[Freelance] iRed #1

iRed_1

iRed #1 [AOiD]

Chaptered/PG-13
Fantasy/Action/Science Fic/Mystery/Tragedy/Comedy Garing

Im Yoona/Kim Joonmyeon/Bae Joohyun/etc

HAPPY READING!

.

.

.

—New York City, June 30, 2015—

.

.

.

Im Sang Hun. Seorang pria workaholik paruh baya—yah.. sepertinya dalam struktur wajahnya dapat di simpulkan bahwa ia telah lahir sekitar 56 tahun yang lalu. Harusnya di usianya yang mungkin sudah mencapai usia lanjut itu—ia seharusnya menghentikan aktivitas yang selama ini ia gandrungi itu. Bekerja. Bekerja. Dan bekerja. Apakah ia tak cukup malu—menyaksikan wajahnya sendiri yang semakin lama mengendur—akibat faktor usia dan aktivitasnya tersebut. Namun, bukan CEO Im namanya jika secara tiba-tiba merasakan rasa jenuh atau lelah akibat pekerjaannya tersebut. Bahkan, ia tak menggubris perihal kadar asam lambungnya yang meningkat akibat black coffee yang sudah ia tenggak ratusan cangkir (mungkin)—atau perihal 206 konstruksi tulangnya yang sudah mulai merasa lelah akibat aktivitasnya ini. Atau mungkin saat ini tulangnya tengah mengalami masa pengapuran.

Tidak akan! bahkan meski ia di tawari untuk liburan ke Hawaii sekalipun. Jika taruhannya adalah pengunduran diri, tidak akan!

Mantan istrinya pun turut lelah mengurusi manusia macam dirinya itu. Tentu saja, siapa istri yang mau jika suaminya terus-terusan bekerja tanpa mempedulikan bahwa ada seseorang yang sekarang ini menjadi tanggung jawabnya.

Tak ada siapapun yang menjadi tanggung jawabnya, kecuali.

Anak semata wayangnya, Im Yoona.

Im Yoona merupakan perempuan satu-satunya yang sekarang ini sudah masuk—mencapai usia pernikahan. Tentunya 26 tahun memang usia yang—di saat itu di anjurkan untuk mencari pasangan hidup.

Namun apa daya, pasangan hidup Im Yoona seorang hanya sekitar… nol!

Setiap anak manusia sudah pasti menyimpan data-data kromosom atau gen yang di turunkan dari seorang ayah. Dan itu adalah sebuah fakta. Seperti ayahnya, Yoona di lahirkan sebagai seorang perempuan yang lebih mencintai karir sampai akhir hayatnya—dibanding mencintai pasangan hidup. Namun itu bukan berarti Yoona tidak menyukai laki-laki. Yang benar saja.. tapi karir yang di maksud Yoona ini—bukanlah karir yang sama dengan ayahnya. Ini pekerjaan yang berbeda.

Kita akan memasuki point utama. Dalam buku sejarah keluarga Im mengatakan, bahwasanya keluarga Im—menyangkut status warga Negara Korea yang lumayan baru-baru ini—menumpang—di Negara peradaban dunia, yaitu Amerika Serikat. Aku tidak bermaksud meyinggungnya dengan bahasa sindiran, namun itu memang kenyataannya.

Sejak kandungan—Yoona memang sudah berada di Negara Korea, namun ia baru berpindah pada usianya—waktu itu sekitar 23 tahun. Naasnya, sejak dahulu, ikatan benang keluarga Yoona sebenarnya—lumayan renggang. Seperti yang sudah ku jelaskan di atas, ayah Yoona merupakan workaholik. Sementara ibunya tidak menyukai pekerjaan-pekerjaan yang menurutnya—terlalu rumit. Cara berfikir mereka juga sepertinya di rasa menyimpang. Maka dari itu, ibu Yoona menandatangani surat perceraiannya ketika saat itu Yoona masih berusia 17 tahun. Dan hak asuh Yoona di jatuhkan kepada ayahnya. Dan setelah waktu berlalu, Yoona menyelesaikan pendidikannya terlebih dahulu hingga akhirnya ia pindah ke New York. Entah apa yang membuat ayahnya melakukan itu.

