BAB IV HIS WEDDING ORGANIZER

his-wedding22-copy

His Wedding Organizer

PrologBab IBab IIBab III – Bab IV

                Disana ia menyandarkan tubuhnya, disalah satu bangku yang tersedia di sebuah taman kecil depan Butiknya. Matanya memejam membiarkan hembusan angin menerbangkan satu-persatu anak rambutnya. Sesekali terdengar hembusan nafas gusar dari bibir pinknya, ia gusar. Itu tidak dipungkirinya. Kehidupan yang telah dia bangun dari awal kini kembali meretak, dan penyebabnya tetaplah orang itu.

                “Apa maumu?” gumamnya lirih, ia takut. Sangat takut jika apa yang selama ini dipikirkannya terjadi, kehilangan kedua malaikat cantiknya. Tidak, ia menggeleng kuat-kuat. Pasti ada cara lain, ia bisa menggunakan pengacara dan membawa ke jalur hukum jika itu mau Sehun. Dan ia akan meminta bantuan siapapun untuk menolongnya –atau bahkan Presiden Korea sekalipun-.

                Kedua mata itu kembali terbuka, ia menatap langit-langit yang mulai meredup berubah warna menjadi jingga, matahari pun tak seterik siang tadi. Tapi entah mengapa ia sama sekali enggan beranjak dari tempatnya, ia hanya butuh tenang. Memikirkan semua skenario terburuk dalam hidupnya.

.

.

.

                Tak jauh dari tempatnya, di dalam Butik miliknya Soo Young terus berdiri didepan sebuah kaca besar yang menjadi sekat antara dirinya dan dunia diluar. Ia memandang Yoona, wanita yang notabane adalah Bosnya. Wanita yang sangat disayanginya, seperti Kim Jongin yang telah berjanji akan menjaga Yoona selalu. Soo Young bahkan juga melakukannya, ia akan melakukan apapun agar wanita itu bahagia. Yoona adalah adiknya, setidaknya ia menganggap seperti itu. Dan sejak tadi Soo Young tau ada yang tidak beres dengan Yoona. Sejak menerima telfon dari seseorang entah siapa Yoona jadi banyak diam. Ragu, ia memutuskan keluar dari Butik menghampiri Yoona yang masih termenung. Dan benar saja, wanita itu bahkan tidak menyadari dirinya disana.

                “Yoona..” Yoona mendongak mendapati Soo Young berdiri disampingnya, ia tersenyum tipis membiarkan Soo Young duduk disampingnya. “Unnie, apakah aku pergi terlalu lama?”

                Soo Young menggeleng, “Kau ada masalah Yoong?”

                “Dia kembali Unnie-ya. Dia kembali” ucap Yoona pelan. Toh cepat atau lambat semuanya akan terbongkar bukan? Dan juga Soo Young memang pantas mengetahui semuanya mengingat bagaimana wanita itu sangat berjasa membantunya berdiri disaat terpuruk. Soo Young mengernyitkan dahinya. “Siapa Yoona? Siapa yang kembali?”

                “Ayah Christ dan Cale..”

 

His Wedding Organizer

 

                Sehun memijat kepalanya yang sejak tadi tidak berhenti berdenyut-denyut. Sementara Jessica hanya duduk diam menundukkan kepalanya. Ia bingung, tentu saja adiknya mungkin jauh lebih bingung sekarang. “Apa Stephanie mengetahui semua ini?”

                Hening, Sehun hanya memberi kode gelengan sebagai jawabannya. Jessica menghela nafas lagi. Ia tahu Stephanie calon adik iparnya itu seperti apa, sejujurnya sejak awal ia tidak menyukai jika Sehun dijodohkan dengan wanita itu. Berkali-kali ia meminta Sehun untuk berhenti tapi pria itu hanya diam bagaikan robot menuruti perkataan orang tuanya. Hidup Sehun tidak berbeda dengan hidupnya, meski ia juga menikah karna dijodohkan oleh orang tuanya. Setidaknya Kris mencintai dia seperti dia mencintai Kris. Mereka bahagia, tapi bagaimana dengan Sehun kelak?

                Sehun masih memejamkan matanya, kemudian ingatan masa lalunya pun mulai kembali.

                “You are asshole Drew!” Aku mendongak mendapati Irene berdiri didepanku dengan wajah dinginnya. “Apa yang kau?-”

                “Harusnya aku tidak pernah mengenalkanmu pada Calista! Kau menghancurkannya Drew, kau menghancurkan masa depan sahabatku!!” pekiknya membuat seluruh manusia yang berada disekitar kami sontak menatap kearah kami. Aku membekap mulut Irene dan menariknya ke Taman depan Kampus kami. “Apa kau gila? Kau memarahiku didepan orang banyak Jung Irene!”

                Plak. “itu untuk Cale” desisnya kemudian beranjak meninggalkanku. Aku tidak mengerti sama sekali, apa yang terjadi sebenarnya?

                “Irene katakan apa yang terjadi?” tanyaku menenangkannya. Irene menatapku kesal. “Karna kau, Cale dikeluarkan dari Universitas, karna kau Cale diusir dari Asrama dan keluarganya. Dan hari ini dia akan meninggalkan asrama. Aku bersumpah Drew Oh, jika hidup Cale benar-benar hancur karnamu, aku akan membuat perhitungan!”

