(Freelance) Revenge (Chapter 3)

REVENGE

REVENGE 3

 

Author                        : Chobi
Tittle               :
Revenge
Cast                 :
Im Yoon Ah, Oh Sehun, Kris, Park Jiyeon

Support cast  : Kai, Chanyeol (Temukan yang lainnya)

Genre              : Romance, Action
Rating                         : PG
21
Length                        : Chapter

Disclaimer       : FF ini murni, asli buatan aku sendiri. Semua cerita yang ada disini hanya khayalan semata, GAK NYATA. Banyak terinspirasi dari Kdrama maupun Kmovie. Typo bertebaran bak daun-daun yang berguguran.

 

UNTUK YANG NUNGGUI FF INI, MAAF YA LAMA..

HAPPY READING CHINGU…

 

Sehun meminum tehnya sekaligus, lalu menaruh gelasnya di atas meja. Ia kembali berjalan di belakang Yoona, mengikuti kekasihnya menjelajahi bunga-bunga yang bermekaran indah di sekelilingnya. Namun tiba-tiba ia merasa pusing dan pandangannya kabur. Ia tahu ada sesuatu yang salah pada minuman yang sudah diminumnya, Sehun lantas menarik pundak Yoona dan mengambil gelas yang ada di genggaman Yoona dan membuangnya.

“Sehun-ah,” Yoona terkejut akan sikap Sehun yang begitu mendadak.

 

Sehun semakin sulit mengendalikan dirinya yang akan kehilangan kesadaran. Namun tak berapa lama.

 

BRUG!

Tubuh Sehun jatuh di atas lantai dan langsung tak sadarkan diri.

 

“Sehun-ah!” Teriak Yoona.

 

 

 

Markas Tim Kris

21.00

 

“Kami akan membebaskannya, kembali fokus pada misimu,” ucap Kris lalu mematikan panggilan telponnya.

 

“Dia begitu mengkhawatirkan Kai, tapi tidak bisa berbuat apapun,” ucap Luhan yang berada di sebelah Kris.

 

“Bagaimana?” Tanya Kris beralih topik.

 

“Dia sudah masuk jebakan,” jawab Luhan.

 

Kris mengangguk. “Kajja,” perintah Kris.

 

 

Gudang Kosong

22.00

 

Dua orang berbadan besar tengah menggeret tubuh Sehun yang terkulai lemah ke dalam gedung kosong yang terbilang luas. Lalu mereka membangunkan Sehun dengan menyiram seember air ke wajah Sehun.

 

Sehun terbatuk sekaligus tersadar, pandangannya masih kabur. Namun ia sudah merasakan bahwa ada dua orang yang memegangi lengannya dengan kuat sedangkan pergelangan tangannya terikat tali dengan kencang.

 

“Ireona!” Teriak Luhan kencang.

 

Sehun mencoba mengembalikan pandangannya yang buyar. Ia memandang keseluruh kelilingnya, ada beberapa penjaga dengan badan berisi dan juga ada sebuah bangku dan samar-samar ia melihat ada seseorang yang berdiri di atas sana.

 

“Annyeonghaseyo Sehun-ssi,” sapa Luhan sembari berjalan menghampiri Sehun.

 

Sehun mengabaikan sapaan Luhan, ia masih berusaha melihat seseorang yang berdiri di atas kursi.

 

Ketika tahu Yoona yang berdiri di atas kursi dengan wajah pucat dan di lehernya terdapat tali tambang yang melingkar, Sehun segera berdiri. “Yoona-ya.”

 

Luhan memberi kode pada anak buahnya untuk kembali membuat Sehun berlutut. Tak menunggu lama, salah seorang itu menendang betis Sehun, dan benar membuat Sehun kembali berlutut.

 

Sehun memandang bengis ke arah Luhan. “LEPASKAN DIA!” Teriak Sehun.

 

PLAK!

Luhan menampar kencang pipi Sehun. “Siapa kau berani berteriak padaku?”

 

“Kubilang lepaskan dia!” Sehun kembali berteriak kencang.

 

“Singkirkan!” Perintah Luhan pada rekan timnya.

 

Saat seoarang lainnya menarik kursi yang menjadi pijakan Yoona, tubuh Yoona pun menggelantung di udara, lehernya terasa sangat tercekik. “Eemp, eemp,” Yoona merasa sulit bernafas.

 

Kris yang berada tak jauh dari sana yang lebih tepatnya sedang bersembunyi tidak tega melihat Yoona seperti itu, ia hendak berlari menyusul Yoona, tapi seseorang menahan lengannya. “Semua akan sia-sia, Kris!” Ujar Sooyoung, perempuan yang menyamar sebagai tukang bunga beberapa waktu lalu.

 

Sooyoung adalah anak buah Kris juga yang di tempatkan di lain kota, ia dan Kai terbilang dekat waktu pelatihan di Brazil.

 

Nafas Kris menderu, kedua tangannya mengepal dengan keras, ia tak bisa berbuat apapun.

 

“Hentikan!! Kumohon hentikan!!” teriak Sehun saat melihat Yoona tercekik di depan matanya.

 

Yoona terlihat lemas, matanya yang tertutup sesekali memandang ke arah Sehun.

 

“KEMANHAE!” Teriak Sehun saat tubuh Yoona sudah terlihat semakin melemah.

 

Luhan meminta anak buahnya untuk mengembalikan kursi, dan akhirnya Yoona kembali bisa bernafas.

 

“Mengetahui kau begitu buruk memperlakukan temanku, ku kira ini belum seberapa,” ucap Luhan sembari tersenyum.

 

BUG!

Luhan melayangkan tendangan ke arah perut Sehun.

 

“Eemp,” Sehun terdorong beberapa langkah ke belakang. Tidak ada perlawanan dari Sehun, ia lebih memilih dirinya yang terluka. Bertubi-tubi Luhan melayangkan pukulannya ke wajah Sehun sampai akhirnya Sehun mengeluarkan darah segar.

 

Setelah melihat Sehun lemas dengan berlumuran darah di sekitar wajahnya, ia berhenti memukuli Sehun dan mendekati Sehun yang terkapar lemah di lantai. “Bebaskan dia!” Pinta Luhan pada Sehun.

 

“Nugu?” Tanya Sehun dengan suara yang pelan.

 

“Kau tau orangnya!” jawab Luhan.

 

Benar. Sehun sudah tahu siapa yang dimaksud. “Cih,” Sehun meludah ke arah wajah Luhan. “Seharusnya dia mati!”

 

Luhan tertawa, ia memberikan isyarat pada temannya untuk kembali menarik kursi tempat Yoona berdiri.

 

Sehun kembali melihat Yoona bergelantung di udara. Matanya membuka lebar dan tatapannya nanar. “Kubilang hentikan!” Teriak Sehun.

 

“Sebelum temanku mati, ayo kita lihat bagaimana kekasihmu mati Sehun-ssi,” ucap Luhan sembari mengelap darah yang ada di wajahnya.

 

Mata Yoona mulai tertutup, pergerakan mulai berkurang.

 

“Akan aku bebaskan!” Teriak Sehun.

 

Saat itu juga seseorang kembali memberikan Yoona sebuah pijakan kursi. Namun Yoona terlihat sangat lemas, sebisa mungkin ia memijakan kakinya di sana.

 

“Jika sampai besok siang temanku belum dibebaskan, aku akan mengirim paket mayat untukmu,” Luhan tersenyum sinis lalu meninggalkan Sehun.

 

“Aku akan mengirim alamat dimana kita akan bertemu,” lanjut Luhan tanpa menoleh.

 

Sehun melihat Yoona di turunkan dari kursi, dan di bawa masuk ke dalam yang ia tidak tahu kemana gadisnya itu akan di bawa.

 

Kedua penjaga menarik tubuh Sehun keluar gedung lalu memasukkannya ke dalam mobil.

 

Setelah kepergian Sehun, Kris keluar dari tempat persembunyiannya dan berlari menyusul Yoona. Ia melihat adiknya terkulai lemah di atas tempat tidur dengan keringat yang membasahi sekujur tubuhnya.

 

Tangan Kris kembali mengepal, ia bergegas meninggalkan Yoona dan menghampiri Luhan yang tengah berbincang dengan anak buahnya.

 

Kris menyudutkan Luhan di dinding dan mencekik leher Luhan dengan sangat kencang. Hal itu tentu saja membuat Luhan sulit bernafas.

 

Luhan berusaha menjauhkan tangan Kris yang ada di lehernya. Namun sulit, sangat sulit.

 

“KRIS!” Sooyoung berlari dan berusaha menarik tangan Kris agar melepaskan Luhan.

 

Kris justru semakin kencang mencekik Luhan, sampai Luhan terlihat lemas dan akan tak sadarkan diri. Barulah ia melepaskan Luhan, dan Luhan pun jatuh lemas di lantai. “Eotte?”

 

Luhan tidak menjawab, dirinya terbatuk-batuk dan merasa sesak.

 

“Kenapa kau lakukan itu?” Kris bertanya dengan penuh penekanan, banyak cara lain yang mungkin lebih aman untuk menyiksa Yoona dan mengambil keuntungan dari Sehun, tapi bukan cara menggantung Yoona, karena akibatnya akan fatal.

 

Sebisa mungkin Luhan menjawab. “Karena dia tidak akan membiarkan gadisnya mati dan cara itu terbilang cepat,” jawab Luhan terbata dengan mata yang tertutup.

 

“Ya! Cepat membuatnya mati! Apa yang kau lakukan terhadapnya, aku akan melakukannya berkali-kali lipat padamu!” Kris memandang bengis ke arah Luhan, setelah itu ia pergi dan kembali menemui Yoona.

 

Tubuh Yoona lemas bukan main, matanya pun seakan sulit dibuka. Kris merengkuh tubuh Yoona dan membalutnya dengan selimut. “Joy-ah, Joy!” Panggil Kris menyadarkan Yoona.

