APPA HIMNAEYO!

Appa Himnaeyo HEHE

APPA HIMNAEYO!

Written by

Fleur (@bungasalsaaa)

Poster by 

Winterchan 

Main cast:

Im Yoon Ah—Park Chanyeol

Lee SeoeunLee Seojun

Genre :

Married Life Romance

PG-17 

 

 

Time      : 20 Desember 2015

   07.28 AM

Loc         : Seoul Housing no 201

Yoona PoV

Bohong ketika tetangga kami menggosipkan hidupku sangat sempurna, hanya karena memiliki suami terkeren sekota. Seorang gitarist band semi metal yang cukup terkenal seperti Park Chanyeol.

Bohong ketika aku bilang pada kakekku, bahtera rumah tanggaku seperti drama yang tayang setiap sabtu malam. Yang benar saja.

Mana ada drama yang menayangkan suami seperti Park Chanyeol?

Suami yang bahkan tidur dengan nyenyak disaat istrinya lima menit lagi akan berangkat ke Busan di cuaca sedingin ini.

“Aku berangkat sekarang.”

“hm” hanya sebuah gumaman sebagai respon sementara dirinya masih dibalut oleh selimut tebal menutupi hampir seluruh inci tubuhnya.

Suami yang bahkan tidak bertanya tujuan istrinya di cuaca sedingin ini.

“Ya Park Chanyeol! apa kau sungguh-sungguh tidak akan bertanya kemana aku akan pergi?” aku berteriak, hampir membangunkan kedua bayi laki-laki kami kalau saja tempat tidur mereka tidak terpisahkan oleh dinding tebal yang dilapisi wallpaper Thomas and Friend favorit Chanyeol.

“aku tahu.”

“tau apa? Hah?”

Masih dibalik selimut, ia bergumam tidak jelas namun masih dapat ditangkap indera pendengaranku.“kau akan ke Busan, kakek temanmu meninggal dunia dua jam yang lalu karena sakit jantung, dan dia ingin kau datang tapi kau mengkhawatirkan Seojun dan Seoeun karena kau belum pernah meninggalkan mereka berdua bersamaku seorang diri. Aku tidak ingin kau pergi namun temanmu sepertinya sangat terpukul karena itu.”

Aku sedikit tercengang diujung ranjang, mendengar informasi akurat yang keluar dari mulut Chanyeol yang tertidur. Kurasa ia mengecek ponselku ketika aku mandi.

“Hanya satu hari Chanyeol. dan Seoeun Seojun bukan bayi yang merengek setiap saat lagi.” Aku tau dia sedikit cemas soal ide ku ‘meninggalkan anak kembar 3 tahun bersama ayah mereka selama satu hari’ jadi aku berusaha menenangkannya, menyisir surai coklatnya dengan jemariku.

Dan dengkuran halus itu kembali terdengar.

Kurasa aku salah soal dia yang cemas.

“YA! Bisakah kau bangun untuk sebentar saja?!” aku kembali berteriak, kini berhasil membangunkannya. Kelopak matanya terus mengerjap-ngerjap lalu netra kami bertemu sedetik kemudian.

“Apa?” tanyanya masih dengan posisinya yang telungkup. Dan aku hanya mendelik lalu hendak beranjak ketika kuasaku ditahan olehnya. Ia kembali berbicara, memamerkan pengetahuannya soal kepergianku ke Busan. Kurasa dia masih setengah tidur.

“aku belum selesai! Temanmu itu Kim Taeyeon, ia sangat menyayangi kakeknya yang berusia hampir seabad, maka dari itu ia butuh dukunganmu dan temanmu bilang kau tidak usah membawa apa-apa selain datang memakai baju hangat.”

Dan labiaku membentuk sebuah garis keatas, sebuah seringaian pertama dipagi hari yang dingin.

“AHA! Kau salah, dia tidak menyuruhku memakai baju hangat! Tidak ada waktu untuk itu bagi orang yang berkabung, Park Chanyeol.” sanggahku sembari marangkak kearah Chanyeol, duduk di punggungnya lantas menekannya keras dengan bokongku, dasar pembohong!

