CALL ME BABY – CHAPTER TUJUH

r-call-me-baby

AUTHOR :KIM SUYOON

 MAIN CAST : SUHO | YOONA | EXO |OTHER CAST : SEO YU NA (AOA) |CATEGORIES : ROMANCE, FRIENDSHIP |LENGHT : CHAPTER |RATING : PG-17

Seorang author pendatang baru, semoga tulisan ini dapat diterima para YoongExo🙂

Segala ide cerita murni milik author dan dilarang untuk mengambil hak cipta ^^  Selamat membaca dan diharapkan respeknya atas karya author untuk meninggalkan jejak setelah membaca dalam bentuk komentar. Happy reading🙂

| ENAM |

OoO

aku mengharapkan partisipasi para reader untuk bersedia meninggalkan komentar setelah membaca😉 aku butuh banget loh para reader menjadi sangat aktif ^^

OoO

Yoona berlari cepat menaiki anak tangganya tanpa memperdulikan berapa anak tangga yang dilompatinya. Suara langkah kakinya membuat Yu Na duduk tegak dari tengkurapnya membaca novel. “Apa lagi yang dilakukan Yoona Eonni”, dengan menggelengkan kepalanya, Yu Na kembali tengkurap melanjutkan membacanya namun belum sedetik dia kembali mendengar suara pintu ditutup dengan keras. Yu Na membaringkan tubuhnya dan menggerutu. “Sejak munculnya Suho Oppa sudah berapa kali aku melihat dia berlari menaiki tangga. Dan sekarang mulai dengan membanting pintu”.

OoO

Yoona memang memnbanting pintunya dengan tanpa sengaja karena jantungnya yang seakan meledak keluar dari tempatnya. Dia berlari menuju cermin dan menatap wajahnya yang memerah seperti udang rebus. Dia menepuk kedua pipinya dan menekannya dengan keras. “Yoona…Yoona…apa yang sudah kau lakukan? Kau mencium seorang pria…Ya Tuhan!!” Yoona menutup wajahnya yang semakin terasa panas.

 

Dia terduduk di ujung tempat tidurnya dan menggigit bibirnya mengingat bagaimana reaksi yang diberikan oleh Suho. Setelah dia mengatakan apa yang terkandung di hatinya tentang sebuah harapannya terhadap pria itu, tanpa terduga Suho menarik tubuhnya kedalam pelukannya. Sekali lagi Yoona mendengar suara tongkat jatuh di tanah. Dia hanya bisa mendengar suara parau pria itu di cuping telinganya yang nyaris seperti bisikan.

 

“Aku jatuh cinta padamu, Yoona-yah…jadi..jangan ucapkan kata “berharap”…aku cinta padamu”. Dengan perlahan Suho melepas pelukannya, dia menatap Yoona yang tercengang menatapnya dan bagaikan seringan bulu, Suho menunduk dan menyapukan bibirnya yang bergetar akibat dinginnya salju dan debaran jantungnya yang terus berdetak cepat menyentuh bibir Yoona yang dingin. Hanya sebuah kecupan ringan dan bahkan nyaris tak terasa namun sanggup membakar tubuh Yoona. Sepasang bibir itu bertemu dan menempel dalam hitungan detik. Hanya sebuah sapuan lembut diatas bibir Yoona dan setelah itu Suho menjauhkan dirinya. Dia meraih tongkatnya yang berada ditanah dan menepuk pipi Yoona. Dengan tersenyum dia berkata lembut. “Sampai jumpa besok. Masuklah, salju semakin deras.” Dengan sedikit dorongan, Suho membalikkan tubuh Yoona dan mendorong punggung mungil itu untuk melangkah menuju kafe.

 

“Besok aku akan menemuimu kembali, Im Yoona.”

 

Yoona bergulingan diranjangnya dan memeluk sebuah boneka beruang berbulu lembut didekapannya. Dia menyentuh bibirnya dan tersenyum. “aku jatuh cinta padamu, Yoona-yah..aku cinta padamu” kalimat lembut yang tegas itu teriang terus di benak Yoona membuatnya tersenyum sendiri dan akhirnya jatuh tertidur. Sebelum terlelap Yoona mengatakan pada dirinya bahwa dia tidak ingin memikirkan apa yang terjadi nanti, dia hanya ingin menikmati saat ini.

 

Sementara itu Suho membuka sweaternya dan menggantinya dengan kaos tanpa lengan yang berbahan nyaman. Dia duduk disisi ranjangnya dan menatap layar ponselnya dimana sebuah pesan masuk disana. Pesan yang berasal dari managernya.

 

“junmyeon..dalam waktu dekat kalian akan mengadakan Konser di Dome dan juga debut di Jepang..aku berharap terapimu berjalan dengan mulus”.

