CALL ME BABY – CHAPTER ENAM

r-call-me-baby

AUTHOR :KIM SUYOON

 MAIN CAST : SUHO | YOONA | EXO |OTHER CAST : SEO YU NA (AOA) |CATEGORIES : ROMANCE, FRIENDSHIP |LENGHT : CHAPTER |RATING : PG-17

Seorang author pendatang baru, semoga tulisan ini dapat diterima para YoongExo🙂

Segala ide cerita murni milik author dan dilarang untuk mengambil hak cipta ^^  Selamat membaca dan diharapkan respeknya atas karya author untuk meninggalkan jejak setelah membaca dalam bentuk komentar. Happy reading🙂

| LIMA |

OoO

aku mengharapkan partisipasi para reader untuk bersedia meninggalkan komentar setelah membaca😉 aku butuh banget loh para reader menjadi sangat aktif ^^

OoO

Chanyeol dan Sehun segera bangkit duduk setelah mendengar suara anak kunci diputar, selama Suho pergi kedua dongsaeng itu sengaja dikunci oleh Suho dari luar agar tidak berkeliaran dikota itu untuk menghindari keberadaan mereka. Keduanya melihat Suho melangkah masuk sambil mengibas butiran sajlu yang melakat dikedua pundak lebarnya serta dia mengusap rambutnya dari butiran dingin itu.

“Kau dari mana saja dengan kaki seperti itu, Hyung?” tegur Chanyeol.
Suho mengangkat kepalanya dan tersenyum tipis sambil melangkah dengan berat karena lututnya mulai terasa berdenyut. Sehun melangkah lebar dan meraih lengan Suho dan menegur juga melanjutkan kalimat Chanyeol.
“Lututmu pasti kram. Siapa suruh kau berjalan diwaktu salju turun.” Dengan pelan Sehun mendudukkan Suho di sofa sementara Chanyeol meraih tongkat sambil menatap dengan sepasang matanya yang bulat.
“Apa yang harus kami lakukan?”
Suho menatap kedua dongsaengnya dan seketika dia menyadari bahwa keingintahuan keduanya akan perginya bersama Yoona mungkin akan teralihkan jika dia meminta mereka memperhatikan keadaan lututnya yang mulai nyeri. Dengan senyumnya, Suho menjawab Chanyeol. “Biasanya Jae Hee hyung menekan lututku dengan handuk hangat.”
Dengan segera Chanyeol berjalan menuju dapur sementara Sehun mengatakan dia akan membuatkan cokelat panas untuk Suho. Melihat keduanya terlihat sibuk ingin mengurusnya, Suho menghembuskan napasnya dan meraih tongkatnya. Dia bangkit berdiri dan melangkah perlahan menuju tangga. Dia menapaki tangga dengan lambat menuju ruang cermin.
Suho membuka pintu ruang itu dan menekan tombol penghangat ruangan yang terdapat disamping tombol lampu. Udara hangat langsung terasa. Suho meletakkan tongkatnya didinding dan dia membuka coatnya serta polonya yang hangat sehingga tubuh berototnya terpampang dengan otot perutnya yang sempurna. Suho menatap cermin dan menarik napasnya. Dia berencana akan mencoba berjalan tanpa tongkat menuju jendela ruangan yang berada diseberang dari tempat dia berdiri.
Dengan langkah kecil, Suho mulai melangkah. Dia menahan rasa nyeri yang semakin kuat menyerang lututnya serta betisnya. Namun dia menahan semua itu dan tetap melangkah meskipun kini dahinya sudah dipenuhi titik-titik keringat. Dengan menghitung didalam hati, akhirnya Suho mencapai jendela dan pandangannya langsung tertuju pada sebuah jendela yang tertutup diseberang jalan.
Suho menyentuh bibirnya dan dia memejamkan matanya sejenak. Diantara derai salju, dia mencium Yoona bahkan tidak hanya sekedar mengecup, dengan lembut dan pasti bibirnya melumat bibir hangat Yoona yang bergetar karena shock.

 

Seakan semuanya masih sangat jelas, Suho ingat bagaimana dia dengan lembut menarik tengkuk Yoona dan menahan tangan Yoona dengan tangannya yang bebas. Dia bisa melihat sepasang mata bagai kejora itu membelalak lebar namun Suho seakan lupa segalanya. Dia menyentuhkan bibirnya diatas bibirYoona,menunggu sedetik sebelum akhirnya dia menyesap pelan bibir bawah ranum itu. Entah karena terkejut, Yoona justru membuka sepasang bibirnya membuat lidah Suho berhasil masuk dan menggoda langit-langit mulut yang hangat itu sebelum melumatnya dengan mesra.
Suho segera melepaskan ciumannya saat dirasakannya Yoona tersentak dan menarik lepas lengannya yang dipegang Suho dan terburu-buru menjauh darinya dengan wajah semerah kepiting rebus. Suho menyentuhkan dahinya pada kaca jendela dan mengerang lirih. “Apa yang sudah kau lakukan, Junmyeon??”
Sementara itu, setelah sampai didepan kafenya, Yoona segera berlari masuk lupa mengucapkan selamat malam pada Suho. Bahkan dia tidak ingin lagi berada di kafe hingga tutup dan menyerahkan segalanya pada Yu Na dan tidak menghiraukan protes Yu Na. Yoona segera menembus ke rumah utama dan berlari menaiki tangga menuju kamarnya.
Yoona segera mengunci pintu kamarnya dan bersandar pada pintu seraya mengatur napasnya yang memburu dan wajahnya yang memanas. Dia memegang kedua pipinya dan dari bibirnya yang terasa sebal tercetus kalimat yang terus diulang-ulang. “Dia menciumku…Ya Tuhan dia menciumku!”
Yoona menggelengkan kepalanya dan berjalan melintasi kamarnya. Dia menghempaskan tubuhnya diatas ranjangnya dan menatap langit-langit kamarnya. Telunjuknya menyentuh sepasang bibirnya yang baru saja dikecup bahkan dilumat mesra oleh Suho. Memikirkan itu Yoona kembali merasakan wajahnya memanas hingga seperti akan menembus ubun-ubunnya. Dia menutup wajahnya dan teringat betapa bergetarnya seluruh sendi tubuhnya, dia merasakan hampir semua bulu yang ada ditubuhnya meremang saat merasakan betapa lembutnya bibir Suho menggoda bibirnya, betapa lembunya lidah pria itu membelai rongga mulutnya.
“Aaaaaa..!!” Yoona berteriak dan duduk diatas ranjangnya. Jantungnya kembali berpacu liar. Dia turun dari ranjangnya dan berjalan kearah jendela. Bagai menjadi sebuah kebiasaan, Yoona menyibak gordennya bersamaan dengan melepas ikatan rambutnya. Matanya terpaku pada satu titik diseberangnya. Pada sosok maskulin yang berdiri dijendela ruang cermin rumah bertingkat dua itu. Pada sosok Suho yang atletis yang juga tengah menatap kearahnya.
Suho terdiam saat matanya tertumbuk pada tatapan Yoona diseberang jalan, pada jendela kamar wanita itu. Terlalu jelas meskipun dihadapan jendela keduanya terlihat salju yang terus turun dengan derasnya. Dalam hitungan persekian detik, sepasang mata saling beradu, berpangutan demikian lekat sebelum Yoona lebih dulu memutuskannya dengan membalikkan badannya membelakangi jendela dan menarik menutup gordennya.

