[Freelance] Married without Love (Part 8)

yoona poster

Tittle : Married Without Love

Main cast : GG’s Im Yoona & Wu Yi Fan a.k.a Kris Wu

Other cast : EXO’s Sehun, EXO’s Chanyeol, GG’s Kwon Yuri as Im Yuri

Rating : 17+

Genre : Romance, Sad, Little Comedy.

Sabtu tengah malam pantai Nishi di pulau Hateruma begitu sepi, hiruk pikuk pesta yang di adakan di pantai ini telah berakhir sejak satu jam yang lalu. Suasana tenang begitu kental terasa, di pulau yang terletak di selatan Jepang ini memang menjanjikan sebuah suasana berbeda, sangat cocok untuk mereka yang ingin menenangkan diri.

Tidak lengkapnya akomodasi di tempat ini, tidak menyurutkan para wisatawan untuk pergi berlibur. Disini wisatawan tidak akan mendengar deru kendararaan bermotor atau bisingnya dunia malam. Hanya debur ombak dan suara beberapa binatang yang memecah kesunyian.

Awalnya di pulau ini tidak di sediakan penginapan untuk para wisatawan. Kalaupun ada, para penduduk di pulau Hateruma lah yang menyediakan homestay. Dan hal itu lah yang menjadikan keluarga Kris begitu terlihat hebat. Resort pertama yang berhasil terbangun di pulau yang terkenal dengan ketenangannya ini adalah milik keluargu Wu. Meskipun awalnya terasa mustahil, toh pada akhirnya resort mewah itu pun berhasil berdiri kokoh di sini.

Deburan ombak serta cicitan burung mendominasi suasana malam ini. ditemani langit cerah tanpa awan serta titik-titik kecil berwarna indah dari perahu-perahu nelayan menambah kesan romantis saat ini.

“Apa yang kau fikirkan?”

Tak perlu menebak ataupun menoleh untuk mengetahui siapa disana, tentu saja, karena detik selanjutnya, ia-pria itu- meniti langkah diatas hamparan pasir putih dan mengambil tempat tepat di sebelah Yoona.

“Kau memikirkanku?” Sambung pria itu, sebelum mengelurkan satu gelas berkaki panjang kepada Yoona.

Yoona menyambut gelas yang di berikan Kris dengan senyum lebar ‘champagne?’ fikir Yoona girang, dan tanpa aba-aba segera menyesap isinya hingga separuh. Dahinya mulai berkerut ketika indera perasa nya tak mampu mengenali rasa aneh di mulutnya, pahit dan… sedikit pedas? Atau mungkin panas?

“Oppa… kenapa champagne ini terasa aneh?”

Champagne?” dan detik itu pula tawa Kris meledak. Seingatnya ia tak menuang minuman itu, apalagi sampai memberinya kepada Yoona. “Berapa usiamu? Kau tidak bisa membedakan rasa champagne dan gingseng?”

Yoona hanya bisa mendengus sebal dan menatap Kris dengan tatapan seolah-olah ‘mati kau Kris’.

Kris tidak bisa menahan drinya untuk tidak tertawa melihat ekspresi menggemaskan Yoona. “wae? Kau kira aku akan memberikan minuman beralkohol padamu?”

Yoona mendesis tidak suka. Sekarang tidak hanya kakak serta para oppa nya yang sikap berlebihan padanya, kini Kris-pria itu- juga akan bersikap sama?

“jadi sekarang kau juga akan menjadi pengikut kakakku?”

“pengikut kakakmu?” Kris tersenyum menampilkan deretan giginya yang rapi. Iya, ia ingat betapa protektif nya kakak serta teman-temannya pada Yoona. Mereka semua memperlakukan Yoona seperti sebuah gelas kristal yang harus mereka lindungi karena mudah retak dan hancur. Tapi tidak dengan Kris, walau awalnya Kris risih dengan sikap manja Yoona. tapi akhirnya ia sadar, Yoona tidak seperti gadis kaya lainnya. Tumbuh dengan sendok perak di mulutnya tak membuat gadis itu mudah untuk di hancurkan.

