CALL ME BABY – CHAPTER TIGA

r-call-me-baby

AUTHOR :KIM SUYOON

 MAIN CAST : SUHO | YOONA | EXO |OTHER CAST : SEO YU NA (AOA) |CATEGORIES : ROMANCE, FRIENDSHIP |LENGHT : CHAPTER |RATING : PG-17

Seorang author pendatang baru, semoga tulisan ini dapat diterima para YoongExo🙂

Segala ide cerita murni milik author dan dilarang untuk mengambil hak cipta ^^  Selamat membaca dan diharapkan respeknya atas karya author untuk meninggalkan jejak setelah membaca dalam bentuk komentar. Happy reading🙂

| DUA |

OoO

Suho tampak sangat asyik memandangi bagaimana biji kopi tergiling sempurna di mesin pembuat kopi ketika suara Yoona mengangetkannya.

“Kau datang dari mana? seoulkah?” Yoona bertanya ringan disela-sela dia memperhatikan para pelanggan yang duduk tenang dimeja mereka masing-masing. sedikit banyak Yoona harus mengakui bahwa dia cukup bingung melihat kepercayaan diri Yu Na akan sosok didepannya ini adalah Suho exo. beberapa pelanggan remaja sekolahan saja dari pagi tadi selalu bertanya pria itu dengan pertanyaan, “apakah kau Suho Oppa?” dan tiap kali pertanyaan itu datang, pria itu akan tersenyum seraya membenarkan letak kacamatanya dan menggeleng halus.

 

pagi tadi saja sebelum membuka toko, Yu Na sudah mengiriminya sebuah photo idolanya itu melalui pesan Line. dan akhirnya lidah Yoona tidak tahan untuk tidak bertanya.

 

Suho menatap wajah cantik itu dalam kurun waktu persekian detik. dia mengerjabkan matanya dan menjawab pelan. “ah..ne..aku dari Seoul.” karena kebiasaan, Suho menurunkan kecamatanya ke ujung hidungnya.

Yoona tersenyum tipis, “keberatan jika aku bertanya mengapa datang ke Gimcheon.”

 

Suho terdiam. Yoona melepas tawanya dan melipat tangannya didada. “aku hanya bercanda. kau memiliki hak untuk tidak menjawab pertanyaan ku.” Yoona mengedipkan matanya dan bergerak meraih sebuah cangkir.

 

Suho menatap punggung yoona dan samar-samar suara alunan musik slow berkumandang di kafe tersebut. “aku memilih Gimcheon sebagai tempat aku untuk memulihkan lututku yang cedera.”

 

Yoona menghentikan gerakan tangannya yang hendak meraih cangkir. Dia memutar tubuhnya dan bersandar pada tepian konter. Dia menunggu kalimat dari bibir Suho namun dia mengangkat alisnya saat pria itu hanya tersenyum sambil mengangkat bahu.

 

“Hanya itu alasanku.” Suho memberikan senyum termanisnya yang membuat Yoona terpaku dengan wajah memerah.

 

Yoona menggembungkan pipinya dan mengerti bahwa Suho tidak ingin dia bertanya lebih dari itu. Pria itu tampak sangat menikmati waktunya melihat bagaimana secangkir espresso dibuat oleh salah satu pegawai part time yang dimiliki Yoona. Dia mendengar seruan Suho saat sebuah gambar daun tercipta diatas kopi tersebut.

 

Diam-diam Yoona melirik layar ponselnya dan menatap photo seorang Suho EXO yang terkenal. Yoona mengangkat matanya dan memandang profil samping pria berambut hitam kecokelatan itu, pada sosoknya yang berkacamata dan sebuah cedera lutut yang dialaminya. Mungkinkah dugaan Yu Na tepat. Kim Jun Myeon adalah Suho EXO ??

 

Darah Yoona berdesir saat Suho menoleh padanya. “Bagaimana kau mempelajari membuat semua menu kopi ini.”

 

Yoona segera berpikir cepat, selama pria itu hanyalah seorang penyewa rumah bertingkat dua diseberang kafenya, hal itu tidak mengganggunya. Justru dia merasa nyaman berteman dengan pria itu. Yoona mendekat dan menunjuk cangkir kopi yang akan siap diantar.

 

“Aku belajar dasarnya dari nenekku yang seorang pembuat kopi. Selanjutnya aku ikut kursus dari seorang pakar kopi di Busan.”

 

“Busan? Seorang chef?” Suho tertarik, dalam otaknya tertuju pada Xiumin yang mempunyai hasrat menjadi Barista.

 

Yoona mendapati ketertarikan Suho dan di tertawa. “Tertarik mempelajarinya?”

 

Suho mengusap rambutnya. “Salah satu temanku tergila gila dengan kopi dan berpikir bahwa impian terpedamnya adalah menjadi seorang barista.” Suho tertawa saat mengingat obsesi Xiumin ketika mereka sedang melakukan EXO Showtime beberapa tahun lalu.

 

Yoona mengangguk dan dia mendengar suara dering ponsel dari saku Suho. Dengan cepat pria itu menyambut ponselnya itu seraya membelakangi Yoona.Dengan mengangkat bahu, Yoona berjalan keluar dari konter. Dia mendekati salah satu meja yang merupakan berada sepasang kakek nenek yang saling bercakap penuh kehangatan seraya menikmati secangkir kopi ditangan masing-masing. Yoona terlibat percakapan dengan sepasang manula yang menjadi pelanggan tetapnya.

 

Suho menatap Yoona yang berdiri disamping meja sepasang manula itu dan bercakap dengan riang. Suara tawanya berkumandang diantara suara musik lembut khas sebuah coffeeshop. Suho menyimpan ponselnya dan berjalan keluar dari konter.

 

“Aku kembali dulu. Thanks untuk sarapan dan kopimu.” Suho menyela dengan halus percakapan Yoona bersama kedua manula itu.

 

Yoona menoleh dan berseru. “Ah..ah…ne..kau ikut nonton transformer nanti malamkan?” Yoona bertanya dan dijawab oleh anggukan Suho. sebelum keluar dari kafe, Yoona melihat bagaimana Suho membungkuk hormat pada sepasang manula tersebut.

 

Yoona masih terus menatap punggung tegap itu berlalu dari kafenya dan menyebrangi jalanan.

 

“apakah anak itu pacarmu?” suara sang nenek mengagetkan Yoona.

 

Yoona cepat kembali menatap sepasang manula itu dan segera menggoyangkan kedua tangannya dengan wajah yang tiba-tiba menjadi panas.

 

“aish…dia bukan pacarku..dia…dia seorang teman…” Yoona menunduk. dia mendengar suara tawa sang kakek.

 

“dia terlihat cocok bersamamu…”

 

Yoona segera mundur dari sepasang manula tersebut dan duduk di belakang meja kasir. dia menatap photo EXO leader di ponselnya dan membaca artikel tentang hilangnya sang leader. Yoona menatap bayangan rumah bertingkat dua tersebut. Dia bisa melihat sebuah mobil sedan terparkir didepan rumah tersebut. Yoona melihat sosok seorang pria sedang menaiki tangga rumah dimana Suho menyambutnya.

 

“terapis Jae Hee?” gumam Yoona.

