Hidden Scene [13]

HiddenScene

fanfiction by aressa.

starring

GG’s Yoona and EXO’s Sehun along with ex-GG’s Jessica

with

former member of EXO’s, Kris

.

.

.

.

Jessica Jung tidak tahu sejak kapan keheningan bersama Kris terasa menenangkan. Mungkin karena mereka sama sama tidak bisa mengungkapkan perasaan mereka?

“Jiaheng”

Lelaki berdarah Canada itu menghela nafasnya lelah. Jarang sekali Jessica memanggilnya seperti itu. Jika Jessica memanggilnya seperti itu, artinya ada sesuatu yang perlu dia beritahu. Bahkan Yifan sudah lupa kapan terakhir Jessica memanggilnya seperti itu. Saat teman wanitanya itu mengungkapkan perasaannya terhadap Sehun, maybe?

“Ceritakan padaku, Jess”

Jessica tertawa kecil, “Kau dulu Kris. Setidaknya aku membawa sedikit kabar gembira. Sedangkan wajahmu sudah seperti orang yang siap digantung hidup hidup” tangan Jessica menyentuh tangan Yifan yang membeku di kemudi, “Katakan, apa yang membuat temanku menjadi bisu seperti ini?”

Yifan tersenyum miris. Posisinya saat ini tidak berbeda dengan pagi hari lalu. Tangan Yoona menyentuhnya tepat di tempat yang sama Jessica menyentuhnya saat ini. Membangkitkan emosi Yifan karena mengingat ciumannya.

“Jess, aku menciumnya kemarin”

Jauh dari dugaannya, Jessica malah bersorak girang dan menghujani Yifan dengan tepukan tangan dan tawa meriah. Yifan merasa tertohok. Jessica tidak tahu saja apa yang telah Yifan perbuat pada Yoona.

Tapi akhirnya Jessica berhenti juga. Ekspresi pria disampingnya tidak menunjukan adanya kesenangan tentang itu. Jadi dia menyimpulkan semuanya tidak berjalan seperti dalam bayangannya. Padahal dia sudah siap dengan pikiran perubahan sikap Yoona yang cukup drastis kemarin karena Yifan menciumnya.

“Ada apa? Kenapa kau terlihat tidak bersemangat, Kris?”

“Karena aku menciumnya tanpa sadar. Aku menciumnya tanpa kehendaknya. Aku terlena Jess, dan sekarang dia menghukumku seperti ini” Yifan membenturkan dahinya ke kemudi berkali kali. Jessica menggigit bibirnya. Dia tidak mengerti.

Jessica menepuk pundak Yifan, “Tidak masalah Kris. Yoona mudah memaafkan. Nanti aku bantu jelaskan deh”

“Masalahnya,” Yifan menggigit bibirnya dan menatap Jessica ragu, “Jess, aku merasakan kehampaan itu dalam ciumannya. Jess, dia menolakku. Sangat menolakku. Aku…..takut”

Jessica jelas mengerti arah pembicaraan Yifan. Wanita itu menghembuskan nafas lelah. Dia menatap keluar Chevrolet hitam itu. Menatap lalu lintas Seoul yang padat di jam jam seperti ini. Terkadang Jessica berpikir, jika dirinya hanyalah seorang gadis biasa, apa semua ini akan terjadi dalam hidupnya? Terkadang Jessica menyalahkan keadaannya sebagai artis atas semua masalah yang menggerayangi hidupnya. Tapi Jessica tahu, dia tidak akan bisa secantik ini tanpa statusnya sebagai artis. Dia tidak akan sekaya ini tanpa setuju dengan peraturan yang mengikatnya. Dia tidak akan bertemu Sehun dan hanya akan menjadi Jessica yang pemalu.

“Bagaimana bisa kau tahu itu, Kris? Ciuman tidak bisa menunjukan perasaan seseorang”

Yifan menggeleng, “Itu jelas sekali Jess. Matanya tidak berbohong. Tidak ada raut malu. Tidak ada senyum. Dia bahkan tidak memiliki ekspresi yang bagus untuk ditunjukan. Bagaimana aku bisa tenang!?”

“Kri—“

“Aku pikir semuanya akan baik baik saja. Aku pikir aku bisa memperbaiki kesalahanku karena menciumnya. Tapi semakin lama aku memikirkannya, perasaan itu semakin jelas! Setidaknya jika dia menghargai harga diriku sebagai pria, dia tidak akan menghancurkanku dengan ekspresinya. Dia tidak akan ketakutan seperti itu”

Jessica tahu Kris benar benar terganggu dengan itu, “Yoona ketakutan? Apa yang dia takutkan?”

“Aku tidak tahu!” dia mengacak ngacak rambutnya, “Aku tidak tahu Jess. Yang aku tahu sorot matanya berbeda. Dia tertekan. Dia takut. Dia tidak hanya terkejut. Dirinya dipenuhi perasaan yang tidak aku mengerti!”

Jessica tahu satu satunya cara untuk menenangkan emosi Kris adalah dengan mengalihkan pembicaraan. Lagipula, Jessica juga sedang pusing dengan Yoona. Jessica merasa entah kenapa anak itu memang dipenuhi perasaan yang tidak pernah Jessica lihat sebelumnya. Dia mengingat semua sikap Yoona kemarin.

Yoona yang memandangnya dingin. Tatapan terdingin yang pernah wanita itu berikan padanya.

“Jess, apa Yoona pulang kemarin? Dia tidak membalas pesanku. Dia membacanya. Tapi dia tidak membalasnya”

Jessica gigit bibir. Berpikir keras apakah dia harus berbohong atau mengatakan yang sebenarnya. Yoona tidak pulang ke dorm semalam. Dia bilang pada Taeyeon ada urusan yang harus dia selesaikan. Tapi wanita itu menolak memberi tahu apa itu. Jika Jessica berbohong, Kris mungkin menanyai Jessica tentang semua perilaku Yoona tadi malam. Tapi itu akan membuat Kris tenang. Tapi jika Jessica mengatakan Yoona tidak pulang semalam, dia pasti akan semakin bersalah.

Baiklah, sudah diputuskan. Menjadi jujur lebih baik dibandingkan harus berbohong. Dia sudah cukup banyak masalah. Dan dia tidak mau menambahnya lagi.

“Tidak. Ayahnya memintanya pulang, katanya” setidaknya Jessica tidak terlalu berbohong juga kan?

Yifan mengangguk. Cukup sampai sini dia membicarakan Yoona. Dia tidak sanggup menambahkan beban lagi pada pikirannya. Sudah cukup kemarin dia hampir gila karena wanita itu. Sekarang dia mau menenangkan diri.

“Sehun tidak pulang tadi malam” kata Yifan.

Ekspresi Jessica berubah, “Dia pergi bersama Jongin?” ekspresinya menggelap memgingat kejadian itu.

“Jongin bahkan kesepian tanpa Sehun dan Kyungsoo”

Wanita itu menggangguk angguk, “Kemana dia?” dia ingat Sehun bilang kemarin dia ada janji bertemu seseorang. Tapi Jessica hanya tidak menyangka Sehun sampai tidak pulang. Memangnya dia kemana? Tapi disudut hatinya, Jessica takut. Sepertinya Sehun benar benar kacau.

“Joonmyeon bilang dia pulang ke apartemennya. Kelelahan katanya”

Seketika itu Jessica membeku. Pikirannya memutar percakapan Jongin dan Sehun kemarin. Benar, dia tidak salah. Sehun bilang dia ada janji dengan seseorang.

“Kelelahan dari mana?”

“Apalagi memangnya? Tentu saja invidual schedule nya”

Perempuan berdarah California itu menggigit bibirnya. Dia mencoba menyingkirkan perasaan buruknya. Mungkin Sehun membatalkan janjinya dan memutuskan untuk melanjutkan jadwalnya.

Tidak.

Tidak bisa. Jika Sehun memang ada janji yang tak berhubungan dengan pekerjaan tadi malam—Jessica yakin tentang itu—lelaki itu tidak bisa kembali ke jadwalnya begitu saja. Jadwal bukan sesuatu yang bisa kau batalkan dan jalankan begitu saja.

Ah, mungkin saja janjinya hanya sebentar. Jadi Sehun masih bisa menjalankan jadwal berikutnya.

“Apa kata Kai?” tapi Jessica masih belum bisa menyingkirkan pikiran buruknya.

Yifan melirik Jessica dan memutuskan untuk menjalankan mobilnya yang sedari tadi terparkir di depan sebuah kedai ice cream, “Kai? Tidak bilang apa apa. Menyebalkan seperti biasa”

“Memangnya schedule apa yang dijalani Sehun?”

