FACE OFF [11-END]

faceoff-by-fn-posterby_vtaehy

author : FN

main cast : Park Chanyeol, Im Yoona, Mun Joo Won

other cast : Lay, Baekhyun, Seohyun, Luhan, Minho and others

genre : action, family, marriage life, little romance, friendship, hurt and others

length : chapter

rating : PG 15

poster : vtaehy at Indo Fanfictions Arts 

desclaimer : dari berbagai film yang author jadiin satu dan author tambahi bagian cerita yang lain

Teaser 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

It’s been a long time~~

Joo Won terduduk ditangga itu tapi tiba-tiba dia merasakan sebuah tangan menariknya keatas, ketika dia menoleh dia melihat Chanyeol dengan keadaan setengah sadar berusaha menariknya. Dengan sedikit hentakan dia meraih tangan Chanyeol dan berusaha mencapai atas tapi—

Braakk

BOM!!

DUARRRR!!!!

BOM!!

DUAAARRR!!!!!

“appa”

“Ch—Chanyeol”

Yoona yang kala itu setengah sadar berusaha mengangkat tubuhnya sendiri akan tetapi tubuhnya sendiri tak berdaya, segala kekuatannya terasa hilang saat itu. Dia berusaha merangkak, melakukan berbagai macam cari mendekati bangunan dengan api membara. Seseorang menariknya–Lay, orang kepercayaan Chanyeol menariknya, menahannya agar tetap berada ditempatnya. Lay tahu, ini semua pasti akan secepatnya terjadi mengingat ini adalah resiko yang memang harus mereka miliki sampai akhir hayat mereka. Xiumin, lelaki itu menarik Seohyun dan menutupi kedua telinga milik gadis manis yang terus saja menangis

“Chan—Chanyeol!!” lirih Yoona menangis

“CHANYEOL-AH!!!”

“ngguunggg”

Dengungan suara bom yang merambat ditelinga Yoona itu membuat kepalanya menjadi benar-benar ngilu hingga akhirnya dia jatuh pingsan dan tepat setelahnya beberapa saat kemudian ambulance dan mobil-mobil polisi mulai berdatangan

“apppaaa!!” teriak Seohyun menangis dalam pelukan Xiumin, “appa”

Xiumin tak bisa melakukan apa-apa, jadi dia hanya diam dengan memeluk Seohyun

“nggungg”

“ah…” rintih Xiumin melepaskan pelukannya dari Seohyun

“oppa..oppa!” Seohyun menepuk kedua pipi Xiumin yang menjadi tak sadarkan diri

Ketika petugas kesehatan datang mereka langsung digiring ke mobil ambulance dan di beri selimut oleh petugas itu. sedangkan Lay langsung memerintah agar segera membawa Yoona, Seohyun dan Xiumin kerumah sakit.

3 days later…

Yoona sudah pingsan selama 3 hari di karenakan shock yang sangat parah ditambah suara dengungan ledakan dari 2 buah bom itu membuat pendengaran Yoona sedikit tertanggu tapi karena Yoona dibawa secepatnya kerumah sakit kemungkinan untuk tuli bisa diatasi sedangkan keadaan Seohyun sudah baik, hanya saja karena luka-luka yang dideritanya selama menjadi sandera oleh orang-orang itu yang membuatnya juga harus dirawat inap dirumah sakit. Ketika kejadian ledakan itu terjadi seluruh luka yang ada ditubuhnya tiba-tiba saja terasa menghilang tetapi ketika tubuhnya dibawa kerumah sakit dan para dokter itu mengobati lukanya, dia mulai menangis lagi

Xiumin masih berada dirumah sakit itu tapi dia berada diluar menatap Yoona dan Seohyun yang berada didalam, ingin masuk sebenarnya tapi kekuatannya yang lain menahannya agar tetap berada diluar dan mengamatinya saja

“tak masuk?” tegur seseorang yang membuatnya kaget

“ehm—aniyo” jawab Xiumin pelan

“Zhang Yixing imnida, aku biasa dipanggil Lay” kata Lay memperkenalkan diri

“Xiumin imnida” jawab Xiumin pelan

“berapa umurmu?” tanya Lay

“18 tahun” jawab Xiumin

“umurmu masih tergolong muda tapi kau justru mengikuti hal berbahaya seperti itu, jika saja Seohyun saat itu tak membelamu maka kau akan berakhir dipenjara karena dugaan sementara hanya kau yang masih hidup diantara semua orang itu”