 

Suho menghembuskan napasnya dan mendongak kelangit kamar. Kemudian dia menatap lututnya yang dirasakannya semakin terasa kuat. Dengan segala terapi ketat yang dilakukan Jae Hee memang sangat mungkin dalam waktu dekat dia akan kembali normal. Bahkan pria itu telah berhasil membuatnya melangkah mengelilingi ruangan besar tempat mereka berlatih meskipun pada akhirnya dia akan mengalami kram, namun Jae Hee selalu membuat kram itu berakhir cepat dan seterusnya dia mulai jarang mengalami kram lagi.

 

Suho menyadari bahwa jadwal EXO sudah banyak terlewati sejak dia memutuskan untuk mundur sejenak, beruntung para sahabat sekaligus saudaranya itu tetap kuat menjalani jadwal yang ada sehingga mereka tetap tidak tertinggal dalam segala event dan penghargaan. Apa yang akan dihadapinya mulai terlihat dan Suho memutuskan untuk tidak memikirkannya sejenak. Dia membaringkan tubuhnya dan meletakkan kedua tangannya dibawah kepalanya. Dia tersenyum saat mengingat bahwa Yoona juga merasakan hal yang sama seperti yang dirasakannya. Wanita itu juga mencintainya dan hal itu membuat Suho bertekad akan menjalani hubungan tersebut meskipun mungkin akan banyak pihak menentangnya mengingat status siapa dirinya. Suho tidak akan mengungkapkan identitas Yoona demi kenyaman wanita itu dan dia berjanji pada dirinya akan selalu berusaha menjadikan Yoona bagian dalam hidupnya. Ya, dia akan menjalani hubungan khusus bersama Yoona. Dia membuang jauh segala gambaran masa depan yang akan terjadi, dia memejamkan matanya. Dia akan menjalaninya. Dia yakin dia pasti bisa.

 

OoO

Sinar matahari pagi di musim dingin terlihat menerpa jalanan bersalju yang membuat salju yang menumpuk mulai mencair. Meski sinar matahari cukup terang namun udara musim dingin tetap saja melingkupi Gimcheon yang khusus dikelilingi puncak-puncak gunung. Yoona tampak mengelap cangkir-cangkir di kafenya dan menatap rumah diseberang kafenya.

 

Pagi itu Suho tampak tidak akan sarapan di kafe karena pagi-pagi sekali Yoona sudah melihat sebuah mobil sedan yang dikenalinya sebagai kendaraan Jae Hee sudah terparkir mulus didepan tangga rumah tersebut. Tidak hanya itu saja, Yoona bahkan melihat beberapa orang berada didepan rumah itu dengan membawa kamera yang dapat diduga Yoona adalah beberapa penggemar Suho yang sudah mengetahui keberadaan pria itu. Yoona juga melihat ada seorang gadis remaja berambut panjang dengan jaket bulunya berdiri didepan rumah itu dengan sebuah ponsel ditangannya. Alis Yoona berkerut. Dia merasa sudah cukup lama gadis cantik itu berdiri disana.

 

“Apa kau tahu apa itu sasaeng?” suara Yu Na muncul disamping Yoona.

 

Yoona menoleh dan mendapati adik sepupunya itu sudah berdiri disampingnya dengan sambil menyampirkan tas dibahunya. Mulutnya tampak mengunyah sebuah roti. “Sasaeng?”

 

Yu Na memajukan bibirnya seraya matanya menembus pintu kafe. “Saseng itu fan fanatik yang selalu menguntit idolanya bahkan dia rela menghabiskan banyak uang agar bisa selalu mendekati sang idola. Contohnya ya seperti gadis itu!” Yu Na menekankan suaranya dengan benci pada sosok yang terus berdiri tanpa lelah didepan rumah sewaan Suho.

 

Arah pandangan Yoona juga mengikuti sosok yang kini mulai memperhatikan kafenya dan melangkah mendekat. Dia mendengar dengusan Yu Na. “jangan bilang dia masuk kemari..” dengan gemas, Yu Na membalikkan tubuhnya dan berjalan keluar dari konter. Dia melangkah cepat menuju pintu kafe dan mendorongnya dengan kasar sehingga gadis sasaeng itu terpaksa mundur karena dorongan tangan Yu na pada pintu kaca tersebut.

 

Yoona menghembuskan napasnya dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah Yu Na. dia melihat bahwa gadis remaja itu amat cantik dengan sepasang matanya yang besar. Dari perawakannya, Yoona menduga bahwa gadis itu bukan orang Korea. Karena hanya ada dirinya saat itu, maka Yoona keluar dari konter dan berjalan mendekati meja yang diduduki oleh gadis asing itu yang tak pernah lepas menatap pintu rumah Suho.

 

“Anneyeong…mau pesan apa?”

 

Gadis itu menoleh dan jantung Yoona berdesir kalut. Dia mencengkram erat buku menu didadanya dan mengeluh dalam hati. Sasaeng Junmyeon secantik ini? Apakah dia baik-baik saja diikuti gadis semacam ini?

