CALL ME BABY – CHAPTER LIMA

r-call-me-baby

AUTHOR :KIM SUYOON

 MAIN CAST : SUHO | YOONA | EXO |OTHER CAST : SEO YU NA (AOA) |CATEGORIES : ROMANCE, FRIENDSHIP |LENGHT : CHAPTER |RATING : PG-17

Seorang author pendatang baru, semoga tulisan ini dapat diterima para YoongExo🙂

Segala ide cerita murni milik author dan dilarang untuk mengambil hak cipta ^^  Selamat membaca dan diharapkan respeknya atas karya author untuk meninggalkan jejak setelah membaca dalam bentuk komentar. Happy reading🙂

| EMPAT |

OoO

Mian ne….aku sangat telat sekali publish chapter lima meskipun aku tahu readernya masih sangat minim tapi tetap saja aku akan meminta maaf. Baiklah,,,silakan dibaca ya dan aku mengaharapkan sekali para reader yang membaca FF ini  mau memberikan komentarnya karena itu sangat kubutuhkan.Typo is an art🙂

OoO

CHAPTER LIMA
Yoona terbangun oleh gedoran pada pintu kamarnya disusul oleh suara Yu na yang selalu riang. “Eonni…bangun…aku pergi membeli roti dan saus dengan mobilmu ya. Persediaan menipis dan kalau bisa segera bangun, ini sudah sangat telat!”
Yoona menurunkan selimut yang menutupi tubuh dan wajahnya. Dia membuka matanya lebar-lebar dan menoleh kearah jendelanya yang tertutup. Seberkas cahaya matahari musim dingin menyusup masuk melalui serat gordennya membuat Yoona memicingkan matanya sejenak. Dia mendengar langkah kaki Yu na yang menjauhi kamarnya. Perlahan, Yoona bangkit duduk dan merapikan helaian rambutnya yang menutupi sebagian wajahnya.
“Argggh…” Yoona mengeluarkan keluhan lirih dari celah bibirnya. Semalam dia sulit tidur dan gelisah. Setiap kali dia ingin memejamkan mata, bayangan Suho selalu muncul dipelupuk matanya. Wajah lembut pria itu, tubuh berototnya yang indah serta suara halus yang menggoda telinganya membuatnya sukses tidak bisa tidur.
Dengan malas, Yoona melempar selimutnya dan turun dari ranjagnya. Berjalan lambat menuju jendela dan menyibak gordennya dan secara otomatis matanya langsung tertuju pada jendela ruang cermin yang bersebrangan dengan jendela kamarnya. Tidak ada objek yang selalu ingin dilihatnya disana dan dia yakin bahwa Suho mungkin sedang tidak disana.
Yoona menghela napas dan mengetuk dahinya. Suho mulai sangat keterlaluan memenuhi benaknya padahal dia sadar bahwa suatu hari pria itu akan meninggalkan Gimcheon dan kembali pada kehidupan normalnya sebagai seorang idola besar. Memikirkan hal itu membuat perut Yoona sakit dan dia memutuskan untuk segera mandi dan membuka cafenya.
Sementara Yoona mulai ingin mempersiapkan harinya menjalankan cafenya, tampak dua orang pria jangkung mondar mandir di tengah jalanan lenggang komplek itu dan tepat didepan kafe milik Yoona.
Sehun menoleh Chanyeol yang sibuk menatap layar ponselnya dan mencocokkan daerah itu dengan GPSnya. “Jadi Suho Hyung sudah pasti berada di kota inikan, Hyung?” Sehun bertanya dibalik maskernya.
Chanyeol terus mengutak-atik ponselnya dan tanpa mengangkat wajahnya dia menjawab Sehun. “Dia memang di Gimcheon. Titik aktif GPSnya kemarin berada disini…” Chanyeol mengangkat wajahnya dan menatap Kafe yang berada didepannya. Sehun juga mengikuti pandang mata Chanyeol dan dengan menggoyangkan wajahnya, dia menunjuk pintu kafe yang tertutup.
“Dia berada disini?”
Chanyeol mengedipkan matanya dan mengangguk ragu. “Sepertinya…GPSnya aktif tepat didepan kafe ini.” Chanyeol memajukan bibirnya yang tertuju pada pintu kafe.
Sehun menggaruk belakang kepalanya dan mengangkat alisnya. “Tapi ini masih sangat pagi…kafenya belum buka..”
Chanyeol memandang arlojinya dan menjawab ringan. “Ini sudah tidak pagi lagi. Kondisi cuaca disini lebih lembab karena dikelilingi pegunungan. Tempat favorit Suho Hyung.” Diakhir kalimat Chanyeol bergumam.
Sehun menarik lengan Chanyeol. “kalau begitu sekarang kita masuk ke kafe dan bertanya apakah mereka pernah melihat Suho Hyung minum kopi disitu..”
“Kita tidak bisa seperti itu! Aish…bagaimana kalau siapapun dikafe itu mengenali kita?” Chanyeol menahan lengan Sehun.
Selagi Chanyeol dan Sehun saling tarik menarik, Yoona yang sedang mengelap meja didekat jendela manatap heran kelakuan dua pria asing jangkung yang berdiri tepat didepan kafenya. Sepertinya keduanya ragu untuk masuk ke kafe meskipun salah satu dari mereka sepertinya sudah siap memasuki kafe. Aksi tarik menarik itu membuat Yoona penasaran dan akhirnya membuka pintu kafe.
Tengah Chanyeol dan Sehun saling maju mundur, terdengar suara halus disamping mereka. Gerakan keduanya berhenti dan menoleh ke asal suara. Keduanya terdiam saat melihat sosok wanita cantik berambut panjang dengan sepasang matanya yang berbinar terang sedang menatap mereka dengan seksama.
Yoona dapat melihat kedua pria jangkung itu seolah membeku didepannya. Dia bertanya dengan pelan. “Ada yang bisa saya bantu?”
Seakan menemukan jalan, Sehun melepaskan pegangannya pada lengan Chanyeol dan maju selangkah mendekati Yoona. “Ne…kami ingin minum kopi hangat namun sepertinya kafe ini masih tutup.” Maknae mencoba tersenyum namun terhalang oleh masker yang menutupi mulutnya.
Yoona membentuk bulat mulutnya dan menggeserkan kakinya agar memberi jalan bagi Sehun dan Chanyeol. “Ah…silakan..kafenya sudah buka hanya saja sedang membersihkan beberapa barang.”
Sehun menoleh Chanyeol yang tanpa sadar membuka topinya. Sang maknae tersenyum lebar dan mengedipkan matanya dan memberi isyarat agar Chanyeol ikut masuk ke kafe. Yoona mengikuti masuknya kedua pria jangkung itu kedalam kafenya. Dia mulai merasa heran melihat keduanya yang berjalan santai masuk kekafe dan memilih duduk didekat jendela itu sama sekali tidak melepas masker mereka.
Chanyeol dan Sehun menatap daftar menu dan saling berbisik diantara kertas menu itu. “Minseok Hyung akan senang kalau dibawa kesini.”
“Kafe ini seperti surga baginya.”
Melihat kedua pria itu seolah lupa akan memesan, akhirnya Yoona berdehem mengejutkan Chanyeol dan Sehun. Chanyeol mendongak dan mendapati wanita cantik itu sedang menatap mereka dengan penuh perhatian.
“Ah…aku memesan Cappucino…dan Se..eh..kau?” Chanyeol nyaris kelepasan menyebut nama Sehun jika sang maknae tidak menendang tulang keringnya dibawah meja.
Sehun menatap Yoona dan menjawab cepat. “Americano…”
Tapi Yoona tersenyum lebar dan menggoyangkan pensilnya didepan mulutnya. “Aku tidak bisa mendengar apa yang keluar dari mulut anda melalui masker tersebut. Maaf.”
Chanyeol dan Sehun saling pandang dan keduanya serentak memainkan kepalan tangan mereka. Hal itu tak luput dari perhatian Yoona dan dia mulai curiga siapa tahu kedua pria asing itu sebenarnya orang jahat. Dia sudah siap membalikkan tubuhnya untuk berlari masuk ke konter ketika dilihatnya kedua pria itu serentak melepas masker mereka dan mengucapkan kembali pesanan mereka.
“Cappucino.”
“Americano.”
Suara berat Chanyeol bersatu dengan suara rendah Sehun sehingga menghasilkan harmonisasi yang aneh membuat Yoona terpaku sambil memeluk daftar menu didadanya. Sepasang mata Yoona terbuka lebar dan seketika tubuhnya membeku menatap kedua wajah muda didepannya. Meskipun masih ditutupi topi, Yoona mengenali kedua wajah tampan itu. Baru saja semalam dia melihat wajah-wajah itu dari ponsel Suho dan pagi ini…Astaga!! Chanyeol dan Sehun EXO!!!
Seketika Chanyeol menyadari tatapan mengenal dari sepasang mata indah milik wanita didepan mereka, membuatnya segera meraih kembali maskernya namun terhenti karena suara halus Yoona.
“Jangan cemas, aku tidak akan memberi tahu siapapun di kota ini akan kehadiran kalian!”
“Eoh..???!!” Chanyeol dan Sehun bersamaan mencetuskan seruan kaget mereka dan nyaris tidak bisa menutupi rasa terkejut itu.
Yakin bahwa tebakannya benar membuat Yoona berlari kearah pintu kafe dan menutup serta menguncinya. Sehun dan Chanyeol sudah berdiri dengan waspada namun bernapas lega saat sambil bersandar pada pintu, Yoona berkata yang membuat mereka tenang.
“Kalian pasti berada disini untuk Kim Junmyeonkan? Maksudku…Suho…leader kalian?”

