Black town [1]

POSTER 1

BLACK TOWN

⌈ Im Yoona ♦  Oh Sehun ♦ Kim Jongin ♦ Park Chanyeol ⌋
PG 17+ // Terdapat banyak kata yang tidak pantas untuk digunakan //


prolog

Kelap-kelip lampu disko itu bahkan tak bisa menghalangi Park Chanyeol yang sedang meneguk segelas vodka. Mabuk? Tidak ia tidak bisa mabuk bahkan tidak diperbolehkan untuk mabuk di depan umum. Ia hanyalah meminum vodka yang kadar alkoholnya 2% dan lagipula untuk apa ia pergi ke klub malam hanya untuk meminum vermouth murahan? Sedangkan di rumahnya bahkan ia mempunyai gudang minuman keras yang luar biasa lengkap.

Klub malam adalah sebuah tempat yang cocok untuk Chanyeol dan Jongin berdiskusi. Entah, diskusi tentang politik kotor—rencana baru untuk melakukan kejahatan kerah putih atau mencari hiburan baru. Ya, hiburan baru. Selicik apapun Chanyeol—sekotor apapun ia—semenjijikan apapun pikirannya. Ia adalah sosok walikota yang sangatlah memperhatikan kesenangan warganya. Tak peduli apapun yang warganya hendak lakukan, yang terpenting ialah mereka bahagia. Catat—harus bahagia. Walaupun banyak sekali hal-hal yang selayaknya harus di tindak pidana tetapi tidak oleh Chanyeol.

Kembali lagi, hiburan baru. Layaknya sebuah kota biasa, kota ini membutuhkan hiburan. Dan Chanyeol harus memberikan hiburan itu. Hiburan yang ia berikan tak lain adalah idola. Definisi idola disini berbeda dengan definisi lainnya. Di kota ini, jika kau berhasil menarik perhatian warga artinya kau selamat jika tidak katakan selamat tinggal pada mimpimu karena Park Chanyeol akan membunuhmu, tetapi jika kau lebih beruntung sedikit ia hanya akan membuangmu dengan keadaan tidak memiliki harta sedikitpun. Kenapa membunuh? Agar sang idol itu sendiri tidak membocorkan apa yang telah ia lalui di kota itu. Kenapa hartanya disita? Karena agar tidak ada yang percaya bahwa ia dahulu seorang idol kaya raya. Ya, perlahan tapi pasti, Chanyeol merenggut mimpi-mimpi laki-laki atau perempuan yang ingin menjadi seorang idola. Tapi, bukan Park Chanyeol namanya jika tidak memiliki 101 akal bulus. Karena, semua warga sudah mengetahui cara Chanyeol memperlakukan seorang idola maka tak satupun warganya yang mempunyai niat untuk menjadi seorang idola. Bagi warga kota ini lebih baik menjadi warga biasa yang memiliki banyak keuntungan. Kembali lagi, karena warga kota ini tidak ada yang mau bahkan tidak ada yang berniat. Ia mencari jalan keluar dengan merekrut-rekrut orang luar. Sistem kerja otak Chanyeol seperti companycompany besar di Korea. Ia memberikan iming-iming bahwa harta yang akan calon idol dapatkan tak terhitung. Padahal, harta yang mereka dapatkan hanyalah untuk Chanyeol seorang.

Kali ini, Chanyeol benar-benar frustasi. Mau tak mau ia harus mengurangi pasokan idol-nya. Chanyeol pikir mereka semua mulai membosankan.

“Kau lihat dia?” tunjuk Chanyeol pada seorang gadis yang tengah berbincang-bincang dengan lawan jenisnya.

“Bae Irene maksudmu?” jawab Jongin.

“Siapalah namanya aku tidak peduli. Besok, kau buang ia dan juga idol-idol yang ada di daftar ini!” perintah Chanyeol.

Jongin mengangkat alis kanannya, “Kau yakin? Maksudku—Bae Irene.”

“Tentu saja.”

“Jika kau ingin tahu, ia termasuk idol papan atas.”

“Lalu?” tanya Chanyeol.

“Ya mungkin—setidaknya kau bisa berpikir dua kali Park Chanyeol,” ucap Jongin.

Chanyeol meliriknya tajam, “Ada hubungan apa ia denganmu?”

