Possessive and Obssesion ( Chapter 7 )

Possessive and Obsession ( Chapter 7 )

 possessive-and-obssesion.png

A Series Story by Vifasha Flory

Starring Im Yoona, Oh Sehun, Park Chanyeol

Support Cast : Ahn Jaehyun, Jun Ji Hyun, Kim Soohyun, Kim Tae Hee, Jeong Ji Hoon

Genre : Romance, AU, Family

Length : Chapter

Rating : PG 16

Disclaimer : The Cast Is Belong To God. I Just use Their Name to My Story. The Story is PURE Mine. It is PURE from my IMAGINATION. DON’T PLAGIAT THIS STORY WITHOUT MY PERMISSION!!!.

DON’T BE SILENT READERS! LEAVE A COMMENT OR LIKE IT! BE A GOOD READER

Sorry for Late post, Typo(s). Kesalahan tanda baca, alur cerita yang kurang disukai readers, cerita yang menurut kalian kurang menarik, kurang kreatif dan lain sebagainya.

 Poster by Qintazshk ( Thanks^^ )

.

 

Apa yang terjadi? Mengapa kau melupakanku?

 

.

.

.

.

 

Atmosfer ruangan itu telah berubah. Semua perhatian kini tertuju pada Ji Hoon dan Jaehyun yang saling bertatapan satu sama lain. Jaehyun menatap Ji Hoon penuh kebencian sekaligus dendam yang terpancar jelas di kedua matanya, sedangkan Ji Hoon menatap Jaehyun dengan tatapan yang tidak dapat diartikan. Antara tatapan ketakutan, terkejut, dan lain – lain.

 

“A- apa yang kau lakukan disini?” Jaehyun semakin menajamkan seringainya.

 

“Kau tentu sudah bisa menebaknya, bukan?” Jaehyun melangkah satu langkah mendekati Jihoon., membuat pria itu mundur selangkah. Sorot matanya masih menatap was – was Im Jaehyun. Seluruh tubuhnya menegang. Hatinya benar – benar merasa takut akan hal apa yang kira – kira Jaehyun akan lakukan padanya.

 

Apakah Jaehyun akan memintanya untuk berlutut di depannya?

 

Apakah Jaehyun akan memintanya mengembalikan semua harta yang telah ia ambil? Itu sudah pasti, mengapa ia masih menanyakannya?
Apakah Jaehyun akan membunuhnya, juga istri dan anaknya? Sial, lupakan film thriller yang akhir – akhir ini sering ditontonnya.

 

Atau, -kemungkinan yang paling pasti- Jaehyun akan melaporkannya ke polisi dan memasukkannya ke penjara?

 

.

 

“Aku tak mengerti apa maksudmu” Jihoon bertanya dengan bibir yang bergetar. Ia berpura – pura terkekeh kecil. Jaehyun kembali melangkah padanya. Senyum palsu di wajah Jihoon refleks memudar saat mengetahui Jaehyun kembali melangkah padanya, disusul dengan kakinya yang juga melangkah mundur.

 

“Kau benar – benar tak mengerti, atau hanya pura – pura tak mengerti? Aku ragu orang yang ‘sangat cerdas’ sepertimu tidak mengerti hal sesederhana itu” Jaehyun semakin menusukkan tatapan mata elangnya pada Jihoon. Tatapannya mampu membuat Jihoon sama sekali tak bisa berkutik.

 

“Ayah, apa yang ayah lakukan disini?” Yoona yang sejak tadi memandang kedua orang itu bingung mulai membuka suaranya. Ia mendekati ayahnya dan berhenti beberapa langkah di belakang Jihoon.

 

Jaehyun mengalihkan pandangannya pada Yoona. Ia menyipitkan matanya. “Tetap disitu dan jangan melangkah maju!” Jaehyun mulai mengepalkan kedua tangannya. Kepalannya sangatlah keras hingga buku – buku jarinya memutih. Ia bersiap melayangkan pukulan pada ‘orang biadab’ yang selama ini ia cari.

 

“Tapi-“ Ucapan gadis itu terpotong saat ia melihat ayahnya tiba – tiba memukul keras perut Jihoon. Yoona refleks melebarkan matanya dan menutup mulutnya. Mengapa ayahnya melakukan hal itu? Ada apa? Apa ayahnya dan ayah Chanyeol sudah saling mengenal satu sama lain? Pertanyaan – pertanyaan semacam itu terus berkecamuk di pikirannya.

 

“BRENGSEK! TERNYATA KAULAH DALANG DI BALIK SEMUA KEHANCURANKU DAN KELUARGAKU!!!” Jaehyun kembali memukul keras perut Jihoon. Ia mencengkram kerah kemaja Jihoon dan memukul wajahnya hingga membiru. Sudut bibir Jihoon berdarah, begitu juga dengan hidungnya yang mengeluarkan darah segar.

 

“Berhenti! Apa yang anda lakukan pada ayahku?! Siapa anda?!” Chanyeol melangkah mendekati Jaehyun dan berniat melepaskan cengkeraman Jaehyun. Tapi sayang, usahanya hanyalah sia – sia belaka. Jaehyun melepaskan tangannya dan menendang perut Chanyeol hingga Chanyeol terpuruk cukup jauh.

 

Jaehyun benar – benar sudah dikuasai rasa amarah, dendam, dan bencinya. Kedua matanya memerah dan masih memancarkan sorot amarah yang luar biasa besar. Ia kembali memukul Jihoon sekali lagi dan diakhiri dengan tendangannya di perut Jihoon hingga Jihoon juga terpuruk cukup jauh. Jihoon benar – benar tidak berdaya. Ia memang pantas diperlakukan seperti ini. Jaehyun memang pantas untuk menghajarnya. Luka dan rasa sakit nan perih ini memang benar – benar pantas dirasakannya.