Walaupun Kris tak yakin. Tapi ada hal yang benar-benar membuat Yoona berbeda dari gadis lain di luar sana. Bagi Kris, Yoona adalah sebuah labirin. Gadis yang nampak ceria dan manja, tapi menyimpan jutaan misteri di dalamnya.

“Kalian semua terlalu berlebihan.”

Kris hanya bisa tertawa mendengar kalimat yang keluar dari bibir Yoona, lalu menyesap wine di tangannya.

Yoona menatap Kris beberapa saat, sementara tangan kanannya terulur, pelan, menyingkirkan anak-anak rambut yang berterbangan menutupi wajahnya. “aku tak serapuh itu, oppa.”

“benarkah?”

Yoona menghela nafas berat. “aku bukan gadis lemah, tapi bertahun-tahun hidup dengan tittle rapuh mau tak mau ikut mempengarhi hidupku. Mereka menjagaku bak seorang putri. Aku ingin hidup mandiri, melakukan semua yang aku inginkan dengan kemampuanku sendiri. Bukankah aku sangat menyedihkan?”

Kris mengangguk membenarkan. “benar, kau sangat menyedihkan.”

Yoona menghembuskan nafasnya pelan. “tapi… semenjak hidup bersama mu, aku merasakan sesuatu yang berbeda,”Seulas senyum lembut menghiasi wajah ayu nya. “gomawo, oppa.”

Satu kerutan menghiasi dahinya yang mulus, sedikit terkejut sebenarnya ketika mendengar Yoona mengucapka satu kata yang tak pernah ia bayangkan akan keluar dari bibir gadis itu. Tanpa ia sadarai, satu sudut bibir nya terangkat, membentuk senyum samar. “terimakasih? Seharusnya kau melakukannya dengan benar.”

Kris menarik kedua tangannya, lalu menaruhnya di depan perut sebelum membungkukkan tubuhnya Sembilan puluh derajat. “Kamsahamnida, Oppa. “ Kris memberikan contoh kepada Yoona, sekakan  tengah memberikan pelajaran sopan santun kepada anak perempuannya.

“kau harus melakukannya seperti itu, arrachi?” Kris mengangkat tangan kanannya, lalu meletakkannya di rambut Yoona sebelum mengacaknya pelan.

Shirreo!” tolak Yoona cepat.

Dan detik berikutnya tawa Kris meledak. Mengucapka terima kasih kepada Kris mungkin adalah salah satu dari sekian banyak hal yang tak akan pernah Yoona lakukan pada nya. Dan ia pun tahu, gadis itu memiliki harga diri yang begitu tinggi, sama seperti dirinya.

Wae?!” protes Yoona tak terima dengan reaksi yang ditunjukkan oleh Kris.

“sebegitu tingginya kah harga dirimu? Baiklah, aku akan berpura-pura hal ini tidak pernah terjadi.”

“Maksudmu?” kening Yoona berkerut membentuk beberapa lipatan.

“Aku akan berpura-pura jika kau tidak pernah berterima kasih padaku. Apakah itu sudah cukup untukmu?” goda Kris yang semakin gemas melihat ekspresi Yoona.

“Ya!” Yoona memukul pundak Kris, menunjukkan ketidak setujuannya dengan apa yang dikatakan oleh pria itu.

Appo..” ringis Kris. Kris menjulurkan tangannya, menggenggam jari-jari lentik Yoona yang telah beberapa kali berhasil mendarat di bahunya. Kehangatan yang mengalir dari telapak tangan besar dan kokoh itu, membuat Yoona merasa tenang. Perlahan Yoona mengalihkan pandangannya pada Kris. Pria itu menatapnya dengan pandangan teduh.

“Yoon..” Kris membasahi bibir bawahnya yang tiba-tiba terasa kering. “bisakah kita memulai semuanya dari awal?”