 

Suara deheman membuat Yoona tersadar dari alam pikirannya. Dia melihat sebuah telapak tangan terulur meminta buku menunya. Yoona segera menyerahkan benda itu dan dia melihat kepala berambut ikal itu menunduk. Sebuah telunjuk berkuku merah menunjuk sebuah gambar secangkir Mocca dengan crumpet. Yoona segera mencatat dan menjauh dari gadis yang menimbulkan rasa tidak nyaman dihatinya. Dia dapat menduga bahwa gadis cantik bagai boneka itu berasal dari jepang.

 

Tanpa banyak suara, Yoona membuatkan pesanan gadis sasaeng itu dan bernapas lega melihat salah satu karyawan part timenya sudah datang. Dia menyerahkan pesanan itu agar gadis itu saja yang mengantar ke meja gadis sasaeng tepat suara ponsel disakunya berdering. Dia menunduk dan melihat nama Suho terpampang disana.

 

Yoona menyambut panggilan itu dengan berlari masuk kedapur. “Yeobseyo..”

 

“Hai..kurasa aku dan Jae Hee hyung akan kesana untuk sarapan…”

 

“Jangan!!” secara otomatis Yoona berseru keras. Dia mendengar suara hening diseberang, cepat dia bersuara. “Maksudku…aku saja yang akan mengantar pesanan kalian…”

 

“Kenapa..? aku dilarang lagi muncul di kafe?” terdengar suara tawa Suho diseberang.

 

Yoona membungkuk dari celah dapur untuk melihat gadis sasaeng yang masih duduk tenang ditempatnya. “Maksudku…disini ada…” lalu Yoona terngaga saat dia melihat siapa yang masuk ke kafenya. Matanya terbelalak lebar ketika melihat Suho dan Jae Hee melangkah masuk dengan santai. Jae Hee mendorong pintu dorong kafe diikuti Suho. Yoona mendengar suara Suho ditelinganya yang ditempeli ponsel.

 

“Tapi aku sudah disini….” Lalu kemudian Yoona mendengar bahwa kalimat Suho terhenti tiba-tiba yang membuat Yoona segera berlari keluar dari dapur dan terpaku melihat Suho yang berjalan kaku menuju meja disudut dengan wajah kaku melewati meja gadis sasaeng yang kini telah mulai menggerakkan ponselnya mengambil tiap sudut photo diri Suho. Bahkan Yoona yakin bahwa gadis itu kini telah merekam apa yang sedang dilakukan Suho. Suho terlihat bergerak tidak nyaman dan nyaris tidak ada senyum diwajahnya yang kini terlihat serius.

 

Yoona melangkah mendekat dan berdiri disamping meja yang diduduki Suho bersama Jae Hee yang kini terlihat cemas. “Itu ada sasaengmu..” bisiknya khawatir. Dia bisa melihat sinar mata yang terlalu memuja dari gadis cantik itu yang membuat bulu kuduk Jae Hee meremang.

 

Suho mengangkat matanya dan menghela napas berat namun terdiam melihat pandangannya yang terhalang oleh tubuh Yoona yang berdiri tepat didepan wajahnya. Dia mendongak dan melihat wajah panik Yoona. “Aku tidak mau kau melihatnya!” tukas Yoona yang membuat Suho terkejut kemudian tersenyum tipis.

 

“Aku sedang melihatmu.” Ucapan Suho yang lembut membuat pipi Yoona merona.

 

Jae Hee menyentuh lengan Suho saat dia mendengar suara halus gadis sasaeng yang mulai memanggil Suho. “Lebih baik minta Yoona mengantar sarapan kita dirumahmu saja.”

 

Suho menatap Jae Hee dan dia juga mendengar panggilan halus itu. “Suho oppa…kemarilah!!”

 

Suho mengusap rambutnya dan melihat beberapa karyawan mulai menuju kafe Yoona. Dia menggeleng kepalanya dengan pelan dan meraih tongkatnya. Dia tidak ingin kafe Yoona terganggu oleh sasaeng yang muncul pagi itu secara mendadak. Dia bangkit berdiri mengikuti Jae Hee yang juga berdiri dan menunggu Suho.

 

“Aku akan mengantarnya..” Yoona berkata cepat. Dia melihat bagaimana Jae Hee memegang lengan Suho dan hampir berlari membawa pria itu berlalu dari kafe.

 

Gadis sasaeng itu juga bergerak dari duduknya dan melangkah mengikuti Suho. Yoona melangkah cepat dan kekuatan dari mana, dia sudah mencengkram lengan kurus itu dan menahan langkah gadis itu.

 

Yang ditahan membalikkan badan dan menatap Yoona yang terlihat kuat mencengkram lengannya. “Apa yang kau lakukan?” dia menegur dalam bahasa korea yang cukup fasih.

 

Sialan…bahkan bahasa koreanya cukup dapat kumengerti! Gadis ini menyeramkan! Dengan mengeraskan hatinya, Yoona berkata tajam. “jangan ikuti dia! Kau membuatnya tidak nyaman!” dan diluar dugaan Yoona, gadis itu tersenyum dan menghentak lepas pegangan Yoona. Tanpa menunggu reaksi Yoona, gadis itu berjalan keluar dari kafe, meninggalkan Yoona dengan bengong.

