(Freelance) Oneshoot : FALL

PicsArt_1437764321157

A present by Calis Jung

FALL

Oh Sehun – Im Yoona – Xi Luhan

Genre/rating not found

Artworker by me

.

       Ini bukanlah cerita fiksi yang dibaca anak-anak berumur 6 tahun tentang bagaimana hebatnya dunia khayalan. Juga bukan yang sering dibaca oleh para orang tua tentang histori kehidupan. Hanya tentang permasalahan yang selalu timbul dikalangan remaja dengan awal dan akhir yang tak terduga.

Cinta? Bisa dibilang seperti itu. Persahabatan? Ya, mungkin sedikit lebih banyak.

Perkenalan singkat di malam natal, lalu tanpa sadar seiring tuanya hari mereka telah menghabiskan waktu bersama-sama. 12 tahun yang silam, tepatnya. Saat itu sang gadis masih dengan wajah sehabis menangisnya—mengulurkan tangan pada bocah lelaki yang berdiri di depannya.

       “Aku Im Yoona. Siapa namamu?”

       Si bocah lelaki menatap uluran tangan mungil Yoona, lalu menjabatnya. “Oh Sehun.”

       Yoona menghapus buliran air matanya yang masih tersisa, lalu mengeluarkan senyum yang lebar. “Terimakasih telah menolongku tadi, Sehun.”

Dan setelah itu, percakapan mereka menjadi lebih panjang dan kebersamaan mereka menjadi lebih lama.

Kedekatan mereka tak berubah. Bahkan setelah mereka memasuki usia 18 tahun seperti sekarang. Mereka masih Sehun dan Yoona yang dulu. Sehun yang masih dengan sikap tak banyak bicaranya, Sehun yang selalu mendengarkan ocehan dari Yoona tanpa sedikitpun mencoba menyela, Sehun yang selalu mengingatkan Yoona saat melupakan buku-bukunya, dan Sehun yang selalu memegang tangan Yoona saat laki-laki di sekolah mencoba mengganggu gadis itu.

Berbanding terbalik dengan sang wanita—Yoona, ia masih saja bersikap ceroboh dan melakukan hal-hal yang mungkin—bukan—apa—yang—dilakukan—oleh—perempuan.

Namun bagi Sehun itu bukanlah masalah. Karena tanpa sadar, Sehun telah terperangkap pada sebuah jebakan takdir, ia jatuh cinta. Tetapi malang, cinta itu menolaknya. Bahkan sebelum ia mulai masuk, hanya baru sebatas menapaki pintunya saja.

“Sehun-ah?  eum.. Kau kenal Luhan? Ituloh anak yang sekelas denganku. Kau mengenalnya kan?”

Sehun mengangguk. “Kenapa dengannya?”

Yoona tampak merona, lalu kembali bersuara, “Luhan bilang ia menyukai ku, dan… kami… pacaran”

Lelaki dengan kulit porselen itu tersenyum tipis. “Bukankah itu bagus? Ternyata ada juga yang menyukai gadis seperti mu” Ucapnya kemudian yang dibalas jitakan Yoona.

Mustahil pengakuan Yoona saat itu tidak menusuk hatinya. Ia tidak rela Yoona menjadi milik pria manapun, selain dirinya. Tapi tenang saja, Sehun tidak se-egois itu. ‘Tidak apa-apa, Yoona tau apa yang ia pilih’ Itulah apa isi kemunafikan batinnya.

Setidaknya walaupun begitu, persahabatan mereka tidak renggang. Ah mungkin sedikit. Karena sialnya, kini tidak hanya ada Sehun dan Yoona. Namun, Luhan, Yoona dan mungkin kali ini ia hanya akan menjadi pemain pendukung.

Ia dan Yoona hanya masa lalu.

Sehun tidak bisa lagi menggandeng tangan gadis itu, karena ada Luhan yang akan menggenggam tangannya.

Sehun tidak dapat lagi mengulurkan tangan saat Yoona terjatuh, karena ada Luhan yang akan mengajukan punggung dan menggendongnya.

Sehun tidak dapat lagi menyediakan pundak saat Yoona menangis, karena disana ada Luhan. Ia akan merengkuh gadis itu dan memeluknya erat.

Kau boleh menyebut ini akhir untuk seorang Oh Sehun.