Pada saat itu, Yoona memang lumayan terkekang karena ayahnya memerintahkannya untuk bekerja di kantor yang sama dengan ayahnya. Dan sudah ribuan kali Yoona menolak permintaan ayahnya dengan alasan ; tidak punya bakat memimpin perusahaan. Jujur, Yoona membenci jenis-jenis pekerjaan seperti itu. Ia lebih suka pekerjaan yang menantang, seperti misalnya detektif, polisi, atau sebangsanya.

Sebelumnya ia sempat mencoba pelatihan bela diri dan membidik sasaran. Namun setelah itu, entah mengapa ia merasa menjadi orang yang panjang angan-angan. Ia sempat terpuruk untuk beberapa hari. Ia merenung di kamarnya hingga seminggu kurang dua hari. Ayahnya bahkan sempat menduga kalau Yoona tewas di kamar karena terlalu lama mengurung diri. Dan setelah 5 hari berlangsung, tiba-tiba ia menggebrak pintu dan memasang wajah tegangnya. Kemudian ia pergi keluar rumah—dan untungnya saat itu ayahnya tengah bekerja jadi ia dapat pergi tanpa ada yang mengetahuinya.

Dan di sanalah bermula pintu gerbang kehidupan Yoona terbuka, pekerjaan pertama yang ia lakukan. Bekerja paruh waktu di Burger King—di perempatan jalan. Karena Yoona tidak bisa memasak, maka dari itu ia hanya di tugasi untuk mengelap meja dan mencuci piring. Gaji yang di dapat memang tidak seberapa, namun itu sudah membuat rasa terpuruk yang menggumpal di otaknya musnah. Jadi itukah renungan yang selama 5 hari lalu itu Yoona pikirkan?

Dan padahal ia baru saja bekerja dua minggu di sana dan seketika tertangkap basah oleh ayahnya sendiri. Saat itu ia tengah mengelap meja pelanggan. Entah mengapa, wajah pelanggan yang ia lihat sangat familiar. Dan ternyata itu berakibat buruk baginya dan masa bekerjanya pun habis, gaji terakhir yang ia terima—eksklusif dari ayahnya sendiri, yaitu jeweran.

Setelah mendapatkan ceramah gratis nan eksklusif dari sang ayah. Secara tiba-tiba sang ayah mengatakan sesuatu hal yang mungkin singkat, tapi itu membuat monster lesunya seketika menjadi ceria. Sesuatu yang sangat mengejutkan dan baru saja sang ayahanda mengucapkannya. Sekali lagi, eksklusif.

“Jika kau tidak ingin memimpin perusahaan, persiapkan saja dirimu. Besok hari, datanglah ke gedung AOiD.”

Kalimat yang lumayan singkat, padat dan sangat jelas itu… bagaikan kalimat terindah sepanjang jagat raya ini—bagi Yoona. Ck! Berlebihan.

Dari sinilah cerita ini di mulai.

 

***

 

Yoona baru saja sampai di depan pintu gedung—di pagi menjelang siang yang cerah ini, langkah-perlangkah Yoona dengan terpaksa terhenti hanya karena ada orang asing yang menahannya, orang asing itu berpakaian rapi dengan jas hitam, semuanya terlihat sempurna layaknya seorang agen. Tentu saja agen, memangnya selama ini Yoona datang ke gedung asosiasi jenis apa?

Setelah menanyakan nama dan alasan mengapa Yoona tiba di sini, Yoona pun menjawab semua pertanyaan si orang asing dengan jawaban seadanya. Memang jawaban yang seadanya, karena memang sesuai dengan yang ada pada keadaan sebenarnya. Si orang asing itu pun yang semula tatapannya bersorot tegang seketika agak melunak, ia pun akhirnya mengantarkan Yoona ke dalam ruangan yang sepertinya agak di rasa cukup sunyi, isi gedung tersebut kebanyakan berisi lorong-lorong panjang, mungkin sedikit mirip maze. Dinding kokoh berwarna metalik menyelimuti tiap sudut tempat—atau mungkin itu memang dinding berbahan logam hingga mengkilap bak nuansa metalik. Yoona berusaha tak menduga-duga—bagaimana para pekerja di sini sanggup membersihkan gedung seluas—serumit—dan sebesar ini?