 

“Bangunlah! Apa yang kau lakukan, pengecut? Mengapa hanya diam? Kau sudah tak berdaya? Tsk! Bahkan aku ragu manusia brengsek sepertimu bisa tak berdaya hanya dengan pukulan ‘ringan’ seperti itu! Oh, aku tahu! Tubuhmu memang lemah, tapi otakmu cukup kuat, bukan? Ya, otakmu sangat kuat hingga bisa menipuku seperti itu!”

 

Jihoon yang sudah tak berdaya menatapnya sendu. Dengan tenaga yang masih tersisa, ia berusaha untuk membuka mulutnya dan mengucapkan sepatah kata.

 

“Ma.. Maaf” Jaehyun hanya membalasnya dengan desisan dan seringai sinis.

 

“Kau? Kau minta maaf? Manusia sepertimu meminta maaf? Waw, sungguh tak bisa dipercaya!!!” Ia kembali menghajar Jihoon sampai punggung tangannya juga membiru dan mengeluarkan sedikit darah.

 

Tae Hee yang sedari tadi hanya bisa membulatkan matanya dan menutup mulutnya akhirnya bisa menyimpulkan apa yang terjadi. Mungkin tadi ia sempat merasa kesal dan terkejut dengan ‘orang asing’ yang tiba – tiba masuk ke dalam rumahnya dan memukul suaminya. Tapi, sekarang tidak.

 

Justru sekarang ia tak habis pikir dengan suaminya. Ternyata, ‘keberuntungan’ ataupun ‘dewi fortuna’ yang berada dipihaknya yang selama ini selalu dibanggakannya ternyata hanyalah hasil dari kelicikan otak bisnisnya. Kelicikan yang mengakibatkan orang lain merugi sedangkan ia sendiri tertawa senang dan bahagia diatas penderitaan itu.

 

Ia selalu berpikir jika selama ini itu semua adalah hasil kerja keras suaminya. Tapi, ternyata ia salah. Mungkin jika suaminya bisa bersabar sedikit lagi, keberuntungan itu akan datang dengan sendirinya tanpa harus melibatkan ‘kelicikan’ ataupun kedustaan.

 

.

 

Ternyata apa yang selama ini Chanyeol curigai adalah kebenaran yang sesungguhnya. Ia sudah mengira sejak awal memang ada yang tidak beres dengan ‘keberuntungan’ ayahnya. Sekarang semuanya terjawab. Tapi, bukankah itu berarti uang yang ia tawarkan pada ayah Yoona untuk membantu perusahaannya, bukankah uang itu uang keluarga Yoona? Bukankah itu berarti ia harus memutuskan tawarannya untuk ‘menukar’ perjanjian itu dengan perjanjiannya karena semua uang yang dimilikinya untuk perjanjian itu adalah uang keluarga Yoona?

 

Dengan demikian, ia sama saja menawarkan uang milik keluarga Im sendiri. Itu berarti, kemungkinan untuk mendapatkan hati Yoona semakin menipis. Atau mungkin sudah benar – benar hilang?

 

Ia kembali berpikir, apa satu – satunya jalan untuk mendapatkan hati gadis itu hanya itu? Bukankah ia masih merasa jika gadis itu masih mencintainya?

 

Tapi kembali lagi dengan perkataan gadis itu beberapa waktu lalu : “Sekarang semuanya sudah berubah. Kini aku sudah memiliki Sehun. Aku akan mencoba mencintainya dan melupakanmu”

 

Masih ‘mencoba’ bukan?

 

Bagaimana jika ia gagal?

 

Tentu itu artinya gadis itu kembali mencintainya, bukan?

 

Kemudian, bagaimana jika ia memang benar – benar sudah mulai mencintai Oh Sehun –pria sialan baginya- dan perlahan – lahan melupakannya?

 

Jangan pikirkan itu! Ia benar – benar tidak ingin menoleh pada sisi ‘sialan’ itu!

 

.

 

.

 

“Ayah, apa maksud semua ini?” Yoona yang sedari tadi menutup mulutnya mulai menurunkan tangannya dan membuka suaranya kembali. Jaehyun menoleh padanya. Matanya masih memerah dan berkaca – kaca.

 

“Kau ingin tahu? Siapa pria ini? Dia adalah penghancur kehidupan kita, Yoong! Dia yang membawa kabur milyaran uang perusahaan dengan kerja sama bodoh yang ia tawarkan pada ayah! Dia orang tak tahu diri dan tak punya hati!!!”

 

Yoona benar – benar sangat terkejut dengan kebenaran sekaligus kenyataan ini. Ia sungguh tak habis pikir, ternyata ayah Chanyeol adalah dalang di balik semua kehancuran perusahaan ayahnya. Mengapa terkadang kenyataan sangat sulit untuk diterima? Mengapa harus serumit ini?

 

“Darimana ayah tahu hal itu?”

 

“Sudah banyak bukti yang ditemukan, Yoong. Tae Hee menyuruh Joohyuk untuk menyelidiki semua tentang ‘pria brengsek’ ini. Joohyuk menemukan berbagai macam bukti bahwa memang benar ialah penghancur perusahaan kita!” Gadis itu memejamkan kedua mata indahnya. Berusaha menenangkan dirinya. Ia menghembuskan nafasnya perlahan sebelum membuka matanya dan kembali menatap ayahnya serta Jihoon yang terlentang sudah tidak berdaya.

 

.

 

“Cepat masuk!” Jaehyun menolehkan kepalanya ke belakang dan menjentikkan jarinya. Kemudian, dua orang berkemeja hitam segera masuk dan berdiri di hadapannya.

