CALL ME BABY – CHAPTER SEMBILAN

r-call-me-baby

AUTHOR :KIM SUYOON

 MAIN CAST : SUHO | YOONA | EXO |OTHER CAST : SEO YU NA (AOA) |CATEGORIES : ROMANCE, FRIENDSHIP |LENGHT : CHAPTER |RATING : PG-17

Seorang author pendatang baru, semoga tulisan ini dapat diterima para YoongExo🙂

Segala ide cerita murni milik author dan dilarang untuk mengambil hak cipta ^^  Selamat membaca dan diharapkan respeknya atas karya author untuk meninggalkan jejak setelah membaca dalam bentuk komentar. Happy reading🙂

| DELAPAN |

OoO

aku mengharapkan partisipasi para reader untuk bersedia meninggalkan komentar setelah membaca😉 aku butuh banget loh para reader menjadi sangat aktif ^^ dan kemungkinan untuk chapter selanjutnya author bakalan lambat untuk mempublish karena terbentur oleh beberapa deadline dari pekerjaan author sehari-hari. jadi dimohon kesabarannya ya ^^

OoO

“Kita akan pulang ke Seoul besok, hyung…”

 

Suho menatap Chanyeol yang duduk bersandar di sandaran ranjangnya, pria muda itu membalas tatapan tajam Suho padanya dengan tenang. Suho berdiri tegak disamping jendela kamarnya tanpa bergerak sedikitpun dan sepasang matanya terlihat tidak bersahabat. Namun Chanyeol tidak gentar ditatap demikian oleh Suho. Suara anteng Sehun yang duduk di sofa tunggal dikamar itu membuat Suho mengalihkan tatapannya dari Chanyeol. Diam-diam Chanyeol menghembuskan napas leganya.

 

“Hyung berjanji hanya dua hari saja, bukan?” Tanpa mengangkat matanya dari ponselnya yang berada ditangannya, Sehun berkata lambat.

 

Suho mengeraskan rahangnya dan menjawab perlahan. “Aku tahu…tapi..” perkataan Suho terhenti ketika dia melihat Sehun mengangkat wajahnya dan menunjukkan ponselnya yang terlihat sedang memutar sebuah video yang baru saja di downloadnya.

 

Alis Suho berkerut hampir menyatu. Sehun tampak bangkit berdiri dan berjalan mendekati Suho. Disepasang matanya Suho dapat melihat rasa kasihan padanya. Sehun mengacungkan ponselnya tepat didepan wajah Suho.

 

“Tontonlah video ini dan hyung akan mengerti mengapa tidak ada lagi tawaran bagimu untuk tidak segera kembali ke Seoul.” Sehun meletakkan ponselnya ditangan Suho dan dia membalikkan tubuhnya berjalan ke arah ranjang dimana duduk Chanyeol menatap dengan tegang.

 

Suho menatap ponsel Sehun dan menonton video yang sedang berjalan. Jantungnya berdegup kencang saat menyadari bahwa itu adalah video konfrensi pers yang digelar secara tertutup oleh pihak SME bersama beberapa awak media terkenal di Korea. Seketika kepala Suho terasa pening sehingga dia berjalan kearah sofa tunggal dikamar itu dan menjatuhkan tubuhnya disana. Matanya tak lepas dari layar ponsel jernih Sehun dan telinganya mendengar jelas kalimat yang meluncur dari sekretaris SME itu.

 

“Kami akan menjawab tentang berita yang beredar di kalangan sosial media tentang sosok yang diduga adalah salah satu artis kami yang berada di Gimcheon tersebut bahwa itu bukanlah Suho. Memang benar bahwa Suho sedang menjalani terapi disana namun dapat dipastikan bahwa semua foto yang tersebar bukanlah Suho karena leader EXO tersebut sudah pulih dari cedera lututnya dan akan kembali ke Seoul besok dan akan menggelar konfrensi pers bersama para member akan kembalinya dia dan juga beberapa rangkaian konser yang tertunda akan segera dilakukan begitu juga persiapan debut di Jepang…”

 

Suho menghentikan video tersebut karena dia sudah tahu pasti akhir dari konfrensi pers itu. Dia menunduk seraya menatap kedua lututnya dengan diam dalam beberapa menit membuat Chanyeol dan Sehun menjadi khawatir. Chanyeol bergerak dari ranjang untuk menghampiri Suho namun langkah terhenti saat mendengar suara tegas hyungnya itu.

 

“Aku akan tetap menjalani hubunganku dengan Yoona. Cinta dan pekerjaan dapat berjalan secara seimbang jika aku bisa membaginya”. Suho menatap Chanyeol dan Sehun. Binar matanya menunjukkan betapa dia tidak ingin dibantah.

 

Chanyeol mundur dan kembali duduk di ujung ranjang. Dia menyerah. Dia juga kasihan terhadap Suho dan tidak ingin mengucapkan kalimat apapun begitu juga dengan Sehun. Mereka tidak bisa juga mengatakan bahwa saat ini manager mereka berada di Gimcheon bersama sekretaris SME.

 

OoO

 

“Kami memohon dengan sangat agar Nona menjauhi Suho”.

 

Yoona terdiam saat mendengar suara datar yang dikeluarkan oleh pria kurus yang dikatakan sebagai sekretaris SME. Dia mengedipkan kedua matanya dan menatap dengan lekat pada kedua pria yang duduk didepannya. Dia mencengkram erat ujung roknya dan suaranya bergetar saat bersuara. “Maksud anda….”

