Twisted.

twisted-3-for-apareecium-by-springsabila

Twisted

apareecium

Kim Jongin & Im Yoona // Psycho, Romance

Poster by my lovely Tazkia. Thank you for the greatest poster ever that I have ever request!

Ramen yang masih panas itu berada di dalam mangkuk berukuran sedang. Masih melamun menunggu sang pembuatnya menikmatinya. Namun, sang pembuatnya; Im Yoona masih sibuk mencari remot televisi yang berada di ruang tamu. Dia mengangkat bantal yang terletak di atas sofa panjang, lalu meletakkannya kembali. Dia melakukan hal yang sama kepada dua bantal yang berada di sebelahnya, lalu dia menundukkan tubuhnya ke bawah meja pendek yang berada di depan sofa tersebut.

“Ah, disana kau rupanya,” ucap Yoona sambil meraih remot televisi yang ternyata terletak di bawah meja pendek tersebut. Dia langsung duduk di atas lantai yang terbuat dari kayu, lalu menyalakan televisinya. Dia langsung mengaduk-aduk ramennya yang masih mengeluarkan uap panas tersebut.

Perhatiannya tersita oleh sekilas info berita terkini yang ada di televisinya. Yoona sangat membenci berita. Kriminalitas yang berada di Korea Selatan ini cukup membuatnya muak. Tapi kali ini, dia bahkan tak ada niat untuk menyentuh remot televisinya untuk mengganti siaran. Entah apa yang sedang merasukinya kali ini.

Sekilas info berita terkini. Pembunuhan yang terjadi beberapa bulan yang lalu hingga detik ini baru saja terungkap. Foto yang berada di sebelah kiri saya ini adalah pelakunya. Kami mohon bantuan Anda jika melihat pria ini—“

Televisi tersebut akhirnya mati. Ya, Yoona memang membenci berita. Apalagi pembunuhan berantai yang sangat meledakkan ketakutan seluruh warga Seoul. Tapi tangannya bergemetar, sangat bergemetar, seperti ketakutan. Dia langsung melempar remot televisinya sembarang ke atas meja pendek itu. Jemarinya yang gemetaran itu langsung menyentuh punggung lehernya. Satu-satunya hal yang dapat dia lakukan untuk menenangkan dirinya yang sebatang kara di kota besar ini.

Pintu rumahnya terbuka. Dia langsung menengok perlahan ke arah pintu rumahnya. Wajah pria yang ada di televisi itu, kekasihnya. Sosok yang tengah dia tatap saat ini, Kim Jongin. Jongin menutup pintu rumah Yoona perlahan, lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah Yoona. Dia membuka hoodie yang berwarna biru dongker itu dari kepalanya, lalu disusul dengan topinya.

Yoona langsung bangkit dari duduknya, “Ada apa, Jongin?”

“Aku tahu kau sudah mengetahui semuanya.” Balas Jongin dengan nada dinginnya.

Yoona hanya diam. Dia melangkah mundur pelan-pelan hingga kakinya menbarak kaki meja yang membuat Jongin menguraikan senyumannya, “kau tahu? Aku tidak akan menyakitimu.”

“Jangan mendekat!” Teriak Yoona.

“Jika kau meninggikan suaramu, kau akan mengundang tetanggamu untuk memeriksamu ke dalam.”

Yoona mulai melanjutkan langkahnya lagi ke belakang, “bukankah lebih baik? Mereka akan menangkap pembunuh yang telah diincar selama ini.”

“Oh, jangan lupa bahwa mereka akan menangkapmu juga, kekasih pembunuh ini. Tak akan ada yang tahu bahwa kau bersih dari kesalahan yang telah kubuat sedangkan kau adalah satu-satunya orang yang dekat denganku.” Jelas Jongin.

“Aku tidak mengenalmu. Aku tidak tahu kau ini siapa sekarang.” Balas Yoona.

“Terserah. Tapi sampai detik ini, aku sangat mencintaimu, Yoona.”

Yoona langsung meraih vas bunga yang berada di meja pendek itu, lalu mengenggamnya erat dan siap untuk melempar vas bunga tersebut ke Jongin.

“Kau tidak bisa membunuhku dengan vas bunga bodoh itu.”