 

“Bawa dia ke kantor polisi. Siapkan juga semua berkas – berkas bukti” Dua orang itu mengangguk dan segera membawa Jihoon ke mobil hitam yang terparkir di kediamannya.

 

Pria itu kemudian megalihkan pandangannya pada Tae Hee dan menatapnya datar.

 

“Maaf atas segala kekacauan yang telah kuperbuat. Itu semua karena kemarahanku yang sudah lama kusimpan dan kurasa sekarang waktu yang tepat untuk melampiaskannya pada orang yang memang pantas untuk dilampiaskan. Apa yang tadi kukatakan memang benar apa adanya. Suamimulah penyebab semua dari masalah dan kekacauan yang terjadi di keluargaku. Kuharap, setelah keluar dari penjara nanti, ia bisa berubah dan jera untuk melakukan hal seperti itu lagi”

 

Tae Hee masih membeku di tempat, masih sangat terkejut dengan apa yang ia lihat sekaligus kenyataan yang sangat pahit ini. Ia tak mampu memekik keras ataupun membentak Im Jaehyun. Mulutnya masih terkatup. Ia bahkan juga merasa jika suaminya memang pantas diberi pelajaran seperti itu.

 

Sedangkan Chanyeol? Kedua mata pria itu memandang nanar kepergian ayahnya untuk mempertanggung jawabkan perbuatan buruknya di masa lalu.

 

.

 

.

 

.

 

.

 

Mereka masih diam. Suasana masih hening. Sepasang suami istri itu yang sedang duduk berhadapan itu masih terdiam, belum ada yang memulai percakapan terlebih dahulu.

 

Jihoon menghembuskan nafasnya kasar. Kepalanya masih menoleh ke kanan. Ia tak kuasa menatap mata sendu istrinya. Perasaan bersalah masih memenuhi hatinya. Ia menyesal. Sungguh, ia benar – benar menyesal.

 

“Maafkan aku” Ia menguatkan dirinya untuk mengucapkan dua kata itu. Tae Hee tersenyum tipis. Jari lentiknya sedikit mengetuk kaca dengan beberapa lubang kecil dihadapannya itu, kaca yang menjadi batas mereka untuk berinteraksi. Membuat Jihoon menoleh dan menatapnya sedih.

 

“Tidak apa – apa” Ia masih bisa berbicara dengan lembutnya. Bahkan Jihoon tak habis pikir dengan hal itu. Mengapa ia masih bisa berucap lembut seperti itu? Mungkin jika wanita itu adalah dirinya, ia sudah sangat murka pada dirinya sendiri.

 

“Kau masih tetap tampan dengan seragam itu” Tae Hee lagi – lagi tersenyum lembut. Jihoon merasakan matanya mulai memanas dan berkaca – kaca. Akhirnya, ia tak mampu menahan airmatanya. Ia biarkan cairan – cairan bening itu mengalir dan membentuk anak sungai di kedua pipinya. Terisak dengan begitu kerasnya.

 

“Maafkan aku… Sungguh kumohon maafkan aku… Aku benar – benar menyesal… Andai aku bisa memutar waktu, aku janji tidak akan melakukan hal bodoh seperti itu. Aku pasti akan berusaha lebih keras dengan cara yang lebih baik… Sekali lagi maafkan aku… Maafkan aku yang telah membohongimu selama ini…” Iris hazel wanita itu juga berkaca – kaca. Ia menahan sekuat tenaga agar airmatanya tak keluar dan membasahi pipinya.

 

“Tidak apa – apa, Jihoon. Kau harus menjaga dirimu disini. Tetaplah makan dengan baik dan tunggulah waktu kebebasanmu dengan sabar. Kuharap kau bisa keluar dari tempat ini secepatnya.” Ya, itu benar. Penjara adalah tempat Jihoon mendekap sekarang. Entah sampai berapa lama ia akan mendekap di tempat dingin dan mencekam yang dipenuhi dengan orang – orang yang memiliki tatapan tajam, seringai dengan sudut sempurna, wajah menyeramkan, dan memiliki kasus kriminal itu.

 

“Ya, aku pasti akan menunggu dengan sabar. Lagipula, aku juga masih memiliki hutang permintaan maaf pada keluarga Im. Aku ingin meminta maaf dengan sungguh – sungguh pada mereka, aku juga ingin berlutut di hadapan mereka” Airmata Tae Hee menetes. Ia segera mengusap airmata itu dan kembali tersenyum. Ia menarik nafas pelan sebelum berucap.

 

“Jaga dirimu baik – baik. Jangan mudah terpancing emosi dengan ‘teman’ sepenjaramu sekarang. Tetaplah menunggu dengan sabar. Aku akan selalu berada di sisimu, selalu menunggumu dengan kesabaran yang tidak akan habis”

 

.

 

.

 

.

 

.

 

Gadis dengan jaket coklat muda tipis dan celana jeans coklat gelap itu melangkahkan kedua kaki jenjangnya di sepanjang koridor kampus. Bibir tipisnya tampak tertarik ke atas, menyapa semua orang dengan senyum cerianya. Kedua tangannya tampak membawa beberapa buku dan lembaran kertas serta tak lupa dengan tas yang menggantung di atas pundak kanannya.

 

Tiba – tiba, ia merasa pundak kirinya ditahan oleh seseorang. Pria dengan kemeja biru donker bercorak kotak – kotak itu membuatnya menoleh ke belakang. Pria itu menatapnya datar dan sulit diartikan. Yoona, gadis itu menatapnya sengit.

 

“Ada apa?” Tanyanya dengan nada sinis.