“Kenapa kau bertanya? Tentu saja project KBS”

Seolah sebuah es ditancapkan dihati Jessica. Dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Kemarin, Sehun meninggalkan lokasi lebih cepat. Lelaki itu bahkan meninggalkan beberapa scenenya. Jika Sehun bilang dia belum selesai dengan schedulenya, bukankah itu artinya dia berbohong? Karena kemarin Sehun bilang dia ada janji dengan seseorang.

Tapi kepada siapa dia berbohong?

“Kris” Jessica menahan napasnya, “Kemarin Sehun menciumku”

Yifan nyaris saja menabrak pejalan kaki saking terkejutnya!

Demi tuhan, Jessica pasti bercanda kan? Sehun bukan pria yang suka flirting dengan wanta lain. Malah, Sehun jarang terlihat dengan perempuan. Bukannya apa apa, Yifan tahu walaupun Jessica bersikeras akan mendapatkan hati Sehun, lelaki itu lebih tahu bagaimana adiknya yang satu itu.

Sehun really don’t give a shit to a girl.

“Jangan kaget dahulu. Meskipun aku berharap Sehun dapat lepas kendali seperti kau terhadap Yoona. Aku tahu hal itu sangat kecil kemungkinannya” Jessica memerah malu, “Meskipun itu bagian dari pekerjaan, tetap saja aku senang”

“Bagian dari pekerjaan?” tanya Kris cepat

“Yah, sebelumnya tidak ada script yang menuliskan Sehun akan menciumku. Tapi ya, kemarin PD mengatakannya” wanita itu menggembung gembungkan pipinya. Berusaha menyembunyikan wajahnya yang merah padam, “Itu tidak seperti ciuman yang kubayangkan. Hanya sebuah formalitas kamera. Tapi tetap saja”

Yifan tersenyum senang. Dia bisa membayangkan bagaimana bahagianya Jessica. Tapi perlahan, senyumnya menghilang. Apa dia dan Jessica terikat sebuah takdir atau apapun? Di hari yang sama Yifan mencium Yoona, Sehun mencium Jessica. Dan yang lebih parahnya, Yifan mencium Yoona tanpa persetujuan wanita itu sedang Sehun mencium Jessica tanpa perasaan apapun. Apa mereka harus merasakan kosongnya perasaan dua hati yang sama sama mereka cintai? Yifan mendengus. Yifan dan Jessica sama sama menyukai seseorang yang hatinya tidak bisa ditebak.

“Apa Sehun memberitahu hal ini?”

Yifan menggeleng. Dia mengacak rambut Jessica dengan satu tangan, “Aku belum bertemu Sehun sejak kemarin pagi. Lagipula biarpun bertemu juga, dia tidak akan mengatakannya. Dia tidak suka membicarakan hal hal seperti itu”

Kemudian Jessica teringat dengan kedatangan Park Nami dan Jo Hana. Dia mengerucutkan bibirnya. Ya, selain Park Jiyeon, ternyata Park Nami akan menjadi saingan besarnya. Meskipun itu tidak mungkin, tapi tetap saja, Park Nami akan selalu menjadi mimpi buruk Jessica.

Park Nami itu cantik bahkan untuk ukuran seseorang yang bukan artis. Wajahnya angkuh namun cantik. Dia juga, adalah wanita terakhir yang Sehun kencani. Wanita yang masih membelenggu Sehun hingga kini. Wanita yang sebentar lagi akan bertunangan, namun sepertinya masih memiliki urusan yang belum selesai dengan Sehun.

Jessica juga masih tidak mengerti perkataan Nami saat itu. Sebelum pergi, Nami meminta Sehun untuk tidak bertindak bodoh. Bertindak bodoh dalam hal apa? Memangnya Sehun melakukan apa sehingga Park Nami perlu menasehatinya secara langsung?

Dan kenapa Jessica merasa, hanya dia yang tidak tahu apa apa di ruangan itu? Kenapa Jessica merasa, Park Nami menyindir seseorang yang entah siapa dia? Kenapa dia merasa ada rahasia yang tertutup rapat diantara pembicaraan itu? Jessica merasa Park Nami mengetahui sesuatu yang tidak dia ketahui dan dia merasa kesal karena itu.

“Kris, apa kau tahu Jo Hana dan Park Nami?” tanya Jessica hati hati.

“Bukankah kita sudah pernah membicarakannya? Aku tidak terlalu mengenal mereka”

“Ya, tapi…..aku penasaran dengan hubungan Sehun dan Nami dulu” Jessica menggumam pelan. Dia memelintir helai rambutnya yang berwarna pirang, “ Aku benci dengan ketidaktahuanku. Aku benci Park Nami yang begitu mengintimidasi”

Yifan tergagap. Dia menatap Jessica lekat lekat. Berusaha memahami ucapan teman perempuannya itu, “Mengintimidasi? Apa kau bertemu dengannya?”

“Kemarin”

Dan kini Yifan benar benar merasa takdir sedang mempermainkannya dan Jessica, “Dia menemui Sehun?”

“Bersama dengan Jo Hana yang seenaknya saja memeluk Sehun-ku”

Lelaki itu terkekeh mendengar gerutuan Jessica. Dia kemudian membiarkan matanya menatap lekat lekat Jessica. Mencoba memahami ekspresi yang ditunjukan wanita itu, “Apa yang membuatmu kesal?”

“Dia sangat cantik! Dan dia mengetahui hal yang tidak kuketahui! Aku benci harus menjadi yang paling tidak tahu apa apa kemarin. Seperti ada yang Park Nami ingin beritahu ke semua orang diruangan itu tapi dia mengatakannya tidak dengan Bahasa manusia”

Yifan pernah bertemu dengan Nami ataupun Hana. Pada saat saat damai dimana mereka bisa pergi sesuka hati mereka dengan wanita manapun. Yifan sudah lupa bagaimana wajah keduanya, tapi Yifan ingat, Nami memanglah cantik.

Yifan tidak pernah tahu bagaimana hubungan Nami dan Sehun, dulu Jongin sering bilang, Nami dan Sehun itu seperti anak kembar. Mereka sama dalam banyak hal dan itu artinya sama sama tertutup. Jika itu benar, wajar saja Jessica bilang Nami seperti punya rahasia. Ya, biasanya seorang anak yang sama dalam banyak hal, tidak perlu mengatakan panjang lebar apa yang akan dikatakannya kan?

“Kau hanya perlu tenang, Jessi. Ada masalah yang belum selesai diantara mereka berdua”

“Masalah? Maksudmu Sehun yang tidak bisa melupakan Nami? God damn it Kris!”

Untuk itu, Yifan tidak banyak tahu. Setelah mereka di debutkan, Sehun tidak pernah mengungkit ungkit Nami dihadapan membernya. Sehun bahkan menghindari topic tentang wanita. Dia tidak pernah menjawab bagaimana tipe idealnya yang sebenarnya, meskipun dia menjawabnya, itu hanya bagian formalitas pekerjaan mereka.

Tapi entah bagaimana, Yifan merasa Sehun tidak sekaku itu. Meskipun dia sangat mencintai Nami, tidak ada orang yang akan terus galau selama hampir 2 tahun kan? Setidaknya walaupun Sehun masih terluka, setidaknya dia tidak akan terus terusan menangisi cintanya yang menyedihkan kan?

“Apapun itu, Jess. Aku pikir itu tidak ada hubungannya denganmu. Lagipu—“

“Tidak ada hubungannya denganku? Wanita itu mantan kekasihnya! Dan ini Oh Sehun, Kris. Oh Seh—“

“Apa karena kau mencintainya, kau berhak memiliki semua rahasianya?” Yifan menukas tajam. Terkadang Jessica bisa menjadi kutu yang sangat menyebalkan. Wanita disampingnya terlihat kaget dengan ucapan Yifan. Tapi seseorang perlu ditampar untuk bangun dari mimpinya, “Jangan memaksa Sehun membuka semua rahasianya untukmu, Jess. Biar bagaimanapun, kau tidak berhak untuk melakukan itu. Janganpun dirimu, kami—membernya—saja tidak ingin tahu masalah apa yang terjadi antara Nami dan Sehun. Kami hanya bisa mengerti kenapa Sehun ataupun Jongin tidak membicarakan Nami dan Hana lagi”

Jessica tampias mendengar perkataan Kris. Itu seperti Kris memarahinya. Akhir akhir ini Jessica mudah tersinggung dengan nada tinggi. Mungkin karena dia masih mengingat kejadian saat Sehun mengintimidasinya. Padahal, biasanya Kris memberitahu semua yang dia tahu tentang Sehun. Biasanya Kris akan terus mendukungnya. Karena Kris percaya, keputusan Jessica selalu baik untuk dirinya. Tapi saat ini terlihat seperti Kris meragukannya.

“Ada apa denganmu? Apa salahku ingin mengetahui hal itu?” tapi Jessica tidak suka dikalahkan.

