CALL ME BABY – CHAPTER DUA

r-call-me-baby

AUTHOR :KIM SUYOON

 MAIN CAST : SUHO | YOONA | EXO |OTHER CAST : SEO YU NA (AOA) |CATEGORIES : ROMANCE, FRIENDSHIP |LENGHT : CHAPTER |RATING : PG-17

Seorang author pendatang baru, semoga tulisan ini dapat diterima para YoongExo🙂

Segala ide cerita murni milik author dan dilarang untuk mengambil hak cipta ^^  Selamat membaca dan diharapkan respeknya atas karya author untuk meninggalkan jejak setelah membaca dalam bentuk komentar. Happy reading🙂

| SATU |

OoO

Suho membuka pintu rumah sewaannya dan berseru pelan saat melihat tumpukan salju putih berada ditepian jalan raya didepannya. Hujan salju semalam menyisakan hamparan salju ditiap sudut jalan, dibatang pohon bahkan ditiang listrik. Dia menggosok kedua tangannya yang bersarung tangan dan meniupnya perlahan dan tertawa melihat uap dingin keluar dari rongga mulutnya.

“Wooaah..ini menyenangkan..” Suho tertawa seraya merapatkan jaket tebalnya dan memasang bannienya serta kacamata tipis berbentuk bulat dibatang hidungnya yang bagus. Dia mengatur dirinya agar tidak dikenali dengan kacamata seperti itu dan mengubah tatanan rambutnya.

Suho menuruni tangga rumah dengan hati-hati bersama tongkatnya. Tangga terlihat licin dan Suho bernapas lega saat dia berhasil berdiri diaspal dengan selamat. Matanya menatap coffeeshop yang berada tepat diseberangnya. Tulisan open tergantung dibalik kaca pintunya dan dengan lambat Suho menyebrangi jalanan lenggang itu.

Belum memasuki kafe cantik itu aroma kopi dan cokelat yang harum sudah menyambut penciuman Suho. Dia menggelengkan kepalanya seraya menggeser pintu masuk kaca itu. “Aku akan membawa Minseok kemari.” Suho bergumam dan melangkah memasuki kafe.

Suasana kafe yang hangat dengan nuansa cokelat susu dan meja-meja bulat yang tersusun rapi membuat Suho langsung merasa suka. Dia menatap seputar kafe dan melihat meja kopi yang dipenuhi dengan alat pembuat kopi canggih. Display berisi bermacam bentuk dan jenis roti terletak didekat meja kasir. Suho menatap daftar minuman dan snack yang tergantung besar dibelakang konter pemesanan sebelum dia mengambil sebuah meja yang berada tepat didekat pintu masuk.

Kafe itu masih sepi sehingga kedatangan Suho sebagai pelanggan pertama menangkap perhatian Yu Na yang sedang berada dikonter pemesanan dan baru saja mencolokkan flashdisk ke sebuah music player yang terdapat dibawah meja konter.

Lagu Call Me Baby langsung mengumandang keras disepenjuru kafe membuat tanpa sadar Suho terlonjak kaget. Dia menekan dadanya yang berdebar seketika saat mendengar lagu mereka dimainkan secara tiba-tiba di kafe itu. Dia membetulkan letak kacamatanya saat melihat seorang gadis mendekati mejanya dengan sebuah menu di tangannya. Suho dapat mendengar suara gadis itu menyanyi bagian partnya di Call Me Baby.

“Anneyeong…ingin pesan apa?” Yu Na meletakan daftar menu dihadapan pria bertopi yang menunduk itu dan menanti dengan sabar saat pria itu mulai memperhatikan daftar menu.

Suho terus saja menunduk sambil membaca daftar menu itu. Lewat sudut Matanya dia melihat gerakan gadis itu mengikuti musik Call Me Baby. Suho tersenyum dalam hati dan jarinya menunjuk sebuah menu.

“Latte. Dengan roti menu hari ini.” Dengan kehati-hatian yang luar biasa, Suho bersuara.

“Eoh?” Yu Na menghentikan senandungnya saat mendengar suara milik pria yang mengenakan bennie itu. Dia menatap Suho dengan lekat dan dengan cepat pula pria itu seolah sibuk dengan kacamatanya.

“Latte?? Dengan roti hari ini? Hanya itu?” Yu Na mengulang perkataan Suho.

Suho menggigit bibirnya dengan bimbang. Dia merasa bahwa gadis didepannya itu mengenali suaranya. Dia mengeluh dalam hati ketika kini lagu berganti menjadi Love Me Right dan suaranya kembali terdengar diawal setelah part Baekhyun sebagai pembuka.

“Ah…ne…” Sedapat mungkin Suho membatasi kalimatnya.

Yu Na membungkuk sambil menarik menu setelah menulis pesanan Suho. “Ah…Ye?? Hanya itu?” Timbul rasa penasaran di hati Yu Na saat mendengar suara pria itu.

Suho menggertakkan gerahamnya dan mengangkat mukanya untuk menyakinkan gadis didepannya sekaligus menantang dirinya sendiri.

“Ah..Ne..hanya itu saja, Nona.” Secepat dia mengangkat mukanya secepat itu pula dia menunduk.

Yu Na terpesona melihat wajah putih tampan itu dan tersipu saat menyadari gerak tidak nyaman pria itu karena ditatapnya. Dia mengusap belakang telinganya dan terkekeh. “Mian ne…ku pikir tadi..ah..lupakan..suara anda hampir sama seperti suara idolaku..ini…anda mendengar lagu yang kuputar?” Yu Na melihat pria itu mengangguk cepat.

“Itu EXO!! Jika anda orang Korea pasti tahu siapa itu EXO dan biasku itu Suho Oppa.” Dengan girang Yu Na membungkuk seraya berkata. “Ditunggu pesanannya.” Kemudian dia berlari pergi menuju dapur.

