[Freelance] Forlorn (Chapter 3-END)

Forlorn

Nikkireed‘s storyline

FORLORN

Im Yoona with Kim Jongin and Do Kyungsoo

rated for 17+

poster by apareecium

Kyung Soo tertunduk di sofa rumah Kris. Wajahnya hampa, tanpa bisa dideskripsikan. Ia bahkan tidak mengucapkan sepatah katapun setelah terakhir Jongin memberitahu tentang Yoona.

“Hyung, orang itu berkata bohong kan? Tidak mungkin ibuku sakit dan ia..” Kyung Soo terdiam. Tatapannya kosong tertuju pada meja kopi di rumah Kris. Satu-satunya meja rendah dekat kasur.

Kris yang duduk dengan kaki terlipat dan bersandar pada kasur, mengendikkan bahu pelan. “Bukankah lebih baik kau pulang untuk memastikannya?”

Kyung Soo mendongak, “Pulang. Apa boleh?”

“Tentu saja, Kyung. Itu masih rumahmu. Percayalah.”

Kyung Soo akhirnya ikut menyandarkan punggungnya pada kaki kasur, “Ada Jongin disitu. Membuatku muak.”

Kris mengubah posisi duduknya, menghadap Kyung Soo, “Sebenarnya apa yang lebih mengganggumu, Kyung? Ibumu yang sakit atau kehadiran Jongin sebagai kekasih ibumu?”

“KEDUANYA!” Kyung Soo menggeleng, “Tidak, Jongin bukan kekasih ibuku.”

Kris menepuk bahu Kyung Soo dua kali, “Kenapa tidak kau mencari kepastian mengenai itu, Kyung?”

Jongin memutar kursi tinggi di meja bar, gelasnya sudah kosong setengah jam yang lalu, tapi ia masih belum mabuk seperti yang ia inginkan.

“Aku minta segelas lagi, Baek.” Jongin mendorong gelas kosongnya.

“Jangan memaksa dirimu, Jongin.” Baekhyun menggeleng sambil menuangkan bir ke gelas kosong milik Jongin.

Jongin langsung meneguk bir tersebut sampai setengah, “Apa aku salah? Kurasa tidak. Aku sudah mengenal Yoona jauh.. jauh sebelum.. sebelum ia menikah.” Jongin memejamkan matanya pelan, “Apa aku salah, Baek?”

Reaksi Baekhyun : memberikan tatapan datar. Memaklumi sikap Jongin yang mungkin sudah sedikit mabuk. Bagaimanapun juga perkataan orang mabuk tidak bisa dipercaya sepenuhnya. Baekhyun menepuk pundak Jongin. “Kau mabuk, Jongin. Pulanglah. Sebelum kau dihajar lagi oleh Kyung Soo.”

Jongin menatap Baekhyun serius, “Aku masih sadar.” Jongin meneguk habis gelas birnya, “Aku pergi, Baek.”

“Sebaiknya kau naik taxi, Jongin. Aku khawatir kau..”

“Tenang saja, aku masih sadar.” Jongin melambai lemas tanpa menoleh pada Baekhyun. Lalu melangkah keluar dari bar.

Yoona duduk di meja belajar dikamar Kyung Soo. Ia sudah membersihkan kamar putranya itu. Mengganti seprai baru, mengganti tirai jendela yang baru, merapikan meja belajarnya, menyusun lemari bajunya, menghilangkan debu di rak bukunya. Ia bekerja seharian membersihkan kamar putranya itu tanpa lelah.

Ia mengamati bingkai foto yang sudah pecah itu lalu menempelkan beberapa plester pada bagian yang retak, lalu tersenyum sedih sebelum meletakkan di meja belajar Kyung Soo.

“Kalian terlalu mirip.” Yoona mengusap bagian foto Kyung Soo dan ayahnya. “Aku yang terlalu bodoh dengan mudah menerima tawaran ini.” Air mata Yoona membasahi celemeknya.

“Aku seharusnya tidak menerima tawaran dokter Do. Aku bodoh. Benar-benar bodoh.” Yoona menangis di telapak tangannya.

Pintu kamar Kyung Soo yang tidak tertutup rapat, membuat seseorang diluar kamar bisa  mendengar semua curahan hati Yoona. Kemudian mengurungkan niat untuk masuk. Dengan hati yang pedih ia menuruni tangga cepat tanpa suara. Lalu keluar dari rumah.

3 years 3 months ago..