 

Chanyeol dan Sehun yang sudah berdiri saling pandang dan menatap Yoona yang kini sedang berjalan mendekati mereka. Chanyeol mencoba bersuara dengan suaranya yang berat dan bernada khawatir. “Apakah…apakah…kau mengenali kami?”
Yoona berjalan mendekati meja keduanya dan mengangguk. “Aku mengenali wajah kalian dari semua pesan grup yang masuk ke ponsel Junmyeon saat ponselnya tertinggal di mobilku dan sepupu adalah penggemar kalian..”
Bola mata Sehun membulat dan dia mencetuskan sebuah pertanyaan yang membuat wajah Yoona memerah.

“Mobil? Apakah kalian saling kenal?” melihat warna pink pada pipi mulus Yoona, Sehun kembali mengeluarkan seruannya yang bernada menggoda. “Ah…jangan-jangan saat bersamamu kemarin sehingga Suho hyung mengaktifkan GPSnya!” Sehun tersenyum lebar seraya menoleh Chanyeol.
Tapi Chanyeol lebih memperhatikan kalimat Yoona yang mengatakan bahwa Suho pernah bersamanya di mobil sehingga ponselnya ketinggalan. Chanyeol maju selangkah dan menatap Yoona dengan lekat.
“Jadi…memang benar Suho hyung berada di kota ini? Dimanakah dia? Apakah kau mengenalnya?”
Yoona dapat merasakan nada suara girang bercampur cemas yang terkandung di suara berat itu. Dia terharu melihat betapa pedulinya para member EXO pada sang leader. Yoona sejenak mengerling kaca jendela yang menampakkan siluet rumah bertingkat dua diseberang kafenya.
“Dia menyewa rumah bertingkat dua didepan kafeku…”
“Kami akan kesana!!” Chanyeol dan Sehun memotong bicara Yoona dan bergerak akan keluar dari kafe namun dengan halus Yoona menghalangi jalan mereka.

