Ending

Yoona

Roxxiedite

Yoona Im  x  Chanyeol Park
AU, Romance, slight!Fluff, slight!Sad  \\  2.291 words [Oneshot]  \\ Teen

Summary:
Hubungan mereka mungkin membaik. Tapi besar lagi kemungkinan  nilai praktek mereka akan berakhir mengenaskan.


Berkutat bersama tumpukan buku, Yoona lama-lama sampai juga di tingkat jenuh. Hampir sejam terkurung dalam ruangan serba putih seorang diri ketika para penghuni kelas berderet-deret menyerbu pintu usai jam kuliah tuntas, justru meninggalkan presensi Yoona seperti hantu tak kasat mata. Merutuk dia sudah pasti. Namun, lain hati bicara, mulut bertindak. Gadis bermanik terang itu serta-merta mengunci cela bibir tanpa niat-niatan tambah dosa, menodai kepolosan dengan sumpah serapah bukanlah style-nya.

“Tak pernah aku melihatmu sekacau ini. Punya masalah?”

Yoona melongo menyambangi asal suara, menyambut sosok bersurai panjang tengah berkerut dahi menilik keadaannya. Tak tanggung-tanggung ujung kaki hingga penghujung titik kepala Yoona ia teliti.

Samar-samar kurva tipis terpahat di lekuk wajah Yoona, perlahan hilang sambil katupnya berucap.”Masalah tugas menumpuk, lebih tepat begitu.” Yoona berdiri, mulai sibuk membereskan kumpulan buku pemberat hari pinjaman milik Yuri.

Ah, benar saja kata Taeyeon, Yoona memang nampak kacau. Helai auburnnya ia ikat asal kebelakang, menambah sempurna kesan berantakan; Kulit pucat; atau, jangan lupakan kantung mata yang bertengger di bawah kerlip matanya. Yah, Cermin di dinding tak akan mampu berbohong ‘kan?

“kupikir aku juga kurang tidur.” Tambah Yoona, spontan melepas pandang menjamah visual Taeyeon― yang kini duduk santai sambil melipat kaki pada salah satu kursi, lantas buru-buru meraih backpack mocassin yang tegeletak manis di atas bangku.

“Mau frappuccino? Biar aku yang traktir.”

 

Nama Yoona tidak tercatat dalam jejeran anak yang punya segudang teman, berinteraksi di kelas saja dia perlu mengerahkan seribu usaha agar dapat aktif di kalangan mereka. Namun, hasil berbeda yang di terima dari perjuangannya. Justru teman satu jurusan Yoona lebih ke arah segan sekedar berbicara atau menyapa. Hidup memang tak semulus yang dikira, menyandang gelar murid terbaik selama satu semester dan dikenal punya julukan ratu kampus adalah gundukan terjal penghalang utama untuk Yoona bisa bersosialisasi.

Mungkin… ―hanya Taeyeon? Tipe manusia berperilaku extrovert macam Gadis itu memang kawan akrabnya, bahkan sejak mereka masih menginjak zaman-zaman ‘usia tanggung’.

 

“Ponselku ketinggalan di kelas.”

 

Yah, Yoona tahu segalanya; Termasuk tentang Kecerobohan Taeyeon yang tiada tanding.

Tubuh Yoona siaga berdiri di tempat, seraya pasang netranya bergulir mengawasi sekitar. Oh, ayolah, Taeyeon hanya ingin mengambil ponselnya yang tertinggal, bukan mau mencuri. Lantas saja Gadis itu sedikit terbahak menangkap gelagat Yoona.

“Kau kenapa?” Tanya Taeyeon tiba-tiba. Yoona terkesiap, membalas dengan melempar raut cemas. Kontan langsung menarik lengan Taeyeon, “Ayo pulang, pekerjaan rumahku masih banyak.”

Punya feeling kelewat tajam, satu hal lagi dari sekian banyak pembawaan positif Taeyeon― yang sayangnya Yoona benci.

 

“Hey, kau ada masalah ya dengan Chanyeol?”

 

‘Kan!

Menoleh menanggapi, Yoona berlagak tenang setelah barusan diinvasi oleh pertanyaan Taeyeon. Mengangkat bahu seakan menegaskan ‘semua baik-baik saja’, pun kenyataan berbanding terbalik. Alih-alih menandaskan topik, Taeyeon malah kentara sekali semangat memperpanjang obrolan di samping Yoona yang terus menuntut Si Gadis untuk berhenti― menuntut dalam relung maksudnya.