“aku tau. Tapi bajumu apa itu tidak terlalu tipis? bodoh.” Dengan begitu ia berbalik, membuatku hampir terjatuh menimpa lantai kalau saja tangan besar miliknya tidak meraih punggungku lalu menariku kedekapannya. Sangat dekat sampai aku bisa merasakan detak jantungnya di pipiku. Aku terdiam, lalu perlahan kuasaku bergerak melingkar ditubuhnya yang hangat.

Semoga bus menuju busan hari ini telat 5 menit.

Lalu lima menit kemudian dengkuran halus itu kembali terdengar. Ia tertidur. Park Chanyeol kembali tertidur. Secepat aku mengganti popok Seoeun. Secepat aku menenangkan Seojun yang menangis.

Lalu, bagaimana aku bisa mempercayakan bayi kembar kami—Seoeun dan Seojun—pada pria ini?

Normal PoV

09.02 AMo

APPA!”

“Tyranosaurus akan memakan Appa!”

“Ani, Appa akan memakan Tyranosaurus!”

“Ani!”

“Ani!”

“Tyranosaurus akan memakan kalian.” Sebuah suara bariton berhasil membuat dua bocah kecil malang yang bergelung di atas tubuh ayahnya itu bungkam lantas menoleh, menatap Chanyeol—yang entah kapan sudah bangun—dengan tatapan duka. Sementara Chanyeol dengan mata khas bangun tidur menatap kedua manik kembar bayi laki-lakinya, lalu menggeram. Berpura-pura menjadi Tyranosaurus walau sebenarnya ia lebih mirip harimau tidak berpendidikan di Safari.

Dan Seoeun mulai menangis.

Begitupun dengan Seojun.

Disaat geraman Chanyeol tenggelam oleh tangisan mereka, ia sadar ia harus berhenti mencoba menjadi spesies buas.

“hey jagoan, Tyranosaurus tidak akan memakan kalian. Appa akan melindungi kalian.” kini ia merubah posisinya menjadi duduk, kuasanya meraup kedua tubuh bayi laki-lakinya kedekapannya lantas mengusap pelan kedua punggung mungil itu.

APPA HWAAAAAA” Namun tangisan itu semakin tak terkendali, nampaknya mereka mulai membayangkan tubuh mereka tercerai berai dikoyak gigi-gigi tajam Tyranosaurus.

Appa Tyranosaurus akan memakan kita.”

APPAAAAA aku takut.”

APPAAAAAAA”

Chanyeol tidak tau pasti apa yang harus ia lakukan, sempat  terbesit keinginan untuk menyuruh Yoona pulang sekarang juga, lalu ia kembali pada tidur panjangnya hingga petang.

Apa ia harus ikut menangis?

Tidak—ia buru-buru menggeleng, sudah 3 tahun lamanya ia dikaruniai dua bayi laki-laki sekaligus, kini saatnya ia buktikan pada dunia bahwa ia adalah Ayah mereka.

“Seoeun-ah, Seojun-ah. Liat Appa.” Kedua bocah itu menoleh pada Chanyeol, dengan air mata dan ingus yang sudah bercampur padu.

“Tyranosaurus tidak suka daging kalian. Daging kalian itu masih bau susu eomma, Tyranosaurus bukanlah spesies mesum, anak-anak.” Babak ‘hipnotis’ pun dimulai.

Kedua manik kembar mereka tampak mengerjap-ngerjap lucu. Tampak tak mengerti dengan point yang disampaikan ayahnya yang sebenarnya tidak ber-point sama sekali.

“A-apa mereka suka dagingmu, appa?” tanya Seojun dan langsung dibalas dengan anggukan tegar dari Chanyeol, membuat raut wajah Seoeun dan Seojun menjadi tegang seketika.

“kenapa Appa tidak minum susu eomma?” pertanyaan Seoeun yang polos membuat Chanyeol sedikit tertohok, lantas berdehem canggung beberapa kali. Darahnya berdesir cepat, tak menyangka obrolan ayah dan anak 3 tahun akan berlangsung se-rated ini.