 

“Jangan mengagetkannya.. kumohon..semalam dia baru saja menjalani terapi yang sangat berat. Akan lebih baik kalian menunggu saja disini. Junmyeon akan datang untuk memesan kopi dan roti.”
Sehun menunduk dan menatap sepasang mata Yoona. “Apakah dia menjalani terapi? Bagaimana kau bisa tahu? Aish…aku memiliki segudang pertanyaan padamu, Noona, Mian ne.” Sehun menepuk dahinya dan membungkuk pada Yoona.
Yoona tersenyum lebar. “Dia hanyalah salah satu pelangganku dan secara tidak sengaja identitasnya ketahuan olehku padahal dia sudah sangat ahli menutupi siapa dirinya.” Yoona tertawa. Dia menggerakkan tangannya membentuk kacamata didepan matanya. “Dia memakai kacamata. Namun hampir selalu dikenali dengan remaja disini terutama oleh sepupuku, tapi dia berhasil mengelak.”
Sehun tertawa seraya kembali pada mejanya. “Suho hyung paling tidak pandai berbohong, hahaha.”
Tapi Chanyeol tidak tertawa, dia menatap Yoona dengan lekat. “Apakah dia akan datang?”
Yoona tersenyum seraya berjalan menuju pintu. “Dia akan datang. Tunggu saja dan bersikaplah biasa hingga tidak dikenali.” Yoona membuka pintu kafe dan membalikkan papan gantung menjadi open dan menatap pintu rumah bertingkat dua yang tertutup. Sebelum dia kembali masuk, dia mengangkat wajahnya dan tertumbuk pada sosok Suho yang berdiri tepat didepan didepan kaca jendela kamar pria itu.
Suho melihat Yoona yang mendongak kearah rumahnya dan tersenyum pada wanita itu. Dia memberikan isyarat akan segera ke kafe wanita itu dengan menunjukkan telunjuknya kearah kafe.
Yoona melihat isyarat itu dan jantungnya berdebar. Sekilas dia menoleh kebelakang dimana Sehun dan Chanyeol sedang duduk santai di dalam kafe. Dia segera menatap Suho dan mengangguk dan tersenyum lebar. Setelah yakin akan jawaban Yoona, Suho membalikkan tubuhnya dan menghilang dari hadapan Yoona. Yoona melangkah masuk dan mendekati meja Chanyeol dan Sehun.
“Dia akan kemari. Jadi bersiaplah. Aku akan membuat pesanan kalian.” Yoona berjalan melewati meja keduanya namun suara penasaran Chanyeol menahan langkah Yoona.
“Bagaimana kau tahu?”
Yoona menggigit bibirnya. Dia menjawab tanpa menoleh. “Dia sudah memberi tandanya tadi di jendela.”
Sehun dan Chanyeol saling bertatapan. Tiba-tiba tawa Chanyeol melebar. “Aku jadi penasaran bagaimana hubungan hyung kita yang hilang itu dengan Noona cantik itu.”
Sehun merapikan sisi rambutnya dan menggoyangkan kepalanya. “Aku justru lebih penasaran lagi bagaimana ponselnya bisa ketinggalan di mobil Noona itu.” Kemudian keduanya tertawa.

 