“hanya aku?” tanya Xiumin, Lay menatap Xiumin dengan dahi mengkerut tak mengerti, “benar, hanya kau yang tersisa dari semua orang yang merencanakan ini. Tak ada yang tersisa dari semua anggota kalian” lanjutnya

“kenapa kau bisa bergabung dengan mereka?” tanya Lay

“aku bukan bergabung dengan mereka sebenarnya tapi—”

Flashback

“hey! Apa yang kau lakukan disini?!” bentak seseorang mengagetkan Xiumin yang tak sengaja menemukan sebuah ruang dibawah tanah di panti asuhannya, di tempat itu ada banyak teknologi canggih dan juga beberapa foto-foto yang terpasang disana dengan tanda silang berwarna merah yang melambangkan kematian (itu menurut Xiumin berdasarkan komik yang dia baca di perpustakaan sekolahnya)

“eh?—hyung? Err—aku—”

“apa yang kau lakukan disini?” tanya lelaki itu tajam sedangkan Xiumin makin menciut nyalinya karena suara itu benar-benar menggelegar ditelinganya

“aku—mianhe—mianhe” jawab Xiumin berulang-ulang

“cih!” kata lelaki itu sambil mengayunkan tangannya ingin memukul Xiumin

“Kai!” teriak lelaki lain yang mengetahui lelaki bernama Kai itu ingin memukul Xiumin, “apa yang kau lakukan?” tanyanya

“lihatlah, anak ini menemukan markas ini” jawab Kai menunjuk bersalah pada Xiumin

“mi—mianhe, hyung. Aku tak sengaja”

“siapa yang menyuruhmu berbicara?!” bentak Kai, Xiumin langsung terdiam

“Kai, dia sudah bukan anak kecil lagi” kata teman Kai menarik tangan Kai yang selalu ingin memukul bocah didepannya

“tapi dia menemukan markas ini” sergah Kai

“tsk, aku punya ide lain” jawab lelaki itu tersenyum licik menatap Xiumin yang masih terdiam

“hey, kau Xiumin kan?” tanya lelaki itu, Xiumin mengangguk, “kau tahu siapa aku?” tanya lelaki itu menunjuk dirinya sendiri, “Min—Minho hyung” jawab Xiumin gugup

Lelaki bernama Minho itu tersenyum cerah dan merangkul pundak Xiumin kasar, “kau berhasil menemukan tempat ini, benar-benar hebat! Ehm—bagaimana jika kau menuruti keinginanku?” tanya Minho

“keinginan?” tanya Xiumin

“ne, keinginan sebagai balas budi karena kau telah menemukan tempat rahasia ini” jawab Minho

“a—apa itu?” tanya Xiumin takut-takut

“bergabung bersama kami dan jaga rahasia tentang ruangan ini, jika sampai kau membocorkannya maka—”

Klaakk

“kau akan mati ditangan benda bermakna ini” kata Minho memperlihatkan senjatanya pada Xiumin, dengan anggukan takut-takut Xiumin menyetujui apa yang disyaratkan Minho

Minho kemudian mendorong Xiumin hingga Xiumin terjatuh dan menyuruh Xiumin untuk kembali keatas dan bersikap seperti biasa agar tak ada orang mencurigainya kecuali tentu saja orang yang sangat berperan penting dalam panti asuhan ini.

Flashback off

“mereka mengancam akan membunuhku, saat itu umurku sekitar 17 tahun dan tentu saja aku sangat ketakutan ketika Minho hyung menodongkan pistol itu padaku” jelas Xiumin, Lay hanya manggut-manggut

“kau sudah mengucapkan terima kasih pada Seohyun?” tanya Lay, Xiumin menggeleng

“lalu, untuk apa kau kemari?”

