(Freelance) Twoshoot : Call me (Chap 1)

y2

CALL ME chap. 1

Seorang gadis keluar dari kelasnya seorang diri, ini waktu makan siang, dan harusnya ia ke kantin bersama teman-temannya, Jessica-Sooyong-Yuri-Seohyun, Seharusnya.

Tapi, kini gadis itu memilih sendirian, memutari sekolah, kemudian berhenti menatap beberapa orang yang tengah bermain sepak bola itu, kemudian ia pergi ke kelas, mengambil sebuah catatan dengan cover polos berwarna hijau daun, dan kini gadis itu memilih kembali ke lapangan, dan duduk diantara bangku penonton yang kini hanya beberapa orang yang menempati.

-YOONA POV-

Sekitar 10 murid laki-laki lebih berada dilapangan itu, bermain sepak bola, seharusnya aku melihat permainan itu, bukan dia, mengapa mata ini tak bisa lepas darinya? Siapa dia yang bisa-bisanya merubah suasana hati ku?

2 tahun sudah aku berdiam diri memandanginya dari jauh, dari beberapa pertemuan tak sengaja, atau pun hanya aku yang selalu ingin melihatnya, aku dibuat menunggu olehnya, aku tak berani menyapanya, ia kakak kelas ku.

Bahkan aku sendiri tak yakin apakah ia mengetahui namaku, Ia kakak kelas yang populer dan aku sudah tau tak akan ada harapan untukku, berulang kali Jessica memberiku nasihat untuk menyerah, aku kembali teringat perkataan nya sebulan lalu..

-Flashback ON-

Aku menelungkupkan kepala ku diantara tanganku, diatas meja, tiba-tiba seseorang mengguncang bahu ku.

“Yoong, Gwenchana?,” ah itu suara Sooyoung, ku tatap wajahnya dan berusaha tersenyum walau aku sedikit lelah.

Tiba-tiba saja Sooyoung menyentuh keningku dengan punggung tangannya yang terasa dingin menusuk padaku, “Yoong kau Flu! Ayo ke UKS!,” ujar Sooyoung padaku.

“Shireoo..” setelah berkata seperti itu, aku kembali menelungkupkan kepalaku, entah kenapa mata dan kepalaku terasa berat. Dan terdengar Sooyoung mendesah lelah dan tertahan.

“Yoong, Seohyun tak akan mau membuatkanmu bekal lagi jika kau seperti ini, dan aku tak akan mau menemani mu memasukkan surat mu lagi ke loker Park Chan..” dan aku langsung membekap mulut seseorang yang ternyata adalah Yuri.

“Apa kau gila?,” tanyaku dengan suara serak, “Jika kau tak mau ke UKS maka aku akan berteriak disini, bahwa kau menyukainya.”

“Arraseo, arraseo,” kataku

“Biar aku yang mengantarnya, aku sekalian mau ke ruang guru,” ujar Jessica yang dibalas dengan beberapa anggukan.

Selama perjalanan ke UKS, Jessica terus saja mengomel membuatku sedikit terkekeh selama perjalanan namun, sesuatu yang sama sekali tak mau  kulihat kini ada didepan mataku.

Namja itu, ia sedang memeluk seorang Yeoja, jika kulihat yeoja itu adalah Jiyeon Sunbae.

Sakit merasuk kedalam ulu hatiku, tak terasa lelehan bening kini mendesak keluar menuruni pipiku, Jessica yang tahu akan keadaanku memilih bungkam dan langsung membawaku ke UKS, entah apa yang dipikirkan diriku, aku terus menangis tanpa ada maksud untuk berhenti.

Sampai di UKS..

Jessica mendudukkanku di kasur putih yang empuk itu, ia menatap ku dalam, lelehan cair itu kini sudah menjadi kerak dan meninggalkan jejak di antara pipi ku yang bersemu, bersemu bukan karena malu tapi, karena marah, bukan pada dirinya tapi, diriku. Marah pada diriku yang tak bisa berbuat apa-apa.

“Apa kau tak lelah yoong? Sudah dua tahun kau menyukainya, apa kau tak lelah?,” tanya jessica

Aku menggeleng

“Yoong aku tau, kau bisa sangat setia dan bisa sangat-sangat mencintai seseorang tapi, kumohon untuk kali ini, untuk kali ini lepaskan dia, dia yang tak pernah melihat mu, dia yang bahkan tak pernah berbicara denganmu, dia yang tak pernah memanggilmu,”

“Yoong aku mohon, jangan sakiti dirimu lebih dalam, aku tak mau ada apa-apa padamu, tak bisa kah kau berpindah hati ke Tao yang selalu menjemputmu dan mengantarmu dan mendengar cerita mu? Tak bisa kah kau pergi ke Luhan sunbae yang sudah menyatakan perasaannya padamu? Atau mungkin Kris kakak Sooyoung? Tak bisa kah yoong? Kau tahu? Mereka orang baik, mereka mungkin juga mencintaimu, tak bisa kah aku meminta padamu untuk jangan menyakiti dirimu Yoong?,”

“Yoong, aku menyayangimu, Seohyun, Yuri, Sooyoung, kami menyayangi mu, tolong pikirkan perkataan ku baik-baik Yoong, aku tak sanggup melihatmu seperti ini lagi nanti,”

Jessica mengelus puncak kepalaku sejenak, kemudian tersenyum dan menghilang dibalik pintu.