“bukan begitu—maksudku, kadang-kadang. Eomma tidak memberikannya setiap hari, hanya pada hari-hari penting. Seperti ulang tahunku.”

“Seojun, ayo bilang eomma supaya memberikan appa tiap hari.” Seoeun menoleh pada Seojun, yang dihadiahi oleh anggukan pasti. Chanyeol tersenyum sangat lebar, walau konten percakapan yang berada di otak mereka jauh berbeda namun entah kenapa, Chanyeol merasa senang.

“terimakasih, appa akan hidup lama dan melindungi kalian dari Tyranosaurus.”

Pagi haru biru itu dipenuhi oleh kata terimakasih yang berulang-ulang, Chanyeol mengecup pipi kedua bayi laki-lakinya yang sudah berhenti menangis, sementara mereka terus terkikik, merasa telah menyelamatkan nyawa ayahnya dari Tryanosaurus yang jahat.

11.15 AM

Bau mint khas Chanyeol menyeruak disepanjang koridor bercat abu yang dilalui Seojun dan Seojun yang hanya berbalut handuk putih terang, kuasa mereka menggenggam miniatur dinousaurus yang berbau senada. Nampaknya, ini adalah kali mereka mandi bersama, dan Chanyeol—yang tidak tau dimana letak Yoona menyimpan sabun bayi—membiarkan kedua bayi laki-lakinya memakai sabun miliknya. Memberikan bau maskulin yang menggoda pada anak berumur 3 tahun.

Lalu dimana Chanyeol saat itu?

Pria berusia 25 tahun itu sedang terduduk diujung ranjang dengan hanya berbalut handuk putih dipinggang, butiran air menetes dari surainya yang basah sementara ditangannya terdapat secarik kertas putih berisi catatan kecil dari istrinya yang baru ia temui tergantung 5 menit yang lalu.

  1. Bawa mereka kesekolah pukul 10!

Chanyeol menoleh kearah jam dinding dan merutuk dirinya sendiri kemudian, sekarang sudah pukul sebelas lebih dan mereka bahkan baru mandi.

Ah, tapi masih ada jam 10 malam.

Catatan ini rancu.

Bukan salahku, pikirnya.

  1. Peralatan mandi ada dinakas kamar mereka.

Chanyeol mengusap wajahnya, bahkan bau mint masih kental menyeruak diseluruh bagian rumah seiring Seojun dan Seoeun yang berlari-lari mengitari ruangan demi ruangan kegirangan entah karena apa.

Ia pasti dimarahi. Pasti. Bau sabun miliknya bahkan tidak akan hilang walau ia tidak mandi 3 hari!

Ini salahku, kini bagian dari hatinya bahkan mengakui.

  1. Jangan beri mereka es krim!
  2. kalau mereka terus menangis, putar lagu Barney. Itu kesukaannya.

 

YEOBO HIMNAEYO!

Masih ada dua point lagi, Chanyeol bertekad untuk tidak melakukan kesalahan lagi kali ini. Ia beranjak untuk berbusana lantas mengambil pakaian yang cukup hangat untuk kedua jagoannya.

“SOEUN-AH! SEOJUN-AH! KITA BERMAIN HARI INI!”

***

Beruntung salju tidak turun hari ini, membuat area seluncur es dibulan Desember dipenuhi oleh pengunjung berbagai kategori.

Satu, anak-anak.

Dua, dewasa.

Tiga, Chanyeol and the boys.

Chanyeol mengambil seluruh atensi pengunjung dengan tampil seperti pria lajang yang sedang mencari pendamping diantara salju. Dengan rambut yang bermodel spike dan mantel berwarna navy. Kacamata hitam bermerk bertengger dihidungnya yang mulai memerah akibat udara yang dingin.

Namun dua bocah dengan mantel senada didekapannya menjelaskan semuanya.

