CALL ME BABY – CHAPTER DELAPAN

r-call-me-baby

AUTHOR :KIM SUYOON

 MAIN CAST : SUHO | YOONA | EXO |OTHER CAST : SEO YU NA (AOA) |CATEGORIES : ROMANCE, FRIENDSHIP |LENGHT : CHAPTER |RATING : PG-17

Seorang author pendatang baru, semoga tulisan ini dapat diterima para YoongExo🙂

Segala ide cerita murni milik author dan dilarang untuk mengambil hak cipta ^^  Selamat membaca dan diharapkan respeknya atas karya author untuk meninggalkan jejak setelah membaca dalam bentuk komentar. Happy reading🙂

| TUJUH |

OoO

aku mengharapkan partisipasi para reader untuk bersedia meninggalkan komentar setelah membaca😉 aku butuh banget loh para reader menjadi sangat aktif ^^

OoO

Sejak malam itu semua berjalan tanpa rencana apapun bagi Yoona dan Suho. Mereka menjalani hari demi hari sebagai pasangan normal dimata siapa saja namun ada kalanya Suho akan menculik Yoona untuk bersamanya menjelajahi Gimcheon sepanjang hari sejak dia mulai semakin diberi kebebasan oleh Jae Hee dalam mengendarai mobil. Mereka akan mengunjungi berbagai tempat menarik di Gimcheon dan disaat itulah Suho akan mengungkapkan segala apa yang terkandung didalam hati dan pikirannya sebagai manusia normal, bukan sebagai seorang idola. Suho seakan menemukan tempat dimana dia bisa mencurahkan rasa sepi dan tanggung jawab besarnya selama ini didalam grup. Dia akan menggenggam jemari langsing milik Yoona dan meremasnya lembut dengan mengatakan bahwa untuk pertama kalinya dia merasakan rasa nyaman terhadap lawan jenis.

Jae Hee bukan tidak khawatir melihat semakin eratnya hubungan Yoona dan Suho bahkan hubungan gadis itu bersama para member EXO terutama terhadap Chanyeol dan Sehun yang selalu rajin mengunjungi Suho bila mereka memiliki waktu luang. Bukan Jae Hee tidak senang akan perkembangan itu namun hatinya cemas jika tiba masanya Suho akan kembali ke Seoul, kembali sebagai idola, kembali sebagai Leader EXO mengingat kini pria muda itu kini semakin sehat. Jae Hee sudah mulai latihan bagi Suho untuk kembali menari dan hasilnya sangat menakjubkan. Dia mengetahui bahwa seorang Kim Junmyeon memiliki keteguhan hati dan kemauan yang keras. Hanya sekali dia mengalami kram pada saat memulai menari tapi untuk selanjutnya Suho melewatinya dengan sangat luar biasa. Bahkan suatu hari Suho bersama Chanyeol dan Sehun mencoba menari Call Me Baby, Suho menunjukkan bahwa dia telah berhasil sembuh dari cedera lututnya.

 

“Kau berhasil, Hyung!!!” Chanyeol berseru girang dan memeluk Suho dengan tawa lebar begitu juga dengan Sehun.

 

“Kau akan segera kembali ke Seoul!” cetus Sehun dengan riang yang membuat Suho terdiam sejenak. Tanpa sadar dia membuang tatapannya pada luar jendela ruang kaca tersebut dan hal itu tak luput dari perhatian Jae Hee.

 

“Mungkin sebentar lagi”. Suho bergumam halus dan melangkah mendekati jendela.

 

Diluar tampak butiran salju mulai turun menghiasai sore itu dan matanya menemukan sosok Yoona yang sedang berdiri di depan pintu kafe dengan senyum manisnya menyambut kedatangan tukang buah. Suho menyentuh kaca jendela dan bersuara gamang. “Mungkin sebentar lagi…”

 

Chanyeol dan Sehun saling berpandangan dan mereka menangkap maksud kalimat gamang itu. Mereka menolah Jae Hee yang menghela napas berat.

 

Baik Yoona maupun Suho sama sekali tidak tahu bahwa sudah beberapa hari ini ada seorang pria berkaca mata hitam selalu hilir mudik didepan café dan rumah sewaan Suho. Pria ini selalu memakai jaket tebal dan selalu memegang sebuah kamera kecil ditangannya. Tidak ada yang menyadari kehadiran pria itu dalam beberapa hari itu hingga sebuah artikel di internet menguak di tengah malam itu.

 

Salah satu manager EXO terbangung tengah malam oleh sebuah dering ponsel yang membandel. Pria itu segera menyambut panggilan itu dengan segera ketika melihat nama manager utama EXO menelponnya.

 

“Hallo…” untuk sejenak dia diam mendengarkan suara diseberang, perlahan dia membuka semakin lebar kedua matanya dan cepat mengatakan, “Aku akan segera membuka internet dan memberitahukan anak-anak”. Dalam sekejab panggilan itu segera berakhir dan sang manager membuka salah satu akun twitter yang disebutkan didalam percakapan barusan. Dia tidak sempat mengambil laptopnya dan langsung membuka berita mengejutkan itu melalui smart phonenya.

 

Dia tercenung membaca artikel tersebut serta beberapa photo yang diposting didalam artikel tersebut. Tampak disana tercetak sepasang pria wanita yang berdiri saling berhadapan di salah satu celah toko seperti sedang berpelukan. Sang manager terus menggerakkan jarinya untuk melihat photo lainnya. Dengan orang yang sama, dia melihat pasangan itu berjalan bergandengan disepanjang pusat pertokoan Gimcheon bahkan ada beberapa photo dimana pria muda itu terlihat mengecup puncak kepala sang gadis cantik berambut panjang itu. Sang manager tidak perlu lagi mencoba mengenali wajah pria muda berambut cokelat terang itu, cukup sekali pandang saja dia sudah mengenali Suho! Sebuah kalimat dengan huruf kapital tebal menjadi judul artikel.

 

LEADER EXO SUHO TERLIHAT BERSAMA WANITA TIDAK DIKENAL DISEKITAR GIMCHEON.

 

Dengan gerakan cepat, sang manager yang mulai merasa khawatir itu bangkit dari duduknya dan keluar dari kamarnya dan menuju pintu kamar salah satu member. Dia mengetuk kamar Chanyeol dan tak perlu menunggu lama terdengar suara sahutan parau. Chanyeol tampak membuka pintu kamarnya sambil mengucek matanya dan bertanya heran.

 

“”Hyungnim….???”

 

Sang menager menarik lengan Chanyeol dan berkata cepat. “Bangunkan yang lainnya! Kita harus segera berunding. Malam ini juga!”

 

Terdengar suara dering ponselnya yang membuat pria itu menyambutnya dan berkata tidak sabar pada Chanyeol yang masih bingung. “Segeralah bangunkan member lainnya!” lalu dia beralih pada ponselnya. “Ya? Pertanyaan dari para fans sudah mulai membanjir? Tidak bisakah kita menghapus artikel itu secepatnya??”