                Irene menghempaskan kedua tanganku dilengannya. “Kau akan menyesal Drew”

                Aku terduduk diam memikirkan semua perkataan Irene. Dikeluarkan dari Universitas, diusir dari Asrama dan keluarganya. Aku memutuskan untuk mendatangi asramanya, aku berlari di lorong asrama wanita dan beberapa kali bertubrukan dengan orang-orang didepanku. Kemudian langkahku terhenti di depan kamarnya. “Cale? Aku tau kau didalam Cale”

                Hening. Aku mengetuknya berkali-kali. “Kumohon keluarlah, kita perlu bicara Cale, aku perlu bicara denganmu”

                “Calista! Keluar atau aku akan mendobrak pintu ini” kali ini nada suara ku meninggi. Aku tau dia masih didalam, aku bisa merasakan dia ada didekatku. Aku masih bisa merasakan jantungku berdetak sangat cepat dan itu berarti dia ada didalam. “Calista!”

                “Hey, berisik sekali kau!” entah suara pekikan dari mana tidak aku abaikan. Aku terus mengetuk pintu kamarnya sampai akhirnya pintu kamar itu terbuka, senyumku mengembang. Tapi, bukan dia yang keluar melainkan roommate-nya. “Dia sudah pergi..”

                Aku menggeleng, tidak. “Dia ada didalam, dia ada didalam. Aku tau itu. Krys tolong, aku ingin bicara dengannya”

                “Dia sudah pergi Drew, kau terlambat. Dia tidak akan pernah kembali lagi kesini” Brak. Dan pintu itu tertutup. Aku masih diam didepan kamarnya dengan berbagai pikiran berkecamuk dikepalaku. Mengapa Calista melakukan ini?

 

 

His Wedding Organizer

 

                “Apa yang kau pikirkan?” Yoona tersenyum mendapati Jongin berdiri didepan pintu kamarnya. Sudah jadi rutinitas jika Jongin akan datang kerumahnya di malam hari. Pria itu bahkan tidak pernah absen untuk membacakan cerita dongeng untuk Christine.

“Kau sudah datang? Sejak kapan” tanya Yoona mengalihkan. Jongin tersenyum. “Sejak kau terus memandang cermin didepanmu itu tanpa melakukan sesuatu”. Ia masuk kedalam kamar Yoona dan duduk di tepiannya. “Apa kau sudah bertemu anak-anak?”

“Aku sudah membuat mereka bermimpi. Tugasku sekarang adalah membuat ibu mereka ikut bermimpi” Jongin menarik lengan Yoona membuat tubuh wanita itu berada diatasnya kini. Yoona tidak marah dengan tindakan Jongin, dia tahu Jongin. “Bagaimana meeting-mu?”

Jarak wajah mereka hanya sejengkal, tapi mereka tetap bertahan dengan jarak seperti itu. Jongin memejamkan matanya, membayangkan pertemuannya dengan Klien barunya. “Tidak begitu buruk, dia seumuran denganku. Dan kurasa kami sangat cocok”

“Benarkah? Kalau begitu menikah saja dengannya.” Celetuk Yoona. Jongin meniup wajah Yoona membuat kedua mata wanita itu terpejam. “Apa? Kau bilang kalian sangat cocok”

“Aku sudah mempunyai keluarga, kau lupa?” balas Jongin membuat Yoona terdiam. Kemudian wanita itu memilih bangkit menjauhi tubuh Jongin dan merapihkan gaun tidurnya. Jongin kembali duduk mengikuti Yoona. “Hei, aku hanya bercanda. Kau ini baper sekali”

“Aku ingin tidur, besok aku akan bertemu dengan Stephanie klienku. Kurasa tenagaku akan banyak terkuras besok” gurau Yoona, lalu berbaring di tempat tidurnya. Jongin kembali mengikutinya. Ia memandang Yoona lekat, tahu jika wanita itu sedang memikirkan sesuatu yang entah mengapa Jongin sangat sulit menebaknya. “Ceritalah padaku Yoong..”

Yoona masih diam.

“Yoona, apa yang terjadi?” tanyanya sekali lagi. Yoona menghembuskan nafas berat. “Sebenarnya aku butuh bantuanmu Jongin-ah..

 

His Wedding Organizer

 

                Jongin masih tetap pada posisinya, mengelus anak rambut wanita yang terlelap dihadapannya. Ia masih mengingat perkataan wanita itu sebelum dia terlelap.

                “Aku ingin kau menjadi suamiku Jongin-ah” Tentu saja dia akan langsung mengatakan ia, namun sebelum dia menjawabnya wanita itu kembali bersuara. “Hanya berpura-pura, dan aku janji aku tidak akan mengganggu kehidupanmu. Jika kau nanti memiliki kekasih, kau boleh mengakhiri semuanya”

                Harusnya wanita itu sadar, dia tidak akan memiliki wanita lain karna dihatinya sudah terisi penuh olehnya. Harusnya wanita itu sadar, tanpa di minta dia akan selalu menjaga keluarga kecilnya. Harusnya wanita itu sadar, dia sangat mencintai wanita itu. Sangat mencintai wanita itu sampai dia berjanji akan melakukan segalanya. Dia tersenyum tipis lalu mengecup puncak kepala wanita itu.