Menjejakan kaki keluar, mereka berjalan beriringan melintasi koridor. Sepi, semua pasti sudah pulang.

“Beberapa hari ini Chanyeol agak menggila, mulutnya jadi kasar… ―Ah, aku bahkan terlalu muak mengingat tingkah brengseknya. Kalian bertengkar?” Yoona masih betah meneguk frappuccino yang tinggal setengah, serta menatap Taeyeon yang kini diliputi gumpalan kekesalan sesaat mengeluarkan potongan-potongan pendek cerita.

“..Brengsek?” Alih Yoona menekan kata dibalas anggukan mantap Taeyeon.

“Aku sempat adu mulut dengannya kemarin. Kupikir defnisi ‘brengsek’ sangat cocok untuk Chanyeol.” Jawab Taeyeon ala kadar. Yoona juga masa bodo sihtoh ini bukan kali pertama mereka bergulat hebat merangkai gunungan kata-kata pedas.

frappuccinoku habis… ― Yoona, aku minta se…”

 

BRUK

 

Buyar.

Seluruh buku tiga tumpuk yang ditentengnya terjun mencium lantai, plus beberapa kertas dalam folder yang tanpa bisa dicegah melayang cantik jatuh ke dasar kaki. Sialan, frappuccinonya tumpah mengguyur sisa-sisa tugas yang harus dikumpul besok pagi.

Sigh.

Alih-alih menyembur Si penabrak dengan umpatan keji, Yoona justru memilih bungkam sembari memunguti buku-buku yang berhamparan. Di pikir-pikir Percuma juga kalau dia marah, tugasnya tak bakal kembali normal telah jadi realita permanent.

 

“Jalan pakai mata dong, Chanyeol!”

 

C-Chanyeol?

Jangan bilang Chanyeol yang… ―

 

Oh!

 

Jantung Yoona runtuh, membeku bersama rahangnya yang ikut turun memandangi iris mahoni yang sukses mengunci inti kesadaran Yoona. Lamat-lamat menenggelamkannya dalam terang netra, membuatnya seolah tengah terhisap sepenuhnya.

Chanyeol menyodorkan tumpukan buku sebelum sempat Yoona bereskan, kertas-kertas putih berhiaskan noda cokelat bekas frappuccino, dan folder warna kuning. Entah bagaimana menjelaskan kondisinya, Gadis itu bagai seonggok raga tak bernyawa menyambut pemberian Chanyeol dalam senyap.

Langsung saja tubuh tegap itu berdiri meninggalkan eksistensi Yoona,  sekedar menyelipkan basa-basi pengusir rasa canggung pun enggan.

Derap langkah berat Chanyeol menguar di koridor seiring hilangnya siluet Si Lelaki. Dan, Yoona dirasa masih perlu mengontrol debar jantung sampai Taeyeon menyahut di belakang, nada bicaranya berhiaskan intonasi rendah.

“Jelaskan padaku apa yang terjadi, Im Yoona.”

“Besok penampilan, Chanyeol saja berlaku seperti batu tiap bertatap muka denganmu.” Mengintip dari ujung mata, Taeyeon menghampiri keberadaan Yoona yang nampak nyaman berkomat-kamit menghafal barisan skenario. Lantas Gadis itu kembali berkutat dengan kumpulan teksnya. “Kenapa kalian bisa bertengkar? Ada-ada saja..” Retoris sekali, Taeyeon jelas menyinggungnya.

“Aku latihan dulu, jaga tempatku sebentar.” Beranjak dari kursi lipat, Yoona berlalu memilih menyegarkan pikiran. Taeyeon benar-benar, entah karena Yoona yang terlalu sensitif atau apa, mendengar cibiran yang berakhir memojokannya sungguh membuat Yoona nyaris menjejalkan kamus setebal lima senti bahasa jerman milik Yuri ke mulut tajam Taeyeon.

Tahu saja kalau Gadis itu tak berpihak dengan Yoona, dasar.

 

“Hey, ayo latihan.”

 

Tatkala bunyi bariton mengalihkan atensi Yoona, tubuhnya refleks berputar mendapati Chanyeol tengah berdiri sejauh tiga pijakan dari tempat. Kemudian berangsur-angsur mendekat menghapus spasi jarak, seraya iris selaras kayu mahoni itu menusuk obsidian Yoona membuat Si Gadis kelewat lelah untuk menghadapi apa yang akan terjadi selanjutnya.

