Find

find_for_pimthact

pimthact storyline

// — starring by Yoona Im – Jongin Kim —

poter by cloverqua @ Art Fantasy

enjoy!

Gadis itu menenggelamkan wajahnya pada sebuah buku tulis yang ia simpan dari semasa ia kecil. Buku itu terlalu berharga untuk hilang, tapi terlalu memalukan untuk tetap disimpan karena kondisinya yang sudah tidak bisa dibilang normal. Namun semua itu tidak akan menyembuhkan mental gadis itu.

Iris madunya menatap alam lepas kota Singapura. Kota yang ia pilih sebagai pelarian dari segala masalah yang tiba-tiba datang dalam satu waktu. Masalah yang langsung membuat kondisi fisik dan mentalnya terjungkal hebat.

Ia pikir, kota ini akan menenangkan-nya karena ini adalah kota favorit dari sekian kota yang pernah ia kunjungi di seluruh penjuru dunia, tapi kenyataan-nya tidak. Kota ini malah mengingatkan sejuta kenangan yang malah membuka luka dihatinya semakin lebar.

Mengingat itu membuat pikiran-nya kacau lagi. Gambaran-gambaran itu terlihat dengan jelas. Ayah dan ibunya yang bertengkar bahkan sudah berbicara tentang perceraian didepan gadis itu, pacarnya sendiri yang melakukan ‘suatu hal’ didepan gadis itu-bahkan pacarnya melakukan itu bersama sahabatnya sendiri, juga nilainya yang langsung menurun dengan drastis.

Senyuman dan rangkulan akur orang tuanya, janji dari sahabatnya, ungkapan gombal dari pacarnya, semua terasa omong kosong sekarang. Benar-benar terasa like a bullshit.

Dan sekarang ia belajar, bahwa roda itu selalu berputar. Seperti nasib dan takdir kehidupan, bisa berada di posisi atas dan bisa berada di posisi bawah. Dan juga ia belajar bahwa,

dia tidak selalu berada diatas.

Gadis itu-Yoona, yang dikenal sebagai gadis periang, baik, dan hampir semua orang yang bertemu dengan-nya mengatakan bahwa hidupnya, sempurna? dilahirkan dari seorang-koreksi, dua orang pengusaha yang sama-sama namanya sudah tak asing lagi dalam perekonomian dunia. Im Hanbeol dan Kim Jiwaan, seorang pengusaha pertambangan yang selalu melakukan kerja sama dengan pertambangan hampir diseluruh dunia dan seorang designer ternama yang selalu berpastisipasi dalam mendisigner bajunya untuk merk-merk terkenal seperti channel, prada, dior, gucci dan sebagainya. Memiliki banyak sahabat karena sikapnya yang friendly, dan memiliki pacar yang sangat perhatian dan hampir membuat seluruh siswa dan siswi disekolahnya iri. Selalu mendapat peringkat satu dikelasnya-bukan, disekolahnya, karena otak pintar yang menurun dari kedua orang tuanya. Apa yang dia inginkan hampir semuanya selalu terkabul, hanya dengan uang.

Perfect life, right?

But remember, God is always fair.

Maka dari itu dia pergi ke Singapura dengan penerbangan pertama. Setelah puncaknya dia melihat sendiri tubuh naked kedua orang yang sangat ia sayang. Tapi mengingat mereka, rasanya Yoona ingin membuang mereka ke bagian paling panas dari neraka.

Pergi ke Singapura, menginap disebuah hotel, dan menukar uang yang jumlahnya sudah lebih dari cukup sebenarnya bukan tujuan utamanya. Ini hanya rencana cepatnya saja. Dan tentunya uang yang ia pakai adalah uang dari kartunya yang setiap bulanya hampir menerima sepertiga penghasilan dari kedua orang tuanya. Jadi jangan tanyakan berapa isi rekening nya apalagi Yoona sebenarnya termasuk orang yang hemat.

Hanya ditempat ini Yoona menghafal tempat-tempat yang bisa ia kunjungi, hanya ditempat ini Yoona ‘pikir’ ia bisa beristirahat dengan tenang, dan hanya ditempat ini juga, kedua orang tuanya tak akan berpikir untuk mengunjungi tempat ini. Karena orang tuanya pasti akan berpikir untuk mencari Yoona di Manila, Venesia, Dubai, atau mungkin Paris karena itulah tempat yang paling sering Yoona kunjungi jika sedang liburan.

Yoona menoleh sebentar karena mendengar suara bising yang keluar dari ponselnya, walau hanya getaran saja, itu sudah membuat Yoona terganggu.

Myungsoo is Calling.

Yoona tertawa parau, mengabaikan suaranya yang lebih mirip burung gagak yang sedang tercekik. Namun suara itu tidak bisa menyembuhkan luka yang terbuka sangat lebar jika melihat nama yang sekarang membuat ia ingin melempar ponsel itu sekarang juga.

