(REMAKE) SUNSHINE BECOME YOU [2]

Sushine copy

Sunshine Becomes You

 mells present

P[1] – [2]

Oh Sehun – Im Yoona – (Oh) Jae Hyun

sorry for typo and grammatical error

*

Based on Novel Sunshine Becomes You karya Ilana Tan


             “Apa? Kakakmu seorang pianis?” Im Yoona menatap Jae Hyun yang duduk di sampingnya dengan mata terbelalak lebar. “Pianis?”

Jae Hyun balas menatapnya dan tersenyum tipis, namun Yoona   bisa

melihat ekspresi cemas di wajah laki-laki itu. “Ya. Malah dia cukup terkenal,” sahut Jae Hyun pelan.

Yoona merasa sekujur tubuhnya berubah dingin. “Aku mematahkan tangan seorang pianis terkenal” gumamnya lirih. Lalu ia memejamkan mata dan menutup wajah dengan kedua tangannya.

           “Ya Tuhan.”

          “Hei, ini bukan kesalahanmu.” kata Jae Hyun sambil memegang bahu Yoona dan mengguncangnya pelan, mencoba menghiburnya.

          “Kau juga bukannya sengaja tersandung karpet dan menjatuhkan diri dari tangga untuk mencelakainya.”

          Yoona menghela napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan pelan. Ia dan Jae Hyun sedang duduk di deretan bangku di koridor rumah sakit, menunggu Oh Sehun yang masih berada di ruang pemeriksaan dokter. Ajaibnya, Yoona sendiri tidak terluka setelah terjatuh dari tangga. Hanya ada sedikit memar di pahanya. Pergelangan kakinya tadi juga hanya terkilir ringan dan sekarang sudah sembuh sama sekali. Sedangkan Oh Sehun… Mereka tidak tahu separah apa cedera yang dialami Sehun, tetapi melihat bagaimana laki-laki itu memejamkan mata dan mengertakkan gigi menahan sakit selama perjalanan ke rumah sakit, Yoona sudah mempersiapkan diri menerima yang terburuk. Tetapi, ia benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang. Apa yang harus kau lakukan apabila kau mematahkan tangan pianis terkenal?

          Yah… Tentu saja hal pertama yang harus kau lakukan adalah meminta maaf. Yoona belum sempat melakukannya tadi. Ya, ia harus meminta maaf setelah itu? Selain meminta maaf, apa lagi yang harus kau   lakukan   apabila   kau   mematahkan   tangan   pianis terkenal? Membayar biaya perawatannya?

Bagaimana kalau Oh Sehun tidak bisa bermain piano lagi?

           Gagasan itu tiba-tiba menyelinap ke dalam benak Yoona dan Yoona pun menegang. Ya Tuhan, semoga hal itu tidak terjadi. Ia pasti merasa sangat berdosa kalau hal itu sampai terjadi. Yoona kembali menarik napas dalam-dalam dan bau rumah sakit yang dibencinya membuat dadanya terasa berat dan sesak. Telinganya menangkap suara-suara di sekitarnya. Suara para dokter dan perawat yang membahas pasien tertentu dalam istilah kedokteran yang tidak dipahami orang awam, suara bernada monoton yang terdengar dari pengeras suara, dering telepon, bunyi ranjang beroda yang didorong cepat sepanjang koridor, bunyi berdenting ketika pintu lift terbuka. Semua suara itu membuat Yoona semakin tertekan. Ia ingin segera keluar dari sini. Ia ingin…

           Tiba-tiba Jae Hyun melompat berdiri di sampingnya. Yoona mendongak dan melihat Oh Sehun keluar dari ruang pemeriksaan bersama seorang dokter tua. Sepertinya sang dokter sedang mengatakan sesuatu dan Oh Sehun mendengarkan sambil mengangguk muram. Mata Yoona berahli ke tangan Oh Sehun. Tangan kirinya dibebat dan tergantung kaku di depan dadanya.

            Jadi… tangannya benar-benar patah?                                                                             

           “Bagaimana tanganmu? Apa kata dokter?” Jae Hyun bertanya ketika Oh Sehun sudah selesai bicara dengan dokter dan menghampiri mereka.

          Yoona ikut berdiri dengan perlahan. Saat itu juga mata Oh Sehun beralih ke arahnya dan Yoona merasa jantungnya berhenti sejenak dan napasnya tercekat. Mata hitam yang menatapnya dengan dingin itu membuat Yoona berharap bumi menelannya detik itu juga. Seandainya tatapan bisa membunuh, Yoona pasti sudah terkapar tak bernyawa. Kemudian   tatapan   mematikan   itu   berahli   ke   arah   Jae Hyun.