Sepertinya Yoona tak perlu menduga-duga karena—toh, Yoona tak akan di tugasi untuk membersihkan gedung AOiD. Tentu saja tidak akan karena pekerjaan bersih-bersih merupakan pekerjaan terakhirnya di Burger King. Dan sepertinya cukup menyedihkan bagi gadis yang memiliki ayah seorang pemilik perusahaan yang naasnya harus jauh-jauh bekerja di AOiD hanya untuk membersihkan gedung berukuran besar itu. Sungguh, betapa kejamnya ayah Yoona jika membiarkannya bekerja bersih-bersih sebanyak dua kali di lokasi yang berbeda. Malah tempatnya lebih besar di banding tempat sebelumnya. Toh, ayahnya melarang hal itu.

Pindah pekerjaan, namun ujung-ujungnya di tugasi dengan pekerjaan yang sama. Menyedihkan.

Perjalanan singkat Yoona dari depan pintu gedung hingga ke ruangan khusus pun akhirnya mengakhiri pertemuannya dengan si orang asing. Si orang asing itu memerintahkan Yoona untuk masuk ke dalam sana untuk bertemu dengan kepala agen.

Dengan wajah kikuk dan hati berdebar-debar, Yoona memberanikan diri untuk masuk ke dalam sana. Tersirat di balik buku-buku jarinya yang terlihat memutih karena keringat dingin dan gemetaran. Ia menggosoki telapak tangannya berulang kali agar dapat mengaburkan keringat yang tiba-tiba muncul di pori telapak tangannya—mencegah orang-orang agar tidak menyadari bahwa ia tengah dalam kondisi ketakutan—mungkin rasa takutnya ini serupa dengan takutnya ketika melihat hantu, makhluk metafisika, atau sebangsanya. Tetapi tindakan seperti ini akan mengundang dugaan orang-orang yang akan menyangka bahwa gedung AOiD memiliki suhu rendah hingga ia sampai menggosok telapak tangannya yang terasa dingin. Padahal bukan itulah penyebab Yoona melakukan hal tersebut.

Tidak, tidak! Wajah-wajah manusia itu hanya wajah biasa! mereka tidak akan menerkammu. Biasakanlah, karena itulah hal yang sangat wajar terjadi ketika kita hidup dalam lingkup orang asing pertama kali. Kau akan terbiasa, Im Yoona.—gumamnya untuk memusnahkan rasa takutnya berangsur-angsur. Tentunya bukan mengangsur cicilan mixer. Sebelumnya sudah di katakan bahwa ayah Yoona saja pemilik perusahaan, mana mungkin ayahnya dan ia yang menyangkut status orang kaya itu dengan membeli mixer saja harus mengangsur. Betapa malangnya hidupmu, Yoona. Bersyukurlah, itu tidak nyata terjadi padamu. Karena kau hanya perlu mengangsur rasa beranimu untuk melunasi rasa takutmu.

Oke, itu lelucon yang buruk. Kurasa kita harus kembali ke point utama, kita akan melanjutkan—sampai di mana tadi aku? Oke! Yoona pun berpapasan dengan beberapa orang yang berlalu-lalang datang dan pergi di ruangan sana sampai ia terhenti karena ia sudah bertemu dengan orang yang ia butuhkan, kepala agen. Ruangan sudah sepi, hanya mereka berdua saja yang tersisa.

Tatapan mata kepala agen itu—sebenarnya terlihat biasa saja, namun Yoona sama sekali tak bisa mengatakan bahwa itu biasa saja. Tatapannya menciutkan nyalinya. Atau mungkin jiwa dan raganya juga akan menciut karena tatapan si kepala agen. Mungkin tatapan si kepala agen kurang lebih mirip laser pengecil tubuh.

