Who Are You? – 6

who_are_you_for_fn

by : FN

cast : Yoona, Yuri, Sehun, Kai

genre : friendship, family, sad, complicated

all rated

poster : Cloverqua @YoongExo

desclaimer : cerita diambil dari berbagai sumber seperti film, komik, novel, drama dll juga dari pikiran author sendiri

note : apapun typos, kesalahan tanda baca, bahasa yang keluar dari EYD de el el tolong dimaafkan

T | 1 | 2 | 3 | 4 | 5

aku senang akan tetapi ini membunuhku secara perlahan

“nona, ingin berdansa?”

“tidak, terima kasih”

“tapi aku ingin mengajakmu, nona”

“maaf aku sedang sibuk”

“maka aku akan menunggu hingga kau tak sibuk lagi”

Yoona menghentikan gerakan jari-jemarinya. Kepalanya mendongak menatap sosok lelaki yang berdiri didepannya itu dengan senyuman manis—tidak—ini seperti sebuah neraka bagi Yoona untuk bertemu lelaki ini ditempat seperti ini

“kau—kau—bagaimana—bisa?!” tanya Yoona terbata.

 

“noonaku teman dari Junghoon hyung dan noonaku mengajakku datang kepesta ini”

“tapi—bagaimana kau bisa menemukanku?”

“perkara mudah. Aku tak tahu kau berada disini tadi, tapi semenjak lelaki partnermu itu menjadi seorang DJ diatas sana dan juga terdengar suara Beatbox milikmu yang sangat aku kenali, maka aku langsung mengambil keputusan soal kau berada didalam sini”

Yoona mendenguskan nafasnya, memberikan gelasnya pada seorang pelayan yang lewat didepannya dan menarik dirinya keluar dari gedung ini. Jika bisa bertemu Chanyeol, Yoona akan memaksa lelaki itu untuk mengantarnya pulang. Tapi jika tidak, dia akan menaiki taksi dan memberi tahu lelaki itu bahwa dia harus pulang terlebih dulu

Sreett

“kau tidak bisa mengganggu temanmu” kata Sehun menarik lengan tangan gadis itu ketengah-tengah orang-orang yang sedang berdansa mengikuti alunan music lembut yang mengalir dan membuat mereka sibuk dengan pasangan mereka. Yoona sebenarnya hendak berteriak tetapi Yoona tentu tak akan mau mempermalukan dirinya sendiri didepan orang-orang yang terlihat penting didalam sini

“aku tak mau berdansa, tolong jangan paksa aku”

“tapi kau sudah berada disini dan kau tak akan mudah keluar dari sini”

“Sehun a—app—apa—”

“diamlah” Sehun menarik tangan Yoona agar melingkar dilehernya sedangkan kedua tangannya diletakkan di pinggang Yoona. Sehun tersenyum sangat puas dengan perlakuannya sekarang

“Sehun—”

“aku sudah mengatakan bahwa aku tertarik denganmu, ingat?” potong Sehun

“Sehun, jebal” mohon Yoona

“hanya malam ini—aku ingin benar-benar berada didekatmu”

Kali ini Sehun menatap wajah Yoona memohon. Meminta agar gadis itu tinggal bersamanya dan melarutkan pikirannya disini. Yoona—dia tak bisa menolak—Yoona sudah terbius jatuh kedalam rasa yang Sehun berikan padanya. Yoona tak bisa menolak dia hanya diam dan tanpa bicara lagi, dia menggerakkan kakinya mengikuti alunan music malam itu.

Tepuk tangan bergemuruh malam itu ditambah acara penutup dengan kembang api, ruang gedung ini dimodifikasi dengan atap bisa terbuka secara otomatis jadi tanpa perlu berjalan keluar semua orang bisa menikmati kembang api yang diluncurkan tepat diatas bangunan. Yoona berniat menarik dirinya untuk mencari Chanyeol tapi langkahnya kembali terhenti karena Sehun menarik tangannya. lelaki itu kembali tersenyum dan mendekatkan wajahnya pada wajah Yoona hingga hanya berjarak beberapa senti, tentu itu menyebabkan Yoona mundur dan menabrak punggung seseorang yang membuatnya oleng dan hampir jatuh sebelum Sehun menangkap pinggangnya

“kau harus lebih hati-hati” ucap Sehun pelan

Yoona membebaskan dirinya dari tangan Sehun. Berdiri tegak dan menatap galak

“kau—benar-benar mengganggu Oh Sehun!” kesal Yoona beranjak pergi

Tapi sekali lagi Sehun menarik tangannya hingga membuat tubuh Yoona terhentak kepelukan Sehun dan Yoona bia merasakan sesuatu yang amat sangat tak normal tapi sebuah desiran hebat kembali menyengat didalam tubuhnya yang tiba-tiba menegang

Sehun mendekatkan kepalanya ketelinga Yoona, “kau—benar-benar terlihat menggoda malam ini”