Tangan Chanyeol tertadah, seraya posisi badannya membungkuk hormat. “Ingin menari denganku?” Ajaknya.

Jangan berpikiran miring karena ini hanyalah salah satu dari sekian banyak scene berbumbu romansa klasik yang terpaksa harus mereka lakoni. Tolong garis bawahi, terpaksa.

Menyingkirkan segala kegugupan terlebih dia juga malas mengulur waktu, Yoona melempar asal kertas naskahnya ke dinding pojok aula. Ragu-ragu kendati akhirnya menyambut tangan Chanyeol hingga terpaut menyatukan jari masing-masing. Tanpa ada bimbang yang menguasai, Chanyeol mencapai pinggang ramping Yoona― mendekapnya erat seiring mempersempit batas transparan antar mereka.

Kaki jenjang Yoona mundur selangkah, tetapi sebab obsesi Chanyeol yang sungguh dimabuk hendak memainkan adegan ini menjadikan posisi Yoona malah makin merapat― Chanyeol menahan punggungnya. Dia mengangkat satu tangan memimpin Yoona melakukan pergerakan dansa, seakan dentum musik menemani kegiatan mereka.

 

“Aku tanya, apa hubunganmu dengan Sehun?”

 

Yoona dijebak, lekas saja menepis pegangan Chanyeol walau berujung gagal. “Ini yang terakhir, aku janji.” Ujar Chanyeol masih mempertahankan Yoona, terus membiarkan Gadis itu mengikuti ritme gerakan dansa pelannya.

Mengangkat kepala, percikan kesal jelas terpatri di kilatan manik Yoona. Dia terlanjur bosan setelah hampir sepuluh kali Chanyeol menanyakan kalimat serupa, meski pada akhirnya ditanggapi dengan penolakan sarkastis.

“Dia sepupuku, puas?”

Chanyeol menyuarakan tawa hambar. “Aniy, kau berbohong sekarang.”

“Aku serius, Park.”

“Kau pikir aku bercanda?”

Tempo gerakan makin cepat, dengan Chanyeol yang dapat peran dadakan sebagai pengintruksi Yoona. Memutar mengelilingi pusat inti aula, menjadikan mereka bak Belle dan Buruk rupa di negeri Disney. Pemandang ini terbilang indah dan menyia-nyiakannya termasuk perbuatan salah. Terbukti dengan beberapa pemain proyek drama lain tampak begitu menikmati adegan yang tersaji yang katanya sih mesra. Well, mereka hanya terlalu naif untuk mengetahui kenyataan buruk dalam perang dingin antara Chanyeol dan Yoona pada detik itu.

Spekulasi pendek saja. Yoona pacaran dengan Chanyeol; mereka saling suka; hidup bahagia; Selesai.

Hah, bodoh.

“Aku minta penjelasan masuk akal, atau semua berakhir.” Ancam Chanyeol, menimbulkan reaksi samar Yoona, tak terbaca sama sekali. Chanyeol menarik tubuh Yoona, sampai menyentuh dada bidangnya memancing reaksi berupa seruan heboh audiens― Tepatnya anggota klub drama yang seketika mengklaim diri  menjadi penonton ilegal.

“Kau ingin kita berakhir? Huh?” Ulang Yoona tersulut emosi.

Chanyeol berdecih kesal. “Siapa yang ingin mengakhiri? Aku?” Sesaat membuang muka, Yoona kembali meraup perhatian Chanyeol, menampakan kilau cairan tipis yang bersiap tumpah membentuk sungai di pelupuk matanya. “Lalu, apa susahnya percaya denganku?” Imbuh Yoona, suaranya bergetar.

“Aku butuh bukti.”

“Kalau aku berbohong, hubungan ini tak akan berlanjut setelah kau melihatku pergi dengan Sehun. Aku pasti sudah memutuskanmu sejak awal.”

“Dan sekarang kau tengah menyembunyikan semuanya dalam bualanmu? Benar saja.”

Yoona berpaling, mendadak sepasang tungkainya berhenti.

“Berakhir?” Yoona berkata semena-mena, secara gamblang meminta penuturan Chanyeol.

“Apa yang m.. ―”

“Baik, kau ingin berakhir. Aku terima.”

Menampik kasar tangan Chanyeol yang mengurung pinggangnya, Lelaki itu malah mempererat pegangannya. “Aku belum sel.. ―”

“Lepaskan.” Potong Yoona, berusaha mendorong keberadaan Chanyeol menjauh.

“Yoona.”