Beberapa detik kemudian, cahanya ponsel itu kembali redup. Getaran ponsel tadi sudah berhenti. Dan ketika gadis itu menyentuh ponselnya, terpampang banyak sekali notification yang membuatnya tersenyum ngilu.

Missed Call

Myungsoo (48)
Mom (59)
Dad (67)
Haneul (19)
Jongin (29)

dan sebagainya.

Masa bodoh dengan semuanya. ia butuh waktu sendiri, butuh waktu untuk menenangkan diri. Tapi bukan berarti ia lari dari kenyataan begitu saja, ia hanya ingin mempersiapkan mental dan fisiknya. Untuk menghadapi kenyataan yang sedang ia terima.

…..

Yoona menggenggam green tea cream yang baru saja ia beli disalah satu distro minuman terkenal. siang ini cuaca sangat cerah dan ia lebih memilih untuk berjalan-jalan di Singapura. Sekalian untuk mengisi liburan yang ia terima.

Berbelanja hanya akan menghabiskan duit saja, juga akan memenuhi kopernya. Maka dari itu ia lebih memilih untuk pergi ketempat wisata, dimulai dari yang paling dekat dengan hotelnya, yaitu patung Merlion Singapura.

Dia menaiki kapal yang berjalan mengitari patung Merlion. Beberapa kali dia mengambil foto lewat ponselnya, dan tanpa ia sadari ia tersenyum dan merasa beban-nya terangkat sedikit.

Setelah selesai menaiki kapal, dia duduk sebentar didekat situ. Dia melihat banyak sekali keluarga dari berbagai mancanegara yang belibur ke negara ini. Matanya memerah karena mengingat kedua orang tuanya yang sebentar lagi akan bercerai. Padahal, dua tahun yang lalu kedua orang tuanya berlibur bersamanya  ke Singapura yang notabene-nya itu adalah waktu yang sangat langka bagi Im Yoona.

Dia memejamkan matanya, menikmati hilir angin yang menerbangkan baju dan helai rambutnya. Karena sedang asyik bernostalgia dengan angin, dia tidak menyadari bahwa ada seorang lelaki yang duduk disebelahnya sambil membawa dua vanilla latte.

Saat ia membuka mata, dia masih tak menyadari bahwa ada seorang lelaki disebelahnya, “Minuman hangat bisa menenangkan perasaan yang sedang kacau.”

Gadis itu langsung menolehkan kepalanya dan membulatkan matanya. Tubuhnya merinding dan kaku seketika, takut jika ini hanya halusinasinya. Tapi saat matanya melongok kebawah untuk memastikan, matanya pun menangkap sebuah pasang satu ket yang berada disebelah flatshoesnya.

Lelaki di samping-nya, Kim Jongin.

“Aku tidak meminta-mu untuk langsung to the point untuk masalah ini,” gadis itu tersenyum pahit. Lelaki itu selalu tau bagaimana suasana hatinya.

“Tapi mereka semua mencarimu, mengkhawatirkan-mu, mencemaskan-mu,” senyuman pahit itu segera menghilang diikuti dengan berakhirnya sahutan lelaki itu.

“Aku tidak tau,” suara serak gadis itu pun keluar. Lelaki itu hanya menghembuskan nafasnya pelan, lelaki itu terlalu tau bagaimana gadis ini menghadapi rintangan dari yang mudah sampai yang benar-benar rumit.

“Mau berjalan-jalan?” tawar lelaki itu dengan memotong arah pembicaraan mereka.

Gadis itu tersenyum kecut, “Jangan mencoba. Jangan mencoba untuk mengganti topik pembicaraan.”

“Aku ingin kau tau apa yang aku rasakan.” Sahut gadis itu dengan suara parau.

Lelaki itu terdiam dan tidak membalas perkataan Yoona, saat melihat gadis itu sudah bersiap-siap untuk bercerita, “Kedua orang tuaku memutuskan untuk bercerai. Aku tidak tau apa penyebabnya, tapi aku berharap bukan aku penyebabnya. Aku tidak bisa hidup tanpa mereka-ralat, mereka yang menyatu. Aku selalu melihat mereka berpelukan, tertawa bersama, dan bahkan masih sering berciuman, namun semakin aku memikirkan kejadian-jadian itu semakin terasa bahwa itu adalah omong kosong,”

Lelaki itu masih terdiam saat Yoona mengambil jeda.

“Sahabat-ku dan pacarku juga melakukan hal yang tak jauh berbeda. Mereka menduakan-ku, bahkan sudah berani melakukan hal ‘itu’ yang kulihat dengan mata kepala-ku sendiri. Aku benci cinta,”

“Cinta itu omong kosong.” akhir Yoona. Wajahnya masih terlihat datar dan matanya tetap lurus kedepan. Tetapi lelaki itu yakin, hati dan pikiran gadis itu pasti sekarang sedang terjungkir balik.