           “Kenapa dia masih ada di sini?” tanya Sehun dengan suara rendah dan pelan.

           Yoona menggigit bibir dan melirik Jae Hyun sekilas. Ia tahu pasti siapa Dia yang dimaksud. Begitu pula Jae Hyun.

          “Sehun, ayolah. Yoona tidak mencelakaimu dengan sengaja. Kau tahu itu.” kata Jae Hyun berusaha menenangkan kakaknya.

           Oh Sehun tidak berkata apa-apa. Tanpa melihat ke arah Yoona lagi ia berjalan melewati adiknya dengan langkah lebar.

           “Sehun,” panggil Jae Hyun. “Sehun”

           Yoona menatap punggung Oh Sehun yang berjalan pergi menyusuri koridor dengan perasaan bercampur aduk. Bingung. Cemas. Takut.

Jae Hyun mendesah berat dan menoleh menatap Yoona sambil tersenyum. “Ayo,” katanya.

Yoona menatap Jae Hyun, lalu menatap sosok Sehun yang menjauh, lalu kembali menatap Jae Hyun. “Eh… kurasa aku, tidak…”

         “Ayolah,” sela Jae Hyun sambil meraih siku Yoona dan menariknya menyusul Sehun yang sudah tiba di depan pintu lift di ujung koridor.

Begitu pintu lift terbuka dan mereka melangkah masuk, Yoona langsung berdiri menempel di sudut. Oh Sehun tidak berbicara sepatah kata pun. Jae Hyun menatap Yoona dan kakaknya bergantian, lalu mengembuskan napas pelan. “Jadi apa kata dokter?” Jae Hyun mencoba bertanya kepada Sehun sekali lagi.

         Yoona memberanikan diri melirik Oh Sehun. Ia tidak bisa melihat laki-laki itu dengan jelas dari tempatnya berdiri, tetapi dari apa yang bisa dilihatnya, wajah Oh Sehun masih terlihat menakutkan. Setelah sejenak, terdengar suara Oh Sehun yang rendah, “Aku tidak boleh menggerakkan tanganku. Dan tanganku akan tetap dibebat seperti ini selama dua bulan ke depan. Setelah itu kita baru bisa tahu dengan pasti apakah ada kerusakan permanen, dan apakah aku bisa  menggerakkan tanganku seperti dulu lagi.”

         “Dua bulan?” tanya Jae Hyun kaget. Ia menatap kakaknya, “Berarti konsermu minggu depan..”

        “Mm.”

Konser? Minggu depan? Konser apa? Mata Yoona beralih dari Oh Sehun ke Jae Hyun, lalu kembali ke Oh Sehun. Apa yang sedang mereka bicarakan? Jangan-jangan…

        “Harus dibatalkan.”

         Tepat setelah Oh Sehun berkata seperti itu, terdengar bunyi berdenting dan pintu lift terbuka. Oh Sehun dan Jae Hyun melangkah keluar dari lift, namun Yoona mematung sejenak sebelum tersadar dan cepat-cepat menyusul mereka. Jadi Oh Sehun seharusnya mengadakan konser minggu depan? Dan sekarang ia harus membatalkan konser itu karena tangannya cedera? Yoona memang tidak tahu banyak tentang penyelenggaraan konser, tetapi membatalkan suatu pertunjukan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ada masalah ganti rugi dan semacamnya… Bukankah begitu?

          Astaga, masalah ini semakin rumit. Setelah mereka masuk ke dalam mobil Jae Hyun mengemudi, Oh Sehun menempati kursi penumpang di sampingnya, dan Yoona duduk di kursi belakang yang agak sempit— dan mobil melaju meninggalkan rumah sakit, Yoona berusaha menenangkan diri dan mengumpulkan keberaniannya. Ia memejamkan mata, menarik napas panjang diam-diam, dan baru hendak membuka mulut untuk meminta maaf ketika Oh Sehun mengeluarkan ponsel dari saku celananya, menekan salah satu tombol, lalu menempelkan ponsel ke telinga. Yoona mengurungkan niatnya dan menutup mulutnya kembali.

          “Kau menelpon siapa?” tanya Jae Hyun.

         “Karl”

         “Manajermu?”

         “Mm.” Lalu, “Karl? Ini aku. Aku ingin kau membatalkan konser minggu depan.” Yoona menggigit bibir.