 

OoO

“Ah!!!” Suho berseru keras saat tangan terapis Jae Hee mulai menyentuh lututnya. secara reflek dia menepis tangan Jae Hee dan bergumam protes . “Pelanlah sedikit, hyung!!”

 

Jae Hee mengelak dan kembali menangkap lutut Suho dan mulai memijit lagi. “jangan protes kalau kau memikirkan nasib para membermu sekarang. kau harus bisa sembuh sebelum 7 bulan seperti prediksi dokter.” tanpa memperdulikan lenguhan kesakitan dari bibir Suho, Jae Hee terus saja memijat melemaskan otot tegang yang menyerang Suho.

 

Suho menahan rasa sakitnya dengan menutup mulut rapat-rapat. dia menunduk dan memperhatikan lututnya sambil memikirkan perkataan Jae Hee, dia menyimpan semua pikirannya tanpa ingin membaginya dengan Jae Hee. dia tahu bahwa para member telah banyak mengirim pesan melalui Line saat dia mengaktifkan nomor lamanya.

 

“apakah kau tahu bahwa Chanyeol telah berjanji pada EXOL akan menemukanmu?” Jae Hee menatap kepala yang menunduk itu. dengan pelan dia memutar lutut Suho dan melihat bagaimana pria muda itu menggigit bibirnya menahan nyeri.

 

“aku tahu….aku membacanya di internet…” Suho mengangkat mukanya dan menentang pandang mata Jae Hee. “Dan bagaimana bisa pihak rumah sakit Gimcheon justru mengirimmu sebagai terapisku?”

 

Sudut bibir Jae Hee terangkat sedikit. Sambil terus memijati lutut suho dan kini beralih pada betis yang membuat kembali tubuh Suho terlonjak karena nyeri. Dia bisa mendengar helaan napas keras yang dikeluarkan oleh pria muda didepannya itu. “Kebetulan aku sedang didepan direktur rumah sakit yang kau telepon kemarin. Hanya iseng saja aku bertanya padanya.” Jae Hee mengangkat mukanya dan tersenyum miring. “Apa perlu kupraktekkan bagaimana caraku bertanya pada bosku itu?” Jae Hee melihat gelengan kepala Suho. Dia tertawa pelan dan menghentikans sejenak pijatannya. “Aku bertanya mengapa direktur seperti orang yang tertekan setelah mendapat telepon tersebut..”

 

“Direktur Kwang tertekan oleh teleponku?” Suho menyela dengan terkejut. “Kurasa dia tidak tahu siapa yang menelponnya.”

 

“Justru karena dia tidak tahu siapa yang menelponnya itu yang membuatnya tertekan. Dia mengeluh padaku, ‘ Jae Hee, pasien ini meminta salah satu terapis terbaik dirumah sakit ini untuk memulihkan lututnya yang cedera. Dia berkata akan membayar berapa saja asalkan pihak rumah sakit tidak mengetahui dirinya kecuali si terapis. Dia mengirimiku email tentang riwayat cederanya.’ Karena melihat direktur frustasi begitu aku meraih email yang diprint-out dan membaca riwayat pasien…”

 

“Dan kau memutuskan begitu saja akan menjadi terapisku?”, kembali Suho menyela membuat cengiran Jae Hee muncul.

 

Jae Hee tidak lupa akan betis Suho dan kembali memijat bagian itu membuat Suho menahan napas. “Disamping aku merasa bahwa akulah yang terbaik di rumah sakit, aku cukup penasaran dengan pasien misterius itu. Jujur saja pikiranku melayang padamu setelah meneliti salinan email itu. Royal dengan uang, cedera lutut serius dan tidak ingin dikenali. Dan BANG!! Aku tahu itu adalah Kim Junmyeon si Suho EXO!”

 

Suho menggigit bibirnya ketika jari-jari Jae Hee seakan memelintir betisnya. “Demi Tuhan, kau mengatakan bahwa kau yang terbaik? Saat ini kau sedang menyiksaku!” Suho mengeluh dengan kesal.

 

Tapi Jae Hee tidak peduli dengan segala bentuk keluhan Suho, kini pijatannya menuju jari-jari kaki Suho yang terlihat bergetar akibat reaksi dari nyeri pada lutut dan betisnya. “Ini adalah pijatan pertama. Sangat menyakitkan tapi jika yang kedua dan seterusnya kau akan merasa nyaman. Setelah itu kita akan mulai pada tahap berjalan tanpa tongkat.” Jae Hee menepuk pelan ujung jari kaki Suho. “Coba regangkan jari-jarimu dan perlahan tarik sepanjang kakimu sehingga lututmu sejajar.”

 

Suho melakukan apa yang disuruh Jae Hee dan dia mengeluarkan erangannya yang kesekian kalinya meskipun dia sudah berusaha sekuat mungkin menjadi lelaki kuat tapi tetap saja rasa menusuk bagai jarum membuatnya nyaris tak bernapas. Jae Hee segera menekan lutut Suho dengan handuk hangat yang sudah disiapkannya.

 

“Perlahan saja. Jangan terburu-buru.” Dengan telaten Jae Hee menekan handuk hangat itu pada lutut Suho dan Suho dapat merasakan perlahan rasa nyeri itu berangsur lenyap. Suho menggantikan tangan Jae Hee dan menatap pria itu menarik kembali lengan kemejanya seperti semula.

 

“Mengapa kau meninggalkan dunia akting dan menjadi terapis di kota ini, Hyung? Kau sedang bersinar saat itu dan tiba-tiba saja kau mengatakan akan mundur dari dunia hiburan dan memilih menjadi seperti ini.”

 

Jae Hee meneguk air mineralnya dan melotot pada Suho. “Seperti ini? Ini pekerjaan mulia, tahu!”

 

Suho tertawa dan menggoyangkan kedua tangannya. “Ah…mian ne..maksudku mengapa kau melepas semua kenyamananmu sebagai artis dan memilih menjadi terapis?”

 

Jae Hee menatap Suho dan mengemasi peralatannya. Dia mengeluarkan sebungkus pil penahan rasa sakit. “Minum ini jika rasa nyeri menyerang saat tidak terduga. Biasanya sering terjadi pada saat kau tidur.”

 

Suho meraih bungkusan itu dan tak lepas menatap Jae Hee. “Kau mengelak untuk menjawab ya?” tuding Suho dengan tersenyum miring. Jae Hee menjawab tanpa berhenti melakukan kegiatannya.

 

“Kau masih sangat muda saat aku memutuskan mundur dan kurasa kau tidak tahu gosip apa yang menimpaku. Kau masih dalam masa trainee kurasa.”

 

“Aku menonton semua dramamu, hyung. Aku senang sekali saat aku menghampiriku saat kau melihat penampilanku saat manjadi rookie. Jadi mengapa kau mundur dan menjadi terapis Jae Hee?” Suho mengulang kembali pertanyaannya ketika Jae Hee sudah berdiri menenteng tasnya dan dia sendiri sudah berdiri pula dengan memegang tongkatnya.

 

“Aku akan datang besok lagi dengan jam yang sama…” Jae Hee tersenyum dan melangkah menuju keluar diikuti Suho.

 

“Aku akan mencari jawabannya di internet.” Suho bersikeras membuat Jae Hee mendengus tertawa.