 

Dengan cepat Yoona menoleh meja yang diduduki gadis asing itu dan menemukan lembaran WON terletak dibawah tatakan cangkir dan melihat sebuah coretan merah dimeja. Yoona bisa menduga bahwa itu berasal dari sebuah lipstik merah. Yoona menunduk dan membaca tulisan pendek itu dalam sepotong tulisan tangan korea. Suho is mine.

 

Yoona menggigit bibirnya dan seketika sadar, dunia macam apa yang mengelilingi Suho. Pria itu memiliki fan fanatik dan itu tidak mungkin hanya satu orang. Apa yang akan dilakukan jenis orang seperti itu jika mereka tahu bahwa Suho memiliki kekasih? Bagaimana Suho menjalani hidupnya? Tanpa sadar Yoona menggigil dan memeluk lengannya. Suara beberapa pelanggan menggugah pikirannya dan membuatnya mencoba untuk bersikap normal kembali.

 

Suho melihat dari jendela bagaimana gadis sasaeng itu masih saya berada disekitar rumahnya dan kafe Yoona. Dia menghela napas dan terdengar suara Jae Hee yang bernada khawatir. “Apakah gadis itu selalu mengikutimu?”

 

Suho mengusap rambutnya dan mengangguk tanpa menjawab. Kemudian dia melihat bahwa tampak Yoona keluar dari kafe dan menyebrangi jalan raya dan menuju rumahnya. Jae Hee yang berdiri disampingnya melihat itu dan dia bergerak cepat. “Aku akan membukakannya pintu.”

 

Alis Suho berkerut saat melihat Yoona seperti terlibat percakapan dengan sasaeng itu dan didetik berikutnya gadis aneh itu sudah berjalan pergi. Terlihat Yoona seperti menghembuskan napasnya dan kembali berjalan. Tak lama dia mendengar suara-suara dilantai bawah dan terus menuju ruang cermin.

 

Terdengar suara Jae Hee yang menyuruh Yoona masuk, “Masuklah aku akan turun ke dapur untuk mengambil tempat untuk meletakkan semua roti yang kau bawa.”

 

Suho membalikkan badannya dan melihat Yoona melangkah masuk dengan perlahan. Wanita itu terlihat meletakkan semua yang dipegangnya diatas meja yang berada di dekat pintu masuk. Yoona mengedarkan pandang matanya dan terpaut pada tatapan Suho yang lekat.

 

Dia berjalan mendekati Suho yang berdiri didekat jendela dan sedang mengambil langkah untuk mendekatinya. Tangan Yoona terangkat dan berkata cepat. “Aku akan mendekatimu.”

 

Suho tidak jadi melangkah dan menanti Yoona yang datang mendekat dan berdiri tepat disampingnya dan juga menatap luar jendela. Hari itu salju tidak turun di Gimcheon namun udara tetap terasa sejuk khas musim dingin.

 

“Terima kasih sudah menolongku dari sasaeng..” Suho membuka percakapan yang membuat Yoona menoleh.

 

“Apakah…apakah yang sejenis itu selalu berada disekitarmu?” Yoona bertanya penasaran. “Sepertinya gadis itu sangat…sangat memujamu…”

 

Suho menatap Yoona yang terlihat tidak tenang. Dia menghela napas. “Ada beberapa..namun yang ini cukup agresif…dia terus mengikuti di tiap konser…” Suho membuang tatapan keluar jendela dimana terlihat beberapa pengunjung memasuki kafe.

 

Terdengar suara helaan napas Yoona. Suho dapat mendengar suara lembut itu ditelinga. “Bukankah itu akan sangat menyulitkan…”

 

Suho memutar badannya dan sebelah tangannya berada dikaca jendela didepan Yoona. Yoona tampak terkejut dan mengangkat wajahnya. Baru disadarinya kalau sekarang posisi mereka sangat dekat sehingga dia dapat melihat wajah Suho yang putih dengan jelas.

 

“Apa kau takut berada disampingku? Dengan segala konsekuensi pekerjaanku dan para fan fanatik itu? Apa kau takut bersamaku, Yoona?”

 

Yoona balas menatap mata Suho yang bening dan dia menelan ludah. Takut? Aku bukannya takut akan hal itu tapi aku justru takut akan diriku yang tidak sanggup melihat para gadis itu yang memujamu…yang setiap saat bisa memotretmu..aku takut cemburu akan menguasaiku. Yoona berpikir keras untuk mencari jawaban yang tepat tanpa mengungkapkan apa yang sebenarnya yang terkandung dihatinya.

 

Suho bisa melihat kekalutan yang dirasakan Yoona, perlahan tangannya bergerak menyentuh dagu Yoona yang bagus. Dengan lembut dia merengkuh wajah bujur telur itu dan menariknya mendekati wajahnya. Bibir Suho bergerak lambat menghasilkan suara yang rendah. “Aku selalu berharap kau rela berada disampingku…aku pasti akan melindungimu jika suatu hari para gadis itu mengetahui arti dirimu bagi diriku..”