Suho menghembuskan napasnya dan tertawa pelan. Dia menatap ada dua gadis lain yang membantu gadis tadi didapur. Dia bisa melihat sebuah celah di belakang meja konter sementara kini lagu berganti pada lagu Lucky. Suho tanpa sadar mulai mengetukkan jarinya dan bergoyang pelan mengikuti irama musiknya bersama para member.

Sambil menanti lattenya tiba, Suho sepuasnya memperhatikan dekorasi kafe yang menyenangkan. Terdengar suara pintu kaca digeser berikut disusul oleh suara lembut.

“Yu Na- yah..aku datang..Bantu aku mengambil biji kopi di bagasi.” Yoona melangkah masuk sambil membuka hidung parkanya. Dia mengebut lengan parkanya yang tampak dipenuhi butiran salju. “Salju kembali turun..” Kalimat Yoona terputus ketika melihat Yu Na muncul dari konter dengan membawa nampan pesanan. Uap dan aroma Latte hangat menguar di penjuru kafe.

Yu Na menggelengkan kepalanya. “Aish..Eonni..kau berteriak-teriak didepan pelanggan pertama kita hari ini.” Yu Na menuju meja Suho yang tengah menatap Yoona tanpa berkedip.

Yoona terkejut dan otomatis menoleh meja diamana Yu Na mengantar pesanan dan matanya terbelalak saat melihat pria berambut hitam kecokelatan dirumah seberang kafenya tengah menatapnya lekat.

Dua pasang mata bertemu dalam persekian detik yang mampu secara ajaib membuat pipi keduanya terasa panas. Suho sudah ratusan kali melihat wanita cantik dalam hidupnya sebagai artis. Namun baru kali ini dia sanggup memaku tatapannya pada sosok bernama wanita tanpa sanggup mengalihkan pandangannya. Sebaliknya Yoona seolah tersedot pada sepasang mata yang bersinar lembut dibalik kacamata bening itu. Ternyata kulitnya lebih putih dari yang kubayangkan. Rambutnya lebih mendekati warna hitam dari pada warna cokelat. Dan…

“Ehem!!!” Yu Na berdehem keras sambil tersenyum pada Suho

.

Yoona dan Suho seolah tersadar dari tatapan yang saling mengikat itu dan Yoona segera menunduk. Sementara Suho mendongak menatap Yu Na yang sedang tersenyum lebar padanya. “Silakan dinikmati.”

“Ah..Ne…” Suho membalas senyuman Yu Na tepat kembali salah satu gadis part time memutar kembali lagu Call Me Baby. Mau tak mau Suho terbahak. “Apakah ini lagu favorit kalian?” Telunjuknya menunjuk speaker yang tergantung dilangit-langit kafe.

Yu Na menyahut dengan antusias. “Call me baby..call me baby…lagu favorite kafe ini..”

“Siapa bilang?!” Suara bantahan Yoona membuat Suho menatapnya dan terdengar tawa keras Yu Na. Merasa ditatap seperti itu oleh pria itu, Yoona merasa kepalanya seperti akan meledak karena malu. D menggoyangkan tangannya. “Aniya…EXO adalah favorit sepupuku ini.”

Suho tersenyum dan mengangguk maklum. Yu Na masih tertawa saat meninggalkan meja Suho dan Yoona segera membungkuk hormat. “Silakan dinikmati.” Setengah berlari dia menuju konter dan melempar parkanya dibelakang dengan wajah merah.

Suho tertawa kecil dan menikmati lattenya yang hangat dan dia potong roti berukuran besar dengan rasa keju dan cokelat dan hampir mendekati seperti macaroon.

Yoona memperhatikan sosok Suho dibalik meja kasir dan dia melihat tongkat yang terlatak disamping kursi pria itu. Tengah dia menatap seperti itu, bahunya dicolek Yu Na berikut suaranya yang pelan.

“Tidakkah dia seperti Suho EXO?” bisik Yu Na berharap. “Suaranya hampir mirip…”

Yoona menoleh Yu Na dan mengetuk kepala gadis itu dengan pensil yang dipegangnya. “Dasar pengkhayal! Idola seperti Suho tidak akan nyasar kekota kita..lagipula…Suho EXO lebih tampan dari pria itu.” Yoona berkata tanpa berpikir panjang bahwa mungkin saja pelanggan mereka satu-satunya itu mendengar kalimatnya.

Musik Growl berakhir tepat Yoona mengatakan kalimat terakhir dengan lantang karena mengimbangi suara musik. Yu Na menutup mulutnya dan Yoona juga membeku saat mendengar suara orang tersedak ketika dia mengucapkan kalimat itu.

Suho merasa roti yang ditelannya sangkut di tenggorokannya ketika mendengar kalimat wanita berambut panjang itu. Dia mendengus menahan tawanya dan memuji dirinya sendiri akhirnya sukses membuat orang lain tidak mengenali dirinya.

“Dia mendengarnya, eonni..”bisik Yu Na menahan senyum seraya matanya melirik pria berkaca mata yang duduk tenang dimeja sambil menyeruput lattenya.

Yoona memejamkan matanya dan merasa ingin masuk ke dalam tanah saja. Dia melotot pada Yu Na. “Kau juga! Musik upbeat tidak cocok di coffeeshop seperti ini!” Yoona mengomel panjang pendek seraya membalikkan tubuhnya menatap kedepan dan sepasang matanya bersirobok dengan mata pria berambut hitam kecoklatan itu.

“Lattenya enak!” Suho mengangsurkan cangkir lattenya dan berseru lantang penuh percaya diri karena penyamarannya berhasil. Kedua wanita di kafe itu tidak mengenalinya.

Yoona segera mengangguk dalam. “Ah..ne..kamsahamnida..” Lalu dia cepat-cepat menunduk, pura-pura sibuk dengan mesin kasirnya. Didengarnya Yu Na mengubah track lagu dengan lagu L.O.V.E dari BEG. Dia juga mendengar gerutuan gadis itu ketika berjalan kembali ke dapur.

“Suaranya sama persis kok..!!”