         “Tidak, bukan hanya konser di New York ini. Semuanya… Ya, semuanya… Chicago, L.A, Boston… Ya, Karl, semuanya. Batalkan semua jadwalku sampai akhir tahun.” Yoona mulai menggigiti kuku jarinya. Jadi bukan hanya satu konser? Apakah keadaan ini bisa lebih buruk lagi?

          “Akan kuceritakan besok,” kata Oh Sehun. “Sekarang katakan padaku apa yang bisa kau lakukan tentang pembatalan ini?”

           Yoona tidak terlalu mengerti apa yang dibicarakan setelah itu. Oh Sehun lebih banyak mendengarkan, kadang-kadang menyela untuk bertanya atau bergumam pendek. Yoona memandang ke luar jendela, namun tidak benar-benar mengamati sesuatu. Pemandangan di luar sana melesat lewat dalam bentuk bayangan samar. Hari ini bukan hari yang mudah bagi Yoona, dan bukan hanya karena masalah Oh Sehun. Harinya sudah terasa salah sejak Yoona membuka mata pagi ini. Dan dari sana segalanya bertambah buruk.

         Jae Hyun membelok ke Riverside Drive. Tidak lama kemudian ia melambatkan laju mobilnya dan berhenti di depan salah satu gedung bertingkat empat di tepi jalan. Oh Sehun menutup ponsel dan menoleh ke arah Jae Hyun. “Aku harus menemui Karl besok pagi. Kau bisa mengantarku ke sana?” Ia menggerakkan tangan kirinya yang digantung di depan dada.  “Aku tidak bisa mengemudi.”

         “Maaf, besok tidak bisa,” sahut Jae Hyun dengan nada menyesal.

         “Kami harus tampil dalam acara amal untuk anak-anak.”

        “Aku bisa.” Dua kata itu meluncur dari mulut Yoona sebelum sempat diproses otaknya. Kedua laki-laki  yang duduk di depannya menoleh menatapnya. Yah, sebenarnya Jae Hyun yang menoleh menatapnya. Oh Sehun hanya memiringkan kepala sedikit, melirik Yoona sekilas, lalu kembali menatap lurus ke depan.

          “Aku…,” gumam Yoona agak salah tingkah. “Aku bisa… Maksudku…”

          Oh Sehun menghela napas panjang, lalu bergumam, “Tidak perlu.”

          Lalu kata-kata berikutnya lebih ditujukan kepada Jae Hyun, “Biar kusuruh Karl datang ke sini saja besok pagi.”

        Yoona membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, tetapi tidak sempat, karena Oh Sehun sudah membuka pintu mobil dan keluar. Jae Hyun melemparkan seulas senyum menenangkan ke arah Yoona, lalu bergegas membuka pintu mobil dan menyusul kakaknya yang sudah mulai menaiki tangga batu di luar gedung. Yoona juga keluar, namun ia tetap berdiri di samping mobil di trotoar, melihat Jae Hyun memegang bahu Sehun dan mengatakan sesuatu kepadanya. Yoona tidak bisa mendengar apa yang dikatakan dari tempatnya berdiri, tetapi Oh Sehun hanya mendengarkan Jae Hyun tanpa berkata apa-apa. Oh Sehun menyipitkan mata menatap adiknya, lalu menoleh ke arah Yoona. Tanpa sadar Yoona menelan ludah ketika mata gelap itu menatapnya. Dan tanpa sadar pula ia melangkah mundur dan punggungnya langsung menempel di mobil. Kemudian Sehun kembali menatap Jae Hyun, mengatakan sesuatu yang singkat, lalu berjalan masuk ke dalam gedung. Pintu depan tertutup di belakang Oh Sehun dan saat itu barulah Yoona bisa mengembuskan napas yang ternyata ditahannya sejak tadi. Jae Hyun menuruni tangga dan menghampiri Yoona.

         “Jangan khawatir. Sehun tidak menyalahkanmu,” katanya sambil tersenyum menenangkan.

         Yoona menatapnya dengan alis terangkat ragu. “Kau yakin? Asal kau tahu saja, dia terlihat sangat menakutkan bagiku.”

         Jae Hyun tidak menjawab. Ia hanya tersenyum, lalu berkata, “Aku akan mengantarmu kembali ke Small Steps.”

         Yoona menggeleng. “Tidak perlu. Sebaiknya kau menemani kakakmu saja,” sahutnya tegas.