Jongin dengan langkah malas pulang kerumah. Tas sekolah di pundak sebelah kanan dan beberapa tumpukan buku di lengan kiri. Ia melepaskan sepatunya sebelum masuk. Tidak menyadari ada kehadiran tamu di ruang tengah rumahnya.

“Kau sudah pulang?” Sapa ibu Kim pelan saat Jongin melangkah menuju kamarnya.

Jongin berhenti sebentar, lalu berbalik. “Ye.” Ia membungkuk memberikan salam. Saat ia bangun, matanya tertuju pada gadis muda yang duduk di sebrang ibunya. Memakai jas dokter dan label nama yang Jongin tidak bisa baca. “Eomma?”

Ibunya tersenyum tua, “Ini dokter Im. Dokter dari rumah sakit yang menangani penyakitku.”

Jongin segera menghampiri ibunya, “Rematikmu kambuh lagi?” Jongin bertanya pada ibunya, tapi matanya sempat melirik Yoona.

“Tidak. Dokter Im hanya melakukan pemeriksaan rutin. Karena aku tidak bisa berjalan ke rumah sakit sendiri, jadi aku meminta dokter Im datang.” Ibu Kim tersenyum tidak enak pada Yoona.

Jongin membungkuk pada Yoona, “Maaf merepotkan, dokter Im.”

Yoona berdiri memberikan tangan kanannya, “Panggil saja, Yoona.” Setelah Jongin menyambut tangannya, ia kembali tersenyum, “Dan ibu Kim hanya mengalami gejala rematik ringan seperti orang lanjut usia pada umumnya, bukan sesuatu yang mengkhawatirkan.”

Jongin merasa canggung. “Oh, oke. Te-terima kasih, dokter Im.”

“Baiklah, ibu Kim apakah masih bagian yang kau rasa nyeri?” tanya Yoona.

Ibu Kim menggeleng pelan. “Terima kasih, dokter Im.”

“Kalau begitu, saya pamit. Jaga kesehatan ya, Bu.” Yoona meraih tas kulit hitamnya dan berjalan.

“Biar Jongin yang mengantarmu sampai depan ya, hati-hati.”

Sejak saat itu, Jongin tidak bisa melupakan hari pertamanya bertemu Yoona. Dokter muda yang menangani ibunya, memiliki sepasang mata indah, wajah yang cantik. Sosok perempuan yang belum pernah ditemukannya selama ini.

Jongin jatuh cinta pada  Yoona di pandangan pertamanya.

3 months after that..

“Maaf? Kau meminta maaf seolah hubungan kita salah selama ini.” Kata Jongin pelan, sebelum mendengus ke jendela luar, enggan menatap lawan bicaranya.

Yoona baru saja meminta menyelesaikan hubungan mereka. Dan Jongin tidak tinggal diam, diputuskan dengan alasan pekerjaan. Apakah pekerjaan seorang dokter seperti itu dapat mengkandaskan hubungan seseorang? Jongin melipat tangan dan menatap Yoona dengan serius.

“Tunggu aku, setelah aku lulus, aku akan bekerja keras. Aku akan serius dalam bekerja, menghasilkan uang, kita akan pergi, menikah, dan kau akan sembuh.” Celoteh Jongin, tanpa sadar ia mengatakan bahwa ia sudah tahu mengenai penyakit Yoona sebelum Yoona memberitahunya.

“Ka-kau tahu..”

“Ya, aku tahu. Kanker payudara. Kau akan sembuh, Yoong.” Jongin mengelus pipi Yoona dengan tangan kanannya.

“Maaf aku tidak memberitahumu sebelumnya.” Yoona menunduk dan mengatupkan bibirnya.

“Ya, seharusnya kau memberitahuku. Bukan memberitahu ayah Kyung Soo. Aku tahu beliau seorang dokter, tapi aku pacarmu, seharusnya aku yang lebih tahu.” Jongin kembali melipat tangannya.

Ponsel Yoona berbunyi, tanda pesan masuk. ‘dokter Im, kau sudah dirumah sakit?’ – dokter Do.

Jongin melirik pesan dari ponsel Yoona, wajahnya kembali masam. “Bahkan ia bisa kapan saja mencarimu.”

“Jangan bersikap kekanakan, Jongin-ah.” Balas Yoona sambil meraih ponselnya dari meja dan langsung mengetik balasan untuk dokter Do.