“aku rasa, aku mulai menyukaimu…”

Otak Yoona seakan kosong ketika tatapan lembut Kris menguncinya. Mata bulat nan indah milik Yoona melebar. Bibir lembut Yoona yang setengah terbuka membuat tenggorokan Kris tercekat, merunuthkan kendali dalam dirinya. Seluruh tubuhnya seakan bergerak di luar kendali. Yoona hanya bisa menatap kosong wajah Kris yang semakin mendekat. Saat benda basah dan kenyal itu menyentuh bibirnya, Yoona merasa letupan-letupan hebat di dalam tubuhnya. Perasaan yang akhir-akhir ini tak ingin di akuinya, mendadak meluap kepermukaan. Di luar kehendaknnya, ia membalas ciuman Kris tak kalah bergairah.

Tangan Kris perlahan mulai terulur, mendekap tubuh Yoona posesif. Hasrat terpendam sejak rasa ingin memiliki wanita itu seutuhnya, kini lepas tak terkendali. Kris mempererat pelukannya. Merapatkan tubuh wanita itu dalam dekapannya. Ciuman yang semula lembut berubah panas dan menuntut. Tangan Kris yang bergerak sensual di punggungnya yang terbuka, kian membakar hasrat keduanya, tanpa terasa desahan muncul dari kedua bibir mereka.

Drrt…Drrtt..

Suara dering ponsel menyentak kesadaran mereka. Secepat kilat, Yoona mendorong dada kris menjauh.

Sementara deburan air laut berebut memeluk dinding-dinding batu, serta angin beraroma asin terus menubuk indera penciumannya. Mereka masih bertahan dalam keheningan malam yang mengagumkan.

.

.

Yoona baru menyadari jika ia tak sendiri ketika merasakan Kris meremas tangannya lembut, lalu menarik kepalanya untuk bersandar. Menunggu sebisa yang ia mampu ketika penerbangan dari Tokyo menuju Incheon terasa begitu lambat.

Saat ini hati Yoona begitu kalut. ‘Sehun akan baik baik saja, Sehunnya pasti baik baik saja’ , tapi bayangan akan kematian sahabatnya-Hyesung, mau tak mau membuatnya takut. Ia tak pernah menyangka akan sesakit itu rasanya ketika kematian merenggut orang yang benar benar ia sayangi. Yoona kecil bahkan tak begitu mengerti arti dari kematian. Ia hanya ingat, menatap bingung saat melihat semua orang di rumahnya berpakaian serba hitam, dengan mata sembab menghiasi wajah semua orang yang datang.  Hingga sampai akhirnya ia harus merelakan kepergian sahabat tercintanya-Hyesung- dan saat itu pula ia sadar, kematian begitu mengerikan.

Tapi kata kata Soo Young tentang keadaan Sehun saat ini mau tak mau membuatnya pesimis. Saat ini Sehun tengah dalam kondisi kritis. Menunggu malaikat pencabut nyawa bermurah hati untuk memberikannya kehidupan sekali lagi.

“Tenanglah, Sehun pasti baik-baik saja.” kalimat pertama yang Kris ucapkan  setelah sekian lama mereka saling berdiam diri, tak memadamkan praduga mengerikan dari dalam kepalanya. Yoona masih bisa merasakan udara disekitarnya yang tiba-tiba memadat.

“Sehun pasti baik baik saja. Dokter sedang berusaha menyelamatkannya.” Sentuhan lembut yang coba Kris berikan di pundaknya tak mengurangi kegelisahannya sedikitpun.

Yoona menoleh, memandang kedua mata Kris, mencari jaminan jika apa yang pria itu katakan padanya adalah benar. Jika Sehun, Sehun nya, pria itu akan baik baik saja. “Apakah Sehun akan tetap hidup?” mungkin kalimat itu terdengar bodoh, tapi Kris tidak tahu apa yang pernah Yoona alami dengan kematian. Sungguh, saat ini Yoona benar benar butuh kepastian itu. Keyakinan jika kematian tak membawa pria itu adalah jaminan yang benar benar Yoona butuhkan saat ini.