 

Tidak ada jawaban yang terdengar. Perlahan mata Yoona tertutup dan tak sadarkan diri.

 

“Joy!” Kris berusaha membangunkan Yoona.

 

“Yak! Im Yoona!!” Teriaknya lagi.

 

“Kris! Ada apa?” Sooyoung datang menghampiri Kris. Ia melihat raut wajah penuh khawatir di sana.

 

Bergegas Kris membopong tubuh Yoona dan membawanya pergi ke rumah sakit.

 

 

Di lain tempat, Sehun diturunkan di pinggir jalan bersamaan dengan sebuah ponsel, tempat itu berdekatan dengan toko bunga sebelum akhirnya ia di culik, Sehun melihat ke arah toko bunga. Namun toko bunga itu tutup.

 

Sehun melihat keberadaan mobil putih milik Yoona, ia pun menghampiri mobil itu lalu masuk ke dalamnya. Ia sempat berdiam diri cukup lama, memikirkan bagaimana ia harus menyelamatkan Yoona.

 

Sehun berkunjung ke rumah sakit dimana ayahnya sedang dirawat. Namun ia tidak berani masuk ke dalam ruangan, ia tidak ingin ayahnya merasakan kehadirannya dalam keadan yang dipenuhi darah di wajahnya itu.

 

Sehun memandang ayahnya yang masih terbaring lemah dari kaca pintu. “Ayah, apa yang harus aku lakukan?” Ucapnya dalam hati.

 

Di saat yang bersamaan, seorang suster menghampiri Sehun. “Oh, lukamu cukup parah, tuan. Ikut aku, akan ku antar ke..”

 

Sebelum suster itu menyelesaikan kalimatnya, Sehun justru berbalik pergi tanpa meninggalkan sepatah kata pun.

 

Suster itu pun menatap aneh punggung Sehun.

 

 

Rumah Oh Se Hwan

24.00

 

Sehun melangkah masuk ke dalam rumah yang sudah lama tak ia tinggali, langkah kakinya membawanya masuk ke dalam kamarnya, ia membersihkan tubuhnya, mandi dan merawat sendiri semua luka yang ada ditubuhnya, setelah selesai, ia bersiap dengan pakaian rapi setelan kemeja berwarna hitam lalu pergi meninggalkan rumahnya.

 

 

Markas AIK

01.00

 

Kesibukan ekstra telah melanda orang dalam markas tersebut. Mereka tak memandang bahwa pagi akan kembali datang. Terlihat beberapa kali orang mondar-mandir dari satu komputer ke komputer yang lain, mereka masih melacak keberadaan teroris yang kini berkeliaran.

 

Bahkan mereka mendapat kabar terbaru bahwa tengah terjadi pembantaian besar-besaran di Seoul sore tadi, dan mereka sudah mengirim tim untuk mengatasi masalah itu.

 

Jiyeon yang biasanya terlihat cantik, kini dirinya sudah tak karuan, bahkan untuk sekedar mandi pun dirinya tak sempat. “Lay, cari di daerah sini!” Jiyeon menunjuk ke arah tempat daerah yang berada di layar komputer.

 

“Tidak ada yang mencurigakan,” jawab Lay.

 

“Tao-ssi, kau sudah menemukan gedung-gedung kosong yang berada di Busan?” Tanya Jiyeon.

 

“Heem, dari yang sudah kutemukan mereka tidak ada di sana,” jawab Tao.

 

“Chanyeol-ssi, bagaimana dengan Seoul?” Tanya Jiyeon.

 

“Tidak ada, sunbae,” jawab Chanyeol yakin.

 

Sehun hanya bisa melihat kesibukan tanpa membantu. “Sunbaenim,” panggil Sehun ke arah Jiyeon.

 

Tanpa menoleh Jiyeon menyaut. “Heem?”

 

“Sunbae ada yang ingin ku katakan,” ucap Sehun lagi.

 

“Katakan saja!” Jawab Jiyeon mulai kesal. Ia paling tidak bisa di ganggu saat genting seperti itu.

 

Sehun menghela nafasnya, ia berlalu meninggalkan Jiyeon dan menuju ruang interogasi. Sepanjang perjalanan menuju markas, ia sudah merencanakan cara yang bagus untuk meloloskan Kai dan membawa Yoona kembali padanya.

 

Sehun duduk dihadapan Kai. “Siapa pengkhianat itu?” Tanya Sehun langsung.

 

Kai mengerutkan keningnya. “Apa maksudmu?”

 

“Orang yang bekerja sama denganmu, dia salah satu agen dari AIK, siapa dia?” Ucap Sehun.

 

Kai tertawa. “Kajja,” ucap Kai.

 

Sehun semakin kesal karena ulah Kai.

 

“Kau ingin lihat kekasihmu menjadi mayat? Eoh?” Ancam Kai, ia bersikap seolah tahu semua hal.

 

Sehun mengepalkan tangannya. Namun ia menahan amarahnya agar tak segera membludak seperti sebelumnya. Ia pun membawa Kai keluar ruangan interogasi. Pikirannya benar sedang tak jernih, yang ada di kepalanya hanyalah membebaskan Yoona.

 

“Sunbae, mau di bawa kemana dia?” Tanya Baekhyun saat melihat Sehun membawa Kai keluar.

 

Mendengar itu, Jiyeon segera menoleh ke arah Sehun. “Sehun-ah,” panggil Jiyeon.

 

“Ketua ingin bertemu langsung dengan dia, aku akan membawanya ke sana,” ucap Sehun dengan santai.

 

“Anni! Dia teroris Oh Sehun! Kau tidak bisa membawanya pergi begitu saja!” Larang Jiyeon.

 

“Maafkan aku sunbae, aku hanya mengikuti perintah,” jawab Sehun berusaha senatural mungkin agar tidak dicurigai.

 

“Kubilang jangan!” Bentak Jiyeon.

 

“Kau bisa menghubungi kepala Kim untuk memastikannya,” ucap Sehun sembari pamit dan membawa Kai pergi.

 

Jiyeon melihat pancaran berbohong dari mata Sehun, ia mencurigai ada sesuatu hal yang terjadi. “Baekhyun-ssi, Chanyeol-ssi, ikuti mereka, kau hanya harus patuh akan perintahku! Mengerti?”

 

“Ne!” Jawab mereka kompak dan pergi menyusul Sehun.

 

Jiyeon berlari ke ruangannya dan segera menelpon kepala Kim untuk mengonfirmasi perkataan Sehun.

 

“Mwo?”  Kaget Jiyeon saat mengetahui kepala Kim tak memerintahkan tugas yang diucapkan Sehun.

 

Jiyeon berlari ke tempat awal. “Kunci semua gerbang, jangan biarkan mobil lolos dari gedung ini,” perintah Jiyeon.

 

Segera Lay berkutik dengan komputernya untuk mengunci semua gerbang.

 

Sayang sekali, saat gerbang terkunci, Sehun sudah berada di luar gedung, ia tahu Jiyeon akan mengetahui kebohongan dirinya dengan cepat, maka dari itu ia harus lebih cepat lagi membawa Kai pergi.

 

Lay melaporkan bahwa Sehun berhasil lolos.

 

“Aishh!” Kesalnya. “Kejar mereka!” Perintah Jiyeon.

 

“Apa yang kau lakukan Sehun-ah?” Tanya Jiyeon dalam hati.

 

 

 

Markas Tim Kris

01.55

 

Kris baru saja kembali dari Rumah Sakit, ia mengikuti keinginan Yoona yang tidak ingin berlama-lama di sana.

 

Kris membawa Yoona kembali ke dalam kamar Yoona, ia memandang sedih keadaan tubuh adiknya. Sangat memprihatinkan, tubuh kurus, lemah dan pucat. Berbeda jauh sekali saat ia melihat Yoona di dalam foto bersama Sehun.

 

Sooyoung kembali masuk ke dalam kamar Yoona. “Aku yang akan menggantikan posisinya,” ujar Sooyoung.

 

Kris menoleh ke arah Sooyoung. “Persiapkan dirimu!”

 

“Ne!” Jawab Sooyoung tegas.

 

“Anni!” Tolak Yoona cepat.

 

Yoona meraih jemari Kris dan mengenggamnya. “Biarkan aku bersama dengannya untuk yang terakhir kali, aku tidak bisa begitu saja meninggalkannya, Oppa.”

 

“Anni!” Tolak Kris.

 

“Oppa,” mohon Yoona.

 

“Cepat atau lambat, mereka akan tahu siapa dirimu, kau tidak akan pernah bisa kembali setelah mereka tahu identitas aslimu,” jelas Kris pada Yoona.

 

“Jangan khawatir, aku percaya padanya, dia tidak akan menyakitiku,” jawab Yoona dengan tenang.

 

Kris menghela nafasnya, sikap keras kepala adiknya tak pernah berubah. “Maaf, aku tak bisa mengabulkannya, beristiratlah.”

 

“Sooyoung-ah! Kajja!” Kris beranjak dari tempat tidur dan meninggalkan Yoona.

 

Yoona memejamkan matanya sekilas, dengan sekuat tenaga ia beranjak dari tempat tidur dan berjalan melewati Kris dan Sooyoung.

 

“Yak!” Teriak Kris saat melihat Yoona berada di depannya dengan langkah cepat menuju sebuah mobil yang sudah disiapkan.

 

Yoona tidak menggubrisnya.

 

“BERHENTI DI SANA IM YOONA!” Bentak Kris.

 

Yoona terus berjalan dan sampai akhirnya ia tiba di samping sebuah mobil, ia tidak bisa masuk ke dalam karena beberapa penjaga menghalanginya.

 

“Minggir!” Ucap Yoona pelan terdengar tegas.

 

Tidak ada sautan ataupun respon dari penjaga di sana.

 

“KUBILANG MINGGIR!” Bentak Yoona.

 

Kris datang dan menarik salah satu lengan Yoona, sehingga Yoona berhadapan dengannya. “Kembali ke dalam!”