“Sehun-ah? Kau maukan membantuku untuk membuat perayaan ulang tahun Luhan besok?” Ucap Yoona saat mereka berada di salah satu caffe favorit keduanya.

Setelah satu menit diam, Sehun akhirnya menjawab, “Baiklah.”

Yoona bersorak dan kemudian mengucapkan terimakasih.

Keheningan sempat terjadi, mereka tengah sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Yoona-ya?”

“mm?”

“Kau tau, kau memiliki kesamaan dengan angin.” Yoona menyerngit—tak mengerti.

Sehun menghela nafasnya. “Kau berada sangat dekat denganku, namun tak pernah dapat ku raih.”

“Yoona-ya, aku mencintaimu”

Sang gadis hanya terdiam. Terlalu mengejutkan untuknya mendengar kalimat  yang baru saja dilontarkan Sehun.

“Yoona-ya? Apa kau mencintaiku?”

‘Aku mencintaimu. Sangat dan amat sangat Sehun-ah..’

“Yoona-ya?” Sehun meraih tangan Yoona. Mencoba mengalirkan emosi yang bahkan sudah tak dapat ia tampung lagi. “Yoona-ya? Kau mencintaiku?”

Yang ditanya tetap tertunduk. Batinnya berkecamuk dan bertolak belakang dengan fikirannya.

       ‘Hentikan!’

“Yoona-ya? Tolong jawab aku..”

       ‘Aku mohon hentikan!’

“Yoona-ya.. Kau juga menci——“

“Maaf. Jangan tanyakan hal itu lagi padaku. Aku tidak dapat kembali Sehun-ah, jadi untuk apa memastikannya? Lupakan saja. Dan satu hal lagi,” Yoona memberi jeda pada kalimatnya seraya bangkit dari kursi. “Kalaupun jawabanku sama dengan yang kau pikirkan, aku tidak akan pernah meninggalkannya.”

Sehun mengamati Yoona dengan tatapan yang sulit untuk gadis itu dipahami. Tersirat berbagai macam makna yang tergabung menjadi kombinasi yang hancur disana. Kegelisahan, keputus-asa-an, kekecewaan, kesedihan, hanya dengan sorot mata itu kita dapat menyimpulkan bahwa Sehun benar-benar terluka.

“Kenapa? Bahkan kau tidak mencintainya…” Ucap Sehun lirih.

“Aku tidak ingin menyakitinya.”

Sehun tersenyum sinis dan mengalihkan iris matanya ke pusat yang kosong. “Jadi… Tidak apa-apa menyakitiku?”

Pertanyaan yang berhasil membuat Yoona membeku.

       ‘Tidak! Bukan begitu, Sehun-ah..’

“Kau boleh membenciku kalau kau mau.” Bodoh. Yoona mengutuk dirinya karena telah mengatakan hal yang diluar kehendak hatinya.

“Membencimu?” Ulang Sehun. “Apa itu yang kau inginkan?”

Rahang Yoona menegang. Indra penglihatannya semakin buram akan air mata yang menggenang.

“Yoona?”

Pandangan keduanya teralih bersamaan setelah sebuah suara menghampiri mereka.

Itu Luhan.

Lelaki itu melambai dan tersenyum saat ia sadar tidak salah orang. Luhan telah mengenal cukup baik perawakan gadisnya walaupun dari kejauhan ternyata.

“L-Luhan?” Yoona semakin terpojok. Pembicaraannya dengan Sehun belum berakhir dan sekarang ia harus bertemu dengan masalah utamanya disini.

“Dari mana saja? Kau bahkan tak menjawab panggilan ku.” Ucap Luhan berpura-pura menggerutu. Iris rusanya kemudian bertemu pandang dengan si pemilik pure hazel. “Sehun-ssi? Ah Halo! Lama tidak bertemu” Luhan sedikit membungkuk—diikuti Sehun—melakukan hal yang sama.

“Ada apa kesini?” Tanya Yoona kemudian.

“Kesini? Tentu saja makan siang.”

Yoona terkekeh kaku. Pertanyaannya tadi cukup aneh dan cukup mengundang kecurigaan.

“Kalian sudah makan? Mari makan bersama” Luhan lagi-lagi menunjukkan keramahannya. Ia menarik pelan pergelangan tangan Yoona bahkan menyilahkan gadis itu untuk duduk di samping Sehun.