Oh, ayolah kau! Berdamailah, wahai tatapanmu! Aku bukan orang asing, hanya saja baru-baru ini aku menjadi orang asing, setelah itu, aku akan berbaur dengan warga-warga di gedung ini sekaligus denganmu!—gerutunya di dalam hati. Intuisinya seakan mengatakan, bahwa kepala agen itu tidak menyukai Yoona.

Si kepala agen pun mendekati Yoona, berjalan dengan langkah intens, sedikit otoriter, tapi memangnya ada langkah otoriter? Abaikan.

Tatkala tatapan tegang itu berlangsung selama 4 menit, si kepala agen itu lantas menjabat tangan Yoona sembari tersenyum senang,

“Welcome to AOiD, agent Im.” Katanya—menyambut Yoona, sepertinya gadis tipikal seperti Yoona butuh waktu 3 detik untuk memahami apa yang sedang terjadi sebenarnya. Musim dingin singkat yang melanda otaknya seketika meledak menjadi sorotan cahaya matahari. Berseri-seri. Sepertinya Tuhan mengabulkan doa Yoona agar tatapan si kepala agen dapat mencairkan otaknya yang dingin. Karena penduduk di dalam otaknya tak bisa bekerja dengan baik jika otaknya saja dalam keadaan kedinginan. Maksudku, jika seseorang dalam keadaan takut, sudah pasti syaraf di otaknya akan sulit berfikir dengan jernih. Maka dari itu harus ada orang yang mencairi rasa takut itu agar si orang itu dapat berfikir jernih. Mungkin dapat mencairinya dengan tatapan hangat. Itu saja sudah berhasil menenangkan Yoona.

Dengan gurat senyum kaku, ia sedikit mengayunkan jabatannya. Benar-benar, akhirnya ia dapat hidup dengan tenang karena baru saja di tatap dengan hangat oleh si kepala agen. Ternyata si kepala agen tidak sehoror yang Yoona duga-duga. Tentu Yoona tak perlu menduga-duga karena semuanya sudah terduga.

Astaga, aku mengumbar lelucon tak berbobot itu lagi? Tolong abaikan.

 

***

 

Beberapa percakapan yang tidak terlalu panjang sudah terlontar semuanya di antara Yoona dan kepala agen. Yoona juga sudah memperkenalkan dirinya di depan semua agen. Dan saat ini Yoona tengah berjalan-jalan sebentar untuk mengenali isi gedung itu—di temani oleh seorang agen yang sudah bergabung dalam asosiasi AOiD sejak tahun 2012, agen Nakamoto Yuko—yang rupanya gadis berwarga Negara Jepang.

Ia—Yuko—sudah pasti memiliki ribuan pengalaman yang ia emban selama hidup—bergabung dengan asosiasi besar tersebut. Mungkin itu adalah salah satu agen pertama yang baru-baru ini bisa ia dekati. Dan Yoona harus bersyukur karena Yuko fasih berbahasa Korea. Mengingat, penduduk seisi gedung itu mayoritas berwarga Negara Amerika. Tentu saja!

Meski di balik wajah dingin—bak wajah sang Ratu terkejam di dunia, Yuko merupakan perempuan yang baik, sabar, dan tegas. Rahangnya seakan tak pernah terayun akibat tertawa. Bahkan! Ia tak memiliki garis kerutan di wajahnya. Padahal usia Yuko jauh lebih tua di banding Yoona, mungkin sekitar 29 tahun. Sekali lagi, bukannya aku menyindir Yoona. Seandainya mereka berjalan bersama di antara kerumunan, sudah pasti orang-orang akan berasumsi bahwa Yoona adalah kakak perempuan Yuko.

Peace. Im Yoona.

“Apa yang kau ketahui tentang iRed?” Yuko bertanya secara tiba-tiba—setelah hampir seperempat jam ia tak membuka percakapan selama berkeliling. Hanya sekedar menjelaskan nama ruangan dan fungsi ruangan yang tertera di gedung AOiD. Seperti biasanya nada suara dingin Yuko terkoar dan menciptakan rasa kecanggungan yang muncul sekejap. Mungkin terdengar sedikit sarkastik dan brutal—namun bukanlah Yuko jika tidak berbicara dengan nada seperti itu. Ingatlah, di balik wajah dan suaranya yang mengerikan itu, hatinya hangat.