 

“Aku ingin bicara denganmu”

 

“Aku tak bisa, aku sibuk. Ada banyak hal yang harus kukerjakan” Chanyeol dengan cepat menarik salah satu tangan gadis itu dan membawanya ke suatu tempat. Sampai di sebuah koridor yang sangat sepi, bahkan orang – orangpun jarang melihatnya, Chanyeol melepaskan genggaman tangannya. Ia menghempaskan Yoona pada dinding dengan cat yang sudah merapuh di hadapannya. Yoona semakin menatapnya sengit.

 

“Apa yang kau lakukan?! Mengapa kau membawaku kesini?” Chanyeol mencengkram kedua pundaknya, membuat Yoona sedikit meringis.

 

“Katakan padaku, kau masih mencintaiku, bukan?” Yoona menghembuskan nafasnya kasar dan menoleh ke samping, berusaha menghindari tatapan pria itu.

 

“Tentu saja tidak! Apa yang membuatmu berpikir aku masih mencintaimu?!” Iris hazel pria itu menatapnya tajam dan semakin menguatkan cengkramannya.

 

“KAU MASIH MENCINTAIKU YOONA!!! KAU MASIH MENCINTAIKU!!! KAU TIDAK AKAN BISA MELUPAKANKU DAN MENCINTAI PRIA SIALAN ITU!!!” Chanyeol memekik keras. Matanya tampak memerah dan berkaca – kaca.

 

“Apa?! Apa katamu?! Aku masih mencintaimu?! Aku sudah melupakanmu!!! Aku sudah bertunangan dan aku mencintai Sehun!!! Dan, apa kau tahu? Sehun adalah sahabat masa kecilku sekaligus cinta pertamaku!!!” Hati Chanyeol mencelos, terasa seperti tersambar petir yang begitu dahsyatnya. Apa… Apa maksud semua ini?

 

“Apa maksudmu?! Mengapa kau mengatakan ia adalah sahabat masa kecilmu sekaligus cinta pertamamu?! Bukankah kau baru mengenalnya?”

 

“Tidak! Aku sudah lama mengenal dia. Jauh sebelum aku mengenalmu!”

 

“Kau… Kau pasti berbohong! Jangan berdusta, Yoong! Aku tahu kau masih mencintaiku dan belum melupakanku! KAU TIDAK MENCINTAINYA!!!” Setetes airmata menetes di sudut mata bening gadis itu. Seseorang tolonglah dirinya! Oh Tuhan, ia benar – benar tak tahan berada di situasi sulit seperti ini. Ia ingin kabur tapi ia tahu ia pasti tidak akan berhasil, terlebih melepaskan cengkraman tangan Chanyeol dari kedua pundaknya.

 

“Ia mencintaiku, Chanyeol! Dan jangan pernah bermimpi ia masih mencintaimu!!!” Oh Sehun tiba – tiba muncul dari ujung koridor itu. Pria itu benar – benar muncul di waktu yang tepat. Kemunculannya bak pangeran yang menolong seorang putri yang sedang dilanda situasi sulit.

 

Keduanya refleks menoleh saat mendengar suara itu. Park Chanyeol mengeluarkan seringaianya dan memandang pria itu remeh.

 

“Apa? Apa yang baru saja kau katakan?! Yoona masih mencintaimu?! Kau yang perlu menghentikan mimpimu yang terlampau indah itu!!!”

 

“Jangan terlalu percaya diri, Chanyeol! Yoona mencintaiku, dan ia tidak lagi mencintaimu! Ia telah melupakanmu dan kau hanyalah masa lalunya!,”

 

“jika dipikir – pikir lagi, sepertinya kau bodoh. Kau terlalu bodoh karena terlamabt mencintainya. Jika tidak karena ibumu, kau tidak akan pernah mengenal Im Yoona! Apalagi mencintainya!” Perkataan Oh Sehun seperti sebuah tikaman pisau di hatinya. Hatinya tertusuk. Padahal hanyalah kata – kata tajam dari lidah pembunuh seorang Oh Sehun.

 

“Lebih baik kau menyerah, Yeol…” Sebuah lirihan keluar dari mulut gadis itu.

 

“Apa? Menyerah? Itu tidak akan terjadi, Yoona! Aku tidak akan menyerah untuk mendapatkanmu!”

 

“Lepaskan dia” Tangan Sehun melangkah maju dan melepaskan cengkeraman Chanyeol pada pundakg gadisnya. Ia segera menggenggam jemari lentik gadis itu dan membawanya melangkah menjauh dari pria yang ia anggap ‘tidak waras’ itu.Pria dengan obsesi aneh yang tiba – tiba saja menyukai gadis yang jelas – jelas telah memiliki tunangan dan lebih menggelikannya lagi ia mengecam jika gadis itu miliknya. Ia mengatakan hal tersebut karena ia masih terlarut dalam rasa percaya dirinya yang berkata jika gadis itu masih mencintainya. Padahal tidak. Gadis itu sudah lelah menyukainya dan telah kembali mencintai cinta pertamanya yang sudah lama ia tunggu dan akhirnya mereka kembali dipertemukan.

 

“Kau harus ingat, Oh Sehun! Aku akan mendapatkan Yoona bagaimanapun caranya! Aku tak peduli tentang cinta pertama yang kalian bicarakan! Yoona akan jadi milikku! Bagaimanapun caranya!” Kalimat – kalimat itu seperti sebuah mantera yang berhasil membuat kedua insan yang saling bergenggaman tangan itu terpaku diam di tempat. Mereka baru saja sampai pada ujung koridor saat suara itu terdengar. Kalimat – kalimatnya laksana janji yang pasti akan ditepatinya. Janji abadi yang selalu diingatnya sampai kapanpun. Kata – kata yang membuat tubuh gadis itu bergetar hebat. Sungguh, ia benar – benar takut. Takut menghadapi obsesi aneh Chanyeol yang berapi – api padanya. Ia tak bisa menebak dengan cara apa pria itu akan berjuang mendapatkannya.