 

Manager EXO berdehem dan cepat berkata dengan tidak enak. Bagaimanapun dia juga tidak sanggup mengatakan hal ini pada Yoona namun demi grup yang dibinanya, dia lebih memilih menghancurkan hati gadis cantik tak bersalah itu dari pada melihat EXO hancur. Dengan perlahan pria itu meletakkan sebuah bungkusan tebal berwarna cokelat diatas meja tepat didepan hadapan Yoona.

 

Yoona menatap itu dengan curiga. “Apa ini..?”

 

“Kami akan memberikan uang secukupnya untuk anda asalkan anda bersedia meninggalkan Suho”, jawab Manager EXO.

 

Wajah cantik Yoona memerah. Dengan tidak senang dia mendorong bungkusan itu kembali pada pemiliknya. “Saya tidak  bisa menerimanya!”

 

Pria bertubuh kurus itu menatap Yoona dengan tajam. Dengan tenang dia bersuara membuat Yoona terdiam. “Anda mencintai artis kami… Suho?”

 

Yoona memandang pria itu dengan jengkel. Dia menjawab cepat. “Saya mencintai Kim Junmyeon!”

 

Pria kurus itu tersenyum seraya membenarkan letak kacamatanya. Sepasang matanya menatap Yoona dengan ramah. “Tentu anda ingin orang yang anda cintai bahagia bukan? Maksud saya..anda ingin Suho bahagia bukan?”

 

Yoona menatap pria itu dengan berbagai tanda tanya. Dengan gagah dia menjawab. “Tentu saja saya ingin Junmyeon bahagia. Apapun akan saya lakukan agar dia bahagia..”

 

“Maka tinggalkanlah dia!”

 

Yoona tersentak kaget akan kalimat tegas itu. Lama dia menentang pandang mata pria kurus itu. Terdengar suara tawa pelan pria itu. “Jika anda mencintai Suho dan ingin dia bahagia maka anda harus mendukungnya. Jika Suho tetap bersama anda maka karir yang sedang dijalaninya akan hancur dalam waktu satu malam. EXO sedang dalam masa puncak, konser-konser sedang menanti mereka, dalam waktu dekat mereka akan melakukan konser di Dome, debut di Jepang, bahkan tur Amerika.” Pria itu berhenti sejenak untuk melihat reaksi Yoona. Dia tersenyum kecil saat melihat pertahanan wanita itu runtuh. Dengan tenang kembali dia melanjutkan. “EXO memiliki fans yang besar. Merekalah yang berjuang membeli dan mendukung tiap album EXO. Saat ini para member tidak bisa disibukkan oleh urusan cinta. Jadwal mereka sangat padat dan dukungan pada mereka sangat besar. Tentu anda dapat membayangkan jika skandal cinta antara Suho dan anda terkuak, apa yang akan terjadi pada Suho? Pada para member? Mereka sudah berjuang keras untuk mencapai tahap ini. Sebuah pengorbanan kecil dari anda menjadi penentu bagi nasib Suho dan para membernya”.

 

Sepasang mata Yoona terasa panas. Airmatanya siap tumpah dan dia berjuang untuk tidak menangis mendengar penjelasan gamblang tersebut. Bagaimanapun apa yang dikatakan pria itu tepat. Suho dan para membernya akan hancur dalam sekejab jika mereka terlibat percintaan di masa sekarang. Pengorbanan kecil? Ini bukan pengorbanan kecil! Yoona menjerit dalam hati dan tersadar saat pria itu menyodorkan selembar kertas dihadapannya.

 

“Ini adalah surat perjanjian bahwa anda tidak akan pernah muncul dihadapan Suho. Jika anda menandatangani ini, saya dan pihak SME dan EXO sangat berterima kasih pada anda. Tentu anda mendukung mereka bukan? Anda mencintai Suho bukan? Cinta membutuhkan pengorbanan”.

 

Yoona menatap selembar surat perjanjian yang sepertinya memang sudah dipersiapkan kedua pria itu. Yoona memandang kedua wajah pria didepannya. Manager EXO tidak sanggup menatap sepasang mata bening yang kini terlihat berkaca-kaca namun tampak demikian tegar sehingga tidak ada setitikpun airmata yang jatuh saat wanita itu meminta pen pada mereka.

 

“Saya akan menandatanganinya”.

 

“Saya yakin anda memang wanita cerdas dan sangat mencintai Suho. Silakan tanda tangan disini.”

 

Yoona mengeraskan hatinya dan tanpa membaca lagi dia mencoretkan tanda tangannya. Untuk apa aku tahu tulisan yang tercetak disana…Mian ne, Junmyeon…Mian ne…

 

Yoona menatap kepergian mobil yang membawa kedua pria itu pergi. Lama dia berdiri diambang pintu rumahnya menatap kosong pada jalanan didepannya yang sepi. Udara mulai menjadi sangat dingin dan butiran salju kembali turun. Yoona merasa hatinya kosong dan hampa. Bahkan rasanya airmatanya tidak sanggup lagi keluar.