Yoona yang sedari tadi masih terkagum-kagum dengan ruangan yang ada tiba-tiba terkejut dengan pertanyaan sarkastik itu. Namun bersyukurlah—mengingat Yoona adalah tipikal orang yang lumayan acuh, jika Yoona adalah wanita yang perasa, mungkin ulu hati Yoona sudah berdarah. Nada sarkastik nan brutal itu tak akan dengan mudahnya masuk ke hatinya. Otomatis Yoona tidak akan mudah sakit hati. Tapi bukannya menjawab, Yoona malah kikuk seketika. Yuko menunggu.

“Kau sudah jelas mengetahui seluk-beluk AOiD, dan aku pun mengetahui itu. Namun kali ini, aku hanya butuh jawaban darimu. Apa itu iRed?” tanyanya sekali lagi. Dengan nada yang sama.

Rasa tegang berangsur hilang—berganti dengan rasa santai yang mulai bekerja dengan perlahan di tubuhnya, lidahnya pun siap siaga pula untuk melanturkan kalimat agar tak kelu mendadak. Sekali lagi telapak tangannya memucat dan berkeringat. Ia pun menjawab, “Mm, soal iRed, ya?…sepertinya itu adalah…manusia-manusia pengidap virus iRed… Yang bertingkah laku seperti vampire. Salah?”  kata Yoona menjawab seadanya namun berhati-hati, mendengarnya mata Yuko seketika teduh,

“Itu benar,” Yuko tersenyum kecil. Astaga, apakah itu senyuman pertama kalinya? Ataukah senyuman itu hanya terjadi dua tahun sekali? Indah sekali, Yoona belum pernah menyaksikan senyuman seindah ini sebelumnya.

“Hanya hampir.” Dan gurat senyum indah itu sirna seketika, bagaikan lantern festival yang padam. Pintu-pintu surga pun tertutup seketika, alunannya sirna. Dan itu membuat monster takjub Yoona seketika lesu.

“Sebenarnya, iRed merupakan seorang kelinci percobaan milik professor Owl. Nama asli si kelinci percobaan itu adalah Illy Red, rekan professor Owl yang selalu setia mengabdi padanya,” Kata Yuko—menahan perkataanya terlebih dahulu. Entah mengapa suasana gedung itu terasa suram di mata Yoona.

Yoona berharap—perjalanan melihat-melihat isi gedung ini tidak akan tertahan hanya karena tersesat dan harus berpapasan dengan orang yang ternyata di duga mengidap iRed. Tentu saja itu tidak akan terjadi, toh, itu hanya sugesti buruk yang baru saja di ciptakan oleh Yoona sendiri. Dan mana mungkin mereka tersesat, mentang-mentang gedung ini luas dan banyak lorong—tidak akan berarti harus tersesat. Mungkin Yoona terlalu berlebihan.

Yuko melanjutkan perkataannya, “Profesor Owl menciptakan cairan penguat sistem kekebalan tubuh dan regenerasi tubuh agar manusia dapat hidup dalam keadaan tidak pernah lemah dan sakit. Agar bangsa manusia hidup sebagai makhluk yang kuat di antara yang lain. Setelah 2 tahun berselang, cairan itu berhasil di ciptakan dan ia ingin mencobanya pada si kelinci percobaan itu. Percobaan itu di lakukan pada tahun 2010. Kurang lebih saat akhir tahun, bulan Desember. Kemungkinan penyuntikan cairan itu di lakukan pada tanggal 30. Berselang sekitar 20 jam, dan ternyata Illy Red—yang telah ia beri cairan tersebut malah menjadi malapetaka baginya—bagi kita semua. Illy membunuh si professor kemudian ia pergi dan menyerang ratusan warga, sebagian kecil warga ia ambil darahnya dan sisanya ia jadikan koloni. Dan di perkirakan jumlah iRed sekarang ini sudah mencapai 109 orang. Cairan—ciptaan Prof. Owl itu mengandung virus jenis baru. Dan kebanyakan orang memberi nama virus itu, iRed.” Yuko akhirnya mengakhiri perkataannya.