Bagai papan reklame bertuliskan ‘HE’S MY DAD. JUST GET YOUR FUCKING LIFE’

Lalu beberapa menit kemudian, Chanyeol mulai dikerubungi oleh beberapa orang dewasa, sebagiannya membawa anak mereka. Bertanya soal umur dan nutrisi apa yang ia berikan, Chanyeol menjawabnya dengan senang hati, malah memberikan informasi ekstra dengan membeberkan rahasianya membuat anak kembar diusia semuda itu.

appa…” Seojun bersuara,  mengambil seluruh atensi Chanyeol dari orang-orang yang mengerubunginya.

“hm?” Chanyeol mengangkat alisnya, lalu mengusel-ngusel pipi miliknya dengan pipi Seojun yang kecil dan kenyal. “Aigoo, pipimu dingin. Pantas eomma melarangmu makan eskrim.”

“aku mau eskrim.” Seperti teringat akan sesuatu, Seoeun segera berseru.

“aku juga”

Dan mereka otomatis menangis ketika Chanyeol menggeleng. Gawat beterai ponsel Chanyeol bahkan terlalu lemah untuk memutar lagu Barney hingga habis.

***

Beberapa menit kemudian, mereka berakhir disebuah cafe di area seluncur. Dengan Seoeun dan Seojun yang masih menangis meminta es krim dimeja sudut. Sementara Chanyeol dengan wajah putus asanya sedang melakukan percakapan intens di kasir.

“apa kalian bisa memutarkan lagu Barney?”

“Ne?”

“ayolah lagu Barney, anak-anakku menangis disudut.”

“tapi Tuan, kami ti—“ perkataan wanita itu terhenti ketika Chanyeol meraih kertas nota dan pulpen yang tergeletak sembarang, menuliskan sesuatu disana lalu menyerahkannya pada wanita di kasir.

‘CARI KASET BARNEY ATAU AKU AKAN MEM-BARNEY-KAN CAFEMU’

“serahkan pada bosmu.”

Lalu Chanyeol pergi begitu saja, berjalan menuju meja disudut, hendak membawa kedua jagoannya keluar ketika netranya mendapati poster konser band disebuah bar di tengah kota Seoul.

“Tyrano Band.” Gumamnya membuat kedua bayi laki-lakinya mendadak terdiam dan menoleh pada arah yang sama dengan Chanyeol ketika mendengar nama binatang buas itu kembali di sebut. Labia Chanyeol membentuk kurva keatas tanpa sadar, berbagai aksi terputar di otaknya tanpa disuruh. Jiwa seorang anak band didalam diri Chanyeol langsung meluap tiba-tiba ditambah Tyrano Band adalah teman lamanya di industri musik. Ia tidak boleh melepaskan kesempatan ini begitu saja.

Aku yakin Seoeun dan Seojun akan menyukai yang satu ini, pikirnya.

“Kajja!”

***

Seoeun dan Seojun tidak menangis sama sekali sejak mereka memasuki bar dari beberapa menit yang lalu, manik kembar mereka menyusuri seluruh sudut bar, hampir terpukau dengan seluruh elemen yang ada, mulai dari lampu sorot hijau yang terus bergerak-gerak, hingga wanita-wanita berpakaian tidak seronoh yang mulai menggoda ayahnya walau jelas-jelas ada dua bayi didekapannya.

Namun Chanyeol sama sekali tidak mengindahkannya, pria itu sibuk menikmati alunan lalu semi metal yang dibawakan ‘Tyrano Band’ sembari menghentak-hentakan kakinya.

Lalu ketika sang vokalis menawarkan penonton untuk bernyanyi, Chanyeol langsung menjadi sukarelawan yang paling antusias. Awalnya ia hendak membawa dua bayi laki-laki mereka kepanggung namun takut mereka tak nyaman jadi ia berniat menitipkannya.

“Seoeun-ah, Seojun-ah. Kalian suka warna apa?”

“biru” saut Seojun.

“merah” saut Seoeun.

Dan Chanyeol menitipkan masing-masing anaknya pada wanita dengan warna pakaian favorit mereka.

***

Senyuman nampaknya tidak akan pernah luntur di wajah Chanyeol ketika ia berjalan menuju rumahnya dari mobil, mengingat bagaimana anak-anaknya tertawa dan berloncat-loncat riang ketika ia tampil dipanggung, bahkan mereka tidak menangis sama sekali walaupun berada di dekapan orang tidak dikenal!