 

Yoona merosot terduduk dilantai kamarnya dan berulang kali menepuk pipinya. Dia menelungkupkan wajahnya diantara lututnya yang ditekuknya. “Aku tidak sanggup menatapnya…Ya Tuhan aku tidak sanggup melihatnya..aku tidak sanggup karena aku jatuh cinta padanya…jatuh cinta pada seorang idola sepertinya…” Yoona mengerang dengan pelan.
Melihat Yoona membalikkan tubuhnya dan menutup kembali gordennya membuat Suho memukul kaca jendela didepannya dengan kesal. “Kau sudah merusaknya, Junmyeon!”
“Apa yang sudah kau rusak, Hyung?”
Suho membalikkan badannya dan menemukan Chanyeol dan Sehun yang berdiri diambang pintu. Chanyeol terlihat sedang memegang baskom sementara ditangan Sehun berada secangkir coklat panas. Wajah khawatir terlukis jelas pada wajah kedua pria jangkung itu ketika berjalan mendekati Suho.
“Kau sedang memikirkan sesuatukan?” tebak Sehun.
Suho menatap keduanya dan menghela napas. Dia merasa tidak pernah bisa menyembunyikan apapun dari para member terutama pada Sehun dan Chanyeol. Kedua dongsaengnya itu termasuk yang sangat dekat padanya. Dengan bola matanya yang lembut dan indah, dengan lambat Suho berkata. “Aku telah mencium Yoona.”

 