 

Yu na muncul dari ruang tengah dan mendapati Yoona yang masih saja berdiri diambang pintu yang terbuka dengan diam. Dia mendekati sepupunya itu menyentuh bahu mungil itu. “Eonni…”

 

“Apakah cinta begitu menyakitkan? Aku mencintai orang yang tepat diwaktu yang tidak tepat….dan kini aku harus terpaksa melepaskannya…”

 

Terdengar suara Yoona yang perlahan dan halus membuat Yu na membalikkan tubuh Yoona dan dia terkejut melihat aliran airmata yang memenuhi wajah kakak sepupunya yang cantik. “Ya Tuhan, Eonni…” Yu Na segera memeluk Yoona yang langsung balas memeluknya. Tanpa sadar Yu Na juga ikut menangis sambil mengelus punggung Yoona yang seketika dirasakannya begitu kecil dan rapuh.

 

“Tabahlah Eonni…tabahlah…menangislah sepuasnya saat ini setelah itu tegarlah..”

 

Yoona menyembunyikan wajahnya dilekuk leher Yu na dan membiarkan airmatanya tumpah disana. Dia menangis dalam diam dan untuk sejenak kedua wanita itu berpelukan. Tak lama kemudian Yoona melepaskan pelukannya dan mengusap airmatanya.

 

“Aku akan ke kamar. Terima kasih Yu Na…” tanpa menanti jawaban Yu na, Yoona setengah berlari menuju tangga.

 

Yu Na menghela napas dan mengusap airmatanya. Hal itu sudah diduganya bersama Chanyeol dan Sehun. Tapi dia tidak mengira bahwa demi memisahkan kakaknya dengan Suho pihak management membuat surat perjanjian. Dengan lemas Yu na menutup pintu dan menguncinya. Dia mematikan lampu ruang tamu dan berjalan lambat memasuki ruang tengah dan duduk merenung didepan televisi yang menyala.

 

Yoona memasuki kamarnya dan dia langsung terduduk di lantai kamarnya yang dingin. Dia memeluk kedua lututnya dan kembali menumpahkan airmatanya. Dia akan mengikuti kata-kata Yu Na, dia akan menangis sekarang dan akan menjadi tegar sesudahnya. Didalam hatinya berkali-kali dia mengucapkan nama Suho. Junmyeon…junmyeon…Mian ne..Mian ne…

 

Sementara itu Suho berdiri ditepi jendela kamarnya menatap jendela kamar Yoona yang tertutup gorden. Dia tidak melihat cahaya lampu dibalik kaca jendela tertutup itu. Suho berulang kali menghela napas. Dia menoleh dan mendapati Chanyeol dan Sehun tertidur dikamarnya, diatas ranjangnya dengan posisi berantakan. Mereka baru saja membantunya mengemasi pakaiannya dan jatuh tertidur begitu saja. Suho mengusap rambutnya dengan gusar. Besok pagi dia akan kembali ke Seoul. Managernya sudah menelponnya dan mengatakan sedang berada di hotel dan akan menjemputnya besok pagi. Dengan mengepalkan tinjunya, Suho menekan kaca jendela dengan perasaan tidak menentu.

 

OoO

Pagi-pagi sekali Suho sudah siap dengan parkanya dan beannienya. Dia tidak lagi memakai kacamata tipisnya dan dia hanya duduk diam di sofa yang ada diruang tamu rumah sewaan itu. Terdengar derap langkah kaki menuruni tangga. Chanyeol dan Sehun setengah berlari menuruni tangga dengan membawa koper Suho.

 

“Hyung..managernim sedang menuju kemari…!” suara Chanyeol terhenti saat lengan Sehun menahan dadanya. Maknae itu memberi isyarat pada Suho yang hanya duduk diam di sofa dengan wajahnya yang berkerut.

 

Chanyeol menatap Suho dan berjalan perlahan mendekati. Suho mendengar langkah kaki kedua membernya yang tepat berada disampingnya. Dengan perlahan dia bangkit berdiri dan menatap Chanyeol dan Sehun.

 

“Aku akan menemui Yoona!” dan tanpa mendengar apapun dari mulut kedua pria muda itu, Suho sudah berjalan cepat menuju keluar rumah ditatap oleh Chanyeol dan Sehun.

 

Chanyeol menggelengkan kepalanya dan mengusap dahinya. Dia menatap Sehun dengan bimbang. “Apakah semua ini harus terjadi?”

 

Sehun menggembungkan kedua pipinya dan duduk di sofa bekas Suho. Dia mendongak menatap Chanyeol. “Aku tidak tahu, Hyung….aku tidak tahu…”

 

Sementara itu Yoona sedang berdiri di meja konter kasirnya membelakangi pintu masuk kafe. Pagi itu belum ada sama sekali pelanggan dan Yoona hanya berdiri dengan diam bersama pikirannya. Sepasang matanya yang indah terlihat membengkak sehabis menangis semalaman. Telinganya mendengar suara pintu masuk kafenya didorong seseorang dan dia juga menangkap gerak langkah seseorang mendekatinya. Yoona memejamkan matanya sejenak saat menyadari siapa yang kini telah tepat berdiri dibelakangnya.

 

“Yoona…” Suara Suho terdengar ragu saat dia melihat Yoona sama sekali bergeming akan kedatangannya. Dia mencoba mengulang kembali kalimatnya. “Yoona…aku akan kembali ke Seoul pagi ini”.

 

“Aku tahu!” dengan cepat Yoona bersuara membuat Suho terdiam sejenak.