                “Selamat malam Yoona, semoga mimpi indah”

 

His Wedding Organizer

 

                Wanita berambut kecoklatan itu berjalan seirama dengan suara sepatu hills-nya. Di telinganya terpasang headset. “Oh Hallo Oppa, apa kau bisa menemani aku bertemu dengan Yoona-ssi nanti siang?”

                Raut wajahnya berubah sendu, dia sudah menduga kalau kekasihnya tidak akan mau pergi dengannya. Kemudian hembusan nafas kasar sesekali terdengar. “Baiklah, iya tidak apa. Aku mengerti. I Love you!”

                “Nick, hari ini batalkan semua pemotretan dan katakan pada Yoona-ssi aku ingin pertemuannya dipercepat hari ini. Karna aku akan terbang ke Singapore nanti sore” perintahnya. Kemudian dia memijat keningnya, Sehun kekasihnya adalah pria kaku yang tidak pernah mengerti dirinya. Dia mencintai Sehun sangat, tapi pria itu? Entahlah, membalas perkataan cintanya saja tidak pernah. Ia tersenyum sinis. Ia pernah mendengar cerita dari Irene jika Sehun pernah memiliki mantan kekasih yang sangat dicintainya namun hubungan mereka kandas, dan sejak itu Sehun tidak pernah bersama dengan wanita lain sebelum akhirnya bersamanya. Hubungan mereka selalu baik-baik saja. Stephanie bahkan masih mengingat bagaimana Sehun meminta untuk menjadi kek- ah tidak Sehun tidak pernah meminta dirinya menjadi kekasihnya.

                “Kau tidak akan pernah mendapatkan hatinya. Sehun sudah mati rasa stephie” ia menggeleng. Suatu saat Sehun pasti akan mencintainya, jika tidak, ia tidak akan membiarkan siapapun mendapatkan Sehun karna pria itu adalah miliknya.

 

His Wedding Organizer

 

                Yoona mematung saat mendapati sebuah karangan bunga ada didalam ruangannya, kemudian ia mengurungkan niat memasuki ruangannya dan menghampiri Soo Young. “Unnie, siapa yang mengirimkan karangan bungat itu? Ada yang meninggal ya?” tanya Yoona bingung.

                “Kupikir itu untukmu Yoona, tadi pagi pengantar bunga mengirimkannya kesini” jawab Soo Young yang bingung juga. Yoona mengindikkan bahunya dan kembali masuk ke ruangannya. Sebuah note terselip di pinggiran karangan itu, ia menatap tulisan itu lamat-lamat.

                Have nice day Sweet heart. I love you!

                                                                                Drew

 

                Huh, Ia mendengus, kemudian mengangkat karangan bunga itu dan mengeluarkan dari ruangannya. “Mau kau apakan itu Yoona?”

                “Buang! Tolong katakan pada Lay untuk membuang ini. Ish” pekik Yoona lalu ia kembali ke ruangannya. Soo Young menggeleng melihat tingkah Yoona. Ia menyalakan tombol power handphonenya, dering pesan berbunyi beberapa kali. Yoona sudah menduga siapa pengirimnya. Ia membuka kembali satu-persatu pesannya.

                Yoona, jangan salahkan aku jika melakukan ini

 

                Kau yang meminta ini Yoona!

 

                Balas aku atau aku akan muncul dihadapan Anakku sebagai ayahnya

 

                Yoona mematung pada pesan terakhir Sehun, Anaknya? Benar, Calista dan Christine adalah anaknya bersama Sehun. Tapi itu dulu sebelum Sehun lebih memilih meninggalkannya. Tok-tok! Yoona tersenyum tipis mendapati Soo Young berdiri didepan ruangannya untuk masuk. “Ada apa Unnie?”

                “Aku baru dapat kabar Yoong, jika Stephanie ingin pertemuannya dipercepat dan kita harus berangkat sekarang” Soo Young terlihat kesal ketika menyampaikan pesan itu. Yoona berdiri dan menghampiri Soo Young. “Sudahlah, ayo kita berangkat”

His Wedding Organizer

 

                Sehun menatap layar handphonenya, baru saja beberapa notifikasi masuk dengan nama wanita itu dilayarnya. Sehun tahu wanita itu sudah membaca semua pesannya, tapi seperti biasanya tidak ada tanda-tanda bahwa wanita itu akan membalas pesannya.

                “Apa aku mengganggu waktumu?” Sehun segera berdiri saat melihat pria paruh baya memasuki ruangannya. Itu adalah Ayahnya, senyum tipis terpeta diwajah keriput itu.

                “Ada apa?” tanya Sehun. Suasana diantara mereka mendadak tegang, Tuan Oh duduk di kursi Sehun sambil menatap dingin kearahnya. Sehun memilih memandangi pemandangan lewat kaca besar. “Bagaimana kabar Stephanie?”