Sehun menatap pria itu jengkel.

“Terimakasih, tapi aku dan Yoona baru saja selesai. Lain kali saja.” Setelah itu ia bangkit dan menatap Yoona, mengisyaratkan untuk pergi bersamanya.

“Kau duluan saja. Aku ingin disini sebentar lagi.”

Seharusnya Sehun sudah tau itu. Seharusnya ia tak berharap yang tidak-tidak. Tentu saja gadis itu akan memilih pergi bersama kekasihnya dibanding pergi dengan seorang yang bahkan telah ditolak dengan sangat keras.

Yoona menatap kepergian Sehun nanar. ‘Apa ini akhir kita? Sehun-ah.. Maafkan aku’

Tanpa terasa pasir waktu mengalir dengan sangat cepat hingga tiga tahun lamanya. Selama itu pula lah Yoona kehilangan interaksinya dengan Sehun. Terkadang ia mencari tau dimana sahabat lamanya itu berada—tentu saja tanpa sepengetahuan Luhan, karena ia tidak ingin semuanya kembali menjadi rumit.

Pikiran Yoona semakin dipenuhi oleh Sehun. Seorang lelaki yang telah menjadi orang terdekatnya lebih dari setengah jumlah umurnya sekarang dan lelaki yang sangat ia kagumi dari dulu. Seorang yang selalu mendukungnya dan menjaganya selaku kakak.

Sehun tidak pernah memarahinya, bahkan Yoona lah yang sejak dulu suka sekali menggerutu dan mengacuhkannya apabila lelaki itu tidak memberi apa yang Yoona minta. Dan Sehun pun setelah itu akan langsung meminta maaf lalu menghibur Yoona dengan agyeonya yang membuat Yoona tidak dapat menahan tawa.

       Drrrt

Yoona tersadar dari lamunan. Handphone yang sejak tadi bergetar telah habis kesabaran karena si empu terlalu lama mengabaikannya.

Benar saja. Ada 9 panggilan tidak terjawab tertera di layar.

Kening Yoona semakin berkerut karena semuanya berasal dari nomor yang tidak ia kenal. Ia kemudian mencoba memanggil kembali nomor itu, namun sayang tidak diangkat. Lalu ia mengirimi pesan, menanyakan identitas sang penelpon.  Tetap saja usahanya sia-sia. Nomor misterius itu tidak ingin memberitahukan sosoknya pada Yoona.

“Yoona?”

Ibu Yoona menghampiri anaknya dengan senyuman hangat. Mengelus rambut gadis itu lembut dan berkata, “Apa kau baik-baik saja?”

Yoona menyerngit. “Tentang apa?”

“Besok kau akan menjalani pernikahan, apa kau lupa nak?”

Tampak Yoona sedikit terkejut, lalu menampakkan raut wajah paham. “Tentu ibu.”

“Ibu sudah memesan beberapa gaun untuk kau cobakan.”

“Ya, Aku akan mencobanya nanti bu.”

Sang ibu melihat kejanggalan dari setiap mimik wajah putrinya. Senyum gadis itu seperti menyimpan banyak tekanan.

“Luhan adalah pria yang baik” Ucap Ibu Yoona kemudian

Yoona tersenyum tipis. “Ibu benar. Dia sangat baik.”

Wanita paruh baya tersebut lalu merengkuh putri sulungnya erat. Menyalurkan kasih sayang dan kekuatan yang tak ada habisnya untuk si anak. Sementara Yoona, ia menangis.

       ‘Sehun-ah, aku harus bagaimana?’

Hari yang ditunggu keluarga besar Yoona dan Luhan akhirnya tiba. Gereja yang akan menjadi saksi cinta mereka ramai dan meriah bahkan sebelum acara pemberkatannya tiba. Kursi jemaat yang menjadi tempat para undangan tidak begitu banyak. Alasannya karena kedua belah pihak hanya mengundang sanak-sanak keluarga dan para sahabat.

Sang mempelai wanita tengah berkutat dengan cermin. Sibuk memperhatikan penampilan dan riasannya agar terlihat baik.

       Drrrt

Yoona mengambil gadget mungilnya yang tadi ia letakkan diatas meja rias.