 

Yoona memandang penuh kesal ke arah Kris. Ia menarik tangannya kembali dan berbalik mendekati penjaga lalu mengarahkan tangannya ke arah leher penjaga itu. Sembari mencekik, Yoona kembali meminta agar penjaga itu menyingkir. “Minggir!”

 

Penjaga itu melihat kedipan mata Kris yang mengartikan bahwa ia diperbolehkan menyingkir dan membiarkan Yoona masuk.

 

Yoona masuk ke dalam mobil dan berusaha kembali mengumpulkan tenaganya.

 

“Kerja bagus Im Yoona! Kau tahu apa kelemahan dia? Ya, kau lah kelemahannya!” Ujar Luhan yang berada di kursi depan dan memandang Yoona dari  sebuah kaca.

 

Yoona tidak menggubrisnya, tentu saja ia tahu apa yang baru saja diucapkan Luhan padanya. Tak berselang lama, Kris masuk dan duduk di sebelah Yoona, tak menunggu lama, mereka bergegas pergi menuju tempat yang sudah disepakati bersama dengan Sehun.

 

 

Di dalam mobil lain, Sehun sempat menghubungi Luhan dengan ponsel yang sempat di berikan padanya, dan kini ia sedang menuju tempat yang sudah disepakati.

 

KRING!

Sehun mengangkat panggilan teleponnya.

 

“Apa yang kau lakukan Sehun-ssi? Cepat kembali!” Ucap Jiyeon langsung saat Sehun mengangkat teleponnya.

 

“Maafkan aku sunbae, kau akan mengerti mengapa aku melakukan hal ini nanti,” jawab Sehun lalu mematikan panggilan ponselnya.

 

Sehun bahkan sempat melumpuhkan Baekhyun dan Chanyeol saat di tempat parkir agar tidak bisa mengikutinya, hal itulah yang membuat Jiyeon semakin kesal.

 

“Bisa kau buka borgol ini?” Kai menyodorkan tangannya ke arah Sehun, ia duduk tepat di samping Sehun.

 

Sehun mengabaikan permintaan Kai.

 

Kai mendengus pasrah. “Sejak lahir, aku tidak tahu seperti apa bentuk ayah dan ibuku,” ucap Kai sembari memandang jalan.

 

“Benar, aku memang tidak pernah merasakan kasih sayang mereka, dan,” Kai tersenyum.

 

“Jika memang benar ada bayi yang lahir bukan dari rahim seorang ibu, pasti akulah orangnya, geundae, dari mana orang bisa lahir jika bukan dari sana?” Kai menoleh ke arah wajah Sehun. Namun lagi-lagi Sehun seolah mengbaikan keberadaannya.

 

“Aku Kai, panggil saja aku Kai, geundae, panggilan Gitar-ssi juga tak terdengar buruk,” lanjut Kai, kini dirinya bersikap seolah bersahabat baik dengan Sehun.

 

“Ahh, aku harus meluruskan sesuatu, aku tidak pernah menembak kedua orang tuamu,” ucap Kai.

 

Sehun sesekali menoleh ke arah Kai. “Aku melihat seorang gadis bersamamu saat insiden penembakan ayahku, siapa dia?” tanya Sehun.

 

Kai tertawa. “Kau akan tahu nanti, hanya ada 1 orang dari kami yang gagal melakukan misi, seharusnya dia menembak kepala ayahmu, tapi karena suatu alasan tembakannya menjadi melenceng.”

 

Sehun menahan amarahnya saat Kai berucap seperti itu. Bagaimanapun ia tetap bersyukur karena ayahnya tak tertembak di kepala.

 

Sehun menyembunyikan amarahnya dengan senyum. “Lalu haruskah aku berterimakasih pada orang itu?” Tanya Sehun yang terdengar meremehkan.

 

Kai mengangkat kedua bahunya, entah mengapa ia merasa kasihan pada Sehun, mungkin karena ia tahu betapa sakit Sehun nanti saat tahu Yoona sang penembak Ayahnya.

 

Kai kembali memandang jalan. “Maaf..” Ujar Kai.

 

Sehun menoleh ke arah Kai, lalu kembali memandang ke arah jalan.

 

“Lihat, tanpa ada kekerasan aku bahkan memberikan informasi banyak untukmu, geundae, setelah ini kau pasti akan di tendang dari timmu,” Kai tertawa.

 

“Masuklah ke dalam organisasiku, aku akan menerimamu dengan senang hati,” lanjut Kai dan tersenyum.

 

Di lain mobil, Yoona merasa dirinya semakin lemas, mungkin karena obat yang sempat diminumnya tadi. Seharusnya ia beristirahat bukan ikut melakukan misi. Sedikit demi sedikit, mata Yoona mulai terpejam, namun Yoona menahannya. Kris yang menyadari akan hal itu, menarik kepala Yoona dan menyandarkan di bahunya. Namun Yoona menarik kepalanya kembali.

 

Kris mendengus pasrah. Namun tak berapa lama, Yoona justru yang menyandarkan kepalanya pada bahu Kris. “Maafkan aku, sungguh maafkan aku, Oppa. Aku akan kembali padamu setelah aku menyelasaikan masalahku,” ucap Yoona pelan dan langsung menutup matanya.

 

Sehun tiba lebih dulu di sebuah pelabuhan. Ia berjalan keluar dengan pistol yang di arahkan ke leher Kai.

 

Ia berjalan menuju tempat yang sudah dijanjikan. Tak lama dua buah mobil datang.

 

Anak buah Kris lebih dulu keluar dan mengarahkan pistol ke arah Sehun.

 

Kris mengenggam tangan Yoona. “Jangan menghindari telponku!” Ucap Kris yang dianggukan Yoona.

 

“Jaga dirimu,” lanjut Kris.

 

Yoona akhirnya keluar dari dalam mobil berdampingan dengan Luhan.

 

Sehun akhirnya kembali bisa melihat Yoona yang sedang berjalan ke arahnya. Ia melihat wajah pucat Yoona di sana.

 

Sehun dan Luhan berhenti berjalan, dan sama-sama menodong pistol ke arah sandera, di sisi lain, Kai dan Yoona berjalan berlawanan arah, sampai mereka bertemu di tengah, Kai sempat berterimakasih tanpa suara pada Yoona.

 

Sehun berlari mendekati Yoona dan merengkuh tubuh Yoona, ia bahkan memeluknya dengan erat. “Gwaenchana?” Tanya Sehun.

 

Yoona mengangguk.

 

Kai dan yang lainnya segera masuk ke dalam mobil dan meninggalkan tempat kejadian.

 

Yoona memeluk erat tubuh Sehun, tanpa sepengetahuan Yoona, Kris masih memandang dari dalam mobil, adegan yang sangat membuat hatinya teriris perih.

 

Sehun membawa Yoona masuk ke dalam mobil, ia harus segera pergi sebelum Jiyeon datang, karena dirinya sudah melakukan kesalahan besar, sudah dipastikan dirinya akan di tangkap. Sehun tidak berniat menghindar dari hukuman, tentu dia akan menerima hukumannya, tapi tidak sekarang, karena Yoona masih butuh dirinya.

 

Sehun mencabut baterai ponselnya begitupun baterai ponsel Yoona. Sebelumnya ia sempat mengirim pesan untuk Jiyeon. Kini, ia sedang menuju tempat yang jauh dari Seoul bersama dengan Yoona, ia tidak menghkhawatirkan ayahnya, karena AIK pasti akan melindungi ayahnya karena jasa yang sudah diberikannya pada AIK.

 

 

Motel, Busan

Sehun sengaja mencari penginapan kecil untuk dirinya dan Yoona, ia memesan satu kamar.

 

Sampai di kamar, Sehun merebahkan tubuh Yoona yang lemas di atas tempat tidur, ia baru sadar ada bekas lebam mengelilingi leher Yoona.

 

“Maaf, maaf sudah membuatmu menjadi seperti ini,” ucap Sehun.

 

Yoona tersenyum sembari menggeleng. “Karena pelatihan yang sering kau berikan untukku, aku tumbuh menjadi perempuan yang kuat, bahkan ini belum ada apa-apanya?”

 

Sehun tersenyum. “Babo!”

 

Yoona tersenyum kembali. “Aku, benar-benar mengantuk sekarang,” ucapnya.

 

Sehun mengangguk, ia ikut merebahkan tubuhnya di sebelah Yoona, menjadikan tangannya bantalan Yoona, dan mendekap Yoona erat. “Jaljja,” ucapnya.

 

“Eem,” Yoona berdeham dan melingkarkan kedua tangannya pada tubuh Sehun.

 

Benar saja, tak butuh waktu lama sampai akhirnya Yoona tertidur lelap, berbeda dengan Sehun, ia justru beranjak dari tempat tidur untuk membeli keperluan mereka menginap beberapa hari di sana.

 

Jiyeon sampai di tempat sebelumnya Luhan dan Sehun berada, namun sayang tidak ada apapun disana. Jiyeon terlihat sangat kesal.

 

“Tao-ya! Periksa semua CCTV yang memungkinkan mereka terekam di dlamnya!” Pinta Jiyeon dengan tegas.

 

“Baekhyun-ah, cari ke semua penginapan yang memungkinkan mereka di sana!” Pinta Jiyeon.

 

Ia kembali masuk ke dalam mobil pribadinya dan melaju pergi, ia mengambil sebuah ponsel yang ada di saku mantelnya dan mengecek sebuah pesan di sana.

 

Jiyeon sunbae mianhae, kau tahu aku tidak akan lari dari tanggungjawabku. Hanya tunggu sebentar, aku akan membayar semuanya. Kumohon, beri aku waktu sebentar.

 

Jiyeon menghela nafas, ia melemparkan ponselnya ke bangku di sebelahnya.

 

 

Dua hari kemudian.