                Sehun mendengus. “Apa aku terlihat seperti sedang bersamanya?”

                Tuan Oh tertawa ringan, kemudian berdehem. “Bukankah seharusnya kalian akan bertemu dengan WO kalian?”

                “Tidak. Aku menyerahkan semuanya pada Stephanie, aku tidak ingin dipusingkan soal hal sepele seperti itu” jawab Sehun tegas. Tuan Oh sontak menggebrak meja, tapi hal itu tidak membuat Sehun gentar. Dia lebih memilih mengacuhkan ayahnya.

                “Sepele katamu? Dengar aku Oh Sehun, kau harus mulai menjaga sikapmu pada Stephanie, suka atau tidak suka dia akan menjadi istrimu” ucap Tuan Oh sebelum akhirnya memilih meninggalkan Sehun yang masih diam. Pria itu masih diam memandang hujan yang mulai mengaburkan pandangannya, melihat beberapa pejalan kaki yang berlari kecil berusaha menghindari hujan. Melihat mobil yang sesekali berlalu-lalang. Ia merogoh sakunya dan mengambil handphonenya. Menekan beberapa nomor lalu menempelkan ditelinganya.

                Tut. Dia mendesah, wanita ini pasti tidak akan mengangkat telfonnya. “Ada apa kau menelfonku?”

                God! Dia merasa jantungnya kembali berdetak cepat saat mendengar suara lembut bernada ketus itu. “Kau mengaku kalah?”

                “Dengarkan aku Oh Sehun. Aku hanya mengatakan ini sekali padamu. Aku sudah menikah, jangan pernah menggangguku atau keluargaku!” Sehun tersenyum tipis. Menikah? Harusnya Sehun sadar akan hal itu. Meninggalkan wanita itu dan kembali setelah 4 tahun kemudian tidak menutup kemungkinan jika wanita itu sudah menikah. “Terima kasih Sehun, jadi mulai sekarang aku ingin kita Profesional, kau adalah klien-ku dan aku adalah wedding organizer-mu”

                Flip. Ia mengepalkan kedua tangannya. “Arrgh!”

                Ia menghancurkan seluruh benda yang ada dihadapannya, tidak peduli bagaimana pikiran orang-orang diluar ruangannya. Kemudian ia memandangi foto Stephanie di meja kerjanya, mengingat bahwa wanita itu akan menemui Yoona. Ia harus menemui wanita itu. Harus.

His Wedding Organizer

 

                “Terima kasih Oh sehun, jadi mulai sekarang aku ingin kita Profesional, kau adalah klien-ku dan aku adalah wedding organizer-mu” Flip. Yoona memutuskan sambungan telfonnya. Nafasnya mulai tidak beraturan. Pria itu bahkan tidak memberikan respon apapun pada kalimat yang baru saja diucapkannya. Ia tersenyum memandang Soo Young yang berdiri hanya berjarak 1 meter dari tempatnya. Kemudian dia menghela nafas berat, dan memasukan handphonenya kedalam saku dan melangkah mendekati Soo Young. “Sudah Selesai?”

                Yoona mengangguk. “Bagaimana Stephanie-ssi. Apa ada kabar dari dia?”

                Wanita itu menggeleng. “Aku sejak tadi menelfon manager-nya tapi tidak diangkat. Ayo kita tunggu didalam saja Yoong. Aku lapar”

                                Sudah hampir setengah jam mereka menunggu bahkan belum ada tanda-tanda bahwa kliennya itu akan datang. Yoona mendengus melirik arlojinya, dia tidak bisa menjemput Calista dan Christine jika seperti ini jadinya. Drrt-drrt. Mereka saling melirik saat mendengar handphone Soo Young berbunyi. “Hallo.. Ya ini aku.. Apa?.. Ah mengapa tidak mengatakan dari tadi.. buang-buang waktu saja.. baiklah. Iya”

                                “Ada apa?” Yoona menatap penasaran Soo Young yang kesal. “Itu manager Stephanie-ssi. Dia bilang, Stephanie ada urusan mendadak. Dia harus pergi ke Singapore dan baru akan kembali minggu depan. Jadi pertemuan dengan kita akan diundur sampai minggu depan Yoong”

                                Yoona mendesis, Klien­-nya yang satu ini memang sedikit menyebalkan. Yoona tahu itu karna Stephanie adalah teman SMA-nya dulu, hanya mungkin wanita itu tidak mengenalinya. “Jadi akan kemana kita Yoong?”

                                “Kau duluan saja unnie, bawa mobilku. Aku akan menjemput Christ dan Cale

                                “Kau yakin?” tanya Soo Young ragu. Yoona mengangguk. “Aku bisa mengantarmu sampai ke

Sekolah mereka”

                                “Aku akan naik Tak-” Yoona menghentikan ucapannya. Dia melihat sosok pria bertubuh jangkung yang begitu dikenalinya. Ia ingin bersembunyi tapi terlambat, pria itu menyadari keberadaannya. Soo Young begitu terkejut dengan kehadiran pria itu. “Wah, dia bukankah Oh Sehun Yoona?”