 

“Haruskah aku percaya?” Yoona berbisik lirih ketika dirasakannya bibir kemerahan Suho semakin mendekati bibirnya.

 

Suho sejenak menempelkan bibirnya diatas bibir Yoona yang lembut. Dia berbisik halus diatas bibir tipis itu sehingga Yoona dapat merasakan elusan napas hangat Suho menerpa bibirnya yang bergetar.

 

“Aku akan membuktikannya..” Setelah mengucapkan itu dengan lembut bibir Suho menekan bibir Yoona sehingga tanpa sadar sepasang bibir wanita itu terbuka menyambut lumatan mesra bibir jantan milik Suho.

 

Lutut Yoona terasa bergetar hebat membuatnya nyaris jatuh namun dengan cepat pinggangnya dicengkram oleh kedua lengan kokoh Suho sehingga dengan pasrah dia terjatuh dalam pelukan pria itu. Dia melingkarkan lengannya dileher Suho dan memainkan jarinya di ujung rambut cokelat terang itu sementara sepasang bibir mereka saling melumat dengan bergairah.

 

Suho tidak pernah merasakan perasaan yang luar biasa seperti yang dialaminya saat ini. Saat bibirnya mencumbu bibir Yoona, kepalanya seperti dipenuhi oleh suara karusel dan seperti ada banyak kupu-kupu terbang diperutnya. Tanpa sadar dia mendorong pelan punggung Yoona pada kaca jendela dan tidak memberikan ruang bagi wanita itu untuk bernapas karena ciumannya yang ketat.

 

Napas keduanya memburu saat dengan pelan Suho membelai lambat pangkal lengan Yoona, sementara ciuman Suho semakin intens dan menjelajahi tiap jengkal rongga mulut Yoona yang hangat. Yoona mencengkram erat lengan baju Suho saat kini bibir pria itu mulai berpindah pada sudut bibirnya dan merasakan betapa lengketnya tubuh mereka sehingga dia dapat merasakan denyutan pria itu diperutnya.

 

“Ehem!!”

 

Suho dan Yoona tersentak saat mereka mendengar suara deheman yang terdengar dari ujung pintu. Dengan enggan Suho menjauhkan bibirnya dan menoleh tanpa melepaskan pelukannya pada tubuh Yoona. Yoona memejamkan matanya dan menundukkan kepalanya pada dada keras Suho saat didengarnya suara Jae Hee yang bernada menggoda.

 

“Sepertinya aku sudah mengganggu kalian..” Jae Hee berkata dengan tawa yang terkandung disuaranya membuat wajah Suho dan Yoona merah padam.

 

Pelukan Suho semakin erat saat dia menjawab Jae Hee. “Jae Hee hyung…jangan menggoda kami..”

 

“Lepaskan, Junmyeon…” Yoona mengerang putus asa saat dirasakannya rangkulan Suho justru semakin bertambah ketat. Dia sangat malu tertangkap basah oleh Jae Hee telah berciuman dengan Suho. Berciuman dengan sangat amat mesra. Kepalaku seperti akan pecah karena malu!!

 

Jae Hee tersenyum – senyum melihat kecanggungan keduanya. Dia menunjukkan ponsel Suho dan berkata ringan. “Managermu menelpon dan kesempatan itu kupakai untuk memberitahunya akan kemunculan sasaengmu dikota ini dan dia berkata akan mengirimkan seorang bodyguard untukmu.”

 

Pelukan Suho sedikit melongggar membuat Yoona berhasil lolos dari dekapannya dan berdiri agak jauh dari Suho. Dia memperhatikan wajah Suho yang sedikit berubah.

 

“Hyung..aku tidak ingin ada bodyguard disampingku…”

 

“Apa kau tidak melihat diluar sana? Gadis sasaeng itu membuat keributan dengan fans normalmu karena dia yang terus mematai rumah ini dan membuat gerah beberapa remaja yang barusan keluar dari kafe Yoona…”

 

Yoona tersentak mendengar penjelasan Jae Hee, dia menyentuh lengan Suho dengan cemas. “Aku pulang. Aku khawatir dengan Yu Na. Dia merupakan fanmu, “ tanpa menunggu respon Suho, Yoona sudah berlari menuju pintu.

 

“Yoona!”

 

“Yoona, Yu Na tidak ikut terlibat. Dia ada didalam kafe dan menjaga ketenangan kafe.” Jae Hee berkata menenangkan Yoona yang sudah terlihat panik.

 

Yoona memenangkan debur jantungnya dan menoleh Suho yang memanggil namanya. Pria itu tampak membenarkan letak kakinya dan menatap tajam pada Yoona. “Aku akan membuktikannya semua akan baik-baik saja.”