OoO
Suho keluar dari rumahnya dan melangkahkan kakinya menyebrangi jalanan menuju kafe milik Yoona. Kali ini Suho merasakan ada sedikit perubahan ketika melangkah. Dia tidak lagi menyeret kakinya yang cedera dan hanya bertumpu pada tongkat, kini dia mulai bisa melangkah meskipun hanya dalam bentuk langkah kecil. Itu saja sudah membuat hatinya mulai merasa lega.
Tepat didepan pintu kafe, dahi Suho berkerut melihat bahwa Yoona masih belum begitu siap membuka kafenya. Dia menemukan bahwa kerai jendela kafe hanya terbuka sebagian namun tanda OPEN sudah tergantung. Membuang rasa penasarannya, Suho mendorong pintu kaca itu dan melangkah pelan memasuki kafe. Dia menatap langsung pada sosok Yoona yang sedang berdiri didepan mesin pembuat kopi yang menguarkan aroma kopi yang harum bercampur aroma cokelat manis dari roti-roti yang tersedia. Suho sama sekali tidak menyadari bahwa ada dua orang pelanggan yang duduk di tepi jendela yang terlihat menegakkan tubuhnya saat Suho memasuki kafe.
Yoona menatap kemunculan Suho dan menanti dengan tegang karena terlihat Chanyeol dan Sehun bereaksi saat pria itu masuk ke kafe meskipun Yoona menyadari bahwa Suho sama sekali tidak menyadari kehadiran kedua dongsaengnya.
Suho hanya terfokus pada wajah Yoona sehingga dia terpaku ditempat saat dia mendengar suara-suara yang amat sangat dikenalnya.
“Junmyeon Hyung!!”
“Suho Hyung!!”
Percampuran suara berat dan rendah itu sudah sangat hapal ditelinga Suho selama bertahun-tahun. Belum dia menuntaskan rasa terkejutnya, tiba-tiba saja tubuhnya ditumbruk keras oleh dua tubuh jangkung seraya salah satu dari mereka mengacak rambutnya dengan rasa gembira. Suho membelalakkan matanya saat melihat Chanyeol dan Sehun yang sedang memeluknya dengan erat bahkan seperti kebiasaan tidak sopannya, Sehunlah yang mengacak rambutnya dan melepas kacamata yang bertengger di hidungnya.
“Kau sama sekali tidak ahli dalam menyamar Hyung,” sang maknae tergelak membuat Suho segera merebut kembali kacamatanya dan mencoba melepas pelukan mereka berdua.
“bagaimana kalian bisa ada disini??” Suho benar-benar tak habis pikir akan munculnya dua mahluk jangkung itu.
Chanyeol dan Sehun melepaskan pelukannya dan tetap berdiri merapat pada hyungnya itu seolah takut pria tampan itu akan kabur lagi. Chanyeol menatap lutut kanan Suho dan memandang dengan cemas. “Bagaimana dengan lututmu?”
“Aku sedang menjalani terapi..” kemudian Suho menghentikan kalimatnya dan menatap Chanyeol dan Sehun dengan tajam. Dia menggelengkan kepalanya dan bersuara rendah.“Bagaimana kalian bisa ada disini? Di kafe ini pula?” Tanpa sadar tatapan Suho mengarah pada Yoona yang terlihat berdiri tenang dan tidak terkejut melihat kehadiran Chanyeol dan Sehun.
“Kemarin GPSmu aktif di area Gimcheon dan titiknya berada tepat didepan kafe ini.” Sehun menjawab cepat.
Perhatian Suho kembali pada keduanya. Alisnya berkerut dalam. Chanyeol mengeluarkan ponselnya dan mengacungkannya dihadapan wajah Suho.
“Para member sudah membuat list kota-kota yang kemungkinan menjadi tempatmu berada. Saat ini Kai, Kyungsoo dan Minseok Hyung berada di Busan. Sementara sisanya menuju rumah nenek Baekhyun.” Chanyeol tertawa saat menyebutkan urutan terakhir.
Suho mendengus menahan tawanya. “Bagaimana bisa rumah nenek Baekhyun menjadi sasaran juga? Apa di rombongan itu ada Lay?” akhirnya Suho tersenyum juga melihat bola mata Chanyeol membulat dengan binar jenaka.
Sehun mencengkram bahu lebar Suho dan berkata serius. “Ayo kembali ke Seoul, Hyung. Kau terapi di Seoul saja. Lagipula agar semuanya merasa tenang bahkan keluargamu semuanya cemas.”
Suho terdiam dan menatap kedua dongsaengnya bahkan Yoona yang secara langsung mendengar percakapan ketiga pria itu terdiam ditempatnya. Dia memeluk kedua lengannya dan mengigit bibirnya. Dia menanti jawaban Suho.
Dengan tegas Suho menjawab. “Aniya..aku tetap di Gimcheon hingga lututku kembali normal. aku sudah memiliki terapi dan kami sudah menjalani terapi berjalan semalam.”
Kini gantian Chanyeol dan Sehun yang terdiam. Yoona menghela napas lega dan saat matanya tertuju pada luar kafenya, dia melihat mobilnya telah terparkir didepan kafe dan Yu Na sedang melangkah masuk kedalam. Yoona tidak sempat untuk memberi peringatan pada Suho, Chanyeol dan Sehun ketika Yu Na mendorong pintu kaca dan berseru kaget sehingga menjatuhkan belanjaan bungkusan rotinya.
“Aaaaaaaa……EXO!!!”
Yoona menutup wajahnya dengan kedua tangannya mendengar jeritan Yu Na. Suho dan kedua dongsaengnya itu terkejut dan segera membalikkan tubuh mereka dan mendapati Yu Na yang sudah terduduk dilantai kafe dengan telunjuk mengacung pada ketiga pria member EXO tersebut.
“Chanyeol….Sehun…dan kau…kau…ternyata kau…” dengan tergagap Yu Na menunjuk ketiganya satu persatu dan kali ini telunjuknya teracung lurus pada Suho yang kini tanpa kacamata dengan tatanan rambutnya sebagai Suho EXO. “Kau SUHO EXO!!!!”
Sehun dan Chanyeol menatap gadis yang histeris itu kemudian menoleh hyung mereka yang tengah menyembunyikan senyumnya. Sehun menunduk dan mendekati Yu Na sementara dengan cepat Yoona sudah berada disamping adik sepupunya itu dan menarik lengan gadis itu agar berdiri.
Yu Na menahan lengan Yoona dan berkata gagap. “Eonni…kita kedatangan EXO dan pria yang pergi bersama kita menonton Transformer adalah Suho EXO!!”
“Wuaahh…kau menonton Transformer disini, hyung??” Chanyeol mengguncang lengan Suho yang kini sudah tertawa.
“Aish..Yu Na..jangan berlebihan seperti ini…”
“Memangnya kau tidak terkejut? Dia…dia yang pergi bersamamu ke kuil Jikjisayang, yang kau beri Gimbap semalam adalah Suho EXO!!” Yu Na nyaris berteriak didepan wajah Yoona.
Semburat merah mewarnai wajah cantik Yoona dan dia bertatapan sejenak dengan Suho yang kini sedang mengusap rambutnya yang hitam kecoketan itu. Ada senyum kecil muncul di wajah tampan itu.
Chanyeol terlihat tertawa lebar dan menatap Suho penuh arti sementara Sehun mendekati Yu Na dan berkata lembut pada gadis itu. “Kau bisa kan menyembunyikan keberadaan kami selama Suho Hyung terapi?” dengan jail Sehun sengaja memberikan senyum mautnya yang membuat Yu Na lemas dan bersandar pada lengan Yoona.
“Aku…aku mau…apalagi aku tidak mau merangkak di lorong kampus dengan lidahku karena ternyata tebakan teman sekampusku benar. Kau adalah SUHO OPPA!!” Yu Na menunjuk Suho dengan gemas.
Yoona mendorong bahu Yu Na sambil tertawa bersamaan dengan pecahnya tawa Suho. Dia mencoba menjawab tanya dimata Sehun dan Chanyeol. “Yu na bertaruh pada temannya jika aku adalah benar SUHO EXO dia akan rela merangkak dengan lidahnya disepanjang lorong kampusnya.”
Mendengar kalimat itu tawa Chanyeol dan Sehun pecah dan mereka tertawa bersama. Kemudian seolah teringat sesuatu, Suho menatap Yoona yang sedang mengusap sudut matanya karena airmata tawa.
“Aku akan membawa kedua anak ini ke rumah saja. Aku khawatir pelangganmu akan segera muncul dan aku tidak mau kafemu menjadi heboh.” Suho mendekati Yoona dan tanpa sadar menyentuh lengan mungil itu dengan halus. Hal itu tak luput dari tatapan mata Chanyeol.
“Aku akan meminta Yu na mengantar pesananmu dan mereka di rumahmu saja.” Yoona menjawab ringan dan sekali lagi Suho tersenyum. Tanpa mendengar protes dari Chanyeol yang masih ingin duduk santai di kafe itu, Suho menarik lengan mereka berdua agar segera berlalu dari kafe itu.
Yoona dan Yu na sempat mendengar gumaman Sehun. “Ternyata terapi di Gimcheon berhasil mengembalikan kekuatan Suho hyung.”
Setelah mereka lenyap dari pandangan, Yu na memandang Yoona yang berjalan memungut belanjaan Yu na yang jatuh dilantai kafe. “Jadi..kau sudah tahu siapa dia, eonni?”
Yoona menegakkan punggungnya dan berjalan menuju dapur. Yu Na terus membuntutinya dengan merengek meminta jawabannya. Yoona meletakkan semua belanjaan diatas meja dapur dan menatap Yu Na. “Aku sudah tahu sejak kita kembali dari menonton bioskop.”
Yu Na melongo seraya memperhatikan sepupunya mulai mengeluarkan semua barang didalam kantong belanjaan.