                Sehun melangkahkan kakinya mendekati dua wanita itu, tatapan matanya menatap kedua wanita itu. Ah tidak, dia menatap wanita yang duduk dibelakang wanita jangkung yang Sehun bahkan lupa siapa namanya. “Bukankah Kau Oh Sehun?”

                Sehun mengangguk. Matanya masih terus menatap Yoona dengan lembut. Sementara Yoona terus saja membuang mukanya. Kemudian akhirnya dia menatap Soo Young dan tersenyum mengulurkan tangannya. “Aku merasa kita belum berkenalan. Siapa namamu?”

                Soo Young tersenyum sumringah. “Choi Soo Young. Dan aku tau siapa namamu hehe. Oiya ada urusan apa kau kesini? Calon istrimu baru saja membatalkan pertemuannya dengan kami”

                Ia mengalihkan pandangannya lagi menatap Yoona. “Memang, dan Stephanie memintaku untuk mengurus semua keperluan sementara saat dia berada di Singapore

                Aku pikir dia ikut bersamanya batin Yoona. Sehun pasti sudah tidak menatapnya lagi karna pria itu sedang berbicara dengan Soo Young, jadi Yoona memutuskan untuk mengangkat kepalanya namun sial. Jantungnya berdetak begitu cepat saat iris hazel itu masih terus saja menatapnya. Kini pandangan mereka saling mengunci, tapi Soo Young tidak menyadari hal itu. “Jadi, ada perlu apa?”

                “Sebenarnya aku ada urusan dengan Yoona-ssi. Karna Stephie bilang jika Yoona sudah memiliki desain gaun pernikahan kami” jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya. Sehun merasa seolah dia hidup kembali menatap iris madu yang dulu selalu menjadi mata yang paling indah menurutnya –dan mungkin sampai saat ini-. Soo Young berbalik badan menatap Yoona. “Yoong bagaimana? Eh?”

                Yoona mengerjapkan matanya. “A-aku. T-tidak bis-”

                “Yoong, dia klien kita juga. Apa mungkin kau masih ingin menolaknya?” ucap Soo Young yang masih bingung dengan tingkah Yoona. Saat ia berbalik badan menatap Yoona ia melihat wanita itu sedang melamun menatap Oh Sehun. Ia akui Oh Sehun adalah tipe pria yang begitu.. hot. Tapi dia tidak tahu jika kharisma Sehun bisa membuat Yoona tidak berkutik. Padahal ini pertemuan kedua mereka. “Jadi bagaimana Yoona-ssi?”

                Yoona diam.

“Dia bersedia, mungkin aku harus pergi karna aku ada janji dengan kekasihku” Soo Young mengambil tas dan mapnya lalu mengambil kunci mobil yang berada diatas meja mereka. “Yoong, aku tinggal ya. Dan Sehun-ssi, bisakah aku meminta bantuanmu? Yoona akan menjemput putrinya nanti dan aku sangat tidak ingin dia naik kendaraan umum. Jadi bisakah kau mengantarnya nanti?”

Yoona tersendak mendengar ucapan Soo Young. Dia sontak memelototi temannya itu.

“Tidak, tidak perlu. Unnie apa yang kau lakukan sih! Aku kan bisa naik tak-”

“Aku akan melakukannya” potong Sehun membuat Yoona semakin gugup. Soo Young tersenyum manis. “Dengar, dia akan mengantarmu sampai sekolah Christ dan Cale. Aku pergi dulu ya Yoong. Sampai jumpa”

Wanita itu mengecup puncak kepala Yoona sebelum akhirnya meninggalkan Yoona dan Sehun.

 

His Wedding Organizer

 

                Yoona menyeruput Cappucino miliknya, kemudian mencoba memandang sekitar cafe yang tidak begitu ramai. Ekor matanya bahkan tidak sanggup untuk sekedar melirik seseorang yang sedang bersamanya itu. “Yoona..”

                Ya Tuhan tepat saat mendengar suara itu Yoona seolah mati rasa, walaupun jantungnya berdetak begitu cepat tapi tidak dengan seluruh sarafnya yang seolah kaku. Bahkan untuk menoleh menatap lawan bicaranya saja susah.

                “Bagaimana kabarmu?” tanya Sehun, pria itu bahkan hampir gila ketika terus berdebat dalam pikirannya kalimat apa yang harus dikatakan didepan wanita ini. Tapi Yoona bahkan tidak merespon sama sekali ucapannya. Wanita itu terus saja membuang muka darinya seolah dirinya adalah makhluk yang tidak bisa dilihat kasat mata. Oke, sudah cukup. Sehun memutuskan untuk pindah duduk disebelah Yoona dan memaksa wanita itu melihatnya. Dan usahanya itu berhasil. Kini mereka saling bertatapan saling mengunci pandangan seolah hanya ada mereka berdua disini.

                Aku akan matii.. Yoona bahkan sulit untuk mengerjapkan kelopak matanya. “Apa yang kau katakan tadi itu benar?”

                Katakan apa? Apa? Aish aku bahkan lupa aku sudah mengatakan kalimat apa saja pada dia? Yoona berfikir keras apa yang sudah dikatakan pada Sehun, seingatnya dia mengatakan kalau dia sudah men- Ah aku ingat. Batin Yoona. “Lepaskan aku Oh Sehun!”