Kris mengangguk yakin. “Pasti! Apakah kau meragukan kemampuan dokter di Korea?”

Yoona menelan keraguan itu. Meski ia tetap merasa tak yakin. Sehun terkena tusukan dan mengalami perdarahan hebat, bahkan saat ini, pria itu masih harus menghadapi masa kritis. Menunggu keputusan dari tuhan, antara hidup atau mati. Lalu hal itu membuyarkan keyakinan kecil yang ia dapatkan dari Kris.

Yoona terdiam, lalu genggaman tangannya di sela sela jari Kris semakin menguat. Bukankah dokter juga manusia? Mereka bukanlah tuhan yang bisa menentukan hidup dan mati seseorang. Dan benarkah dokter di Korea memiliki kemampuan sehebat itu? Jika iya, seharusnya Hyesung tak meninggalkanya, bukan?

Lagi lagi fikiran itu menghianatinya. Yoona menarik nafasnya dalam dalam, menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan air mata yang terus mendesak keluar. Ia sudah tak tahan lagi. Ia merasakan sesak yang begitu luar biasa sejak mendapatkan panggilan dari Soo Young satu jam yang lalu. Dan… ya tuhan, Yoona benar-benar menyerah saat ini . Tangis itu pun pecah, membasahi dada bidang Kris yang entah sejak kapan mulai mendekap tubuh kurus Yoona.

.

“Sehun-ah, gwaencana? Apakah sangat sakit?”

Melihat Sehun tengah berbaring diranjang ditemani selang infuse dan beberapa peralatan medis yang menempel di hampir seluruh tubuhnya membuat Yoona merasakan hal yang sama. Sakit.

Sehun baru saja sadar tiga jam setelah Yoona tiba di rumah sakit. Ia bersyukur, karena tuhan tengah berbaik hati untuk memberikannya hidup kedua. Mengingat betapa sulit nya 4 jam operasi yang ia jalani. Sudah sepatutnya ia bersyukur untuk itu.

“kau fikir aku bisa mati semudah itu?”

Sehun berusaha menenangkan Yoona yang kini sudah mulai berkaca-kaca.

“Oh Sehun…” Yoona mungkin sudah memukul Sehun jika kondisi pria itu tidak seperti ini. wajahnya masih pucat. Bahkan selang trasfusi darah yang menancap di lengan kirinya masih setia mengalirkan jutaan sel darah ke dalam tubuhnya.

“kau tahu betapa khawatirnya aku tadi? Aku bahkan berfikir jika kau akan meninggalkanku, kau dan Hye…” Yoona tercekat. Air mata yang sedari tadi menggenangi pelupuknya tumpah seketika. Ia menangis sejadi-jadinya.

Ia bahagia ketika mengetahui sahabatnya-Sehun- selamat dari maut, tapi ia juga merasakan nyeri yang teramat sangat saat melihat kondisi Sehun. Andai bisa, ia rela menggantikan posisi Sehun saat ini.

.

 

Entah sudah berapa lama Kris berjalan mondar mandir di dapur. Sejak semalam ia tak bisa tidur, bahkan hanya sekedar terpejam pun terasa sulit. Semua fikiran tentang Yoona begitu mengganggunya. Masih segar dalam ingatannya kala melihat kerapuhan Yoona saat mendapatkan kabar tentang Sehun, wajah ketakutan Yoona memudar seketika saat Chanyeol mengatakan operasi Sehun berhasil. Lalu sikap seolah olah Yoona lupa dengan kehadirannya, orang yang menemaninya di sepanjang perjalanan dari Tokyo menuju Seoul, Kris bahkan masih mengingat jelas rekasi terkejut Yoona saat Chanyeol memeberitahukan kehadirannya pada gadis itu. Dan hal yang membuat hati Kris makin nyeri adalah ketika Yoona memintanya pulang karena ia akan menjaga Sehun sendiri.