 

Suho menatap Yoona sama sekali tidak membalikkan tubuhnya. Dia menjadi penasaran. Dengan halus dia menyentuh bahu Yoona. “Yoona…kumohon berbaliklah…aku berjanji akan segera menghubungimu setelah sampai di Seoul dan menyempatkan untuk ke Gimcheon menemuimu..kita akan bersama beberapa hari…”

 

“Tidak usah!” suara Yoona memutus kalimat Suho. Sekuat tenaga Yoona mengeraskan hatinya, menahan airmata yang kembali akan tumpah saat dia berkata demikian. Hatinya terasa sesak saat dia harus mengucapkan kata yang bertentangan dengan inginnya.

 

Suho terdiam mendengar suara dingin Yoona. Tangannya yang memegang bahu Yoona terlepas begitu saja saat wanita itu berbalik menatapnya. Wajah Yoona terlihat datar dan tampak wanita itu menghindari bertatapan dengannya. “Kembalilah ke Seoul tanpa mengucapkan janji apapun padaku. Pergilah dan jangan kemari lagi. Aku tidak ingin bertemu denganmu lagi, Suho!” Yoona sengaja mengucapkan nama panggung yang dimiliki pria yang kini tengah menatapnya dengan tidak percaya.

 

Suho sungguh tidak percaya akan pendengarannya mendengar kalimat Yoona. Dia tertawa tidak enak saat mencoba memegang kedua bahu Yoona. “Apa yang kau katakan? Mengapa kau tidak ingin bertemu denganku lagi? Mengapa mengucapkan nama panggungku dan bukan Junmyeon lagi? Yoona-yah..ada apa? Apakah aku telah membuat kau marah?”

 

Sepasang mata Yoona terasa panas dan dia benar-benar berjuang keras agar tidak menangis. Dia menggigit bibirnya sehingga terasa sakit. Dia tidak sanggup menahan hatinya saat melihat wajah Suho. “Apa hakku marah pada seorang idola sepertimu? Aku baru menyadari bahwa kita tidak cocok. Aku ingin kita kembali pada kehidupan kita masing-masing sebelum kau datang kemari. Aku tidak akan mengenalmu lagi dan kembalilah pada kehidupanmu”. Yoona berusaha melepas pegangan kedua tangan Suho pada bahunya saat dilihatnya sebuah van milik Manager EXO terparkir diseberang kafenya. Dia juga melihat sosok Chanyeol dan Sehun yang menuju kafenya.

 

“Mengapa kau jadi begini?!” Suho berseru tidak puas saat melihat bagaimana Yoona berusaha menepis tangannya.

 

“Lepaskan aku! Pergilah cepat! Lupakan semuanya tentang Gimcheon dan aku!” Yoona mendorong tangan Suho sekuat tenaga dan membentak Suho tepat Chanyeol dan Sehun memasuki kafe dan terpaku di tempat.

 

Suho benar-benar tidak percaya akan penolakan Yoona. Dengan penasaran dia kembali ingin meraih Yoona dalam pelukannya tapi kembali Yoona menggeleng dan menepis tangannya. “Pergilah Kim Junmyeon!!” seru Yoona bergetar. Dia sudah hampir tidak mampu bertahan lagi.

 

Tapi Suho tidak akan menyerah dan dia mengguncang bahu Yoona dengan setengah serak. Ada rasa nyeri dihatinya melihat apa yang dilakukan Yoona padanya. Sebuah rasa ketakutan menyeruak dihatinya.

 

“Apa yang membuatmu menjadi seperti ini? Lupakah apa yang sudah kita lalui selama ini! Katakan padaku apa yang terjadi!”

 

Yoona memalingkan wajahnya. Kini segulir air matanya jatuh juga. Dengan parau dia menjawab lirih. “Aku tidak mencintaimu!” Tuhan! Aku mencintainya! Aku mencintainya dengan segenap hatiku! Yoona menjerit didalam hatinya.

 

Chanyeol dan Sehun menutup mulut mereka dengan tangan untuk menahan rasa kaget mereka mendengar kalimat Yoona. Bahkan Suho sendiri terdiam bagai patung mendengar kalimat Yoona. Pegangannya pada bahu mungil itu mengendur membuat Yoona menatap Suho diantara linangan airmatanya. Hatinya hancur melihat wajah terluka dari pria yang membuatnya jatuh cinta.

 

“Puas? Aku tidak mencintaimu….aku hanya memanfaatkan status idolamu untuk merasakan bagaimana rasanya menjadi kekasih seorang idola besar sepertimu…” tidak! Aku mencintaimu dengan tulus!

 

Suho menggelengkan kepalanya. “Kau bohong! Aku tahu kau bohong! Aku tahu kau mencintaiku sama sepertiku, Yoona…” getaran suara Suho bagai sembilu menusuk jantung Yoona. Tapi Yoona tidak bisa mundur lagi. Lewat matanya dia bisa melihat bayangan manager EXO bersama pria kurus semalam diluar kafenya.

 

Yoona menggerakkan kedua tangannya dan mendorong halus dada bidang Suho agar pria itu menjauh darinya. “Aku tidak mencintaimu…pergilah…dan sukseslah akan karirmu….lupakan aku..aku tidak mencintaimu…” Yoona menunduk dan tanpa perlawanan pegangan Suho terlepas pada bahunya.

 

Dengan cepat Yoona membelakangi Suho. Sepasang mata Suho kini terasa panas. Dia menatap punggung ramping itu dengan hancur. Dia sama sekali yakin bahwa ucapan Yoona bukanlah yang sesunguhnya. Dia melangkah mendekat namun suara rendah Sehun tepat berada dibelakangnya.