Cup

Sebuah kecupan singkat mendarat dipipi Yoona. Dengan cepat Yoona mendorong tubuh Sehun, lelaki itu hanya tersenyum yang membuatnya semakin tampan

“aku tak bohong dengan omonganku sendiri. Kau—semakin membuatku tertarik padamu”

shut up, Oh Sehun!” kesal Yoona dan berjalan pergi meninggalkan Sehun

“kau menyukai Kai?” seru Sehun yang berhasil membuat perhatian seluruh orang mengarah pada mereka berdua

“meskipun kau tak mengatakannya dan meskipun kau belum menyadarinya tapi dari cara tatapanmu padanya itu sudah membuktikan kau jatuh cinta padanya. Memang bukan sekarang tapi suatu saat nanti” kata Sehun

Yoona menahan nafasnya sendiri kemudian membuang muka tak peduli kearah Sehun. Oh… Yoona lupa satu hal, Chanyeol sedang mengawasi mereka sejak tadi

“dan aku akan menjadi orang yang akan menghalangi kalian” ucap Sehun menyeringai.

Kai pov

Teman-teman sekelasku heboh karena sekolah kami mendapatkan juara satu dalam lomba balet yang diwakili oleh Yuri. Aku pikir Yuri akan absen selama sehari tapi gadis itu sudah berada disekolah dan mengikuti pelajaran seperti biasanya. Dan entah kenapa aku merasa sedikit horror pada Sooyoung dan Hyoyeon. Mereka berdua seperti terus memperhatikan setiap gerak gerikku. Bahkan aku merasa tak nyaman ketika aku menoleh kebelakang mengajak bicara Tao. Aku beranjak dari tempatku berniat mencari udara segar, Tao dan Sehun tampak sibuk dengan ponsel mereka. Mungkin mereka juga tak menyadari aku keluar dari kelas. Ketika aku berjalan aku merasakan seseorang tengah mengikutiku tapi aku tak peduli dan melanjutkan langkahku—aku hanya malas mencari tahu karena aku takut jika tebakanku benar. Aku hanya mencuci muka dan kemudian kembali keluar. Sekedar berjalan-jalan mengelilingi kelas dan aku mendapati Yoona tengah melakukan kebiasaan yang dia lakukan. Mendengarkan music dengan headset dan mengarahkan pandangannya keluar jendela sekolah. Aku berlalu, tak berniat mengganggunya dan berniat kembali kekelasku tapi—aku memiliki ide lain

Ketika sampai dibelokan menuju perpustakaan aku langsung berbelok cepat dan kemudian bersembunyi di depan ruangan penyimpan barang kebersihan

“ah… kita kehilangannya, Hyo” aku mendengar suara yang tak asing ditelingaku

“apa dia masuk ke perpustakaan?” gadis lain itu justru bertanya

“mana mungkin Kai. Aku tak melihatnya memasuki ruang membosankan itu” dengus gadis pertama

“jadi apa yang harus kita lakukan?” tanya gadis kedua

“entahlah… selagi saja kita mengawasi semua pergerakannya kita akan lebih mudah” jawab gadis pertama

“mudah apa? Apa yang ingin kalian lakukan?” seruku keluar dari tempat persembunyianku

“aku tak memiliki masalah dengan kalian” kataku tegas

Kedua gadis itu—Sooyoung dan Hyoyeon—tampak terdiam, mulut mereka terkatup rapat seperti tak berniat menjawab pertanyaan dariku

“apa Yuri—”

“tidak” seru mereka berdua bersamaan, “ini tak ada hubungannya sedikitpun dengan Yuri” lanjut Hyoyeon

“Kai… tolong jangan katakan apapun pada Yuri. Apapun” mohon Sooyoung

“wae?” tanyaku

“ini urusan gadis Kai, tentu kau tak boleh mengetahuinya. Kai, kau mau berjanji kan?” Sooyoung menatapku memelas, begitupula Hyoyeon yang berada disampingnya

“bukankah Yuri juga seorang gadis?” tanyaku miring

Mendengarku berkata seperti itu, wajah Sooyoung dan Hyoyeon tambah memelas, bahkan mereka terus memohon padaku agar tak mengatakan apapun pada Yuri

“baiklah” jawabku, toh itu juga tak ada urusannya denganku

Mereka berdua langsung melompat histeris, mereka menepuk pundakku dan tersenyum senang tak lupa dia mengucapkan terima kasih padaku sebelum mereka benar-benar menghilang. Aku menggaruk tengkukku, ketika aku berencana kembali ke kelas aku melihat Yoona sedang kesusahan membawa banyak buku. Bahkan semua buku itu hampir menutupi pandangan matanya, dia sedikit berjinjit dan memiringkan kepalanya untuk mengintip jalan mana yang dia tapaki.Segera aku berlari dan tanpa permisi aku mengambil setengah lebih dari buku yang dibawanya

“Kai…” lirihnya, “hey! kembalikan! Kau tak perlu membantuku” ucapnya merebut buku yang aku bawa

“jika kau menggangguku maka buku ini akan jatuh dan kau yang menanggung konsekuensinya” acuhku tetap berjalan

“kemana kau membawa buku ini?”