Jongin membeku, “Tidak. Tidak ada. Hanya saja ia sangatlah handal.”

Walaupun kadar alkohol yang ia teguk hanyalah 2% tetapi perlahan efek sampingnya menyerang Chanyeol. Ia mabuk tapi tidak mabuk. Ia sadar tapi tidak sadar. Sungguh, tidak ada yang bisa membaca bahasa tubuhnya. Tetapi pada akhirnya, ia hampir  tumbang – untungnya, Jongin berhasil menangkapnya.

“Handal?” ujar Chanyeol saat ia mendapatkan kembali akal sehatnya. “Jadi, cinta satu malam?” tawanya.

“Ti—tidak. Hanya saja karena kehandalannya banyak yang menginginkan dirinya dan itu membuat keuangan kita menaik.”

“Kau bayar dia berapa?” tanya Chanyeol.

“Diatas harga Jiyeon Park.”

Chanyeol mengangguk, “Hmm—baiklah.”

“Jadi kau merubah pikiranmu?”

Chanyeol tersenyum, “Tidak Jongin—tidak akan. Santaplah ia sepuasmu lalu buanglah dan janganlah lupa untuk menyebarkan edaran audisi.”

Jongin mengehela nafas pelan lalu ia pergi meninggalkan Chanyeol yang hampir kehilangan akal sehatnya dan menghampiri Bae Irene yang malang.

[Black Town]

“Byun Baek, lihatlah apa yang kudapatkan,” gadis  itu menunjukan sebuah selebaran dengan senyuman yang melekat di bibir-nya.

“Yoona, kumohon. Berhentilah mengikuti audisi seperti itu. Sudah ratusan kali kau mencoba dan tidak ada hasilnya sama sekali. Kembalilah menjadi seorang sekretaris,” balas Baekhyun.

Mendengar jawaban sahabatnya yang tak acuh itu membuat Yoona cemberut, “Aish. Baek, kau sudah berjanji akan menjadi manajer-ku. Itu berarti kau harus mengikutiku kemanapun aku pergi.”

Baekhyun bahkan tidak melirik Yoona sama sekali, ia tetap terpaku dengan majalah otomotifnya, “Kalau begitu, aku mengundurkan diri. Kau tahu, pejualanku meningkat akhir-akhir ini banyak yang meminta sepatu terbaruku.”

“Yatuhan. Byun Baekhyun kumohon. Aku berjanji ini yang terakhir kalinya. Kenapa kau tebal hati sekali sih,” ucap Yoona.

Baekhyun menutup majalahnya dan menatap Yoona, “Dasar kepala batu. Baiklah, ini yang terakhir kali. Ingat—terakhir kali. Coba, sini kulihat selebaran itu.”

Yoona memberikan selebaran atau pamflet yang tadi ia temukan di depan sebuah restoran antik. Yoona sendiri, berharap Baekhyun memberikan sebuah tanggapan yang baik. Tapi, harapan Yoona hilang begitu saja saat melihat wajah Baekhyun menatapnya tajam.

“YAK, berhenti menatap-ku seperti itu.”

“Kau gila?” tanya Baekhyun.

Yoona membulatkan matanya, “Tentu saja tidak!”

“Yoona-ku ini sangatlah jauh. Jika kau tidak lolos. Banyak sekali kerugian yang harus kutanggung.” Baekhyun menaruh selebaran itu di atas meja.

“Kumohon Baek. Kali ini aku akan berusaha. Aku sudah berlatih bernyanyi dengan baik,” pinta Yoona.

Baekhyun menghela nafas panjang dan menatap sahabatnya yang bebal, “Baiklah. Bereskan barangmu. Kebetulan yang tadi kubilang penjualanku meningkat dan tentu saja pendapatanku juga. Jadi, kita bisa mencari sebuah mess.

“Itu baru sahabatku,” cengir Yoona.

[Black Town]

“Jongin-ssi, semua sudah beres?” tanya Chanyeol.

Jongin hanya mengangguk pelan sembari meneguk minuman soda kaleng yang tadi diberikan oleh seorang wanita gempal.

“Oh!” seru Chanyeol yang otomatis membuat Jongin menatap matanya. “Kau—tempatmu berada di bagian pendaftaran,” lanjutnya.