 

Chanyeol yang sedang membangunkan para member dan membuat semuanya berkumpul didepan manager, mencoba menyimak percakapan membingungkan itu.

 

“Ada apa?” Chen bertanya pada Chanyeol dan dijawab dengan gelengan kepala dari Chanyeol.

 

Semua member tampak tidak mengerti mengapa mereka dipaksa bangun ditengah malam itu. Setelah percakapan berakhir, sang manager menatap para member EXO yang terlihat masih mengantuk berat itu.

 

“Maaf membangunkan kalian tiba-tiba seperti ini…kalian harus segera bersiap ketika matahari terbit, kita akan pergi”.

 

“Pergi? Pergi kemana?” DO bertanya heran.

 

Sang manager mengusap rambutnya dan memasukkan sebelah tangannya kedalam saku celana pendeknya. “ Ke Gimcheon. Secepatnya. Photo Suho bersama wanita pemilik café itu tersebar di internet dan saat ini sudah membanjir pertanyaan akan kebenaran berita tersebut”. Dengan pelan sang manager menunjukkan photo-photo mesra Suho bersama Yoona yang sudah disavenya di ponsel.

 

“Ahhhh…” keluhan berat trecetus dari celah mulut Chanyeol dan Sehun.   

 

OoO

 

Hari itu Gimcheon diguyur hujan salju yang deras membuat beberapa toko termasuk café milik Yoona tutup. Yoona memutuskan untuk tetap berada didalam rumah bersama Yu Na dengan penghangat ruangannya setelah menerima telepon dari Suho yang mengatakan bahwa dia tidak bisa menemui Yoona hari itu karena dia harus menjaga lututnya untuk tetap hangat seperti yang dikatakan oleh Jae Hee. Tentu saja Yoona tidak mengeluarkan protes apapun karena dia tahu bahwa lutut Suho sedang dalam masa kesembuhan total. Setelah menutup pembicaraan, Yoona menggeser duduknya didekat Yu Na yang sibuk mengunyah keripik sambil menatap layar televisi dimana mereka sedang memutar film drama.

 

Yoona meraih sedikit keripik dari tangan Yu Na. adik sepupunya itu mengerling sekilas dan tanpa mengalihkan matanya dia bersuara lambat. “Tidak adakah yang curiga melihat kau selalu bersama Suho Oppa, Eonni?”

 

Yoona menatap Yu Na dengan acuh tak acuh. “Tidak ada yang aneh menatap kami. Sebagian remaja Gimcheon tahu bahwa Junmyeon menyewa rumah didepan kafe kita”. Yoona kini menatap Yu Na dengan  lekat, dia melihat kerutan pada alis gadis itu. “Ada apa?”

 

Yu Na menatap Yoona sekilas kemudian dia kembali menatap layar televisi. Didalam pikirannya tiba-tiba tercetak suatu pertanyaan pada seorang pria aneh yang muncul dikafe mereka saat Yoona dan Suho pergi ke pasar mencari selusin cangkir. Pria itu menanyakan Yoona padanya ketika dia mengantarkan pesanan yang dipesan pria itu, pria berkaca mata itu juga sekilas menanyakan apakah benar rumah sewaan didepan kafe mereka adalah rumah yang disewa oleh Leader EXO. Tapi secara otomatis Yu Na mengangkat bahu seolah tidak tahu dan setelah beberapa hari dia tidak melihat pria itu karena dia baru menyadari bahwa dalam seminggu ini pria itu sudah tidak  terlihat lagi berada disekitat tempat tinggal mereka.

 

Terrdorong oleh rasa curiga itu, Yu Na merogoh ponselnya dan dengan cekatan dia membuka twitter. Matanya menerpa beberapa fansites khusus EXO dan Suho dan dia tercenung. Yu Na menoleh Yoona yang tengah menatapnya dengan matanya yang indah dan bening seperti bintang.

 

Yu Na menunda mengunyah keripiknya dan dia mencengkram lengan Yoona. “Eonni…kau dalam masalah!”

 

Sementara itu dirumah sewaannya, Suho terdiam didepan managernya dan para member saat sang manager menebarkan semua photo dari artikel di internet yang sudah di printnya sebelum berangkat ke Gimcheon. Pria itu tampak menekan batang hidungnya.

 

“Kau harus segera kembali ke panggung dan memberikan penjelasan terbuka akan kebenaran photo-photo ini”. Sang manager berkata pelan namun tegas membuat Suho mengangkat matanya dan menatap dengan tajam.

 

“Photo-photo ini memang benar adanya! Apa lagi yang harus dijelaskan?”

 

Jae Hee dan para member terkejut mendengar ucapan Suho yang tajam bahkan sang manager mulai tersulut oleh rasa marah yang sudah ditahannya sejak mereka keluar dari Seoul. Pria bertubuh tegap itu memukulkan telapak tangannya diatas meja dengan keras dan dengan setengah berdiri dia menunjuk wajah Suho yang mengeras.

 

“Kau harus menjelaskan bahwa itu bukanlah kau, Suho! Ya Tuhan! Ini belum saatnya harus terjadi yang seperti ini, Kim Junmyeon!” sang manager setengah berteriak dengan frustasi. Dia sudah nyaris histeris ketika mendapati betapa banyaknya komentar yang masuk di situs resmi mereka yang sebagian besar berisikan rasa kecewa terhadap sang leader.

 

“Itu adalah aku! Dan aku tidak ingin berbohong!” Suho membalas kalimat managernya dengan keras.

 

Jae Hee mengusap wajahnya seraya menatap sang manager dan para member yang terdiam silih berganti. Manager EXO ternganga melihat reaksi yang ditampilkan Suho yang dibanggakannya itu. Bahkan Chanyeol dan Sehun dan yang lainnya juga terpaku mendengar kekerasan hati Suho.

 

“Apa kau tak memikirkan grup yang sudah begitu berjuang keras bertahan hingga saat ini?! Dengan semua yang sudah terjadi? Dan kau ingin menjadi si egois keras kepala karena sebuah cinta konyol yang kau tahu takkan bisa kau jalani?!!!” Sang menager kini berteriak tepat diwajah Suho. “Tidakkah kau memikirkan para membermu seperti biasanya yang selama ini kau lakukan??!! Tidakkah kau tahu bagaimana mereka bertahan tanpamu selama ini karena kau lebih memilih terapi di kota ini??! Tidakkah kau memikirkan mereka??!!”