Entah kenapa, Chanyeol merasa kini Seoeun dan Seojun menerimanya sebagai anggota dari sebuah Band, bagian dari industri musik yang keras.

Tangan besarnya mengusap kedua punggung kedua anaknya yang kini terlelap di dekapannya, mungkin kelelahan seharian ini terus bermain.

“Gomawo.”

Dan langkah besarnya terhenti, ketika netranya mendapati seorang wanita di depan pintu rumahnya.

“Yoona-ya—“

Raut wajah Yoona tidak terlalu bagus, manik kembarnya terus mengintimidasi Chanyeol dengan tatapan tajamnya, ditangannya terdapat ponsel miliknya yang sedari tadi ia remas cukup kencang.

“Aku tidak membawa mereka kesekolah”

“aku tahu.”

“tapi mereka tidak makan es krim!”

“tapi tetangga kita bilang kau pergi ke area seluncur es!”

“tapi mereka tidak makan salju disana!”

Yoona menghembuskan nafas berat seiring ia menunduk, mengusap wajahnya dengan kuasanya yang bebas. Bagian dalam dirinya terus bertanya-tanya, kapan suamiku akan datang? Kenapa aku merasa punya tiga anak?

“kapan kau akan menjadi ayah huh?”

“huh?” Chanyeol mengangkat alisnya bingung. “a-aku sudah menjadi ayahnya sejak tiga tahun yang lalu”

“ah begitu? temanku mengirimkan selfienya dengan Seojun. Dan ia bilang ada Seoeun dan ‘ayah’ nya disana.” Yoona berujar, sembari memperlihatkan foto tersebut dari ponselnya. Foto seorang wanita tidak dikenal berpakaian biru yang tengah menggendong Seojun yang tampak senang.

“itu hanya konser—“

“konser band metal! Itu tidak baik untuk mereka!” potong Yoona, kini manik matanya sudah dipenuhi oleh air mata yang membendung ingin keluar.

Chanyeol bungkam, untuk pertama kalinya, ia tidak tau harus berkata apa.

“apa itu berarti—aku juga tidak baik untuk mereka?”

Bukan—bukan itu yang Yoona maksud, tapi wanita itu tidak bisa berkata-kata lagi selain menangis lalu berakhir dengan mengangguk sembari berkata ‘Ya’ berulang-ulang. Memutar kembali saat-saat dimana dirinya satu-satunya orang yang tidak tidur di malam hari untuk menjaga bayi mereka, saat Chanyeol bahkan takut dengan kotoran bayinya sendiri.

“aku ingin pulang. Berikan anak-anak padaku.” Ujar Yoona sembari terisak.

“mereka sedang tidur, jangan bangunkan mereka.” Chanyeol akhirnya masuk kedalam rumah, mrninggalkan Yoona yang terisak diluar, menempatkan kedua bayi laki-lakinya di tempat tidur mereka, lalu kembali setelah sebelumnya mengecup pipi mereka.

“aku yang pergi, kau bisa tinggal disini.”

***

25 Desember 2015

Yoona PoV

Aku menghabiskan natal kali ini hanya bertiga dengan Seoeun dan Seojun, bertukar—memberi—kado, lalu memakan pie apel kesukaan seorang Park Chanyeol seorang diri, aku tidak tau kenapa aku membuat ini namun rasanya aku hanya menjalankan kewajiban selama tiga tahun terakhir.

Sementara Seoeun dan Seojun terus berkejar-kejaran disepanjang koridor dengan baju Thomas and Friend kebesaran pemberian Chanyeol sebelum ia meninggalkan rumah ini.

Lalu aku tiba-tiba teringat peristiwa 2 tahun lalu…..

Tepatnya saat aku sakit demam di malam natal, aku mendengar Seoeun dan Seojun menangis dari kamar sebelah. Aku menoleh pada Chanyeol yang sedang merebahkan tubuhnya disampingku, menatapku, dengan kaos Thomas And Friend favoritnya. Ia beranjak dari sana, seolah mengerti tatapanku. Tapi yang benar saja? Seorang Park Chanyeol menenangkan bayi?