 

Yoona menatap Suho tanpa berkedip. Dia mencengkram ujung bajunya dan mencoba tersenyum. “Ya. Aku percaya.” Setelah itu Yoona segera berlalu dari hadapan Suho.

 

Suho menyandarkan punggungnya dijendela sambil menekan batang hidungnya. Dari celah bibirnya tercetus sebuah helaan napas berat. Jae Hee berjalan mendekat dan menyentuh bahu Suho.

 

“Apakah ini akan terlihat baik-baik saja jika kau menjalin hubungan spesial bersama Yoona? Apa kau sudah membayangkan dampaknya jika hubungan kalian tercium ke publik?”

 

Suho menoleh Jae Hee dengan cepat. Sorot matanya terlihat tidak setuju dengan ucapan Jae Hee. “Aku bisa melindunginya!” tukas Suho tajam.

 

Jae Hee menghela napas. Dia menekan bahu Suho dengan lembut. “Banyak hal yang harus kau pikirkan sebelum mengambil langkah ini, Suho. Selain kau harus memikirkan dampak apa yang akan diterima Yoona, hal serupapun akan kau alami. Kau tidak bisa menjalin hubungan dengan siapapun untuk saat ini…”

 

“Hyung tahu apa?!” Suho memotong kalimat Jae Hee dengan ketus. Dia nyaris berteriak didepan wajah Jae Hee.

 

Namun dengan sabar Jae Hee mencoba menjawab kalimat Suho. “Kau memiliki penggemar. Kau memiliki sasaeng. Tahukah kau apa yang akan dialami Yoona jika dia ketahui sebagai kekasihmu? Apakah kau ingin dia merasa tertekan oleh keadaan dirimu? Lagipula dampak yang sangat nyata adalah terhadap karirmu, terhadap dirimu bersama membermu. Suho, kau tidak hanya sendirian. Kau membawa grup dibelakangmu. Kau seorang leader. Kau adalah idola dari sebuah grup yang sedang berjaya saat ini. Segala aktivitasmu tersorot oleh banyak media. Kau mungkin belum bisa menjaga dirimu sendiri, bagaimana kau bisa menjaga Yoona?”

 

Suho terdiam. Suara Jae Hee yang halus membuatnya terpukul. Pria itu menggambarkan sebuah gambaran masa depan yang nyaris tak ingin dipikirkannya. Seketika kepala Suho terasa pusing. Dia menentang pandang mata Jae Hee. “Aku mencintai Yoona.”

 

“Waktumu tidak tepat untuk jatuh cinta, Kim Junmyeon.” tegas Jae Hee.

 

Rahang Suho berkontraksi. Dia mengepalkan tinjunya. “Apa sih yang kau ketahui dengan tepat tidaknya dalam jatuh cinta? Mungkin hyung sendiri tidak pernah mengalaminya!”

 

“Aku sudah mengalaminya! Makanya aku memberitahumu saat ini!” suara Jae Hee meningkat satu oktaf membuat Suho menatapnya lekat.

 

Suho dapat melihat Jae Hee mengepalkan kedua tinjunya. “Aku sudah mengalaminya! Aku jatuh cinta pada seorang gadis yang bukan dari kalangan selebriti dan dia juga bukan seorang fan. Kami jatuh cinta dan aku menyembunyikannya dari publik. Tapi pemberitaan sebuah media membuat hubungan kami terkuak. Dia dikejar media dan para fansku. Aku dipaksa pihak managemen membuka konferensi pers untuk mengingkari hubungan kami. Aku menolak dan kukatakan terang-terangan bahwa dialah calon pasangan hidupku.” Sampai disitu, Jae Hee terdiam.

 

Suho penasaran. Dia menanti kalimat lanjutan Jae Hee. “Apa yang terjadi?” tanyanya berdebar.

 

“Gadis itu menerima banyak cacian dan ancaman dari beberapa pihak termasuk dari pihak managementku yang memintanya untuk meninggalkanku. Aku mengetahui semua itu dan membuka kembali konferensi pers dan menyatakan akan mundur menjadi artis. Aku dikucilkan dalam waktu yang cukup lama.”

 

“Dimana gadis itu?” Suho kembali bertanya.

 

Jae Hee tersenyum penuh kasih. Matanya menatap sebuah cincin emas yang melingkari jari manisnya. “Dia ada dirumahku. Menjadi ibu dari kedua anakku.” Kemudian dia kembali menatap Suho yang terlihat cerah. “Tapi aku tidak menginginkan hal itu terjadi padamu dan Yoona. Aku tidak ingin Yoona tersakiti dan kau juga tidak sendirian. Sekali lagi, kau membawa 8 member dibelakangmu. Sedikit kau melakukan kesalahan, mereka akan hancur. Yoona akan hancur. Kau juga akan hancur.”