Tak ingin ikut turut dalam emosi Yoona, Jongin mempunyai ide. “Ayo jalan-jalan!”

Gadis itu menatap Jongin tak mengerti. Jongin memang selalu misterius dan tak tertebak, tapi Jongin tidak pernah mau untuk berjalan-jalan apalagi dengan seorang gadis-terlebih pada Yoona. Dan Yoona juga baru sadar, bagaimana bisa Jongin berada disini?

“Kau suka jalan-jalan kan? ayo kita pergi!” seru Jongin. Lelaki itu berdiri kemudian mengulurkan tangan-nya untuk mengajak Yoona.

Yoona menatap tangan itu ragu, tapi semenit kemudian dia menerima tangan itu. Mereka bergandengan bersama menuju stasiun kereta bawah tanah. Jongin dan Yoona sering ke kota singa ini, jadi tak heran mereka sudah bisa pergi kesana-kemari tanpa repot-repot melihat internet atau map.

Jongin masih menggenggam tangan Yoona bahkan saat ia berada di depan mesin tiket. Saat sudah menerima tiket, mereka langsung masuk kesebuah kereta yang kebetulan baru saja sampai-dan tepatnya-itu adalah kereta yang harus mereka tumpangi.

Dan akhirnya Yoona merasa risih karena Jongin masih tetap memegang tangan-nya bahkan sampai sekarang mereka duduk. “Ada baiknya jika kau berkenan untuk melepaskan tangan-ku,” tukas Yoona.

“Ini?” tanya Kai sambil mengangkat genggaman tangan-nya pada Yoona, “Aku tidak ingin kau kabur. Jadi ada baiknya memegang tangan-mu seperti ini.”

“Gila.” cibir Yoona.

“Terima kasih yang lebih,” canda Jongin yang dibalas dengan decak-kan Yoona.

“Jadi, kita mau kemana?” tanya Yoona yang merasa bosan karena Jongin tak kunjung mengajaknya turun dari kereta padahal mereka sudah melewati dua stasiun.

“Berisik sekali,” dengus Jongin malas. Diam-diam Jongin tertawa dalam hati karena membuat Yoona menatapnya sebal. Artinya, dia sudah membuat sifat-sifat asli Yoona kembali sedikit.

Akhirnya pada stasiun ketiga, mereka turun atas paksaan Jongin karena Yoona tertidur dibahu lelaki itu. Yoona masih dalam keadaan mengantuk dan itu membuat moodnya semakin turun saat Jongin memaksanya untuk mampir ke kamar mandi umum dan mencuci muka.

“Sudah. Jadi sehabis ini mau kemana?” tanya Yoona sekali lagi. Jongin hanya menatapnya sambil tersenyum samar kemudian mengedikkan bahunya.

“Seperti tidak tau aku saja,” ucap Jongin tanpa memperdulikan dengusan Yoona-yang entah berapa kali sudah dikeluarkan gadis itu.

Yoona menggelengkan kepalanya tak mau tau. Dia kemudian memasang earphone nya dan mengikuti kemana-pun Jongin pergi tanpa menyadari jalan yang ia lewati-atau bahkan monorel yang sudah ia naiki.

Tiba-tiba matanya terbuka lebar saat sebuah bola dunia yang berukuran kira-kira tingginya dua kali lipat tinggi Jongin-berada didepan matanya. Bola dunia itu disekelilingi kolam jernih dan asap yang berasal dari air conditioner. Sudah hampir tiga tahun Yoona tidak pernah kesini. Tujuan ketempat ini sebenarnya bukan-lah hal buruk, tapi tempat ini mengingatkan-nya pada kenangan bersama kedua orang tuanya.

Universal Studio Singapore.

Tampaknya, Yoona atau Jongin tak berminat untuk berfoto didepan bola besar itu seperti para wisatawan yang lain. Jadi mereka berdua langsung masuk dan diberi dua tiket yang bergambar salah satu karakter dari sesame street.

Saat masuk, pandangan yang Yoona temukan masih sama seperti beberapa tahun yang lalu. Yaitu bangunan-bangunan manis seperti di film kartun yang hanya sebuah properti. Dulu Yoona mengira bahwa didalam bangunan itu terdapat kartun-kartun juga seperti di film-film, tapi bahkan, pintunya saja tidak bisa dibuka atau bukan dari bahan pintu asli.

Yoona dan Jongin berjalan-jalan dan melihat-lihat. Sampai di sebuah bangunan seperti di rumah rekayasa nenek sihir yang berperan dalam film cinderella, Yoona dan Jongin menemukan gadis muda yang berdandan layaknya seorang artis lama terkenal, Marilyn Monroe.