“Kai, kembali kan padaku. Aku tak butuh bantuanmu” katanya

“diamlah, atau aku buang buku ini ke tong sampah didepan sana. Kau tentu tak ingin mendapat marah dari gurumu itu” kataku memperingatkan

“Kai—”

“aku memperingatkanmu” potongku

“keruang guru di meja guru Kim” katanya menyerah

Dia mengikuti dibelakang dengan buku yang jauh lebih sedikit daripada yang aku bawa saat ini. Sedikit menyenangkan mengerjai anak ini. Dia terlalu banyak bicara dan sering marah-marah. Dia membukakan pintu kantor mempersilahkanku masuk

“selesai” ucapku

“kerja bagus, Im Yoona dan terima kasih bantuanmu” guru Kim tersenyum kearahku

Kami berdua langsung berpamit pergi

“jadi…” kataku menggantung

Dia mengernyit menatapku, sedetik setelahnya dia teringat sesuatu dan mengeluarkan sesuatu dari dalam saku bajunya

“ini untuk imbalanmu” katanya tersenyum dan melangkah meninggalkanku

“Yoona!” panggilku, apa dia sedang bercanda denganku? Permen lollipop?!

“tak bisakah kau mengucapkan terima kasih?” tanyaku lantang

Dia mengangkat bahunya, “aku tak pernah meminta bantuanmu” acuhnya

Gadis ini benar-benar sialan tapi tak bisakah dia mengucapkan ‘terima kasih’? Atau mulutnya memang tak pernah berucap terima kasih? Oh… cukup menarik.

Beberapa minggu ini aku habiskan untuk bekerja seperti biasa. Bos juga tampak melakukan hal yang biasa dia lakukan ketika berada didalam kantornya yang kedap suara. Tao dan Tiffany semakin romantis sedangkan Sehun dia masih maniak game, skateboard dan graffiti. Dia juga menceritakan padaku bahwa dia baru saja menggambari tembok jembatan dengan gambar DJ yang dia upamakan sebagai aku, juga sepasang kekasih yang diumpamakan sebagai Tao dan Tiffany. Aku cukup penasaran dengan gambar yang dibuatnya. Apakah dia mengambarku dengan baik disana atau justru lelaki super iseng ini menambahkan sesuatu diwajahku atau bagian tubuhku yang lain. Tunggu—aku hampir melupakan satu hal—aku melupakan gadis beatbox itu. Aku bahkan belum menyentuh nomer ponselnya yang terdapat di ponselku. Setelah menyelesaikan pekerjaanku aku langsung menuju pintu belakang dari klub

Tit…tit…tit…

Terdengar nada sambung dari panggilan yang aku lakukan, tak butuh waktu lama hingga aku mendengar suara lembut seorang gadis mengangkan teleponku

“yeoboseyo?”

“…”

“yeoboseyo?”

“…”

“nuguseyo?”

“…”

“ekk—mm—kk”

“ne? nuguseyo?”

“emm—mm—mww—mwwoo—aah—aaa—”

TIT

“sialan!” geramku

Aish! Kenapa aku bisa kehilangan kata-kataku semudah itu?.

Aku melihat bosku keluar dari dalam ruangannya. Dia tampaknya sedang bercakap dengan seseorang melalui smartphone miliknya. Tanpa pikir panjang dan entah karena niat apa aku mengikutinya dibelakang, tentu saja tanpa ketahuan. Dia sedikit mengedarkan pandangannya dan tersenyum. Aku melihatnya memasuki café tak jauh cukup klub. Bodyguardnya tampak berjaga diluar cafe dengan tampang garang—ah…mereka memang selalu seperti itu berwajah garang sok galak didepan semua orang agar takut pada mereka, sogok saja dengan gambar Hyorin Sistar atau Lee Hyori atau jika tidak Hyuna 4Minute, mereka akan langsung tunduk padamu—aku pernah mencobanya hehehe

Ah… bertemu seorang gadis?

Aku tetap menatapnya lekat hingga bosku itu memeluk gadis tadi dengan senyuman ramah. Dia juga tampak mengacak rambut hitam milik gadis itu. Aku tak terlalu tahu apa yang sedang mereka bicarakan tetapi satu hal menggangguku, aku tak bisa mengetahui siapa gadis yang sedang bersama bosku itu. Aku tetap mengamati mereka dari jauh. Mengamati gerak-gerik mereka, mungkin kau bisa mengatakan bahwa aku gila tapi aku penasaran dengan bosku ini. Dia sudah memasuki kepala tiga dan aku tak pernah mendengar tentang sanak keluarganya sedikitpun. Bahkan mendengar kata istri dan anak dari bibirnya saja tak pernah

Apa dia menyukai gadis malam?.