Yifan sedang mencoba menahan emosinya. Entah kenapa dia marah dengan Jessica, “ Jessica, aku hanya tidak suka dirimu yang bertingkah seolah kau berhak mengetahui semua hal tentang Sehun. Aku tahu kau mencintainya, aku tahu kau penasaran dengan dirinya. Tapi bukankah Sehun memiliki privasi? Tolong hargai privasinya, Jess”

“Dia tidak memberitahu apapun tentang Nami setelah debut. Dia menutup mulutnya dan bertingkah seolah tidak terjadi apa apa. Meskipun kami kesal, tapi kami tidak memaksa Sehun untuk memberitahunya, karena aku sendiri punya rahasia yang tidak kuceritakan bahkan kepadamu. Semua orang punya bebas memilih keranjang mana yang akan diisi, Jessi”

Jessica tahu dia salah. Yoona sudah mengatakan itu kemarin. Meskipun dia masih takut dan ragu, meskipun dia masih sakit hati dengan kejadian kemarin, dia belajar untuk memaafkan Sehun—dan juga Jongin dan Myungsoo. Dia justru senang. Karena itu artinya ada satu bagian yang jarang sekali Sehun tunjukan pada dunia luar, dan kini Jessica mengetahuinya. Meskipun dia melaluinya dengan perasaan berat. Jadi dia menundukan kepalanya dan kembali memainkan anak rambutnya. Kris ada benarnya juga. Selama ini Jessica terlihat ingin mengetahui every single detail of Sehun life’s. Itu yang tidak benar. Jessica terlalu buta hingga lupa tentang prvasi. Lagipula, peduli apa dia dengan privasi ketika akhirnya dia akan mengetahui semua hal tentang Sehun? Toh, dia akan memiliki Sehun pada akhirnya.

Dengan percaya diri yang tinggi, Jessica tersenyum bangga.

“Kris, menurutmu apa Tuhan akan memudahkan jalanku untuk memilikinya?”

Lelaki itu mendesah lelah. Dia tidak punya jawaban untuk itu. Dia ingin menyenangkan Jessica seperti biasanya, tapi entah kenapa dia tidak sanggup melakukannya. Apa karena hatinya yang sedang kacau ya?

“Sekali lagi aku tidak tahu Jess. Tapi satu hal yang kupelajari, tidak seharusnya kita terlalu bersekspetasi terlalu tinggi terhadap sesuatu”

//

Yoona terpekik kaget ketika melihat sosok menjulang Kris di lobby perusahaan. Sudah tiga hari sejak kejadian di mobil itu, Yoona menghindar terus menerus. Dia bahkan kesal kenapa dia harus ke SM Building setiap harinya. Biasanya, Yoona akan langsung menuju jadwalnya. Tapi sialnya, Young Be terus menyeretnya ke gedung terkutuk itu.

Bagus, sih. Dia bisa curi curi pandang dengan Sehun. Dia bisa meledek laki laki itu lewat tatapannya. Atau pura pura mengerjainya hanya untuk melihat senyum Sehun untuknya. Tapi tetap saja, dia harus melihat wajah Wu Yi Fan disana.

Jadi begini, Yoona bukan wanita bodoh. Dia itu sebenarnya sangat perasa dengan lingkungannya. Yoona bisa tahu kalau membernya sedang suka sama seseorang atau sedang patah hati atau sedang apalah itu. Yoona tahu semuanya. Tapi Yuri sering bilang, katanya Yoona itu bodoh jika menyangkut seorang pria. Bukan salahnya juga. Laki laki kan pikirannya kotor mulu. Kalau melihat wanita cantik sedikit saja, pikirannya sudah kemana mana (Sehun saja panic kalau Yoona mulai membuka semua folder tersembunyinya). Yoona jadi malas kalau harus peka dengan perasaan laki laki.

Tapi hal itu sudah terlalu jelas kemarin. Ciuman yang diberikan Yifan padanya. Tatapan itu. Itu benar benar berhasil mengganggu Yoona.

Karena hanya satu orang yang menatapnya seperti itu. Dan orang itu adalah Oh Sehun.

Yoona tahu, ada baiknya dia tidak menyimpulkan sendiri. Tapi mau bagaimana lagi? Meskipun Yoona sudah berkali kali mengomeli lebah lebah dikepalanya untuk berhenti menyimpulkan seperti itu, tetap saja Yoona memikirkannya. Yoona terus terusan berpikir, apa benar Yifan menyukainya?

Sebenarnya banyak orang yang benar benar suka pada Yoona. Wanita itu sudah biasa diperlakukan seperti itu. Dari dia kecil, sudah banyak lelaki yang mendekatinya dan akhirnya menyatakan cintanya. Tapi Yoona tentu saja selalu menolaknya dengan halus—kecuali untuk beberapa orang yang akhirnya berakhir menjadi mantan.

Masalahnya adalah, orang itu adalah Wu Yi Fan. Kris Wu. Kevin Li atau siapalah itu.

Pria yang menyukainya dan memandangnya begitu dalam itu adalah Kris. Member EXO. Member grup kekasihnya. Hyung-nya Sehun. Yoona bisa apa kalau begitu? Bukan apa apa, tapi Sehun sangat overprotektif pada Yoona (dalam artian yang baik). Sehun tidak suka ada yang confessed to her. Meskipun Yoona selalu bilang kalau Sehun tetap jadi nomer satu, tetap saja, lelaki itu akan marah. Yoona bahkan masih ingat, betapa marahnya Sehun tatkala tahu Park Yoochun memiliki perasaan lebih padanya. Sehun bahkan nyaris ingin menerjang Yoochun saat mereka tidak sengaja bertemu.

Jelas, Yoona tidak ingin itu terjadi. Biar bagaimanapun, dia tahu Sehun menyayangi Kris. Dia tidak dirinya menjadi perusak hubungan keduanya. Jadi Yoona memutuskan untuk melupakan segalanya.

Dia kemudian memantapkan hatinya dan melangkah mendekati beberapa member EXO yang sedang duduk di lobby. Sepertinya sedang menunggu jadwal mereka atau menunggu ruang latihan selesai dibersihkan. Dengar dengar, kemarin ada beberapa orang yang mengacau.

“Selamat pagi Yoona” Luhan menyapanya ramah. Wanita itu memberikan senyum terbaiknya. Akhir akhir ini mood nya sedang bagus. Yoona seperti matahari yang ingin terus bersinar.

“Oh, pagi” dia melirik Sehun yang asik berceloteh dengan Tao, “Pagimu menyenangkan?”

Luhan tertawa, “Pagi pagi sudah disenyumi gadis cantik, siapa yang tidak senang?” Yoona ikut ikutan tertawa. Luhan adalah temannya. Sebenarnya dulu mereka sangat awkward. Yoona hanya tahu kalau Luhan itu teman dekatnya Sehun selama trainee. Lalu pada saat pemotretan dengan W Magazine, Yoona jadi dekat dengannya. Luhan memang menyenangkan.

“Aku juga mau dong disenyumi sama Yoona noona” rupanya Tao mendengar pembicaraan mereka dan bergelayut manja di lengan Yoona. Sebenarnya itu agak tidak pantas untuk pria seumur Tao. Dulu, Yoona saja sudah gugup saat Sehun—yang lebih muda satu tahun dari Tao—memegang tangannya. Tapi kenapa Yoona membiarkan Tao bergelayut seperti itu? Mudah, lihat saja senyum kucing di wajah Tao dan raut kekanak kanakannya. Memang benar kata orang pintar, kedewasaan tidak ditentukan oleh umur.

“Selamat pagi Tao” dia tersenyum kemudian ujung matanya menangkap Sehun yang mendengus sebal, “Kalau mau tinggal bilang Oh Sehun” Yoona mengejek lelaki itu dengan tatapannya.

“Ah, aku lebih suka disenyumi Jongin deh” gerutunya. Tapi matanya berkilat menggoda menatap Yoona. Wanita itu sekali lagi melebarkan senyumnya. Senang rasanya.

“Ohh, jadi kau berubah jadi fans ku yah hun? Duh, terimakasih deh. Aku turut senang. Ini, senyumku yang berharga” Jongin bertingkah sok manis dan menampilkan senyum lebar yang mengerikan ke hadapan Sehun. Membuat lelaki itu menjerit geli. Semuanya tertawa. Termasuk Yoona.

Tapi tidak dengan Wu Yi Fan.

Dia merasa bersalah sekali. Wanita itu pasti marah padanya. Tentu saja, pria asing yang tiba tiba menciumnya. Yoona pasti merasa Yifan merendahkannya. Dan tahu apa yang bodoh? Meskipun Yifan sadar kalau Yoona sudah berkali kali berkelit darinya. Meskipun Yifan tahu Yoona mungkin tidak akan memandangnya secara sama lagi, Yifan tetap berharap Yoona datang padanya, dan bersikap seperti tidak pernah ada masalah diantara mereka.