 

OoO

Yoona sedang menatap luar jendela sore itu dimana dia melihat butiran salju mulai turun di Gimcheon. Dia sengaja duduk di meja paling sudut dari kafenya dengan buku-buku tagihan yang tersebar di atas mejanya. Dari kejauhan Yu Na melihat sepupunya itu berulang kali menghela napas. Dia tahu akan hubungan antara Yoona dan Suho dan dia mengerti arti helaan napas wanita cantik itu. Dalam seminggu ini mereka tidak melihat Suho muncul dikafe, hanya mendapati Jae Hee saja yang muncul untuk memesan kopi 3 kali sehari untuk mereka. Yoona tidak berani untuk bertanya tentang Suho karena dia tahu konsekuensi berhubungan dengan seorang idola seperti Suho. Sejak keberadaan pria itu ketahui para fans, tidak jarang mereka akan melihat beberapa fans yang meletakkan hadiah-hadiah atau surat dikotak surat rumah Suho. Yoona juga akan melihat ponselnya yang bisu dan kadang merasa dia sedang bermimpi saja tentang kejadian di ruang cermin seminggu yang lalu.

 

Yoona kembali menghela napas dan menunduk untuk kembali menatap semua perhitungan pemasukannya dalam bulan itu ketika didengarnya suara ketukan pada jendela samping mejanya. Yoona mengangkat mukanya dan bola matanya membulat melihat siapa yang tengah mengetuk jendela kaca dengan sebuah parka tebal dan masker putih. Sepasang mata lembut itu menatap Yoona dengan penuh senyum.

 

Suho memberi tanda dengan tangannya. Dia menunjuk pintu masuk kafe dan menunjuk Yoona setelahnya. Dia menggerakkan jempolnya kearah dadanya. Yoona terlalu berdebar untuk mengartikan isyarat itu sehingga dia sama sekali tidak ada ide untuk menebak maksud Suho.

 

Sebuah tepukan dibahunya membuatnya tersadar. “Dia bilang agar kau keluar dan bertemu dengannnya diluar, eonni.” Suara Yu Na membuat Yoona mendongak dan mendapati Yu Na yang tengah tertawa pada Suho. Dia menunduk menatap Yoona yang masih saja bengong. Dia mendorong lembut punggung wanita itu untuk keluar dari kursinya. “Pergi sana. Serahkan kafe padaku asal kau ingat saja untuk menggajiku lebih besar dari biasanya.” Yu Na tertawa lebar.

 

Yoona tertawa dan bangkit dari duduknya. Dia menyambut lemparan jaket dari tangan Yu na yang memang sudah menyiapkannya. Yoona berlari menuju pintu kafe dan memberika senyum manisnya pada beberapa pasang manula yang menikmati kopinya. Dia mendorong pintu kafe dan mendapati Suho yang sudah berdiri didepannya dengan kedua tangan didalam saku parkanya dan pria itu tidak lagi menggunakan tongkat!

 

Yoona mengatur napasnya dan menatap Suho dengan kagum. “Kau tidak memakai tongkat lagi?”

 

“Jae Hee hyung menyuruhku untuk melatih kakiku tanpa tongkat dengan menikmati Gimcheon diwaktu sore hari.” Suho tersenyum lalu melangkah mendekat. Sebelah tangannya terulur keluar dari saku parkanya dan telunjuknya menyentuh ujung hidung Yoona. “Aku juga sudah bosan dikurung selama seminggu dengan tidak bertemu denganmu.”

 

Wajah Yoona bersemu merah apalagi saat dengan lembut Suho meraih tangan Yoona dan menariknya agar segera melangkah. Sambil mengedip Suho berkata girang. “Jae Hee hyung berkata Gimcheon memiliki restoran makanan tradisional yang enak. Dia mengatakan bahwa kau tahu segalanya.”

 

“Jangan berjalan terlalu cepat! Lututmu!” Yoona berseu panik mendapati betapa bersemangatnya Suho melangkah dan nyaris berlari.

 

Suho terdengar tertawa. Dia menarik sedikit keras lengan Yoona sehingga wanita itu menambrak dada kerasnya. Yoona mencengkram bagian dada parka Suho dan mendongak. “Aku sudah sangat ingin berlari bersamamu.”

 

Yoona tersenyum dan dia mendorong halus dada Suho. Dia meraih lengan pria itu dan berjalan lambat disamping Suho. “Aku justru ingin berjalan lambat bersamamu agar waktu juga berjalan lambat.”

 

Dan dengan lambat mereka berjalan menuju halte bus tanpa pernah menyadari bahwa sebuah kamera mengikuti kemana saja mereka berjalan.

 

Dari kejauhan Yu Na menatap kedua orang itu sambil memeluk menu didadanya. Dia menghela napas dan tersenyum lebar. Suara berat seorang pria muncul disampingnya. Dia menoleh dan mendapati Jae Hee telah berdiri disampingnya dan menatap sejurusan dimana matanya menatap.

 

“Sepasang merpati yang sedang jatuh cinta kadang lupa apa yang akan terjadi dimasa depan.” Jae Hee menatap butiran salju yang jatuh dikakinya.