“aku—aku ingin bertemu dengannya dan mengucapkan terima kasih tapi—aku takut memandang wajah mereka berdua. jika saja aku tahu tentang rencana yang sesungguhnya soal pembunuhan dan pembantaian ini, aku akan memilih menolak dan mati saat itu”

“tsk, buktinya sekarang kau selamat disini, jadi cepatlah masuk dan berterima kasihlah pada Seohyun” kata Lay membuka pintu rumah sakit itu dan mendorong Xiumin masuk

Seohyun tahu jika seseorang tengah membuka ruang rawat inapnya tapi dia tak ingin menoleh kearah tamu itu, dia memikirkan tentang keadaan appanya. Ketika dua bom itu meledak itu masih tergambar jelas di otaknya. bagaimana suara itu berdebum, bagaimana suara bangunan itu terasa runtuh, bagaimana tanan yang dipijakinya terasa bergetar dan juga belora api yang menyala-nyala membuatnya kembali ketakukan. Kenyataan pahitnya adalah, appanya masih berada didalam sana ketika dua bom itu meledak

“appa” lirih Seohyun, air matanya tak turun lagi karena sudah beberapa hari ini dia menangis dan eommanya masih pingsan disampingnya

“nona Park” panggil Lay pelan, Seohyun menolehkan wajahnya menatap Lay dan Xiumin secara bergantian

“bagaimana keadaanmu?” tanya Lay

“bagaimana keadaan appa?” tanya Seohyun tak menjawab pertanyaan Lay

Lay tersenyum mendengarnya, “kami belum bisa memastikan, nona, kami harus melakukan proses otopsi agar kami bisa mengetahui tentang semua jasad yang ditemukan” jelas Lay

Seohyun semakin menangis mendengarnya, Xiumin yang berdiri disamping Lay hanya menggenggam erat tangannya sejak tadi

“ajhussi, kau tak seharusnya mengatakan hal itu” bisik Xiumin, Lay langsung terdiam menyadari kesalahannya

“mianhamnida nona” kata Lay sedikit menunduk

“gumawo” kata Seohyun masih tetap menangis, Lay dan Xiumin saling berpandangan satu sama lain, “meskipun appa tak selamat tapi ajhussi dan Xiumin oppa menyelamatkanku” lanjutnya

“jika saja waktu itu aku memilih mengikuti Joo Won ajhussi untuk menyelamatkan eomma, mungkin sekarang aku tak berada disini tapi—tapi—aku benar-benar tak ingin kehilangan appa”

Mereka berdua langsung terdiam mendengarnya, niatan Xiumin untuk mengucapkan terima kasih diurungkannya karena melihat Seohyun yang masih menangis sendu tentang keadaan appanya. Dia sendiri tak tahu dengan keadaan detektif Park serta Mun Joo Won yang dia yakini masih berada didalam ruangan biadab itu.

Yoona pov

Aku mendengar suara tangisan Seohyun yang sangat nyata ditelingaku, juga suara Lay dan juga suara lelaki bernama Xiumin yang menjagaku dan Seohyun ketika kami menunggu Chanyeol dan Joo Won yang masih berusaha keras didalam ruangan bawah tanah itu—miris—aku meningatnya—aku meningat kejadian itu—ketika bom itu meledak dua kali dan ketika aku sadar bahwa suamiku masih berada didalam sana

Air mataku jatuh, aku menangis dengan mata terpejam, aku tak tahu mereka akan menyadariku atau tidak tetapi aku merasa sedang tidur sejak kejadian tadi. Apakah aku benar-benar kehilangan suamiku setelah aku kehilangan Lio? Ya Tuhan, kenapa kau membuat hidupku menjadi seperti ini?

“eomma” aku mendengar suara panggilan Seohyun yang lirih, aku mencoba membuka mataku perlahan tapi mataku benar-benar kesakitan karena terkena cahaya yang begitu menyilaukan, aku mendengar seseorang mendekat kearahku dan aku sedikit melihat bayangan dia memencet tombol bantuan yang tak berada ditembok. Beberapa saat kemudian aku mendengar suara derap langkah membuka pintu dan mendekatiku kemudian sebuah tangan membuka kelopak mataku juga aku merasakan stetoskop menempel bagian dadaku

“nyonya Park, sudah baik-baik saja” terang seseorang yang sangat aku yakini itu adalah seorang dokter. Tunggu? Dokter? Untuk apa dokter disini? Apa aku berada dirumah sakit? Mwo? bagaimana bisa?