Mendengar itu, Jongin hampir saja tersedak oleh minuman sodanya. Ia menatap Chanyeol bingung, “Bukankah itu tugas sekretaris? Atau setidaknya bagian registrasi?”

“Kau yang terbaik bung! Lagipula, bukankah kau sekretarisku?”

“Aku wakilmu bukan sekretarismu dan aku bekerja untuk pemerintah bukan perusahaan,” elak Jongin.

Chanyeol hanya merengut, “Kubilang, kau yang terbaik. Hari ini, aku memintamu sebagai teman bukan atasan. Lagipula kau akan mendapatkan banyak hiburan jika kau berada di tempat itu.”

Jongin hanya memutar bola matanya, “Aku ini figrid Chan.”

“Ha—ha—ha,” ejek Chanyeol.

“Aku serius.”

“Bae Irene, apakah ia baik-baik saja?”

“Aku hanya memberinya surat dan menyuruhnya pergi.”

Chanyeol mengangkat sebelah alisnya. Ia mengeluarkan ponselnya dan menunjukan sebuah foto yang membuat kedua pipi Jongin memerah malu.

“YAK! Tidak sopan.”

Chanyeol tertawa keras, “Lakukan apa yang kusuruh.”

Jongin hanya mengangguk pelan dan keluar dari ruangan yang ia masih tidak habis pikir kenapa ia menghampirinya, padahal Chanyeol tidak memanggilnya.

[Black Town]

Berada tepat di samping Yoona membuat hati Baekhyun merasa hangat. Mungkin, karena hanya Yoona yang mengerti bahkan yang selalu ada untuknya. Walaupun malu untuk mengakuinya, tetapi Baekhyun bahkan sempat mencintai Yoona. Dimatanya, Yoona bagaikan seorang malaikat. Memang terdengar menggelikan tetapi memang itulah faktanya. Sudah Baekhyun habiskan 13 tahun bersamanya, dari mulai mereka Middle School hingga sekarang umur perlahan menyantap mereka.

Baekhyun menatap Yoona yang tertidur pulas di bahunya. Senyum simpul sempat terlintas di bibirnya. Mungkin jika Tuhan adil sudah dipastikan sekarang Baekhyun pasti telah memiliki Yoona, jika saja Kim Jongin tidak datang ke kehidupan mereka.

25 Maret 2005.

“Anak-anak hari ini kita kedatangan murid baru. Namanya Kim Jongin.”

Baekhyun langsung menoleh ke belakang tempat dimana Yoona duduk. Bangku sebelahnya kosong. Itu berarti—

“Jongin, silahkan duduk di sebelah Im Yoona.”

Mimpi buruk Baekhyun terbukti. Ia melihat Yoona yang membeku gugup. Baekhyun tahu Yoona tidak bisa dekat dengan lelaki selain dirinya. Malephilia—phobia terhadap seorang lelaki, dimana sang penderita akan mengeluarkan semacam aliran listrik jika seorang lelaki menyentuhnya. Hanya Baekhyun yang tahu itu—hanya Baekhyun. Maka dari itu satu-satunya teman lelaki Yoona hanyalah Baekhyun yang setidaknya bisa menyentuh Yoona tanpa tesetrum.

“Namaku Kim Jongin, kau?” ucap Jongin sembari mengulurkan tangannya untuknya berjabatan.

“Ugh—aku—aku.”

Jongin tersenyum, “Ah, aku lupa. Kau Im Yoona. Senang berkenalan denganmu teman. Janganlah gugup lagi aku tidak akan menggigit.”

“Bukan—aku hanya saja, ah lupakan. Senang juga berkenalan denganmu,” senyum Yoona. Kegugupan telah hilang dari dirinya.

10 Desember 2005.

“Kau serius?” tanya Baekhyun.

“Tentu saja! Aku berhasil memberi tahu Jongin tentang kelemahanku dan ia hanya berkata ‘jadi itu alasannya’, ia juga menyentuh kedua pipiku. Hangat Baekhyun—rasanya sangat hangat. Seperti saat kau menyentuh tanganku.”

Baekhyun terdiam dan menatapnya, hanya dengan 9 bulan Jongin bisa membuka hati Yoona. Menyembuhkan phobia yang bahkan tidak bisa Baekhyun sembuhkan. Sungguh sial untuk Baekhyun. Persiapanya selama 3 tahun untuk membuat Yoona menjadi kekasih hatinya hilang sudah.