Author pov

Yoona bergegas, arloji ditangannya sudah menunjukkan pukul 8 malam dan itu hampir melewati waktu janjinya dengan seseorang. Kakinya terus menapak dengan suara heels miliknya yang bertabrakan dengan jalanan yang dia injak. Teleponnya bergetar, susah payah dia merogoh tasnya yang tergolong berantakan. Dia hampir lupa dengan janji yang dia buat karena terlalu menyibukkan diri dengan Chanyeol dan Baekhyun yang mengajaknya bertemu di tempat mereka berkumpul. Baekhyun sebenarnya baru beberapa bulan berada didalam kelompok itu dan dia hampir tak percaya dengan apa yang dilihatnya ketika dia mendapati Yoona tengah berada disana duduk berdua bersama pembentuk kelompok itu

“ne, ajhussi. Maaf aku lupa jika ada janji dengan ajhussi” kata Yoona

“gwenchana, aku juga baru akan datang kesana” orang itu terkekeh

“aku sudah menemukan piringan yang ingin anda pinjam, ajhussi” kata Yoona

“bagus. Sudah dulu, kita bertemu di café. Ah… jangan lupa bawa topeng perakmu” suara itu tampak menginterupsi pelan

“kenapa ajhussi?”

“sepertinya stalkermu membuntutiku” tawa seseorang yang dipanggil ajhussi oleh Yoona itu

“ahh… arrasheo” jawab Yoona tersenyum

Ah… tentu Yoona tahu siapa yang disebut stalker oleh orang yang dipanggilnya ‘ajhussi’ itu. Orang itu memang sering memberi tahu Yoona tentang salah satu DJ mereka yang kerap kali menanyakan tentangnya bahkan orang itu juga memberi tahu Yoona tentang seorang bartender cantik yang juga bertanya tentangnya. Bahkan bartender itu menanyakan nomer ponsel Yoona beberapa bulan yang lalu dan ajhussi itu juga mengatakan bahwa bartender cantik itu adalah teman dari DJ nomer satu mereka.

“ajhussi” panggil Yoona tersenyum, posisinya membelakangi etalase café itu

“kau sudah datang rupanya” jawab ajhussi itu memeluk Yoona sejenak, “bagaimana kabarmu?”

“seperti yang ajhussi lihat” Yoona tersenyum kecil, “ah… ini” Yoona menyerahkan sebuah kertas berbentuk persegi dengan ukuran besar

“aku selalu mengingat ini” ajhussi itu memulai ceritanya, “saat ayahmu dulu berusaha membujuk ajhussi dengan music-musik EDM yang sangat tak aku mengerti. Dia selalu gigih mengajariku meskipun berulang kali aku menyumpahinya untuk tidak lagi mengajarkanku hal bodoh seperti ini”

“tapi suatu hari, aku ditempatkan di masalah sulit. Ayahmu tidak bisa melakukan pekerjaannya sebagai DJ karena saat itu hari kelahiran oppamu, Yunho. Aku benar-benar ingin pergi dari sana akan tetapi aku mendengar banyak cacian tertuju pada ayahmu. Jadi, aku mengambil konsekuensi dengan berlari keatas panggung dan memberi mereka sedikit pengumuman mendadak yang ada dipikiranku”

“kau tahu? Jari-jemariku terasa mati saat itu, aku benar-benar bodoh memutuskan hal itu. Aku mengambil asal satu piringan disampingku, memasangnya dan melakukan semua yang aku ingat saat Taehoon menjelaskannya padaku. Tapi aku mulai merasakan sesuatu menyengatku saat itu, seperti sebuah perasaan bahwa kau berada didalam duniamu sendiri dan tanpa sadar aku mengambil dua piringan lain dan aku mainkan ketiganya. Disitulah aku mulai belajar menjadi seorang Disc Jockey dan aku ingat bagaimana wajah ayahmu saat itu ketika aku menyetujui hal yang sudah menjadi kesukaannya”

Mata Yoona berkaca-kaca mendengarnya. Ayahnya juga melakukan hal yang sama pada Yoona. Ayahnya selalu mengajarkan Yoona memainkan alat-alat yang bahkan Yoona tak mengerti sedikitpun. Yoona masih mengingat wajah lelah ayahnya yang mengajarinya sepulang kerja dan tentu saja tanpa pengetahuan eommanya. Yoona selalu ingin kabur tapi kegigihan ayahnya membuat pikirannya buntu dan mengikuti apa yang ayahnya katakan. Seperti sesuatu terus mendorongnya untuk mengikuti apapun yang dikatakan oleh ayahnya dan dia tak menyesal karena dia mewarisi bakat milik ayahnya

“Taehoon juga mengatakan dia sangat bangga padamu karena kau adalah anaknya satu-satunya yang mewarisi bakat menjadi seorang DJ dan juga mahir dalam melakukan Beatbox”