Selama Yuko bercerita, Yoona melongo karena tak menyangka bahwa vampire iRed memiliki asal usul seperti itu. Bulu romanya naik untuk beberapa saat karena ia benar-benar hanyut dalam cerita yang di bawakan Yuko. Bukan sekedar cerita biasa, ini nyata. Konkrit.

Ternyata masa jalan-jalan mereka harus terhenti di depan ruang otopsi. Di samping pintu, terdapat jendela transparan agar dapat melihat dari luar, mirip seperti ruang pasien di rumah sakit. Yuko memberitahu sedikit hal pada Yoona agar berhati-hati saat melewati ruangan tersebut, karena di dalam sana terdapat 2 jasad pengidap iRed yang dalam keadaan tak sadar dan tersimpan di dalam ruangan sana. Khawatir—bisa saja pengidap iRed itu tiba-tiba sadar, bangun, menggebrak pintu, kemudian menyerang agen-agen di sana—meski ruangan tersebut sudah di lengkapi cahaya lampu neon yang sangat terang. Wasiat ini di berikan Yoona—sebagai agen baru di sini untuk berjaga-jaga.

 

***

Cahaya yang terpancar dari proyektor menampilkan titik-titik piksel di atas layar yang biasa di gunakan untuk presentasi, ruangan di sana saat itu agak gelap—sengaja di lakukan agar penggambaran proyektor terlihat dengan sangat jelas. Di sana di tampilkan sebuah makhluk mengerikan yang terlihat seperti ingin menerkam, matanya merah menyala, gambar itu terlihat buram dan berbayang—seperti ketika kau memotret foto di malam hari—minim cahaya dengan tangan bergetar.

“Inilah hasil potretan terakhir seorang fotografer alam, Gordon Kerr (tentunya bukan Miranda Kerr :v). Hasil potretan ini di ambil pada musim dingin tahun lalu saat ia tengah ekspedisi ke hutan Arizona, dan karena ia ingin membuktikan pada warga bagaimana wujud iRed, ia dengan nekat memotretnya sebelum ia di terkam.”

“Setelah dokter mengotopsi jasad iRed yang terletak di ruang otopsi tersebut, ternyata virus iRed itu benar-benar menjalar ke seluruh tubuhnya—terutama otak, hingga mempengaruhi fisik dan tingkah laku si pengidap menjadi agresif dan haus darah serta berfisik seperti vampire. Penglihatan mereka akan menajam 2 kali lipat dari manusia normal. Cairan ciptaan prof. Owl ternyata memang benar-benar mempengaruhi sistem kekebalan mereka, tubuh mereka cepat meregenerasi sel yang rusak dalam jangka waktu 4 jam.”

“Pengidap iRed, ketika mereka bertemu dengan manusia, maka mereka akan langsung menjadikannya koloni, namun ada pula yang hanya di ambil darahnya saja. Mereka memiliki prinsip berkelompok. Mereka tidak akan puas jika koloninya sedikit.”

“Tapi kita beruntung, karena iRed tidak bisa hidup di siang hari. Mereka takut akan cahaya, jika ada cahaya setitikpun, maka mereka akan menjauhinya. Tapi sampai sekarang sarang mereka belum di temukan. Di duga, mereka bersarang di hutan, atau mungkin di gorong-gorong bawah tanah.”

 

***

Rasa penasaran—sepertinya masih berbayang di depan mata Yoona. iRed sepertinya dengan sukses merayapi isi otak Yoona dengan pertanyaan sekaligus penasaran `Mungkinkah aku harus menilik wujud iRed secara langsung?’ jenis pertanyaan itulah yang sedari tadi ber-revolusi pada orbitnya—kepala Yoona sendiri. Hanya saja revolusi ini tidak berlangsung hingga berhari-hari. Karena penasaran itulah, Yoona mendatangi ruang otopsi tersebut, ia sekarang ini tengah berdiri di depan jendela transparan tersebut. Di dalam sana, terdapat 2 ranjang berisi 2 jasad pengidap iRed yang tampak sangat mengerikan. Namun untungnya mereka dalam keadaan tak sadar diri. Yoona menatap kedua jasad itu dengan tatapan kosong. Ia membayangkan bagaimana kejadian saat kedua jasad itu sebelum terkena iRed, dan ia memikirkan, bagaimana perasaan keluarga mereka saat tahu salah satu orang tersayangnya harus terkena dampak yang kejam itu. Kedua jasad itu sudah mulai benar-benar pucat dan naasnya keriput—seperti kulit yang terlalu lama terendam air. Warna kuku mereka sudah benar-benar serupa dengan kulitnya, putih pucat. Yoona mulai merasa bahwa kedua jasad iRed itu terlihat seperti mayat hidup.