 

Markas Tim Kris

09.30

 

Suasana di dalam markas itu terlihat aneh dari biasanya, beberapa orang terlihat merebahkan tubuhnya di sofa bahkan ada yang tertidur dengan pulas dengan masih memakai pakaian lengkap untuk misi. Wajar saja mereka memang sangat kekurangan tidur, dan Kris tidak menjalankan misi sebagaimana mestinya.

 

BRAK!!

“Ireona!” Perintah Luhan kencang sembari menggebrak meja.

 

Mereka pun bangun dan langsung tegap berdiri, begitu pula dengan Kai yang sedang terlelap tidur di sofa pun terbangun dan Sooyoung yang sedang berada di ruangan lain pun mendekat ke arah sumber suara.

 

Kai duduk di sebuah kursi dan memandang Luhan. “Apa yang kau lakukan?”

 

“Kita harus bergerak cepat! Bahkan ini sudah jauh dari waktu yang kita tentukan di rapat kemarin!” Jawab Luhan tegas.

 

Sooyoung berjalan mendekati Luhan. “Perintah hanya berlaku saat Kris yang memintanya!”

 

Luhan tersenyum sinis. “Mau sampai kapan kita menunggunya? Kita akan gagal jika terus diam seperti ini! Lakukan atau kita akan terbunuh!”

 

Sooyoung semakin mendekati Luhan dan memandangnya dalam. “Apa harus aku ulangi?”

 

Luhan merasa dirinya semakin diremehkan. Ia selalu saja di nomor sekiankan dan selalu dibandingkan dengan Kris. Hal yang sangat tidak ia sukai.

 

Luhan mengeluarkan pistol dan mengarahkannya ke kening Sooyoung. “Kubilang lakukan sekarang!” Bentaknya.

 

Sontak semua anggota yang ada di sana terkejut dan mereka bergegas mengeluarkan pistol dan mengarahkannya ke Luhan.

 

Kai yang semula hanya duduk diam pun bangun dan berjalan mendekati Luhan. “Kemanhae!”

 

Sooyoung tersenyum meremehkan Luhan. “Satu orang pun, tidak ada yang berpihak padamu!” Sooyoung memegang pistol yang diarahkan padanya dan menurunkannya perlahan.

 

Luhan terlihat sangat kesal, ia mendengus kasar. Setelah kedatangan Kris, dirinya memang tak ada pentingnya dalam timnya. Ia memandang semua anggota yang sedang menghunuskan pistol ke arahnya.

 

“Kemanhae!” Teriak Kai, ia meminta anggotanya untuk menurunkan senjata, dan perintah itu pun segera dilakukan.

 

“Tidak ada keuntungan yang kau dapat jika kau mencoba berselisih dengan kami,” ucap Kai dengan penuh penekanan.

 

Luhan membanting pistol ke lantai dan berbalik pergi.

 

Salah seorang memberi kode pada Kai untuk meminta izin menembak Luhan. Namun Kai menggeleng tidak mengizinkan, bagaimanapun ia pernah berjuang bersama dengan Luhan saat training dulu.

 

Sooyoung pun meninggalkan tempat menuju balkon yang ada di belakang, melihat Sooyoung pergi Kai pun mengikuti.

 

Sooyoung menghirup udara segar, sembari matanya melihat hutan yang ada di depannya itu. Ia sadar Kai sudah ada di sampingnya.

 

“Kau tahu apa yang ku pikirkan?” Tanya Sooyoung tanpa memandang Kai.

 

Kai berdeham mengiyakan. “Apa yang akan kau lakukan?” Ia dan Sooyoung mempunyai pemikiran yang sama, bahwa Kris mungkin tidak akan melakukan misi-misi selanjutnya sampai Yoona benar kembali ke sisinya, tapi dengan begitu nyawa mereka lah yang kini terancam. Karena para sesepuh tidak akan meloloskan mereka begitu saja.

 

“Apa lagi, aku akan berada disisinya sampai akhir.” Jawab Sooyoung yakin.

 

“Aku bahkan rela mati untuknya,” jawab Kai tak kalah yakin.

 

Sooyoung tersenyum. Ia tahu mengapa Kai seberani itu untuk mengorbankan dirinya demi Kris, karena dirinya, Kai bahkan beberapa orang lainnya telah banyak berhutang budi pada Kris.

 

Kris yang selalu ada untuk mereka, saat training dulu, bukan hal mudah untuk mereka melakukan hal itu, bahkan beberapa orang lainnya mati terbunuh karena melanggar perjanjian yang sudah ditentukan. Kai, Sooyoung, bahkan Luhan adalah segelintir orang yang nyaris dibunuh karena melanggar aturan. Namun Kris dengan gagahnya membela mereka habis-habisan, ia bahkan rela mengorbankan nyawanya untuk membela mereka. Kris selalu ada di saat mereka membutuhkan pertolongan. Itulah jasa Kris yang tidak akan mereka lupakan sampai akhir. Karena hal itulah, mereka bukan menjadikan para sesepuh pemimpin, melainkan Kris lah yang menjadi pemimpin tertinggi untuk mereka, balas dendam bukanlah tujuan mereka, membantu Kris adalah misi utama mereka.

 

“Kurasa hal itu belum tentu benar, Kris Hyung tetap akan menjalankan misi, tapi kali ini tujuannya bukan untuk balas dendam, satu-satunya alasan yang kuat, ia hanya ingin melindungi Yoona,” ucap Chanyeol berjalan mendekati Sooyoung dan Kai, ia duduk di sebuah sofa berwarna hitam.

 

“Yak! Bagaimana bisa kau ada di sini?” Tanya Sooyoung sedikit terkejut akan kehadiran Chanyeol.

 

Chanyeol tersenyum. “Jiyeon sunbae memerintahkan kami untuk mencari keberadaan Sehun dan Yoona,  dan kurasa dia sudah tahu. Geundae, aku merindukan tempat ini dan kusempatkan berkunjung,” jawab Chanyeol.

 

“Kau tahu ini berbahaya!” Sergah Kai cepat.

 

“Ara, baiklah aku akan kembali,” Chanyeol kembali beranjak dari duduknya dan berjalan pergi.

 

“Jangan seperti itu padanya! Kau tahu, berada di posisi sepertinya cukup berat.” Ujar Sooyung.

 

“Ara, tapi apa yang dikatakannya memang benar,” lanjut Kai.

 

Sooyoung mengangguk seakan menyetujui ucapan Kai tentang perkataan Chanyeol.

 

“Kebahagiannya hanya dengan bersama Yoona, Yoona dan Yoona,” saut Kai.

 

“Kebahagian yang sekaligus menjadi kelemahannya,” lanjut Sooyoung.

 

“Sudahlah, jangan terlalu jauh berpikir, kita lihat apa yang akan diputuskan Kris nanti,” lanjut Sooyoung dan meninggalkan tempat.

 

 

Rumah Sakit, Seoul

12.30

 

Jiyeon berjalan memasuki kamar rawat Oh Se Hwan yang masih tidak sadarkan diri, beberapa hari ini ia sibuk mencari penembak Oh Se Hwan dan barang bukti tentunya.

 

“Berjuanglah, Ayah..” Ucap Jiyeon, yang masih memanggil akrab ayah Sehun dengan sebutan ayah.

 

Jiyeon pergi mengunjungi TKP penembakan Oh Se Hwan, ia memandang ke segala arah yang memungkinkan adanya CCTV yang merekam kejadian penembakan itu.

 

Jiyeon pergi ke gedung yang berhadapan dengan gedung dimana tim Kris menembak Oh Se Hwan, dan gedung itu jauh lebih tinggi. Ia mengunjungi ruangan CCTV untuk mengecek sekali lagi.

 

“Kemarin, seorang polisi sudah lebih dulu datang untuk mengambil rekaman CCTV,” ungkap penjaga ruangan.

 

“Ya, saya sendiri yang mengirimnya,” jawan Jiyeon, ia ingat bahwa dirinya lah yang meminta Chanyeol untuk memeriksa CCTV di gedung ini. Namun dirinya seakan tidak puas jika tidak melihat langsung.

 

“Kami tidak lagi menyimpan rekaman CCTV itu, seluruhnya sudah di ambil oleh rekanmu,” jawab pria tua itu.

 

Tiba-tiba ada seorang anak muda datang menghampiri Jiyeon. “Ahh tunggu, ini, kami memiliki satu rekaman CCTV lagi, kamera itu sudah tidak terpakai, namun masih berfungsi dan kebetulan menghadap ke arah gedung di depan, semoga ini bisa membantu,” pria muda itu memberikan sebuah cd pada Jiyeon.

 

“Ahhh. Ne, terimakasih..” Ucap Jiyeon senang lalu beranjak pergi.

 

Jiyeon segera melihat cd itu melalui lap top yang selalu dibawanya pergi. Sudut pengambilan yang bagus, karena merekam hampir seluruh atap di gedung itu. Jiyeon mempercepat rekaman ke jam-jam mendekati penembakan.

 

Jiyeon memperhatikan dengan detail, yang pertama dia lihat adalah kedatangan Kai yang ia kenal sebagai ‘Gitar-ssi’, melihat itu Jiyeon tersenyum. Lalu tak lama berselang, ia melihat kedatangan sosok pria bule nan tinggi mendekati Kai.

 

Jiyeon menghentikan sejenak rekaman itu lalu men-zoomnya ke wajah Kris. Setelah ia memperhatikan detail wajah Kris, Jiyeon melanjutkan rekaman itu lagi. Dan kali ini ia sangat terkejut melihat kedatangan Yoona dan sikapnya seperti sudah mengenal lama. “Ige mwoya?” Ucapnya pelan.

 

Jiyeon melihat ada pertengkaran sedikit dalam video itu, lalu melihat Yoona memegang senapan dan peluru pun lepas.