 

“Hyung…ayo kita pulang…” Sehun mengajak dengan halus.

 

Suho memejamkan matanya dan menarik napasnya dengan berat. Dia mengepalkan kedua tangannya. Dia melihat bahwa Yoona sama sekali tidak ingin menatapnya lagi. Dia tidak tahu bahwa Yoona menangis dalam diam. Betapa kerasnya wanita itu mengigit bibirnya agar sedu sedannya tidak terdengar.

 

“Hyung…” kembali Sehun bersuara.

 

Suho membuka matanya dan membuka kepalan tangannya. “Baiklah..jika itu inginmu..aku akan kembali ke Seoul..aku tidak akan muncul lagi dihadapanmu. Tapi kau tak bisa menghentikan cintaku padamu. Suatu hari aku akan mendapatkanmu lagi karena aku tahu kau masih mencintaiku”. Suho menatap Yoona masih tidak bereaksi. Dia menghela napas. Dia mundur selangkah demi selangkah. “Sampai jumpa, Yoona…” dengan tegar Suho membalikkan tubuhnya dan berjalan cepat menuju keluar kafe tanpa menoleh. Dia menyambar lengan Chanyeol agar segera keluar bersamanya.

 

Sehun masih menatap tubuh belakang Yoona yang baginya tampak sangat rapuh. Dengan mengepalkan kedua tinjunya, Sehun membungkukkan tubuhnya. Sebuah kalimat tulus terucap oleh mulutnya. “Gomawo Noona telah menjadi penguat Hyung saat dia terpuruk. Terima kasih sudah mencurahkan kasih sayangmu padanya. Aku sebagai saudara termudanya mengucapkan terima kasih. Aku tahu kau sangat mencintai Hyung…aku turut menyesal dengan apa yang telah terjadi”.  Sehun melihat bahwa bahu Yoona sedikit berguncang. Dia menegakkan kembali tubuhnya dan berjalan lambat meninggalkan kafe yang sangat berkesan baginya dan Chanyeol.

 

Suara pintu terdengar telah tertutup dan suasana kafe telah menjadi sepi yang menyakitkan. “Aaaarrgghh…” barulah Yoona mengeluarkan suaranya, menumpahkan tangisnya diatas meja konter. Dari balik dapur Yu Na segera keluar dan memeluk Yoona.

 

Melihat kemunculan Yu Na, Yoona segera balas memeluk gadis itu. Tangisnya pecah dipelukan Yu Na. Dia bersuara parau dan membuat hati Yu Na teriris. “Aku mencintainya, Yu Na…aku mencintainya…dia segalanya bagiku…aku bohong mengatakan aku tidak mencintainya…aku mencintainya….”

 

Air mata Yu Na mengalir deras. Dia mengangguk berulang kali seraya mengusap punggung Yoona dengan penuh sayang. “Ya..eonni..aku tahu..aku tahu kau mencintai Suho Oppa….aku tahu…menangislah…” dan Yoona benar-benar meruntuhkan ketegaran hatinya dan menumpahkan semua airmata dan kesedihannya.

 

OoO

 

Suho menatap luar jendela van kearah seluruh kota Gimcheon. Dipelupuk matanya masih tercetak raut wajah Yoona, kafe mungil yang cantik, pertemuan pertama mereka, ciuman pertama mereka hingga hari terakhirnya di Gimcheon.

 

“Ah!” Suho menyandarkan kepalanya dan mengusap dahinya. Sebulir airmata jatuh dipipinya membuatnya memijit hidungnya agar airmatanya tidak mengalir lagi. Hatinya terlalu sakit dan remuk redam. Semuanya bagai mimpi baginya dan membuatnya ingin segera terbangun. Tapi dia tahu bahwa itu semua bukanlah mimpi.

 

Chanyeol dan Sehun menatap Suho dengan hati susah. Mereka melihat airmata yang meloncat dari sepasang mata Suho. Mereka tahu bahwa Suho menangis dan mereka tidak ingin mengganggu sang leader. Chanyeol menyandarkan punggungnya dan menatap langit-langit mobil. Dengan suara beratnya, dia berkata lambat.
“Saat ini mungkin berpisah…tapi hanya Tuhan yang tahu untuk dimasa depan…”

 

Suho menoleh Chanyeol dan menatap pria itu dengan lekat. Chanyeol menoleh dan tersenyum. “Benarkan? Mungkin saat ini berpisah adalah satu-satunya jalan terbaik…tapi masa depan siapa yang tahu? Ingatlah kalimat Noona saat terakhir kali…sukseslah akan karirmu! Dia ingin kau kuat dan bertahan..dia ingin kau sukses dan berhasil…maka tunjukkanlah itu padanya…itulah bukti kau mencintainya, hyung..aku yakin dia pasti akan melihat perkembanganmu…perjalanan karir kita…”

 

Suho menyerap kalimat Chanyeol dan dia bisa melihat sepasang mata jenaka itu sangat bersungguh-sungguh. Suho menepuk bahu Chanyeol dan tersenyum tipis. “Kau benar..aku akan sukses..EXO akan sukses…Yoona akan melihat bukti cintaku…gomawo Chanyeollie..Sehunnie..”