Yoona mengangkat bahu dan melalui buku menu yang dipegangnya, dia menatap sosok tegap itu dari kejauhan. Dia lebih tampan dari Suho EXO , Yoona menepuk pipinya dan mencoba mengalihkan perhatiannya dari objek berkacamata itu.

Suho menikmati waktu paginya di kafe yang nyaman itu sambil matanya menatap jalanan bersalju dari kaca kafe yang bening. Tampak aktivitas pagi hari telah dimulai. Dia bisa melihat kesibukan warga Gimcheon yang berjalan ke kantor ataupun menuju ke sekolah. Dia juga melihat beberapa orang kantoran memasuki kafe itu dan menciptakan antrian pendek untuk membeli secangkir kopi panas dan roti hangat untuk menjadi teman menuju tempat kerja mereka.

Suho mendapatkan kenyataan bahwa kafe itu menjadi kafe salah satu yang digemari. Beberapa dari pembeli adalah pelanggan tetap dan dia melihat keempat wanita di kafe itu melakukan pekerjaannya dengan gembira. Suho menjadi asyik memperhatikan wanita berambut panjang itu yang selalu memperdengarkan tawa cerianya pada setiap pelanggan. Suara tawanya enak didengar dan pandang mata Suho sama sekali tak lepas dari wajah cantik itu.

Perhatian Suho tergugah ketika sekelompok remaja sekolah memasuki kafe. Telinganya mendengar sebuah kalimat salah satu remaja yang mengantri.

“Lihat? Pria itu seperti Suho oppa!”

“Ah..jjinja? Suho Oppa..?”

Bisik-bisik mereka terdengar jelas oleh Suho membuat dia menunduk menghabiskan lattenya dan menarik syal rajutnya melingkari area hidung dan mulutnya.

Yoona yang sedang membuat cokelat hangat pesanan para remaja itu mengangkat mukanya dan melihat sekilas gerakan tidak nyaman pria itu yang kini tampak melingkari separuh wajahnya dengan syal rajut merah.

“Aish…leader EXO tidak mungkin berada disini.” Yoona menyerahkan cokelat hangat pada gadis diantrian pertama.

“Tapi eonni…wajahnya mirip meskipun dia memakai kacamata.” Gadis itu menyahut dengan cepat. “Dia juga membawa tongkat, Suho Oppa sedang cedera lutut loh.” Gadis kedua menyambung dibelakang punggung gadis pertama.

Yoona melirik bagaimana Yu Na dimeja kasir mengangguk dengan percaya diri. Yoona menghela napas dan mendorong lengan para remaja itu. “Cepat bayar, nanti kalian terlambat!” Dengan halus dia mengusir para gadis remaja itu.

Suho pura-pura sibuk dengan jaketnya ketika sekelompok remaja itu melewati mejanya sebelum menuju pintu keluar. Dia menghembuskan napas leganya ketika sekelompok remaja itu berlalu meskipun masih dengan penasaran mereka mendekati kaca jendela dimana meja Suho berada. Suho cepat berdiri dan membelakang mereka. Dia membetulkan letak kacamatanya dan meraih tongkatnya.

Yu Na sedang berada di dapur ketika Suho akan membayar sehingga Yoona yang berada di meja kasir menggantikannya.

“5000 won.” Yoona mengucapkan harga pesanan Suho dan menatap pria itu menunduk mengeluarkan kartu kreditnya. Saat meminta Suho menekan nomor pinnya, rasa penasaran Yoona sudah tak terbendung lagi.

“Apakah kau penyewa baru rumah didepan itu?” Yoona menunjuk rumah bertingkat dua diseberang kafenya.

Suho mengangkat matanya dan sejenak terdiam akan akan pertanyaan Yoona. Lalu dengan cepat dia mengangguk. “Ah..ne..” Dengan canggung dia mendorong mesin gesek kartu kredit kehadapan Yoona.

Merasa pertanyaannya hanya dijawab singkat oleh pria itu, Yoona segera menuntaskan pekerjaannya. Namun gerakan jarinya diatas mesin kasir terhenti saat kembali mendengar suara pria didepannya itu.

“Bagaimana caraku untuk bisa ke pusat kota?”

Yoona menatap manik mata lembut dibalik kacamata bening itu. Jantungnya berdebar secara tidak terduga. “Kau bisa menaiki busway dihalte tak jauh dari tikungan jalan ini. Hanya ada satu bus way dari sini yang tujuannya kepusat kota.”

Suho mengangguk dan tersenyum. Dengan halus dia berbalik dan berjalan menuju pintu keluar diikuti pandang mata Yoona. Dia melihat pria itu melangkah lambat dengan tongkat di tangannya. Dia bisa menduga bahwa pria itu tengah mengalami cedera pada kaki kanannya. Bagaimana dia berjalan seperti itu menuju halte lagipula apakah dia bisa sampai pada tujuannya?

Selintas pikiran menerpa Yoona membuat dia meraih parkanya yang terletak pada kursi kasir. Dia mengenakan benda itu seraya berteriak pada Yu Na.

“Yu na- yah…jam berapa kau akan ke kampus?” Yoona menarik tudung parkanya untuk melindungi kepalanya. Terdengar suara jawaban Yu Na dari dapur.

“Masih sekitar 3 jam lagi, eonni..”

Yoona keluar dari konter pesanan dan melangkah cepat menuju pintu keluar. “Aku akan kembali secepatnya.”

Yu Na melongok dari lubang dapur dan heran melihat Yoona yang berlari keluar dari kafe.

OoO

Suho melangkah pelan-pelan diantara jalanan licin bersalju pagi itu. Udara Gimcheon begitu segar meskipun dalam cuaca bersalju seperti itu. Suho tetap melingkari syal sebatas hidung dan mulutnya dan melihat bahwa halte busway masih sekitar 200 meter didepannya. Saat dia melangkah setengah melamun begitu dia mendengar seruan dibelakangnya.

“Tunggu!! Anda yang bercoat biru, berhenti sebentar!!”

