D for Da Dinner

largeee

By cicil

Untuk kelanjutan dari P for Pre-Diner

Masih dengan tokoh yang serupa.

more than 900 words.

Rated SU

.

“Astaga..”

.

Jadi begini alur ceritanya; Satu menit setelah berjalan menjauhi rumah Bibi Jeon, Chanyeol tiba-tiba melepas sepatu kesayangannya itu dan menyuruh Yoona melakukan hal yang sama.

Meski bingung setengah mati, Yoona mulai melepas sepatunya. Tanpa sempat bertanya, laki-laki itu sudah membawa pergi sepatunya dan menaruhnya di tepi pantai dekat mobil Chanyeol terparkir.

Lalu Chanyeol kembali kepadanya dengan raut sulit dibaca. Yoona mulai bertanya pada dirinya sendiri dan dewi fortuna, hal konyol apa lagi yang ingin menyambutnya. “Yoong, bukankah setiap hari minggu pagi kau pergi jogging?”

Gadis cantik itu mengangguk, “Memangnya kenapa?”

“Ehmm.. tempat makan malamnya agak jauh dari sini. Karena kau sering olahraga jogging, aku menebak setidaknya kau tidak akan kelelahan atau basah berkeringat saat sampai di sana–WADAWW!”

Tendangan di bagian tulang kering Chanyeol oleh seorang Im Yoona terbukti 1.000.000.000% sangat sakit setelah percobaan untuk yang ke-47 kalinya. Bahkan, Chanyeol sampai terjatuh sembari memeluk kaki malangnya dan meringis.

Yoona tetap berdiri, sama sekali tidak menyesal melihat pacarnya yang berguling di pasir dengan menyedihkan itu. “Kau menyuruhku berjalan dengan kaki telanjang dan memakai dress seperti ini, hah??”

Jelas sekali Yoona marah besar, oke?

Pertama, sejauh mata memandang sama sekali tidak terlihat meja makan yang tertanam apik di atas pasir seperti gambar-gambar di tumblr. Kalau pun Chanyeol sungguh menyiapkan hal seperti itu, pasti letaknya jauh sekali sampai Yoona tidak dapat melihatnya.

Kedua–hmm.. sebenarnya tidak ada alasan kedua. Yoona hanya ingin saja menendang keras-keras tulang kering Chanyeol. Kalau pun tempat dinner mereka nanti adalah di atas pasir dan mereka harus berjalan jauh di atas pasir pula, setelah dipikir-pikir sepertinya…. boleh juga.

Karena itulah Yoona berpikir untuk meminta maaf, meski ia merasa tidak bersalah.

“Maaf,”

“Aduhh.. sakit sekali, ya ampun.” Chanyeol berguling ke kanan terus memeluk kakinya.

“Maaf,”

“Astagah ini benar-benar sakit,” Chanyeol berguling ke kiri, masih dalam keadaan memeluk kakinya.

“Maaf,”

“Aku mendengar bisikan maaf, tapi kurasa itu hanya ilusi. Arghh, tulangku mau patah rasanya.” Chanyeol berguling lagi ke kanan, masih tetap dalam keadaan terus memeluk kakinya.

Lihat ‘kan? Bagaimana Yoona tidak ingin menendang tulang keringnya yang satu lagi saat ia sudah minta maaf sebanyak tiga kali dan laki-laki yang tengah berguling-guling di depannya seperti cacing sekarat ini malah berlakon seolah tidak mendengarnya??

“Bangun atau aku akan kembali mengambil sepatuku dan pulang ke rumah Bibi Jeon.”

Butuh waktu 3 detik saja untuk Chanyeol langsung berdiri dan mengusir pasir-pasir yang menempel di tubuhnya. Lewat senyumnya yang lebar, ia berkata “Baiklah, minta maaf padaku sekali lagi maka aku akan memaafkanmu dan berhenti pura-pura tidak dengar–”

“Ugh, lupakan saja. Aku tidak akan minta maaf. Jadi, di mana tempat makannya?”

Chanyeol menunjuk ke arah barat, sebaiknya tidak mempermasalahkan soal sikap cuek Yoona yang kali ini makin akut. Ia melihat gadis itu berjalan mendahuluinya dengan kedua tangan masih bersedekap. Tak punya pilihan, Chanyeol menyusulnya dengan langkah besar.

Pernah melihat gambaran mentari terbenam dengan warna oranye super manis? Mungkin seperti itulah kira-kira keadaannya saat Chanyeol dan Yoona menyusuri pinggir pantai. Tanpa seorang pun bicara, hanya deru napas tipis yang menemani juga deburan ombak yang seolah mengajak bermain.