OoO
Yoona membuka pintu rumahnya dan menemukan bahwa sepanjang jalanan pagi itu ditumpuki salju putih. Sinar matahari tampak bersinar menimpa tumpukan salju itu. Yoona meregangkan kedua tangannya diatas kepalanya dan terpaku saat matanya tertumbuk pada sosok Suho yang berdiri tepat didepannya. Perlahan dia menurunkan kedua tangannya dan menatap Suho berdiri tenang dengan tongkatnya dan sweater tebalnya yang berwarna putih. Sontak pipi Yoona memerah saat dia teringat apa yang dialaminya tadi malam bersama pria itu.
Tanpa sadar Yoona mencetuskan kalimat yang cukup membuat Suho tersenyum. “Bukankah untuk memesan kopi dan roti kau bisa di kafe?”
Senyum Suho selebar wajahnya dan dia maju selangkah mendekati Yoona membuat wanita itu mundur dua langkah. “Memangnya jika aku bertemu denganmu hanya untuk memesan kopi dan roti saja?” Kini Suho tepat didepan Yoona dan jarak mereka hanya beberapa centi saja sehingga Yoona dapat menghirup aroma maskulin Suho yang menggoda penciumannya.
Yoona merasakan bahwa punggungnya telah bersandar pada dinding rumahnya dan memaki dalam hati mengapa dia tinggal dia area perumahan yang jalanannya begitu tenang dan jarang dilalui kendaran ramai. Dia merasa bahwa keberadaan Suho saat itu mengintimidasinya dan dengan tidak sopan jantungnya berloncatan dengan cepat. Dengan nekat Yoona menantang pandang mata lembut didepannya itu dan menjawab cepat.
“Kalau begitu mengapa muncul disini…”
“Karena aku ingin bertemu denganmu.”
Yoona menutup mulutnya mendengar balasan jawaban yang sama cepatnya dari mulut Suho. Dengan reflek, Yoona menekan telapak tangannya didadanya berusaha menenangkan deburan jantungnya yang semakin berpacu liar. Telinganya terasa berdenging saat kembali didengarnya suara Suho.
“Dan aku tidak ingin meminta maaf karena semalam telah mencuri ciumanmu. Aku memang menginginkannya.” Suho menunduk dan sekilas menyapukan ujung hidungnya pada puncak kepala Yoona yang harum.
Yoona tersentak dan saat itu dia telah terperangkap pada kedua tangan Suho yang menekan dinding dibelakangnya. Kembali suara tongkat terjatuh membuat perhatian Yoona tercurah kearah lantai. “Tongkatmu..” Yoona mencoba membungkuk untuk meraih benda itu namun lengannya dipegang erat oleh Suho.
Yoona mengangkat mukanya dan perlahan Suho menariknya agar kembali berdiri tegak, peganganya kokoh sekaligus lembut membuat Yoona terdiam. “Kakiku sudah cukup kuat untuk berdiri beberapa menit tanpa tongkat..”
“Apa maksudmu saat ini?” Akhirnya Yoona melontarkan protresnya. Yoona berusaha melepas pegangan Suho pada lengannya, tapi Suho tetap bertahan pada kekuatannya bahkan dia menarik pelan agar Yoona semakin merapat padanya.
“Aku menyukaimu…tidak…aku jatuh cinta padamu..saat ini…aku ingin mengatakan ini..aku jatuh cinta padamu!”
Yoona membelalakkan bola matanya. Rasanya dia tidak percaya akan apa yang barusan didengarnya sehingga dengan tiba-tiba dengan tangannya yang bebas yang tidak dipegang oleh Suho bergerak menepuk cukup keras pipi pria yang berada didepannya itu.
“PLAK!”
Suho ternganga mendapatkan reaksi tak terduga dari Yoona. Wanita itu menamparnya ketika dia mengungkapkan isi hatinya. Melihat Suho yang ternganga karena dirinya yang menampar pria itu, Yoona segera meraba pipi yang terlihat memerah dan berkata panik.
“Ya Tuhan…maafkan aku..aku..aku tidak sadar, Junmyeon-ssi,” Yoona mengelus pipi itu membuat Suho tertawa dan meraih tangan itu dan menggenggamnya seraya matanya memaku tatapan Yoona yang selalu berbinar bagai bintang.
“Apa aku boleh berharap?” bisik Suho halus.
Yoona menatap manik mata Suho. Sadarlah Yoona…pria ini milik bagitu banyak penggemar..jika dia mengatakan perasaannya bukankah ini hanya perasaan sesaat? Suatu hari dia akan kembali pada kehidupannya dan kau akan dilupakan. Lupakan perasaanmu, dia tidak akan bisa menjadi milikmu. Hati Yoona berkata demikian namun justru apa yang diucapkannya malah sebaliknya. Dengan bibir gemetar dia menjawab Suho.
“Aku juga..aku menyukaimu…”
Ketika Yoona menjawab demikian, suara pintu tampak terdengar dibuka seseorang disusul oleh suara ceria yang amat sangat dikenal oleh Yoona.
“Eonni..apakah kau akan menjadi boneka salju diluar sana?” Yu Na berseru saat dilihatnya punggung Yoona yang bersandar didinding terlihat melalui jendela rumah. Namun seruan Yu Na tertahan di udara saat dilihatnya Yoona tidak sendirian. Ada Suho bersama eonninya itu bahkan posisi keduanya seperti nyaris berpelukan.
“Suho Oppa??!!” Yu na berseru histeris dan itu akan menjadi kebiasaannya dalam beberapa hari kedepan sejak mengetahui identitas Suho.
Suho dan Yoona tersentak kaget dan otomatis Yoona mendorong dada Suho agar menjauh, lupa bahwa pria itu baru saja menjalani terapi lutut sehingga belum terlalu kuat berdiri tanpa tongkat. Tubuh Suho limbung kebelakang dan Yoona segera memegang lengan Suho sebelum pria itu jatuh.
“Yu Na! jangan berteriak seperti itu! Kau mengagetkan tahu!”Yoona mengomel seraya membungkuk meraih tongkat Suho yang terletak dilantai dan menyerahkannya pada Suho yang segera memegangnya.
Yu Na mencibir. “Kaget? Tentu saja kalian kaget! Apa yang sedang kalian lakukan?” Yu Na maju selangkah dan menunjuk batang hidung Yoona dengan kukunya yang runcing. Dia terkekeh melihat wajah Yoona yang memerah dan sikap Suho yang tidak tenang. Kini Yu Na tertawa penuh menggoda. “Apa yang terjadi diantara kalian? Sejak semalam eonniku yang cantik ini sudah berlaku aneh.”
Yoona memukul bahu Yu Na yang terus-terusan tertawa seperti orang gila. Suho siap menjawab namun dia menahan lidahnya saat dia melihat dua buah kepala menyembul dibelakang Yu Na. Chanyeol dan Sehun yang jangkung muncul dengan jelas bersama dengan senyum lebar mereka, terutama Chanyeol.
Alis Suho berkerut. Melihat kerutan sang leader, Chanyeol bertepuk tangan. “Ah…kami ingin sarapan roti di kafe Yoona Noona dan kami melihat masih tutup. Jadi kami menuju rumah induk yang berada dibelakang kafe dan bertemu Yu Na disana sedang menguap lebar.” Chanyeol terbahak saat menirukan Yu Na.
Tapi Suho tahu itu hanyalah alasan kedua dongsaengnya itu. Bukan mencari sarapan, tepatnya keduanya ingin tahu apa yang dilakukannya pada Yoona saat itu karena semalam dia sudah mengakui perasaannya terhadap keduanya.