 

Tidak ada yang bisa menebak

 

Mungkinkah pria itu akan menggunakan cara yang cukup ‘gila’?

 

.

 

.

 

.

 

.

 

Dua minggu kemudian

 

Oh Sehun memarkirkan mobilnya di depan kediaman keluarga Im. Setelah itu, ia kemudian turun dari mobilnya dan bergegas menuju pintu kediaman keluarga itu, dan menunggu sang tunangan hingga selesai dengan persiapannya dan mengantarkannya ke kampus seperti biasa. Baru satu kali jarinya menekan bel dan ia langsung dikejutkan dengan raut muka cemas Im Jaehyun dan Im Jihyun yang tiba – tiba muncul dari daun pintu itu.

 

“Oh Sehun…” Lirih pria paruh baya itu. Tatapan matanya benar – benar sendu dan menyiratkan kekhawatiran yang begitu mendalam. Rasa kalut tampak jelas terlukis di wajahnya. Tubuhnyapun sedikit bergetar. Hal serupa juga dialami dengan Im Jihyun.

 

“Paman, apa yang terjadi? Mengapa paman terlihat begitu cemas?”

 

“Yoona… Yoona menghilang” Tiga kata yang baru saja diucapkan Jaehyun bagaikan petir dahsyat yang menyambarnya di pagi hari ini. Otaknya entah mengapa terasa berputar sangat lambat untuk mencerna kata – kata itu. Jantungnya mendadak berdetak berkali – kali lebih cepat.

 

“Apa? Yoona menghilang? Apa maksud paman? Mengapa paman mengatakan Yoona hilang? Apa yang terjadi?” Rentetan pertanyaan itu diucapkannya dengan cepat dan tidak sabar. Kedua matanya membulat sempurna dan keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya dan keluar dari pori – pori kulit telapak tangannya.

 

“Yoona tidak pulang sejak tadi malam. Ia sama sekali tidak memberi kabar. Kami sudah menghubungi semua teman – temannya tetapi nihil, tidak ada hasil sama sekali. Bukankah seharusnya kau menjemputnya?”

 

“Aku tidak bisa menjemputnya kemarin dikarenakan tugas – tugas kantor yang sama sekali tidak bisa kutinggalkan. Padahal aku sudah memaksanya berulang kali agar pulang bersama supirku, tetapi ia tidak menghiraukannya. Ia tetap bersikeras pulang sendiri padahal aku tahu ia akan pulang malam saat itu. Aku benar – benar khawatir akan bahaya yang mengancam pada gadis suci sepertinya, apalagi banyak orang mabuk dan brengsek yang berkeliaran pada malam hari. Bagaimana jika sesuatu terjadi padanya?! Ya Tuhan, aku benar – benar tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri jika smapai sesuatu terjadi padanya!” Satu kata untuk setiap kata yang baru saja ia ucapkan, berlebihan.

 

“Jangan sampai bahaya itu terjadi. Semoga tidak ada apapun yang terjadi pada anakku dan ia baik – baik saja. Tapi aku benar – benar bingung, dimana ia sekarang? Apa yang ia lakukan? Mengapa ia tidak pulang?”

 

“Aku akan menyuruh anak buahku untuk membantu kita mencari keberadaannya. Haruskah kita melaporkan ini ke polisi?”

 

“Tentu saja! Siapa tahu mereka bisa membantu menemukkan anak semata wayang kami”

 

Sehun menghembuskan nafas berat. Ia memejamkan matanya dan meremas kedua telapak tangannya. ‘Dimana kau, Yoong? Apa yang terjadi? Mengapa kau menghilang?’batinnya. Perasaan bingung sungguh dirasakannya sekarang. Pikirannya sibuk menerka – nerka dimana kemungkinan gadisnya berada.

 

.

 

Ini sudah hari kesepuluh sejak hari pertama hilangnya gadis itu. Pria itu sudah mendatangi banyak tempat tetapi hasilnya nihil. Pagi dan malam pikirannya selalu disibukkan dengan mencari gadisnya. Ia abaikan begitu saja berkas – berkas kantor yang pasti sudah menumpuk dengan rapih di meja kerjanya. Ia tak peduli. Sungguh tidak peduli dengan tumpukan berkas itu. Pikirannya masih terfokus dengan pencarian tunangannya. Toh, ia sudah memutus sekretaris keluarganya, Kim Woobin untuk menggantikan tugasnya sementara.

 

Pikirannya masih melayang kemana – mana. Tangannya masih menggenggam stir kemudi mobilnya dan pandangannya masih menoleh kesana kemari. Sesekali bibirnya tampak menghela nafas. Ia benar- bencar frustasi. Dimana lagi ia harus mencari gadis yang dicintainya itu?

 

.

 

.

 

.

 

.

 

 

8 bulan kemudian

 

Pria itu masih memandang kosong pada pemandangan di luar jendela apartementnya. Matanya tampak memerah dan lingkar hitam terlukis jelas di bawah matanya. Wajahnya sangat kusut dan memancarkan kesedihan dan kebingungan yang begitu mendalam. Tubuhnya terlihat lebih kurus dari sebelumnya. Rambutnya acak – acakan seperti tidak pernah disisir. Bahkan nampan yang berisi sepiring nasi goreng yang sudah mendingin dan segelas air putih di atas nakas sama sekali belum disentuhnya. Ia benar – benar terlihat seperti mayat hidup sekarang.