“Kris, kenapa kau diam saja?”

Dan Yifan tidak tahu bahwa harapan bodohnya bisa menjadi kenyataan.

//

Orang bilang, jika kau marah kepada seseorang kurang dari 3 hari, itu artinya kau menyayanginya. Mencintainya.

Jessica rasa itu benar.

Karena, entah bagaimana, meskipun Sehun menyakitinya dengan ucapan pedasnya kemarin, Jessica tetap tersenyum kepada lelaki itu. Dan mengangguk.

Sehun datang sebagai gentleman dan mohon maaf karena sikapnya yang buruk kemarin. Disampingnya Jongin memandang wanita itu bosan namun akhirnya minta maaf dengan tidak tulus. Apapun itu, Jessica tidak peduli. She don’t give a shit with him. The only thing that exist in her eyes is Oh Sehun.

“Ah, Jessica Eonnie!”

Mereka bertiga menoleh, mendapati si duo Yuri dan Yoona datang dengan peluh dan wajah lelah. Yoona yang tampak ogah ogahan mau saja diseret Yuri mendekati Jessica, Jongin dan Sehun. Well, Jessica sebenarnya sedang di kantin, menikmati orange Juice ditengah sesi latihannya. Ketika dia sedang asik berselancar di dunia maya, Sehun datang dan berdehem dengan gugup.

“Ada apa?”

“…”

Jessica bingung. Dia bertanya tapi tidak ada yang menjawabnya. Mereka jadi terlihat aneh. Pasalnya Yuri tenggelam dalam tatapan Jongin sedangkan Yoona mengangkat alis menatap Sehun dan Jessica. Suasananya jadi aneh. Jessica seperti berada di tengah pembicaraan makhluk astral.

“Hey!”

Mereka berempat seperti terbangun dari tidur panjang. Yuri langsung duduk disamping Jessica dan tersenyum lebar seperti orang bodoh, sementara Yoona menjatuhkan diri disamping Jongin. Tangannya bergerak tak teratur di meja bundar.

“Yang lain mencari-mu eonnie. Waktu istirahat sudah selesai. Time to go” kata Yuri. Jessica menghembuskan nafasnya bosan. Duh, kenapa sih ada saja pengganggu di moment menyenangkannya dengan Sehun?

“Yasudah. Nanti aku kesana, aku ada urusan sebentar” tanpa sadar Jessica melirik Sehun yang menatap kosong tangannya. Lelaki itu sepertinya sadar kalau Jessica secara tidak langsung membicarakannya, karena tidak lama kemudian dia menatap Jessica bingung.

“Ada urusan apa eonnie dengan Sehun dan Kai?”

Jessica menatap Yoona yang terdengar datar. Wanita itu memajukan bibirnya sedikit, bingung dengan mood Yoona yang berubah ubah.

“Itu, aku hanya meminta maaf tentang kejadian kemarin” Sehun buru buru berucap dan berdiri dengan terburu buru juga. Lelaki itu memukul pundak Jongin dan tersenyum seperti biasa, “Hanya itu kok”

Tahu tidak? Kwon Yuri rasanya ingin tertawa saja melihat Sehun seperti itu. Jadi kemarin Kai sudah menghubunginya dan memberitahunya tentang kejadian di lokasi shooting kemarin. Dia juga tahu kalau Yoona berbohong pada Taeyeon dan menghabiskan malamnya bersama Sehun beberapa jam setelah kejadian itu. Yuri bahkan menyeringai melihat bercak nyaris pudar di pundak dan leher Yoona.

“Ah benar” Kai sepertinya mengenali pandangan Yuri dan juga tersenyum menahan tawa. Laki laki itu tidak tahu apakah Jessica sadar atau tidak, tapi Sehun sedang menatap Yoona takut takut. Dan percayalah, wajahnya lucu sekali. “Iya kan, Jessica Noona?” katanya melempar pandangan mengejek.

Jessica sebal dengan Kim Kai, titik.

//

“Oh, hai”

Jongin mengaggetkan Yuri saat wanita itu berbalik dengan botol limun ditangannya. Lelaki yang tampaknya lelah itu sudah mengganti baju latihannya dan menyeret Yuri menjauh dari keramaian. Yuri sih tidak apa apa.

“Jadi?”

“Kau lihat kan tadi?” Mereka berdua duduk dipojok cafeteria, mengabaikan tatapan beberapa staff.

Yuri mengangguk, “Menurutmu apa yang terjadi dengan mereka berdua?”

Jongin memutar mutar tutup botol limun Yuri, dia memikirkan kejadian beberapa jam lalu, saat Sehun seperti panic melihat Yoona mendapatinya berbicara dengan Jessica dan tatapan menghakimi wanita itu. Sebenarnya, Sehun sudah merecoki Jongin untuk menemaninya minta maaf pada Jessica. Hal yang membuat Jongin sebal karena dia harus meninggalkan tariannya untuk hal tidak berguna seperti itu.

“Tidak tahu”

“Jadi begini” Yuri menghela nafasnya dan memainkan jari jari tangannya, “Aku berpikir, apa mungkin Yoona sudah berbicara pada Sehun tentang perasaan Jessica?”

Jongin agak terkejut mendengar itu. Masalahnya pasti akan semakin rumit jika itu benar. Tapi Jongin memang sudah memikirkannya. Lagipula, jika Yoona belum memberitahunya, memangnya Sehun itu bodoh apa? Orang orang diruangan itu kemarin sadar dengan jelas kalau Jessica have a feeling toward Sehun.

Lagi lagi dengan Jessica. Jongin sebal sekali dengan wanita yang satu itu. Sebenarnya dia juga tidak mengerti kenapa dia bersikap seperti itu pada Jessica. Seingat Jongin, Jessica bahkan tidak pernah benar benar berbicara dengannya. Tapi melihat wanita itu membuat Jongin kesal. Apa mungkin karena perasaannya pada Sehun? Kan dia sudah bilang, perasaan wanita itu mengganggunya dengan cara yang tidak bisa dia mengerti.

Sebenarnya Jongin tidak mengerti apa pun. Mereka tahu jika Sehun dan Yoona adalah sepasang kekasih yang memilih backstreet. Mereka sudah menebak alasan untuk itu dan kemungkinan lainnya. Tapi Sehun ataupun Yoona benar benar saling mengunci rahasia itu rapat rapat. Mereka menutupnya, enggan membukanya. Apa yang terjadi diantara keduanya tidak pernah diketahui. Bagaimana hubungan keduanya, atau masalah masalah itu. Semuanya membuat kepalanya pusing.

Jongin kesal sekali. Dia rasanya ingin meneriaki Sehun di depan wajahnya atau mencengkram Yoona dengan tangannya. Apapun itu, agar salah satu dari mereka bicara. Agar Jongin tidak seperti orang gila yang mencari cari ditumpukan jerami. Agar perasaan tak tenang yang menggerayangi nya sirna. Jongin kesal karena banya kata tidak mengerti yang rasanya sanggup membuatnya memakan orang hidup hidup.

Yang lebih membuat kesal, dia tidak tahu kenapa dia repot repot mengurusi hal seperti ini.

“Yuri Noona” dia mendesah, “Menurutmu, kenapa kita memaksa melakukan ini?”

“….”

Wanita itu menunduk. Memainkan jemarinya. Tertohok dengan jawabannya, “Aku benci mengatakannya, Noona. Tapi mereka tidak mengizinkan kita masuk”

“…”

Dia masih diam. Kenyataan itu merenggut semangatnya dengan cepat. Yuri sendiri tidak mengerti dengan dunia ini. Dia tidak mengerti dengan Sehun dan Yoona. Dia dan Jongin bersikap seperti Sherlock Holmes tapi mereka berdua lebih lihai daripada yang dia pikirkan.

“Yang paling penting adalah, apa yang akan kita lakukan setelah ini?” daribalik helaian rambutnya, Jongin bisa melihat keraguan itu nyata di wajah wanita dihadapannya, “Apa kita akan diam saja? Apakah kita akan membiarkan mereka menjalani apa yang telah mereka pilih? Atau kita akan bertidak dan membocorkan semuanya? Atau kita akan bersikap seolah olah kita berdua tidak pernah terlibat dalam permainan ini?” karena Jongin hanyalah anak muda yang penuh dengan keraguan.

Lelaki itu kemudian membiarkan keheningan mengisi mereka. Sebenarnya Jongin termakan dilemma. Jongin tahu kalau Sehun tidak suka jika ada yang mencampuri urusannya. Jika Jongin membocorkan hubungan mereka, apa dia yakin Sehun akan bersikap seperti biasa? Sehun selalu punya alasan. Namun, jika dia diam saja, apa dia yakin sanggup bertahan dengan kegilaan ini? Karena dia gatal sekali ingin tahu semuanya.

