CALL ME BABY – CHAPTER EMPAT

r-call-me-baby

AUTHOR :KIM SUYOON

 MAIN CAST : SUHO | YOONA | EXO |OTHER CAST : SEO YU NA (AOA) |CATEGORIES : ROMANCE, FRIENDSHIP |LENGHT : CHAPTER |RATING : PG-17

Seorang author pendatang baru, semoga tulisan ini dapat diterima para YoongExo🙂

Segala ide cerita murni milik author dan dilarang untuk mengambil hak cipta ^^  Selamat membaca dan diharapkan respeknya atas karya author untuk meninggalkan jejak setelah membaca dalam bentuk komentar. Happy reading🙂

| TIGA |

OoO

Suho merasa gelisah dalam tidurnya. rasa menusuk bagai jarum menyerang lututnya dan sepanjang betisnya. dia membuka Matanya dan mengerang seraya memegang lututnya. keringatnya bercucuran menahan sakit. dia mencoba bangun dan menarik laci disamping ranjangnya. dia mengeluarkan botol obat pengurang rasa sakit yang diberikan oleh Jae Hee. dengan cepat Suho menelan pil kecil itu tanpa air dan kembali membaringkan tubuhnya. masih dengan menatap langit-langit kamarnya Suho terus-terusan menahan rasa nyeri yang sama sekali tidak berkurang.

Suho hampir tidak tahan lagi akan rasa sakit yang menyerangnya sehingga dia ingin meraih ponselnya . gerakannya berhenti saat menggapai bagian meja samping tempat tidurnya. Benda itu tidak ada disana dan Suho teringat bahwa ponselnya pasti tertinggal di bangku belakang mobil Yoona. Seraya memejamkan mata dan menggelengkan kepalanya, dia berusaha bangkit dari ranjang dan mendekati meja telepon yang terdapat disamping jendela kamarnya. Rasa denyutan pada lututnya semakin kuat saat dia melangkah.

 

Suho menggigit bibirnya dan meraih telepon tanpa kabel itu dan mulai berpikir keras untuk mengingat nomor telepon Jae Hee. Pria itu sudah berjanji akan siap 24 jam demi dirinya hanya masalahnya nomor Jae Hee tersimpan didalam ponselnya. Dia mendekati jendela dan menyibak gorden, kafe milik Yoona terlihat jelas dimatanya. Dibawah tulisan nama kafe tersebut tercetak nomor telepon kafe tersebut. Otak Suho berpikir keras untuk mengingat nomor Jae Hee namun nalurinya justru membawa jari-jarinya menekan tombol telepon tersebut pada angka yang tertera dibawah nama kafe tersebut.

 

Sementara itu Yoona sedang termenung dikonter kasir memandangi semua isi yang terdapat didalam ponsel Suho. Dia berulang kali meminta maaf pada pemilik ponsel karena dengan sangat terpaksa menggeledah isi dari ponsel itu. Yoona membuka semua percakapan grup tersebut dan membaca tiap pesan yang masuk. Jantungnya tak berhenti berdetak kencang saat kebenaran siapa diri seorang Kim Junmyeon semakin terkuak. Semua percakapan grup itu menjelaskan semua member EXO yang mengirimi pesan pada sang leader yang hilang. Yoona beralih pada geleri photo dan juga menemukan semua hasil jepretan Suho EXO bersama membernya dan beberapa artis lainnya. Yoona menemukan wajah pria berkacamata yang menyewa rumah bertingkat dua didepan kafenya. Sambil terus menggeser jemarinya, Yoona menuju folder kontak dan menemukan nama-nama artis yang sangat sering didengarnya bahkan mata Yoona terbelalak saat menemukan kontak Kyuhyun Super Junior dan Changmin TVXQ disana berikut Choi Minho, Choi Siwon dan lainnya.

 

Yoona menyandarkan punggungnya dikursi dan menggigir ujung ponsel itu dengan kepala berdenyut. Saat dia seperti itu sebuah dering telepon mengejutkan dirinya. Yoona terlonjak dari duduknya dan menatap telepon yang bordering tepat didepan matanya. Yoona menatap jam didinding kafe dan melihat jarum jam menunjukkan angka 2.15 menit. Siapa yang menelpon kafe ditengah malam begini? Isengkah? Atau…

 

Sebuah pikiran terlintas dibenak Yoona saat dia menatap ponsel yang ada digenggamannya. Tanpa berpikir dua kali, dia menyambar gagang telepon dan menyambut dering yang membandel itu. “Yeobseyo?”

 

“Yoona-ssi…”

 

Yoona segera duduk tegak saat mendengar suara itu. Dengan ragu dia mencoba menjawab, “Junmyeon-ssi…???”

 

“Ne. ini aku..Junmyeon..bisakah aku minta tolong…lututku…”

 

Yoona segera berdiri dan memotong kalimat Suho dengan cepat. “Apa yang terjadi pada lututmu!”

 

Diam sejenak diseberang. Terdengar helaan napas berat. “Lututku kram…”

 

“Aku akan kesana!” tanpa pikir panjang Yoona meletakkan gagang telepon dan menarik laci kasir dan mengeluarkan kunci kafenya. Dengan berlari dia membuka pintu kafenya dan menyebrangi jalanan sepi diluar menuju rumah diseberangnya.

 

Suho menatap gagang telepon tanpa kabel itu dengan bengong. Yoona sudah memutuskan percakapan sebelum dia mengatakan bahwa dia meminta pertolongan wanita itu untuk menelpon Jae Hee karena dia yakin bahwa ponselnya pasti ada pada Yoona. Melalui kaca jendelanya, suho melihat bagaimana Yoona keluar dari kafenya dan menyebrangi jalanan menuju rumahnya. “Gila..ini sudah sangat larut..” gumamam Suho disusul oleh suara gedoran pada pintu rumahnya.

 

Suho mencoba melongok di jendela dan melihat dalam sudut sempit bahwa Yoona sedang menggedor pintunya. Tanpa sadar melupakan sejenak rasa nyeri pada lututnya, Suho tersenyum dan merogoh saku celana pendeknya. Dia selalu menjadi yang terakhir keluar dari dorm sehingga menjadi kebiasaan setiap mengunci pintu apa saja, dia akan mengantongi kuncinya pada saku celananya. Dan malam ini juga dia melakukannnya sehingga dengan gerak cepat Suho membuka jendela dan berseru pada Yoona. “Yoona-ssi..”

 

Yoona menggedor pintu rumah itu dengan cemas. Dia sama sekali tidak tahu bagaimana masuk kedalam rumah tersebut karena dia yakin bahwa Kim Junmyeon tidak sanggup menuruni tangga. Tengah dia berpikir seperti itu, terdengar suara dari arah atas.

 

“Yoona-ssi!!”

 

Yoona mendongak dan menoleh kearah asal suara. Dia melihat sebuah jendela bagian atas terbuka dan tampak seraut wajah muncul disana. Yoona memicingkan matanya saat mendapati Suho yang melongok kebawah. “Aku akan melempar kunci padamu dari sini.” Dan Suho melemparkan sesuatu kearah Yoona dan benda itu jatuh tepat didepan sepatu Yoona.

 

Yoona menunduk dan membungkuk memungut kunci itu. Dia kembali mendongak dan melihat bahwa Suho tidak lagi tampak di jendela. Yoona segera memasukkan anak kunci dan memutarnya. Suara klik terdengar jelas diruangn sepi itu dan dengan hati-hati Yoona memasuki rumah berukuran besar itu setelah menguncinya. Sekilas Yoona melihat tatanan ruang tamu yang bergaya mediterenia dan dia mengacungkan jempol pada real estate rumah tersebut yang telah menata tiap rumah dengan design yang menawan. Namun pikiran Yoona tertuju pada Suho yang membuatnya segera berlari menaiki tangga.

 

Lorong panjang tingkat dua dengan deretan beberapa kamar membingungkan Yoona namun cahaya lampu yang terdapat pada sebuah kamar pertama membuat Yoona segera menuju kesana. Dia membuka pintu kamar itu dan mendapati bahwa Suho kini telah duduk bersandar pada dinding dibawah jendela seraya memegangi lututnya dengan wajah pucat.