 

Pikirannya kosong. Otaknya sudah lelah berputar kesana kemari. Ia bingung. Benar – benar bingung. Apa yang membuat Yoona menghilang dan meninggalkannya? Kesalahan apa yang ia miliki hingga membaut gadis itu pergi? Pertanyaan – pertanyaan seperti itu terus berkecamuk di pikirannya. Ia tak mempedulikan rasa lapar ataupun kerongkongannya yang sudah mengering memohon segelas air untuk menyegarkannya kembali. Tubuhnya sudah benar – benar lelah selama delapan bulan ini.

 

Sudah delapan bulan ia mencari tunangannya yang hilang. Pada delapan bulan yang lalu, saat ia pertama kali mendapat kabar bahwa sang tunangan hilang, ia benar – benar merasa terkejut. Jantung yang masih berdetak itu terasa ingin lepas dari tempatnya. Kedua kaki jenjangnya segera membawanya memutari sekeliling kota Seoul selama berhari – hari. Ia juga sudah memerintahkan semua anak buahnya untuk membantu mencari sang tunangan di seluruh pelosok Korea Selatan, bahkan ia juga memerintahkan beberapa dari mereka untuk mencarinya di luar negeri, namun hasilnya nihil. Tunangannya masih bersembunyi atau disembunyikan di suatu tempat.

 

Hidupnya tanpa orang sangat dicintainya itu benar – benar kacau dan berantakan. Berbagai macam minuman memabukkan sering diteguknya. Hanya untuk melepas penat sementara. Akibatnya ia jadi sering tertawa dan tersenyum bodoh sendiri ataupun meracau tidak jelas seperti orang yang hilang akal. Tunangannya itu seperti sudah menjadi separuh bagian jiwanya. Jika separuh bagian hilang, bagian yang lain pastilah tidak akan lengkap.

 

Ia kembali menghembuskan nafas kasar untuk yang kesekian kalinya. Siapapun yang melihatnya sekarang pasti tersenyum miris ataupun menggeleng – gelengkan kepalanya. Merasa kasihan dengan keadaan mayat hidup ini.

 

Keadaan serupa juga terjadi pada kamarnya. Sprei ranjangya sudah sangat berantakan dan terpasang tak beraturan. Selimut sutra itu terlentang berantakan di lantai. Pakaian – pakaiannya terhampar dimanapun di setiap sudut kamar itu. Foto – foto gadisnya dan kebersamaan mereka juga terhampar di sepanjang lantai kamar itu. Botol – botol kosong bekas minuman beralkohol tergeletak dimana – mana. Benar – benar tak terurus.

 

Jangan salah sangka, ia tak pernah membawa satupun wanita ke kamar ini. Kecuali istirnya kelak.

 

“Dimana kau, sayang?” Sebuah lirihan pelan lolos dari bibirnya. Matanya kembali berkaca – kaca untuk kesekian kalinya pada hari itu. Tak lama kemudian, setetes airmata kembali keluar dari mata teduhnya.

 

“Apa yang harus kulakukan? Dimana lagi aku harus mencarimu, Yoong?” Ia, Oh Sehun kembali meremas rambutnya. Kelopak matanya menutup mata teduhnya. Sebuah helaan nafas kembali terdengar.

 

Bunyi ketukan pintu menyadarkan lamunannya. Ia menolehkan kepalanya ke sumber suara dan sekuat tenaga membuka mulutnya.

 

“Masuk” Ia berbicara dengan suara yang amat serak akibat kerongkongan keringnya. Seseorang muncul dari balik pintu. Seorang pria dengan jas rapih dan dasi biru donker terikat rapih di bawah kerah kemejanya. Ia berperawakan sangat tinggi dan kurus. Kacamata berbingkai kotak tegantung di tulang hidung atasnya. Pria itu adalah Oh Kwang Soo, sekretaris perusahaan Oh. Kaki jenjangnya kemudian melangkah mendekati pria yang sedang terduduk menghadap ke jendela.

 

Setelah sampai di samping Sehun, Kwang Soo kemudian sedikit membungkukkan badannya. “Permisi, tuan. Maaf mengganggumu, tapi ada hal yang harus saya sampaikan”

 

“Ada apa? Sampaikan saja”

 

“Anda harus pergi ke Inggris dua minggu lagi, tuan. Anda akan menemui client dari perusahaan besar yang mengajak kita bekerjasama, tuan. Tampaknya, jika kita menyetujui kerjasama itu, kita akan mendapat keuntungan yang cukup besar. Sepertinya, kerjasama itu terdengar cukup bagus bagi saya, tuan”

 

“Bisakah kau memberikanku data – data perusahaan itu terlebih dahulu? Barulah aku bisa memutuskan akan menyetujui itu dan berpikiran sama sepertimu atau tidak”

 

“Baiklah, tuan. Itu saja hal yang saya sampaikan. Saya permisi” Ia sedikit membungkukkan badannya dan berlalu pergi.

 

“Aku harap aku segera bisa menemukanmu, Yoona… Aku sangat merindukanmu. Bagaimana keadaanmu? Apa kau baik – baik saja? Apa kau makan dengan baik? Kau bersama siapa sekarang?” Ia tak peduli dnegan suara seraknya ataupun rasa perih di kerongkongannya. Ia tetap mengucapkan kalimat – kalimatnya itu dengan lirih dan menahan tangisannya. Ya Tuhan, mengapa ia benar – benar lemah sekarang? Dimana Oh Sehun dengan tatapan tajam nan dingin menusuk dan karisma wibawanya?