Aku masih berusaha membuka mataku dan membiasakan mataku dengan cahaya diruangan yang masih belum terlihat jelas, aku masih mendengar dokter itu bercakap-cakap dengan seorang lelaki. Chanyeol kah? Tapi waktu itu…

BOM!!

DUAAR!!!

BOM!!

DUARRRR!!!

Suara ledakan itu terus mengganggu telingaku, aku memejamkan mataku rapat lagi agar suara bom meledak itu tak terus berdengung menggangguku. Aku juga mendengar suara-suara orang-orang disekitarku yang menanyakan keadaanku, aku tahu, aku sudah tak berada lagi ditempat ledakan itu. Chan—Chanyeol?

Tangisku kembali pecah, aku teringat akan Chanyeol yang masih berada didalam sana, dan ledakan itu—aku tak mau kehilangannya, dia milikku satu-satunya!

Aku merasakan seseorang menarik tanganku lembut, aku tahu tangan ini, ini tangan Seohyun. Aku sadar, tak seharusnya aku menangis seperti ini dihadapannya, itu akan membuatnya semakin down dengan melihat keadaanku dengan pelan kubuka mataku perlahan. Aku melihat 3 orang tengah menatapku dengan tatapan yang berbeda

“nyonya Park, anda sudah baik-baik saja?” tanya Lay, teman kerja Chanyeol

“Seohyun” lirihku, Seohyun langsung mendekat kearahku dan menggenggam tanganku. Aku merasakan tangannya bergetar hebat dan juga tangisan yang mulai turun dari wajahnya terus menerus

“eodiga? Chanyeol, eodiga?” tanyaku

Mereka bertiga langsung terdiam menatapku, Lay menatapku dengan tegas, Xiumin menatapku dengan iba sedangkan Seohyun masih tetap menangis. Aku tak mengerti maksud mereka tapi Chanyeol tak benar-benar meninggalkanku kan? Dia tak mungkin meninggalkanku sendirian disini bukan?

“Lay-ssi” panggilku pelan

“mianhamnida nyonya, kami belum bisa memastikan tentang keadaan detektif Park” jawab Lay

“maksudmu?” tanyaku

“kita masih harus menunggu hasil otopsi”

“itu berarti ada kemungkinan Chanyeol dan Joo Won masih hidup kan?” tanyaku penuh harap, ingin aku mendengar kata ‘ya’ dari mulut Lay tapi sekian lama aku menunggu ternyata Lay hanya terdiam menatapku.

Author pov

“mianhe, jeongmal mianhe” kata seorang lelaki berpakaian sangat rapi serba hitam sambil membawa sebuket bunga tulip berwarna putih, dia berjongkok dan meletakkannya diatas makam beton itu, disampingnya ada dua orang lelaki yang dengan setelan jas berwarna sama seperti lelaki yang tengah berjongkok itu

Lelaki itu kembali mengelus batu nisan itu, pemakaman mewah ini memang sepi tapi tempatnya benar-benar sangat terawat, seperti salah satu makam yang ketiga orang itu kunjungi. Keadaannya masih tetap sama seperti saat lelaki itu menghembuskan nafas terakhirnya setelah operasi yang berusaha dilakukan tapi sayang tekanan darahnya menurun drastis hingga tingkat kesadaran yang diperolehnya hanya sekian persen yang mengakibatkan nyawanya tak bisa diselamatkan lagi

“ajhussii” panggil seorang lelaki kecil yang berdiri disamping kedua lelaki yang berdiri tadi, “apa itu appa?” tanyanya polos

Kedua lelaki itu saling menatap kemudian salah satu lelaki yang paling pendek berjongkok mensejajari lelaki kecil itu sambil mengelus puncak kepalanya

“ne, itu appa Len. Gwenchana?” tanya lelaki itu

Lelaki kecil bernama Len itu terdiam, dia masih cukup kecil tapi dia mengerti apa yang dimaksud oleh lelaki yang dipanggilnya ajhussi itu. dia mendekati makam itu dan ikut berjongkok bersama seseorang disana, kedua tangan mungilnya saling menggenggam tapi dia tak menangis, dia diam saja sambil sesekali berkedip memandang batu nisan dari beton itu.