 

Suho yang merasakan rasa amarah didadanya saat itu tiba-tiba terdiam mendengar semua perkataan marah yang lontarkan managernya. Dia merasakan sebuah tusukan tepat di jantungnya ketika mendengar semua kalimat yang mengandung kebenaran itu. Suho menatap wajah semua membernya. Mereka balas menatapnya dengan sorot mata memohon, mata mereka terlihat lelah dan kurang tidur. Suho menatap lututnya dan hatinya berperang akan rasa cinta dan tanggung jawabnya. Dia menutup wajahnya dan mengeluh perlahan. “Ohh…”

 

Baekhyun hendak menyentuh bahu Suho namun gerakannya ditahan oleh Chanyeol. Baekhyun menatap Chanyeol yang memberikan isyarat dengan gelengan kepalanya. Perlahan Baekhyun menarik kembali tangannya dan hanya menatap Suho yang sedang menutup wajahnya. Begitu juga dengan sang manager dan Jae Hee yang diam-diam meninggalkan sang leader bersama para membernya. Pria itu menyadari apa yang dirasakan Suho namun dia terpaksa melakukan itu. Baik dia dan Jae Hee tahu betapa kejamnya dunia yang dijalani para artis Korea. Dia hanya tidak ingin para pria muda berbakat itu hancur dalam sekejab, meski dia harus membunuh rasa cinta yang mulai bersemi dihati Suho, itu lebih baik dari pada dia melihat Suho hancur karena cercaan.

 

Cukup lama para member menanti Suho mengendalikan emosinya dan mereka bernapas lega ketika melihat leader mereka melepaskan tangan yang menutupi wajah tampannya dan menatap mereka semua dengan sepasang matanya yang selalu bersinar hangat itu meski saat itu terlihat memerah.

 

Suho menatap semua wajah yang selama ini menemaninya dalam susah dan senang. Sudah banyak tangis dan canda telah mereka lewati hingga baginya mereka adalah keluarganya. Suho mencintai  membernya. Tapi Suho juga jatuh cinta. Dia mencintai Yoona dengan sepenuh hatinya dan kenyataan bahwa saat ini dia tidak bisa memiliki semua yang dicintainya sangatlah menyiksa hati Suho.  Dia harus memilih dan itu menyesakkan dadanya.

 

Suho merasakan sentuhan hangat telapak tangan Chanyeol dan Sehun diatas punggung tangannya berikut semua tangan para member. Chanyeol tersenyum penuh pengertian, sepasang matanya yang bulat dan bersinar ceria itu terlihat berkaca-kaca. “We Are One?”

 

Suho menatap senyum Chanyeol yang hangat, kemudian wajah Sehun yang tenang serta wajah Baekhyun yang ceria, Chen yang tersenyum, DO yang memperlihatkan bola matanya yang terang, Lay yang selalu berusaha keras bersama mereka, Xiumin yang anteng namun sangat dewasa, serta Kai yang selalu memperhatikannya. Ah….bagaimana bisa aku tanpa mereka?

 

Suho memejamkan matanya sejenak dan terbayang olehnya senyum indah lainnya yang sudah meruntuhkan hatinya. Bagaimana aku tanpa dia? Apakah ini yang terbaik? Tuhan…katakanlah padaku mana yang terbaik…. Suho merasakan genggaman erat Chanyeol dan dia membuka matanya.

 

“Kami membutuhkanmu, Hyung…” suara Baekhyun terdengar gemetar. “Kami tak pernah berpikir mencari gantimu. Hidup kami akan hancur jika kami mengganti leader”.

 

Suho merasakan sepasang matanya panas dan dia melihat wajah-wajah para member menjadi kembar. Dia mengguncang tangan-tangan yang berada diatasnya. Dengan tersenyum Suho berkata parau. “We Are One…!!!”

 

Semua wajah member terlihat cerah dan mereka serentak berkata, “We Are One!!!” mereka merangkul Suho dengan erat terutama Chanyeol. Suho membiarkan segulir air matanya jatuh dan dia berkata pelan, hanya dapat didengar oleh Chanyeol dan Sehun.

 

“Berikan aku dua hari lagi disini…berikan aku waktu untuk bersama Yoona meski hanya dua hari..”

 

Chanyeol menepuk punggung Suho dengan lembut. “Aku akan membicarakannya dengan hyungnim dan akan disini bersama Sehun menunggumu”.

 

OoO

 

Yoona terbangun pagi itu karena suara dering ponsel yang tak kunjung berhenti. Dia mencelat bangun dan meraih ponselnya yang terletak di samping bantalnya. Dia membuka matanya dan menatap nama Suho terpampang dilayar ponsel, segera dia mengangkat panggilan itu. Sambil berdiri dari ranjang, Yoona menyibak gorden dan menatap butiran salju pagi itu.

 

“Hallo…”

 

“Apakah sudah bangun?” – suara Suho.

 

Yoona melihat bahwa jendela ruang cermin tampak kosong. Tidak ada bayangan seorangpun disana dan dia menjawab. “Baru saja..”

 

“Aku ada didepan rumahmu”. Suara Suho terdengar halus membuat Yoona terpaku. Matanya langsung tertuju pada bagian jalan raya namun dia tidak melihat sosok Suho.

 

Seakan dapat membaca pikiran Yoona, suara tawa Suho terdengar jelas di telinga Yoona. “Maksudku aku ada didepan rumahmu yang sebenarnya. Bukan di depan kafe”.

 

“Eeh??” dengan gerakan cepat, Yoona berjalan menuju pintu dan setengan berlari dia menuruni tangga dengan ponsel masih menempel ditelinganya. Tiba-tiba saja jantungnya berdebar tidak karuan dan dia membuka pintu rumahnya dan terpaku menatap Suho yang tersenyum padanya.

 

“Selamat pagi”. Suho menyapa halus dengan penampilannya yang mengenakan parka tebal dan kacamata tipis berada dibatang hidungnya yang bagus.

 

Yoona menurunkan ponsel dari kupingnya dan menekan tombol mati pada tanda menerima. Dia menatap heran pada Suho dan dia melihat bahwa sebuah mobil sedan putih terparkir tepat didepan rumahnya. Dia memperhatikan penampilan Suho yang seakan siap berpergian. Yoona bisa merasakan rasa tidak enak mulai menjalari hatinya.

 

“Kau mau kemana?” tanpa disadarinya suaranya bergetar.

 

Senyum Suho makin lebar dan pria itu tampak merogoh saku parkanya dan mengeluarkan sesuatu dari sana. Secarik kertas tampak dilambaikannnya didepan wajah Yoona. “Museum porselen. Aku ingin mengajakmu kesana dan juga melihat pabrik biji kopi yang terkenal di Gimcheon”.

 

Bola mata Yoona membulat. Mendengar museum porselen masih masuk akal namun pabrik biji kopi? “Kau ingin ke pabrik itu? Disaat bersalju begini?”

 

“Aku sudah membaca di internet bahwa disamping pabrik itu trerdapat pula museum kopi dan ada sebuah lahan besar yang menampilkan rumpun bunga yang cantik yang mekar segala musim karena berada dirumah kaca tertutup”.

 

Yoona benar-benar melongo mendengar keteguhan Suho akan tempat yang diinginkannya. Dia memainkan ujung kukunya dan terpaksa menjawab, “Aku akan mandi dulu. Masuklah”. Yoona memberikan Suho ruang untuk memasuki rumahnya tepat Yu Na turun dari tangga dengan rambut kusut.