“Mau apa kau?” Tanya Yoona dengan cepat.

“ Aku punya penawaran yang sudah ku ketahui jawabannya.”

Jantung Yoona seperti berhenti berdetak. Dia bahkan sulit untuk bernapas. Dahinya penuh dengan keringat di ruangan yang dingin ini.

Jangan.

Kumohon.

“Keluar denganku dari rumah ini atau kau tidak bisa menginjak tanah yang masih basah oleh hujan di luar rumahmu?”

Yoona langsung melempar vas bunga tersebut ke arah Jongin, lalu berusaha lari keluar rumah. Tapi Jongin berhasil menepis vas bunga tersebut, lalu menangkap lengan kanan Yoona. Dia memegang dagu Yoona, lalu mendorongnya kasar hingga punggung Yoona menabrak tembok dengan keras. Tangan kanan Jongin memegang punggung leher Yoona, lalu tangan kirinya memegang tangan kanan Yoona.

“Aku benar-benar mencintaimu, Yoona.”

Jongin langsung mencium bibir tipis Yoona. Dingin. Yoona pasti sangat ketakutan untuk menghadapi pembunuh yang berada di depan matanya itu. Dia menghisap bibir bawah Yoona sebelum melepaskan ciuman mereka.

“Aku ingin kau ikut denganku. Aku hanya memilikimu, Yoong.”

Hati Yoona yang sudah bersih keras untuk lari ke kantor polisi dan melaporkan kejahatan yang selama ini belum terungkap langsung mencair. Jongin benar. Mereka sudah tumbuh bersama selepas dari panti asuhan. Hidup bersama tanpa orang tua. Mereka hanya memiliki satu sama lain.

Dengan bibir yang bergetar, Yoona berusaha berkata, “Ayo, lari bersama.”

Bermodal beberapa pakaian, makanan ringan, dan uang seadanya, Yoona dan Jongin berusaha untuk meninggalkan Seoul. Jongin berjalan dengan kedua tangannya yang masuk ke saku hoodie biru dongker yang selalu dikenakan olehnya, dia berjalan tiga langkah di belakang Yoona. Seseorang yang selalu ada disampingnya bahkan hampir meninggalkannya, tetap kembali dan hal tersebut semakin membuat dirinya bersalah.

Melihat wanita yang selalu berada di sampingnya itu kini berjalan dibawah hujan dengan paying transparan miliknya yang menjadi atapnya sekarang. Berani mengambil keputusan untuk meninggalkan rumah yang telah dia beli dengan keringatnya. Jongin tak bisa lagi mendeskripsikan seberapa jauh Yoona telah mengambil langkah untuknya.

Jongin melihat arloji pemberian dari Yoona yang selalu dikenakan olehnya, jarum jam menunjukkan pukul 17.50 sore. Jongin mempercepat langkahnya, lalu menepuk pundak Yoona.

“Matahari akan terbenam. Apa kau mau istirahat sebentar?” Tanya Jongin.

Yoona menoleh, “Ah, boleh saja.”

“Baiklah. Aku tahu sebuah tempat. Ikuti aku.”

Kini Jongin memimpin jalan yang menuntun Yoona ke gang-gang sempit dan kurang penerangannya. Butuh waktu hampir 20 menit untuk menempuh ke tujuan yang dikatakan oleh Jongin dan akhirnya mereka telah tiba.

Sebuah rumah tua yang sudah hancur. Banyak lumut yang menyelimuti dinding rumah tersebut. bahkan Yoona tidak bisa menemukan dimana pintu rumah ini. Dia hanya bisa melihat sebuah jendela tanpa kaca yang berada di hadapannya dan Jongin. Yoona menoleh ke arah Jongin, “disini?”

Jongin tidak menjawab pertanyaan Yoona. Dia langsung melompat masuk ke jendela tersebut, setelah berhasil berada di dalam rumah tua tersebut. Jongin memutar tubuhnya menghadap Yoona, dia mengulurkan tangan kanannya untuk membantu Yoona masuk ke dalam rumah tua ini.