“Dan ia berjanji akan terus bersamaku. Huft—aku merasa nyaman. Byun, apakah ini yang dinamakan cinta?”

“Tak tahu,” singkat Baekhyun sembari menatap langit berwarna oranye atau mungkin langit kesedihan.

17 Maret 2007.

Ini pertama kalinya Baekhyun melihat Yoona tertawa selepas itu. Sejak kehilangan orang tuanya, jangankan tertawa. Tersenyum saja jarang. Surainya yang berwarna hazelnut itu berkibar-kibar diterpa angin utara. Mungkin Boreas mencoba menunjukan pesona yang selama ini Yoona sembunyikan, pikir Baekhyun. Sayangnya, tidak seperti biasanya. Mungkin dahulu hanya Yoona dan Baekhyun yang berada di atap sekolah ini. Sekarang sudah lama berlalu, Jongin yang tampan itu bergabung dengan mereka. Setakut apapun Yoona pada lelaki setidaknya ia mendapat dua dari sepuluh lelaki tampan di sekolahnya.

Mungkin Baekhyun terlalu terkesima melihat Yoona sampai tidak sadar bahwa Aphrodite bahkan tidak berpihak dengannya.

“Apakah kalian tidak lapar?”

“Tidak Byun,” balas Yoona. “Maafkan aku tadi aku dan Jongin sudah makan di kantin.”

Jongin tersenyum kecil, “Maafkan aku juga sir, tadi saat menunggumu keluar kelas perutku sudah meronta. Berhubung aku hanya sedang bersama Yoona jadi kuputuskan untuk makan duluan.”

“Sudahlah—lagipula aku hanya bertanya.”

Percakapan yang ia awali dan ia juga yang akhiri menusuk hatinya. Akhirnya ia tersadar bahwa Aphrodite sudah tidak ada lagi di pihaknya. Dari mulai Baekhyun dipisahkan dari mereka karena ia berada pada peringkat 5% dan kini sudah kesekian kalinya mereka makan tanpa Baekhyun.

 11 November 2011.

“Kalian mau pesan apa? Hari ini aku yang traktir,” senyum Yoona.

Jongin menatap Yoona dengan ragu, “Jangan buang-buang gaji pertamamu.”

“Ini hanya kedai kopi Kim Jongin atau haruskah kusebut calon menteri Korea?”

Jongin tertawa kecil, “Terserah. Kau tahu apa yang kumau.”

“Satu Americano jangan terlalu pahit,” ucap Yoona. “Dan kau tuan Byun?”

“Aku? Kau bukannya tahu aku tidak suka kopi?”

Yoona mencubit pipi Baekhyun, “Jangan membuatku malu.”

Baekhyun menghela nafas, “Baiklah. Satu Caramel Latte Yoona-ssi.”

Yoona tersenyum, “Tunggu 5 menit kawan-kawan.”

Yoona pergi. Meninggalkan Baekhyun dan Jongin berdua. Hanya berdua.

“Jongin.”

“Ya?”

“Bolehkah aku bertanya sesuatu?” tanya Baekhyun.

“Tentu saja,” ucap Jongin.

“Kau menyukai Yoona bukan?” kata Baekhyun. Sesekali ia melirik Yoona yang masih bercakap dengan sang bartender.

“Hah?”

Baekhyun menghela nafas, “Ayolah, aku sudah mengenalmu selama 6 tahun. Aku bisa membacanya.”

“Jika aku berkata iya maka kau juga harus berkata iya.”

“Untuk apa?”

Jongin tersenyum, “Bahwa kau juga menyukainya bukan?”

Baekhyun hampir tersedak air liurnya sendiri, “Kau gila?”

“Selain dirimu aku juga bisa membacanya. Dulu saat kita masih satu sekolah, matamu berubah gelap setiap saat aku hanya bersamanya.”

“Ya—ya. Sekarang jawab pertanyaanku!” seru Baekhyun.

“Ya. Kau puas? Dan baru saja aku cemburu padamu.”

Baekhyun memiringkan kepalanya, “Apa yang harus di cemburukan?”

“Kau lebih sering bersentuhan dengannya.”

“Tapi Jongin. Kau lebih beruntung,” ucap Baekhyun.