 

“Oppa!” dengan girang Yu Na mendekati Suho dan duduk di sofa tepat didepan Suho. “Kudengar kemarin para member EXO datang? Apakah mereka sekarang sudah kembali ke Seoul?”

 

Tanpa membuka parkanya, Suho bersandar pada sandaran sofa seraya menggosok telapak tangannya. Dia mengangguk dan tertawa. “Tapi sekarang hanya tingga Chanyeol dan Sehun. Mereka ada dirumah dan masih tidur”. Sampai disini Suho seakan menghentikan kalimatnya secara tiba-tiba.

 

Yoona yang berjalan menuju kamar mandi menatap Suho sejenak. Dia teringat percakapannya dan Yu Na semalam. Tentang pemberitaan di internet. Beberapa photo pria mirip Suho terlihat tertangkap kamera sedang bersama wanita tak dikenal. Meski diartikel tersebut ditulis “pria mirip Suho” namun Yoona sangat tahu dengan pasti bahwa itu adalah Suho dan dirinya. Dengan menahan perasaannya, Yoona memasuki kamar mandi. Dia berusaha menepis pikiran buruknya dan mengatakan bahwa mungkin saja sebagian orang tidak akan mempercayai berita itu kerena tidak ada kalimat apapun keluar dari mulut Suho.

 

Setelah membasuh wajahnya, Yu Na menemani Suho bercakap-cakap dengan secangkir cokelat yang dibuatkannya untuk pria itu. Saat mereka sedang bercakap seru sementara Yoona berpakaian, terdengar suara langkah-langkah kaki mendekati rumah Yoona. Suho dan Yu Na mengangkat wajahnya dan mereka melihat dua sosok jangkung menerobos masuk sambil menampilkan gerak kesejukan.

 

“Salju semakin deras padahal belum juga bulan Desember”. Chanyeol menggelengkan kepalanya hingga rambutnya yang basah terkena salju terlihat lembab. Dia mendekati sofa dan duduk  tepat disamping Yu na dan tersenyum dengan manis. “Wah…kurasa cokelat dicangkir Suho Hyung terlihat hangat”. Dengan jarinya Chanyeol menunjuk cangkir cokelat hangat Suho.

 

Yu Na merasakan pipinya menghangat dan dia seakan ingin pingsan mendapati Chanyeol duduk tepat disampingnya. Bahkan dia saja sudah nyaris pingsan sejak bisa menatap Suho demikian dekat. Kini ditambah munculnya Chanyeol dan Sehun sungguh membuat Yu na sesak napas.

 

Tanpa suara Sehun duduk disamping Suho tepat didepan Chanyeol. Dia bisa melihat pipi kemerahan Yu na dan dengan halus Sehun tersenyum miring. “Kau membuat wajahnya seperti kepiting masak, hyung”, kekeh Sehun.

 

Yu Na segera meraba pipinya dan dia merasa semakin ingin pingsan. Sehun menggodanya dengan gayanya yang seperti itu. Ya Tuhan bunuh aku!!! Dia mendengar tawa dari Suho dibarengi tawa berat Chanyeol. Untunglah saat itu Yoona muncul dengan jaket tebalnya dan sarung tangan dan topi rajutnya.

 

Yoona mengulum senyum dan mendekati adik sepupunya. Dia merangkul leher Yu na dengan sayang. Dia menatap Chanyeol dan Sehun bergantian. “Jangan menggoda dia, dia bisa pingsan karena kalian”. Dan kalimat Yoona mengundang tawa bangkit lagi.

 

Suho menatap wajah Yoona dengan tatapan khasnya. Yoona berdiri dengan tegak dan melihat bagaimana Suho bangkit dari duduknya. Pria itu menatap Sehun dan Chanyeol bergantian. “Aku dan Yoona pergi. Kalian temanilah Yu na di café”.

 

“Tidakkah nanti mereka akan dikenali?” Yoona menukas heran.

 

Suho sejenak menatap kedua dongsaengnya. Chanyeol berdiri dan menepuk bahu Yoona. “Aish…Noona tenanglah. Di Gimcheon kami memang sudah dikenali. Jangan khawatir. Oke? Pergilah bersama Suho Hyung”. Chanyeol mengedipkan matanya.

 

Dan Yoona dapat merasakan bahwa jemarinya digenggam Suho dan pria itu menariknya pelan menuju keluar rumah. Yoona masih melongo saat dimana sekarang dia berada didalam mobil dengan Suho mengendarinya menuju tujuan pertama mereka, Museum Porselen.

 

Suho menyenandungkan lagu sesuai yang diputar di mobil. Dia melirik Yoona yang terlihat cemas seraya berulang kali menatap luar jendela dan kadang menarik topi rajutnya seakan ingin menutupi wajahnya. Suho dapat menduga bahwa Yoona mungkin sudah mengetahui artikel di internet. Wanita itu terlihat gelisah bahkan ketika mobil berhenti di traffic light.

 

Suho mengelurakan suara lembutnya seraya menyentuh punggung tangan Yoona. “Yoona…”

 

Yoona menoleh dan dia membelalakkan bola matanya saat dia menoleh, sepasang bibir hangat menyentuh bibirnya yang terbuka. Dengan seringan bulu, Suho menyapukan bibirnya diatas bibir Yoona sementara tangannya yang bebas dari setir menggenggam erat punggung tangan Yoona. Perlahan Suho menjauhkan wajahnya dari wajah kaget Yoona.

 

“Ku mohon jangan berpikir yang lain saat ini. Lupakanlah semua rasa cemasmu. Saat ini hanya kita berdua..”

 

“Tapi..artikel itu..” Yoona mencetuskan apa yang ada dipikirannya dan hal itu membuat dia merasakan genggaman Suho semakin erat. Pria itu tampak menunduk dan kemudian menatap Yoona.

 

“Jangan pikirkan semua tulisan di artikel itu. Aku ingin bersamamu sepanjang hari ini”.

 

Suho segera kembali ke posisi mengemudi saat melihat lampu berubah hijau. Ucapan Suho menyadarkan Yoona bahwa mungkin hanya tinggal hari itulah dia bersama pria itu. Sewaktu-waktu Suho akan kembali ke Seoul karena lututnya sudah sembuh, sudah bisa menari dan bernyanyi lagi. Dan kenyataan itu membuat Yoona harus siap melepaskan Suho, mengembalikan pria itu kembali dikehidupannya. Mengembalikannya pada para fansnya.

 

Mobil meluncur dengan mulus dan Yoona mengulurkan tangannya dan menyentuh punggung tangan Suho yang sedang memegang setir. Suho menoleh Yoona dan mendapati wajah penuh senyum disana.

 

“Aku belum pernah mengunjungi museum porselen semenjak aku berada disini. Dan ini adalah pertama bagiku, terutama bersamamu. Aku ingin menikmatinya”.