Yoona melemparkan senyuman indahnya kepada Jongin sebelum dia menerima uluran tangan Jongin. Yoona melompat masuk ke dalam rumah dengan Jongin yang menariknya pelan. Begitu kakinya menapak di rumah tua tersebut, dia membersihkan debu yang terkena di jeansnya.

“Kita bisa bermalam disini, hm?” Tanya Yoona.

Jongin menoleh ke arah Yoona, lalu tersenyum, “Tentu saja. Ayo!”

Tangan kanan Yoona yang dingin dengan tiba-tiba digenggam oleh Jongin. Mereka berjalan ke ujung rumah ini dan ada lubang sebesar orang dewasa ketika mereka merunduk.

“Di balik dinding ini, ada sesuatu yang tak pernah kau kira.” Ucap Jongin. Dia langsung merunduk dan melewati lubang tersebut.

Yoona tetap berdiri memerhatikan Jongin yang baru saja melewati lubang tersebut. Dia menarik napasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan.

Aku harus melakukannya malam ini juga.

Yoona segera merunduk, menyusul tepat di belakang Jongin. Dia sempat mengerang karena lubang itu tak sebesar ekspetasinya. Punggungnya beberapa kali tersentuh dengan langit-langit lubang tersebut yang agak bergigi hingga jaket yang dikenakannya robek. Begitu dia berhasil melewati lubang tersebut, ruangan yang baru dipijaki olehnya itu langsung menyala lampunya.

Sangat berbeda dengan apa yang baru saja dia lewati. Rumah tua yang berantakan, bau, bahkan cukup berbahaya mempunyai ruangan yang lebih seperti kamar tidur di balik dindingnya. Yoona bisa melihat ada tempat tidur berukuran King size  di tengah ruangan, kulkas, televisi, meja dan bangku, sofa, lemari, bahkan monitor CCTV.

“Ka-kau yang membangun ini semu–UGH!” Pekik Yoona ketika dia berhasil bangkit berdiri. Dia berusaha menyentuh punggungnya, baru saja jarinya yang menyentuh punggungnya tapi, rasa perih berhasil menjalar di tubuhnya.

“Yoona, kau baik-baik saja?” Tanya Jongin menghampiri Yoona. Dia memegang pundak Yoona dan Yoona kembali meringis.

“Ugh, sepertinya aku terluka.” Jawab Yoona cepat.

“Terluka? Dimana?” Jongin langsung melihat punggung Yoona. Jaket yang dikenakan oleh Yoona robek hingga kaos yang dikenakannya. Kulitnya terbaret sedikit, tidak mengelurkan banyak darah.

Yoona langsung meutar tubuhnya menghadap Jongin, lalu dia memegan kedua tangan Jongin, “Aku tidak apa-apa. Sungguh.”

Jongin mengangguk sekilas, “Baiklah. Kau bisa beristirahat di tempat tidur itu sebentar.”

Okay.” Sahut Yoona. Dia melangkahkan kainya ke sudut tempat tidur, lalu duduk di atasnya. Dia memerhatikan ruangan ini dan sangat terkesan. Bagaimana Jongin bisa membuat ini semua? Apa tempat ini selalu dia gunakan untuk bersembunyi? Ah, entahlah. Rasanya Yoona tidak bisa lagi berpikir untuk sekarang.

Dia mencari ranselnya yang dipikul oleh Jongin sedari tadi. Ketika dia menemukan ranselnya yang telah diletakkan oleh Jongin di atas meja setibanya mereka disini, dia langsung menghampiri ransel tersebut. Dia menggeledah isi ransel tersebut mencari sesuatu.

Begitu Yoona menemukannya, dia mengeluarkannya. Sebungkus marshmallow yang dibawa olehnya dari rumah. Dia membuka bungkus marshmallow tersebut, lalu menyantapnya. Matanya mengekori Jongin yang sedang duduk diam di atas kursi kayu. Dia berjalan menghampiri Jongin, lalu menyodorkan makanan ringan tersebut.

“Mau?” Tawar Yoona.

Jongin hanya tersenyum, lalu mengambil beberapa isi marshmallow dari bungkus itu. Dia tersenyum menyeringai sambil bangkit dari duduknya. Dia berjalan menuju dispenser minuman, lalu mengambil gelas kaca dan mengisinya dengan air putih dari dispenser tersebut.