“Kenapa?” tanya Jongin.

“Karena kau mendapatkan cintanya,” lirih Baekhyun.

Sebelum Jongin sempat membuka mulutnya. Gadis bernama Im Yoona itu datang membawa tiga cangkir minuman dan sebuah croissant, “Ini pesanannya kawan-kawan.”

“BYUN BAEKHYUN BANGUN.”

Baekhyun langsung loncat dan nyaris berbalik teriak saat mendengar teriakan Yoona, mengundang sejuta pandangan pada dirinya yang hanya bisa membalas dengan cengiran.

“Yak, tidak perlu berteriak,” bisik Baekhyun.

“Kau tidak bangun. Aku sudah membangunkanmu lebih dari 10 menit Byun.”

“Setidaknya cobalah cara yang lebih halus.”

Yoona membulatkan mata, “Jadi aku harus membangunkanmu dengan cara seperti ini?”

“YAK-YA-YAK JANGAN MENCUBITKU.”

“Hanya bercanda. Omong-omong, kita sudah sampai.”

“Benarkah? Dan kau Im Yoona. Kemarin kau mengumpulkan semua aegyo-mu padaku lalu sekarang kau mencampak—“

Para penumpang mohon melepaskan tali pengaman anda. Kita sudah sampai ditujuan. Selamat datang di kota impian—Black Town.

[Black Town]

Jongin hampir mati karena bosan yang menggerogotinya. Pemandangan apanya. Sejak tadi yang mendaftar laki-laki semua. Jika ada seorang perempuan-pun ia di daftarkan oleh manajernya yang jelas ialah seorang lelaki.

Isi kepala Jongin hanyalah sebuah hujatan-hujatan untuk Chanyeol. Dirinya bukanlah sebuah boneka. Kenapa? Apakah Chanyeol tahu bahwa Jongin tidak hanya membuang Bae Irene melainkan memberikan sebuah uang juga? Tidak. Tidak mungkin Chanyeol tahu, jika ia tahu justru Jongin dihukum tidak boleh keluar. Akh, pikiran Jongin berkecamuk. Tugas sialan ini membuatnya perlahan menjadi gila. Ia perlahan mulai geram dan berniat untuk menyuruh orang tetapi otaknya berkata tunggu sebentar dan sebuah bom meledak dalam telingannya.

“Daftarkan untuk nama Im Yoona.”

Pardon?”ucap Jongin.

“Im Yoona.”

Jongin hampir memukul pipinya kalau-kalau ini hanyalah mimpi.

Sir?

Sebelum menulis nama itu, Jongin menengadahkan kepalanya dan melihat seseorang yang bahkan matanya sendiri tak percaya.

“Baekhyun?” panggil Jongin.

Bahkan lawan bicara Jongin sendiri kaget, “Jong—Jongin?”

“Apa yang kau lakukan?”

“Bukankah harusnya aku yang bertanya? Apa yang kau lakukan disini?” ucap Baekhyun.

“Yoona tidak memberitahu dirimu?” tanya Jongin.

Baekhyun mengangkat alisnya, “Beritahu apa?”

Jongin memandangi CV yang tadi Baekhyun berikan, mengangkat memori yang tadinya ia berniat untuk menguburnya habis.

“Tolong jangan benci aku,” pinta Jongin.

“Maksudmu?”

“Im Yoona, aku mencintaimu.”

Jongin memeluk Yoona pelan membuat Yoona semakin bertanya-tanya atas kewarasan dirinya. Ia melepas pelukannya dan menatap Yoona.Perlahan dirinya mendekatkan wajahnya dan mencium bibir ranum Yoona degan lembut. Awalnya Yoona tidak membalas tetapi semakin berjalannya waktu perlahan ia membalas ciuman Jongin, membuat Jongin semakin enggan meninggalkannya. Telah lama mereka bertatutan hingga Jongin menarik dirinya. Masing-masing dari bibir mereka merah dan mencoba menghirup semua udara sekitarnya. Jongin mendekati Yoona lagi lalu berbisik “Tolong jangan benci aku.” Dan mundur, berlari menjauh meninggalkan Yoona yang meneriaki namanya.

“Apakah sekarang melamun menjadi kebiasaan dirimu?”

“Eh—eh tidak,” ucap Jongin.

“Beritahu apa?” tanya Baekhyun lagi.