Jongin kembali melempar tatapan keluar jendela, “Aku memang masih anak-anak. Lihat saja, aku masih memakai seragam sekolah. Semua orang disini akan mengira kau ibuku.”

Yoona terdiam mendengar perkataan Jongin. ‘Ya! Memang itu yang kumaksud, tapi Jongin..’ batin Yoona dalam hati.

“Baiklah, kau sudah selesai makan siang, mari pulang. Rumah sakit membutuhkanku.” Yoona berdiri dan meraih jas dokternya dan handbag channel hitam.

Jongin meliriknya sebentar, “Aku ingin pergi ke rumah sakit bersamamu.”

Yoona terhenti, “Tidak, Jongin-ah.”

“Kalau begitu, aku akan menggunakan alasan mencari Kyung Soo untuk pergi ke rumah sakit bersamamu.” Jongin berdiri dan meraih ranselnya.

Yoona memutar mata lalu menuju kasir dan membiarkan Jongin mengikutinya ke rumah sakit.

“Ibuku benar sakit.” Kyung Soo menatap kosong gelas birnya, seolah sedang berbicara dengan gelas bir tersebut.

Kris setengah merangkul Kyung Soo, merasa iba. Sedangkan Baekhyun di sebrangnya hanya terdiam membawa botol bir yang sudah kosong.

“Apa penyakitnya serius?” Akhirnya Baekhyun bersuara setelah meletakkan botol bir kosong di meja.

Kyung Soo menggeleng lemas, “Aku tidak tahu. Apa aku perlu mencari tahu?”

“Tentu saja.” Jawab Baekhyun cepat, “Bagaimana jika ibumu tiba-tiba akan pingsan? Atau mengalami kambuh?”

Kyung Soo menatap Baekhyun seperti tanda setuju, “Baiklah, aku akan kesana.”

“Pulanglah, Kyung, kalau kau merasa perlu.” Saran Kris sebelum Kyung Soo berpaling meninggalkan mereka di meja bar.

Kyung Soo menekan bel rumahnya, lalu melirik jam tangan. Pukul delapan lewat lima belas. Tidak mungkin ibunya sudah tidur. Paling tidak, wanita itu akan diruang belajar ayahnya. Tapi mengapa sudah dua kali ia menekan bel rumahnya, tanpa ada respon. Apa ibunya pergi?

Kyung Soo gelisah, khawatir, tidak tenang. Akhirnya ia mengetuk dengan keras pintu tersebut.

Sekali.

Dua kali.

Masih belum ada respon. Kyung Soo tidak membiarkan pikiran buruk menghantuinya. Apa ia pergi dengan Jongin?

Kyung Soo mengeluarkan ponselnya dan mengetikan pesan untuk Baekhyun.

To : Baekhyun

‘Apa ada Jongin di Exodus?’

Kyung Soo melirik cemas lampu ruang tengah yang menyala, tanda ada orang, tapi mengapa tidak ada respon.

From : Baekhyun

‘Aku melihatnya tadi sore pulang, agak mabuk kurasa.’

To : Baekhyun

‘Sekarang?’

From : Baekhyun

‘Aku baru saja bertanya ia dimana, dan ia sedang di rumahnya.’

Kyung Soo memegang ponselnya erat, membaca ulang pesan terakhir Baekhyun. Di rumahnya.. berarti rumah orangtuanya sendiri. Kalau begitu apa eomma benar dirumah? batin Kyung Soo.

Kyung Soo memutuskan untuk menunggu di depan pintu rumahnya. Mungkin ibunya ada urusan mendadak di rumah sakit. Kyung Soo sebisa mungkin tidak berpikiran negatif.

Tapi setelah setengah jam, waktu menunjukkan pukul 8.45, Kyung Soo mengigil. ‘Angin malam tidak baik untuk kesehatanmu, Kyung Soo-ah.’ Kyung Soo mengingat kalimat-kalimat yang pernah diucapkan Yoona saat ia sedang mengerjakan PR dengan jendela terbuka.

Yoona membuka matanya, terkejut. Ia ingat barusan ia mendengar suara bel pintu berbunyi. Tapi sekarang ia malah sedang berbaring di tempat tidurnya.

Kemudian, seseorang mengetuk pintu.

“Ya?” Suara Yoona sedikit serak.

Muncul sosok Kyung Soo dari balik pintu dengan sebuah mangkuk ditangannya. “Eomma.” Panggilnya pelan.

“Kyung Soo-ah..”