“Dan kau hanya diam saja? Tidak member tahuku?” Yu na bersuara dengan nada memprotes.
Yoona menjawab tanpa mengangkat wajahnya. “Dan membiarkanmu histeris seperti tadi dan membuatmu merangkak dengan lidah?” senyum Yoona terkembang saat melihat wajah keruh Yu Na.

 

OoO

“Wah..ini seperti ruang latihan kita di SM!!” Chanyeol berseru saat mereka dibawa oleh Suho memasuki ruang latihan cermin tempat dia dan Jae Hee menjalankan terapi. Sehun dan Chanyeol menelusuri ruang cermin itu dan mendapati beberapa alat terapi berada disana seperti palang berjalan dan lainnya.

Sehun menatap Suho yang hanya berdiri di tepi pintu dengan ditopang tongkatnya. Bagi Sehun dan Chanyeol, Suho selalu memiliki sosok seorang yang sangat mahal. Meskipun dia menggunakan tongkat, auranya sebagai leader tak hilang sama sekali walaupun mereka tahu kadang Suho bisa menjadi sangat kekanakan seolah melupakan berapa umurnya.

“Kau sangat serius menjalani terapi.” Sehun berkata rendah.

“Aku tidak mau menjadi sisakit yang merepotkan banyak orang bahkan kepada orangtuaku sekalipun.” Suho menjawab dengan ringan seraya melangkah memasuki ruangan latihan dan menyentuh dinding cermin. “Walaupun itu aku harus merasakan kesepian berjauhan dengan orang-orang itu.”

Chanyeol menatap diseberang dimana Suho berada bersama Sehun. “Jadi itu alasanmu pergi menghilang dari kami?”

Suho membelai dinding cermin itu dengan telunjuknya. Seketika saja Chanyeol melihat sisi lain dari Suho. Melalui punggung lebar itu dia seakan melihat betapa kesepiannya pria itu sebenarnya, betapa rapuhnya Suho terhadap cedera yang dialaminya. Chanyeol seolah tahu bahwa pria itu tidak ingin siapapun melihat isi hatinya. Mungkin saja Suho merasakan kesakitan hanya sendirian saja saat malam hari seperti yang dialaminya di Rumah Sakit Seoul, namun hyungnya itu memilih untuk merasakannya sendirian. Karena pikiran itulah yang membuat Chanyeol berjalan cepat menyebrangi jarak mereka dan memeluk punggung Suho.

“Hyungku yang malang! Seharusnya kita berbagi segala kesakitan yang dirasakan siapapun di EXO.”

Suho menepuk lengan Chanyeol dan melepaskan pelukan itu. Dia membalikkan tubuhnya dan mendapati Sehun mengusap matanya dan dia tertawa melihat maknae itu ternyata menangis bahkan sepasang mata berbinar milik Chanyeol berkaca-kaca.

“Sehun-ah…kau menangis?” tawa Suho sambil mendorong dada Sehun dengan pelan sementara Chanyeol masih saja memeluknya.

“Aku tidak tahu kau berada dimana. Aku tidur sendirian padahal kau selalu mematikan AC setiap kita tidur dan membaca komik sebelum kau terlelap. Itu sangat tidak enak sekali saat sebuah kebisaan tiba-tiba hilang begitu saja! Ini sangat berbeda saat kau filming Exciting India bersama Kyuhyun sunbae.” Sehun membersit hidungnya yang memerah dan menatap Suho dengan tidak puas.

Suho terdiam dan dia memandang kedua dongsaengnya secara bergantian. Dia menepuk lengan Chanyeol dan menepuk pula pipi Sehun. “Sudahlah sekarang kau sudah menemukanku. Kuharap kalian tidak membuat kota yang tenang ini heboh.”

“Apakah kami boleh menghubungi rombongan Umin Hyung karena mereka sekarang ada di Busan, tidak jauh dari Gimcheon.” Chanyeol berkata.

Suho menggeleng dan menjawab cepat. “Nanti saja. Aku yakin mereka akan membuat kota tenang ini heboh. Apa kau ingin membuat Yu Na sesak napas jika ditambah munculnya Minseok, Kyungsoo dan Kai?” Suho tertawa dalam hati mengingat reaksi Yu na barusan.

Sehun memiringkan kepalanya dan tersenyum lebar. “Gadis itu lucu. Dia shock begitu tahu kalau kau adalah Suho EXO dan dia ternyata membuat sumpah konyol,” Sehun kini tertawa namun tawanya mengambang diudara ketika terdengar suara jengkel dibelakangnya.

“Kalau begitu kau mau menemaniku merangkak dengan lidah di lorong kampusku?”