Kris menghela nafasnya berat. Semua fikiran tentang hubungan Yoona dan Sehun telah mengusiknya. Yoona menyukai Sehun? Atau Sehun yang menyukai Yoona? Atau kedua nya saling menyukai, tapi karena Yoona telah menikah dengannya, membuat mereka saling bungkam dengan perasaan masing masing?

Semua fikiran itu membuat dada Kris sesak. Apakah Kris cemburu? Apakah ia benar benar telah jatuh pada pesona Yoona? Kris mengerang dalam hati. Selama bertahun tahun ia membatasi diri, mencegah hatinya jatuh untuk yang kedua kali. Tapi sepertinya ia salah, Yoona, gadis itu benar-benar telah berhasil menyembuhkan luka yang So Yeon tinggalkan di hatinya.

Tapi apakah Yoona memiliki perasaan yang sama dengannya? Jantung Kris seakan berhenti berdetak. Getar samar mulai menguasai tubuhnya. Rasa sakit yang hebat mulai menghajarnya, hatinya seperti sedang dicabik-cabik. akankah ia merasakan hancur untuk yang kedua kali?

Kris tersentak. Wajahnya memerah kala mengingat noda darah di sprei tempat tidurnya. Ia yakin malam itu ia telah melakukannya dengan Yoona, dan ia berani bersumpah, ia lah pria pertama yang berhasil menjamah gadis itu.

‘Bayi’

Tiba-tiba langkah Kris terhenti. Ia tertegun. Benar! Bayi. Setitik harapan muncul kala ia memikirkan seorang bayi hadir di tengah-tengah keluarga kecilnya. Ia berharap Yoona benar-benar mengandung dan melahirkan darah dagingnya lalu ia hanya tinggal membatalkan kontrak bodoh itu dan hidup bahagia bersama Yoona dan anaknya.

Benar, ia masih punya kesempatan. Ia pasti bisa bersama Yoona. Dan sinar itu pun kembali menerangi hatinya yang sempat redup.

.

.

.

“Yoong…”

Yoona menoleh tatkala suara berat yang begitu ia kenal memanggilnya. “Ah, oppa. Kau sudah bangun?”

Sudah bangun? Kris bahkan tak bisa tidur semalaman karena memikirkan gadis bodoh itu. Ia bahkan berfikir ia akan mati jika tak bertemu dengan Yoona pagi ini. Ia sakit, ia tersiksa. Sungguh.

“Kau memasak?”

Yoona meringis. Benar juga. Sebelumnya ia tak pernah bertindak seperti ini. Meskipun Yoona suka memasak, toh pada kenyataannya ia lebih suka memesan makanan cepat saji di bandingkan harus bersusah payah, berkutat dengan peralatan dapur yang kotor.

Kris melangkah maju. Mengintip dari balik bahu Yoona. “Bubur?” dahi Kris berkerut. Apakah mereka akan sarapan dengan bubur? Ya tuhan, ini pagi dan hari masih panjang. Setidaknya mereka harus makan nasi padat untuk mengisi energi mereka hari ini. “Aku tidak sedang sakit, Yoong. Haruskah kau membuatkanku bubur?”

Yoona menoleh ke belakang. Memicingkan kedua mata, menatap Kris tak suka. “Aku membuat ini untuk Sehun, bukan untukmu, oppa.”

Kata-kata terakhir yang Yoona ucapkan berhasil menampar harga diri Kris. Sehun? Jadi Yoona rela memasak hanya demi Sehun? Hah jadi pria itu?

kkeut!” Yoona berhasil membuat simpul terakhir pada kain pembungkus. Lalu menepuk kedua tangannya bangga. “Oppa, sepertinya kau harus membuat sarapanmu sendiri. Aku harus segera kembali ke rumah sakit.”