       Melihat Jae Hyun sepertinya ragu dan hendak membantah, Yoona cepat-cepat memaksa bibirnya tersenyum dan berkata, “Aku akan menelponmu nanti. Oke?”

*****

            Yoona berlari-lari kecil menaiki tangga dan memasuki gedung Small Steps Big Steps Dance Studio. Irene yang duduk di balik meja resepsionis mengangkat wajah. Begitu melihat siapa yang datang, wanita setengah baya iu langsung terkesiap, melompat berdiri dan bergegas menghampiri Yoona. Kecelakaan di tangga tadi sempat menghebohkan orang-orang di sana dan Irene hanya ingin memastikan Yoona tidak menderita luka parah atau semacamnya. Tanpa memberikan penjelasan mendetail tentang Oh Sehun, Yoona menegaskan kepada Irene bahwa dirinya baik-baik saja dan malah bisa langsung mengajar kelas berikutnya tanpa masalah. Dan Irene berjanji akan membakar karpet tua sialan yang membuat Yoona tersandung dan akhirnya terjatuh dari tangga.

          Setelah itu Yoona pergi ke ruang loker untuk bersiap-siap. Jam yang tergantung di dinding ruang loker menunjukkan bahwa kelasnya akan dimulai setengah jam lagi. Yoona sudah menjadi instruktur tari kontemporer di Small Steps Big Steps Dance Studio selama kurang-lebih satu tahun terakhir ini. Ia menyukai pekerjaannya. Setidaknya dengan begini ia masih bisa menari. Walaupun menjadi instruktur di studio tari tidak sama dengan menjadi penari utama dalam pertunjukan besar di Broadway, setidaknya ia masih bisa menari. Itulah yang terus-menerus dikatakannya pada diri sendiri. Setidaknya ia masih bisa menari.

         Menari adalah hidupnya. Menari adalah jiwanya. Ia tidak punya keahlian selain menari. Ia tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi padanya apabila ia tidak bisa menari lagi. Yoona sadar ia sama sekali tidak bisa dibilang berotak encer. Nilai pelajarannya di sekolah dulu biasa-biasa saja. Ia tidak menonjol dalam mata pelajaran apa pun. Dulu ia adalah gadis kecil yang teramat sangat biasa. Tidak terlalu cantik, tidak terlalu pintar. Tetapi juga tidak jelek dan tidak bodoh. Berbeda dengan orangtuanya.

       Ayahnya adalah professor matematika di universitas dan ibunya adalah akuntan. Kata orang, buah tidak akan jatuh dari pohonnya. Tetapi disitulah letak permasalahannya.   Yoona   bukan   anak   kandung   orangtuanya. Ia diadopsi oleh pasangan Im sejak bayi. Kenyataan bahwa dirinya adalah anak adopsi sudah diketahui Yoona sejak kecil. Bagaimana tidak? Yoona yang bermata gelap dan berambut hitam sangat berbeda dengan orangtuanya yang bermata biru dan berambut pirang. Namun orangtuanya menyayanginya sepenuh hati, selalu menganggap Yoona sebagai anak kandung, dan selalu mendukung Yoona. Yoona tidak pernah kekurangan kasih sayang atau apa pun. Tetapi kadang-kadang ketika ia masih kecil—hanya kadang- kadang, dan ini sangat jarang terjadi—ia ingin tahu siapa dirinya sebenarnya.  Ia tahu dirinya diadopsi dari panti asuhan di Amerika Serikat. Tetapi tidak ada yang tahu siapa orangtua kandungnya, latar belakangnya, atau apakah orangtuanya warga Negara Amerika atau bukan. Wajah Yoona menunjukkan ia memiliki keturunan Asia, tetapi ia tidak tahu tepatnya Asia bagian mana.

        Yoona membuka pintu loker dan mengeluarkan tasnya. Lalu ia duduk di bangku panjang di tengah-tengah ruangan dan menarik napas panjang. Ia tidak pernah benar-benar ingin bertemu dengan orangtua kandungnya. Untuk apa bertemu? Memangnya ada gunanya? Ia mengeluarkan tabung plastik kecil dari dalam tas, membuka tutupnya, menjatuhkan sebutir pil ke telapak tangan dan langsung memasukkannya ke mulut.

       “Yoona?”

        Yoona tersentak dan menoleh.

         “Oh, Lucy” gumamnya ketika melihat rekan kerjanya sesama instruktur di Small Steps.  Lucy membuka pintu loker di sebelah loker Yoona. Ia menggerakkan dagunya, menunjuk tabung plastik yang ada dalam genggaman Yoona. “Kau sakit?” tanyanya.