“gumawo ajhussi” ucap Yoona

“dan yang paling aku banggakan darimu adalah kau tak pernah masuk kedalam lingkaran yang jauh dari hidupmu sekarang. Kau tetap bisa menjaga pergaulanmu, setelah kerja kau langsung pulang. Biasanya DJ lain selain kau, mereka akan berhenti untuk bersapa pada bartender dan meminum wine atau vodka yang disediakan. Bermabuk-mabukan sepanjang malam hingga kelab hampit tutup”

“apa—dia juga melaukan hal itu?” tanya Yoona hati-hati

“maksudmu Kai?” Yoona mengangguk pelan

Ajhussi itu tertawa kecil, menatap Yoona yang sudah dianggap sebagai anaknya sendiri dengan sayang

“tidak untuk minum wine, vodka, gin, bourbon atau semacamnya. Dia disana bersama tiga temannya hanya menikmati jus yang sering diberikan oleh Tiffany untuk mereka”

“bagaimana dengan wanita lain?” tanya Yoona

“sejauh perhatianku, dia dan kedua temannya hanya dekat dengan Tiffany”

Yoona membentuk mulutnya menjadi huruf O. dia cukup puas dengan jawaban dari ajhussi didepannya tapi dia penasaran dengan wanita bernama Tiffany. Menurut kabar, wanita itu adalah gaya tarik dari RockTN. Wanita dengan senyuman paling menawan didalam klub itu. Wanita itu juga yang paling ramah diantara yang lain

“ada yang ingin kau tanyakan lagi?” pria paruh baya itu tampak menyesap kopi hitam miliknya

Yoona menggeleng pelan, “aniyo, ajhussi. Gumawo”

“ah… sepertinya kau menyukainya?” tanya ajhussi itu, dahinya berkerut dan tatapannya tampak menggoda

“aniyo, bagaimana bisa ajhussi mengatakan hal itu” jawab Yoona tersenyum kecil

“datanglah kerumahku. Kau belum pernah bertemu dengan Suho lagi kan? Terakhir kau bertemu dengannya saat kau dan Yuri masih berumur sekitar 12 tahun”

“akan aku usahakan” jawab Yoona.

Kai masih bersembunyi dan seketika matanya membulat ketika gadis itu memutar tubuhnya dan memperlihatkan wajahnya yang tertutup dengan topeng perak yang sangat dikenali oleh Kai. Gadis itu—gadis yang menjadi rasa penasarannya selama ini. Gadis yang membuatnya hilang kendali atas pikirannya sendiri. Gadis yang membuatnya tertarik melebihi rasa tertariknya dengan orang lain

“sialan!” decih Kai

“m—mwo?”

Mata Kai sekali lagi membulat karena bosnya tampak berpelukan intim dengan gadis itu. Kai menggeram, tangannya mengepal tak terima. Serta dia tampak muak dengan senyuman manis yang dilontarkan oleh gadis itu pada bosnya. Seakan-akan gadis itu tampak seperti wanita murahan yang biasa dia temui didalam klub. Kai sekali lagi mengehela nafasnya, berjalan pergi meninggalkan tempat bertemunya seorang yang dia kenal dan seorang yang membuatnya ingin mengenalnya. Kai terus menarik ulur nafasnya yang tak beraturan. Dia kembali kedalam klub dan menarik jaketnya pergi. Sehun dan Tao yang mengetahui itu langsung celimpungan mengikuti arah pergi Kai. Tao sendiri hanya sempat mencium bibir kekasihnya singkat tatkala dia melihat kilatan marah dari mata yang terpancar dari mata milik Kai.

“apa yang terjadi?” tanya Sehun membenarkan letak jaketnya karena terburu mengejar Kai yang berjalan cepat

“…”

“Kai?”

“…”

“Kai! Kemana mulutmu?!” bentak Tao tak tahan dengan sikap Kai yang seenaknya

Kai mendadak menghentikan kakinya, menatap galak kearah Tao yang melakukan hal yang sama. Sehun sendiri hanya diam berdiri, menahan dirinya sendiri untuk tidak ikut campur terlalu dini. Mereka lelaki dan mereka sudah cukup dewasa untuk memikirkan bagaimana seharusnya bertindak. Jadi, Sehun tak perlu melerai mereka kecuali mereka saling hantam satu sama lain, baru Sehun akan bertindak cepat. Rahang Kai mengeras, matanya menatap tanpa ampun kearah Tao yang tak kalah tajamnya menelusuri setiap inci dari mata Kai.