 

Mata Jiyeon membuka sangat lebar, jantungnya seakan pergi bersamaan dengan peluru yang lepas, bahkan ia tidak ada tenaga untuk menghentikan rekaman itu. Ia menggeleng tidak percaya. Segera ia meletakan lap top di bangku sebelahnya dan keluar dari mobil untuk menghirup udara segar, karena ia mulai sesak mendapatkan kenyataan yang baru saja dilihatnya.

 

“Siapa kau sebenarnya Im Yoona?” Tanyanya dalam hati.

 

Jiyeon kembali memutar otaknya, jika Yoona ada di gedung tersebut, seharusnya ada rekaman kedatangan, dan benar saja rekaman itu sudah hilang seperti yang dilaporkan Chanyeol padanya. Ia berfikir tim Kris lebih cepat bergerak.

 

Jiyeon bergegas kembali masuk ke dalam mobil dan pergi ke markas.

 

 

Motel, Busan

13.00

 

Yoona sedang berdiri menghadap ke jendela, tangannya memegang ponsel miliknya yang terus menerus bergetar. Ia tahu Kris sedang berusaha menghubunginya.

 

Tak lama ia mendapatkan pesan singkat.

 

Angkat telponku, atau aku akan menjemputmu dengan paksa.

 

Kris kembali menelepon berbarengan dengan Sehun yang baru selasai mandi. Sehun menghampiri Yoona dan memeluk tubuh Yoona dari arah belakang. Yoona menyembunyikan kepanikannya, ia kembali mencabut baterai ponselnya.

 

“Oh, kau habis menghubungi seseorang?” Tanya Sehun.

 

Yoona menggeleng.

 

Sehun mencium bau kecurigaan dari gelagat Yoona, ia membalikan tubuh Yoona dan menatapnya. “Wae? Aku percaya tidak ada yang kau sembunyikan dariku, katakan sejujurnya.”

 

Yoona menghela nafas beratnya. “Sehun-ah, besok, ayo kita kembali ke dunia kita masing-masing,” ucap Yoona.

 

Sehun tertawa. “Mwoya? Ini dunia kita, memangnya dimana duniamu? Apa selama ini kau hantu?”

 

Yoona tersenyum, lalu ia memeluk tubuh Sehun, mungkin pelukan untuk yang benar-benar terakhir kalinya.

 

Sehun mencoba melepaskan pelukan Yoona. Namun Yoona menahannya. “Wae?” Tanya Sehun yang sedikit menaruh curiga. Namun ia berpikir positif bahwa akhir-akhir ini Yoona bersikap manja dikarenakan insiden penculikan beberapa waktu lalu.

 

Yoona sedikit menjauhkan wajahnya, dan memegang kedua belah pipi Sehun dengan tangannya, ia mengecup singkat bibir Sehun. Lalu tersenyum, lalu mengecupnya lagi, dan tersenyum lagi. Dan saat Yoona mengecup bibir Sehun untuk yang ketiga kalinya, ia tidak bisa menarik wajahnya lagi karena tangan Sehun mendorong kepalanya agar lebih mendekat lagi. Sehun pun tersenyum dan menutup kedua matanya.

 

 

 

Markas AIK

14.00

Jiyeon berjalan dengan langkah cepat menuju ruang penyimpanan barang bukti, ia ingin melihat kembali rekaman CCTV yang dikumpulkan oleh Chanyeol. Namun saat membuka pintu, ia melihat Chanyeol tengah memasukkan satu kaset rekaman ke dalam saku jaketnya. Jiyeon kembali menutup pintu dan pergi ke meja kerja Lay.

 

“Oh sunbaenim,” sapa Lay sembari membungkuk.

 

“Kuharap kau benar-benar ada dipihakku, Lay-ssi.” Ucap Jiyeon.

 

Lay mengkerutkan keningnya. “Apa maksudmu?”

 

“Cepat periksa profil Im Yoona dan Park Chanyeol!” Pinta Jiyeon.

 

“Wae?” Tanya Lay lagi.

 

“Cepatlah!” Pinta Jiyeon.

 

“Arraseo,” jawab Lay.

 

Di saat bersamaan, Chanyeol keluar dari ruang barang bukti, ia kembali ke ruang itu untuk mengambil rekaman kedatangan Yoona yang belum sempat ia ambil. Saat hendak berjalan keluar markas, Chanyeol melihat Jiyeon sedang melihat profilnya. Saat itu ia sadar, dirinya sudah tidak aman lagi di dalam markas itu, ia pun berlari meninggalkan markas itu ke tempat mobilnya di parkir.

 

Saking terburu-burunya, ia pun menabrak Baekhyun yang berpapasan dengannya.

 

PLETAK!

Rekaman CCTV pun jatuh, dan Chanyeol tidak menyadarinya, Baekhyun yang melihat itu segera mengambil kaset rekaman dan ingin memberikannya pada Chanyeol.

 

“Chanyeol-ah,” panggil Baekhyun yang tidak ditanggapi Chanyeol.

 

Chanyeol bergegas naik ke dalam mobil dan melaju dengan cepat.

 

“Ada apa dengannya?” Bingung Baekhyun sembari melihat-lihat kaset yang ada di tangannya.

 

Di dalam markas, Jiyeon menemukan bahwa di dalam profil Chanyeol pernah tinggal di Paris 3 tahun, sedangkan ia ingat Chanyeol pernah mengatakan dirinya tidak tinggal di Paris melainkan Brazil. Negara Brazil yang ia tahu adalah sarangnya para teroris berasal. Melihat bukti-bukti lain, Jiyeon sudah bisa memutuskan bahwa Chanyeol bekerja sama dengan Yoona.

 

Jiyeon berlari ke ruang barang bukti, namun Chanyeol sudah tidak ada.

 

“Sunbaenim annyeo..”

 

“Dimana Chanyeol?” Potong Jiyeon saat Baekhyun hendak menyapa dirinya.

 

“Dia baru saja pergi meninggalkan markas, terlihat sangat buru-buru dan dia meninggalkan ini,” jawab Baekhyun sembari menunjukan sebuah kaset pada Jiyeon.

 

Jiyeon mengambil kaset itu dan meminta Lay untuk segera memutarnya. Baekhyun dan Lay sama-sama terkejut melihat Yoona ada di dalam rekaman itu.

 

“Bukankah itu Yoona? Bagaimana bisa dia ada di sana saat kejadian penembakan Oh Se Hwan?” Ujar Lay.

 

“Im Yoona, Park Chanyeol, tangkap mereka sekarang!” Pinta Jiyeon dengan menekankan kalimatnya.

 

Jiyeon yang sudah mengetahui keberadaan Sehun dari jauh-jauh hari pun pergi ke Busan menuju penginapan Sehun bersama dengan anak buahnya.

 

Di dalam mobil, Chanyeol ingin mengabarkan pada Kai bahwa dirinya dan Yoona sudah ketahuan, tapi sayang ponselnya tertinggal di meja kerjanya. “Aaaassshh!!” Kesalnya sembari menancap gas lebih tinggi.

 

Markas Tim Kris

 

SRTTT!!

Chanyeol memarkirkan mobilnya di sembarang tempat dan langsung berlari ke dalam markas.

 

“Hyung!” Teriaknya mencari keberadaan Kris.

 

“Chanyeol-ah, ada apa?” Saut Sooyoung yang ada di lantai atas.

 

“Dimana Kris Hyung?” Jawab Chanyeol.

 

“Wae?” Tiba-tiba Kris muncul di tangga dari arah atas menuju lantai bawah.

 

“Hyung, Yoona dalam bahaya,” lapor Chanyeol.

 

“Mwo?” Kaget Kris.

 

Setelah mendengar laporan dari Chanyeol, Kris bergegas pergi meninggalkan markas dan menuju motel tempat Yoona menginap.

 

Motel, Busan

Sehun dan Yoona tampak sedang bersantai di atas sofa, dimana Sehun menjadikan paha Yoona bantal untuk kepalanya. Ia tidak ingin membuang waktu yang berharga itu tanpa Yoona.

 

Yoona terlihat asik memainkan jemarinya di wajah Sehun, wajah tersenyumnya tak pernah sekalipun luntur di sana. “Saranghae Oh Sehun,” ucap Yoona.

 

Sehun tersenyum penuh arti, lalu meraih tangan Yoona yang ada di wajahnya dan menggenggamnya. “Poppo,” pinta Sehun  sembari memajukan bibirnya.

 

Yoona tersenyum, ia pun menuruti keinginan Sehun dan mencium bibir Sehun sekilas.

 

“Apapun yang akan terjadi nanti, besok ataupun lusa, percayalah aku mencintaimu Sehun-ah.” Ucap Yoona yang sedikit tertahan.

 

“Aku tahu,” jawab Sehun. “Poppo!” Pinta Sehun lagi. Namun Yoona tak melakukannya.

 

“Mianhae…,” ucap Yoona pelan, terlihat sekali ia menahan air mata yang hendak turun dari pelupuk matanya.

 

Sehun menghela nafasnya, ia mengarahkan tangannya ke wajah Yoona. “Kau sangat sensitif dan manja akhir-akhir ini, apa ada yang sedang kau fikirkan?”

 

“Mianhae,” lagi, Yoona hanya bisa berucap kata maaf. Perasaannya mengatakan bahwa waktu yang tersisa bersama Sehun tidak akan lama lagi. Mungkin tak lama lagi Sehun justru akan membencinya.

 

Sehun bangun dari tidurnya dan duduk menghadap Yoona. “Mungkin ini hanya perasaanku saja, tapi aku ingin tetap menanyakan hal ini padamu. Kau sering kali mengatakan maaf padaku, ada yang kau sembunyikan dariku?”

 

Yoona merasa semakin takut, sampai-sampai ia tak bisa lagi menahan air matanya yang jatuh bercucuran. Ia tidak takut akan hukuman fisik yang akan didapatnya, ia hanya takut Sehun akan membencinya.