Melihat tatapan tajam Suho, Sehun terkekeh pelan seraya menggoyangkan kepalanya. Dia menyikut pinggang Chanyeol dan memberikan tanda dengan alisnya bahwa hyungnya itu tahu alasan sebenarnya mereka muncul.
Melihat keadaan itu, Yoona menengahi dengan berkata cepat. “Aku akan membuat kopi panas dan roti manis untuk semuanya di rumahku. Bukan di kafe.” Setelah berkata demikian, dia lebih dulu masuk kedalam meninggalkan semuanya demi menutupi betapa gugupnya dia saat itu. Yu Na segera menyusul dan kini hanya tinggal ketiga pria itu.
Suho meninju pelan dada Chanyeol dan melotot pada Sehun. “Demi Tuhan, mengapa kalian muncul?”
“Ah, Hyung…kami penasaran apa yang akan kau lakukan saat berkata akan datang kerumahnya.” Sehun tertawa pelan.
“Apakah kau menciumnya lagi? Hehehehe,” Chanyeol tertawa dan akibatnya sekali lagi dia dipukul oleh Suho.
“Ayo masuk..” Suho melangkah mendahului keduanya dan dia berbalik dengan ternganga saat suara Chanyeol kembali terdengar.
“Minseok hyung dan lainnya sedang menuju kemari. Mereka sudah berada di kereta api dari Busan.”
OoO
Jae Hee melongo saat dia datang dan memasuki ruang latihan cermin melihat lima member EXO berada disana dan sedang saling berbicara satu sama lain dan didominasi oleh suara berat Chanyeol dan suara rendah milik Sehun. Dia melihat Suho sedang duduk bersila diantara mereka sambil merangkul bahu DO.
Suho melihat bayangan Jae Hee yang berdiri membatu diambang pintu melalui cermin didepannya dan dia memutar tubuhnya dan melambai. “Hyung!”
Mendengar suara Suho, lima member lainnya memutar badan mereka dan berseru takjub melihat seorang Jae Hee, aktor drama yang serialnya terkenal dengan Sassy Girl Chun Hyang itu berdiri didepan mata mereka. Sontak kelimanya berdiri dan berseru bersamaan.
“Mongryong!!” telunjuk mereka menuding wajah Jae Hee yang terkejut.
Jae Hee menatap Suho yang bangkit berdiri dan berjalan lambat kearahnya sambil tertawa, suatu kebiasaan dari pria muda itu yang sudah dikenal oleh Jae Hee adalah selalu memberikan wajah ramahnya yang selalu tersenyum dan tertawa.
“Mereka penggemarmu, hyung meskipun saat Sassy Girl diputar kami masih terbilang terlalu muda.” Suho melirik para member yang berlari mendekati Jae Hee dan mengerumuni pria itu yang sekarang merasa sedikit malu.
Xiumin menoleh Suho dengan heran. “Bagaimana bisa Jae Hee Hyung bisa mengetahui keberadaanmu, Junmyeon?”
Suho tertawa dan menatap Jae Hee yang tersenyum kikuk saat Suho menjawab pertanyaan Xiumin. “Dialah terapisku.”
“MOYA????!!!” kelima member EXO itu berseru keras tepat didepan wajah Jae Hee yang membuat pria itu menutup daun telinganya. Suara tawa pecah Suho menyusul dibelakang mereka.
Chanyeol mengguncang tongkat Suho dengan sangat antusias. “Bagaimana..bagaimana bisa seorang aktor besar seperti dia menjadi terapismu? Jangan bergurau, Hyung!”
Suho masih tertawa saat menjawab pertanyaan Chanyeol. “Kau bisa menanyakannya setelah aku selesai terapi.”
Jae Hee menepuk bahu Sehun yang tampak masih ternganga. Dia bersuara dengan mengandung tawa. “Kita akan bercerita di kafe Yoona setelah aku mengurus leadermu yang bandel ini.” Lalu Jae Hee menatap tajam Suho. “Kau kembali membuat lututmu bekerja keras setelah semalam kau berjalan diantara udara dingin bersama Yoona!”
Seketika wajah Suho memerah dan dia mundur selangkah. Terdengar tawa tertahan dari Chanyeol dan Sehun. Keduanya memainkan matanya pada Suho. Sambil menggulung lengan kemejanya, Jae Hee menatap Suho yang terdiam. “Tadi malam aku minum kopi di kafe Yoona dan melihat kau mengantarnya didepan kafe saat salju turun deras.”
Suho berjalan kearah cermin dan menyandarkan tongkatnya disana. Dia membuka sweaternya dan hanya menggenakan kaos hitam tanpa lengan sehingga otot lengannya yang berbentuk bagus itu terpampang jelas. Dia menantang Jae Hee dengan senyum manisnya. “Aku siap menjalani terapi hari ini.”
Jae Hee membuka dua kancing teratas kemejanya dan bertepuk tangan. “Kau mesti siap menerima terapi lebih lama hari ini karena kau adalah pasien paling bandel yang kutangani.” Jae Hee melangkah mendekati Suho dan menyuruh pria itu melangkah tanpa tongkat kearah palang berjalan diseberang mereka.
Melihat sesi terapi akan dimulai, kelima member tidak meninggalkan ruangan itu melainkan mereka duduk disudut melihat terapi itu berjalan. Mata mereka sama sekali nyaris tidak berkedip melihat bagaimana Jae Hee menuntun Suho untuk menggerakkan lututnya dengan semua alat terapi yang tersedia disana. Bahkan Jae Hee menuntun Suho agar mencoba untuk menggerakkan lututnya dengan cara berlari kecil yang mereka yakin itu sangat menyakitkan bagi Suho. Mereka melihat bagaimana otot-otot tubuh sang leader berkontraksi demikian jelas dan keringat bercucuran ditubuh atletis itu saat Jae Hee memintanya untuk bergantungan dan menggoyangkan lutuutnya dengan kecepatan bertahap. Mereka mendengar bagaimana suara tegas Jae Hee selalu membayangi Suho tiap kali terdengar erangan pelan dari celah bibir Suho.
“Aku akan membuatmu naik panggung lagi sebelum 7 bulan yang diperkirakan dokter! Apakah kau dengar, Kim Junmyeon? Dalam hitungan dekat kau akan dapat bernyanyi dan menari lagi bersama para membermu!”
Meski mereka melihat raut kesakitan dari Suho, tapi mereka sama sekali tidak mendengar keluhan dari bibir Suho yang terkatup. DO bersandar dibahu Kai. “Dia berjuang keras untuk segera bersama kita kembali.”
Chanyeol menatap lekat sosok Suho yang sedang menjalani terapi tersebut. Dia yakin dengan semangat yang seperti itu, dalam waktu singkat Suho akan segera kembali ke Seoul dan menjalankan semua aktivitas mereka. Tapi Chanyeol juga ingat sebuah kalimat berarti yang tercetus dari mulut Suho semalam. Itu adalah tentang perasaan khususnya terhadap seorang wanita.
“Aku jatuh cinta, Chanyeol. Jatuh cinta setelah cinta masa sekolahku yang kandas. Aku tidak pernah merasakan rasa bebas seperti ini saat bersama seseorang. Aku jatuh cinta padanya saat dia hanya memandangku sebagai seorang Kim Junmyeon, bukan sebagai EXO Suho.”
“Saat sekarang kita tidak bisa jatuh cinta, Hyung.”
Chanyeol ingat bagaimana sendunya wajah sang leader namun selalu berhasil ditutupinya dengan senyumnya yang menenangkan.
“Tidak bisakah saat ini aku menikmati cinta itu?”
“Bukankah akan ada saatnya kau terpaksa melepaskan cinta itu? Aku tidak ingin kau dan Yoona Noona saling terluka.” Sehun menyambung kalimat Suho yang membuat hyungnya itu terdiam.
Sehun dan Chanyeol melihat bagaimana Suho menunduk seraya meraih handuk hangatnya yang berada di lututnya. Mereka mendengar ucapan halus pria itu. “Maka biarkan aku menikmatinya saat ini. Masa depan selalu ada untuk ditunggu.”
Chanyeol menghela napasnya. Dia menggelengkan kepalanya sambil tetap memaku tatapannya pada Suho yang kini telah mencoba untuk menggerakkan kakinya melangkah lebih cepat.