 

Yoona segera melintasi kamar luas itu dan mendekati Suho. Dia meraih lengan pria itu agar melingkari bahunya dan mengangkat tubuh itu dengan kekuatan yang dimilikinya. “Apakah sangat sakit sekali?” Yoona menatap Suho yang terlihat melongo.

 

“Aku bisa berjalan sendiri…”

 

“Aku kuat kok membantumu ke tempat tidur!” Yoona membantah keras membuat Suho menutup mulutnya dan membiarkan saja tubuh ramping itu memapahnya. Kadang dia mengumpat dirinya sendiri yang menjadi begini lemah karena cederanya itu.

 

Suho menggapai ujung ranjang dan menjatuhkan tubuhnya jatuh lebih dulu dari pegangan Yoona. Dia segera duduk bersandar pada sandaran ranjang dan mencoba tersenyum pada Yoona yang menatapnya penuh perhatian.

 

“Gomawo…” tiba-tiba Suho terdiam saat dengan lembut tangan Yoona menyentuh lututnya. Wanita itu begitu khawatir dan itu terlukis jelas pada wajah cantik itu.

 

“Biasanya apa yang harus dilakukan untuk pertolongan pertama saat kau mengalami kram seperti ini?” Yoona menatap wajah Suho dengan lekat. Tanpa sadar dia mendekatkan dirinya pada tepian ranjang dan menunduk untuk menatap Suho.

 

Suho balas menatap manik mata Yoona yang berbinar. Udara seakan terhenti saat tatapan mereka terpaut dalam beberapa saat dan sentuhan hangat telapak tangan Yoona diatas lututnya yang berdenyut semakin menambah denyutan pada jantung Suho. Yoona seakan tak bisa melepas tatapannya pada sepasang mata lembut dihadapannya itu, tatapan pria itu seakan mendekapnya bagai sepasang lengan yang tak tampak.

 

Sejenak Suho menahan napasnya sebelum tangannya bergerak menyentuh tangan Yoona. Sedetik dia menyentuh kulit halus itu dan dengan lambat melepaskannnya dari lututnya yang tak pernah berhenti berdenyut nyeri. Dia merasakan sebuah hasrat tak terduga didalam hatinya dan memutuskan untuk menekannya.

 

“Terapis Jae Hee akan memberikan handuk hangat diatas lututku…” Suho berkata halus.

 

Yoona seketika meyadari apa yang terjadi, dia segera menarik tangannya yang berada didalam genggaman Suho saat pria itu melepaskannya dari atas lututnya. Dia mengerjabkan matanya dan mundur selangkah dari tepian ranjang sambil memegang tangannya. “Aku..aku akan membasahi handuk dengan air hangat…benda itu ada dibawahkan?” Yoona berkata terburu-buru.

 

Suho menarik kerah leher t-shirtnya dan hanya bisa mengangguk saat seperti kesetanan Yoona berlari keluar dari kamarnya. “Ah..” Suho mengusap dahinya yang tiba-tiba berkeringat. Dia mengggigit bibirnya dan memijit hidungnya. “Perasaan macam apa yang melandaku??”

 

Yoona merendam handuk kecil yang ditemukannya didalam sebuah laci penyimpanan didapur kedalam baskom berisi air hangat. Dia memegang tangannya yang barusan menyentuh lutut Suho dan digenggam oleh pria itu. Wajah Yoona menghangat saat mengingat bagaimana dekatnya mereka tadi, dia bisa menatap manik lembut mata pria itu. Yoona menutup wajahnya dengan rasa malu yang timbul mendadak. Dia menekan kedua pipinya dengan kedua tangannya. “Ada apa denganmu, Yoona!! Sadarlah…dia begitu jauh untuk dijangkau!” Yoona menghembuskan napasnya ke udara dan menghela napas sambil menunduk menatap handuk yang kini sudah menjadi hangat. “Suho EXO..dia Suho EXO…dengan tanpa kacamata itu dan rambut itu..dia memang Suho EXO..” setelah berkata demikian, Yoona membawa baskom itu menuju kamar Suho.

 

OoO

Chanyeol membaringkan tubuh penatnya disamping Sehun dan Kai yang sedang berbaring diranjang. Sehun menggeser tubuhnya sambil sibuk memainkan ponselnya seraya berkata malas. “Kembali ke kamarmu, hyung…” dia memunggungi Chanyeol yang terbelalak mendengar nada tidak sopan Sehun dan memukul kepala Sehun dengan gemas.

 

“Dasar tidak sopan! Kau mengusirku, eoh? Kalau begitu Kai juga!” Chanyeol protes.

 

Sehun memegang kepalanya dan membalikkan badannya. Wajah tampannya tampak menyeringai nakal. “Kai sudah sudah dari tadi disini.” Dia tertawa pada Chanyeol yang mengomel dengan suaranya yang berat.

 

Kai yang berbaring diranjang Suho juga terdengar tertawa pelan. “Aku dan Sehun sedang merancang dance solo nanti saat konser. Lagipula aku ingin berbaring disini karena besok aku ikut bersama Kyungsoo Hyung dan Minseok Hyung ke Busan mencari Suho Hyung.”

 

Mendengar rencana Kai, Chanyeol tiba-tiba duduk dan mengeluarkan ponselnya dan mulai mengecek pesan Line yang dikirimnya pada Suho beberapa jam lalu. Sehun menghentikan kegiatannya melihat ponsel dan tertarik melihat tingkah Chanyeol yang langsung membuka ponselnya. Sehun bangkit duduk saat melihat kerutan didahi Chanyeol.

 

“Hyung…”

 

“Ah!!!” dengan suara beratnya Chanyeol berseru keras seraya menatap Sehun sambil menunjukkan layar ponselnya tepat didepan wajah maknae itu. “Lihat!! Junmyeon Hyung membuka dan membaca semua pesan yang kita kirim!!”

 

“Moya???” Sehun merampas ponsel Chanyeol dan meneliti semua pesan mereka yang memiliki keterangan read yang artinya telah dibaca oleh Suho. Kai segera melompat dari ranjang dan duduk disamping Chanyeol yang tersenyum lebar.

 

Sehun menatap Chanyeol dengan senyum yang sama lebarnya. “Jadi…bukankah kita bisa melacaknya?”

 

Chanyeol meraih kembali ponselnya dan mengacungkannya berulang kali. “Bagaimana jika kita serentak saja pergi menyebar mencarinya?”

 

“Kita memiliki tiga hari kosong dari jadwal. Kupikir kita bisa melakukannya. Yang harus segera pergi adalah Baekhyun, Lay Hyung dan Chen karena kota tempat rumah nenek Baekhyun cukup jauh.”

 

“Kita sehari setelah mereka agar tidak menimbulkan kecurigaan. Manager juga sudah setuju.” Chanyeol berkata penuh semangat. Kai dan Sehun mengangguk setuju dan sambil mengecup ponselnya, Chanyeol kembali berbaring disamping Sehun. Dia menatap maknae itu dengan sepasang mata jenakanya.

 

“Gimcheon!”

 

Sehun menunjuk wajah Chanyeol. “Gimcheon!”

OoO

Yoona masuk ke kamar Suho dengan baskom ditangan saat dia melihat pria itu sedang menelpon seseorang pada ponselnya. Sebelum keluar dari kamar Suho sebelumnya, Yoona memang dengan sengaja meletakkan ponsel Suho diatas meja samping ranjang tanpa berkata-kata apapun pada pria itu.

 

Suho melihat Yoona memasuki kamar dan dia segera mengakhiri percakapannya pada Jae Hee di ponsel. Dia tersenyum pada Yoona yang mendekati ranjangnya. “Aku sudah menelpon terapis Jae Hee dan dia akan datang sebentar lagi.”

 

Yoona meletakkan baskom disamping ranjang dan memeras handuk hangat itu dengan tangannya. Dia mengangkat mukanya saat mendengar kalimat Suho.