 

Jae Hee sangat mengenal bahwa Suho tipe manusia yang pantang menyerah jika sudah memulai sesuatu. Dia menepuk pipi putih itu seraya melambai. “Sampai jumpa besok.”

 

Suho menatap Jae Hee yang menuruni tangga rumah sewaannya itu. Dia mendongak dan menatap langit Gimcheon mulai berangsur gelap. Sebelum Jae Hee memasuki mobilnya, Suho berkata serius. “kau tidak akan melaporkan keberadaanku pada mediakan, hyung? Aku sedang ingin memulihkan diriku tanpa merepotkan para member EXO.”

 

Jae Hee menatap Suho yang berdiri diatas terasnya. Dia menatap tubuh sedang itu dengan dadanya yang lebar, terlihat menatapnya dengan lekat dibalik kacamata tipisnya yang terletak dibatang hidungnya yang bagus. Jae Hee mengacungkan jempolnya dan mengangguk sebelum memasuki mobilnya.

 

Suho menghela napas setelah melihat sedan itu berlalu. Dia akan membalikkan tubuhnya saat dia mendengar panggilan lantang diseberang.

 

“Junmyeon oppa!”

 

Suho memicingkan matanya untuk melihat sosok gadis yang sedang berlarian menuju kafe milik Yoona. Gadis itu masih sempat menyapanya dengan antusias sambil berlarian seperti itu. Yu Na sambil melambai Suho saat dia berkata. “Aku mandi dulu setelah itu kita pergi nonton! Bye!” Dan setelah berkata demikian, Suho melihat bagaimana gadis itu melesat masuk kedalam kafe. Sambil masih memicingkan matanya, Suho dapat melihat Yu na yang menglewati Yoona yang sedang meletakkan cangkir kopi di meja pelanggan dan menepuk bokong sepupunya itu. Yoona terlihat terkejut dan bergerak seakan ingin memukul Yu Na dengan nampannya namun itu hanya gerakan kosong belaka karena wanita itu tertawa bersama Yu na dan merangkul gadis lincah itu menuju konter.

 

Meskipun hanya samar, Suho menyukai melihat situasi yang terjadi didepannya. Dia memutar tubuhnya dan melangkah masuk. Saat itulah dia mendengar nada pesan Line masuk. Tanpa membuka pesan tersebut, Suho bisa membaca notifikasinya. Pesan itu berasal dari Sehun di susul oleh Chanyeol.

 

Hyung, kau dimana? – Sehun.

 

Tolong balas pesan kami dan aktifkan GPSmu – Chanyeol.

 

Suho memperhatikan semua pesan yang masuk antara Sehun, Chanyeol dan D.O. Kadang mereka juga mengirim stiker-stiker membujuk dan akhirnya ditutup pleh stiker marah dari Chanyeol.

 

Kami akan menemukanmu, Hyung! Kami membutuhkanmu, Hyung bodoh! – Chanyeol.

 

Suho menyimpan ponselnya didalam saku celananya. Dia berjalan kearah ruang tengah dan menatap pigura yang sengaja dibawanya saat pergi dari Seoul. pigura kecil yang menampilkan photo dirinya bersama para membernya. Dia juga membutuhkan mereka, namun Suho ingin sembuh tanpa membuat mereka kerepotan menjaga dirinya serta perasaannya yang saat ini sedang labil. Akan lebih baik dia seperti ini sementara.

 

OoO

Chanyeol terlihat sibuk mengetik dilayar ponselnya disela-sela kegiatannya di ruang make up sebelum pemotretan. Suara ketukan jarinya pada layar ponselnya menarik perhatian Baekhyun yang sedang berdiri nenyibukkan dirinya sendiri dibelakang kursi rias para member. Baekhyun mendekat dan menunduk diatas kepala Chanyeol dan dia berseru saat melihat apa yang diketik oleh Chanyeol begitu bersemangat. Dia menunjuk layar ponsel itu.

 

“YA! Kau mengirim pesan Line pada Suho hyung! Hampir semuanya stiker marah?”

 

Seruan Baekhyun memancing semua para member untuk menoleh pada Chanyeol yang terus saja mengetik dengan suara ketukan jarinya. Chen melongok dari kursinya seraya bertanya pada Chenyeol. “Kau mengirim pesan pada Suho Hyung?”

 

“Hm…..dari sejam yang lalu aku mengiriminya pesan terus menerus”. Chanyeol menoleh sekilas sambil menyengir khasnya itu.

 

Xiumin mendorong kursinya dan berkata antusias. “Apakah dia membacanya?”

 

Chanyeol menggembungkan pipinya dan mengacungkan ponselnya. “Aku yakin dia membacanya melalui notifikasi meskipun dia tidak membuka pesan itu. Aku selalu yakin bahwa Suho Hyung tidak membuang nomor lamanya.”

 

“Aku juga mengiriminya pesan beberapa saat lalu.” Suara Sehun terdengar disudut ruang make up, dia sedang duduk bersandar dengan sepasang kakinya yang panjang sambil memegang ponselnya.

 

“Aku juga!” D.O menyambung dengan seruan bersemangat.

 

Semua member menjadi saling bersahutan menyerukan pendapatnya. Lay terdengar menyela dengan kalimat, “Apakah GPSnya hidup? Jika iya, apakah dia berada disekitar pegunungan?”

 

“Aish…..masih saja mengharapkan Junmyeon hyung berada di rumah Nenek Baekhyun.” Kai tertawa tergelak menuding wajah Lay yang polos.

 

Mendengar kalimat Kai, Lay menggaruk belakang kepalanya. Suara berat Chanyeol membuat mereka terdiam. “Hyung bodoh itu tidak mengaktifkan GPSnya. Dia menjadi sangat menyebalkan sehingga aku banyak mengiriminya stiker kemarahan.” Chanyeol menggelengkan kepalanya dan mengangkat bahunya.

 

Chen akhirnya berkata yang membuat semua member setuju. “Berarti kita jalankan rencana awal. Kita memiliki 3 hari kosong dari jadwal padat kita. Masing-masing dua orang mengunjungi list kota yang kita buat kemarin. Bagaimana?” Dia menatap kesekeliling dan semua member mengangguk.

 

“Kita akan mulai besok. Aku dan D.O akan mencoba menjelajahi Busan.” Xiumin berkata sambil menatap D.O.

 

“Kalau begitu aku dan Baekhyun mencoba ke kota dimana rumah nenek Baekhyun berada.” Lay mengangkat tangannya dan terdengar seruan dari semua member sambil tertawa keras. “akhirnya aku bisa juga ke melihat rumah nenek Baekhyun.”

 

Semua member membagi tugas dirinya masing-masing berpasangan memilih kota yang akan mereka datangi. Chanyeol tampak termenung menatap list kota yang mereka tulis. Dia menyimpan list itu didalam berkas di ponselnya. Dia mengangkat tangannya dan berkata serentak bersamaan dengan Sehun.

 

“Aku akan ke Gimcheon! Gyongsang Utara!”

 

“Aku akan ke Gimcheon!”

 

Chanyeol menunjuk wajah Sehun dengan surprise. “Gimcheon? Bukankah itu terdengar menarik?”