 

“Jangan bicara masa depan jika kau sudah tahu masa depan itu seperti apa! Tak ada yang tahu pasti namun orang seperti kita menyadari bahwa jatuh cinta sangat beresiko besar.” Chanyeol bergumam pelan, sangat pelan namun cukup didengar oleh Sehun yang duduk disampingnya.
Latihan itu berjalan selama dua jam dan ketika itu berakhir sudah menjelang sore. Kai tampak sedang memesan ayam goreng pesan antar bersama jjajangmyeon. Suho tampak terbaring dilantai ruangan itu dengan tubuh penuh peluh dan Jae Hee segera memijat lutut yang tegang itu. Sehun menggeser pantatnya dan menatap Jae Hee dengan lekat.
“Apakah ada cara tertentu dalam memijitnya?” Sehun menunjuk lutut Suho yang dipijat oleh Jae Hee.
Jae Hee tertawa dan melepaskan tangannya dari lutut Suho. “Tidak secara spesifik. Apakah ingin mencoba?” Dia memberikan Sehun ruang untuk mendekati kaki Suho yang terjulur.
Suho terlihat mengangkat kepalanya. “Kau harus melakukannya dengan pelan, Sehunnie,” ucap Suho sambil kembali meletakkan kepalanya.
Sehun tersenyum tertawa. “Hyung tenang saja.” Dan dengan hati-hati Sehun mulai memijat lutut Suho dengan arahan Jae Hee. Sementara itu para member terlihat menggerakkan tubuhnya diruang cermin yang luas itu dan Xiumin dengan santai menuju arah jendela.
Xiumin berdiri kearah jendela dan dia mendekatkan wajahnya ketika matanya tertumbuk pada sebuah papan nama yang tercetak sebuah bangunan mungil diseberang rumah sewaan Suho. Sebuah tempat yang menjadi obsesi dalam hidup seorang Kim Minseok. Coffeshop yang pasti selalu menyediakan berbagai macam jenis rasa secangkir kopi dan roti.
“Ahhh…!!! Coffeeshop!! Junmyeon, kau tidak bilang padaku bahwa rumah sewaanmu bersebrangan dengan sebuah café?” Xiumin menoleh Suho yang segera menatapnya karena mendengar seruannya bahkan member yang sedang memutar music segera mempausenya karena suara Xiumin yang penuh semangat.
Suho berusaha bangkit duduk yang membuat Sehun menghentikan gerakan tangannya memijat Suho. Lagipula Jae Hee juga mengatakan waktunya sudah cukup. “Memangnya tadi kau tidak melihatnya?” alis Suho terangkat dan mulai waspada melihat Xiumin yang melangkah menuju meja disudut ruangan itu meraih jaket dan topinya.
DO dan Kai bergerak mendekati hyung tertua mereka itu. “Hyung mau kemana?” Kai bertanya.
Xiumin menarik ujung topinya dan menjawab sambil tertawa. Deretan giginya yang bagus terpampang jelas saat dia menjawab pertanyaan Kai. “Tentu saja minum kopi. Café itu seperti sedang memanggil-manggilku.” Xiumin keluar dari ruangan itu dengan cepat dan melupakan apa yang disebut dengan masker.
Seperti sebuah alarm otomatis, kepergian Xiumin ingin minum kopi di café Yoona membuat Suho bergerak bangun dari duduknya dengan susah payah demikian juga dengan Chanyeol, Sehun, Kai dan DO. Mereka segera berlari mengejar Xiumin dan Suho terpaksa mengeluh karena kakinya yang masih saja membutuhkan tongkat untuk melangkah.
Jae Hee membantu Suho untuk segera berdiri dan memberikan tongkatnya serta memakaikan pria itu sweaternya. Dengan heran, Jae Hee bertanya. “Mengapa kalian semua panik dengan perginya Xiumin ke café?”
Sambil melangkah menuju keluar dari ruangan, Suho menjawab singkat. “Aku tidak mau membuat kota yang tenang ini heboh.”
Apa yang dikhawatirkan oleh Suho memang terbukti. Karena obsesinya terhadap kopi dan roti membuat Xiumin lupa menutupi identitasnya sebagai member EXO. Dia menyebrangi jalan raya itu disusul oleh semua dongsaengnya yang panik dan sama lupanya menutupi wajah meskipun hanya dengan topi.
Akibatnya saat Xiumin mendorong pintu kaca kafe dan memasukinya sambil menuju konter pemesanan, isi kafe yang sore itu nyaris dipenuhi oleh remaja sehabis sekolah sontak segera menoleh dan mereka berteriak histeris secara bersamaan yang membuat Xiumin terpaku ditempatnya berikut Chanyeol, Sehun, Kai dan DO yang juga masuk kedalam kafe.
“EXO!!!!” dan dalam sedetik kelima pria itu dikerumuni para fans yang berusaha bersamalaman dan mengambil photo bersama untuk segera diupdate di Twitter mereka masing-masing. Bahkan Yu Na yang saat itu sedang menggigit rotinya ternganga dan menjatuhkan makanan itu kelantai. Matanya terbelalak melihat member EXO yang kini bertambah tiga orang muncul dikafe dan kini sedang memberikan fansign dadakan.