Satu menit setelahnya, Kai menyerah

“tsk” desahnya, dia mendudukkan dirinya pinggir jalan. Mengacak rambutnya yang tampak kusut

“wae?” tanya Sehun

10 menit menunggu Kai membuka mulutnya membuat Tao gerah. Pasalnya Tao sedikit emosi karena dia harus meninggalkan klub lebih cepat dari biasanya, bukan karena Tiffany tapi karena dia melihat salah satu teman sekelasnya yang berada didalam sana. “pikirkan masalahmu sendiri, aku akan pulang!” kata Tao beranjak pergi

Sehun sendiri bingung, tatapannya terus beralih pada kedua sahabatnya. Tao yang sudah menjauh dan Kai yang masih duduk menunduk didepannya tanpa mengatakan apapun. Kai sendiri tampaknya tak akan buka mulut sampai moodnya kembali. Sehun masih berdiri bingung, Tao sudah hilang dari pandangannya dan Kai tampak tak berniat merubah posisi duduknya

Sehun menyerah, “oke, aku akan pulang dan tenangkan dirimu lebih dulu”

Sehun menepuk bahu Kai dan menaiki skateboardnya yang sengaja dia bawa karena Kai dan Tao mengajaknya berjalan kaki ke klub tadi sore. Sehun hanya menghembuskan nafasnya tak peduli. Dia kadang tak mengerti dengan sikap Kai yang sering uring-uringan. Di lain waktu dia akan sangat konyol. Di lain waktu dia akan sangat diam. Dan di lain waktu dia akan sangat terlihat dewasa melebihi umurnya.

Sehun pov

Aku tak berniat memutar tubuhku untuk memastikan lagi keberadaannya. Dia seperti lelaki pengecut yang tak mempunyai harga diri dan tujuan hidup. Tapi aku sedikit berterima kasih padanya. Karena dia, aku menemukan seorang gadis yang mampu membuatku jauh lebih memiliki hasrat yang paling dalam di diriku. Aku tak peduli dengannya. Dia bahkan tak meminta maaf pada Tao tadi. Diantara kami bertiga, Tao lah yang paling sering diam ketika Kai atau aku sedang uring-uringan. Tao tak akan mau ikut campur jika dia tak terlibat dengan masalahnya secara langsung dan mungkin Tao sudah mencapai dalam tahap kata ‘muak’

Tit…tit…tit…

“ne?” jawabku cepat

“…”

“kau sudah mendapatkannya?” tanyaku

“…”

“benarkah? Ehm… tetap cari. Aku akan menunggu kabar darimu”

“…”

Aku terkekeh pelan, “tenang saja, kau tak perlu khawatir soal itu”

Satu lagi dan aku berhasil.

Yoona pov

Kepalaku benar-benar pening pagi ini. Aku merasa malas untuk bangun dan mempersiapkan diriku sendiri untuk datang kesekolah. Tubuhku terasa sedikit lemas dan kepalaku berdenyut-denyut. Bahkan ketika aku mencoba menegakkan tubuhku, tubuhku langsung merosot ke ranjang empukku

Ah… aku lupa dengan suplemenku

Aku beranjak dari tempat tidurku , mengambil botol diatas nakas tapi didalam botol itu sudah tak ada satupun tersisa untukku. Tubuhku langsung melemas. Aku agak bingung dengan kondisi tubuhku, seakan-akan aku sangat bergantung dengan obat itu. Yunho oppa juga selalu mengingatkanku agar aku teratur meminumnya. Pernah sekali bertanya tapi Yunho oppa justru memberikan jawaban yang tak aku inginkan sama sekali dan mengalihkannya dengan pertanyaan lain

“Yoona!!” suara Jessica eonni yang melengking hebat membuat telingaku terasa berdengung dan nyeri

“ne, aku akan keluar sebentar lagi” sahutku

Aku bergegas bersiap. Sekitar 15 menit aku turun dari kamarku dan sarapan. Yuri tampak tak berniat menatapku sedikitpun dan juga Jessica eonni yang tampak tak peduli selain menghabiskan makanannya

“aku berangkat” ucap Yuri menggeser kursinya

“aku antar?” tawar Jessica

“ani, aku sudah janji dengan Hyoyeon dan Sooyoung” jawab Yuri melenggang pergi

Sekilas, aku melihat tatapan matanya yang terasa ingin membunuhku tapi aku hanya akan menganggapnya angin lalu. Aku lelah hari ini dan aku tak ingin menambah bebanku sendiri. Cukup dengan beberapa rahasia yang sudah mulai terbuka. Itu sendiri benar-benar membuatku kelimpungan setengah mati. Aku menaiki bus dan turun setengah jalan. Sepertinya aku benar-benar membutuhkan suplemen itu. Memang jika meminum suplemen itu tubuhku menjadi sedikit ringan.

Pelajaran hari ini berlangsung sangat lambat. Aku benar-benar mengantuk didalam kelas dan kepalaku terus terasa ingin ambruk. Untung hari ini tak ada pelajaran dari guru Kim atau guru Kang. Jika ada dia akan menghukumku sangat berat karena mengantuk dan meletakkan kepala diatas meja saat guru sedang menjelaskan didepan kelas.