“Hei!”

Tiba-tiba sahutan mengejutkan tersebut membuyarkan lamunan Yoona, dan itu membuat Yoona seperti merasa terkena serangan jantung sedetik karena titik kekosongan pikirannya sudah mencapai titik tertinggi. Dan ternyata yang memanggilnya itu adalah agen Kim Su Ho, agen yang berasal dari Korea—seperti dirinya. Oh astaga, si agen senior—sekaligus agen cerewet bak seorang wanita muda tulen itu datang. Cukup membuat batas rasa penasaran Yoona habis dan harus berganti dengan rasa jengkel. Mengingat sebelumnya ia sempat di beri penghargaan dari Suho dengan julukan `si makhluk tak berguna’ karena sebelumnya Yoona secara tak sengaja menekan tombol darurat—yang ia sempat sangka bahwa itu adalah tombol lampu. Pantas saja muncul suara seperti siren—Wait a minute. Apa maksud Suho menyebut Yoona `tak berguna’?

Yah, kurasa itu sifat alamiah manusia yang sudah pasti akan menyombongkan diri ketika jabatannya sudah mencapai tingkat atas. Dan di saat ia memegang jabatan itu, tak peduli mulutnya yang pedas itu terlontar dengan lancar dan sukses menusuk—tepat di ulu hati si bawahan. Kurang lebih mirip seperti “kau tidak ada apa-apanya di mataku. Aku raja. Kau hanya pelayan berbaju lusuh.” Atau “laksanakan perintahku atau kau akan menjalani eksekusi mati satu menit lagi.”

Atau mungkin saja usia Suho memang jauh lebih tua di banding Yoona. Terkadangkala, orang tua senang bertindak sewenang-wenang.

Ingatlah, Suho memiliki jabatan di atas Yoona. Yoona mungkin tak ada apa-apanya di mata Suho. Jadi jika Yoona secara tak sengaja melewati garis batas, maka Suho dengan enaknya bisa memberitahukan ke kepala agen untuk menendangnya keluar. Tega sekali.

“Jangan dekati tempat ini! Memangnya seberapa banyak nyawamu itu hingga berani datang ke tempat ini?” kata si Suho dengan  nada-nada kemarahan, namun ia berusaha memelankan suaranya—khawatir jika jasad iRed itu terbangun tiba-tiba, bisa jadi.

Yoona keringat dingin, namun di balik itu perasaan yang melanda pikiran Yoona sekarang adalah, gusar, geram, jengkel, terhina. Entah mengapa ini baru pertama kalinya ada manusia yang bisa membuat ulu hati Yoona tertusuk. Sungguh, Suho itu bagaikan belati tumpul yang ujungnya di beri racun. Bayangkan saja bagaimana sakitnya tertusuk belati yang ujungnya sudah tumpul, beracun pula. Bodohnya lagi, semua rasa jengkel itu terselubung tabir kecanggungan dan kegugupan. Dasar pabo Yoona!

“Aku—aku—tidak..” Yoona gelagapan, meski Suho tidak menghalangi Yoona untuk kabur, tapi tetap saja, tatapan mata Suho-lah yang membuatnya merasa terkunci dan tidak bisa kabur kemana-mana.

“Apakah agen Yuko tidak memperingatimu tadi, huh? Sekarang, jauhi tempat ini atau kau mendapat masalah!” kata Suho dengan tegas.

Dan  akhirnya Yoona pun mengambil inisiatif dengan cara berjalan dengan pelan—menjauhi Suho dengan hati-hati. Seiring ia menjauhi Suho, di dalam hatinya ia menggerutukan sesuatu seperti `galak, kasar, sok memerintah’ pada Suho.