Yu Na menoleh Yoona yang sama-sama melongo juga. Dia tidak menyangka bahwa akan muncul lagi member EXO yang lainnya yang membuat jantungnya berdebar tegang. Dia mengusap rambutnya dan mengeluh dalam hati. Rasanya kemunculan Chanyeol dan Sehun sudah membuatnya jantungan kini ditambah lagi muncul Xiumin, Kai dan DO. Yoona menatap itu dengan tidak percaya.
Kemudian matanya menangkap sosok lain yang berdiri bengong diambang pintu. Yoona keluar dari konter kasir agar para remaja itu tidak menyadari kehadiran seseorang yang selama ini sedang dicari oleh media. Suho berdiri terperangah melihat para member sudah membuat kafe itu dipenuhi oleh fans dan kehadirannya yang berdiri dengan tongkat ditangan, rambut yang basah oleh keringat dan tanpa kacamata membuat dirinya segera dikenali.
“Suho Oppa!”
Yoona menutup mulutnya ketika melihat kini sebagian para remaja itu kini beralih menghampiri Suho yang berdiri diambang pintu. Tampak pria itu sedikit terdorong kebelakang membuat Chanyeol dan Sehun segera berlari kearahnya namun beruntung dibelakang Suho sudah berada tepat Jae Hee yang dengan tangkas menahan tubuh pria itu agar tidak jatuh.
“Hai..hati-hatilah…” Jae Hee bersuara menegur namun tangan Suho bergerak menghentikan kalimat Jae Hee.
“Tidak apa-apa, hyung.” Dan dengan senyum tampannya, Suho memperbaiki posisi kakinya dan menyambut semua seruan girang para remaja itu dan dengan ramah Suho menjawab semua pertanyaan yang dinilainya pantas untuk dijawabnya bahkan dia membiarkan dirinya dipotret bersama fans.
Tanpa sadar Yoona menghela napas lega dan memandang bahwa kini kafenya berubah menjadi fan meeting singkat. Kira-kira 15 menit kemudian barulah mereka bernapas lega dan Xiumin menjatuhkan tubuhnya disebuah kursi di meja sudut kafe diikuti Suho dan member lainnya. Dengan wajah bersalah Xiumin memegang lengan Suho.
“Mian ne..tempat pemulihanmu menjadi heboh..penyamaranmu terkuak karena aku.” Xiumin sungguh-sungguh merasa bersalah.
Suho tertawa dan mengibaskan tangannya. Dia menatap kelangit-langit dan menjawab Xiumin. “Aku tahu persembunyianku tidak akan bertahan lama. Mereka akan menemukanku.” Suho memainkan jarinya diatas meja.
Tiba-tiba terdengar suara halus diantara mereka. “Apakah ingin memesan?”
Mereka semua mengangkat kepala dan menemukan Yoona yang sedang berdiri dengan memeluk buku menu. Rambut panjangnya terlihat diikat dibelakang tengkuknya dan sepasang matanya menatap Suho untuk beberapa detik sebelum menatap semua member EXO.
Tangan Xiumin terulur dan menerima buku menu yang disodorkan Yoona. Baru saja dia membuka benda itu, seruannya sudah terdengar. “Ah…aku ingin merasakan ini, ini dan ini..” Xiumin menunjuk Espresso, Cappucino dan Moka sambil menatap Yoona yang terlihat melongo. Belum selesai, Xiumin kembali menunjuk pada bagian roti. “Dan juga aku mau Bagel Bluebarry, Croissant, dan muffin..dan..”
“YA!YA! apakah semua itu akan habis olehmu, hyung?” Chanyeol menyela diantara semua pesanan yang disebutkan Xiumin.
Dengan senyum, Xiumin mendorong buku menu itu kearah Suho. “Kafe ini menyediakan semua yang ingin kurasakan.” Dia kembali menatap jalanan Gimcheon.
Suho menatap Yoona yang dari tadi menahan senyum. Dengan cepat mereka menuntaskan semua pesanan dan dengan cepat Yoona undur diri namun Suho masih sempat menyentuh lengannya.
Yoona menatap Suho dan dibalas dengan penuh perhatian oleh pria itu. Yoona dapat mendengar suara lembut itu. “Maaf untuk yang tadi.”
Yoona menarik lengannya dengan halus dan tersenyum tipis. Dia tidak menjawab namun hanya menggelengkan kepalanya dan berjalan cepat meninggalkan meja para pria itu. Suho menatap punggung ramping itu berlalu ketika didengarnya suara berat Chanyeol.
“Hyung, kau ingin sampai kapan menatapnya.” Tawa Chanyeol memancing rasa penasaran DO dan Kai. Xiumin hanya menanti kelanjutannya tanpa banyak bicara.
Suho membalikkan tubuhnya dan menegur Chanyeol dengan wajah sedikit memerah. “Jangan menggangguku!”
“Ada apa antara kau dan wanita tadi?” akhirnya DO bersuara.
“Aniya!” Suho menampik agar tidak menambah masalah. Dia bisa melihat Chanyeol dan Sehun tertawa. Dengan gemas, Suho menggerakkan ujung tongkatnya dibawah meja dan mengenai lutut Chanyeol yang duduk diseberangnya. Tawa dongsaengnya itu seketika terhenti.
Tak lama terdengar suara dering ponsel milik Xiumin. Dia menatap layar ponselnya dan meminta semuanya diam.