                Sehun menghela nafas gusar. Kemudian melepaskan kedua tangannya di lengan Yoona. Ia menatap wanita itu dengan lembut. “I’m married

                “Kau serius?” Yoona mengangguk. Ya Tuhan maafkan aku. Sehun melirik jemari Yoona, tidak ada sebuah cincin pun yang melingkar di jari manis wanita itu. Ia mengenal Yoona, berpacaran selama 2 tahun tidak membuatnya lupa bagaimana wanita itu. Dia tidak akan pernah bisa berbohong padanya. Sehun bahkan masih ingat bagaimana pertama kali wanita itu mencoba berbohong padanya.

                Aku menatap intens wanita-ku, sedangkan dia hanya menundukkan wajahnya. “Katakan padaku Cale, apa yang kau lakukan di cafe itu?”

                “A-aku hanya berbelanja Drew” ucapnya. Tidak mungkin, jelas aku melihatnya bekerja di cafe itu, melayani pelanggan dengan senyuman manisnya. Kemudian ku lirik kedua tangannya, ibu jarinya saling bergesekkan, aku mengetahuinya. Itu sering dia lakukan ketika dia berbohong padaku.

                “Aku tidak akan marah padamu baby, jika kau mau jujur. Sebaliknya, aku akan sangat membencimu jika berbohong padaku” ucapku. Aku ingin tertawa melihat wajah terkejutnya. Akhirnya dia mendongak menatapku. “B-baiklah Drew aku mengaku. Aku bekerja paruh waktu disana. Aku tidak ingin memberitahumu karna aku tidak ingin kau khawatir. Aku bekerja supaya aku bisa mengumpulkan uang dan membelikanmu Gitar sebagai hadiah ulang tahunmu. Harusnya ini jadi suprise, tapi kau malah membuat aku membongkarnya. Huuuu”

                Ya tuhan, jadi dia melakukan ini untukku. Aku segera memeluk tubuhnya, “Jangan melakukan itu lagi. Dengar, cukup hanya kau disisiku selalu itu sudah hadiah terindah yang Tuhan berikan. Jadi aku tidak perlu apa-apa lagi”

                “Tapi..” aku mencium bibir mungilnya agar dia berhenti berkata apapun. “Aku mencintaimu Calista”

                “Aku juga mencintaimu Drew”

 

                “Se-Sehun?” Sehun mengerjapkan kedua matanya, Ah aku ini berfikir apa sih. Kemudian dia menatap Yoona lagi membuat wanita itu sedikit salah tingkah. Sehun melirik tangan Yoona lagi, kali ini kedua ibu jari wanita itu saling bergesekkan, senyum kemenangan terpeta diwajah tampannya.

                “Jika kau benar sudah menikah, aku ingin bertemu dengan suami-mu. Aku akan mengajak Stephanie dan kau mengajak suamimu” Mata Yoona membulat. Ini tidak ada dalam pikirannya. Ia tidak tahu jika Sehun bisa berfikir sejauh ini untuk mengorek kehidupannya. “Dia.. Sibuk. Ah dia sedang ada di Luar Kota”

                “Kalau begitu..” Senyumnya semakin mengembang dan Yoona semakin terpojok. “Aku akan mengatur waktunya di akhir pekan. Pasti suamimu bisakan? Tidak mungkin dia akan meninggalkan istri secantik ini menikmati akhir pekan sendiri”

                Damn! Mati kau Yoona! Yoona menggigit bibirnya. Aku harus mengalihkannya, aku harus mengalihkannya. Cale dan Christ ah aku akan mengalihkan topiknya. Ia berpura-pura melirik arlojinya. “A-aku harus menjemput anak-anakku”

                Raut wajah Sehun berubah, dia bahkan hampir lupa menanyakan soal anak. Pikiran dia seolah teralihkan saat wanita ini bilang dia sudah menikah. Sehun menutupi wajahnya dengan kedua tangan. “Mengapa?”

                “Eh, Apa maksudmu dengan mengapa?” tanya Yoona bingung. Sehun menatap Yoona lagi.

                “Mengapa kau tidak mengatakan kau hamil saat itu Yoona? Mengapa kau tidak mengatakannya padaku” kali ini Sehun berteriak, dia memegang gelas dengan keras bahkan hingga gelasnya pecah. “Sehun, tanganmu berdarah”

                Yoona mengambil tisu didalam tasnya dan mengelap darah yang perlahan mengalir di telapak tangan Sehun. Pria itu bahkan tidak meringis saat Yoona menekan lukanya agar darah berhenti keluar dari lukanya. “Kau ingat saat kau bilang ingin bertemu denganku? Aku ingin mengatakan padamu tapi kau lebih dulu mengatakannya. Saat kau bertanya aku ingin mengatakan apa, aku memutuskan tidak ingin mengatakannya. Karna saat itu aku tahu kau bukan siapa-siapa lagi bagiku begitupun sebaliknya. Kita tidak ada hubungan apapun jadi tidak penting aku mengatakan itu atau tidak padamu”

                “Maafkan aku Yoona” ucap Sehun lirih. Yoona hanya dia dan terus membalut telapak tangan Sehun dengan tisu. “Aku harus menjemput mereka, kau mau ikut?”