 

OoO

 

Dan mereka memang menikmati hari itu bersama. Meski salju terus turun menimpa Gimcheon, hal itu tidak menyurutkan rencana yang dilakukan Suho dan Yoona. Mereka mengunjungi Museum Porselen yang berada di utara Gimcheon dan Suho begitu mengagumi semua patung porselen yang dipajang meskipun ditengah perjalanan mereka mengelilingi museum Suho sempat berkelakar, “Seandainya ada patung porselen karakter Star Wars, pasti aku akan selfie bersama mereka”.

 

Yoona tertawa. Sejak bersama Suho, dia sudah tahu bahwa pria itu sangat tergila-gila dengan Star Wars. Sambil terus memperhatikan patung-patung porselen itu, Yoona mendengar suara Suho.

 

“Yoona..”

 

Yoon menoleh dan dia tersenyum lebar saat melihat setangkai bunga mawar porselen berukuran sedang terulur didepan wajahnya. Suho tersenyum saat menyodorkan bunga mawar porselen yang berwarna merah bening.

 

“Sampai kapanpun mawar ini tidak akan layu. Jadi kau bisa terus menyimpannya tanpa takut dia menjadi kering”. Suho mendekatkan bunga mawar itu pada Yoona yang disambut dengan senyum manis wanita itu.

 

Meski itu adalah bunga mawar porselen tapi pembuatnya melengkapinya dengan aroma mawar asli yang membuat Yoona bisa mencium aroma mawar yang harum. “Gomawo..” bisik Yoona halus.

 

Sejenak Suho menatap wajah cantik yang murah senyum itu. Ada denyutan pelan di jantungnya membuat dia mengepalkan kedua tangannya. Entah mengapa sepasang mata Suho terasa panas dan membuat dia merangkulkan lengannya pada bahu ramping Yoona. Dia mendekatkan wajahnya pada sisi wajah lembut itu.

 

“Ayo kita ke tujuan selanjutnya”.

 

Keluar dari museum porselen, Suho dan Yoona menuju Pabrik Kopi dan mendapati bahwa disana begitu banyak turis dan Suho berdecak kagum melihat luasnya lahan pabrik yang dilengkapi dengan restoran, museum kopi dan rumah kaca segala musim. Keindahan tempat itu tidak mengurangi minat para turis meskipun saat itu memang sedang turun salju. Tanpa berlama-lama, Suho mengajak Yoona menuju pabrik Biji Kopi dengan menarik tangan wanita itu. Seolah teringat sesuatu, Suho menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya.

 

Yoona tertegun saat dengan tiba-tiba Suho melingkari leher Yoona dengan syal rajut tebal miliknya dan menarik lebih dalam topi rajut Yoona agar menutupi dengan aman kepala wanita itu. Setelah itu dia tersenyum sambil menepuk kepala Yoona dengan pelan.

 

“Jangan sampai kedinginan”. Kemudian dia melangkah lebih dulu untuk membeli tiket masuk pabrik.

 

Yoona menggigit bibirnya seraya menggenggam ujung syal yang melingkari lehernya. Mengapa dia tidak merasa terlalu bahagia akan perjalanan tur ini? Mengapa yang ada hanyalah rasa pilu dan sedih? Airmata Yoona seakan ingin tumpah saat melihat bagaimana lincahnya kaki Suho melangkah menuju kearahnya. Dia teringat bagaimana pria itu beberapa waktu lalu masih ditopang sebuah tongkat. Menatap sepasang kaki yang melangkah ringan itu tanpa bantuan tongkat membuat Yoona menyadari bahwa hari dimana dia akan melihat Suho kembali diatas panggung semakin dekat.

 

“Ayo kita masuk”. Suho mendekati Yoona dan terdiam sejenak melihat wanita itu menunduk sambil menggenggam ujung syalnya. Suho seakan tahu bahwa mungkin saja Yoona menyadari tujuannya mengajaknya hari itu. Dengan menguatkan hatinya, Suho mengulurkan tangannya dan meraih tangan Yoona dengan lembut.

 

Yoona mengangkat mukanya dan mendapati betapa dekatnya Suho berdiri didepannya. Wajah pria itu terlihat tersenyum tipis. Dengan halus Suho menarik Yoona agar lebih dekat padanya, dia merangkul bahu itu dan berkata pelan. “Jangan pikirkan yang lain….pikirkan saja hari ini”. Suho menatap Yoona dan hatinya bergetar melihat sepasang mata bening itu berkaca-kaca. “Ya, Yoona?’ Suara Suho setengah memohon.

 

Tanpa menjawab Yoona mengangguk dan dengan pelan mereka melangkah bersama turis lainnya memasuki pabrik biji kopi tersebut. Keduanya terseret oleh atmosphere kegembiraan para turis setelah berada didalam. Banyak kali Suho dan Yoona mengambil tempat di pabrik itu untuk selfie. Tawa dan senyum menghiasi mereka, bahkan mereka juga menghabiskan hari di restoran tradisional yang berada di kawasan lahan tersebut setelah mereka mengunjungi museum kopi dan taman rumah kaca dimana disana begitu banyaknya Yoona berpose dengan bunga-bunga yang ada disana.

 

Baik Yoona dan Suho sama sekali tidak menyadari lajunya jarum jam yang terus berjalan hingga ketika menyadarinya, langit telah gelap dan ternyata sedang hujan salju yang sangat deras. Pemilik restoran mencegah mereka mengendari mobil disaat salju demikian lebat seperti itu karena daerah tersebut berada diarea pegunungan.

 

Yoona dan Suho saling berpandangan. “Tapi…kami harus segera kembali…”

 

“Kalian bisa bermalam di motel di dekat museum. Banyak turis menginap disana jika mengalami cuaca seperti ini”.

 

“Tapi kami…”

 

“Kami akan kesana!” Suho memotong bicara Yoona yang membuat Yoona terperangah.

 

Setelah mengucapkan terima kasih pada pemilik restoran, Suho mengajak Yoona menyebrangi restoran dan berlari menuju motel yang berada tak jauh dari museum yang berada diseberang restoran. Mobil mereka terparkir di lapangan parkir yang berada di area pabrik yang berada cukup jauh.

 

Salju menimpa tubuh mereka dengan deras sehingga menembus tebalnya jaket dan parka keduanya. Pada saat memasuki motel tubuh mereka sudah basah oleh salju yang mencair. Di motel tersebut ternyata sudah cukup ramai dengan para turis pada saat Suho meminta kamar.

 

“Yang tersisa adalah kamar suite yang lengkap dengan king bednya”, sang resepsionis berkata dengan ramah.

 

Wajah Yoona memerah dan Suho tersenyum seraya melirik Yoona yang menunduk. Dia mengangguk dan meraih kunci kamar yang diserahkan sang resepsionis. Suho tetap tidak melepaskan kacamata dan maskernya saat berhadapan dengan gadis resepsionis tersebut dan bersama Yoona mereka memasuki lift.