Jongin melirik jam ditangannya. Dia kembali menghembuskan nafas frustasi dan melirik Yuri yang masih betah dengan keheningan. Dia menjetikan jarinya didepan wanita itu, menyadarkannya, “Well, I gotta go. I’ll take care of him although I freaking don’t understand why I have to do so”

“…”

Jongin bangkit dan mengambil tas cangklongnya, “Yah, setidaknya aku tahu alasan kecil yang membuatku mual mengatakannya”

Kwon Yuri akhirnya menatapnya, “Karena Yoona adalah sahabatku” dia tersenyum, “Sama seperti Sehun bagimu”

Lelaki itu melempar senyum. Terlalu klise memang. Tapi melihat Sehun yang penuh rahasia seperti itu membuatnya sebal. Setidaknya, jika situasinya memburuk, Sehun tahu dia bisa mengandalkan Jongin “Kami menghabiskan sisa kebebasan bersama. Aku pikir cukup adil untuk membantunya mengingat hal itu”

Mereka berdua tertawa sinis. Karena biar bagaimanapun Jongin dengan Yuri, ada batas yang tidak bisa dilaluinya. Kemudian mereka berdua kembali terdiam. Tidak ada gunanya menyalahkan keadaan. Ini adalah resiko yang mereka pilih.

Yuri lah yang kemudian memecah keheningan itu. Dia mengambil barang barangnya, “Aku pikir kau memang harus pergi, Kai”

Setelah beberapa langkah, Jongin memanggil Yuri, “Kami akan berada di luar negeri selama beberapa hari. Kau tahu apa yang harus kau lakukan kan?”

Yuri melambai kepada Jongin sebelum punggung lelaki itu menghadapnya, “I will watch her closely than ever”

Ya, aku akan menjaganya.

//

Yoona mengeratkan parka hijau army nya. Cuaca malam ini cukup dingin dan Yoona masih belum juga mendapatkan taksi. Dia baru saja menyelesaikan latihannya dan kini sendirian menunggu di depan SM Entartainment. Sendirian. Biasanya gedung itu dipenuhi oleh fans-fans yang menunggu idola mereka selesai latihan, tapi kini halaman gedung itu kosong.

Tidak heran juga. Ini pukul setengah tiga pagi. Lampu lampu ruang latihan sudah dimatikan dan sudah tidak ada staff yang tersisa di gedung itu. Yoona terlalu asik dengan latihannya hingga dia lupa waktu.

“Ugh, seharusnya tadi aku ikut eonnie saja” gerutunya.

Tadi, pelatihnya menawarkan untuk mengantar Yoona ke dorm. Tapi melihat kondisi pelatihnya yang terlihat lelah, Yoona menolak ajakan itu. Jarak antara dorm nya dengan rumah pelatih cukup jauh. Dengan kondisi tubuh yang lelah, Yoona tidak mau mempertaruhkan keselamatan pelatihnya.

Melihat keadaan yang sepi, akhirnya Yoona memutuskan untuk berjalan kaki keluar dari kawasan Samsung-dong itu. Menunggu di depan kantor agensinya hanya membuang waktu dan tenaga saja. Sudah hampir tiga puluh menit dia menunggu dan kakinya sudah pegal sekali. Mungkin jika dia berjalan beberapa blok saja, dia bisa mendapatkan taksi.

Yoona menghela nafasnya dan menatap ponselnya yang mati. Baterainya habis dan sialnya Yoona tidak membawa charger ataupun powerbank nya. Seandainya ponselnya menyala, Yoona bisa meminta member atau managernya untuk menjemputnya. Yoona sekali lagi menghela nafas dan membiarkan pikirannya dipenuhi oleh masalah beberapa hari terakhir.

Sejujurnya, Yoona masih tidak yakin dengan keputusannya. Dia takut sekali jika kesempatan yang dia berikan pada Sehun hanya akan sia sia. Dia takut Sehun akan tetap menyembunyikan hubungan mereka karena pria itu terlihat sama sekali tidak berminat untuk memberitahu siapapun.

Bukankah itu cukup? Bukankah bahagia sesederhana mengetahui bahwa kau mencintai seseorang yang mencintaimu?”

Yoona terus menerus mengulang perkataan Sehun malam itu. Perkataan yang melukainya. Benar, bahagia seharusnya sesederhana itu. Bahagia seharusnya sesederhana merasakan debaran Sehun saat bersamanya. Seharusnya semenyenangkan merasakan senyumnya dalam bibir tipis Yoona. Seharusnya seindah tawa lelaki itu bersamanya. Bahagia harusnya sesederhana itu, tapi kenapa Yoona menuntut? Kenapa hatinya tidak puas?

Kemana semua hal yang membuatnya bahagia? Kemana semua hal yang dulu memabukannya? Kemana semu—

Yoona menghentikan langkahnya. Desir angin yang halus menerbangkan helaian rambutnya. Beberapa meter dibelakangnya, seseorang mengikutinya. Yoona merasakannya. Langkah kaki mereka terlalu ringan untuk dirasakannya, tapi angin membawa suaranya pada Yoona.

Yoona memejamkan matanya dan menarik nafasnya pelan. Dia menahannya di dada dan menghembuskannya perlahan. Yoona tidak percaya dengan hantu meskipun dia lumayan takut dengan itu, dia hanya tidak mau berurusan dengan siapapun di jam jam seperti ini. Yoona kembali mengeratkan parkanya dan melanjutkan langkah dengan was-was. Biarbagaimanapun, dia adalah seorang wanita yang berjalan sendirian ditengah jalanan sepi dini hari.

“Hey!”

Yoona menggeleng dan mempercepat langkahnya.

“HEY!”

Suaranya melengking tinggi—khas seorang wanita. Yoona sedikit tenang namun tidak mengurangi kecepatan berjalannya. Tinggal beberapa blok lagi dan dia akan menemukan jalan raya. Tapi kemudian seseorang menarik tangannya dan menghempaskannya ke lampu jalan.

Yoona mengaduh. Kepalanya terasa berputar-putar. Dia jatuh terpuruk dengan punggung ngilu dan kepalanya yang berdenyut. Dari terang lampu yang menyilaukan dan matanya yang berkunang kunang, Yoona menangkap sosok tiga orang wanita yang sepertinya lebih muda darinya.

“Ternyata benar kau Im Yoona” salah satu dari mereka berkata dengan suara dingin. Kemudian mereka menarik rambut coklatnya paksa, membuat Yoona menjerit kesakitan menatap mereka.

Benar, gadis-gadis itu lebih muda darinya. Yoona bahkan bisa menebaknya hanya dengan melihat wajah mereka.

“Jadi, benar, ya? Wah, aku tidak menyangka bisa bertemu Yoona SNSD yang saaangaaatt cantikkk” salah satu dari mereka berbicara remeh. Yoona berdecih.

“Kau tahu siapa kami, Yoona-ssi?”

Gadis yang menjambak rambutnya berwajah seperti kasihan. Kuku panjanganya yang dicat biru muda membelai wajahnya pelan, “Uhh, cantik sekali dia. Jelas, semua pria jatuh cinta padanya”

“Kau tahu siapa kami?” gadis yang sama kembali bertanya padanya.

“Sasaeng fans” Yoona meludah dan tersenyum sinis. Tidak menyangka dia akan sesial ini bertemu sesaeng fans. Tiga gadis itu tertawa bahagia. Dan melepaskan jambakan mereka di kepalanya. Yoona menggigit bibir dan setetes darah meluncur melewati matanya.

Sial, kepalanya pasti bocor.

“Uh-oh dia ternyata cerdas juga. Aku pikir selama ini dia bodoh” salah satu dari mereka tertawa dan mengambil tas Yoona yang terjatuh tidak jauh darinya. Matanya membulat, tangannya otomatis bergerak untuk merebut tasnya. Tapi, gadis yang berkuku biru mencengkram lengannya dan matanya menatap Yoona mengerikan.

“Apa kau tahu siapa kami?” tanyanya kasar.

“Cepat buka tasnya” gadis yang kedua. Yang memakai rok kotak-kotak berucap dengan tidak sabar pada gadis yang memegang tasnya. Yoona baru menyadarinya, ternyata gadis itu sangat tinggi.

Mereka mengambil ponselnya dan tertawa tawa. Meledek ponselnya yang kehabisan daya. Salah satu dari mereka—gadis jangkung—mendecih dan mencabut powerbank yang sedang mengisi ponsel gadis itu.

“Jangan coba-coba membuka apapun, brengsek.” Yoona berucap tegas. Amarahnya sudah diubun ubun. Tidak ada gunanya mempertahankan etika dihadapan fans gila ini. Mereka berani menyakitinya, itu artinya mereka tidak main main.