 

Sehun mengangguk sambil duduk tegak. Dia memasukkan ponselnya kedalam saku jeansnya. “kapan kita berangkat?”

 

“Kita tidak bisa pergi secara bersamaan, orang-orang akan curiga melihat member EXO menyebar dan itu akan memancing kecurigaan.” Baekhyun berkata cepat.

 

“Apa menager kita harus tahu?” tanya Chen.

 

“Aku memang harus tahu apa rencana gila kalian.” Suara sang menager tiba-tiba muncul diambang pintu membuat para member terlonjak kaget. Mereka memutar badan dan mendapati manager mereka sedang menatap mereka dengan penasaran.

 

Baekhyun maju selangkah dan menjawab dengan tertawa kecil. “Kami yakin kau akan setuju, hyungnim.” Dengan aegyonya dia menyakinkan sang manager yang akhirnya pria itu menghela napas.

 

“Kita bicarakan selepas pemotretan di dorm kalian.”

 

OoO

Yu Na mendorong pintu kamar Yoona dan bersiul melihat sepupunya yang cantik itu sedang memasang topi bulunya diatas kepalanya yang cantik dengan rambut panjang hitam kecokelatannya yang lembut. Yoona terlihat mengenakan dress lengan panjang sepanjang betisnya dipadu dengan legging hitam dan sepatu boot cokelat susu yang manis. Jakat musim dinginnya melingkupi tubuh rampingnya dan kecantikan itu membuat Yu Na menggoda.

 

“Aish..cantiknya…apakah kau secantik ini karena kita pergi bersama tetangga kita yang ganteng itu?”

 

Yoona melotot pada Yu na dan gadis itu terkekeh sambil meraih tas mungil Yoona. “Demi menonton Transformers..kita harus menutup kafe lebih awal.” Dia menggandeng lengan Yoona seraya keluar dari kamar.

 

Yoona mendorong lembut kepala Yu Na.”Bukankah kau sendiri yang menawarkan tiket itu padaku dan Junmyeon-ssi? Sebenarnya kau bisa pergi sendiri bersama temanmu.” Mereka perlahan menuruni tangga.

 

Yu Na yang terlihat manis dengan setelan kasualnya yang bercelana jeans skinny dan sepatu boot tampak memiringkan kepalanya. “Entahlah. Seharusnya demikian tapi aku sangat ingin membuktikan bahwa Junmyeon oppa adalah Suho Oppa.” Dengan semangat dia menatap Yoona. Saat itu mereka berada di tengah kafe mereka karena Yoona harus mengunci meja kasir mereka dan Yu Na bergerak perlahan meredupkan cahaya lampu kafe. “Dia terlalu mirip, Eonni meskipun ditutupi oleh tatanan rambut yang berbeda dan kacamata bening seperti itu. Lagipula cedera lutut yang kau ceritakan itu semakin membuatku curiga.”

 

Yoona memperhatikan setiap kalimat yang diucapkan Yu Na dengan diam walaupun didalam hati dia juga sedikit menyimpan kecurigaan seperti Yu Na. Mata Yoona terpaku pada seberang jalan kafenya dimana tampak sesosok menyebrang dengan pelan menuju kafenya. Sosok bertubuh sedang itu sedang berjalan lambat dengan tongkatnya mendekati kafe.

 

“Semua fans Suho Oppa tahu bahwa dia sangat menyukai film sejenis Transformers dan Star Wars…Tapi dia sangat tergila-gila dengan Star Wars..yaahh..meskipun saat sekarang kita akan menonton Transformer kurasa pria mirip Suho Oppa itu juga sangat antusias”

 

Suara Yu Na seakan lenyap dibenak Yoona. Perhatian Yoona hanya tertuju pada pria yang tepat berdiri didepan pintu kafenya. Coat berwarna biru itu terlihat pantas di kulit Suho yang putih meskipun saat itu lampu kafe terlihat remang.

 

“Yu Na…”, Yoona bergumam pelan.

 

Suho melihat Yoona yang berdiri di belakang meja kasir sedang menatapnya. Dia mendorong pintu kafe namun benda itu terkunci. Suho membuat gerakan isyarat dengan tangannya. Dia menunjuk pintu yang terkunci.

 

“Yu Na..” Yoona memanggil Yu Na tanpa mengalihkan matanya. Yu Na yang asyik mengoceh sendiri menghentikan kegiatannya dan menangkap pandang mata Yoona yang tertuju pada pintu kafe.

 

“Ops…Junmyeon Oppa!” dengan sangat lincah, Yu Na mendekati pintu dan membuka kunci. Yu Na membentang pintu lebih lebar dan menarik lengan Suho. “Cepat masuk nanti ada pelanggan yang datang. Kami tutup lebih awal.”

 

Suho terpaksa mengikuti gerakan tarikan tangan Yu Na dan sepertinya gadis lincah itu lupa bahwa dia sedang menggunakan tongkatnya. Yoona dapat melihat wajah Suho yang meringis meskipun wajah tampan itu selalu berhasil menunjukkan senyum tampannya. Yoona mendekat dan melepas tangan Yu Na yang mencengkram lengan Suho yang tertawa.

 

“Yu Na-yah…Junmyeon-ssi menggunakan tongkat. Gerakanmu akan membuat kakinya sakit.” Yoona menegur dengan halus dan menarik lepas tangan Yu Na.

 

Yu Na menatap Suho yang hanya tersenyum saja dan merasa wajahnya seperti terbakar. Sialan! Aku seolah sedang menatap Suho Oppa! Yu Na mengumpat dalam hati saat menatap wajah pria yang berada didepannya. Dia segera membungkuk minta maaf dengan wajah memerah. “Maaf Oppa…” Yu Na menatap sekilas tongkat yang menopang kaki kanan Suho. Meskipun tubuh pria itu berdiri kokoh namun Yu Na tahu bahwa pria itu sedang menderita cedera serius berdasarkan terapis Jae Hee yang ditemuinya di sebuah toko serba ada tadi sebelum dia sampai ke rumah. Dia iseng bertanya mengapa pria itu berada disekitar daerah mereka. Dan Jae Hee menceritakan bahwa di memiliki pasien yang tinggal diseberang kafe mereka.

 

Suho tertawa melihat rasa bersalah Yu Na dan dengan santai mengusap kepala berambut cokelat itu. Suho suka melihat sikap spontan gadis itu dan membuatnya merasa nyaman untuk memperlakukannya layak seorang adik perempuan. “Tidak apa-apa…” lalu Suho menatap kafe. “Kalian menutup kafe?”

 

Yu Na sudah nyaris pingsan mendapat usapan pria itu dikepalanya. Meskipun hanya mirip idolanya namun dia berkhayal bahwa itu adalah real idolanya, Suho EXO. Sadar Yu Na…dia Cuma mirip saja…, Yu Na mengeluh dalam hati.

 

Dalam hati Yoona tertawa melihat Yu Na yang sakit hati sendiri karena pria yang berdiri didepan mereka sangat mirip dengan idolanya. Yoona menjawab pertanyaan Suho. “Kalau kami ingin melakukan kegiatan secara pribadi, kami akan menutup kafe dan akan keluar melalui pintu rumah kami dibelakang yang menembus jalan raya disebelah.” Dengan isyarat, Yoona mengajak Suho melewati bagian dapur kafe yang menembus area ruang makan rumah utama.