Suho menghentikan langkahnya. Dia menoleh kiri kanan dan mendapati hanya dia seorang yang berada ditepian jalan itu dan yang mengenakan coat warna biru. Dia memutar tubuhnya dan bola matanya membesar melihat wanita berambut panjang pemilik kafe itu sedang berlari kearahnya.

“Ya. Tunggu disitu.” Yoona berseru keras dan terus berlari tanpa menyadari bahwa jalanan yang dilaluinya cukup licin akibat hujan salju semalam yang menyisakan tumpukan salju mencair.

Suho melihat Yoona berlari melewati tumpukan salju yang mulai mencair. Dia berusaha bersuara memperingatkan wanita itu. “Hati-hati…” Namun seruannya sudah terlambat. Dia melihat bagaimana Yoona meluncur dengan mulus dijalanan licin itu.

Yoona merasa bahwa kakinya menginjak salju cair dan dengan bebas dia meluncur sebelum jatuh terduduk dengan mulus.

Suho menahan seruannya melihat wanita itu terduduk diaspal licin didepannya. Yoona memejamkan matanya dan merasakan rasa malu tingkat tinggi.

Suho menahan senyumnya melihat Yoona yang memejamkan matanya dengan wajah memerah. Dia melangkah mendekati Yoona dan mengulurkan tangannya.

“Apakah baik-baik saja?” Suho berkata halus.

Yoona membuka matanya dan mendapati sebuah telapak tangan putih terulur didepan wajahnya. Dia mendongak dan melihat pria berkacamata itu sedang tersenyum kecil melihatnya. Dengan wajah memerah, Yoona menerima uluran tangan itu dan bangkit dari jatuh dan rasa malunya.

“Gomawo…” ucap Yoona pelan.

Suho tertawa kecil. “Ada apa memanggilku?”

“Eh…?” Yoona terdiam sejenak sebelum menjawab canggung. “Ku pikir aku bisa membantumu menemani ke pusat kota. Karena kau seorang pendatang dan..ku pikir…yaahh..kupikir aku bisa membantu menunjukkan tujuanmu.” Yoona merasa dia persis orang bodoh yang sok baik.

Suho termenung mendengar kalimat Yoona. Jantungnya berdegup lebih cepat dari batas normal. Melihat wajah memerah dan sikap malu-malu didepannya itu membuat Suho merasa berdebar.

“Kamsahamnida..aku akan sangat terbantu sekali.” Suho menjawab cepat dan secara otomatis kembali tangannya terulur. “Kim Junmyeon. Aku penyewa baru rumah yang diseberang kafemu.”

Yoona menatap kembali tangan yang terulur itu. Dia juga tidak mengerti mengapa hatinya demikian tergerak untuk mendekati pria berkacamata itu. Sejak pertama kali dia melihat sosok pria itu keluar dari taksi, hatinya sudah dipenuhi rasa ingin tahu dan tertarik.

Yoona menjabat tangan halus itu dan menjawab. “Im Yoona. Yoona.”

Suho merasakan sebuah sengatan listrik menyergapnya yang berasal dari jemari indah didalam genggamannya. Aneh…kenapa? Mengapa hatiku demikian berdebar seperti ini?

OoO

exo dorm.

Para member kembali ke dorm pada pukul 2 dini hari dan kebiasaan mereka adalah langsung menuju kamar Mandi dan saling mengangtri sebelum pergi tidur. Mereka yang menunggu member selesai memakai kamar Mandi akan berkumpul di salah satu ruangan di dorm mereka.

Xiumin sempat kelepasan bicara saatkeluar dari kamar mandi. “Junmyeon-ah..giliranmu..”kemudian dia terdiam saat semua menatapnya dengan terkejut.

“hyung…kau membuat aku bertambah sedih saja!” cetus Sehun dengan nada menegur, lupa diri bahwa dia seorang maknae.

xiumin meletakkan handuk kecil dirambutnya yang basah. dia duduk diujung sofa dimana berada Chanyeol. “mian ne…” ucapnya pelan.

seketika suasana terasa tidak enak bagi mereka. suara datar do membuat mereka semakim terpekur. “kalau sudah seperti ini baru kusadari bahwa kehadirian Suho hyung sangat penting…”

“biasanya kita suka tidak mendengar ucapannya.” Chen menyambung dengan tawa pahit. “tapi dia selalu berusaha membuat kita nyaman.”

“dan mengurus makan kita dan kesehatan kita.” Baekhyun memainkan kuku jarinya.

tiba-tiba Chanyeol bangkit berdiri. Dia menatap para member dengan senyum tipis.”aku mandi dulu.” setelah itu cepat melangkah menuju kamar mandi diujung dorm mereka.

baekhyun menghembuskan napas diudara. “Chanyeol yang paling sedih junmyeon hyung menghilang.”

“kau pikir aku tidak?” DO menoleh tiba-tiba dan bahunya didorong sehun.

“YA! aku juga dan sekarang aku harus tidur sendirian.”

“aish…kita semua kehilangan dia.” lay menengahi percakapan itu dan semuanya bersandar di masing-masing bahu member lainnya.

Sementara Chanyeol diam-diam memasuki kamar Suho dan Sehun. Sejenak dia menatap tempat tidur Suho yang rapi . Dia memegamg gagang pintu dengan erat. Dia sudah menghubungi salah satu teman ayahnya yang detektif swasta, dia akan mencari Suho. Meskipun padatnya jadwal EXO dia akan selalu menyelipkan waktunya untuk mengikuti perkembangan penyelidikan detektif itu.

OoO

Yoona terbangun dari tidurnya dan menatap jam beker di meja sudut ranjang. matanya melihat angka 5 disana dan dia memutuskan untuk bangun. dia terduduk seraya mengusap rambutnya. tiba-tiba saja dia menoleh kearah jendela kamarnya dan bergerak kearah benda itu. dia menyibak gordennya dan dia melihat jendela tingkat dua rumah yang disewa oleh Suho tampak terang benderang.