Ketiga pria itu terdiam saat melihat kemunculan YuNa dibelakang mereka dengan membawa tiga gelas kopi panas pesanan mereka dan sekotak roti berbagai rasa yang disiapkan oleh Yoona. Chanyeol mendorong bahu Sehun dan tertawa pada Yu Na. “Dia memang maknae yang tidak bisa mengelurakan kalimat sopan.” Dia menunjuk batang hidung Sehun.

Yu Na mencibir dan matanya tertuju pada Suho yang sedang memandangnya. Dia mengacungkan tiga gelas kopi yang terdapat didalam kantong serta bungkusan roti dihadapan Suho. “Dimana aku bisa meletakkan ini semua, Oppa..” YuNa malu sendiri mengucapkan kata itu pada idola yang selama ini hanya diajaknya bicara melalui photo-photo yang tersimpan di ponselnya kini diucapkannya secara langsung pada orangnya.

Dengan sebelah tangannya yang bebas dari pegangan tongkat, Suho berusaha meraih semua barang itu. Namun dengan sigap semuannya diraih oleh Chanyeol. Sambil mengedipkan matanya, dia berkata pada YuNa yang seharian itu wajahnya akan memerah. “Terima kasih sudah merepotkan.”

Suho menunduk menyembunyikan tawanya melihat Chanyeol yang menggoda Yu Na. Suho menepuk bahu Chanyeol selagi dongsaengnya itu melewatinya menuju meja bundar didekat jendela. “Jangan menggodanya!” tegur Suho halus.

Dengan nyengir, Chanyeol menjawab ringan. “Dia manis, Hyung. Tapi kurasa bagimu kakaknya lebih manis lagi. Hehehe..”

Suho terdiam dan kini giliran Suho merasa wajahnya memanas karena ucapan Chanyeol. Tentu saja suara bass Chanyeol terdengar ditelinga Yu Na. dengan senyum selebar wajahnya, gadis itu balik menggoda Suho. “Kurasa eonniku akan senang jika kau datang sebentar ke kafe. Sekedar membayar kopi yang kau pesan untuk kedua dongsaengmu ini.” Tatapan YuNa tertuju pada Sehun dan Chanyeol. Setelah puas melihat senyum canggung Suho berikut pipi putih pria itu yang berangsur memerah, Yu Na berlari pergi.

Sehun melipat tangannya didada dan bersiul. “Wah…kau dalam masalah, hyung.” Sehun menggoda saat melihat betapa merahnya wajah tampan hyungnya itu.