Aku berpapasan dengan Baekhyun yang tersenyum, dia melambaikan tangannya kearahku dengan semangat—dan jangan lupakan gigi putihnya yang dia perlihatkan padaku. Aku tak membalasnya dan tetap melanjutkan langkahku ketempat biasa aku menghabiskan makan siang milikku. Ah… tak lupa buku mewarnai yang  bibi Jo belikan untukku.

Pertama aku menyelesaikan makanku, setelah itu aku meminum suplemen yang aku beli tadi. Tanganku hendak menyentuh pensil warna tapi sebuah tangan menahanku

“kau—sedang sakit?”

Aku menggeleng pelan, “aniyo, aku baik-baik saja”

Sehun melepaskan tangannya dariku, tangannya beralih menyentuh dahiku

“kau demam?” tanyanya

“tidak Oh Sehun. Jangan sok tahu” dengusku

“kau terlalu sering keluar malam dengan pakaian tipis. Jika kau menyayangi pekerjaanmu, seharusnya kau juga harus menyayangi tubuhmu” ucap Sehun

Aku hanya menutup mataku dan mengusapnya. Benar, tanganku terasa hangat saat aku menyentuh wajahku sendiri atau mungkin tanganku yang terasa dingin. Ini tanda-tanda aku akan sakit. oh… ayolah, aku benci jika tubuhku harus seperti ini.

Author pov

Sehun terus memperhatikan Yoona. Gadis itu tetap saja angkuh meskipun Sehun sudah mengetahui tentang siapa dia sebenarnya. Berulang kali Sehun terus berusaha mendekatinya tapi tentu dia tak akan pernah bisa secara terang-terangan, terutama didepan Kai yang tampak juga tertarik dengan Yoona. Meskipun Kai sendiri jarang bahkan hampir tak pernah membahas tentang yoona didepannya lagi tapi Sehun sangat tahu dari kilatan mata Kai ketika dia tak sengaja menemukan Kai tengah hanyut dengan pandangannya pada seorang gadis kurang sempurna disekolah itu

Yuri sempurna dan tentu mereka berpikiran bahwa Yoona juga harus sempurna.

Sehun tampak lamat memandangi gadis disebelahnya yang masih diam dan sibuk dengan kegiatan mewarnainya. Setelah dia menemukan gadis ini tampak sedang meminum obat, itu membuat Sehun curiga tapi ketika ditanya tentu saja gadis ini tak akan pernah memberikan jawaban yang diinginkannya

Karna Yoona tak butuh teman di sekolah

Sehun berinisiatif melepaskan jas sekolahnya den meletakkan ditubuh Yoona. Gadis itu terlihat sangat sakit, jemari tangannya berwarna putih pucat seolah kedinginan. Yoona yang merasakan sesuatu tengah diletakkan dipundaknya yang membuatnya menjadi terperanjat, meskipun itu hangat ditubuhnya tapi dia tak ingin ada masalah lagi yang terjadi dengannya. Yuri menyukai Kai dan bisa saja salah satu dari Hyoyeon atau Sooyoung menyukai Sehun. Jika benar, itu akan memusingkannya

“Hun—”

“jangan menolak” potong Sehun, ucapannya terdengar lebih serius daripada ucapan-ucapan yang dia ucapkan sebelumnya ketika bertemu dengan Yoona

“tolong dengar—”

“aku tahu dan aku tak mau mendengarnya” sekali lagi Sehun memotong ucapannya tanpa mengatakan hal lain, Sehun langsung bangkit dari duduknya berjalan menuju kelasnya. Meninggalkan Yoona dengan jas sekolahnya.

Yoona melipat jas Sehun ditangannya. Dia tak ingin orang lain melihat name tag yang tertera dibaju itu. Itu berhasil tapi ada masalah lain, dia merasakan tubuhnya semakin lemas dan dia benar-benar butuh istirahat. Langkah beratnya menuntunnya keruang kesehatan seorang diri. Yoona menolak obat pemberitan dokter jaga disana, dia lebih memilih merebahkan tubuhnya.

Bel pulang sekolah sudah berbunyi. Sehun lebih dulu berpamitan pada kedua temannya, hendaknya bergegas menuju kelas Yoona untuk menemui gadis yang tampak tak menunjukkan wajah sinisnya hari ini.

Sraakk

“Yoo—” ucapan Sehun tertahan, tak ada siapapun didalam kelas dan juga tak ada tas Yoona

Apa dia sudah pulang?

Sehun kembali menutup pintu itu, berniat keruang kesehatan. Pikirnya, Yoona pasti masih berada didalam sana.

Yuri pov

Aku benar-benar muak dengan gadis itu, kemarin dia mendekati Kai dan sekarang Sehun?

Aku sudah mengetahuinya beberapa hari yang lalu tapi aku tentu tak akan percaya dengan gossip yang beredar kecuali aku melihatnya sendiri dengan mata kepalaku. Sooyoung dan Hyoyeon hanya sibuk memandangku. Setelah kejadian Kai, aku belum puas untuk menyiksanya lebih jauh

Bahkan aku sempat berpikir lebih baik gadis itu pergi.