 

Setelah berada di lift, Yoona memukul lengan Suho. “Mengapa kau mengikuti saran ahjusshi itu? Kita bisa menunggu salju menipis di restoran itu”, Yoona protes.

 

Dengan meringis, Suho menjawab ringkas. “Salju demikian lebat dan jarum jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Apa kau ingin berada di restoran itu hingga pagi?”

 

Penjelasan Suho terpaksa diterima oleh Yoona dan dia diam saja saat Suho membuka kunci kamar mereka dan mendapati kamar itu begitu luas dan lengkap dengan penghangat ruangan secara modern maupun tungku perapian. Setelah berada didalam ruangan barulah Yoona menyadari betapa menggigilnya dia. Jaketnya basah bahkan baju didalamnyapun terasa lembab.

 

Suho yang langsung menuju kamar mandi dan segera membuka parka dan bajunya tampak menggantungnya di kamar mandi. Yoona yang melihat Suho keluar dengan bertelanjang dada segera memejamkan matanya. Tubuh atas pria itu terlalu berbahaya untuk diperhatikannya berlama-lama. Suho memiliki perut berotot dan abs yang sangat indah membuat Yoona sesak napas jika menatapnya.

 

Suho tanpa sadar tertawa melihat Yoona yang hanya berdiri kaku ditengah kamar sambil memeluk kedua tangannya. Wajah wanita itu menunduk menghindari menatapnya. Suho meraih handuk dan melingkari benda itu ditubuh atasnya yang telajang agar Yoona tidak canggung.

 

“Hai..aku sudah memakai handuk”. Nada suara Suho terdengar mengandung tawa membuat Yoona segera menoleh dan bernapas lega bahwa abs sempurna itu telah bersembunyi didalam handuk yang melingkari tubuh atas Suho.

 

“Tidakkah kau akan  masuk angin?” cetus Yoona.

 

“Tidak akan. Aku sudah menjemur bajuku dan tidak lama lagi akan kering. Lebih baik kau juga…” Suho menghentikan kalimatnya saat dia melihat Yoona menatapnya lekat.

 

Suho sama sekali tidak tahu bahwa betapa kuatnya jantung Yoona berlompatan saat menatapnya. Tiba-tiba saja Suho merasa kepalanya pening dan wajahnya memerah. Agaknya hal itu menyadari Yoona yang membuatnya segera bergerak untuk menghindari Suho. Gerakannya yang secara mendadak itu tanpa sengaja membuatnya menginjak kaki Suho dan dia tersandung kearah Suho.

 

Dengan tangkas Suho meraih tubuh Yoona dan tanpa dapat dicegah lagi mereka jatuh terduduk di lantai yang berkarpet tebal itu. Handuk yang melingkari bagian tubuh atas Suho terlempar dan Yoona segera meletakkan telapak tangannya diatas dada berotot Suho.

 

Suho meraih pinggang Yoona dan mendekapnya erat dan saat keduanya mengangkat wajah, keduanya menyadari bahwa tubuh mereka sangat dekat. Sejenak Yoona dan Suho bertatapan dan entah siapa yang memulainya didetik berikutnya bibir keduanya sudah bertemu dan saling melumat dengan mesra. Ada isak tertahan di dada Yoona saat dia memejamkan matanya menyambut bibir hangat Suho. Dia bisa merasakan betapa dengan lembut lidah Suho membelai rongga mulutnya dan dia merangkulkan kedua lengannya ditengkuk pria itu. Dia dapat mendengar detak jantung Suho dimana dada keras pria itu menempel erat didadanya.

 

Suho menjelajahi tiap sudut bibir ranum milik Yoona dengan penuh pemujaan, jemarinya membelai dagu dan leher jenjang Yoona. Bibirnya menyesap lembut  bibir bawah Yoona dan dia mendesah pelan saat kini jari lentik Yoona menyusuri lekuk dada kerasnya. Suho seakan mendengar suara karusel memenuhi isi kepalanya dan tanpa sadar dia sudah melepas jaket Yoona dan melemparkan benda itu jauh-jauh.

 

Sejenak dia menghentikan ciumannya dan membiarkan bibirnya menempel pada bibir Yoona yang membengkak akibat perbuatannya. Napas keduanya saling berbaur diruangan yang sunyi itu.

 

“Aku…aku akan menghentikannya sekarang…” Suho berkata parau dan tangannya yang sudah berada diatas kancing kemeja milik Yoona bergerak menjauh dengan enggan. Dia tidak sanggup menahan perasaannya namun dia tidak ingin membuat Yoona membenci tindakannya.

 

Tapi Yoona justru menahan tangannya dan dia terpaku saat menatap bola mata Yoona yang bening dan indah. Dia bisa merasakan gerakan bibir Yoona yang bergetar saat menjawabnya. “Aku…aku…aku tak ingin kau pergi…”

 

Mendengar kalimat lirih itu membuat Suho memejamkan matanya dan kembali mencium bibir Yoona dengan mesra dan disambut dengan sama mesranya oleh Yoona. Yoona merasakan dinginnya udara dikamar itu menerpa kulit telanjangnya. Dan dengan lembut Suho menggendong Yoona menuju ranjang yang sangat besar itu. Dia berada diatas Yoona dan meletakkan dahinya pada dahi Yoona.

 

“Aku mencintaimu dan berpikir alangkah baiknya jika aku terlahir sebagai orang biasa saja….” Bisik Suho diatas bibir Yoona.

 

Tapi Yoona menggeleng dan jemarinya membelai wajah Suho dan lekuk bibir jantan itu. Sebulir airmata jatuh dari pelupuk matanya. “Tidak…jangan pernah menyesalkan apapun…pikirkan saja hari ini…” ucapan Yoona tenggelam oleh ciuman panjang Suho dan dia mengerang pelan saat dia merasakan betapa dengan lambat jari-jari Suho membelai bahu, lengan dan menangkup payudaranya yang kecil padat.

 

Yoona bisa mendengar suara saat Suho melepas celana jeans milik pria itu dan kembali Yoona merasa udara dingin menyergap kulit pahanya ketika pertahanan terakhirnya telah lepas. Sentuhan jemari dan bibir Suho menyentuh tiap jengkal kulit tubuhnya, hangat dan perutnya seperti dipenuhi kupu-kupu saat dirasakannya kehangatan tubuh Suho menyatu pada kelembutan miliknya.

 

Yoona mencengkram ujung seprai dan memejamkan matanya saat rasa perih dan sakit menusuk dirinya hingga kedalam tulang-tulangnya. Suho tetap mencium Yoona dengan lembut dan bergerak pelan bersama Yoona. Dia meraih lengan Yoona yang mencengkram seprai dan membawanya untuk memeluk punggungnya yang berkeringat. Dia bisa melihat Yoona menangis.

 

“Apakah sangat menyakitkan?” bisik Suho disela ciuman mereka. Dia merasakan betapa kerasnya Yoona memeluk tubuhnya dan kuku wanita itu menancap dikulit punggungnya. Suho berpikir bahwa Yoona akan mengangguk melihat banyaknya airmata yang keluar namun Yoona justru menggeleng dan tersenyum.