“Manager menelpon.” Dengan segera dia menyambut dering itu.
Kai menatap Suho dan lainnya bergantian. “Kurasa apa yang terjadi sudah tersebar di internet melalui Twitter atau Instagram fans.”
“Yeobseyo…”
“Minseok..kalian sekarang berada di Gimcheon? Apakah photo yang tersebar di twitter itu benar adalah Junmyeon?”– Manager EXO.
Xiumin menatap Suho dan memberikan tanda bahwa dugaan Kai tepat. Dia menekan tombol loudspeaker dan meletakkan ponselnya ditengah meja. Dia menjawab dengan cepat. “Ne…dia berada di Gimcheon melakukan terapi lututnya.”
“Ah..syukurlah..aku ingin bicara padanya.”
Xiumin mendorong ponsel kehadapan Suho. Suho menunduk dan bersuara. “Hyungnim..”
“Ya Tuhan! Akhirnya aku mendengar suaramu! Bagaimana lututmu? Keluargamu sangat khawatir. Management juga sangat cemas. Kau harus segera kembali ke Seoul, Junmyeon. Kami akan memberikanmu terapi.”
Suho terdiam dan saat itu tepat Yoona datang bersama Yu Na membawa semua pesanan mereka. Ketika mendengar kalimat melalui speaker ponsel tersebut, gerakan Yoona membawa cangkir kopi tertahan diudara. Suho terlihat menggigit bibirnya. Kembali terdengar suara sang manager.
“Keberadaanmu sudah diketahui publik. Kota itu akan dipenuhi para fans yang akan mengambil semua kegiatanmu disana dan juga akan ada beberapa wartawan berita yang akan menemukanmu. Jika kau di Seoul, kau akan menjalaninya seperti seharusnya.”
Sehun yang duduk tepat dipinggir melihat sikap pause Yoona. Dia segera berdiri dan meraih cangkir kopi ditangan Yoona. “Aku akan membantumu, Noona.”
Yoona tersadar dan mengedipkan matanya. Dia melihat Sehun membantu Yu Na meletakkan semua cangkir kopi dan roti diatas meja. Yoona masih tidak mendengar jawaban Suho. Dia mencengkram kepalan tangannya dan memutuskan membiarkan Yu Na saja yang mengatur semua pesanan mereka. Yoona membalikkan tubuhnya dan berjalan meninggalkan meja para member EXO.
Chanyeol dan Kai kaget melihat Yoona yang tiba-tiba melarikan diri. Sehun yang berdiri juga melongo melihat itu sehingga dia menatap Suho yang masih saja diam tidak memberikan jawaban atas perkataan manager mereka. Dia meletakkan camgkir diatas meja dan bergumam.
“Aish..hyung ini memang tidak peka.” Dengan gemas, Sehun meraih ponsel itu dan mematikan loudspeakernya. Dia meletakkan benda itu ditelinganya dan menjawab sang manager.
“Hyungnim, Suho hyung akan menyelesaikan terapinya disini. Dia sudah sangat melakukan kemajuan banyak dan sayang jika dilakukan oleh terapi lain di Seoul.”
Suho melongo melihat tindakan Sehun. Dia bangkit berdiri dengan menekan meja. “YA! Seharusnya aku yang menjawab demikian.” Suho mencoba meraih ponsel ditangan Sehun namun sang maknae dengan wajah dinginnya mengelak dan segera menjawab perkataan sang manager.
“Ya. Malam ini kami akan kembali ke Seoul. Kami akan bergantian menjenguk Suho Hyung.” Sehun menutup percakapan dan mengembalikan ponsel kepada Xiumin. Terdengar suara protes Suho.
“Sehunnie..apa yang kau lakukan?!”
“Ada apa denganmu?” Chanyeol bertanya dan disambung oleh Kai perlahan. “Sehun sepertinya sedang marah pada Suho Hyung..”
Sehun menatap Suho dengan tajam. “Seharusnya apa yang kuucapkan tadi lebih cepat hyung ucapkan sebelum membuat hati wanita yang kau sukai kecewa.” Dengan ketus Sehun menjawab dan dia duduk kembali, meraih Croissant dan mengunyahnya dengan diam diperhatikan oleh Suho dan member lainnya.
Jantung Suho berdetak kencang. Dia memutar tubuhnya untuk melihat konter dimana biasanya Yoona berada namun yang ada hanyalah Yu Na yang mengembangkan kedua tangannya. Suho memejamkan matanya dan mendesah pelan. Kembali didengarnya suara Sehun.
“Dasar hyung kurang peka!”

 