“apa rencanamu?” tanya Hyoyeon, tangannya terus mengambil cemilan ditangannya

“berhentilah makan, jangan tertular Sooyoung” hentakku kesal, aku belum memiliki ide untuk melakukan sesuatu pada Yoona

“siram saja dengan air dingin” ucap Sooyoung santai

“kau kan tak tahan dengan air dingin, pasti dia juga. Kembar” lanjutnya

Aku tersenyum mendengar idenya. Segera aku berlari ke toilet, sejenak mencari-cari ember diruang peralatan yang belum dikunci oleh penjaga sekolah. Aku bergegas melakukannya, mengisi bak berwarna merah itu hampir penuh. Oh… ini akan menjadi rencana yang amat sangat sempurna

“kau akan benar-benar melakukannya?” tanya Hyoyeon kaget

Aku aku mengangguk pasti

“tapi, jika dia sakit? kau kan juga akan langsung sakit jika kau terkena air dingin?”

Aku menatapnya tak percaya. Dalam keadaan seperti ini dia masih membela Yoona yang notabenya adalah musuhku bebuyutanku dan tentu saja menjadi musuh mereka berdua. Apa gadis ini bodoh? atau si gadis itu sudah mempengaruhi Hyoyeon agar Hyoyeon meletakkan rasa kasihannya? Atau gadis ini ingin aku tendang dan menjadi bahan cercaan seperti Yoona?

“apa yang kau katakan?” ucapan Sooyoung tampak menajam. Oh… dia berada dipihakku

“jika kau merasa kasihan, kau boleh tak menganggap kami temanmu lagi” ucapku sinis

Hyoyeon tersenyum, “mian, aku hanya teringat saat kau sakit itu saja. Well, kau benar-benar terlihat parah saat terkena air dingin”

“biar saja, akan lebih baik dia tak masuk sekolah!” desisku

“Yul! Yul! Dia lewat!” seru Sooyoung, kepalanya melongok kebawah

Segera aku berlari mendekatinya dan benar, gadis itu tengah berjalan dengan kepala menunduk. Dibantu Hyoyeon aku mengangkat ember itu dan menyiramnya dari lantai dua tepat mengenai ujung kepala Yoona dan membasahi seluruh seragam sekolahnya. “hahahhahaha!!” tawa kami bertiga meledak hebat melihat gadis itu tiba-tiba terdiam ditempatnya. Ini belum seberapa Yoona-ku sayang, akan jauh lebih banyak penantian yang menantimu nanti. Bukan sekarang tapi lihat saja nanti apa yang akan terjadi denganmu. Aku sendiri bahkan rela melakukan apapun untuk mengambil Kai dan juga mengambil kasih sayang Yunho oppa. kau bahkan tak ada apa-apanya dibandingkan denganku yang jauh memiliki segalanya. Kita kembar tapi kita berbeda

“YOONA!”

Tenggorokanku tercekat ketika aku mendengar suara yang sangat aku kenal berteriak—bukan namaku tapi—YOONA!.

tbc

jangan lupa komen yaa🙂

see you in the next chap!! yuhuuu

59 thoughts on “Who Are You? – 6

  1. anyeong chingu aku choclorieda tapi karna wp ku bermasalah akhirnya aku bikin yg baru. dan inilah aku yg baru😀
    aku lupa udah coment atau blm d ff ini. tapi gpplah kalaupun aku udah coment.
    sempet ga habis pikir ngeliat tingkahlaku yuri. padahal yoona kembarannya tapi qo tega sih..
    memang cinta itu membutakan ya..
    berharap sehun terus ada d samping yoona untuk sekedar menguatkan dia dari keadaan ini. tapi untuk jadi pasangan yoona, aku setuju2 aja itu kai ataupun sehun. cz keduanya aku suka hihi..
    d tunggu kelanjutannya chingu..

  2. Semakin penasaran yoona bakalan suka sama sehun apa enggak
    Berharap sih yoona sama kai
    Next chapter jangan lama lama yah thor
    Keep Writing ^^

  3. yang terakhir manggil aku yakin KAI ya thorr?

    suka sama sehun yang terobsesi sama Yoona, biar Yoona sama Sehun aja thorr, terus Yuri sama KAi, biar Yuti gl benci lagi sama Yoona

    cepet lanjut thoorr makin seruuu >o<

  4. Yoona sama sehun aza trz kai sama yuri…Biar ngga berantem…
    Sebenarnya yoona juga ga kalah berprestasi sama yuri tpi yoona aza yg ga mw menunjukkan dirinya…
    Yoona sakit apa sampai harus minum suplemen trz???Mudah2an yg teriak manggil yoona adalah yunho oppa atau sehun..Klo yunho oppa biar tahu kelakuan adiknya…

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s