Lelaki yang berjongkok disebelah Len itu berdiri dan langsung menggendong Len, dia menatap lelaki kecil didepannya ini dengan sedikit senyuman terkembang diwajahnya

“sekarang, Len bersama ajhussi ne? Dan panggil ajhussi ‘appa’” kata lelaki itu, Len hanya mengerjapkan matanya dan kemudian mengangguk

“siap kembali?” tanya lelaki yang sedikit pendek darinya, lelaki itu mengangguk, “ne, aku siap”.

Siang itu Yoona dan Seohyun baru saja kembali dari aktivitas mereka, sejak rumah sakit tempat Yoona bekerja meledak dia langsung dipindahkan ke cabang lain tapi karena terjadi sesuatu hal yang tak terduga terpaksa Yoona harus mengambil cuti untuk menenangkan keadaannya seperti semula begitupula dengan Seohyun, pertama kali dia masuk kesekolah, wali kelasnya langsung menyuruh Seohyun pulang cepat karena Seohyun masih terlihat sangat pucat

Tapi keadaan mereka berdua masih baik-baik saja sampai sekarang, hanya saja mereka berdua lebih jarang berkomunikasi. Yoona selalu terlihat sibuk begitupula dengan Seohyun yang terus-terusan belajar. Siang ini, Yoona sedang menikmati teh hangatnya sambil membuat laporan tentang keadaan salah satu pasiennya sedangkan Seohyun yang juga duduk tak jauh darinya sedang sibuk dengan pekerjaan rumah yang diberikan oleh gurunya

Ting…tongg!!

Tak bergerak

Ting…tong!!

Tak bergerak

Ting…tong!!

“ajhumma!!” teriak Seohyun karena dia merasa terganggu dengan bunyi bel yang terus berbunyi sejak tadi, Lee ajhumma yang baru sadar akan bel rumah yang berbunyi segera berlari kecil menuju pintu utama dari rumah tempat dia bekerja

“ada yang bisa saya bantu, tuan?” tanya Lee ajhumma menatap lelaki yang berdiri didepannya

“apakah nyonya Park dirumah? sebab ketika aku menelponnya kerumah sakit, dia sudah pulang” jawab lelaki itu tersenyum

“ne, nyonya sudah pulang sejak tadi, akan saya panggilkan. Tuan, silahkan masuk”

“aniyo, aku akan menunggu disini saja”

Lee ajhumma langsung berjalan mendekati ruang tengah tempat Yoona dan Seohyun sibuk dengan pekerjaan mereka. Ketika Lee ajhumma mendekat tak ada salah satu dari mereka yang mendongak atau menyisahkan waktu mereka untuk menatap Lee ajhumma

“nyonya, ada tamu” kata Lee ajhumma pelan, Yoona yang mendengarnya mengangkat wajahnya dan menatap Seohyun

“nugu?” tanya Yoona, “saya tidak tahu nyonya, tapi dia mengatakan jika dia ingin bertemu dengan nyonya” jawab Lee ajhumma

Yoona meletakkan buku yang dipangkunya dan berdiri meninggalkan Seohyun diruang tengah. Dia tak sedang memiliki janji dengan siapapun tapi seseorang mencarinya di jam siang seperti ini itu cukup terdengar aneh baginya

“Lay-ssi?” kaget Yoona mendapati seorang lelaki tengah berdiri diteras rumahnya, mendengar namanya dipanggil, Lay menoleh dan tersenyum sopan kearah Yoona yang masih berdiri diambang pintu

“apa yang membuatmu kemari?” tanya Yoona, karena sudah sejak satu setengah tahun pasca meninggalnya Chanyeol (menurut kesimpulan akhirnya), dia sudah tak pernah lagi bertemu dengan Lay dan juga orang-orang yang berkaitan dengan Chanyeol

Lay tersenyum menatap Yoona, “aku tak akan berlama-lama disini nyonya, aku kemari ingin memberikan ini pada nyonya” jawab Lay sambil memberikan map cokelat pada Yoona