 

“Gomawo sudah menyimpan ponselku.” Suho mengacungkan ponselnya dan Yoona cepat mengangguk dengan perasaan tidak enak karena merasa telah membuka ponsel itu tanpa sepengetahuan pemiliknya.

 

Dengan lembut Suho meraih handuk ditangan Yoona dan meletakkannya pada lututnya yang sakit. Dia tertawa pelan pada Yoona yang tampak terdiam melihat tindakan Suho. “Aku tidak ingin merepotkanmu.” Dia dapat merasakan rasa hangat menjalari lututnya dan berangsur menuju betisnya.

 

Yoona menggigit bibirnya dan merasa wajahnya menghangat. Dia melihat wajah tampan yang menunduk itu dan bagaimana ujung rambut pria itu terjuntai lemas didahinya yang bagus. Yoona teringat akan ponsel yang dibukanya dan hal itu membuatnya bangkit berdiri dan membungkuk didepan Suho.

 

“Mian ne…”

 

Suho mengangkat wajahnya dan melongo melihat Yoona yang membungkuk didepannya. Dia semakin ternganga saat mendengar kalimat wanita itu. “Mian ne..aku membuka ponselmu dan membaca semua pesan di grup yang dikirim oleh semua membermu..” perlahan Yoona mengangkat mukanya dan menemukan raut terkejut pada wajah Suho. “Aku tahu bahwa kau…kau adalah..Suho EXO…” Setelah berkata demikian, Yoona menegakkan tubuhnya dan mendekati tepian ranjang Suho yang terlihat shock.

 

“Aku akan menyimpannya sebagai rahasia. Aku tidak akan memberitahu siapapun di kota ini. Aku tahu kau melakukan semua ini memiliki alasan.” Yoona segera mengatakan hal itu untuk membuat Suho lebih tenang.

 

Suho terlalu terkejut mendengar bahwa Yoona mengetahui siapa dirinya. Dia mengusap rambutnya dan bersuara dengan surprise. “Woaaah…ternyata hanya 3 hari aku bertahan dengan penyamaran ini.” Heran dengan dirinya sendiri, Suho tertawa lambat.

 

Yoona menatap Suho dengan lekat. “Kau tidak marah? Padaku? Karena aku sudah membuka ponselmu?”

 

Suho menghentikan tawanya dan membalas menatap mata Yoona. Dia menunduk dan tertawa kecil. “Marah? Aku tidak marah..aku hanya berharap kau tidak berubah setelah mengetahui siapa diriku sebenarnya.” Suho akan merasa tidak nyaman jika setelah ini Yoona akan menjaga jarak dengannya. Dia khawatir Yoona akan menganggapnya sama seperti para fansnya, seorang idola yang digemari sehingga dia akan kehilangan kedekatannya bersama wanita itu. Suho merasa bahwa saat bersama Yoona semuanya terasa sangat normal.

 

Saat itu mereka duduk secara berdekatan dan Suho dapat merasakan bahwa handuk hangatnya telah kering dilututnya. Rasa denyutan kembali terasa meski tidak sekuat sebelumnya. Hatinya lebih berdenyut nyeri menunggu jawaban Yoona.

 

Yoona menelan ludahnya. Dari awal dia tidak pernah mengerti akan rasa tertariknya pada pria yang keluar dari taksi 3 hari lalu. Dia juga tidak pernah mengerti apa yang membuatnya nekad mengejar Suho hanya untuk menemani pria itu berbelanja kebutuhan sehari-hari. Dia juga tidak mengerti mengapa sejak kehadiran pria itu dia menjadi sangat senang berdiri ditepi jendela kamarnya. Dia sangat tidak mengerti. Perasaan tertarik itu justru datang sebelum dia mengetahui kebenaran diri pria itu.

 

Yoona tersenyum dan menyentuh ujung seprai ranjang Suho. “Aku mengenalmu sebelum aku tahu siapa dirimu? Apakah kau seorang idola atau orang normal. Bagiku kau sama saja seperti manusia lainnya, pekerjaanmu saja yang membuat kau lebih dikenal orang ramai. Kau tetap seorang Kim Junmyeon yang menyewa rumah didepan kafeku.” Kemudian Yoona tertawa. “Aku hanya tidak bisa memikirkan apa yang terjadi pada Yu na dan janjinya yang akan merangkak dengan lidahnya jika kau memang benar leader EXO.”

 

Suho membasahi bibirnya dengan lidahnya saat teringat sumpah Yu Na pada temannya. Dia terbahak bersama Yoona di saat terdengar suara klakson mobil dan disusul suara bel pintu dibawah. Yoona mengusap airmatanya dan bangkit berdiri. “Kurasa aku harus pulang, Jae Hee Oppa sudah datang untuk memeriksamu..” Yoona akan membalikkan tubuhnya ketika pergelangan tangannya dipegang oleh Suho.

 

Suho menggenggam erat pergelangan tangan mungil itu dan kembali melakukan kebiasaanya yang selalu membuat para fansnya histeris bila setiap photo previewnya beredar, membasahi bibirnya dengan lidahnya. “Kamsahamnida sudah datang disaat aku membutuhkan bantuan..” Suara Suho terdengar pelan dan lembut membelai perasaan Yoona membuat wanita cantik itu bersemu merah.

 

Yoona mengangguk cepat dan menjawab. “Aku juga senang kau mempercayaiku untuk menelponku..kau dan aku adalah teman dan memang sepantasnya saling menolong.” Dengan halus Yoona menarik lepas genggaman tangan Suho pada pergelangan tangannya yang terasa menghangat.

 

Suho menatap telapak tangannya yang menggenggam lengan Yoona dan mendapati wanita itu sudah keluar dari kamarnya. Dia menghembuskan napasnya dan menyandarkan punggungnya pada sandaran ranjang seraya mengusap rambutnya. Dia menutup wajahnya dengan telapak tangan itu dengan senyum yang terukir disudut mulutnya.

 

OoO

Yoona segera berlari turun tangga setengah berlari dengan wajah merah padam. Dia segera membuka pintu dan mendapati Jae Hee telah berdiri didepan pintu dengan parkanya dan ada uap dingin keluar dari pernapasannya.

 

Jae Hee terkejut melihat Yoona yang membuka pintu dan tanpa sadar dia mencetuskan rasa herannya. “Yoona? Kau disini..? bagaimana bisa…?”

 

Yoona segera menggoyangkan tangannya didepan wajah Jae Hee yang tersenyum. “Aniya…aku hanya datang karena Junmyeon menelponku disaat dia sedang sangat kesakitan.” Susah payah Yoona memberikan penjelasan pada Jae Hee meski dia tahu saat itu wajahnya sudah merah padam.

 

Jae Hee mengulum senyum melihat usaha Yoona memberikan penjelasan, dengan tertawa dia menepuk kepala Yoona dan berkata. “Aku tahu..jangan menjelaskan sekeras itu. Aku mengerti.”

 

Yoona menghela napas lega dan berkata riang. “Kalau begitu aku pulang dulu..” Yoona akan berlari ketika dia mendengar suara Jae Hee yang menahan langkahnya.

 

“Hm…kuharap kau dan Su…” Jae Hee merasa kesulitan saat menyebut Suho karena dia sudah terbiasa memanggil pria muda itu dengan sebutan panggungnya.

 

Yoona mengerti arti kesulitan Jae Hee dan dia segera menyambung tanpa kentara. “Ah..Junmyeon-ssi…ada apa dengannya?”

 

Jae Hee mengusap belakang tengkuknya. Dia berdehem dan memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya. “Kuharap kau bisa menjadi temannya. Saat ini dia sedang mengalami depresi mental karena cedera yang dialaminya. Rasa percaya dirinya menurun drastic dan dia dalam keadaan labil. Aku ingin membuatnya segera sembuh dan berjalan tanpa bantuan tongkat itu karena sebuah pekerjaan besar sedang menunggunya di Seoul..ada beberapa orang yang sangat membutuhkannya.” Sampai disini Jae Hee menghentikan kalimatnya dan menunggu reaksi Yoona yang terlihat terdiam.