“Tidak hanya saja—ah sudahlah, apa yang kau lakukan?”

“Mendaftarkan Yoona. Tolong tulis Im Yoona.”

Jongin melotot, “Kau gila? Tolong jangan.”

“Apa salahnya? Kau meninggalkan kami membuat Yoona depresi. Ia meninggalkan pekerjaan sekretarisnya dan bermimpi menjadi seorang artis. Karena dirimu. Karena kau sering bilang wanita idealmu itu seorang artis.”

“Tidak—maksudku begini. Yoona bisa mendaftar di company-company Korea Selatan. Ia cantik. Standar wajahnya tinggi,” ucap Jongin.

Baekhyun mengangkat bahunya, “Jika saja ia diterima.”

“Tidak, kumohon, hanya saja kali ini, kota ini—”

“Memang kenapa dengan kota ini?” sela Baekhyun.

Jongin menghela nafas panjang, baru saja ia ingin menjelaskan pada Baekhyun sampai seseorang ber-tuxedo dengan perawakan tinggi menghampirinya, “Kota ini ialah kota impian semua orang.”

Jongin menoleh, “Chanyeol? Eh, mak—maksudku Tuan Park?”

“Ya Jongin? Dan oh, kau harus ke kantorku sekarang. Kau tahu, ada masalah lagi,” senyum Chanyeol. Jongin tahu tidak ada masalah. Sudah tiga tahun Jongin mengenal Chanyeol. Tentu saja ia bisa membedakan mana senyum tulusnya dan mana senyum ularnya.

“Siapa yang menjaga tempat registrasi ini?”

Chanyeol bertepuk tangan sekali dan munculah seorang wanita, “Jisoo-ssi, bisakah kau menjaganya?”

“Ya tuan,” angguk wanita itu.

“Jongin kau ikut aku,” tatap Chanyeol.

Jongin berjalan mengekori Chanyeol, lupa akan Baekhyun yang menatapnya dengan pandangan penuh selidik. Kim Jongin yang hilang kini tepat berada di depan Baekhyun.

[Black Town]

“Ini.”

“Terima kasih bro,” senyum Yoona.

Baekhyun duduk tepat disampingnya, “Sudah seharusnya.”

“Kau tidak lelah?”

“Sedikit lelah. Antrian sialan itu sangatlah panjang.”

“Maafkan aku,” tunduk Yoona.

Baekhyun tersenyum, “YA NONA IM SEMANGAT.”

“Shtt—tidak perlu seperti itu.”

“Balasan untukmu, kau buat malu aku saat di pesawat,” tantang Baekhyun.

Yoona mengangkat alisnya, “Kau menantangku?”

“Tentu saja jika audisi ini kau tidak lolos juga jangan harap—“

Tes.

Setiti darah jatuh dari hidung Baekhyun, “Sialan.”

Kepanikan mulai menyerutuki Yoona, “Ayo kita pulang. Kondisimu dipastikan semakin parah jika tetesan liquid itu sudah mulai keluar.”

“Tapi audisimu?”

“Yang lebih penting sekarang dirimu.”

[Black Town]

“Ini Caramel Latte-mu,” ujar Yoona sembari memberikan sebuah cangkir.

“Terima kasih,” balas Baekhyun yang dengan perlahan menyisip minuman itu.

“Yup, sama-sama.”

Baekhyun berdeham,”Kau yakin meninggalkan pekerjaanmu? Bukankah kau baru saja naik pangkat menjadi sekretaris kepala divisi?”

“Aku punya cita-cita lain.”

“Kau sedang tidak bercanda kan?”

“Tidak.”

Baekhyun memiringkan kepalanya, “Jadi apa?”

“Seorang artis,” umum Yoona.

“Kau gila? Jangan bilang untuk Jongin. Untuk lelaki yang meninggalkanmu?” tawa kecil Baekhyun menggema di telinga Yoona.

“Mungkin sedikit karena dia,” ucap Yoona yang membuat Baekhyun memutar bola matanya. “Dan karena kau.”

Baekhyun tersedak, “Aku?”