 

“Tidak…” Yoona membelai punggung Suho dan mengimbangi gerakan Suho dan berkata sambil kini tangannya beralih pada wajah tampan diatasnya. “Ini adalah hari terbahagiaku, Junmyeon…” dan kalimat Yoona terhenti oleh lumatan bibir Suho.

 

Sesuatu meledak didalam diri Yoona begitu juga yang dirasakan Suho. Dia memeluk Yoona dan menjatuhkan kepalanya diatas dada Yoona dan memejamkan matanya. Yoona membelai rambut kecoklatan terang itu dan berkata halus. “Gomawo sudah muncul dihadapanku hari itu”. Yoona memejamkan matanya dan mereka tertidur.

 

Suara dering ponsel terdengar terus-terusan didalam kantong parka milik Suho. Namun suara itu sama sekali tidak didengar oleh Suho yang sudah terlelap didalam dekapan Yoona.

 

“Apakah diangkat?” Sehun bertanya cemas pada Chanyeol yang terus-terusan menelpon nomor ponsel Suho.

 

Chanyeol menatap Sehun dan Yu Na bergantian. Dia menggelengkan kepalanya. “Tidak diangkat sama sekali”.

 

Yu Na meraih ponsel tersebut dan menatap kecewa bahwa GPS di ponsel Suho tidak aktif. Dia mencoba menghubungi nomor Yoona namun keadaannya sama saja seperti yang dialami Chanyeol. Yoona tidak menyambut panggilannya dan GPSnya tidak aktif.

 

Chanyeol menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kafe. “Mereka sama sekali tidak menyambut panggilan kita dan hanya Tuhan yang tahu apa yang sedang terjadi”.

 

OoO

 

Yoona terbangun oleh usapan lembut ujung jari Suho pada pelipisnya, membuat dia mengerang lirih dan membuka matanya. Dia melihat wajah Suho yang menunduk diatas wajahnya. Aroma maskulin bercampur wangi sabun menerpa penciuman Yoona.

 

Suho menyunggingkan senyum khasnya dan melihat bagaimana Yoona mencelat bangun seraya menarik ujung selimut menutupi dada polosnya. Dia melirik kearah jendela kamar motel yang tampak terang oleh sinar matahari musim dingin dan dia melihat tetesan salju mencair diluar jendela. “Mengapa kau tidak membangunkanku lebih awal?” Yoona beringsut turun dari ranjang dengan melingkari selimut keseluruh tubuhnya.

 

Suho sama sekali tidak beringsut dari tempatnya berdiri dan hal itu membuat tubuh bagian depan Yoona menyapu sekilas dada kerasnya yang kini sudah terbungkus sweater. Merasa akan hal itu membuat wajah Yoona memerah hingga keujung telinganya, Suho sengaja menarik pinggang ramping itu dan mendapatkan reaksi dorongan keras dari kedua tangan Yoona.

 

“Aku..aku harus mandi dulu” sebelum Suho bereaksi Yoona segera setengah berlari menuju kamar mandi.

 

Suho mengusap dahinya seraya tertawa pelan. Dia kearah sofa di kamar itu dan mengeluarkan ponselnya dari saku celananya. Dia menatap benda itu dengan kening berkerut. Dia melihat sebanyak puluhan kali Chanyeol maupun Sehun menghubunginya semalam. Bahkan kedua dongsaengnya itu mengiriminya pesan bukan didalam grup mereka. Isinya mereka mengkhawatirkan kemana dirinya bersama Yoona dan sang manager juga bertanya kabarnya melalui ponsel Sehun.

 

Suho menggigit pelan ujung ponselnya. Dia mengusap rambutnya dan menghela napas. Tentu saja dia tidak mendengar panggilan keduanya, saat itu dia sedang berada dalam dekapan Yoona dimana mereka saling menyentuh satu sama lain bahkan Suho baru menyadari bahwa dia sama sekali tidak memakai pengaman. Namun Suho sama sekali tidak takut akan apa yang akan terjadi, dia sudah bertekad akan melalui semuanya bersama wanita itu.

 

Terdengar suara deheman Yoona yang membuat Suho mengangkat kepalanya. Dia melihat wanita cantik itu sudah berpakaian lengkap dengan jaket dan topi bulunya. Aroma sabun yang wangi menggoda indra penciuman Suho.

 

Yoona tampak melangkah mendekat dan berkata. “Lebih baik kita segera kembali ke Gimcheon. Yu na dan kedua membermu pasti khawatir”.

 

Dan perjalanan mereka menuuju kembali ke Gimcheon berjalan mulus. Suho menyetir tidak dengan terburu-terburu dan kembali mereka menikmati pemandangan yang indah sepanjang menuju Gimcheon. Meski tidak turun salju namun bekas salju semalam membuat kota Gimcheon tampak putih akibat tumpukan salju.

 

Sekilas Suho memperhatikan Yoona yang tampak menatap luar jendela dengan mata meredup. Dalam hati dia mengakui betapa indahnya wanita itu bahkan setelah kejadian semalam, Yoona tampak semakin cantik bagai dewi.

 

Suho sama sekali tidak tahu bahwa saat itu otak Yoona sedang bekerja keras. Saat berada didalam kamar mandi motel, Yoona membuka ponselnya dan mendapati bahwa Yu na telah menghubunginya puluhan kali bahkan adik sepupunya itu mengiriminya pesan berkali-kali. Yu Na hanya menulis. CEK WEBSITE INI.

 

Tanpa pikir panjang Yoona membuka website yang dimaksud dan dia segera terpaku membaca artikel yang terdapat di website tersebut. Itu adalah situs resmi EXO dibawah pengawasan SME dimana disana tertulis bahwa EXO Leader telah sembuh dari cedera lututnya dan akan segera membuka konferensi kembalinya sang leader diatas panggung dua hari lagi. Diartikel itu juga tertulis semua jadwal yang akan di jalani EXO setelah Suho kembali. Persiapan konser yang tertunda bahkan penampilan mereka di DOME, Seoul. Sebuah penampilan terbesar adalah debut mereka di Jepang.

 

Yoona merasakan lututnya bergetar dan menguasai hatinya untuk tidak menangis. Dia menekan dirinya bahwas sejak awal dia sudah mengetahui konsekuensi saat dia menyambut perasaan Suho terhadapnya.

 

Karena dipenuhi segala pikiran itu Yoona tidak sadar bahwa mobil sudah berhenti tepat didepan rumahnya. Dia merasakan ujung jari Suho menyentuh pipinya dan dia tersentak. Dia melihat deretan rumah yang dikenalnya dan dia menoleh Suho. Pria itu tampak memasang cengiran.

 

“Dimana ini?” tanya Yoona setengah bingung.