 

Ia hanya bisa berharap, tunangan yang sangat dicintainya itu dapat segera ditemukannya dalam keadaan sehat dan dan baik – baik saja.

 

Namun, apakah harapannya akan sesuai dengan kenyataan?

 

.

 

.

 

.

 

.

 

Tiga minggu kemudian

 

London, Inggris

 

Setelah melewati satu minggu penuh penat dan stress karena berbagai macam berkas yang selalu terpajang di hadapannya, Oh Sehun kini bisa merasakan kebebasannya. Musim dingin di kota ini benar – benar indah. Butiran – butiran lembut salju masih berjatuhan dari langit. Tumpukan salju bertumpuk di setiap tempat. Jalan – jalan terasa sangat licin untuk dilewati. Tiap kaca di bangunan berembun karena suhu yang terlampau dingin. Bahkan ada beberapa orang yang menggosok – gosok kedua tangan mereka padahal mereka sudah memakai sarung tangan berbulu kemudian memeluk diri mereka sendiri. Walaupun terlampau dingin, tapi musim ini sangatlah indah. Hanya di musim inilah kita dapat melihat butiran salju berlomba – lomba jatuh dari langit dan bermain ski es.

 

Disana, menara Big Ben berdiri dengan begitu kokohnya. Menara jam empat sisi itu memang sangatlah indah. Terlebih di musim dingin yang tak kalah indah ini. Oh Sehun melangkahkan kakiknya lebih mendekati menara itu. Bibirnya melukiskan senyum sumringah. Ia segera menyiapkan kameranya dan mengambil beberapa foto menara itu. Tak lupa ia juga memfoto beberapa bangunan ataupun objek yang menurutnya menarik disana.

 

Saat merasa cukup, ia kemudian mendudukkan dirinya di sebuah bangku putih di salah satu sisi itu. Kedua mata teduhnya memandang setiap hasil jepretan tangannya. Senyuman masih terlukis disana. Tampaknya ia merasa sedikit lebih senang dan tenang di kota ini.

 

Ada sebuah foto yang mampu membuatnya membeku terdiam seketika. Matanya tiba – tiba tak ingin berpindah ke lain objek dan masih tetap memandangi foto itu. Ia memandang foto itu lekat – lekat.

 

Tak lama kemudian, ia tertawa keras. Tawa hambar karena mengira dirinya pastilah sudah gila. Bagaimana bisa di foto itu ada seseorang sangat mirip dengan tunangannya?

 

Tapi tak butuh waktu lama sampai tawa itu kembali tak terdengar. Raut wajahnya berubah, menjadi sangat serius dan memandangi foto itu sekali lagi.

 

Tidak mungkin

 

Bagaimana bisa tunangannya ada disini? Bagaimana ia bisa pergi sangat jauh dari Korea Selatan?

 

Ataukah ini hanyalah seseorang yang kebetulan memiliki wajah yang mirip dengan tunangannya?

 

Bodoh, itu lebih tidak mungkin

 

Untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan – pertanyaannya, ia kemudian melangkahkan kakinya pada suatu tempat di foto itu. Tempat yang menurutnya terdapat seseorang yang amat mirip dengan tunangannya.

 

Ia kembali ke tempat yang mana pada dua belas menit yang lalu dipijaknya. Pandangannya menyapu seluruh objek di tempat itu. Tempat yang tak lain adalah sebuah kedai kopi klasik dengan nuansa coklat tua dan hitam.

 

Sekali lagi, ia terpaku di tempat. Kedua irisnya menatap lurus – lurus gadis itu. Seorang gadis dengan mantel, topi, dan sarung tangan putih yang memiliki wajah begitu mirip dengan tunangannya yang hilang. Ia memutuskan untuk melangkah mendekati gadis itu.

 

Gadis itu masih terduduk di bangku luar kedai kopi itu. Ia masih berbincang hangat dengan perempuan berambut pirang ikal dengan mantel coklat tua di hadapannya. Sesekali keduanya tampak tertawa kecil dan saling tersenyum hangat.

 

Sudah beberapa menit Oh Sehun masih memperhatikan gadis itu. Ia tidak gila ataupun bermimpi . Ini sungguhan. Gadis itu benar – benar mirip dengan tunangannya!

 

Akhirnya si pirang yang berbincang dengannya beranjak dari duduknya dan meninggalkan gadis itu setelah memberi dekapan hangat padanya. Tak lama setelah kepergian si pirang itu, gadis itu menyesap cappucino di hadapannya untuk terakhir kali dan bangkit. Ia bersiap untuk melangkah pergi. Tetapi, Oh Sehun segera berlari dan menghalangi langkah kaki jenjangnya.

 

Gadis itu sedikit mendongak, melihat siapa orang yang menghalangi jalannya.

 

Saat mata teduhnya bertemu pandang dengan mata bening gadis itu, ia kembali terpaku untuk kesekian kalinya.

 

Mata bening dan iris hitam arangnya sangatlah persis dengan tunangannya. Wajahnya benar – benar tak ada perbedaan satu garispun. Bibirnya juga tipis dan merah muda. Sama seperti bibir yang sering diciumnya. Hanya warna rambutnyalah yang terlihat tampak lebih tua dan lurus. Sepertinya rambut itu diwarnai karena Sehun tahu persis mana warna rambut asli ataupun hasil bahan kimia yang ditorehkan di rambutnya. Begitu pula dengan rambut lurusnya, sepertinya rambut itu adalah hasil dari alat catok.

 

Gadis itu tersenyum tipis. Lengkungan bibirnya tidak ada perbedaan sama sekali. Gadis itu melangkah ke samping pria itu dan kembali dihalangi olehnya. Setiap langkahnya selalu dihalangi oleh pria itu. Tetapi sangat aneh, ia tampak tidak merasa kesal sama sekali atau bahkan menghela nafas.

