P for Pre-Dinner

background 360

By Cicil.

Rated SU.

Yoona

with

Chayeol

again.

***

Sore itu, untuk yang perdana kalinya, Yoona memandang Chanyeol dari ujung rambut sampai ujung mata kakinya lumayan lama.

Chanyeol lantas menaikan kedua alisnya sembari bertanya, “Ada apa? Sudah mulai menyadari ketampanan seorang Park Chanyeol, ya?”

0,1 detik.

0,2 detik.

0,3 detik.

0,4 de–

“HOEK!” Tidak, tidak butuh waktu sampai satu detik untuk Yoona mengekspresikan rasa ingin muntahnya mendengar candaan pacarnya yang basi seperti roti yang disimpan selama satu tahun itu.

 

***

Sore itu menghangatkan. Yoona bisa memandangi langit oranye bercampur ungu dari jendela kamar sepuas yang ia mau. Beruntung sekali saat dirimu punya seorang Bibi yang tinggal di pinggir pantai di daerah terpencil. Rumah warna putih berlantai kayu yang tiap kali diinjak–beberapa diantaranya–dapat menimbulkan suara.

Kemarin secara tiba-tiba Chanyeol mencetuskan ide untuk pergi kemari, dan mulai memohon padanya supaya ikut setuju. Maksud kata memohon bagi kamus Chanyeol adalah berarti ia akan mengikuti Yoona ke mana saja dan terus membahasnya sampai gadis itu mau botak saja karena Chanyeol benar-benar minta mulutnya dijahit, oke!

Sayangnya, Yoona tidak bisa benar-benar menjahit bibir merah Chanyeol. Jadi, pilihan terakhirnya adalah mengambil cuti kuliah selama 3 hari lalu melihat laki-laki itu berjingkrak kurang ajar di depan kantin universitas.

Dalam hitungan jam, keduanya tiba di rumah Bibi Jeon. Tentu saja, kedua anak beliau yang masih imut dan menggemaskan ikut menyambut kedatangan mendadak Yoona dan Chanyeol. Berita buruknya, laki-laki bermarga Park itu tetap tidak boleh ikut menginap di rumah Bibi. Berita baiknya, tepat di sebelah rumah itu ternyata adalah penginapan sewa, jadi Chanyeol masih dapat tempat untuk tidur selama di situ.

“Yoong?”

Ketukan pintu kayu dapat Yoona dengar dengan jelas, tanpa sadar kedua sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman. Oh, itu pasti suara Chanyeol yang bersiap menjemputnya. Yoona segera meraih clutch bag berwarna gelap lantas mengecek bayangan dirinya di kaca.

Ditermani dress bermodel sabrina dan rambut terurai menggelombang, gadis itu melangkah keluar dan menemukan  Bibi Jeon tengah berjalan ke arah pintu depan untuk mengecek siapa yang barusan memanggil keponakannya. “Bi, biar aku saja.” Yoona dengan cepat menahan wanita itu  lembut. Sembari tersenyum, Bibi Jeon mengangguk dan kembali ke dapur.

Satu tarikan napas telah dilakukan. Kenapa Yoona harus segugup ini? Ia menyentuh pegangan pintu lalu terbeku untuk beberapa detik. Bahkan jantungnya mulai berdebar tak jelas, seolah kembali ke masa di mana ia dan Chanyeol belum menjadi sepasang kekasih. Apa ini yang namanya reaksi berlebihan?

“Waw..” Hanya sura itu yang muncul saat Yoona memutuskan untuk berani membuka pintu, dan tampaklah sosok Park Chanyeol tepat di hadapannya. Namun alih-alih hanya Chanyeol yang terpukau akan kecantikan Yoona, diam-diam gadis itu sempat melebarkan mata terkejut melihat tampilan Chanyeol yang sama sekali berbeda.

Sore itu, untuk yang perdana kalinya, Yoona memandang Chanyeol dari ujung rambut sampai ujung mata kakinya lumayan lama. Ya, rambutnya yang memakai gel tampak rapih, kemeja warna hitam yang bagian lengannya digulung sampai ke siku, celana jins berwarna serupa, ditambah sepatu sneakers kesayangannya. Laki-laki itu tampak…. ehm, sempurna.

Chanyeol lantas menaikan kedua alisnya sembari bertanya, “Ada apa? Sudah mulai menyadari ketampanan seorang Park Chanyeol, ya?”

0,1 detik.

0,2 detik.

0,3 detik.

“HOEK!” Tidak, tidak butuh waktu sampai satu detik untuk Yoona mengekspresikan rasa ingin muntahnya mendengar candaan pacarnya yang basi seperti roti yang disimpan selama satu tahun itu.

Meski Chanyeol memang berpenampilan jaaaaaaaaaauuuuuuuuuuuh dari biasanya, tetap saja Yoona enggan memuji laki-laki itu secara terang-terangan atau Chanyeol akan berakhir narsis sepanjang hidupnya. Mungkin dulu, sebelum mereka menyatakan saling suka, Yoona sering melirik Chanyeol dan mengatakan pada sahabatnya bahwa laki-laki itu sangat tampan, tapi tidak lagi setelah resmi berpacaran dan mengetahui betapa konyolnya sifat-sifat Chanyeol.

“Halo, Nona. Apa kau masih bersamaku?” Dalam satu kedipan mata, lambaian tangan Chanyeol tepat di depan wajahnya muncul secara mengagetkan.

Are you done?” Tanya Chanyeol lagi.

Yes, I am.

Ketika merapihkan koper sebelum berangkat, Chanyeol memang menyuruh Yoona membawa serta sebuah dress yang sederhana saja, katanya laki-laki itu ingin mengajaknya makan malam  di sana. Dan di sini-lah keduanya berdiri, siap untuk pergi menuju tempat yang dirahasiakan oleh Chanyeol.

Yoona berharap semoga laki-laki itu tidak mengajaknya pergi ke bar setempat yang musiknya berpeluang memecahkan gendang telinga, atau dia menarik Yoona ke restoran termahal di daerah situ–bagi Yoona itu akan sangat berlebihan, atau tempat aneh lainnya. Mari berharap agar seiring dengan perubahan gaya pakaian Chanyeol (yang biasanya pergi ke mal juga hanya memakai sandal jepit dan celana jins bolong) kedewasaan laki-laki itu juga berubah.

“Ayo pergi,”

Lantas Park Chanyeol menarik pelan pergelangan tangan gadis itu dan pergi menjauh meninggalkan rumah Bibi Jeon.

***

Note:

Seratus ribu enam puluh tiga koma sembilan ratus sembilan puluh sembilan (oke ini random abis) aku minta sori banget karena nggak muncul selama berbulan-bulan. Percayalah, sebenernya aku nggak benar-benar meninggalkan dunia fanfiction karena tugas sekolah yang saking banyaknya, minta dibakar -_-

I dont really know apakah drabble yang satu ini akan punya part kedua, itu akan muncul kalau kalian berminat! Maaf kalo fanfictnya gak jelas banget. Thanks for reading and comment are really welcome!

21 thoughts on “P for Pre-Dinner

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s