Kyung Soo berjalan dengan ragu, mendekat lalu meletakkan mangkuk tersebut di meja nakas. “Aku mendengar suara jatuh, ternyata kau pingsan. Di depan pintu.”

Yoona terkejut, ia terkejut karena Kyung Soo datang, dan ia terkejut karena ia sendiri pingsan.

“Jelaskan semuanya, ma..”

Kyung Soo mengambil handuk yang ia rendam di mangkuk tersebut, memerasnya hingga kering lalu mengelap dahi Yoona lembut.

Yoona menahan air matanya turun saat Kyung Soo dengan lembut menyeka dahinya. “Kyung Soo-ah, anakku, Kyung Soo..” Tapi air mata yang ditahan itu malah tumpah. Kyung Soo akhirnya menyerah dan memeluk Yoona.

Jika orang lain melihat, tidak akan mengira mereka adalah pasangan ibu dan anak. Karena Yoona yang terlalu muda untuk menjadi ibu. Dan Kyung Soo yang terlalu lembut untuk menjadi seorang anak.

Malam itu, kedua ibu anak itu menghabiskan waktu untuk bercerita. Semuanya. Yoona tidak lagi menutupi rahasia bahwa ia memang ada hubungan dengan Jongin, bahkan sebelum Yoona menjadi ibu Kyung Soo. Karena Yoona memang seorang dokter yang menangani ibu Jongin, dan mereka menjadi dekat selama itu.

Yoona yakin hubungannya dengan Jongin hanya sebatas dokter dan keluarga pasien, tapi Jongin tidak menganggap seperti itu. Saat Jongin menggunakan alasan mencari Kyung Soo di rumah sakit (waktu itu, Kyung Soo selalu menghabiskan waktu di rumah sakit sepulang sekolah bersama ayahnya), atau menggunakan alasan untuk konsultasi mengenai ibunya, diam-diam ia mencari Yoona, mengikuti Yoona, sampai akhirnya Yoona menyerah pada anak SMA itu.

Yoona menyetujui permintaan Jongin, karena merasa kasihan dengan Jongin yang selalu mengejarnya.

Sampai, ayah Kyung Soo mengetahui penyakit yang diderita Yoona.

Dan menawarkan sebuah penawaran menarik untuk Yoona dan hidupnya. Dokter Do yang diam-diam memberikan terapi untuk mengatasi kanker yang diidap Yoona, secara cuma-cuma. Asal, Yoona bersedia menikahinya.

Yoona tidak ingin menikah muda, apalagi dengan kondisinya yang sakit. Sangat tidak masuk akal, tapi ia juga ingin sembuh. Ia senang menjalani hidup sebagai seorang dokter, merawat orang sakit, tapi.. bagaimana jika dokter itu sakit? Bagaimana seorang dokter sakit mengobati orang sakit lainnya?

Setelah memikirkan penawaran Dokter Do berulang kali, Yoona menyetujuinya. Tanpa memberitahu Jongin, ia akhirnya menikah dengan Dokter Do. Aneh memang, Yoona merasa hidupnya berubah. Walaupun kankernya tidak sembuh sepenuhnya, tapi ia merasa lebih baik.

Namun hal itu tidak lama, saat ia mengetahui Dokter Do adalah seorang duda, dengan anak laki-laki yang berbeda umur 5 tahun lebih muda darinya. Persis dengan Jongin.

Hal buruk terus menimpanya, anak tirinya yang membencinya dan menganggapnya tidak ada, mantan pacar yang menerornya hingga suaminya yang meninggal dalam kecelakaan bulan madu. Sungguh sial, entah kutukan apa yang mengutukinya sehingga ia mendapatkan nasib seperti itu.

Yoona menguatkan dirinya dengan ekstra, ia toh tetap harus menjalaninya. Melawan kanker, menghadapi Kyung Soo, menerima kenyataannya bahwa ia sudah menjanda. Bukan cita-citanya, tentu saja.

Tapi siapa sangka, malam itu, setelah terakhir ia bertemu dengan Jongin dipernikahannya, ia dipertemukan lagi dengan Jongin dalam situasi yang kacau.

Angin malam menusuk kulit putih Yoona, sepatu skedsnya juga tidak menolong kakinya menggigil, ia berlari sedikit menuju mobil dan memutar setir untuk pulang.