OoO

Sekitar menjelang jam makan malam, disaat kafe sedang ramai-ramainya oleh pengunjung karena diluar mulai turun salju dengan lambat, Yu Na mengatakan bahwa persediaan keju mereka habis. Yoona meraih parkanya dan mengatakan akan membeli beberapa kotak di supermarket diujung jalan raya. Yu na segera mengangguk dan membiarkan saja sepupunya itu berlari pergi setelah memutar acara drama di televisi di kafe mengingat bahwa sebagian besar yang ada di kafe adalah pasangan manula.
“Salju mulai turun, Yoona-yah!” salah satu wanita tua yang sedang mengigit rotinya berkata pada Yoona yang berjalan melintasi mejanya.
Dengan senyum sopan, Yoona berkata cepat. “Tidak apa-apa, aku akan menggunakan tudung kepala.” Setelah itu dia menggeser pintu kafenya dan siap melangkah dari halaman kafenya saat dia mengangkat kepalanya dan menemukan sosok Suho yang tengah berdiri tepat didepannya dengan coat biru dan kacamata tipisnya.
“Eh?” Yoona terkejut dan tanpa sadar mengepalkan tangannya yang berada didalam saku parkanya.
Suho juga terkejut ketika tanpa diduganya akan bertemu Yoona sebelum dia memasuki kafe. Dilihatnya wanita itu seperti sedang akan bepergian. “Kau akan pergi?” cetus Suho lambat.
Yoona mengeluarkan tangannya dari saku dan menarik tudung parkanya menutupi kepalanya dan menjawab ringan. “Ne. aku akan ke supermarket diujung jalan sana untuk membeli keju. Kau masuklah, Yu na akan membuatkan apapun yang akan kau pesan.” Yoona melangkah melewati Suho namun dia terkejut untuk kedua kalinya saat pria itu menahan langkanya dengan memegang lengannya.
Yoona menatap Suho yang terlihat berdiri kokoh meski dia masih tetap ditopang oleh tongkatnya, namun Yoona dapat merasakan pegangan yang erat dan mantap pada lengannya. Perlahan Suho melonggarkan pegangannya dan menunduk sejenak sebelum berkata pada Yoona.
“Aku akan menemanimu.”
Bola mata Yoona membulat. Butiran – butiran salju jatuh diatas kepala mereka berikut didepan mata mereka. Sepasang mata berbinar milik Yoona bertemu dengan sepasang mata lembut milik Suho. Ketika pria itu melepaskan pegangannya, Yoona hampir yakin bahwa Suho seperti nyaris membelainya.
“Aku memang ingin bertemu denganmu malam ini, bukan untuk kopimu.” Ucapan Suho terdengar pelan, terlalu pelan malah tapi justru sangat jelas ditelinga Yoona.
Ada debaran aneh muncul didada Yoona bahkan untuk Suho sendiri dia merasakan ada getaran asing melanda hatinya. Seperti sebuah sengatan kecil menyerang sisi terdalam hatinya membuatnya membasahi bibirnya dengan lidahnya. Dia hampir tidak bisa menatap manik mata Yoona tapi sepasang mata kejora itu seakan berubah menjadi magnet.
“Benarkah?” tanpa sadar Yoona mencetuskan kata itu.
Suho merasakan bagaimana perlahan wajahnya merona namun dia bersyukur bahwa malam berangsur menciptakan bayangan remang. Yoona tidak dapat melihat wajahnya yang kini berangsur menjadi merah dadu. Tanpa menjawab, Suho melangkah dengan tongkatnya disusul oleh Yoona yang berjalan lambat disisinya.
Apa yang terjadi ternyata disaksikan oleh dua manusia berukuran panjang melalui kaca jendela ruang tamu rumah sewaan Suho. Sehun tampak menekan kepala Chanyeol demi mengintip apa yang dilakukan hyungnya bersama Noona cantik pemilik kafe diseberang.
“YA! YA! YA! Kepalaku!!” Chanyeol protes namun hanya direspon oleh tawa Sehun. Sebaliknya sang maknae justru bersiul sambil menunduk menatap Chanyeol yang terlihat serius menatap luar jendela.
“Mereka pergi berdua!” seru Sehun berdecak seraya menggelengkan kepalanya.
Chanyeol bergerak sehingga Sehun terpaksa menyingkir dan menghempaskan tubuhnya di sofa empuk itu. Chanyeol menggelengkan kepalanya dan merapikan rambutnya. Dia menatap Sehun yang sedang menatapnya. “Kurasa kau benar, hyung kita dalam masalah.”
Sehun mengangguk-angguk berulang kali dan menyentuh sisi rambutnya. “Dia memang selalu ramah dengan siapa saja namun jarang sekali berani kontak fisik dengan gadis-gadis itu, tapi dengan Yoona Noona…hmm..saat dia menyebutkan nama noona itu tadi siang, wajahnya memerah…hahaha..” Sehun tergelak.
Sementara itu Suho dan Yoona hanya berjalan bersisian meskipun awalnya Suho sempat menggenggam jemarinya, tak lama kemudian pria itu melepaskannya dengan pelan. Udara semakin dingin dan membuat Yoona meniup jari-jarinya sehingga uap dingin tampak keluar dari mulutnya.
Suho melirik sekilas dan bertanya lambat. “Mengapa tidak menggunakan mobilmu?” dibalik saku coatnya, jari-jari Suho mengepal erat, menahan dirinya untuk tidak meraih jari-jari mungil itu kedalam genggamannya.
Yoona mendongak ke atas dimana butiran salju terus turun dengan lambat membuat jalanan mulai menumpuk oleh benda putih itu. Tampak dari kejauhan Yoona melihat lampu neon terang dari supermarket yang ditujunya. Dia menoleh Suho yang tampak berjalan lambat dengan tongkatnya. Dia dapat melihat bahwa pria itu tidak lagi menyeret kakinya, Suho sudah mulai melangkah sedikit normal meski masih dengan bantuan tongkat.
“Aku suka salju. Aku suka melihat butiran kecil putih itu menimpa kulitku.” Yoona tersenyum kecil dan meraih butiran salju kedalam telapak tanganya. Dalam hati dia berkata melanjutkan. Salju pertama jatuh aku melihat kau diseberang kafeku. Dia menatap Suho yang masih saja berjalan dengan setengah menunduk.
Suho mendengar ucapan Yoona dan segera ingatannya melayang pada sebuah judul lagu grup mereka The First Snow . dia menoleh Yoona yang sedang asyik memainkan tiap salju yang berjatuhan dengan tangannya. Mengapa setiap yang kulakukan bersama wanita ini selalu bisa dihubungkan dengan setiap judul lagu EXO? Bukankah pertama kali aku melihat Yoona melalui jendela kamarnya tepat saat salju pertama jatuh di Gimcheon? Pertama kali berbicara pada saat lagu Call Me Baby berkumandang di sepenjuru kafe.
“Kita sudah sampai!”
Suara Yoona membuyarkan alam pikiran Suho dan dia melihat bahwa tanpa disadarinya mereka telah sampai pada pintu supermarket dan dia dapat merasakan sentuhan lembut Yoona pada sikunya. Dia menatap wajah cantik itu dan tiba-tiba saja hatinya terasa hangat kala wanita itu bertanya tentang kondisi lututnya.
“Apakah lututmu baik-baik saja? Kau berjalan cukup jauh dan disaat udara begitu dingin.” Bola mata Yoona yang berbinar menerpa manik mata Suho.
Diam-diam Suho menghela napas berat. Mengapa aku begitu ingin memeluk wanita ini? Mengapa?

 