Yoona yang penasaran langsung membuka map cokelat itu dan membaca lembar demi lembar dari lampiran yang ada didalam map cokelat itu. seketika wajahnya membeku ketika dia membaca lampiran terakhir dan menatap Lay tak percaya, belum sempat dia mengucapkan sepatah kata seorang lelaki berperawakan tinggi tengah berjalan kearahnya dan berdiri tepat didepan Yoona yang masih membeku

“m–mwo?” Yoona berucap pelan, sesuatu tampak terlihat tak begitu nyata didepan wajahnya, sesuatu yang terus dia coba lupakan meskipun dia akan selalu teringat meskipun itu ditengah-tengah kesibukan pekerjaannya. Lelaki itu tersenyum menatap Yoona yang masih terlihat tak percaya, “kau tak percaya jika aku kembali?” tanyanya

Yoona langsung membuang map cokelat yang ada digenggaman tangannya tadi dan berhambur memeluk Chanyeol erat, dia menenggelamkan kepalanya pada bahu suaminya, air matanya terus berjatuhan karena dia merasa sangat bahagia. Chanyeol—dia belum mati dan dia berada disini—bersamanya

Ini bukan mimpi kan? Jika ini benar-benar mimpi tolong jangan pernah bangunkan aku sedikitpun

Lay yang melihat itu hanya tersenyum dan kemudian meninggalkan Chanyeol dan Yoona berdua, dia memasuki mobilnya yang ternyata sudah ada Baekhyun didalamnya. Baekhyun dan Lay saling tersenyum, kemudian Baekhyun segera melajukan mobilnya pergi

“ingin menemui kekasihmu?” tanya Baekhyun, “aniyo, aku ingin menemui seorang temanku” jawab Lay

“kau ingin Yuri menunggu lebih lama?” tanya Baekhyun lagi, “dia belum benar-benar menjadi kekasihku jadi dia masih temanku” jawab Lay

“oh… ayolah, bahkan aku sudah melamarnya”.

Yoona masih belum melepas pelukan Chanyeol hingga Seohyun datang dan terpaku dengan apa yang dilihatnya sekarang

“appa?” tanyanya tak percaya, Chanyeol tersenyum menatap Seohyun dan menarik anak semata wayangnya itu kedalam pelukannya. Chanyeol memeluk Yoona dan Seohyun secara bersamaa, Seohyun benar-benar menangis saat itu

“appa, mianhe, aku selama ini selalu berkata kasar padamu”

Chanyel tersenyum dan mengelus puncak kepala Seohyun, “gwenchana, itu juga karena kesalahan appa sendiri” jawab Chanyeol

Chanyeol melepas kedua pelukannya dan memanggil seorang agar mendekati mereka. Yoona dan Seohyun menatap bingung kearah lelaki kecil yang berada disamping Chanyeol yang merangkul pundak kecil itu

“namanya Len. err—bisakah kita mengadopsinya menjadi salah satu bagian dari keluarga kita?” tanya Chanyeol menatap penuh harap kearah Yoona dan Seohyun, “jebal?” mohon Chanyeol lagi

Yoona dan Seohyun saling terdiam satu sama lain, Yoona mengangkat alisnya tak mengerti

“ahh—Len, kajja” ajak Seohyun tersenyum kaku dan menarik tangan Len masuk kedalam rumahnya, untuk memberikan waktu berdua pada kedua orang tuanya

Yoona masih menatap Chanyeol tak mengerti. Bagaimana bisa Len bersama Chanyeol dan bagaimana bisa Chanyeol ingin mengadopsi Len padahal yang Yoona tahu Len adalah anak yang diadopsi oleh Joo Won?

“ceritanya panjang, sayang. Nanti aku ceritakan” kata Chanyeol, Yoona masih terdiam ditempatnya tak merespon

“tsk” gumam Chanyeol

Cup

Yoona membelalak ketika Chanyeol menciumnya tiba-tiba, “kajja, kita masuk. Aku benar-benar merindukanmu selama ini” kata Chanyeol menarik tangan Yoona dan melingkarkan tangannya pada pundaknya

“pabo” gumam Yoona pelan, tangannya juga ikut melingkar dipinggang Chanyeol yang menatapnya sambil berjalan masuk kedalam rumahnya.