 

Suho tampak menunduk dan tersenyum. Dia bisa melihat bayangan dua tubuh jangkung keluar dari pintu rumah Yoona disusul oleh sosok Yu na yang lincah. Suho menoleh Yoona yang masih mengusap rambutnya.

 

“Kita sudah sampai..” dan Suho segera mematikan mesin mobil.

 

Seakan baru tersadar, Yoona mengerjapkan matanya dan segera membuka pintu mobil. Dia bergumam pelan. “Aku sama sekali tidak sadar”.

 

Setelah keluar dari mobil, Suho meraih bahu Yoona dan merangkulnya. Dia melihat Chanyeol dan Sehun menatap mereka dengan khawatir. Melihat Yoona dan Suho telah kembali, Yu na segera mendorong tubuh Chanyeol dan memeluk Yoona dengan airmata tumpah.

 

“Eonni…kemana saja kau? Kau tidak mengangkat ponselmu dan aku sangat khawatir!!” Yu Na membenamkan wajahnya dilekuk leher Yoona.

 

Yoona menunduk dan mengelus rambut Yu na. Dia mendengar isakan tangis gadis itu disusul oleh kalimat paraunya. “Jika terjadi hal buruk padamu bagaimana aku menjelaskannya pada Ahjumma”. Seketika itu juga Yoona menyesal telah membuat Yu Na menjadi sangat cemas. Dipeluknya adik sepupunya itu dengan sayang.

 

“Mian ne”.

 

Melihat hal itu membuat Chanyeol juga bertanya penasaran pada Suho yang berdiri disamping Yoona. “Kalian kemana hingga tidak kembali ke Gimcheon?” ada nada menegur didalam suara berat Chanyeol dan Sehun juga mengangguk cepat tanda dia setuju dengan pertanyaan Chanyeol.

 

Suho mengusap rambutnya dan menjawab halus. “Kami terjebak hujan salju disana”. Suho dapat melihat tatapan tidak percaya di sinar mata Chanyeol dan Sehun. Dia tertawa pada kedua dongsaengnya. “Kalian juga pasti tahu bahwa semalam hujan salju”

 

Sehun menghela napas. Dia menyentuh lengan hyungnya dan tersenyum tipis. “Ah…disini juga hujan salju..”

 

“Hanya itukah yang terjadi?” Cetus Chanyeol tiba-tiba membuat Yoona menatap pria muda itu dengan wajah panas.

 

Yoona melirik Suho yang tidak menunjukkan ekspresi apapun justru pria itu menarik lengan Chanyeol dan Sehun. “Ayo kita kembali ke rumah”. Dia menatap Yoona dengan matanya yang tersenyum. “Istirahatlah”. Dia menarik Chanyeol dan Sehun untuk masuk ke mobil.

 

Yoona mengajak Yu Na masuk ke rumah dengan halus. Sementara Suho menyetir mobil memutari komplek untuk kembali pada rumah sewaannya dengan diam. Chanyeol yang duduk disebelahnya segera menatapnya dengan khawatir.

 

“Hyung..kau harus membuka situs resmi kita…kau harus membaca…”

 

“Aku tahu!” potong Suho cepat. Saat itu mobil yang dikendarainya sudah berada didepan rumah sewaannya. Sejenak dia menoleh kekanan dimana berada café cantik milik Yoona.

 

Mendengar suara Suho, Chanyeol dan Sehun terdiam. Mereka tidak ingin berbicara lebih banyak lagi. Saat itu mereka melihat wajah leader sedang terpasang di wajah tampan milik Suho. Mereka mendengar helaan napas Suho sebelum bergerak mematikan mesin mobil dan membuka pintu mobil.

 

“Aku tahu apa yang harus kubaca, Chanyeol..” dengan keras Suho membanting pintu mobil dan setengah berlari menaiki tangga rumah sewaannya.

 

Sehun menyandarkan punggungnya di sandaran bangku mobil dan mengeluarkan keluhan pelan. “Ini akan menjadi sangat rumit!”

 

OoO

 

Yoona sedang mengeringkan rambutnya malam itu ketika pintu kamarnya dibuka oleh Yu na. yoona menoleh dan mendapati gadis itu berdiri dengan kening berkerut. “Ada apa?” Yoona menegur dengan tersenyum lebar.

 

Yu na tampak memainkan gagang pintu sebelum menjawab pertanyaan Yoona. Tampak gadis itu berulang kali menghela napas sebelum menjawab.

 

“Ada tamu untukmu.” Yu na berusaha menghindari tatapan Yoona.

 

Yoona menurunkan handuknya dan meraih sisir. Dia menyisir rambutnya dan memandang Yu na dengan heran. “Tamu? Siapa? Apa aku mengenalnya?”

 

Yu na merasa airmatanya siap runtuh. Hal yang ditakutkannya akan terjadi sebentar lagi. Pemikirannya yang diutarakannya pada Chanyeol dan Sehun sewaktu mereka menunggu Yoona dan Suho semalam akan segera terjadi.

 

“Kau akan segera tahu nanti”. Dan Yu na segera berlari pergi.

 

Dengan mengangkat bahu Yoona berjalan keluar dari kamarnya menuju ruang tamu. Dia melihat dua orang pria sedang duduk menantinya. Yoona mengenal manager EXO diantaranya dan heran melihat pria berkacamata disamping pria besar tinggi itu. Dan dia juga semakin heran mengapa menager EXO mencarinya.

 

Melihat Yoona muncul, sang manager mengangguk sopan dan menunggu Yoona duduk didepannya. Tampak raut kebingungan menghiasi wajah cantik itu. Manager EXO berdehem dan membuka suara.

 

“Nona Yoona?”

 

“Ya”. Yoona menjawab cepat.

 

Sang manager menoleh pria berkacamata berpakaian formal disebelahnya. “Kami, manager EXO dan sekretaris SME ingin bertemu anda secara pribadi dan membicarakan sesuatu..”

 

Jantung Yoona berdebar kencang. “Tentang apakah?”

 

Kini yang menjawab adalah pria berkacamata berwajah datar itu. Suaranya membuat tubuh Yoona merinding.

 

“Kami ingin merundingkan sesuatu bersama anda berkaitan dengan hubungan anda bersama artis kami, Kim Junmyeon atau Suho, EXO Leader”.

 

TBC

38 thoughts on “CALL ME BABY – CHAPTER DELAPAN

  1. seneng liat momen mereka tapi sedih juga karna pasti mereka mau berpisah, ga nyangka mereka akan melakukan hal dewasa hahaha. yah yoona nya di datengin sama manager exo dan pereakilan SM mau diapaintuh. wah eonni keren nih cerita nya makin deg degan

  2. Hubungannya udh sampe segitu.. ntr kalo yoona hamil gmn? Kasihan yoonanya, kasihan suhonya, kasihan member exo yang lain!! Ini manager pasti datang nyuruh yoona putus ma Suho. Klo bsa thor sekalipun Suho udh balik ke seoul, hub dy ma yoona tetap berlangsung tapi di rahasiakan. Ya ya… jng di bikin putus.

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s