 

Melihat Yoona bersikap seperti itu, Sehun semakin yakin memang ada yang disembunyikan Yoona darinya. Sehun menarik Yoona dalam pelukannya. “Dulu, kau sangat susah mengeluarkan air matamu, tapi kini kau terus menerus membuangnya. Aku mengerti, masalah kali ini mungkin jauh jauh jauh lebih sulit, gwaenchana, menangislah dan jangan ceritakan jika memang kau tidak ingin aku tahu. Gwaenchana Yoona-ya..”

 

“Mianhae,” lagi dan lagi Yoona meminta maaf pada Sehun.

 

“Kemanhae, sampai kapan kau akan berkata seperti itu padaku? Eoh?” Jawab Sehun.

 

Yoona tidak menjawab lagi, ia pun tak membalas pelukan Sehun.

 

Di lobi motel, tim Jiyeon baru saja tiba dan langsung menuju kamar yang sudah diketahui sebagai kamar inap Sehun dan Yoona.

 

Tao dan Baekhyun berada di barisan depan dengan sebuah pistol yang sudah siap tembak.

 

Sampai di depan kamar, Tao memberi kode pada Jiyeon untuk segera membuka pintu itu dengan kunci ganda yang berbentuk kartu. Jiyeon pun mengangguk.

 

Tao pun segera membuka pintu itu dan langsung masuk ke dalam. Dirinya cukup terkejut melihat Sehun dan Yoona tengah berpelukan di hadapannya. Ia pun menelan salivanya dan melirik ke arah Baekhyun.

 

Baekhyun pun menggeleng tidak mengerti.

 

Di lain sisi, Sehun yang terkejut pun langsung bangkit dari sofa yang ia duduki, dan melihat kehadiran Jiyeon dan anak buahnya tengah mengarahkan pistol ke arahnya.

 

“Sunbae,” ujar Sehun yang menunjukan wajah kagetnya.

 

“Lakukan tugasmu Tao-ssi!” Ucap Jiyeon penuh penekanan.

 

Tao pun bergegas mendekati Yoona dan segera memborgol kedua tangan Yoona. Tidak ada sedikitpun perlawanan, Yoona seakan memasrahkan semuanya pada takdir.

 

Sehun melihat kesal ke arah Tao dan berjalan mendekat. “Tidak perlu seperti ini! Jangan berlebihan!” Ia memegang tangan Yoona dan meminta Tao untuk kembali melepas borgol itu.

 

“Maaf Sunbaenim,” Tao membungkuk sekilas, dan hendak membawa Yoona pergi lebih dulu.

 

“Kubilang lepaskan!” Sehun menahan pergelangan Yoona.

 

“Kemanhae Sehun-ssi!” Sela Jiyeon sembari berjalan dan memborgol tangan Sehun.

 

“Peraturan tetap peraturan, siapapun yang melanggar sudah seharusnya mendapat hukuman,” lanjut Jiyeon.

 

Sehun menghela nafas beratnya, ia memejamkan matanya untuk beberapa saat, dan pasrah saat anak buah Jiyeon membawanya pergi.

 

Selang satu jam, Jiyeon masih berada di dalam kamar inap Sehun. Banyak yang ia pikirkan sebelum akhirnya ia harus memberitahukan semuanya pada Sehun.

 

Namun tiba-tiba ia mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke kamar itu, Jiyeon pun segera bersembunyi dengan masuk ke dalam kamar mandi dan tak tertutup rapat. Tak luput ia mengokang pistolnya untuk berjaga-jaga.

 

Benar saja, Kris dan Kai masuk ke dalam kamar itu yang membuat Jiyeon dilanda kebingungan dan sedikit rasa khawatir tentunya. Namun ia tetap berusaha tenang dan berfikir untuk melakukan sesuatu.

 

“Aaakkkhhh!” Kesal Kris saat mengetahui kamar itu sudah kosong.

 

Kai berjalan ke arah jendela, berharap ia melihat suatu petunjuk di luar sana. Namun nihil, ia tak dapat apapun.

 

“Hyung..”

 

Saat Kai hendak memanggil Kris, Kris lebih dulu mengangkat tangannya ke udara meminta Kai untuk diam sejenak. Kedua mata Kris tertuju pada sebuah bayangan yang ada di dalam kamar mandi.

 

Kris menoleh ke arah Kai dan memberi kode pada Kai untuk melindunginya, Kai yang mengerti langsung mengeluarkan pistol dan mengarahkan ke arah kamar mandi.

 

Jiyeon yang ada di dalam kamar mandi pun menyadari bahwa kehadiran dirinya sudah tercium, ia mengencangkan pegangan pistolnya.

 

Saat Kris sudah memegang gagang pintu kamar mandi dan membukanya sedikit demi sedikit, Jiyeon lebih dulu menarik tubuh Kris dan menyudutkannya ke tembok dengan pistol yang menodong ke arah jantungnya.

 

Kris pun tersudut dan terdiam.

 

Jiyeon sesekali melihat ke arah Kai, lalu tersenyum. “Jatuhkan senjata!”

 

Kai tidak langsung mengikuti perintah Jiyeon, ia justru membalas senyuman Jiyeon kepadanya. “Kita bertemu lagi Jiyeon sunbae,” sapa Kai yang mengikuti cara Chanyeol memanggil Jiyeon.

 

Kris yang masih tersudut pun memandang wajah Jiyeon dari jarak yang sangat dekat, namun tak lama dengan gerakan sangat cepat Kris berhasil memutarbalikan posisi dirinya hingga kini Jiyeon yang tersudut olehnya, pistol Jiyeon pun jatuh ke lantai. Wajar saja Kris lebih lihai dari pada Jiyeon, karena pada kenyataannya, Kris lebih dulu terjun di dunia yang membutuhkan skil bela diri itu.

 

Jiyeon terkejut tentunya, tapi ia tidak menunjukannya pada Kris, ia justru tersenyum. “Kau telat beberapa menit, jika kau datang lebih cepat, mungkin kau bisa melihat wajah rekanmu itu,” ucap Jiyeon.

 

“Dan seharusnya kau pergi lebih cepat,” jawab Kris disusul dengan menarik tubuh Jiyeon dan memukul punggung Jiyeon yang tak lama membuat Jiyeon terkulai lemah dan terjatuh dalam pelukannya.

 

 

Marks AIK

 

Sehun dan Yoona digiring masuk ke dalam dan dimasukan ke dalam ruangan yang berbeda. Tao membawa Sehun ke dalam ruang integrosi.

 

“Jiyeon sunbae, dimana dia?” Tanya Sehun pada Tao.

 

Bukannya menjawab, Tao justru kembali bertanya. “Sunbae, sejak kapan kau merahasiakan hubunganmu dengan Yoona?”

 

“Hubungi Jiyeon sunbae! Ada yang harus kubucirakan!” Pinta Sehun tanpa menjawab pertanyaan Tao.

 

Tiba-tiba Tao teringat akan status Yoona sebagai pengkhianat, yang saat ini setahu dirinya Sehun belum mengetahuinya. “Ne. Sunbae, fighting!” Ucap Tao sembari mengangkat salah satu tangannya dan berlalu meninggalkan Sehun.

 

 

Keeseokan harinya

08.00

 

Sehun dan Yoona masih berada di ruang yang sama, Jiyeon yang sangat ditunggu kehadirannya pun tak nampak di hadapan Sehun. Mereka sama-sama tidak memakan makanan yang disuguhkan.

 

Suho yang kini sudah menjadi wakil ketua AIK pun datang, setelah mendengar Jiyeon tidak bisa dihubungi. Ia sudah tahu semuanya berkat bantuan penjelasan anak buah Jiyeon mengenai status Yoona. Suho pun melenggang masuk ke dalam ruangan Sehun.

 

Sehun yang terlihat tidak tidur dan makan tampak pucat. Ia menyadari kehadiran Suho, ia pun segera berdiri dan membungkuk sopan walau dengan tangan yang masih di borgol.

 

Suho duduk di hadapan Sehun.

 

“Kudengar dia masih ditahan? Bebaskan Yoona, dia tak bersalah sama sekali, aku lah yang membawa Kai pergi dari tempat ini,” ucap Sehun pada Suho.

 

Suho mengangguk mengiyakan. “Betapa sangat menyakitkannya sebuah kenyataan, kau tetap harus mengetahuinya Sehun-ssi.” Ucap Suho.

 

“Ne?” Jawab Sehun bingung.

 

Tak lama, Baekhyun masuk ke dalam ruangan itu dengan membawa sebuah laptop yang diarahkan kepada Sehun.

 

“Kita harus menangkap siapa yang menembak Ayahmu bukan?” Tanya Suho lagi.

 

Sehun tak menjawab, raut wajahnya tampak kesal. Pertanyaan macam apa yang disuguhkan padanya barusan, sudah pasti penembak itu harus ditangkap.

 

Baekhyun pun memulai rekaman video CCTV yang sudah disatukan itu.

 

Tayangan pertama menampilkan kedatangan Yoona. Sehun yang melihat itu tampak mengerutkan keningnya. Lalu video di sambung lagi dengan keadaan di atas gedung dan terlihat 3 orang di sana. Sehun langsung mengenali sosok Kai, lalu tak lama ia mulai mengenal sosok wanita berambut panjang, ia pun menghentikan rekaman itu, dan men-zoom sosok Yoona.

 

“Im Yoona?” Ucapnya ragu.

 

“Apa ini?” Sehun bertanya pada Suho.

 

“Lanjutkan!” Pinta Suho, dan Baekhyun kembali memulai video itu.

 

Dalam rekaman itu terlihat sangat jelas Yoona memegang sebuah senapan dan tak lama ia menembakan peluru dari dalam senapan itu. Jantung Sehun berdegup sangat cepat dan ia langsung menutup rapat laptop yang ada di hadapannya itu.

 

Ia menyandarkan tubuhnya yang lemah di sandaran kursi, dan ia menutup kedua matanya untuk mengartikan maksud dari rekaman itu dan membuat dirinya agar lebih tenang.

 

“Yoona dan Chanyeol, mereka bu..”