Dan detik itu juga aku mulai berpikir,

“Apa memang aku seharusnya menyerah?,”

-Flashback OFF-

Aku kembali memandangi catatan dengan cover hijau ini, buku dengan sejuta kenangan yang ada dalam hatiku, dan Ia termasuk dalam ‘kenanganku’ tak jarang aku akan memotretnya diam-diam dan menempelkannya di buku diary ini, aku menulis apa saja yang ia lakukan, aku membuat puisi untuknya dari kertas ini, kemudian merobeknya dan mengirimnya ke dalam sebuah loker bertuliskan namanya. Tentu saja secara diam-diam.

Aku melihatnya mengambil minum dipinggir lapangan, meminumnya dan membasahi kepalanya dengan sisa air dingin itu. Dan itu cukup membuat beberapa yeoja menjerit histeris.

Seharusnya aku ikut menjerit tapi, kali ini, biarlah otakku yang memilih.

Aku kembali memandangnya dan itu terus menerus membuatku mengingat saat pertama aku bertemu dengan seseorang yang kini tengah merebut hatiku.

-Flashback ON-

“Ini hari pertama masuk sekolah, kenapa aku harus terlambat? Aish jinja.” Aku mengomel pada diriku sendiri, dan menambah kecepatan lariku.

BRUK!

Apa yang kalian bayangkan? Aku tertabrak seseorang? Dan dia menangkapku dalam pelukan? Tidak!

Aku tersandung tali sepatuku sendiri dan jatuh begitu saja, diatas aspal hitam sekolah, semua yang ada disitu melihatku dan aku melihat beberapa dari mereka menahan tawa. Seseorang berdiri didepanku dengan posisiku masih telungkup di aspal, sepatunya tepat di depan wajahku.

Ia berjongkok dan menaruh tangannya di antara ketiak ku sebentar, nampak seperti ingin menggendong anak kecil dan membantuku berdiri, dan aku tampak konyol dibantu berdiri dengan cara seperti itu, beberapa orang yang tertawa kini pergi dan keadaan seperti biasa lagi.

Aku terdiam membeku ketika melihat wajahnya, dan dalam hitungan detik diriku masuk kedalam pesonanya, ia tersenyum dan aku menunduk. Kemudian ia berjongkok secara tiba-tiba, dan mengikat kedua tali sepatu ku yang lepas dengan cepat dan aku merasa waktu berhenti pada saat itu juga.

Kemudian selesai dengan sepatuku, ia memajukan tangannya, hampir menyentuh kepalaku, dan mengambil daun yang ternyata bersarang dirambutku, mungkin ketika tadi aku terjatuh.

Dan dengan itu, ia kembali mengakhirinya dengan sebuah senyuman dan pergi, sebelum ia menjauh aku berteriak lantang sembari membungkuk dalam.

“KAMSAHAMNIDA SUNBAENIM!,” ucapku, dan ia membalas dengan mengancungkan jempol tanpa menoleh lagi ke arahku.

-Flashback OFF-

Dan lagi-lagi kenangan itu membuatku tersenyum dan terkadang berat untuk dihapus atau ditinggalkan tapi, aku juga tak sanggup lagi kalau harus bertahan, aku tahu ia sudah berpacaran dengan Jiyeon Sunbaenim, maka dari itu aku memilih bungkam daripada menyatakan perasaanku, biarlah aku yang tersakiti, aku tak ingin merusak hubungan orang lain, terlebih aku tak ada apa-apanya dibandingkan Jiyeon Sunbaenim dan aku cukup tahu diri akan hal itu.

Aku melihat nya lagi ia tersenyum dan melambaikan tangan ke arahku, kemudian aku menengok ke arah belakangku, tampak Jiyeon Sunbae tengah duduk manis sembari tersenyum, ketika ia menyadari aku melihatnya Jiyeon Sunbaenim tersenyum ke arahku.

Aku membalas senyumannya yang sangat manis, aku sangat mencintai-nya tapi, aku juga tak sanggup kalau harus melukai Jiyeon Sunbaenim cukup, cukup aku saja yang tersakiti.