“Apa kau tahu siapa kami?!” bentak mereka. Gadis dengan rok kotak kotak kembali menjambak rambutnya. Membuat kembali mengerang ketika kuku panjangnya mengenai lukanya.

“Kau pikir siapa dirimu? Idola? Apa kami harus berteriak seperti orang gila memanggil namamu? HAH!”

Yoona menggertakan giginya. Dia tersenyum sinis, “Apa kalian pikir kalian bisa lolos dariku? Kalian akan membayar untuk ini. Percayalah” dia menatap gadis yang menjambaknya penuh amarah. Ini bukan kali pertama Yoona mengalami hal seperti ini. Sudah berapa banyak sasaeng yang mengejar dan menyakitinya? Tiga gadis ini, sudah dipastikan anti-fans nya. Mereka hanyalah sekumpulan lebah pengga—

Sinar lampu memantul di dada gadis yang mencengkram lengannya. Menyinari sebuah kalung yang membuatnya terkejut. Yoona menelan ludahnya, tengkuknya menjadi dingin.

“E-X-O” rapalnya pelan.

“Apa?” si gadis berkuku biru bertanya senang, “EXO? Wah, identitas kita terungkap eonnie. Ya sudah, daripada semakin menahannya disini membuatku ingin muntah. Habisi saja dia”

Sasaeng EXO. Tuhan, apa yang kumpimpikan semalam? Jadi sasaeng EXO juga antifans ku? Benar benar sesuatu yang sial sekali.

Si jangkung kemudian berjongkok di depannya dan mencengkram wajahnya, “Benar. Kami adalah fans EXO. Kau mau tahu siapa oppa kami?”

Dua lainnya tertawa dibelakang si jangkung. Gadis berkuku biru berseru, “Hey. Bagaimana jika kutelepon oppa? Mungkin dia akan senang mengetahui kita menahan si cantik ini”

“UHHH, benar benar. Telepon oppa sekarang” gadis berkuku biru mengangguk penuh semangat dan mengeluarkan ponselnya dari saku.

“Bodoh, kenapa pakai ponselmu? Oppa pasti tidak akan mengangkatnya. Pakai saja punya si jalang ini. Oppa pasti akan mengangkatnya kan’?”

“Jiyeongie, kau memang pintar!” ketiganya tertawa dan Yoona sekali lagi berontak namun si jangkung meletakan tanganya di belakang kepala Yoona. Menekan lukanya. Membuat Yoona menjerit kesakitan.

“Kuncinya!” bentak gadis berkuku biru. Si jangkung semakin menekan lukanya dengan kukunya. Mengirimkan sejuta rasa sakit ke tubuh Yoona. Apalagi gadis dengan rok kotak kotak itu menginjak kaki Yoona dengan cara yang salah.

“HENTIKAN! KUMOHON HENTIKAN!” jeritnya.

“KUNCINYA BODOH!”

“TIDAK!”

“KATAKAN PASSWORDNYA JALANG!”

“TID—ARRGHHH” Yoona terengah engah. Rasanya tidak tertahankan. Punggungnya semakin menjerit ngilu. Kepalanya serasa ingin pecah. Terlebih, gadis dengan rok kotak-kotak menginjak tungkainya keras. Yoona tidak tahu sejak kapan air mata sudah meluncur dari matanya. Tapi dia menatap mereka lemah, “04-12” bisiknya akhirnya.

Mereka saling memandang dan kembali tertawa seperti orang gila. Yoona memejamkan matanya. Pasrah dengan apa yang akan mereka lakukan. Yoona tidak punya ide siapa yang akan mereka hubungi. Untuk sesaat Yoona takut membayangkan siapa bias mereka. Tapi dibalik semua yang terjadi, Yoona bersyukur bahwa dia mengunci chatnya dengan Seh—

“Uh-oh, aku mendapatkannya” kata si gadis berkuku biru.

Yoona membelakan matanya. Dia kembali mencoba memberontak. Dia menendang gadis jangkung di tulang keringnya dan satu tangannya memukul gadis dengan rok kotak kotak, memelintir tangannya dan me—

“ARGHHH” gadis berkuku biru menjambak rambutnya dan membuatnya kembali jatuh ketanah.

“DIAM!” bentak mereka bersamaan. Si Jangkung dan gadis kotak-kotak yang sudah bangkit meludah dan menghentikan gerakan tubuhnyan yang memberontak. Sedangkan gadis berkuku biru sudah kembali berjongkok dan satu tangannya membekap mulutnya. Mencegah jeritan keluar dari sana. Satu tangannya memegang ponselnya di telinga. Untuk sedetik, dia terlihat serius. Beberapa detik kemudian, matanya berkilat mengerikan.

“Ya?”

Seluruh pergerakan Yoona terhenti. Nafasnya menjadi berat. Matanya terbelak. Darahnya serasa mendidih mendengar suara itu.

“Noona?”

Untuk beberapa detik, Yoona tidak bisa bergerak. Si gadis dengan kuku biru terkikik membalik ponselnya dan memperlihatkan pada Yoona caller-id nya.

Sehun-ie.

Hey”

Suara Sehun terdengar samar-samar karena Yoona saat ini berontak dengan sekuat tenaganya. Si gadis berkuku biru menjatuhkan ponselnya saat Yoona berhasil menendangnya. Si jangkung dan temannya sayangnya bisa menghentikan pergerakan gadis itu. Mereka membekapnya dan mengunci semua pergerakanya.

“Im Yoona, kenapa kau berteriak? Hey, jawab aku!”

Dari balik matanya yang berkaca kaca, Yoona menatap gadis berkuku biru yang sudah bangkit dan mengambil ponselnya. Dengan wajah sok, dia memperlihatkan ponsel Yoona yang layarnya retak.

“Yoona! Hey Im Yoona! Kenapa kau tidak menjawab? Kau tidak apa?”

Yoona menggeleng pelan, menjawab pertanyaan Sehun. Dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa menatap foto Sehun yang terpampang di layar ponselnya.

Sehun-ah, tolong aku. Aku takut

“Demi tuhan Yoona!” Sehun menggeram kasar, “Yoona aku tidak bercanda. Apa yang terjadi? Kenapa kau tidak bersuara? Siapa yang bert—“

“SEHUN! CEPAT KEMARI DAN PULANG. KAMI MENCARIMU KEMANA-MANA!” dari balik suara Sehun. Yoona bisa mendengar teriakan Suho. Diikuti desahan keras yang terdengar jelas.

Iya, aku akan kesana secepatnya”

“SEKARANG! SIAPA SIH YANG KAU TELEPON? CEPATLAH AKU BENAR-BENAR BUTUH TIDUR” terdengar suara gerutuan dan percikan air. Dan suara pintu yang tertutup.

“Kau dengar, Yoona? Dengar, apapun yang terjadi padamu, jaga dirimu baik-baik oke? Sampai jumpa” Kemudian sambungan terputus

Sehun, aku takut. Aku takut. Takut sekali.

“Nah” gadis-gadis itu cekikian menatapnya, “Ternyata benar. Oppa pasti mengangkat panggilanmu”

“Padahal dia tidak pernah mengangkat jika kami menelponnya” gadis dengan rok kotak kotak berwajah sedih dan memanyunkan bibirnya.

Yoona tidak bisa berbuat apapun. Mulutnya sudah tidak dibekap lagi. Tapi Yoona tidak punya kekuatan untuk melakukan apa-apa. Ini terlalu mengejutkannya. Dia ketakutan. Benar-benar takut sekali. Napasnya tidak teratur, keringat sudah tercampur dengan air matanya.

Sehun. Oppa mereka adalah Sehun. Mereka adalah fans Sehun. Tiga gadis yang menyakitinya ini adalah fans kekasihnya. Anti-fans Yoona.

“Kau sudah tahu Im Yoona” gadis jangkung berkata dengan dingin. Dia memaksa Yoona menatap matanya yang bulat, “Kau sudah mengerti sekarang?”

Yoona gemetar dari ujung kaki hingga kepalanya. Dia tidak bisa mengatakan apa apa. Dia ketakutan sekali. Rasanya seperti sebuah es ditusuk di jantungnya. Benar benar dingin.

Ketakutannya terjawab sudah.

“Jauhi Oh Sehun. Im Yoona”

Semuanya.

“Apa kau pikir kami tidak tahu!?” gadis berkuku biru menjerit dan kemudian dia menampar Yoona, “Kau sialan! Beraninya kau mengambil Oppa kami!”

Mereka mengetahuinya, Sehun. Maafkan aku.

“Akhiri hubungan kalian! Im Yoona!”

Tidakah kalian tahu? Oppa kalian yang memaksaku mempertahankan hubungan ini.

Ponsel Yoona berbunyi. Mereka melihat caller id nya dan dalam satu gerakan, mereka kembali membekap Yoona dan mengunci pergerakannya. Yoona tidak melawan. Toh, dia tidak bisa berbuat apa apa.