Namun dengan menggigit bibirnya, Suho tersenyum lebar. Dia mengeluarkan tangannya yang tanpa memegang tongkat dari balik saku coatnya. Dia menepuk pelan pipi dingin Yoona membuat wanita itu ternganga. “Bukankah pipimu yang sangat dingin ini yang mesti diperhatikan? Lututku dibalut celana jeans dan penghangat lutut yang menempel, lagipula lutut ini mulai kembali kuat. Kau jangan cemas. Jika aku mengalami kram, dua manusia jangkung itu ada disampingku malam ini,” setelah berkata demikian Suho menjauhkan tangannya dan melangkah lebih dulu memasuki supermarket.
Yoona masih terpaku ditempatnya. Dia merasakan debaran jantungnya seakan ingin menembus parkanya. Wajahnya menjadi hangat seketika dan dia merasa kedua matanya panas. Rasanya dia ingin menangis. Jangan berlaku demikian, Kim Junmyeon! Kau hanya membuat aku semakin jatuh cinta padamu! Padahal aku tahu sampai kapanpun kau takkan bisa ku miliki! Yoona berpikir pahit saat menyadari siapa diri Suho.
Dia menghembuskan napasnya dan melangkah memasuki supermarket. Dia melihat Suho tampak berkeliling tempat itu dengan santai seolah tidak khawatir identitasnya akan ketahuan. Suho memang menggunakan kacamata tipisnya namun tatanan rambutnya yang turun benar-benar khas seorang Suho EXO. Yoona berdoa agar para remaja yang ada di supermarket itu tidak menyadari idola mereka ada diantara mereka.
Suho terlihat meraih beberapa kaleng minuman dan cemilan khas korea yang sudah berada dalam kemasan untuk kedua dongsaengnya. Dengan ringan Yoona ikut dalam kegiatan Suho memilih makanan sementara dia dengan cepat sudah meraih empat kotak keju berukuran besar. Mereka tidak banyak bicara namun dari bahasa tubuh mereka, mereka begitu menikmati kebersaman mereka malam itu.
Saat mereka keluar dari supermarket, tampak salju turun mulai deras. Beberapa orang yang lewat tampak merapatkan parka mereka dan berjalan cepat. Yoona mendongak ke langit dan dia menggosok kedua tangannya seraya menggigil. “Gimcheon kali ini bersalju sangat deras.”
Suho melihat bagaimana Yoona mengepalkan kedua tinjunya yang kecil seraya meniupnya agar hangat. Wanita itu berjalan lambat menyamai langkahnya yang bertongkat. Dia melihat bahwa Yoona tidak memakai sarung tangan dan Suho merasa tangannya berada didalam kantong coatnya yang tebal dan hangat.
Suho mengulurkan tangannya dan meraih sebelah tangan Yoona dan membawanya masuk kedalam saku coatnya yang hangat dan lebar. Yoona tersentak kaget dan menoleh Suho yang hanya berjalan sambil menunduk. Diantara butiran salju, pria itu terlhat demikian indah dengan kulitnya yang putih. Yoona tidak hanya merasakan kehangatan coat milik Suho namun dia juga dapat merasakan kehangatan telapak tangan pemiliknya.
Yoona menghentikan langkahnya yang membuat Suho juga menghentikan langkahnya. Suho mengangkat mukanya dan memandang Yoona dengan tatapannya yang lembut bercampur rasa heran.
Yoona membalas tatapan itu dengan sama lekatnya dan dia juga menggenggam jemari Suho yang saling mengait dengan jari jemarinya. Suho menyadari itu namun terlambat untuk menghindar lagi dengan pertanyaan Yoona.
“Mengapa kau melakukan ini padaku?”
Suho mengerutkan dahinya. Jantungnya berdebar saat Yoona melontarkan pertanyaan tak terduga itu. Didengarnya kembali wanita itu berkata lambat, melangkah mendekati dirinya.
“Jelaskan padaku segala bentuk sikap dan prilakumu beberapa hari ini? Katakan padaku bagaimana aku sebaiknya agar tidak terjatuh padamu…Junmyeon-ssi..” dengan bola matanya yang berbinar, Yoona menatap Suho.
Ada suara klik yang muncul direlung hati Suho. Dia bisa melihat kecantikan Yoona yang semakin nyata didepan matanya. Kecantikan yang penuh kelembutan dan ketulusan yang memandangnya sebagai seorang Kim Junmyeon. Apa? Apa yang kulakukan padanya? Aku menyukainya. Aku senang saat bersamanya. Aku merasakan sebuah rasa kebebasan yang indah disampingnya. Lalu..apa yang harus kulakukan?
Lalu lalang terlihat sepi dan hanya terdengar beberapa toko mulai mematikan lampu-lampu neon mereka menyisakan sinar lampu jalan yang berwarna kuning kemerahan dan butiran-butiran salju diantara Suho dan Yoona.
Dengan lembut, tangan Suho yang menggenggam jemari Yoona didalam saku coatnya menarik pelan tubuh Yoona agar mendekat padanya. Dan dalam hitungan detik Yoona sudah berada didalam pelukan tubuh tegap itu. Yoona dapat melihat tengkuk putih yang tertutup kerah coat dan merasakan kini kedua tangan Suho melingkari pinggangnya dan dia bisa mendengar suara tongkat yang jatuh ke tanah.
Tidak ada yang bicara diantara mereka. Dengan lembut, Suho meletakkan wajahnya diantara bahu Yoona dan membiarkan dirinya menghirup aroma harum dari rambut Yoona. Perlahan bibirnya bergerak.
“Bukankah seharusnya aku yang bertanya, bagaimana caranya agar aku tidak terjatuh olehmu? Bagaimana caraku agar tidak hanya melihatmu saja?”
Yoona terdiam mendengar kalimat halus itu dan bagaikan seringan bulu dia dapat merasakan usapan lembut bibir hangat Suho pada cuping telinganya sebelum pria itu melonggarkan pelukannya dan menatap Yoona dengan intens. Bahkan Suho terlihat sangat kokoh berdiri tanpa bantuan tongkatnya yang membuat Yoona segera menjauh dan membungkuk meraih tongkat yang tergeletak di tanah. Saat itulah dia mendengar kalimat lanjutan Suho.
“Terlalu cepat jika kukatakan kalau aku jatuh cinta padamu. Tapi aku memang sedang jatuh cinta…jatuh cinta padamu.”
Yoona tersedak dan tanpa sadar tangannya menarik lengan coat Suho dan sepatunya yang licin membuat gerakan tubuhnya limbung dan dengan sukses dia jatuh tergelincir bersama Suho. Seorang lelaki tua meneriaki mereka karena terkejut melihat kedua orang muda didepannya jatuh ditanah.
“Hati-hati, nak! Jalanan licin dan sebaiknya segera kembali ke rumah!” tegur lelaki itu sebelum dia berlari pergi.
Yoona yang menimpa tubuh Suho menoleh dan menjawan cepat dengan malu. “Ne, Ahjusshi..” kemudian dia menunduk dan melihat Suho yang tengah memejamkan matanya menahan berat tubuhnya.
“Mian ne…”

 

Yoona berusaha bangun namun tiba-tiba tengkuknya ditarik Suho secara mendadak. Bola mata Yoona terbelalak ketika diluar dugaannya dia merasakan sesuatu yang hangat dan lembut menyentuh bibirnya.

TBC

38 thoughts on “CALL ME BABY – CHAPTER LIMA

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s