Aku kembali ke arah lapangan dan mengingat kenangan akan pertemuan ku yang kedua di luar sekolah.

-Flashback ON-

Aku memilih jogging ditengah kabut pagi yang masih menyelimuti Seoul, tak terasa kakiku membawa ke tempat dimana makanan seharusnya berada, mungkin tanpa kusadari, perutku tengah mengatur arah jalan kaki ku ke supermarket terdekat.

Aku mengambil sebuah Onigiri siap saji yang terpampang di supermarket itu, dan juga Yoghurt Strawberry. Aku memakannya dengan tenang, dan berniat membayar ketika menyelesaikannya. Aku berjalan ke arah kasir berniat untuk membayar dan…TIDAK ADA! Aku lupa bawa uang.

“Jebbal agasshi.. aku janji akan pulang mengambil uang dan kembali lagi kesini,”

“Aku sudah banyak mendengar janji seperti itu nona dan mereka tak kembali seperti apa yang mereka bilang, dan mungkin kau juga akan seperti itu nanti,”

“Aishh.. agasshi aku bukan orang sepert…”

“Berapa?,” potong  sebuah suara.

Ia menyodorkan sebuah kopi kaleng  dimeja kasir, pelayan kasir tersenyum “1200 won tuan,”

“Tolong bayar punya nya juga, jadi berapa?,” tanyanya lagi

“4600 won tuan,” dan ia membayar dengan uang 5000 won dan berkata “Ambil saja kembaliannya sebagai permohonan maaf yeoja ini,” dan ia pergi.

Buru-buru aku mengejar namja itu sebagai bentuk terimakasih, dan aku menggamit lengannya “Gamsahamnida, aku akan mengganti uangnya,”

“Tak perlu, kau adik kelasku kan?, anggap saja ini keberuntungan mu, lain kali jangan sampai lupa bawa uang,” katanya, dan ketika aku menatap wajahnya.

Senyuman nya lagi yang aku lihat untuk pertama kali.

-Flashback OFF-

Sudah cukup aku hidup dalam kenangan-kenangan singkat bersamanya, aku memang sudah berpikir untuk menyerah, dan kupikir ini waktu yang tepat, aku berdiri dari bangku penonton, membersihkan rok belakangku dengan menepuknya, kemudian berbalik menghadap Jiyeon Sunbaenim yang sedari tadi masih saja ditempat yang sama, dibelakangku. Kemudian ku berikan senyum tulus untuknya dan membungkuk 90 derajat.

Ketika ingin berbalik tangan halus Jiyeon sunbae menahan pergelangan tanganku,

“Kau mau kemana? Bukan kah kelas sudah selesai? Lagi pula pertandingan ini belum selesai kan?,” tanya nya

Dalam hati aku merutuki diriku sendiri kenapa harus menyukai kekasih seseorang sebaik ini, dan aku menyadari bahwa memang seharusnya aku menyerah sekarang.

“Aku tidak bisa, aku harus pergi sunbae, annyeong sunbaenim!,” kataku berpura-pura riang

“Annyeong yoona-ya!,” balasnya

Aku menjauhi lapangan, mendekati tong sampah besar di luar lapangan kemudian membuang buku dengan cover hijau daun itu, masih ada sebercak keinginan untuk mengambil buku itu lagi dan menyimpannya dalam diam.

Namun, untuk kali ini aku lebih memilih mementingkan logikaku daripada perasaan yang terus menyiksa ini nantinya.

Sunbae, jika kau memanggil namaku sekali ini saja aku akan kembali pada mu, ku mohon panggil aku sekali saja.

“IM YOONA!,”

“Su..sunbae?,”

 

Kkeut!

 

A/n : Ceritanya gantung ya? Hihihi.. gimana ya itu kelanjutan Yoona sama sunbae nya? Hm.. guys i need your comment below! Please..

Sincerly, Syahla putri.

31 thoughts on “(Freelance) Twoshoot : Call me (Chap 1)

  1. Kesel bacanya thor, yoong harus kayak gitu buat chanyeol😦. Gak tega, jiyeon itu beneran pacaranya chanyeol thor? Greget banget bacanya, apalagi di akhirnya tuh malah bikin tambah penasaran. Ditunggu ya thor next chap! Fighting!!!

  2. Kasian yoona udah nunggu Chanyeol dlm diam lama bngt,giliran mau dilupain si chanyeolny malahan ngasih harapan -_- ditunggu lanjutanny thor😉
    Keep writing n fighting!! ^^

  3. Itu cowok nya chanyeol ya?
    Njirr itu chanyeol sama jiyeon beneran pacaran?
    Lah chanyeol nya suka gak sama yoona?
    Next chapt ditunggu thor

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s