Yoona pasti sudah meninggalkan dapur andai saja tangan Kris tak mencengkeram pergelangan tangannya, mencegah gadis itu untuk pergi. “Wae, oppa?” Dahi Yoona berkerut. Bingung. Jujur, ia tak pernah melihat Kris seperti ini. Sedih? Kecewa? Entah lah, Yoona tak benar-benar bisa mendiskripsi kan raut wajah itu.

Kajima.”

ne?” sebenarnya Yoona tak begitu yakin dengan pendengarannya sendiri. Apa Yang Kris bilang? Jangan pergi? Apakah Kris baru saja memintanya untuk tak pergi? Yang benar saja…

Kajima,” Getar samar bergumul dengan kata kata Kris yang kali ini berhasil Yoona cerna dengan sempurna. “aku bilang, jangan pergi. Kumohon.”

wae?”

Kris masih bertahan di tempatnya. Mematung, tak tahu harus berbuat apa. Menyembunyikan gemetar yang datang menyambangi hatinya kala membayangkan Yoona akan meninggalkannya, sama seperti yang Soo Yeon lakukan dulu. Rahangnya mengatup rapat. Kelu. Lalu ia berbicara dengan suara yang teramat rendah.

“Karena, kau pasti tak akan kembali.”

Andai saja mereka tidak sedang berdua. Yoona yakin ia tak akan menangkap suara Kris dengan jelas.

“aku tak tahu apa maksudmu oppa.”

“Ak-aku…” mendadak lidah Kris menjadi kelu. Ia bisa merasakan tali yang teramat kuat menarik lehernya kencang, hingga kata-kata itu terasa sulit ia ucapkan.

“kau kenapa?” Yoona memutar bola matanya tak percaya. “Aku benar-benar tak tahu apa maksudmu, oppa.”

“Ak- ak-aku..”

Batas kesabaran Yoona sudah berada di level tertinggi. Sehun sudah menunggunya di rumah sakit, tapi apa yang dilakukan pria ini? Ia hanya membuang waktu dengan perbincangan yang menurut Yoona tak begitu penting. ”Sehun sudah sadar. Dan aku yakin, Sehun pasti sedang menungguku di sana. Jadi berhentilah berbicara omong kosong seperti itu.”

.

“Apakah kau mencintainya?” setelah sekian lama saling bungkam. Akhirnya Kris memutuskan untuk memecahkan keheningan yang semakin terasa tak wajar.

“Siapa? Sehun?”

Kris mengangguk ragu. Belum siap sebenarnya jika jawaban yang Yoona berikan benar-benar apa yang selama ini ia takutkan.

Yoona tersentak, sedikit tak terima dengan apa yang pria itu tuduhkan padanya. Sehun dan Yoona, mereka adalah sahabat. Setidaknya ‘tittle’ itu lah yang selalu mereka agung agungkan pada semua orang. “Apakah aku sudah gila? Aku mincintai sahabatku sediri?”

“Kau tahu? Terkadang cinta membuat orang yang waras menjadi gila,” Kris menghujam harga diri Yoona dengan tatapannya yang setajam pedang. “Kau fikir pria dan wanita benar-benar bisa menjalin persahabatan tanpa  tumbuh perasaan cinta di antaranya?”

Yoona terdiam. Kris benar. Ia tak bisa membantah sedikitpun tentang hal itu. Toh pada kenyataannya, Yoona lah yang merasakan cinta itu tumbuh hingga mekar seperti saat ini. “Kami hanya bersahabat, oppa. tidak lebih.”

Kris tersenyum miring. “Kau fikir aku percaya? Koreksi jika aku salah. Kau mencintanya, Im Yoona. Kau mencintai pria yang selama ini kau sebut sebagai sahabatmu.”

Yoona tersentak. Kedua bola mata nya melebar.

“Lalu, apa yang ingin kau dengar dariku?” Kedua tangan Yoona mencengkeram ujung rok nya dengan kuat. Mencoba meredam amarah yang siap meledak kapan saja. “bahwa analisamu benar? Bahwa aku benar mencintainya, mencintai sahabatku? Atau kau ingin aku menampik semua tuduhan kejimu itu?”