Aku terdiam di posisiku, mendengarkan suara tangis bayiku bersahutan dengan gerutun Chanyeol soal cairan kuning dan sesuatu yang bau. Tanpa sadar aku terkekeh, membayangkan wajahnya yang mungkin sudah seperti Thomas dibajunya.

Aku masih berpegangan pada kusen pintu kamar Seoeun dan Seojun, terhenyak dengan pemandangan yang aku lihat sekarang. Chanyeol tanpa baju sedang menggendong Seoeun dan Seojun yang sudah terbalut dengan kain putih bergambar Thomas And Friend ditengahnya, itu baju Chanyeol. Yang tujuh menit yang lalu masih bersih tanpa kotoran anaknya.

“kau bilang mereka suka Thomas And Friend” ucapnya saat matanya yang merah seperti ingin menangis bertemu pandang denganku.

Aku tersenyum, lalu berlajan kearahnya. Pening dikepalaku dengan ajaibnya sudah tidak terasa lagi. Aku mengambil Seoeun dari dekapannya lalu berjinjit, hendak mencium bibirnya yang penuh namun segera ia hentikan, katanya itu dapat menganggu jiwa bayi kembar kami. Yang benar saja? Tapi aku sedang tidak mood berdebat dan akhirnya aku mencium mata kanannya saja.

Dan itu pertama kalinya Park Chanyeol tampak seperti seorang ayah.

Aku tersadar dari lamunanku ketika menyadari bel rumahku terus berbunyi sedari tadi, aku langsung beranjak membukakan pintu dan mendapati pria tambun yang tidakku kenal.

“Paman Tyranosaurus!”

“GRRRRR”

Aku menoleh pada Seoeun dan Seojun yang tampaknya mengenal pria tambun ini, kurasakan keningku berkerut bingung, dari mana mereka bisa mengenal pria ini?

“HAHAHA anakmu cerdas, mereka masih mengingatku.” Ujar pria tambun itu, dan aku hanya tertawa canggung.

“ah dimana Park Chanyeol?”

“h-hm? Ah itu—“

“eh apa terjadi sesuatu?”

Aniyo, hanya—“ aku bingung apa yang harus aku katakan pada pria tak dikenal ini soal masalahku. Jadi aku hanya mempersilahkannya masuk, menyuguhkannya hidangan natal, lalu diam sepanjang waktu.

Dan pria tambun ini malah asik bermain dengan Seoeun dan Seojun, tak mengindahkan aku disini yang berharap ia akan pulang kapan saja.

“ya—ya! Liat paman punya rekaman appa mu bernyanyi di konserku.” Ujar pria tambun tersebut meraih atensi kedua bayi laki-lakiku, ia mengeluarkan ponselnya lalu memutar sebuah video disana.

Aku tak ingin melihatnya.

Aku tak—

Tunggu.

lagu yang keluar bukan sesuai ekspektasiku, bukan lagu metal atau lagu penuh cacian, malahan lagu Barney dengan suara bariton khas Chanyeol, yang hanya diiringi oleh petikan gitar.

“B-Barney?” aku menoleh menatap pria tambun itu dengan heran, dan Seoeun Seojun yang ikut bernyanyi sampai akhir.

***

Pria tambun itu menjelaskan semuanya, soal tujuannya kesini untuk bertemu teman lamanya di hari natal, soal dirinya yang merupakan anggota band Tyrano, soal Chanyeol yang ingin menenangkan anaknya yang menangis, soal Chanyeol yang pada akhirnya menyanyi lagu Barney dikonsernya, membuat hampir seluruh penontonnya terdiam bingung kecuali Seoeun dan Seojun yang terus menari.

Dan aku mulai menyalahkan diriku sendiri.

***

Acara natal tahun-an playgroup Seoeun dan Seojun diadakan di auditorium, keluarga dari masing-masing anak berkumpul lalu maju kedepan satu-satu, menyumbangkan penampilan mereka; bernyanyi, menari, baca puisi, dan lainnya.