Yoona menempelkan tangannya dan menajamkan pandangannya. Samar dia melihat gerakan manusia dibalik jendela lebar itu. semakin intens dia menatap, semakin jelas bahwa sosok itu adalah Kim junmyeon. Yoona melihat bahwa pria itu terlihat sedang melakukan sesuatu yang menggerakkan tubuhnya demikian cepat. Dia juga bisa melihat gerakan tangan dan tubuh yang bergerak kesana kemari. “Apa yang dilakukannya dengan kaki seperti itu?”

Apa yang dilihat Yoona memang benar, Suho sedang mencoba menari dengan lagu Call Me Baby. Berkali-kali dia jatuh karena lututnya yang demikian nyeri namun berkali-kali juga dia bangkit berdiri dan melakukan tarian. Keringat bercucuran disepanjang dahi dan leher Suho. Untuk kesekian kalinya Suho kembali terjatuh dan kali ini dengan jengkel dia memukul lututnya. Tetes keringat jatuh dari rambutnya yang basah. “Sialan!! Sialan!!” Dia meletakkan wajahnya diantara lututnya yang begitu berdenyut nyeri hingga betisnya. Dia bisa merasakan betapa kakinya hingga ujung jarinya bergetar kuat.

Suho menghembuskan napasnya berusaha mengendalikan rasa frustasinya dan mencoba mengingat kalimat sang terapis yang datang sore tadi. Pria itu mengatakan bahwa kakinya membutuhkan istrirahat dari kegiatan menari dan mengikuti aturan pijatan ditahap awal. Suho menatap tongkatnya yang terletak tak jauh dari tempatnya berada. Dia mencoba bangkit berdiri dan meraih benda itu. Sambil mengusap peluhnya, Suho berjalan mendekati jendela. Langit kemerahan tampak muncul diufuk timur. Dia menatap langit itu dan menjatuhkan tatapannya kebawah. Dia terpaku ditempatnya.

Yoona dan Suho saling bertatapan dengan rasa terkejut mendapati bahwa mereka saling berpandangan. Suho mengerjabkan matanya melihat Yoona yang tanpa berkedip menatapnya melalui jendela kamarnya. Dan kali ini Yoona tidak ingin bersembunyi. Dia melambaikan tangannya dan memberikan tanda telunjuk kebawah. Kearah kafenya. Alis Suho terangkat dan mengikuti arah telunjuk wanita itu. Dia tersenyum dan memberikan jempolnya. langit kemerahan kini tampak mulai menerangi langit Gimcheon yang bening.

Yoona tertawa dan mundur dari jendelanya. Suho sama sekali tidak tahu bahwa wajah Yoona demikian memerah seperti kepiting rebus ketika kembali untuk kedua kalinya dia tertangkap basah tengah memperhatikan jendela rumah pria itu. Seperti menjangan dia berlari keluar dari kamarnya dan meraih handuknya. Yu Na yang sedang berjalan di koridor rumah itu menatap sepupunya itu dengan heran.

“Hei, Eonni..Aku harus mandi lebih dulu. Aku masuk pagi hari ini.’ Yu Na berlari mencoba mendapatkan gagang pintu kamar mandi. Tapi Yoona juga bertahan kuat sehingga Yu Na melotot. “Aish…Eonni..Cukup! Aku lebih membutuhkan kamar mandi saat ini dari dirimu.” Dia mendorong bahu Yoona dan disusul suara bersungut wanita itu.

Yu Na mencibir saat dia berhasil memasuki kamar mandi. Sebelum dia menutup pintu, dia melongokkan kepalanya. “Ngomong-ngomong kau utang cerita padaku tentang perjalananmu kepusat perbelanjaan bersama pria mirip Suho Oppa. Mengapa dia menggunakan tongkat? Dia cedera bukan? Dia pasti Suho Oppa, aku yakin!”

Yoona mengibaskan handuknya ke wajah Yu Na dan adik sepupunya itu berhasil menutup pintu kamar mandi sebelum handuk itu mengenai wajahnya. Yoona merasa telinganya panas. Cerita? Kim Junmyeon adalah pria pendiam yang pernah dijumpai Yoona namun menemaninya berbelanja kebutuhan sehari-hari cukup menyenangkan. Pria itu kadang melontarkan kalimat yang membuat Yoona tertawa sehingga acara menemani itu tidak menjadi canggung padahal mereka baru saja berkenalan.

Sementara itu Suho menatap wajahnya di cermin dan mendengus menahan tertawa. Perasaan yang dirasakannya sekarang terasa begitu nyaman dan normal. Dia akan bertemu dengan seseorang yang sama sekali tidak mengenali siapa dirinya. Meskipun itu hanyalah pertemuan biasa sebagai seorang teman, Suho merasa ini adalah hal yang sudah sangat lama tidak dirasakannya. Lagipula dia menikmati saat bersama Im Yoona seperti kemarin. Wanita itu terlihat santai saat menemaninya membeli kebutuhan sehari-hari meskipun kadang Yoona menatap tongkatnya dengan alis berkerut. Suho memasang kacamata beningnya dan keluar dari kamarnya.

Seorang pembersih rumah tangga sudah datang dan sedang terlihat sibuk membersihkan beberapa ruangan meskipun sesungguhnya semua ruangan itu tidak digunakan Suho namun dia tidak melarang karena dia tahu penghasilan sepasang suami isteri itu berasal dari para penyewa rumah di real estate itu.

Wanita paruh baya itu mendongak dari kesibukannya menyapu ruangan tengah saat dilihatnya pria muda itu turun dengan perlahan. Suara ketukan tongkatnya bergema dipenjuru rumah itu. “Apakah anda ingin saya siapkan sarapan?”

Suho sukses menjejakkan kakinya dilantai marmer itu dan menurunkan sedikit kacamatanya keujung hidungnya. Dia menjawab dengan senyum kecil. “Aniya..aku akan mencoba di coffeeshop diseberang. Tapi anda bisa membuatkan makan siang buatku sebelum kalian pulang.” Suho berkata halus karena tidak ingin mengecewakan sang Ahjumma. Wajah paruh baya itu tampak berseri sembari kembali menyapu, wanita itu berkata ringan.

