

When your legs don’t work like they used to before

“Oh my God. Are you kidding me, Mr. Park?” Yoona membelalakkan matanya tak percaya.

And I can’t sweep you off of your feet

“Of course not, Mrs. Park.” Chanyeol tertawa kecil melihat reaksi istrinya. Ia tahu bahwa akhir-akhir ini Yoona menyukai lagu itu.

Will your mouth still remember the taste of my love

Yoona mengedarkan pandangan pada sekelilingnya hingga akhirnya matanya berhenti pada satu titik.

Will your eyes still smile from your cheeks

Ia baru menyadari ada beberapa orang yang memainkan alat musik di mini lounge dan satu orang penyanyi yang duduk ditengah-tengah lounge.

And darling, I will be loving you ‘til we’re 70

Chanyeol meletakkan kedua tangannya dipinggang Yoona. Menarik tubuh Yoona mendekat padanya.

And baby, my heart could still fall as hard at 23

Entah mengapa, Yoona merasa familier. Tangannya begitu saja mengalung di leher Chanyeol.

And I’m thinking ‘bout how people fall in love in mysterious ways

Chanyeol melepaskan kedua tangannya dan salah satu tangannya menggenggam jemari Yoona.

Maybe just the touch of a hand

Yoona bersumpah tubuhnya bergerak sendiri mengikuti irama lagu. Badannya berputar 360 derajat ketika Chanyeol merentangkan tangan mereka.

Well, me – I fall in love with you every single day

Chanyeol mendekap tubuh Yoona sesaat kemudian Yoona memutari Chanyeol sambil menggerakkan kedua tungkai kakinya dengan gerakan indah.

And I just wanna tell you I am

Keduanya semakin larut dalam lagu yang mengiringi mereka.

So honey now

Take me into your loving arms

Kiss me under the light of a thousand stars

Place your head on my beating heart

I’m thinking out loud

Maybe we found love right where we are

“Kau ingat saat aku mengajak mu menikah beberapa hari yang lalu?” Chanyeol bertanya disela-sela tubuh mereka yang bergerak mengikuti irama lagu.

Yoona mengangguk, “Sebenarnya aku masih tidak mengerti.”

When my hair’s all but gone and my memory fades

And the crowds don’t remember my name

When my hands don’t play the strings the same way

I know you will still love me the same

“Chanyeol, kita tidak pernah bercerai, kan? Kenapa kau mengajak ku menikah lagi?”

Chanyeol memutar tubuh Yoona. “Kau tahu? Satu hal didunia ini yang paling aku takuti adalah kehilangan mu.”

“Lalu?”

“Separuh nyawa ku seakan hilang saat menemukan mu terbaring di ranjang rumah sakit dalam keadaan koma. Kau mengalami kecelakaan hebat, sayang. Mobil mu mengalami tabrakan dengan bus usai membawakan ku bekal makan siang.”

Cause honey your soul could never grow old, it’s evergreen

And baby your smile forever in my mind and memory

I’m thinking ‘bout how people fall in love in mysterious ways

Maybe it’s all part of a plan

Well, I’ll just keep on making the same mistakes

Hoping that you’ll understand 

“Setiap hari aku menunggui mu di rumah sakit. Selalu berdoa agar kau lekas membuka kedua mata mu. Dan aku masih ingat bahagia yang aku rasakan ketika akhirnya kau sadar. Tapi tahukah kau, sayang? Aku terluka ketika kau tak mengenaliku. Aku masih ingat raut wajah mu saat itu.”

Chanyeol menarik tubuh Yoona. Memisahkan jarak diantara mereka. Tangannya membelai lembut pipi wanita itu.

“Sedari awal aku sudah menduga bahwa ingatan mu akan tetap terhapus. Tak peduli seberapa keras aku berusaha untuk mengembalikan ingatan mu.”

So baby now

Take me into your loving arms

Kiss me under the light of a thousand stars

Oh darling, place your head on my beating heart

I’m thinking out loud

Maybe we found love right where we are

“Kau ingat ucapan ku saat di gereja? Aku tak apa jika kau tak mengingat apapun. Aku tak apa jika kau melupakan semua kenangan yang kita bagi. Aku tidak apa-apa. Aku mencintai mu. Tak peduli apapun keadaan mu. Yang aku tahu aku merasakan jantung ku berdetak cepat setiap kali bersama mu.”

Yoona tertegun. “Tapi kau tahu, sayang? Aku merasa berat karena hanya aku yang mengingat sumpah pernikahan kita. Aku tidak menyalahkan mu karena tak mengingatnya.”

Lagu berhenti. Chanyeol dan Yoona menghentikan dansa mereka. “Setidaknya aku ingin kau memiliki kenangan mengenai sumpah pernikahan kita dan terus mengingatnya.”

Chanyeol mencium kening Yoona lembut. “Tak peduli berapa lama waktu yang ku habiskan dengan mu. Bahkan hingga nanti kematian menjemput. Aku ingin kau terus menyimpannya dalam memori mu.”

Mata Yoona berkaca-kaca dan tanpa ia sadari, bulir-bulir air mata mulai turun membasahi pipinya. Air mata yang jatuh semakin banyak ketika Chanyeol mengeluarkan kotak beludru putih dari saku celananya. Salah satu lututnya bertumpu pada rerumputan dan kedua tangannya mengulurkan kotak itu pada Yoona.

Would you marry me, Im Yoona?”

.

.

.

TBC

 

A/N:

Hai. The update is coming. Sedikit cerita aku terinspirasi membuat cerita ini karena melihat official video Thinking Out Loud nya Ed Sheeran pas lagi pkl di lampung hahaha dan malemnya aku nonton film The Vow bareng temen-temen seperjuangan pkl. Aku akan menjawab pertanyaan yg menurut aku menarik hehe

Q : Ceritanya terinspirasi dari The Vow ya? Sama dong ceritanya?

A : Terinspirasi bukan berarti sama loh ya. Aku hanya mengambil beberapa ide cerita. Selebihnya aku kembangkan berdasarkan imajinasi liar ku

Q : The Vow itu janji kan?

A : Yep. Aku pribadi, mengartikan itu adalah sumpah pernikahan yang diucapkan dihadapan Tuhan.

Aku gak mau ngasih spoiler kelanjutan cerita ini karena aku juga masih bingung mau dibawa kemana cerita ini hahahahaha Jadi jangan lelah menanti cerita ini ya J

Aku sangat menghargai kalian yang memberikan saran, kritik dan komentar buat aku.

Terima kasih!

 

 

 

48 thoughts on “[Freelance] The Vow [4]

  1. Yoonyeol couple!! :* Banyakin buat ff yang castnya yoonyeol ya thor..
    Btw, bagus banget ceritanya.

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s