 

Gadis itu mendongak sekali lagi, dan berkata, “Excuse me, Sir. What are you doing? Please stop blocking my way” Ia berkata dengan penuh kesabaran. Tak ada setitikpun ekspresi kesal ataupun marah di wajahnya. Sepertinya, gadis ini benar – benar lembut dan baik hati. Lagi – lagi pria itu terpaku mendengar suaranya. Suara itu kembali mengingatkannya pada sosok yang sedang ia cari sekarang. Sosok yang sekarang entah dimana keberadaannya.

 

Tapi, lagi – lagi,

 

suara itu terdengar lebih lembut dan feminim

 

Are you Korean?

 

Oh, you look like Korean People. I guess you are from South Korea, right?” Pria itu masih terdiam. Merasa tidak ada respon, gadis itu kemudian mengangkat salah satu alisnya dan berbicara dalam bahasa Korea, “Permisi, tuan. Maaf, tetapi mengapa anda menghalangi jalan saya?”

 

“Yoona?” Sebuah lirihan keluar dari bibir Sehun. Membuat gadis di hadapannya menatapnya bingung.

 

“Apa kau Yoona? Apa kau Im Yoona?” Oh Sehun mencengkram kedua pundak gadis itu. Gadis yang tidak tahu apa – apa hanya menatapnya bingung dan terlihat setitik sinar ketakutan di iris hitamnya.

 

“Bukan. Aku bukan Im Yoona” Ia bukan Im Yoona? Apa itu mungkin. Oh, mungkin jika sekarang kalian ada di posisinya sekarang kalian akan benar – benar mengira gadis ini adalah Im Yoona.

 

Mereka tidak dapat dibedakan. Benar – benar tidak dapat dibedakan bahkan setitikpun! Bahkan jika mereka saudara kembar pasti ada sedikit perbedaan di garis wajah tetapi tidak dengan gadis ini. Kecuali jika mereka kembar identik. Tetapi, apa itu mungkin? Gadis ini adalah kembar identik gadisnya yang terpisah setelah sekian lama, apa mungkin begitu?

 

Pria itu benar – benar yakin jika gadis ini adalah sang tunangan.

 

“Bohong! Kau pasti berbohong! Kau pasti Im Yoona! Ya Tuhan, kemana saja kau selama ini? Apa yang telah kau lakukan? Mengapa kau meninggalkanku, Yoong?” Pria itu semakin terdengar seperti sedang meracau. Gadis itu benar – benar menatapnya aneh sekarang.

 

“Maaf, tuan. Tapi aku tidak berbohong. Aku sama sekali bukan Im Yoona. Aku bahkan tidak mengenal Im Yoona” Sehun melepaskan cengkraman tangannya. Sekarang ia justru menatap kedua iris hitam arang di hadapannya lekat – lekat.

 

“Jika kau bukan Im Yoona, lalu bolehkah aku tahu siapa namamu? Kumohon…”

 

“Aku Calistha” Gadis itu menjawab sambil tersenyum kecil. Ia mengulurkan tangannya mengajak Oh Sehun untuk berkenalan. Sejenak guratan ekspresi kecewa dan sedih tampak terukir di wajahpria itu, namun dengan cepat ditutupi dengan senyuman manisnya. Kecewa dan sedih karena nama gadis itu bukanlah Im Yoona.

 

Sekali lagi ia bertanya pada dirinya sendiri

 

Apa gadis ini benar – benar bukanlah Im Yoona? Atau apakah ia hanya berpura – pura?

 

Atau mungkin mereka saudara kembar yang sudah sekian lama terpisah? Tetapi, ia merasa itu semua tidak mungkin. Karena sejauh yang ia tahu, Yoona tidak memiliki saudara ( sekalipun itu terpisah setelah sekian lama ). Atau mungkin… Mereka kembar identik?

 

Oh,sial! Apa yang sebenarnya telah terjadi? Dimana gadisnya dan siapa gadis ini sebenarnya? Apa ia hanyalah orang asing? Yang kebetulan memiliki wajah yang serupa dengan tunangannya? Rasanya tidak mungkin.

 

Teruslah tenggelam bersama terkaan – terkaanmu, Oh Sehun

 

.

 

.

 

.

 

.

 

.

 

.

 

.

 

.

 

.

 

To Be Continue…

 

Halo! Rencananya ini adalah chapter terakhir dari ff ini, tapi ga jadi karena ku putuskan untuk bagi chapter ini jadi dua part, biar ga kepanjangan hehe…

 

OH YA!!! Untuk final chapter nanti, akan aku password ya^^ Maaf mungkin pas komentar kemarin banyak yang bilang untuk jangan di password, tapi ini udah keputusan aku… Nanti, akan aku beri contact aku untuk mendapatkan passwordnya, hehe😀 Dan jangan lupa, kalian juga harus memberi id komentar kalian saat meminta password, hehe😀

 

Ok, terimakasih banyak ya sudah meluangkan waktu kalian untuk membaca ff ini^^ Jangan lupa berikan komentar^^ Kritik dan saran boleh kok, atau mungkin pertanyaan? Silahkan, Insyaaloh akan aku jawab😀

 

SEE YOU IN FINAL CHAPTER^^

84 thoughts on “Possessive and Obssesion ( Chapter 7 )

  1. yoona menghilang karna di culik chanyeol apa gimana ? apa itu yoona yang hilang ingatan ? kasian sehun yoona nya udah 8 bulang ngilang …. ayo eonni fighting untuk final chapternyabya semoga ga sad ending hehe

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s