“oh, jadi sekarang kau benar-benar mengakuinya?” Kris tertawa mengejek. Lalu kedua mata elangnya mengunci setiap pergerakan Yoona. “Jadi selama ini kau benar-benar bermain di belakangku?”

“Apa maksudmu?”

“Kau tidak bodoh, Im Yoona.”

“Asal kau tahu, aku tak semenjijikkan itu untuk menerima semua tuduhan tak mendasarmu, oppa” kemarahan seketika membakar dada Yoona. Ia mendesis tak suka dengan tuduhan yang Kris layangkan padanya. Bermain di belakang Kris? Ia bahkan tak pernah menganggap hubungannya dengan Kris nyata. Lalu kalaupun benar Yoona bermain di belakang Kris, bukankah itu hal yang wajar?

“lalu, aku harus menyebut apa hubungan antara kau dan sahabatmu itu?” Tanya Kris menantang.

Yoona menatap Kris tajam. “Oppa, apakah kau lupa? Kau yang meminta perjanjian dalam pernikahan ini. dan jika aku tidak salah, kau juga lah orang yang meminta untuk tidak ikut campur dalam urusan masing-masing.”

Kris mengangguk membenarkan. Ia tak menampik semua itu, ia sadar jika memang ia lah orang pertama yang mengajukan pernikahan kontrak dengan Yoona. “Jadi?”

“Jadi, kalaupun aku benar benar bermain di belakangmu, itu semua bukanlah urusanmu.”

“Jadi sekarang kau mengakuinya?”

“Menurutmu?”

“Jadi kau benar benar menyukai sahabatmy itu?”

Yoona terdiam. Ia berfikir sejenak. Semua analisa Kris telah membuatnya terpojok. Tidak mungkin ia bisa mempertahankan harga dirinya jika terus seperti ini. Ia harus menghentikannya sekarang juga. Harus.

“ne, aku mencintainya. Mencintai sahabatku, Oh Sehun.”

Kris membeku. Ia bisa merasakan jutaan jarum tengah menghajar jantungnya. Begitu sakit dan perih. Dan kejadian di pagi cerah ini membuatnya sadar. Sadar, jika sampai kapanpun ia tak akan pernah bisa memiliki hati seorang Im Yoona.

.

.

.

Kkeut!!

 

 

 

 

 

 

 

 

32 thoughts on “[Freelance] Married without Love (Part 8)

  1. Yoona kok jahat banget sih sama Kris, kan kasihan Kris😦 Cepetan ya thor, udah nggak sabar nih, di next chap banyakin moment yoonkris dong. Fighting!!!!

  2. Wooaaaaaaaaaaa . Akhirnya ini ep ep di lanjut , makasih ya author , kenapa kaga dilanjut yang begonoan thor , oh sehun , kenapa ya? . Duh . Mangap ya thor , readersmu ini lupa id lama , nuhun , sepurane hahaa /sungkem . Ditunggu selanjutnya , wedew abang galaksi udah suka ma kakakku . Alhamdulillah deh , wlpun aku yoonhun shipper , aku harap yoona di cerita ini jadi takdirnya kris aja deh hehe , kasian pan bang kris , nanti jessica dimunculin kga thor? . Aku harap happy ending . Semoga yoona juga sayang sama sehun . Aku komen panjang kaya sepur hahaha . You know sepur? Sepur is kereta hehe . /tabok . Omegat , keep writing ya thor

  3. Kasihan kris. . . Kenapa yoona gk sadar klo dia jga suka ama kris?? Makin seru thor ceritanya. . Ditunggu chapter selanjutnya jgn lama” ya thor. . . Author fighting!!

  4. akhirnya publish jg ff ini setelah sekian lama hilang , hahaha #peace thor😉
    Kupikir setelah kejadia kris sm yoona mereka bakal mulai dr awal tp ternyata konfliknya makin mulai terlihat😀
    semoga kris yoona bisa bersatu😀

Comment, please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s