Flashback

“kau tak bisa lari dengan mudah Joo Won, mungkin takdir mengatakan bahwa kita harus mati bersama” tawa Luhan tersenyum penuh kemenangan

Joo Won terduduk ditangga itu tapi tiba-tiba dia merasakan sebuah tangan menariknya keatas, ketika dia menoleh dia melihat Chanyeol dengan keadaan setengah sadar berusaha menariknya. Dengan sedikit hentakan dia meraih tangan Chanyeol dan berusaha mencapai atas

“jangan lepaskan tanganku!” teriak Chanyeol lemah, Joo Won semakin mencengkram erat tangan Chanyeol yang terulur

DOR

DOR

Luhan masih berusaha menembak

DOR

KLAK

“sialan!” desis Luhan, ingin dia berdiri tapi dia tak bisa, kakinya terasa lumpuh jadi dia berusaha menarik tubuhnya sendiri

Sreettt…brruukk

“Baekhyun!” kaget Joo Won

“tak ada waktu, kita harus cepat sebelum bom itu meledak” kata Baekhyun menarik tangan Chanyeol yang masih terbaring lemas, melihat Baekhyun kewalahan Joo Won menarik tangan Chanyeol dan meletakkannya dipundaknya

“Chanyeol” panggil Chanyeol semakin pelan, Joo Won yang mendengarnya hanya diam saja sambil tetap berusaha berjalan menyeret Chanyeol agar semakin menjauh

“aku anggap kau mendengarkanku. Tolong, jaga Len, apapun yang terjadi. Kau mau kan?”

“apa yang coba kau katakan?! Kau masih bisa bertahan, jadi percayalah! Jangan pesimis!” bentak Joo Won

Chanyeol hanya tersenyum kecil mendengarnya, “aku hanya ingin—kau menjaga Len—itu saja”

“omong kosong! Baekhyun, cepat dimana mobilnya, kita harus menyelamatkan Joo Won sebelum dia kehabisan darah!” seru Joo Won

“sebentar lagi” jawab Baekhyun yang juga ikut membantu

BOM!!

DUARRR!!

BOM!!

DUAAARRRR!!!

Mereka bertiga terpental jauh tapi yang jauh lebih parah adalah keadaan Chanyeol, dia ambruk begitu saja, tubuhnya sedikit tertimbun barang bekas dari ledakan tadi, sedangkan Joo Won masih terus berusaha menarik Chanyeol untuk menyelamatkan nyawanya

“Baekhyun, palii!” teriak Chanyeol mengatur nafasnya, “aahh” rintihnya pelan, sejak tadi dia baru sadar jika kakinya sedang terluka, dia melepas kemejanya dan merobeknya kemudian membalut lukanya dengan kain itu. dia juga melakukan hal itu pada Chanyeol

“dia baik-baik saja kan?” tanya Baekhyun yang sedang menyetir, “ne, dia pasti akan baik-baik saja” jawab Joo Won yakin

‘aku ingin bercerita lebih padanya tenang kehidupanku selama ini jadi, jangan mati bodoh!’.

Tapi tak bisa, mereka tak bisa melawan takdir, ketika Chanyeol (Joo Won) tepat dibawa kerumah sakit, detak jantungnya sudah mulai benar-benar melemah. Ketika akan dilaksanakan operasi, tekanan darahnya menurun drastis hingga tingkat kesadaran yang dimilikinya hanya seper sekian persen jadi dokter tak bisa melakukan operasi, jika tetap dilakukan maka akan membahayakan nyawa Chanyeol. sebelum dia kembali pingsan, dia sempat sadar dan memberi tahu Baekhyun agar segera melakukan operasi pergantian wajah, dengan terpaksa, Baekhyun diam-diam membawa Chanyeol kabur dari rumah sakit itu dan menemui kelima dokter dari Amerika itu, serta juga sebelumnya dia membius Joo Won (Chanyeol) karena yang dia takutkan Joo Won akan menolak melakukan operasi ini mengingat keadaan Chanyeol yang memprihatinkan.