“Yoona.” Panggil Jongin.

Dengan polosnya, Yoona menghampiri Jongin dengan mulutnya yang penuh dengan marshmallow, “ada apa?”

“Minumlah.” Suruh Jongin.

Kening Yoona mengerut, “kenapa kau menyuruhku untuk minum?”

Jongin tersenyum, “kau ini tamuku disini. Aku harus memperlakukanmu dengan baik.”

Marshmallow yang digenggam Yoona akhirnya diletakannya di atas meja, lalu menatap Jongin aneh, “kau menganggapku tamu? Kau tahu sendiri, kan? Aku bisa mengambil minuman untukku sendiri jika aku mau.”

“Dan seharusnya kau juga sudah tahu bahwa aku alergi dengan gelatin babi.” Balas Jongin, “kecuali kau tidak berada di pihakku. Kau memberikanku marshmallow itu, lalu tubuhku akan menjadi panas karena alergi sialan itu. Dan setelah itu, kau dengan mudah menangkapku, mengikatku, atau bahkan kau bisa membunuh seorang pembunuh sepertiku.”

Yoona hanya diam menatap Jongin tanpa reaksi lebih.

And you will end up as a murderer too, Im Yoona.” Tambah Jongin.

Tak ada reaksi lebih dari Yoona kecuali napasnya yang keluar-masuk sedari tadi. Sedetik kemudian, Yoona tersenyum. Dengan pergerakan yang cepat, dia menyayat dalam leher Jongin yang tepat berada di hadapannya dengan silet yang dia genggam dari rumah tadi.

Darah segar dari leher Jongin bercucuran mengenai dirinya hingga kaos dan jaket yang dikenakan olehnya penuh dengan darah. Sedangkan Jongin,  dia hanya bisa memegang lehernya. Dia tidak bisa mengeluarkan suaranya hingga dia jatuh di atas tanah.

Yoona terus menatapnya tanpa respon lebih hingga Jongin benar-benar tak bergerak. Dia menyenggol tangan kanan Jongin dengan kaki kirinya pelan.

Tak ada pergerakan dari Jongin.

Yoona tersenyum menyeringai. Kemudian, dia berjongkok tepat di hadapan tubuh Jongin yang sudah tak berkutik lagi, “aku tak tahu bahwa membunuh orang itu semudah ini.”

Yoona memegang tangan Jongin, lalu membuat tangan Jongin seakan-akan menjambak rambutnya hingga beberapa helai rambutnya lepas hingga akar-akarnya.

Ugh!” Desis Yoona kesakitan.

Yoona langsung bangkit berdiri, dia melihat ada cermin yang bergantung pada dinding. Dia berlari sekencang mungkin hingga dirinya menabrak kaca tersebut sampai tubuhnya terpantuh dan jatuh di atas tanah. Darah merah kental keluar dari kening Yoona yang indah.

Dan kini, kedua tubuh itu tidak berkutik lagi.

02:30 AM

Seoul, Korea Selatan.

Kantor polisi terdekat masih ricuh dengan adanya kasus pembunuhan yang terjadi baru-baru ini. Namun, keadaan lebih ricuh dan berantakan lagi ketika mereka mendapati seorang wanita yang jalan dengan susah payah hingga berada di dalam kantor polisi ini dengan bantuan beberapa polisi yang menjaga di depan. Wanita tersebut telah menerima pertolongan pertama dan detik ini adalah waktunya wawancara.

“Jadi, Anda, Im Yoona, satu-satunya korban yang selamat dari pembunuhan berantai yang dilakukan oleh tersangka Kim Jongin?”

“Iya.”

END

17 thoughts on “Twisted.

  1. Wah yoona diam diam menghanyutkan nih😨😨 mungkin dia udah ga percaya lagi sama jongin atau niatnya emang udah bulat buat bunuh jongin.-. Keep writing ya thor^^

  2. Lahh.. Jadi disini yg benar2 jahat itu siapa -_- dua2ny sama2 jahat dong..
    Ternyta yoona itu musuh dibalik selimut.. Kasian sekali kmu jongin :’v
    Keep writing thor ^^
    FIGHTING !!!

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s