 

Sebelum Suho menyelesaikan kalimatnya, Sehun lebih dulu menghentikan ucapan Suho dengan mengangkat tangannya ke atas dalam keadaan mata yang masih tertutup.

 

“Bukan hanya kau yang merasa sakit, kami pun merasakan hal yang sama. Pikirkanlah apa yang harus kau lakukan,” Suho bangun dari tempat duduknya , ia mengambil kunci borgol dari tangan Baekhyun dan segera membuka borgolan yang sejak kemarin melingkar di pergelangan tangan Sehun. Tak lupa ia menepuk pundak Sehun beberapa kali untuk menguatkan Sehun. Suho membebaskan Sehun dari jeratan hukum setelah berbincang dengan beberapa atasan.

 

Tinggalah Sehun di dalam ruang itu sendirian, ia terdiam dan memejamkan mata layaknya orang tidur. Nyatanya tidak, ia sedang mengingat perubahan sikap Yoona akhir-akhir ini dan mengingat semua perkataan Kai tentang penembak ayahnya. Ya, jika disatukan, semua itu terasa pantas bahwa memang Yoona lah pelakunya.

 

“Aku tidak meminta untuk mengembalikan cintamu yang dulu, aku hanya berharap kau selalu mengingat cintaku.”

 

_Im Yoona_

 

 

Pukul 12 siang

Sehun datang menghampiri Yoona yang berada di ruang interogasi. Yoona yang sadar akan kehadiran Sehun pun tersenyum saat Sehun duduk dihadapannya. Ia menjulurkan tangannya yang tengah terborgol untuk memegang tangan Sehun yang ada di atas meja. “Sehun-ah,” ucapnya pelan yang menunjukan kebahagian akan kehadiran Sehun.

 

Sehun terdiam beberapa saat, ia menatap dalam mata Yoona. Namun tak lama, ia menarik tangannya yang ada di genggaman Yoona, lalu mengalihkan pandangannya seraya menghela nafasnya. Ia masih sulit mempercayainya.

 

Yoona pun tidak bisa menyembunyikan rasa keterkejutannya, ia menatap nanar wajah Sehun, Yoona pun menarik tangannya kembali dan menunduk, helaian rambut panjangnya pun menutupi hampir seluruh wajahnya. Ia sadar, hubungan dirinya dan Sehun berakhir detik itu juga.

 

“Ada yang ingin kau katakan padaku?” Sehun bertanya dengan suara yang tercekat. Bahkan dirinya tak sanggup melihat ke arah gadis yang masih resmi menjadi kekasihnya itu.

 

Yoona tidak menjawab pertanyaan Sehun. Justru ia semakin menundukkan kepalanya.

 

“Katakan sekarang! Katakan semua itu bohong Im Yoona! Aku hanya akan percaya padamu, aku bahkan tak akan percaya pada semua bukti yang sudah kulihat jika kau berkata tidak.” Ucap Sehun dan kali ini ia memberanikan diri untuk melihat ke arah Yoona.

 

Perlahan namun pasti Yoona mengangkat kepalanya dan menatap ke arah Sehun. “Saat tanganmu menolak bersentuhan denganku, kita sama-sama tahu hubungan kita sudah berakhir detik itu juga. Jauh di lubuk hatimu, kau sudah tahu siapa aku sebenarnya. Kau tidak bisa begitu saja menutup sem,”

 

“Arra,” potong Sehun sembari manatap tajam ke arah Yoona, tatapan yang sebelumnya tak pernah didapatkan Yoona.

 

“Apa kau benar Im Yoona yang ku kenal selama ini?” Lanjut Sehun.

 

“Ma..”

 

“Cukup!” Potong Sehun lagi.

 

“Aku tahu kata maaf tak aka..”

 

“KUBILANG CUKUP!” Bentak Sehun pada Yoona.

 

Yoona pun terdiam beberapa saat, sebelum Sehun melanjutkan kalimatnya.

 

“Ayahku, ia bertanya tentang keadaanmu sesaat sebelum peluru yang kau tembakan bersarang di tubuhnya.” Ucap Sehun dengan sangat pelan.

 

“Kemanhae,” pinta Yoona dengan suara yang pelan juga. Ia seakan tak sanggup mengingat kejadian penembakan itu.

 

“Wae Yoona-ya? Wae?” Tanya Sehun lagi.

 

“Kemanhae,” pinta Yoona lagi dengan suara yang terdengar sedang menahan tangisnya.

 

BRAKK!!!

“WAEEEEEE?” Teriak Sehun sembari menggebrak tangannya di atas meja.

 

Yoona terkejut bukan main. Untuk kedua kalinya di waktu yang sama ia mendapatkan perlakuan sekasar itu dari Sehun.

 

Yoona menghela nafasnya, lalu tatapannya berubah tajam ke arah Sehun. Ia tahu, kini posisi Sehun sangat tidak baik, dan bagaimanapun caranya ia harus membantu Sehun, setidaknya untuk meringankan beban yang ada di pundaknya, mungkin dengan membuat Sehun tidak lagi berpihak pada dirinya sama sekali dan pergi meninggalkan dirinya.

 

“Benar! Aku memang menembak ayahmu! Lalu kenapa? Aku punya misi yang harus aku selesaikan! Kau selama ini tidak mengenalku Oh Sehun! Kau seharusnya tahu siapa aku sebenarnya dari awal! Inilah aku yang sebenarnya!” Ucap Yoona penuh penekanan dan lantang.

 

Sehun terpaku mendengar ucapan kalimat yang keluar dari mulut Yoona. Bagaimana bisa, seorang gadis yang sudah dianggap anak oleh ayahnya bisa berkata seperti itu.

 

Lalu Sehun tersenyum, senyuman yang terlihat sangat menyakitkan. Nafas Sehun terrdengar menderu.

 

BRAKK!!

Lagi, untuk kedua kalinya Sehun menggebrak meja yang ada dihadapannya.

 

BRAK!! BRAK!! BRAK!!

Sehun terus menggebrak meja dengan kedua tanggannya.

 

“Aaaakkkkkhhh!!!” Teriaknya.

 

BRAK!!

Sehun membanting kursi yang sempat ia duduki.

 

Yoona menutup kedua matanya saat melihat kemarahan Sehun, sembari di dalam hatinya berharap agar Sehun tidak menyakiti dirinya sendiri. “Hentikan Sehun-ah, kumohon hentikan.” Pintanya dalam hati.

 

BRAK!!

Terakhir, Yoona mendengar gebrakan meja yang sangat kencang dan terdengar sangat dekat dengan dirinya.

 

“Lihat aku!” Ucap Sehun masih dengan nafas yang menderu.

 

Yoona membuka kedua matanya dan menatap Sehun.

 

“Tidak ada yang ingin kau katakan?” Tanya Sehun.

 

Yoona terdiam. Ia mengerti maksud Sehun, ia diminta untuk memberi penjelasan akan insiden tersebut yang memungkinkan Sehun bisa memaafkannya.

 

“Katakan sekarang! Karena nanti kau tidak akan pernah melihatku lagi!” Ucap Sehun.

 

DEG!!

Ucapan Sehun yang sukses membuat jantung Yoona seakan pergi entah kemana. Tapi Yoona masih saja terdiam.

 

Sehun menghela nafasnya dan berbalik membelakangi Yoona. “Selamat tinggal,” ucapnya tertahan dan pergi meninggalkan ruang interogasi.

 

Yoona kembali memejamkan matanya dan menunduk.

 

 

Markas Tim Kris

 

Di waktu yang sama, Jiyeon berada di ruangan yang tertutup nan gelap walau masih ada sedikit cahaya. Ia duduk di lantai dengan tangan dan kaki yang terikat. Ia lelah berteriak meminta keluar walau tidak sekalipun digubris. Bibirnya pucat, jangankan makanan, air putih pun ia tidak diberi.

 

KREEK!

Pintu besi yang tertutup rapat itu terbuka, tatapan Jiyeon langsung tertuju ke arah pintu itu. Sosok pria tinggi muncul dan berjalan mendekat ke arahnya.

 

Jiyeon menyunggingkan senyumnya saat ia melihat Chanyeol dihadapannya.

 

“Park Chanyeol-ssi,” sapa Jiyeon.

 

Chanyeol tidak menggubrisnya, ia justru membopong tubuh mengil Jiyeon dan membawanya keluar dari ruangan itu.

 

Jiyeon di dudukan pada sebuah kursi dengan beberapa lampu sorot mengelilingi tubuhnya. Ia melihat ada sebuah kamera di hadapannya dan melihat sosok Kris, Kai dan Sooyoung yang ia baru mengetahui namanya kemarin.

 

Kris menyalakan lampu sorot itu dan membuat Jiyeon mau tidak mau harus menutup matanya. Jangankan dengan mata terbuka, dengan mata tertutup saja ia bisa merasakan betapa menusuknya cahaya itu pada matanya.

 

“Jangan berfikir kalian bisa membawa pergi pengkhianat itu dari sana!” Ucap Jiyeon tegas.

 

Kris mengangguk mengerti, lalu tak lama ia mematikan lampu sorot itu. “Kita lihat bagaimana reaksi mereka melihat kaptennya terpuruk lemah seperti ini!”

 

“Hubungi mereka!” Pinta Kris pada Chanyeol.

 

 

Markas AIK

12.20

 

BRAK!! BRAK!!

Sehun yang berada di ruang kerjanya melempar seluruh barang yang ada di meja kerjanya, jemarinya sudah ada beberapa yang mengeluarkan darah.

 

Ia membuka laci meja dan mendapati sebuah foto dirinya bersama dengan Yoona. Ia menatapnya untuk beberapa saat sebelum akhirnya ia meremas lembaran foto itu. Ia masih sulit mempercayainya, tapi tak dipungkiri betapa sakit hatinya saat mengetahui semua itu.