          Yoona melempar tabung plastik itu ke dalam tasnya dan mendesah. “Sakit kepala.”

         “Gara-gara jatuh di tangga tadi?”

         “Bagaimana kau bisa tahu tentang kejadian di tangga tadi?” Yoona balas bertanya. “Bukankah kau tadi tidak ada?”

          Lucy   tertawa   kecil.   “Irene   memberitahuku   begitu aku kembali sehabis makan siang. Katanya Jae Hyun dan temannya juga ada di sana waktu itu dan mereka yang mengantarmu ke rumah sakit.”

           Yoona mengernyit ketika teringat pada Oh Sehun. “Dia bukan teman Jae Hyun, tapi kakaknya,” gumamnya.

          “Dan bukan aku yang terluka, tapi dia.”

          “Oh, ya? Tapi dia tidak apa-apa, bukan?”

          Yoona mendesah berat. “Tangannya terkilir dan harus dibebat selama dua bulan ke depan.”

        “Oh?   Tapi   apakah   dokter   mengatakan   sesuatu? Apakah cederanya serius?”

         Yoona mengangkat bahu. “Tidak. Entahlah.”

         “Kalau dia memang cedera parah, dokter pasti sudah berkata begitu. Mungkin hanya terkilir sedikit. Bukan masalah besar,” kata Lucy. Yoona menatap temannya dan tersenyum samar. “Mudah-mudahan saja begitu.”

            Lucy melepas jaketnya dan menggantungnya ke bagian belakang pintu loker. “Aku lega kau tidak terluka, tapi aku ingin sekali melihat reaksi Jae Hyun ketika melihatmu jatuh dari tangga,” katanya. “Dia pasti panik setengah mati.”

             Yoona berdiri dan memasukkan tasnya kembali ke dalam loker.

            “Oh, ya? Kenapa?”

          Lucy menoleh ke arahnya dengan alis terangkat. “Kenapa? Yoona, dia jelas-jelas menyukaimu. Dia setuju mengajar di sini juga karena kau memintanya. Jangan katakan padaku kau tidak menyadarinya.”

             Oh, ya. Yoona menyadarinya. Tetapi ia hanya tersenyum dan berkata, “Jae Hyun memang baik.”

            Lucy menutup pintu lokernya dan menyandarkan sebelah bahu di sana, menghadap Yoona. “Dia memang baik. Jadi apa lagi yang kau tunggu?”

           Yoona menoleh menatap temannya. “Apa?”

           “Dia baik, menyenangkan, dan menurutku enak dipandang. Jadi apa lagi yang kau tunggu?” tanya Lucy sekali lagi. “Kau tidak menyukainya?”

          “Aku menyukainya” bantah Yoona.

         “Tapi bukan dalam pengertian yang itu.”

          Yoona menutup pintu loker dan tersenyum kepada   temannya.

         “Ayo, kita pergi. Kelas akan dimulai sebentar lagi.”

        “Lagi-lagi mengalihkan pembicaraan,” gerutu Lucy, lalu mengikuti Yoona keluar dari ruangan loker.

*****

           Sehun berjalan menyusuri trotoar, kembali ke gedung apartemennya, sambil menyesap kopinya dengan perasaan lega. Ia tidak bisa berfungsi dengan baik sebelum minum secangkir kopi setiap pagi. Karena itu pagi ini ia hampir gila karena tidak bisa membuat kopi seperti biasa. Sejak kemarin ia baru menyadari bahwa ada banyak hal sederhana yang tidak bisa dilakukannya hanya dengan sebelah tangan, termasuk membuat kopi. Satu-satunya hal yang berhasil dilakukan Sehun dengan sebelah tangan adalah membuat dapurnya berantakan.

            Semua ini gara-gara gadis itu.

        Sehun mengumpat dalam hati. Tidak, ia tidak akan memikirkan gadis itu. Tidak sekarang. Kalau ia memikirkan gadis itu, yang ingin dilakukannya sekarang adalah meremukkan wadah plastik berisi kopinya dan meninju sesuatu. Jadi, tidak, ia tidak akan memikirkan gadis itu sekarang. Sekarang ia hanya ingin menikmati kopinya, walaupun kopi yang dibelinya dari kafe di ujung jalan ini sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan kopi buatannya sendiri. Tapi hanya ini yang bisa didapatkannya sekarang. Dan ia harus puas dengan ini. Kopi ini saja sudah cukup. Ia tidak perlu sarapan walaupun ia kelaparan. Ia juga tidak perlu…

           Sehun menghentikan jalan pikirannya seiring langkah kakinya yang berhenti mendadak di tengah anak tangga di depan gedung apartemennya. Terkutuklah dirinya. Sehun melihat gadis itu berdiri dipintu depan gedung apartemennya.