“Ya. Kau adalah seorang CEO disuatu perusahaan sepatu terbesar di dunia dan kau bisa mendapatkan apapun jika kau mau bahkan wanita tercantikpun tapi kau rela berpergian ke kedai kopi bersama seorang sekretaris perusahaan yang tidak terlalu besar. Jika ini terjadi skandal sangatlah tidak lazim, setidaknya jika kau mendapatkan skandal bersahabat dengan seorang artis besar kau tidak akan menanggung malu yang super hebat.”

“Kau sahabatku Im Yoona,” terang Baekhyun.

Yoona menghela nafas panjang, “Apakah kau masih mencintai diriku?”

Pertanyaan itu melesat dari kerongkongan Yoona, pertanyaan yang selama 2 tahun ini Yoona simpan. Yoona tahu, perasaan Baekhyun sekarang seperti semua Caramel Latte yang tadi ia telan dipaksa tarik untuk dimuntahkan.

“Maksudmu?”

“Aku mendengar semua percakapanmu dengan Jongin dua tahun yang lalu, tepat di kursi ini.”

“Aku—aku.” Baekhyun mengetuk-ngetuk meja dengan tak nyaman.

“Kenapa kau tak bilang aku?” ucap Yoona, air mata mulai membanjiri kedua indra penglihatannya. “KENAPA KAU TAK JUJUR PADAKU,” nadanya meninggi.

Baekhyun menunduk, menatap sepatu hazelnutnya. Warna favoritnya. Ia tidak berani menatap Yoona. “Aku mencoba menjaga perasaanmu—perasaan Jongin. Perasaan kalian berdua. Aku tak ingin menyakiti orang yang paling kusayang. Tidak Yoona tidak. Ya, aku memang mencintaimu tetapi tetap aku ingin melihatmu bahagia dengan orang yang kau cintai.”

“Tatap aku Byun.” Baekhyun langsung mengangkat kepalanya mencoba menarik semua keberanian yang ia miliki. “Kenapa kau tidak jujur sebelum Jongin tiba? Kenapa kau rela? Jika kau benar-benar mencintaiku, kenapa tidak sejak dulu? Kenapa tidak saat aku masih menaruh perasaan padamu dan berpikir bahwa ini semua sia-sia karena kau terlihat menyukai orang lain. Kenapa?”

Cinta tak bisa ditebak. Sepintar apapun dirimu kau tidak bisa mencari hati yang mana yang akan dihiasi pohon-pohon cinta.

Tangisan Yoona meledak, “Kau tahu. Aku terlihat seperti gadis pendosa di hadapanmu. Telah menghancurkan pandanganmu tentang cinta pertama. Maafkan aku Byun—maafkan. Aku—aku hanya saja tidak bisa mengerti semua perasaan ini. Setelah bertemu dengan Jongin, aku berubah opini. Aku pikir kau hanya menganggapku seorang sahabat maka dari itu aku juga menganggapmu seperti itu.”

Baekhyun tersenyum, ia menghampiri Yoona dan duduk tepat disampingnya. Memeluknya hangat dan menghapus airmatanya, “Kau jelek saat menangis. Lagipula, aku memang sahabatmu dan akan terus menjadi sahabatmu. Lupakan hari ini. Anggap kau tak pernah suka padaku dan aku tak pernah suka padamu. Aku memang ditakdirkan hanya untuk menjadi sahabatmu Im Yoona.”

Yoona menunduk, masih berpikir bahwa ia adalah gadis pendosa yang telah meyayat hati seorang pangeran.

Yoona terjaga tepat saat dering ponsel-nya berbunyi, tunggu—bukan dering ponsel melainkan alarm. Sialan tinggal 12 menit lagi sampai audisinya dimulai dan sedangkan jarak dari mess-nya sampai ke hall kurang lebih memakan 20 menit. Tidak, Yoona tidak boleh gagal. Mimpi tadi, Yoona masih mencerna kenapa ia memimpikan hal barusan. Ia dengan cepat kembali memakai jumper dan sailor skirt-nya serta tak lupa platform putih pemberian Baekhyun. Awalnya, ia ingin memanggil Baekhyun sampai ia mengintip kamar Baekhyun dan melihat dirinya sedang tertidur pulas membuat Yoona hanya meninggalkan pesan singkat dan berlari menuju keluar.

Sialnya, tidak ada taksi yang lewat dan Yoona sudah dikejar waktu. Hingga akhirnya, sebuah taksi melintas tepat di depan seorang pemuda jangkung.