 

Suasana hangat langsung menyambut Suho dan dia mengagumi tata letak tiap ruang yang dilewatinya. Dan dia semakin senang melihat mobil antik yang dimiliki Yoona. Mobil Chevrolet mungil berwarna merah pekat keluaran tahun 80an menarik perhatian Suho apalagi ada beberapa bagian dari mobil itu dimodifikasi Yoona sehingga terlihat sangat cantik.

 

Bertiga mereka menuju gedung bioskop yang berada di bagian barat Kota Gimcheon. Yoona yang mengendarai mobil melihat betapa tertariknya Suho terhadap kota Gimcheon yang mungkin tidak segemerlap Seoul namun kota itu sangat menarik dengan daya tariknya sendiri.

 

Sepanjang jalan menuju gedung Mall yang terdapat bioskop, Suho selalu menatap luar jendela mobil dan mengakui bahwa kota persinggahan itu sangat indah dimalam hari. Bayangan puncak-puncak gunung tampak bagai tanduk raksasa diantara keremangan langit malam. Tumpukan salju putih begitu kontras dengan pemandangan yang tenang dan tidak padat. Jejeran toko-toko kecil dan kafe-kafe tersebar disepanjang jalan, para pejalan kaki yang terlihat santai menikmati waktu mereka tanpa terburu-terburu oleh jadwal pekerjaan, semua itu tak luput dari perhatian Suho.

 

Disela kagumnya itu Suho terpaksa menahan rasa geli hatinya bahkan didalam mobil sekalipun lagu EXO berkumandang. Dia bisa mendengar bagaimana Yu Na ikut bernyanyi ditiap lagu. Mau tak mau Suho tersenyum dan itu tertangkap oleh pandang mata Yoona melalui spion dalam.

 

“Kau tersenyum karena didalam mobil inipun terdengar lagu EXO, bukan?” Yoona bersuara tiba-tiba.

 

Suho menyentuhkan ujung jarinya pada sudut bibirnya dan tersenyum. Sepasang matanya membalas tatapan singkat Yoona melalui spion dalam. “Ya…aku menjadi penasaran? Bahkan didalam mobilmupun EXO diputar? Apakah kau penggemar mereka?” Dalam hati Suho berdebar menanti jawaban Yoona. Apakah Yoona penggemar EXO? Siapa yang digemarinya diantara member EXO?

 

Rasanya sangat tidak nyaman memikirkan wanita itu menggemari salah satu dari mereka. Tiba-tiba rasa tegang menyergap hatinya. Yoona tampak berpikir sambil matanya fokus pada jalanan didepannya.

 

“Eeee….”

 

“Aku!! Karena aku makanya mobil ini diputar lagu EXO! Karena aku penggemar berat EXO,” Justru reaksi itu diberikan oleh Yu Na yang sengaja memutar badannya untuk menatap Suho.

 

Suho terbahak saat mendengar kalimat penuh semangat Yu Na dan mencoba untuk menjawab. “Aku tahu..aku tahu dengan sangat. Bahkan aku juga tahu siapa idolamu di EXO.”

 

“Suho Oppa!” Yu Na tiba-tiba menunjuk batang hidung Suho yang membuat yang ditunjuk terdiam.

 

Yu Na tersenyum geli saat melihat reaksi Suho yang seakan berubah menjadi batu. “Maksudku Suho oppa yang hampir mirip denganmu..hehehe..” Yu Na kembali menatap jalanan didepannya.

 

Tanpa sadar Suho menghela napas lega. Dia bisa merasakan bahwa Yu Na seakan sedang menunjuknya mentah-mentah. Yoona terlihat memasuki area mall yang luas. Penasaran, Suho kembali bertanya. “Jadi…siapa member favoritmu? Di EXO maksudku..”

 

Yoona membelokkan setirnya memasuki area parkiran. Terlihat semua jalur tampak penuh sehingga Yoona membawa mobilnya naik kelantai selanjutnya.

 

“Maksudmu?”

 

“Favoritmu? Di boy grup..”

 

Mobil Yoona mulai mencari tempat kosong. “Ah…aku suka Super Junior..”Yoona melihat wajah melongo Suho melalui spion dalam. Dia tertawa dan menyambung ringan sebelum akhirnya menemukan tempat kosong. “Ahh…Aku suka EXO. Dan aku paling suka melihat member…” Yoona menghentikan sejenak mobil dan mengambil cara mundur untuk masuk ke tempat parkir.

 

Yoona mematikan mesin mobil dan menatap manik mata lembut yang berada di bangku penumpang. “Sehun. Aku suka Sehun.” Yoona tersenyum lebar saat melihat sepasang mata Suho membulat. Dengan menahan tawa, Yoona keluar dari mobil dan menunggu Suho keluar bersama Yu Na.

 

Suho menjilat bibirnya sebelum sebuah senyum kecil terukir disana. Dia mengusap dahinya dan menggelengkan kepalanya. Sehun? Ah, si maknae itu memang banyak menarik perhatian fangirl. Baiklah, Sehunie, Hyungmu sedikit kecewa bahwa seorang Yoona justru memilihmu sebagai member favoritnya.

 

Suho meraih tongkatnya dan membuka pintu mobil. Bertiga mereka menuju gerbang bagian utara pusat perbelanjaan tersebut. Tujuan mereka bukanlah sebuah Mall tapi itu adalah sekumpulan pusat pertokoan besar yang terkumpul didalam sebuah lahan yang sangat luas terbagi dalam empat bagian area. Area bioskop terdapat di pintu utara dimana terdapat sebuah escalator panjang yang membawa mereka pada sebuah gedung bioskop yang besar dan luas.

 

Tampak gedung itu cukup digemari dimalam dingin seperti itu. Suho dapat melihat jejeran poster film terbaru serta beberapa permainan yang menarik bagi pengunjung yang sedang menunggu pintu bioskop dibuka. Suho merapatkan kerah jaketnya dan menarik kerah leher sweternya untuk menutupi bagian hidung dan mulutnya saat melihat banyaknya remaja perempuan yang mengantri tiket maupun dikonter pemesanan makanan. Suho juga dapat melihat iklan Super Junior dan EXO untuk Lotte di putar di televise gantung besar di tempat-tempat yang mudah dipandang mata.

 

Yoona menunjuk konter pemesanan makanan dan meminta Yu Na memesan apa yang akan mereka makan didalam bioskop. Yu Na mencucutkan bibirnya. “Ayolah, Eonni…kebiasanmu selalu begitu kalau kita pergi menonton! Kau selalu menyuruhku memesan popcorn atau apalah sementara kau akan bermain bersama mesin mainan konyol itu!” Meskipun dia bersungut-sungut, Yu Na tetap saja berjalan menuju antrian konter pemesanan makanan.

 

Yoona tertawa menatap sepupunya itu menuju konter makanan. Suho memperhatikan kedua sepupu tersebut dan menunjuk punggung Yu Na diantara antrian. “Benar yang dikatakan Yu Na?” Suho mengulum senyum saat membayangkan Yoona bermain dengan mesin mainan yang ada disana sementara kedua tangan Yu Na akan penuh dengan semua makanan.