Berhasil, Yoona menghempas Tangan Chanyeol yang seenak hati menyentuhnya. Berjalan membelakangi tanpa mau tahu lagi keadaan macam apa yang sedang mengkekang mereka.

Singkatnya, dia menangis akibat ulah Chanyeol. Lagi.

“Aku yakin drama kita akan menang banyak saat voting nanti, berkat Yoona tentunya.” Ahra menepuk-nepuk lembut pipi tirus Yoona, memoleskan bedak tipis pada kulit mulus itu. Kiranya sekedar melempar kekehan kecil, Yoona justru menekuk wajah kesal. Berpura-pura tuli walau sejatinya ruang ganti kini tengah diliputi bisik-bisik perihal kejadian kemarin.

“Ahra, Jang Saem memanggilmu.” Sebuah suara bertandang ke telinga Yoona, melihat perawakan Taeyeon berkostum gaun warna putih gading tengah menghampirinya. “Yoona, tunggu sebentar.” Pinta Ahra sebelum akhirnya lenyap dimakan keramaian.

Taeyeon menarik kursi, mengambil tempat persis disanding meja make up Yoona. “Hubunganmu dengan Chanyeol selesai? Kalian serius?” Menyerbu penuh tanya meminta jawaban, Taeyeon memulai start percakapan yang jadi kode merah bagi Yoona.

Yoona melayangkan fokusnya, ikut bertengger menopang dagu meniru Taeyeon.

“Dia yang mau.”

“Lalu, kau bagaimana? Aku mengkhawatirkanmu.”

“Jangan pedulikan aku, geli tahu.” Tandas Yoona membentuk lengkung tipis di bibirnya, dia malas memperumit. Lagipula ini limitnya, selepas proyek drama mereka kelar, status Yoona dan Chanyeol tak akan lebih dari segaris teman satu jurusan; Tamat.

“Taeyeon-ssi!!” Teriakan Jongin menginterupsi, yang dipanggil hanya mengangkat tangan seolah-olah mengatakan ‘tunggu!’.

“Yoona, setelah ini giliranku.”

Tepukan Taeyeon membangunkan Yoona dari lamunan, segera Gadis itu beranjak pergi menuju tirai pembuka setelah memamerkan simpul senyum cerahnya. Tunggu, berarti sepuluh menit lagi Yoona sudah harus bersiap, make up nya bahkan belum terjamah oleh tangan Ahra.

 

“Chanyeol, diam di sana. Aku akan mengatasi kalian berdua.”

 

Oh, Ahra sialan.

Pupil Yoona bergerak menyapu pemandangan, selintas menyentuh bayang Chanyeol― Lelaki lupa diri― sedang duduk tenang menunggu Ahra mengambil peralatan make up. Memainkan ponselnya, Lelaki itu berlagak buta sekedar memandang  Yoona yang tengah menopang dagu pada penyangga tangan kursi.

“Kau sudah hafal semua naskahnya?”

Yoona sekilas melirik, kemudian berbalik menggapai pantulan dirinya di cermin. Ingin mencairkan suasana? huh? “Sudah terhafal di luar kepalaku.” Jawabnya sekadar.

“Eumm, baguslah.”

Awkward level dewa, sempat sesekali Yoona menghembuskan nafasnya berat. Atau aktivitas Chanyeol menggaruk tengkuk yang terasa gatal pun tidak. Belum jarum jam menunjuk tiga menit, sejenak Yoona dibuat tercenung mendengar lanjutan kalimat Chanyeol..

 

“Setelah ini benar-benar berakhir? Kau serius?”

Chanyeol menuntun lembut jemari Yoona, mengajaknya berdansa dengan perlahan. Sebentar lagi  klimaks cerita akan terjadi dan mengakui kalau Yoona membenci ending karya picisan Jang Saem memang suatu hal nyata. Siapapun yang terperangkap dalam situasi gantung seperti ini, suasana hatinya tak akan pernah tenang sebelum mendengar tepuk tangan penonton sebagai ciri  pengakhiran drama nanti.

“Lilian, mari kita hidup bersama.” Seringai tipis menyertai ketampanannya, citra pengeran antagonis yang ia perankan sungguh terasa, sangat cocok.

Gerak pegangan Chanyeol menguat mencengkram pingggang Yoona, sebelah tangan digunakan menahan punggung kurus Si Gadis. Tempo dansa mereka makin cepat, selanjutnya Yoona mengangkat tangan, mengalungkan pada tengkuk Chanyeol sesuai apa yang diisyaratkan Jang Saem.