Setelah 3 minggu menghilang, Baekhyun kembali membawa Joo Won yang sebenarnya kerumah sakit dengan identitas yang berbeda. Ketika di periksa, keadaan Joo Won menjadi semakin buruk. Chanyeol yang kala itu bangun dengan wajah aslinya langsung bergegas pergi kerumah sakit untuk melihat keadaan Joo Won tapi ketika Chanyeol mencapai tempat itu, tubuh Joo Won sudah terselimuti dengan kain berwarna putih hingga mencapai ke puncak kepalanya

“hyung tidak bisa diselamatkan lagi” kata Baekhyun pelan

“kau bodoh!” desisnya.

Flashback off

Seminggu setelahnya keluarga Park mendapatkan sebuah paket kiriman dari seseorang tanpa tanda pengenal. Chanyeol langsung membuka kardus itu dan menemukan beberapa map berada didalamnya, dia membuka satu persatu map itu. setelah membaca beberapa baris dia langsung menelpon Baekhyun

“ne, sebelum ini terjadi Joo Won hyung sudah memindahkan sebagian hartanya menjadi milikmu dan sebagian lagi menjadi milik Len. Dia percaya padamu karena menurutnya hanya kau yang dia kenal selama ini dan dia yakin kau tak akan melakukan hal yang buruk pada Len” jelas Baekhyun

Chanyeol menutup ponselnya ‘Mun Joo Won, kau benar-benar lelaki yang bodoh’.

FIN

ada yang tahu atau bahkan inget sama in ff? yaa, aku emang terserang virus males dan nggak semangat buat nyelesaiin ini ff karena selain aku sendiri agak ngadat juga karena komentar kalian berkurang dan itu juga mempengaruhi kesemangatanku buat ff, tapi ya gaapa lah. aku juga emang sengaja nggak pengen ngelanjutin ini ff tapi ternyata ada yang nanya kapan kelanjutan ff ini, jadi aku buka lagi kumpulan ffku dan ngetik-ngetik gitu. dan tadaa jadi, aku gatau ini terlalu ngebut atau gimana dan aku tahu ini sangat pendek tapi semoga aja kalian suka. makasih banget buat kalian-kalian yang negikutin ff ini dari awal-akhir dan meninggalkan jejak. gumawo yaaa. see yaa~~~

9 thoughts on “FACE OFF [11-END]

  1. Awalnya aku kira ini remake, pas baca lg terinspirasi film.. Klo ga salah judul filmnya jg face off ya pemerannya john travolta sm yg satunya aku lupa 😁

  2. Wkwkwk kayaknya aku deh yg nanya. Ah thor, aku sedikit menyayangkan kenapa ff ini dilanjut setelah drakor yongpal selesai 😧kalo dilanjut pas masih ada drama itu, aku pasti ngefangirl joo won hahahhahaha
    Hemm ada typo dikit kayaknya, yg bagian chanyeol dibawa keluar dan terlempar karna bom, disitu chanyeol ngerobek kemejanya. Aku rasa yg ngerobek kemeja itu joowon deh-.- hehehehe
    Btw, inijuga author ff yoona chanyeol luhan yg mana bestfriend zone chanyeol-yoona parah banget gak sih? Hahahaha lanjutin dog seriesnyaaaa ❤❤❤

  3. Akhrnya stelah berbulan2 updte jg chingu…
    Smpet gk nygka chanyeol bsa slamat,, akhrnya happy ending jg dan kluarga park bsa brkumpl dtmbh dengan Len jg

  4. Terlalu mgebut tp gpp laah akhirnya di post juga ngurangin penasaran,, untunglah yg selamat chanyeol dn segera di lakukn operasi wajah juga…
    Semangaatt utk karya2 lainnya!!!

  5. Aaahhh.. FIN!! Stelah menunggu sekian lama :3
    sempet deg2an jg sih pas Bom nya mledak :3
    tp thor kurang banyak YoonYeol momentnya, jd kasih squel dikit napa kasih moment2 bahagia mrk berdua :3
    tp ini ff bneran bagus thor, GoodJob!
    Keep writing! Semangat!

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s