“Astaga, untung aku agen baru. Jika tidak, mungkin aku sudah melemparmu paksa ke dalam ruang otopsi agar di makan habis oleh iRed.”  gerutu Yoona dalam hatinya dengan rasa jengkel yang masih melekat di wajah dan hatinya.

 

***

Sepertinya pria—tipikal seperti Suho merupakan macam pria yang—tiap ruang di otaknya berisikan serba-serbi kritikan pedas, hinaan, sarkastik, dan plus penyombongan diri. Tapi memang tak bisa di pungkiri lagi bahwa Suho memang masuk dalam kategori pria yang cerdas, kritik pedas menjadi penasihatnya, hinaan menjadi topik pembicaraannya, sarkastik menjadi gaya bicaranya, plus! Penyombongan diri menjadi motivatornya. Ayolah! apakah leluhurnya di era Joseon dahulu pernah memberikan sebuah pendidikan empat macam hal menyebalkan itu pada anak dan keturunannya hingga sekarang? Yah! Suho memang cerdas, ia memiliki segalanya, ilmu, kekuasaan, bahkan yang Yoona tahu, Suho merupakan anak berdarah biru. Tapi, haruskah ia mengamali ilmu tak bermoral itu pada kehidupan sehari-hari? haruskah ia melampiaskan perbuatan yang tertera pada ilmu yang di berikan leluhurnya—pada Yoona?!

Seperti biasa perilaku Yoona yang suka menduga-duga mulai kambuh. Dugaan Yoona sungguh jauh dari apa yang orang-orang pikirkan. Intuisi mulai bermain. Bisikan itu mengatakan, seakan-akan itu adalah sebuah kenyataan. Suho membenci kehadiran Yoona sejak awal tiba di gedung ini hingga menyebabkan Suho lebih senang mengomel di depan Yoona. Yoona dongkol, terlebih lagi ia ingat kejadian tadi sore, ketika berbicara dengan Yoona, seperti biasa ia meluncurkan kritikan, emosi, nada sarkastik, dan lain sebagainya. Sedangkan ketika ia berbicara dengan Yuko—ataupun agen-agen lain, rasanya biasa saja. Obrolan itu malah terdengar hangat. Astaga! Sejahat itukah Kim Su Ho? Padahal paras Suho itu tidak jauh berbeda dengan malaikat. Dia tampan. Senyumannya sangat lembut—bahkan Yoona nyaris saja terbang ke awan karena menyaksikan detik-detik senyuman Suho yang hanya berlangsung sekitar 3 detik itu. Namun setelah tahu bahwa wataknya sangat jauh berbeda dengan wajahnya, Yoona berubah pikiran.

Barangkali Suho itu adalah seorang iblis licik berkedok malaikat tampan.—pikirnya.

Dan puncak-puncak rasa dongkol Im Yoona sudah naik hingga ke batas tertinggi setelah mendengar ucapan kepala agen. Yeah, Yoona sudah tahu sebelumnya bahwa jumlah agen di sini ganjil. Namun! Kenapa ini terjadi??? Yoona bahkan berharap bahwa ini hanyalah sebatas mimpi buruk! Tapi tetap saja! Meski ia menampari wajahnya hingga mati sekalipun. Ini bukanlah mimpi buruk atau akhir dunia, Im Yoona. Inilah, kenyataan hidupmu…

Jadilah mitra bagi Suho. Hadapi iRed ketika kanvas hitam dan serpihan cahaya mulai menyapa. Rasakanlah betapa gelapnya dan dinginnya hutan malam. Bersama Suho.

Sekitar 3 jam lagi.

 

 

—to be continue.

 

 

Lalalalalala~ FFnya gak danta! Oya, aku freelancer baru. Commentnya jusey

7 thoughts on “[Freelance] iRed #1

  1. Unikkk cerita nya fresh.. berbelit dan bikin penasaran tapi, kalau terlalu banyak kata pengandaian atau pemikiran yoona rasa-rasanya kebanyakan..

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s