“Maaf pak, saya sudah terlambat,” cengir Yoona. “Ke Main Hall pak.”

Taksi itu berjalan meninggalkan pemuda jangkung tadi dengan raut kesal, “Gadis sialan. Dia tidak tahu siapa diriku apa.”

KRING.

Dengan cepat pemuda itu mengambil ponselnya dan mengangkatnya, “Ya, anda berbicara langsung dengan Oh Sehun.” Pemuda bernama Oh Sehun itu diam sebentar hingga memutuskan untuk berjalan kaki kembali kerumahnya, “Iya. Aku akan kesana setelah mengambil mobil kesayanganku.”

TO BE CONTINUE

HAI SEMUAAAAAAAAAAAA. Ini-kan ff yang kalian tunggu-tunggu? Hehe maafkan daku lama banget jadinya dan ternyata hasilnya juga kurang memuaskan. Alurnya kebanyakan maju-mundur dan berliku-liku HUHUHUHUHUHUHUHU. Kusendiri gayakin ff ini bakal menarik readers. Dimohon komentarnya yah jadi aku bisa memutuskan untuk lanjut apa enggak HEHE. Ohiya, maaf kan aku yang sok tau, apalagi sok-sok buat tentang malephilia apalah itu HAHAHAH dan maafkan juga jika aku buat tokohnya ancur aduk dari Baekhyun yang tersakiti #eak—Yoona yang keras kepala—Kai yang terlalu independent dan lainnya. Semoga pada suka DAN OHIYA LUPA MASIH SEDIKIT KOK SAYA MEMUNCULKAN SI OM OSH HAHAHAHAH seperti line-nya yang cuman 4 detik di Sing For You. Sekali lagi, terima kasih sudah menunggu!!!

blockquote : flahsback

KOMENTARMU, SEMANGATKU! (‘-‘)9

62 thoughts on “Black town [1]

  1. Woww, lanjuttt thorrr, wahh seruu, mengagumkan, cerita nya ga bisa ditebak nihh, keren …go go semangat lanjutin thorr…😆👏👍

  2. sehun disini brperan jdi apa??
    pnsran sma khidupan yoona dikota ini
    apalagi yoong punya pnyakit itu
    tpi knpa dulu kai ninggalin yoona baekhyun??

  3. YAS AHAHA YAS AKHIRNYA HUAHAHA *capslock jebol :’D Yaampun thor maafkan daku yg telat baca padahal w yg paling muluk maksa biar cepet dipost ffnya waktu itu xD Sumpah Aku yakin 100% ini ff keren. gile bener bias pada ngumpul di 1 ff. Asek perannya Si Ohseh menarik kayanya nih maen jalang”an ke neng yoona😂 next chapnya jan lama” thor, Aku mencintai moh, fighting💪

  4. Akhirnya update juga chap 1 nya. Kasian amat baek, seharusnya jujur dari awal deh baek.. Kenapa jongin bisa kerja di black town bukan di korsel? Dari awal cerita aja udh keliatan kekejaman chanyeol.. Ditunggu deh kelanjutannya.. Fighting author..

  5. kereeennn. waduuhhh kasian byunbaekkk😢 waahh bakalan seru ini mah ampe si sehun muncul gituuuu. bikin penasaraannn. pokoknya ku tunggu next chapternyaa

  6. Wahhhh…
    Ini ff uda ditunggu dari kemarin hari
    Dan ternyata penungguanku tidak berakhir sia-sia
    Ff nya benar-benar keren eonn ^^
    Ditunggu chap 2 nya🙂

  7. Aigoo keknya parkchan kejam ya? Seriusan dia itu wali kota?
    Itu byunbaek sakit ya sampe mimisan gtu? Parah kah?
    Penasaran.. Ditunggu next chapternya🙂

  8. Uaaa udh nunggu sekian lama akhirnya ff ini muncul juga😀
    Penasaran sm karakter di ff ini😀
    Baek sakit ya? dia mimisan?😮
    Apakah chanyeol kejam ke yoona? apakah jongin msh cinta sm yoona?
    aduuhh banyak bgt pertanyaan yg muncul dikepalaku😀
    Dilanjut yaa, ditunggu lho ff nya🙂
    Kalo bisa jan lama lama publishnya🙂
    Keep writing..
    Fighting..

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s