Dia terlalu lemah. Dia benci itu.

“Yoona”

Dia mengangkat wajahnya. Dari balik bekapan mereka dimulutnya dia tersenyum tipis mendengar suara itu. Entah kenapa dia tersenyum. Dia tidak senang dia hanya merasa suara Sehun selalu berhasil menenangkannya.

Laki laki itu mendesah karena tidak ada jawaban darinya, “Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu. Tapi perasaanku tidak enak,”

Gadis gadis itu cemberut dan melempar pandangan mematikan padanya. Yoona menatap mereka tanpa takut. Apa yang akan mereka lakukan sekarang?

“Kau tidak apa ‘kan?”

Sudah kubilang, fans sialanmu ini menyakitiku!

“Haaaahhh. Kenapa kau tidak bicara? Ugh, apa aku harus menelepon membermu? Ah, tidak tidak. Ini dini hari. Mereka bisa curiga, Sehun bodoh” Yoona tertawa dalam hati mendengar gerutuan kekasihnya. Bahkan ditengah kekhawatirannya, Sehun masih bisa mempertahankan ego nya. Apa pria itu tidak punya hati sama sekali?

Dimanapun kau berada, dan apapun yang sedang terjadi padamu, aku harap kau baik baik saja. Hubungi aku secepatnya, oke?”

“Yoona-ssi, tolong jawab aku. Aku benar benar khawatir”

“Im Yoon Ah” panggil Sehun

Yoona?”

“Yoona Noona?”

“Sayang, ada apa denganmu?” dia mendesah putus asa. Dia tidak punya ide apa yang sedang terjadi pada kekasihnya.

Gadis gadis itu menggertakan giginya dan tatapan tajam mereka merobek Yoona. Tapi Yoona tidak peduli. Dia hanya ingin lepas dari mereka. Cepat tutup teleponmu Oh Sehun bodoh. Aku tidak sanggup lagi.

“Terseraaahhh. Ugh. Hubungi aku secepatnya, oke? Aku akan kembali 2 hari lagi. Kau mau berkencan? Ya, kau harus mau. Aku mati khawatir disini”

“Ah, aku harus menutupnya. Si galaxy menyebalkan itu mulai memperhatikanku dengan pandangan mengerikan” Dia terkekeh dan suaranya membawa ketenangan yang luar biasa pada diri Yoona, “Yoona? Aku tutup ya. Sampai jumpa di Korea. Aku mencintaimu”

Yoona memejamkan matanya. Dalam jangka sepersekian detik, gadis itu menjambak rambutnya. Dan menampar wajahnya pelan, “Kurang ajar Im Yoona”

Sekali lagi, Yoona tidak berbuat apa-apa. Dia tidak bisa mengatakan apapun. Memangnya, apa yang seseorang lakukan jika ada di posisinya? Seandainya saja Yoona bawa mobil dia pasti sudah dengan senang hati tancap gas. Tapi dengan kakinya yang dipastikan tidak bisa diajak lari dan kepalanya yang terus berdenyut, paling-paling Yoona hanya akan jatuh dan kembali diperlukan tidak semena mena oleh mereka.

“Eonnie-ya, aku pikir dugaan kita sebelum ini benar. Sepertinya Oppa tidak memberitahu siapapun tentang hubungannya dengan si jalang ini” gadis dengan rok kotak kotak berkata dengan suara (sok) imut.

Mereka kembali tertawa, “Benar ‘kan Im Yoona? Uhh malangnya nasib-mu”

Yoona memejamkan matanya. Mencoba menghalau rasa yang kini mulai merayapi hatinya. Mencengkramnya dan mengikat.

“Ugh, aku bahkan bisa menebak alasannya dengan mudah” si jangkung berkata dan merapikan rambut Yoona yang berantakan. Yoona masih diam. Bertahan dengan kepercayaannya pada Sehun.

Tapi sampai kapan itu dapat menolongnya?

“Bukankah jika tidak ada yang mengetahui, akan semakin mudah bagi Oppa untuk mencampakannya?”

Untuk sesaat detak jantungnya berhenti bekerja.

Yoona tidak pernah memikirkan opsi itu.

“Benar sekali Jiyeongie! Aku mencintaimu?” si gadis berkuku biru menirukan suara Sehun di telepon tadi, “Bullshit! Oppa tidak mencintaimu! Dia hanya menginginkan fisikmu saja!”

Tidak. Itu tidak benar.

“Hey, kau itu 4 tahun lebih tua darinya! 4 tahun! Apa kau pikir Oppa kami yang tampan mau dengan ahjumma sepertimu? Baiklah, kau memang cantik, tapi tetap saja, kau T-U-A!” mereka tertawa.

“Kau bukan tipe Oppa! Oppa menyukai wanita pendiam. Bukan cerewet sepertimu!”

“Huh, bahkan Park Nami lebih cantik dibanding dirinya”

“Cepat atau lambat” si jangkung menatap Yoona intens. Yoona? Mencoba bertahan dengan pecahan hatinya. Mereka telah menyentuh titik terlemahnya. Dan kini satu satunya yang menjadi pegangan Yoona hanyalah kalimat Sehun.

Bukankah bahagia sesederhana mengetahui kau mencintai seseorang yang mencintaimu?

“….Sehun oppa akan memutuskan hubungannya denganmu. Cepat atau lambat, Oppa akan bosan denganmu dan segudang jadwalmu itu. Oh Sehun akan memilih wanita yang ada bersamanya. Bukan wanita yang telah mencium puluhan pria dan menggoda banyak pria!”

“Tidak” ucap Yoona pelan. Itu tidak benar. Sehun mencintainya. Dia mencintai Sehun. That’s it. Sehun tidak akan pernah bosan padanya. Cinta tidak pernah membuatmu bosan kan?

“Huuu, dia masih tidak percaya. Kami ini stalker Sehun. Kau mungkin bisa berbicara padanya sesuka hatimu. Tapi apa kau tahu kelakukaannya saat tidak bersamamu?”

Deg

Deg

Deg

“Kau tidak tahu huuuu! Oppa tidak suka wanita sepertimu. Dia berasal dari kalangan terpandang. Orangtuanya pasti menginginkan wanita terbaik yang hanya memberikan hatinya pada Sehun. Bukan wanita yang bahkan kencan dengan hyung-nya sendiri!”

Mereka tahu. Mereka tahu segalanya.

Yoona menggeleng. Dia sudah memeluk tubuhnya sendiri. Sementara tiga gadis itu terus melemparkan peryataan yang menusuknya. Pernyataan yang merobek semua yang tersisa dihatinya. Yoona berusaha tidak mendengarkan, tapi suara mereka seperti lebah. Berdengung dan memasuki pikirannya.

“Dasar ahjumma bodoh. Mau saja ditipu oleh anak muda. Hey ahjumma! Kau terlalu dibutakan ya oleh Sehun? Duh, coba pikir dengan otak kecilmu itu. Memangnya kau pantas apa dengan Sehun? Kau hanya akan menghancurkan karirnya!”

“Kau dan fans kecilmu itu hanya akan menghancurkan mimpinya!”

“De—“

“TIDAK! OH SEHUN MENCINTAIKU! DIA MEMAKSAKU UNTUK BERSAMANYA! BAHKAN KETIKA AKU INGIN MENGAKHIRI HUBUNGAN SIALAN INI!” Yoona tidak tahan. Dia terengah engah. Semuanya membuatnya bingung. Kepalanya terputar putar. Dia tidak bersama dengan akal sehatnya. Yoona seperti mabuk.

“ITU HANYA TIPUANNYA! SUATU SAAT OPPA AKAN SADAR BAHWA CINTA NYA HANYA ILUSI! KAU ITU CANTIK DAN TIDAK ADA YANG BISA LEPAS DARIMU! OPPA HANYA PERLU BELAJAR UNTUK MELEPASMU BODOH!”

Yoona tidak peduli. Dia terisak. Tidak sanggup dengan kalimat-kalimat yang menghujamnya.

Si jangkung berbisik di telinganya. Meskipun Yoona memberontak, dia tetap berbisik dengan suara sedingin es, “Jangan coba-coba berhubungan dengannya lagi, Im-Yoon-Ah. Kami akan tahu jika kau berbohong pada kami”

“Jika kau melawan Yoona-ssi. Kau akan melihat apa yang akan kami perbuat pada kesayanganmu itu!”

Tiga gadis itu akhirnya melangkah pergi. Seringai menempel di wajah mereka. Suara tawa mereka yang menggelegar menertawai kebodohan dirinya.

Hanya beberapa menit dan kemudian Yoona sendirian. Yoona duduk memeluk lututnya, tersedu sedu ditiang lampu. Yoona tercekik dengan rasa perih yang melebar di hatinya. Semuanya terngiang ngiang di kepalanya. Cacian mereka padanya. Ucapan mereka.