Perhatian Yoona sedikit tertarik saat melihat seorang anak lelaki muncul di depan mobilnya, senyumnya tidak tampan melainkan menyeramkan. Ditambah lampu depan mobil yang menyorot ke arahnya. Yoona bergidik sebelum keluar lagi dari mobilnya.

“A-ada yang bisa saya bantu, apa kau?” Yoona menyipitkan matanya, “Jongin-ah?” Panggil Yoona begitu ia menyadari itu adalah Jongin, teman dekat Kyung Soo.

“Oh, ne, ahjumma.” Jongin membungkuk memberikan salam dan tersenyum dengan wajah lebam.

Lelaki yang pernah ada di hatinya itu memanggilnya sebutan ahjumma. Yoona mengepalkan tangannya kuat, kemudian tanpa kata membukakan pintu mobil untuk Jongin masuk…

Jongin tidak menangis, tapi ia mengakui wajahnya sakit setelah dihajar habis-habisan oleh orangtuanya. Yoona merasa iba (lagi) dengan Jongin. Ia menawarkan Jongin untuk menginap beberapa hari dirumahnya bersama Kyung Soo, dan Kyung Soo dengan senang hati menerima.

Yoona tidak mencintai Jongin sepenuhnya, sedari dulupun tidak. Ia hanya merasa kasihan, ibu Kim yang sakit dan Jongin yang begitu lemah dihajar sana-sini.

Tapi perasaan kesepian itu nyata. Yoona kesepian dan Jongin ada disitu.

Kyung Soo mencerna semua cerita ibunya dengan diam, membayangkan scene demi scene kehidupan Yoona yang belum ia ketahui, hubungannya dengan Jongin yang sebenarnya.

“Aku tidak melarangmu berhubungan dengan Jongin, aku hanya membenci kenyataannya.” Ucap Kyung Soo begitu Yoona selesai cerita.

Yoona tersenyum lemah, “Tidak, Kyung Soo-ah. Sekarang kenyataanya aku sudah menjadi ibumu, tidak ada alasan untuk bersama Jongin lagi.”

Ada nada sedih di akhir kalimat Yoona dan Kyung Soo tahu. Kyung Soo memang tidak ingin mencampuri urusan percintaan Yoona dengan Jongin, tapi ia perlu tahu sebenarnya.

“Tapi aku menemukanmu..”

“Malam itu, aku merasa sedih. Kesepian yang mendalam. Jongin datang padaku secara tiba-tiba. Kami terbawa suasana.” Potong Yoona sebelum Kyung Soo bertanya hal mengenai malam itu.

Kyung Soo mengangguk, “Maaf aku meninggalkan ibu sendirian.”

Yoona mengelus lembut kepala Kyung Soo dan tersenyum sebelum air mata terakhir menetes.

Dan Jongin mendengar semua itu!

Yoona tidak mencintainya, tidak sama sekali. Selama ini, Yoona hanya kasihan padanya. Dan mereka terbawa suasana waktu itu.

Jongin merasa emosinya memuncak, tapi apa daya. Tidak mungkin ia menyerobot masuk ke kamar Kyung Soo dan mendapatkan dirinya bahwa ia sedang menguping lalu marah-marah.

Dengan susah payah, Jongin menelan kemarahannya. Yoona benar, hidupnya kasihan. Ia harus menerima kenyataan itu.

Mungkin akan seperti itu akhirnya..

An.

Mungkin akan seperti itu akhirnya. Aku gak tau lagi harus lanjutin gimana, (kayaknya) ini chapter terakhir. Aku ngebut banget ngerjainnya (keliatan dari narasi yang buru-buru ya), maaf banget kalo ini kurang panjang dan kurang jelas. Untuk Redbean4 (kemungkinan) akan lama karena ada cerita yang harus diedit. Jadi maaf lagi. Dan (sepertinya) akan hiatus sampai 2016, karena natal ini aku (belom) ada rencana nulis, jadi mungkin Nikkireed akan comeback setelah tahun baru, please miss meL terimakasih banyak buat Apareecium untuk poster yang indah bangettttt, dan admin qintazshk yang udah bantu post. Juga terimakasih buat readers yang udah baca dan komen, Nikkireed pamit *lambai-lambai*

18 thoughts on “[Freelance] Forlorn (Chapter 3-END)

  1. Jongin kasian juga ya:( masih ada yang ganjel aja gitu thor rasanya hehe liat endingnya itu. Well tapi aku suka, makasih thor udah nulis sampai end ff ini. semangat!

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s