 

Yoona mengerjabkan bulu matanya dan mengangguk. Suho terbahak dan melangkah pelan bersama tongkatnya menuju konter makanan. Dia menunjuk kearah Yu na dan berkata sambil tertawa. “Aku akan menemani Yu Na memesan makanan.”

 

Yoona menunjukkan jempolnya dan berlarian menuju salah satu mesin photo yang terdapat diseberang konter makanan. Suho mendekat dan berdiri disamping Yu Na dan tindakannya itu ternyata mengundang perhatian beberapa remaja yang mengantri dibelakang Yu Na.

 

“Suho Oppa?”

 

“Apakah itu Suho Oppa?”

 

Suho menggigit bibirnya dibalik kerah jaketnya saat mendengar bisikan-bisikan mereka. Dia menunduk seraya maju selangkah mengikuuti Yu Na. Yu Na yang mendengar dengungan itu seraya berbisik pada Suho. “Apa kubilang. Kau mirip sekali dengan Suho Oppa!”

 

Suho menatap Yu Na dan menyesalkan dirinya yang tidak ikut Yoona saja tadi bermain dengan mesin permainan yang ada di gedung bioskop itu. Yu Na melihat bagaimana canggungnya Suho dengan situasi yang tiba-tiba mulai berisik karena sebagian dari para pengantri itu mengatakan bahwa pria berkacamata yang mengantri adalah Suho EXO.

 

“Aku bukan Suho..” Suara Suho nyaris hilang saat dia mengatakan hal itu. Rambut hitam kecoklatannya terlihat terjuntai di dahinya dan dia mengusap dahi itu dengan perlahan.

 

Yu Na menghela napas dan membalikkan tubuhnya menghadapi beberapa remaja yang mulai mengeluarkan ponselnya. Dia melotot dan mencengkram ponsel mereka dan bersuara garang. “Dia bukan Suho EXO! Jangan ganggu kakakku! Oke!”

 

Salah satu dari mereka ternyata adalah teman sekampus Yu Na dan dia balas melotot pada Yu Na. “YA! Sejak kapan kau punya seorang kakak lelaki Seo Yu Na? Di data kampus kau adalah anak tunggal!”

 

Suho mencoba menahan Yu Na yang terlihat tersulut kemarahan. Dia ingin bersuara namun terdengar suara halus disampingnya.

 

“Yu Na-yah? Ada apa? Antrianmu seharusnya sudah maju..”

 

Dari kejauhan Yoona merasa heran melihat Yu Na yang terlihat sedang adu mulut dengan salah satu pengantri sehingga dia memutuskan untuk mendekati adik sepupunya itu. Yu Na yang sempat terdiam mendengar tuduhan teman sekampusnya itu merasa mendapatkan angin segar saat melihat kehadiran Yoona.Dia menarik lengan Yoona dan mendekatkan wanita itu tepat disamping Suho yang menatap heran.

 

Dengan penuh gaya kemenangan, Yu Na menepuk keras pada dada Suho dan berkata sombong. “Ini kakakku juga karena dia pacar Yoona Eonni!”

 

Seketika barisan antrian itu terdiam begitu juga dengan Yoona dan Suho yang membeku mendengar kalimat lantang Yu Na. Yoona menoleh Yu Na, dia nyaris membuka mulutnya saat dirasakannya cubitan jari gadis itu pada belakang lengannya. Suho menyadari bahwa Yu Na berusaha menyelematkannya dari situasi menyulitkan tadi sehingga dia merasa sangat berterima kasih sekali. Dengan halus dia meraih bahu Yoona dan merangkul tubuh itu kedekatnya seraya tersnyum.

 

“Apa lebih baik kita keluar dari barisan, chagiya?” Dalam hati Suho ingin tertawa saat dia berkata demikian apalagi melihat wajah melongo Yoona.

 

Yoona nyaris tersedak mendengar kalimat Suho. Dia membuka mulutnya dengan tampang melongo. Suho mengedipkan matanya dan menarik tangan Yoona pelan agar menjauh dari antrian, meninggalkan Yu Na yang tertawa penuh kemenangan. Dia mendengar bagaimana dengan pongahnya gadis lincah itu menjawab temannya.

 

“Lihat? Tidak mungkin Suho oppa yang tampan akan berada disini apalagi menjadi pacar kakakkukan?” Yu Na tertawa keras meskipun didalam hatinya dia juga menyimpan kecurigaan yang sama seperti mereka namun dia tidak ingin pria berkacamata itu merasakan tekanan dari pihak lain kecuali dari dirinya.

 

Mendengar kalimat Yu Na, Suho sempat menoleh dengan bibir menggembung. Dia benar-benar sukses menjadi pria jelek di Gimcheon dan itu membuat dia tertawa. Yoona membelalakkan matanya saat mendengar lanjutan percakapan semua gadis itu.

 

Gadis yang menebak Suho tampak tidak puas dan memandang sekilas Suho yang tengah menatap mereka. Dia menunjuk pria itu dengan kukunya yang runcing. “Kalau dia ternyata benar adalah Suho Oppa bagaimana?”

 

Yu Na bercakak pinggang seraya menjulurkan lidahnya. “Aku akan merangkak dilorong kampus dengan lidahku!!”

 

“Hah!!!” Yoona dan Suho mengeluarkan seruan secara bersamaan mendengar kalimat Yu Na. Tanpa sadar Suho mengusap dahinya dengan tatapan tidak setuju. Para gadis yang yakin bahwa pria berkacamata bertongkat itu adalah Suho EXO segera bertepuk tangan dan tertawa seperti evil. Salah satu dari mereka menepuk bahu Yu Na yang baru menyadari dampak dari janjinya.

 

“Hahaha…Seo Yu Na yang pintar, pegang janjimu ya. Kami akan mencari tahu kebenarannya dimana Suho Oppa. Jika terbukti dia ada di kota kita dan ternyata adalah dia….!!” Gadis berambut pirang itu menunjuk wajah berkerut Suho dan kembali menatap Yu Na. “Kau harus merangkak dengan lidahmu.” Setelah itu mereka mencium pipi Yu Na dan segera maju mendahului antrian Yu Na untuk membeli makanan.

 

Yu Na merasa ada awan gelap bergelantungan diatas kepalanya. Yoona dan Suho segera mendekat dan secara halus Yoona melepaskan tangannya dari genggamanSuho. Suho melihat hal itu dan dia tidak memaksa untuk mempertahankan gengamannya.

 

Yoona menepuk pipi Yu na dengan sedikit keras membuat sepupunya itu menatap dengan mata panik. “Dasar bodoh! Perjanjian apa itu? Merangkak dengan lidah? Kau gila!” Yoona mengomeli Yu Na yang tampak kini menatap Suho.

 

“Oppa….kau pasti bukan Suho Oppakan?? Katakan kau bukan Suho Oppa! Ya Tuhan wajahmu mirip sekali!!” Yu Na berteriak seraya menarik rambutnya sendiri.

 

Mau tak mau Suho tersenyum juga dengan tingkah konyol Yu Na. Dengan mendengus menahan tawa, dia menjawab santai. “kalau ternyata aku adalah Suho EXO…?”