 

Yoona menahan napas mendengar penuturan Jae Hee. Dia merasa ada batu yang menghimpit didadanya. Bukan karena cedera yang dialami Suho tapi lebih pada kenyataan bahwa pria itu akan segera pergi dari kota Gimcheon setelah lututnya sembuh. Ya..member EXO membutuhkan seorang leader..mereka membutuhkan Suho. Mereka membutuhkan Kim Junmyeon. Fans membutuhkan idola mereka kembali. Mengapa dadaku tiba-tiba merasa sesak?

 

“Yoona?” Jae Hee menatap Yoona yang terdiam.

 

Yoona mengedipkan matanya dan segera tersenyum pada pria itu. “Ah..ne..kami memang sudah berteman. Dia memang harus segera sembuh..mungkin akan banyak pekejaan menantinya di Seoul.” Oh, sialan mengapa aku tiba-tiba merasa sedih? Yoona mundur selangkah dan melambai pada Jae Hee. “Aku pulang dulu.” Tanpa menunggu jawaban Jae Hee, dia segera menyebrangi jalanan sepi dan memasuki kafenya.

 

Jae Hee menatap yoona yang sudah menghilang kedalam kafe dan mengangkat bahunya. Dia memasuki rumah dan menutup pintunya dan berteriak sambil menaiki anak tangga rumah itu. “Aish..Kim Junmyeon…kau membangunkan ku tengah malam!!” dan dia melihat bahwa pria muda itu sedang menekan lututnya dengan handuk hangat. Dia tersenyum sambil mendekati ranjang. “Sepertinya Yoona melakukan pertolongan pertama dengan tepat!”

 

Suho mengangkat kepalanya dan melihat Jae Hee telah duduk disamping ranjangnya dan meraih handuk hangat itu. Dengan telaten tangan pria itu melakukan pijitan pelan disekitar lutut dan berkata dengan tersenyum.

 

“Dia cantikkan?”

 

Suho melebarkan sepasang matanya mendengar kalimat Jae Hee. Perlahan wajahnya memerah saat dia melihat senyum lebar menghiasi wajah tampan Jae Hee. Dia tahu siapa yang dimaksud oleh pria itu dan dia memilih untuk diam saja. Dia baru saja membaca semua pesan yang dikirim oleh membernya di grup.

 

Jae Hee menatap Suho yang terlihat termenung. “Apakah Yoona tidak masuk hitungan?” goda Jae Hee.

 

Suho mengedipkan matanya dan fokus pada tatapan Jae Hee. Seperti yang dikatakan pria itu, pijitan untuk kedua dan seterusnya tidak sesakit seperti waktu pertama kali. Suho mengusap bibirnya dengan ujung jarinya dan mencoba menjawab Jae Hee sewajar mungkin.

 

“Hanya pria bodoh yang mengatakan dia jelek.” Suho tertawa dan disambut oleh Jae Hee dengan tertawa pula.

 

Sambil terus melakukan peregangan otot kaki dengan perlahan, Jae Hee bertanya ringan. “Kau kemana saja malam ini? Ototmu tegang semua sehingga mengakibatkan kram, kau menggerakkan lututmu terlalu lama.”

 

Suho menangkap nada menegur didalam kalimat halus itu. Dengan menelan ludah dia menjawab Jae Hee dengan hati-hati. “Aku pergi menonton bioskop bersama Yoona dan Yu Na…”

 

“Aaah…” Reaksi Jae Hee sangat cepat dan dia menatap tajam pada wajah tampan yang lembut didepannya itu. “Kau pasti berada diantara penonton yang berdesakan keluar dari studio!”

 

Dengan tertawa Suho menjawab. “Dan sebagian dari mereka menyenggol bahkan menginjak kakiku..”

 

Jae Hee mendorong dahi Suho dengan gemas. “Jangan lakukan itu lagi..Kita belum melakukan sesi berjalan tanpa tongkat! Nanti akan kita mulai beberapa hari lagi di ruang kaca atas! Jangan menambah penyakitmu! Kau hanya boleh berjalan sekitar kafe dan halte didepan untuk saat sekarang! Para membermu menantimu.”

 

Suho terdiam seraya melepas tangan Jae Hee yang terletak pada kepalanya. Wajah Yoona dan para membernya bermain-main dibenaknya. Dengan pelan dia bersuara. “Segera sembuhkan aku Hyung…”

OoO

Yoona membuka pintu kafenya sambil meniup jari-jarinya yang terasa dingin karena pagi itu salju turun dengan lambat. Dari bangun tidur dia sudah mendengar suara rebut Yu Na yang bangun terlambat dan akhirnya dia memberikan kunci mobilnya pada gadis itu. Yoona mendorong pintu kafenya dan berdiri terdiam menatap apa yang ada didepannya.

 

Suho berdiri tepat didepan Yoona dengan jaket tebalnya dan sebuah bennie terletak manis diatas kepalanya, menutupi rambut hitam kecokelatannya dan menampilkan dahinya yang bagus. Sebuah kacamata bening terletak diatas batang hidungnya dan dia tersenyum.

 

“Selamat pagi..”

 

Yoona mengerjabkan matanya dan bertanya heran. “Bagaimana lututmu?” dia menatap lutut Suho serta tongkat yang menopangnya.

 

Suho menunduk menatap lututnya sejenak yang dibalut jeans berwarna gelap. Dia mengangkat wajahnya dan tertawa. “Sudah lebih baik. Apakah kau sibuk hari ini?”

 

Yoona menggeleng dengan cepat dan langsung menyesali sikap antusiasnya akan pertanyaan Suho. “Tidak..kurasa..” dia menjawab dengan nada misterius.

 

Terdengar tawa pelan Suho dan tampak pria itu mengeluarkan ponselnya. “Keberatan menemaniku melihat sisi lain Gimcheon?”

 

“Eh?” Yoona memajukan wajahnya dengan heran. Butiran salju putih melintas lembut diantara mereka.

 

“Aku membaca di internet bahwa Gimcheon terkenal dengan kota sejarah dan salah satunya adalah kuil Jikjisayang. disini ditulis bahwa disana memiliki pemandangan sempurna? Apa mau menemaniku kesana?”

 

Yoona mengangkat alisnya dan senyum simpul muncul dibibirnya. Didepannya baginya bukanlah seorang idola yang sedang bersembunyi yang memiliki banyak penggemar tetapi hanyalah seorang pria biasa yang mengajaknya pergi mengunjungi tempat wisata. Dia mengangguk dan berkata cepat. “Latte? Setelah itu kita pergi?” setelah berkata demikian Yoona membalikkan badannya memasuki kafe diikuti Suho yang tertawa.

 

Didalam kafe salah satu karyawan part time yang dimiliki Yoona menyediakan Latte hangat untuk Suho serta beberapa roti dengan rasa manis dan lembut seperti kapas. Suho menikmati semua yang ada dimejanya ketika Yoona berdiri didepannya dengan parkanya dan topi rajutnya yang cantik berwarna putih susu diatas rambut panjangnya yang tergerai. Sepasang sarung tangan menghiasi lengannya yang ramping.

 

Suho mendongak dan sejenak terpaku melihat kecantikan Yoona. Yoona berdehem dan berkata sambil tertawa. “Ayo kita pergi.”

 

Suho bangkit berdiri dan berjalan disamping Yoona, dia seakan lupa bahwa mungkin kakinya akan merasa lelah dan mengalami kram seperti semalam. Namun Suho tidak memperdulikan hal itu untuk saat ini. Dia ingin menikmati waktunya berada di Gimcheon selagi dia memiliki waktu bebasnya. Gimcheon terlalu indah untuk dilewati. Dan keberadaan Yoona terlalu sulit untuk dihindari.

 

Ketika Yoona ingin mengeluarkan kunci mobinya, Suho menahan tangan itu dan menggenggamnya membuat Yoona kaget. Suho tidak berusaha melepas tangannya meskipun dilihatnya Yoona menatapnya dengan ata membulat.