           Gadis itu

          Mimpi buruknya. Malaikat kegelapannya.

         Dan suasana hati Sehun pun kembali buruk.

        Gadis itu berdiri membelakangi Sehun, menghadap interkom yang terpasang di samping pintu, menekan bel apartemen Sehun berulang-ulang. Setelah menunggu beberapa detik dan tidak mendapat jawaban, ia menghela napas panjang. Tentu saja, ia belum sadar bahwa Sehun tidak ada di apartemen karena Sehun sebenarnya sedang berdiri tepat di belakangnya.

         Sehun mengerutkan kening menatap malaikat kegelapannya yang mendadak muncul di depan matanya. Kenapa gadis itu datang ke sini? Gadis itu masih berdiri menghadap interkom. Sebelah tangannya terangkat sekali lagi hendak menekan bel, tetapi tidak jadi. Tangannya diturunkan kembali. Ia mendesah pelan, lalu berbalik. Dan langsung terkesiap melihat Sehun. Mata gadis itu melebar kaget dan ia berdiri mematung di hadapan Sehun. Sehun tidak berkata apa-apa. Ia hanya memberengut menatap gadis yang telah menghancurkan dunianya dan membuatnya cacat dalam sekejap.

          Gadis itu membuka mulut, tetapi Sehun lebih cepat. “Jangan coba-coba jatuh lagi,” katanya tajam. Gadis itu menatapnya dengan bingung. Lalu ia menunduk dan sepertinya menyadari apa yang dimaksud Sehun. Ia berdiri di puncak tangga di depan gedung apartemen, sementara Sehun berdiri di tengah-tengah tangga. Ketika ia kembali menatap Sehun, wajahnya terlihat merah. “Tidak, aku…”

         “Sedang apa kau di sini?” Sehun lagi-lagi menyela, dan sama sekali tidak mencoba membuat suaranya terdengar ramah. Kau tentu tidak mungkin mau bersikap ramah pada malaikat kegelapan, bukan?

          “Aku datang untuk meminta maaf,” kata gadis itu cepat, lalu menelan ludah dan menatap Sehun sambil menggigit bibir.

         Sehun menyipitkan mata. Ekspresinya tetap tidak berubah. Gadis itu menggerakkan sebelah tangannya tanpa maksud tertentu dan melanjutkan, “Aku belum sempat minta maaf. Kemarin, maksudku. Jadi hari ini aku datang untuk meminta maaf. Aku sangat menyesal. Sungguh, aku benar-benar tidak sengaja.”

         Sehun tidak berkata apa-apa selama sepuluh detik penuh. Lalu,

        “Baiklah. Kau sudah mengatakannya. Sekarang pergilah,” katanya dan berjalan menaiki anak tangga ke arah pintu depan. Ia merasa harus segera menyingkir dari posisinya yang berbahaya di tengah tangga, sebelum gadis itu jatuh lagi, menubruk dirinya, dan mematahkan kedua tangan serta kakinya.

       “Aku ingin membantu,” kata gadis itu tiba-tiba. Sehun menoleh   menatapnya,   masih   dengan   alis berkerut.

       “Apa?”

       Gadis itu tetap berdiri di tempatnya dan menatap Alex lurus- lurus. “Aku ingin membantu,” ia mengulangi kata-katanya tadi, namun dengan suara yang lebih pelan. “Bagaimanapun, akulah yang membuatmu menjadi seperti ini. Jadi…”

         “Dan bagaimana kau berencana membantuku?” tanya Sehun datar, sama sekali tidak berniat menerima bantuan apa pun dari gadis itu. Malaikat kegelapannya ragu sejenak, lalu berkata dengan nada bertanya, “Aku… bisa menjadi tangan kirimu?”

         “Kau bisa bermain piano?”

         “Eh… tidak.”

        “Kalau begitu tidak ada gunanya kau menjadi tangan kiriku,” tukas Sehun, lalu berbalik ke arah pintu. Dan tertegun. Matanya menatap kenop pintu, lalu ia menunduk menatap tangan kirinya yang dibebat dan tangan kanannya yang memegang wadah kopi. Oh, sialan.