 

Tiga jam perjalanan yang dilalui oleh ketiga member tersebut hingga pukul 12 siang tepat mereka telah sampai di Seoul. Van yang membawa mereka ternyata langsung menuju gedung SME dimana Suho dapat melihat deretan awak media yang berjejer didepan pintu masuk SME. Alisnya berkerut heran begitu juga Chanyeol dan Sehun.

 

Sang manager melihat raut wajah bingung ketiga member itu dan tanpa menoleh dia bersuara tenang. “Member yang lain sudah menunggu di gedung. Dalam waktu satu jam kedepan kalian akan mengadakan konferensi pers. Suho harus mengumumkan kepulangannya dari terapi selama ini dan semua jadwal konser akan kembali seperti semula”.

 

Suho menatap pandang mata sang manager tepat van mereka sudah berhenti. “Bukankah pihak SM sudah mengumumkannya kemarin bahwa hari ini aku sudah kembali?”

 

Manager EXO memutar tubuhnya untuk menatap Suho. “Ada sejuta pertanyaan wartawan yang harus kau beri keterangannya”.

 

Rahang Suho mengencang. Dia menjawab datar. “Jika ada yang tidak harus kujawab aku tidak perlu memberikan keteranganku pada mereka”. Setelah itu Suho membuka pintu dan turun dari van. Beberapa kamera milik fans segera menyambut Suho. Dengan senyum seperti biasanya, Suho tetap menyapa para fans.

 

“Suho oppa!”

 

“Oppa!”

 

Setengah berlari dengan wajah menunduk Suho menaiki tangga gedung. Manager EXO menghela napas dan menatap Chanyeol dan Sehun. Dia menggerakkan kepalanya. “Turunlah kalian dan bersiaplah. Oke…”

 

Chanyeol dan Sehun mengangguk dan mereka turun dari van. Suara-suara teriakan serta jepretan kamera ponsel menyambut mereka. Dengan sopan keduanya melambai kecil pada para fans dan berlari menaiki tangga gedung menyusul Suho.

 

“Chanyeol Oppa!! Kau membawa Suho Oppa kembali.”

 

“Chanyeol Oppa!! Saranghae!”

 

“Sehun Oppa!!”

 

Sesampai pada ruangan EXO, Chanyeol dan Sehun melihat member lain sedang memeluk Suho dengan girang. Chanyeol dan Sehun segera mengikuti stylist mereka untuk mengganti pakaian dan mengatur rambut mereka. Suho tampak duduk disamping Chanyeol untuk dirapikan rambutnya. Wajah pria itu dibersihkan dan tetap saja terlihat datar. Suho tampak tidak banyak bicara membuat Chanyeol khawatir.

 

Tangannya menggapai paha Suho dan menepuk pelan. Suho menoleh dan mengangkat alisnya.

 

“Jawab saja pertanyaan yang kau anggap pantas untuk dijawab, hyung. Tenang…ada aku disampingmu..aku bisa mengalihkannya..” bola mata bulat Chanyeol sangat bersungguh-sungguh membuat hati Suho terharu.

 

Suho tersenyum dan menepuk punggung tangan Chanyeol. “Baiklah”.

 

Setengah jam kemudian EXO telah siap dan mereka semua berjalan menuju ruangan dimana diadakan konferensi pers. Satu persatu member dipanggung menaiki panggung dan mereka semua duduk berjajar di meja panjang dihadapan puluhan awak media dengan sinar kamera yang selalu berkelebatan menerpa mereka. Para manager tampak berdiri di samping panggung menatap para member yang mulai menyapa para wartawan yang diawali oleh Suho sebagai leader.

 

Dan bagai air bah berbagai pertanyaanpun mulai bermunculan seputar kesembuhan sang leader dari cedera, jadwal konser yang tertunda selama ini, debut di Jepang serta rencana tur Amerika. Semua pertanyaan dapat dijawab dengan mulus oleh para member hingga sebuah pertanyaan yang dilontarkan oleh majalah luar negeri membuat para member terdiam.

 

“Menurut sebuah rumor beberapa saat lalu anda diketahui sedang di Gimcheon dan bersama seorang wanita bukan selebriti. Namun tak lama kemudian berita itu lenyap dan sebuah pernyataan dari pihak menegement mengatakan itu bukanlah anda. Sekarang anda sudah ada disini dan kami meminta penjelasan langsung dari anda, Suho. Apakah itu anda?”

 

Yang terdiam bukan hanya Suho dan para member serta pihak management, Yoona yang berada di Gimcheon juga terdiam saat dia menonton streaming konferensi pers itu bersama Yu Na. Sisa-sisa airmatanya masih membayang diwajahnya yang sembab, jantungnya berdebar menanti jawaban Suho. Dia berdoa agar Suho tidak memberikan keterangan apapun. Dia berdoa apabila Suho menjawab, dia berharap pria itu mengatakan bahwa semuanya adalah bohong.

 

Suho mengepalkan tinjunya diatas meja dan bibirnya tampak membuka hendak menjawab namun telapak tangan Chanyeol menutup  kepalan tinju sang leader. Suho menoleh Chanyeol yang kini tersenyum pada para wartawan. Dia menarik microphonenya dan dengan senyum lebar menjawab pertanyaan sang wartawan.

 

“Leader kami sudah berada disini sendirian saja bersama kami sudah cukup menjelaskan segalanya. Jadi akan lebih baik jika sekarang kita membahas persiapan kami untuk konser di Dome dua minggu kedepan. ExoL sudah sangat tidak sabar, benar bukan?”