 

Yu Na menggerutu pada Jae Hee. “Oppa, kau mau merusak keadaan ya?” cetus Yu Na tajam.

 

Jae Hee menggeleng. “Yu Na kau tidak pernah tahu kerasnya dunia yang digeluti Suho. Sedikit jentikan ujung jari para idola itu akan tersungkur.” Jae Hee manatap Yu Na yang terdiam. Dia mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Sebuah ponsel dan itu adalah milik Suho yang sengaja ditinggalkan pria itu.

 

“Itukan ponsel milik Suho Oppa?” Yu Na menatap Jae Hee dengan curiga.

 

Jae Hee menggerakkan ujung jarinya dan menunjukkan sebuah percakapan grup yang barusan dilakukan oleh member EXO bersama para manager. “Mereka sedang dalam suasana gembira karena tadi manager menelpon Suho dan mendapatkan penjelasanku bahwa kini Suho sudah bisa berjalan tanpa tongkat. Tinggal beberapa minggu lagi dia sudah siap kembali ke panggung. Dan isi dari grup chat ini adalah persiapan konser di Dome dan debut di Jepang serta serangkaian tur mereka yang tertunda bahkan rencana album winter mereka.” Jae Hee kembali menatap Yu Na yang membelalakkan matanya. “Kau tahu apa maksudnya, Yu Na? tidak ada celah untuk sebuah hubungan percintaan saat ini bagi member EXO dan itu berlaku juga bagi Suho, sang leader.”

 

Yu Na menutup mulutnya untuk menahan seruannya. Dia menatap jalan yang barusan saja dilalui Yoona dan Suho yang kini telah sepi. “Yoona eonni…”

 

OoO

Yoona dan Suho menikmati malam bersalju itu dengan makan yang hangat disebuah restoran tradisional yang berada ditengah kota Gimcheon. Mereka mengunjungi pasar malam dan bermain-main dengan salju dilahan khusus bagi mereka yang ingin bermain salju. Meskipun sangat apiknya Suho menutupi dirinya yang sudah nyaris seperti bantal dengan selimut karena parkanya yang super tebal, para fansnya masih saja mengenalinya. Ada beberapa gadis remaja akan mendatangi Suho dan hanya sekedar bersalaman atau meminta tanda tangan membuat Yoona secara diam-diam akan mundur dan menunggu semua itu usai dibalik sebuah tiang listrik ataupun dinding toko. Dia akan menatap Suho dari kejauhan agar pria itu tidak diketahui berjalan bersamanya.

 

Mendapati kenyataan demikian membuat Yoona mencengkram jaketnya erat-erat. Menatap punggung Suho yang lebar serta senyum tulusnya menerima para fans, menyisakan ruang kosong di hati Yoona. Ada celah yang tak bisa disentuhnya dan itu membuat dia menyadari perbedaan mereka.

 

Suho memberikan tanda tangannya pada seorang gadis terakhir yang mengantri padanya di tepian jalan itu dan menyadari bahwa kini dia hanya sendirian. Dia mengedarkan pandangannya diseluruh area itu mencari Yoona dan mendapati bahwa wanita itu berada diantara celah toko. Yoona terlihat sedang menunduk. Suho melangkah mendekat setelah yakin bahwa kini hanya tinggal dia sendirian pula di jalanan itu.

 

Yoona tengah menunduk saat dirasakannya sebuah lengan berada didepannya dan menekan dinding tembok dibelakangnya.

 

“Apa yang kau lakukan disini?”

 

Yoona mengangkat matanya dan bertemu pandang dengan sepasang mata Suho yang terlihat menegur. Dia membuang tatapannya dibelakang punggung Suho. “Fansmu..”

 

“Sudah tidak ada lagi! Hanya kau dan aku!” Suara Suho terdengar tegas saat bertanya pada Yoona. “Mengapa kau berada disini?”

 

Yoona mengalihkan matanya. “Kau sedang dikenali dan aku tidak ingin menyusahkanmu karena bersamaku..”

 

Suho membuang napasnya dengan berat. Dia meraih dagu Yoona agar menatapnya. “Aku sudah berkata padamu bahwa semuanya akan baik-baik saja jika kini kita bersama, Yoona-yah…jangan khawatir..” dengan lembut Suho mengecup puncak kepala Yoona. Dia dapat merasakan bahwa jari jemari langsing itu mencengkram erat bagian dada parkanya. “Ya…semua akan baik-baik saja…” ucap Suho memejamkan mata dengan tetap mengecup puncak kepala yang harum itu. Berusaha untuk meyakinkan Yoona, berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Suho mendekap Yoona dengan erat, entah mengapa jauh didasar hatinya, dia sendiri tidak yakin akan ucapannya.

 

Sebuah suara cepretan kamera terdengar sayup dikejauhan. Melalui zoom, sang photographer berhasil mengambil beberapa gambar Suho bersama Yoona.

 

TBC

44 thoughts on “CALL ME BABY – CHAPTER TUJUH

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s