 

“Aku membaca bahwa di Gimcheon juga memiliki bus wisata yang bagus. Mengapa tidak kita coba?” Suho mengucapkan hal itu dengan serius membuat kedua pipi Yoona menghangat diantara dinginnya butiran salju yang turun dengan lambat. Ya Tuhan, mengapa pria ini sangat membuatku terpesona..Demi Tuhan, jangan terjatuh Yoona, dia adalah milik banyak gadis didunia..dia dicintai oleh banyak orang..dia seorang idola…dia sulit dijangkau..

 

Tapi genggaman erat Suho pada jeamarinya membungkam semua pikiran Yoona. Dengan lambat mereka berjalan menuju konter pembelian tiket bis wisata yang terdapat di halte diujung jalan. Jalan pikiran Yoona sama persis dengan Suho saat mereka berjalan bersama seperti itu. Saat ini aku adalah Kim Junmyeon tanpa embel-embel leader di belakangku..aku hanyalah pria biasa yang ingin pergi berwisata dengan wanita cantik dan yang telah menarik hatiku. Suho menatap profil Yoona dari samping saat mereka menuju konter tiket bus wisata. Hatinya terasa hangat seketika membuat dia menunduk dengan tersenyum. Dia sama sekali tidak melepaskan genggamannya pada jemari Yoona.

 

OoO

Chanyeol sedang memasang maskernya saat Sehun memasuki kamarnya. Maknae itu juga terlihat sudah mengenakan masker dan topi diatas kepalanya. Tubuhnya yang jangkung dibalut jaket musim dingin dan tampak sepasang headset berada di kedua telinganya. Dibelakangnya juga berdiri DO, Xiumin dan Kai yang juga memakai pakaian serupa bahkan Xiumin sengaja mengenakan kacamata hitamnya.

 

“Salju mulai turun. Apakah tiket kereta kita sudah siap?” Xiumin bertanya dibalik masker putihnya.

 

Chanyeol membalikkan badannya setelah merapikan parkanya dan menjawab cepat. “Sudah.”

 

“Kalian nanti akan turun di Gimcheon sementara kami terus melaju ke Busan.” DO berkata dengan matanya yang bulat.

 

Sehun dan Chanyeol melangkah keluar dari kamar dan mengangguk. Sehun menoleh DO, “Gimcheon hanya berjarak 3 jam dari Seoul dan berada diantara Seoul dan Busan.” Lalu dia merangkul bahu DO, “Bukankah kita bisa sekalian refreshing..” dia tertawa sambil meremas bahu Hyungnya itu.

 

DO mendongak dan menjawab serius. “Semoga kita bisa menemukan Suho Hyung..”

 

Mereka menuju ruang televise dan bersiap akan pergi ketika melihat Baekhyun dan Lay serta Chen juga sudah bersiap dengan tujuan mereka, yaitu rumah nenek Baekhyun. Setelah dari diskusi dengan menager, pria besar tinggi itu mengijinkan semua member berangkat dengan tujuan masing-masing dalam usaha mencari Suho dalam waktu bersamaan agar lebih mudah menjawab jika timbul pertanyaan dari beberapa pihak.

 

“Siap?” Chanyeol bertanya dengan matanya yang jenaka. Ke 7 member menunjukkan jempol mereka dan Chanyeol menjulurkan tangannya. “1…2..3..” semua member meletakkan semua tangan mereka dan secara serempak mereka berkata. “WE ARE ONE, EXO!! Ayo kita temukan Leader kita!!” mereka berseru sambil saling merangkul.

 

“Akhirnya kau kesampaian juga Hyung ke rumah nenek Baekhyun.” Chanyeol tertawa seraya merangkul bahu Lay yang terlihat girang akan perjalanan dadakan mereka. Mereka keluar dari dorm dan Chanyeol menjadi orang terakhir yang menutup pintu. Dia menatap dorm mereka yang akan kosong selama dua hari karena manager mereka memberikan waktu antara dua sampai tiga hari dalam perjalanan mereka. Dengan bertekad pasti menemukan Suho dalam tiga hari itu, Chanyeol mengunci pintu dorm mereka.

 

Sementara itu Suho begitu terpukau dengan keindahan pemandangan disekitar Kuil Jikjisayang yang dikelilingi oleh deretan pohon pinus yang diselimuti salju. Meski salju terus turun dengan lambat, turis tidak pernah surut untuk mengunjungi kuil bersejarah itu. Karena disekeliling kuil itu memiliki pemandangan alam yang luar biasa indah serta jejeran restoran tradisional yang menggugah selera. Yoona mengajak Suho membeli kentang panas sambil mereka mengelilingi area kuil yang begitu indah. Sesekali mereka berfoto bersama atau kadang bergantian berpose.

 

Suho memmbaca di internet bahwa Gimcheon adalah kota yang sangat kental dengan budaya tradisionalnya namun sangat ramah dalam menerima siapa saja yang datang kekota itu. Dia dapat melihat jejeran pegunungan yang melingkari kota itu melalui tangga bukit yang dinaikinya bersama Yoona, benar-benar melupakan keadaan lututnya.

 

Suho memotret pemandangan kota Gimcheon dari atas bukit dengan kamera ponselnya dan berseru takjub. “Indah sekali!! Para member harus melihatnya.”

 

Yoona yang bersandar ditepian pagar memandang Suho dari samping dan tersenyum simpul. “Kau sangat merindukan mereka,” cetus Yoona.

 

Suho menurunkan kamera ponselnya dan membidik wajah Yoona yang membuat wanita itu menutup wajahnya dengan tertawa. “Jangan potret!” Dia memprotes dan Suho tertawa.

 

“Kau sangat cantik dengan topi itu.” Suho mengalihkan kamera ponselnya dan menatap Yoona yang termangu. Wanita itu begitu cantik diantara butiran salju. Dalam benak Suho terlintas judul lagu mereka, CALL ME BABY. Seandainya aku bisa memintanya memanggilku…call me baby?

 

Suara Yoona membuyarkan lamunan Suho membuatnya menggelengkan kepalanya dengan keras. “Kau mengalihkan pertanyaanku!” tukas Yoona seraya memukul lengan Suho.

 

Suho tersenyum. “Aku merindukan mereka. Aku nyaris tak pernah meninggalkan mereka tanpa komunikasi seperti ini.” Suho membuang tatapannya pada pemandangan kota Gimcheon dibawah. Jarak antara Gimcheon hanya 3 jam namun rasanya begitu jauh bagi dirinya saat berjauhan dengan para membernya.

 

Yoona menemukan raut kesepian pada wajah tampan Suho. Dia juga ikut menatap pemandangan kota Gimcheon. Tanpa menoleh, Yoona bersuara pelan. “Ini pasti masa yang sangat sulit bagi kalian. Kuharap kau serius menjalani terapi, Junmyeon-ssi.” Yoona mengulurkan telapak tangannya ke udara, menerima butiran salju yang dingin diatas telapak tangannya yang terbuka. Dia menggenggam benda itu dan mencair ditelapak tangannya yang bersarung tangan. Dia menoleh pada suho yang juga tengah menatapnya. “Kau harus segera kembali pada merekakan?”

 

Lama Suho menatap manik mata Yoona yang berbinar. Dia mengusap dahinya seraya menjawab lambat. “Kami saling membutuhkan.”

 

Ada rasa berdenyut didinding hati terdalam Yoona membuat dia menyentuh dadanya yang terasa sesak. Mengapa harus merasa pedih? Dia bukan siapa-siapa bagimu, Yoona! Dia hanya seorang pendatang yang akan segera meninggalkan kota ini? Mengapa terasa sakit? Mengapa?

 

Suho melihat Yoona yang setengah menunduk. Wanita itu sejenak memejamkan matanya dan kemudian mengangkat mukanya yang ceria. “Maka kau harus menikmati Gimcheon disela waktu terapimu..”

 

Baru saja Yoona berkata demikian, ponsel Suho bordering nyaring. Dia melirik dan melihat nama penelponnya. Tanpa sadar Suho mengeluarkan tawanya seraya menyambut dering nyaring itu. Dia berbisik pada Yoona bahwa yang menelponnya adalah Jae Hee.