         “Kau mau aku memegangi kopimu sementara kau mengeluarkan kunci?” Sehun menoleh ke arah gadis itu dengan perasaan dongkol tetapi tidak menemukan ekspresi mengejek di wajah gadis itu. Malaikat kegelapannya itu hanya menatapnya dengan ragu. Tanpa menunggu jawaban, gadis itu meraih kopi Sehun dan mau tidak mau Sehun terpaksa membiarkan gadis itu mengambil alih kopinya. Sementara Sehun merogoh saku celana jinsnya, gadis itu melanjutkan, “Aku bisa menyiram tanamanmu kalau kau punya tanaman.”

         Sehun mengeluarkan kunci dan memasukkannya ke lubang kunci.

         “Aku bisa memberi makan anjingmu… atau kucingmu… kalau kau punya anjing atau kucing.”

         Sehun memutar kuncinya dan langsung menyadari kesulitan lain yang dihadapinya. Untuk membuka pintu dari dalam, yang perlu dilakukannya hanyalah memutar kenop dan pintu akan terbuka. Tetapi untuk membuka pintu dari luar, ia harus memutar kunci dan kenop pintu sekaligus. Nah, bagaimana pula…

         Tiba-tiba gadis itu mengulurkan tangannya yang lain ke depan Sehun dan memutar kenop pintu.

         “Aku bahkan tidak keberatan disuruh bersih-bersih,” lanjutnya. Sehun menoleh ke arah malaikat kegelapannya yang   balas menatapnya dengan penuh harap. Siapa nama gadis ini? Sehun bertanya-tanya dalam hati. Apakah Jae Hyun pernah menyebutkannya? Mungkin. Entahlah. Ia tidak tahu dan tidak peduli.

          “Jadi,” kata gadis itu lagi ketika Sehun diam saja, “Bagaimana menurutmu?”

         Sehun menarik napas dan mengembuskan dengan kesal. Lalu ia mendorong pintu dan masuk ke dalam gedung tanpa berkata apa- apa.

       *****

         Yoona menahan pintu dengan sebelah tangan sebelum pintu itu tertutup di depan wajahnya. Ia menggigit bibir menatap Oh Sehun yang berjalan masuk ke dalam gedung apartemennya dan mengarah ke tangga. Kemarin malam, ketika Jae Hyun meneleponnya, laki-laki itu sudah memperingatkan Yoona bahwa Yoona tidak akan mendapat sambutan hangat dari kakaknya. Tanpa diperingatkan pun, sebenarnya Yoona sudah bisa menduganya. Kalau boleh jujur, ia tidak ingin bertemu dengan Oh Sehun lagi. Kenapa? Pertama, karena malu. Ia telah mencederai tangan seorang pianis sehingga mengharuskan pianis itu membatalkan pertunjukannya, yang tentunya menyebabkan masalah-masalah rumit lain menyangkut kerugian yang sangat besar. Kedua, karena takut. Oh Sehun sangat marah padanya dan itu sudah terlihat jelas kemarin. Hari ini pun laki-laki itu masih marah. Dan tatapan dingin laki-laki itu membuat Yoona ingin mundur teratur, berbalik, lalu berlari pergi.

         Namun apakah setelah mencederai tangan seseorang— walaupun itu tidak disengaja—kau bisa berbalik pergi begitu saja tanpa merasa bersalah dan tanpa merasa perlu melakukan sesuatu untuk menebus kesalahanmu? Well, Yoona tidak bisa. Perasaan bersalah terus menghantuinya sejak kemarin dan membuat perasaannya sangat tidak enak. Jadi di sinilah dirinya. Berusaha meminta maaf kepada Oh Sehun dan melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Berusaha bertanggung jawab. Tetapi laki-laki itu sama sekali tidak ingin berurusan dengannya. Yoona mengembuskan napas putus asa. Apakah sebaiknya ia pergi saja? Karena menghadapi Oh Sehun lagi sepertinya tidak ada gunanya. Malah laki-laki itu akan semakin membencinya. Ya, sepertinya yang terbaik yang bisa dilakukan Yoona untuk membantu Oh Sehun adalah menyingkir dari hadapannya. Setidaknya untuk sementara, sampai laki-laki itu sedikit lebih tenang.

          Tapi… Yoona menunduk menatap kopi Oh Sehun yang masih dipegangnya. Aih… Setelah menarik napas dalam-dalam untuk menguatkan diri, Yoona pun menyusul Oh Sehun masuk ke dalam gedung dengan berat hati.