 

Pernyataan Chanyeol yang lantang dan jelas membuat para wartawan bersorak dan pertanyaan barupun kembali terlontar dan langsung dijawab oleh Kai. Semua wajah para member terlihat lega dan Suho menatap Chanyeol yang mengedipkan matanya. Membernya itu menepuk punggung tangannya dan kembali menatap para wartawan.

 

Diam-diam Suho menghela napas dan kembali menatap kedepan. Dia berterima kasih pada Chanyeol. Baik Yoona yang berada di Gimcheon juga menghembuskan napas leganya. Dia menatap wajah Suho yang terlihat sangat tampan dengan setelan hitam dan tatanan rambut yang menampakkan dahinya yang bagus. Aura seorang idola terpancar pada diri Suho dan member lainnya. Yoona semakin menyadari bahwa dia tidak pantas menyela diantara aura itu. Dia juga menyadari mereka memiliki fans yang sangat besar. Siapa dirinya ingin bersama Suho?

 

Yoona mengusap ujung matanya yang mulai berair. Dia menyerahkan ponsel itu kepada pemiliknya. Yu Na menatap Yoona dengan lekat. “Kau tidak ingin menontonnya hingga selesai, eonni?” Dia melihat Yoona beranjak dari duduknya dan mulai memakai  apronnya dan bersiap menuju kafe.

 

Yoona menoleh Yu na dengan tersenyum. “Hidup harus terus berjalan bukan? Junmyeon disana juga akan memulai kesibukannya. Mengapa aku tidak?” setelah berkata demikian Yoona berjalan menuju kafe.

 

OoO

 

Semua persiapan untuk konser di Dome sebelum konser mulai dilakukan. Latihan-latihan yang menguras energipun sudah dijalankan. Para member selalu pulang menjelang pagi ke dorm dan hanya mendapatkan tidur secukupnya. Suho berusaha keras mengejar ketinggalannya selama terapi beberapa bulan di Gimcheon dan terkadang mendapat telepon dari Jae Hee menanyakan perkembangan lututnya. Dan Suho akan menjelaskan bahwa lututnya sudah benar-benar sembuh. Kadang diakhir percakapan terbesit ingin Suho untuk menanyakan keadaan Yoona namun itu semua dibatalkannya. Dan jika rasa rindu menyeruak dihatinya, dia akan sanggup menatap layar ponselnya selama bermenit-menit disela latihan padatnya. Para member tidak akan membiarkan Suho berada dalam keadaan seperti itu dan mereka akan selalu berada disekitar Suho untuk menarik perhatiannya. Namun ada kalanya mereka menyerah jika Suho sudah berdiri ditepi jendela saat salju turun, mereka tidak akan mengganggu pria itu. Dan tanpa terasa konser di Chinapun tiba sebelum mereka melakukan konser di Dome.

 

Sementera itu di Gimcheon, Yoona seperti biasa berada di kafenya dan dengan senyumnya yang indah itu akan membuat kopi dan melayani para pelanggan manula yang datang. Yu Na sangat lega melihat usaha Yoona untuk membuat dirinya tegar meskipun dia tahu kadang kakak sepupunya itu akan lama sekali menatap rumah sewaan bekas Suho yang berada tepat didepan kafe mereka. Sepasang mata indah Yoona seakan mengembara jauh kebelakang di masa-masa rumah itu masih ada penyewanya yang tampan dan baik hati. Jika kenangan itu hadir tanpa terasa sepasang matanya akan basah dan dia segera menghapusnya dengan tissue yang ada dibawah konter kasir.

 

Yoona juga menonton secara steaming ketika untuk pertama kalinya Suho konser bersama EXO setelah masa terapinya usai. Namun ditengah streaming, Yoona memilih untuk berhenti dan membiarkan Yu Na yang menonton hingga usai. Yoona akan memasuki kamarnya dan menatap mawar porselen pemberian Suho dihari terakhir kebersamaan mereka. Yoona meraih benda itu dan menciumnya lembut. Dia akan berjalan menuju jendelanya dan menyibak gorden jendela kamarnya dan menatap jendela kamar cermin diseberang yang kini tampak gelap. Yoona tersenyum dan menutup kembali gordennya dan duduk diujung ranjangnya. Sambil memeluk mawar porselen itu Yoona berkata lirih. “Aku rindu…rindu padamu…”

 

Suho menatap langit Guangzhou malam itu sehabis konser melalui balkon kamar hotelnya. Dia nyaris melupakan keberadaan beberapa sasaeng yang mengikuti EXO sejak konser berakhir dan kemungkinan besar sedang menguntit hotel mereka. Suho menatap layar ponselnya, berkali-kali jarinya mengusap layar yang terkunci itu. Dia menatap nama Yoona di kontaknya dan jarinya maju mundur untuk menekan nomor tersebut. Ketika dia nyaris menekan call, sebuah lengan melingkari bahunya dan dia menoleh mendapati Chanyeol dan Baekhyun yang berdiri di kiri kanannya.

 

“Sudah larut, hyung. Bahkan maknae kita sudah tidur”, senyum Baekhyun sambil melayangkan matanya kearah dalam dimana Sehun sudah tertidur nyenyak.