       ‘Nomor ini lagi’ Batinnya.

Yoona meng-arahkan handphonenya ke telinga kanannya ragu lalu bersuara, “Halo?”

Yang diseberang tidak langsung menjawab, mengharuskan Yoona untuk mengulangi sautannya. “Halo?”

       “Yoona-ya?”

Seketika Yoona kehilangan suaranya, tangannya bergetar, dan jantungnya serasa berhenti. Berlebihan memang, namun bagi Yoona bahkan ungkapan tadi bahkan tidak cukup untuk menjelaskan apa yang ia rasa saat ini.

       “Yoona-ya?” Ulang si lawan bicara.

“S-sehun?”

       “Long time no talk. I miss you”

       ‘Aku juga merindukanmu, bodoh. Kau kemana saja? Kenapa pergi begitu saja tanpa memberitahuku? Kau bahkan tidak berniat mengabari ku. Aku rasanya mau mati karena merindukanmu’

       “Yoona?”

       “Kau masih disana?”

Yoona yang sejak tadi hanya terdiam bergumam pelan, sekedar menandakan ia masih mendengar panggilan dari lelaki itu.

       “Maafkan aku. Aku pergi begitu saja tanpa memberitahumu.”

“Setidaknya kau sudah menghubungi ku dengan nomor misteriusmu ini sejak dua minggu yang lalu. Aku kira aku mendapat fans fanatik.”

Terdengar gelak tawa dari seberang setelah Yoona mengucapkan kalimat tadi. Yoona pun tersenyum tanpa sadar.

Mendengar seorang Oh Sehun tertawa seperti itu, mengapa sangat membahagiakan?

       “Selamat atas pernikahanmu. Kau pasti sangat bahagia sekarang.”

Senyum manis Yoona berganti menjadi kecut. ‘Bahagia?’

“Sepertinya begitu.” Hanya itu balasan Yoona.

Hening.

Setelah kurang lebih satu menit kemudian Sehun kembali bersuara, “Yoona-ya?”

Lagi, Yoona membalasnya dengan gumaman pelan.

       “Ah tidak. Lupakan saja. Semoga pernikahanmu lancar”

“Sehun-ah?”

       “Ya?”

“Tentang pertanyaanmu tiga tahun yang lalu, apa boleh aku menjawabnya sekarang?” Tanya Yoona.

Yang di seberang tampak tak yakin dengan pertanyaan Yoona barusan. Terbukti dari nadanya yang terdengar ragu dan pelan. “Hm, ya.”

“Aku juga mencintaimu. Aku sangat mencintaimu” Yoona berucap dengan lugas. Setidaknya ia harus memberitahukan bagaimana perasaannya sebelum ia menyesalinya dikemudian hari.

Walau tak nyata, Yoona merasakan Sehun tersenyum di seberang sana.

       “Aku tau”

Sudah tak ada gunanya lagi menangis bagi Yoona saat ini. Ekspetasi tentang mereka saling mencintai selama belasan tahun telah menjadi nyata, dan itu sudah cukup bagi Yoona. Ia juga tak ingin egois dengan meninggalkan Luhan hanya karena telah mendapat pengakuan dari cinta pertamanya.

       “Yoon?”

Yoona bergumam untuk kesekian kalinya.

       “Berjanjilah untuk hidup lebih lama.”

Yoona tampak tak mengerti dengan ucapan Sehun. “Kenapa?”

       “Luhan boleh hidup sehat sesuai yang ia mau. Tapi aku hanya berharap kau dapat hidup sedikit lebih lama darinya, karena aku ingin menghabiskan hari tua ku hanya denganmu”

Yoona dapat merasakan pipinya memanas. ‘Andai saja kita juga dapat memulainya bersama-sama’

“Yoona-ssi? Pengantin pria sudah menunggu.” Seru seseorang dari balik pintu.

       “Pergilah, dan jaga janji itu untukku.” Ucap Sehun yang juga mendengar seruan tersebut.

Yoona terlihat enggan untuk mengakhiri pembicaraan mereka, namun akhirnya ia menurut. Setelah berpamitan singkat, ia menutup sambungan itu dan bergegas keluar dari kamarnya.