“Kopi buatan Yoona-yah sangat nyaman bukan? Setiap penyewa rumah ini selalu minum di kafe itu.”

Suho menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya untuk menatap Ahjumma yang sedang menyapu. Tanpa menarik perhatian, dia bertanya santai. “Kau mengenalnya, Ahjumma?”

Ahjumma itu mengangkat wajahnya dan tersenyum lebar. “Dia digemari oleh setiap orang yang datang untuk minum di kafenya sehingga mereka menjadi langganannya. Dia seperti malaikat kecil bagi kami yang menjadi kelompok manula.” Wanita itu tertawa membuat Suho juga ikut tertawa. Namun tawa Suho seketika lenyap saat mendengar kalimat sang Ahjumma. “Tapi Yu Na si ceriwis bilang pada kami bahwa rumah ini disewa oleh seorang idola. Cucuku juga berkata demikian. Katanya kemarin saat dia membeli kopi di kafe Yoona, dia melihat seorang yang sangat mirip dengan idola remaja saat ini.”

Suho segera membetulkan letak kacamatanya dan bersiap-siap berlalu. Dia masih mendengar seruan pelan sang Ahjumma itu dibelakangnya. “Katanya nama idola itu Suho EXO. Apakah anda tahu apakah itu benar?” Tapi Suho sudah ngacir secepatnya dari pandangan sang Ahjumma.

OoO

Yoona sedang mengatur meja meja berpayung yang berada diteras kafenya ketika Suho menyebrangi jalan raya dan mendekati Yoona. Suho tertawa dalam hati saat melihat Wanita itu persis seperti orang Eskimo dengan jaket tebal dan topi bulu seperti itu. wajahnya yang putih sangat cocok dengan kondisi musim salju seperti itu.

“anneyeong…”

Yoona mengangkat mukanya dari usahanya membuka payung. dia melihat Suho berdiri tepat disebelahnya. “hai..” pria itu tampak terlihat segar dengan kulitnya yang bersih.

“perlu bantuan?” Suho tersenyum melihat Yoona seperti sangat kesusahan membuka tutup payung.

Yoona mendongak pada bagian tiang payung yang masih tertutup. dia memang sedikit kepayahan membuka payung dimeja itu. dia menggoyangkan tiang payung dan menekan keras tombol namun benda itu sama sekali tidak terbuka.

Suho tertawa dan menjulurkan tangannya setelah meletakkan tongkatnya disudut meja. dia menekankan telapak tangannya tepat diatas punggung tangan Yoona. dia menatap wajah wanita itu dan berkata pelan. “kita akan mendorongnya bersama.”

Yoona merasakan telapak tangan hangat Suho berada tepat diatas punggung tangannya. pria itu berdiri tepat disampingnya, dia bisa melihat leher Suho dengan dekat. Yoona menunduk saat suara Suho kembali terdengar. “1…2..3..” telapak tangan hangat itu mendorong halus punggung tangan Yoona.

Yoona menahan napas dan memejamkan matanya saat tangan mereka saling mendorong dan seketika payung itu terbuka lebarnya diatas kepala Yoona dan Suho. percikan salju yang mencair menimpa wajah keduanya saat mereka mendongak.

“wooaaah….” Suho berseru girang saat merasakan dinginnya salju yang mengalir diwajahnnya. tanpa sadar dia menggenggam tangan Yoona dan menarik wanita itu agar mundur.

Yoona menyipitkan matanya dari percikan salju dan terpaku melihat tangannya yang berada didalam genggaman Suho. pria itu tampak sedang menyeimbangkan kakinya dan menatap Yoona .

Suho terdiam saat merasakan bahwa dia menggenggam erat jemari lembut Yoona. mereka terdiam untuk sejenak tanpa berniat melepaskan tangan mereka hingga kemunculan Yu Na di belakang mereka.

“eonni…aku pergi dulu…” Yu Na mengerem langkahnya dan terbelalak melihat muka sepupunya yang berdiri bengong bersama pria tetangga seberang kafe mereka. “eonni-yah…?”

Yoona dan Suho segera melepaskan tangan mereka dan hal itu membuat dia limbung dan cepat meraih tepian meja. dia cepat mengambil tongkatnya.

Yoona menoleh dan mendapati Yu Na berdiri didepannya dengan wajah penasaran. gadis itu bergantian menatap wajahnya dan wajah Suho. Suho menjilat bibirnya yang terasa kering dengan lidahnya dan menyapa Yu Na dengan sikap biasa. “anneyeong…”

alis yu Na terangkat dengan menggoda. “Apa sudah lama disini bersama eonniku?” yu na menikmati semburat merah pada wajah Yoona.

Suho tertawa kecil. Yu Na semakin curiga kalau pria bernama Kim junmyeon didepannya itu adalah Suho Exo. Apa lagi nama pria itu mengingatkannya akan nama asli sang leader. Tapi Yu Na mengurungkan niatnya untuk mulai ceriwis. dia harus segera pergi ke kampus.

dia menepuk bahu Yoona dan masih sempat menggoda wanita itu. “aku pergi..silakan lanjutkan..”

“Yu Na!!” Yoona berseru dan dia bisa mendengar tawa Suho.

Yu Na siap berlari namun dia membalikkan tubuhnya. dia berjalan mendekati Yoona seraya merogoh saku celana jeansnya.

“setelah aku pulang kuliah kita pergi menonton transformer ya..ada 3 ticket yang kudapatkan dari teman ku.” Yu Na memandang Suho yang tampak tertarik.

Suho mendengar judul film kesukaannya dan menatap ticket yang diserahkan Yu Na pada Yoona. Terlihat Yu Na menunjuk wajah suho. “tenang saja..kau juga kedapatan ticket. kita pergi bertiga nanti malam..bye..”