 

“Yeobseyo…”

 

Kau dimana? Aku sudah berada didepan rumahmu! Ini jadwal terapi kita untuk menggunakan palang berjalan di ruang kaca ditingkat dua!” – suara Jae Hee.

 

“Ah..mian ne, Hyung..aku sedang berada di kuil Jikjisayang bersama Yoona…”

 

“Mola??!! Kembali segera! Kau tidak boleh membuat lututmu lelah jika tidak ingin mengalami kram seperti semalam…” – suara Jae Hee.

 

Namun Suho tidak mendengar lanjutan omelan Jae Hee yang akhirnya terpaksa menunggunya di kafe milik Yoona karena Suho sudah memutuskan percakapan telepon itu dengan tertawa. Yoona menatap Suho dengan cemas.

 

“Kau harus segera terapi..Terapis Jae Hee sudah menunggumu..”

 

Suho memasukkan ponselnya kedalam saku jaketnya dan menyambar lengan Yoona. “Aku ingin memasuki kuil dan memohon sesuatu..”

 

“Tapi kau harus segera kembali..”

 

“Aku ingin memohon sesuatu disana.” Suara Suho terdengar serius membuat Yoona mengangguk dan membiarkan dirinya kembali digenggam tangan hangat Suho yang tidak mengenakan sarung tangan.

 

Suho ingin memohon ingin sekali lagi kembali ke Gimcheon suatu hari lagi dan bersama wanita yang berada disampingnya saat ini.

 

OoO

Sesampai Yoona dan Suho di kafe, mereka disambut oleh sepasang mata Jae Hee yang melotot. Tanpa memperdulikan bahwa isi kafe itu sedang ramai pengunjung, Jae Hee bercakak pinggang dan memutar bahu lebar Suho agar keluar bersamanya kembali ke rumah sewaan pria muda itu.

 

“Aku dibayar mahal untuk membuatmu sembuh. Jadi aku tidak mau pasienku ini melewatkan waktu terapinya!”

 

“Tapi kau dibayar memakai uangku, Hyung,” Suho menyahut dengan tersenyum membuat wajah Jae Hee memerah dan tanpa kata-kata tetap menyeret Suho sambil mendorong pintu keluar kafe. Jae Hee berteriak pada Yu Na yang berdiri melongo sambil memeluk nampan menatap apa yang sedang terjadi didepannya.

 

“Gomawo atas roti gratismu, Yu Na!”

 

Suho masih sempat memutar kepalanya dan mendapati Yoona sedang menatapnya. Sebelum dia keluar dari pintu dorong itu, Suho mengucapkan terimakasih secara gerak mulut pada Yoona diikuti senyum yang terlukis diwajah dan sepasang matanya yang indah.

 

Yoona merasa wajahnya semakin terasa hangat dan hanya bisa terpaku melihat Suho yang kini telah berlalu dari pandang matanya. Yu Na mendekatinya seraya berkata penasaran.

 

“Jadi kau kencan dengan Junmyeon oppa ya eonni?” Tanpa pikir panjang Yu Na menebak apa yang sedang terkandung diotaknya sejak dia mendengar keluhan Jae Hee.

 

Yoona segera menoleh dan menggelengkan kepalanya keras-keras. Dia mendorong lembut bahu Yu Na. “Aniya..aku hanya menemaninya mengunjungi tempat wisata yang ada di Gimcheon.”

 

Bola mata Yu Na membulat. Dia memajukan wajahnya ke dekat wajah Yoona. Ujung jarinya menyentuh pipi Yoona yang memerah. “Disaat cuaca bersalju seperti ini? Apakah kau lupa julukan kuil Jikjisayang?” Yu Na tersenyum makin lebar saat melihat sepasang mata Yoona membulat. Dengan ujung jarinya yang runcing, Yu Na menggoda ujung hidung Yoona. “Orang Gimcheon tahu bahwa Kuil Jikjisayang adalah kuil harapan. Setiap orang yang berdoa di kuil itu memiliki sebuah harapan untuk seseorang yang disukainya. Apakah Junmyeon oppa memasuki kuil dan berdoa?” tanpa meminta jawaban Yoona, Yu Na melangkah riang meninggalkan wanita itu yang semakin terdiam.

 

Siapapun tahu bahwa dibalik nilai sejarahnya, kuil Jikjisayang dikenal sebagai kuil harapan bagi pasangan pria dan wanita. Cerita itu hanya dari mulut ke mulut namun banyak yang mempercayainya bahkan banyak turis yang sudah mengetahui cerita itu. Yoona menepuk pipinya. Dia yakin bahwa Suho tidak akan mencari tahu hingga sedalam itu.

 

Yoona memutuskan untuk segera berada diantara Yu Na dan dua pegawainya yang lain karena pengunjung kafe mereka mulai ramai.

 

Keringat Suho bercucuran sepanjang wajah dan lehernya hingga di sepanjang lengannya yang memegang palang latihan. Dia dilatih Jae Hee untuk berjalan tanpa bantuan tongkat dimana lututnya bergetar hebat dan rasa nyeri menyerangnya bagai tusukan ribuan jarum. Kakinya menjadi sangat berat untuk melangkah dan seketika pinggangnya juga ikut sakit. Rambutnya sudah melekat didahi dan tetesan keringat kini membasahi dada telanjangnya yang bidang dan berotot.

 

Dengan telaten Jae Hee menuntun Suho untuk melakukan langkah demi langkah dengan memegang pinggang dan punggung yang kini sudah basah oleh keringat. Jae Hee melihat bagaimana otot-otot punggung dan lengan pria muda itu berkontraksi kuat. Urat-uratnya bermunculan dan dia juga melihat bagaimana Suho berjuang menahan rasa sakit yang terus menderanya.

 

Mereka sudah berlatih selama dua jam dengan istirahat sesekali dalam waktu 10 menit. Dalam waktu selama itu, Suho baru mampu melangkah lima hingga delapan langkah. Jae Hee mengusap peluhnya dan berkata tenang menyemangati Suho. “Sebentar lagi latihan kita akan selesai. Kau akan kubelikan Latte kesukaanmu.”

 

Suho melirik Jae Hee dengan tajam. “Jangan bicarakan latte disaat sekarang!” wajah leadernya muncul kepermukaan dan itu membuat Jae Hee nyengir.

 

Dengan santai, Jae Hee menepuk bokong Suho dan berkata riang. “Ayo..dua langkah lagi! Ya…bagus…oke…kita berhenti.”

 

Suara lantang Jae Hee bagai alarm bagi Suho. Pegangan tangannya pada palang itu terlepas dan dia merosot terduduk di lantai yang dingin itu. Dia langsung membaringkan tubuhnya hingga punggung telanjangnya mengenai lantai. Rasa sejuk menjalari punggungnya dan dari celah bibir Suho terlontar umpatan pelan. “Aish…sialan!!”dia mengangkat kepalanya dan menatap lututnya yang kini mulai dipijat pelan oleh Jae Hee. “Tidak bisakah aku dibiarkan istirahat sejenak barang semenit dua menit?” Suho mengeluh pelan dengan halus membuat gerakan pijatan tangan Jae Hee terhenti.

 

Jae Hee berdiri seraya menepuk pelan lutut itu dan dia berkata sambil tersenyum. “Baiklah. Aku kebawah sebentar. Aku akan memesan Latte pada Yoona.” Setelah itu dia berjalan keluar meninggalkan Suho sendirian.

 

Suho menatap punggung Jae Hee yang lenyap. Dia menatap langit-langit ruangan itu dan tatapannya jatuh pada palang latihannya. Suho bangkit duduk dan menatap lekat pada benda itu dan bergantian pada lututnya. Itu adalah latihan pertamanya untuk bisa kembali berjalan normal. sangat menyakitkan namun Suho teringat bagaimana saat semalam dia membuka internet dan menemukan sebuah rekaman video singkat dari fans yang merekam bagaimana para membernya membungkuk dalam pada fans dan berkata akan menemukan dirinya. Suara berat Chanyeol terdengar jelas.