Tepuk tangan dari para undangan begitu semarak mengiringi langkah Yoona dan ayahnya saat berjalan di altar. Decak kagum pun turut terdengar karena sosok anggun tersebut. Tak terkecuali Luhan, ia merasa menjadi pria paling beruntung karena dapat bersanding dengan wanita pujaan.

Setelah sampai dihadapan pendeta, ayah mempelai wanita menyerahkan putrinya kepada sang mempelai pria sebagai bukti selangkah lagi Yoona sudah bukan hanya menjadi tanggung jawabnya. Pendeta yang berdiri di hadapan mereka pun mulai membacakan janji suci pernikahan.

“Saudara Luhan, bersediakah anda mendampingi saudari Yoona dan berjanji akan selalu mencintainya dalam keadaan apapun?”

“Saya bersedia” Jawab Luhan tegas.

Lalu si pendeta mengarah kepada mempelai wanita dan menanyakan hal yang sama, “Kepada saudari Yoona,bersediakah anda mendampingi saudarara Luhan dan berjanji akan selalu mencintainya dalam keadaan apapun?”

“Ya, saya bersedia.”

“Dengan ini kalian resmi menjadi sepasang suami istri.”

       ‘Sehun-ah.. Aku bahagia. Jadi jangan khawatir. Aku akan menjaga janjiku, jadi kau juga harus hidup lebih lama untukku’

Riuh para undangan terdengar, dan terlihat pula baik dari pihak keluarga Yoona maupun Luhan menangis haru menyaksikan pernikahan keduanya.

Luhan mendekatkan wajahnya kearah Yoona dan mencium gadis itu.

“Aku mencintaimu, Yoon.”

 

FIN

 

 

 

27 thoughts on “(Freelance) Oneshoot : FALL

  1. Ini kok fin? Hwaaaaaaa😭 aku kok cuma bisa cengo baca yoona malah nikah sama luhan. Kenapaa nggak kabur aja minta sehun jemput😭 keep writing thor

  2. Akhhh mewek sendiri bacanyaaa, sehun setia banget sama yoona mau nunggu yoona d hari tuanya, yoona nya juga plinplan, tp luhannya kasian ga tau hubungan Yoonhun (?) Skrng udh jarang ad ff Sehun-YoonA-Luhan 😂 btw ff nya bgus banget moga ad sequel ya thor, keep writing~

  3. Ff bagus banget min… kasian sehun nya.. min ini di adain sequelnya engga?? Adain dong… heheeee…maaf maksa..😝😝😂😂

  4. mewek hiks.. Uuu.. sad sad…
    suka thor, lanjutkan perjuanganmu! haha.. keep writing semangat thor~!!!
    Hidup Yoona!!!

  5. Sayang banget, disini aku masih kaya bingung gitu kenapasih yoona gak bisa sama sehun, dan itu ngebuat ini jadi ganntung😥
    Tapiii ff ini kebawa perasaan bangeet, seru kereeenlah pokoknya! Semangat dan terimakasih author

  6. Aigoo.. Kshan Sehun oppa😦
    ah rada gk suka karakter Yoona d’sini, hbs udah tau ia jg cinta ma Sehun tp tetp aja mlih Luhan pdhl jelas ia gk cinta Luhan:/
    sharusnya Luhan meninggal dan YoonHun bersatu dulu bru end, thor.
    klu bsa Sequel dong

  7. Oh my god :”( Sedih banget :”(((((
    Love this!! Walaupun sedih tapi aku suka banget. Sayang aja kenapa dulu Yoona gak ninggalin Luhan waktu masih belum terlalu jauh. Jadinya kebawa ampe nikah kan wkwkwkwkwk

  8. Uhhh… Sad sad sad~
    Kirain Yoona bakal sama Ohse
    Pas Yoona dpt tlp dr Ohse dan menyuruh Yoona hidup lebih lama kirain Luhan punya penyakit dan ga lama lagi bakal meninggal?
    Pengen ada sequel nya~

  9. Hah? Apa iniiiiii? Yoona bodoh banget-_- udah jelas2 sehun suka sama diaaaaa. Malah milih dan nikah sama luhan-_-
    Terus maksud sehun minta yoona hidupe lebih lama apaaaa? Aku kira luhan sakit apa gitu trus ujung2nya meninggal akhirnya yoona sama sehun. Tapi kok ini langsung endddd?-_-

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s