Bukan, keduanya bukan sedang bertengkar. Suasana menjadi sunyi karena Yoona telah terlebih dahulu membuat Chanyeol berjanji untuk membungkam mulutnya. Dan laki-laki itu benar-benar bersyukur telah membuat janji tersebut, ia tersenyum menyadari mereka berjalan dengan tenang, Chanyeol merasa seolah berada di film-film romansa.

Butuh waktu sekitar 15 menit ditemani mentari terbenam yang kini benar-benar akan tenggelam sepenuhnya. Langit mulai membiru, Yoona berharap Chanyeol menyediakan lampu kecil atau hanya sekadar lilin, atau mereka akan makan malam dengan keadaan gelap gulita, menyeramkan sekali–

“Astaga..” Dari kejauhan memang akhirnya terlihat sebuah meja kayu berserta sepasang bangku, tapi kau akan lebih terkejut saat mendekati lokasi itu dan melihatnya secara jelas. Bahkan Yoona kehabisan kata untuk mengapresiasikannya.

Yoona akan membeku berdiri sepanjang malam memandanginya kalau Chanyeol tidak menariknya untuk duduk. Tersaji dua piring kosong dan yang satu ini jauh lebih baik daripada sebuah lampu atau lilin, Chanyeol ternyata menyiapkan sebuket anyaman dengan api kecil menyala-nyala dari tengah.

Tidak lama setelah itu, seseorang datang membawakan mereka semangkuk besar salad sebagai makanan pembuka. “Kau jadi sweet sekali, Dobi.”

Keduanya menyendok salad, sembari bercanda mereka melahapnya sampai bersih. “Aku bisa jadi romantis kalau aku mau.” jelas Chanyeol dengan senyum, namun kali itu bukan senyum konyol seperti biasa, tapi senyum dewasa seperti seorang pria sejati.

Yoona berpikir ia pasti sudah jatuh cinta lagi pada Chanyeol.

“Mungkin lain kali aku yang akan menyiapkan sesuatu untukmu.”

Chanyeol mengangkat kedua bahu, meragukan apakah Yoona mampu membuat yang lebih romantis dari ini semua. “Aku menunggu,”

“Ohya, aku baru membaca di internet akhir-akhir ini tentang planet.”

“Apa? Planet? Apa kau ingin beralih menjadi ahli astronomi?”

Gadis itu hanya tersenyum, matanya pun seakan ikut tersenyum. “Tidak, hanya iseng saja.”

Ia sukses membuat Chanyeol mengerutkan dahi dan hanya pasrah kembali menyendok makanannya, “Okay….” ujar laki-laki itu.

“Jadi, aku punya pertanyaan. Planet apa yang paling besar di tata surya?”

“Entahlah, planet matahari, mungkin. Eh, matahari bukan planet, ya.”

Yoona sangat ingin menampilkan wajah datar padanya, tapi untuk kali ini saja ia tidak ingin merubah suasana hatinya menjadi buruk hanya karena kebodohan Chanyeol. “Ayolah, masa kau tidak tau?” dan Chanyeol pun menggelengkan kepalanya dengan santai.

Jadi pada intinya Yoona ingin menghubungkan soal planet dengan hal ini, “Planet terbesar di tata surya itu planet Jupiter. Aku ingin membetulkan soal ucapanku waktu itu.”

“Ucapan tentang apa?”

Chanyeol memandangi Yoona yang tidak mau menatap ke arahnya, katanya gadis itu ingin membetulkan sesuatu tapi setelah Chanyeol bertanya yang ada hanya diam. “Ehmm.. itu, maksudku.. cintaku padamu bukan sebesar planet Mars saja, ternyata ukuran planet Mars kecil. Jadi aku memperbaikinya, aku mencintaimu, dan rasa itu sebesar planet Jupiter.”

Chanyeol mau pingsan rasanya. “Ternyata kau bisa romantis juga, ya.”

 

***

Ya, jadi malam itu setelah Yoona yang malu-malu mengungkapkan kalimat soal planet Jupiter dan sebagainya, mereka berdua melanjutkan makan sembari bercanda lalu duduk di atas hamparan pasir mendengarkan suara ombak sampai larut malam.

 

***

note:

bagi yang nggak ngerti kenapa arah pembicaraannya jadi ke planet -_- bisa dibaca ff aku yang sebelumnya –> https://yoongexo.wordpress.com/2015/01/06/arti-hadirmu/ dan beberapa lainnya sih kayaknya aku pernah buat ff tentang Chanyeol pernah bilang soal planet Mars juga ke Yoona tapi aku lupa ._.

Thanks for reading and comment are really welcome!

13 thoughts on “D for Da Dinner

  1. Uhh ampun dah, nih thuc keren bnget. Sumpah, bkin ktawa2 sndri krn Chanyeol. Kocak, dan ad konyolx jg sih. Trnyata Yeol oppa bsa romantis jg😀 author emang daebak.

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s