Suho merasa bahwa wajahnya memanas saat mendengar kalimat Yu Na. gadis itu seolah sedang memainkan sebuah puzzle bersama dirinya. yu na seolah sedang mengumpulkan tiap keping puzzle untuk membuktikan bahwa dia adalah Suho Exo.

suho menatap ticket itu dengan lemah. transformer adalah salah satu kelemahannya. dia penggemar berat film itu dan fansnya cukup tahu akan hal itu. Suho merasakan seolah ada guntur diatas kepalanya.

“bagaimana kalau masuk ke kafe? udara dingin tidak baik untuk kakimu.” Yoona melangkah memasuki kafe diikuti pandang mata Suho.

Suho mencengkram erat ujung tongkatnya dan menatap punggung mungil yang memasuki kafe.

Yoona membalikkan tubuhnya dan menggapai Suho. “Hei..Junmyeon-ssi..masuklah..capucinno menantimu di dalam.”

Ada rasa hangat menjalari perasaan Suho saat mendengar namanya keluar dari bibir Yoona. Sebuah rasa Asing yang sangat menyenangkan membuatnya melangkah memasuki kafe.

OoO

EXO dorm.

Chanyeol melepaskan head speakernya dan mengurut batang hidungnya. Dia menyandarkan punggungnya dan menatap layar komputernya, tempat dimana dia menciptakan lagu. Dia mengangkat kedua kakinya dan memeluk lututnya. Dia melepas topinya dan termenung menatap layar komputer. Dia masih mengingat pesan yang baru saja masuk dini hari tadi bahwa para detektif sewaannya sama sekali tidak menemukan titik keberadaan Suho. Pesan itu membuat Chanyeol tidak bisa tidur dan memutuskan mencoba menciptakan lagu.

Terdengar suara pintu dibuka. Chanyeol memutar kursinya dan melihat Sehun melangkah masuk dengan wajah dan rambut kusut. Bola mata Chanyeol membesar. “Mengapa kesini?” Dia memandang jam di dinding. Jarum jam menunjukkan angka 6 dan melalui celah jendela, Chanyeol melihat cahaya terang langit musim dingin. “Jadwal pemotretan kita pukul 11 dan seharusnya kau masih tidur, Sehunie.”

Sehun mengacak rambutnya dan duduk di sofa bulat diseberang kursi Chanyeol. Dia menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa. Dari tenggorakannya dia mengeluarkan erangan pelan. “Aku tidak bisa tidur.” Sehun menegakkan kembali kepalanya dan menatap Chanyeol seperti orang teler karena pada dasarnya dia sangat mengantuk tapi matanya tidak ingin menutup barang sejenak. “Rasanya tidak nyaman sendirian dikamar yang biasanya ada Suho hyung.” Sehun mengucapkan itu dengan ekspresi susah. “Apa hyung sudah mendapat informasi keberadaan Suho hyung?”

Chanyeol mendongak keatas dan mengeluarkan keluhan keras. “Aaarggghh…”lalu dia menatap Sehun dengan menggelengkan kepalanya. “Tidak satupun. Suho hyung benar-benar lenyap begitu saja seperti ninja.”

Sehun mendengus menahan tawanya. Dalam kondisi apapun Chanyeol selalu berhasil membuat suasana rilex dengan ucapan-ucapannya.

Terdengar derap langkah kaki mendekati ruangan itu dan disusul dengan terbukanya pintu dengan lebar. Baekhyun, Xiumin dan D.O menyerbu masuk.

“YA! Apa sudah ada kabar? Kau menyuruh kami menunggu hingga pagi.” Baekhyun mendekati Chanyeol dan mengguncang bahu Chanyeol.

“Hei! Duduk dulu.” Chanyeol melotot dan dengan patuh baekhyun duduk disamping Sehun sementara D.O mengambil tempat di lengan sofa yang diduduki Sehun. Xiumin duduk di meja komputer dan menatap Chanyeol dengan penasaran.

“Jadi..?”

Chanyeol mendongak dan melebarkan kedua tangannya. “Jadi Apa? Para detektif itu tidak bisa memperkirakan kemana perginya Suho hyung.” Chanyeol menopang dagunya dengan punggung tangannya. “Andai aku bisa menduga tempat yang mungkin disukai Suho hyung. Karena dia senang mendatangi beberapa tempat sendirian.”

“Junmyeon suka menatap sungai Han sendirian.” cetus Xiumin cepat.

D.O menunjuk Xiumin dengan jarinya. “Itu tempat pertama yang kami datangi. Iyakan Sehunie.” Dia menoleh Sehun yang terlihat meredupkan matanya.

Sehun mengangguk lambat dan berkata serak. “Setiap lewat sungai Han aku selalu melihat di jendela mobil. Berharap hyung menyebalkan itu berdiri disana.” Sehun menatap berkeliling. “Tapi dia tetap tidak ada disana.”

Semuanya terdiam kemudian terdengar suara tepukan tangan baekhyun. “Bagaimana mulai sekarang kita menandai tempat-tempat di Seoul yang menjadi kemungkinan didatangi Suho hyung selain sungai Han.” Baekhyun melompat dan dalam dua langkah dia mengetuk layar komputer Chanyeol.

“Kau harus membuka Peta Seoul. Kita akan mencoba membuat list tempat-tempat yang mungkin didatangi Suho hyung.”

Bola mata Chanyeol berbinar dan menepuk bahu Baekhyun dengan girang. Dia memutar kursinya dan mulai membuka Google dan mengklik Peta kota Seoul. “Suho hyung suka tempat yang tenang. Seperti sungai…”

Sehun dan D.O segera berdiri dan berada di belakang kursi Chanyeol. Mereka mulai membuat list tempat yang mungkin didatangi Suho bahkan desa Hanokpun menjadi daftar mereka. Tapi kemudian Xiumin bersuara.

“Mengapa kita menlist tempat-tempat yang ada di Seoul? Suho tidak bodoh. Dia tidak mungkin menghilang di Seoul dimana dia sangat dikenali.”