Sementara aku yang baru ditahun pertama memasukan mereka di sekolah ini, masih bingung harus menampilkan apa, sementara Seoeun dan Seojun tampak bergelautan ditanganku sembari melihat penampilan acuh-tak acuh.

Seharusnya Chanyeol tampil.

Ya—Chanyeol.

Kami bahkan tidak berhubungan lagi setelah hari itu.

APPA!! APPA!!”

Lamunanku buyar ketika Seoeun dan Seojun berteriak kegirangan dari tempatku, menunjuk-nunjuk panggung yang kini sudah dipenuhi oleh beberapa pria dengan instrumen mereka.

Itu band Chanyeol—aku tidak tau mereka mengubah konsep atau apa, tapi mereka memakai setelan jas hari ini.

Biasanya mereka tampil seksi dengan baju yang memamerkan otot lengan mereka, dengan rambut dicat berbagai warna yang acak-acakan, dengan lagu penuh sumpah serapah terkeren sedunia—menurutnya.

Entah aku salah lihat, rambut Chanyeol kini dicat warna hitam senada dengan kemeja dan jasnya. Gitar akustik bertengger ditangannya sementara wajahnya terus dihiasi senyuman lebar.

Dan lagu Barney mulai dimainkan.

Anak-anak seumuran Seoeun dan Seojun terus menari dan berbanyi, sementara Chanyeol ditengah penampilannya melirik kearahku, lantas mengangkat alisnya dan tersenyum. Aku hanya bisa diam terpaku ditempat, memikirkan sebenarnya apa yang berada diotaknya. Minggu lalu ia seperti bayiku, sekarang menjadi suami tertampan sedunia, mungkin besok ia akan hamil.

Lagu Barney sudah selesai dimainkan dan Chanyeol beserta bandnya berjalan masuk kebelakang panggung setelah sebelumnya melambai pada Seoeun dan Seojun yang terus memanggilnya.

Lalu sedetik kemudian ponselku bergetar, menandakan pesan masuk dari seseorang. Agak terkejut ketika nomor Chanyeol yang mengirim pesan, buru-buru aku membukannya.

Liquid merah dalam tubuhku berdesir cepat seiring aku membaca kata demi kata dalam pesannya. Aku ingin tertawa, tapi dalam waktu yang bersamaan aku ingin menangis.

‘aku sudah menjadi seorang ayah kan?’

Dan ia mengirim lagi pesan.

’oh ya saat itu aku memandikan mereka dengan sabunku’

Aku tidak peduli, bisakah kau pulang?

 

FIN

 

HAHAHAHAHA aneh ya? maafin😦

fyi ini post pertama aku sebagai author tetap. terus kenapa. ya gapapa😦

fyi lagi, aku udah bikin sequel nya dong. terus kenapa. ya gapapa😦

 

78 thoughts on “APPA HIMNAEYO!

  1. Akhhhh gilakkk chanyeol keren banget jd ayah (y) it anak kembar yg d “return of the superman’ kan? Ak suka banget ff ini 😁 buat banyak2 ff kek gini thor 😀 keep writing~

  2. Yaaampun keren banget, sumpah udah lama banget gak baca ff romance married life yang udah punya anak giniii!! Keren dari alur dan bahasanya. Pokoknya jalan ceritanya bikin ketawa iyaa bikin sedih juga iyaa. Awalnya seru akhirnya dramatis. Pecah deh pecah. Makasih ya author! Semanfat terus buat ff kaya gini, semoga makin banyak makin panjang. Btw anaknya kebanyak daehanminggukmanse ^^

  3. IHHHHHHH! Aku suka, suka banget! Suka banget sama kata-katanya yang kedengeran asik, suka sama idenya, Warbyazaaaaa! Dan tentunya suka banget sama Chanyeol yg… gilaaaaaak, pokoknya aku suka banget dia di sini, tipe2 ayah ganteng konyol gt. Jadi pgn jadi Yoona hahahaha😀

    btw, selamat datang di Yoongexo ya. Terus berkarya, dan pastinya sangat ditunggu😀

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s