          “Tunggu,” panggil Yoona ketika ia melihat Oh Sehun berjalan menaiki tangga. “Kopimu…”

          Tentu saja Oh Sehun tidak menjawab. Yah, mungkin ia tidak mendengar panggilan Yoona karena sosoknya sudah menghilang ketika ia berbelok di tengah tangga. Yoona mendesah dan bergegas menyusulnya. Kenapa laki-laki itu tidak menggunakan lift? Yoona tidak tahu. Tetapi napas Yoona sudah tersengal ketika ia tiba di lantai empat. Yoona berdiri di puncak tangga sambil berpegangan pada dinding dan berusaha mengatur napas.

          “Kenapa kau mengikuti?”

         Yoona mengangkat kepala mendengar suara yang dalam dan tajam itu. Oh Sehun berdiri di depan pintu yang sudah pasti adalah pintu apartemennya dan menatap Yoona dengan kening berkerut. Yoona   mengangkat   tangannya   yang   masih   memegang kopi.

             “Ini..”  Oh Sehun memiringkan kepada sedikit, menatap Yoona. “Naik tangga sedikit dan kau sudah kehabisan napas? Kukira Jae Hyun pernah berkata bahwa kau penari.”

              Yoona menegakkan tubuh. “Penari juga manusia,” sahutnya datar. Oh Sehun berkacak pinggang dan mengembuskan napas kesal. “Kenapa kau terus mengikutiku? Apa sebenarnya yang kau inginkan?”

            Yoona memejamkan mata sejenak. Ia harus mengendalikan diri. Tarik napas… keluarkan… tenangkan diri… Lalu ia membuka mata dan menatap Oh Sehun. “Baiklah, aku akan mengatakannya padamu sekali lagi,” katanya dengan nada pelan dan jelas. “Aku datang ke sini untuk meminta maaf dan aku sebenarnya ingin bertanggung jawab atas semua yang sudah kulakukan. Jae Hyun merasa kau membutuhkan bantuan dan karena dia tidak bisa menemanimu setiap saat, kupikir aku mungkin bisa membantu.” Ia berhenti sejenak untuk menarik napas, lalu melanjutkan, “Aku sudah meminta maaf dan aku sudah menawarkan bantuan. Tapi sepertinya   kau tidak bersedia menerima keduanya. Baiklah, tidak apa-apa. Setidaknya aku sudah melakukan apa yang harus kulakukan dan sekarang aku tidak perlu merasa bersalah lagi.”

              Oh Sehun menatapnya dengan alis terangkat, walaupun raut wajahnya sulit dibaca. Yoona menghampiri Oh Sehun dan menyodorkan kopi yang masih dipegangnya ke arah laki-laki itu.

           “Ambil ini,” katanya pendek. Oh Sehun menerimanya, namun masih tidak berkata apa-apa.

          “Semoga harimu menyenangkan,” gumam Yoona datar dan tanpa nada tulus dalam suaranya, lalu berjalan ke arah lift. Ia tidak sudi turun melalui tangga. “Siapa namamu?”

          Yoona berhenti melangkah dan berbalik menatap Oh Sehun dengan curiga. Apa lagi sekarang? Laki-laki itu mau melaporkanku ke polisi? “Yoona,” jawabnya datar. “Im Yoona”

           “Kau benar,” kata Oh Sehun. Yoona mengerutkan kening. “Apa?”

           “Kau benar,” kata Oh Sehun sekali lagi. Seulas senyum kecil yang hambar tersungging di bibirnya. Yoona tidak yakin ia suka melihat senyum seperti itu. “Kau memang bersalah. Dan kalau dipikir-pikir, kau memang harus bertanggung jawab karena telah membuatku cacat dan mengacaukan hidupku.”

            “Cacat? Kau tidak cacat,” sela Yoona. “Tanganmu akan sembuh dalam beberapa bulan.”

            “Tidak ada yang menjamin tanganku bisa kembali seperti sediakala,” balas Oh Sehun. “Dan semua itu gara-gara kau.”

              Yoona menelan ludah diam-diam. “Aku tahu, karena itulah…”

          “Baiklah,” sela Oh Sehun tanpa menghiraukan kata-kata Yoona. “Kalau kau memang ingin menjadi pesuruhku, kuizinkan kau menjadi pesuruhku.”

Cut!

Hai kalian, semoga kalian suka, see you next time!

xoxo :**


30 thoughts on “(REMAKE) SUNSHINE BECOME YOU [2]

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s