Yoona ingin mempercayai Sehun. Yoona ingin percaya sasaeng itu tidak benar. Yoona ingin percaya hatinya. Tapi hatinya pun meragu.

Yoona mendongak menatap langit tak berbintang. Setetes air mata kembali menuruni pipinya yang pucat.

Bisakah aku mempercayaimu, Sehun?

//

Sehun menatap bayangannya yang terpantul di wastafel. Matanya dihiasi dengan kantung yang menghintam. Pipinya tirus dan wajahnya semakin pucat. Kepalanya berputar putar dan Sehun menopang dirinya dengan berpegangan pada wastafel kamar hotelnya.

Schedule nya di Taiwan baru selesai dua jam lalu. Semua membernya sudah tidur sebelum harus mengejar penerbangan ke Singapura pagi pagi buta. Sehun tebak, hanya dirinya yang belum tidur.

Dia tersenyum lemah dan membasuh mukanya dengan air. Berharap itu bisa memperbaiki penampilannya. Tapi hasilnya, tidak ada yang berubah. Lelaki itu mengerang dan melangkah keluar dari toilet. Dia merebahkan dirinya ke kasur. Senang dengan kesendirian yang melingkupinya.

Ya, dia sendirian di kamar itu. Biasanya ada membernya yang menemaninya, tapi membernya sudah sangat kelelahan. Mereka langsung tidur di kamar manapun secara asal. Tidak peduli apapun dan jatuh dalam mimpi begitu saja. Menyisakan 2 kamar kosong. Sehun meminta untuk tidur sendirian, dan karena kelelahan yang amat sangat, tidak ada yang melarangnya.

Tangannya meraih ponselnya yang sedang di charge. Dia mencabutnya dan menyalakannya. Menunggu ponselnya menyala, Sehun bangkit membuka tasnya. Mencari obatnya. Sehun menelan morfin dua tablet. Ada roti yang diselipkan manager, jadi Sehun mengambil ponselnya—yang sudah menyala—dan mendudukan diri di sofa. Mengunyah rotinya pelan pelan.

1 missed call from Yoona

Sehun mendesah. Kembali memikirkan kekasihnya yang entah sedang apa di Korea. Pikirannya membawa pada beberapa jam yang lalu. Saat wanita itu menghubunginya tapi tidak ada suara yang keluar. Bahkan Sehun tidak yakin ada Yoona disana.

Sebenarnya dia kenapa?

Ada sebuah jeritan yang entah kenapa Sehun rasa itu bukan suara Yoona. Kemudian suara grasak grusuk dan jeritan tertahan. Membuat Sehun merinding. Ada perasaan buruk menghantuinya.

Apa wanita itu baik baik saja?

Rasanya Sehun ingin terbang ke Korea dan memeluk Yoona. Dia butuh Yoona untuk menghilangkan kekhawatirannya. Tapi Sehun masih harus menunggu 2 hari lagi dan Sehun rasa dia bisa gila karena penasaran.

Iseng, Sehun mencoba menelpon Yoona kembali. Dia tidak mengharapkan apapun, sudah pasti di Korea ini sudah masuk waktu fajar. Meskipun biasanya Yoona sudah bangun, tapi wanita itu punya kebiasaan mematikan ponselnya saat tidur.

Diluar dugaan, terdengar deru nafas di ponselnya.

Sehun merekahkan senyumnya, “Yoona”

Masih tidak ada jawaban. Sehun mengendurkan sudut bibirnya. Dia mendongak putus asa. Ada apa dengan kekasihnya? Bukankah seminggu ini mereka baik baik saja? Sehun rasa dia tidak melakukan apapun. Dia bahkan mereject semua panggilan Jessica dan bersikap dingin pada gadis itu. Sesuai permintaan Yoona satu minggu lalu di apartemennya.

“Hey, kau sudah bangun?” tanyanya yang hanya dibalas dengan keheningan.

“Im Yoon Ah” desahnya kesal (lagi). Masih tidak ada jawaban. Sehun melirik jam rolex nya. Di Korea seharusnya sudah pukul setengah 6. Biasanya Yoona sudah terjaga. Apa mungkin dia masih belum sepenuhnya bangun, ya?

“Tahu tidak? Aku kesal lho dipermainkan seperti ini” gerutunya, “Sebenarnya kau kenapa? Apa aku melakukan kesa—“

Sehun?”

Suaranya serak dan basah. Sehun termenung sebentar. Dia hapal suara Yoona. Saat wanita itu bahagia. Saat dia khawatir. Saat dia kesal. Saat dia marah. Sehun hapal semuanya.

Oh Sehun?”

“Yoona,” dia menarik nafasnya, “Apa kau menangis?”

Disana, terdengar suara seperti tersedak. Diikuti suara batuk kecil dan suara hidung yang tersumbat. Membuat Sehun semakin yakin kalau wanitanya menangis.

“Yoona?”

Sehunie”

Kau tidak apa? Ada apa?”

Yoona terdengar seperti seseorang yang menahan tangisnya. Sehun benci saat Yoona menangis. Jadi, Sehun hapal betul suaranya saat Yoona mencoba menyembunyikan tangisnya. Seperti sekarang.

“Sehunie, cepatlah pulang”

“Iya, tapi kau kena—“

Aku takut. Pulanglah. Aku butuh Sehun”

Dan sambungan diputus begitu saja. Sehun mengacak rambutnya frustasi karena setelah dia mencoba menghubungi Yoona, wanita itu tidak mengangkatnya.

Aku takut.

Suaranya gemetar dan basah. Sehun yakin sekali Yoona menangis. Dia juga yakin Yoona ketakutan. Tapi kenapa? Apa yang terjadi pada wanita yang dicintainya? Sehun khawatir sekali hingga rasanya dia ingin terbang ke Korea sekarang.

Sehun menarik nafas dalam dalam dan mengambil headsetnya. Sambil mendengarkan lagu, Sehun membuka folder tersembunyi yang berisi ratusan foto wanita itu dengan atau tanpa dirinya. Tanpa sadar dirinya tersenyum lembut menatap senyum manis kekasihnya

Aku butuh Sehun.

Seandainya Yoona tahu, betapa Sehun sangat membutuhkannya. Seandainya Yoona tahu betapa takutnya ia kehilangan Yoona. Seandainya Yoona tahu betapa Sehun mengiginkan dirinya untuk terus berada di sisi wanita itu. Seandainya Yoona tahu betapa Sehun membenci dirinya sendiri becauce he’s done teribble things. Seandainya saja Yoona bisa percaya, kalau Sehun butuh wanita itu untuk hidup. Untuk bertahan. Untuk terus bersinar. Untuk terus percaya pada dirinya sendiri. Sehun butuh Yoona.

Namun kenyataan memang kejam. Hidup itu kejam.

Seandainya.

///

And i’m back guys hohohoho.

Aku gatau kapan lagi bisa update cerita ini. Karna well, aku cukup sibuk di sekolah. Giliran ada waktu kosong, kena writters block -_-. Maaf udah bikin kalian nunggu lamaaaa banget😦 But like i always said, im gonna finish this. Just be patience okay🙂

Anyway, this chapter is so complicated right? Drop your words about this chapter below okay? Thankyou ppapoy.

aressa

Ps. Happy New Year 2k16!!!

 

 

 

 

 

109 thoughts on “Hidden Scene [13]

  1. kasian yoona kaya gitu gak tega… saseng fans emang jahat ya pake stalker mereka segala… aku penasaran banget banget sama keadaan yoona nanti terus gimana reaksi sehunnya nnti kalu tau yoonanya di gituin..
    Dan jujur aja waktu ngebaca aku kadang kesel sendiri ngeliat masalah gak berhenti” datangnya.. aduhh ini coplicated bgt.. asli!

  2. uh ni part menguras hati bngett yah..ksian bnget yoona ny..sasaeng gila…n sica msih tergila2 smpe skarang ma sehun..nth jdi apa klo mrek tau yoohun spasang kkasih..pa lgi sasaeng itu..

    btw sorry thor bru smpet bca & koment..jarang nongol, skali nongol aku shock stelah buka ni blog..ternyata udah part ke 16 n aku mlewatkan 4 part.. 😨😅

  3. Argh..sasawng fan njiirrr. Kagak punya otak kalik yak, bisa biasnya begitu ke yoona. Dasar!!! Jessica juga nambah bikin jesel aja, jangan kepedean woy. Kasihan Yoona😥 sehun..

  4. Lagu yang cocok untuk ngambarin hubungan yoona sehun “secret love song” by little mix. Cocok banget dengerin ni lagu sambil baca ff ini.
    Sasaengnya keterlaluan banget 😞

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s