 

Bukannya merasa girang, Yu Na berteriak histeris. Dia menarik lengan jaket Suho. “Demi Tuhan baru kali ini aku tidak mengharapkan kau adalah Oppa tercintaku itu!!” Yu Na mengguncang-guncang lengan Suho dan terdengar tawa renyah pria itu.

 

Yoona mendorong wajah Yu Na dan berkata setengah tertawa. “Sudah! Cepat antri membeli makanan.” Yoona mendorong punggung Yu Na yang lemas. Dan dia tertawa melihat bagaimana Yu Na mulai memesan makanan untuk mereka.

 

Suho memperhatikan Yoona yang melipat tangannya sambil tertawa. Dia merasakan sesuatu yang sangat menyenangkan terjadi malam itu. Berada diantara orang-orang yang tidak mengenalnya ternyata tidaklah buruk. Dia juga merasa bahwa wanita yang berada disampingnya dapat membuat rasa nyaman dihatinya saat itu bahkan dia melupakan sama sekali kondisi lututnya yang cedera.

 

Tiba-tiba Yoona menoleh dan tersenyum pada Suho. “Ayo kita masuk ke studio. Panggilan untuk film kita sudah terdengar.” Setelah berkata demikian, Yoona berjalan cepat kearah Yu Na dan segera meraih beberapa kantong belanjaan snack dari tangan gadis itu. Kedua mahluk cantik itu melambai pada Suho dan dengan lambat pria itu menyongsong keduanya. Dalam hati Suho berkata lambat. Sekali ini saja aku ingin menikmati hidup seperti orang biasa diantara orang biasa lainnya.

 

OoO

Film transformers yang berdurasi 2 jam lebih berakhir dengan antrian para penonton yang padat menuju pintu keluar studio. Situasi yang cukup berdesakan itu membuat Yoona dan Suho saling terhimpit sementara Yu Na entah dengan cara apa telah melesat jauh dari mereka. Yoona mengkhawatirkan kaki kanan Suho yang cedera sehingga dia menoleh pada pria itu dan berkata cemas. “bagaimana dengan kakimu, Junmyeon-ssi?”

 

Tapi yang terjadi justru Yoona yang terdorong oleh salah satu penonton yang menyeruak padatnya antrian keluar. Tubuh Yoona terhuyung kedepan dan dengan sigap Suho meraih tubuh lembut itu kearah dadanya yang lebar. Sebelah tangannya yang bebas dari pegangan tongkat mendekap punggung Yoona.

 

Pipi Yoona menyentuh dada keras itu dan dia terdiam saat kembali merasakan dorongan dari para penonton lainnya yang mendesak punggungnya. Tanpa sadar tangannya mencengkram bagian dada jaket Suho sementara jantungnya berpacu liar.

 

Suho menggigit bibirnya saat tangannya mendekap tubuh Yoona dalam pelukannya. Dia juga merasakan dorongan dari penonton lainnya yang melewati belakang tubuhnya. Suho menunduk menatap puncak kepala Yoona yang tertutup oleh topi rajutnya yang manis dan berkata perlahan. “Tetaplah berada dalam rangkulanku seperti ini dan kita akan bergerak secara pelan-pelan.”

 

Wajah Yoona sudah terlalu merah untuk dilihat sehingga dia hanya menunduk dan bersama menuju lorong panjang tersebut. Diantara sikap tenangnya sebenarnya Suho merasa debaran yang begitu kuat. Dia hampir tidak peduli berapa kali kaki kanannya terinjak oleh orang-orang yang mendesak mereka. Dia mencoba tidak menanggapi aroma lembut yang dihasilkan dari tubuh dan rambut Yoona namun semakin kuat dia mencoba mengabaikan hal itu, rasa debaran itu semakin kuat dan dia akhirnya bernapas lega saat berhasil keluar dari kepadatan itu dan melihat sosok Yu Na yang berdiri santai dengan minuman Colanya.

 

Yoona segera menjauh dan Suho juga segera melepas dekapannya. Sejenak keduanya saling pandang dan Suho mencoba membasahi bibirnya dengan lidahnya seraya mengusap rambutnya. Yoona memegang lengannya dan berkata canggung, dia menunjuk Yu Na yang berada tak jauh dari mereka.

 

“Itu Yu Na…”, Yoona melangkah maju mendahului Suho dengan wajah masih memerah hingga ke telinga. Namun langkahnya terhenti karena pegangan tangan Suho. Yoona menoleh dan mendapati tatapan lembut pria itu.

 

“Mian ne…tadi karena keadaan terdesak..jadi aku…”

 

Tanpa kentara Yoona melepas tangannya dan menggoyangkannya dengan cepat. “Aniya..aku tidak berpikir buruk..aku tahu..itu…itu kerena mendesak..jadi..” Yoona merasa bahwa pipinya semakin terasa hangat. Bahkan mungkin warna merah sudah memenuhi seluruh wajahnya sehingga rasanya semua rambutnya berdiri.

 

Alis Suho terangkat ketika melihat Yoona menunduk kikuk. Suasana canggung itu berakhir karena munculnya Yu Na yang telah berada diantara mereka. Yu Na menepuk bahu Yoona dan berkata sambil menguap. “Eonni..ayo pulang..sudah tengah malam…besok aku mesti masuk pagi..ada tes..”

 

Yoona menghembuskan napas leganya dan menggandeng lengan Yu Na. Dia menatap Suho yang terlihat menyembunyikan senyum kecilnya. Pria itu tidak mengucapkan sepatah katapun dan hanya mengikuti langkah mereka dengan sikap diamnya yang tenang. Hingga didalam mobilpun kini mereka hanya berdua saja. Ternyata Yu Na tidak bohong bahwa dia memang mengantuk. Gadis itu langsung terlelap ketika Yoona membawa mobil keluar dari parkiran. Sama sekali tidak sadar bahwa sepupunya yang cantik membutuhkan celotehnya agar kecanggungan kedua orang itu mencair. Namun dengan damainya Yu Na terlelap begitu saja.

 

Yoona tidak pernah merasakan kecanggungan luar biasa yang baru saja dirasakannya. Dia menyetir dengan diam sambil menatap fokus jalanan meskipun rasa ingin tahunya sangat tinggi untuk melihat apa yang dilakukan Suho dibelakang. Dia menggelengkan kepalanya dan menghembuskan napasnya dengan pelan. Tiba-tiba dia mendengar suara dengusan dibelakang berikut suara tawa perlahan dari Suho. Otomatis mata Yoona terangkat untuk melihat melalui spion dalam. Dia melihat bahwa pria itu sedang menatap keluar jendela sambil tangannya berada didepan bibirnya yang tersungging senyuman kecil.

 

“Kau wanita pertama yang kulihat begitu canggung disentuh..apakah karena diriku atau memang seperti itu?” Suho menoleh dan membalas tatapan Yoona melalui spion dalam.