 

Suho mengangkat tubuhnya dan tangannya menggapai palang itu dan sekuat tenaga dia berusaha berdiri. Dia menggigit bibirnya saat kini telah berdiri tegak. Kaki kanannya kembali bergetar hebat dan perlahan tapi pasti kembali rasa sakit mulai menjalar. Namun Suho mengeraskan hatinya dan mulai melangkahkan kakinya yang bagai digantungi sebuah batu besar. Tatapannya matanya tajam lurus dan rahangnya mengeras. Satu langkah..dua.. Suho menghitung dalam hati. Dia akan melangkah semampu hatinya membawanya.

 

Sementara itu Jae Hee yang sudah akan kembali ke rumah Suho menghentikan langkahnya saat dia mendengar suara Yoona. Langit Gimcheon sudah mulai gelap dan Yoona mengkhawatirkan keadaan perut kedua pria itu. Dia berlari sejenak kearah dapur kafe dan keluar membawa sebuah bungkusan besar.

 

“Apakah aku boleh memberi kalian makan malam? Gimbap dan beberapa roti?” Yoona menatap Jae Hee yang seperti sedang menahan senyum. “Aku cemas akan keadaan kalian berdua, oppa..” Yoona menjelaskan dengan cepat.

 

Jae Hee terbahak dan mengangguk. “Ah…Yoona…tidak ada yang melarang kau memberi kami makan. Ayolah ke rumahnya.” Jae Hee memberi isyarat dan dengan tersenyum lebar mengikuti Jae Hee setelah meminta Yu Na menjaga meja kasir.

 

Yu Na mencucutkan bibirnya dan menghela napas. “Apa masih mau mengelak kalau sedang jatuh cinta? Dasar eonni…”

 

OoO

“kurasa dia pasti sedang tidur. Dia sangat berjuang keras selama latihan menahan rasa sakit.” Jae Hee berkata pelan seraya mendorong pintu ruang cermin dan dia terpaku ditempatnya saat melihat apa yang sedang berlangsung didalam sana. Bahkan Yoona menutup mulutnya menahan seruannya saat melihat bagaimana kerasnya usaha Suho melangkahkan kakinya selangkah demi selangkah menuju cermin yang ada didepannya.

 

Tubuh kokoh dan berotot itu terlihat berkilat oleh keringat yang mengucur deras. Yoona melihat Suho hampir terjatuh saat tiap kali pria itu melangkah namun dengan tekad kuat pula Suho tidak membuat tubuhnya terjatuh.

 

Jae Hee dan yoona melihat bagaimana Suho hampir mencapai cermin didepannya. Suho berhenti sejenak dan dia merasa hampir menyerah karena lutut dan betisnya sudah seperti diiris pisau karena demikian menyakitkannya. Tapi dia tidak ingin kalah, dia harus bisa mencapai dinding cermin didepannya. “Ayolah Suho!! Dua langkah lagi..” suho menggumam menyemangati dirinya dan kembali melangkah.

 

Yoona melihat itu semua dengan ngeri ketika tangan Suho berhasil mencapai dinding cermin itu dan dia dapat melihat raut kesakitan diwajah tampan itu dan terlihat tubuh berkeringat itu mulai limbung, Yoona melempar kantong Gimbapnya dan berlari membelah ruangan luas itu. Jae Hee terkejut melihat bagaimana Yoona melempar kantong makanan itu dan berlari kearah Suho yang merosot jatuh kelantai.

 

Suho memejamkan matanya menahan rasa sakit dan membiarkan tubuhnya jatuh begitu saja kelantai namun matanya terbuka lebar saat dirasakannya sepasang tangan lembut mendekap punggungnya dan menahan laju jatuhnya kelantai.

 

Meski mereka tetap jatuh terduduk dilantai, namun dekapan Yoona pada punggung Suho menahan tubuh pria itu terhempas ke lantai. Yoona memejamkan matanya saat merasakan bokongnya menghantam lantai yang keras dan menahan tubuh tegap itu agar tidak menimpanya. Kedua tangannya yang bertemu pada perut rata Suho semakin kencang memeluk perut sixpack itu.

 

Suho terkejut dan segera membalikkan tubuhnya secepat mungkin sehingga secara otomatis pelukan Yoona pada punggung dan perutnya terlepas. Suho duduk menjauh dan kedua tangannya berusaha menutup dada telanjangnya dihadapan Yoona. Selama ini Suho selalu berhasil menutupi tubuh berototnya dari pandangan siapa saja kecuali para member. Bahkan semua fansnya selalu penasaran bagaimana bentuk tubuhnya dibalik pakaian yang dikenakannya dengan tertutup.

 

Yoona sendiri shock melihat tubuh atletis itu dan seketika wajahnya memerah saat sepasang matanya menerpa perut rata berotot yang tercetak dengan kotak-kotak yang sempurna serta dada yang lebar dan berbentuk. Rasanya tidak bisa dipercaya pria berwajah lembut dan murah senyum itu memiliki tubuh berotot yang indah dibalik pakaiannya yang sempurna.

 

Baik Yoona dan Suho merasa canggung saat menyadari situasi yang sedang dihadapi saat itu. Jika lututnya tidak cedera mungkin Suho sudah berlari meraih T-Shirtnya yang terletak diatas meja didekat pintu masuk. Yoona yang terlalu terkejut campur kagum sehingga membuatnya hanya bisa terpaku menatap Suho tanpa berkedip.

 

Situasi canggung yang lucu itu dilihat jelas oleh Jae Hee membuat dia tertawa dan meraih T-Shirt lengan panjang Suho yang terletak diatas meja dan berjalan mendekati kedua orang itu. Dengan ringan Jae Hee melempar pelan benda itu kepada Suho yang segera menyambutnya.

 

“Kau berlatih sangat keras. Aku akan kebawah mengambil air hangat untuk menekan lututmu.” Dengan mengedipkan matanya, Jae Hee segera kembali berjalan keluar ruangan sambil meletakkan makanan yang diberikan oleh Yoona.

 

Suho segera mengenakan T-Shirtnya dan mencoba tersenyum pada Yoona yang terlihat duduk dengan gelisah. “Gomawo…” hanya itu yang bisa diucapkan oleh Suho.

 

Yoona mengerjabkan matanya dan melihat bahwa kini tubuh indah itu sudah lenyap dibalik T-Shirt lengan panjang berbahan wol dan Suho tampak seperti pria yang selalu berpenampilan sempurna. Yoona menggigit pelan bibirnya dan mencoba bersikap biasa saja. “Aku mengkwatirkanmu…ah..maksudku kakimu…kau terlalu berusaha keras.” Yoona menatap wajah Suho yang tenang. Titik keringat masih melekat di dahi yang bagus itu serta rambut hitam kecoklatan itu terlihat kusut. Yoona memutuskan untuk segera berlalu dari ruangan itu sebelum dadanya meledak oleh debaran yang semakin lama semakin kencang seperti dentuman drum.

 

Yoona bangkit berdiri dengan terburu-buru seraya berkata cepat. “Aku pulang dulu…” karena ingin segera berlalu, Yoona sama sekali tidak memperhatikan bahwa lantai yang diinjaknya terdapat tetesan keringat Suho yang bercucuran sehingga ketika dia bergerak, kakinya yang memakai kaos kaki tanpa ampun membawanya meluncur bebas menuju lantai dan lebih tidak terduga justru dia menubruk tubuh Suho yang sedang duduk tepat didepannya.

 

“BUKK!!”

 

Suho memejamkan matanya dan sebelah tangannya segera menopang bagian belakang tubuhnya, menekan lantai agar dia tidak terbanting karena menahan berat tubuh Yoona yang menimpanya. Sebelah tangannya yang lain secara reflek meraih punggung Yoona dan mendekapnya erat.

 

Yoona merasakan kerasnya dada Suho yang menempel pada pipinya. Dia juga dapat merasakan bagaimana lengan pria itu mendekap punggungnya. Yoona memejamkan matanya dan mengutuk dirinya yang ceroboh dan tidak berani mengangkat wajahnya.

