Her

chuuu
.

a fiction by chiharu

Her

starring by Jongin and Yoona

disclaimer: I’m just own of the story. Don’t claim this as yours.

image source from Google

Aku mengeratkan mantelku. Rasanya bodoh sekali berdiri di jalanan licin bersalju malam-malam begini. Mau bagaimana lagi, Yoona yang memintaku—sungguh tidak tahu waktu sekali. Padahal sebelumnya, aku sedang asyik bermain game di rumah. Tapi tidak apa-apa lah, dia selalu berhasil membuatku luluh dan menuruti permintaannya—hebat sekali si kurus itu.

“Jongin!”

Aku tersenyum tatkala dia menyadari keberadaanku yang tidak jauh dari tempat duduknya. Terlihat begitu bodoh saat dia melambaikan tangannya dengan tidak wajar, dibarengi dengan senyuman nyengir jerapah. Lihatlah, tubuh kecilnya terlihat tenggelam dalam mantel coklat yang ia kenakan. Warnanya sama dengan mantelku—bahkan kembaran, itu memang mantel yang sengaja kami beli setelah upacara kelulusan kemarin.

“Lama sekali, kau!” Yoona menggerutu saat aku sudah ada di hadapannya.

“Hidungmu memerah,” kataku sambil terkekeh sebelum Yoona menginjak kakiku.

“Hidungku memerah itu gara-gara kau!” pekiknya kemudian dengan wajah kesalnya. Apa dia tidak mendengar nada khawatir dalam perkataanku barusan? Huh, sudah ku duga.

“Ada apa?” Aku duduk di sebelahnya.

“Tahu tidak? Chan Yeol mengajakku berkencan. Pasti dia akan menyatakan perasaannya padaku,” terangnya antusias. Lagi-lagi kebiasaan yang tidak ku sukai darinya itu muncul—ya, membicarakan laki-laki lain, apalagi Park Chan Yeol.

Yoona pernah bilang padaku kalau dia memang menyukai Park Chan Yeol. Aku tahu lelaki itu seperti apa. Chan Yeol tergabung dalam klub sepak bola yang sama denganku waktu SMA. Dia cukup baik dan tidak terlalu parah juga. Sejujurnya, aku sudah mencegah agar Yoona tidak menyukai Chan Yeol, tapi apa daya, Yoona tetaplah Yoona yang sama seperti murid perempuan lain yang tersihir oleh pesona Park Chan Yeol—malah, dia sangat berlebihan.

“Kenapa kau tetap menyukainya?”

Aku mendengarnya mendecak sebal. “Kau ini kenapa, sih? Sudah ku bilang kalau aku menyukai Park Chan Yeol dan—”

“Tidak akan berpaling sampai kau berhasil mendapatkannya. Kuno sekali,” potongku dengan cepat.

“Kau selalu bersikap dingin tiap kali aku bercerita tentang Park Chan Yeol.” Dia lagi-lagi mendecak dan bersedekap. Terdengar penurunan antusias dalam nada bicaranya. Lagipula, siapa suruh bercerita tentang gebetannya itu?

“Jadi karena itu kau menyuruhku datang ke sini?” tanyaku tak acuh sambil memasukkan kedua tanganku ke dalam saku mantel. Ini dingin sekali dan dia dengan teganya menyuruhku keluar hanya untuk urusan ini.

“Ya sudah,” jawabnya singkat. “Eh, masa kau tidak bahagia, sih, melihat sahabatmu ini bahagia?” tiba-tiba sikapnya sudah berubah saja. Wajahnya terlihat merengek dan kedua tangannya memeluk lengan kiriku. Dan sekarang, ia menyandarkan kepalanya di bahuku. Sialan.

Yoona suka bersikap lancang seperti ini tanpa memperhatikan dampaknya terhadapku. Walaupun sering, tetap saja aku merasa jantungku beraktifitas lebih dari biasanya. Seperti perempuan, ya? Ah, laki-laki memang jarang mengutarakan hal tersebut, gengsi mungkin.

“Apa?” kataku datar.

Yoona langsung menarik kepalanya dan berkata, “Sudah, itu saja yang ingin aku katakan. Bagaimana kalau kita minum coklat panas sebentar?”

“Baiklah, hidung mungilmu merah sekali.”

“Lihatlah, bahkan hidung besarmu itu lebih kelihatan merah! Jadi jangan coba kau mengejekku!” pekiknya. Aku dibuat tertawa akan tingkahnya. Aku juga lupa seberapa seringnya ia memekik ketika sedang bersamaku. Yoona selalu punya cara untuk membalas ejekanku, dan aku suka itu.

“Hidungku mancung, bukan besar!”

Aku? Mancung? Semua orang tahu kalau itu bohong. Tapi nampaknya, Yoona tidak mengindahkan perkataanku barusan, ia sudah sering mendengar omong kosong itu. Mungkin dia bosan.

Setelah itu, dia hanya mendengus pelan. “Baiklah, ayo!” serunya sambil berdiri kemudian berjalan meninggalkanku yang masih duduk. Aku langsung bangkit dan berjalan mengejarnya. Aku menggamit tangan kanannya dan dengan cepat aku masukkan ke dalam saku mantelku.

Dia menoleh dan menatapku aneh. “Kita terlihat seperti pasangan,” katanya kaku. Aku tahu itu.

“Tidak, aku hanya menyelamatkanmu dari kedinginan. Aku hanya tidak mau kau sakit atau mati kedinginan. Siapa lagi yang akan berteriak padaku?” jawabku asal sambil tertawa hambar, tapi ia tidak menyadarinya.

“Kau ini!”

Bohong, sebenarnya itu bohong. Aku memang peduli padamu lebih dari yang kau tahu. Dan, aku selalu gagal untuk mengatakannya, mungkin lain kali.

.

—fin—

.

35 thoughts on “Her

  1. Akhhh gilakk jongin knapa kamu sweet bangeettt :* keren banget thor ff nya😀 ringan tp bikin meleleh o.O wkwkwk
    keep writing~

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s