                Sehun menatap Yoona yang sedang tersenyum. “Apa tidak apa-apa?”

                Yoona mengangguk

His Wedding Organizer

 

                Yoona dan Sehun berdiri disebuah taman kanak-kanak. Mereka tidak sendirian, banyak para orang tua yang juga menjemput anaknya disini, dan ketika bel pulang berbunyi satu-persatu anak-anak yang bersekolah disana menghampiri orang tuanya. Sehun mengepalkan kedua tangannya gugup, jujur dia tidak punya persiapan apapun jika harus bertemu dengan kedua putrinya. Yoona tidak menyadari ketegangan Sehun dia melambaikan tangannya saat melihat kedua putrinya berjalan saling bergandengan. “Mereka datang Sehun..”

                Yoona berjongkok memeluk kedua putrinya. “Umma, sangat menyayangi kalian”

                “Umma, bukankah ini ahjussi yang waktu itu?” Sehun tahu itu adalah Christine, dia juga yang pertama kali menyadari adanya dirinya. Sementara Calista menatap Sehun takut sambil memeluk lengan Yoona. “Christ, Cale, dengarkan Umma. Ini adalah Sehun ahjussi. Teman baik Umma

                Apa dia teman baik Appa juga?” Sehun mengernyit. Jadi Yoona benar-benar sudah menikah. Dia bahkan mendengar jika putrinya menyebut orang lain dengan sebutan Appa. Ada rasa iri didalam hatinya saat mengetahui orang lain dipanggil Appa oleh putri-putrinya. Sehun mengerti mengapa Yoona berkata jika Sehun adalah teman baiknya. Wanita itu tidak bohong soal sudah menikah dan Yoona tidak mungkin mengatakan pada putrinya jika dia adalah Ayah kandung mereka. Kemudian ia ikut berjongkok seperti Yoona. “Apa ahjussi baik seperti Appa?”

                Sehun tersenyum tipis mendengar pertanyaan Calista, agaknya dia harus terbiasa mendengar nama Appa yang bukan untuknya. “Tentu saja, Umma-mu dan ahjussi sudah berteman baik sejak kami kuliah”

                “Baiklah, siapa yang mau ke Lotte World?” tanya Yoona mengalihkan. Sehun menoleh kearah Yoona yang sedang tersenyum padanya.

                “Aku, Aku” seru Christine dan Calista bersamaan. Yoona berdiri begitu juga Sehun mereka menggandeng keduanya bersamaan untuk masuk kedalam mobil.

 

His Wedding Organizer

 

                “Sehun Ahjussi, aku ingin beli gulali bolehkan?” tanya Calista, Sehun mengangguk senang.

                “Aku juga mau” Sahut Christine. Sehun menggandeng kedua tangan putrinya menuju kedai gulali. Sementara Yoona lebih memilih duduk di bangku panjang sambil melihat Sehun dan kedua putrinya. Christine dan Calista begitu antusias, begitupula Sehun. Yoona tahu keputusannya mungkin tidak benar, tapi dia ingin membiarkan Sehun bersama anak-anaknya walaupun Cuma sekali. Entah mengapa saat melihat Sehun tertawa lepas seperti itu jantungnya berdetak cepat. Yoona mengakuinya, perasaan cintanya masih sama, ia masih sangat mencintai Sehun. Tapi dia tahu dia dan Sehun tidak akan bisa bersama. Tidak akan. “Hei, apa kau mau juga?” teriak Sehun.

                Yoona mengangguk senang. “Aku mau satu”

                Kemudian ketiganya menghampiri Yoona, Christine dan Calista duduk dibangku bersama Yoona dan Sehun mengeluarkan Handphonenya lalu memilih ikon kamera. “Apa yang kau lakukan?”

                “Aku ingin memiliki foto kalian bolehkan?”

                Yoona tersenyum.

His Wedding Organizer

 

                Yoona menatap Sehun yang sibuk menggendong Calista. “Ada apa Yoona?”

                “Tidak, aku hanya senang. Anak-anak sepertinya juga senang bersamamu” sahut Yoona. Sehun mengangguk. Ia membuka pintu mobilnya dan menaruh anak-anaknya di bangku dan memasangkan seat beltnya. “Aku juga sangat senang bisa bermain bersama mereka dan juga bersama mu”

                Sehun mengemudikan mobilnya dengan laju sedang, ia juga melihat Yoona yang menguap sedari tadi. “Kau bisa tidur Yoona, aku akan membangunkanmu nanti”

                “Tidak, kau pasti butuh teman mengobrol. Perjalanan cukup jauh, kau akan mengantuk jika sendirian Sehun” ucap Yoona. Sehun menggeleng. “Kau tidur saja, aku tidak apa Yoona”

                “hooam, baiklah. Bangunkan aku kalau ada apa-apa ya drew” ucap Yoona lalu memejamkan matanya. Sehun terdiam, Yoona baru saja memanggilnya Drew? Dia sungguh sangat merindukan panggilan Yoona itu. Ia menepikan mobilnya, menatap Yoona yang terlelap disampingnya. Lalu menatap kedua putrinya yang terlelap. Suami Yoona pasti sangat bahagia. Ia membelai lembut kepala Yoona. “Aku sangat mencintaimu Cale

                Lalu ia mengecup puncak kepala Yoona dan kembali melanjutkan perjalanannya.