 

Suho mengeluarkan erangan pelan saat Yoona menghantam dadanya dan dia membuka matanya dan langsung melihat puncak kepala yang harum. Dia menunduk dan melihat kini Yoona telah berada didalam pelukannya. Suho membasahi bibirnya dengan lidahnya dan mencoba bersuara setenang mungkin.

 

“Hati-hati…” kalimat Suho seakan lenyap karena saat itu juga Yoona mendongak menatapnya. Sepasang mata yang berbinar terang memerangkap Suho saat itu menimbulkan sebuah debaran yang manis dan sensasi yang tak pernah dirasakannya sebelumnya. Suho menelan air liurnya saat menyadari bahwa wajah mereka hanya berjarak beberapa centi saja dan entah dari mana datangnya keberanian itu, tangannya yang bertumpu pada lantai dibelakangnya bergerak pelan menyentuh pipi Yoona yang hangat, ibu jarinya menyelipkan helai rambut halus wanita dibalik telinga yang mungil. Lengannya yang mendekap punggung Yoona semakin terasa ketat dan mendorong lembut agar tubuh itu semakin merapat pada dadanya yang berdebar.

 

Yoona membulatkan matanya saat merasakan sentuhan Suho pada wajahnya dan bagaimana pria itu menariknya lebih rapat dan mengangakat dagunya. Perlahan Suho mematahkan jarak diantara mereka secara perlahan. Yoona melihat Suho menunduk dan dia memejamkan matanya saat bagaimana bibir kemerahan milik Suho semakin mendekati bibirnya.

 

Saat mereka nyaris berciuman, tiba-tiba Yoona mencetuskan sebuah kalimat yang membuat Suho menghentikan gerakannya dan tersenyum begitu lebar. “Gimbapnya akan membeku!”

 

Dan seketika tawa Suho pecah membuat Yoona segera membuka matanya dan merasakan kepalanya seperti keluar asap mengepul karena malu. Dia menutup mulutnya dan ikut tertawa juga bersama Suho.

 

“Kau benar..Gimbapnya akan membeku..” Suho masih tertawa saat mengucapkan itu.

 

Yoona menghapus airmatanya akibat tertawa dan mencoba menjauh dari tubuh Suho. “Aku pulang dulu..”

 

“Yoona-ssi!” Suho menahan lengan Yoona membuat Yoona terdiam.

 

Sejenak mereka bertatapan. Suho mencoba menggerakkan tubuhnya dan mendekatkan wajahnya kearah Yoona. Yoona memejamkan matanya saat merasakan embusan hangat napas Suho menerpa pipinya. Suho tidak menciumnya namun pria itu justru membisikinya dengan sangat lembut membuat tubuh Yoona merinding.

 

“Terima kasih banyak untuk hari ini…” Suho menjauhkan wajahnya dan tersenyum pada Yoona yang segera bangkit berdiri dan merapikan rambutnya.

 

Yoona membungkuk dan berkata cepat. “Aku…aku pulang..” dan dia segera berlari cepat keluar dari ruangan itu tepat Jae Hee masuk membawa baskom air hangat.

 

Jae Hee melogo melihat Yoona yang berlari seperti dikejar sesuatu. Dia juga melihat Suho yang masih dalam posisi duduk dilantai sedang mengusap rambutnya sambil tersenyum sendiri. Jae Hee mendekat dan berjongkok didepan pria muda itu. Ditatapnya dengan lekat. “Apa yang terjadi disaat aku tidak disini?” tapi Suho hanya menjawab dengan senyumnya.

 

Sementara itu Yoona segera memasuki rumahnya dan langsung menaiki tangga menuju kamarnya tanpa mendengar sapaan Yu Na yang sedang menonton televisi sambil memandang ponselnya. Mulutnya yang sibuk mengunyah kentang panas bergumam heran. “Eonniku hari ini super aneh!” dengan masih mengomel heran, matanya kembali menatap layar ponselnya. Kali ini gumaman Yu Na telah berganti topik. Didalam layar ponselnya tampak sebuah berita di Twitter yang menampilkan sebuah photo dari salah satu fan pada sekelompok pria tampan yang memasuki kereta api ekspress sore tadi dengan tujuan Busan.

 

“Xiumin, DO, Kai, Chanyeol dan Sehun terlihat berada di peron kereta api ekspress tujuan Busan. Tidak ada jadwal apapun yang dijalani para member EXO tersebut dan mereka terlihat sedang tidak ingin dikenali dari cara berpakaian mereka yang mengenakan topi dan kacamata hitam.”

 

Yu Na menggembungkan pipinya. Dia mengetuk layar ponselnya. “Benar..kemana kalian dengan tujuan Busan?”

 

OoO

Apa yang menjadi tanda Tanya Yu Na sebenarnya sedang terjadi. Tampak dua sosok jangkung berjalan disepanjang tepian jalan raya Gimcheon dengan jaket tebal dan topi, melangkah pelan sambil memegang masing-masing sekantong besar keripik panas. Tidak ada satupun orang yang mengenali siapa dua pria muda jangkung yang terlihat asing dikota itu.

 

Salah satu yang bersuara berat mengeluarkan ponselnya dan mengacungkannya didepan pria jangkung satunya lagi. “Aku sudah berhasil melacak ponsel Suho Hyung selama dalam perjalanan di kereta api. Tampaknya hyung kita itu sedang pergi kesuatu tempat sehingga dia tanpa sengaja mengaktifkan GPSnya.”

 

Sehun menatap Chanyeol dan menunduk melihat ponsel yang diacungkan hyungnya itu. “GPSnya mati.”

 

“Tidak sekarang. Tadi aku langsung merekam tempat pertama dimana Hyung mengaktifkan GPSnya.” Senyum Chanyeol semakin lebar melihat tanya yang terkandung dimata Sehun. “Dia berada didaerah timur dari kita berada sekarang! Melalui GPS aku membaca daftar restoran dan kafe diarea itu. Juga terdapat real estate disana.”

 

Sehun mengunyah keripiknya dengan keras. Dia menunjuk batang hidung Chanyeol.

 

“Kita akan kesana besok pagi!”

 

TBC

26 thoughts on “CALL ME BABY – CHAPTER EMPAT

  1. yah hampir saja yoona dan suho hahaha gegara makanannya takut beku jadi ga jadi … wih udah mau ketauan tuh sama chanyeol dan sehun dimana tempat suho .. next next next

  2. aha aha aha
    aku suka bgt thoor…
    ayo cepet lanjut…
    mian baru baca….
    jarang buka notif thoor
    jgn kelamaan ya
    keepting thoor

  3. Wah klo chanyeol sama sehun ketemu sama suho apa yg terjadi yach…Pasti sujo bisa dimarahin habis2an secara chanyeol kan cerewet,,hehehe…
    Trz mereka berdua ketemu sama yoona…

    Ditunggu kelanjutannya thor…

  4. Woow, membaca ff ini seperti merasakannya secara langsung, kisah yg dibangun author hidup.. Setiap momen suho dan yoona bikin yg bacanya terutama sy senyum2 sndiri, sweet bgt. Tapi thor ada yg mengganggu nih, fto2 di tengah2 itu, andaikan ftonya pas momennya dgn kisahnya sih tak apa,tp yg diatas kyknya kurang pas deh agak mengganggu kekhusu’an membaca

  5. Ahhhh ini gw nunggu momen romantis yoona ama suho hampirrrrrrrr saja mereka kisssss kerennnnnnn bangetttttttt sumpah plissssss update segera ya….

  6. ceritanya bener2 keren thor…q smpai dag dig dug membacanya?q kira suho ma yoona akn berciuman,,eh ngga jdi deh?chaenyol ma sehun dah di kota gimcheon.semoga mereka bisa menemukan suho…?thor q bener2 suka ff ini…q harap ff ini bnyk yg membaca krna crtnya bener2 bgus?lanjut thor…jngn kelamaan post ff ini y…q akn menunggu part selanjutnya…Q SUKA FF INI..

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s