 

Di ruang lainnya, Lay yang sedang berkutik dengan komputernya tiba-tiba mendapat sebuah panggilan telepon dan segera mengangkatnya. Raut wajahnya mengkerut setelah mendengar ucapan dari sang penelepon, tak lama ia menutupnya dan jemari lentiknya berselancar di keybord dengan cepat. Tiba-tiba munculah sebuah video di layar besar yang biasa digunakan rapat, semua agen yang ada di sana pun berkumpul dan tak lupa Tao memanggil Suho yg berada di ruang kerja Jiyeon.

 

“Mwoya?” Tanya Chen bingung, ia melihat hanya ada setitik cahaya di layar besar itu.

 

“Wae?” Suho datang dengan langkah yang cepat.

 

“Dia menyuruh kami untuk menunggu,” terang Lay pada Suho.

 

Tak lama munculah seorang pria berbadan tinggi di dalam video itu. Kris tak lagi menyembunyikan siapa dirinya, ia melihat ke arah kamera dengan gagahnya.

 

“Siapa dia?” Tanya Baekhyun.

 

Kris tersenyum, lalu ia menghubungi seseorang. Saat itu ponsel Baekhyun bergetar, ia melihat nomornya tidak terdaftar.

 

“Kemarikan!” Ucap Suho, ia seolah tahu Kris sedang berusaha berbicara padanya. Baekhyun pun memberikan telepon itu.

 

“Jiyeon, dimana dia?” Kris membuka pembicaraan.

 

“Siapa kau?” Suho berbalik tanya.

 

“Ahh, benar, aku belum memperkenalkan diriku. Annyeonghaseyo,” sapa Kris dan sedikit membungkuk.

 

“Kris imnida,” lanjut Kris.

 

Semua agen yang melihat video itu saling bertatapan tidak mengerti.

 

“Joy, anni, Im Yoona, kalian memperlakukannya dengan baik kan?” Tanya Kris.

 

Saat itu hampir seluruh agen mengerti siapa Kris sebenarnya. Dengan gerak cepat, Baekhyun berlari ke meja komputernya untuk melacak keberadaan Kris melalui nomor telepon yang dipakai.

 

“Benar sekali, kalian harus tahu dimana tempat ini karena…,” walau tak melihat, Kris tahu pasti akan ada yang melacak nomor ponselnya.

 

“Aakkkh!” Kesal Baekhyun, saat ia gagal melacak ponsel Kris karena gangguan seseorang.

 

“Ahhhh,, mian, tidak semudah itu!” Ucap Kris yang tahu orang dari AIK gagal melacak nomornya karena gangguan Kai.

 

Kris tersenyum lalu menggeser tubuhnya dan menyingkir dari pandangan kamera.

 

Suho membuka mulutnya lebar saat melihat Jiyeon berada di kursi dengan wajah yang pucat dan tubuhnya dililit bom.

 

“Mungkin tidak terlalu terlihat jelas,” lanjut Kris.

 

Tiba-tiba lampu terang menyoroti tubuh Jiyeon.

 

“Sunbae,” ucap beberapa agen berbarengan.

 

Jiyeon menatap kamera dan berucap tanpa suara. “Gweanchana.”

 

Tao mengepalkan kedua tangannya, ia berbalik pergi untuk memanggil Sehun. Karena menurutnya, Sehun harus tahu dan mungkin dia lah orang yang mempunyai peluang bisa menyelamatkan Jiyeon. Namun Suho menahan lengan Tao dan menggeleng.

 

“Wae”? Tanya Tao.

 

Namun tiba-tiba Sehun sudah terlihat datang dan berjalan mendekati Suho, ia membungkuk sekilas dan mengambil telepon yang ada di tangan Suho dan berbicara sesuatu sembari berjalan mendekati Lay. “Hubungkan kamera ruang integrosi.”

 

Di dalam video, Kris tampak berdiskusi dengan seseorang setelah ia berbicara dengan Sehun.

 

Markas Tim Kris

12.40

 

Kris sedang berbicara pada Kai, lalu tak lama Kai berkutik dengan laptopnya. Beberapa saat kemudian munculah video Yoona yang sedang berada di ruang interogasi dengan keadaan wajah yang tak kalah pucatnya dengan Jiyeon dan seperti dalam keadaan yang sedang terpuruk. Tak lama Sehun pun muncul dalam video itu dan mendekati Yoona.

 

Yoona yang sedari tadi menunduk pun mengangkat kepalanya dan memandang Sehun.

 

“Dia dalam keadaan baik, sekarang lepaskan semua bom yang ada di tubuhnya.” Ucap Sehun penuh penekanan.

 

Yoona seakan mengerti maksud ucapan Sehun, ia mengarahkan matanya ke arah beberapa kamera dan menatapnya lama. Lalu dirinya pun berucap seraya menatap satu kamera yang berada di dekatnya. “Oppa, aku baik-baik saja. Jaga dirimu,” ucap Yoona lalu tersenyum.

 

Sehun menatap tajam ke arah mata Yoona setelah ia menunjukan kedekatannya pada Kris. Ia menghela nafasnya, lalu memasukan kedua tangannya ke dalam saku, Yoona pun sadar Sehun sedang menatapnya, dan ia tahu keadaan jari-jari Sehun yang terluka.

 

Lagi, Sehun menghela nafasnya. Namun tak berapa lama, ia tersenyum sinis dan berbalik pergi.

 

Yoona menghela nafasnya sesaat kepergian Sehun, ia lelah, ia merasa tubuhnya seakan sangat lelah, ia pun menyandarkan kepalanya di atas meja dan memejamkan kedua matanya.

 

Di luar ruangan, Sehun masih bersandar pada pintu dan memejamkan kedua matanya. Namun tiba-tiba Suho datang dan menepuk pundak Sehun.

 

Sehun sadar dan sedikit membungkuk manyapa Suho. “Pulang dan beristirahatlah, kami akan mencari cara untuk membebaskan Jiyeon.”

 

“Bagaimana dengan bom?” Tanya Sehun cepat.

 

“Mereka sudah melepaskannya,” jawab Suho.

 

“Cepat pergilah,” pinta Suho.

 

Sehun pun mengangguk dan pergi meninggalkan markas.

 

Rumah Sakit

14.00

 

Sehun memasuki lorong rumah sakit, ia ingin bertemu dengan ayahnya. Ia sempat membalut luka jarinya dengan perban, ia ingin tampil bersih dan segar untuk ayahnya walau sekalipun ayahnya tak melihatnya.

 

Sehun membuka pintu kamar rawat ayahnya dengan pelan, dan selangkah demi selangkah ia masuk ke dalam sembari tersenyum lebar. “Appa, annyeong?” Sapanya.

 

Sehun duduk di sebuah kursi dekat tempat tidur dan menggenggam jemari ayahnya. “Kumohon, cepat sadarlah Ayah. Saat kau sadar, aku akan ikut denganmu ke Kanada, dan aku akan selalu ada di sampingmu. Hanya kita berdua Ayah. Ya, hanya kau dan aku.”

 

Sehun menenggelamkan kepalanya di atas tangan ayahnya dan terus menggenggam erat jemari ayahnya. Ia menangis, dengan buliran air mata yang membasahi pipinya dan tentunya tangan ayahnya. Ia menangis dalam diam.

 

Dua hari kemudian..

Markas Tim Kris

09.00

 

Kris berjalan masuk menuju tempat Jiyeon ditawan sembari membawa makanan dan minuman. Ia melepas tangan Jiyeon yang masih di borgol. Lagi, untuk yang kesekian kalinya Jiyeon menendang semua makanan yang disuguhkan Kris. Tiba-tiba tubuhnya oleng dan Jiyeon jatuh pingsan.

 

Kris memegang denyut nadi Jiyeon yang mulai melemah.

 

“Mengapa mereka sangat lama dalam berfikir, aku tahu ini akan terjadi padanya!” ucap Sooyoung datang menghampiri Kris.

 

Kris membopong tubuh Jiyeon dan membawanya ke kamar Yoona. “Kau bisa mengurusnya?” Tanya Kris pada Sooyoung.

 

Sooyoung mengangguk.

 

Kris pergi menemui Kai. “Dimana Luhan?” Tanya Kris.

 

“Hyung, kurasa kita harus meninggalkan tempat ini,” jawab Kai.

 

“Dimana Luhan?” Kris masih belum mendapat jawaban, ia akan terus bertanya sampai mendapatkan jawaban.

 

Kai baru mendapatkan kabar bahwa Luhan berhasil membunuh kedua anggota timnya yang mengikuti gerak-gerik Luhan di bandara kemarin. Kini ia tahu Luhan ada di Brazil, yang secara langsung Luhan sudah tak lagi dipihak Kris. Jelas sudah, mereka dalam posisi bahaya jika sesepuh yang terkenal kejam mengejar mereka ke Korea.

 

“Hyung,” tiba-tiba Chanyeol datang membawa ponsel yang sedang terhubung untuk Kris.

 

Kris menoleh, dan saat itu juga terdengar suara tembakan.

 

DOR!

“Aakkkh,” rintih Chanyeol yang terkena di bagian bahu.

 

“Merunduk!” Pinta Kris.

 

Kai langsung berjongkok dan menghampiri Chanyeol yang tengah menahan sakit. Ia melihat luka tembak di bahu Chanyeol.

 

Chanyeol mengambil ponsel yang sempat terjatuh. “Sunbae, kami diserang,” ucapnya pada seseorang di dalam telepon.

 

TBC….

70 thoughts on “(Freelance) Revenge (Chapter 3)

  1. Kyaa baru nemu ff ini dan langsung jatuh cinta, ff nya keren banget thorrr seru ceritanya. Ini di lanjut kan thorr??? Pliseeee soalnya penasaran banget sama kelanjutannya thorr, pemasaran sama kiasah akhir yoona-sehun duhh kayanya posisi yoona itu serba salah kasiyan dia. Penasaran penasaran penasarn next chap ditunggu banget thor fighting^^

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s