Jongin tersenyum jahil, “Ayo kita berfoto bersama dia!”

Yoona hanya menanggapi dengan senyuman samar dan segera mendekati perempuan itu. Setelah mendapat ijin untuk berfoto bersama, Yoona mendapat giliran pertama untuk berfoto bersama gadis itu. Yoona menirukan gaya khas Marilyn Monroe- mencondongkan tubuhnya kesamping dan memegang pahanya dengan kedua tangan nya seperti menahan rok untuk terbang.

Jongin terkekeh kemudian memotret Yoona. Setelah itu, Yoona mendekati Jongin dan mengambil kamera di tangan Jongin. Giliran lelaki itu untuk berfoto kepada model-Marilyn Monroe- itu. Jongin dengan senyuman nakal menggenggam rok milik model itu. Meskipun rok itu hanya terbuka sampai paha, tetap saja Yoona menyempatkan memincingkan matanya ke arah Jongin sebelum gadis itu memotret-mereka.

Setelah itu mereka menaiki wahana-wahana yang tersedia ditempat itu mulai dari area madagascar sampai area transformer.

Kemudian Jongin mengajak Yoona untuk duduk beristirahat sebentar. Mereka beristirahat sambil memakan ice cream yang mereka beli di wahana transformer tadi. Jongin memandang Yoona yang sedang sibuk menghabiskan sisa-sisa ice cream nya.

“Hei,” sahutnya.

Yoona menoleh sambil mengangkat sebelah alisnya.

“Berhenti menyakiti dirimu, kau bukan lah Yoona yang kukenal.”

“memang ap-” sentak Yoona.

“Kau tau kau selalu takut pergi sendiri kan? jangan lakukan hal seperti ini lagi. Kau tau semua meng-khawatirkanmu. Bahkan ibumu sejak kemarin menangis terus dan tidak ingin makan sampai kamu kembali. Ayah-mu pun juga cuti sementara dari pekerjaan-nya karena mengelilingi beberapa negara untuk mencari-mu.”

“Kau tau, kau sangat berarti untuk mereka?” jeda Jongin akhirnya. Jongin akhirnya menahan nafasnya ketika Yoona menatapnya dengan wajah yang terlihat begitu lelah.

“Bagaimana dengan Myungsoo?” tanya Yoona diikuti tawa paraunya. Yoona merasa bodoh sekali karena menanyakan hal seperti itu. Tapi sesungguhnya, dia benar-benar menginginkan kabar Myungsoo sekarang.

“Dia? kabur dari tempat tinggalnya seperti pecundang. Aku tidak berbohong,” ucap Jongin sambil mengangkat dua jarinya, meyakinkan Yoona.

Yoona kemudian tersenyum, “Selamat. Kau menemukan-ku,”

“Kau tau hanya aku yang bisa menebak-mu dengan mudah.” Sombong Jongin sambil tertawa.

“Lalu apa yang kau lakukan setelah ini?”

Jongin tampak berpikir sebentar, “membawa mu kembali dan melakukan hal-hal seperti biasanya. tidur-makan-sekolah-mandi-mencintaimu,” candanya.

Yoona tertawa lepas, benar-benar lepas sampai Jongin menatapnya takjub. “Jika aku menghilang lagi apa yang kau lakukan?”

“Mencarimu lagi dan mencintaimu lagi.” singkat Jongin sambil memeluk Yoona.

Yoona tersenyum kemudian membalas pelukan Jongin. Dia menepuk-nepuk pundak Jongin. “Hey, aku juga mencintaimu tau! kau memang sahabat terbaik-ku.”

Jongin tersenyum kecut, Mencintai sebagai sahabat.

FIN

A/N: ini ending gaenak, gak so sweet gak romance dan pendek nya ulala. aku harap kalian maklumin ff abal-abal ini yang dari kemarin udah dilanjut tapi gak jadi-jadi ~_~ tapi karena udah dikerjar kerjar biar ngepost jadi alhasil post ini aja lah gatau lagi mau apa wkwk. Dan aku minta maaf sama kakak owner karena jarang ngepost soalnya banyak banget organisasi yang musti diurus terus dari kemaren ada praktek jadi aku tak bisa apa-apa ;_;

bacot nya aku banyak banget gaes, jadi gausa dibaca yapp

regard, Pimthact

 

27 thoughts on “Find

  1. Aaaaa nyesek banget sumpah 😂 sampe speechless “?”
    Cocok bangetlah yoona sama kai. Pokoknya sih baca-like-komen-mencintaimu! Keren thor, lanjutkan wkwk

  2. Ya ampun friend zone 😂 yah yoona nya ga peka kalo jongin cinta sama dia lebih dari sahabat😂😂 keep writing author^^

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s