His Wedding Organizer

 

                “Yoona..” Gumam Sehun, Yoona membuka matanya melihat Sehun yang tersenyum padanya. “Apa kita sudah sampai?”

                Sehun mengangguk. “Ah, akhirnya”

                Sehun keluar dari mobil diikuti dengan Yoona, mereka menggendong Christine dan Calista lalu masuk kedalam rumah. Untung saja Yuri sedang keluar, dan Kai sedang ada dinas ke Jeju. Sehun menggendong Calista dan Yoona menggendong Christine. Dan membawa mereka kedalam kamar mereka.

                “Selamat tidur Sayang,” Sehun dan Yoona mengecup puncak kepala Christine dan Calista bersamaan. Mungkin jika orang lain melihat mereka, sudah menganggap mereka sebagai pasangan suami istri. Kemudian Yoona mengantarkan Sehun sampai dimobilnya.

                “Terima kasih Yoona karna sudah mengijinkanku satu hari bersama anak-anak” ucap Sehun. Yoona berdehem, “Sehun, sebelumnya aku minta maaf. Kau tahu aku sudah..”

                Sehun mengangguk. “Ya, aku tahu kau sudah menikah”

                “Iya, aku memberikanmu kesempatan untuk bertemu mereka karna kupikir kau pantas bertemu mereka” ucap Yoona. Sehun mendesah, entah mengapa perasaannya begitu tidak enak.

                “Apa aku bisa dapat kesempatan seperti ini lagi?”

                Wanita itu mendesah. “Aku akan memikirkannya Sehun. Kau tahu ini berat bagiku. Maafkan aku, aku hanya belum terbiasa bersamamu”

                “Aku mengerti Yoona, terima kasih karna sudah membiarkan mereka mengenalku. Selamat malam” Sehun masuk kedalam mobilnya dan melajukan mobil meninggalkan Yoona yang masih berdiri memandangi kepergiannya. Air mata Yoona tidak tertahankan, melihat raut kecewa Sehun dan senyumnya yang dipaksakan Yoona tahu Sehun tersiksa. Sama seperti dirinya yang juga tersiksa. Ia bahkan tahu saat Sehun menepikan mobilnya dan mengelus rambutnya, entah mengapa kedua matanya menolak terbuka dan menikmati sentuhan dari pria itu. Jantung Yoona mencelos saat Sehun mengucapkan kalimat itu, kalimat yang bahkan sulit Yoona lupakan begitu saja.

                “Aku juga sangat mencintaimu Drew

Cut!

Alohaa, Happy New Year kalian-kaliaan. Maaf ya aku baru post lagi. aku sempet down karna file aku hilang semua dan aku juga sempet kena writer’s block jad sekali lagi aku minta maaf ya.

I love You kalian❤

56 thoughts on “BAB IV HIS WEDDING ORGANIZER

  1. Oppa… jangan percaya kalau Yoona oenni sudah menikah. Dia berbohong…
    Hiks hiks hiks… Miris banget hubungan mereka.
    Berharap banget, semoga mereka bisa bersatu…

    Ditunggu next partnya Thor…
    Keep Writing and Fighting!!!

  2. kerennn ceritanyaaa! dan aku suka bgt sama karakter yoona yg tegar di ff ini, ya..meskipun dia tersiksa sebenarnya, tp ugh kerenlah! kasian sama jongin huhu kayanya cintanya bertepuk sebelah tangan:( waiting for next update ^^

  3. Akhirnya,,
    Aku ga ska Tn. Oh, nyebelin.
    Ahh, Sehun udah ktmu sma anak-anaknya,, smug bsa ktmu lagi.
    OK, dtunggu klnjutannya!!
    Fighting!!!

  4. HUHUUU AKHIRNYA DI UPDATE :’)))
    bagus bangeeeet!
    aku bacanya serius bgt sumpah deh :’)
    soalnya penasaran sama sehun yoona gmna
    aduh kok sehun percaya sih kalo yoona udah nikah😦
    keren bgt thor critanya, bikin konfliknya makin kuat dong thor hehehe
    tapi ntar endingnya yoona sama sehun…… /request/
    wkwkwkw
    ditunggu deh thor chapter slanjutnya, hehe fighting!

  5. Appanya sehun jahat bgt…Maksain anak2’a terus,,,walaupun jessica sama kris akhirnya saling cinta tapi kan beda anak beda keadaan…

    Sooyoung blm tahu yach klo sehun appa anak2’a yoona tpi klo tahu pasti ngamuk jga…

    Mudah2an sehun sama yoona bisa kembali bersatu..

  6. Yaa tuhaaan thor, lamaaaa nungguu~~ sampe harus ngulang chap ke 3 nya dulu T.T tapii, kereeen thor. Next chap jangan lama2 pliis

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s