 

Dengan tubuhnya yang amat jangkung, Chanyeol dapat melihat jelas layar ponsel Suho yang sedang menampilkan nama kontak Yoona. Lalu dengan matanya juga dia dapat melihat beberapa bayangan orang diluar tembok hotel yang sedang memantau kamar hotel mereka. Chanyeol mengulurkan tangannya menarik ponsel itu beserta pemiliknya.

 

“Ayo masuk, Hyung…ada beberapa sasaeng diluar sana dan juga udara sangat dingin. Aku khawatir akan lututmu meskipun kau bilang sudah sembuh total. Kita harus menjaganya, bukan?”

 

Suho menyadari gerakan Chanyeol yang menarik ponselnya dari tangannya. Suho menghela napas dan diam saja diseret kedua dongsaeng itu memasuki kamar dan Baekhyun segera menutup pintu balkon. Ketika pintu itu tertutup, suaranya bagai menyudahi kenangan Suho akan kebersamaannya  bersama Yoona.

 

OoO

 

Pagi itu Yoona membuka pintu kafenya dan menghirup udara segarnya yang tanpa sebutir saljupun. Langit Gimcheon terlihat cerah dan awan putih berarak indah diatas sana membuat Yoona tersenyum. Matanya jatuh pada pintu rumah sewaan yang tertutup diseberangnya. Ditangannya yang menggenggam sebuah lonceng kecil, Yoona bergumam pelan pada pintu yang tertutup itu. “Selamat pagi, Junmyeon”.

 

Setelah itu dia menarik kursi yang sudah disiapkannya. Dia menaiki benda itu dan sudah memutuskan akan memasang sebuah lonceng kecil diatas pintu kafenya. Yoona sudah memikirkan untuk memulihkan perasaannya dengan dimulai dari pintu kafenya. Dia ingat bagaimana seringnya Suho mendorong pintu itu dengan diikuti suara ketukan tongkatnya. Yoona berusaha menata hatinya dengan menggantung sebuah lonceng kecil yang akan berbunyi tiap kali pintu itu terbuka dan Yoona tidak akan mencoba menatap penuh harap lagi akan kemunculan Suho.

 

Selagi Yoona sedang memasang lonceng itu, dia sama sekali tidak menyadari bahwa ada sesosok jangkung dengan setelan jasnya yang licin sedang berjalan mendekati tempatnya berada. Seorang pria berwajah tampan dengan rambut berpotongan pendek dan sebuah anting bulat kecil berada di cuping telinganya. Sepasang tangannya terlihat berada didalam saku celana linennya yang licin. Dia menatap Yoona dengan pandangan lembut dan ada senyum tipis terukir dibibirnya yang bagus.

 

Yoona melihat dengan puas hasil lonceng yang digantungnya saat dirasakannya sebuah rasa pusing melandanya sejenak, membuatnya sedikit limbung sehingga dia nyaris jatuh dari kursi yang dinaikinya.

 

“Oh….!!!” Seruan kaget terlontar dari mulut Yoona saat dirasakannya tubuhnya hampir jatuh bertepatan sepasang lengan meraih pinggangnya menahan tubuhnya. Sebuah suara tenang terdengar di telinga Yoona.

 

“Sama sekali tidak berubah. Kau tetap selalu kurang hati-hati, Yoona…”

 

Alis Yoona berkerut mendengar suara yang tak asing itu. Dia membalikkan tubuhnya selagi pria yang menolongnya masih memegang pinggangnya. Dia menutup mulutnya dengan kaget sekaligus tidak percaya pada pandangannya. Pria jangkung tampan yang sudah sangat lama tidak dilihatnya sejak mereka lulus SMA di Busan. Jika dulu pria itu berambut cukup panjang dan meskipun sekarang rambut itu sudah nyaris pelontos, namun sama sekali tidak mengurangi ketampanannya yang luar biasa. Pria itu sama sekali tidak berubah dan bahkan senyum tipis berkesan dingin itu masih saja sama namun pandangan mata itu selalu bersinar lembut. Teman masa kecilnya. Teman tempatnya mengadu.

 

“Kau….kau…” sangking tidak percayanya, Yoona tergagap.

 

Pria itu tertawa sehingga deretan giginya yang putih terlihat jelas. Dia melepaskan lengannya dari pinggang Yoona dan berkata lambat. “Ya..aku…sudah lama tidak bertemu, Yoona…”

 

Sementara itu di Seoul, Suho sedang berlatih diruang latihan sehari sebelum penampilan perdana mereka di Dome. Dengan mungusap peluh, Suho menuju loker dan mengeluarkan ponselnya. Tidak ada seorangpun di ruang latihan itu dan dengan jantung berdebar Suho menekan nomor kontak Yoona. Terdengar suara dering diseberang. Dering yang terus menerus. Dering panjang yang tidak bersambut sama sekali. Karena pada saat itu Yoona sedang berada diluar kafenya, memasang lonceng pada pintu kafe.

 

TBC

26 thoughts on “CALL ME BABY – CHAPTER SEMBILAN

  1. Kyaaaa (0.0) Aku terlarut dalam cerita sampai2 nggak comment di chapter2 sebelumnya (0.0)
    Mian ne, Author 😁 maafkanlah readermu ini 😂
    Btw, aku nggak bisa bayangin siapa namja yg barusan muncul. Kris Gē kah?

  2. aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa….
    kirain itu tadi suha
    tapi suha lagi di seoul,,,
    terus siapa min,,
    males ah penasaran

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s