OoO
Yoona duduk sendirian di kafenya saat malam bersalju itu. Para pengunjung sudah tidak ada dan dia tinggal memutar papan gantung OPEN manjadi CLOSE. Yoona menghela napasnya ketika teringat bahwa diawal malam para member EXO kembali ke Seoul. Yu Na mengantar mereka dan Yoona tidak mau tahu apakah Suho berada bersama membernya kembali ke Seoul. Dalam pikiran Yoona tentu saja Suho akan memilih kembali ke Seoul dimana semuanya sudah tersedia. Mengapa aku menjadi begini? Bukankah dia bukan siapa-siapamu, Yoona.
Berpikir demikian membuat Yoona menepuk kedua pipinya. “Berhenti berkhayal Im Yoona. Jangan jatuh cinta…” yoona terdiam dan memainkan kukunya. “Jangan jatuh cinta….tapi aku jatuh cinta…” dia menekan dadanya yang tiba-tiba terasa kosong.
Dengan malas Yoona bangkit berdiri dan berjalan menuju pintu kafe. Dia akan membalikkan papan gantungnya namun dia tertarik melihat butiran salju yang mulai turun. Dia menunda kegiatannya dan mendorong pintu kafe. Dia melangkah ke teras dan mengulurkan tangannya dan mendongakkan wajahnya kelangit. Butiran salju yang dingin menerpa wajahnya dan telapak tangannya. Yoona tertawa girang namun tawanya terhenti saat dirasakannya telapak tangannya merasakan sesuatu yang hangat menggenggamnya.
Yoona menurunkan wajahnya dan dia terdiam saat melihat siapa yang telah menggenggam erat telapak tangannya. Seraut wajah luar biasa tampan hadir tepat didepannya. Jantung Yoona seakan berlompatan ketika mendapati Suho berdiri didepannya dengan telapak tangan hangat pria itu melingkupi telapak tangannya.
Sejenak keduanya hanya bertatapan tanpa berkata apapun sementara salju terus turun dengan lambat diantara mereka. Dengan perlahan Suho memutar telapak tangannya dan akhirnya dengan tepat menggenggam jari jemari lancip itu didalam kepalan tangannya.
“Apa..apa yang kau lakukan disini? Mengapa kau masih disini?” Yoona bersuara bergetar dan tak kuasa lagi melepaskan jemarinya yang berada didalam lingkup hangat jemari Suho.
Alis Suho terangkat. Dia menatap Yoona dengan heran. “Mengapa? Apakah aku dilarang tetap disini?”
Yoona menelan ludahnya. Rasanya dia ingin sekali memeluk Suho dengan erat, melupakan siapa diri pria itu sebenarnya dan mengatakan bahwa dia ingin agar pria itu tetap berada disampingnya. “Kupikir..kupikir kau ikut bersama membermu kembali ke Seoul..” dengan susah payah Yoona mengucapkan kalimat.
Tanpa kentara Suho melonggarkan genggaman tangannya dan perlahan melepaskannya untuk mengusap rambutnya yang mulai terasa dipenuhi butiran salju. Merasa bahwa kini tangannya telah bebas, Yoona segera mengepalkan kedua tangannya.
“Tidak..aku tetap berada disini hingga lututku kembali normal..” Suho mengangkat matanya dan melihat semburat merah mewarnai pipi Yoona. Dia menatap kafe yang berada dibelakang wanita itu dan berkata sambil tersenyum. “Apakah kau sudah mau menutup kafe?”
Yoona menoleh kebelakang dan tertawa. “Awalnya aku ingin menutupnya namun aku tertarik melihat salju dan keluar. Aku memang ingin menutup kafe, sudah cukup larut.”
“Keberatan jika aku menjadi pelanggan terakhir malam ini?” suara Suho terdengar rendah tepat didepan wajah Yoona.
Yoona menatap tanpa berkedip dan segera menjawab cepat. “Kurasa aku tidak keberatan.” Dengan senyum tipis, dia berbalik memasuki kafe diikuti Suho. Pada gantungan pintu, Yoona membalikkannya menjadi CLOSE dan dia meredupkan lampu kafe serta menurunkan kerai jendela. Dia tidak mengharapkan akan ada pelanggan lainnya.
Suho mengambil duduk di meja didekat meja kasir dan mengatakan bahwa dia hanya ingin cokelat panas. Yoona segera menuju konter dapur dan sementara menunggu, Suho memutar musik melalui ponselnya. Lagu Call Me Baby segera terdengar di kafe yang sepi itu.
“Lagu kalian selalu merajai semua chart musik dan penggemar kalian sangat luar biasa.” Yoona duduk didepan Suho seraya mengangsurkan cangkir cokelat panas kepada pria itu.
“EXO-L sangat luar biasa. Mereka selalu melakukan apapun demi kami dan kurasa kami harus memberikan yang terbaik pada mereka.” Lalu Suho menatap Yoona yang mendengar sangat serius. “Bagaimana perasaanmu saat bertemu Sehun secara langsung?”
“Eh?” Yoona bertanya heran membuat Suho tertawa.
“Bukankah malam itu di mobil kau mengatakan bahwa member EXO yang paling kau sukai adalah Sehun?” Suho mengacungkan jarinya didepan wajah Yoona yang melongo.
Yoona mengerjabkan matanya dan tertawa pendek. Dia menggigit ujung jarinya dan menjawab seraya tertawa. “Ah..ne..kurasa kata kaget untuk menggambarkannya. Dia sangat muda dan tampan dan juga sangat tinggi..tapi..” Yoona menghentikan kalimatnya dan menatap Suho yang juga sedang menatapnya. Tapi aku lebih suka dirimu. Aku menyukaimu sebelum aku tahu siapa dirimu dan terlalu mempesona untuk kuabaikan.
Suho berdebar mendengar Yoona menghentikan kalimatnya dan menatapnya dengan begitu lekat. Ya Tuhan, aku ingin sekali menyentuhnya dan berkata betapa aku jatuh cinta padanya. Apa yang ada didalam pikirannya ternyata tanpa sadar membuat Suho mencetuskan sebuah kalimat rancu.
“Call Me Baby..”
“Eh?” Yoona membulatkan matanya dan melihat Suho mengatupkan bibirnya dan pura-pura meraih cangkir cokelat dan meneguknya dengan cepat. Suho seakan ingin menimpuk kepalanya sendiri dengan apa yang sudah diucapkannya dan hal itu membuatnya bangkit berdiri dan berkata pada Yoona. Dia merasa seperti pria bodoh yang bahkan belum mendapatkan jawaban apapun dari wanita dihadapannya dari pengakuannya tadi pagi. Dia tidak ingin Yoona mengangggapnya aneh dan seperti penguntit.
“Kupikir aku akan pulang.” Dengan terburu-buru Suho segera bangkit dari duduknya dan berjalan cepat dengan tongkatnya menuju pintu keluar.
Yoona cepat mengikuti dan membuka pintu kafe. Suho menoleh Yoona yang terlihat menyembunyikan senyumnya. “Sampai ketemu besok…”
“Junmyeon-ssi..” tangan Yoona terulur memegang lengan Suho dan dia memajukan tubuhnya kearah pria itu.
Suho terbelalak saat menyadari apa yang terjadi selanjutnya. Pipinya yang terasa dingin merasakan sesuatu yang lembut dan hangat disana. Napas hangat Yoona menyapu hidungnya dan dia nyaris membeku saat mengetahui bahwa Yoona mencium pipinya dengan lembut.
Yoona mencium pipi Suho dengan lembut dan mencengkram erat lengan baju pria itu sebelum melepaskannya dengan perlahan. Keduanya bertatapan dengan sangat lekat dan berdiri saling berhadapan. Baik Yoona dan Suho tidak peduli bagaimana derasnya salju jatuh diantara mereka. Bagi Suho suara Yoona bagai sebuah nyanyian lembut menerpa gendang telinga.
“Bolehkan aku juga berharap? Berharap atas dirimu?”

 

TBC

 

48 thoughts on “CALL ME BABY – CHAPTER ENAM

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s