Yoona pasang senyum miring, menimpali dengan sepatah kata. “Haruskah?”

Dan Chanyeol tak kalah menggoda kala itu sambil ujung bibirnya terangkat, berhasil memecah seruan histeris dari reaksi ambigu para penonton dalam gedung pertunjukan. Hingga potongan kalimat membuat semua terperangah..

“Tentu, karena kau miliku… ―”

 

“… Im Yoona.”

 

Bersemu, pipi Yoona terbakar panas tensi ruangan. Chanyeol, apa yang baru saja kau lakukan? Nama peran Yoona L-I-L-I-A-N di sini, ouh gila.

Jika terus bermain-main, Jang Saem pastilah dengan suka rela memotong leher mereka di belakang panggung sehabis drama usai, parahnya lagi kalau nilai praktek di pangkas habis jadi bilangan warna merah. Mimpi buruk!

Chanyeol menggiring Yoona ke tengah-tengah pentas, masih menggenggam pinggangnya bersama satu tangan yang menuntun, saling bertukar sorot membuat satu gedung menjerit heboh menanti kelanjutan pasti drama. Okay, chemistry mereka terbilang kuat.

Bertemu pandang, cengkraman Chanyeol melemah menyentuh permukaan kulit Yoona. Menempatkan Si cantik membelakangi penonton ketika Chanyeol berbeda arah menghadapi segerombolan manusia bermata gatal yang bersorak-sorak ria di sederet bangku depan pentas.

Yoona mengatur pola pernafasan, berusaha bersikap santai meski faktanya Yoona setengah mati dilanda kerisauan.

Ini puncak drama.

 

“Mianhae, ayo kita kencan setelah aku membereskan event-event di lapangan.”

 

Persetan dengan dialog abal Chanyeol yang bahkan tak tercantum di naskah, mereka para penonton picik semakin riuh mengompori.

“Park Chanyeol!! Ingat naskahmu bodoh!!” Bisik-bisik kuat dari samping pentas menggema, mencoba menyadarkan Chanyeol yang sedang dalam tahap kurang kontrol.

 

“Aku mencintaimu.” Pungkasnya.

 

Menangkup wajah Yoona dengan kedua tangan, Chanyeol makin mendekat menyingkirkan jarak penghalang. Yoona mengukirnya di memori otak, pesan Jang Saem jangan sampai ‘menyentuh’ atau konsekuensi nilai mereka akan dipotong setengah dari poin-poin praktek ini. Dia tahu betul Chanyeol itu maniak nilai tinggi, jadi tak perlu mencemaskan Si Lelaki kalau-kalau berpikiran mau melakukan perbuatan kurang ajar di atas pentas melibatkan Yoona.

Atau, lain masalah jika nasib buruk berpihak padanya.

 

“OMO!!!”

 

“DAEBAK!!!”

 

“PARK CHANYEOL!!!”

 

Di naskah hanya menyuruh pemeran utama mengambil posisi tepat agar kissing scene terlihat nyata dari bangku audiens. Dan Chanyeol dengan senang hati melakukan diluar perintah teks, Lelaki itu melebih-lebihkannya. Melumat bibir Yoona seenak jidat tanpa peringatan, bahkan pakai acara menutup mata segala walau dinyatakan sukses membawa Yoona masuk ke dalam jurang berdosa ciptaan Chanyeol.

 

Hubungan mereka mungkin membaik. Tapi besar lagi kemungkinan  nilai praktek mereka akan berakhir mengenaskan.

Terima kasih, Chanyeol.

.

.

.

.

.

.

End

Ini ff absurd banget dan apa memang pantas untuk aku post, banyak kekurangan dan bahasanya maksa gila  T-T  Okay, Yoonyeol shipper, aku minta reviewnya donk!! Kalau ada yang mau menghujat tulisanku, monggo, silahkan~~  Hatiku terbuka untuk kalian…

25 thoughts on “Ending

  1. EH GILAK FFNYA BIKIN SENYUM” SENDIRI😂 pemilihan katanya menyihirkuh thorr😂 oiya salam yoonyeol shipper thorr! Mereka selalu dihati!😁 Keep writing thorr aku ketagihan sama bahasa plus alurnya

  2. Inii gak absuurd koo, keren parah wkwk soalnya sebenernya ini tuh ceritanya simple, but dibikin lebih meliuk liuk dari segi bahasanya. Makasih ya author! Semangat teruuus

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s