 

Yoona berkedip dengan cepat dan langsung segera melihat jalanan didepannya. Dengan memegang setir erat-erat dia berkata ringan. Dia memutar otak untuk menjawab pertanyaan Suho. Dia tidak pernah canggung dengan siapapun…dia hanya merasa canggung jika itu berhubungan dengan sesuatu atau seseorang yang disukainya? Suka? Memangnya aku menyukai Junmyeon? Demi Tuhan! Aku dan dia baru saja bertemu sekitar 3hari… yoona menatap sekilas tatapan menanti dari Suho. Tanpa terasa mereka sudah memasuki area pemukiman tempat tinggal mereka. Kesunyian yang mereka jalanani beberapa saat lalu membuat waktu berjalan tanpa terasa dan membuat Yoona menekan gas lebih dalam.

 

“Mungkin memang karena dirimu…” perlahan Yoona menjawab lapat-lapat saat mobilnya berhenti tepat didepan rumah bertingkat dua yang disewa oleh Suho.

 

Suho melepaskan tangannya dari depan bibirnya dan terdiam saat mendengar jawaban tak terduga dari Yoona. Kembali sepasang mata mereka bertemu, terikat dalam beberapa detik sebelum Yoona memutuskan untuk mengalihkan pandangannya dengan pura-pura menunduk mematikan mesin mobil.

 

Suho mengerti tanda itu dan tersenyum dengan khasnya yang selalu berhasil membuat para fansnya histeris. Dia meraih tongkatnya dan membuka pintu mobil. “Terima kasih untuk malam ini. Aku sangat senang sekali. Terima kasih untuk Yu Na karena sudah mengundangku menonton bersama kalian, bersama dirimu.” Suho sengaja menekankan kata dirimu agar Yoona merasakan bahwa dia sangat menikmati kebersamaan mereka.

 

Yoona membalikkan tubuhnya untuk menoleh namun Suho sudah keluar dari mobil dan berdiri disamping jendela Yu Na, membungkuk seraya melambai. Sebelum Yoona menekan tombol jendela, Suho sudah memutar tubuhnya dan melangkah menaiki tangga rumahnya.

 

Yoona menahan keinginannya untuk berbicara pada Suho, dia menghidupkan kembali mobilnya dan memutar benda itu untuk memasuki garasinya yang berada dibelakang kafenya. Dia tidak tahu bahwa dibalik jendela ruang tamunya, Suho menatap mobil Yoona yang berputar dan menjauh dari pandanganya.

 

Suho melepas kacamatanya dan menekan batang hidungnya. Dia mendongakkan kepalanya dan memejamkan matanya. Dia menatap lutut kanannya dan menghela napas. Dia harus menyelesaikan tarapinya dan harus bisa kembali berjalan normal lagi sebelum dia benar-benar terjatuh dan tak bisa lepas. Hati dan pikirannya kini mulai dipenuhi oleh Yoona, gelak tawa wanita itu serta tatapan matanya membuat Suho tak bisa menatap kearah lain. Sampai kapanpun Suho sadar bahwa disaat sekarang dia tidak bisa tersentuh oleh apa yang disebut cinta. Tapi bagaimana cara dia untuk menolak perasaan yang kian hari semakin berkembang? Suho menggelengkan kepalanya dan mengusap dahinya. “Demi Tuhan ini baru tiga hari aku mengenalnya? Bagaimana bisa dia mengalihkan semua perhatianku?”

 

Sementara itu Yoona yang sedang memeriksa mobilnya sebelum masuk kedalam rumah, menatap sebuah benda asing yang terletak di bangku belakang tempat dimana Suho duduk. Yoona masuk kedalam bagian bangku penumpang dan meraih benda yang ternyata adalah sebuah ponsel. Yoona cepat keluar dan menutup pintu mobil. Yu Na sudah lama masuk dan dia perlahan memasuki rumah sambil menatap ponsel itu. Dia dapat menduga bahwa benda itu adalah milik Suho.

 

Yoona berada didapur saat dia mendengar suara tanda pesan Line masuk. Yoona memperhatikan notifikasi yang tak henti itu dan menjadi tertarik karena hampir isinya adalah stiker angry. Dia mendekati meja dimana ponsel itu berada. Alisnya berkerut saat dia membaca bahwa itu adalah pesan grup dan jantungnya berdebar saat membaca nama-nama yang muncul.

 

Hyung…bukalah pesanku – Chanyeol

 

Kami berencana mulai besok akan mencarimu – Kyungsoo

 

Aku tidak bisa tidur selama 3 hari ini karena tempat tidurmu kosong. Lihat saja aku dan Chan hyung akan menemukanmu! – Sehun.

 

Yoona segera meraih ponsel itu dan membaca terus notifikasi grup yang masuk. Tiga nama itu selalu masuk secara susul menyusul. Yoona menggenggam erat benda itu saat kembali sebuah nama masuk didalam percakapan grup.

 

Junmyeon-ah…aku dan D.O akan mulai mencarimu besok. Tujuan kami Busan. Semoga kau ada disana –Minseok.

 

Bagaimana jika kau berada di rumah nenek baekhyun? – Yixing.

 

Yoona menatap ponsel itu dengan terbelalak. Semua nama yang dibacanya itu sangatlah sering didengarnya dari Yu Na bahkan sebenarnya dia juga sering membuka tentang mereka di internet. Ditambah dengan ditulisnya nama Junmyeon-ah disana membuat Yoona dengan nekat mengusap layar ponsel yang untungnya tidak dalam terkunci dengan password.

 

Bola mata Yoona terbelalak ketika dilayar utama sebuah photo boy grup paling terkenal di Korea terpampang menjadi wallpaper. Yoona tahu boy grup apa itu. Itu adalah EXO dan dalam sekejab dia bisa mengenali dengan sangat salah satu wajah yang berada disana. Wajah yang selalu tersenyum meskipun dengan rapi ditutupi dengan sebuah kacamata bening dan tatanan rambut yang berbeda.

 

Yoona menutup mulutnya dan sebuah seruan kecil tercetus dari celah bibirnya. “Ya Tuhan!! Ternyata memang dia!!”

 

TBC

18 thoughts on “CALL ME BABY – CHAPTER TIGA

  1. Aduh jiwa shipper SeYoon gua kambuh pas denger Yoona ngebiasin Sehun. Tapi gua juga ngeship SuYoon. #labil

  2. Baru 3 hari sudah terbongkar juga rahasia suho…Yoona pasti ngga cerita ke Yu na tar yu na jd histeris lg…Itu beneran yoona ngefans’a sama sehun???Kasian suho…Hahaha

  3. Omgggggg,, ketahuaan
    Tp jgn lgsg ketemua ya suho nya sm member exo😦 ingin lbih byk momen yoona dan suhonya dulu hehe
    Nexttttt

  4. uuwwaah…kebongkar jga deh jati diri suho?suho kenapa kau menenginggalkn hpe mu dimobil yoona,kan jdi ketahuan deh??gmn perasaan yoona stlh thu kalau dia adalah suho exo…??ff ini bener2 keren thor…sumoga suho exo cpt sembuh ya….lanjut thor q suka ff ini…jngn kelamaan thor ngepost ff ini…q tunggu kelanjutanya…KEREN

  5. Penasaran yoona bakal ngasih tau ke Yu Na atau engga, tapi ngeliat karakter yoona disini rasanya gak mungkin😄

    ditunggu kelanjutan ceritanya author^^ maafkan daku yang tidak komen dipostinganmu sebelumnya😄

    Fighting!!

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s