Para dongsaeng itu menghentikan aksi menulisnya dan menatap hyung tertua itu. Chanyeol mengangguk membenarkan. “Benar juga..jadi…”

Xiumin mengacungan pensilnya. “Kita harus mendaftar kota-kota di Korea yang mungkin menarik perhatian Suho…mungkin pemandangannya atau kondisi kota itu sendiri. Suho suka sesuatu yang bersifat menenangkan.”

Mereka mulai berpikir dan Chanyeol mulai membuka daftar kota di Korea selatan berikut pembagian distriknya. Dia menoleh Xiumin dengan memelas.

“Ini sangat banyak sekali, Umin hyung. Waktu kita tinggal sedikit lagi untuk bersiap ke pemotretan.”

Xiumin melongok kearah layar komputer. dia tersenyum. “Gwenchana..kita mencoba Lima kota utama yang pernah kita kunjungi.”

Kembali mereka berpikir. “Busan?” D.O mulai menebak. Dia melanjutkan dugaannya setelah melihat yang lainnya menatapnya. “Busan dikelilingi laut, pantai dan juga kita sering kesana.”

Mereka mengangguk dan memasukkan Busan kedalam list mereka. Kini para member berkumpul diruangan itu. Lay, Kai, dan Chen menyusul masuk dan mulai mendengarkan dengan perhatian. Lay bertanya pada Sehun dan maknae itu menjelaskan dengan singkat.

“Berarti Mokpo juga termasuk. Mokpo terkenal dengan pemandangan laut dan ikannya. Kampung halaman Donghae sunbaenim.” Baekhyun berkata lantang.

Mereka memasukkan daftar kota yang memiliki pemandangan laut ataupun pantai dan sungai. Tiba-tiba Lay menyeletuk.

“Mengapa tidak memasukkan kota yang memiliki pegunungan?”

Semua member menatap Lay dengan seksama. “Mengapa?” Chen bertanya heran.

“Lay hyung terobsesi dengan rumah nenek baekhyun di daerah pegunungan,” Cetus Chanyeol tertawa.

Lay tertawa apalagi terdengar kalimat baekhyun. “Itu daerah pegunungan.”

“Ku pikir mungkin saja Suho berada dikota yang ada gunungnya.” Lay mencoba mengeluarkan pikirannya.

“Tapi Suho hyung suka air. Itu karena dia punya kekuatan air.” Celetuk Kai tertawa. Serentak mereka tertawa namun kembali terdiam.

Chanyeol menatap Xiumin. “Bagaimana?”

Xiumin berpikir keras. “Pendapat Lay masuk akal. Masukkan kota dimana rumah nenek baekhyun berada, kemudian…”Xiumin menatap layar komputer. Dia mengetuk layar itu. “Untuk sekarang, dalam pikiranku berdasarkan geografis yang kuketahui adalah..Gimcheon!!”

Semua menatap Xiumin. “Gimcheon? Mengapa Gimcheon?” Tanya Chanyeol.

“Itu kota persinggahan…” Sambung Chen.

“Tapi dia dikelilingi pegunungan. Kota yang tenang. Cuma kota ini ada dalam pikiran ku.” Xiumin menjelaskan.

Mereka menatap layar komputer. “Itu di Gyeongsang Utara…” gumam Sehun.

Xiumin mengangguk. “Kita akan mencoba mencari Suho didaftar kota yang kita temukan saat ini. Selagi ada waktu sehari kosong, tiga atau dua orang dari kita akan pergi agar tidak menarik perhatian. Secara bergantian.”

Chanyeol bertepuk tangan. “Setuju.” Lalu dia mengulurkan tangannya. “We are one?”

Para member tersenyum dan meletakkan tangan mereka saling bertumpuk. “1..2..3..we are one!!”

Lalu chen menatap jam di dinding dan dia berteriak. “Pemotretan!!!” Dengan panik mereka berebutan keluar dari ruangan itu dan berlarian menuju kamar mandi.

Sementara itu orang yang sedang dicari sedang bersama wanita cantik yang pertama kali diakuinya, berada di belakang konter pemesanan kopi mencoba mengubah biji kopi menjadi sebuah minuman yang membangkitkan selera bersama Yoona. Suho merasa menjadi seseorang yang sangat normal meskipun sejak dia kembali mengaktifkan nomor ponselnya, matanya tertuju pada layar ponselnya, pada wallpaper ponselnya, yaitu photo para member EXO.

TBC

28 thoughts on “CALL ME BABY – CHAPTER DUA

  1. Uwaaa…kerennn..
    Tapi sayang aku udah baca ff ini di blog nya author 😂😂😂😂😂🔫🔫
    Suho nya keren banget di sini, YoonA nya jugaaaa…

  2. OHMYGOD I LOVE THIS FANFIC VERY MUCH😍 i love the way exo’s member really worried about Suho. and i love yoona’s character here💕💕💕

  3. gimcheon bukankah itu tmpt dimana suho exo berada,apakah member exo akan menemukan leader”y…q harap mereka menemukn suho exo?lanjut thor…q harap jngn kelamaan ya thor,penasarn gmn hubungn yoona ma suho…dipanjangn ya thor critnya hehe..bgi q kurng pnjng.lanjut..q TUNGGU part selanjutn”ya…

  4. Ini kereeeeeeeeeennn😀 wkwkwkw sebenernya bukan suho-yoong shipper. Tapi di ff ini suka sama mereka, mungkin karena ceritanya yang menarik dan gaya bahasanya yg gampang dipahami.. Ditunggu next nya

  5. Member Exo pada kesepian :3 huh kasian juga sih mereka. Suho juga T.T
    Yoona dan Yu Na, satu nama dua peran dan dua kepribadian😀 lol.
    Next thor.. Fighting!❤

  6. Nama’a yu na sama yoona klo diucapin sama…
    hahahaha,,,kasian sehun ngga bisa tidur…Daya analisis xiumin boleh juga udah kaya detektif…
    Ditunggu kelanjutannya…

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s